BAGIAN
SATU
Masalah utama dalam praktek
konseling
-1-
Pendahuluan dan Gambaran umum 3
-2-
Penasehat : Persona dan Profesional 16
-3-
Masalah etika dalam praktek konseling 36
Bacaan Pendukung yang Direkomendasikan Untuk Bagian 1 52
Referensi dan Bacaan yang Disarankan Untuk Bagian 1 53
Halaman ini dikosongkan dengan sengaja
BAB I
PENDAHULUAN DAN GAMBARAN UMUM
Pendahuluan
Kedudukan Saya
Saran Dalam Menggunakan Buku Ini
Gambaran Umum Tentang Bab-Bab Teori
Pengantar Kasus Stan
Wawancara dan Autobiografi Stan
Ikhtisar Beberapa Tema Utama dalam Kehidupan Stan
Pendahuluan
Siswa konseling dapat mulai mendapatkan gaya konseling yang disesuaikan dengan
kepribadian mereka sendiri dengan membiasakan diri dengan pendekatan utama untuk
praktik terapi. Buku ini mensurvei 11 pendekatan untuk konseling dan psikoterapi,
menyajikan konsep dasar dari setiap pendekatan dan mendiskusikan fitur-fitur seperti
proses terapeutik (termasuk tujuannya), hubungan klien-terapis, dan prosedur khusus
yang digunakan dalam praktik konseling. Informasi ini akan membantu Anda
mengembangkan pandangan yang seimbang tentang ide-ide utama dari berbagai ahli
teori, terapis, dan teknik praktis yang biasa digunakan oleh konselor yang mengikuti
berbagai pendekatan. Saya mendorong Anda untuk tetap berpikiran terbuka dan untuk
secara serius mempertimbangkan kontribusi unik dan keterbatasan khusus dari setiap
sistem terapi yang disajikan dalam Bagian 2.
Anda tidak memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang diperlukan untuk
menyatukan berbagai pendekatan dengan hanya menyelesaikan kuliah pengantar dalam
teori konseling. Proses ini akan memakan waktu belajar dan pelatihan selama bertahun-
tahun, serta pengalaman konseling praktis. Namun demikian, saya merekomendasikan
integrasi pribadi sebagai kerangka kerja untuk pendidikan profesional para konselor.
Bahaya dalam menghadirkan satu model yang harus diikuti oleh semua siswa adalah
bahwa hal itu dapat membatasi efektivitas mereka dalam bekerja dengan beragam klien
masa depan. Dimensi perilaku manusia yang berharga dapat diabaikan jika konselor
dibatasi pada satu teori saja.
Namun, campuran pendekatan yang tidak disiplin dapat menjadi alasan untuk
tidak mengembangkan alasan yang masuk akal untuk secara sistematis mengikuti
konsep-konsep tertentu dan teknik-teknik yang merupakan perluasan dari mereka.
Sangat mudah untuk mengambil dan memilih fragmen dari berbagai terapi karena
mereka mendukung bias dan prasangka kita. Dengan mempelajari model-model yang
disajikan dalam buku ini, Anda akan memiliki perasaan yang lebih baik tentang
bagaimana mengintegrasikan konsep dan teknik dari berbagai pendekatan ketika
mendefinisikan sintesis dan kerangka kerja pribadi Anda untuk konseling.
Setiap pendekatan terapi memiliki dimensi yang bermanfaat. Ini bukan masalah
apakah teori itu "benar" atau "salah," karena setiap teori menawarkan kontribusi unik
untuk memahami perilaku manusia dan memiliki implikasi unik untuk praktik
konseling. Menerima validitas satu model tidak selalu berarti menolak model lain. Ada
ruang yang jelas untuk pluralisme teoretis, terutama dalam masyarakat yang semakin
beragam.
Meskipun saya menyarankan agar Anda tetap terbuka untuk memasukkan
beragam pendekatan ke dalam sintesis pribadi Anda atau pendekatan integratif untuk
konseling izinkan saya memperingatkan bahwa Anda bisa menjadi kewalahan dan
bingung jika Anda mencoba mempelajari semuanya sekaligus, terutama jika ini adalah
kuliah pengantar dalam teori konseling. Suatu kasus dapat dibuat untuk awalnya
mendapatkan gambaran umum tentang orientasi teoretis utama, dan kemudian
mempelajari pendekatan tertentu dengan mendalami pendekatan itu untuk beberapa
waktu, daripada secara dangkal menangkap banyak pendekatan teoretis. Dalam Bab 15
saya membahas lebih mendalam tentang beberapa cara untuk mulai merancang
pendekatan integratif untuk praktik konseling. Untuk saat ini, cukuplah untuk
mengatakan bahwa berhasil mengintegrasikan konsep dan teknik dari beragam model
memerlukan praktik reflektif bertahun-tahun dan banyak membaca tentang berbagai
teori.
Dimana Aku Berdiri
Orientasi filosofis saya sangat dipengaruhi oleh pendekatan eksistensial. Karena
pendekatan ini tidak menetapkan serangkaian teknik dan prosedur, saya mengambil
teknik dari model terapi lain yang disajikan dalam buku ini. Secara khusus saya suka
menggunakan teknik bermain peran. Ketika orang menghidupkan kembali adegan-
adegan dari kehidupan mereka, mereka cenderung menjadi lebih terlibat secara
psikologis daripada ketika mereka hanya melaporkan anekdot tentang diri mereka
sendiri. Selain itu, banyak teknik yang saya gunakan berasal dari terapi perilaku
kognitif.
Saya menghargai penekanan psikoanalitik pada perkembangan psikoseksual
dan psikososial awal. Masa lalu kita memainkan peran penting dalam membentuk
kepribadian dan perilaku kita saat ini. Saya menentang gagasan deterministik bahwa
manusia adalah produk dari pengondisian awal mereka dan, dengan demikian, adalah
korban dari masa lalu mereka. Saya percaya bahwa penjelajahan masa lalu sering kali
berguna, terutama sampai taraf bahwa masa lalu terus memengaruhi kesulitan emosi
atau perilaku saat ini.
Saya menghargai fokus perilaku kognitif pada bagaimana pemikiran kita
memengaruhi cara kita merasakan dan berperilaku. Terapi ini juga menekankan
perilaku saat ini. Sementara berpikir dan merasakan adalah dimensi penting, bisa jadi
merupakan kesalahan untuk terlalu menekankan mereka dan tidak mengeksplorasi
bagaimana perilaku klien. Apa yang dilakukan orang sering memberi kita petunjuk
bagus tentang apa yang sebenarnya mereka inginkan. Saya juga menyukai penekanan
pada tujuan tertentu dan pada mendorong klien untuk merumuskan tujuan konkret
untuk sesi terapi mereka sendiri dan dalam kehidupan mereka sendiri. Kontrak antara
klien dan terapis bisa sangat berguna. Saya sering menyarankan "pekerjaan rumah"
khusus atau meminta klien saya untuk menyusun tugas mereka sendiri, atau bersama-
sama kita mengembangkan tujuan dan tugas yang memandu proses terapi.
Banyak pendekatan telah mengembangkan metode yang melibatkan kolaborasi
antara terapis dan klien, membuat usaha terapi menjadi tanggungjawab bersama.
Hubungan kolaboratif ini, ditambah dengan mengajar klien cara untuk menerapkan apa
yang mereka pelajari dalam terapi ke dalam kehidupan sehari-hari mereka,
memberdayakan klien untuk mengambil sikap aktif di dunia mereka. Meskipun saya
menerima nilai dalam meningkatkan wawasan dan kesadaran klien, saya menganggap
penting untuk mereka mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari apa yang mereka
pelajari dalam terapi.
Asumsi saya yang terkait adalah bahwa kita dapat meningkatkan kebebasan
untuk menciptakan masa depan kita. Fokus pada penerimaan tanggungjawab pribadi ini
tidak menyiratkan bahwa kita dapat menjadi apa pun yang kita inginkan. Realitas
sosial, lingkungan, budaya, dan biologis seringkali membatasi kebebasan kita untuk
memilih. Mampu memilih harus dipertimbangkan dalam konteks sosial politik yang
memberikan tekanan atau menciptakan kendala; penindasan adalah kenyataan yang
dapat membatasi kemampuan kita untuk memilih masa depan kita. Kita juga
dipengaruhi oleh lingkungan sosial kita, dan banyak dari perilaku kita adalah produk
dari pembelajaran dan pengkondisian. Telah dikatakan bahwa, saya percaya
peningkatan kesadaran akan kekuatan kontekstual ini memungkinkan kita untuk
mengatasi kenyataan ini. Sangat penting untuk mempelajari cara mengatasi kekuatan
eksternal dan internal yang membatasi keputusan dan perilaku kita.
Terapi feminis telah menyumbangkan kesadaran tentang bagaimana kondisi
lingkungan berkontribusi terhadap masalah perempuan dan laki-laki dan bagaimana
sosialisasi peran gender mengarah pada kurangnya kesetaraan gender. Terapi keluarga
mengajarkan kita bahwa tidak mungkin untuk memahami individu terlepas dari konteks
sistem. Baik terapi keluarga maupun terapi feminis didasarkan pada premis bahwa
untuk memahami individu, penting untuk mempertimbangkan dimensi interpersonal
dan konteks sosiokultural daripada hanya mengutamakan berfokus pada domain
intrapsikis. Dengan demikian pendekatan komprehensif untuk konseling melampaui
fokus pada dinamika internal kita dan membahas realitas lingkungan yang
memengaruhi kita.
Filosofi konseling saya tidak memasukkan asumsi bahwa terapi hanya untuk
"orang sakit" dan ditujukan untuk "menyembuhkan" "penyakit" psikologis. Fokus pada
psikopatologi seperti itu sangat membatasi praktik terapi karena lebih menekankan
kekurangan daripada kekuatan. Sebaliknya, saya setuju dengan pendekatan postmodern
(lihat Bab 13), yang didasarkan pada asumsi bahwa orang memiliki sumber daya
internal dan eksternal untuk memanfaatkan ketika membangun solusi untuk masalah
mereka. Memang, terapis akan memandang individu secara sangat berbeda jika mereka
mengakui bahwa klien mereka memiliki kompetensi daripada patologi.
Psikoterapi adalah proses keterlibatan antara dua orang, yang keduanya terikat
untuk berubah melalui usaha terapi. Yang terbaik, ini adalah proses kolaboratif yang
melibatkan terapis dan klien dalam membangun solusi untuk masalah. Sebagian besar
dari berbagai teori yang dibahas dalam buku ini menekankan sifat kolaboratif dari
praktik psikoterapi.
Terapis tidak bekerja untuk mengubah klien, untuk memberi mereka saran
cepat, atau untuk menyelesaikan masalah mereka untuk mereka. Sebaliknya, konselor
memfasilitasi penyembuhan melalui proses dialog yang tulus dengan klien mereka.
Jenis orang yang menjadi terapis tetap menjadi faktor paling kritis yang mempengaruhi
klien dan mendorong perubahan. Jika para praktisi memiliki pengetahuan luas, baik
teoretis maupun praktis, namun tidak memiliki kualitas manusia yang penuh belas
kasih, perhatian, itikad baik, kejujuran, kehadiran, kenyataan, dan kepekaan, mereka
lebih seperti teknisi. Dalam penilaian saya, mereka yang berfungsi secara eksklusif
sebagai teknisi tidak membuat perbedaan signifikan dalam kehidupan klien mereka.
Tampaknya penting bagi saya bahwa konselor mengeksplorasi nilai-nilai, sikap, dan
kepercayaan mereka sendiri secara mendalam dan bahwa mereka bekerja untuk
meningkatkan kesadaran mereka sendiri. Sepanjang buku ini saya mendorong Anda
untuk menemukan cara untuk berhubungan secara pribadi dengan masing-masing
terapi. Menerapkan materi ini pada diri Anda secara pribadi akan membawa Anda
melampaui pemahaman akademis tentang teori.
Sebagai seorang konselor, Anda harus tetap terbuka untuk pertumbuhan Anda
sendiri dan untuk mengatasi masalah pribadi Anda jika klien Anda percaya pada Anda
dan proses terapeutik. Mengapa klien harus mencari bantuan Anda jika Anda adalah
"produk jadi"? Singkatnya, cara paling ampuh bagi Anda untuk mengajar klien Anda
adalah dengan perilaku yang Anda modelkan dan cara Anda terhubung dengan mereka.
Sehubungan dengan penguasaan teknik-teknik konseling dan menerapkannya
secara tepat dan efektif, adalah keyakinan saya bahwa Anda adalah teknik terbaik Anda
sendiri. Reaksi Anda terhadap klien Anda, termasuk berbagi bagaimana Anda
terpengaruh dalam hubungan dengan mereka, berguna dalam menggerakkan proses
terapi bersama. Tidak mungkin memisahkan teknik yang Anda gunakan dari
kepribadian Anda dan hubungan yang Anda miliki dengan klien Anda.
Pemberian teknik kepada klien tanpa memperhatikan variabel hubungan itu
tidak efektif. Teknik tidak dapat menggantikan kerja keras yang diperlukan untuk
mengembangkan hubungan klien-terapis yang konstruktif. Meskipun Anda dapat
mempelajari sikap dan keterampilan dan memperoleh pengetahuan tertentu tentang
dinamika kepribadian dan proses terapeutik, banyak terapi yang efektif adalah produk
kesenian. Konseling lebih dari sekedar menjadi ahli. Konseling mengimplikasikan
bahwa anda mampu untuk membuat dan menumbuhkan hubungan baik dengan klien
anda, bahwa anda mampu untuk belajar dari pengalaman anda sendiri, dan bahwa anda
mampu menentukan teknik yang sesuai untuk kebutuhan klien anda.
Saya menyarankan anda menjadikan diri anda sebagai klien dan mencoba
berbagai macam teknik kepada diri anda sendiri. Membaca teori suatu teknik berbeda
dengan mengalaminya sendiri dari sudut pandang seorang klien. Jika sebelumnya anda
telah mempraktikkan teknik latihan relaksasi misalnya, anda akan merasa lebih yakin
melaksanakan teknik tersebut dan anda akan lebih memahami hal-hal apa yang anda
akan temui ketika anda menangani klien anda. Jika anda menerapkan tugas yang anda
berikan untuk klien anda kepada diri anda sendiri sebagai bentuk program
pengembangan diri, maka anda akan memperoleh lebih banyak rasa empati untuk klien
anda dan permasalahan yang dihadapinya. Kegelisahan anda dalam membuka diri dan
menghadapi kekhawatiran personal dapat menjadi sangat berguna untuk anda ketika
menangani kegelisahan klien anda. Keberanian yang anda tunjukkan dalam terapi akan
membuat anda mengapresiasi betapa pentingnya keberanian itu untuk klien anda.
Kepribadian anda berperan penting dalam menjadi seorang konselor, namun
menjadi orang baik saja tidak cukup. Agar dapat menjadi efektif, anda juga harus
memiliki pengalaman dalam dunia konseling dan pengetahuan tentang teori dan teknik
konseling yang memadai. Selanjutnya, penting bagi anda untuk mengetahui dengan
baik macam-macam teori kepribadian dan bagaimana teori-teori tersebut berkaitan
dengan teori konseling. Konsepsi anda mengenai sifat-sifat individu klien anda akan
mempengaruhi cara penanganan anda. Perbedaan antara anda dengan klien anda
mungkin memerlukan anda untuk mengubah beberapa aspek tertentu teori-teori yang
anda terapkan. Beberapa praktisi melakukan kesalahan dengan mengandalkan satu
bentuk intervensi penanganan saja (bersifat suportif, mengonfrontasi, memberikan
informasi) pada kliennya. Pada kenyataannya, klien yang berbeda dapat merasa lebih
cocok dengan suatu bentuk intervensi dan tidak cocok dengan bentuk intervensi lain.
Bahkan selama masa terapi klien, intervensi yang berbeda mungkin perlu untuk
diterapkan pada klien di situasi yang berbeda pula. Para praktisi seharusnya memiliki
pengetahuan luas tentang teknik-teknik konseling yang sesuai dengan klien secara
individu, daripada memaksa klien untuk sesuai dengan satu macam intervensi.
Petunjuk Penggunaan Buku Ini
Berikut adalah saran-saran khusus untuk memperoleh manfaat buku ini
dengan utuh. Gaya penulisan buku ini yang personal mengajak anda untuk mengaitkan
apa yang anda baca dengan pengalamn pribadi anda. Ketika anda membaca Bab 2,
“Konselor: Pribadi dan Profesional,” mulailah dengan merenungkan kebutuhan,
motivasi, nilai, dan pengalaman hidup anda. Pikirkan bagaimana cara paling baik
mewujudkan diri anda ke dalam pekerjaan profesional anda. Anda akan menerima lebih
banyak pengetahuan beragam tentang terapi jika anda berusaha untuk menrapkan
konsep-konsep utama serta teknik-teknik terapi tersebut ke dalam kehidupan pribadi
anda. Bab 2 membantu anda berpikir bagaimana menjadikan diri anda sebagai
instrument terpenting dalam terapi. Bab 2 juga akan membahas sejumlah isu etis dalam
praktik konseling.
Sebelum anda mempelajari tiap-tiap bentuk terapi secara mendalam di Bagian
2, Saya menyarankan anda untuk paling tidak membaca sekilas Bab 15, yang secara
komperhensif memberikan rangkuman konsep-konsep utama dari semua 11 teori yang
dibahas dalam buku ini. Saya mencoba untuk menunjukkan bagaimana pengintegrasian
perspektif-perspektif ini dapat menjadi dasar bagi anda dalam membentuk suatu sintesis
konseling milik anda sendiri. Dalam mengembangkan perspektif yang terintegratif,
penting bagi anda untuk berpikir secara holistis. Untuk mengerti cara kerja manusia,
sangat lah penting untuk mempertimbangkan aspek-aspek jasmani, perasaan, batin,
sosial, budaya, politik, dan dimensi spiritual dalam diri manusia. Jika salah satu aspek
manusia ini ditiadakan, teori akan menjadi terbatas dalam menjelaskan bagaimana cara
kita berpikir, merasakan, dan bertindak.
Supaya anda mendapatkan kerangka untuk membandingkan dan membedakan
macam-macam bentuk terapi secara konsisten, kesebelas bab teori dalam buku ini
ditulis dalam format yang serupa. Format yang digunakan mencakup beberapa catatan
sejarah mengenai pengagas teknik terapi atau tokoh-tokoh penting lain yang berkaitan
dengan teknik terapi yang dibahas; gambaran singkat yang memperlihatkan bagaimana
dan mengapa teori tersebut berkembang di masanya; pembahasan konsep-konsep utama
pendekatan yang dibahas; gambaran umum tentang proses terkait terapi, termasuk
peran terapis dan tugas klien; teknik-teknik dan prosedur terapi; penerapan teori terapi
dari perspektif multikuktural; anjuran untuk cara mempelajari tiap pendekatan lebih
lanjut lagi; dan saran bacaan lanjutan.
Lihat di bagian Pendahuluan untuk melihat deskripsi lengkap sumber-sumber
lain yang menjadi materi tambahan buku ini, termasuk (1) Student Manual for Theory
and Practice of Counseling and Psychotherapy; (2) Theory in Practice: The Case of
Stan (program daring konseling Stan dari berbagai perspektif teoritis); dan (3) CD-
ROM untuk Integrative Counseling.
Gambaran Umum Bab Teori
Saya telah memilah 11 pendekatan terapi dalam buku ini. Tabel 1.1
menunjukkan gambaran umum tiap-tiap pendekatan ini, yang kemudian akan dibahas
lebih dalam di Bab 4 hingga Bab 14. Saya telah mengelompokkan secara umum 11
pendekatan ini ke dalam lima kategori,
Kategori pertama adalah pendekatan psikodinamis. Terapi Psikoanalitik
sebagian besar didasarkan pada wawasan, motivasi bawah sadar, dan rekonstruksi
kepribadian. Model psikonalitik ini menjadi model paling pertama yang dibahas karena
model ini memberi pengaruh besar pada semua bentuk psikoterapi formal lainnya.
Beberapa model terapi pada dasarnya model perpanjangan psikoanalisis, sementara
model-model terapi lainnya merupakan hasil modifikasi konsep analitik, dan model
terapi sisanya merupakan model yang terbentuk sebagai respon terhadap psikoanalisis.
Banyak teori konseling dan psikoterapi yang meminjam dan mengintegrasikan prinsip
dan teknik pendekatan psikonalisis.
Terapi Adlerian berbeda dengan teori psikoanalisis dari berbagai segi, namun
secara umum, model ini dapat dianggap sebagai bentuk perspektif analitik. Model
Alderian fokus pada makna, tujuan, perilaku yang disengaja, tindakan yang dilakukan
secara sadar, rasa nyaman, dan ketertarikan sosial. Meskipun cara teori Alderian
menjelaskan perilaku seseorang saat ini dengan mempelajari pengalaman masa
kecilnya, teori Alderian ini tidak fokus pada dinamika alam bawah sadar manusia.
Kategori kedua melingkupi bentuk terapi yang berbasis pada pengalaman dan
hubungan: pendekatan eksistensial, pendekatan personal, dan terapi Gestalt.
Pendekatan eksistensial menekankan isu mengenai bagaimana menjadi manusia
seutuhnya. Pendekatan ini membahas ide-ide terkait kondisi manusia, seperti
TABEL 1.1 Gambaran Umum Model-Model Konseling Kontemporer
Terapi Psikoanalisis Tokoh Penting: Sigmund Freud. Suatu teori pengembangan kepribadian,
filsafat tentang sifat alamiah manusia, suatu metode psikoterapi yang
berfokus pada faktor-faktor alam bawah sadar yang menuntun perilaku
seseorang. Mendalami 6 tahun pertama hidup seseorang sebagai penentu
perkembangan kepribadian seseorang di masa mendatang.
Terapi Alderian Tokoh Penting: Alfred Adler. Selain Adler, Rudolf Dreikurs juga dianggap
mempopulerkan pendekatan ini di Amerika Serikat. Terapi Alderian ini
merupakan model pertumbuhan yang menekankan penentuan tanggung jawab
seseorang, menentukan takdir sendiri, dan mencari makna dan tujuan untuk
menciptakan hidup yang bermakna. Konsep-konsep utama terapi ini juga
diterapkan di sebagian besar bentuk terapi saat ini.
Terapi Eksistensial Tokoh Penting: Viktor Frankl, Rollo May, dan Irvin Yalom. Merupakan
bentuk reaksi pada tendensi yang melihat terapi sebagai suatu sistem dengan
teknik-teknik baku dan sistematis, model ini menekankan untuk melakukan
terapi yang didasarkan pada kondisi eksistensi manusia, seperti keputusan,
kebebasan dan rasa tanggung jawab membentuk hidup sendiri, dan rasa
tekad pada diri. Model ini fokus pada kualitas hubungan antar individu.
Terapi berpusat pada individu Pendiri: Carl Rogers; Tokoh Penting: Natalie Rogers. Pendekatan ini
dikembangkan di tahun 1940-an sebagai reaksi tidak langsung atas
pendekatan psikoanalisis. Pendekatan ini didasarkan pada pandangan
subyektif pengalaman manusia, pendekatan ini menempatkan
keimanan dan memberikan tanggung jawab untuk klien dalam
menghadapi permasalahannya.
Terapi Gestalt Pendiri: Fritz dan Laura Perls; Tokoh Penting: Miriam dan
Erving Polster. Terapi berbasis eksperensial yang menekankan rasa
mawas diri dan integrase diri, pendekatan ini muncul sebagai reaksi
melawan terapi analitik. Pendekatan ini mengintegrasikan fungsi tubuh
dan pikiran.
Terapi Perilaku Tokoh Penting: B. F. Skinner, Arnold Lazarus, dan Albert Bandura.
Pendekatan ini menerapkan prinsip mempelajari resolusi masalah tingkah
laku secara spesifik. Hasilnya kemudian digunakan untuk eksperimen
berkelanjutan, Metode pendekatan ini selalu mengalami perbaikan
.
Terapi Perilaku Kognitif Tokoh Penting: Albert Ellis menciptakan terapi perilaku rasional emotif,
suatu model terapi yang sifatmya sangat mendidik, dan berorientasi pada
perbuatan yang menekankan peran cara berpikir dan sistem kepercayaan
sebagai akar masalah pribadi
. A. T. Beck membuat model terapi kognitif
yang mementingkan peran cara berpikir karena pikiran mempengaruhi
perilaku.
Terapi Realitas Pendiri: William Glasser. Tokoh Penting: Robert Wubbolding. Pendekatan
jangka pendek ini didasarkan dari teori keputusan dan berfokus pada
klien untuk mengakui tanggung jawabnya, Melalui proses terapi
pendekatan ini, klien tersebut mampu untuk mengetahui cara-cara
lebih efektif untuk memenuhi kebutuhannya.
Terapi Feminis Pendekatan ini lahir dari usaha banyak perempuan, beberapa
diantaranya ialah Jean Baker Miller, Carolyn Zerbe Enns, Oli
v
a
(
selanjutnya
)
TABEL 1.1 Gambaran Umum Model-Model Konseling Kontemporer
)
Espin, dan Laura Brown. Konsep inti pendekatan ini adalah mengenai
penindasan psikologis wanita. Pendekatan ini fokus pada batasan status
sosiopolitik yang perempuan terima, pendekatan ini mengeksplor
perkembangan identitas perempuan, konsep diri, tujuan dan aspirasi, serta
kesehatan emosional.
Pendekatan pasca-moderen Terdapat sejumlah tokoh yang berkaitan dengan pengembangan pendekatan yang
terdiri atas berbagai bentuk terapi ini. Steve de Shazer dan Insoo Kim Berg
merupakan pendiri terapi singkat berbasis solusi. Michael White dan David
Epston adalah tokoh penting terkait metode terapi naratif. Terapi
konstruksionisme sosial, terapi singkat berbasis solusi, dan terapi naratif
semuanya mengasumsikan bahwa tidak ada satu jenis kebenaran pasti; realitas
dikonstruksi secara sosial melalui interaksi manusia. Pendekatan-pendekatan ini
mengatakan bahwa klien lah yang lebih memahami hidup mereka sendiri
Terapi sistem keluarga Sejumlah tokoh berkontribusi menjadi pionir pendekatan sistem keluarga ini,
termasuk Alfred Adler, Murray Bowen, Virginia Satir, Carl Whitaker,
Salvador Minuchin, Jay Haley, dan Cloé Madanes. Pendekatan sistemik ini
didasarkan atas asumsi bahwa kunci untuk mengubah seseorang adalah
dengan memahami dan bekerja sama dengan keluarga orang tersebut.
kebebasan, tanggung jawab, rasa cemas, rasa bersalah, menyadari keterbatasan
manusia, menciptakan arti hidup, dan membentuk masa depan dengan membuat
keputusan secara aktif. Pendekatan ini bukan berupa ajaran terapi dengan teori yang
jelas dan teknik-teknik yang sudah tersistematik. Namun, model-model terapi kategori
kedua ini berupa bentuk filsafat konseling yang menekankan beragam metode untuk
memahami pandangan subyektif seseorang. Pendekatan berbasis individu, yang
berakar dari filsafat humanistik, memberikan penekanan pada sifat dasar terapis itu
sendiri. Pendekatan ini mengatakan bahwa kualitas hubungan antar klien dengan terapis
merupakan penentu utama hasil proses terapi yang dilakukan, Secara filosofis,
pendekatan ini mengasumsikan bahwa klien mampu untuk mengarahkan dirinya tanpa
pemberian intervensi dan arahan aktif dari terapis. Bentuk pendekatan eksperensial lain
adalah terapi Gestalt, yang memberikan beragam eksperimen untuk membantu klien
menemukan kembali rasa mawas diri mereka di momen saat ini. Berbeda dengan
terapis yang menggunakan pendekatan berbasis individu, terapis yang menggunakan
pendekatan Gestalt cenderung berperan aktif tetapi tetap mengikuti arahan klien
mereka.
Kategori ketiga adalah terapi aksi, yang mencakup terapi realitas, terapi
perilaku, terapi perilaku rasional emotif, dan terapi kognitif. Terapi Realitas berfokus
pada perilaku klien saat ini dan memberikan penekanan pada pengembangan
perencanaan yang jelas untuk membentuk perilaku baru. Sama seperti terapi realitas,
terapi perilaku juga memberikan penekanan pada aksi dan pengambilan langkah-
langkah untuk menghasilkan perubahan konkrit. Saat ini, terapi perilaku memberikan
perhatian ekstra pada faktor-faktor kognitif sebagai faktor penentu perilaku. Terapi
perilaku rasional emotif dan terapi kognitif menekankan perlunya untuk mengetahui
cara melawan pikiran-pikiran bersifat disfungsional dan instan yang dapat menciptakan
permasalahan perilaku. Pendekatan perilaku-kognitif digunakan untuk membantu
orang-orang mengubah asumsi yang salah dan merusak diri sendiri serta untuk
mengembangkan pola-pola tindakan yang baru.
Pendekatan umum keempat adalah perspektif sistem, dimana terapi feminis
dan terapi keluarga menjadi bagiannya. Orientasi sistem menekankan pentingnya
pemahaman pada individu dalam konteks lingkungan sekitar yang mempengaruhi
perkembangan mereka. Untuk membawa perubahan individu, penting untuk
memperhatikan bagaimana kepribadian individu dipengaruhi oleh sosialisasi peran-
gender, budaya, keluarga, dan sistem lain.
Yang kelima adalah pendekatan: konstruksionisme sosial, terapi singkat
berfokus pada solusi, dan terapi naratif. Pendekatan-pendekatan yang lebih baru ini
menantang asumsi utama dari kebanyakan pendekatan tradisional dengan berasumsi
bahwa tidak ada kebenaran tunggal dan bahwa realitas dibangun secara sosial melalui
interaksi manusia. Baik teori modern maupun sistemik berfokus pada bagaimana orang-
orang mengasilkan hidup mereka sendiri dalam konteks sistem, interaksi, kondisi
sosial, dan wacana.
Dalam pandangan saya, praktisioner harus memperhatikan pada apa yang
client mereka pikirkan, rasakan, dan lakukan, serta sistem terapi yang sempurna harus
ditujukan pada ketiga segipermasalan ini. Beberapa terapis yang dimasukkan disini
menyoroti peran faktor kognitif dalam konseling. Yang lain menekankan pada aspek
eksperiental konseling serta peran dari perasaan. Yang lainnya lagi menekankan pada
pelaksaan rencana dalam tindakan dan belajar dengan melakukan. Dengan
menggabungkan semua dimensi ini, menyediakan dasar untuk sebuah terapi yang
komprehensif dan kuat. Jika salah satu dari dimensi ini dikeluarkan, pendekatan terapi
tidaklah lengkap.
Pengantar Kasus Stan
Anda akan belajar sebuah transaksi yang besar dengan melihat sebuah teori
dalam tindakan, atau lebih baik lagi, dalam demonstrasi langsung atau sebagai bagian
dari aktivitas eksperiental dimana Anda berfungsi dalam penggantian peran dari client
dan konselor. Sebuah program online (tersedia juga dalam format DVD)
mendemonstrasikan satu atau dua teknik dari tiap teori. Sebagai konselor Stan, saya
menunjukkan bagaimana saya akan mengaplikasikan beberapa prinsip dari tiap teori
yang sedang Anda pelajari kedalam Stan. Banyak dari siswa saya mendapati bahwa
kasus ini sejarah dari klien hipotetik (Stan) sangat membantu dalam memahami
bagaimana beragam teknik diaplikasikan untuk orang yang sama. Kasus Stan, yang
menggambarkan hidup dan perjuangannya, disajikan disini untuk memberikan anda
materi latar belakang yang signifikan yang dapat digunakan ketika mempelajari
pengaplikasian teori. Setiap dari 11 bab teori di bagian 2 mencakup diskusi tentang
bagaimana seorang terapis dengan orientasi dalam diskusi nampaknya maju bersama
Stan. Kami mengkaji jawaban-jawaban dari pertanyaan seperti berikut:
Tema ada dalam kehidupan Stan yang pantas untuk mendapatkan perhatian khusus
dalam terapi?
Konsep apa yang akan berguna bagi anda dalam bekerja dengan Stan dalam
masalahnya?
Apa tujuan umum dari terapi Stan?
Metode dan teknik apa yang mungkin memenuhi tujuan-tujuan ini?
Apa karakteristik dari hubungan antara Stan dan terapisnya?
Bagaimana terapis tersebut berhasil?
Bagaimana terapis tersebut mengevaluasi proses dan hasil perlakuan terapi?
Di bab 16 (yang saya rekomendasikan agar anda baca) saya mempresentasikan
bagaimana saya akan bekerja dengan Stan, menyarankan konsep dan teknik yang saya
ambil dari banyak model (membentuk sebuah pendekatan yang integratif)
Sebuah kasus tunggal mengilustrasikan kontas dan paralel diantara pendekatan
yang ada. Serta akan membantu Anda memahami aplikasi praktis dari 11 model dan
akan menyediakan sebuah basis untuk mengintegrasikannya. Sebuah kesimpulan dari
wawacanra dengan Stan, autobiografinya, dan beberapa tema kunci dalam hidupnya
disajikan untuk menyediakan sebuah konteks untuk dapat mempertimbangkan cara
terapis dengan orientasi teoritical yang beragam mungkin dapat bekerja dengan Stan.
Mencoba untuk mencari sifat dari setiap pendekatan yang dapat Anda masukkan ke
dalam sebuah gaya personalia konseling.
Terapis dengan model teoritikal yang beragam akan mendekati konseling Stan
dari beragam perspektif. Mereka akan menekankan konsep-konsep yang berbeda dan
menggunakan sebuah ukuran dari teknik-teknik yang berbeda. Namun, apa yang
menjadi kesamaan dari para terapis ini adalah keinginan mereka untuk menolong Stan
mengubah batasan beban dirinya serta menarik kekuatan dari dalam diri untuk berubah
dan mengejar visinya. Kebanyakan dari pendekatan terapiutik bertujuan untuk
membantu Stan mencapai langit untuk mengetuk kemungkinan diri yang tidak terbatas.
Karena tidak ada batas langit, Stan dapat belajar bahwa dia mungkin dapat mencapai
mimpi yang tidak mungkin itu jika ia membiarkan dirinya untuk memiliki sebuah visi.
Wawancara dan Autobiografi Stan
Latarnya adalah sebuah lembaga kesehatan mental masyarakat dimana
konseling individu dan kelompok tersedia. Stand datang ke konseling karena
mabuknya. Dia dihukum karena mengemudi dibawah pengaruh minuman keras, dan
hakim memutuskan bahwa ia membutuhkan bantuan profesional. Stan menyadari
bahwa dia memiliki masalah, tetapi dia tidak yakin bahwa dia kecanduan alkohol. Stan
datang untuk wawancara dan memberikan konselor informasi berikut ini:
Saat ini saya bekerja pada pembuatan bangunan. Saya suka membangun rumah, tetapi
mungkin tidak akan terus bekerja dalam pembangunan selama hidup saya. Ketika dihubungkan
dengan kehidupan pribadi saya, saya selalu kesulitan untuk bersama dengan orang-orang. Saya
bisa disebut orang kesepian’. Saya suka orang-orang dalam hidup saya, tetapi sepertinya saya
tidak tau bagaimana agar bisa dekat dengan orang-orang. Hal itu pasti berhubungan sekali
dengan alasan mengapa saya minum. Saya tidak begitu bagus dalam berteman atau dekat
dengan orang-orang. Mungkin alasan mengapa saya minum terlalu banyak adalah karena saya
sangat takut untuk bersosialisasi. Bahkan meskipun saya benci untuk mengakuinya, ketika saya
minum, segala hal tidak begitu menggembirakan. Ketika saya melihat orang lain, mereka
sepertinya tau apa yang seharusnya dikatakan. Berada di dekat mereka menjadikan saya merasa
bodoh. Saya tidak jika orang-orang menganggap saya tidak menarik. Saya ingin mengubah
hidup saya, tetapi saya tidak tau bagaimana memulainya. Karenanya saya kembali bersekolak.
Saya mahasiswa paruh waktu jurusan psikologi. Saya ingin menjadikan diri saya lebih baik. Di
salah satu kelas saya, psikologi perbaikan pribadi, kita membicarakan tentang diri kita sendiri
dan bagaimana orang-orang berubah. Kita juga harus menulis sebuah paper autobiograpi.
Itulah inti dari perkenalan Stan. Konsuler mengatakan bahwa dia ingin
membaca autobiorafinya. Stan berharap bahwa itu akan memberikannya pemahaman
yang lebih baik tentang dari mana dia sebelumnya dan akan kemana ia akan pergi. Dia
membawakannya autobiografinya, yang terbaca seperti berikut:
Dimana saya sekarang? Di usia 35, saya merasa bahwa saya telah menyia-nyiakan
kebanyakan hidup saya. Saya seharusnya sudah menyelesaikan kuliah dan bekerja sekarang,
tetapi malah saya hanya seorang junior. Saya tidak mampu untuk mengikuti kuliah full-time
karena saya harus bekerja untuk menolong diri saya. Meskipun pekerjaan bangunan berat, saya
suka dengan kepuasan ketika saya melihat pada apa yang telah saya lakukan.
Saya ingin masuk ke sebuah pekerjaan dimana saya dapat bekerja sama dengan orang-
orang. Suatu hari nanti, saya berharap untuk mendapat gelar master di bidang konseling atau
dalam pekerjaan sosial dan secepatnya bekerja sebagai seorang konselor dari anak-anak yang
bermasalah. Saya tau bahwa saya ditolong oleh seseorang yang peduli padaku, dan saya ingin
melakukan hal yang sama untuk orang lain.
Saya punya sedikit teman dan merasa takut berada diantara orang banyak. Saya merasa
nyaman dengan anak-anak, tetapi saya ragu apakah saya cukup cerdas untuk melulusi semua
kelas yang harus saya lalui untuk menjadi seorang konselor. Salah satu masalah saya adalah
saya sering mabuk. Hal ini terjadi ketika saya merasa sendiri dan ketika saya takut dengan
intensitas perasaan saya. Awalnya mimum sepertinya dapat membantu, tetapi kemudian saya
merasa buruk. Saya menyalahgunakan obat-obatan dulu.
Saya merasa gembira dan terintimidasi ketika berada di sekitar wanita yang menarik.
Saya merasa dingin, berkeringat, dan gugup sekali. Saya pikir mereka mungkin menghakimi
saya dan melihat saya tidak cukup sebagai seorang laki-laki. Saya takut saya tidak masuk
sebagai pria sesungguhnya. Ketika saya intim secara seksual dengan seorang wanita, saya
bingung dan dipenuhi dengan pertanyaan tentang apa yang dia pikirkan tentang saya.
Saya merasakan kebingungan sepanjang waktu. Saya sering merasa seperti sekarat di
dalam. Saya berpikir untuk bunuh diri, dan bertanya-tanya siapa yang akan peduli. Saya bisa
melihat keluarga saya datang ke pemakaman saya dan mereka merasa berduka. Saya merasa
bersalah belum bekerja penuh potensi, bahwa saya telah gagal, bahwa saya telah menghabiskan
banyak waktu, dan saya telah mengecewakan orang-orang. Saya menurun dan tenggelam dalam
rasa bersalah dan merasa sangat depresi. Di saat-saat seperti ini, saya merasa putus asa dan lebih
baik mati. Karna semua alasan ini, saya merasa sulit untuk dekat dengan siapapun.
Ada beberapa titik terang . saya meninggalkan bayangan masa laluku di belakang, dan
masuk kuliah. Saya suka keputusan ini saya ingin berubah-. Saya muak dengan apa yang
kurasakan. Saya tahu bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa mengubah hidupku untukku. Ini
bergantung padaku untuk mendapatkan yang ku mau. Meskipun saya merasa takut saat itu, saya
suka karena saya ingin mengambil resiko.
Apakah seperti itu masa lalu saya? Perubahan besar bagi saya adalah kepercayaan diri
dari supervisor kepada saya di kamp pemuda dimana saya bekerja selama beberapa musim
panas dulu. Dia membantu saya mendapatkan pekerjaan, dan dia juga mendukung saya untuk
kuliah. Dia mengatakan bahwa saya memiliki banyak potensi karena dapat bekerja dengan baik
dengan orang-orang muda. Sulit untuk dipercaya, tetapi keyakinannya membuat saya mulai
untuk percaya pada diri saya sendiri. Perubahan besar lainnya adalah pernikahan dan perceraian
saya. Pernikahan ini tidak berlangsung lama. Hal itu membuatku bertanya-tanya lelaki seperti
apa aku dulu! Joyce adalah perempuan kuat dan dominan yang terus mengulang betapa tidak
berharganya saya dan betapa dia tidak mau berada di dekatku. Kita berhubungan sex hanya
beberapa kali, dan kebanyakan saya tidak terlalu bagus untuk itu. Sulit untuk diterima. Hal
tersebut membuat saya takut untuk dekat dengan seorang wanita. Orang tuaku seharusnya sudah
bercerai. Mereka bertengkar sepanjang waktu. Ibuku (Angie) terus mengkritik ayahku (Frank
Sr). Aku melihatnya lemah dan pasif. Dia tidak akan pernah melawannya. Kami, anak-anak,
ada empat. Orang tuaku membandingkanku dengan kakak perempuan (Judy) dan kakak laki-
laki (Frank Jr). Mereka anak-anak ‘yang sempurna’, dan siswa yang berhasil. Adikku (Karl) dan
aku sering bertengkar. Mereka memanjakannya. Itu sulit bagiku.
Di sekolah menengah saya mulai menggunakan narkoba. Saya dilemparkan ke fasilitas
rehabilitasi remaja karena mencuri. Belakangan saya dikeluarkan dari sekolah umum karena
berkelahi, dan saya berakhir di sekolah menengah lanjutan, di mana saya pergi ke sekolah di
pagi hari dan di sore hari digunakan untuk pelatihan di tempat kerja. Saya masuk ke mekanik
mobil, cukup sukses, dan bahkan berhasil membuat saya bekerja selama 3 tahun sebagai
mekanik.
Saya masih ingat ayah saya bertanya kepada saya, "Mengapa kamu tidak bisa seperti
saudara-saudaramu? Mengapa kamu tidak dapat melakukan sesuatu dengan benar? "Dan ibu
saya memperlakukan saya seperti dia memperlakukan ayah saya. Dia akan berkata, “Mengapa
kamu melakukan begitu banyak hal untuk menyakitiku? Mengapa kamu tidak bisa tumbuh dan
menjadi seorang pria? Banyak hal yang jauh lebih baik di sekitar sini ketika kamu tiada. "Saya
ingat menangis sendiri untuk tidur beberapa malam, merasa sangat sendirian. Tidak ada
pembicaraan tentang agama di rumah saya, juga tidak ada pembicaraan tentang seks. Bahkan,
sulit membayangkan orangtuaku pernah berhubungan seks.
Di manakah saya 5 tahun dari sekarang? Saya ingin menjadi orang seperti apa? Yang
terpenting, saya ingin mulai merasa lebih baik tentang diri saya. Saya ingin bisa berhenti minum
sama sekali dan masih merasa nyaman. Saya ingin lebih menyukai diri saya daripada saya yang
sekarang. Saya harap saya bisa belajar untuk mencintai setidaknya beberapa orang, terutama
seorang wanita. Saya ingin kehilangan rasa takut saya pada wanita. Saya ingin merasa setara
dengan orang lain dan tidak selalu harus merasa menyesal atas keberadaan saya. Saya ingin
melepaskan kecemasan dan rasa bersalah saya. Saya ingin menjadi penasihat yang baik untuk
anak-anak. Saya tidak yakin bagaimana saya akan berubah atau bahkan semua perubahan apa
yang saya harapkan. Saya tahu bahwa saya ingin bebas dari kecenderungan merusak diri saya
sendiri dan belajar bagaimana cara memercayai orang lain. Mungkin ketika saya mulai lebih
menyukai diri saya sendiri, saya akan bisa percaya bahwa orang lain akan menemukan sesuatu
yang saya sukai.
Terapis yang efektif, terlepas dari orientasi teoretis mereka, akan
memperhatikan pemikiran bunuh diri. Dalam autobiografinya Stan berkata, "Saya
berpikir untuk bunuh diri." Kadang-kadang dia ragu bahwa dia akan berubah dan
bertanya-tanya apakah dia akan lebih baik mati. Sebelum memulai perjalanan
terapeutik, terapis perlu melakukan penilaian kekuatan ego Stan saat ini (atau
kemampuannya untuk mengelola kehidupan secara realistis), yang akan mencakup
diskusi tentang pemikiran bunuh dirinya.
Ikhtisar Beberapa Tema Utama dalam Kehidupan Stan
Sejumlah tema tampaknya mewakili pergulatan inti dalam kehidupan Stan. Berikut
adalah beberapa pernyataan yang dapat kita asumsikan bahwa ia dapat membuat di
berbagai titik dalam terapi dan tema-temanya yang akan dibahas dari perspektif teoretis
dalam Bab 4 hingga 14:
Meskipun saya ingin memiliki orang-orang dalam hidup saya, saya sepertinya
tidak tahu bagaimana mencari teman atau menjadi dekat dengan orang lain.
Saya ingin mengubah hidup saya, tetapi saya tidak memiliki arah.
Saya ingin membuat perbedaan.
Saya takut gagal.
Saya tahu ketika saya merasa sendirian, takut, dan kewalahan, saya banyak
minum untuk merasa lebih baik.
Saya takut pada wanita.
Terkadang di malam hari saya merasakan kecemasan yang mengerikan dan
merasa seolah saya sekarat.
Saya sering merasa bersalah bahwa saya telah menyia-nyiakan hidup saya,
bahwa saya telah gagal, dan bahwa saya telah mengecewakan orang. Pada saat-
saat seperti ini, saya mengalami depresi.
Saya suka bahwa saya memiliki tekad dan saya benar-benar ingin berubah.
Saya tidak pernah benar-benar merasa dicintai atau diinginkan oleh orang tua
saya.
Saya ingin menyingkirkan kecenderungan merusak diri sendiri dan belajar
untuk lebih memercayai orang lain.
Saya banyak menjatuhkan diri, tetapi saya ingin merasa lebih baik tentang diri
saya.
Dalam Bab 4 hingga 14, Anda dapat mengasumsikan bahwa seorang praktisi
yang mewakili masing-masing teori telah membaca kasus Stan dan akrab dengan tema-
tema kunci dalam hidupnya. Setiap terapis akan menggambarkan konsep dan teknik
dari pendekatan tertentu yang berlaku untuk bekerja dengan Stan. Selain itu, dalam
bab-bab ini Anda diminta untuk memikirkan bagaimana Anda akan terus menasihati dia
dari berbagai perspektif. Dalam melakukannya, lihat materi pengantar yang diberikan
di sini dan autobiografi Stan juga. Untuk membuat kasus Stan menjadi hidup untuk
setiap teori, saya sangat menyarankan Anda melihat dan mempelajari program online di
mana saya menasihati Stan dari setiap bab teori.
BAB DUA
Konselor: Pelaku dan Profesional
Pendahuluan
Konselor sebagai Pelaku Terapi
Karakteristik Pribadi Penasihat
yang Efektif
Terapi Pribadi untuk Konselor
Nilai-Nilai Konselor dan Proses
Terapi
Peran Nilai dalam Konseling
Peran Nilai-Nilai dalam
Mengembangkan Tujuan
Terapi
Menjadi Konselor Multikultural
yang Efektif
Memperoleh Kompetensi dalam
Konseling Multikultural
Menggabungkan Budaya dalam
Praktek Konseling
Masalah yang Dihadapi oleh Ahli
Terapi Awal
Menghadapi Kegelisahan Kami
Menjadi Diri Kami dan
Mengungkapkan Pengalaman
Kami
Menghindari Perfeksionisme
Jujur Tentang Keterbatasan Kami
Memahami arti hening
Menangani Permintaan dari Klien
Berurusan Dengan Klien Yang
Kurang Komitmen
Tolerasi terhadap Ambiguitas
Menghindari Kehilangan Diri dari
Klien Kami
Mengembangkan Rasa Humor
Berbagi Tanggungjawab dengan
Klien
Menolak untuk Memberi Nasihat
Menentukan Peran Anda sebagai
Konselor
Belajar Menggunakan Teknik
Secara Tepat
Mengembangkan Gaya Konseling
Anda Sendiri
Tetap Vital sebagai Pribadi dan
sebagai Profesional
Kesimpulan
Pendahuluan
Salah satu instrumen terpenting yang harus Anda tangani sebagai penasihat adalah diri Anda
sendiri sebagai pelaku. Dalam mempersiapkan konseling, Anda akan memperoleh
pengetahuan tentang teori kepribadian dan psikoterapi, mempelajari teknik penilaian dan
intervensi, dan menemukan dinamika perilaku manusia. Pengetahuan dan keterampilan
seperti itu sangat penting, tetapi dengan sendirinya mereka tidak cukup untuk membangun
dan mempertahankan hubungan terapeutik yang efektif. Untuk setiap sesi terapi, kami
membawa kualitas manusiawi dan pengalaman yang telah memengaruhi kami. Dalam
penilaian saya, dimensi manusia ini adalah salah satu pengaruh paling kuat pada proses
terapi.
Cara yang baik untuk memulai studi Anda tentang teori-teori konseling kontemporer
adalah dengan merenungkan masalah-masalah pribadi yang diangkat dalam bab ini. Setelah
Anda mempelajari 11 teori konseling, baca kembali bab ini dan evaluasi kembali cara-cara di
mana Anda dapat mengembangkan diri Anda sebagai pelaku konseling. Kebutuhan Anda
sendiri, motivasi, nilai-nilai, pengalaman hidup, dan sifat-sifat kepribadian dapat
meningkatkan atau mengganggu efektivitas Anda sebagai penasihat. Dengan tetap terbuka
untuk evaluasi diri, Anda tidak hanya memperluas kesadaran diri Anda tetapi juga
membangun fondasi untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan Anda sebagai
seorang profesional. Tema bab ini adalah bahwa pelaku dan profesional adalah sisi yang
saling terkait yang tidak dapat dipisahkan dalam kenyataan. Kita tahu, secara klinis dan
ilmiah, bahwa orang dari terapis dan hubungan terapeutik berkontribusi terhadap hasil terapi
setidaknya sebanyak metode pengobatan tertentu yang digunakan (Norcross & Guy, 2007).
Konselor sebagai Orang Terapi
Karena konseling adalah bentuk pembelajaran yang intim, maka hal ini menuntut seorang
praktisi yang bersedia untuk melepaskan stereotip dan menjadi orang yang otentik dalam
hubungan terapeutik. Dalam konteks hubungan orang-ke-orang itulah klien mengalami
pertumbuhan. Jika kita bersembunyi di balik keamanan peran profesional kita, klien kita
kemungkinan akan menyembunyikan diri dari kita. Jika kita hanya menjadi ahli teknis dan
meninggalkan reaksi, nilai, dan diri kita sendiri dari pekerjaan kita, hasilnya adalah konseling
yang steril. Melalui keaslian dan semangat kita sendiri, kita dapat menyentuh klien secara
signifikan. Jika kita membuat pilihan yang berorientasi pada kehidupan, memancarkan
kegembiraan untuk hidup, dan nyata dalam hubungan kita dengan klien kita, kita dapat
memotivasi mereka untuk mengembangkan kualitas yang meningkatkan kehidupan yang
sama ini. Ini tidak berarti bahwa kita adalah orang-orang yang mengaktualisasikan diri yang
telah “berhasil” atau bahwa kita tanpa masalah. Sebaliknya, itu menyiratkan bahwa kita
bersedia untuk melihat kehidupan kita dan membuat perubahan yang kita inginkan. Karena
kami menegaskan bahwa perubahan sepadan dengan risiko dan upaya, kami memberikan
harapan kepada klien kami bahwa mereka dapat berubah dan benar-benar seperti orang yang
mereka jadikan.
Singkatnya, sebagai terapis kami berfungsi sebagai model untuk klien kami. Jika kita
memodelkan perilaku yang tidak sesuai, aktivitas berisiko rendah, dan tetap jauh, kita dapat
mengharapkan klien untuk meniru perilaku ini. Jika kita mencontohkan kenyataan dengan
terlibat dalam pengungkapan diri yang tepat, klien kita cenderung jujur dengan kita dalam
hubungan terapeutik. Klien dapat menjadi lebih dari apa yang mereka sanggupi, atau mereka
dapat menjadi kurang dari yang mungkin terjadi. Dalam penilaian saya, tingkat gairah dan
kesehatan psikologis konselor adalah variabel penting yang memengaruhi hasil.
Apa yang riset tersebut tunjukkan mengenai pengaruh peran konselor sebagai individu
dan hubungan yang terjalin dalam terapi terhadap hasil psikoterapi? Berdasarakan perspektif
saya pribadi, siapa psikoterapisnya berkaitan langsung dengan keahliannya untuk
menciptakan dan menumbuhkan hubungan terapi yang efektif dengan klien. Ada satu
penelitian yang mendukung sentralitas terapis sebagai individu. Narcross (2002a)
menyatakan bahwa “banyak bukti sumber yang mengindikasikan bahwa diri individu
psikoterapis berkaitan erat dengan hasil psikoterapi itu sendiri (hal. 4). Lambert dan Barley
(2002) mengklaim bahwa penelitian empiris yang ada “secara konsisten mendukung klaim
bahwa sentralitas dalam hubungan terapi sebagai faktor utama menentukan hasil psikoterapi”
(hal. 17). Menurut Norcross (2002a), penelitian yang dilakukan mengindikasikan bahwa
hubungan terapi dan metode terapi yang digunakan secara konsisten mempengaruhi hasil
terapi, Dengan demikian, intervensi terapi atau hubungan terapi saja tidak lah cukup.
Norcross (2002a) menyimpulkan: “Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa seorang
psikoterapis handal adalah psikoterapis yang menerapkan metode-metode khusus, yang
menawarkan hubungan yang kuat, dan yang menyesuaikan teknik dan bentuk hubungan yang
diterapkan sesuai dengan diri dan kondisi klien sebagai individu.” (hal.13).
Karakteristik Pribadi Seorang Konselor Handal
Dalam menentukan konselor yang bersifat terapeutik, ada beberapa ciri dan sfiat yang
menurut saya penting. Pandangan saya mengenai karakteristik pribadi seorang terapi handal
didukung oleh penelitian dalam topik ini. (Lihat Norcross, 2002a, 2002b, dan Skovholt dan
Jennungs, 2004, untuk ringkasan penelitiannya.)
Saya tidak mengatakan bahwa setiap terapis harus memiliki sifat-sifat yang dijabarkan
disini. Akan tetapi, bagi saya, keinginan untuk berusaha menjadi seseorang yang bersifat
terapeutik adalah hal yang sangat penting. Penjabaran sifat di bawah ini dimaksudkan untuk
menstimulir diri anda untuk menginstropeksi anggapan anda perihal orang seperti apa yang
mampu menciptakan perbedaan dalam hidup orang lain.
Terapis handal memiliki identitas. Mereka tahu siapa mereka, kemampuan mereka,
apa yang mereka inginkan dalam hidup, dana pa yang penting bagi mereka.
Terapis handal menghargai dan mengapresisasi diri mereka sendiri. Mereka dapat
memberikan dan menerima bantuan serta cinta yang berasal dari harga diri dan
kekuatan mereka sendiri.
Terapis handal terbuka pada perbuahan. Mereka memiliki keinginan dan keberanian
untuk meninggalkan zona nyaman jika mereka tidak merasa puas dengan keadaan
mereka. Mereka membuat keputusan bagaimana mengubah diri mereka, dan mereka
berusaha untuk menjadi seseorang yang mereka inginkan.
Terapis efektif membuat keputusan yang beriorientasi pada hidup. Mereka sadar
bahwa keputusan awal yang mereka buat menyangkut diri mereka, orang lain, dan
sunia. Mereka bukan korban dari keputusan awal yang mereka buat, dan mereka mau
untuk mengubah keputusan mereka jika diperlukan. Mereka berkomitmen untuk
hidup sepenuhnya daripada sekedar eksis.
Terapis handal bersifat autentik, tulus, dan jujur. Mereka tidak sembunyi di balik
topeng, pembelaan, ketidakmemihakan, atau tampilan luar.
Terapis handal memiliki selera humor. Mereka dapat memberikan perspektif jelas
pada peristiwa-peristiwa dalam hidup. Mereka tidak lupa cara untuk tertawa,
terutama tertawa pada kelemahan dan pertentangan diri mereka sendiri.
Terapis handal mampu berbuat kesalahan dan mengakuinya. Mereka tidak
mengabaikan kesalahan mereka, namun mereka juga tidak tenggelam dalam
penderitaan.
Terapis handal hidup di momen saat ini. Mereka tidak terpaku pada masa lalu dan
tidak terobsesi pada masa depan. Mereka mampu untuk menempatkan diri mereka di
momen “saat ini” ketika berada dengan orang-orang.
Terapis handal mengapresiasi pengaruh yang diberikan budaya. Mereka sadar
bagaimana budaya mereka mempengaruhi diri mereka, dan mereka menghargai
keberagaman nilai dari budaya lain. Mereka juga peka terhadap perbedaan unik yang
ada dalam kelas sosial, ras, orientasi seksual, dan gender.
Terapis handal tulus ingin mengembangkan kesejahteraan orang lain. Keinginan ini
didasarkan dari rasa menghormati, rasa peduli, rasa mempercayai, dan rasa
menghargai orang lain.
Terapis handal memiliki kemampuan intrapersonal yang baik. Mereka mampu
masuk ke dalam dunia orang lain tanpa kehilangan dunia mereka sendiri, dan mereka
berusaha untuk menciptakan hubungan kolaboratif dengan orang lain. Mereka tidak
menampilkan diri mereka sebagai pramuniaga yang rapi, namun mereka dapat
memposisikan diri mereka sebagai orang lain dan bekerja menuju tujuan bersama
(Norcross, 2002b).
Terapis handal mendalami pekerjaan mereka dan memetik makna dari pekerjaan
yang mereka lakukan. Mereka menerima ganjaran dari pekerjaan mereka, tapi mereka
tidak menjadi budak pekerjaan mereka sendiri.
Terapis handal memiliki gairah. Mereka berani mengejar gairah mereka, dan mereka
bergairah akan hidup dan pekerjaan mereka (Skovholt & Jennings, 2004).
Terapis efektif dapat menjaga batasan sehat. Meskipun mereka berusaha selalu ada
bagi klien mereka, mereka tidak memasukkan masalah klien mereka ke diri mereka.
Mereka tahu berkata tidak. Ini lah yang membuat terapis handal mampu untuk
menjaga keseimbangan dalam hidup mereka.
Gambaran krakteristik terapis handal di atas mungkin terlihat tidak realistis. Siapa yang
bisa seutuhnya menjadi seperti di atas? Yang pasti bukan saya! Jangan menempatkan sifat-
sifat di atas sebagai segalanya yang wajib dipenuhi; tapi, anggap karakteristik tersebut
sebagai suatu rangkaian kesatuan. Suatu sifat mungkin sangat mencerminkan dirimu di satu
sisi, atau mungkin sangat tidak mencerminkan dirimu di sisi lain. Saya menunjukkan
gambaran orang yang bersifat terapeutik seperti di atas dengan harapan bahwa anda akan
menelaah sifat-sifat tersebut dan mengembangkan konsep kepribadian anda sendiri yang
menurut anda penting bagi pengembangan diri anda. Untuk pembahasan yang lebih rinci
tentang konselor sebagai individu dan peran hubungan terapeutik pada hasil penanganan,
lihat Psychotherapy Relationships That Work (Norcoss, 2002b) dan Master Therapists:
Exploring Expertise in Therapy and Counseling (Skovholt & Jennings, 2004).
Terapi Diri untuk Konselor
Pembahasan mengenai konselor sebagai seseorang yang bersifat terapeutik
menciptakan isu baru yang diperdebatkan dalam pendidikan konselor: Perlukah terapis
diwajibkan untuk ikut ke dalam konseling atau terapi sebelum mereka menjadi praktisi?
Pandangan saya akan hal ini, ialah konselor dapat memperoleh manfaat besar dari
pengalaman menjadi klien. Dengan melakukan beberapa bentuk eksplorasi diri dapat
meningkatkan rasa mawas diri. Pengalaman ini dapat anda lakukan sebelum pelatihan anda
atau di masa pelatihan anda, namun saya sangat menganjurkan untuk melakukan beberapa
bentuk esksplorasi diri sebagai persiapan untuk memberikan konseling pada orang lain.
Sebagian besar ahli penyakit jiwa telah melakukan terapi diri (Geller, Norcross, &
Orlinsky, 2005b). Tinjauan pustaka penelitian tentang hasil dan dampak dari psikoterapi yang
dimiliki oleh psikoterapis itu sendiri menunjukkan bahwa lebih dari 90% ahli penyakit jiwa
melaporkan hasil yang positif dan memuaskan yang diperoleh dari pengalaman konseling
mereka. (Orlinsky, Norcross, Ronnestad, & Wiseman, 2005). Geller, Norcross, dan Orlinsky
(2005b) mengatakan: “85% terapis yang telah melakukan terapi mengalami setidaknya satu
pengalaman terapi yang sangat bermanfaat bagi mereka secara personal, dan 78%
mengiyakan bahwa terapi memberikan pengaruh positif terhadap pengembangan profesional
diri mereka” (hal. 3).
Orlinsky dan kawan-kawan (2005) mengindikasikan bahwa terapi diri memberikan
dampak pada terapis dalam pekerjaan profesional mereka dari tiga sisi: (1) sebagai bagian
dari pelatihan untuk terapis, terapi diri memberikan model latihan terapeutik dimana terapis
yang sedang dalam masa pelatihan dapat mengalami penanganan dari terapis yang lebih
berpengalaman dan terapis yang dalam pelatihan ini dapat mengambil pelajaran dari
pengalaman tsb; (2) pengalaman melakukan terapi diri dapat meningkatkan kemampuan
intrapersonal yang berguna dalam melakukan terapi; dan (3) terapi diri dapat memberikan
dampak baik bagi kemampuan terapis dalam menghadapi stres pekerjaan.
Dalam 25 tahun pengalamannya melakukan penelitian tentang terapi diri yang
dilakukan ahli penyakit jiwa, Norcross (2005) telah mengumpulkan laporan positif yang
menunjukkan dampak-dampak positif yang diperoleh terapis dalam berbagai aspek, seperti
rasa percaya diri, kemampuan bekerja, kehidupan sosial, ekspresi emosional, konflik-konflik
intrapersonal, dan tingkat keparahan gejala. Perihal pelajaran tertentu yang diperoleh terapis
dari pengalaman terapi diri mereka sendiri, sebagian besar respon yang diterima mengenai
pelajaran yang diperoleh berkaitan dengan hubungan intrapersonal dan dinamika psikoterapi.
Beberapa pelajaran yang diperoleh ini adalah tentang sentralitas dari kehangatan, empati, dan
hubungan personal; merasakan bagaimana rasanya menjadi klien dalam terapi; menghargai
pentingnya untuk mempelajari cara menghadapi transference dan countertransference; serta
menghargai kesabaran dan toleransi. Norcross (2005) mengatakan, “Hampir tidak mungkin
untuk mengalami terapi diri tanpa memperoleh rasa apresiasi yang meningkat terhadap
hubungan intrapersonal antara pasian dan terapis serta terhadap kerentanan pasien” (hal.
884).
Terapi diri bukanlah tujuan akhir, namun adalah suatu cara untuk membantu mereka
yang akan menjadi konselor agar menjadi orang yang bersifat lebih terapeutik, sehingga akan
meningkatkan pengaruh mereka pada klien. Kesempatan untuk mengeskplorasi diri dapat
berguna dalam membantu konselor yang sedang dalam masa pelatihan menilai motivasi
mereka mengejar profesi ini. Menginstropeksi, nilai, kebutuhan, sikap, dan pengalaman hidup
anda dapat memberikan penerangan terhadap hal-hal apa yang anda peroleh dengan
membantu orang lain. Penting untuk mengetahui mengapa anda ingin untuk turut campur ke
dalam hidup orang lain. Melakukan eksplorasi diri dapat membantu konselor untuk
menghindari jebakan dimana konselor akan terus memuaskan orang lain dengan usahanya
namun tidak menemukan kepuasan pada diri sendiri dari usahanya tersebut. Ada nilai yang
anda dapat peroleh dengan melakukan konseling individu atau kelompok ketika anda mulai
untuk melakukan konseling sebagai suatu profesi. Banyak psikoterapis musiman kembali ke
terapi personal pada beragam waktu yang mendukung kesimpulan bahwa pengalaman ini
dipandang sebagai bagian penting bagi perkembangan profesional dan personal berkelanjutan
dari praktisioner.
Sepanjang perjalanan kami sebagai terapis, kami dapat berharap untuk melawan
batasan yang tidak terjalani dari diri kami sendiri yang berhubungan dengan kesepian,
kekuatan, kematian, seksualitas, orang tua kami, dan tantangan hidup lainnya. Hal ini tidak
berarti bahwa kami harus terbebas dari konflik sebelum kami menasehati orang lain, tetapi
kami harus menyadari konflik apa ini dan bagaimana ia mempengaruhi kami secara pribadi
maupun sebagai seorang konselor. Sebagai contoh, jika kamu kesulitan menghadapi
kemarahan dan konflik, kamu tidak akan dapat membantu klien yang mengalami masalah
dengan kemarahan atau dengan hubungannya dengan konflik.
Ketika saya mulai konseling dengan orang lain, luka lama terbuka dan perasaan yang
tidak pernah saya jamah sebelumnya muncul kepermukaan. Sulit bagi saya untuk
menghadapi depresi dari klien karena saya sendiri gagal dalam cara untuk lari dari depresi.
Saya melakukan yang terbaik untuk menggembirakan klien yang sedang depresi dengan
berbicara bersama mereka mengenai perasaan mereka, utamanya dikarenakan
ketidakmampuanku sendiri untuk menghadapi perasaan seperti itu. Pada tahun-tahun saya
bekerja sebagai konselor di sebuah pusat konseling universitas, saya sering bertanya-tanya
apa yang bisa saya lakukan untuk klien saya. Saya kadang tidak tau apa yang bisa klien saya
dapatkan, jika ada, dari setiap sesi. Saya tidak bisa memberitahu apakah mereka menjadi
lebih baik, sama saja, atau menjadi lebih buruk. Sangatlah penting bagi saya untuk mencatat
setiap perkembangan dan perubahan dari klien saya. Karena saya tidak melihat hasil yang
cepat, saya memiliki banyak keraguan apakah saya bisa menjadi konselor yang efektif. Apa
yang tidak saya pahami saat itu adalah bahwa klien harus berjuang untuk menemukan
jawabannya sendiri. Itu adalah kebutuhanku untuk melihat mereka membaik dengan cepat,
sehingga saya bisa mengetahui bahwa saya telah membantu mereka. Tidak pernah ada dalam
pikiran saya bahwa klien kadang merasa lebih buruk sesekali ketika mereka meruntuhkan
pertahanan mereka dan membuka diri pada rasa sakit mereka.
Terapi personal dapat membantu dalam menyembuhkan si penyembuh. Jika siswa
konseling tidak aktif terlibat dapat menyembuhkan luka psikologi pribadinya, mereka
mungkin akan kesulitan ketika memasuki dunia klien. Sebagai konselor, kita tidak bisa
membawa klien lebih jauh dari yang pernah kita harap capai dalam hidup kita sendiri. Jika
kita tidak menjalankan secara pribadi terhadap nilai hidup yang penuh ujian, kita tidak akan
dapat meyakinkan klien akan pentingnya ekplorasi diri. Dengan menjadi klien sendiri, kita
memiliki kerangka referensi untuk memandang diri kita sendiri. Hal ini menyediakan sebuah
dasar untuk memahami dan mengasihi klien kita, karena kita dapat mengambil dari memori
kita sendiri ketika menemui jalan buntu saat terapi, menginginkan untuk pergi lebih jauh dan
di saat yang sama melawan perubahan. Terapi kita sendiri dapat membantu kita
mengembangkan kesabaran dengan pasien kita sendiri! Kita belajar seperti apa rasanya
menghadapai kebingungan yang muncul dari penyingkapan diri dan ekspolari diri. Dengan
ingin untuk terlibat dalam sebuah proses eksplorasi diri dapat menurunkan kesempatan
menurunkan sebuah sikap arogan atau diyakinkan bahwa kita telah sembuh sepenuhnya.
terapi kita sendiri juga dapat membantu kita menghindari asumsi kedudukan superior dari
pada orang lain dan menjadikannya seperti kita dapat memperlakukan orang-orang sebagai
objek untuk dikasihani atau tidak dihormati. Malahan, dengan mengalami konseling sebagai
klien sangatlah berbeda dari pada sekadar membaca tentang proses konseling.
Yalim (2003) sangat merekomendasikan bahwa pelatih terlibat dalam terapi personal
mereka sendiri, ini merupakan bagian penting dalam latihan psikoterapi. Dasar pemikirannya
adalah bahwa alat yang paling berharga dari seorang terapis adalah dirinya sendiri. Yalom
percaya bahwa tidak ada jalan yang pebih baik bagi seorang trainee untuk belajar mengenai
psikoterapi selain memasukinya sebagai klien, dan dia menyarankan sebuah proses untuk
kembali ke terapi dalam fase yang beragam dalam hidup: eksplorasi diri merupakan sebuah
proses sepanjang usia, dan saya menyarankan bahwa terapi dapat menjadi sedalam dan
sepanjang mungkin- dan terapis memasuki terapi dalam tahapan yang berbeda dalam hidup”
(p.41)
Alasan agar siwa dalam training menerima beberapa bentuk terapi adalah untuk
membantu mereka menghadapati countertransference
*
*
(proses melihat diri mereka sendiri dari diri klien, atau memenuhi kebutuhan mereka
melalui diri klien). Menyadari manifestasi dari countertansference mereka merupakan
keahlian yang penting dari seorang konselor yang efektif. Kecuali jika konselor menyadari
konflik, kebutuhan, aset, dan liabilitas mereka sendiri, mereka dapat menggunakan waktu
terapi lebih banyak untuk tujuan mereka sendiri dari pada ada untuk kilien, yang menjadi
masalah etik. Konselor yang tidak menyadari hal tersebut berada dalam bahaya terbawa arus
gelombang dari perasaan kliennya sendiri, yang tidak membantu dirinya sendiri juga klien.
Tidaklah realistis untuk menganggap bahwa konselor dapat sepenuhnya menghilangkan
semua jejak countertransference atau mereka akan dapat sepenuhnya menyelesaikan masalah
tertentu dari masa lalu. Tetapi mereka dapat menyadari tanda-tanda dari reaksi ini dan dapat
menghadapi perasaan di dalam terapi dan sesi supervisi mereka sendiri.
Untuk pembahasan komprehensif mengenai personal terapi untuk konselor, lihat the
Psychotherapist’s Own Psychotherapy: Patient and Clinician Perspectives (Geller,
Norcrossm & Orlinsky, 2005a).
Nilai-nilai Konselor dan Proses Terapiutik
Seperti yang telah disinggung di sesi sebelumnya, pentingnya eksplorasi diri untuk
konselor dibawa atas nilai dan keyakinan yang mereka genggam. Pengalaman saya dalam
mengajar dan mendampingi siswa konseling menunjukkan kepada saya betapa pentingnya
siswa untuk menyadari nilai mereka, tentang dari mana dan bagaimana mereka
mendapatkannya, dan bagaimana nilai merea mempengaruhi intervensi dengan klien. Fokus
dari proses pencarian diri adalah mengkaji bagaimana nilai anda mempengaruhi pekerjaan
anda sebagai konselor.
Peran nilai dalam konseling
Derajat nilai dari konselor harus masuk kedalam sebuah hubungan terapiutik adalah masalah
perdebatan. Sebagai konselor, kita sering diajari untuk tidak membiarkan nilai kita ditunjukkan, jika
tidak ia akan cenderung mengarahkan klien ke arah tersebut. Meski begitu, bukan berarti kita harus
netral dalam hal nilai, atau tidak memiliki nilai; intervensi terapiutik kita terletak pada nilai pusat.
*
Istilah yang dicetak tebal didefiniskan dalam buku ini dan di daftar kata dalam Student Manual.
Bahkan pilihan kata yang kita gunakan menunjukkan sistem nilai kita. Hal ini tidak mungkin tidak
juga diinginkan bagi para konselor untuk netral dalam hal nilai dalam hubungan konseling. Meskipun
nilai kita mempengaruhi cara praktik kita, hal ini mungkin untuk mempertahankan objektivitas.
Bahkan jika objektivitas mungkin sulit untuk diraih, kita bisa berjuang agar terhindar dari perangkap
subjektivitas kita sendiri.
Konselor harus siap menghadapi kecenderungan untuk mengasumsi salah satu dari dua posisi
ekstrim. Ekstrim yang pertama adalah konselor yang memegang keyakinan yang pasti dan mutlat dan
menganggapnya sebagai tugas untuk menggunakan pengaruh terhadap klien agar mengadopsi nilai
mereka. Konselor seperti ini cenderung mengarahkan klien mereka ke arah sikap dan nilai yang
mereka yakini “benar”. Ekstrim yang lain adalah konselor yang bertahan bahwa mereka harus
menjaga nilai mereka diluar pekerjaan dan hal yang ideal adalah untuk berjuang pada konseling yang
terbebas dari nilai. Karena konselor ini sangat ingin agar tidak mempengaruhi klien mereka, mereka
mengambil resiko untuk melumpuhkan diri mereka sendiri.
Penelitian telah menunjukkan bahwa nilai konselor mempengaruhi semua aspek dari proses
terapiutik, termasuk strategi asesmen, tujuan terapi, mengidentifikasi masalah klien apa yang akan
dijadikan fokus perlakuan, pilihan teknik, dan evaluasi dari hasil terapiutik. Klien dipengaruhi oleh
nilai terapis dan kadang mengadopsi beberapa dari nilai tersebut (Richards, Rector, & Tjeltveit, 1999).
Menurut Falender dan Shafranske (2004), hal ini tidak dapat lagi dipertahankan untuk
mengasumsikan bahwa psikoterapi itu netral nilai. Konselor harus mempertimbangkan peran dari
pengaruh pribadi dalam praktik mereka.
Dalam pandangan saya, peran konselor adalah untuk menciptakan sebuah kondisi dimana
klien dapat mengkaji pikiran, perasaan, dan tindakan dan dengan cepat mencapai solusi yang terbaik
bagi mereka. Tugas anda adalah untuk membantu invidu dalam menemukan jawaban yang paling
sejalan dengan nilai mereka sendiri. Penting agar anda menyadari sifat dari nilai dan bagaimana
keyakinan anda berjalan dalam intervensi yang anda gunakan dalam pekerjaan profesional. Fungsi
anda sebagai seorang konselor adalah bukan untuk meyakinkan tentang pelajaran yang tepat untuk
diambil melainkan untuk membantu mereka mengevaluasi kebiasaan mereka sehingga mereka dapat
memutuskan apa yang dapat bekerja bagi mereka. Jika klien menyadari bahwa apa yang mereka
lakukan tidak dapat membuat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, maka hal ini tepat
untuk membantu mereka mengembangkan cara-cara berpikir dan bertindak baru untuk membantu
mereka bergerak lebih dekat ke tujuan mereka. Hal ini dilakukan dengan penuh penghargaan atas has
mereka untuk memutuskan nilai apa yang akan mereka gunakan sebagai sebuah kerangka untuk
hidup. Mereka yang mencari koseling adalah orang-orang yang ingin mengklarifikasi nilai dan tujuan
mereka, membuat keputusan yang berdasarkan pengetahuan, memilih aliran tindakan, dan
mengasumsikan tanggungjawab atas sebuah keputusan yang mereka ambil. Hal ini penting bahwa
konselor tidak hubung-singkat eksplorasi klien mereka.
Pertanyaan tentang pengaruh nilai konselor terhadap klien memiliki implikasi etik. Tujuan
dan metode terapiutik merupakan expresi dari hidup konselor. Imposisi nilai mengacu pada nilai
secara langsung bertujuan untuk mendefinisikan nilai, sikap, keyakinan, dan kebiasaan klien.
Mungkin bagi konselor untuk memaksakan nilai mereka baik itu secara aktif maupun pasif. Konselor
berhati-hati untuk tidak memaksakan nilai mereka kepada klien. Dalam topik ini, American
Counseling Association’s Code of Ethics (ACA, 2005) memiliki standar berikut:
Nilai pribadi. Konselor sadar akan nilai, sikap, keyakinan dan kebiasaan mereka sendiri serta
menghindari pemaksaan nilai yang tidak sejalan dengan tujuan konseling serta penghargaan kepada
kepada keberagaman klien, trainee, dan partisipan penelitian. (A.4.b.)
Meskipun terapis tidak harus secara langsung mengajarkan klien mereka atau memaksakan nilai-nilai
tertentu, terapis mengimplementasikan sebuah filosofi dari konseling, dimana, pada akibatnya, sebuah
filosofi hidup. Para konselor mengomunikasikan nilai-nilai mereka dengan tujuan terapeutik
yang meraka anut dan dengan prosedur yang mereka terapkan untuk mencapai tujuan ini.
Peran Nilai-Nilai dalam Mengembangkan Tujuan Terapi
Siapa yang harus menetapkan tujuan konseling? Hampir semua teori sepakat bahwa sebagian
besar tanggungjawab klien untuk memutuskan tujuan, berkolaborasi dengan terapis saat
terapi dimulai. Konselor memiliki tujuan umum, yang tercermin dalam perilaku mereka
selama sesi terapi, dalam pengamatan mereka terhadap perilaku klien, dan dalam intervensi
yang mereka buat. Sangat penting bahwa tujuan umum konselor menjadi selaras dengan
tujuan pribadi klien.
Dalam pandangan saya, terapi harus dimulai dengan eksplorasi harapan dan tujuan
klien. Klien pada awalnya cenderung memiliki gagasan yang kabur tentang apa yang mereka
harapkan dari terapi. Mereka mungkin mencari solusi untuk masalah, mereka mungkin ingin
berhenti menyakiti, mereka mungkin ingin mengubah orang lain sehingga mereka dapat
hidup dengan lebih sedikit kecemasan, atau mereka mungkin berusaha untuk berbeda
sehingga beberapa orang penting dalam hidup mereka akan lebih menerima mereka. Dalam
beberapa kasus klien tidak memiliki tujuan; mereka berada di kantor terapis hanya karena
mereka dikirim untuk konseling oleh orang tua mereka, pengawas masa percobaan, atau guru.
Jadi, di mana seorang penasihat dapat memulai? Wawancara awal dapat digunakan
paling produktif untuk fokus pada tujuan klien atau kurang dari itu. Terapis dapat memulai
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini: Apa yang Anda harapkan dari konseling?
Mengapa kamu di sini? Apa yang kamu inginkan? Apa yang ingin Anda tinggalkan?
Bagaimana yang Anda lakukan saat ini bekerja untuk Anda? Aspek apa dari diri Anda atau
situasi hidup Anda yang paling ingin Anda ubah?
Menetapkan tujuan sangat terkait dengan nilai-nilai. Klien dan konselor perlu
menggali apa yang mereka harapkan dari hubungan konseling, apakah mereka dapat bekerja
satu sama lain, dan apakah tujuan mereka sesuai. Yang lebih penting, adalah bahwa konselor
dapat memahami, menghormati, dan bekerja dalam kerangka dunia klien daripada memaksa
klien untuk masuk ke dalam skema nilai-nilai terapis.
Menjadi Konselor Multikultural yang Efektif
Bagian dari proses menjadi konselor yang efektif melibatkan belajar bagaimana mengenali
masalah keanekaragaman dan membentuk praktik konseling seseorang agar sesuai dengan
pandangan dunia klien. Merupakan kewajiban etis bagi konselor untuk mengembangkan
sensitivitas terhadap perbedaan budaya jika mereka berharap untuk melakukan intervensi
yang konsisten dengan nilai-nilai klien mereka. Peran terapis adalah untuk membantu klien
dalam membuat keputusan yang sejalan dengan pandangan dunia klien, bukan untuk hidup
dengan nilai-nilai terapis.
Keanekaragaman dalam hubungan terapeutik adalah jalan dua arah. Sebagai seorang
konselor, Anda membawa warisan Anda sendiri ke dalam pekerjaan Anda, jadi Anda perlu
mengenali cara-cara pengondisian budaya yang mempengaruhi arah yang Anda ambil dengan
klien Anda. Kecuali jika konteks sosial dan budaya klien dan konselor dipertimbangkan, sulit
untuk memahami perjuangan klien. Siswa konseling sering memegang nilai-nilai seperti
membuat pilihan sendiri, mengungkapkan apa yang mereka rasakan, bersikap terbuka dan
mengungkapkan diri, dan berjuang untuk kemandirian yang berbeda dari nilai-nilai klien
dari berbagai latar belakang budaya. Klien mungkin sangat lambat untuk mengungkapkan
dan memiliki harapan yang berbeda tentang konseling daripada yang dimiliki oleh terapis.
Adalah penting bahwa konselor menyadari bagaimana klien dari beragam budaya dapat
menganggap mereka sebagai terapis, serta bagaimana klien dapat merasakan nilai dari
bantuan formal. Tugas konselor untuk menentukan apakah asumsi yang mereka buat tentang
sifat dan fungsi terapi sesuai untuk klien yang beragam secara budaya.
Jelas, konseling yang efektif harus memperhitungkan dampak budaya pada fungsi
klien, termasuk tingkat akulturasi klien. Budaya, secara sederhana, adalah nilai-nilai dan
perilaku yang dimiliki oleh sekelompok individu. Penting untuk disadari bahwa budaya
mengacu pada lebih dari sekadar warisan etnis atau ras; budaya juga mencakup faktor-faktor
seperti usia, jenis kelamin, agama, orientasi seksual, kemampuan fisik dan mental, dan status
sosial ekonomi.
Memperoleh Kompetensi dalam Konseling Multikultural
Konselor yang efektif memahami kondisi budaya mereka sendiri, kondisi klien mereka, dan
sistem sosial politik di mana mereka menjadi bagiannya. Memperoleh pemahaman ini
dimulai dengan kesadaran konselor tentang asal-usul budaya dari setiap nilai, bias, dan sikap
yang mungkin mereka miliki. Bagian utama dari menjadi konselor yang kompeten dalam
keanekaragaman adalah menantang gagasan bahwa nilai-nilai yang kita pegang secara
otomatis berlaku untuk orang lain. Kita juga perlu memahami bagaimana nilai-nilai kita
cenderung memengaruhi praktik kita dengan beragam klien yang merangkul nilai-nilai
berbeda. Lebih jauh lagi, menjadi seorang praktisi yang kompeten terhadap keragaman
bukanlah sesuatu yang kita bisa kuasai sekaligus; melainkan, ini adalah proses yang
berkelanjutan.
Sue, Arredondo, dan McDavis (1992) dan Arredondo dan rekan-rekannya (1996)
telah mengembangkan kerangka kerja konseptual untuk kompetensi dan standar dalam
konseling multikultural. Dimensi kompetensi mereka mencakup tiga bidang: (1) keyakinan
dan sikap, (2) pengetahuan, dan (3) keterampilan. Untuk perawatan yang lebih mendalam
tentang kompetensi konseling dan terapi multikultural, merujuk pada Counseling the
Culturally Diverse: Theory and Practice (D. W. Sue & Sue, 2008).
KEPERCAYAAN DAN SIKAP Pertama, konselor yang efektif telah beralih dari tidak
sadar secara budaya ke memastikan bahwa bias, nilai, atau masalah pribadi mereka tidak
akan mengganggu kemampuan mereka untuk bekerja dengan klien yang secara budaya
berbeda dari mereka. Mereka percaya kesadaran diri terhadap budaya dan kepekaan terhadap
warisan budaya seseorang sangat penting untuk segala bentuk bantuan. Konselor menyadari
reaksi emosional positif dan negatif mereka terhadap orang-orang dari kelompok ras dan etnis
lain yang mungkin terbukti mengganggu untuk membangun hubungan kerja sama yang
membantu. Mereka berusaha memeriksa dan memahami dunia dari sudut pandang klien
mereka. Mereka menghormati kepercayaan dan nilai-nilai agama dan spiritual klien. Mereka
merasa nyaman dengan perbedaan antara mereka dan orang lain dalam hal ras, etnis, budaya,
dan kepercayaan. Daripada mempertahankan bahwa warisan budaya mereka lebih unggul,
mereka mampu menerima dan menghargai keanekaragaman budaya. Mereka menyadari
bahwa teori dan teknik tradisional mungkin tidak sesuai untuk semua klien atau untuk semua
masalah. Konselor yang terlatih secara budaya memantau fungsi mereka melalui konsultasi,
pengawasan, dan pelatihan atau pendidikan lebih lanjut.
PENGETAHUAN Kedua, praktisi yang efektif secara budaya memiliki pengetahuan
tertentu. Mereka tahu secara spesifik tentang warisan ras dan budaya mereka sendiri dan
bagaimana hal itu memengaruhi mereka secara pribadi dan profesional. Karena mereka
memahami dinamika penindasan, rasisme, diskriminasi, dan stereotip, mereka berada dalam
posisi untuk mendeteksi sikap, kepercayaan, dan perasaan rasis mereka sendiri. Mereka
memahami pandangan dunia klien mereka, dan mereka belajar tentang latar belakang budaya
klien mereka. Mereka tidak memaksakan nilai dan harapan mereka pada klien mereka dari
latar belakang budaya yang berbeda dan menghindari stereotip klien. Konselor yang terlatih
secara budaya memahami bahwa kekuatan sosial politik eksternal mempengaruhi semua
kelompok, dan mereka tahu bagaimana kekuatan ini beroperasi sehubungan dengan
perlakuan terhadap minoritas. Praktisi-praktisi ini menyadari hambatan institusional yang
mencegah minoritas dari menggunakan layanan kesehatan mental yang tersedia di komunitas
mereka. Mereka memiliki pengetahuan tentang latar belakang sejarah, tradisi, dan nilai-nilai
populasi klien dengan siapa mereka bekerja. Mereka tahu tentang struktur keluarga minoritas,
hierarki, nilai-nilai, dan kepercayaan. Selain itu, mereka memiliki pengetahuan tentang
karakteristik dan sumber daya masyarakat. Mereka yang terampil secara budaya tahu
bagaimana membantu klien memanfaatkan sistem pendukung asli. Di daerah-daerah di mana
mereka kurang pengetahuan, mereka mencari sumber daya untuk membantu mereka.
Semakin besar kedalaman dan luasnya pengetahuan mereka tentang beragam kelompok
budaya, semakin besar kemungkinan mereka untuk menjadi praktisi yang efektif.
STRATEGI KETERAMPILAN DAN INTERVENSI Ketiga, konselor yang efektif
telah memperoleh keterampilan tertentu dalam bekerja dengan populasi yang beragam secara
budaya. Konselor bertanggungjawab untuk mendidik klien mereka tentang proses terapi,
termasuk hal-hal seperti menetapkan tujuan, harapan yang sesuai, hak-hak hukum, dan
orientasi konselor. Konseling multikultural ditingkatkan ketika praktisi menggunakan metode
dan strategi dan menentukan tujuan yang konsisten dengan pengalaman hidup dan nilai-nilai
budaya klien mereka. Praktisi tersebut memodifikasi dan mengadaptasi intervensi mereka
untuk mengakomodasi perbedaan budaya. Mereka tidak memaksa klien mereka untuk berada
dalam satu pendekatan konseling, dan mereka mengakui bahwa teknik konseling mungkin
terikat budaya. Mereka mampu mengirim dan menerima pesan verbal dan nonverbal secara
akurat dan tepat. Mereka secara aktif terlibat dengan individu minoritas di luar kantor (acara
komunitas, perayaan, dan kelompok lingkungan). Mereka bersedia mencari pengalaman
pendidikan, konsultatif, dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk bekerja
dengan populasi klien yang beragam secara budaya. Mereka berkonsultasi secara teratur
dengan profesional lainnya yang sensitif secara multikultural mengenai masalah budaya
untuk menentukan apakah rujukan mungkin diperlukan.
Menggabungkan Budaya dalam Praktek Konseling
Meskipun peningkatan perhatian sedang diberikan tentu saja dalam masalah multikultural,
banyak praktisi tetap tidak yakin tentang bagaimana dan kapan harus memasukkan kesadaran
dan keterampilan multikultural dalam praktik klinis mereka (Cardemil & Battle, 2003). Salah
satu cara untuk memasukkan dimensi multikultural adalah dengan memulai diskusi terbuka
pada klien mengenai ras dan etnis. Cardemil dan Battle menganggap bahwa melakukan
diskusi terbuka dengan klien dapat meningkatkan persatuan terapeutik dan mendorong hasil
penanganan yang lebih baik. Dengan memancing ide dan memantik percakapan mengenai ras
dan etnis, mereka menyarankan para terapis untuk menerapkan anjuran-anjuran berikut ke
dalam proses terapeutik yang mereka laksanakan:
Menyingkirkan prasangka terhadap ras/etnis klien dan keluarga mereka. Jangan
membuat asumsi salah yang dapat menghalangi perkembangan hubungan terapeutik
dengan menanyakan klien di awal proses terapi mengenai ras/etnis mereka.
Melibatkan klien dalam percakapan tentang ras dan etnis untuk mencegah stereotip
dan asumsi salah. Klien bisa saja merasa berbeda dengan kelompok ras/etnis mereka.
Menyadari bahwa perbedaan ras/etnis antara terapis dengan klien dapat
mempengaruhi proses terapi. Meskipun terapis tidak mungkin mengenali tiap-tiap
perbedaan kelompok yang dapat terjadi selama proses terapi, terapis harus tetap
memperhitungkan relevansi dari perbedaan ras/etnik dengan klien.
Mengenali bahwa kekuasaan, hak istimewa, dan rasisme dapat mempengaruhi
interaksi dengan klien. Membahas isu-isu ini sangat bermanfaat dalam menguatkan
hubungan terapeutik.
Mengenali bahwa semakin nyaman perasaan terapis terhadap percakapan mengenai
ras dan etnis, semakin mudah mereka untuk menanggapi klien yang mungkin tidak
merasa nyaman dengan pembahasan mengenai ras/etnis.
Terbuka untuk terus belajar tentang berbagai macam dimensi budaya dan
pengaruhnya terhadap penanganan terapi. Berkeinginan untuk mengenali dan
menginstropeksi pandangan, asumsi, dan prasangka personal yang dimiliki.
Menyadari bahwa kemampuan ini berkembang dengan cepat atau tanpa usaha.
Tidak lah realistis untuk menganggap bahwa konselor tahu segalanya tentang
latar belakang kultural klien, namun memahami secara dasar latar belakang budaya
dan etnis klien sangat penting. Ada banyak manfaat positif diperoleh dengan
membiarkan klien mengajarkan konselor tentang budaya mereka. Konselor dapat
bertanya kepada klien perihal informasi yang berkenaan bagi konselor untuk
melakukan penanganan kepada klien. Menerapkan dimensi kultural ke dalam proses
terapeutik tidak hanya terbatas pada klien dengan latar belakang etnis atau budaya
tertentu saja. Penting bagi terapis untuk memperhitungkan pandangan dan latar
belakang semua klien. Gagal melakukan ini dapat membatasi potensi manfaat yang
dapat diperoleh klien dari proses terapeutik.
Dalam kasus jika klien yang ditangani memiliki pengalaman hidup di lebih
dari satu budaya, sangat berguna bagi terapis untuk menilai tingkat akulturasi dan
perkembangan identitas yang terjadi. Klien biasanya mengikuti budaya asal mereka,
namun mereka bisa saja menyukai karakteristik-karakteristik tertentu dari budaya
baru mereka. Klien juga dapat mengalami konflik dalam mengintegrasikan dua
budaya yang mereka miliki. Perbedaan tingkat akulturasi dalam anggota keluarga
klien adalah keluhan umum dari klien dengan permasalahan keluarga. Perjuangan
yang dialami klien ini dapat dieksplor dengan baik dalam konteks terapeutik jika
konselor memahami dan menghargai konflik budaya yang dialami klien.
MENERIMA KEBERAGAMAN Konseling pada dasarnya bersifat beragam dalam
masyarakat multikultural, sehingga tidak ada satu pendekatan terapeutik yang ideal.
Tiap-tiap teori memiliki khas masing-masing yang sesuai untuk tiap kelompok yang
berbeda-beda. Beberapa pendekatan teoritis memiliki keterbatasan ketika diterapkan
dalam populasi tertentu. Pendekatan multikultural yang efektif memerlukan terapis
untuk memiliki keterbukaan, keleluasan, dan keinginan untuk mengubah strategi agar
sesuai dengan kebutuhan dan situasi klien sebagai individu. Terapis yang benar-benar
menghargai klien mereka akan menyadari keraguan yang dimiliki klien dan tidak
akan salah menafsirkan keraguan tersebut. Namun, mereka akan berusaha dengan
sabar sebisa mungkin untuk masuk ke dalam dunia klien mereka. Terapis tidak
diharuskan untuk memiliki pengalaman yang sama dengan klien mereka, namun
mereka harus terbuka pada perasaan dan perjuangan klien mereka. Perbedaan, bukan
kesamaan, yang membuat kita melihat secara kritis perbuatan kita.
PANDUAN MULTIKULTURAL Masyarakat barat semakin beragam, namun bentuk
terapi kita masih berdasarkan pada asumsi Erosentris, yang tidak selalu
memperhitungkan pengaruh dan dampak sosialisasi ras dan budaya (APA, 2003).
Untuk memperjelas pengetahuan dan keahlian yang diperlukan dalam dunia kita yang
selalu berubah-ubah ini, Asosiasi Psikologi Amaerika (2003) memberikan kerangka
bagi psikologis profesional dalam memberikan penanganan di populasi kita yang
beragam ini. Meskipun panduan ini khususnya dikembangkan untuk psikologis,
panduan ini juga dapat berguna bagi terapis.
1. “Psikologis dianjurkan untuk menyadari bahwa, sebagai mahluk berbudaya,
mereka dapat memiliki sikap dan keyakinan yang dapat mengganggu persepsi dan
interaksi mereka dengan orang lain yang memiliki ras dan etnis yang berbeda
dengan mereka” (hal. 382).
2. “Psikologis dianjurkan untuk menyadari pentingnya kepekaan multikultural,
pengetahuan multikultural, dan pemahaman mengenai orang-orang dengan ras dan
etnis berbeda” (hal. 385).
3. “Sebagai pendidik, psikologis dianjurkan untuk menerapkan pendekatan
multikulturalisme dan keberagaman dalam pendidikan psikologi” (hal. 386).
4. “Peneliti psikologi yang memiliki kepekaan kultural dianjurkan untuk menyadari
pentingnya melakukan penelitian psikologis berbasis budaya dan etika di antara
orang-orang dengan latar belakang etnis, linguistik, dan ras minoritas” (hal. 388).
5. “Psikologis dianjurkan untuk menerapkan keahlian yang sesuai secara budaya
dalam penanganan klinis dan praktik psikologi lainnya” (hal. 390).
6. “Psikologis dianjurkan untuk menggunakan proses perubahan organisasi untuk
mendukung pengembangan (kebijakan) organisasi kultural” (hal. 392).
Panduan-panduan ini berbentuk sebagai suatu draf, bukan sebagai rangkaian
resolusi. Pengintegrasian faktor ras dan etnis ke dalam teori, praktik, dan
penelitian psikologis merupakan perkembangan baru dalam dunia psikologi.
PANDUAN PRAKTIKAL TAMBAHAN Agar proses konseling dapat menjadi
efektif, isu-isu kultural penting untuk dibicarakan dengan semua klien. Berikut
adalah panduan-panduan tambahan yang dapat meningkatkan efektivitas anda
ketika menanganani klien dengan latar belakang beragam:
Pelajari bagaimana latar belakang kultural anda mempengaruhi perilaku
dan cara berpikir anda. Mulai untuk menambah pemahaman anda
mengenai budaya lain.
Kenali asumsi dasar anda, khususnya karena asumsi tersebut diterapkan
dalam budaya, etnis, ras, gender, kelas, spiritualitas, agama, dan orientasi
seksual. Pikirkan bagaimana asumsi anda dapat mempengaruhi pekerjaan
profesional anda.
Periksa dari mana anda menerima pemahaman anda tentang budaya.
Belajar untuk memerhatikan kesamaan yang ada di antara orang-orang
dengan latar belakang beragam.
Fleksibel dalam menerapkan metode yang anda gunakan pada klien.
Jangan terpaku pada satu teknik tertentu saja jika teknik tersebut tidak
sesuai dengan klien.
Ingat bahwa memiliki perspektif multikultural dalam melakukan
penanganan dapat memudahkan pekerjaan anda serta dapat
menguntungkan anda dan klien anda.
Perlu waktu, pembelajaran, dan pengalaman untuk menjadi konselor
multikultural yang handal. Kompetensi multikultural bukan sekedar
kesadaraan dan kepekaan kultural saja, juga bukan sekedar pengetahuan atau
keahlian. Akan tetapi, kompetensi multikultural memerlukan gabungan semua
faktor ini.
Permasalahan Yang Dihadapi Terapis Pemula
Pada bagian ini, saya akan membahas isu-isu yang sebagian besar dihadapi
oleh terapis, khususnya di masa-masa awal belajar bagaimana menjadi terapis.
Ketika anda telah menyelesaikan pendidikan formal menjadi terapis, mulai
berurusan langsung dengan klien, anda akan diuji untuk mengintergrasikan
dan menerapkan apa yang anda telah pelajari. Di masa-masa permulaan seperti
ini, akan muncul berbagai permasalahan menyangkut kapabilitas anda sebagai
individu dan sebagai profesional. Berikut adalah beberapa panduan berguna
sebagai bahan refleksi untuk anda dalam menghadapi tantangan menjadi
konselor handal.
Menghadapi Rasa Khawatir
Sebagian besar konselor pemula merasa campur aduk ketika berurusan dengan
klien pertama mereka. Rasa khawatir yang muncul menunjukkan bahwa kita
sadar akan ketidakpastian masa depan klien kita dan akan kemampuan kita
untuk selalu ada untuk mereka. Keinginan kita untuk menyadari dan
menghadapi rasa khwatir ini, dan tidak menyangkal perasaan tersebut,
merupakan suatu pertanda positif. Bahwa kita merasakan keraguan diri adalah
hal normal; yang penting adalah bagaimana kita menghadapinya. Salah satu
cara mengadapi rasa khawatir ini adalah dengan membicarakannya dengan
rekan atau supervisor. Dengan melakukan hal ini, akan lebih memungkinkan
bagi anda untuk mendapat saran bermakna dan menerima dukungan dari
sesama praktisi yang mungkin juga mengalami permasalahan dan
kekhawatiran yang sama.
Menjadi Diri Sendiri dan Menceritakan Pengalaman Pribadi
Karena kita dapat merasa tidak nyaman dan khawatir ketika kita memulai
konseling, kita memiliki kecendrungan untuk terlalu merisaukan apa yang
tertulis dalam buku teori dan tata cara kerja yang tertulis. Terapis pemula
seringkali tidak mampu menghargai nilai menjadi diri sendiri. Hal ini dapat
berakibat buruk dalam dua skenario. Di satu sisi, hal ini dapat menyebabkan
mereka kehilangan diri mereka ke dalam peran mereka sebagai terapis dan
bersembunyi di balik tampilannya sebagai terapis. Konselor seperti ini terlalu
sibuk dalam menjaga peran stereotipnya sehingga tidak memperlihatkan diri
pribadi mereka sebagai individu. Di sisi lain, hal ini dapat menyebabkan
terapis terlalu berusaha untuk membuktikan bahwa mereka juga manusia.
Mereka cenderung berbuat kesalahan dan membebankan klien mereka dengan
kesan impulsif tentang klien mereka. Kita tidak menjadi diri kita yang
sebenarnya dalam kedua skenario terburuk ini. Jika kita dapat menjadi diri kita
sendiri dalam penanganan terapi yang kita lakukan, dan menceritakan
pengalaman pribadi kita sesuai kadarnya dalam sesi konseling, kita akan lebih
autentik dan hadir di momen. Tingkat keaslian dan kehadiran ini lah yang
membuat kita mampu untuk berhubungan dengan klien kita dan menciptakan
hubungan terapeutik yang efektif dengan mereka.
Menghindari Perfeksionisme
Salah satu pemikiran negatif yang paling sering kita timpakan pada diri kita
adalah bahwa kita tidak boleh sama sekali berbuat satu kesalahan pun.
Meskipun kita tahu dengan baik bahwa secara intelektual manusia tidak
sempurna, namun secara emosional kita sering merasa bahwa tidak ada ruang
untuk kesalahan. Saya memberitahu murid konseling saya bahwa jangan
membebani diri dengan pemikiran bahwa mereka harus sempurna. Diperlukan
keberanian untuk mengakui ketidaksempurnaan, namun ada nilai dalam
mengakui ketidaksempurnaan diri.
Anda pasti akan berbuat kesalahan, baik sebagai terapis pemula atau
terapis berpengalaman. Jika energi kita terkuras dalam menciptakan kesan
kesempurnaan, maka energi kita akan tersisa sedikit untuk klien. Saya
mengatakan pada murid-murid saya untuk menantang pandangan mereka
bahwa mereka harus mengetahui segalanya dan harus memiliki keahlian
sempurna. Saya menyarankan mereka untuk membagi kesalahan atau hal yang
mereka anggap sebagai kesalahan di tiap pertemuan bimbingan. Mereka yang
ingin mengambil resiko dengan membuat kesalahan dan ingin ingin
memperlihatkan keraguan dalam diri mereka akan menemukan jalan menuju
pertumbuhan.
Jujur Akan Keterbatasan Diri Kita
Kita tidak dapat mengharapkan bahwa kita akan berhasil menangani semua
klien yang ada. Diperlukan kejujuran untuk mengakui bahwa kita tidak mampu
untuk berhasil menangani semua klien. Penting bagi kita untuk mengetahui
kapan dan bagaimana untuk memberikan rujukan baru pada klien ketika
keterbatasan yang kita miliki membuat kita tidak mampu menolong mereka.
Akan tetapi, ada perbedaan antara mengetahui batasan kita dengan menantang
diri kita pada hal-hal yang kita anggap sebagai “keterbatasan.” Sebelum anda
memutuskan bahwa anda tidak memiliki pengalaman atau kemampuan yang
memadai untuk menangani klien dalam populasi tertentu, cobalah untuk
bekerja di lingkungan baru dengan populasi yang bukan anda inginkan sebagai
populasi keahlian anda. Ini dapat dilakukan melalui penempatan lapangan di
lokasi beragam atau dengan mengunjungi agensi-agensi.
Memahami Momen Hening
Momen hening dalam sesi terapi mungkin terlihat seperti mengheningkan cipta di
mata terapis pemula, namun keheningan ini dapat memiliki banyak arti. Klien mungkin saja
berpikir dalam keheningannya mengenai hal-hal yang dibahas sebelumnya atau meninjau
pemhaman yang baru saja ia terima. Klien mungkin menunggu terapis untuk memimpin dan
memutuskan apa yang harus dikatakan selanjutnya, atau terapis dapat menunggu klien untuk
melakukannya. Bisa klien atau terapis yang terganggu atau diperhatikan, atau keduanya sama
sekali tidak memiliki apapun untuk dikatakan saat itu. Klien dan terapis mungkin
berkomunikasi tanpa kata. Diam itu mungkin menyegarkan, atau diam itu mungkin
membingungkan. Mungkin interaksi telah berada di tingkat permukaan, dan keduanya
memiliki ketakutan atau keraguan untuk masuk kedalam tingkat yang lebih dalam. Ketika
diam muncul, kenali dan eksplore arti dari diam tersebut dengan klien anda.
Berhadapan dengan permintaan dari klien
Sebuah masalah utama yang memecahkan teka-teki banyak konselor pemula adalah
bagaimana berhadapan dengan klien yang nampaknya membuat permintaan konstan. Karena
para terapis merasa bahwa mereka harus memperluas diri mereka untuk menolong, mereka
kadang membebani diri mereka sendiri dengan standar yang tidak realistis bahwa mereka
harus memberi tanpa pamrih tanpa peduli seberapa besar permintaan tersebut. Permintaan
tersebut dapat berwujud dalam beberapa bentuk. Klien mungkin ingin melihat anda lebih
sering atau untuk waktu yang lebih lama dari yang bisa anda sediakan. Mereka mungkin
ingin melihat anda secara sosial. Beberapa klien mungkin berharap agar anda terus
menujukkan seberapa peduli sehingga anda memberitahu mereka apa yang harus dilakukan
dan bagaimana cara menyelesaikan masalah. Satu cara untuk menghadapi permintaan ini
adalah membuat ekspektasi dan halangan anda jelas selama sesi konseling awal atau saat
pernyataan penutup.
Berhadapan dengan Klien yang Kurang Komitmen
Banyak klien tanpa sengaja dalam hal mereka diharuskan oleh perintah pengadilan
untuk mendapatkan terapi. Dalam hal ini, kamu dapat ditantang dengan baik dalam tujuan
anda untuk membangun hubungan kerja. Tetapi hal ini mungkin untuk melakukan pekerjaan
efektif dengan klien yang dimandat.
Para praktisi yang bekerja dengan klien yang diluar kemauannya harus memulai
dengan membicarakan secara terbuka sifat dari hubungan mereka. Sering kali, perlawanan
dibawa oleh konselor yang mengabaikan persiapan dan yang tidak memberikan klien piiran
dan perasaan agar datang ke konseling. Hal ini sangat penting bahwa terapis tidak menjajikan
apa yang mereka tidak dapat atau tidak akan berikan. Adalah praktik yang baik untuk
memperjelas batasan kerahasiaan seperti halnya faktor-faktor yang lain yang mungkin
mempengaruhi arah terapi.dalam bekerja dengan klien sangatlah penting untuk
mempersiapkan proses bari mereka; dengan demikian dapat menuju kearah kurangnya
perlawanan.
Mentoleransi Ambiguitas
Banyak terapis pemula mengalami kebingungan kala tidak melihat hasil yang cepat.
Mereka bertanya pada diri mereka sendiri apakah saya sudah melakukan hal yang baik
untuk klien saya? Apakah klien mungkin menjadi lebih buruk?” saya berharap anda akan
belajar untuk mentoleransi ambiguitas dari ketidaktahuan pasti akan apakah klien membaik,
setidaknya selama sesi awal. Menyadari bahwa mungkin klien nampaknya “memburuk”
sebelum menunjukkan pencpaian terapiutik. Juga, menyadari bahwa efek yang berhasil dari
usaha bersama antara terapis dan klien dapat terwujud setelah kesimpulan dari terapi.
Menghindari kehilangan diri sendiri pada diri klien
Kesalahan umum dari para pemula adalah terlalu khawatir pada klien. Terdapat
bahaya dari menghubungka dinamis klien kedalam kepribadian kita sendiri. Kita bertanya-
tanya keputusan apa yang sedang mereka ambil. Kita terkadang mengidentifikasi begitu dekat
dengan klien sehingga kita kehilangan rasa identitas dan mengasumsikan identitas mereka,
yang menjadikannya lebih sulit bagi kita untuk ikut campur secara efektif. Kita harus belajar
bagaimana “membiarkan klien pergi” dan tak membawa bersama masalah mereka hingga kita
bertemu mereka kembali. Hal paling terapiutik adalah menjadi hadir sepenuhnya sebisa kita
selama masa terapi, teapi untuk membiarkan mereka menduga tanggungjawab kehidupan
mereka dan memilih diluar sesi. Jika kita terbawa kedalam perjuangan dan kebingungan
klien, kita sedang berhenti menjadi agen yang efektif dalam menolong mereka menemukan
solusi atas masalah mereka. Jika kita menerima tanggung jawab atas keputusan klien, kita
sedang menahan untuk menyuburkan pertumbuhan mereka.
Karena tidaklah pantas jika kita menggunakan waktu klien untuk bekerja melalui
reaksi kita terhadap mereka, ini adalah yang lebih penting bahwa kita ikhlas bekerja untuk
diri kita sendiri di sesi kita sendiri dengan terapis, supervisor, atau kolega yang lain. Apabila
kita terlibat di ekplorasi diri seperti ini, kita meningkatkan bahaya kehilangan diri kita sendiri
dalam diri klien dan menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terpenuhi dari
diri kita.
Mengembangkan Selera Humor
Terapi adalah sebuah usaha yang penuh tanggungjawab, tetapi ia tidak sepenuhnya
serius. Baik klien maupun terapis dapat memperkaya hubungan melalui humor. Betapa ini
adalah sebuah bentuk kelegaan ketika kita bisa mengakui bahwa rasa sakit bukanlah domain
ekslusif kita. Penting untu disadari bahwa tawa dan humor tidak menunjukkan bahwa
pekerjaan tidak diselesaikan. Ada kalanya, tentu saja, ketika tawa digunakan untuk menutupi
kebingungan atau melarikan diri dari mengalami keadaan mengancam di depan mata. Terapis
harus bisa membedakan antara humor yang mengganggu dan humor yang dapat memperbaiki
keadaan.
Berbagi Tanggung Jawab Dengan Klien
Kamu mungkin berjuang dalam menemukan keseimbangan optimal dalam berbagi
tanggungjawab dengan klien. Sebuah kesalahan adalah mengasumsikan tanggung jawab
penuh atas arah dan hasil terapi. Hal ini akan mengantarkan pada pengambilan dari klien
tanggungjawab penuh mereka jika mereka didukung untuk membuat keputusan mereka
sendiri. Hal tersebut juga dapat meningkatkan kemungkinan pemadaman awal anda.
Kesalahan lain untuk anda adalah menolak untuk menerima tanggung jawab untuk membuat
perhitungan yang akurat dan mendesain rencana perlakuan yang sesuai untuk klien.
Bagaimana tanggung jawab akan dibagi harus disampaikan di awal konseling. Ini adalah
tanggung jawab anda untuk membicarakan hal-hal khusus seperti lama dan keseuruhan durasi
dari sesi, kerahasiaan, tujuan umum, dan metode yang digunakan untuk mencapai tujuan.
(izin dibahas pada Bab 3).
Penting untuk waspada terhadap usaha klien untuk menjadikan anda menganggap
tanggung jawab untuk mengarahkan hidup mereka. Banyak klien yang mencari “jawaban
ajaib” sebagai cara untuk melarikan diri dari kebingungan dalam membuat keputusan sendiri.
Ini bukanlah peran anda untuk bertanggungjawab mengarahkan kehidupan klien. Secara
kolaboratif merancang kontrak dan tugas dengan klien dapat berguna pada klien dalam
menemukan arah di dalam diri mereka sendiri. Mungkin ukuran terbaik atas keefektifan kita
sebagai seorang konselor adalah pada tingkat dimana klien kita bisa berkata kepada kita,
saya mengapresiasi apa yang telah anda lakukan untuk saya, dan karena keyakinan anda
kepada saya, dan apa yang telah anda ajaran kepada say, saya menjadi percaya diri bahwa
saya dapat melaluinya sendiri.”. Segera, ketika kita efektif, kita akan hebat dalam bekerja!
Menolak untuk Memberikan Nasehat
Seringkali, klien yang sedang menderita datnag ke sesi terapi untuk mencari dan
bahwa meminta nasehat. Mereka menginginkan lebih dari sekedar arahan; mereka
menginginkan seorang konselor yang bijaksana untuk membuat sebuah keputusan atau untuk
menyelesaikan masalah bagi mereka. Namun, konseling tidak bisa disamaartikan dengan
menyebarkan informasi. Terapis membantu klien untuk menemukan solusi dan menyadari
kebebasan mereka untuk bertindak. Bahkan jika kita, sebagai terapis, bisa menyelesaikan
masalah klien untuk mereka, kita akan menyuburkan kebergantungan mereka kepada kita.
Mereka akan terus mencari nasehat kita atas segala belitan kesulitan mereka. Tugas kita
adalah untuk membantu klien membuat keputusan mandiri dan menerima akibat atas pilihan
mereka sendiri. Kebiasaan memberikan nasehat tidak bekerja hingga akhir.
Mendefinisikan Peran Kita sebagai Seorang Konselor
Salah satu tantangan kita sebagai konselor adalah utnuk mendefinisikan dan
menjelaskan peran profesional anda. Ketika anda membaca beragam orientasi teoritis di
bagian 2, anda akan menemukan banyak perbedaan peran dari konselor yang berhubungan
dengan teori yang beragam ini. Sebagai seorang konselor, anda diharapkan untuk bekerja
dengan peran yang luas dan beragam.
Dalam pandangan saya, fungsi utama dari konseling adalah untuk membantu klien
menyadari kekuatan mereka sendiri, menemukan apa yang menaham mereka untuk
menggunakan daya mereka, dan memperjelas kehidupan seperti apa yang ingin mereka
jalani. Konseling merupakan sebuah proses dimana klien diundang untuk melihat dengan
jujur kebiasaan mereka dan membuat keputusan tertentu tentang bagaimana mereka mau
mengubah kualitas kehidupan mereka. Dalam kerangka ini, konselor memberikan dukungan
dan kehangatan, serta cukup peduli untuk menantang klien sehingga mereka dapat
mengambil tindakan yang diperlukan untuk menciptakan perubahan yang signifikan.
Taruh dalam pikiran anda bahwa semakin profesional peran yang anda anggap
nampaknya tidak bergantung pada faktor seperti populasi klien yang anda bekerja sama
dengannya, semakin spesifik pelayanan terapi yang anda berikan, tahapan spesik konseling,
dan setting dimana anda bekerja. Peran anda tidak akan didefinisikan sekali untuk semuanya.
Anda harus mengakses kembali asal komitmen profesional anda dan menjelaskan kembali
peran anda pada beragam waktu.
Belajar untuk Menggunakan Teknik secara Benar
Ketika anda menemui jalan buntu dengan klien, anda mungkin punya keinginan untuk
mencari sebuah teknik untuk membuat sesi terus berjalan. Seperti yang telah dibahas di Bab
1, bergantung terlalu banyak pada teknik dapat mengantarkan pada konseling mekanis.
Secara ideal, teknik terapiutik harus tersusun dari hubungan terapiutik dan materi yang
disajikan, serta mereka harus meningkatkan kesadaran klien atau menyarankan kemungkinan
untuk mencoba kebiasaan baru. Mengetahui dasar teori untuk setiap tekhnik yang anda
gunakan dan yakin teknik tersebut sesuai dengan tujua terapi. Hak ini tidak berati bahwa anda
harus menahan diri anda untuk mengambil prosedur dari sebuah model tunggal:cukup
kontras, namun, hal ini penting untuk menghindari penggunaan teknik dengan gaya berhasil
atau gagal, untuk menghabiskan waktu, untuk memenuhi kebutuhan anda sendiri, atau segala
hal terus berjalan, metode anda harus dipilih secara keseluruhan sebagai suatu cara untuk
membantu klien untuk menciptakan progres terapi.
Mengembangkan gaya konselin anda sendiri
Sadarlah akan kecenderungan untuk meniru gaya dari supervisor, terapis, atau model
yang lain. Tidak hanya ada satu jalan untuk melaksanakan terapi, dan beragam pendekatan
yang luas bisa jadi efektif. Anda akan menghalangi keefektifan potensial anda dalam
mencapai yang lain jika anda bertujuan untuk meniru gaya terapis yang lain atau jika anda
menyesuaikan kebanyakan selama sesi kedalam teori beberapa para ahli. Gaya konseling
anda akan dipengaruhi oleh guru terapis dan supervisor, tetapi jangan redupkan keunikan
potensi anda dengan meniru mereka. Saya menyarankan untuk meminjam dari orang lain,
namun disaat yang sama lakukanlah dengan cara yang berbeda dari anda.
Menjadi penting secara pribadi dan secara profesi
Alat utama yang penting dari diri kita adalah pribadi kita sendiri, dan teknik yang
paling kuat adalah kemapuan kita untuk menciptakan model dari kehidupan dan kenyataan,
ini adalah sebuah mandat etika bahwa kita peduli pada diri kita sendiri karena bagaimana
mungkin kita bisa peduli pada orang lain jika kita tidak peduli pada diri sendiri? Kita harus
bekerja dalam menghadapi faktor2-faktor tersebut yang mengancam untuk mengeringkan
kehidupan kita dan mengubah kita jadi putus asa. Saya mendukung anda untuk
mempertimbangkan bagaimana anda dapat mengaplikasikan teori yang anda akan pelajari
untuk meningkatkan kehidupan anda secara pribadi maupun profesional. Jika anda sadar akan
faktor-faktor yang menghabiskan vitalitas anda secara pribadi, anda diposisi yang lenih baik
untuk mencegah apa yang disebut “kelelahan profesi”.
Belajarlah untuk melihat kedalam diri anda untuk menentukan pilihan apa yang anda
buat (dan tidak anda buat) untuk menjadikan diri anda tetap penting. Hal ini dapat sejalan
dengan pencegahan oleh apa yang orang katakan sebagai kondisi yang pasti terjadi
berhubungan dengan profesi bantuan. Anda memiliki kontrol yang dapat dipertimbangkan
apakah anda menjadi kelelahan atau tidak. Anda tidak akan selalu bisa untuk mengontrol
kondisi penuh tekanan, tetapi anda punya kekuatan besar untuk menginterpretasikan atau
bereaksi terhadap kejadian tersebut. Penting untuk menyadari bahwa anda tidak bisa terus
memberi dan memberi sementara hanya mendapatkan sedikit untuk diri sendiri. Selalu ada
harga untuk dibayar karena selalu ada dan karena memiliki tanggung atas kehidupan dan
takdir orang lain. Menjadi terbiasa dengan tanda-tanda kecil kelelahan dari pada menunggu
untuk sebuah kondisi kelelahan fisik dan emosi anda harus bijaksana untuk mengembangkan
strategi anda sendiri agar menjaga diri anda hidup secara pribadi dan profesional.
Monitoring diri adalah langkah awal yang krusial dalam proses peduli pada
diri anda sendiri. Jika anda membuat sebuah penemuan yang jujur tentang seberapa baik anda
merawat diri anda dalam hal tertentu, hal ini akan memberikan kerakan untuk memutuskan
apa yang munkin ingin anda ubah. Dengan membuat kajian periodik tentang arah hidup anda,
anda bisa menentukan apakah anda sedang menjalani hidup yang anda inginkan. Jika tidak
putuskanlah apa yang anda benar-benar ingin lakukan untuk membuat perubahan. Dengan
menjadi sejalan dengan diri anda sendiri dengan merasakan pengalaman penuh. Dan dengan
merasakan sebuah kekuatan pribadi anda memiliki pondasi untuk menghubungkan
pengalaman hidup anda dengan pengalaman profesi. Kesadaran seperti itu dapat memnerikan
dasar untuk memelihara kekuatan fisik dan pisikologi agar menjadi seorang profesional yang
efektif. Jika Anda tertarik untuk membaca lebih banyak tentang terapi perawatan-diri, saya
sangat merekomendasikan buku Leaving It at the Office: A Guide to Psychotherapist Self-
Care (Norcross & Guy, 2007) dan Caring for Ourselves: A Therapist’s Guide to Personal
and Professional Well-Being (Baker, 2003).
Rangkuman
Salah satu masalah dasar dalam profesi konseling menyangkut pentingnya konselor
sebagai pelaku dalam hubungan terapeutik. Dalam pekerjaan profesional Anda, Anda
meminta orang-orang untuk melihat kehidupan mereka dengan jujur dan membuat pilihan
mengenai bagaimana mereka ingin berubah, jadi sangat penting bagi Anda untuk melakukan
ini dalam hidup Anda sendiri. Ajukan kepada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan seperti,
"Secara pribadi, apa yang harus saya tawarkan kepada orang lain yang berjuang untuk
menemukan jalan mereka?" Dan "Apakah saya juga melakukan hal yang sama terhadap
hidup saya tentang apa yang saya arahkan kepada orang lain untuk lakukan?"
Anda dapat memperoleh pengetahuan teori dan praktis yang luas dan dapat membuat
pengetahuan itu tersedia untuk klien Anda. Tetapi untuk setiap sesi terapi Anda juga
menjadikan diri Anda sebagai pelakunya. Jika Anda ingin mendorong perubahan pada klien
Anda, Anda harus terbuka untuk berubah dalam hidup Anda sendiri. Kesediaan untuk
berusaha hidup sesuai dengan apa yang Anda ajarkan dan dengan demikian menjadi model
positif bagi klien Anda adalah apa yang membuat Anda menjadi "pelaku terapeutik."
Bab Tiga
Masalah Etis dalam Praktek Konseling
Pengantar
Menempatkan Kebutuhan Klien
Sebelum Kebutuhan Anda
Pengambilan Keputusan yang
Etis
Peran Kode Etik sebagai
Katalisator untuk
Meningkatkan Praktek
Beberapa Langkah dalam Membuat
Keputusan Etis
Hak Penjelasan dan Persetujuan
Dimensi Kerahasiaan
Masalah Etis dalam Perspektif
Multikultural
Apakah Teori Saat Ini Memadai
dalam Bekerja dengan
Populasi yang Budayanya
Beragam?
Apakah Konseling itu Terikat
Budaya?
Berfokus pada Faktor Individu dan
Lingkungan
Masalah Etis dalam Proses
Penilaian
Peran Penilaian dan Diagnosis
dalam Konseling
Nilai Praktek Berbasis Bukti
Hubungan Ganda dan
Berkelipatan dalam Praktek
Konseling
Hubungan Perspektif Dual dan
Banyak
Ringkasan
Ke mana Pergi Dari Sini
Pendahuluan
Bab ini memperkenalkan beberapa prinsip dan masalah etika yang akan menjadi bagian dasar
dari praktik profesional Anda. Tujuannya adalah untuk merangsang Anda berpikir tentang
praktik etis sehingga Anda dapat membentuk dasar yang kuat untuk membuat keputusan etis.
Untuk membantu Anda membuat keputusan ini, Anda dapat berkonsultasi dengan kolega,
tetap mencari informasi tentang undang-undang yang memengaruhi praktik Anda, tetap
mengikuti perkembangan bidang spesialisasi Anda, tetap mengikuti perkembangan praktik
etika, merefleksikan dampak nilai-nilai Anda terhadap praktik Anda, dan bersedia terlibat
dalam penilaian diri yang jujur. Topik yang dibahas termasuk menyeimbangkan kebutuhan
klien dengan kebutuhan Anda sendiri, cara membuat keputusan etis yang sehat, mendidik
klien tentang hak-hak mereka, parameter kerahasiaan, masalah etika dalam konseling klien
dari beragam populasi, masalah etika yang melibatkan diagnosis, praktik berbasis bukti, dan
berurusan dengan hubungan ganda dan berkelipatan.
Kadang-kadang siswa berpikir tentang etika dengan cara yang negatif, hanya sebagai
daftar peraturan dan larangan yang menghasilkan sanksi dan tindakan malpraktik jika praktisi
tidak mengikuti etika. Etika wajib adalah pandangan praktik etika yang berkaitan dengan
praktik profesional tingkat minimum, sedangkan etika aspirasional adalah praktik etika
tingkat tinggi yang membahas tentang melakukan apa yang menjadi kepentingan terbaik
klien. Etika lebih dari sekadar daftar hal yang harus dihindari karena takut akan dihukum.
Etika adalah cara berpikir untuk menjadi praktisi terbaik. Etika positif adalah pendekatan
yang diambil oleh praktisi yang ingin melakukan yang terbaik untuk klien daripada sekadar
memenuhi standar minimum untuk menghindari masalah (Knapp & VandeCreek, 2006).
Mengetahui dan mengikuti kode etik profesi Anda adalah bagian dari menjadi seorang
praktisi etika, tetapi kode-kode ini tidak membuat keputusan untuk Anda. Ketika Anda
terlibat dalam konseling, Anda akan menemukan bahwa menafsirkan pedoman etika
organisasi profesional Anda dan menerapkannya pada situasi tertentu menuntut sensitivitas
etis sepenuhnya. Bahkan para praktisi yang bertanggungjawab berbeda pendapat tentang
bagaimana menerapkan prinsip-prinsip etika yang mapan pada situasi tertentu. Dalam
pekerjaan profesional Anda, Anda akan ditantang untuk berurusan dengan pertanyaan yang
tidak selalu memiliki jawaban yang jelas. Anda harus memikul tanggungjawab untuk
memutuskan bagaimana bertindak dengan cara yang akan memajukan kepentingan terbaik
klien Anda.
Anda perlu memeriksa kembali pertanyaan etis yang diajukan dalam bab ini
sepanjang kehidupan profesional Anda. Anda dapat memanfaatkan peluang formal dan
informal untuk membahas dilema etis selama program pelatihan Anda. Bahkan jika Anda
menyelesaikan beberapa masalah etika saat menyelesaikan program pascasarjana, tidak ada
jaminan bahwa mereka telah diselesaikan sekali dan untuk semua. Topik-topik ini terikat
untuk mengambil dimensi baru saat Anda mendapatkan lebih banyak pengalaman. Seringkali
siswa membebani diri mereka sendiri secara tidak perlu dengan harapan bahwa mereka harus
menyelesaikan semua bidang masalah etika potensial sebelum mereka mulai berlatih.
Pengambilan keputusan etis adalah proses evolusi yang mengharuskan Anda untuk terus
terbuka dan reflektif diri.
Menempatkan Kebutuhan Klien Sebelum Kebutuhan Anda
Sebagai konselor, kita tidak selalu dapat memisahkan kebutuhan pribadi kita sepenuhnya dari
hubungan kita dengan klien. Secara etis, penting bagi kita untuk menyadari kebutuhan kita
sendiri, cakupan tugas yang belum selesai, potensi masalah pribadi, dan sumber-sumber dari
kontra-transferensi kita. Kita perlu menyadari bagaimana faktor-faktor tersebut
mempengaruhi kita dalam menangani klien.
Hubungan profesional kita dengan klien bertujuan demi kebaikan klien. Pertanyaan
yang penting untuk anda tanyakan pada diri sendiri adalah: “Kebutuhan siapa yang harus
dipenuhi dalam hubungan ini, kebutuhan klien saya atau kebutuhan saya sendiri?” Mengakui
dengan jujur bahwa perilaku anda dapat mempengaruhi klien anda merupakan indikasi
kedewasaan profesional. Tidak ada yang salah dengan memenuhi kebutuhan pribadi kita
melalui pekerjaan yang kita lakukan, namun penting bagi anda untuk menempatkan
kebutuhan pribadi tersebut sesuai tempatnya. Permasalahan akan muncul ketika kita
memenuhi kebutuhan kita sendiri dengan mengorbankan kebutuhan klien. Sangat penting
bagi kita untuk tidak mengeksploitasi atau merugikan klien.
Siapa yang perlu kita sadari? Kita semua memiliki kekurangan dalam diri. Sebagai
terapis profesional, kita memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan rasa mawas diri
kita dengan aktif dan untuk mengenali aspek prasangka dan kerentanan dalam diri kita. Jika
kita sadar akan masalah pribadi kita dan berkeinginan untuk menyelesaikannya, maka
semakin kecil kemungkinan bagi kita untuk mengimbaskan masalah tersebut ke klien kita.
Jika masalah tertentu muncul dan masalah lama datang lagi, kita harus mencari terapis
pribadi untuk kita sendiri agar tidak merugikan klien.
Kita juga harus mengintropeksi kebutuhan pribadi kita yang mungkin kelihatan tidak
merugikan namun dapat mengganggu proses terjalinnya hubungan sehat dengan klien, seperti
keinginan pribadi kita untuk mendapatkan kekuasaan dan kendali; keinginan untuk
mengurusi dan membantu; keinginan untuk mengubah orang lain menjadi sesuai dengan
prinsip pribadi kita; keinginan untuk merasa mampu, khususnya ketika kita merasa bahwa
sangat penting bagi kita untuk mendapatkan pengakuan klien; dan keinginan untuk dihormati
dan dihargai. Meskipun keinginan-keinginan ini belum tentu berbahaya, penting bagi kita
untuk memenuhi keinginan-keinginan pribadi ini di luar profesi kita sebagai terapis. Sangat
penting bagi kita untuk tidak memenuhi kebutuhan pribadi kita dengan mengorbankan klien.
Untuk pembahasan lebih lanjut tentang topik ini, lihat Corey dan Corey (2007, bab, 1).
Pengambilan Keputusan Secara Etis
Sebagai praktisi, anda akan menerapkan kode etik profesi anda dalam masalah yang
anda akan hadapi. Anda tidak dapat mengandalkan solusi tertulis yang disediakan oleh
institusi profesi anda, dimana institusi ini pada umumnya hanya menyediakan panduan umum
cara melaksanakan pekerjaan anda.
Salah satu tahapan untuk pengambilan keputusan secara etis adalah dengan
mempelajari semua bentuk sumber yang bisa anda temukan ketika berurusan dengan isu-isu
yang melibatkan etika. Meskipun anda merasa bertanggung jawab dalam pengambilan
keputusan seperti ini, anda tidak harus melakukannya sendiri. Anda juga harus menyadari
konsekuensi melakukan cara penanganan yang tidak disetujui oleh institusi yang memberikan
anda lisensi praktik.
Peran Kode Etik sebagai Katalisator untuk Mengembangkan Praktik
Kode etik profesi memiliki sejumlah tujuan. Kode etik tersebut bertujuan untuk
mendidik praktisi konseling dan masyarakat umum tentang tanggung jawab
profesi ini. Kode etik juga sebagai landasan akuntabilitas, dan dengan menerapkan
kode etik ini, klien terlindungi dari malpraktik. Dan mungkin yang terpenting,
kode etik dapat menjadi dasar bagi anda untuk merefleksikan dan meningkatkan
pekerjaan anda. Mengevaluasi diri lebih baik daripada diawasi dari luar oleh
institusi (Herlihy & Corey, 2006a).
Dari perspektif saya, satu hal yang disayangkan sering terjadi akhir-akhir ini
ialah kode etik semakin sering disamakan dengan hukum. Banyak praktisi merasa
khawatir akan terjerat kasus hukum, sehingga mereka menghabiskan tenaga
pikiran mereka untuk memastikan bahwa cara penanganan mereka sudah sesuai
standar hukum dibanding memikirkan upaya terbaik untuk klien mereka. Jika
pikiran kita terkuras pada rasa takut akan dituntut, kita tidak akan bisa bekerja
secara efektif. Di era sekarang ini, sangat lah masuk akal untuk menyadari aspek
hukum praktik yang dilakukan dan untuk mencegah terjadinya malpraktik, namun
merupakan suatu kesalahan untuk tidak membedakan antara bertindak sesuai
hukum dan bertindak secara etis. Meskipun mematuhi hukum adalah bagian dari
berperilaku sesuai etika, menjadi praktisi etis tidak hanya terbatas sampai situ
saja. Salah satu cara terbaik mencegah anda dituntut melakukan malpraktik adalah
dengan menghargai klien, mengutamakan kesehatan klien, dan melakukan praktik
sesuai kerangka kode etik.
Seiring berjalannya waktu, sebagian besar kode etik profesi dalam bidang
kesehatan jiwa telah berubah menjadi dokumen padat yang menentukan apa
perilaku yang sesuai dan melarang perliaku yang tidak menguntungkan klien. Ini
merupakan ilustrasi bentuk etika yang negatif (Knapp & VandeCreek, 2006).
Meskipun bentuk kode etik semakin spesifik, kode etik ini tidak lah menunjukkan
kebenaran sesungguhnya, tidak juga memberikan jawaban pasti akan dilema etis
yang praktis akan hadapi nantinya. Pada akhirnya, terapis profesional diharapkan
dapat memberikan penilaian bijaksana ketika menafsirkan dan menerapkan
prinsip-prinsip etis dalam situasi-situasi tertentu. Menurut saya, kode etikpaling
tepat untuk digunakan sebagai panduan untuk membentuk pertimbangan dan
membantu praktisi dalam mengambil keputusan yang terbaik. Tidak ada kode etik
yang dapat memberikan solusi berupa tindakan paling benar untuk dilakukan
dalam situasi masalah yang akan dihadapi praktisi nantinya. (Lihat daftar institusi
profesional di akhir bab ini, tiap institusi memiliki kode etiknya sendiri yang anda
dapat lihat di laman internet masing-masing institusi.)
Beberapa Langkah Pengambilan Keputusan Etis
Ada sejumlah model berbeda untuk pengambilan keputusan etis; sebagian besar
cenderung fokus pada penerapan prinsip dilema etis. Setelah meninjau beberapa
model ini, saya dan kolega membuat rangkaian langkah-langkah untuk membantu
anda melihat masalah-masalah etis yang dihadapi dengan jelas (lihat Corey,
Corey, & Callanan, 2007; Corey, Corey, & Haynes, 2003):
Kenali masalah atau dilema yang dihadapi. Kumpulkan informasi yang
dapat memberikan kejelasan akan inti masalahnya. Ini akan membantu
anda memutuskan apakah masalah yang dihadapi adalah masalah
berkaitan dengan etika, legal, profesional, klinis, atau moral.
Kenali dampak yang dapat terjadi. Tinjau hak, kewajiban, dan
keamanan pihak-pihak yang terlibat dalam situasi yang dihadapi.
Lihat kode-kode etik yang menjadi panduan umum permasalahan yang
dihadapi. Pertimbangkan apakah nilai dan etika anda sebagi individu
sesuai atau bertentangan dengan panduan relevan ini.
Pertimbangkan hukum dan kebijakan yang dapat diterapkan, dan
tentukan bagaimana hukum tersebut relevan dengan dilema etis yang
dihadapi.
Cari saran solusi dari banyak sumber untuk memperoleh berbagai
perspektif perihal dilema yang dihadapi, dan catat di riwayat klien
saran apa yang anda temukan dari sumber-sumber ini.
Bertukar pikiran dengan terapis profesional lain untuk memperoleh
berbagai tindakan yang dapat dilakukan. Libatkan klien dalam proses
bertukar pikiran ini. Sekali lagi, catat inti pembahasan ini dengan klien
anda.
Jabarkan konsekuensi tiap keputusan yang dapat diambil, dan tinjau
implikasi tiap tindakan yang dilakukan untuk klien anda.
Putuskan tindakan terbaik untuk klien anda. Setelah keputusan dibuat,
lakukan penindak lanjutan untuk mengevaluasi hasil keputusan
tersebut dan untuk menentukan apakah tindakan ekstra diperlukan.
Catat alasan dibalik keputusan yang anda ambil dan langkah-langkah
evaluasi anda.
Dalam menghadapi dilema etika, ada banyak solusi tindakan yang
dapat diambil, dan banyak praktisi mengambil tindakan yang berbeda-
beda. Semakin sulit dilema yang dihadapi, semakin sulit juga proses
pengambilan keputusannya.
Kedewasaan profesionalitas berarti bahwa anda membuka diri untuk
terus bertanya dan ingin membicarakan dilema yang anda hadapi dengan
kolega anda sesama terapis. Dalam melakukan konsultasi untuk mencari
solusi, anda tidak harus menceritakan identitas klien anda untuk
memperoleh masukan perihal pengambilan keputusan. Karena kode etik
tidak membuat keputusan untuk anda, maka perlihatkan kemauan untuk
mengeksplor berbagai aspek masalah yang dihadapi, memikirkan
pertanyaan terkait masalah tersebut, membahasnya dengan orang lain, dan
senantiasa mengevaluasi nilai dan niat anda. Jika memungkinkan, libatkan
klien dalam peroses pengambilan keputusan ini. Sekali lagi, utamakan
untuk mencatat bagaimana cara anda melibatkan klien dalam pengambilan
keputusan dan bagaimana langkah-langkah yang anda ambil untuk
memastikan praktik anda berjalan sesuai etika.
Hak Penjelasan dan Persetujuan
Terlepas dari landasan teori yang anda terapkan, penetapan persetujuan adalah syarat
yang wajib dipenuhi dari segi etika maupun dari segi hukum dan merupakan bagian integral
proses penanganan terapeutik. Persetejuan juga bertindak sebagai fondasi dasar dalam
menciptakan hubungan baik antara klien dan terapis. Persetujuan ini melibatkan hak klien
untuk mendapat penjelasan mengenai terapi mereka dan untuk membuat keputusan terkait
terapi mereka sendiri. Memberikan klien penjelasan yang mereka butuhkan untuk membuat
keputusan akan membuat klien lebih aktif untuk bekerja sama dengan terapis dalam
merencanakan konseling. Dengan memberitahukan klien anda hak dan kewajiban mereka,
anda membantu klien anda sekaligus membangun hubungan saling percaya dengan mereka.
Memberikan hak persetujuan tidak hanya sekedar memastikan bahwa klien menandatangani
formulir yang mereka isi. Pemberian persetujuan merupakan pendekatan positif yang
membantu klien berperan lebih aktif sebagai kolaborator dalam penanganan terapi mereka.
Hak penjelasan dan persetujuan klien mencakup tujuan utama konseling yang dilakukan,
tanggung jawab konselor terhadap klien, tanggung jawab klien, limitas dan pengecualian
terkait kerahasiaan, parameter legal dan etis hubungan antar terapis dank lien, kualifikasi dan
latar belakang terapis, biaya yang perlu dikeluarkan, layanan yang klien dapat peroleh, dan
lama waktu proses terapi berlangsung. Area yang lebih jauh dapat mencakup keuntungan
konseling, resiko yang terlibat, dan kemungkinan bahwa kasus klien akan di bahas dengan
kolega terapis atau supervisor. Proses memberikan edukasi kepada klien ini dimulai dengan
sesi konseling awal dan lanjut selama durasi konseling.
Tantangan dalam memenuhi semangat dari persetujuan yang diberitahukan
sebelumnya adalah untuk menyeimbangkan antara memberi informasi terlalu banyak atau
terlalu sedikit kepada klien. Contoh, hal ini adalah terlambat untuk memberi tahukan remaja
bahwa anda ingin untuk berkonsultasi dengan orang tua mereka setalah mereka membongkar
rahasia bahwa mereka ingin melakukan aborsi. Pada kasus tersebut anak muda yang terkibat
memiliki hak untuk mengentahui tentang batasan kerahasiaan sebelum mereka membongkar
rahasia yang sebesar itu. Para klien akan kebingungan jika konselor memberikan terlalu
banyak detail tentang interpensi yang akan mereka buat. Dibutuhkan intuisi dan keahlian dari
para praktisi untuk mencapai keseimbangan.
Ini merepukan ide yang bagus untuk memiliki informasi dasar tentang proses terapi
dalam menulis, begitupun ketika berdiskusi dengan topik-topik klien yang memungkinkan
mereka untuk mencapai keuntungan maksimal dari pengalaman konseling mereka. Para klien
dapat mengambil informasi tertulis ini pulang kerumah lalu memberikan pertanyaan pada sesi
berikutnya. Untuk membahasnya lebih lengkap tentang kerahasiaan dan hak klien, lihat
issues and ethics in the helping professions (Coey & Callanan, 2007, Chap.5) dan ethics in
Psychotherapy & Conseling: A Pratical Guide (Pope & Vasques, 2007, Chap.110.
Dimensi dari kerahasiaan
Kerahasiaan dan komunikasi istimewa merupakan dua hal yang saling berhubungan
tetapi berbeda dalam hal konsep. Kedua konsep ini berasal dari hak-hak klien akan privasi.
Kerahasiaan adalah sebuh konsep etika dan dikebanyakan negara tugas legal dari para terapis
adalah tidak membuka informasi seorang klien. Komunikasi istimewa adalah sebuah konsep
legal yang pada umumnya menghalangi pernyataan dari komunikasi rahasia dalam sebuah
prosiding yang legal (Committee on Professional Practice and Standards, 2003). Semua
negara telah menetapkan hukum beberapa bentuk dari kerahasiaan pisiko terapis dan kien,
tetapi spesifikasi dari kerahasiaan ini ragam disetiap negara. Hukum ini memastikan bahwa
rahasia yang klien bongkar didalam terapi akan dilindungi dari penyebaran oleh para terapis
dalam prosiding legal.
Kerahasiaan sangatlah penting untuk mengembangkan kepercayaan dan produktivitas
hubungan antara terapis dan klien. Karena tidak akan ada terapi murni yang dapat muncul
kecali jika klien mempercayai privasi mereka kepada terapis, profesioanl memiliki tanggung
jawab untuk menjelaskan tingkat kerahasiaan yang dapat dijanjikan. Konselor memiliki
tanggung etika dan hukum untuk menjelaskan sifat dan tujuan dari kerahasiaan dengan klien
mereka pada awal proses konseling. Selain itu, klien memiliki hak untuk mengetahui terapis
mereka, dapat membicarakan hal-hal tertentu dengan supervisor atau kolega
Meskipun kebanyakan konselor pada nilai penting dari kerahasiaan, mereka
menyadari bahwa hal tersebut tidaklah mutlak. Akan ada waktu dimana informasi rahasia
harus dibocorkan , dan ada banyak comtoh dalam hal menjaga atau membuka kerahasiaan
yang menjadi masalah. Ketika memutuskan kapan untuk membuka rahasia, terapis harus
mempertimbangkan persyaratan hukum, lembaga dimana mereka bekerja, dan klien yang
mereka layani. Karena situasi ini kadang tidak didefinisikan secra jelas oleh kode etik yang
diterima, konselor harus berlatih penilaian profesional.
Terdapat persyaratan hukum untuk membuka rahasia dalam kasus yang mencakup
kekerasan pada anak, kekerasa pada lansia, kekerasan pada orang dewasa berkebutuhan
khusus, dan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Seia praktisi kesehatan mental dan intern
harus sadar akan tugas mereka untuk melaporkan situasi ini dan untuk mengetahui batasan
kerahasiaan. Di bawah ini beberapa situasi dimana informasi harus secara legal dilaporkan
oleh konselor:
Ketika terapis meyakini bahwa seorang klien dibawah umur 26 menjadi korban incest,
pemerkosaan, kekerasan pada anak, dan kejahatan lainnya.
Ketika terapis memutuskan bahwa klien harus dirawat di rumah sakit
Ketika informasi melibatkan tindakan hukum
Ketika klien meminta catatan mereka untuk dibuka kepada mereka atau pada pihak ke
tiga
Secara umum, tugas utama konselor adalah untuk melindungi rahasia penting klien
sebagai bagian penting dari hubungan terapiutik. Memberitahukan klien tentang batasan
kerahasiaan tidak perlu menghalangi konseling yang sukses.
Untuk informasi yang lebih lengkap, lihat issues and ethics in the helping professions
(Corey,Corey & Callanan, 2007, Chap.6). The ethical and professional practice of
counseling and psychotherapy (Sperry, 2007, chap 6), dan Ethics in Psychotherapy and
Counseling: A Practical Guide (Pope & Vasquez, 2007, chaps.16 & 17).
Isu etika dalam perspektif multikultural
Praktik etika membutuhkan kita agar mengambil kontek kultural dari klien sebagai
pertimbangan dalam praktik konseling. Pada sesi ini, kita melihat bagaimana hal ini
mungkin bagi para praktisioner untuk berpraktek secara tak pantas jika mereka tidak
menyebutkan perbedaan budaya dalam praktek konseling.
Apakah teori-teori saat ini dalam bekerja dengan populasi yang beragam secara
kultural
Saya yakin teori-teori saat ini harus menjadi, dan dapat menjadi, dikembangkan untuk
memasukkan perspektif kultural. Berkenaan dengan teory tradisional yang banyak, asumsi
yang dibuat tentang kesehatan mental, perkembangan manusia optimal, sifat psikoterapi, dan
sifat dari perlakuan efektif mungkin memiliki sedikit relevansi dengan beberapa klien.
Beberapa teori konseling dibangun dalam sebuah era ketika sedikit perhatian dibayar utnuk
maslaah multikultural. Agar teori tradisional menjadi relevan dalam masyarakat
multikultural, mereka harus menggabungkan sebuah fokus orang dalam lingkungan yang
menarik. Oleh karena itu, setiap individu dipahami dengan mempertimbangkan variabel
lingkungan dan budaya. Penting bagi terapis untuk menciptakan strategi terapiutik yang
sejalan dengan luas nilai dan kebiasaan yang merupakan karakteristik masyarakat pluralistik.
Apakah konseling terikat budaya?
Dalam sejarah, terapis telah bergantung pada model terapiutik barat untuk
membimbing praktik mereka dan untuk membuat konsep masalah yang ditujukkkan oleh
klien dalam setting kesehatan mental (Ivey, DAndrea, Ivey, & Simek-Morgan, 2007).
Spesialis multikultural telah menegaskan bahwa teori-teori konseling dan psikoterapi
mewakili pandangan dunia yang berbeda, yang memiliki nilai, prasangka, dan asumsinya
sendiri tentang kebiasaan manusia. Beberapa penulis telah mengkritisi teori dan praktik
terapiutik tradisional karena tidak relevan dengan warna kulit dan populasi khusus lainnya
seperti pada lainsia (D.S. Sue & Sue, 2008). Kebanyakan teknik diturunkan dari pendekatan
konseling yang dikembangkan oleh dan untuk orang kulit putih, pria, kelas menengah, dan
klien dari barat. Pendekatan ini mungkin tidak dapat diaplikasikan untuk klien dari ras, etnis,
dan latar belakang budaya yang berbeda. Model barat tentang konseling memiliki beberapa
batasan ketika diaplikasikan untuk populasi khusus dan kelompok budaya seperti Asia dan
penduduk asli pasifik, Latin, Penduduk asli Amerika, dan Afrika-Amerika. Pelakatan kaku
pada teori konseling barat tradisional sering menghasilkan konseling prasangka kultural dan
telah mengantarkan pada penggunaan tidak optimal pelayanan kesehatan mental oleh
populasi yang beragam (Pederse, 2000” D.W Sue & Sue, 2008).
Pendekatan terapi kontemporer berasal dari budaya Eropa-Amerika dan berakar pada
sebuah kumpulan nilai. Pendekatan ini tidak netral-nilai juga tidak dapat diaplikasikan untuk
semua budaya. Sebagai contoh, nilai-nilai tersembunyi di dalam kebanyakan teori konseling
tradisional mencakup penekanan pada individualisme, pemisahn keberadaan diri,
individualisasi sebagai fondasi kedewasaan, dan pembuatan keputusan dan tanggung jawab
terletak pada individual dan bukannya pada kelompok. Nilai-nilai dari pilihan individu dan
otonomi tidak dapat diaplikasikan secara universal. Dalam beberapa kebudayaan, nilai kunci
adalah kolektivitas, dan pertimbangan utama diberikan pada apa yang baik bagi kelompok.
Tanpa mempertimbangkan orientasi terapis, penting untuk mendengarkan klien dan
memutuskan mengapa mereka meminta bantuan dan bagaimana mereka menawarkan bantuan
yang sesuai bagi mereka. mereka yang tidak ahli dalam bekerja di klinik bisa
mengaplikasikan beberapa teknik dengan tidak tepat yang tidak releban untuk klien tertentu.
Terapis kompeten memiliki setidaknya tingkatan minimal dari pengetahuan dan keahlian
yang dapat mereka bawa untuk dijalankan pada beragam situasi konseling. Para praktisi ini
memahami apa yang klien mereka butuhkan dan menghindari pemaksaan kedalam sebuah
bentukan yang dipertimbangkan sebelumnya.
Berfokus pada faktor individu dan lingkungan
Sebuah orientasi teoritis menyediakan sebuah peta bagi para praktisioner untuk
membimbing mereka dalam arahan yang produktif dengan klien mereka. hal ini diharapkan
bahwa teori mengarahkan mereka tetapi tidak mengontrol apa yang mereka perhatikan dalam
usaha terapiutik. Para konselor yang menjalankan dari sebuah kerangka multikultural juga
memiliki asumsi tertentu dan sebuah fokus yang membimbing praktik mereka. Mereka
memandang individu dalam konteks keluarga dan budaya, dan tujuan mereka adalah untuk
memfasiliasi tindakan sosial yang dapat mengantarkan pada perubahan dalam komunitas
klien daripada sekadar meningkatkan pandangan individu. Baik praktisi multikultural dan
terapis feminis mempertahankan bahwa praktik terapeutik hanya akan efektif sejauh
intervensi dirancang untuk tindakan sosial yang bertujuan mengubah faktor-faktor yang
menciptakan masalah klien daripada menyalahkan klien atas kondisinya. Topik-topik ini
dikembangkan secara lebih rinci dalam bab-bab selanjutnya.
Teori konseling yang memadai berurusan dengan faktor sosial dan budaya dari
masalah individu. Namun, ada sesuatu yang bisa dikatakan untuk membantu klien menangani
respons mereka terhadap realitas lingkungan. Konselor mungkin bingung dalam mencoba
membawa perubahan sosial ketika mereka duduk dengan klien yang kesakitan karena
ketidakadilan sosial. Dengan menggunakan teknik dari banyak terapi tradisional, konselor
dapat membantu klien meningkatkan kesadaran mereka tentang pilihan mereka dalam
menghadapi hambatan dan perjuangan. Adalah penting untuk fokus pada faktor individu dan
sosial jika perubahan ingin terjadi, seperti yang diajarkan oleh pendekatan feminis,
postmodern, dan pendekatan keluarga pada terapi. Perspektif pelaku-dalam-lingkungan
mengakui kenyataan interaktif ini. Untuk perawatan yang lebih rinci tentang masalah etika
dalam konseling multikultural, lihat D. W. Sue dan Sue (2008), Pedersen (2000), dan Corey,
Corey, dan Callanan (2007, bab 4).
Masalah Etis dalam Proses Penilaian
Masalah klinis dan etika terkait dengan penggunaan prosedur penilaian dan diagnostik.
Seperti yang akan Anda lihat ketika mempelajari berbagai teori konseling, beberapa
pendekatan memberi penekanan besar pada peran penilaian sebagai awal dari proses
perawatan; pendekatan lain menganggap penilaian kurang berguna dalam hal ini.
Peran Penilaian dan Diagnosis dalam Konseling
Penilaian dan diagnosis secara integral terkait dengan praktik konseling dan psikoterapi, dan
keduanya sering dianggap penting untuk perencanaan perawatan. Terlepas dari orientasi
teoretis mereka, terapis perlu terlibat dalam penilaian, yang umumnya merupakan bagian
yang berkelanjutan dari proses terapeutik. Penilaian tidak boleh mendahului dan mendikte
intervensi; melainkan ditenun masuk dan keluar dari proses terapeutik sebagai komponen
penting dari terapi itu sendiri (Duncan, Miller, & Sparks, 2004). Penilaian ini dapat direvisi
karena dokter mengumpulkan data lebih lanjut selama sesi terapi. Beberapa praktisi
menganggap penilaian sebagai bagian dari proses yang mengarah pada diagnosis formal.
Penilaian terdiri dari mengevaluasi faktor-faktor yang relevan dalam kehidupan klien
untuk mengidentifikasi tema untuk eksplorasi lebih lanjut dalam proses konseling. Diagnosis,
yang kadang-kadang merupakan bagian dari proses penilaian, terdiri dari mengidentifikasi
gangguan mental tertentu berdasarkan pada pola gejala yang mengarah ke diagnosis spesifik.
Baik penilaian dan diagnosis dapat dipahami sebagai pemberian arahan untuk proses
perawatan.
Psikodiagnosis adalah analisis dan penjelasan tentang masalah klien. Ini mungkin
termasuk penjelasan tentang penyebab kesulitan klien, penjelasan tentang bagaimana masalah
ini berkembang dari waktu ke waktu, klasifikasi setiap gangguan, spesifikasi prosedur
perawatan yang disukai, dan perkiraan peluang untuk penyelesaian yang sukses. Tujuan
diagnosis dalam konseling dan psikoterapi adalah untuk mengidentifikasi gangguan pada
perilaku dan gaya hidup klien saat ini. Setelah area masalah diidentifikasi dengan jelas,
konselor dan klien dapat menetapkan tujuan dari proses terapi, dan kemudian rencana
perawatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan unik klien. Diagnosis memberikan hipotesis
kerja yang memandu praktisi dalam memahami klien. Sesi terapi memberikan petunjuk yang
berguna tentang sifat masalah klien. Dengan demikian diagnosis dimulai dengan wawancara
asupan dan berlanjut sepanjang durasi terapi.
Buku klasik untuk membimbing praktisi dalam membuat penilaian diagnostik adalah
edisi keempat dari American Psychiatric Association (2000) Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders, Text Revision (juga dikenal sebagai DSM-IV-TR). Dokter yang
bekerja di lembaga kesehatan mental masyarakat, praktik swasta, dan pengaturan layanan
manusia lainnya umumnya diharapkan untuk menilai masalah klien dalam kerangka kerja ini.
Buku petunjuk ini memberi tahu praktisi bahwa ini hanya mewakili langkah awal dalam
evaluasi komprehensif dan perlu untuk mendapatkan informasi tentang orang yang dievaluasi
melebihi yang diperlukan untuk diagnosis DSM-IV-TR.
Meskipun beberapa dokter memandang diagnosis sebagai pusat dari proses konseling,
yang lain melihatnya sebagai hal yang tidak perlu, sebagai kerugian, atau sebagai
diskriminasi terhadap etnis minoritas dan wanita. Irvin Yalom (2003), yang adalah seorang
psikiater, merekomendasikan bahwa terapis menghindari diagnosis berdasarkan pada
keyakinannya bahwa "diagnosis sering kontraproduktif dalam psikoterapi sehari-hari pasien
dengan gangguan berat" (hal. 4). Yalom berpendapat bahwa diagnosis membatasi
penglihatan, mengurangi kemampuan terapis untuk berhubungan dengan klien sebagai
pribadi, dan dapat mengakibatkan ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya.
MEMPERTIMBANGKAN FAKTOR ETNIK DAN BUDAYA DALAM PENILAIAN DAN
DIAGNOSA Bahaya dari pendekatan diagnostik adalah kemungkinan kegagalan konselor
untuk mempertimbangkan faktor etnis dan budaya dalam pola perilaku tertentu. DSM-IV-TR
menekankan pentingnya menyadari bias yang tidak disengaja dan menjaga pikiran terbuka
terhadap adanya pola etnis dan budaya yang berbeda yang dapat mempengaruhi proses
diagnostik. Kecuali jika variabel budaya dipertimbangkan, beberapa klien mungkin dikenai
diagnosis yang salah. Perilaku dan gaya kepribadian tertentu dapat diberi label neurotik atau
menyimpang hanya karena mereka bukan karakteristik budaya dominan. Konselor yang
bekerja dengan orang-orang Afrika-Amerika, Asia-Amerika, Latin, dan Penduduk Asli-
Amerika mungkin keliru menyimpulkan bahwa klien ditekan, dihambat, pasif, dan tidak
termotivasi, yang kesemuanya dianggap tidak diinginkan oleh standar-standar Barat.
PENILAIAN DAN DIAGNOSIS DARI BERBAGAI PERSPEKTIF TEORI Teori yang
Anda pakai memengaruhi pemikiran Anda tentang penggunaan kerangka kerja diagnostik
dalam praktik terapi Anda. Banyak praktisi yang menggunakan pendekatan perilaku kognitif
dan model medis sangat menekankan peran penilaian sebagai awal dari proses perawatan.
Alasannya adalah bahwa tujuan terapi spesifik tidak dapat dirancang sampai gambaran yang
jelas muncul tentang fungsi klien di masa lalu dan saat ini. Konselor yang mendasarkan
praktik mereka pada pendekatan yang berorientasi pada hubungan cenderung memandang
proses penilaian dan diagnosis sebagai eksternal dari kedekatan hubungan klien-konselor,
menghalangi pemahaman mereka tentang dunia subjektif dari klien. Seperti yang akan Anda
lihat di Bab 12, terapis feminis berpendapat bahwa praktik diagnostik tradisional sering kali
bersifat menindas dan praktik semacam itu didasarkan pada gagasan orang Barat tentang
kesehatan mental dan penyakit mental yang berpusat pada pria dan wanita. Perspektif feminis
dan pendekatan postmodern (Bab 13) menyatakan bahwa diagnosis ini mengabaikan konteks
masyarakat. Terapis dengan orientasi terapi feminis, konstruksionis sosial, berfokus pada
solusi, atau naratif menantang banyak diagnosis DSM-IV-TR. Namun, para praktisi ini
melakukan penilaian dan menarik kesimpulan tentang masalah dan kekuatan klien. Terlepas
dari teori tertentu yang didukung oleh seorang terapis, masalah klinis dan etika terkait dengan
penggunaan prosedur penilaian dan mungkin diagnosis sebagai bagian dari rencana
perawatan.
KOMENTAR TENTANG PENILAIAN DAN DIAGNOSA Apakah ada cara untuk
menjembatani kesenjangan antara pandangan ekstrem bahwa diagnosis adalah bagian
esensial dari terapi dan pandangan ekstrem bahwa itu merupakan faktor yang merugikan?
Sebagian besar praktisi dan banyak penulis di lapangan menganggap penilaian dan diagnosis
sebagai proses berkelanjutan yang berfokus pada pemahaman klien. Perspektif kolaboratif
yang melibatkan klien sebagai partisipan aktif dalam proses terapi menyiratkan bahwa terapis
dan klien terlibat dalam proses pencarian dan penemuan dari sesi pertama hingga yang
terakhir. Meskipun beberapa praktisi mungkin menghindari prosedur dan terminologi
diagnostik formal, membuat hipotesis sementara dan membaginya dengan klien di seluruh
proses adalah bentuk diagnosis yang berkelanjutan. Perspektif penilaian dan diagnosis ini
konsisten dengan prinsip-prinsip terapi feminis, suatu pendekatan yang kritis terhadap
prosedur diagnostik tradisional.
Dilema etis dapat tercipta ketika diagnosis dilakukan secara ketat untuk tujuan
asuransi, yang sering kali secara sewenang-wenang menugaskan klien ke klasifikasi
diagnostik. Namun, itu adalah kewajiban klinis, hukum, dan etika terapis untuk menyaring
klien untuk masalah yang mengancam jiwa seperti gangguan organik, skizofrenia, gangguan
bipolar, dan jenis depresi bunuh diri. Siswa perlu mempelajari keterampilan klinis yang
diperlukan untuk melakukan jenis penyaringan ini, yang merupakan bentuk pemikiran
diagnostik.
Sangat penting untuk menilai seseorang secera menyeluruh, yang meliputi penilaian
dimensi pikiran, tubuh, dan jiwa. Terapis perlu mempertimbangkan proses biologis sebagai
faktor yang mungkin mendasari gejala psikologis dan bekerja sama dengan dokter. Nilai-nilai
klien dapat menjadi sumber daya instrumental dalam mencari solusi untuk masalah mereka,
dan nilai-nilai spiritual dan religius sering menerangi keprihatinan klien. Untuk diskusi yang
sangat baik tentang peran nilai-nilai spiritual dan agama dalam proses penilaian dan
perawatan, lihat Integrating Religion and Spirituality Into Counseling (Frame, 2003).
Untuk diskusi yang lebih rinci mengenai penilaian dan diagnosis dalam praktik
konseling seperti yang diterapkan pada satu kasus, lihat Case Approach to Counseling and
Psychotherapy (Corey, 2009b), di mana para teoretikus dari 11 orientasi teori yang berbeda
berbagi perspektif diagnostik mereka dalam kasus Ruth.
Nilai Praktek Berbasis Bukti
Praktisi kesehatan mental harus memilih pendekatan terapi terbaik atau intervensi dengan
klien tertentu. Bagi banyak praktisi pilihan ini didasarkan pada orientasi teoretis mereka.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, praktisi telah mulai mempromosikan intervensi
spesifik untuk masalah atau diagnosis spesifik berdasarkan perawatan yang didukung secara
empiris (Cukrowicz et al., 2005; Deegear & Lawson, 2003). Semakin bertambah, dokter
menghadapi konsep praktik berbasis bukti (McCabe, 2004). Tujuan utama praktik berbasis
bukti (EBP) adalah untuk meminta psikoterapis mendasarkan praktik mereka pada teknik
yang memiliki bukti empiris untuk mendukung kemanjurannya. Studi penelitian secara
empiris menganalisis perawatan yang paling efektif dan efisien, yang kemudian dapat
diimplementasikan secara luas dalam praktik klinis (Norcross, Beutler, & Levant, 2006).
Praktek berbasis bukti mengharuskan dokter untuk bertanggungjawab kepada klien mereka
dan memiliki informasi terkini tentang perawatan yang efektif (Edwards, Dattilio, &
Bromley, 2004).
Praktek berbasis bukti adalah kekuatan yang kuat dalam praktik psikoterapi saat ini,
dan mungkin memberi mandat jenis perawatan yang dapat ditawarkan oleh terapis di masa
depan (Wampold & Bhati, 2004). Meskipun mungkin tampak bahwa ada kesepakatan
universal bahwa praktisi harus mengandalkan bukti sebagai panduan dalam menentukan apa
yang berhasil, memutuskan apa yang memenuhi syarat sebagai bukti bukanlah masalah yang
sederhana (Norcross et al., 2006).
Sistem perawatan kesehatan yang dikelola adalah kekuatan pendorong dalam
mempromosikan perawatan yang didukung secara empiris (Deegear & Lawson, 2003).
Dalam banyak pengaturan kesehatan mental, dokter ditekan untuk menggunakan intervensi
yang singkat dan standar. Dalam pengaturan seperti itu, perawatan dioperasionalkan dengan
mengandalkan buku petunjuk perawatan yang mengidentifikasi apa yang harus dilakukan
dalam setiap sesi terapi dan berapa banyak sesi yang akan diperlukan (Edwards et al., 2004).
Edwards dan koleganya menunjukkan bahwa penilaian dan perawatan psikologis adalah
bisnis yang melibatkan keuntungan dan reputasi finansial. Dalam upaya untuk menentukan
perawatan untuk diagnosis spesifik setepat mungkin, perusahaan asuransi kesehatan prihatin
dengan menentukan jumlah minimum perawatan yang dapat diharapkan efektif. Ini
menimbulkan pertanyaan etis tentang apakah kebutuhan perusahaan asuransi untuk
menghemat uang ditempatkan di atas kebutuhan klien.
Banyak praktisi percaya pendekatan ini mekanistik dan tidak mempertimbangkan
sepenuhnya dimensi relasional dari proses psikoterapi dan variabilitas individu. Memang,
mengandalkan secara eksklusif pada perawatan standar untuk masalah spesifik dapat
menimbulkan satu set masalah etika lain karena keandalan dan validitas teknik berbasis
empiris ini dipertanyakan. Perubahan manusia itu rumit dan sulit untuk diukur di luar tingkat
yang begitu sederhana sehingga perubahan itu mungkin tidak ada artinya. Selain itu, tidak
semua klien datang ke terapi dengan gangguan psikologis yang jelas. Banyak klien memiliki
masalah eksistensial yang tidak sesuai dengan kategori diagnostik apa pun dan tidak
meminjamkan diri untuk menentukan hasil berdasarkan gejala yang ditentukan dengan jelas.
EBP mungkin memiliki sesuatu untuk ditawarkan kepada para profesional kesehatan mental
yang bekerja dengan individu-individu dengan gangguan emosi, kognitif, dan perilaku
tertentu, tetapi tidak banyak menawarkan para praktisi yang bekerja dengan individu-individu
yang ingin mengejar lebih banyak makna dan pemenuhan dalam kehidupan mereka.
Konseling lebih dari sekedar metode penanganan yang perlu dibuktikan secara
empiris. Ada banyak aspek dalam konseling-hubungan terapis dan pasien, kepribadian terapis
dan pendekatan yang digunakan, klien itu sendiri, serta pengaruh lingkungan-yang berperan
penting terhadap keberhasilan dari penanganan psikoterapi. Penanganan yang berdasarkan
hanya pada bukti empiris saja cenderung hanya menekankan salah satu dari aspek-aspek di
atas saja. Norcross dan kawan-kawan (2006) mengemukakan bahwa hubungan terapeutik
yang terjalin berperan sebagai penentu hasil proses terapi yang dilakukan. Akan tetapi,
mereka juga mengatakan bahwa klien lah yang berperan lebih besar mempengaruhi hasil
proses terapi daripada hubungan terapeutik yang terjalin ataupun pendekatan terapi yang
digunakan. Riset mendukung klaim ini (lihat Lambert & Barley, 2002).
Norcross dan kawan-kawan (2006) meyakini bahwa permintaan perihal akuntabilitas
dalam penanganan kesehatan mental akan selalu ada. Mereka juga meyakini bahwa semua
praktisi bidang kesehatan mental diuji dengan kewajiban untuk membuktikan efisiensi,
efikasi, dan keamanan praktik mereka. Mereka menekankan bahwa tujuan utama EBP adalah
untuk meningkatkan efisiensi penanganan untuk klien dan untuk meningkatkan kesehatan
masyarakat serta berperan sebagai peringatan bagi praktisi kesehatan mental untuk
mengambil langkah proaktif demi memastikan tujuan utama ini tetap diperhatikan. Mereka
menyadari bahwa terdapat potensi penyalahgunaan oleh pihak ketiga yang lebih memilih
untuk memilah hasil temuan penelitian demi kepentingan finansial untuk menekan biaya
daripada mencari cara untuk meningkatkan kualitas penanganan yang ditawarkan. Norcross
dan kawan-kawan menekankan pentingnya percakapan dan perdebatan bersifat informatif
sebagai cara untuk memperoleh kejelasan dan untuk menghasilkan perkembangan.
Miller, Dunacan, dan Hubble (2004) berperan penting bagi gerakan EBP dan mereka
mengemukakan bahwa “perkembangan signifikan terkait hasil penanganan klien terlihat
dalam penanganan dimana terapis mendapat umpan balik perihal pengalaman klien dalam
menjalin hubungan dengan terapis dan kemajuan penanganan yang diperoleh” (hal. 2). Bukti
yang diambil dari praktik mencakup data yang dihasilkan selama penanganan berlangsung
untuk menunjukkan proses dan hasil penanganan tersebut. Topik ini dibahas lebih lanjut di
Bab 15.
Hubungan Ganda dalam Praktik Konseling
Hubungan ganda, abik bersifat seksual maupun nonseksual, terjadi ketika konselor
berperan ganda (atau lebih) dengan klien. Berperan ganda ini dapat berupa situasi
dimana terapis mengambil lebih dari satu peran sebagai profesional atau
menggambungkan peran profesional dan peran non-profesionalnya. Istilah multi-
hubungan lebih sering digunakan daripada istilah hubungan ganda karena
kompleksitas yang tercipta dalam hubungan tersebut. Dalam revisi terakhir Kode Etik
ACA (ACA, 2005) kedua istilah ini diganti menjadi istilah interaksi non-profesional
untuk menunjukkan hubungan tambahan selain hubungan seksual yang terbentuk.
Ada banyak bentuk interaksi non-profesional yang menjadi masalah para praktisi.
Sejumlah contoh bentuk hubungan ganda non-seksual adalah seperti menggabungkan
antara peran sebagai guru dan sebagai terapis atau peran sebagai supervisor dan peran
sebagai terapis; melakukan barter terkait barang atau jasa terapi; meminjam uang dari
klien; memberikan layanan terapi untuk teman, rekan kerja, atau keluarga; menjalin
hubungan sosial dengan klien; menerima hadiah dari klien; atau melakukan bisnis
dengan klien. Beberapa bentuk multi-hubungan sangat bersifat eksploitatif dan dapat
memberikan dampak buruk kepada klien maupun kepada terapis. Contohnya,
menjalin hubungan emosional dan seksual dengan klien sekarang jelas merupakan
suatu hal yang tidak etis, tidak profesional, dan ilegal. Berhubungan seksual dengan
mantan klien merupakan perilaku yang tidak benar, dapat bersifat eksploitatif, dan
pada umumnya dianggap sebagai perilaku tidak beretika.
Karena hubungan ganda nonseksual ini bersifat kompleks, ada sejumlah cara
dan jawaban untuk menyelesaikannya. Anda tidak selamanya hanya mengambil satu
peran saja dalam pekerjaan anda sebagai terapis. Anda mungkin saja akan harus
mengambil peran ganda suatu saat nanti, terlepas dari lingkungan pekerjaan anda
ataupun populasi klien yang anda tangani. Pikirkan baik-baik kompleksitas dari peran
ganda dan hubungan ganda sebelum anda terlibat dalam situasi tersebut.
Penilaian dan penalaran etika mulai dilibatkan ketika kode etik diterapkan ke
dalam situasi-situasi tertentu. Edisi revisi Kode Etik ACA (ACA, 2005) menekankan
bahwa ahli konseling harus mengetahui bagaimana cara mengatur peran dan tanggung
jawab ganda sesuai etika. Hal ini memerlukan keahlian untuk menghadapi
permasalahan secara efektif dengan perbedaan otoritas yang ada dalam hubungan
konseling dan hubungan pelatihan, keahlian untuk menyeimbangkan isu-isu terkait
batasan, keinginan untuk membahas hubungan nonprofesional yang terjalin, dan
usaha untuk tidak menggunakan otoritas yang dapat melukai klien, pelajar, ataupun
supervisor.
Meskipun hubungan ganda ini memiliki resiko, tidak lah benar untuk
menyimpulkan bahwa hubungan tersebut selamanya tidak etis dan pasti akan berujung
menuju dampak kerusakan dan eksploitasi. Beberapa hubungan ganda ini dapat
bermanfaat untuk klien jika cara penerapannya dipikirkan baik-baik dan dilakukan
dengan integritas (Lazarus & Zur, 2002; Zur, 2007). Boundaries in Psychotherapy:
Ethical and Clinical Explorations (Zur, 2007) merupakan sumber yang bagus terkait
dimensi etis dan klinis hubungan ganda.
Perspektif Terhadap Hubungan Ganda
Apa yang menjadi masalah hubungan ganda? Menurut Herlihy dan Corey (2006b),
aspek beemasalah dalam hubungan ganda adalah hubungan tersebut berisfat pervasif; sulit
untuk dikenali; terkadang tidak dapat dihindari; dapat memberikan manfaat; dan berbagai ahli
memiliki pendapat yang bertentangan terkait hubungan ganda ini. Suatu tinjauan pustaka
menunjukkan bahwa hubungan ganda adalah topik yang sering diperdebatkan. Tidak banyak
konsensus yang tercipta terkait bagaimana cara menghadapi permasalahan hubungan ganda,
kecuali untuk kasus intimasi seksual yang jelas merupakan perilaku tidak etis.
Beberapa kode etik institusi profesional menganjurkan untuk tidak menjalin hubungan
ganda, karena potensinya yang dapat disalahgunakan, dapat mengeksploitas klien, dan dapat
mengurangi objektivitas. Akan tetapi, kode etik tidak mewajibkan terapis untuk menghindari
hubungan ganda. Fokus kode etik saat ini ialah untuk tetap siaga akan potensi hubungan
ganda yang dapat mengeksploitasi dan membahayakan klien. Kode etik tidak befokus untuk
menerapkan larangan universal kepada segala bentuk hubungan ganda (Lazarus & Zur,
2002).
Banyak peneliti sepakat bahwa hubungan ganda tidak dapat dihindari dalam beberapa
situasi tertentu. Mereka juga sepakat bahwa menerapkan larangan menjalin hubungan ganda
secara global bukan solusi yang dapat diterapkan. Karena batasan intrapersonal tidak bersifat
statis dan dapat berubah seiring waktu berjalan, tantangan bagi para praktisi ialah untuk
menemukan cara bagaimana mengatur fluktuasi batasan ini dan cara menghadapinya dengan
efektif (Herlihy & Corey, 2006b). Salah satu kunci untuk mengatur hubungan ganda adalah
dengan memikirkan cara untuk meminimalisir resiko yang ada.
CARA MEMINIMALISIR RESIKO Dalam memutuskan apakah sebaiknya menjalin
hubungan ganda atau tidak, penting untuk memikirkan apakah potensi manfaat yang
diperoleh klien lebih besar daripada potensi buruknya. Beberapa bentuk hubungan dapat
memiliki lebih banyak potensi manfaat untuk klien daripada potensi resiko yang dapat terjadi.
Anda memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan semacam perlindungan bertujuan
untuk mengurangi potensi dampak negatif hubungan ganda. Herlihy dan Corey (2006b)
membuat panduan berikut:
Tentukan batasan di awal hubungan terapi dengan klien. Persetujuan sangat penting
dari awal dan selama proses terapi berlangsung.
Libatkan klien dalam diskusi yang berlangsung dan dalam proses pembuatan
keputusan, dan catat diskusi anda. Diskusikan dengan klien anda apa yang anda
harapkan dari mereka dan apa yang mereka harapkan dari anda.
Lakukan konsoultasi dengan rekan kerja anda sesama profesional sebagai cara untuk
tetap obyektif dan untuk mengenali kesulitan tidak terduga. Sadari bahwa anda tidak
harus membuat keputusan sendirian.
Ketika hubungan ganda berpotensi untuk menghasilkan masalah, atau ketika resiko
dampak buruk yang dapat ditimbulkan tinggi, hal yang paling bijak untuk dilakukan
adalah dengan bekerja di bawah pengawasan. Catat sifat pengawasan tersebut dan
segala tindakan yang anda lakukan dalam catatan anda.
Pengawasan-diri penting untuk dilakukan. Tanyakan kepada diri anda kebutuhan
siapa yang dipenuhi dan introspeksi niat anda untuk menjalin atau terlibat dalam
hubungan ganda.
Dalam menghadapi permasalahan terkait hubungan ganda, cara terbaik untuk memulainya
adalah dengan memastikan apakah hubungan ganda tersebut dapat dihindari. Terkadang,
interaksi non-profesional dapat dihindari dan keterlibatan anda malah akan beresiko untuk
klien. Akan tetapi, dalam beberapa kasus tertentu, hubungan ganda tidak dapat
terhindarkan. Contohnya, seorang konselor di masyarakat rural mungkin memiliki klien
yang berprofesi sebagai bankir, pedagang, dan pemerintah lokal. Dalam lingkungan
seperti ini, praktisi kesehatan mental mungkin perlu untuk memadukan beberapa peran
dan fungsi. Mereka juga mungkin harus mendatangi gereja yang sama atau bergabung
dengan organisasi masyarakat yang sama dengan klien mereka. Praktisi yang berada
dalam situasi seperti ini akan lebih sulit untuk menjaga batasannya dengan klien
dibandingkan dengan praktisi yang bekerja di lingkungan kota besar. Untuk mempelajari
lebih lanjut mengenai tantangan dan manfaat bekerja dalam masyarakat kecil, lihat
Schank dan Skovholt (2006).
Ada banyak jenis interaksi non-profesional. Salah satu cara untuk menyelesaikan
masalah yang berpotensi muncul adalah dengan menerapkan kebijakan untuk benar-benar
menjauhi segala bentuk interaksi non-profesional. Alternatif lainnya adalah dengan
menyelesaikan tiap dilema yang muncul, memanfaatkan dengan baik pemberian
persetujuan dan melakukan konsultasi serta mencari pengawasan dalam menghadapi
permasalahannya. Alternatif kedua ini menguji kemampuan pengawasan-diri terapis.
Ini merupakan salah satu tanda dari profesionalime untuk secara ikhlas bergulat dengan
kompleksitas etika dari praktik hari ke hari.
Kesimpulan
Hal ini penting bahwa anda mempelajari sebuah proses untuk berpikir tentang dan
berhadapan dengan dilema etika, simpan dalam benak bahwa kebanyakan masalah etika itu
komplek dan tak dapat diuraikan dalam solusi yang sederhana. Tanda dari keyakinan yang
baik adalah keikhlasan anda untuk membagi perjuangan dengan para kolega. Konsultasi
seperti itu dapat menjadi pertolongan yang besar dalam mengklarifikasi isu dengan
membawakan ada perspektif lain dalam situasi yang berbeda. Tugas untuk mengembangkan
rasa profesionalisme dan tanggungjawab etika tidak pernah benar-benar selesai, dan masalah-
masalah baru terus menerus bermunculan. Etika positif memerlukan refleksi periodik dan
keterbukaan untuk berubah.
Jika terdapat sebuah pertanyaan fundamental yang dapat diguankan untuk mengikat
bersama semua masalah yang dibahas dalam bab ini, inilah :” siapa yang memiliki hak untuk
menasehati orang lain?” Pertanyaan ini dapat menjadi titik terang dari refleksi anda dalam
masalah etika dan profesionalisme. Ini juga bisa menjadi dasar dari eksaminasi diri disetiap
hari dimana anda bertemu dengan klien. Terus tanya diri anda: Apa yang membuat saya
berpikir bahwa saya memiliki hak untuk menasehati orang lain? Apa yang harus saya
tawarkan kepada orang-orang yang sedang konseling?” Apakah saya sedang melakukan
sendiri dalam hidup saya apa yang saya sarankan pada klien saya?” Pada saat itu anda
mungkin merasa baha anda tidak memiliki hak etika untuk menasehati orang lain, mungkin
karena hidup anda sendiri tidak menjadi model yang anda inginkan untuk klien anda. Yang
lebih penting dari pada menyelesaikan semua masalah kehidupan adalah mengetahui
pertanyaan apa yang akan ditanyakan dan tetap terbuka pada refleksi.
Bab ini terlah diberikan kepada anda untuk beberapa masalah etika yang mungkin
anda hadapi dalam praktik konseling anda. Saya berharap ketertarikan anda telah terjawab
dan anda ingin belajar lebih banyak lagi. Untuk bacaan lain dalam topik penting ini, pilih
beberapa buku di daftar dibawah ini dalam Bacaan Tambahan yang Direkomendasikan untuk
pembelajaran lebih jauh.
Kemana Pergi dari Sini
Organisasi profesional dibawah ini menyediakan informasi tentang apa yang harus
ditawarkan oleh setiap kelompok, termasuk kode etik untuk organisasi.
American Counseling Association www.counseling.org
(ACA)
American Psychological Association www.apa.org
(APA)
National Association of Social www.socialworkers.org
Workers (NASW)
American Association for Marriage www.aamft.org
and Family Therapy (AAMFT)
National Organization for Human www.nationalhumanservices.org
Services (NOHS)
BACAAN TAMBAHAN YANG DISARANKAN UNTUK BAGIAN I
Counseling the Culturally Diverse: Theory
and Practice (D. W. Sue & Sue, 2008)
merupakan sebuah keunggulan dalam
bidang konseling multikultural dan terapi
dan sekarang merupakan sebuah standar
untuk banyak kursus dalam konseling
multikultural
A Handbook for Developing Multicultural
Awareness (Pedersen, 2000) berkenaan
dengan topik-topik seperti menjadi sadar
akan asumsi yang bias secara kultural dan
memperoleh pengetahuan dan keahlian
yang dibutuhkan untuk berhadapan secara
efektif dengan perbedaan kultural.
Caring for Ourselves: A Therapist’s Guide
to Personal and Professional Well-Being
(Baker, 2003) merupakan sebuah buku
yang ditulis dengan baik yang menyajikan
sebuah kasus untuk nilai dari terapis bagi
para perawat.
Leaving It at the Offi ce: A Guide to
Psychotherapist Self-Care (Norcross &
Guy, 2007)membahas tentang 12 strategi
perawatan-diri yang didukung oleh bukti
empiris. Penulis mengembangkan posisi
bahwa perawatan-diri penting secara
personal dan etis secara profesional.
The Gift of Therapy: An Open Letter to a
New Generation of Therapists and Their
Patients (Yalom, 2003) sangat mudah
dibaca, mencerahkan, dan merupakan
sumber yang bermanfaat. Ia mencakup 85
bab pendek dengan topik yang luas dan
beragam yang menyinggung konselor
sebagai pribadi dan sebagai profesional.
Ethical Practice in Small Communities:
Challenges and Rewards for Psychologists
(Schank & Skovholt, 2006) membahas
tentang masalah saat ini dalam komunikasi
kecil dan menjelaskan strategi untuk
mengurangi resiko.
ACA Ethical Standards Casebook (Herlihy
& Corey, 2006a) berisi tentang beragam
kasus yang berguna yang cocok dengan
ACA Code of Ethics. Contoh ini
menilustrasikan dan menjelaskan makna
dan tujuan dari standar.
Boundary Issues in Counseling: Multiple
Roles and Responsibilities (Herlihy &
Corey, 2006b) menempatkan kontroversi
hubungan yang berganda kedalam
prespektif. Buku ini berfokus pada
hubungan ganda dalam berbagai latar
kerja.
Boundaries in Psychotherapy: Ethical and
Clinical Explorations (Zur, 2007)
mengkaji tentang sifat kompleks dari
batasan-batasan dalam prakrik
profeesional dengan menawarkan sebuah
proses pembuatan keputusan untuk
membantu para praktisi berhadapan
dengan topik yang luas seperti sifat
bawaan sentuhan non seksual kunjungan,
pertukaran dan terapi pembukaan rahasia
diri.
Dual Relationships and Psychotherapy
(Lazarus & Zur, 2002) merupakan sebuah
kompilasi cerdas membahas tentang etika
hubungan berganda, peran dari batasan dan
hubungan populasi khusus.
Issues and Ethics in the Helping
Professions (Corey, Corey, & Callanan,
2007) dicurahkan sepenuhnya kepada
masalah yang dijelaskan secara singkat
pada bab tiga. Buku ini dirancang untuk
memasukkan pembaca dalam cara personal
dan aktif, dan terdapat banyak kasus open-
ended yang disajikan untuk membantu
pembaca merumuskan pemikiran mereka
dalam isu etika yang luas.
Ethics in Action: CD-ROM (Corey, Corey,
& Haynes, 2003) merupakan sebuah
program instruksi diri yang dibagi kedalam
tiga bagian: (1) pembuatan keputusan etis,
(2) nilai dan hubungan, dan (3) masalah
batasan dan hubungan berganda. Program
tersebut mencakup vidio klip dari sketsa-
sketsa yang mendemonstrasikan stimulasi
etika dalam diskusi simulasi.
The Art of Integrative Counseling (Corey,
2009a) merupakan sebuah presentasi dari
konsep dan teknik beragam teori
konseling. buku ini menyediakan petunjuk
bagi para pembaca dalam mengembangkan
pendekatan mereka sendiri dalam praktek
konseling.
Case Approach to Counseling and
Psychotherapy (Corey, 2009b)
menyediakan aplikasi kasus tentang
bagaimana setiap teori yang dijelaskan
didalam buku dapat bekerja dalam
tindakan. Seorang klien hipotetis, Ruth,
menjalani konseling dari semua temapt
yang menguntungkan dari terapi.
Student Manual for Theory and Practice of
Counseling and Psychotherapy (Corey,
2009c) dirancang untuk membantu anda
menghubungkan teori dengan praktek dan
untuk membuat konsep-konsep yang
terdapat didalam buku ini menjadi hidup.
Ia mencakup inventori diri kesimpulan
mengenai teori, glosari, konsep kunci,
rumusan masalah, dan pertanyaan unutk
aplikasi personal, aktivitas dan latihan, cek
pemahaman dan kuis, dan contoh kasus.
Pedoman ini sepenuhnya diselaraskan
dengan buku tugas untuk menjadikannya
sebuah bimbingan belajar personal.
Integrative Counseling: CD-ROM (Corey
& Haynes, 2005) merupakan sebuah alat
belajar mandiri yang menarik, berisi
bagian-bagian vidio dan pertanyaan yang
interaktif dirancang untuk mengajarkan
siswa cara bekerja dengan klien (Ruth)
dengan mengambarkan konsep dan teknik
dari beragam pendekatan teoritis. Topik-
topik dalam program ini paralel dengan
topik dalam The Art of Integrative
Counseling.
Becoming a Helper (M. Corey & Corey,
2007) telah memisahkan bab-bab yang
dikembangkan pada masalah yang
berkenaan dengan kehidupan pribadi dan
profesi para perawat serta masalah etika
dalam praktek konseling.
REFERENSI DAN BACAAN YANG DISARANKAN UNTUK BAGIAN 1
AMERICAN COUNSELING
ASSOCIATION. (2005). ACA code
of ethics. Alexandria, VA: Author.
AMERICAN PSYCHIATRIC
ASSOCIATION. (2000). Diagnostic
and statistical manual of mental
disorders, text revision (4th ed.).
Washington, DC: Author.
AMERICAN PSYCHOLOGICAL
ASSOCIATION. (2003). Guidelines
on multicultural education, training,
research, practice, and organizational
change for psychologists. American
Psychologist, 58(5), 377402.
ARREDONDO, P., TOPOREK, R.,
BROWN, S., JONES, J., LOCKE,
D., SANCHEZ, J., & STADLER, H.
(1996). Operationalization of
multicultural counseling
competencies. Journal of
Multicultural Counseling and
Development, 24(1), 4278.
*BAKER, E. K. (2003). Caring for
ourselves: A therapist’s guide to
personal and professional wellbeing.
Washington, DC: American
Psychological Association.
CARDEMIL, E. V., & BATTLE, C. L.
(2003). Guess who’s coming to
therapy? Getting comfortable with
conversations about race and
ethnicity in psychotherapy.
Professional Psychology: Research
and Practice, 34(3), 278286.
COMMITTEE ON PROFESSIONAL
PRACTICE AND STANDARDS.
(2003). Legal issues in the
professional practice of psychology.
Professional Psychology: Research
and Practice, 34(6), 595600.
*COREY, G. (2009a). The art of
integrative counseling (2nd ed.).
Belmont, CA: Brooks/Cole.
*COREY, G. (2009b). Case approach to
counseling and psychotherapy (7th
ed.). Belmont, CA: Brooks/Cole.
*COREY, G. (2009c). Student manual for
theory and practice of counseling
and psychotherapy (8th ed.).
Belmont, CA: Brooks/Cole.
*COREY, G., & COREY, M. (2006). I
never knew I had a choice (8th ed.).
Belmont, CA: Brooks/Cole.
*COREY, G., COREY, M., &
CALLANAN, P. (2007). Issues and
ethics in the helping professions (7th
ed.). Belmont, CA: Brooks/Cole.
2
*COREY, G., COREY, M., & HAYNES,
R. (2003). Ethics in action: CD-
ROM. Belmont, CA: Brooks/Cole
*COREY, G., & HAYNES, R. (2005).
Integrative counseling: CD-ROM.
Belmont, CA: Brooks/ Cole.
*COREY, M., & COREY, G. (2007).
Becoming a helper (5th ed.).
Belmont, CA: Brooks/Cole.
CUKROWICZ, K. C., WHITE, B. A.,
REITZEL, L. R., BURNS, A. B.,
DRISCOLL, K. A., KEMPER, T. S.,
& JOINER, T. E. (2005). Improved
treatment outcome associated with
the shift to empirically supported
treatments in a graduate training
clinic. Professional Psychology:
Research and Practice, 36(3), 330
337.
DEEGEAR, J., & LAWSON, D. M.
(2003). The utility of empirically
supported treatments. Professional
Psychology: Research and Practice,
34(3), 271277.
*DUNCAN, B. L., MILLER, S. D., &
SPARKS, J. A. (2004). The heroic
client: A revolutionary way to
improve effectiveness through client-
directed, outcome-informed therapy.
San Francisco: Jossey-Bass.
EDWARDS, J. A., DATTILIO, F. M., &
BROMLEY, D. B. (2004).
Buku dan artikel dengan tanda asterik disarankan
untuk dipelajari lebih lanjut
Developing evidence-based practice:
The role of case-based research.
Professional Psychology: Research
and Practice, 35(6), 589597.
*FALENDER, C. A., & SHAFRANSKE,
E. P. (2004). Clinical supervision: A
competency-based approach.
Washington, DC: American
Psychological Association.
*FRAME, M. W. (2003). Integrating
religion and spirituality into
counseling. Pacific Grove, CA:
Brooks/Cole.
*GELLER, J. D., NORCROSS, J. C., &
ORLINSKY, D. E. (Eds.). (2005a).
The psychotherapist’s own
psychotherapy: Patient and clinician
perspectives. New York: Oxford
University Press.
*GELLER, J. D., NORCROSS, J. C., &
ORLINSKY, D. E. (2005b). The
question of personal therapy:
Introduction and prospectus. In J. D.
Geller, J. C. Norcross, & D. E.
Orlinsky (Eds.), The
psychotherapist’s own
psychotherapy: Patient and clinician
perspectives (pp. 311). New York:
Oxford University Press.
*HERLIHY, B., & COREY, G. (2006a).
ACA ethical standards casebook (6th
ed.). Alexandria, VA: American
Counseling Association.
*HERLIHY, B., & COREY, G. (2006b).
Boundary issues in counseling:
Multiple roles and responsibilities
(2nd ed.). Alexandria, VA:
American Counseling Association.
IVEY, A. E., D’ANDREA, M., IVEY, M.
B., & SIMEKMORGAN, L. (2007).
Theories of counseling and
psychotherapy: A multicultural
perspective (6th ed.). Boston: Allyn
& Bacon (Pearson).
*KNAPP, S. J., & VANDECREEK, L.
(2006). Practical ethics for
psychologists: A positive approach.
Washington, DC: American
Psychological Association.
*LAMBERT, M. J., & BARLEY, D. E.
(2002). Research summary on the
therapeutic relationship and
psychotherapy outcome. In J. C.
Norcross (Ed.), Psychotherapy
relationships that work: Therapist
contributions and responsiveness to
patient needs (pp. 1732). New
York: Oxford University Press.
*LAZARUS, A. A., & ZUR, O. (2002).
Dual relationships and
psychotherapy. New York: Springer.
McCABE, O. L. (2004). Crossing the
quality chasm in behavioral health
care: The role of evidence-based
practice. Professional Psychology:
Research and Practice, 35(6), 571
579.
*MILLER, S. D., DUNCAN, B. L., &
HUBBLE, M. A. (2004) Beyond
integration: The triumph of outcome
over process in clinical practice.
Psychotherapy in Australia, 10(2),
219.
*NORCROSS, J. C. (2002a). Empirically
supported therapy relationships. In J.
C. Norcross (Ed.), Psychotherapy
relationships that work: Therapist
contributions and responsiveness to
patient needs (pp. 316). New York:
Oxford University Press.
*NORCROSS, J. C. (Ed.). (2002b).
Psychotherapy relationships that
work: Therapist contributions and
responsiveness to patient needs.
New York: Oxford University Press.
*NORCROSS, J. C. (2005). The
psychotherapist’s own
psychotherapy: Educating and
developing psychologists. American
Psychologist, 60(8), 840850.
NORCROSS, J. C., BEUTLER, L. E., &
LEVANT, R. F. (2006). Evidence-
based practices in mental health:
Debate and dialogue on the
fundamental questions. Washington,
DC: American Psychological
Association.
*NORCROSS, J. C., & GOLDFRIED, M.
R. (Eds.). (2005). Handbook of
psychotherapy integration (2nd ed.).
New York: Oxford University Press.
*NORCROSS, J. C., & GUY, J. D. (2007).
Leaving it at the office: A guide to
psychotherapist self-care. New
York: Guilford Press.
ORLINSKY, D. E., NORCROSS, J. C.,
RONNESTAD, M. H., &
WISEMAN, H. (2005). Outcomes
and impacts of the psychotherapists’
own psychotherapy. In J. D. Geller,
J. C. Norcross, & D. E. Orlinsky
(Eds.), The psychotherapist’s own
psychotherapy: Patient and clinician
perspectives (pp. 214230). New
York: Oxford University Press.
*PEDERSEN, P. (2000). A handbook for
developing multicultural awareness
(3rd ed.). Alexandria, VA: American
Counseling Association.
*POPE, K. S., SONNE, J. L., & GREENE,
B. (2006). What therapists don’t talk
about and why: Understanding
taboos that hurt us and our clients.
Washington, DC: American
Psychological Association.
*POPE, K. S., & VASQUEZ, M. J. T.
(2007). Ethics in psychotherapy and
counseling: A practical guide (3rd
ed.). San Francisco: Jossey-Bass.
RICHARDS, P. S., RECTOR, J. M., &
TJELTVEIT, A. C. (1999). Values,
spirituality, and psychotherapy. In
W. R. Miller (Ed.), Integrating
spirituality into treatment:
Resources for practitioners (pp.
133160). Washington, DC:
American Psychological
Association.
*SCHANK, J. A., & SKOVHOLT, T. M.
(2006). Ethical practice in small
communities: Challenges and
rewards for psychologists.
Washington, DC: American
Psychological Association.
*SKOVHOLT, T. M., & JENNINGS, L.
(2004). Master therapists: Exploring
expertise in therapy and counseling.
Boston: Pearson Education.
*SPERRY, L. (2007). The ethical and
professional practice of counseling
and psychotherapy. Boston: Allyn &
Bacon (Pearson).
SUE, D. W., ARREDONDO, P., &
MCDAVIS, R. J. (1992).
Multicultural counseling
competencies and standards. A call
to the profession. Journal of
Counseling and Development, 70(4),
477486.
SUE, D. W., IVEY, A. E., & PEDERSEN,
P. (1996). A theory of multicultural
counseling and therapy. Pacific
Grove, CA: Brooks/Cole.
*SUE, D. W., & SUE, D. (2008).
Counseling the culturally diverse:
Theory and practice (5th ed.). New
York: Wiley.
TOPOREK, R. L., GERSTEIN, L. H.,
FOUAD, N. A., ROYSIRCAR, G.,
& ISRAEL, T. (2006). Handbook for
social justice counseling in
counseling psychology: Leadership,
vision, and action. Thousand Oaks,
CA: Sage.
WAMPOLD, B. E., & BHATI, K. S.
(2004). Attending to the omissions:
A historical examination of
evidence-based practice movements.
Professional Psychology: Research
and Practice, 35(6), 563570.
*WELFEL, E. R. (2006). Ethics in
counseling and psychotherapy:
Standards, research, and emerging
issues (3rd ed.). Belmont, CA:
Brooks/Cole.
*YALOM, I. D. (2003). The gift of
therapy: An open letter to a new
generation of therapists and their
patients. New York: HarperCollins
(Perennial).
*ZUR, O. (2007). Boundaries in
psychotherapy: Ethical and clinical
explorations. Washington, DC:
American Psychological Association
Halaman ini sengaja dikosongkan
BAGIAN
DUA
Teori dan Teknik-Teknik Konseling
4
Terapi Psikoanalisis 59
5
Terapi Adlerian 96
6
Terapi Eksistensial 131
7
Terapi Berbasis Individu 164
8
Terapi Gestalt 197
9
Terapi Perilaku 232
10
Terapi Perilaku Kognitif 272
11
Terapi Realitas 315
12
Terapi Feminis 339
13
Pendekatan Pascamoderen 373
14
Terapi Sistem Keluarga 409
Halaman ini sengaja dikosongkan
BAB EMPAT
Terapi Psikoanalisis
Pendahuluan
Kunci-Kunci Pembahasan
Pandangan mengenai Sifat Manusia
Struktur Kepribadian
Kesadaran dan Ketidaksadaran
Kecemasan
Mekanisme Defensif Ego
Perkembangan Kepribadian
Proses Terapi
Tujuan Terapi
Fungsi dan Peran Terapis
Pengalaman Klien dalam Terapi
Hubungan antara Terapis dan Klien
Penerapan: Prosedur dan Teknik
Terapi
Menjaga Kerangka Analitik
Asosiasi Bebas
Interpretasi
Analisis Mimpi
Analisis dan Interpretasi Resistansi
Analisis dan Interpretasi
Transferansi
Penerapan dalam Konseling Grup
Pengembangan Kepribadian
Menurut Perspektif Jung
Tren Kontemporer: Teori Relasi
Obyek, Psikologi Diri, dan
Psikoanalisis Rasional
Terapi Psikoanalisis Dari
Perspektif Multikultural
Kelebihan Perspektif Keberagaman
Kekurangan Perspektif
Keberagaman
Penerapan Terapi Psikoanalisis
dalam Kasus Stan
Ranguman dan Evaluasi
Kontribusi Pendekatan
Psikoanalisis
Kontribusi Teoritikus Psikoanalisis
Moderen
Keterbatasan dan Kritikan
Pendekatan Psikoanalisis
Kemana Selanjutnya
Saran Bacaan Tambahan
Daftar Pustaka dan Saran Bacaan
S I G M U N D F R E U D
SIGMUND FREUD
(1856-1939) lahir di
kelurga berkebangsaan
Wina yang memiliki
tiga anak laki-laki dan
lima anak perempuan.
Ayahnya, sama seperti
orangtua pada
umumnya di
lingkungan dan masa itu, bersifat sangat
otoriter. Latar belakang keluarga Freud
merupakan hal penting untuk diketahui jika
ingin memahami perkembangan teorinya.
Meskipun keluarga Freud tidak
mampu secara finansial dan terpaksa hidup di
apartemen yang padat, kedua orangtuanya
berusaha sekuat tenaga untuk menumbuhkan
kemampuan kepintaran Freud. Freud memiliki
sejumlah minat dan ketertarikan, namun
pilihan karir yang ia bisa tempuh terbatas
karena darah Yahudinya. Ia kemudian
memilih untuk berkecimpung di dunia
kedokteran. Hanya selang 4 tahun setelah ia
mendapatkan gelar sarjana kedokterannya di
Universitas Wina di usia ke-26, ia telah
berprofesi menjadi dosen di universitas
tersebut.
Freud menghabiskan masa hidupnya
mengembangkan teori psikoanalisis
temuannya. Menariknya, masa paling kreatif
dalam hidup Freud adalah ketika ia menderita
serangkaian penyakit emosional. Di awal usia
40an, Freud menderita gangguan psikomatis,
rasa takut berlebihan akan kematian serta
fobia-fobia lainnya, dan mengalami kesulitan
dalam melakukan analisis diri.
Dengan mengeksplor makna mimpi-
mimpi yang ia alami, ia mendapat
pencerahan terkait dinamika
perkembangan kepribadian. Pertama, ia
memeriksa kenangan masa kecilnya dan
kemudian menyadari kebencian yang ia
miliki terhadap ayahnya. Ia juga
mengingat persaan seksual masa
kecilnya yang ia miliki terhadap ibunya.
Ia kemudian membentuk teorinya ketika
ia mengamati pasiennya dengan
menganalisis masalah yang mereka
hadapi.
Freud sama sekali tidak
memaklumi teman dan koleganya
yang menyeleweng dari doktrin
psikoanalisisnya. Freud berusaha untuk
tetap mempertahankan kendali yang ia
miliki terhadap pergerakan ajarannya
dengan mengeluarkan mereka yang
berani untuk menentang ajarannya.
Contohnya seperti Carl Jung dan Alfred
Adler yang awalnya bekerja sama
dengan Freud, namun keduanya
kemudian membentuk ajaran terapi
mereka sendiri karena mereka tidak
setuju dengan Freud terkait beberapa hal
dari segi teoritis maupun klinis.
Di masa-masa ini, Freud sangat
keratif dan produktif, dan seringkali
bekerja selama 18 jam per hari.
Kumpulan tulisan nya mencapai 24 jilid
tulisan. Produktivitas Freud terus
berkembang hingga ia kemudian
mengidap kanker rahang. Selama dua
dekade terakhir hidupnya, ia melewati
33 operasi dan selalu merasa kesakitan.
Freud kemudian meninggal di London
pada tahun 1939.
Sebagai pendiri psikoanalisis,
Freud mendapat posisi tersendiri sebagai
pemikir hebat. Ia mempelopori teknik-
teknik baru untuk memahami perilaku
manusia, dan berhasil menghasilkan
teori kepribadian dan psikoterapi yang
paling komperhensif.
Pendahuluan
Perspektif Freud hingga saat ini tetap mempengaruhi praktik terapi kontemporer. Sejumlah
konsep-konsep dasarnya masih menjadi fondasi teori yang digunakan dan dikembangkan
sebagian teoritis. Bahkan, sebagian besar teori konseling dan psikoterapi yang dibahas dalam
buku ini dipengaruhi oleh prinsip dan teknik psikoanalisis. Sebagian pendekatan terapi ini
memperluas model psikoanalisis, sebagian lainnya memodifikasi konsep dan prosedur
psikoanalisis, dan sebagian lainnya lagi terbentuk sebagai pendekatan melawan model
psikoanalisis.
Sistem psikoanalisis Freud merupakan model perkembangan kepribadian dan
pendekatan psikoterapi. Freud memberikan perspektif baru terhadap psikoterapi, memberikan
perhatian baru pada faktor-faktor psikodinamis yang mempengaruhi perilaku, dan Freud juga
yang pertama kali mengembangkan tahapan terapi yang bertujuan untuk memahami dan
mengubah struktur karakter dasar seseorang. Teori temuan Freud merupakan tolok ukur yang
digunakan untuk menilai teori-teori lain.
Tidaklah mungkin untuk membahas keberagaman pendekatan psikodinamik yang
muncul sejak Freud ke dalam satu bab saja. Fokus utama bab ini hanya terkait praktik dan
konsep-konsep dasar psikoanalisis, yang banyak berasal dari Freud. Bab ini menggambarkan
terapi yang mengaplikasikan konsep psikoanalitik klasik untuk mempraktikkan dengan tidak
kaku dibandingkan dengan apa yang telah dilakukannya. Bab tersebut juga merangkum teori
dari Erik Erikson tentang perkembangan psikososial, yang mengembangkan teori Freudian
dalam beberapa cara. Perhatian singkat diberikan kepada pendekatan Carl Jung dan untuk
teori dan praktik psikoanalitik kontemporer.
Konsep Kunci
Pandangan Sifat Manusia
Pandangan Freudian tentang sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik.
Menurut Freud, perilaku kita ditentukan oleh dorongan irrasional, motivasi tak sadar, dan
dorongan biologi dan insting karena hal ini berkembang selama tahapan psiko-seksual di
enam tahun pertama kehidupan.
Insting merupakan pusat dari pendekatan Freudian. Meskipun dia pada awalnya
menggunakan istilah libido yang mengacu pada energi seksual, dua kemudian
memperluasnya untuk memasukkan semua energi dari insting-insting kehidupan. Insting ini
melayani tujuan dari keberlangsungan hidup individu dan umat manusia.; hal ini
diorientasikan pada pertumbuhan, perkembangan, dan kreativitas. Libido harus dipahami
sebagai seumber dari motavi yang mencakup energi seksual tetapi melebihinya. Freud
memasukkan semua tindakan menyenangkan dalam konsepnya tentang insting kehidupan;
dia melihat tujuan tentang kehidupan sebagai pencapaian kebahagiaan dan menghindari rasa
sakit.
Freud juga membuat hukum insting kematian, yang bertanggung jawab pada
dorongan agresif. Saat itu, orang-orang mewujudkannya melalui perilaku sebuah harapan
tidak sadar untuk mati atau menyakiti diri sendiri atau orang lain. Mengontrol dorongan
agresif ini merupakan sebuah tantangan utama bagi ras manusia. Dalam pandangan Freud,
baik dorongan seksual maupun agresif kedua penentu yang kuat sehingga orang melakukan
apa yang mereka lakukan.
Struktur Kepribadian
Menurut pandangan psikoanalisis, kepribadian terdiri atas tiga sistem: id, ego, dan
superego. Ini merupakan istilah untuk struk psikologi dan tidak dianggap sebagai manikin
yang bekerja pada kepribadian secara terpisah. ; satu kepribadian berfungsi secara
keseluruhan dan bukannya secara tiga segmen yang terpisah. Id merupakan komponen
biologi, ego merupakan komponen psikologi, dan superego merupakan komponen sosial.
Dalam perspektif Freudian ortodox, manusia dipandang sebagai sistem energi.
Dinamis kepribadian terdiri dari jalan-jalan dimana energi psikis didistribusikan ke id, ego,
dan superego. Karena jumlah energi terbatas, satu sistem mencapai kontrol terhadap energi
yang tersedia pada penggunaan dua sistem lainnya perilaku ditentukan oleh energi psikis ini.
ID Id merupakan sistem asli kepribadia; ketika kelahiran seseorang, seluruhnya adalah id. Id
merupakan sumber utama dari energi psikis dan merupakan tempat dari insting. Ia kurang
pengorganisasian dan buta, menuntut, dan terus menerus. Sebuah kawah dari gelegak
kesenangan, id tidak toleran terhadap tekanan, dan ia berfungsi untuk memberhentikan
tekanan secepatnya. Diatur oleh prinsip kesenangan, yang bertujuan untuk mengurangi
tekanan, menghindari kepedihan, dan mencapai kesenangan, id itu tidak logis tidak bermoral,
dan bergerak untuk memuaskan kebutuhan secara insting. Id tidak pernah dewasa, tetap
menjadi pribadi yang cengeng dan nakal. Ia tidak berpikir melainkan hanya berharap atau
bertindak. Id pada umumnya tidak sadar, atau berada di luar kesadaran.
EGO ego memiliki kontak dengan dunia realitas luar. Ini adalah ‘eksekutif’ yang
memerintah, mengontrol, dan mengatur kepribadian sebagai sebuah “polisi lalu lintas’, ia
menghubungkan antara insting dan lingkungan sekitar. Ego mengontrol kesadaran dan
melatih sensor. Diatur oleh prinsip realitas, ego menjalankan pemikiran yang realistis dan
masuk akal dan memformulasikan rencana dari tindakan untuk memenuhi keinginan. Apa
hubungan antara ego dan id? Ego, merupakan tempat dari kecerdasan dan rasionalitas,
mengecek dan mengontrol dorongan buta dari id. Sementra id hanya mengetauhi realitas
subjektif, ego memisahkan antara gambaran mental dan benda di dunia eksternal.
SUPEREGO Superego merupakan cabang keputusan dari kepribadian. Ia mencakup kode
moral seseorang, perhatian utama adalah apakah sebuah tindakan itu baik atau buruk, benar
atau salah. Ia mewakili hal ideal dari pada kenyataan dan berjuang bukan untuk kesenangan
tetapi untuk kesempurnaan. Superego mewakili nilai tradisional dan ideal dari masyarakat
karena diturunkan dari orang tua kepada anak. Ia berfungsi untuk menghalangi impuls dari id,
untuk menggoda ego agar menggantikan tujuan moral menjadi tujuan realistis, dan berusaha
untuk kesempurnaan. Superego, merupakan internalisasi dari standar orang tua dan
masyarakat, berhubungan dengan ganjaran dan hukuman psikologi. Ganjaran adalah perasaan
bangga dan cinta pada diri; hukuman adalah rasa bersalah dan tersisihkan.
Kesadaran dan ketidaksadaran
Mungkin kontribusi terbesar Freud adalah konsepnya terhadap ketidaksadaran dan tingkat
kesadaran, yang merupakan kunci untuk memahami perilaku dan masalah kepribadian.
Ketidaksadaran tidak dapat dipelajari secara langsung tetapi disimpulkan dari perilaku. Bukti
klinis dari memberikan hukum mencakup; (1) mimpi, yang merupakan representasi simbolik
dari kebutuhan kesadaran, harapan, dan konflik; (2) salah ucap dan lupa, contoh, nama yang
akrab; (3) saran postipnotik; (4) materi yang diambil dari teknik asosiasi-bebas; (5) materi
yang diambil dari teknik pojektif; dan (6) konten simbolik dan gejala psikotik.
Bagi Freud, kesadaran merupakan belahan kecil dari keseluruhan pikiran. Seperti
bagian terbesar dari gunung es yang berada jauh dari permukaan air, bagian terbesar dari
pikiran berada dibawah permukaan kesadaran. Ketidaksadaran menyimpan semua
pengalaman, meoru dan materi yang ditahan. Kebutuhan dna motivasi yang tidak dapat
diakses- yang diluar kesadaran- juga berada diluar area kontrol kesadaran. Kebanyakan
fungsi psikologi hadir diluar realisme kesadaran. Tujuan dari terapi psikoanalitik, adalah
untuk membuat motif tidak sadar menjadi sadar, sehingga seorang individu dapat melatih
pilihan. Memahami peran dari ketidaksadaran merupakan pusat untuk mengambil esensi dari
model psikoanalisis perilaku.
Proses ketidaksadaran merupakan akar dari semua bentuk gejala neurotik dan
perilaku. Dari perspektif ini, sebuah ‘obat’ didasarkan pada pembukaan makna dari gejala,
penyebab perilaku, dan materi yang ditahan yang dicampurkan dengan fungsi sehat. Penting
untuk dicatat bahwa pandangan intelektual sendiri tidak menyelesaikan masalah. Klien harus
melekat pada pola lama (pengulangan) harus dihadapi dengan bekerja melalui distorsi
pemindahan, sebuah proses yang akan dibahas pada bab ini.
Kebingungan
Juga penting bagi pendekatan psikoanalisis adalah konsep dari kebingungan.
Kebingungan merupakan sebuah rasa kekeringan yang merupakan hasil dari rasa yang
ditahan, memori, nafsu, dan pengalaman yang berkumpul pada permukaan kesadaran. Ia bisa
dianggap sebagaai sebuah tempat tegangan yang memotivasi kita untuk melakukan sesuatu.
Ia mengembangkan diluar sebuah konflik diantara kekuatan id, ego, dan superego terhadap
kontrol dari energi psikis yang tersedia. Fungsi dari kebingungan adalah untuk mengingatkan
akan bahaya yang akan datang.
Terdapat tiga jenis kebingungan; realitas, neurotika, dan moral. Kebingungan
realitas merupakan ketakutan akan bahaya dari dunia luar, dan tingkatan dari kebingungan
seperti itu sebanding dengan derajat ancaman nyata. Kebingungan moral dan neurotik
menimbulkan ancaman pada “keseimbangan kekuatan” pada diri seseorang, mereka
memberikan snyal pada ego hanya dengan mengambil pengukuran yang tepat bahaya dapat
meningkat hingga ego dibuang. Kebingungan neurotik merupakan ketakutan bahwa insting
akan berada diluar kendali dan menyebabkan seseornag melakan sesuatu yang pantas untuk
dihukum. Kebingungan moral merupakan ketkautan dari kesadaran seseorang. Orang-orang
dengan kesadaran yang berkembang baik cenderung merasa bersalah ketika mereka
melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kode moral mereka. ketika ego tidak bisa
mengontrol kebingungan oleh metode rasional dan langsung, ia bergantung pada yang tidak
langsung-yaitu, ego- perilaku bertahan.
Mekanisme Pertahanan Ego
Mekanisme pertahanan ego membantu individu menghadapi kebingungan dan mencegah ego
dari kebingungan. Bukannya menjadi patologik, pertahanan ego merupakan perilaku normal
yang dapat memiliki nilai adaptif yang disediakan mereka tidak menjadi sebuah gaya hidup
yang memungkinkan individu untuk menghindari menghadapi kenyataan. Pertahanan
bergantung pada level perkembangan individu dan tingkat kebingungan. Mekanisme
pertahanan memiliki dua karakteristik umum: (1) keduanya tidak menyangkal atau mengubah
realita, dan (2) mereka beroperasi pada level tak sadar. Tabel 4.1 menyediakan deskripsi
singkat dari beberapa pertahanan ego yang umum.
Perkembangan kepribadian
PENTINGNYA PERKEMBANGAN AWAL. Sebuah kontribusi penting dari model
psikoanalisis merupakan sebuah penggambaran dari tahan psikoseksual dan tahapan
psikososial perkembangan dari lahir menuju kedewasaan. Tahapan psikoseksual mengacu
pada tahapan perkembangan kronologi Freudian , mulai dari masa kecil. Tahapan psikososial
mengacu pada dasar psikologi dan tugas sosial Erickson untuk dikuasai dari kelahiran hingga
tua. Perspektif tahapan ini menyediakan konselor dengan alat konseptual untuk memahami
tugas perkembangan kunci dari beragam tahapan kehidupan.
TABEL 4.1 Mekanisme Ego-Pertahanan
Pertahanan
Digunakan untuk perilaku
represi
Pemikiran yang
mengancam atau
menyakitkan dikeluarkan
dari kesadaran
Salah satu proses Freudian yang paling
penting, ini adalah dasar dari pertahanan ego
yang lin dan kelainan neurotik. Freud
menjelaskan represi merupakan sebuah
penghilangan secara tidak sengaja sesuatu
dari kesadaran. Hal ini diduga bahwa
kebanyakan kejadian menyakitkan dari usia 5
sampai 6 tahun dikubur, namun kejadian ini
mempengaruhi perilaku selanjutnya
penyangkalan
“menutup mata
seseorang” akan
kehadiran aspek yang
mengancap dari realita
Penyangkalan realita mungkin mekanisme
pertahanan diri paling sederhana. Ini
merupakan sebuah cara untuk membelokkan
apa yang dipikirkan, dirasakan, atau
dipersepsikan oleh seseorang dalam situasi
traumatik. Mekanisme ini mirip dengan
represi, namun umumnya beroperasi pada
tingkatan pra sadar dan sadar.
Formasi reaksi
Secara aktif
mengekspresikan impuls
sebaliknya ketika
berhadapan dengan
impuls yang mengancam
Dengan mengembangkan sikap kesadaran
dan perilaku yang secara diametris
berlawanan dengan nafsu yang mengganggu,
orang-orang tidak harus menghadapi
kebingungan yang akan dihasilkan jika
mereka menyadari dimensi ini pada diri
mereka sendiri. Individu dapat
menyembunyikan kebencian dengan wajah
cinta, menjadi sangat amat baik saat merika
menyimpan reaksi negatif, atau memakai
topeng kejahatan dengan kebaikan yang
melimpah.
proyeksi
Mensifatkan kepada
orang lain nafsu dan
impuls yang tidak dapat
diterima oleh diri sendiri
Ini merupakan sebuah mekanisme dari
penipuan diri sendiri. Bernafsu, agresif, atau
impuls lain terlihat seperti dimiliki oleh
“orang-orang itu tetapi bukan saya..
Salah
penempatan
Mengarahkan energi
pada objek atau orang
lain ketika objek atau
orang yang menjadi
sasaran tidak dapat
dicapai
Salah penempatan adalah satu cara dalam
menghadapi kebingungan yang mencakup
pelepasan impuls dengan mengganti dari satu
objek yang mengancam ke “target yang lebih
aman”. Contoh, pria penurut yang merasa
terintimidasi oleh bosnya pulang lalu
meluapkan perbuatan buruk kepada anak-
anaknya
Rasionalisasi
Menyimpan alasan
“baik” untuk
menjelaskan sebuah ego
yang terluka
Rasionalisasi membantu membenarkan
perlakuan spesifik, dan ini adalah alat dalam
menghaluskan hembusan yang berhubungan
dengan kekecewaan. Ketika orang-orang
tidak mendapatkan posisi yang telah mereka
lamar untuk bekerja, mereka memikirkan
alasan logis mengapa mereka tidak berhasil,
dan mereka terkadang ingin meyakinkan diri
mereka sendiri bahwa mereka sebenarnya
tidak menginginkan posisi itu
Sublimasi
Mengalir secara seksual
atau agresif energi ke
saluran lain.
Energi biasanya dialihkan ke saluran yang
dapat diterima secara sosial dan kadang-
kadang bahkan mengagumkan. Misalnya,
impuls agresif dapat disalurkan ke kegiatan
atletik, sehingga orang tersebut menemukan
cara untuk mengekspresikan perasaan agresif
dan, sebagai bonus tambahan, sering dipuji.
Regresi
Kembali ke fase
pengembangan
sebelumnya ketika ada
sedikit tuntutan.
Dalam menghadapi stres berat atau tantangan
ekstrem, individu mungkin berupaya
mengatasi kecemasan mereka dengan
berpegang teguh pada perilaku yang tidak
dewasa dan tidak pantas. Misalnya, anak-
anak yang ketakutan di sekolah dapat
menikmati perilaku kekanak-kanakan seperti
menangis, ketergantungan berlebihan,
mengisap jempol, bersembunyi, atau
berpegangan pada guru.
Introjection
Mengambil dan
“menelan” nilai dan
standar orang lain.
Bentuk-bentuk positif dari introjection
meliputi penggabungan nilai-nilai orangtua
atau atribut-atribut dan nilai-nilai terapis
(dengan asumsi bahwa ini tidak hanya
diterima secara tidak kritis). Salah satu
contoh negatif adalah bahwa di perkemahan
konsentrasi beberapa tahanan menghadapi
kecemasan luar biasa dengan menerima nilai-
nilai musuh melalui identifikasi dengan
agresor.
Identifikasi
Identifikasi dengan
sebab-sebab, organisasi,
atau orang-orang yang
sukses dengan harapan
Anda akan dianggap
berharga.
Identifikasi dapat meningkatkan harga diri
dan melindungi seseorang dari perasaan
gagal. Ini adalah bagian dari proses
perkembangan di mana anak-anak belajar
perilaku peran gender, tetapi juga bisa
menjadi reaksi defensif ketika digunakan
oleh orang-orang yang pada dasarnya merasa
lebih rendah.
Kompensasi
Menyembunyikan
kelemahan yang
dirasakan atau
mengembangkan sifat
positif tertentu untuk
menebus keterbatasan.
Mekanisme ini dapat memiliki nilai
penyesuaian langsung, dan itu juga bisa
merupakan upaya oleh orang tersebut untuk
mengatakan "Jangan melihat saya lebih
rendah, tetapi lihatlah saya dalam pencapaian
saya."
Freud mempostulatkan tiga tahap awal perkembangan yang sering membawa orang ke
konseling ketika tidak diselesaikan dengan tepat. Pertama adalah tahap lisan, yang
berhubungan dengan ketidakmampuan untuk memercayai diri sendiri dan orang lain, yang
mengakibatkan rasa takut untuk mencintai dan membentuk hubungan yang dekat dan rendah
diri. Berikutnya, adalah tahap anal, yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk
mengenali dan mengekspresikan kemarahan, yang mengarah pada penolakan kekuatan
seseorang sebagai pribadi dan kurangnya rasa otonomi. Ketiga, adalah tahap falus, yang
berhubungan dengan ketidakmampuan untuk sepenuhnya menerima seksualitas dan perasaan
seksual seseorang, dan juga sulit untuk menerima diri sendiri sebagai pria atau wanita.
Menurut pandangan psikoanalitik Freudian, tiga bidang perkembangan pribadi dan sosial
inicinta dan kepercayaan, berurusan dengan perasaan negatif, dan mengembangkan
penerimaan positif terhadap seksualitassemuanya didasarkan pada 6 tahun pertama
kehidupan. Periode ini adalah dasar di mana pengembangan kepribadian selanjutnya
dibangun. Ketika kebutuhan seorang anak tidak terpenuhi secara memadai selama tahap-
tahap perkembangan ini, seorang individu mungkin menjadi terpaku pada tahap itu dan
berperilaku dengan cara yang tidak matang secara psikologis di kemudian hari dalam
kehidupan.
PERSPEKTIF PSIKOSOSIAL ERIKSON Erik Erikson (1963) membangun ide-ide Freud
dan memperluas teorinya dengan menekankan aspek-aspek psikososial dari perkembangan di
luar usia dini. Teori perkembangannya menyatakan bahwa pertumbuhan psikoseksual dan
pertumbuhan psikososial terjadi bersama, dan bahwa pada setiap tahap kehidupan kita
menghadapi tugas untuk membangun keseimbangan antara diri kita dan dunia sosial kita. Dia
menggambarkan perkembangan dalam hal seluruh rentang kehidupan, dibagi dengan krisis
spesifik yang harus diselesaikan. Menurut Erikson, krisis sama dengan titik balik dalam
kehidupan ketika kita memiliki potensi untuk maju atau mundur. Pada titik-titik balik ini, kita
dapat menyelesaikan konflik kita atau gagal menguasai tugas perkembangan. Sebagian besar,
hidup kita adalah hasil dari pilihan yang kita buat pada setiap tahap ini.
Erikson sering dikaitkan dengan membawa penekanan pada faktor sosial untuk
psikoanalisis kontemporer. Psikoanalisis klasik didasarkan pada psikologi id, dan ia
berpendapat bahwa insting dan konflik intrapsikis adalah faktor dasar yang membentuk
pengembangan kepribadian (baik normal maupun abnormal). Psikoanalisis kontemporer
cenderung didasarkan pada psikologi ego, yang tidak menyangkal peran konflik intrapsikis
tetapi menekankan upaya ego untuk penguasaan dan kompetensi sepanjang rentang
kehidupan manusia. Psikologi ego berkaitan dengan tahap perkembangan awal dan akhir,
karena anggapannya adalah bahwa masalah saat ini tidak dapat dengan mudah direduksi
menjadi pengulangan konflik tidak sadar sejak masa kanak-kanak. Tahapan-tahapan remaja,
pertengahan, dan kemudian dewasa semuanya melibatkan krisis-krisis khusus yang harus
diatasi. Karena masa lalu seseorang memiliki arti dalam hal masa depan, ada kesinambungan
dalam pembangunan, yang tercermin dari tahapan pertumbuhan; setiap tahapan terkait
dengan tahapan lainnya.
Melihat perkembangan individu dari perspektif gabungan yang mencakup faktor
psikoseksual dan psikososial itu berguna. Erikson percaya Freud tidak cukup jauh dalam
menjelaskan tempat ego dalam pembangunan dan tidak memberikan perhatian yang cukup
terhadap pengaruh sosial sepanjang masa hidup. Perbandingan pandangan psikoseksual Freud
dan pandangan psikososial Erikson tentang tahapan perkembangan disajikan pada Tabel 4.2.
IMPLIKASI BIMBINGAN Dengan mengambil perspektif psikoseksual dan psikososial
gabungan, konselor memiliki kerangka kerja konseptual yang membantu untuk memahami
masalah perkembangan seperti yang muncul dalam terapi. Kebutuhan utama dan tugas
perkembangan, bersama dengan tantangan yang melekat pada setiap tahap kehidupan,
menyediakan model untuk memahami beberapa konflik inti yang ditelusuri klien dalam
TABEL 4.2 Perbandingan antara Tahap-Tahap Psikoseksual Freud dan Erikson (lanjutan)
Jangka Hidup
Freud
Tahun
pertama
kehidupan
Tahap oral
Mengisap payudara ibu memuaskan
kebutuhan akan makanan dan
kesenangan. Bayi perlu mendapatkan
pengasuhan dasar, atau kemudian
perasaan keserakahan dan keinginan
akan berkembang. Fiksasi oral terjadi
karena kekurangan kepuasan oral
pada bayi. Masalah kepribadian
kemudian dapat mencakup
ketidakpercayaan terhadap orang
lain, menolak orang lain; cinta, dan
ketakutan atau ketidakmampuan
untuk membentuk hubungan intim.
Usia 1-3
Tahap anal
Zona anal menjadi sangat penting
dalam pembentukan kepribadian.
Tugas perkembangan utama
termasuk belajar kemandirian,
menerima kekuatan pribadi, dan
belajar untuk mengekspresikan
perasaan negatif seperti amarah dan
agresi. Pola dan sikap disiplin orang
tua memiliki konsekuensi signifikan
bagi perkembangan kepribadian anak
di kemudian hari.
Usia 3-6
Tahap falus
Konflik dasar berpusat pada
keinginan incest yang tidak disadari
bahwa anak berkembang untuk orang
tua dari lawan jenis dan, karena sifat
mereka yang mengancam, maka itu
ditekan. Tahap falus pria, yang
dikenal sebagai Oedipus complex,
melibatkan ibu sebagai objek cinta
untuk anak laki-laki. Tahap falus
wanita, yang dikenal sebagai Electra
complex, melibatkan perjuangan
gadis untuk cinta dan persetujuan
ayah. Bagaimana orang tua
merespons, secara verbal dan
nonverbal, terhadap munculnya
seksualitas anak berdampak pada
sikap dan perasaan seksual yang
dikembangkan anak.
Usia 6-12
Tahap latensi
Setelah siksaan impuls seksual
tahun-tahun sebelumnya, periode ini
relatif tenang. Minat seksual
digantikan oleh minat di sekolah,
teman bermain, olahraga, dan
berbagai kegiatan baru. Ini adalah
waktu sosialisasi ketika anak keluar
dan membentuk hubungan dengan
orang lain.
Usia 12-18
Tahap Genital
Tema-tema dalam tahap phallic
ditumbuhkan kembali. Tahap ini
dimulai ketika masa puber hingga
usia tua. Meskipun batasan-batasan
dan tabu sosial ada dalam
masyarakat, remaja mampu
mengatur energi seksualnya dengan
terlibat dalam aktivitas yang
berterima dalam masyarakat seperti
membentuk teman, terlibat dalam
dunia seni dan olahraga, serta
menyiapkan karir.
Usia 18-35
Tahap genital berlanjut
Karakteristik utama kedewasaan
adalah kebebasan “untuk mencintai
dan untuk bekerja.” Kemajuan
menuju kedewasaan melibatkan
kebebasan dari pengaruh orang tua
dan memiliki rasa kepedulian pada
orang lain.
Usia 35-60
Tahap genital berlanjut
Usia 60+
Tahap genital berlanjut
sesi terapi mereka. Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat berfungsi untuk mengarahkan proses
terapi:
Apa saja pengembangan yang harus dilakukan di tiap tahap kehidupan, dan
bagaimana pengembangan-pengembangan tersebut berkaitan dengan konseling?
Tema apa yang memberi kesinambungan dalam hidup ini?
Apa saja kekhawatiran universal yang orang-orang hadapi di berbagai tahap
kehidupan mereka? Bagaimana mereka diuji untuk membuat keputusan hidup dalam
berbagai tahap kehidupan mereka?
Apa hubungan antara masalah yang dihadapi seseorang saat ini dengan peristiwa-
peristiwa besar di masa lampau?
Apa saja keputusan yang dibuat di masa-masa penting kehidupan, dan bagaimana
seseorang menghadapi berbagai macam krisis hidup mereka?
Apa saja faktor-faktor sosiokultural yang mempengaruhi perkembangan hidup yang
perlu dipahami demi menghasilkan terapi yang komperhensif?
Teori psikososial memberikan perhatian khusus pada pengaruh masa kecil dan masa remaja
yang signifikan di tahap perkembangan selanjutnya serta menyadari bahwa tahap
perkembangan masa selanjutnya juga memiliki signifikansi terhadap kriris yang dihadapi.
Tema dan benang merah hidup seseorang dapat ditemukan di seluruh hidup klien.
Proses Terapi
Tujuan Terapi
Dua tujuan terapi psikoanalisis Freud adalah untuk menyadarkan ketidaksadaran dan untuk
menguatkan ego diri sehingga perilaku yang dilakukan lebih didasarkan pada kenyataan dan
bukan pada keinginan insting ataupun rasa bersalah irasional. Analisis yang berhasil dapat
menghasilkan perubahan kepribadian dan struktur karakter seseorang secara signifikan.
Metode terapi digunakan untuk mengeluarkan bagian ketidaksadaran dalam diri. Pengalaman
masa kecil kemudian direkonstruksi, dibahas, diinterpretasi, dan dianalisis. Proses ini tidak
hanya terbatas semata-mata bertujuan untuk menyelesaikan masalah dan mempelajari
perilaku baru. Namun, terdapat proses investigasi pada masa lalu secara mendalam untuk
mengembangkan tingkat pengertian-diri yang diperlukan untuk menghasilkan suatu
perubahan dalam karakter. Terapi psikoanalisis berorientasi pada penemuan pencerahan,
namun bukan sekedar pemahaman intelektual; penting untuk mengalami perasaan dan
kenangan terkait rasa pengertian-diri ini.
Fungsi dan Peran Terapi
Dalam psikoanalisis klasik, pada umumnya analis akan bersikap anonym, yang biasa disebut
dengan pendekatan “layar-kosong”. Para analis ini tidak terlalu membuka diri mereka dan
menjaga kesan netral untuk mengembangkan hubungan transferansi, dimana klien mereka
yang akan membuat proyeksi kepada mereka. Hubungan transferansi ini, yang merupakan
inti psikoanalisis, “merujuk pada proses pemindahan perasaan yang umumnya dilakukan
dalam tahap awal hubungan dengan orang lain yang danggap penting dalam lingkungan
seseorang saat itu” (Luborsky, O’Reilly-Landry, & Arlow, 2008, hal. 17-18). Jika terapis
tidak terlalu membuka diri mereka dan jarang memberikan reaksi personal, asumsinya adalah
apapun perasaan yang dkeluarkan klien pada terapis merupakan produk perasaan yang
berkaitan dengan figur-figur signifikan di masa lalunya. Proyeksi ini, yang bersumber dari
situasi yang dipendam dan belum diselesaikan, dianggap sebagai “pengalaman signifikan,
dan analisis proyeks ini merupakan esensi penanganan terapi.
Salah satu fungsi utama analisis adalah untuk membantu klien memperoleh kebebasan
untuk mencintai, bekerja, dan bermain. Fungsi-fungsi lain analisis adalah seperti membantu
klien untuk mencapai rasa mawas diri, kejujuran, dan hubungan diri yang lebih efektif; dalam
menghadapi kecemasan secara realistis; dan dalam menguasai diri melawan perilaku impulsif
dan irasional. Petama-tama, analis harus membangun hubungan kerja dengan klien lalu
banyak-banyak mendengar dan menginterpretasikan perkataan klien. Pertentangan klien
diberikan perhatian khusus. Analis mendengarkan, mempelajari, dan memutuskan kapan
untuk membuat interpretasi yang sesuai. Fungsi utama interpretasi adalah untuk
memperlancar proses membuka bagian ketidaksadaran dalam diri. Analis mendengarkan
celah dan inkonsistensi dalam cerita klien, menyimpulkan makna mimpi asosiasi bebas dan
mimpi yang diceritakan, serta peka terhadap perasaan yang dimiliki klien.
Dengan menyusun proses terapi ini ke dalam konteks untuk memahami struktur
kepribadian dan psikodinamik klien, analis mampu menemukan inti masalah yang dihadapi
klien. Salah satu fungsi utama analis adalah untuk menjelaskan pada klien makna tiap proses
ini (melalui interpretasi_sehingga klien dapat menemukan pencerahan terkait masalah
mereka, menumbukan kesadaran mereka perihal bagaimana cara melakukan perubahan,
sehingga klien lebih menguasai hidup mereka.
Proses terapi psikoanalisis mirip dengan menyusun bagian teka-teki. Apakah klien
akan mengalami perubahan atau tidak tergantung lebih kepada kesiapan mereka untuk
berubah daripada akurasi interpretasi terapis. Jika terapis terlalu mendorong klien atau
memberikan interpretasi pada waktu tidak tepat, maka terapi tidak akan berjalan efektif.
Perubahan terjadi melalui proses pengolahan kembali pola-pola lama supaya klien dapat lebih
bebas untuk bertindak dalam cara-cara baru (Luborsky et al., 2008).
Pengalaman Klien dalam Terapi
Klien yang ingin melakukan psikoanalisis tradisional (atau klasik) harus berkomitmen
mengikuti proses terapi intensif jangka panjang. Setelah melakukan beberapa sesi tatap muka
dengan analis, klien kemudian berbaring di atas sofa lalu melakukan proses asosiasi bebas;
dimana mereka mengatakan apapun yang muncul di pikiran mereka tanpa menutup-
nutupinya. Proses asosiasi bebas ini dikenal dengan istilah “aturan fundamental.” Klien
menceritakan perasaan, pengalaman, asosiasi, kenangan, dan fantasi mereka pada analis.
Berbaring di atas sofa dapat memicu refleksi dalam dan terbuka serta mengurangi stimulan
yang dapat mengganggu klien untuk berhadapan dengan konflik internal dalam dirinya.
Berbaring di atas sofa juga dapat menghilangkan kemampuan klien untuk “membaca” wajah
analis untuk melihat reaksinya yang dapat menimbulkan proyeksi. Di saat yang sama, dengan
membuat klien berbaring di atas sofa, analis tidak lagi diharuskan untuk mengamati gestur
wajah klien.
Proses yang digambarkan di atas adalah proses psikoanalisis klasik. Terapi
psikodinamis muncul sebagai pendekatan yang menyingkatkan dan menyederhanakan proses
psikoanalisis klasik yang panjang (Luborsky et al., 2008). Banyak praktisi psukoanalisis, atau
terapis psikodinamis (berbeda dengan analis), sama sekali tidak menggunakan teknik
berkaitan dengan analisis klasik. Akan tetapi, terapis psikodinamis tetap tahu cara melakukan
manisfestasi transferansi, cara mengeksplor arti mimpi-mimpi klien, dan cara mengeksplor
masa lalu dan masa saat ini. Mereka juga memberikan perhatian terhadap hal-hal terkait
ketidaksadaran.
Klien terapi psikoanalisis membuat komitmen pada terapis untuk tetap mengikuti
tahapan-tahapan proses terapi intensif ini. Klien setuju untuk menceritakan diri mereka
karena omongan mereka adalah inti terapi psikoanalisis. Pada umumnya klien akan diminta
untuk tidak melakukan perubahan besar dalam gaya hidup mereka selama masa analisis
berlangsung, seperti memutuskan untuk bercerai atau keluar dari pekerjaan. Alasan mengapa
hal ini dilakukan berkaitan dengan proses terapi yang terkadang tidak nyaman dan sering
diasosiasikan dengan kerentanan diri.
Klien psikoanalisis siap untuk mengakhiri sesi mereka ketika mereka dan analis
mereka saling setuju bahwa mereka telah menyelesaikan gejala-gejala dan konflik tersebut
menerima resolusi, telah mengklarifikasi dan menerima masalah emosional yang tersisa, telah
mengerti akar sejarah dari kesulitan mereka, telah menguasai tema inti, dan dapat
mengintegrasikan kesadaran akan masalah masa lalu dengan hubungan saat ini. Klien yang
terlibat secara sukses dari terapi analitik melaporkan bahwa mereka telah mencapai hal hal
seperti pemahaman akan gejala mereka dan fungsi yang mereka berikan, sebuah pandangan
kedalam bagaimana lingkungan mereka mempengaruhi mereka dan bagaimana mereka
mempengaruhi lingkungan, dan mengurangi pembelaan diri (Saretsky, 1987).
Hubungan antara Terapis dan Klien
Terdapat beberapa perbedaan antara bagaimana hubungan terapiutik dikonsepkan oleh
analisis klasik dan analisis rasional saat ini. Analis klasik berdiri di luar hubungan,
berkomentar terhadapnya, dan menawarkan interpretasi hasil-pandangan. Dalam
psikoanalisis relasi kontemporer, para terapis tidak berusaha untuk keadaan yang lepas dan
objektif. Malahan, partisipasi dari para terapis diberikan, dan dia akan memberika sebuah
pengaruh pada klien dan interaksi disini-sekarang yang muncul dalam konteks terapi (Alt-
man, 2008). Teori dan praktik psikoanalisis kontemporer menyoroti pentingnya hubungan
terapiutik sebagai sebuah faktor terapiutik dalam upaya membawa perubahan (Ainslie, 2007).
Melalui hubungan terapiutik “klien dapat menemukan sebuah mode fungsi yang tidak lagi
dibebani oleh konflik neurotik yang pernah mengganggu kehidupan mereka” (p. 14).
Menurut Luborsky, O’Reilly-Landry, dan Arlow (2008), terapis psikodinamis saat ini
memandang komunikasi emosional antara diri mereka dan klien mereka sebagai sebuah cara
yang berguna untuk mencapai informasi dan menciptakan koneksi.
Transfer adalah pergerakan tak sadar klien kepada analis pada perasaan dan fantasi
yang merupakan reaksi pada hal hal tertentu pada masa lalu klien. Transfer mencakup
pengulangan tak sadar masa lalu saat ini. ia mereflekskan pola mendalam dari pengalaman
lama dalam hubungan karena mereka muncul pada kehidupan saat ini” (Luborsku et al.,
2008, p.46). Model hubungan psikoanalisis berkaitan dengan transfer karena menjadi proses
interaktif antara klien dan terapis. Seorang klien sering memiliki perasaan dan reaksi yang
beragam terhadap seorang terapis, termasu sebuah campuran antara perasaan positif dan
negatif. Ketika perasaan ini menjadi sadar, klien dapat memahami dan menyelesaikan
“urusan yang tak terselesaikan” dari hubungan masa lalu. Ketika terapi berjalan, perasaan dan
konflik masa kecil mulai muncul kepermukaan dari dasar ketidaksadaran. Klien mundur
secara emosional. Beberapa dari perasaan mereka muncul dari konflik seperti kepercayaan
lawan ketidakpercayaan, cinta lawan benci, kemandirian lawan kebergantungan, dan otonomi
lasan rasa malu dan rasa bersalah. Transfere mengambil tempat ketika klien hidup kembali
dari konflik instense di tahun awal yang berhubungan dengan cinta, seksualitas, permusuhan,
kebingungan, dan kemarahan; membawa mereka ke masa kini; mengalaminya kembali; dan
menyerang mereka pada analis. Contoh, klien dapat mentransfer perasaan yang tak
terselesaikan untuk untuk menghindari ayah yang buruk dan tak punya kasih sayang kepada
analis, yang dimata mereka, menjadi buruk dan tak punya kasih sayang. Rasa marah
merupakan produk transfer negatif, tetapi klien juga dapat mengembangkan transfer positif,
sebagai contoh, jatuh cinta dengan analis, berharap untuk diadopsi, atau dalam banyak cara
lain mencari cinta, penerimaan, dan pengakuan dari para terapis yang berpengaruh. Secara
singkat, analis menjadi pengganti untuk hal penting lainnya.
Jika terapi bertujuan untuk menciptakan perubahan, hubungan transfer harus bekerja.
Proses kerja terdiri dari sebuah ekplorasi dari pertahanan dan materi ketidaksadarn, yang
kebanyakan berasal dari masa kanak-kanak. Proses kerja dicapai dengan interpretasi yang
berulang dan oleh pengekplorasian bentuk penolakan. Ia menghasilkan resolusi pola lama
dan membiarkan klien mengembangkan sebuah hubungan dengan analis di masa ini yang
merupakan sebuah pengalaman yang korektif dan integratif. Dengan memiliki seorang terapis
yang melibatkan diri, peduli, dan punya waktu, klien dapat berubah dengan cara yang
banyak, yang dapat mengantarkan pada pengalaman baru akan hubungan manusia. (Ainslie,
2007).
Klien mungkin mendapat kesempatan untuk melihat beragam cara dimana konflikinti
dan pertahanan inti diwujudkan daam kehidupan sehari-hari mereka. Diasumsikan bahwa,
untuk membuat klienm menjadi mandiri secara psikologi, mereka tidak hanya harus sadar
akan materi tak sadar ini tetapi juga mencapai beberapa tingkat kebebasan dari perilaku yang
dimotivasi oleh usaha yang bersifat kekanakan, seperti kebutuhan akan cinta dan penerimaan
penuh tidaklah bekerja penuh, klien hanya mentransfer harapan kekanakan mereka untuk
cinta dan penerimaan universal dari orang lain. Hal ini tepat pada hubungan klien-terapis
sehingga wujud dari motivasi kekanakan ini menjadi nyata.
Tanpa memperhatikan panjang terapi psikoanalisis, perjalanan kebutuhan dan trauma
masa kecil tidak akan pernah sepenuhnya terhapus. Konflik kanak-kanak mungkin tidak
sepenuhnya terselesaikan, meskipun banyak aspek transfer bekerja selama terapi. Kita
mungkin harus berusaha selama hidup kita dengan perasaan bahwa kita kita memproyeksikan
orang lain juga permintaan tidak realistis yang kita harap dapat dipenuhi oleh orang lain.
Dalam hal ini kita mengalami transfer dengan banyak orang, dan masa lalu kita selalu
menjadi sebuah bagian penting bagi pribadi kita saat ini.
Adalah sebuah kesalahan jika mengasusmsikan bahwa semua perasaan yang klien
miliki terhadap terapis adalah wujud dari transfer. Banyak dari reaksi ini mungkin memiliki
dasar realita, dan perasaan klien mungkin akan diarahkan pada gaya disini-sekarang yang
ditunjukkan terapis. Tidak semua respon positif (seperti menyukai terapis) harus diberi label
“transfer positif”. Sebaliknya, kemarahan klien terhadap terapis bisa menjadi sebuah fungsi
dari perilaku terapis; ini adalah sebuah kesalahan untuk memberikan label negatif terhadap
semua tanda dari “transfer negatif”
Gagasan akan tidak akan pernah sepenuhnya bebas dari pengalaman masa lalu
memiliki implikasi yang penting bagi terapis yang secara intim terlibat dalam konflik yang
tidak terselesaikan dengan klien mereka. bahkan jika konflik terapis telah muncul pada
kesadaran, dan bahkan jiwa terapis telah berhadapan dengan masalah pribadi ini dalam terapi
intensif mereka sendiri, mereka masih bisa memproyeksikan distorsi terhadap klien mereka.
hubungan terapiutik yang intens dibatasi untuk memperkokoh beberapa konflik tak sadar
dalam diri terapis. Dikenal dengan istilah countertransference, fenomena ini muncul ketika
terdapat dampak yang tidak sesuai, ketika terapis merespon dengan cara yang tidak rasional,
atau ketika mereka kehilangan objektivitas dalam sebuah hubungan karena konflik mereka
sendiri muncul. Dalam pengertian yang lebih luas, countertransference, mencakup respon
emosional total dari terapis terhadap klien. Hayes (2004) mendefiniskan countertransference
sebagai reaksi terapis terhadap klien yang didasarkan pada konfliknya yang tidak
terselesaikan. Gelso dan Hayes (2002) mengindikasikan bahwa penelitian memberikan
penerangan terhadap penyebab countertransference dalam diri terapis seperti konflik yang
berputar disekitar pengalaman keluarga, peran gender, peran orang tua, dan kebutuhan yang
tidak terpenuhi dari diri terapis.
Hal ini penting bahwa terapis menjadi sadar akan countertransference sehingga reaksi
mereka terhadap klien tidak bersinggungan dengan objektivitas mereka. sebagai contoh,
seorang klien laki-kali mungkin menjadi sangat bergantung pada terapis perempuannya.
Klien mungkin menginginkan terapisnya untuk memberitahunya bagaimana ia akan hidup,
dan dia mungkin menginginkan dari terapisnya cinta dan penerimaan sehingga ia merasa
bahwa ia tidak dapat selamat dari ibunya. Terapis itu sendiri mungkin memiliki kebutuhan
tak terselesaikan untuk memelihara, menyuburkan hubungan bergantung, dan untuk
diberitahu bahwa dia penting, dan dia mungkin dapat memenuhi kebutuhannya sendiri
dengan cara menjadikan kliennya tetap bergantung padanya. Hanya dengan menyadari
kebutuhannya sendiri juga dinamisnya, hal ini sangat mungkin bahwa dinamisnya akan
mengganggu proses terapi.
Tidak semua reaksi countertransference bersifat merusak bagi proses terapi. Malahan,
reaksi countertransference dapat memberikan sebuah arti yang penting untuk memahami
dunia klien. Hayes (2004) melaporkan bahwa kebanyakan penelitian dalam
countertransference telah berhadapan dengan efek yang mengganggu dan bagaimana cara
mengatur reaksi ini. Hayes menambahkan bahwa hal ini akan berguna untuk menjalankan
studi sistematik terhadap keuntungan terepiutik yang potensial dari countertransference.
Gelso dan Hayes (2002) berpendapat bahwa pentung utnuk mempelajari dan memahami
semua reaksi emosional terapis terhadap klien, yang sesuai dibawah payung
countertransference. Menurut Gelso dan Hayes, countertransference dapat sangat bermanfaat
dalam pekerjaan terapiutik, jika terapis mempelajari reaksi internal mereka dan menggunakan
mereka untuk memahami klien mereka. Ainslie (2007) juga setuju bahwa reaksi
countertransference terapis dapat menyediakan informasi yang kaya tentang klien dan
terapis. Ainslie menyatakan bahwa pemahaman kontemporer dari countertransference telah
memperluas secara signifikan untuk memasukkan perasaan, reaksi, dan respon untuk materi
klien yang tidak terlihat bermasalah tetapi, sebaliknya, dipandang sebagai alat yang penting
untuk memahami pengalaman klien” (p.17). Apa yang penting adalah terapis memonitor
perasaan mereka selama sesi terapi, dan mereka menggunakan respon mereka sebagai sebuah
sumber untuk memahami klien dan membantu mereka untuk memahami diri mereka sendiri.
Seorang terapis dengan perspektif relasi memberi perhatian pada reaksi dan observasi
countertransference mereka terhadap klien tertentu dan menggunakannya sebagai bagian dari
terapi. Terapis yang mencatat suasana hati countertransference atas sikap cepat marah,
sebagai contoh, mempelajari sesuatu tentang pola klien yang bergantung. Dalam hal ini,
countertransference dapat dipandang berguna secara potensi jika dieksplir dalam terapi.
Dipandang dalam cara yang lebih positif, countertransference dapat menjadi kunci untuk
membantu klien dalam memahami diri sendiri.
Apa yang penting adalah terapis mengembangkan tingkat objektivitas dan tidak
bereaksi defensif dan subjektif didepan kemarahan, cinta, puji yang berlebihan, kritik, dan
perasaan lainnya yang diekspresikan oleh klien. Sebagian besar program pelatihan
psikoanalitik mengharuskan peserta pelatihan menjalani analisis ekstensif mereka sendiri
sebagai klien. Jika psikoterapis menjadi sadar akan gejala (seperti keengganan yang kuat
pada jenis klien tertentu, ketertarikan yang kuat terhadap jenis klien lain, reaksi psikosomatis
yang terjadi pada waktu yang pasti dalam hubungan terapeutik, dan sejenisnya), sangat
penting bagi mereka untuk mencari konsultasi profesional atau memasukkan terapi mereka
sendiri untuk sementara waktu guna menyelesaikan masalah-masalah pribadi yang
menghalangi terapis efektif mereka.
Hubungan klien-terapis sangat penting dalam terapi psikoanalitik. Sebagai hasil dari
hubungan ini, khususnya dalam bekerja melalui situasi transferensi, klien memperoleh
wawasan tentang cara kerja proses bawah sadar mereka. Kesadaran dan wawasan tentang
bahan yang ditekan adalah dasar dari proses pertumbuhan analitik. Klien memahami
hubungan antara pengalaman masa lalu mereka dan perilaku mereka saat ini. Pendekatan
psikoanalisis mengasumsikan bahwa tanpa pemahaman diri yang dinamis ini tidak akan ada
perubahan kepribadian yang substansial atau resolusi konflik saat ini.
Aplikasi: Teknik dan Prosedur Terapi
Bagian ini membahas teknik yang paling umum digunakan oleh terapis yang berorientasi
psikoanalisis. Ini juga termasuk bagian tentang penerapan pendekatan psikoanalitik untuk
konseling kelompok. Terapi psikoanalitik, atau terapi psikodinamik (berbeda dengan
psikoanalisis tradisional), termasuk fitur-fitur ini:
Terapi diarahkan lebih untuk tujuan yang terbatas daripada merestrukturisasi
kepribadian seseorang.
Terapis cenderung menggunakan sofa.
Lebih sedikit sesi setiap minggu.
Lebih sering menggunakan intervensi suportif - seperti jaminan, ekspresi empati dan
dukungan, dan saran dan lebih banyak pengungkapan diri oleh terapis.
Fokusnya lebih pada penekanan masalah praktis daripada bekerja dengan bahan
fantasi.
Teknik-teknik terapi psikoanalitik ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, menumbuhkan
wawasan tentang perilaku klien, dan memahami makna gejala. Terapi ini dimulai dari
pembicaraan klien dengan katarsis (atau ekspresi emosi) hingga wawasan untuk bekerja
melalui materi yang tidak disadari. Pekerjaan ini dilakukan untuk mencapai tujuan
kecerdasan dan pemahaman emosional serta pendidikan ulang, yang, diharapkan, mengarah
pada perubahan kepribadian. Enam teknik dasar terapi psikoanalitik adalah (1)
mempertahankan kerangka analitik, (2) asosiasi bebas, (3) interpretasi, (4) analisis mimpi, (5)
analisis resistensi, dan (6) analisis pemindahan. Lihat Case Approach to Counseling and
Psychotherapy (Corey, 2009, bab 2), di mana Dr. William Blau, seorang terapis yang
berorientasi psikoanalisis, menggambarkan beberapa teknik perawatan dalam kasus Ruth.
Mempertahankan Kerangka Analitik
Proses psikoanalitik menekankan pada mempertahankan kerangka kerja tertentu yang
bertujuan untuk mencapai tujuan terapi jenis ini. Mempertahankan kerangka kerja analitik
yang mengacu pada serangkaian faktor prosedural dan gaya, seperti anonimitas relatif analis,
keteraturan dan konsistensi pertemuan, serta memulai dan mengakhiri sesi tepat waktu. Salah
satu fitur yang paling kuat dari terapi berorientasi psikoanalisis adalah bahwa kerangka kerja
yang konsisten itu sendiri merupakan faktor terapeutik, sebanding pada tingkat emosional
dengan pemberian makan bayi secara teratur. Analis berusaha untuk meminimalkan
keberangkatan dari pola yang konsisten ini (seperti liburan, perubahan biaya, atau perubahan
dalam lingkungan pertemuan).
Asosiasi bebas
Asosiasi bebas adalah teknik sentral dalam terapi psikoanalitik, dan memainkan peran kunci
dalam proses mempertahankan kerangka analitik. Dalam asosiasi bebas, klien didorong untuk
mengatakan apa pun yang terlintas dalam pikiran, terlepas dari betapa menyakitkan, konyol,
sepele, tidak logis, atau tidak relevannya itu. Intinya, klien mengalir dengan perasaan atau
pikiran apa pun dengan melaporkannya segera tanpa sensor. Ketika pekerjaan analitik
berlangsung, sebagian besar klien kadang-kadang akan menyimpang dari aturan dasar ini,
dan resistensi ini akan ditafsirkan oleh terapis ketika waktunya tepat untuk melakukannya.
Asosiasi bebas adalah salah satu alat dasar yang digunakan untuk membuka pintu bagi
keinginan, fantasi, konflik, dan motivasi yang tidak disadari. Teknik ini sering mengarah
pada beberapa ingatan pengalaman masa lalu dan, kadang-kadang, pelepasan perasaan intens
(katarsis) yang telah diblokir. Namun, pelepasan ini tidak dianggap penting dalam dirinya
sendiri. Selama proses asosiasi bebas, tugas terapis adalah mengidentifikasi materi yang
ditekan yang terkunci di bawah sadar. Urutan asosiasi memandu terapis dalam memahami
koneksi yang dibuat klien di antara berbagai peristiwa. Pemblokiran atau gangguan dalam
asosiasi berfungsi sebagai isyarat untuk bahan yang membangkitkan kecemasan. Terapis
menafsirkan materi untuk klien, membimbing mereka menuju peningkatan wawasan tentang
dinamika yang mendasarinya.
Ketika terapis analitik mendengarkan asosiasi bebas klien mereka, mereka tidak
hanya mendengar konten permukaan tetapi juga makna tersembunyi. Kesadaran akan bahasa
bawah sadar ini disebut "mendengarkan dengan telinga ketiga" (Reik, 1948). Tidak ada yang
dikatakan klien diambil berdasarkan nilai nominalnya. Sebagai contoh, salah pengucapan
dapat menunjukkan bahwa emosi yang diungkapkan disertai dengan pengaruh konflik. Area
yang tidak dibicarakan klien sama pentingnya dengan area yang mereka diskusikan.
Interpretasi
Interpretasi terdiri dari analis yang menunjukkan, menjelaskan, dan bahkan mengajarkan
klien tentang makna perilaku yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi,
dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi penafsiran adalah untuk memungkinkan ego
berasimilasi dengan materi baru dan mempercepat proses mengungkap materi tak sadar lebih
lanjut.
Interpretasi didasarkan pada penilaian terapis tentang kepribadian klien dan faktor-
faktor di masa lalu klien yang berkontribusi pada kesulitannya. Di bawah definisi
kontemporer, interpretasi mencakup mengidentifikasi, mengklarifikasi, dan menerjemahkan
materi klien.
Dalam membuat interpretasi yang tepat, terapis harus dibimbing oleh rasa kesiapan
klien untuk mempertimbangkannya (Saretsky, 1978). Terapis menggunakan reaksi klien
sebagai alat ukur. Adalah penting bahwa interpretasi dilakukan dengan tepat waktu; klien
akan menolak yang waktunya tidak tepat. Aturan umum adalah bahwa penafsiran harus
disajikan ketika fenomena yang akan ditafsirkan dekat dengan kesadaran. Dengan kata lain,
analis harus menafsirkan materi yang belum dilihat klien untuk dirinya sendiri tetapi mampu
menoleransi dan menggabungkan. Aturan umum lainnya adalah bahwa interpretasi harus
selalu dimulai dari permukaan dan hanya sedalam yang bisa dilakukan klien. Aturan umum
ketiga adalah bahwa yang terbaik adalah menunjukkan perlawanan atau pertahanan sebelum
menafsirkan emosi atau konflik yang ada di bawahnya.
Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah prosedur penting untuk mengungkap materi yang tidak disadari dan
memberikan wawasan klien tentang beberapa area masalah yang belum terselesaikan. Selama
tidur, pertahanan diturunkan dan perasaan tertekan muncul. Freud melihat mimpi sebagai
"jalan kerajaan menuju alam bawah sadar," karena di dalamnya, keinginan, kebutuhan, dan
ketakutan bawah sadar seseorang diungkapkan. Beberapa motivasi sangat tidak dapat
diterima oleh orang tersebut sehingga mereka diekspresikan dalam bentuk terselubung atau
simbolis dibandingkan terungkap secara langsung.
Mimpi memiliki dua tingkat konten: konten laten dan konten nyata. Konten laten
terdiri dari motif, keinginan, dan ketakutan yang tersembunyi, simbolis, dan tidak sadar.
Karena mereka begitu menyakitkan dan mengancam, impuls seksual dan agresif yang tidak
disadari yang membentuk konten laten diubah menjadi konten manifes yang lebih dapat
diterima, yang merupakan mimpi seperti yang terlihat oleh para pemimpi. Proses dimana
konten laten dari sebuah mimpi ditransformasikan menjadi konten manifes yang kurang
mengancam disebut pekerjaan mimpi. Tugas terapis adalah mengungkap makna terselubung
dengan mempelajari simbol-simbol dalam isi nyata dari mimpi tersebut.
Selama sesi, terapis dapat meminta klien untuk bebas mengaitkan dengan beberapa
aspek dari isi nyata mimpi untuk tujuan mengungkap makna laten. Terapis berpartisipasi
dalam proses dengan mengeksplorasi asosiasi klien dengan mereka. Menafsirkan makna
elemen-elemen mimpi membantu klien membuka penindasan yang menjaga materi dari
kesadaran dan menghubungkan wawasan baru dengan perjuangan mereka saat ini. Mimpi
dapat berfungsi sebagai jalur menuju materi yang ditekan, tetapi mimpi juga memberikan
pemahaman tentang fungsi klien saat ini.
Analisis dan Interpretasi Perlawanan
Perlawanan, sebuah konsep dasar untuk praktik psikoanalisis, adalah segala sesuatu yang
bekerja melawan kemajuan terapi dan mencegah klien dari memproduksi bahan yang
sebelumnya tidak disadari. Secara khusus, perlawanan adalah keengganan klien untuk
membawa materi tak sadar yang telah ditekan menuju ke permukaan. Perlawanan mengacu
pada gagasan, sikap, perasaan, atau tindakan apa pun (sadar atau tidak sadar) yang
mendorong status quo dan menghalangi perubahan. Selama asosiasi bebas atau asosiasi
dengan mimpi, klien dapat membuktikan keengganan untuk menghubungkan pikiran,
perasaan, dan pengalaman tertentu. Freud memandang perlawanan sebagai dinamika tak
sadar yang digunakan orang untuk bertahan melawan kecemasan dan rasa sakit yang tak
tertahankan yang akan muncul jika mereka menjadi sadar akan dorongan dan perasaan
mereka yang tertekan.
Sebagai pertahanan melawan kecemasan, perlawanan beroperasi secara khusus dalam
terapi psikoanalitik untuk mencegah klien dan terapis berhasil dalam upaya bersama mereka
untuk mendapatkan wawasan tentang dinamika alam bawah sadar. Karena perlawanan
menghalangi bahan yang mengancam dari memasuki kesadaran, terapis analitik
menunjukkannya, dan klien harus menghadapinya jika mereka berharap untuk menangani
konflik secara realistis. Interpretasi terapis ditujukan untuk membantu klien menjadi sadar
akan alasan resistensi sehingga mereka dapat menghadapinya. Sebagai aturan umum, terapis
menunjukkan dan menafsirkan resistensi yang paling jelas untuk mengurangi kemungkinan
klien menolak interpretasi dan meningkatkan kemungkinan bahwa mereka akan mulai
melihat perilaku resistif mereka.
Perlawanan bukan hanya sesuatu yang harus diatasi. Karena mereka mewakili
pendekatan defensif yang biasa dalam kehidupan sehari-hari, mereka perlu diakui sebagai
perangkat yang bertahan melawan kecemasan tetapi yang mengganggu kemampuan untuk
menerima perubahan yang dapat menyebabkan mengalami kehidupan yang lebih
memuaskan. Sangatlah penting bagi terapis untuk menghormati perlawanan klien dan
membantu mereka bekerja secara terapi dengan pertahanan mereka. Ketika ditangani dengan
benar, perlawanan dapat menjadi salah satu alat paling berharga dalam memahami klien.
Analisis dan Interpretasi Transferensi
Seperti yang disebutkan sebelumnya, transferensi memanifestasikan dirinya dalam proses
terapeutik ketika hubungan klien sebelumnya berkontribusi pada penyimpangan mereka saat
ini dengan terapis. Situasi pemindahan dianggap berharga karena manifestasinya memberikan
klien kesempatan untuk mengalami kembali berbagai perasaan yang seharusnya tidak dapat
diakses. Melalui hubungan dengan terapis, klien mengungkapkan perasaan, keyakinan, dan
keinginan yang telah mereka tanamkan di alam bawah sadar mereka. Melalui interpretasi
yang tepat dan bekerja melalui ekspresi perasaan awal saat ini, klien dapat menjadi sadar dan
secara bertahap mengubah beberapa pola perilaku lama mereka. Terapis yang berorientasi
analitik mempertimbangkan proses mengeksplorasi dan menafsirkan perasaan transferensi
sebagai inti dari proses terapeutik karena ditujukan untuk mencapai peningkatan kesadaran
dan perubahan kepribadian.
Analisis transferensi adalah teknik sentral dalam psikoanalisis dan terapi yang
berorientasi psikoanalisis, karena memungkinkan klien untuk mencapai wawasannya saat ini
tentang pengaruh masa lalu pada fungsi mereka saat ini. Interpretasi hubungan transferensi
memungkinkan klien untuk bekerja melalui konflik lama yang membuat mereka terpaku dan
memperlambat pertumbuhan emosional mereka. Pada dasarnya, efek dari hubungan awal
diatasi dengan bekerja melalui konflik emosional yang serupa dalam hubungan terapeutik.
Contoh penggunaan transferensi diberikan pada bagian selanjutnya tentang kasus Stan.
Penerapan Terapi Psikoanalisis dalam Konseling Grup
Menurut Strupp (1992), terapi psikodinamis kelompok menjadi semakin populer.
Terapi ini diterima di semua kalangan karena lebih murah daripada terapi individu, terapi ini
memberikan klien kesempatan untuk memahami bagaimana mereka bersikap dalam
kelompok, dan terapi ini juga memberikan perspektif unik dalam memahami dan menangani
masalah klien melalui terapi.
Menurut saya, model psikodinamis memberikan kerangka konseptual untuk
memahami riwayat para anggota kelompok konseling. Model ini juga berguna sebagai cara
klien memikirkan bagaimana masa lalu mereka dapat mempengaruhi diri mereka sekarang.
Para ketua kelompok memiliki kemampuan untuk berpikir secara psikoanalitis, bahkan jika
mereka tidak menggunakan teknik-teknik psikoanalisis. Terlepas dari apapun orientasi teori
mereka, adalah suatu hal yang baik bagi terapis kelompok untuk mengenali fenomena-
fenomena psikoanalisis seperti transferansi, kontertransferansi, resistansi, dan penggunaan
mekanisme pertahanan ego sebagai reaksi menghadapi kecemasan.
Transferansi dan kontertransferansi berimpilikasi signifikan dalam konseling dan
terapi kelompok. Penanganan kelompok dapat memunculkan kembali situasi-situasi yang
dihadapi klien di masa-masa awal kehidupan mereka. Di sebagian besar kelompok, individu-
individu di dalamnya akan memunculkan serangkaian bentuk perasaan seperti ketertarikan,
kemarahan, kompetisi, dan pelarian. Perasaan-perasaan transferansi ini dapat memiliki
kemiripan dengan perasaan-perasaan yang dimiliki para anggota kelompok terhadap orang-
orang yang signifikan dalam kehidupan masa lalu mereka. Para anggota kelompok konseling
ini kemungkinan besar akan menemukan figur-figur seperti ayah, ibu, saudara, dan pasangan
secara simbolis dalam kelompok mereka. Para partisipan dalam kelompok ini biasanya akan
bersaing untuk mendapatkan perhatian ketua kelompok-situasi yang memiliki kemiripan
dengan situasi masa lalu ketika mereka harus bersaing dengan saudara-saudara mereka untuk
mendapatkan perhatian orangtua. Persaingan ini dapat dieksplor dalam kelompok sebagai
cara untuk meningkatkan kesadaran diri partisipan kelompok terkait bagaimana mereka
menghadapi persaingan ketika masih anak-anak dan bagaimana keberhasilan atau kegagalan
mendapatkan perhatian yang mereka alami di masa lalu mempengaruhi interaksi mereka
dengan yang lain di masa sekarang ini. Kelompok dapat memberikan pemahaman dinamis
perihal bagaimana orang-orang bertindak dalam situasi luar kelompok. Proyeksi-proyeksi
mereka ini terhadap pemimpi dan anggota-anggota kelompok lain merupakan petunjuk
penting untuk menemukan konflik dalam diri yang belum terselesaikan, dimana konflik ini
kemudian dapat dikenali, dieksplor, dan diselesaikan melalui kelompok.
Ketua kelompok juga terpengaruh oleh reaksi-reaksi para anggota kelompok.
Kontertransfernasi dapat menjadi alat yang berguna untuk terapis kelompok dalam
memahami dinamika yang terjadi dalam kelompok. Akan tetapi, ketua kelompok diperlukan
untuk peka terhadap tanda-tanda konflik internal yang dapat menginterferensi grup yang
mampu untuk menciptakan situasi dimana para anggota dimanfaatkan untuk memuaskan
kebutuhan ketua. Jika, misalnya, ketua kelompok memiliki keinginan besar untuk disukai dan
diterima, ia mungkin akan berperilaku sedemikan rupa untuk mendapatkan rasa penerimaan
dari para anggota. Perilaku seperti ini dapat menciptakan perilaku yang sengaja dibuat-buat
demi menyenangkan perasaan anggota kelompok dan memastikan mereka akan terus
mendukung ketua. Sangat penting untuk memisahkan antara reaksi emosional yang benar
dengan proses kontertransferansi.
Konselor kelompok perlu menerapkan pengawasan pada diri sendiri jika mereka
menyalahgunakan kekuasaan mereka dengan mengubah kelompok menjadi suatu forum yang
mendorong klien untuk beradaptasi mematuhi nilai-nilai kultural dominan dengan
mengorbankan pandangan dan identitas kultural mereka sendiri. Para praktisi kelompok juga
perlu untuk menyadari kemungkinan bias mereka. Konsep transferansi dapat dikembangkan
lagi dengan memasukkan bias dan prasangka yang tidak disadari dan dikeluarkan secara tidak
sengaja melalui teknik yang terapis kelompok tersebut gunakan. Untuk pembahasan yang
lebih jauh lagi terkait pendekatan psikoanalisis dalam koneling kelompok, lihat Theory and
Practice of Griup Counseling (Corey,2008, bab.6).
Perkembangan Kepribadian Menurut Perspektif Jung
Freud pernah menganggap Carl Jung sebagai penerus spiritualnya, namun Jung pada
akhirnya mengembangkan teori kepribadiannya sendiri yang berbeda jauh dengan
psikoanalisis Freud. Psikologi analitis Jung adalah suatu bentuk penjelasan elaboratif
mengenai sifat inti manusia yang menggabungkan berbagai macam ide seperti sejarah,
mitologi, antropologi, dan agama (Schultz & Schultz, 2005). Jung memberikan kontribusi
besar pada pemahaman dalam kita terkait kepribadian dan perkembangan kepribadian
manusia, khususnya perkembangan selama masa paruh baya seseorang.
Teori temuan Jung berpusat pada perubahan psikologis yang dialami di masa paruh
baya. Ia mengatakan bahwa di masa paruh baya ini kita perlu melepaskan sejumlah nilai-nilai
dan perilaku yang menuntun masa hidup kita sejauh ini dan mulai menghadapi
ketidaksadaran kita. Cara terbaik melakukan hal ini adalah dengan memperhatikan pesan-
pesan yang disampaikan melalui mimipi-mimpi yang kita alami dan dengan melakukan
aktivitas kreatif seperti menulis atau melukis. Tugas kita di masa paruh baya kehidupan ini
adalah untuk tidak menjadi terlalu terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran rasional dan
mengekspresikan serta mengintegrasikan bagian-bagian ketidaksadaran kita ke dalam
kesadaran diri kita (Schultz & Schultz, 2005).
Jung memperoleh banyak pelajaran dari krisis prauh baya yang ia alami sendiri. Di
usia 81 ia menulis ingatannya ini ke dalam autobiografinya berjudul Memories, Dreams,
Reflections (1961), dimana ia membahas beberapa temuan besarnya. Jung memutuskan untuk
fokus kepada alam bawah sadar kehidupan pribadinya, yang juga mempengaruhi
perkembangan teori kepribadiannya. Akan tetapi, Konsep ketidaksadaran Jung sangat
berbeda dengan konsep milik Freud. Jung dulunya adalah kolega Freud dan menghormati
sejumlah kontribusinya, namun pada akhirnya Jung tidak lagi dapat mendukung beberapa
konsep-konsep dasar Freud, khususnya teori seksualitasnya. Jung (1961) mengingat
perkataan Freud kepadanya: “Jung, berjanjilah untuk jangan pernah mengabaikan teori
seksual. Ini adalah hal yang paling penting di antara semuanya. Kita harus mendogmakan
teori ini, melindunginya” (hal. 150). Jung kemudian merasa bahwa ia tidak lagi dapat bekerja
sama dengan Freud karena menurutnya, Freud menempatkan otoritasnya sendiri di atas
kebenaran. Freud tidak menganggap teoritikus-teoritikus selain dirinya, seperti Jung dan
Adler, yang berani menantang teorinya. Meskipun Jung kehilangan banyak hal dengan
berpisah dari Freud, ia tidak melihat ada pilihan lain. Jung kemudian mengembangkan
pendekatan rohaniah yang memberikan penekanan khusus untuk terdorong mencari arti
hidup, bukan terdorong oleh aspek-aspek psikologis dan biologis yang dijelaskan Freud.
Jung menjelaskan bahwa kita tidak dibentuk oleh peristiwa di masa lalu kita saja
(determinisme Freud), tapi kita dipengaruhi oleh masa depan dan masa lalu kita. Salah satu
sifat inti manusia adalah terus berkembang, bertumbuh, dan bergerak menuju perkembangan
yang utuh dan seimbang. Bagi Jung, kepribadian diri kita saat ini dibentuk oleh siapa diri kita
di masa lalu dan juga oleh siapa diri dambaan kita di masa depan. Teori Jung ini didasarkan
atas asumsi bahwa manusia cenderung bergerak maju menuju aktualisasi atau realisasi
seluruh kapabilitas diri sebagai manusia. Mencapai individuasi-integrasi harmonis antara
aspek kesadaran dan ketidaksadaran kepribadian-suatu tujuan utama yang inheren dalam diri.
Menurut Jung, kita memiliki kekuatan konsturkitf dan destruktif dalam diri kita, dan untuk
mengintegrasikan diri, kita harus menerima sisi gelap kita, atau bayangan, yang terdiri atas
nafsu primirif kita seperti keegoisan dan ketamakan. Dengan menerima bayangan kita, bukan
berarti kita harus dikuasai oleh dimensi gelap diri kita ini, tapi cukup menyadari bahwa sisi
gelap kita ini merupakan bagian alami manusia.
Jung menjelaskan bahwa kebanyakan mimpi yang dialami memiliki pesan dari lapisan
terdalam ketidaksadaran kita, yang ia gambarkan sebagai sumber kreativitas. Jung
menjelaskan ketidaksadaran kolektif sebagai “tingkatan terdalam sukma manusia yang
berisi akumulasi turunan pengalaman spesies manusia dan spesies pra-manusia” (dikutip
langsung dari Schultz & Schultz, 2005, hal. 104). Jung melihat ada hubungan antara tiap
kepribadian seseorang dengan masa lalu, bukan hanya masa lalu pengalaman masa kecil
namun juga masa lalu sejarah manusia sebagai spesies. Ini berarti bahwa beberapa mimpi
tertentu bisa saja berkaitan dengan hubungan dalam lingkup lebih besar seperti keluarga,
kemanusiaan, atau generasi masa lalu. Gambaran pengalaman universal dalam kesadaran
kolektif kita disebut sebagai purwarupa. Purwarupa-purwarupa yang paling penting adalah
seperti persona, anima dan animus, dan bayangan. Persona adalah topeng atau wajah yang
kita pakai di publik untuk melindungi diri kita. Animus dan anima melambangkan aspek
biologis dan psikologis maskulinitas dan feminitas, dimana keduanya dianggap ada dalam
pria maupun wanita. Bayangan memiliki akar yang paling dalam dan merupakan purwarupa
yang paling berbahaya dan paling kuat. Bayangan mewakili sisi gelap diri kita, pikiran,
perasaan, dan tindakan yang kita tolak dengan memproyeksikannya keluar. Dalam mimpi
yang kita alami, semua bagian purwarupa ini dianggap sebagai manifestasi apa dan siapa kita.
Jung setuju dengan Freud bahwa mimpi memberikan jalan menuju ketidaksadaran,
namun ia berbeda pendapat dengan Freud terkait fungsi mimpi itu sendiri. Jung menuliskan
bahwa mimpi memiliki dua tujuan. Mimpi bersifat prospektif; artinya mimpi membantu
seseorang untuk menyiapkan diri mereka menghadapi pengalaman dan perisitwa yang
mereka prediksikan akan terjadi dalam waktu dekat. Mimpi juga berfungsi sebagai
penyeimbang, membawa keseimbangan antara aspek yang berlawanan dalam diri. Mereka
menyeimbangkan kepribadian diri yang terlalu berkembang (Schiltz & Schultz, 2005).
Jung melihat mimpi lebih kepada sebagai suatu cara untuk mengeluarkan ekspersi
daripada sebagai suatu cara untuk menekan dan menyamarkan. Mimpi adalah usaha kreatif
pemimpi dalam melawan kontradiksi, kompleksitas, dan kebibungan dalam dirinya. Mimpi
bertujuan untuk resolusi dan integrasi. Menurut Jung, tiap aspek dalam mimpi dapat dipahami
sebagai proyeksi sifat pemimpi itu sendiri. Metode interpretasi Jung mengambil kesimpulan
dari serangkaian mimpi yang dialami seseorang, dimana makna mimpinya terungkap seiring
waktu. Jika anda tertarik untuk membaca lebih lanjut terkait topik ini, saya menyarankan
Jung (1961) dan Harris (1996).
Tren Kontemporer: Teori Relasi-Obyek, Psikologi Diri, dan Psikoanalisis Relasional.
Teori Psikoanalisis terus berkembang. Freud menekankan konflik interpsikis terkait
gratifikasi kebutuhan dasar. Para teoritis aliran neo-Freud mulai menjauh dari pandangan
ortodoks ini dan mengembangkan pergerakan psikoanalisis dengan menggabungkan
pengaruh sosial dan kultural pada kepribadian. Hal ini dapat menjadi masalah bagi klien yang
berasal dari budaya yang mengharapkan arahan dari seorang ahli. Contohnya seperti,
sejumlah klien berkebangsaan Asia-Amerika mungkin lebih memilih pendekatan yang lebih
terstruktur dan berfokus pada masalah secara langsung daripada penekatan konseling,
sehingga mereka mungkin tidak akan melanjutkan proses terapi jika pendekatan yang
diterapkan adalah pendekatan tidak langsung. Lebih jauh lagi, analisis interpsikis dapat
bertentangan langsung dengan kerangka sosial dan perspektif lingkungan klien. Terapi
psikoanalisis lebih fokus pada rekonstruksi kepribadian jangka panjang daripada
penyelesaian masalah jangka singkat.
Atkinson, Thompson, dan Grant (1993) menekankan bahwa terapis perlu untuk
memperhitungkan sumber-sumber eksternal masalah yang dihadapi klien, khususnya jika
klien memiliki pengalaman dalam suatu lingkungan yang bersifat opresif. Pendekatan
psikoanalisis dapat dikritik karena kegagalan pendekatan tersebut memperhitungkan faktor-
faktor sosial, kultural, dan politik yang dapat mempengaruhi masalah klien. Jika tidak ada
keseimbangan antara perspektif eksternal dan internal, klien bisa saja disalahkan atas kondisi
yang ia hadapi.
Ada beberapa kesulitan yang mungkin muncul dalam menerapkan pendekatan
psikoanalisis pada klien yang bergaji rendah. Jika klien seperti ini mencari tenaga
profesional, pada umumnya, krisis yang mereka hadapi adalah krisis untuk menyelesaikan
masalah-masalah konkrit, atau setidaknya masalah yang terkait dengan kebutuhan bertahan
hidup seperti urusan rumah tangga, pekerjaan, dan pengurusan anak. Hal ini bukan berarti
bahwa klien bergaji rendah tidak dapat memperoleh manfaat melakukan terapi analitik;
namun, pendekatan ini dapat lebih bermanfaat setelah kekhawatiran-kekhawatiran yang lebih
utama telah diselesaikan. Terkait pembahasan ini, Smith (2005) memaparkan bahwa
keinginan dan kemampuan psikoterapis untuk menangani klien bergaji rendah
dikompromikan dengan adanya sikap diskriminasi kelas dan diskriminasi kelas ini adalah hal
yang menjadi penghalang bagi praktisi untuk berhasi menangani orang-orang kurang mampu.
Smith menyarankan untuk memperhitungkan model terapi alternatif seperti psikoedukasi,
konseling, psikologi preventif, atau psikologi masyarakat untuk mereka yang memiliki status
sosio-ekonomi rendah. Alternatif lainnya adalah terapis menawarkan kerja pro-bono untuk
beberapa klien seperti ini.
Rangkuman dan Tinjauan
Sejumlah konsep-konsep utama dalam teori psikoanalisis adalah seperti dinamika
ketidaksadaran dan pengaruhnya terhadap perilaku, peran rasa khawatir, pemahaman
mengenai transferansi dan kontertransferansi, dan perkembangan kepribadian dalam berbagai
tahapan masa kehidupan.
Mengambil dasar dari konsep-konsep dasar Freud, Erickson mengembangkan
perkembangan perspektif batin dengan memasukkan tren-tren psikososial. Dalam modelnya
ini, tiap delapan tahap perkembangan manusia ditandai dengan suatu krisis, atau titik
penentu. Jika kita tidak dapat memenuhi misi kita dalam tiap tahap perkembangan, maka kita
gagal menyelesaikan perjuangan inti kita sebagai manusia (Tabel 4.2 membandingkan
pandangan Freud dan Erikson terkait tahapan-tahapan perkembangan)
Terapi psikoanalisis terdiri atas metode yang digunakan untuk memunculkan aspek-
aspek ketidaksadaran yang dapat diselesaikan. Terapi ini utamanya berfokus pada
pengalaman masa kecil, yang dibahas, direkonsturksikan, dan dianalisis.
Penerapan Terapi Psikoanalisis pada Kasus Stan
Di tiap-tiap bab dalam Bagian 2, kasus Stan akan digunakan untuk mendemonstrasikan penerapan
praktis teori yang dibahas. Untuk membuat anda fokus pada permasalahan utama Stan, lihat akhir
Bab 1, dimana biografi Stan dituliskan. Saya juga menyarankan anda untuk setidaknya membaca
ringkas Bab 16, yang membahas penerapan pendekatan integratif terhadap Stan.
Mulai dari Bab 4 hingga 14 anda akan menyadari bahwa Stan ditangani oleh terapis perempuan.
Melihat perasaan yang dimiliki Stan terhadap wanita, merupakan suatu hal yang aneh mengapa ia
memilih terapis perempuan. Akan tetapi, karena ia mengetahui bahwa ia memiliki permasalahan
terkait wanita, ia dengan sadar memutuskan pilihan ini untuk menguji dirinya. Seperti yang anda
akan lihat, salah satu tujuan Stan adalah untuk mempelajari bagaimana cara menjadi tidak terlalu
terintimidasi oleh kehadiran wanita dan menjadi lebih percaya diri di sekitar wanita.
Pendekatan psikoanalisis berfokus pada psikodinamika perilaku alam bawah sadar Stan. Bagian
dirinya yang ia pendam diberikan perhatian khusus. Dalam kondisi terburuk Stan menunjukkan
tendensi untuk merusak dirinya, dimana ia menghukum dirinya sendiri. Stan tidak mengarahkan
amarahnya pada orangtua dan saudarnya, namun ia mengarahkannya ke dalam dirinya sendiri.
Kecanduan Stan untuk meminum minuman keras dapat dijadikan bukti fiksasi oralnya. Karena Stan
tidak pernah mendapatkan rasa cinta dan penerimaan selama masa kecilnya, alhasil ia masih
menderita rasa kekurangan ini dan masih mencari rasa penerimaan dari orang lain. Stan mengalami
kesulitan dalam mengenali peran gender. Pemahamannya terkait hubungan antara pria dan wanita ia
peloreh dari pengalaman masa kecilnya dengan kedua orangtuanya. Yang ia lihat adalah
perkelahian, perdebatan, dan pengabaian. Stan menggeneralisasikan rasa takut pada ibunya kepada
semua wanita. Kita dapat menyimpulkan lebih lanjut bahwa wanita yang ia nikahi mirip dengan
ibunya, dimana kedua wanita ini sama-sama menguatkan rasa ketidakmampuannya.
Kesempatan untuk mengembangkan hubungan transferansi dan adalah inti proses terapi. Asumsinya
adalah bahwa Stan pada akhirnya akan mengaitkan terapisnya sama seperti ibunya dan bahwa
proses ini akan menjadi cara Stan untuk memperoleh pencerahan mengenai asal permasalahannya
terkait wanita. Proses analisis menekankan eksplorasi intensif masa lalu Stan. Tujuannya adalah
untuk menyadarkan ketidaksadaran, sehingga Stan tidak lagi dikuasai oleh ketidaksadarannya. Stan
menghabiskan wakyu terapinya dengan mengingat kembali dan mengeksplor masa lalu kecilnya.
Seiring Stan bercerita, ia memperoleh pemahaman lebih dalam terkait dinamika perilakunya. Ia
mulai melihat hubungan antara masalah yang ia hadapi sekarang dengan pengalaman masa
kecilnya.
Terapis mungkin akan mengeksplor pertanyaan-pertanyaan berikut pada Stan:”Bagaimana caramu
menghadapi perasaan negatif dalam diri sebagai anak kecil?” Bisakah kamu menunjukkan amarah,
kebencian, rasa sakit, dan rasa takut mu?” Apa dampak yang kamu terima dari hubunganmu dengan
ibumu?” Apa yang hubungan tersebut ajatkan kepada kamu mengenai wanita?” Kemudian ketika
Stan dibawa ke hubungan transferansi sekarang, terapis mungkin akan menanyakan hal seperti
“Kapan kamu merasa seperti ini ketika denganku?” dan Apa yang kamu dapat pahami dari
hubungan kita terkait bagaimana bentuk hubungan dengan wanita?”
Proses analisis berfokus pada pengaruh utama yang mempengaruhi masa perkembangan Stan,
kadang pengaruh tersebut terlihat jelas, kadang juuga tergantung bagaimana peristiwa masa lalu
yang terkait dimunculkan kembali dalam hubungan analisis yang dilakukan saat ini. Ketika Stan
memahami bagaimana dirinya dibentuk oleh pengalaman masa lalu ini, ia semakin mampu
menguasai dirinya di masa sekarang. Rasa takut dalam diri Stan kemudian menjadi bagian
kesadaran, dan ia tidak lagi membuang tenaga dalam dirinya untuk terus tenggelam oleh perasaan
ketidaksadarannya. Stan akhirnya dapat menggunakan energinya tersebut untuk membuat
keputusan baru dalam hidupnya di masa sekarang. Stan dapat memperoleh kemajuan ini karena ia
menyelesaikan masalah , namun keinginan Stan yang dalam untuk mengikuti terapis lah yang
berkontribusi besar terhadap perubahan kepribadiannya.
Jika terapis melakukan penanganan dengan pendekatan psikoanalisis kontemporer, fokusnya akan
mengarah pada alur perkembangan diri Stan. Perilaku Stan di masa sekarang akan dianggap sebagai
bentuk repetisi salah satu masa perkembangan awal yang ia lewati. Karena ketergantungan yang
dimiliki Stan, cara efektif untuk memahami perilaunya adalah dengan melihat bahwa Stan saat ini
mengulangi pola perilaku yang sama dengan pola perilaku yang ia lakukan bersama ibunya ketika
masih kecil. Dari perspektif ini, Stan belum berhasil untuk berpisah dari ibunya dan menemukan
kemandirian. Ia masih “terjebak dalam masa simbiosis. Ia tidak dapat menemukan kepastian dari
dirinya sendiri bahwa ia berharga, dan ia belum membereskan permasalahan ketergantungan-
kemandirian dalam dirinya. Dengan melihat perilaku Stan dari sisi psikologi diri ini, terapis dapat
lebih mudah menangani masalah Stan dalam menjalin hubungan intim.
Lanjutan: Anda Kemudian yang Menjadi Terapis Stan
Untuk tiap-tiap 11 pendekatan teori yang dibahas, anda akan didorong untuk mempraktikkan
penerapan prinsip dan teknik yang anda telah pelajari untuk menangani Sam berdasarkan perspektif
tiap pendekatan. Informasi terkait Stan yang dituliskan di tiap bab teori ini akan memberikan anda
gambaran
terkait bagaimana anda menangani Stan jika Stan adalah klien anda. Sebisa mungkin anda tetap
sesuai dengan inti tiap teori dengan cara mengenali konsep-konsep khusus yang anda dapat temukan
serta teknik yang dapat anda gunakan untuk membantu Stan mengeksplor masalahnya. Berikut
adalah serangkaian pertanyaan untuk memberikan anda gambaran kerangka berpikir terkait kasus
yang dialami Stan:
Seberapa tertarik anda pada masa kecil Stan? Apa cara-cara yang anda gunakan untuk
membantunya melihat pola pengalaman masa kecilnya yang terkait dengan masalahnya saat ini?
Terkait hubungan transferansi yang besar kemungkinan akan anda jalin dengan Stan, Bagaimana
reaksi anda terhadap Stan yang menjadikan anda sosok penting dalam hidupny?
Apa saja permasalahan kontertransferansi yang mungkin akan anda hadapi dalam menangani
Stan?
What resistances. Apa saja bentuk resistansi yang anda perkirakan akan muncul ketika anda
menangani Stan? Berdasarkan perspektif psikoanalisis, bagaimana anda meginterpretasikan dan
menghadapi resistansi ini?
Lihat acara online dan DVD berjudul Theory in Practice: The Case of Stan (Sesi 1, sesi pertama
dengan Stan, dan Sesi 2, perihal terapi psikoanalisis), untuk menonton demonstrasi pendekatan saya
dalam menangani Stan dari perspektif psikoanalisis ini. Sesi pertama terdiri atas proses pendahuluan
dan penilaian. Sesi kedua berfokus pada resistansi Stan dan cara Stan menghadapi transferansi
Asumsinya adalah bahwa eksplorasi masa lalu ini, yang umumnya dicapai melalui hubungan
transferansi dengan terapis, merupakan sesuatu yang diperlukan untuk mengubah karakter
diri. Teknik-teknik yang umumnya paling penting untuk diterapkan dalam praktik
psikoanalisis adalah seperti menjaga kerangka analisis, asosiasi bebas, interpretasi, analisis
mimpi, analisis resistansi, dan analisis transferansi.
Berbeda dengan teori Freud, teori Jung tidak bersifat reduksionis. Jung melihat
manusia secara positif dan fokus pada keindividuan manusia, kemampuan manusia untuk
bergerak maju menuju keutuhan dan aktualisasi diri. Untuk menjadi diri mereka yang
sebenarnya, seseorang harus mengeksplor aspek ketidaksadaran kepribadiannya, baik
ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif. Dalam terapi analisis Jungian, terapis
membantu klien bersentuhan dengan kebijaksanaan dalam dirinya. Tujuan terapi tidak hanya
sekedar untuk menyelesaikan masalah sementara namun untuk mencapai transformasi
kepribadian.
Berikut adalah beberapa area yang mencerminkan tren pendekatan psikoanalisis
kontemporer: psikologi ego, pendekatan relasi-obyek, psikologi diri, dan pendekatan
relasional. Psikologi ego tidak mengabaikan peran konflik inter-psikis namun memberikan
penekanan pada usaha ego untuk menguasai selama umur hidup manusia. Pendekatan obyek-
relasi didasarkan dari anggapan bahwa saat seseorang lahir menjadi bayi, tidak terdapat
perbedaan dalam diri dengan yang lain dan bahwa yang lain merupakan representasi obyek
kebutuhan gratifikasi untuk bayi. Ketika proses ini berhasil, yang lain akan dipersepsikan
sebagai hal yang terpisah dan berhubungan. Psikologi diri berofuks pada sifat inti hubungan
terapi, mengggunakan empati sebagai alat utamanya. Pendekatan relasional memberikan
penekanan pada apa yang berkembang melalui hubungan klien-terapis yang terjalin.
Kontribusi Pendekatan Psikoanalisis
Menurut saya, terapis mampu mengembangkan pemahaman mereka terkait masalah
yang dihadapi klien dengan mengapresiasi kontribusi besar Freud. Perlu ditekankan di sini
bahwa penerapan teknik psikoanalisis yang benar memerlukan pelatihan di luar pemahaman
yang kebanyakan terapis peroleh dari program pelatihan mereka. Pendekatan psikoanalisis
memberikan praktisi kerangka konsep untuk melihat perilaku dan memahami asal dan fungsi
gejala masalah yang dihadapi. Penerapan perspektif psikoanalisis ke dalam praktik terapi
khususnya berguna dalam (1) memahami resistansi yang berupa seperti membatalkan janji
pertemuan terapi, meninggalkan terapi, dan menolak untuk merefleksi diri sendiri; (2)
memahami bahwa urusan yang belum terselesaikan dapat ditemukan solusinya, sehingga
klien bisa menemukan akhir baru pada beberapa peristiwa yang merusak diri klien secara
emosional; (3) memahami nilai dan peran transferansi; dan (4) memahami bagaimana
mempertahankan ego secara berlebihan, baik dalam hubungan konseling dan dalam
kehidupan sehari-hari, dapat membuat klien tidak dapat memungsikan dirinya dengan baik.
Meskipun tidak banyak yang dapat diperoleh dengan menyalahkan masa lalu sebagai
penyebab kondisi saat ini, mempelajari sejarah awal klien umumnya berguna untuk
memahami dan menangani situasi klien saat ini. Walaupun anda mungkin tidak sepenuhnya
setuju dengan semua konsep psikoanalisis klasik, anda tetap dapat mengambil sejumlah
konsep psikoanalisis sebagai kerangka berpikir untuk memahami klien anda serta untuk
membantu mereka menemukan pemahaman lebih dalam terkait akar konflik yang mereka
hadapi.
Jika pendekatan psikoanalisis (atau psikodinamis) ditempatkan dalam gambaran
konteks yang lebih luas daripada posisi psikoanalisis klasik saat ini, pendekatan psikoanalisis
ini dapat menjadi model yang berguna dan mampu untuk memahami perilaku manusia.
Meskipun saya pribadi merasa bahwa konsep psikoseksual Freud memiliki kegunaan, saya
meyakini bahwa dengan menambahkan penekanan faktor psikososial milik Erikson akan
memberikan gambaran yang lebih utuh terkait masa-masa penting dalam tiap tahap
perkembangan. Mengintegrasikan kedua perspektif ini, menurut saya, sangat berguna untuk
memahami tema utama perkembangan kepribadian. Skema perkembangan Erikson tidak
mengabaikan isu-isu psikoseksual dan tahapan-tahapan penemuan Freud; namun, Erikson
mengembangkan tahapan-tahapan perkembangan psikoseksual tersebut sepanjang masa
hidup manusia. Perspektif Erikson ini mengintegrasikan konsep psikoseksual dan psikososial
tanpa mengurangi pentingnya kedua konsep tersebut. Introduction (St. Clair, with Wigren,
2004) menyediakan sebuah pandangan dan kajian kritis dari dua cabang praktik dan teori
psikoanalisis: teori objek-relasi dan psikologi diri. Khususnya padabab yang membahas
pendekatan dari Margaret Mahler, Otto Kernberg, dan Heinz Kohut. Ini merupakan tempat
yang baik untuk memulai jika anda ingin sebuah pembaharuan dalam trend kontemporer
psikoanalisis.
REFERENSI DAN BACAAN YANG DISARANKAN
*AINSLIE, R. (2007). Psychoanalytic
psychotherapy. In A. B. Rochlen
(Ed.), Applying counseling theories:
An online case-based approach (pp.
520). Upper Saddle River, NJ:
Pearson Prentice-Hall.
*ALTMAN, N. (2008). Psychoanalytic
therapy. In J. Frew & M. D. Spiegler
(Eds.), Contemporary
psychotherapies for a diverse world
(pp. 4292). Boston: Lahaska Press.
ATKINSON, D. R., THOMPSON, C. E.,
& GRANT, S. K. (1993). A three-
dimensional model for counseling
racial/ethnic minorities. The
Counseling Psychologist, 2(2), 257
277.
COREY, G. (2008). Theory and practice
of group counseling (7th ed.).
Belmont, CA: Brooks/Cole.
*COREY, G. (2009). Case approach to
counseling and psychotherapy (7th
ed.). Belmont, CA: Brooks/ Cole.
*DEANGELIS, T. (1996). Psychoanalysis
adapts to the 1990s. APA Monitor,
27(9), 1, 43.
*ELLIOT, A. (1994). Psychoanalytic
theory: An introduction. Oxford UK
& Cambridge USA: Blackwell.
ENNS, C. Z. (1993). Twenty years of
feminist counseling and therapy:
From naming biases to implementing
multifaceted practice. The
Counseling Psychologist, 21(1), 3
87.
*ERIKSON, E. H. (1963). Childhood and
society (2nd ed.). New York: Norton.
*FLEGENHEIMER, W. V. (1982).
Techniques of brief psychotherapy.
New York: Aronson. FREUD, S.
(1949). An outline of
psychoanalysis. New York: Norton.
*FREUD, S. (1955). The interpretation of
dreams. London: Hogarth Press.
*GABBARD, G. (2005). Psychodynamic
psychiatry in clinical practice (4th
ed.). Washington, DC: American
Psychiatric Press.
*GELSO, C. J., & HAYES, J. A. (2002).
The management of
countertransference. In J. C.
Norcross (Ed.), Psychotherapy
relationships that work (pp. 267
283). New York: Oxford University
Press.
*HARRIS, A. S. (1996). Living with
paradox: An introduction to Jungian
psychology. Pacifi c Grove, CA:
Brooks/Cole.
HAYES, J. A. (2004). Therapist know
thyself: Recent research on
countertransference. Psychotherapy
Bulletin, 39(4), 612.
*HEDGES, L. E. (1983). Listening
perspectives in psychotherapy. New
York: Aronson.
*JUNG, C. G. (1961). Memories, dreams,
refl ections. New York: Vintage.
KERNBERG, O. F. (1975). Borderline
conditions and pathological
narcissism. New York: Aronson.
KERNBERG, O. F. (1976). Object-
relations theory and clinical
psychoanalysis. New York:
Aronson.
KERNBERG, O. F. (1997). Convergences
and divergences in contemporary
psychoanalytic technique and
psychoanalytic psychotherapy. In J.
K. Zeig (Ed.), The evolution of
psychotherapy: The third conference
(pp. 322). New York:
Brunner/Mazel.
KLEIN, M. (1975). The psychoanalysis of
children. New York: Dell.
KOHUT, H. (1971). The analysis of self.
New York: International Universities
Press.
KOHUT, H. (1977). Restoration of the
self. New York: International
Universities Press.
KOHUT, H. (1984). How does
psychoanalysis cure? Chicago:
University of Chicago Press.
*LEVENSON, H. (2007). Time-limited
dynamic psychotherapy. In A. B.
Rochlen (Ed.), Applying counseling
theories: An online case-based
approach (pp. 7590). Upper Saddle
River, NJ: Pearson Prentice-Hall.
LINEHAN, M. M. (1993a). Cognitive-
behavioral treatment of borderline
personality disorder. New York:
Guilford Press.
LINEHAN, M. M. (1993b). Skills training
manual for treating borderline
personality disorder. New York:
Guilford Press.
*LUBORSKY, E. B., O’REILLY-
LANDRY, M., & ARLOW, J. A.
(2008). Psychoanalysis. In R. J.
Corsini & D. Wedding (Eds.),
Current psychotherapies (8th ed., pp.
1562). Belmont, CA: Brooks/Cole.
MAHLER, M. S. (1968). On human
symbiosis or the vicissitudes of
individuation. New York:
International Universities Press.
MARMOR, J. (1997). The evolution of an
analytic psychotherapist: A sixty-
year search for conceptual clarity in
the tower of Babel. In J. K. Zeig
(Ed.), The evolution of
psychotherapy: The third conference
(pp. 2336). New York:
Brunner/Mazel.
MASTERSON, J. F. (1976).
Psychotherapy of the borderline
adult: A developmental approach.
New York: Brunner/Mazel.
MESSER, S. B., & WARREN, C. S.
(2001). Brief psychodynamic
therapy. In R. J. Corsini (Ed.),
Handbook of innovative therapies
(2nd ed., pp. 6785). New York:
Wiley.
*MITCHELL, S. A. (2000). Relationality:
From attachment to intersubjectivity.
Hillsdale, NJ: The Analytic Press.
MITCHELL, S. A., & BLACK, M. J.
(1995). Freud and beyond: A history
of modern psychoanalytic thought.
New York: Basic Books.
PROCHASKA, J. O., & NORCROSS, J.
C. (2007). Systems of psychotherapy:
A transtheoretical analysis (6th ed.).
Belmont, CA: Brooks/Cole.
REIK, T. (1948). Listening with the third
ear. New York: Pyramid.
SARETSKY, T. (1978). The middle phase
of treatment. In G. D. Goldman & D.
S. Milman (Eds.), Psychoanalytic
psychotherapy (pp. 91110).
Reading, MA: Addison-Wesley.
*SCHULTZ, D., & SCHULTZ, S. E.
(2005). Theories of personality (8th
ed.). Belmont, CA: Wadsworth.
SMITH, L. (2005). Psychotherapy,
classism, and the poor. American
Psychologist, 60(7), 687 696.
*ST. CLAIR, M. (with WIGREN, J.).
(2004). Object relations and self
psychology: An introduction (4th
ed.). Belmont, CA: Brooks/Cole.
STERN, D. N. (1985). The interpersonal
world of the infant: A view from
psychoanalysis and developmental
psychology. New York: Basic
Books.
STRUPP, H. H. (1992). The future of
psychodynamic psychotherapy.
Psychotherapy, 29(l), 2127.
YALOM, I. D. (2003). The gift of therapy:
An open letter to a new generation of
therapists and their patients. New
York: HarperCollins (Perennial).
BAB LIMA
Terapi Adlerian
Pengantar
Konsep Kunci
Pandangan Alam Manusia
Persepsi Subyektifitas dari Realitas
Persatuan dan Pola Kepribadian
Manusia
Minat Sosial dan Perasaan
Masyarakat
Urutan Kelahiran dan Hubungan
Saudara
Proses Terapi
Tujuan Terapi
Fungsi dan Peran Terapis
Pengalaman Klien dalam Terapi
Hubungan Antar Terapis dan Klien
Aplikasi: Teknik dan Prosedur
Terapi
Fase 1: Membangun Hubungan
Fase 2: Menjelajahi Dinamika
Psikologis Individu
Fase 3: Dorong Pemahaman Diri
dan Wawasan
Fase 4: Reorientasi dan Pendidikan
Ulang
Area Aplikasi
Terapi Alderian Dari Perspektif
Multikultural
Kekuatan Dari Perspektif
Keragaman
Kekurangan Dari Perspektif
Keragaman
Terapi Adlerian Diterapkan
pada Kasus Stan
Ringkasan dan Evaluasi
Kontribusi dari Pendekatan
Adlerian
Keterbatasan dan Kritik terhadap
Pendekatan Adlerian
Ke mana Langkah Setelah Ini
Bacaan Tambahan yang
Direkomendasikan
Referensi dan Bacaan yang
Disarankan
ALFRED ADLER
ALFRED ADLER
(18701937) tumbuh
dalam keluarga Wina
yang terdiri dari
enam anak laki-laki
dan dua perempuan. Saudaranya
meninggal saat masih kecil di ranjang di
sebelah Alfred. Masa kanak-kanak Adler
bukanlah masa yang bahagia. Dia sakit-
sakitan dan sangat sadar akan kematian.
Pada usia 4 tahun ia hampir meninggal
karena pneumonia. Dia mendengar dokter
memberi tahu ayahnya bahwa "Alfred
telah tiada." Adler kali ini
menghubungkannya dengan keputusannya
untuk menjadi dokter. Karena dia sangat
sakit selama beberapa tahun pertama
hidupnya, Adler dimanjakan oleh ibunya.
Belakangan, ia ”dikucilkan” oleh seorang
adik lelaki. Dia mengembangkan
hubungan saling percaya dengan ayahnya,
tetapi tidak merasa sangat dekat dengan
ibunya. Dia sangat iri pada kakak laki-
lakinya, Sigmund, yang menyebabkan
hubungan yang tegang antara keduanya
selama masa kanak-kanak dan remaja.
Ketika kami mempertimbangkan
hubungan Adler yang tegang dengan
Sigmund Freud, orang tentu menduga
bahwa pola-pola dari konstelasi keluarga
awalnya diulang dalam hubungan ini
dengan Freud.
Tahun-tahun awal Adler ditandai
dengan perjuangan untuk mengatasi
penyakit dan perasaan rendah diri.
Meskipun Adler merasa lebih rendah
daripada saudara lelakinya dan teman-
temannya, dia bertekad untuk
mengimbangi keterbatasan fisiknya, dan
lambat laun dia mengatasi banyak
keterbatasannya.
Jelas bahwa pengalaman masa
kecil Adler memiliki dampak pada
pembentukan teorinya. Adler adalah
contoh seseorang yang membentuk
hidupnya sendiri dan tidak ditentukan oleh
nasib. Adler adalah murid yang miskin.
Gurunya menyarankan ayahnya untuk
menyiapkan Adler menjadi pembuat
sepatu, tidak lebih dari itu. Dengan usaha
keras Adler akhirnya naik ke puncak
kelasnya. Dia melanjutkan belajar
kedokteran di Universitas Wina, masuk
praktik swasta sebagai dokter mata, dan
kemudian beralih ke kedokteran umum.
Dia akhirnya mengkhususkan diri dalam
neurologi dan psikiatri, dan dia memiliki
minat dalam penyakit anak yang tidak
dapat disembuhkan.
Adler memiliki kepedulian yang
besar terhadap orang awam dan blak-
blakan tentang praktik membesarkan anak,
reformasi sekolah, dan prasangka yang
mengakibatkan konflik. Dia berbicara dan
menulis dalam bahasa nonteknis yang
sederhana sehingga masyarakat umum
dapat memahami dan menerapkan prinsip-
prinsip pendekatannya dengan cara praktis
yang membantu orang-orang menghadapi
tantangan kehidupan sehari-hari. Adler's
(1927/1959) Understanding Human
Nature adalah buku psikologi besar
pertama yang menjual ratusan ribu kopi di
Amerika Serikat. Setelah melayani dalam
Perang Dunia I sebagai petugas medis,
Adler menciptakan 32 klinik bimbingan
anak di sekolah-sekolah umum Wina dan
mulai melatih guru, pekerja sosial, dokter,
dan profesional lainnya. Dia memelopori
praktik mengajar profesional melalui
demonstrasi langsung dengan orang tua
dan anak-anak di hadapan khalayak luas.
Klinik-klinik yang ia dirikan tumbuh
dalam jumlah dan popularitas, dan ia tak
kenal lelah dalam mengajar dan
menunjukkan karyanya.
Meskipun Adler memiliki jadwal
kerja yang terlalu padat di sebagian besar
kehidupan profesionalnya, ia masih
menyempatkan diri untuk bernyanyi,
menikmati musik, dan berkumpul bersama
teman-teman. Pada pertengahan 1920-an ia
mulai mengajar di Amerika Serikat, dan ia
kemudian sering melakukan kunjungan
dan wisata. Dia mengabaikan peringatan
teman-temannya untuk berleha-leha, dan
pada 28 Mei 1937, saat berjalan-jalan di
depan kuliah yang dijadwalkan di
Aberdeen, Skotlandia, Adler pingsan dan
meninggal karena gagal jantung.
Jika Anda tertarik mempelajari
lebih banyak tentang kehidupan Adler,
lihat biografi Edward Hoffman (1996)
yang luar biasa, The Drive for Self.
Pengantar
Bersama dengan Freud dan Jung, Alfred Adler adalah kontributor utama untuk
pengembangan awal pendekatan psikodinamik terhadap terapi. Setelah 8 hingga 10 tahun
kolaborasi, Freud dan Adler berpisah, dengan Freud mengambil posisi bahwa Adler adalah
seorang bidaah yang telah meninggalkannya. Adler mengundurkan diri sebagai Presiden
Vienna Psychoanalytic Society pada tahun 1911 dan mendirikan Society for Individual
Psychology pada tahun 1912. Freud kemudian mengatakan bahwa psikoanalisis yang baik
tidak mungkin bisa menerima konsep-konsep Alder.
Setelah itu, sejumlah psikoanalisis mulai menolak pandangan ortodoks Freud (lihat
Bab 4). Para penggagas ini, yang terdiri atas Karen Horney, Erich Fromm, dan Harry Stack
Sullivan, sepakat bahwa faktor sosial dan budaya memiliki imbas yang besar membentuk
kepribadian. Meskipun ketiga terapis ini bias disebut sebagai neo-Freud, lebih tepat untuk
menyebut mereka, seperti yang diusulkan Heinz Ansbacher (1979), sebagai neo-Alder,
karena mereka ini memisahkan diri dari pandangan biologis dan deterministik Freud menuju
pandangan sosio-psikologis dan teologis (atau berorientasi pada tujuan) Alder.
Alder memberikan penekanan khusus pada kesatuan kepribadian, mengatakan bahwa
manusia hanya dapat dimengerti sebagai mahluk yang utuh dan terintegrasi. Pandangannya
ini juga mendukung sifat inti perilaku, menekankan bahwa kemana tujuan yang kita kejar
lebih penting daripada darimana kita berasal. Adler melihat manusia sebagai pencipta dan
hasil ciptaan kehidupan mereka sendiri; yakni, manusia mengembangkan gaya hidup unik
yang berupa ekspresi dan pergerakan menuju tujuan pilihan mereka. Dalam artian ini, kita
menciptakan diri kita sendiri, bukan sekedar terbentuk oleh pengalaman masa kecil kita.
Sepeninggalan Adler di tahun 1937, Rudolf Dreikurs menjadi figur yang paling
signifikan membawa konsep psikologi Alder ke Amerika Serikat. Prinsip-prinsip psikologi
Alder ini kemudian diterapkan ke dalam pendidikan, terapi individu dan grup, serta dalam
konseling keluarga. Dreikurs dianggap sebagai orang yang menggagaskan ide mengenai
pusat bimbingan anak dan ide untuk melatih para praktisi profesional agar dapat menangani
klien dari berbagai macam kalangan.
*
Saya ingin mengakui upaya dan kontribusi dari Dr. James Bitter dari East Tennessee State University dalam
memperbarui bab ini dan untuk memperluas bagian yang berkaitan dengan proses terapi dan aplikasi praktis.
Konsep-Konsep Utama
Pandangan Mengenai Sifat Manusia
Adler meninggalkan teori-teori dasar Freud karena menurutnya, pandangan
biologis dan insting Freud yang deterministik adalah pandangan yang sangat sempit. Menurut
Adler, seseorang mulai membentuk pendekatan hidupnya di sekitar 6 tahun pertama
hidupnya. Adler berfokus pada bagaimana persepsi masa lalu seseorang atau interpretasinya
terhadap masa kecil yang ia alami mempengaruhi dirinya. Dari segi gagasan teoritis, Adler
bertentangan dengan Freud. Misalnya, menurut Adler, manusia pada pokoknya termotivasi
oleh keterkaitan sosial, bukan oleh hasrat seksual;perilaku manusia didasarkan atas
pergerakan menuju tujuan; dan kesadaran, lebih dari ketidaksadaran, adalah fokus utama
terapi. Berbeda dengan Freud, Adler menekankan konsep keputusan dan tanggung jawab, arti
hidup, dan usaha menuju keberhasilan, keutuhan, dan kesempurnaan. Adler dan Freud
mengembangkan teori yang sangat bertentangan, meskipun keduanya disebarkan di kota dan
era yang sama, dan keduanya juga belajar untuk menjadi dokter di universitas yang sama.
Perbedaan pribadi dan masa kecil keduanya dapat dipastikan sebagai faktor utama yang
membentuk perbedaan pandangan mereka mengenai sifat manusia (Schultz & Schultz, 2005).
Teori Adler berfokus pada perasaan inferioritas, dimana ia melihat perasaan ini
sebagai kondisi normal manusia dan sebagai sumber usaha manusia. Perasaan inferioritas
tidak dianggap sebagai suatu tanda kelemahan atau abnormaitas, perasaan inferioritas dapat
menjadi sumber kreativitas. Perasaan ini mendorong kita untuk berusaha mencapai
keberhasilan, kesuksesan (superioritas), dan keutuhan. Kita didorong untuk melewati
perasaan inferior kita dan untuk berusaha semakain keras meningkatkan perkembangan diri
kita (Schultz & Schultz, 2005). Dan memang, sekitar usia 6 tahun, visi gambaran diri
dambaan kita yang sempurna dan utuh mulai terbentuk menjadi suatu tujuan hidup. Tujuan
hidup menggabungkan kepribadian diri dan menjadi sumber motivasi manusia; tiap usaha
dan tiap kerja keras kita untuk melewati perasaan inferioritas akan sejalan dengan tujuan
hidup kita ini.
Berdasarkan perspektif Alder, perilaku manusia tidak semata-mata ditentukan oleh
keturunan dan lingkungan saja. Akan tetapi, kita memiliki kapasitas untuk menginterpretasi,
mempengaruhi, dan menciptakan peristiwa. Adler memaparkan bahwa gen dan keturunan
tidak sepenting cara kita menyikapi kemampuan dan keterbatasan diri kita. Meskipun
penganut teori Alder menolak sikap deterministik Freud, mereka tidak sampai menganggap
bahwa seseorang dapat menjadi siapapun yang mereka inginkan. Mereka menyadari kondisi
biologis dan lingkungan membatasi kapabilitas kita untuk menciptakan dan menentukan
pilihan.
Pendukung teori Adler berfokus untuk mendidik ulang individu dan membentuk ulang
masyarakat. Adler merupakan penggagas depan pendekatan psikologi subyektif yang
berfokus pada penentu-penentu internal perilaku seperti nilai-nilai, keyakinan, sikap, tujuan,
minat, dan persepsi realitas individu. Ia adalah pionir pendekatan psikologis yang holistik,
sosial, berorientasi pada tujuan, sistematis, dan humanistic. Adler juga merupakan terapis
sistemik pertama, dimana menurutnya, adalah suatu hal penting untuk memahami manusia di
dalam sistem kehidupan mereka.
Persepsi Realitas Subyektif
Penganut teori Alder mencoba untuk melihat duni dari bingkai subyektif klien, sebuah
orientasi fenomenalogi. Pendekatan ini bersfiat fenomenalogis karena pendekatan tersebut
memberikan perhatian khusus terkait bagaimana melihat dunia orang-orang sebagai individu.
“Realitas subyektif” ini mencakup persepsi, pikiran, perasaan, nilai-nilai, keyakinan, prinsip,
dan kesimpulan mereka sendiri sebagai individu. Perilaku individu dipahami dari perspektif
subyektif ini. Melalui perspektif Adlerian, realitas obyektif tidak terlalu penting dibandingkan
bagaimana cara kita menginterpretasi realitas dan mengartikan pengalaman kita.
Seperti yang nantinya anda akan temui di bab-bab selanjutnya, sejumlah teori
kontemporer menempatkan pengertian pandangan subyektif kien ini sebagai faktor dasar
dalam menjelaskan perilaku manusia. Beberapa pendekatan lain yang juga memiliki
perspektif fenomenalogis ialah seperti terapi eksistensial, terapi berbasis individu, terapi
Gestalt, terapi perilaku kognitif, terapi realitas, dan pendekatan pasca-moderen.
Kesatuan dan Pola Kepribadian Manusia
Adler menyebut pendekatannya sebagai Psikologi Individu dan berfokus untuk
memahami diri individu seutuhnya-bagaimana semua dimensi dalam diri seseorang saling
berkaitan, dan bagaimana komponen-komponen dalam diri ini disatukan oleh usaha individu
menuju tujuan hidupnya. Adler menekankan konsep kesatuan diri seseorang. Konsep holistik
ini mengimplikasikan bahwa diri manusia tidak dapat dipahami sebagai bagian yang terpisah-
pisah, namun semua aspek diri kita sebagai manusia harus dipahami dalam suatu hubungan
yang terjalin (Carlson & Englar-Carlson, 2008). Fokus pendekatan ini adalah untuk
memahami diri individu seutuhnya dalam konteks sosial mereka seperti keluarga, budaya,
sekolah, dan pekerjaan. Kita adalah makhluk sosial, kreatif, dan pembuat keputusan yang
bertindank dengan tujuan dan tidak dapat dimengerti di luar konteks berarti dalam hidup kita
(Sherman & Dinkmeyer, 1987).
Kepribadian manusia menjadi satu kesatuan melalui pengembangan tujuan hidup
seseorang. Pikiran, perasaan, keyakinan, kepercayaan, sikap, karakter, dan perbuatan
semuanya merupakan ekspresi keunikan seseorang, dan semuanya ini merefleksikan suatu
rancangan hidup yang memberikan perkembangan menuju tujuan hidup pilihan. Impilkasi
pandangan kepribadian holistik ini adalah bahwa klien menjadi bagian penting sistem sosial.
Hubungan intrapersonal lebih ditekankan daripada hubungan psikodinamika internal
individu.
PERILAKU SEBAGAI ORIENTASI BERTUJUAN Psikologi Individu mengasumsikan
bahwa semua perilaku manusia punya tujuan. Manusia membuat tujuan untuk diri mereka
sendiri, dan perilaku mereka menjadi satu keatuan ke dalam konteks tujuan hidup pilihan ini.
Konsep mengenai sifat perilaku yang bermakna ini merupakan inti teori Adler. Adler
mengganti penjelasan deterministik dengan konsep-konsep teologis (berorientasi pada
tujuan). Asumsi dasar terori Psikologi Individu ini adalah bahwa kita hanya dapat berpikir,
berperasaan, dan bertindak terkait persepsi tujuan kita. Sehingga, diri kita hanya dapat
dipahami sepenuhnya jika kita mengetahui tujuan hidup yang kita kejar. Penganut teori Adler
tertarik pada masa depan, tanpa mengabaikan pentingnya pengaruh masa lalu. Mereka
menganggap bahwa keputusan yang kita buat didasarkan pada pengalaman masa lalu kita,
situasi yang kita hadapi sekarang, dan pada kemana arah tujuan kita. Pendukung teori Adler
ini mencoba untuk mencari suatu kesinambungan dalam diri manusia dengan memperhatikan
tema-tema yang ada dalam hidup seseorang.
Pendapat Adler dipengaruhi oleh filsuf Hans Vahinger (1965), yang mengatakan
bahwa manusia menjalani hidup mereka dengan fiksi (atau pandangan bagaimana dunia
seharusnya). Kebanyakan penganut teori Adler menggunakan istilah finalisme fiksi untuk
merujuk kepada tujuan yang dibayangkan seseorang untuk menuntun perilaku mereka. Akan
tetapi, penting untuk kita ketahui bahwa Adler tidak lagi menggunakan istilah ini dan
menggantinya dengan “dambaan diri” dan “tujuan menuju kesempurnaan” yang membuat
kita bergerak maju menuju superioritas atau kesempurnaan (Watts & Holdn, 1994). Di
awal-awal kehidupan kita, kita mulai membayangkan bagaimana diri kita ketika kita menjadi
sukses, utuh, lengkap, atau sempurna. Jika dambaan diri ini diterapkan dalam konteks
motivasi manusia, maka kurang lebih begini lah bentuk perkataan kita mengekspresikan
motivasi kita: “Saya akan merasa terjamin hanya jika saya mencapai kesempurnaan” atau
“Saya akan diterima hanya ketika saya menjadi seseorang yang penting.Diri-dambaan ini
menyimbolkan gambaran tujuan kesempurnaan seseorang, yang menggerakan diri seseorang
menuju tujuannya dalam situasi apapun. Karena tujuan akhir kita yang sbyektif, kita memiliki
kreativitas untuk memilih apa yang kita anggap sebagai kebenaran, bagaimana kita
seharusnya berperilaku, dan bagaimana kita menginterpretasikan peristiwa-perisitiwa yang
kita alami.
BEKERJA KERAS MENGERJAR KEBERHASILAN DAN SUPERIORITS Adler
menekankan bahwa kerja keras diri kita mengejar kesempurnaan dan menghadapi inferioritas
diri dengan mencari keberhasilan adalah suatu hal yang inheren dalam diri kita (Ansbacher &
Ansbacher, 1979). Untuk memahami perilaku manusia, penting bagi kita untuk memahami
konsep inferioritas dan kompensasi. Sejak awal kehidupan kita, kita menyadari bahwa diri
kita lemah, dimana kelemahan ini ditandai dengan perasaan inferioritas yang kita miliki.
Perasaan inferioritas ini bukan lah faktor negatif dalam hidup. Menurut Adler, di saat kita
merasa inferior, diri kita akan ditarik oleh keinginan diri untuk bergerak menuju superioritas.
Dia mempertahankan bahwa tujuan dari kesuksesan menarik orang-orang menuju penguasaan
dan memungkinkan mereka untuk mengatasi kendala. Superioritas berkontribusi pada
perkembangan komunitas manusia. Namun, penting untuk dicatat bahwa “superioritas”,
seperti yang digunakan oleh Adler, tidak berarti menjadi superior daripada yang lain.
Malahan, hal itu berarti berpindah dari posisi lebih rendah (atau minus) yang dipersepsikan
ke posisi lebih tinggi (atau plus) yang dipersepsikan. Orang-orang mengatasi perasaan putus
asa dengan berjuang untuk kompetensi, penguasaan, dan kesempurnaan. Mereka mencari
perubahan kelemahan menjadi kekuatan, sebagai contoh, atau berjuang untuk melampaui satu
bidang untuk mengimbangi kerusakan di satu bidang. Cara unik dimana orang-orang
mengembangkan sebuah gaya untuk berjuang pada kompetensi adalah apa yang membangun
individualitas atau gaya hidup. Cara dimana Adler bereaksi pada masa anak-anaknya atau
pengalaman remajanya adalah sebuah contoh hidup dari aspek teorinya.
GAYA HIDUP sebuah keyakinan inti dan asumsi dari individu membimbing gerakan tiap
pribadi selama hidup serta mengatur realitanya, memberi makna pada kejadian hidup. Adler
menyebutnya pergerakan hidup ini “gaya hidup” individu. Sinonim untuk istilah ini termasuk
“rencana hidup, “gaya hidup”, “strategi hidup, dan “peta hidup”. Gaya hidup mencakup
tema dan aturan yang berhubungan dari interaksi yang menyatukan semua aksi. Gaya hidup
digambarkan sebagai persepsi kita mengenai diri sendiri, orang lain, dan dunia. Ia mencakup
karakteristik dari cara berpikir, bertindak, merasa, hidup, dan berjuang menujua tujuan jangka
panjang individu (Mosak & Maniacci, 2008).
Adler melihat kita sebagai aktor, kreator, dan seniman. Dalam perjuangan untuk
mencapai tujuan yang berarti bagi kita, kita mengembangkan sebuah gaya hidup yang unik
(Ansbacher, 1974). Konsep ini menjelaskan mengapa semua kebiasan kita sesuai untuk
menyediakan konsistensi pada tindakan kita. Memahami gaya hidup seseorang agak sama
seperti memahami gaya seorang komposer: kita bisa memulai dimanapun kita ingin mulai:
setiap ekspansi akan mengantarkan kita ke arah yang sama- menuju satu motif, satu melodi,
disekitar dimana kepribadian dibangun” (Adler, seperti dikutip dalam Ansbacher &
Ansbacher, 1964, p. 332). Orang-orang dipandang mengadopsi pendekatan proaktif,
bukannya reaktif terhadap lingkungan sosial. Meskipun kejadian dalam lingkungan
mempengaruhi perkembangan kepribadian, kejadian tersebut bukanlah penyebab sehingga
orang-orang menjadi seperti diri meraka.
Dalam berjuang untuk tujuan superioritas, Adlerians meyakini bahwa tiap dari kita
mengembangkan sebuah faset yang unik dari kepribadian kita, atu gaya hidup kita sendiri.
Setiap yang kita lakukan dipengarungi oleh gaya hidup unik ini. Pengalaman di dalam
keluarga dan hubungan antara saudara berkontribusi pada perkembangan dari cara konsitensi
diri dalam berpersepsi, berpikir, merasa, dan berperilaku. Meskipun gaya unik kita diciptakan
umumnya selama 6 tahun awal kehidupan, kejadian berikutnya mungkin memiliki pengaruh
yang besar pada perkembangan kepribadian kita. Pengalaman itu sendiri bukanlah faktor
penentu; malahan, ini adalah interpretasi kita dari kejadian yang membentuk kepribadian kita.
Interpretasi yang salah dapat mengantarkan pada pernyataan salah di dalam logika pribadi
kita, yang akan mempengaruhi secara signifikan perilaku saat ini. Sekali kita menjadi sadar
akan pola dan keberlanjutan hidup kita, kita berada dalam posisi untuk memodifikasi asumsi
yang salah itu dan membuat perubahan dasar. Kita bisa membuat kerangka pengalaman masa
kecil dan secara sadar menciptakan sebuah gaya hidup baru.
KETERTARIKAN SOSIAL DAN PERASAAN KOMUNITAS
Ketertarikan sosial dan perasaan komunitas (Gemeinschaftsgefuhl) mungkin merupakan
konsep paling penting dan berbeda dari Adler (Ansbacher,1992). Istilah ini mengacu pada
kesadaran individu menjadi bagian dari komnitas mansia dan terhadap sikap individu dalam
menghadapi dunia sosial.
Ketertarikan sosial mengacu pada sebuah garis tindakan dari perasaan komunitas
seseorang dan ia mencakup sikap positif individu terhadap orang lain di dunia. Ketertarikan
sosial adalah kapasitas untuk bekerja sama dan berkontribusi (Milliren & Clemmer, 2006).
Ketertarikan sosial memerlukan kita untuk memiliki cukup kontak dengan masa kini untuk
membuat sebuah pergerakan menuju masa depan yang berarti, bahwa kita ikhlas untuk
memberi dan untuk mengambil, dan bahwa kita mengembangkan kapasitas kita untuk
berkontribusi demi kebaikan orang lain (Milliren, Evans, & Newbauer, 2007). Ketertarikan
sosial mencakup perjuangan untuk masa depan kemanusiaan yang lebih baik. Proses
sosialisasi ini, yang dimulai pada masa anak-anak, termasuk menemukan tempat di dalam
masyarakat dan memperoleh rasa kepemilikan dan kontribusi (Kefir, 1981). Ketika Adler
menganggap ketertarikan sosial sebagai bawaan, dia juga percaya bahwa hal itu harus
diajarkan, dipelajari, dan digunakan. Adler menyamakan ketertarikan sosial dengan rasa
identifikasi dan empati dengan orang lain: untuk melihat dengan mata orang lain, untuk
mendengar dengan telinga orang lain, untuk merasa dengan hati orang lain” (dikutip dalam
Ansbacher & Ansbacher, 1979, p. 42). Ketertarikan sosial adalah indikasi pusat dari
kesehatan mental. Mereka yang memiliki ketertarikan sosial cenderung mengarahkan
perjuangan pada hal yang sehat dan berguna secara sosial dalam sisi kehidupan. Dari
perspektif Adlerian, ketika ketertarikan sosial berkembang, perasaan inferior dan tersisihkan
menghilang. Orang-orang mengekspresikan ketertarikan sosial melalui aktivitas bersama dan
saling menghormati.
Psikologi individu terletak pada keyakinan pusat yang kebahagiaan dan kesuksesan
kita umumnya dihubungkan dengan keterhubungan sosial ini. Karena kita terlibat dalam
sebuah masyarakat, kita tidak bisa dipahami dalam isolasi dari sosial konteks itu. Kita pada
umumnya dimotivasi oleh keinginan untuk terlibat. Perasaan komunitas membangun
perasaan terhubung pada seluruh kemanusiaan-masa lalu, masa kini, dan masa depan- dan
untuk menjadi bagian dalam membuat dunia yang lebih baik. Mereka yang kekurangan
perasaan komunitas inimenjadi tidak bersemangat dan berakhir pada ketidakbergunaan dalam
hidup. Kita mencari sebuah tempat di dalam keluarga dan di dalam masyarakat untuk
memenuhi kebutuhan dasar akan keamanan, penerimaan, dan keberhargaan. Banyak dari
masalah yang kita alami berhubungan dengan ketakutan untuk tidak diterima oleh kelompok
yang kita hargai. Jika rasa kepemilikan ini tidak dipenuhi, hasilnya adalah kebingungan.
Hanya ketika kita merasa bersatu dengan yang lain tidak dapat bertindak dengan berani
dalam menghadapi masalah kita (Adler, 1938/1964).
Adler mengajarkan bahwa kita harus berhasil menguasai tiga tugas kehidupan
universal: membangun persahabatan (tugas sosial), membangun keintiman (tugas cinta-
pernikahan), dan berkontribusi dalam masyarakat (tugas pekerjaan). Semua orang harus
membahas masalah ini, tanpa memandang usia, jenis kelamin, waktu dalam sejarah, budaya
dan kebangsaan. Dreikurs dan Mosak (1967) dan Mosa dan Dreikurs (1967) menambahkan
dua tugas dalam hidup kedalam daftar ini: bersama diri sendiri (penerimaan diri), dan
mengembangkan dimensi spirityal (termasuk nilai, arti, tujuan hidup, dan hubungan kita
dengan alam semesta atau kosmos). Tiap tugas ini membutuhkan perkembangan kapasitas
psikologi untuk persahabatan dan keterlibatan, untuk kontribusi dan keberhargaan diri, dan
untuk kerjasama (Bitter, 2006). Tugas hidup dasar ini sangat penting pada kehidupan
manusia yang mengganggu pada salah satunya sering menjadi sebuah indikator dari kelainan
psikologi (American Psychiatric Association, 2000). Lebih sering, ketika orang-orang
mencari terapi, hal ini dikarenakan mereka berusaha untuk memenuhi satu atau lebih dari
tugas hidup ini (Carlson & Englar-Carlson, 2008).
URUTAN KELAHIRAN DAN HUBUNGAN SAUDARA
Pendekatan Adlerian unk dalam memberikan perhatian khusus pada hubungan antar saudara
dan posisi kelahiran psikologi dalam sebuah keluarga. Adler mengidentifikasi lima posisi
psikologi atau tempat yang menguntungkan, dari mana anak-anak cenderung melihat
kehidupan: tertua, kedua dari dua bersaudara, paling muda, dan anak sendiri. Urutan
kelahiran bukanlah sebuah konsep deterministik tetapi meningkatkan kemungkinan
seseorang untuk memiliki pengalaman tertentu. Urutan kelahiran yang sebenarnya kurang
penting dibandingkan dengan interpretasi individual akan tempatnya dalam keluarga. Karena
Adlerian memandang kebanyakan pada masalah manusia sebagai sosial pada dasarnua,
mereka menekankan hubungan dalam keluarga sebagai sistem sosial kita yang paling awal,
dan mungkin, yang paling berpengaruh.
Adler (1931/1958) mengamati bahwa banyak orang bertanya-tanya mengapa anak-
anak di dalam keluarga yang sama sering berbeda, dan dia menunjukkan bahwa ini adalah
sebuah kesalhan untuk menganggap bahwa anak-anak dalam keluarga yang sama terbentuk
dalam lingkungan yang sama. Meskpun saudara membagi aspek-aspek mendasar dalam
konstelasi keluargam situasi psikologi dari tiap anak berbeda dari yang lain dikarenakan
urutan kelahiran. Deskripsi berikut ini dari pengaruh urutan kelahiran didasarkan pada
Asbacher dan Ansbacher (1964), dan Adler (1931/1958).
1. Anak sulung umumnya mendapat perhatian yang baik, dan selama masa ini, dia
adalah anak tunggal, dia umumnya agak manja sebagai pusat perhatia. Dia cenderung
bergantung dan pekerja keras serta berusaha untuk terus didepan. Ketika saudara baru
hadir, dia mendapati dirinya diusir mereka dari posisi yang disukainya. Dia tidak lagi
unik atau spesial. Dia mungkin percaya bahwa pendatang (atau pengacau) akan
merampas cinta yang telah menjadi kebiasaannya.
2. Anak kedua dari dua bersaudara berada pada posisi yang berbeda. Sejak dia
dilahirkan, dia berbagi perhatian dengan anak yang lain. Anak kedua umumnya
berperilaku jika dia berada dalam sebuah balapan dan umumnya bertenaga sepanjang
waktu. Hal ini karena anak kedua ini berlatih untuk melewati saudaranya yang lebih
tua. Perjuangan kompetitif antara anak pertama dan kedua akan mempengaruhi arah
hidup mereka selanjutnya. Anak bungsu membanguns ebuah kepandaian khususuntuk
menemukan titik lemah anak tertua dan melampauinya untuk mendapatkan pujian dari
kedua orang tua dan guru dengan mencapai kesuksesan dimana anak tertua gagal. Jika
satu orang berbakat di satu bidang, yang lain akan berjuang untuk mendapatkan
pengakuan dengan membangun kemampuan lain di bidang yang ada. Anak kedua
sering kali berlawanan dengan anak pertama.
3. Anak tengah sering kali merasa tertekan. Anak ini bisa jadi diyakinkan akan
ketidakadilah hidup dan merasa dibohongi. Anak ini mungkin menganggap sikap
“kasihan aku”dan dapat menjadi anak yang bermasalah. Penghubung dan pembuat
kedamaian, orang yang menjaga agar tetap bersama. jika ada empat anak dalam
sebuah keluarga, anak kedua sering merasa sebagai anak tengan dan anak ketiga lebih
santai, lebih bersosialisasi, dan akrab dengan anak pertama.
4. Anak bungsu selalu menjadi bayi keluarga dan cenderung menjadi yang paling
dimanja. Dia memiliki peran khusus untuk dimainkan, bagi semua anak lain
sebelumnya. Anak bungsu cenderung menempuh jalannya sendiri. Mereka sering
berkembang dengan cara yang tidak dipikirkan orang lain dalam keluarga.
5. Anak tunggal memiliki masalah sendiri. Meskipun dia berbagi beberapa karakteristik
anak tertua (misalnya, dorongan berprestasi), dia mungkin tidak belajar berbagi atau
bekerja sama dengan anak-anak lain. Dia akan belajar berurusan dengan orang dewasa
dengan baik, karena mereka membentuk dunia keluarga aslinya. Seringkali, anak
tunggal dimanjakan oleh orang tuanya dan mungkin menjadi terikat dengan satu atau
keduanya. Dia mungkin ingin memiliki panggung utama sepanjang waktu, dan jika
posisinya ditantang, dia akan merasa itu tidak adil.
Urutan kelahiran dan interpretasi posisi seseorang dalam keluarga sangat berkaitan dengan
bagaimana orang dewasa berinteraksi di dunia. Individu mendapatkan gaya tertentu
berhubungan dengan orang lain di masa kecil dan membentuk gambaran yang pasti tentang
diri mereka sendiri yang mereka bawa ke dalam interaksi orang dewasa. Dalam terapi
Adlerian, bekerja dengan dinamika keluarga, terutama hubungan antar saudara kandung,
mengasumsikan peran kunci. Meskipun penting untuk menghindari stereotip individu, itu
tidak membantu untuk melihat bagaimana tren kepribadian tertentu yang dimulai pada masa
kanak-kanak sebagai akibat dari persaingan saudara kandung mempengaruhi individu
sepanjang hidup.
Proses Terapi
Tujuan Terapi
Konseling Adlerian bertumpu pada pengaturan kolaboratif antara klien dan konselor. Secara
umum, proses terapeutik termasuk membentuk hubungan berdasarkan sikap saling
menghormati; penyelidikan psikologis holistik atau penilaian gaya hidup; dan
mengungkapkan tujuan yang salah dan asumsi yang salah dalam gaya hidup orang tersebut.
Ini diikuti oleh pendidikan ulang klien menuju sisi kehidupan yang bermanfaat. Tujuan utama
terapi adalah untuk mengembangkan rasa memiliki klien dan untuk membantu dalam adopsi
perilaku dan proses yang ditandai oleh perasaan komunitas dan minat sosial. Ini dicapai
dengan meningkatkan kesadaran diri klien dan menantang serta memodifikasi premis
fundamentalnya, tujuan hidup, dan konsep dasar (Dreikurs, 1967, 1997). Bagi Milliren,
Evans, dan Newbauer (2007), tujuan terapi Adlerian “adalah untuk membantu klien
memahami gaya hidup mereka yang unik dan membantu mereka belajar berpikir tentang diri
sendiri, orang lain, dan dunia serta bertindak sedemikian rupa untuk memenuhi tugas hidup
dengan keberanian dan minat sosial (hlm. 145).
Adlerians tidak melihat klien terapi sebagai orang "sakit" dan perlu "disembuhkan."
Mereka lebih menyukai model pertumbuhan kepribadian lebih dari model penyakit. Seperti
yang dikatakan oleh Mosak dan Maniacci (2008): "Adlerian tertarik bukan untuk
menyembuhkan individu yang sakit atau masyarakat yang sakit tetapi dalam melatih kembali
individu dan membentuk kembali masyarakat" (hlm. 73). Alih-alih terjebak dalam semacam
patologi, klien sering berkecil hati. Proses konseling berfokus pada penyediaan informasi,
pengajaran, membimbing, dan menawarkan dorongan kepada klien yang putus asa. Dorongan
adalah metode paling kuat yang tersedia untuk mengubah keyakinan seseorang, karena itu
membantu klien membangun kepercayaan diri dan merangsang keberanian. Keberanian
adalah kesediaan untuk bertindak bahkan ketika takut dengan cara yang konsisten dengan
kepentingan sosial. Ketakutan dan keberanian berjalan seiring; tanpa rasa takut, tidak perlu
keberanian. Hilangnya keberanian, atau keputusasaan, menghasilkan perilaku yang salah dan
disfungsional. Orang yang patah semangat tidak bertindak sesuai dengan minat sosial.
Konselor Adlerian mendidik klien dengan cara baru dalam memandang diri sendiri,
orang lain, dan kehidupan. Melalui proses menyediakan "peta kognitif" baru kepada klien,
pemahaman mendasar tentang tujuan perilaku mereka, konselor membantu mereka mengubah
persepsi mereka. Mosak dan Maniacci (2008) mendaftar tujuan-tujuan ini untuk proses
pendidikan terapi:
Menumbuhkan minat sosial
Membantu klien mengatasi perasaan berkecil hati dan rendah diri
Mengubah pandangan dan tujuan klien yaitu, mengubah gaya hidup mereka
Mengubah motivasi yang salah
Mendorong individu untuk mengakui kesetaraan di antara masyarakat
Membantu orang-orang untuk menjadi anggota masyarakat yang berkontribusi
Fungsi dan Peran Terapis
Konselor Adlerian menyadari bahwa klien dapat menjadi berkecil hati dan berfungsi secara
tidak efektif karena kepercayaan yang salah, nilai-nilai yang salah, dan tujuan yang tidak
pernah tercapai. Mereka beroperasi dengan asumsi bahwa klien akan merasa dan berperilaku
lebih baik jika mereka menemukan dan memperbaiki kesalahan mendasar mereka. Terapis
cenderung mencari kesalahan besar dalam berpikir dan menilai seperti ketidakpercayaan,
sikap mementingkan diri sendiri, ambisi yang tidak realistis, dan kurangnya kepercayaan diri.
Adlerians mengasumsikan perspektif non-patologis dan dengan demikian tidak
memberi label pada klien berdasarkan diagnosa mereka. Salah satu cara memandang peran
terapis Adlerian adalah bahwa mereka membantu klien dalam memahami, menantang, dan
mengubah kisah hidup mereka dengan lebih baik. “Ketika individu mengembangkan kisah
kehidupan yang mereka temukan membatasi dan masalah menjadi jenuh, tujuannya adalah
untuk membebaskan mereka dari kisah itu demi sebuah cerita alternatif yang disukai dan
sama-sama layak” (Disque & Bitter, 1998, hal. 434).
Fungsi utama terapis adalah membuat penilaian komprehensif tentang fungsi klien.
Terapis sering mengumpulkan informasi tentang gaya hidup individu melalui kuesioner di
konstelasi keluarga klien, yang meliputi orang tua, saudara kandung, dan orang lain yang
tinggal di rumah, tugas hidup, dan ingatan awal. Ketika diringkas dan ditafsirkan, kuesioner
ini memberikan gambaran tentang dunia sosial awal individu. Dari informasi tentang
konstelasi keluarga ini, terapis dapat memperoleh perspektif tentang bidang utama
keberhasilan dan kegagalan klien dan pada pengaruh kritis yang telah mempengaruhi peran
klien yang diasumsikan dalam hidup.
Konselor juga menggunakan ingatan awal sebagai prosedur penilaian. Ingatan Awal
atau Early Recollection (ERs) didefinisikan sebagai "kisah peristiwa yang seseorang katakan
terjadi [satu kali] sebelum dia berusia 10 tahun" (Mosak & Di Pietro, 2006, hal. 1). UGD
adalah insiden spesifik yang diingat klien, bersama dengan perasaan dan pikiran yang
menyertai insiden masa kecil ini. Ingatan ini sangat berguna dalam mendapatkan pemahaman
yang lebih baik tentang klien (Clark, 2002). Setelah ingatan awal ini dirangkum dan
ditafsirkan, terapis mengidentifikasi beberapa keberhasilan dan kesalahan utama dalam
kehidupan klien. Tujuannya adalah untuk memberikan titik tolak bagi usaha terapeutik. ERs
sangat berguna sebagai perangkat penilaian fungsional karena mereka menunjukkan apa yang
klien lakukan dan bagaimana mereka berpikir dengan cara adaptif dan maladaptif (Mosak &
Di Pietro, 2006). Proses mengumpulkan ingatan awal adalah bagian dari apa yang disebut
penilaian gaya hidup, yang melibatkan pembelajaran untuk memahami tujuan dan motivasi
klien. Ketika proses ini selesai, terapis dan klien memiliki target untuk terapi.
Mosak dan Maniacci (2008) menganggap mimpi sebagai bagian yang berguna dari
proses penilaian. Freud berasumsi bahwa mimpi adalah upaya memecahkan masalah lama,
dan Adler memandang mimpi sebagai latihan kemungkinan tindakan di masa depan. Sama
seperti ingatan awal yang mencerminkan tujuan jangka panjang klien, mimpi menyarankan
kemungkinan jawaban untuk masalah klien saat ini. Dalam menafsirkan mimpi, terapis
mempertimbangkan fungsi tujuan mereka. Mosak dan Maniacci (2008) menegaskan: "Mimpi
berfungsi sebagai baling-baling cuaca untuk perawatan, membawa masalah ke permukaan
dan menunjuk ke gerakan pasien" (hal. 84).
Pengalaman Klien dalam Terapi
Bagaimana klien mempertahankan gaya hidup mereka, dan mengapa mereka menolak
mengubahnya? Gaya hidup seseorang melayani individu dengan tetap stabil dan konstan.
Dengan kata lain, itu bisa diprediksi. Namun, itu juga tahan terhadap perubahan sepanjang
sebagian besar kehidupan seseorang. Umumnya, orang gagal untuk berubah karena mereka
tidak mengenali kesalahan dalam pemikiran mereka atau tujuan perilaku mereka, tidak tahu
apa yang harus dilakukan secara berbeda, dan takut meninggalkan pola lama untuk hasil yang
baru dan tidak terduga. Dengan demikian, meskipun cara berpikir dan perilaku mereka tidak
berhasil, mereka cenderung berpegang teguh pada pola-pola yang sudah dikenal (Sweeney,
1998). Klien dalam konseling Adlerian memfokuskan pekerjaan mereka pada hasil yang
diinginkan dan gaya hidup tangguh yang dapat memberikan denah baru untuk tindakan
mereka.
Dalam terapi, klien mengeksplorasi apa yang disebut Adlerians sebagai logika
pribadi, konsep tentang diri, orang lain, dan kehidupan yang membentuk filosofi yang
menjadi dasar gaya hidup individu. Logika pribadi melibatkan keyakinan dan keyakinan kami
yang menghalangi kepentingan sosial dan yang tidak memfasilitasi kepemilikan yang
bermanfaat dan konstruktif (Carlson, Watts, & Maniacci, 2006). Masalah klien muncul
karena kesimpulan berdasarkan logika pribadi mereka sering tidak sesuai dengan persyaratan
kehidupan sosial. Inti dari pengalaman terapi terdiri dari klien yang menemukan tujuan
perilaku atau gejala dan kesalahan dasar yang terkait dengan koping mereka. Mempelajari
cara memperbaiki asumsi dan kesimpulan yang salah adalah inti dari terapi.
Untuk memberikan contoh nyata, pikirkan seorang pria paruh baya yang mengalami
depresi kronis yang memulai terapi. Setelah penilaian gaya hidup selesai, kesalahan dasar
ini diidentifikasi:
Dia telah meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada yang benar-benar peduli
padanya.
Dia menolak orang-orang sebelum mereka memiliki kesempatan untuk menolaknya.
Dia sangat kritis terhadap dirinya sendiri, mengharapkan kesempurnaan.
Dia memiliki harapan bahwa hal-hal yang jarang akan berhasil dengan baik.
Dia membebani dirinya dengan rasa bersalah karena dia yakin dia mengecewakan
semua orang.
Meskipun pria ini mungkin telah mengembangkan gagasan-gagasan keliru tentang kehidupan
ketika ia masih muda, ia masih berpegang teguh pada mereka sebagai aturan untuk hidup.
Harapannya, yang sebagian besar pesimistis, cenderung terpenuhi karena pada tingkat
tertentu ia berusaha untuk memvalidasi kepercayaannya. Memang, depresinya pada akhirnya
akan membantu dia menghindari kontak dengan orang lain, tugas hidup yang dia harapkan
gagal. Dalam terapi, pria ini akan belajar bagaimana menantang struktur logika pribadinya.
Dalam kasusnya, silogisme berjalan sebagai berikut:
"Pada dasarnya aku tidak bisa dicintai."
"Dunia ini dipenuhi dengan orang-orang yang cenderung menolak."
"Karena itu, aku harus menjaga diriku sendiri agar aku tidak terluka."
Orang ini berpegang pada beberapa kesalahan mendasar, dan logika pribadinya menawarkan
fokus psikologis untuk perawatan. Mosak (1977) dapat mengidentifikasi beberapa tema
sentral atau keyakinan dalam kehidupan klien ini: “Saya harus mendapatkan apa yang saya
inginkan dalam hidup.” “Saya harus mengendalikan segala sesuatu dalam hidup saya.” “Saya
harus tahu segala sesuatu yang perlu diketahui, dan kesalahan akan menjadi bencana besar. "
“Saya harus sempurna dalam semua hal yang aku lakukan.”
Sangat mudah untuk melihat bagaimana depresi dapat mengikuti dari pemikiran ini,
tetapi Adlerians juga tahu bahwa depresi berfungsi sebagai alasan untuk mundurnya pria ini
dari kehidupan. Penting bagi terapis untuk mendengarkan tujuan yang mendasari perilaku
klien ini. Adlerians melihat perasaan selaras dengan pemikiran dan sebagai bahan bakar
untuk berperilaku. Pertama kita berpikir, merasakan, dan bertindak. Karena emosi dan
kognitif melayani tujuan, banyak waktu terapi dihabiskan untuk menemukan dan memahami
tujuan ini dan dalam reorientasi klien ke arah cara yang efektif. Karena klien tidak dianggap
oleh terapis sakit mental atau terganggu secara emosional, tetapi karena tidak dianjurkan,
terapis akan menawarkan dorongan kepada klien sehingga perubahan mungkin terjadi.
Melalui proses terapeutik, klien akan menemukan bahwa ia memiliki sumber daya dan opsi
untuk digunakan dalam menangani masalah kehidupan yang signifikan dan tugas kehidupan.
Hubungan Antara Terapis dan Klien
Adlerians menganggap hubungan klien-terapis yang baik menjadi satu di antara yang
sederajat yang didasarkan pada kerja sama, rasa saling percaya, rasa hormat, keyakinan,
kolaborasi, dan penyelarasan tujuan. Mereka menempatkan nilai khusus pada model
komunikasi konselor dan bertindak dengan itikad baik. Dari awal terapi, hubungan ini adalah
hubungan kolaboratif, yang ditandai oleh dua orang yang bekerja sama untuk tujuan spesifik
yang disepakati. Terapis Adlerian berusaha untuk membangun dan mempertahankan aliansi
terapeutik egaliter dan hubungan orang-ke-orang dengan klien mereka. Mengembangkan
hubungan terapeutik yang kuat sangat penting untuk hasil yang sukses (Carlson et al., 2006).
Dinkmeyer dan Sperry (2000) menyatakan bahwa pada awal konseling klien harus mulai
merumuskan rencana, atau kontrak, merinci apa yang mereka inginkan, bagaimana mereka
berencana untuk mencapai tujuan mereka, apa yang mencegah mereka untuk berhasil
mencapai tujuan mereka, bagaimana mereka dapat mengubah perilaku non-produktif menjadi
perilaku konstruktif, dan bagaimana mereka dapat memanfaatkan sepenuhnya aset mereka
untuk mencapai tujuan mereka. Kontrak terapi ini berfungsi untuk menentukan tujuan proses
konseling dan menjabarkan kewajiban terapis dan klien. Membuat kontrak bukanlah suatu
keharusan dalam terapi Adler, namun kontak berfungsi untuk membuat terapi semakin
befokus.
Penerapan: Teknik dan Prosedur Terapi
Bentuk konseling Adler disusun atas empat tujuan utama yang menjadi basis empat
tahapan proses terapi (Dreikurs, 1967). Tahapan-tahapan ini tidak bersifat linear dan baku;
namun dapat dianggap sebagai suatu rangkaian terpisah yang tersusun menuju kesatuan.
Berikut tahapan-tahapannya:
1. Membangun hubungan terapi yang baik.
2. Mengeksplor dinamika psikologis dalam diri klien (sebuah penilaian).
3. Mendorong proses pemahaman diri (pencerahan terkait tujuan)
4. Membantu klien membuat keputusan baru (reorientasi dan re-edukasi).
Dreikurs (1997) menggabungkan tahapan-tahapan ini menjadi psikoterapi minor dalam
konteks pengobatan yang bersifat holistik. Pendekatan terapinya telah dielaborasikan ke
dalam terapi Adler singkat atau TAS (Bitter, Christensen, Hawes, & Nicoll, 1998). Di
bawah ini adalah pembahasan cara kerja tahap-tahap ini.
Tahap 1: Membangun Hubungan
Praktisi yang menggunakan pendekatan Adler menerapkan pendekatannya secara
kolaboratif dengan klien, dan hubungan ini didasarkan atas kepedulian, keterlibatan, dan
persahabatan. Proses terapi hanya dapat terjadi ketika terdapay kesepakatan mengenai
tujuan yang ingin dicapai dalam terapi oleh klien dan terapis itu sendiri. Agar konseling
dapat menjadi efektif, proses konseling yang dilakukan harus melibatkan isu-isu pribadi
diri klien yang klien ingin eksplor dan ubah. Efikasi terapi di tahapan-tahapan berikutnya
dalam terapi model Adler didasarkan atas perkembangan dan kesinambungan hubungan
terapi yang dijalin selama tahap awal terapi (Watts, 2000; Watts & Pierzak, 2000).
Terapis pengguna model Adler berusaha untuk membangun hubungan pendekatan
pribadi dengan klien terlebih dahulu. Mereka tidak memulai proses terapinya dengan
pembahasan “masakah” yang dihadapi klien. Klien tidak akan menunggu lama untuk
menceritakan masalahnya, namun fokus awalnya adalah kepada diri klein itu sendiri,
bukan pada masalah yang dihadapinya. Salah satu cara bagi terapis untuk membangun
hubungan efektif adalah dengan membantu klien lebih menyadari kekuatan dan
kapabilitas yang ia miliki daripada terus-menerus memikirkan ketidakmampuan diri
mereka. Pada tahapan awal, hubungan positif dibangun dengan mendengarkan, merespon,
dan menghargai kapasitas klien untuk memahami mengapa dan bagaimana ia
mendapatkan perubahan, serta memberikan harapan dan kepedulian pada klien. Ketika
klien melakukan terapi, mereka umumnya kehilangan rasa percaya pada diri mereka
sendiri. Mereka tidak yakin akan kemampuan mereka untuk menghadapi masalah
kehidupan mereka. Terapis berfungsi untuk memberikan dukungan, yang merupakan
suatu obat melawan keputusasaan. Bagi beberapa orang, terapi dapat menjadi pengalaman
dimana mereka benar-benar merasakan hubungan manusia yang saling peduli satu sama
lain.
Para terapis pengguna model Adler lebih memberikan perhatian khusus pada
pengalaman subyektif klien dibandingkan pada teknik terapi yang mereka gunakan.
Mereka menyesuaikan teknik mereka sesuai dengan kebutuhan klien. Di tahap awal
konseling, teknik utama yang mereka gunakan adalah dengan memperhatikan,
mendengarkan secara empatik, dan mengikuti pengalaman subyektif klien semaksimal
mungkin, mengenali dan memperjelas tujuan untuk klien, serta memberikan sugesti pada
klien terkait gejala, tindakan, dan interaksi mereka. Konselor pengguna model Adler
umumnya aktif dalam proses konseling, khususnya di sesi-sesi awal konseling. Mereka
memberikan struktur dan membantu klien menyusun tujuan-tujuan yang ingin ia raih,
mereka melakukan peninjauan psikologis lalu memberikan interpretasi-interpretasi yang
mereka temukan (Carlson et al., 2006). Terapis pengguna model Adler beruasaha untuk
memahami pesan-pesan verbal dan non-verbal klien; mereka ingin mengakses pola inti
dalam hidup klien. Jika klien merasa dimengerti, klien akan dapat menjadi lebih fokus
untuk menyusun tujuan yang mereka ingin raih dan menemukan apa yang mereka cari
dalam terapi. Pada tahap ini, fungsi konselor adalah untuk memberikan sudut pandang
luas yang akan membantu klien melihat dunianya dengan perspektif yang berbeda.
Tahap 2: Mengeksplor Dinamika Psikologis Individu
Tujuan tahap kedua konseling model Adler ini adalah untuk memperoleh pemahaman
lebih dalam terkait gaya hidup klien sebagai individu. Selama tahap peninjauan ini, proses
terapi difokuskan pada konteks sosial dan kultural klien. Praktisi model Adler tidak
berusaha untuk menyesuaikan pandangan subyektif klien ke dalam suatu model
pandangan yang telah ditentukan sebelumnya, namun mereka membiarkan konsep
identitas kultural klien muncul dengan sendirinya selama proses terapi, lalu isu-isu yang
ditemukan pun kemudian dibahas (Varlson & Englar-Carlson, 2008). Tahap peninjauan
ini dilakukan dalam dua bentuk wawancara yang berbeda; wawancara subyektif dan
wawancara obyektif (Dreikurs, 1997). Dalam wawancara subyektif, konselor membantu
klien untuk menceritakan kehidupan mereka seutuh mungkin. Dalam proses ini, terapis
mendengarkan dan memberikan respon dengan empati. Namun, mendengarkan secara
aktif saja tidak cukup. Wawancara subyektif ini harus didasarkan atas rasa kagum,
tertarik, dan takjub. Hal-hal yang klien ceritakan akan menumbuhkan rasa tertarik
konselor dan kemudian akan menuntun terapis untuk memberikan pertanyaan penting
terkait cerita hidup mereka. Bentuk wawancara subyektif yang baik adalah yang
menjadikan klien sebagai orang yang paling mengerti hidup mereka, yang membuat klien
merasa benar-benar didengarkan. Selama wawancara subyektif berlangsung, konselor
berusaha untuk mendapatkan petunjuk terkait pendekatan dan cara klien menyikapi hidup
dari cerita yang ia dengarkan. “Wawancara subyektif seharusnya dapat mengekstraksi
pola kehidupan seseorang, mengembangkan hipotesis terkait apa yang sesuai untuk klien,
dan menentukan penyebab berbagai permasalahan hidup klien” (Bitter et al., 1998, hal.
98). Di bagian akhir wawancara ini, terapis akan bertanya: “Apakah masih ada hal lain
yang perlu saya ketahui untuk memahami diri anda dan masalah yang anda hadapi?”
Peninjauan awal untuk menemukan gejala, tindakan, atau kesulitan dalam hidup
seseorang dapat ditemukan dari apa yang Dreikurs (1997) sebut sebagai
Pertanyaannya.” Terapis pengguna model Adler biasanya mengakhiri wawancara
subyektif dengan pertanyaan berikut: “Bagaimana hidupmu dapat berubah, dan hal apa
yang anda ubah jika anda tidak memiliki gejala atau masalah ini?” Penganut model Adler
menggunakan pertanyaan ini untuk menangani diagnosis berbeda. Seringkali, gejala atau
masalah yang dialami klien dapapt membuat klien menghindari suatu hal yang dianggap
perlu namun tidak ingin dilakukan, biasanya berupa tanggung jawab dalam hidup: “Jika
bukan karena depresi yang kumiliki, saya pasti akan lebih sering keluar dan ketemuan
dengan teman-teman saya” Perkataan seperti ini mengabaikan kekhawatiran klien untuk
menjadi teman yang baik atau untuk diterima oleh teman-temannya. Pernyataan klien
“Saya perlu menikah, tapi bagaimana saya bisa menikah jika saya memiliki penyakit
serangan panik ini?” memberikan idnikasi bahwa klien merasa khawatir untuk menjadi
pasangan seseorang. Depresi dapat menjadi solusi yang dijadikan alasan oleh klien ketika
ia menghadapi masalah dalam suatu hubungan. Jika klien melaporkan bahwa ia tidak
mengalami perubahan, khususnya perubahan jasmani dalam dirinya, terapis pengguna
model Adler akan menyimpulkan bahwa masalah yang dihadapi klien mungkin berupa
masalah yang memerlukan intervensi medis.
Wawancara obyektif bertujuan untuk menemukan informasi mengenai (a)
bagaimana masalah hidup klien ini muncul; (b) peristiwa-peristiwa kemungkinan
penyebab; (c) riwayat medis, termasuk pengobatan dulu dan sekarang; (d) sejarah sosial;
(e) alasan mengapa klien kali ini memilih terapi; (f) cara klien menghadapi masalah
kehidupannya; dan (g) peninjauan gaya hidup. Mozdxierz dan kolega (1986)
menggambarkan konselor sebagai seorang “penyelidik gaya hidup” dalam tahapan terapi
ini. Berdasarkan pendekatan wawancara yang dikembangkan oleh Adler dan Dreikurs,
peninjauan gaya hidup dimulai dengan menyelediki konstelasi keluarga klien dan riwayat
masa kecil klien ((Eckstein & Baruth, 1996; Powers & Griffith, 1987; Shulman & Mosak,
1988). Konselor juga menginterpretasi kenangan masa lalu klien, berusaha untuk
memahami makna yang ia terapkan dalam hidupnya. Mereka juga melakukan penanganan
dengan dasar asumsi bahwa interpretasi terkait diri sendiri, orang lain, dunia, dan
kehidupan yang kita kembangkan sendiri adalah interpretasi yang menuntun perilaku kita.
Peninjauan gaya hidup ini berusaha untuk mengembangkan naratif holistik hidup
seseorang, untuk memasuk akalkan bagaimana cara ia menghadapi permasalahan
hidupnya, dan untuk membuka interpretasi pribadi dan logika dibalik cara yang ia
gunakan. Contohnya, jika Jenny selama ini menghabiskan hidupnya di lingkungan yang
selalu menilai diri seseorang, dan sekarang ia merasa bahwa ia harus menjadi sempurna
agar tidak kelihatan gagal, maka proses peninjauan yang diterapkan kepada Jenny akan
menyoroti gaya hidupnya yang memunculkan perspektif dalam diri Jenny ini
KONSTELASI KELUARGA Adler menganggap bahwa keluarga inti seseorang memiliki
dampak pada kepribadian seseorang tersebut. Adler mengatkan bahwa melalui konstelasi
keluarganya lah tiap orang membentuk pandangan unik mengenai dirinya sendiri, orang
lain, dan kehidupan. Pengaruh-pengaruh seperti nilai-nilai budaya dan keluarga,
ekspektasi gender, dan bentuk hubungan intrapersonal, semuanya dipengaruhi oleh
observasi individu ketika masih anak-anak melihat pola interaksi dalam keluarga,
Peninjauan Adler ini sangat bergantung pada eksplorasi konstelasi keluarga klien,
termasuk tinjauan klien sendiri mengenai kondisi yang ada dalam keluarganya ketika ia
masih anak-anak (atmosfer keluarga), susunan kelahiran, hubungan dan nilai-nilai
keluarga, serta budaya dan keluarga jauh. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang selalu
dieksplor terkait konstelasi keluarga:
Siapa anak yang paling disayangi?
Bagaimana hubungan ayahmu dengan anak-anak mereka? kalau Ibumu?
Di antara semua anak kedua orangtuamu, soapa yang paling mirip dengan
ayahmu? kalau yang paling mirip dengan Ibumu? Dalam hal apa?
Siapa saudaramu yang paling berbeda denganmu? Dalam hal apa?
Siapa saudaramu yang paling mirip denganmu? Dalam hal apa?
Bagaimana dirimu ketika masih menjadi anak kecil?
Bagaimana hubungan antar kedua orangtuamu? Dalam hal apa mereka berdua
sepakat? Bagaimana mereka mengatasi ketidaksepakatan? Bagaimana mereka
mendisiplinkan anak-anak mereka?
Sebuah investigasi dari konsetelasi keluarga jauh lebih konprehensif dari pada
beberapa pertanyaan itu, tetapi pertanyaan tersebut memberikan sebuah ide tentang
jenis informasi yang dicari oleh konselor. Pertanyaan sering dihubungkan dengan
klien individu dengan tujuan untuk mendapatkan persepsi klien tentang diri sendiri,
orang lain, tentang perkembangan, dan tentang pengalaman yang telah mempengaruhi
perkembangan tersebut.
REKOLEKSI AWAL seperti yang anda akan ingat, prosedur kajian lain yang
digunakan oleh Adlerian adalah untuk menanyakan klien untuk menyediakan memori
terdahulunya, termasuk usia pada kejadiaan yang diingat dan perasaan atau reaksi
yang berhubungan dengan rekoleksi. Rekoleksi terdahulu merupakan kemunculan
satu kali yang ditangkap oleh klien dengan rindian yang jelas. Adler berpikir bahwa
diantara jutaan memori dari memori terdahulu kita mungkin telah memilih memori
khusus yang memproyeksikan keyakinan penting dan bahwa kesalahan dasar dari
hidup kita. Rekoleksi terdahulu adalah sebuah rentetan dari misteri kecil yang dapat
tenun bersama dan menyediakan sebuah permadani yang mengantarkan pada sebuah
pemahaman tentang bagaimana kita memandang diri kita, bagaimana kita melihat
dunia, apa tujuan hidup kita, apa yang memotivasi kita, apa yang kita hargai dan
percayai, dan apa yang kita antisipasi di masa depan (Clark, 2002; Mosak & Di
Pietro, 2006).
Memori terdahulu memberikan cahaya pada “kisah hidup kita” karena mereka
merepresentasekan metafora untuk pandangan kita saat ini. Dari rangkaian rekoleksi
terdahulu, hal ini mungkin untuk mendapatkan sebuah pandangan yang jelas tentang
pernyataan salah, sikap saat ini, ketertarikan sosial, dan perilaku yang mungkin di
masa depan. Rekoleksi awal merupakan contoh khusus yang diberitahukan klien
kepada terapis, dan mereka yang berbagi cerita (Mosak & Di Pietro, 2006).
Mengeksplor rekoleksi awal mencakup menemukan bagaimana pernyataan yang salah
berdasarkan tujuan dan nilai yag salah terus menciptakan masalah dalam kehidupan
seseorang.
Untuk mengetuk rekoleksi seperti itu, koselor dapat meneruskan seperti
berikut: “ Saya ingin mendengar tentang memori terdahulu anda. Ingat kembali ketika
adna masih muda seawal mungkin yang anda bisa (sebelum usia 10 tahun), dan
beritahukan saya sesuatu yang terjadi saat itu.” Setelah menerima setiap memori,
konselor juga mungkin menanyakan Bagian mana yang paling anda ingat? Bagian
mana yang paling samar dari memori anda dulu? Jika anda memainkan semua memori
seperti sebuah film dan berhenti di satu kejadian, apa yang terjadi? Dengan
menempatkan diri anda di saat itu, apa yang anda rasakan? Apa reaksi anda? Tiga
memori biasanya dianggap sebagai minimal untuk mengkaji sebuah pola, dan
beberapa konselor menanyakan sebanyak mungkin memori.
Terapis Adlerian menggunakan rekoleksi awal untuk berbagai tujuan yang
berbeda. Hal ini mencakup (a) kajian keyakinan diri kepada diri sendiri, orang lain,
kehidupan, dan etika; (b) kajian akan kedudukan klien dalam hubungannya dengan
sesi konseling dan hubungan konseling; (c) verifikasi pola yang dihadapi; dan (d)
kajian tentnag kekuatan, aset, dan ide individu ( Bitter et al., 1998 p. 99).
Dalam menginterpretasi rekoleksi awal ini, Alderian dapat
mempertimbangkan pertanyaan seperti berikut:
Bagian mana yang seseorang ambil dari memori? Apa orang tersebut adalah
pengamat atau partisipan?
Siapa lagi yang ada di memori itu? Apa kedudukan oranglain itu dalam hubungannya
dengan seseorang?
Apa tema dominan dan keseluruhan pola dari memori?
Perasaan apa yang diekspresikan didalam memori?
Mengapa orang tersebut memilih untuk mengingat kejadian ini? Apa yang coba
disampaikan oleh orang tersebut?
INTEGRASI DAN KESIMPULAN Ketika materi telah dikumpulkan dari wawancara
subjektif dan objektif dengan klien, kesimpulan terintegrasi dari data dikembangkan.
Kesimpulan yang berbeda dipersiapkan untuk klien yang berbeda, tetapi yang umum
adalah kesimpulan naratif dari pengalaman subjektif dan kisah hidup dari klien;
kesimpulan dari konstelasi keluarga dan data yang berkembang; kesimpulan dari
rekoleksi awal, kekuatan atau aset pribadi, dan ide yang bertentangan; dan kesumpulan
dari strategi mengatasi. Kesimpulan disajikan kepada klien dan di diskusikan di dalam
sesi, dengan klien dan konselor secara bersama menyaring poin khusus. Ini menyediakan
klien dengan kesempatan untuk mendiskusikan topik tertentu dan untuk memberikan
pertanyaan.
Mosak dan Maniacci (2008) percaya bahwa gaya hidup dapat disusun sebagai
mitologi personal. Orang-orang berperilaku seolah mitos itu benar karena, bagi mereka
itu adalah benar.Mosak dan Maniacci menuliskan daftar lima kesalahan dasar pada apa
yang penting dalam psikologi Adlerian dan teori perilaku-kognitif:
1. Overgeneralisasi : “tidak ada keadilan di dunia ini”.
2. Tujuan keamanan yang salah atau mustahil: “ saya harus menyenangkan seorang jika
saya ingin merasa dicintai”
3. Misperspsi akan hidup dan kebutuhan hidup; “ hidup sangat sulit bagi saya”
4. Meminimalkan atau menyangkal nilai dasar seseorang: saya pada dasarnya bodoh,
lalu bagaimana mungkin orang-ornag menginginkan sesuatu dari saya?”
5. Nilai salah: saya harus mencapai puntak, tidak peduli siapapun yang saya sakiti
dalam prosesnya”
Sebagai contoh lain dari kesimpulan kesalahan dasar, perhatikanlah daftar pernyataan
salah dibawah ini yang merupakan bukti di dalam autobiografi Stan (Lihat bab 1)
“jangan terlalu dengan orang, khususya perempuan, karena mereka mencekik dan
mengontrol kamu jika mereka bisa” (overgeneralisasi)
“saya tidak begitu diinginkan oleh orang tua saya, jadi akan lebih baik jika saya
tidak terlihat (penyangkalan pada nilai dasar seseorang)
“Sangat penting orang menyukai dan mengakui saya; saya akan jungkir balik
untuk melakukan apa yang orang lain harapkan” (tujuan yang salah atau mustahil)
Sebagai tambahan konsep kesalahan dasar, teori Adlerian menggunakannya dalam
membantu klien untuk mengidentifikasi dan mengkaji beberapa ketakutan dasar
mereka. ketakutan ini termasuk menjadi tidak sempurna, mudah diserang,
mencela, dan menderita dari penyesalan masa lalu (Carlson & Englar-Carlson,
2008).
Buku pedoman siswa yang menemani buku ini memberikan sebuah contoh
nyata dari kajian gaya hidup karena ini diaplikasikan pada kasus Stan. Dalam
Case Approach to Counseling and Psychotherapy (Corey, 2009, cap. 3), Drs. Jim
Bitter dan Bill Nicoll menyajikan sebuah kajian gaya hidup dari klien hipotesis
yang lain, Ruth.
Tahap 3 : Mendorong Pemahaman diri dan Pandangan
Selama tahap ketiga ini, terapis Adlerian menginterpretasikan penemuan dari kajian
sebagai sebuah jalan yang untuk mempromosikan pemahaman diri dan pandangan. Mosak
dan Maniacci (2008) mendefinisikan pandangan sebagai pemahaman yang diterjemahkan
kedalam aksi konstruktif” (p. 84). Ketika Adlerian membicarakan tentang pandanga, mereka
mengacu pada sebuah pemahaman dari motivasi yang mengoperaskan kehidupan klien.
Pemahaman diri hanya menjadi mungkin ketika tujuan yang tersemunyi dari perilaku dibuan
secara sadar.Adlerian menganggap pandangan sebuah sebuah bentuk khusus dari kesadarn
yang memfasilitasi pemahaman penuh makna di dalam hubungan terapiutik dan bertinda
sebagai sebuah fondasi perubahan. Pandanga adalah alat untuks sebuah akhir, dan bukan
akhir itu sendiri orang-orang dapat membuat perubahan yang cepat dan signifikan tanpa
banyak pandanga.
Penyingkapan dan interpretasi waktu yang tepat merupakan teknik yang memfasilitasi
proses mencapai pandangan. Interpretasi berhubungan dengan klien mendasari motif untuk
berperilaku yang terkait dengan menciptakan kesadaran dari arah hidup seseorang, tujuan
hidup seseorang, logika pribadi dan bagaimana ia bekerja, dan perilaku saat ini.
Interpretasi Adlerian merupakan sarah yang disajikan secara tentatif dalam bentuk
dari pembagian terbuka-tertutup yang dapat dieksplor di dalam sesi. Mereka menduga atau
menebak, dan mereka sering dinyatakan seperti bagi saya itu sepertinya...,” “itu
mungkin...”, atau ini menurut saya...” karena interpretasi disajikan dalam sikap ini, klien
tidak diarahkan untuk memberla dirinya, dan mereka merasa bebas untuk mendiskusikan
bahwa berrgumentasi dengan impresi dan dugaan konselor . melalui proses ini, konselor dan
kloen dengan cepat memahami motivasi klien, cara dimana motivasi saat ini berkontribusi
untuk mempertahankan masalah, dan apa yang bisa dilakukan klien untuk memperbaiki
situasi.
Tahap 3 : Reorientasi dan Reedukasi
Tahapan final dari proses terapiutik adalah tahapan orientasi-aksi dikenal sebagai
reorientasi dan reedukasi : menaruh pandangan kedalam praktek. Tahapan ini berfokus
membantu orang menmukan pandangan yang baru dan lebih fungsional. Klien didorong dan
ditantang untuk mengembangkan keberanian untuk mengambil resiko dan membuat
perubahan dalam hidupnya.
Adlerian tertarik lebih dari sekedar mengubah perilaku. Reorientasi mencakup
perubahan aturan dan interaksi, proses, serta motivasi. Perubahan ini difasilitasi melalui
perubahan kesadarn, yang sering muncul selama sesi terapi dan ditransformasi kedalam
tindakan diluar kantor terapi ( lihat sesi tujuan terapi). Adlerian mengajarkan, membimbing,
menyediakan informasi dan menawarkan keberanian kepada klien yang tidka bersemangat.
Dalam beberapa kasus, perubahan signifikan dibutuhkan jika klien untuk mengatasi
keputusasaan dan meneukan sebuah tempat untuk dirinya dalam hidup. Lebih sering, orang
hanya harus direorientasikan menuju sisi kehidupan yang berguna. Sisi yang berguna
mencakup rasa kepemilikan dan dihargai, memiliki ketertarikan pada orang lain serta
kesejahteraannya, keberanian, penerimaan akan ketidaksempurnaan, kepercayaan diri, selera
humor, keikhlasan untuk berkontribusi, dan keakraban yang nyaman.
Sisi kehidupan yang tidak berguna dicirikan oleh penyerapan diri, penarikan diri dari tugas-
tugas kehidupan, perlindungan diri, atau tindakan terhadap sesama manusia. Orang-orang di
sisi kehidupan yang tidak berguna menjadi kurang fungsional dan lebih rentan terhadap
psikopatologi. Terapi Adler bertentangan dengan depresiasi diri, isolasi, dan kemunduran,
dan berusaha membantu klien mendapatkan keberanian dan untuk terhubung dengan
kekuatan dalam diri mereka sendiri, orang lain, dan kehidupan. Sepanjang fase ini, tidak ada
intervensi yang lebih penting daripada dorongan.
PROSES DORONGAN Dorongan adalah prosedur Adler yang paling khas, dan merupakan
pusat dari semua fase konseling dan terapi. Ini sangat penting karena orang-orang
mempertimbangkan perubahan dalam hidup mereka. Dorongan secara harfiah berarti
“membangun keberanian.” Keberanian berkembang ketika orang menjadi sadar akan
kekuatan mereka, ketika mereka merasa menjadi bagian dan tidak sendirian, dan ketika
mereka memiliki rasa harapan dan dapat melihat kemungkinan-kemungkinan baru bagi diri
mereka sendiri dan kehidupan sehari-hari mereka. Dorongan mengharuskan untuk
menunjukkan kepercayaan pada orang-orang, mengharapkan mereka untuk memikul
tanggungjawab atas kehidupan mereka, dan menilai mereka untuk siapa mereka (Carlson et
al., 2006). Carlson dan Englar-Carlson (2008) mencatat bahwa dorongan melibatkan
pengakuan bahwa hidup bisa sulit, namun penting untuk menanamkan rasa kepercayaan pada
klien bahwa mereka dapat membuat perubahan dalam hidup. Milliren, Evans, dan Newbauer
(2007) menganggap dorongan sebagai kunci dalam mempromosikan dan mengaktifkan
kepentingan sosial. Mereka menambahkan bahwa dorongan adalah intervensi terapi universal
untuk konselor Adler, bahwa itu lebih kepada sikap mendasar daripada teknik. Karena klien
sering tidak mengenali atau menerima kualitas positif mereka, kekuatan, atau sumber daya
internal, salah satu tugas utama konselor adalah membantu mereka melakukannya.
Adlerian percaya keputusasaan adalah kondisi dasar yang mencegah seseorang
berfungsi, dan mereka melihat dorongan sebagai penangkal. Sebagai bagian dari proses
dorongan, Adlerian menggunakan berbagai teknik kognitif, perilaku, dan pengalaman untuk
membantu klien mengidentifikasi dan menantang kognisi yang mengalahkan diri sendiri,
menghasilkan alternatif persepsi, dan memanfaatkan aset, kekuatan, dan sumber daya
(Ansbacher & Ansbacher, 1964; Dinkmeyer & Sperry, 2000; Watts & Pietrzak, 2000; Watts
& Shulman, 2003).
Dorongan mengambil banyak bentuk, tergantung pada fase proses konseling. Dalam
fase hubungan, dorongan muncul dari rasa saling menghormati yang ingin dibimbing oleh
konselor. Dalam fase penilaian, yang sebagian dirancang untuk menerangi kekuatan pribadi,
klien didorong untuk menyadari bahwa mereka bertanggungjawab atas kehidupan mereka
sendiri dan dapat membuat pilihan berbeda berdasarkan pemahaman baru. Selama reorientasi,
dorongan muncul ketika kemungkinan-kemungkinan baru dihasilkan dan ketika orang-orang
diakui dan ditegaskan untuk mengambil langkah-langkah positif untuk mengubah hidup
mereka menjadi lebih baik.
PERUBAHAN DAN PENCARIAN UNTUK KEMUNGKINAN BARU Selama fase
reorientasi konseling, klien membuat keputusan dan memodifikasi tujuan mereka. Mereka
didorong untuk bertindak seolah-olah mereka adalah orang yang mereka inginkan, yang dapat
berfungsi untuk menantang asumsi yang membatasi diri. Klien diminta untuk menangkap diri
mereka dalam proses pengulangan pola lama yang menyebabkan perilaku tidak efektif.
Komitmen adalah bagian penting dari reorientasi. Jika klien berharap untuk berubah, mereka
harus bersedia untuk mengatur tugas untuk diri mereka sendiri dalam kehidupan sehari-hari
dan melakukan sesuatu yang spesifik tentang masalah mereka. Dengan cara ini, klien
menerjemahkan wawasan baru mereka ke dalam tindakan nyata. Bitter dan Nicoll (2004)
menekankan bahwa perubahan nyata terjadi di antara sesi, dan bukan dalam terapi itu sendiri.
Mereka menyatakan bahwa mencapai strategi perubahan adalah langkah pertama yang
penting, dan menekankan bahwa dibutuhkan keberanian dan dorongan bagi klien untuk
menerapkan apa yang mereka pelajari dalam terapi untuk kehidupan sehari-hari.
Fase yang berorientasi pada aksi ini adalah waktu untuk menyelesaikan masalah dan
membuat keputusan. Konselor dan klien mempertimbangkan alternatif yang memungkinkan
dan konsekuensinya, mengevaluasi bagaimana alternatif ini akan memenuhi tujuan klien, dan
memutuskan tindakan tertentu. Alternatif terbaik dan kemungkinan baru adalah yang
dihasilkan oleh klien, dan konselor harus menawarkan klien banyak dukungan dan dorongan
selama tahap proses ini.
MEMBUAT PERBEDAAN Konselor Adler berupaya membuat perbedaan dalam kehidupan
klien mereka. Perbedaan itu dapat dimanifestasikan oleh perubahan perilaku atau sikap atau
persepsi. Adlerian menggunakan banyak teknik berbeda untuk mempromosikan perubahan,
beberapa di antaranya telah menjadi intervensi umum dalam model terapi lainnya. Teknik-
teknik yang menggunakan nama pendekatan, saran, humor, keheningan, niat paradoks,
bertindak seolah-olah, membawa pola negatif, menangkap diri sendiri, teknik menekan
tombol, eksternalisasi, menulis ulang, menghindari jebakan, konfrontasi, menggunakan cerita
dan dongeng, analisis ingatan awal, penilaian gaya hidup, mendorong, menetapkan tugas dan
komitmen, memberikan pekerjaan rumah, dan mengakhiri dan meringkas semuanya telah
digunakan (Carlson & Slavik, 1997; Carlson et al., 2006; Dinkmeyer & Sperry, 2000; Disque
& Bitter, 1998; Mosak & Maniacci, 2008). Praktisi Adler dapat secara kreatif menggunakan
berbagai teknik lain, selama metode ini secara filosofis konsisten dengan premis teoretis
dasar psikologi Adlerian (Milliren et al., 2007). Adlerians sangat pragmatis dalam hal
menggunakan teknik yang sesuai untuk klien tertentu. Secara umum, bagaimanapun, praktisi
Adler fokus pada modifikasi motivasi lebih dari perubahan perilaku dan mendorong klien
untuk membuat perubahan holistik pada sisi kehidupan yang bermanfaat. Semua konseling
adalah upaya kerja sama, dan membuat perbedaan tergantung pada kemampuan konselor
untuk memenangkan kerja sama klien.
Area Aplikasi
Adler mengantisipasi arah masa depan profesi penolong dengan menyerukan terapis untuk
menjadi aktivis sosial dan dengan mengatasi pencegahan dan remediasi kondisi sosial yang
bertentangan dengan kepentingan sosial dan mengakibatkan masalah manusia. Upaya perintis
Adler pada layanan pencegahan dalam kesehatan mental membuatnya semakin
mengadvokasi peran Psikologi Individual di sekolah dan keluarga. Karena Psikologi Individu
didasarkan pada model pertumbuhan, bukan model medis, itu berlaku untuk berbagai bidang
kehidupan seperti bimbingan anak; konseling orang tua-anak; konseling pasangan; konseling
dan terapi keluarga; konseling dan terapi kelompok; konseling individual dengan anak-anak,
remaja, dan orang dewasa; konflik budaya; konseling pemasyarakatan dan rehabilitasi; dan
institusi kesehatan mental. Prinsip Adler telah banyak diterapkan pada program
penyalahgunaan zat, masalah sosial untuk memerangi kemiskinan dan kejahatan, masalah
usia lanjut, sistem sekolah, agama, dan bisnis.
APLIKASI UNTUK PENDIDIKAN Adler (1930/1978) menganjurkan pelatihan baik guru
dan orang tua dalam praktik yang efektif yang menumbuhkan minat sosial anak dan
menghasilkan rasa kompetensi dan harga diri. Adler memiliki minat yang besar dalam
menerapkan ide-idenya untuk pendidikan, terutama dalam menemukan cara untuk
memperbaiki gaya hidup anak sekolah yang salah. Dia memulai proses untuk bekerja dengan
siswa dalam kelompok dan untuk mendidik orang tua dan guru. Dengan memberikan para
guru cara untuk mencegah dan memperbaiki kesalahan mendasar anak-anak, ia berusaha
untuk mempromosikan minat sosial dan kesehatan mental. Adler mendahului waktunya
dalam mengadvokasi sekolah untuk mengambil peran aktif dalam mengembangkan
keterampilan sosial dan pendidikan karakter serta mengajarkan dasar-dasarnya. Banyak
model pendidikan guru utama didasarkan pada prinsip-prinsip psikologi Adlerian (lihat
Albert, 1996). Selain Adler, pendukung utama Psikologi Individu sebagai dasar untuk proses
belajar-mengajar adalah Dreikurs (1968, 1971).
APLIKASI UNTUK PENDIDIKAN ORANG TUA Pendidikan orang tua berupaya
meningkatkan hubungan antara orang tua dan anak dengan mempromosikan pemahaman dan
penerimaan yang lebih besar. Orang tua diajarkan bagaimana mengenali tujuan anak yang
salah dan menggunakan konsekuensi logis dan alami untuk membimbing anak menuju
perilaku yang lebih produktif. Pendidikan orang tua Adlerian juga menekankan untuk
mendengarkan anak-anak, membantu anak-anak menerima konsekuensi dari perilaku mereka,
menerapkan pembinaan emosi, mengadakan pertemuan keluarga, dan menggunakan
dorongan. Dua program pendidikan orang tua terkemuka di Amerika Serikat keduanya
didasarkan pada prinsip-prinsip Adler: mereka adalah STEP (Dinkmeyer & McKay, 1997)
dan Active Parenting (Popkin, 1993).
APLIKASI UNTUK KONSELING PASANGAN Terapi Adler dengan pasangan dirancang
untuk menilai keyakinan dan perilaku pasangan sambil mendidik mereka dengan cara yang
lebih efektif untuk memenuhi tujuan relasional mereka. Clair Hawes telah mengembangkan
pendekatan untuk konseling pasangan dalam model terapi singkat Adler. Selain menangani
kompatibilitas gaya hidup, Hawes melihat ingatan awal pernikahan dan hubungan masing-
masing pasangan dengan serangkaian tugas kehidupan yang luas, termasuk pekerjaan,
hubungan sosial, hubungan intim, kerohanian, perawatan diri, dan harga diri ( Bitter et al.,
1998; Hawes, 1993; Hawes & Blanchard, 1993). Carlson, Watts, dan Maniacci (2006)
menggambarkan bagaimana Adlerians mencapai tujuan terapi pasangan singkat: Mereka
menumbuhkan minat sosial, membantu pasangan dalam mengurangi perasaan rendah diri dan
mengatasi keputusasaan, membantu pasangan mengubah pandangan dan tujuan mereka,
membantu pasangan untuk merasakan perasaan kualitas dalam hubungan mereka, dan
memberikan peluang pengembangan keterampilan. Terapis bertujuan untuk menciptakan
solusi untuk masalah, meningkatkan pilihan pasangan, dan membantu klien menemukan dan
menggunakan sumber daya individu dan kolektif mereka.
Berbagai teknik yang berlaku untuk bentuk konseling lainnya dapat digunakan saat
bekerja dengan pasangan. Dalam konseling pasangan, pasangan diajarkan teknik khusus yang
meningkatkan komunikasi dan kerja sama. Beberapa teknik yang digunakan adalah seperti
mendengarkan, memarafrasekan, memberikan umpan balik, konsultasi pernikahan,
mengerjakan pekerjaan rumah, dan menyelesaikan masalah. Terapis pengguna model Adler
menggunakan metode psikoedukasi dan pelatihan terhadap pasangan yang melakukan
konseling. Untuk buku-buku bacaan terkait topik ini, lihat Carlson dan Dinkmeyer (2003) dan
Sperry, Carlson, serta Peluso (2006).
Terapis pengguna model Adler kadang menangani klien secara berpasangan dan
terkadang juga menangani klien secara individu. Terapis tidak berusaha untuk mencari siapa
yang salah dalam hubungan kedua pasangan ini, namun terapis memperhatikan gaya hidup
yang kedua pasangan ini terapkan dan interaksi yang tercipta di antara kedua gaya hidup
mereka ini. Terapis memberikan perhatian khusus untuk membantu mereka memutuskan
apakah mereka ingin melanjutkan hubungan mereka apa tidak, dan, jika mereka ingin
mempertahankan hubungan mereka, perubahan apa yang mereka ingin lakukan.
PENERAPAN PENDEKATAN ADLER DALAM KONSELING KELUARGA Dengan
menekankan konsep-konsep seperti konstelasi keluarga, holism, dan kebebasan terapis untuk
berimprovisasi, pendekatan Adler memberikan kontribusi pada fondasi perspektif terapi
keluarga. Terapis pengguna model Adler menangani keluarga dengan memberikan fokus
pada atmosfer keluarga, konstelasi keluarga, dan tujuan interaksi tiap-tiap anggota keluarga
(Bitter, Roberts, & Sonstegard, 2002). Atmosfer keluarga adalah iklim yang
menggambarkan hubungan antara orangtua dengan cara mereka menyikapi hidup, peran
gender, pembuatan keputusan, kompetisi, kerjasama, cara menghadapi konflik, tanggung
jawab, dan seterusnya. Atmosfer ini, termasuk panutan yang orangtua berikan,
mempengaruhi anak-anak mereka selagi mereka bertumbuh. Proses terapi bertujuan untuk
meningkatkan kesadaran interaksi individu dalam sistem keluarga. Terapis yang menerapkan
terapi keluarga model Adler berusaha untuk memahami tujuan, keyakinan, dan perilaku tiap-
tiap anggota keluarga dan keluarga itu sendiri secara keseluruhan. Pengaruh Adler dan
Dreikurs terhadap terapi keluarga dibahas lebih jauh di Bab 14.
PENERAPAN PENDEKATAN ADLER DALAM KONSELING KELOMPOK Adler dan
koleganya menggunakan pendekatan kelompok dalam pusat bimbingan anak yang mereka
bangun di Wina sejak tahun 1921 (Dreikurs, 1969). Dreikurs mengembangkan dan
memomulerkan pendekatan temuan Adler ke dalam kelompok dan menggunakan kelompok
psikoterapi dalam praktik privatnya selama lebih dari 40 tahun. Meskipun Dreikurs
memperkenalkan psikoterapi ke dalam praktik psikiatriknya untuk mempersingkat waktu,
tidak lama ia kemudian menemukan beberapa karakteristik unik dalam konseling kelompok
yang membuat konseling kelompok ini menjadi cara efektif membantu klien mendapatkan
perubahan. Perasaan inferioritas dapat ditantang dan dilawan secara efektif dalam konseling
kelompok, dan konsep serta nilai-nilai yang salah yang menjadi akar permasalahan sosial dan
emosional dapat diubah karena kelompok merupakan agen pembentuk-nilai (Sonstegard &
Bitter, 2004).
Dasar justifikasi konseling kelompok pendekatan Adler didasarkan pada premis
bahwa masalah yang kita hadapi umumnya berupa masalah sosial. Kelompok memberikan
konteks sosial dimana tiap-tiap anggotanya dapat mengembangkan rasa kebersamaan,
kedekatan sosial, dan masyarakat. Sonstegard dan Bitter (2004) menuliskan bahwa partisipan
dalam kelompok konseling ini menyadari bahwa sebagian besar masalah mereka sebenarnya
bersifat intrapersonal, bahwa perilaku mereka bermakna sosial, dan bahwa cara paling baik
memahami tujuan yang mereka ingin raih adalah dengan menggunakan kerangka sosial.
Menurut perspektif saya pribadi, penggunaan rekoleksi masa lalu adalah fitur unik
dalam konseling kelompok model Adler. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dari
serangkaian kenangan masa lalunya, seseorang dapat menemukan kesalahpahaman mereka,
bagaimana rupa sikapnya sekarang ini, ketertarikan sosial yang dimilikinya, dan potensi
perilakunya di masa akan datang. Dengan saling berbagi pengalaman masa lalu, anggota-
anggota dalam kelompok ini pun kemudian mengembangkan hubungan antar satu sama lain,
dan kohesi kelompok pun semakin meningkat. Kelompok kemudian berfungsi menjadi agen
perubahan karena hubungan intrapersonal tiap-tiap anggota dalam kelompok ini semakin
meningkat.
Saya pribadi khususnya menghargai cara bagaimana para konselor kelompok model
Adler ini menerapkan strategi-strategi penanganan pada tiap sesi kelompok dan khususnya
selama masa reorientasi dimana pada tahap ini, keputusan-keputusan serta tujuan-tujuan
dibuat dan diubah. Untuk melawan asumsi yang membatasi diri, tiap-tiap anggota didorong
untuk bertindak seakan-akan mereka telah menjadi orang dambaan diri mereka. Mereka
diajak untuk mereka ulang pola-pola lama diri mereka yang berujung pada perilaku destruktif
yang mereka lakukan. Anggota-anggota dalam kelompok ini pun dapat menyadari bahwa jika
mereka ingin berubah, mereka harus memberikan tugas untuk diri mereka sendiri,
menerapkan pelajaran-pelajaran yang mereka peroleh dalam kelompok ke dalam kehidupan
sehari-hari mereka, dan mereka juga harus mengambil langkah untuk menemukan solusi
masalah mereka. Tahapan akhir konseling kelompok ini ditandai dengan pemimpin kelompok
bersama anggota-anggota kelompoknya bekerja sama menentang pemahaman terhadap diri
sendiri, kehidupan, dan orang lain yang selama ini mereka yakini. Selama tahapan akhir ini,
tiap-tiap anggota kelompok mulai memikirkan keyakinan-keyakinan, perilaku, dan sikap-
sikap alternatif untuk diri mereka.
Konseling kelompom Adler dapat dianggap sebagai pendekatan singkat menuju
pengamatan. Karakteristik-karakteristik utama dalam terapi kelompok ini adalah seperti
terbentuknya hubungan terapi yang cepat, fokus permasalahan yang jelas, pembetukan
kesepakatan tujuan, proses peninjauan yang cepat, pengutamaan intervensi terapi yang aktif
dan direktif, berfokus pada kekuatan dan kemampuan klien, pandangan optimistik terkait
perubahan, berfokus pada masa sekarang dan masa depan, serta penyesuaian bentuk
penanganan yang efektif sesuai dengan kebutuhan klien (Carlson et al., 2006).
Salah satu manfaat dari jangka waktu pendek konseling kelompok adalah klien akan
merasa bahwa perubahan yang ia inginkan akan terjadi dalam jangka waktu yang pendek
juga. Dengan menjabarkan jumlah sesi konseling, konselor kelompok dan anggota-anggota
kelompok ini didorong untuk dapat fokus pada hasil yang diinginkan dan untuk melakukan
proses terapi sebaik mungkin. Karena para pemimpin kelompok konseling model Adler
menyadari bahwa sebagian besar perubahan yang dialami anggota kelompok terjadi di
tengah-tengah sesi konseling kelompok ini, maka terapi model ini dibentuk untuk membuat
anggota-anggota kelompok ini tetap fokus pada tujuan khusus diri mereka masing-masing.
Para anggota kelompok dapat memutuskan bagaimana memangaatkan waktu mereka, dan
mereka dapat membentuk serangkaian pemahaman pada diri mereka yang akan menuntun
kelompok.
Terapi singkat model Adler dikenalkan oleh Sonstegard, Bitter, Pelonis-Peneros, dan
Nicoll (2001). Untuk pembahasan lebih lanjut terkait pendekatan Adler ke dalam konseling
kelompok, lihat Theory and Practice of Group Counseling (Corey, 2008, bab. 7), Corey
(1999, 2003), dan Sonstegard dan Bitter (2004).
Terapi Model Adler Berdasarkan Perspektif Multikultural
Manfaat Perspektif Keberagaman
Teori Adler membahas isu-isu kesetaraan sosial dan lingkungan sosial manusia jauh
sebelum multikulturalisme berperan penting dalam dunia terapi (Watts & Pietrzak,
2000). Adler mengenalkan pemahaman-pemahaman yang memiliki implikasi menuju
multikulturalisme yang memiliki relevansi yang sama di masa sekarang ini dengan di
masa kehidupan Adler (Pedersen, seperti yang dikutip dalam Nystul, 1999b). Contoh-
contoh pemahamannya seperti (1) pentingnya konteks budaya, (2) penekanan lebih
pada kesehatan daripada patologi, (3) perspektif hidup yang holistik, (4) pentingnya
memahami individu terkait tujuan dan cita-cita inti mereka, (5) kemampuan untuk
menerapkan kebebasan ke dalam konteks batasan-batasan sosial, dan (6) fokus pada
pencegahan dan pengembangan pendekatan proaktif dalam menghadapi masalah.
Perspektif holistik Adler merupakan bentuk ekspresi dari apa yang disebut Pedersen
sebagai pendekatan “berbasis budaya” atau pendekatan multikultural pada konseling.
Carlson dan Englar-Carlson (2008) mengatakan bahwa teori Adler sesuai untuk
diterapkan dalam konseling masyarakat yang beragam dan dalam dunia keadilan
sosial. Mereka mengatakan: “Mungkin yang menjadi kontribusi terbesar Adler adalah
bahwa ia mengembangkan teori yang menyadari dan menekankan pengaruh kelas
sosial, rasisme, sex, dan gender dalam perilaku individu. Sehingga, ide-ide yang ia
kemukakan diterima dengan baik oleh masyarakat global masa ini” (hal. 134).
Meskipun pendekatan model Adler disebut sebagai Psikologi Individu,
fokusnya ialah kepada individu dalam konteks sosial. Pendekatan ini
memperhitungkan isu-isu kultural dalam proses peninjauan dan penanganan
terapinya. Terapis Adler mendorong klien untuk mendefinisikan dirinya ke dalam
lingkungan sosial mereka. Terapis pengguna model Adler menerapkan konsep-konsep
luas seperti perbedaan umur, etnik, gaya hidup, dan gender dalam proses terapi
mereka. Terapis pengguna model Adler menerapkan proses penanganannya dengan
cara yang fleksibel dengan teori yang dapat diterapkan untuk beragam klien. Proses
terapi yang mereka lakukan ini lebih berbasis pada budaya dan pandangan subyektif
klien, tidak mencoba untuk menyesuaikan klien ke dalam model yang sudah tertulis
sebelumnya.
Dalam analisis-analisis mereka terkait berbagai macam pendekatan konseling,
Arciniega dan Newlon (2003) mengatakan bahwa teori Adler terlihat menjanjikan
untuk menyelesaikan isu-isu keberagaman. Mereka menemukan bahwa sejumlah
karakteristik teori Adler sesuai dengan nilai-nilai yang diterapkan oleh sejumlah
kelompok etnis, termasuk karakteristik teori ini yang memberikan penekanan khusus
pada aspek-aspek seperti pemahaman individu ke dalam konteks keluarga dan sosio-
kulturalnya; peran ketertarikan sosial dan kontribusi pada orang lain; serta pemberian
fokus pada semangat kolektif dan kebersamaan. Budaya yang menekankan
kesejahteraan kelompok sosial dan menekankan peran keluarga akan melihat bahwa
psikologi model Adler sesuai dengan nilai-nilai terapan mereka.
Terapis pengguna model Adler cenderung untuk lebih berfokus pada
kerjasama dan nilai-nilai sosial daripada nilai-nilai kompetitif dan individualistic
(Carlson & Carlson, 2000). Klien-klien dari suku asli Amerika misalnya, cenderung
untuk lebih mengutamakan kerjasama daripada kompetisi. Salah satu klien bersuku
asli Amerika menceritakan suatu cerita mengenai sekumpulan anak laki-laki yang
sedang ikut balapan. Ketika salah satu anak laki-laki tersebut melewati lawan-
lawannya, ia akan melambatkan langkah larinya dan menunggu teman-temannya itu,
dan semuanya kemudian lari menuju garis akhir bersamaan. Meskipun pelatih anak-
anak tersebut telah mencoba untuk menjelaskan bahwa tujuan dalam balapan harus
ada salah satu peserta yang mencapai garis akhir. Terapi model Adler dapat dengan
mudah menyesuaikan dengan nilai-nilai kultural yang diterapkan dalam suatu
masyarakat.
Klien yang melakukan terapi seringkali terjebak dalam cara persepsi,
interpretasi, dan cara berperilaku mereka yang sempit. Sebagian besar klien
kemungkinan besar belum pernah mempertanyakan bagaimana budaya mereka
mempengaruhi diri mereka, dan mereka mungkin merasa pasrah dengan “keadaan
yang ada.” Mozdrierz dan kawan-kawan (1986) mengarakterisasikan klien-klien ini
sebagai klien berpikiran sempit dan menganggap bahwa tugas terapis adalah untuk
memberikan mereka kacamata baru untuk membuat mereka melihat lebih jelas.
Terapis pengguna model Adler memberikan penekanan khusus bahwa pandangan
subyektif yang mereka terapkan dimana orang-orang melihat dan menginterpretasikan
dunia mereka sendiri akan menciptakan rasa menghargai persepsi serta nilai-nilai unik
diri klien tersebut. Konselor pengguna model Adler menggunakan interpretasi sebagai
kesempatan untuk klien melihat segala sesuatunya dengan perspektif berbeda, namun
tetap tergantung pada klien untuk memutuskan apakah mereka ingin menggunakan
kacamata baru yang disediakan kepada mereka ini. Terapis tidak mendikte klien hal
apa yang harus mereka ubah atau apa yang seharusnya menjadi tujuan mereka; tetapi,
mereka bekerja sama dengan klien secara kolaboratif untuk membuat klien
menentukan tujuan-tujuan yang mereka tentukan sendiri.
Tidak hanya teori Adler bersifat kongruen dengan nilai-nilai beragam
kelompok masyarakat, namun pendekatan teori ini memberikan fleksibilitas dalam
penerapan serangkaian teknik berbasis aksi dan kognitif untuk membantu klien
mengeskplor permasalahan mereka ke dalam konteks kultural. Praktisi pengguna
model Adler tidak terpaku pada suatu bentuk prosedur tertentu. Akan tetapi, mereka
menyadari pentingnya untuk menyesuaikan teknik-teknik penanganan mereka sesuai
dengan situasi klien. Meskipun mereka menerapkan beragam jenis metode, sebagian
besar terapis pengguna model Adler menerapkan suatu teknik peninjauan gaya hidup.
Peninjauan ini sangat bergantung pada struktur dan dinamika dalam lingkungan
keluarga klien. Karena latar belakang kultural mereka, sebagian besar klien telah
terbiasa untuk menghargai warisan keluarganya dan peran keluarganya dalam
perkembangan dirinya secara pribadi. Penting bagi konselor untuk peka terhadap
perasaan dilematis dan masalah-masalah yang dihadapi oleh klien mereka. Jika
konselor menunjukkan bahwa mereka memahami nilai-nilai kultural klien mereka ini,
maka klien akan lebih dapat menerima pengeksplorasian gaya hidup mereka.
Eksplorasi yang melibatkan diskusi rinci terkait posisi mereka dalam keluarga
mereka.
Jika “budaya” dapat didefinisikan secara meluas (memasukkan perbedaan
umur, peran, gaya hidup, dan gender), maka perbedaan-perbedaan budaya pasti lah
akan dapat ditemukan dalam keluarga manapun. Pendekatan model Adler
menekankan pentingnya pemahaman subyektif persepsi unik tiap-tiap individu.
Budaya merupakan salah satu dimensi signifikan untuk memahami perspektif
subyektif seseorang. Budaya mempengaruhi tiap orang, namun pengaruh tersebut
diekspresikan dengan cara berbeda-beda bagi tiap-tiap individu, menurut persepsi,
evaluasi, dan interpretasi budaya yang individu tersebut terapkan.
Perlu dicatat bahwa cara terapis pengguna model Adler menginvestigasi aspek
budaya dalam diri klien sama dengan cara mereka menginvestigasi aspek atmosfer
keluarga klien tersebut. Budaya merupakan titik pembuka melihat kehidupan yang
dialami dan interpretasikan seseorang; budaya juga merupakan latar belakang nilai,
sejarah, keyakinan, kepercayaan, kebiasaan, dan harapan diri seseorang. Pengguna
model Adler mementingkan peran spiritualitas dan agama dalam hidup klien, karena
faktor-faktor ini merupakan manifestasi minat sosial dan rasa tanggung jawab diri
klien pada orang lain (Carlson & Englar-Carlson, 2008).
Konselor model Adler berusaha untuk peka terhadap isu-isu kultural dan
gender. Adler merupakan salah satu ahli psikologi pertama yang mengadvokasikan
kesetaraan gender untuk perempuan. Ia menyadari bahwa pria dan wanita berbeda
dalam berbagai sisi, namun dia merasa bahwa keduanya layak menerima nilai dan
perlakuan yang sama. Selain mengapresiasi perbedaan gender, Adler juga
mengapresiasi adanya perbedaan budaya dalam masyarakat. Konselor pengguna
model Adler melihat dalam berbagai budaya, banyak kesempatan untuk melihat diri,
orang lain, dan dunia secara multidimensi. Kekuatan dalam suatu budaya seringkali
dapat memperbaiki kesalahan yang ada dalam budaya lain.
1. Kelemahan dari perspekif keberagaman
Seperti kebanyakan model Barat, pendekatan Adlerian cenderung berfokus pada diri
sendiri sebagai tempat perubahan dan tanggung jawab. Karena kebudayaan lain memiliki
konsepsi yang berbeda, dasar ini menekankan pada mengubah otonomi diri dapan menjadi
problematik bagi banyak klien. Asumsi tentnag keluarga nuclear barat dibangun menjadi
konsep kelahiran Adlean tentang urutan kelahiran dan konstelasi keluarga. Karena orang-
orang membawa konteks keluarga extended, beberapa ide ini mungkin kurang relevan atau
setidaknya harus diatur kembali.
Teori Adlerian memiliki beberapa kekurangan potensi dari klien dari kebudayaan
yang tidak tertarik dalam mengeksplorasi pengalaman masa kecul dulu, kenangan
terdahulu,pengalaman keluarga, dan mimpi. Pendekatan ini juga memiliki kefektifan yang
terbatas dengan klien yang tidak memahami tujuan mengekplorasi rincian dari analisis gaya
hidup ketika berhadapan dengan masalah hidup saat ini (Arciniega & Newton, 2003). Selain
itu, budaya dari beberapa klien mungkin berkontribusi pada pandangan mereka akan solusi
masalah mereka. bagi klien ini, peran dari terapis Adlerian dapat memiliki masalah karen
terapis Adlerian tidak ahli dalam menyelesaikan masalah orang lain. Malahan, mereka
memandang nya sebagai fungsi mereka untuk mengajari orang-orang metode alternatif dalam
mengatasi masalah hidup.
Banyak klien yang memiliki masalah yang menekan cenderung bingung untuk
membicarakan kehidupan mereka sehingga mereka mungkin tidak melihat sebagai terhubung
dengan usaha yang membawa mereka ke trapi. Individu mungkin percaya bahwa tidak pantas
untuk membuka informasi keluarga. Dalam hal ini, Carlson dan Carlson (2000) menyarankan
bahwa sensitivitas dan pemahaman terapis dari klien secara kultural membangun keyakinan
bahwa menutup informasi tentang keluarga itu penting. Jika terapis dapat mendemonstrasikan
sebuah pemahaman pada nilai kultural klien, nampaknya klien akan lebih terbuka pada proses
kajian dan perlakuan. Jim Bitter (Komunikasi probadi, Februari 17, 2007) telah mencatat
bahwa ketika dia bekerja untuk pertama kalinya dalam sebuah kebudayaan yang baru dan
berbeda, dia membuat rata-rata lima kesalahan dalam sehari. Dalam pandangan saya, yang
paling penting dalam membuat kesalahan adalah bagaimana memperbaikinya.
2. Kesimpulan dan Evaluasi
Adler memimpin jauh di masanya, dan kebanyakan terapis kontemporer telah bekerja sama
setidaknya dengan beberapa idenya. Psikologi individu mengasumsikan bahwa orang-orang
termotivasi oleh faktor sosial; bertanggung jawab atas pikiran, perasaan, dan tindakannya
sendiri; merupakan pencipta dari hidupnya sendiri, sebagai lawan dari korban yang putus
asa, dan didorong oleh tujuan, berusaha menju ke masa depan daripada melihat ke masa lalu.
Tujuan dasar dari pendekatan Adlerian adalah untuk membantu klien mengidentifikasi dan
merubah keyakinan salah akan diri sendiri, orang lain, dan hdiup serta mereka yang
berpartisipasi lebih di dunia sosial. Klien tidak dipandang sebagai sakit secara psikologi
melainkan kurang semangat. Proses terapi membntu individu menjadi sadar akan pola mereka
dan membuat perubahan dasar dalam gaya hidup mereka, yang mengantarkan pada
perubahan dalam perasaan dan tindakan. Peran keluarga dalam perkembangan individu
detekankan. Terapi merupakan sebuah usaha kerja sama yang menantang klien untuk
menerjemahkan pandangan mereka kedalam tindakakan di dunia nyata.
TERAPI ADLERIAN DIAPLIKASIKAN PADA KASUS STAN
Tujuan utama dari terapis Adlerian bekerja dengan Stan adalah untuk merangkap dan bekerja sama dengan empat
tahapan konseling: (1) membangun dan mempertahankan hubungan kerja yang baik dengan Stan, (2) mengeksplor
dinamis Stan, (3) mendukung Stan unuk mengembangkan pandangan dan pemahaman, dan (4) membantu Stan melihat
alternatif dan membuat pilihan baru.
Untuk mengembangkan kepercayaan dan respek bersama, terapis memberikan perhatian kepada pengalaman
subjektif Stan dan bertujuan untuk mendapatkan rasa tentang bagaiman dia bereaksi pada titik balik dalam hidupnya.
Selama sesi awal, Stan bereaksi pada konselornya sebagai ahli yang memiliki jawaban. Dia diyakinkan bahwa ketika
dia membuat keputusan bahwa dia umumnya berakhir dengan menyesali hasilnya. Stan mendatangi konselornya denga
depresi. Karena konselornya memandang konseling sebagai sebuah hubungan yang sama, dia pada awalnya berfokus
pada perasaan akan ketidaksetaraan bagi kebanyakan orang. Tempat yang baik untuk memulai adalah dengan
mengeksplor perasasaan inferiornya, yang dikatannya dirasakan di banyak situasi. Tujuan dari konseling
dikembangkan secara bersama, dan konselor menghindari untuk memutuskan Stan tujuan yang seharusnya. Dia juga
menolak untuk memberikan Stan formula yang dia minta.
Konselor Stan mempersiapkan sebuah kajian gaya hidup berdasarkan sebuah kuesioner yang mengetuk
informasi tentang tahun awal Stan, khususnya pengalamannya dengan keluarganya. (Lihat Manual Siswa untuk
penjelasan yang lengkap dari bentuk kajian gaya hidup yang diaplikasikan pada Stan). Kajian ini mencakup sebuah
determinasi tentang apakah dia memiliki bahaya dari dirinya karena Stan menyebutkan ide bunuh diri. Selama tahapan
kajian, yang mungkin mengambil beberapa sesi, konselor Adlerian mengeksplor hubungan sosial Stan, hubungannya
dengan anggota keluarga, tanggung jawab pekerjaannya, perannya sebagai pria, dan perasaanya tentang diri sendiri.
Dia menempatkan penekanan yang dapat dipertimbangkan pada tujuan Stan dalam hidup dan prioritasnya. Dia tidak
memberika perhatian besar pada masa lalunya, keculai untuk menunjukkanya konsistensi antara masa lalu dan masa
kini ketika dia bergerak menuju masa depan.
Karena konselor Stan menempatkan nilai dari mengekplorasi ingatan sebagai sebuah sumber pemahaman
tujuan, motivasi, dan nilainya, dia meminta Stan untuk melaporkan memori awlnya. Dia menjawab sebagai berikut:
Saya mendekati usia 6 tahun, dan saya takut pada anak-anak lain dan guru. Ketika saya pulang ke rumah,
saya menangis dan memberitahu ibu saya bahwa saya tidak ingin kembali ke sekolah. Dia berteriak kepadaku dan
memanggilku bayi. Setelah itu saya merasa buruk dan bahkan semakin takut.
Ingatan awal Sttan yang lain adalah pada umur 8:
Keluargaku mengunjungi kekku. Saya bermain diluar, dan beberapa anak tetangga memukulku tanpa alasan.
Kita mulai bertengka, dan ibuku keluardan memarahiku karena menjadi anak yang kasar. Dia tidak percaya padaku
ketika aku memberitahunya bahwa anak itu yang mulai duluan. Saya merasa marah dan terluka karena dia tidak
percaya.
Berdasarkan pada ingatan awal ini, konselor Stan menyarankan bahwa Stan melihat hidup itu menakutkan dan sikap
bermusuhan dan bahwa dia merasa bahwa dia tidak bisa mempercayai wanita; mereka cenderung kasar, tidak percaya
dan tidak peduli.
Setelah mengumpulkan data berdasarkan pada kajian gaya hidup tentang keluarganya dan ingatan
awalnya, terapis membantu Stan dalam proses menyimpulkan dan menginterpretasi informasi ini. Perhatian khusus
diberikan kepada terapis untuk mengidentifikasi kesalahan dasar, yang merupakan kesimpulan yang salah tentang
hidup dan persepsi pertahanan diri. Berikut ini adalah beberapa kesimpulan salah yang telah dicapai oleh Stan:
“ saya tidak boleh dekat dengan orang lain, karena mereka pasti akan menyakitiku”
“karena orang tuaku sendiri tidak menginginkanku juga tidak mencintaiku, saya tidak berharap untuk dicintai
oleh siapapun”
“seandainya saya bisa menjadi sempurna, mungkin orang-orang akan mengakui dan menerimaku”
“ Menjadi seorang lelaki berarti tidak menunjukkan perasaan”
Informasi yang dikumpulkan dan diinterpretasi oleh konselor mengantarkan pada wawasan dan meningkatkan
pemahaman diri pada bagian Stan. Dia memperoleh peningkatan kesadaran akan kebutuhan untuk mengontrol
dunianya sehingga dia bisa menjaga perasaan menyakitkan di bawah pengendalian. Dia melihat secara lebih jelas
beberapa cara yang dia coba untuk mengontrol rasa sakitnya; melalui konsumsi alkohol, menghindari situasi
interpersonal yang mengancam, dan tidak ingin untuk mengandalkan dukungan psikologi dari orang lain.melaui
penekanan yang berkelanjutan pada keyakinan, tujuan, dan keinginan, Stan melihat betapa tidak akuratnya logika
pribadinya. Dalam kasusnya, sebuah silogisme di dalam gaya hidpnya dapat dijelaskan seperti ini: (1) Saya tidak
dicintai, tidak penting, dan tidak melakukan perhitungan, (2) Dunia adalah tempat yang menganca, dan hidup itu
tidak adil” (3) oelh karen aitu, saya harus mencari cara untuk melindungi diri sendiri dan tetap aman”. Selama tahapan
proses ini, konselor Stan membuat interpretasi yang berpusat pada gaya hidupnya, arahnya saat ini, tujuannya, dan
bagaimana logika pribadinya bekerja. Tetu saja, Stan berharap untuk melaksanan tugas rumah yang membantunya
menerjemahkan pengertiannya kedalan perilaku baru. Dengan cara ini, dia merupakan partisipan aktif dalam terapi.
Pada tahapan reorientasi dalam terapi, Stan dan konselornya bekerja sama untuk mempertimbangkan sikap,
keyakinan, dan tindakan alternatif. Mulai saat ini Stan memandang bahwa dia tidak harus terkunci pada pola masa
lalu, merasa putus asa, dan menyadari bahwa dia memiliki kekuatan untuk mengubah hidupnya. Dia menerima bahwa
dia tidak akan berubah dengan hanya memiliki pengertian dia tahu bahwa dia harus menggunakan pengertian tersebut
dengan melakukan rencana tindakan-terorientasi. Stan mulai merasa bahwa dia bisa menciptakan sebuah hidup baru
untuk dirinya sendiri dan tidak terus menjadi korban lingkungan.
Follow-Up: Kamu lanjut sebagai terapis Adlerian Stan
Gunakan pertanyaan ini untuk membantu anda memikirkan bagaimana anda anda mengkonsul Stan menggunakan
pendekatan Adlerian:
Cara apa yang akan anda gunakan untuk membangun sebuah hubungan dengan Stan berdasarkan pada
kepercayaan dan penghormatan satu sama lain? Dapatkah anda membayangkan kesulitan dalam
mengembangkan hubungan ini dengannya?
Aspek apa dalam gaya hidup Stan yang menarik bagi anda? Dalam berkonsultasi dengannya, bagaimana ini
akan dieksplor?
Terapis Adlerian mengidentifikasi empat dari kesimpulan salah Stan. Dapatkan adna mengidentifikasi
kesalahan dasar ini? Jika iya, apakah menurut anda ini akan membantu atau menghalangi keefektifan terapi
dengannya?
Bgaimana anda akan membantu Stan menemukan ketertarikan sosial dan melewati penekanan masalahnya
sendiri?
Kekuatan apa dalam diri Stan yang akan anda gunakan untuk mendukung ketetapan hati dan komitmennya
untuk berubah?
Lihat program online dan DVD, Theory in Practice: The Case of Stan (Session 3 on Adlerian therapy)
untuk demonstrasi pendekatan konseling Stan dari perpektif ini. Sesi ini berfokus pada ingatan awal
Stan.
Teori Adlerian kontemporer merupakan pendekatan yang integratif, mengkombinasikan
kognitif, konstruktivis, existensial, psikodinamic, dan perspektif sistem. Beberapa dari
karakteristik dasar ini mencakup sebuah penekanan dalam membangun sebuah hubungan
klien-terapis yang saling menghormati, sebuah penekanan pada kekuatan klien, dan orientasi
masa depan yang optimis.
Pendekatan Adlerian memberikan kepada praktisioner sebuah kebebasan besar dalam
bekerja dnegan klien. Kontribusi utama Adlerian dibuat dalam area berikut: edukasi dasar,
diskusi grup dengan guru, kelompok pendiidkan orang tua, terapi keluarga dan pasangam,
serta konseling kelompok.
3. Kontribusi pendekatan Adlerian
Sebuah kekuatan dalam pendekatan Adlerian adalah fleksibilitasnya serta sifat
interatifnya. Terapis Adlerian bisa integratif secara teoritis dan eklektis secara teknis (Watts
& Shulman, 2003). Pendekatan terapiutik ini membiarkan penggunaan beragam teknik
kognitif, perilaku, dan experiental. Terapis Adlerian banyak akal dan fleksibel dalam
mengambil banyak metode, yang dapat diaplikasikan pada klien yang beragam dalah setting
dan format. Terapis umumnya perhatian tentang melakukan apa yang menjadi hal paling
menarik bagi klien daripada menekan klien pada satu kerangka teoritis (Watts, 199, 200:
Watts & Pietrzak, 200: Watts & Shulan, 2003).
Kontribusi lain dari pendekatan Adlerian adalh ia coock untuk terapi singkat dengan
waktu terbatas. Adler adalah seorang pendukung terapi waktu-terbatas, dan teknik yang
digunakan oleh banyak praktisi Adlerian (Carlson et al., 2006) pendektan terapi singkat
kontemporer memiliki beberapa kesamaan dalam karakteristik termasuk dengan cepat
membangun sebuah aliansi terapiutik yang kuat, fokus masalah yang jelas dan penyamaan
tujuan, kajian dan aplikasi pada perlakuan yang cepat, orientasi masa kini dan masa depan,
fokus pada kekuatan dan kemampuan klien dan harapan perubahan optimis, dan sensitiitas
waktu yang menghubungkan perlakuan dengan kebutuhan unik klien (Carlson et al., 2006).
Menurut Mosal dan Di Pietro (2006), ingatan awal menyediakan sebuah dasar bagi terapi
singkat. Mereka mengklaim bahwa ingatan awal seringkali berguna dalam meminimalisir
jumlah sesi terapi. Hasil ini mengambil sedikit waktu dalam administer dan interpretasi serta
menyediakan sebuah arah bagi terapis untuk bergerak.
Bitter dan Nicoll (2000) mengidentifikasi lima karakteristik yang membentuk dasar
bagi krenagka integratif dalam terapi singkat : batasan waktu, fokus, keterusterangan
konselor, gejala sebagai solusi, tugas perilaku. Membawa proses batas-waktu kedalam terapi
menyampaikan kepada klien harapan bahwa perubahan aan uncul dalam waktu singkat.
Ketika beberapa sesi dispesifikkan, baik klien maupun terapis termotivasi untuk terus fokus
pada hasil yang diinginkan dan untuk bekerja seefisien mungkin. Karena tidak ada jaminan
bahwa sesi kedepannya akan ada, terapis ingkat cenerung menanyakan kepada dir mereka
pertanyaan ini: "Jika saya memiliki hanya satu sesi untuk bermanfaat bagi kehiudpan orang
ini, apa yang ingin saya capai?" (p. 38).
Konsep Adlerian yang saya ambil dari kebanyakan karya profesional saya adalh (1)
pentingnya mencari tujuan hidup seseorang, termasuk mengkaji bagaimana tujuan ini
mempengaruhi indiviu; (2) fokus dari interpretasi individu dari pengalaman awal dalam
keluarga, dengan penekanan khusus pada pengaruhnya saat ini; (3) penggunaan kli
menggunakan ingatan awal pada kedua kajian dan perlakuan; (4) pengunaan mimpi sebagai
latihan untuk tindakan di masa depan; (5) kebutuhan untuk memahami dan menghadapi
masalah dasar; (6) penekanan kognitif, yang percaya bahwa emosi dan perilaku umumnya
dipengaruhi oleh keyakinan dan proses berpikir seseorang; (7) ide untuk menjalankan
rencana tindakan yang dirancang untuk membantu klien membuat perubahan (8) hubungan
kolaboratif, dimana klien dan terapis bekerja menuju tujuan yang disepakati bersama; dan (9)
penekanan diberikan untuk mendukung selama proses konseling seluruhnya. Beberapa
konsep Adlerian memiliki implikasi untuk perkembangan pribadi. Salah satu pernyataan ini
yang telah membantu saya memahami arah hidup saya adalah asumsi bahwa perasaan inferior
berhubungan dengan usaha untuk menjadi superior (Corey, dikutip dari Nystul, 1999a) Sulit
untuk melebih-lebihkan praktik terapi kontemporer Adler. Banyak ide-idenya yang
revolusioner dan jauh lebih maju dari zamannya. Tujuannya adalah melampaui konseling
individu, memperluas ke gerakan kesehatan mental masyarakat (Ansbacher, 1974). Abraham
Maslow, Viktor Frankl, Rollo May, Aaron T. Beck, dan Albert Ellis semuanya mengakui
hutang mereka kepada Adler. Baik Frankl maupun May melihatnya sebagai cikal bakal
gerakan eksistensial karena posisinya bahwa manusia bebas untuk memilih dan sepenuhnya
bertanggungjawab atas apa yang mereka hasilkan dari diri mereka sendiri. Pandangan ini juga
membuatnya menjadi pelopor pendekatan subyektif terhadap psikologi, yang berfokus pada
faktor penentu perilaku internal: nilai-nilai, kepercayaan, sikap, tujuan, minat, makna pribadi,
persepsi subjektif tentang realitas, dan upaya menuju realisasi diri.
Menurut pendapat saya, salah satu kontribusi terpenting Adler adalah pengaruhnya terhadap
sistem terapi lain. Banyak ide dasarnya telah menemukan jalan mereka ke sekolah-sekolah
psikologis lain, seperti pendekatan sistem keluarga, terapi Gestalt, teori pembelajaran, terapi
realitas, terapi perilaku emotif rasional, terapi kognitif, terapi yang berpusat pada individu,
terapi eksistensial, dan pendekatan postmodern untuk terapi. Semua pendekatan ini
didasarkan pada konsep yang sama dari orang itu sebagai tujuan, penentuan nasib sendiri, dan
berjuang untuk pertumbuhan. Dalam banyak hal, Adler tampaknya telah membuka jalan bagi
perkembangan saat ini baik dalam terapi kognitif dan terapi konstruktivis (Watts, 2003).
Premis dasar Adlerian adalah bahwa jika klien dapat mengubah pemikiran mereka maka
mereka dapat mengubah perasaan dan perilaku mereka. Sebuah studi tentang teori konseling
kontemporer mengungkapkan bahwa banyak konsep Adler telah muncul kembali dalam
pendekatan modern ini dengan tata nama yang berbeda, dan seringkali tanpa memberikan
kredit kepada Adler yang menjadi haknya (Watts, 1999; Watts & Pietrzak, 2000; Watts &
Shulman, 2003). Jelas bahwa ada hubungan signifikan teori Adlerian dengan sebagian besar
teori saat ini. Carlson dan Englar-Carlson (2008) menyatakan bahwa Adlerian menghadapi
tantangan untuk terus mengembangkan pendekatan mereka sehingga memenuhi kebutuhan
masyarakat global kontemporer: "Sedangkan gagasan Adlerian hidup dalam pendekatan
teoretis lain, ada pertanyaan tentang apakah teori Adlerian sebagai pendekatan yang berdiri
sendiri layak dalam jangka panjang" (hal. 133). Para penulis ini percaya bahwa agar model
Adlerian dapat bertahan dan berkembang, akan perlu untuk menemukan cara untuk berjuang
untuk signifikansi.
4. Keterbatasan dan Kritik terhadap Pendekatan Adlerian
Adler harus memilih antara mencurahkan waktunya untuk memformalkan teorinya dan
mengajar orang lain konsep dasar Psikologi Individual. Dia menempatkan praktik dan
mengajar sebelum mengorganisir dan menyajikan teori yang didefinisikan dengan baik dan
sistematis. Akibatnya, presentasi tertulisnya seringkali sulit diikuti, dan banyak di antaranya
merupakan transkrip kuliah yang diberikannya. Awalnya, banyak orang menganggap idenya
agak longgar dan terlalu sederhana.
Penelitian yang mendukung keefektifan teori Adlerian terbatas tetapi telah meningkat
selama 25 tahun terakhir (Watts & Shulman, 2003). Namun, sebagian besar teori masih
memerlukan pengujian empiris dan analisis komparatif. Hal ini benar terutama dalam bidang
konseptual yang diterima oleh kaum Adler sebagai aksiomatik: misalnya, perkembangan
gaya hidup; kesatuan kepribadian dan penerimaan pandangan tunggal tentang diri; penolakan
terhadap keunggulan hereditas dalam menentukan perilaku, terutama perilaku patologis; dan
kegunaan berbagai intervensi yang digunakan oleh berbagai warga Adlerian.
5. Ke mana Pergi Dari Sini
Jika Anda menggunakan CD-ROM for Integrative Counseling, Sesi 6 ("Fokus Kognitif
dalam Konseling") menggambarkan upaya Ruth untuk memenuhi harapan dan memenuhi
standar perfeksionis. Dalam sesi terapi khusus ini dengan Ruth, Anda akan melihat
bagaimana saya memanfaatkan konsep-konsep kognitif dan menerapkannya dalam praktik.
Jika pemikiran Anda bersekutu dengan pendekatan Adlerian, Anda dapat
mempertimbangkan untuk mencari pelatihan dalam Psikologi Individu atau menjadi anggota
North American Society of Adlerian Psychology (NASAP). Untuk mendapatkan informasi
tentang NASAP serta daftar organisasi dan lembaga Adlerian, hubungi:
North American Society of Adlerian Psychology (NASAP)
614 Old West Chocolate Avenue
Hershey, PA 17033
Telepon: (717) 579-8795
Faks: (717) 533-8616
E-mail: nasap@msn.com
Situs web: www.alfredadler.org
Kelompok tersebut menerbitkan buletin dan jurnal triwulanan dan mengelola daftar lembaga,
program pelatihan, dan lokakarya di bidang psikologi Adlerian. The Journal of Individual
Psychology menyajikan penelitian ilmiah dan profesional saat ini. Kolom tentang konseling,
pendidikan, dan pendidikan orang tua dan keluarga adalah fitur reguler. Informasi tentang
langganan tersedia dengan menghubungi kelompok tadi.
Jika Anda tertarik untuk mengejar pelatihan, studi pascasarjana, melanjutkan
pendidikan, atau gelar, hubungi NASAP untuk daftar organisasi dan lembaga Adlerian.
Beberapa lembaga pelatihan tercantum di sini:
Adler School of Professional Psychology
65 East Wacker Place, Suite 2100
Chicago, IL 60601-7298
Telepon: (312) 201-5900
Faks: (312) 201-5917
E-mail: admissions@adler.edu
Situs web: www.adler.edu
Adler School of Professional Psychology
Kampus Vancouver
595 Burrard Street, Suite 753
P.O. Kotak 49104
Vancouver, BC, Kanada V7X 1G4
Telepon: (604) 482-5510
Faks: (604) 874-4634
Adlerian Training Institute, Inc.
Dr. Bill Nicoll, Koordinator
P.O. Kotak 881581
Port St. Lucie, FL 34988
Telepon / Faks: (772) 807-4141
Ponsel: (954) 650-0637
E-mail: adleriantraining@aol.com
Situs web: www.adleriantraining.com
The Alfred Adler Institute of Northwestern Washington
2565 Mayfl ower Lane
Bellingham, WA 98226
Telepon: (360) 647-5670
E-mail: HTStein@att.net
Situs web: http://ourworld.compuserv.com/homepages/hstein/
Alfred Adler Institute of San Francisco
266 Bemis Street
San Francisco, CA 94131
Telepon: (415) 584-3833
E-mail: DPienkow@msn.com
The International Committee for Adlerian Summer Schools and Institutes
Michael Balla, Administrator ICASSI
257 Billings Avenue
Ottawa, ON, Kanada K1H 5L1
Faks: (613) 733-0289
E-mail: mjballa@sympatico.ca
Situs web: www.icassi.net
2. BACAAN TAMBAHAN YANG DISARANKAN
Adlerian Therapy: Theory and Practice (Carlson, Watts, & Maniacci, 2006) dengan jelas
menyajikan tinjauan komprehensif terapi Adlerian dalam praktik kontemporer. Ada bab-bab
tentang hubungan terapeutik, terapi individu singkat, terapi pasangan singkat, terapi
kelompok, terapi bermain, dan konsultasi. Buku ini mencantumkan video intervensi Adlerian
yang tersedia.
Early Recollections: Interpretative Method and Application (Mosak & Di Pietro, 2006)
adalah tinjauan luas tentang penggunaan ingatan awal sebagai cara untuk memahami
dinamika individu dan gaya perilaku. Buku ini membahas teori, penelitian, dan aplikasi klinis
dari ingatan awal.
Adlerian, Cognitive, and Constructivist Therapies: An Integrative Dialogue (Watts, 2003)
mengakui kontribusi penting dari Alfred Adler dan menggambarkan banyak cara gagasan
Adlerian telah memengaruhi perkembangan terapi kognitif dan terapi konstruktivis.
Primer of Adlerian Psychology (Mosak & Maniacci, 1999) menawarkan pengantar yang
mudah diakses tentang prinsip-prinsip dasar Psikologi Individual yang ditujukan untuk
pembaca yang tidak terbiasa dengan karya Adler.
Understanding Life-Style: The Psycho-Clarity Process (Powers & Grif?th, 1987) merupakan
sumber informasi yang memadai untuk melakukan peninjauan gaya hidup. Tiap-tiap bab
membahas teknik-teknik wawancara, peninjauan gaya hidup, kenangan masa kecil,
konstelasi keluarga, dan metode cara merangkum dan menginterpretasikan informasi.
ANJURAN REFERENSI DAN BACAAN LANJUTAN
ADLER, A. (1958). What life should
mean to you.
New York: Capricorn. (Original work
pub-
lished 1931)
ADLER, A. (1959). Understanding
human nature.
New York: Premier Books. (Original
work
published 1927).
ADLER, A. (1964). Social interest. A
challenge to
mankind. New York: Capricorn.
(Original
work published 1938)
ADLER, A. (1978). The education of
children. Chi-
cago: Regnery Publishing. (Original
work
published 1930).
ALBERT, L. (1996). Cooperative
discipline. Circle
Pines, MN: American Guidance Service.
AMERICAN PSYCHIATRIC
ASSOCIATION.
(2000). Diagnostic and statistical manual
of men-
tal disorders, text revision (4th ed.).
Washington,
DC: Author.
ANSBACHER, H. L. (1974). Goal-
oriented indi-
vidual psychology: Alfred Adler's theory.
In
A. Burton (Ed.), Operational theories of
person-
ality (pp. 99-142). New York:
Brunner/Mazel.
*ANSBACHER, H. L. (1979). The
increasing rec-
ognition of Adler. In. H. L. Ansbacher &
R. R.
Ansbacher (Eds.), Superiority and social
inter-
est. Alfred Adler, A collection of his later
writings
(3rd rev. ed., pp. 3-20). New York:
Norton.
*ANSBACHER, H. L. (1992). Alfred
Adler's con-
cepts of community feeling and social
interest
and the relevance of community feeling
for
old age. Individual Psychology, 48(4),
402-412.
*ANSBACHER, H. L., & ANSBACHER,
R. R. (Eds.).
(1964). The individual psychology of
Alfred Adler.
New York: Harper & Row/Torchbooks.
(Origi-
nal work published 1956)
*ANSBACHER, H. L., &
ANSBACHER, R. R.
(Eds.). (1979). Superiority and social
interest. Al-
fred Adler, A collection of his later
writings (3rd
rev. ed.). New York: Norton.
ARCINIEGA, G. M., & NEWLON, B.
J. (2003).
Counseling and psychotherapy:
Multicultur-
al considerations. In D. Capuzzi & D. F.
Gross
(Eds.), Counseling and psychotherapy:
Theories
and interventions (3rd ed., pp. 417-441).
Upper
Saddle River, NJ: Merrill/Prentice-Hall.
BITTER, J. R. (2006, May 25). Am I an
Adlerian?
Ansbacher Lecture, 54th annual
convention
of the North American Society of
Adlerian
Psychology (NASAP), Chicago, IL.
*BITTER, J. R., CHRISTENSEN, O. C.,
HAWES,
C., & NICOLL, W. G. (1998). Adlerian
brief
therapy with individuals, couples, and
fami-
lies. Directions in Clinical and Counseling
Psy-
chology, 8(8), 95-111.
*BITTER, J. R., & NICOLL, W. G.
(2000). Adlerian
brief therapy with individuals: Process
and
practice. Journal of Individual Psychology,
56(1),
31-44.
*BITTER, J. R., & NICOLL, W. G.
(2004). Rela-
tional strategies: Two approaches to
Adlerian
brief therapy. Journal of Individual
Psychology,
60(1), 42-66.
BITTER, J. R., ROBERTS, A., &
SONSTEGARD,
M. A. (2002). Adlerian family therapy. In
J.
Carlson & D. Kjos (Eds.), Theories and
strate-
gies of family therapy (pp. 41-79). Boston:
Allyn
& Bacon.
*CARLSON, J. M., & CARLSON, J. D.
(2000). The
application of Adlerian psychotherapy
with
Asian-American clients. Journal of
Individual
Psychology, 56(2), 214-225.
CARLSON, J., & DINKMEYER, D.
(2003). Time
for a better marriage. Atascadero, CA:
Impact
Publishers.
*CARLSON, J. D.,&ENGLAR-
CARLSON,M.(2008).
Adlerian therapy. In J. Frew & M. D.
Spiegler
(Eds.), Contemporary psychotherapies for
a diverse
world (pp. 93-140). Boston: Lahaska
Press.
*Buku dan artikel yang diberikan tanda
asteriks dianjurkan sebagai bahan bacaan
lanjutan.
*CARLSON, J., & SLAVIK, S. (Eds.).
(1997). Tech- niques in Adlerian
psychology. Philadelphia, PA: Taylor &
Francis.
*CARLSON, J., WATTS, R. E., &
MANIACCI, M. (2006). Adlerian
therapy: Theory and practice.
Washington DC: American Psychological
As- sociation.
*CHRISTENSEN, O. C. (Ed.). (2004).
Adlerian fam- ily counseling (3rd ed.).
Minneapolis, MN: Ed- ucational Media
Corporation.
CLARK, A. (2002). Early recollections:
Theory and practice in counseling and
psychotherapy. New York: Brunner
Routledge.
COREY, G. (1999). Adlerian contributions
to the practice of group counseling: A
personal per- spective. Journal of
Individual Psychology, 55(1),
4-14.
COREY, G. (2003). Adlerian foundations
of group
counseling. Directions in Mental Health
Coun-
seling, 15(2), 13-25.
*COREY, G. (2008). Theory and
practice of group
counseling (7th ed.). Belmont, CA:
Brooks/
Cole.
*COREY, G. (2009). Case approach to
counseling and
psychotherapy (7th ed.). Belmont, CA:
Brooks/
Cole.
DINKMEYER, D., & CARLSON, J.
(2006). Consul-
tation: Creating school-based interventions
(3rd
ed.). New York: Routledge.
DINKMEYER, D. C., & MC KAY, G. D.
(1997). Sys-
tematic training for effective parenting
[STEP].
Circle Pines, MN: American Guidance
Ser-
vice.
DINKMEYER, D., JR., & SPERRY, L.
(2000). Coun-
seling and psychotherapy: An integrated
Individu-
al Psychology approach (3rd ed.). Upper
Saddle
River, NJ: Merrill/Prentice-Hall.
*DISQUE, J. G., & BITTER, J. R. (1998).
Integrat-
ing narrative therapy with Adlerian
lifestyle
assessment: A case study. Journal of
Individual
Psychology, 54(4), 431-450.
DREIKURS, R. (1953). Fundamentals
of Adlerian
psychology. Chicago: Alfred Adler
Institute.
DREIKURS, R. (1967). Psychodynamics,
psychother-
apy, and counseling. Collected papers.
Chicago:
Alfred Adler Institute.
DREIKURS, R. (1968). Psychology in the
classroom
(2nd ed.). New York: Harper & Row.
DREIKURS, R. (1969). Group
psychotherapy from
the point of view of Adlerian psychology.
In
H. M. Ruitenbeck (Ed.), Group therapy
today:
Styles, methods, and techniques (pp.
37-48). New York: Aldine-Atherton.
(Original work published 1957)
DREIKURS, R. (1971). Social equality:
The challenge of today. Chicago: Regnery.
DREIKURS, R. (1997). Holistic medicine.
Individu- al Psychology, 53(2), 127-205.
DREIKURS, R., & MOSAK, H. H.
(1966). The tasks of life: I. Adler's three
tasks. The Individual Psychologist, 4, 18-
22.
DREIKURS, R., & MOSAK, H. H.
(1967). The tasks of life: II. The fourth
task. The Individual Psy- chologist, 4, 51-
55.
ECKSTEIN, D., & BARUTH, L. (1996).
The theory and practice of lifestyle
assessment. Dubuque, IA: Kendall/Hunt.
HAWES, E. C. (1993). Marriage
counseling and en- richment. In O. C.
Christensen (Ed.), Adlerian family
counseling (Rev. ed., pp. 125-163).
Minne- apolis, MN: Educational Media
Corporation.
HAWES, C., & BLANCHARD, L. M.
(1993). Life tasks as an assessment
technique in marital counseling.
Individual Psychology, 49, 306-317.
HOFFMAN, E. (1996). The drive for self:
Alfred Adler and the founding of
Individual Psychology. Read-
ing, MA: Addison-Wesley.
KEFIR, N. (1981). Impasse/priority
therapy. In
R. J. Corsini (Ed.), Handbook of
innovative psy-
chotherapies (pp. 401-415). New York:
Wiley.
MILLIREN, A. P., & CLEMMER, F.
(2006). Intro-
duction to Adlerian psychology: Basic
prin-
ciples and methodology. In S. Slavik &
J.
Carlson (Eds.), Readings in the theory and
prac-
tice of Individual Psychology (pp. 17-43).
New
York: Routledge (Taylor & Francis).
MILLIREN, A. P., EVANS, T. D., &
NEWBAUER, J.
F. (2007). Adlerian theory. In D. Capuzzi
& D. R.
Gross (Eds.), Counseling and
psychotherapy: Theo-
ries and interventions (4th ed., pp. 123-
163). Up-
per Saddle River, NJ: Merrill Prentice-
Hall.
MOSAK, H. H. (1977). On purpose.
Chicago: Alfred
Adler Institute.
*MOSAK, H. H., & DI PIETRO, R.
(2006). Early rec-
ollections: Interpretative method and
application.
New York: Routledge.
MOSAK, H. H., & DREIKURS, R.
(1967). The life
tasks: III. The ?fth life task. The
Individual
Psychologist, 5, 16-22.
MOSAK, H. H., & MANIACCI, M. P.
(1998). Tactics
in counseling and psychotherapy. Itasca,
IL: F. E.
Peacock.
*MOSAK, H. H., & MANIACCI, M. P.
(1999). Prim- er of Adlerian psychology.
New York: Brunner/ Routledge (Taylor &
Francis).
*MOSAK, H. H., & MANIACCI, M. P.
(2008). Ad- lerian psychotherapy. In R. J.
Corsini & D. Wedding (Eds.), Current
psychotherapies (8th ed., pp. 63-106).
Belmont, CA: Brooks/Cole.
MOSAK, H. H., & SHULMAN, B. H.
(1988). Life- style inventory. Muncie, IN:
Accelerated De- velopment.
MOZDZIERZ, G. J., LISIECKI, J.,
BITTER, J. R., & WILLIAMS, A. L.
(1986). Role-functions for Adlerian
therapists. Individual Psychology, 42(2),
154-177.
NYSTUL, M. S. (1999a). An interview
with Gerald
Corey. Journal of Individual Psychology,
55(1),
15-25.
NYSTUL, M. S. (1999b). An interview
with Paul
Pedersen. Journal of Individual
Psychology,
55(2), 216-224.
POPKIN, M. (1993). Active parenting
today. Atlanta,
GA: Active Parenting.
*POWERS, R. L., & GRIFFITH, J.
(1987). Understand-
ing life-style. The psycho-clarity process.
Chicago:
Americas Institute of Adlerian Studies.
POWERS, R. L., & GRIFFITH, J. (1995).
IPCW: The
individual psychology client workbook
with supple-
ments. Chicago: Americas Institute of
Adlerian
Studies. (Original work published 1986)
SCHULTZ, D., & SCHULTZ, S. E.
(2005). Theories of
personality (8th ed.). Belmont, CA:
Wadsworth.
SHERMAN, R., & DINKMEYER, D.
(1987). Sys-
tems of family therapy. An Adlerian
integration.
New York: Brunner/Mazel.
SHULMAN, B. H., & MOSAK, H. H.
(1988). Manu-
al for life style assessment. Muncie, IN:
Acceler-
ated Development.
*SLAVIK, S., & CARLSON, J. (Eds.).
(2006). Readings
in the theory and practice of Individual
Psychology.
New York: Routledge (Taylor & Francis).
*SONSTEGARD, M. A., & BITTER, J.
R. (with
PELONIS, P.). (2004). Adlerian group
counseling
and therapy: Step-by-step. New York:
Brunner/
Routledge (Taylor & Francis).
*SONSTEGARD, M. A., BITTER, J. R.,
PELONIS- PENEROS, P. P., & NICOLL,
W. G. (2001). Ad- lerian group
psychotherapy: A brief therapy approach.
Directions in Clinical and Counseling
Psychology, 11(2), 11-12.
*SPERRY, L., CARLSON, J., &
PELUSO, P. (2006).
Couples therapy. Denver, CO: Love.
SWEENEY, T. J. (1998). Adlerian
counseling: A prac-
titioner's approach (4th ed.). Philadelphia,
PA:
Accelerated Development (Taylor &
Francis).
VAIHINGER, H. (1965). The philosophy
of "as if."
London: Routledge & Kegan Paul.
WATTS, R. E. (1999). The vision of
Adler: An in-
troduction. In R. E. Watts & J. Carlson
(Eds.),
Interventions and strategies in
counseling and
psychotherapy (pp. 1-13). Philadelphia,
PA: Ac-
celerated Development (Taylor & Francis).
WATTS, R. E. (2000). Entering the new
millen-
nium: Is Individual Psychology still
rele-
vant? Journal of Individual Psychology, 56
(1),
21-30.
WATTS, R. E. (2003). Adlerian,
cognitive, and con-
structivist therapies: An integrative
dialogue.
New York: Springer.
*WATTS, R. E., & CARLSON, J. (Eds.).
(1999). In-
terventions and strategies in counseling
and psy-
chotherapy. Philadelphia, PA: Accelerated
De-
velopment (Taylor & Francis).
WATTS, R. E., & HOLDEN, J. M. (1994).
Why con-
tinue to use "?ctional ?nalism"?
Individual
Psychology, 50, 161-163.
WATTS, R. E., & PIETRZAK, D.
(2000). Adle-
rian "encouragement" and the
therapeutic
process of solution-focused brief
therapy.
Journal of Counseling and Development,
78(4),
442-447.
WATTS, R. E., & SHULMAN, B. H.
(2003). Inte-
grating Adlerian and constructive
therapies:
An Adlerian perspective. In R. E. Watts
(Ed.),
Adlerian, cognitive, and constructivist
therapies:
An integrative dialogue (pp. 9-37). New
York:
Springer.
BAB ENAM
Terapi Existensial
Pendahuluan
Latar belakang sejarah dalam
Filsafat dan Existensialisme
Konsep Kunci
Pandangan pada sifat dasar
manusia
Proposisi 1 : capasitas kesadaran
diri
Proposisi 2 : kebebasan dan
tanggungjawab
Proporsi 3 : berjuang untuk
identitas dan hubungan dengan
orang lain
Proposisi 4 : pencarian makna
Proposisi 5 : kebingngan sebagai
kondisi hidup
Proposisi 6 : kesadaran akan
kematian dan ketiadaan
Proses Terapiutik
Tujuan terapituik
Fungsi dan Peran Terapis
Pengalaman klien dalam terapi
Hubungan antara terapis dan klien
Aplikasi : teknik dan prosedur
terapi
Tahapan conseling Existensial
Klien yang cocok untuk konseling
eksistensial
Aplikasi pada terapi singkat
Aplikasi pada konseling kelompok
Terapi Existensial dalam
perpektif multikultural
Kekuatan dari perspektif
keberagaman
Kelemahan dari perspektif
keberagaman
Existensial terapi diaplikasikan
dalam kasus Stan
Kesimpulan dan evaluasi
Kontribusi pendekatan existensial
Batasan dan kritik dari pendekatan
existensial
Kemana Pergi dari sini
Bacaan Tambahan yang
direkomendasikan
Referensi dan bacaan yang
disarankan
VIKTOR FRANKL / ROLLO MAY
VIKTOR
FRANKL
(1905-1997)
lahir dan
belajar di
Vienna. Dia
membentuk
Youth
Advisement Centers pada tahun 1928 dan
mengarahkan mereka hingga 1938. Dari 1942
hingga 1945 ia adalah tawanan di kamp konsentrasi
Nazi di Auschwitz dan Dachau, dimana kedua
orang tuanya, saudara laki, istri dan anak-anaknya
meninggal. Dia dengan samar mengingat
pengalaman mengerikan di kamp tersebut, namun
dia bisa menggunakan pengalaman itu dengan cara
konstruktif dan tidak membiarkannya menguapkan
cinta dan semangatnya untuk hidup. Dia berkeliling
dunia, memberi kuliah di eropa, Amerika Latin,
Asia Tenggara, dan Amerika Serikat.
Frank meraih gelar MD pada tahun 1930
dan gelar PhD filsafat pada tahun 1949, dari
universitas Vienna. Dia menjadi professor tamu di
universita Vienna dan kemudian menjadi
pembicara pada Universitan Internasional Amerika
Serikat di San Diego. Dia adalah professor tamu di
Harvard, Stanford, dan universitas-universitas
metodis selatan. Karya Frankl telah diterjemahkan
ke dalam lebih 20 bahasa, dan idenya terus
memberikan dampak besar dalam perkembangan
terapi eksistensial. Bukunya Man’s Search for
Meaning (1963), yang berjudul asli From Death
Camp to Existentialisme, menjadi buku best-seller
di seluruh dunia.
Meskipun Frankl telah mulai untuk
mengembangkan pendekatan eksistensial pada
praktik klinik sebelum tahun-tahun suramnya di
kamp kematian Nazi, pengalamannya disana
menguatkan pandangannya. Frankl (1963) secara
pribadi mengamati dan mengalami kebenaran yang
disuarakan oleh filosof dan penulis
existensial,termasuk pandangan bahwa cinta adalah
tujuan tertinggi yang bisa dicita-citakan manusia
dan bahwa keselamatan itu dari cinta. Bahwa kita
memiliki pilihan disetiap situasi adalah pernyataan
lain yang dikuatkan oleh pengalamannya di kamp
konsentrasi. Bahkan dalam situasi buruk, dia
percaya, kita bisa mempertahankan sisa kebebasan
spiritual dan kemerdekaan pikiran. Dia belajar
secara eksperimen bahwa segalanya bisa diambil
dari seseorang kecuali satu hal :” akhir
kemerdekaan manusiauntuk memilih sikap
dalam situasi apapun, untuk memilih cara sendiri
(p.104) Frankl percaya bahwa esensi dari manusia
terletak pada pencarian makna dan tujuan. Kita bisa
menemukan makna ini melalui tindakan dan
perbuatan kita, dengan mengalami sebuah nilai
(seperti cinta atau prestasi melalui kerja), dan
dengan menderita.
Frankl mengetahui dan membacara Freud
dan menghadiri beberapa pertemuan pada
kelompok Psikoanalisis Freud, meskipun ia tidak
setuju dengan kekakuan sistem psikoanalisis Freud.
Frankl sering mengatakan bahwa Freud adalah
seorang psikologis dalam dan bahwa dia adalah
psikologis tinggi yang dibangun diatas pondasi
Freud. Bereaksi terhadap kebanyakan pernyataan
deterministik Freud, Frankl membangun teori dan
praktik psikoterapinya dengan menekankan pada
konsep kebebasan, tanggung jawab, arti dan
pencarian nilai. Dia membangun reputasi
internasionalnya sebagai founder dari yang dinamai
“ The Third School of Viennese Psychoanalysis.
Saya telah memilih Frankl sebagai satu
tokoh kunci dari pendekatan existensial dikarena
cara dramatisnya dimana teorinya diuji oleh tragedi
hidupnya. Hidupnya adalah ilustrasi dari teorinya,
karena dia hidup pada apa yang didukung teorinya.
ROLLO MAY (1909-1994)
awalnya tinggal di Ohio lalu
pindah ke Michidan sebagai anak
termuda dari lima saudara laki-
laki dan satu saudara perempuan.
Dia mengenang rumahnya
sebagai situasi yang tidak
bahagia, sebuah kondisi yang berpengaruh dengan
ketertarikannya dalam psikologi dan konseling.
dalam kehidupan pribadinya, May berusaha dengan
perhatian exitensialnya dan kegagalannya dalam
dua pernikahan.
Meskipun dengan pengalaman hidupnya
yang tidak membahagiakan, dia lulus dari Oberlin
College pada tahun 1930 lalu pergi ke Yunani
sebagai seorang guru. Selama musim panas di
Yunani dia ke Vienna untuk belajar pada Alfred
Adler. Setelah menerima gelar dalam teologi dari
Union Theological Seminary, May memutuskan
bahwa cara terbaik untuk menyentuh dan
membantu orang lain adalah melalui psikologi dan
bukannya teologi. Setelah menyelesaikan studi
doktornya di psikologi klinik di Universitas
Kolombia, May mendirikan praktik pribadi di New
York sementara ia juga menjadi supervisor dan
analis training pada Institut William Alanson.
Ketika William menjalani program
doktoralnya, dia menderita tuberculosis, yang
menjadikannya harus di rawat di sanitarium selama
dua tahun. Selama masa penyembuhannya, May
menhabiskan banyak watu belajar langsung tentang
asal dari kebingungan. Dia juga menghabiskan
waktu untuk membaca, dia membca karya dari
soren kierkegaard, yang merupakan katalis bagi
pengenalannya pada dimensi ekistensial
kebingungan. Studi ini terdapat dalam bukunya The
Meaning of Anxiety (1950). Buku populernya Love
and Will (1969) merefleksikan perjuangan
pribadinya sendiri dengan cinta dan hubungand
ekat serta mencerminkan masyarakat barat
mempertanyakan nilainya menyinggung sex dan
pernikahan.
Pengaruh pribadi terbesar bagi May adalah
filsif Jerman, Paul Tillich (penulis dari The
Courage to Be, 1952), yang menjadi mentor serta
sahabatnya. Keduanya menghabiskan banyak
waktu bersama membahas topik-topik filosofi,
agama, dan psikologi. Kbanyakan dari tulisan May
mencerminkan sebuah perhatian terhadap sifat dari
pengalaman manusia, seperti mengenali dan
berhadapan dengan kekuatan, menerima kebebasan
dan tanggungjawab, serta menemukan identitas
diri. Dia menarik dari pengetahunnya yang luas
berdasarkan pada tulisan klasik dan pandangan
existensialnya.
May merupakan pendukung utama dari
pendekatan humanistik pada psikoterapi, dan dia
adalah juru bicara amerika dalam pemikiran
existensial Eropa ketika diaplikasikan kedalam
psikoterapi. Dia yakin bahwa psikoterapi harus
bertujuan untuk membantu orang menemukan
makna hiudp dan harus memperhatikan masalah
daripada penyelesaian masalah. Pertanyaan akan
keberadaan mencakup belajar untuk berhadapan
engan masalah seperti sex dan keakrabab, menua,
dan menghadapi kematian. Menurut May,
tantangan sesungguhnya bagi orang-orang adalah
untuk dapat hidup di dunia dimana mereka sendiri
dan dimana mereka pasti akan menghadapi
kematian. Dia berpendapat bahwa individualisme
kita harus diseimbangkan dengan apa yang
dikatakan Adler sebagai ketertarikan sosial. Ini
adalah tugas terapi untuk membantu individu
menemukan cara untuk berkontribusi demi
perbaikan masyarakat dimana mereka hidup
Pembahasan
Terapi existensial lebih merupakan sebuah cara berpikir daripada gaya khusus dari psikoterapi
praktik (Russel, 2007). Ini bukanlah sebuah sekolah terapi yang independen juga tidak terpisah,
ia juga bukan sebuah model yang didefiniskan dengan rapi dengan teknik khusus. Exitensial
terapi dapan digambarkan sebagai sebuah pendekatan filosofis yang mempengaruhi praktik terapi
seorang konselor. Pendekatan ini berdasar pada asumsi bahwa kita bebas namun tetap
bertanggung jawab atas setiap pilihan dan tindakan. Kita adalah penulis bagi hidup kita sendiri,
dan kita merancang jalan untuk kita ikuti. Bab ini membahas beberapa ide dan tema existesial
yang memberikan implikais khusu bagi praktisioner berorientasi existesial.
Pendekatan existensial menolak pandangan deterministik dari sifat dasar manusia didukung oleh
psikoanalisis ortodox dan behaviorisme tradisional. Psikoanalisis memandang kemerdekaan
dibatasi oelh kekuatan ta sadar, dorongon tidak rasional, dan kejadian masa lalu; behavioris
memandang kemerdekaan dibatasi oleh kondisi sosiokultural. Sebalinya, terapis existensial
mengenali beberapa fakta tentang situasi manusia tetapi menekankan kemerdekaan kit auntuk
memilih apa yang akan dilakukan untuk lingkungan kita.
Premis existensial dasar adalah bahwa ktia bukanlah korban dari lingkungan karena, kita
adalah apa yang kita pilih. Tujuan utama dari terapi adalah untuk mendorong klien merefleksikan
hidup, untuk mengenali batasan dan alternatif, dan untuk memutuskan. Setelah klien memulai
proses mengenali cara-cara di mana mereka secara pasif menerima keadaan dan menyerahkan
kendali, mereka dapat mulai pada jalur yang secara sadar membentuk kehidupan mereka sendiri.
Yalom (2003) menekankan bahwa langkah pertama dalam perjalanan terapeutik adalah agar
klien menerima tanggungjawab: “Begitu individu mengenali peran mereka dalam menciptakan
kesulitan hidup mereka sendiri, mereka juga menyadari bahwa mereka, dan hanya mereka, yang
memiliki kekuatan untuk mengubah situasi itu (hlm. 141). Salah satu tujuan dari terapi
eksistensial adalah untuk menantang orang-orang untuk berhenti menipu diri mereka sendiri
mengenai kurangnya tanggungjawab mereka atas apa yang terjadi pada mereka dan tuntutan
hidup mereka yang berlebihan (van Deurzen, 2002b).
Van Deurzen (2002a) menulis bahwa konseling eksistensial tidak dirancang untuk
"menyembuhkan" orang yang sakit dalam tradisi model medis. Dia tidak memandang klien
sebagai orang sakit tetapi "muak hidup atau canggung dalam hidup" (hlm. 18) dan tidak mampu
menjalani kehidupan yang produktif. Dalam terapi eksistensial, perhatian diberikan pada
pengalaman langsung dan berkelanjutan klien dengan tujuan membantu mereka mengembangkan
kehadiran yang lebih besar dalam pencarian mereka akan makna dan tujuan (Sharp & Bugental,
2001). Tugas dasar terapis adalah untuk mendorong klien untuk mengeksplorasi pilihan mereka
untuk menciptakan keberadaan yang bermakna. Kita dapat mulai dengan mengakui bahwa kita
tidak harus tetap menjadi korban pasif dari keadaan kita, tetapi sebaliknya dapat secara sadar
menjadi arsitek kehidupan kita.
Latar Belakang Sejarah dalam Filsafat dan Eksistensialisme
Gerakan terapi eksistensial tidak didirikan oleh orang atau kelompok tertentu; banyak aliran
pemikiran berkontribusi padanya. Ditarik dari orientasi utama dalam filsafat, terapi eksistensial
muncul secara spontan di berbagai bagian Eropa dan di antara berbagai sekolah psikologi dan
psikiatri pada 1940-an dan 1950-an. Hal ini tumbuh dari upaya untuk membantu orang-orang
menyelesaikan dilema kehidupan kontemporer, seperti isolasi, keterasingan, dan
ketidakbermaknaan. Penulis terdahulu berfokus pada pengalaman individu yang sendirian di
dunia dan menghadapi kegelisahan dari situasi ini. Perspektif eksistensial Eropa berfokus pada
keterbatasan manusia dan dimensi kehidupan yang tragis (Sharp & Bugental, 2001).
Pemikiran para psikolog dan psikiater eksistensial dipengaruhi oleh sejumlah filsuf dan
penulis selama abad ke-19. Untuk memahami dasar-dasar filosofis psikoterapi eksistensial
modern, seseorang harus memiliki kesadaran tokoh-tokoh seperti Søren Kierkegaard, Friedrich
Nietzsche, Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre, dan Martin Buber. Tokoh-tokoh utama
eksistensialisme dan fenomenologi eksistensial ini dan tulisan-tulisan budaya, filosofis, dan
keagamaan mereka memberikan dasar untuk pembentukan terapi eksistensial. Ludwig
Binswanger dan Medard Boss juga termasuk dalam bagian ini karena keduanya adalah
psikoanalis eksistensial awal yang menyumbangkan ide-ide kunci untuk psikoterapi eksistensial.
SØREN KIERKEGA ARD (18131855) Seorang filsuf Denmark, Kierkegaard khususnya
prihatin terhadap angst kata Denmark dan Jerman yang maknanya terletak di antara kata-kata
bahasa Inggris menakutkan dan kecemasan dan ia membahas peran kecemasan dan
ketidakpastian dalam kehidupan. Ada kecemasan eksistensial terkait dengan membuat keputusan
dasar tentang bagaimana kita ingin hidup. Tanpa mengalami kecemasan, kita bisa menjalani
hidup sebagai orang yang berjalan sambil tertidur. Tetapi banyak dari kita, terutama di masa
remaja, dibangunkan ke dalam kehidupan nyata oleh kegelisahan yang mengerikan. Hidup
adalah kemungkinan yang dating satu demi satu, tanpa jaminan di luar kepastian kematian. Ini
sama sekali bukan keadaan nyaman, tetapi penting bagi kita untuk menjadi manusia. Yang
dibutuhkan adalah kesediaan untuk mengambil risiko untuk melangkah dalam membuat pilihan.
Menjadi manusia adalah sebuah proyek, dan tugas kita bukanlah menemukan siapa diri kita
sendiri, melainkan untuk menciptakan diri kita sendiri.
FRIEDRICH NIETZSCHE (18441900) Filsuf Jerman Nietzsche adalah rekan iconoclastic bagi
Kierkegaard, yang mengekspresikan pendekatan revolusioner terhadap diri, etika, dan
masyarakat. Seperti Kierkegaard, dia menekankan pentingnya subjektivitas. Nietzsche berusaha
membuktikan bahwa definisi kuno tentang manusia yang berakal sepenuhnya menyesatkan. Kita
lebih kepada makhluk yang lebih banyak berkehendak daripada makhluk yang menggunakan
kecerdasan. Tetapi ketika Kierkegaard menekankan “kebenaran subyektif” dari kepedulian yang
intens dengan Tuhan, Nietzsche menempatkan nilai-nilai dalam “keinginan individu untuk
berkuasa”. Kita memberikan pengakuan yang jujur atas sumber nilai ini ketika masyarakat
mengundang kita untuk merasionalisasi ketidakberdayaan dengan mengadvokasi kepentingan
duniawi lainnya. Jika, seperti domba, kita menyetujui “kawanan moralitas,” kita tidak akan
menjadi apa-apa selain berada di tengah-tengahnya. Tetapi jika kita melepaskan diri dengan
memberikan kendali bebas pada keinginan kita untuk berkuasa, kita akan memanfaatkan potensi
kita untuk kreativitas dan orisinalitas. Kierkegaard dan Nietzsche, dengan studi perintis mereka
tentang subjektivitas dan diri yang muncul, umumnya bersama-sama dianggap sebagai pencetus
perspektif eksistensial (Sharp & Bugental, 2001).
MARTIN HEIDEGGER (18891976) Pengalaman subjektif sebagai manusia yang begitu
dramatis diungkapkan oleh Kierkegaard dan Nietzsche berkembang menjadi metode
pembelajaran pengalaman abad ke-20 yang disebut fenomenologi. Eksistensialisme
fenomenologis Heidegger mengingatkan kita bahwa kita ada “di dunia” dan jangan mencoba
menganggap diri kita sebagai makhluk yang terpisah dari dunia tempat kita terdampar. Cara kita
menjalani kehidupan sehari-hari dengan percakapan yang dangkal dan rutin menunjukkan bahwa
kita sering berasumsi bahwa kita akan hidup selamanya dan sanggup membuang-buang hari
demi hari. Suasana hati dan perasaan kita (termasuk kecemasan tentang kematian) adalah cara
untuk memahami apakah kita hidup secara otentik atau apakah kita secara tidak sadar
membangun hidup kita di sekitar harapan orang lain. Ketika kita menerjemahkan kebijaksanaan
ini dari perasaan yang tidak jelas ke kesadaran eksplisit, kita dapat mengembangkan tekad yang
lebih positif tentang bagaimana kita ingin menjadi. Fenomenologi, sebagaimana disampaikan
oleh Heidegger, memberikan pandangan tentang sejarah manusia yang tidak berfokus pada
peristiwa masa lalu tetapi memotivasi individu untuk menantikan "pengalaman otentik" yang
belum datang.
JEAN-PAUL SARTRE (19051980) Seorang filsuf dan novelis, Sartre yakin, sebagian tahun-
tahunnya yang berbahaya dalam Perlawanan Prancis pada Perang Dunia II, bahwa manusia
bahkan lebih bebas daripada yang diyakini oleh eksistensialis sebelumnya. Keberadaan ruang
ketiadaanantara seluruh masa lalu kita dan keadaa sekarang membebaskan kita untuk memilih
apa yang kita inginkan. Nilai-nilai kita adalah apa yang kita pilih. Kegagalan untuk mengakui
kebebasan dan pilihan kita menghasilkan masalah emosional. Kebebasan ini sulit dihadapi, jadi
kita cenderung menciptakan alasan dengan mengatakan, "Saya tidak bisa berubah sekarang
karena kondisi masa lalu saya." Sartre menyebut alasan itu sebagai "itikad buruk." Tidak peduli
apa yang telah kita lakukan, kita dapat membuat pilihan sekarang dan menjadi sesuatu yang
sangat berbeda. Kami dikutuk untuk bebas. Memilih berarti berkomitmen: Ini adalah
tanggungjawab yang merupakan sisi lain dari kebebasan. Pandangan Sartre adalah bahwa pada
setiap saat, dengan tindakan kita, kita memilih siapa kita. Keberadaan kita tidak pernah
diperbaiki atau diselesaikan. Setiap tindakan kami mewakili pilihan baru. Ketika kita berusaha
untuk menentukan siapa kita, kita terlibat dalam penipuan diri sendiri (Russell, 2007).
MARTIN BUBER (18781965) Meninggalkan Jerman untuk tinggal di negara baru Israel,
Buber mengambil sikap yang kurang individualistis daripada kebanyakan eksistensialis lainnya.
Dia berkata bahwa kita manusia hidup dalam semacam hubungan; yaitu, tidak pernah hanya ada
aku, tetapi selalu ada yang lain. Aku, orang yang merupakan agen, berubah tergantung pada
apakah yang lain itu sesuatu atau Anda. Tetapi kadang-kadang kita membuat kesalahan serius
dengan mereduksi orang lain menjadi status objek belaka, dalam hal ini hubungan itu menjadi
saya / itu. Buber menekankan pentingnya kehadiran, yang memiliki tiga fungsi: (1)
memungkinkan hubungan sejati antara Aku/Anda; (2) memungkinkan makna ada dalam suatu
situasi; dan (3) memungkinkan seseorang untuk bertanggungjawab di sini dan saat ini (Gould,
1993). Dalam dialog yang terkenal dengan Carl Rogers, Buber berpendapat bahwa terapis dan
klien tidak akan pernah bisa berada di pijakan yang sama karena yang terakhir datang terlebih
dahulu untuk meminta bantuan. Ketika hubungan saling menguntungkan, kita telah menjadi
"dialogis", kondisi yang sepenuhnya manusiawi. Buber memberikan kontribusi signifikan pada
teologi Yahudi-Kristen abad ke-20.
LUDWIG BINSWANGER (18811966) Seorang analis eksistensial, Binswanger mengusulkan
model diri holistik yang membahas hubungan antara orang tersebut dan lingkungannya. Dia
menggunakan pendekatan fenomenologis untuk mengeksplorasi fitur signifikan dari diri,
termasuk pilihan, kebebasan, dan kepedulian. Binswanger menerima gagasan Heidegger bahwa
kita “terdampar ke dunia.” Namun, “keterdamparan” ini tidak melepaskan kita dari
tanggungjawab pilihan kita dan untuk perencanaan masa depan (Gould, 1993). Analisis
eksistensial (analisis dasein) menekankan dimensi subyektif dan spiritual dari keberadaan
manusia. Binswanger (1975) berpendapat bahwa krisis dalam terapi adalah poin pilihan utama
bagi klien. Meskipun ia awalnya melihat teori psikoanalitik untuk menjelaskan psikosis, ia
bergerak menuju pandangan eksistensial pasiennya. Perspektif ini memungkinkannya untuk
memahami pandangan dunia dan pengalaman langsung para pasiennya, serta makna perilaku
mereka, sebagai lawan dari melapiskan pandangannya sebagai seorang terapis pada pengalaman
dan perilaku mereka.
MEDARD BOSS (1903-1991) Baik Binswanger dan Boss adalah psikoanalis eksistensial awal
dan tokoh-tokoh penting dalam pengembangan psikoterapi eksistensial. Mereka merujuk pada
dasein atau berada di dunia, yang berkaitan dengan kemampuan kita untuk merenungkan
peristiwa-peristiwa kehidupan dan menghubungkan makna dengan peristiwa-peristiwa ini.
Mereka percaya bahwa terapis harus memasuki dunia subjektif klien tanpa prasangka yang akan
menghalangi pemahaman pengalaman ini. Baik Binswanger dan Boss secara signifikan
dipengaruhi oleh karya penting Heidegger, Being and Time (1962), yang memberikan dasar luas
untuk memahami individu (May, 1958). Boss (1963) sangat dipengaruhi oleh psikoanalisis
Freudian, tetapi lebih dari itu oleh Heidegger. Minat profesional utama Boss adalah menerapkan
konsep filosofis Heidegger ke dalam praktik terapi, dan dia terutama memusatkan perhatian pada
pengintegrasian metode Freud dengan konsep Heidegger, seperti yang dijelaskan dalam bukunya
Daseinanalysis and Psychoanalysis.
Tokoh Kunci dalam Psikoterapi Eksistensial Kontemporer
Viktor Frankl, Rollo May, James Bugental, dan Irvin Yalom semuanya mengembangkan
pendekatan eksistensial mereka terhadap psikoterapi dari latar belakang yang kuat dalam
psikologi eksistensial dan humanistik. Viktor Frankl adalah tokoh sentral dalam
mengembangkan terapi eksistensial di Eropa dan juga membawanya ke Amerika Serikat.
Sebagai seorang pemuda, Frankl sangat dipengaruhi oleh Freud, tetapi ia menjadi murid Adler.
Kemudian, ia dipengaruhi oleh tulisan-tulisan para filsuf eksistensial, dan ia mulai
mengembangkan filsafat eksistensial dan psikoterapi. Dia suka mengutip Nietzsche: "Dia yang
memiliki alasan untuk hidup dapat bertahan dengan hampir semua cara" (seperti dikutip dalam
Frankl, 1963, hal. 121, 164). Frankl berpendapat bahwa kata-kata itu bisa menjadi moto untuk
semua praktik psikoterapi. Kutipan lain dari Nietzsche tampaknya menangkap esensi dari
pengalamannya sendiri dan tulisannya: "Apa yang tidak membunuhku, membuatku lebih kuat"
(seperti dikutip dalam Frankl, 1963, hal. 130).
Frankl mengembangkan logoterapi, yang berarti “terapi melalui makna.” Model filosofis
Frankl menjelaskan apa artinya hidup sepenuhnya. “Menjadi hidup mencakup kemampuan untuk
menguasai kehidupan hari demi hari serta menemukan makna dalam penderitaan” (Gould, 1993,
hlm. 124). Tema sentral yang dijalankan melalui karya-karyanya adalah kehidupan memiliki
makna, dalam segala situasi; motivasi utama untuk hidup adalah keinginan untuk bermakna;
kebebasan untuk menemukan makna dalam semua yang kita pikirkan; dan integrasi tubuh,
pikiran, dan jiwa. Menurut Frankl, orang modern memiliki sarana untuk hidup tetapi seringkali
tidak memiliki arti untuk hidup. Proses terapi ditujukan untuk menantang individu untuk
menemukan makna dan tujuan melalui, antara lain, penderitaan, pekerjaan, dan cinta (Frankl,
1965)
Bersama dengan Frankl, psikolog Rollo May sangat dipengaruhi oleh para filsuf
eksistensial, oleh konsep-konsep psikologi Freudian, dan oleh banyak aspek Psikologi Individu
Alfred Adler. Baik Frankl dan May menyambut fleksibilitas dan keberagaman dalam praktik
psikoanalisis (Gould, 1993). May adalah salah satu tokoh kunci yang bertanggungjawab
membawa eksistensialisme dari Eropa ke Amerika Serikat dan menerjemahkan konsep-konsep
kunci ke dalam praktik psikoterapi. Tulisan-tulisannya telah berdampak signifikan pada praktisi
yang berorientasi eksistensial. Yang paling penting dalam memperkenalkan terapi eksistensial ke
Amerika Serikat adalah buku Existence: A New Dimension in Psychiatry and Psychology (May,
Angel, & Ellenberger, 1958). Menurut May, dibutuhkan keberanian untuk "menjadi," dan pilihan
kita menentukan orang seperti apa kita nantinya. Ada pergulatan yang konstan di dalam diri kita.
Meskipun kita ingin tumbuh menuju kedewasaan dan kemandirian, kita menyadari bahwa
ekspansi seringkali merupakan proses yang menyakitkan. Oleh karena itu, perjuangan berada di
antara keamanan dalam kepercayaan serta kesenangan dan penderitaan dalam perkembangan.
Selain May, dua terapis penting pengguna model eksistensial lainnya di Amerika Serikat
adalah James Bugental dan Irvin Yalom. Bugental mengembangkan pendekatan terapi yang
didasarkan pada permasalahan eksistensial yang dihadapi klien dan memberikan penekanan
khusus kepada integritas diri klien sebagai individu (Sharp & Bugental, 2001). Dalam buku The
Art of Psychotherapist (1987), Bigental menggambarkan pendekatannya sebagai pendekatan
yang dapat merombak dunia terapi. Ia melihat terapi sebagai perjalanan terapis dan klien
mengeksplor secara mendalam dunia subyektif klien. Ia menekankan bahwa perjalanan ini
mengharuskan terapis mampu untuk ingin menghadapi pandangan fenomenalogis dunianya
sendiri. Menurut Bugental, tujuan utama terapi adalah untuk membantu klien mengkaji ulang
asumsi-asumsi eksistensial hidup mereka dan untuk mengajak mereka merevisi ulang asumsi-
asumsi tersebut untuk membuat mereka bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Dalam buku
Psychotherapy Isn’t What You Think (1999), Bugental menggambarkan proses melihat dunia
dengan persepsi “disini dan sekarang” yang dibentuk dalam hubungan terapi.
Irvin Yalom (198) menyadari kontribusi yang diberikan oleh psikologis dan psikiatris
Eropa dan Amerika yang mempengaruhi perkembangan praktik dan cara berpikir eksistensial.
Dengan mengambil referensi dari penelitian-penelitian empiris dan pengalamannya sendiri, dari
filsafat, dan dari sastra, Yalom telah berhasil mengembangkan pendekatan terapi eksistensial
yang berfokus pada empat kekhawatiran eksistensial” utama manusia: kematian, kebebasan
dan tanggung jawab, kesendirian, dan keputusasaan. Semua kekhawatiran eksistensial ini terkait
pada eksistensi klien atau keberadaannya di dunia ini. Buku teorinya, Existential Psychotherapy
(1980), dianggap sebagai suatu pencampaian besar dalam dunia psikoterapi. Yalom menyadari
pengaruh yang diberikan oleh sejumlah novelis dan filsuf pada tulisan-tulisannya. Khususnya, ia
memperoleh tema-tema berikut dari sejumlah filsuf yang mempengaruhinya tersebut:
Dari Kierkegaard: kekhawatiran kreatif, keputusasaan, ketakutan, rasa bersalah, dan
kehampaan
Dari Nietzche: kematian, bunuh diri, dan keinginan
Dari Heidegger: diri autentik, kepedulian, kematian, rasa bersalah, tanggung jawab
individual, dan kesendirian
Dari Sartre: kehampaan, tanggung jawab, dan keputusan
Dari Buber: hubungan intrapersonal, Prespektif Saya/Anda dalam terapi, dan
transendensi diri
Yalom menganggap Frankl sebagai pemikir pragmatis yang mempengaruhi dirinya, baik dalam
tulisan-tulisannya maupun dalam caranya melakukan penanganan. Yalom merasa bahwa
sebagian besar terapis berpengalaman, terlepas dari orientasi teoritisnya, menerapkan tema-tema
eksistensial yang ia tuliskan dalam bukunya. Tema-tema eksistensial ini mengandung inti
psikodinamika eksistensial, dan tema-tema tersebut memiliki relevansi kuat terhadap penanganan
klinis.
Telah banyak perkembangan siginfikan yang terjadi dalam pendekatan eksistensial di
Inggris. Laing dan Cooper (1964) meninjau kembali dengan kritis pemahaman terkait penyakit
jiwa dan cara penanganannya, dan mereka berdua mendirikan komunitas terapi eksperimental di
London. Emmy van Deurzon juga berkontribusi dalam mengembangkan pendekatan eksistensial
lebih jauh lagi di Inggris. Saat ini, Emmy van Deurzon mengembangkan program pelatihan
akademik di Sekolah Psikoterapi dan Konseling Baru. Dalam beberapa dekade terakhir,
pendekatan eksistensial tersebar dengan cepat di Inggris dan saat ini dianggap sebagai model
alternatif metode-metode tradisional terapi (van Deurzen, 2002b). Untuk mengetahui konteks
historis dan gambaran perkembangan terapi eksistensial di Inggris, lihat van Deurzen (2002b)
dan Cooper (2003); jika ingin membaca rangkuman teori dan praktik terapi eksistensial, lihat van
Deurzen (2002a).
Konsep-Konsep Utama
Pandangan mengenai Sifat Manusia
Hal paling signifikan dari pergerakan terapi eksistensial ini adalah bahwa model
terapi tersebut merupakan sebuah bentuk reaksi melawan pemahaman teknik terapi yang selama
ini cenderung diterima. Terapi eksistensial mendasarkan proses terapinya pada pemahaman
terkait arti menjadi manusia sebenarnya. Terapi eksistensial ini dikenal karena modelnya yang
menghargai diri klien sebagai individu, teknik terapinya yang mendalami aspek-aspek baru
perilaku manusia, dan karena metode pemahaman manusianya yang beragam. Terapi model
eksistensial menggunakan sejumlah pendekatan yang berlandas pada sifat inti manusia.
Tradisi eksistensial mencari keseimbangan antara kesadaran manusia akan
keterbatasannya dan dimensi tragis diri eksistensi manusia di satu sisi dengan kemungkinan serta
harapan yang ada dalam kehidupan manusia di sisi lain. Terapi ini muncul dari adanya keinginan
untuk membantu orang-orang menghadapi dilema kontemporer hidupnya, seperti kesendirian,
pengasingan, dan keputusasaan. Fokus utama pendekatan eksistensial berada pada pengalaman
individu tersebut hidup di dunia ini menghadapi kekhawatiran kesendiriannya ini.
Pandangan eksistensial terkait sifat manusia didasarkan pada pemahaman bahwa
signifikansi eksistensi kita sebagai manusia tidak akan pernah jelas; namun, kita sebagai manusia
terus-menerus menciptakan diri kita melalui proyeksi-proyeksi yang kita perlihatkan. Manusia
selalu berada dalam keadaan transisi, memunculkan diri, mengembangkan diri, dan menjadikan
diri. Dengan menjadi seseorang, itu artinya bahwa kita menemukan dan memahami eksistensi
kita. Kita terus-menerus mempertanyakan diri kita, orang lain, dan dunia ini. Meskipun
pertanyaan yang kita pikirkan berbeda-beda sesuai dengan tahapan masa perkembangan diri kita,
tema pertanyaan-pertanyaan ini pada intinya adalah sama. Kite mempertanyakan pertanyaan
yang sama yang direnungkan oleh para filsuf sepanjang sejarah peradaban Barat: “Siapa Saya?”
“Apa yang bisa saya mengerti?” “Apa yang harus saya lakukan?” “Apa yang harus saya
harapkan?” “Kemana tujuan saya?”
Dimensi dasar kondisi manusia, menurut pendekatan eksistensial, termasuk hal-hal
seperti (1) kemampuan mawas dir; (2) kebebasan dan tanggung jawab; (3) penciptaan identitas
diri dan penjalinan hubungan bermakna dengan orang lain; (4) pencarian arti, tujuan, nilai, dan
visi hidup; (5) kecemasan yang muncul akibat menjadi manusia; dan (6) kesadaran akan
kematian dan ketidakberadaan. Saya mengembangkan proposisi-proposisi ini dalam pembahasan
di bawah dengan merangkumkan tema-tema yang muncul dalam tulisan-tulisan para filsuf dan
psikoterapis eksistensial, dan saya juga membahas implikasi tiap-tiap tema ini ke dalam praktik
konseling.
Proposisi 1: Kemampuan Mawas Diri
Sebagai manusia, kita mampu merefleksikan dan membuat keputusan sendiri karena kita
memiliki kemawasan diri. Semakin besar rasa mawas diri kita, semakin besar pula kemungkinan
kita untuk merasakan kebebasan (lihat Proposisi 2). Semakin kita mengembangkan rasa mawas
diri kita dalam aspek-aspek di bawah ini, semakin kita meningkatkan kapasitas kita untuk hidup
sepenuhnya.
Kita memiliki keterbatasan dan tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan
segala hal yang kita inginkan dalam hidup kita.
Kita memiliki kemungkinan untuk bertindak atau tidak bertindak; memutuskan untuk
tidak melakukan sesuatu itu sendiri adalah termasuk bentuk keputusan.
Kita memilih tindakan kita, sehingga diri kita juga lah yang menciptakan takdir kita
sendiri.
Makna atau Arti merupakan produk dari cara kita menempatkan diri kita di dunia ini, dan
bagaimana kita menjalani kehidupan secara kreatif melalui komitmen.
Semakin kita meningkatkan kesadaran kemungkinan pilihan yang ada, semakin
meningkat rasa tanggung jawa kita terhadap konsekuensi pilihan-pilihan ini.
Diri kita rentan terhadap perasaan kesepian, keputusasaan, kekosongan, rasa bersalah,
dan kesendirian.
Kita pada dasarnya sendiri, namun kita dapat berhubungan dengan sesama mahkluk
lainnya.
Kita dapat memutuskan ingin mengembangkan atau membatasi kesadaran diri kita. Karena
kemawasan diri merupakan akar dari sebagian besar kapasitas diri kita sebagai manusia,
keputusan kita untuk mengembangkan kesadaran diri kita ini adalah sesuatu yang fundamental
bagi pengembangan diri kita sebagai manusia. Berikut adalah bentuk munculnya peningkatan
rasa mawas diri yang klien dapat rasakan dalam proses konseling:
Mereka menemukan bahwa mereka menukar keamanan rasa ketergantungan mereka
dengan kekhawatiran yang timbul ketika mereka keluar dari rasa aman tersebut.
Mereka mulai melihat bahwa identitas diri mereka bergantung pada definisi orang lain
mengenai diri mereka; dimana mereka lebih mencari kepastian dan penerimaan diri
sendiri dari orang lain daripada mencari kepastian tersebut dari dalam diri sendiri.
Mereka menyadari bahwa mereka memenjarakan diri mereka dengan keputusan masa
lalu mereka, dan mereka kemudian menyadari bahwa mereka bisa membuat keputusan
baru.
Mereka menyadari bahwa meskipun mereka tidak dapat mengubah peristiwa-peristiwa
tertentu dalam hidup mereka, mereka dapat mengubah cara memandang dan menyikapi
peristiwa-peristiwa tersebut.
Mereka menyadari bahwa diri mereka tidak terkutuk untuk memiliki masa depan yang
serupa dengan masa lalu mereka, karena mereka dapat belajar dari masa lalu mereka dan
kemudian membentuk ulang masa depan mereka.
Mereka menyadari bahwa mereka terlalu disibukkan dengan penderitaan, kematian, dan
kesusahan hidup sehingga mereka tidak lagi mengapresiasi hidup mereka.
Mereka dapat menerima keterbatasan diri mereka dan tetap merasa percaya akan
kemampuan diri mereka sendiri, karena mereka memahami bahwa mereka tidak harus
sempurna untuk percaya pada diri sendiri.
Mereka menyadari bahwa selama ini mereka tidak hidup di momen sekarang karena
mereka disibukkan dengan masa lalu, kecemasan terhadap masa depan, atau dengan
melakukan telalu banyak hal sekaligus.
Meningkatkan kesadaran diri, termasuk kesadaran akan adanya alternatif pilihan lain dalam
hidup, adanya motivasi, dan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi diri seseorang, adalah
tujuan semua bentuk konseling. Tugas terapis adalah untuk mengindikasikan pada klien bahwa
klien harus mengorbankan sesuatu untuk meningkatkan kesadaran diri mereka. Semakin sadar
diri kita, semakin sulit kita “merasa familiar” dengan hidup kita. Ketika kita mengabaikan
kondisi diri kita, kita semakin merasa tidak menikmati hidup kita. Akan tetapi, seiring kita
membuka diri dan dunia kita, kita akan semakin sering menghadapi kekacauan juga harapan
untuk memperoleh aktualisasi diri.
Proposisi 2: Kebebasan dan Tanggung Jawab
Salah satu tema eksistensial dalam hidup seseorang adalah bahwa tiap-tiap orang bebas
untuk memutuskan pilihan dan berperan membentuk takdir mereka. Konsep utama eksistensial
adalah bahwa meskipun kita ingin mendapat kebebasan, kita seringkali mencoba lari dari
kebebasan diri kita sendiri (Russel, 2007). Meskipun kita tidak punya pilihan untuk memasuki
dunia, cara kita hidup dan seperti apa diri kita adalah hasil dari pilihan kita. Karena realita
kebebasan ini, kita ditantang untuk menerima tanggungjawab untuk mengarahkan hidup kita.
Namun, hal ini mungkin untuk menghindari realita ini dengan membuat alasan. Dalam
membahas tentang “keyakinan yang buruk”, filsuf existensial, Jeal-Paul Sartre (1971) mengacu
pada ketidakaslian menermima tanggungjawab pribadi. Berikut adalah dua pernyataan yang
membuka keyakinan buruk: karena seperti inilah diri saya, saya tidak bisa berbuat apa-apa”
atau “ saya seperti ini secara alami, karena saya tumbuh dari keluarga yang disfungsional”. Mode
ketidakaslian dari eksistensi terdiri dari kurangnya kesadaran akan tanggungjawab pribdi untuk
diri kita dan secara pasif menduga bahwa eksistensi kita secara umum dikontrol oleh kekuatan
eksternal. Startre menyatakan bahwa kita secara konstan dihadapkan dengan pilihan akan pribadi
seperti apa diri kita, dan dengan menjadi ada berarti menjadi tidak pernah berakhir dalam
melakukan pilihan.
Kebebasan mengimplikasikan bahwa kita bertanggungjawab atas hidup kita, atas
tindakan kita, dan atas kegagalan kita untuk mengambil tindakan. Dalam perspektif Sartre,
dihukum untuk bebas. Dia menyebutnya komitmen untuk memilih untuk diri kita sendiri. Rasa
bersalah existensial adalah menjadi sadar telah mengabaikan sebuah komitmen, atau telah
memilih untuk tidak memilih. Rasa bersalah ini adalah sebuah kondisi yang menumbuhkan rasa
ketidaklengkapan, atau sebuah kesadaran bahwa kita bukanlah diri yang seharusnya. Rasa
bersalah mungkin adalah sebuah tanda kita telah gagal untuk bangkit pada tantangan
kebingungan kita dan bahwa kita telah mencoba untuk menghindarinya dengan tidak melakukan
apa yang kita tau mungkin untuk kita lakukan (Van Deurzen, 2002a). Kondisi ini tidak
dipandang secara neurotik, juga tidak dilihat sebagai sebuah gejala yang harus disembuhkan.
Malahan, terapis ekistensial mengekplorasinya untuk melihat apa yang bisa dipelajari oleh klien
tentang cara dimana mereka menjalani kehidupa. Rasa bersalah ini juga dihasilkan dari
mengizinkan orang lain untuk mendefinisikan diri kita atau untuk membuat pilihan untuk diri
kita. Sartre menyatakan “ kita adalah pilihan kita”. Keaslian mengimplikasikan bahwa kita hidup
dengan menjadi benar pada evaluasi kita sendiri tentang apa keadaan yang berharga untuk diri
kita; ini adalah keberanian untuk menjadi diri sendiri. Medelowitz dan Schnerider (2008)
menyatakan bahwa mode asli mengimplikasikan bahwa kita mengakui tanggungjawab untuk diri
kita, meskipun kebingungan yang berasal dari pilihan ini. dari pada kehilangan diri di dalam
keramaian, kenali keunikan diri dan berjuang untuk menjadi diri kita sendiri” (p. 296).
Bagi exitensialis, menjadi bebas dan menjadi manusia itu identik. Kebebasan dan
tanggungjawab itu berjalan bersama. Kita adalah penulis hidup kita sendiri dalam artian bahwa
kita menciptakan takdir, situasi diri, dan masalah kita sendiri (Russell, 1978). Menganggap
tanggung jawab adalah kondisi dasar untu perubahan. Klien yang menolak untuk menerima
tanggungjawab dengan terus-menerus menyalahkan orang lain atas masalah mereka tidak akan
mendapatkan keuntungan dari terapi.
Frankl (1978) juga menghubungkan dengan tanggungjawab. Dia menyarankan bahwa
patung liberti di pesisir timur harus diseimbangkan dengan patung tanggungjawab pada pesisir
barat. Premis dasarnya adalah kebebasan terikat dnegan batasan tertentu. Kita tidak bebas dari
kondisi, tetapi kita bebas untuk mengambil sikap terhadap batasan ini. Akhirnya, kondisi adalag
subjek bagi keputusan kita, yang berarti kita bertanggung jawab.
Terapis membantu klien dalam menemukan bagaimana mereka menghindari kebebasan
dan mendukung mereka untuk berlajar mengambil resiko menggunakannya. Melakukan hal
tersebut bukan berarti melumpuhkan klien membuat mereka bergantung pada terapis. Terapis
harus mengajari klien bahwa mereka secara explisit dapat menerima bahwa mereka memiliki
pilihan, meskipun mungkin mereka telah menggunakan sebagian besar hidupnya untuk
menyangkalnya. Mereka yang berada dalam terapi sering mencampurkan perasaan ketika
menyangkut persoalan pilihan. Seperti yang dikatakan Russell (2007): kita membencinya
ketika kita tidak punya pilihan, tetapi kita bingung ketika kita memilikinya! Existensialisme
adalah tentang memperluas visi pilihan kita” (p.111).
Orang-orang sering mendatangi psikoterapi karena mereka merasa bahwa mereka telah
kehilangan kontrol akan bagaimana mereka hidup. Mereka mungkin mencari konselor untuk
mengarahkan mereka, memberikan mereka nasehat, atau menciptakan penyembuhan ajaib.
Mereka mungkin juga butuh untuk didengar dan dipahami. Dua tugas utama dari terapis adalah
mengundang klien untuk mengenali bagaimana mereka telah membiarkan orang lain untuk
memutuskan untuk diri mereka serta menyemangati mereka untuk mengambil langkah untuk
memilih untuk diri mereka sendiri. Dalam memberikan tantangan kepada klien untuk
mengeksplor cara lain untuk hidup yang lebih penuh dibandingkan dengan keberadaan mereka
yang terbatasi saat ini, beberapa konselor existensial bertanya, “meskipun anda telah hidup
dalam pola tertentu, sekarang anda telah menyadari harga dari beberapa cara hidup anda, apakah
anda ingin untuk mempertimbangkan membuat pola baru?” orang lain mungkin memiliki
ketertarikan yang tetap dalam menjaga klien dalam sebuah pola lama, sehingga inisiatif untuk
mengubahnya akan berasal dari klien.
Faktor budaya harus dipertimbangkan dalam membantu klien dalam proses mengkaji
pilihan mereka. seseorang yang berjuang dengan perasaan dibatasi oleh situasi keluarga dapat
diundang untuk melihat pada bagiannya dalam proser dan nilai yang merupakan bagian dari
kebudayaannya. Sebagai contoh, Meta, Norwegia-Amerika, bekerja untuk memperoleh identitas
profesional sebagai pekerja sosial, tetpai keluarga menganggap bahwa dia itu egois dan
mengabaikan tugas utamanya. Keluarganya seorang mendesaknya untuk meninggalkan
ketertarikan pribadinya demi apa yang mereka anggap dapat baik untuk seluruh keluarga. Meta
mungkin merasa terjebak dalam situasi ini dan merasa tidak ada jalan lain baginya selain
menolak keinginan keluarganya. Dalam kasus seperti ini, ini berguna untuk mengeksplor nilai
mendasar klien dan untuk membantunya memutuskan apakah nilainya bekerja untuknya atau
untuk keluarganya. Klien seperti Mea memiliki tantangan meninmbang nilai dan
menyeimbangkan perilaku antara dua budaya. Akhirnya, Meta harus memutuskan dengan cara
apa dia dapat mengubah situasinya, dan dia harus mengkaji nilai berdasarkan budayanya. Terapis
existensial akan mengundang Meta untuk mulai mengeksplor apa yang bisa dia lakukan dan
untuk menyadari bahwa dia bisa menjadi autentik tanpa tekanan situasi. Menurut Vontress
(2008), kita bisa menjadi autentik dalam masyarakat apapun, baik itu menjadi bagian dari
masyarakat individualis maupun sosialis.
Penting untuk menghormati tujuan yang dimiliki oleh orang ketika mereka memulai
terapi. Jika kita memberika perhatian pada apa yang dikatakan klien mereka inginkan, kita dapat
beroperasi didalam kerangka existensial. Kita bisa menyemangati individu untuk menimbang
alternatif dan untuk mengeksplor akibat dari apa yang mereka lakukan dalam hidup. Meskipun
kekuatan opresif mungkin sangat membatasi kualitas hidup mereka, kita bisa membantu orang-
orang melihat bahwa mereka bukan sekedar korban dari keadaan diluar kontrol mereka. disaat
yang sama orang-orang ini mempelajari bagaimana untuk mengubah lingkungan eternal mereka,
mereka juga dapat ditantang untuk melihat kedalam diri mereka untuk mengenali kontribusi
mereka sendiri terhadap masalah mereka. melalui pengalaman terapi, mereka mungkin dapat
menemukan aliran baru dari tindakan yang akan mengantarkan pada sebuah perubahan dalam
situasi mereka.
Proposisi 3 : berjuang untuk identitas dan hubungan dengan orang lain
Orang-orang peduli tentang mempertahankan keunikan dan kepusatan, namun di saat
yang sama mereka memiliki sebuah ketertarikan untuk masuk ke dalam diri mereka sendiri untuk
terhubung dengan orang lain dan alam. Setiap dari kita ingin menemukan diri-yang merupakan
identitas pribadi. Ini bukanlah proses otomatis, dan menciptakan sebuah identitas itu
membutuhkan keberanian. Sebagi makhluk relasi, kita juga berjuang untuk terhubung dengan
orang lain. Banyak penulis existensional membahas tentang kesepian, ketumbangan, dan
keterpinggiran, kita menjual dengan menjadi apa yang orang lain harapkan. Keberadaan kita
berakar dari harapan mereka, dan kita menjadi orang asing bagi diri kita sendiri.
KEBERANIAN UNTUK MENJADI Paul Tillich (1886-1965), seorang teologis
protestan terkemukan abad ke 20, mempercayai kesadaran dari sifat dasar tak terbatas
memberikan kita sebuah apresiasi dari perhatian akhir. Membutuhkan keberanian untuk
menemukan kebenaran dasar dari keberadaan kita” dan untuk menggunakan kekuatannya
untuk melebihi aspek dari ketiadaan yang akan membunuh kita (Tillich, 1952). Keberanian
memerlukan keinginan untuk bergerak maju tanpa memperhatikan situasi yang menciptakan
kebingungan, seperti menghadapi kematian (May, 1975). Kita berjuang untuk menemukan,
menciptakan, dan mempertahankan inti di dalam diri kita. Salah satu ketakutan terbesar dari
klien adalah mereka akn mnemukan bahwa tidak ada inti, tidak diri, tidak ada substansi, dan
bahwa mereka hanya refleksi dari expektasi setiap dari mereka. seorang kien mungkin
mengatakan: “ketakutanku adalah saya akan menemukan bahwa saya bukan siapapun, bahwa
tidak ada apapun untuk saya. Saya akan menemukan bahwa saya hanya cangkak kosong, kosong
di dalam, dan tidak akan ada yang nampak jika saya membuka topeng”. Jika klien
mendemonstrasikan keberanian untuk melawan ketakutan ini, mereka mungkin akan
meninggalkan terapi dengan toleransi yang bertambah untuk ketidakpastian hidup. Mendelowitz
dan Schneider (2008) mengklaim” yakin pada diri, memeluk tantangan dan tanggung jawab
hidup tanpa mengetahui secara pasti apa yang berada di luar” (p.322).
Terapis existensial mungkin memulai dengan menanyakan klien mereka untuk
mengizinkan diri mereka untuk mengintensifkan perasaan bahwa mereka tidak lebih dari
kumpulan ekspektasi orang lain dan bahw amereka sekadar figur dari orang tua mereka dan
pengganti orang tua mereka. Apa yang mereka rasakan sekarang? Apakah mereka dikutuk untuk
mengutuk tetap pada seperti ini selamanya? Apakah ada jalan keluar? Dapatkah mereka
menciptakan diri jika mereka mendapati diri mereka tak punya identitas? Dimana mereka bisa
memulai? Ketika klien telah mendemonstrasikan keberanian untuk mengenali ketakutan ini,
menaruhnya dalam ata dan membaginya, itu nampaknya tidak sulit. Saya menemukan bahwa
terbaik utnuk mulai bekerja dnegan mengundang klien untuk menerima cara dimana mereka
telah hidup di luar dir mereka dan untuk mengeksplor cara dama mereka di luar kontak dengan
diri mereka sendiri.
PENGALAMAN KESENDIRIAN exitensialist mendalilkan bahwa bagian dari kondisi manusia
adalah mengalami kesendirian. Tetapi merek amenambahkan bahwa kit abisa mengambil
kekuatan dari pengalaman untuk melihat kepada diri kita dan merasakan pemisahan. Rasa
keterasingan berasal dari ketika kita mengenali bahwa kita tidak bisa bergantung pada orang lain
untuk meyakinkan diri kita; sehingga, kita sendiri harus memberikan makna kepada hidup, dan
kita sendiri harus memutuskan bagaimana kita akan hidup. Jika kita tidak dapat mentolerir diri
kita sendiri ketika kita sendirian, bagaimana kita bisa mengharapkan orang lain diperkaya oleh
kehadiran kita? Sebelum kita dapat memiliki hubungan yang solid dengan orang lain, kita harus
memiliki hubungan dengan diri kita sendiri. Kita ditantang untuk belajar mendengarkan diri kita
sendiri. Kita harus bisa berdiri sendiri sebelum kita benar-benar bisa berdiri di samping yang
lain.
Ada sebuah paradoks dalam proposisi bahwa manusia secara eksistensial keduanya
sendiri dan terikat, tetapi paradoks ini menggambarkan kondisi manusia. Berpikir bahwa kita
dapat menyembuhkan kondisi tersebut, atau harus disembuhkan, adalah keliru. Akhirnya kita
sendirian.
PENGALAMAN TENTANG KETERIKATAN Kita manusia bergantung pada hubungan
dengan orang lain. Kita ingin menjadi signifikan di dunia orang lain, dan kita ingin merasa
bahwa kehadiran orang lain penting di dunia kita. Ketika kita mampu berdiri sendiri dan
mencelupkan diri ke dalam kekuatan kita sendiri, hubungan kita dengan orang lain didasarkan
pada pemenuhan kita, bukan dari kekurangan kita. Namun, jika kita merasa dirampas secara
pribadi, kita mungkin hanya dapat mengharapkan sedikit tetapi memiliki hubungan yang saling
bergantung dan simbiosis dengan orang lain.
Mungkin salah satu fungsi terapi adalah untuk membantu klien membedakan antara
keterikatan yang tergantung secara neurotetis dengan orang lain dan hubungan yang menguatkan
kehidupan di mana kedua orang tersebut bisa meningkat. Terapis dapat menantang klien untuk
memeriksa apa yang mereka dapatkan dari hubungan mereka, bagaimana mereka menghindari
kontak intim, bagaimana mereka mencegah diri mereka dari memiliki hubungan yang sama, dan
bagaimana mereka dapat menciptakan hubungan manusia yang terapeutik, sehat, dan dewasa.
BERJUANG DENGAN IDENTITAS KITA Kesadaran akan kesendirian kita bisa sangat
menakutkan, dan beberapa klien mungkin berusaha menghindari untuk menerima kesendirian
dan keterasingan mereka. Karena rasa takut kita berurusan dengan kesendirian kita, Farha (1994)
menunjukkan bahwa beberapa dari kita terjebak dalam pola perilaku ritual yang menguatkan kita
pada citra atau identitas yang kita peroleh pada masa kanak-kanak. Dia menulis bahwa beberapa
dari kita menjadi terjebak dalam mode bertindak untuk menghindari pengalaman menjadi
sendiri.
Bagian dari perjalanan terapeutik terdiri dari terapis yang menantang klien untuk mulai
memeriksa cara-cara di mana mereka kehilangan kontak dengan identitas mereka, terutama
dengan membiarkan orang lain merancang hidup mereka. Proses terapi itu sendiri sering kali
menakutkan bagi klien ketika mereka menyadari bahwa mereka telah menyerahkan kebebasan
mereka kepada orang lain dan bahwa dalam hubungan terapi mereka harus merebut kebebasan
mereka lagi. Dengan menolak memberikan solusi atau jawaban yang mudah, terapis eksistensial
menghadapi klien dengan kenyataan bahwa mereka yang harus menemukan jawaban mereka
sendiri.
Proposisi 4: Pencarian Makna
Karakteristik manusia yang jelas adalah perjuangan untuk merasakan makna dan tujuan hidup.
Dalam pengalaman saya, konflik mendasar yang membawa orang ke dalam konseling dan terapi
berpusat pada pertanyaan eksistensial ini: “Mengapa saya di sini? Apa yang saya inginkan dari
kehidupan? Apa yang memberi tujuan hidup saya? Di mana sumber makna kehidupan bagi
saya?"
Terapi eksistensial dapat memberikan kerangka kerja konseptual untuk membantu klien
menantang makna dalam hidup mereka. Pertanyaan yang mungkin diajukan oleh terapis adalah,
“Apakah Anda menyukai arah hidup Anda? Apakah Anda senang dengan diri Anda sekarang
dan menjadi apa Anda sekarang? Jika Anda bingung tentang siapa Anda dan apa yang Anda
inginkan untuk diri sendiri, apa yang Anda lakukan untuk mendapatkan kejelasan?"
MASALAH PENGHAPUSAN NILAI LAMA Salah satu masalah dalam terapi adalah bahwa
klien dapat membuang (dan memaksakan) nilai-nilai tradisional tanpa menemukan yang lain,
yang sesuai untuk menggantikannya. Apa yang dilakukan terapis ketika klien tidak lagi
berpegang teguh pada nilai-nilai yang mereka tidak pernah benar-benar ditantang atau
diinternalkan dan sekarang menjadi hampa? Klien dapat melaporkan bahwa mereka merasa
seperti perahu tanpa kemudi. Mereka mencari pedoman dan nilai-nilai baru yang sesuai untuk
sisi-sisi diri mereka yang baru ditemukan, namun untuk sementara waktu mereka tidak
memilikinya. Mungkin tugas dari proses terapeutik adalah untuk membantu klien menciptakan
sistem nilai berdasarkan cara hidup yang konsisten dengan cara hidup mereka.
Pekerjaan terapis mungkin untuk memercayai kapasitas klien agar akhirnya menemukan
sistem nilai yang diturunkan secara internal yang memberikan kehidupan yang bermakna.
Mereka pasti akan ragu untuk sementara waktu dan mengalami kecemasan sebagai akibat dari
tidak adanya nilai yang jelas. Kepercayaan terapis penting dalam membantu klien memercayai
kapasitas mereka sendiri untuk menemukan sumber nilai baru.
KETIADAAN MAKNA Ketika dunia tempat mereka tinggal tampak tidak berarti, klien
mungkin bertanya-tanya apakah layak untuk terus berjuang atau bahkan hidup. Berhadapan
dengan prospek kefanaan kita, kita mungkin bertanya: “Apakah ada gunanya apa yang saya
lakukan sekarang, karena pada akhirnya saya akan mati? Apakah yang saya lakukan akan
dilupakan ketika saya pergi? Mengingat fakta kefanaan, mengapa saya harus menyibukkan diri
dengan apa pun?" Seorang pria dalam salah satu kelompok saya menangkap dengan tepat
gagasan tentang makna pribadi ketika ia berkata,"Saya merasa seperti halaman lain dalam buku
yang telah diputar dengan cepat, dan tidak ada yang mau repot-repot membaca halaman itu.
Bagi Frankl (1978) perasaan tidak berarti seperti itu adalah neurosis eksistensial utama dari
kehidupan modern.
Ketiadaan makna dalam hidup dapat menyebabkan kekosongan dan kehampaan, atau
suatu kondisi yang Frankl sebut sebagai kehampaan eksistensial. Kondisi ini sering dialami
ketika orang tidak sibuk dengan rutinitas atau dengan pekerjaan. Karena tidak ada desain yang
sudah ditentukan sebelumnya untuk hidup, orang dihadapkan dengan tugas untuk menciptakan
makna mereka sendiri. Kadang orang yang merasa terjebak oleh kehampaan hidup menarik diri
dari perjuangan menciptakan kehidupan dengan tujuan. Mengalami ketiadaan makna dan
membangun nilai-nilai yang merupakan bagian dari kehidupan yang bermakna adalah masalah
yang menjadi jantung konseling.
MENCIPTAKAN MAKNA BARU Logoterapi dirancang untuk membantu klien menemukan
makna dalam hidup. Fungsi terapis bukan untuk memberi tahu klien apa makna khusus mereka
dalam hidup tetapi untuk menunjukkan bahwa mereka dapat menemukan makna bahkan dalam
penderitaan (Frankl, 1978). Pandangan ini berpendapat bahwa penderitaan manusia (aspek tragis
dan negatif dari kehidupan) dapat diubah menjadi pencapaian manusia oleh pendirian yang
diambil seseorang ketika dihadapkan padanya. Frankl juga berpendapat bahwa orang yang
menghadapi rasa sakit, rasa bersalah, keputusasaan, dan kematian dapat menantang keputusasaan
mereka dan dengan demikian menang. Namun makna bukanlah sesuatu yang bisa kita cari dan
dapatkan secara langsung. Paradoksnya, semakin rasional kita mencarinya, semakin besar
kemungkinan kita akan melewatkannya. Yalom (2003) dan Frankl (1978) berada dalam
persetujuan dasar bahwa, seperti kesenangan, makna harus dikejar secara miring. Menemukan
makna dalam hidup adalah produk sampingan dari pertunangan, yang merupakan komitmen
untuk menciptakan, mencintai, bekerja, dan membangun. Makna dibuat dari keterlibatan
individu dengan apa yang dihargai, dan komitmen ini memberikan tujuan yang menjadikan
hidup berharga (van Deurzen, 2002a). Saya suka cara Vontress (2008) menangkap gagasan
bahwa makna dalam hidup adalah proses berkelanjutan yang kita perjuangkan sepanjang hidup
kita: “Apa yang memberi makna suatu hari mungkin tidak memberikan makna pada hari
berikutnya, dan apa yang telah bermakna bagi seseorang sepanjang hidup mungkin menjadi tidak
berarti ketika seseorang berada di ranjang kematiannya (hlm. 158).
Proposisi 5: Kecemasan sebagai Kondisi Hidup
Kecemasan muncul dari upaya pribadi seseorang untuk bertahan hidup dan untuk
mempertahankan dan menegaskan keberadaan seseorang, dan perasaan yang dihasilkan oleh
kecemasan adalah aspek yang tidak dapat dihindari dari kondisi manusia. Kecemasan
eksistensial adalah hasil yang tak terhindarkan ketika dihadapkan dengan "pemberian
eksistensi" kematian, kebebasan, pilihan, isolasi, dan ketiadaan arti (Vontress, 2008; Yalom,
1980). Kecemasan yang ada dapat menjadi stimulus untuk pertumbuhan. Kita mengalami
kecemasan ini ketika kita menjadi semakin sadar akan kebebasan kita dan konsekuensi dari
menerima atau menolak kebebasan itu. Bahkan, ketika kita membuat keputusan yang melibatkan
rekonstruksi hidup kita, kecemasan yang menyertainya bisa menjadi sinyal bahwa kita siap untuk
perubahan pribadi. Jika kita belajar mendengarkan pesan-pesan kecemasan yang halus, kita dapat
berani mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengubah arah hidup kita.
Terapis eksistensial membedakan antara kecemasan normal dan neurotik, dan mereka
melihat kecemasan sebagai sumber pertumbuhan potensial. Kecemasan normal adalah respons
yang tepat untuk suatu peristiwa yang sedang dihadapi. Lebih lanjut, jenis kecemasan ini tidak
harus ditekan, dan itu dapat digunakan sebagai motivasi untuk berubah. Karena kita tidak bisa
bertahan hidup tanpa kecemasan, itu bukan tujuan terapi untuk menghilangkan kecemasan
normal. Kecemasan neurotik, sebaliknya, tidak sebanding dengan situasi. Ini biasanya di luar
kesadaran, dan cenderung melumpuhkan orang tersebut. Menjadi sehat secara psikologis berarti
hidup dengan kecemasan neurotik sesedikit mungkin, sambil menerima dan berjuang dengan
kecemasan eksistensial yang tidak dapat dihindari (kecemasan normal) yang merupakan bagian
dari kehidupan.
Banyak orang yang mencari konseling menginginkan solusi yang memungkinkan mereka
untuk menghilangkan kecemasan. Meskipun upaya untuk menghindari kecemasan dengan
menciptakan ilusi bahwa ada keamanan dalam kehidupan dapat membantu kita mengatasi hal-hal
yang tidak diketahui, kita benar-benar tahu pada tingkat tertentu bahwa kita menipu diri kita
sendiri ketika kita berpikir telah menemukan keamanan konstan. Kita dapat menumpulkan
kecemasan dengan membatasi hidup kita dan dengan demikian mengurangi pilihan. Namun,
membuka diri terhadap kehidupan baru berarti membuka diri terhadap kecemasan. Kita
membayar harga yang terlalu tinggi ketika kita mengalami hubungan pendek dengan kecemasan.
Orang-orang yang memiliki keberanian untuk menghadapi diri mereka sendiri,
bagaimanapun, mereka ketakutan. Saya yakin bahwa mereka yang mau hidup dengan kecemasan
mereka untuk sementara waktu adalah mereka yang mendapat untung dari terapi pribadi. Mereka
yang terbang terlalu cepat ke pola yang nyaman mungkin mengalami kelegaan sementara tetapi
dalam jangka panjang tampaknya mengalami frustrasi terjebak dalam cara-cara lama.
Semakin orang-orang menyadari kenyataan penderitaan yang mereka hadapi, semakin
meningkat rasa cemas, ketidakpastian, dan keinginan untuk bertahan dalam diri mereka. Van
Deurzen (1991) mengatakan bahwa tujuan utama terapi eksistensial adalah bukan untuk
membuat hidup kelihatan lebih mudah atau lebih nyaman namun untuk mendorong klien
menyadari dan menghadapi akar permasalahan dan rasa cemas mereka. Cara menghadapi rasa
cemas eksistensial dalam diri adalah dengan melihat hidup sebagai suatu petualangan, bukan
dengan bersembunyi dibalik kenyamanan yang kelihatannya memberikan perlindungan. Seperti
yang dikatakan oleh van Deurzen (1991) sendiri, “Kita perlu mempertanyakan dan mengabaikan
jawaban yang mudah dan mulai mengekspos diri kita menghadapi rasa cemas yang dapat
membawa kita kembali pada hidup yang nyata dan dalam (hal. 46).
Terapis model eksistensial dapat membantu klien menyadari bahwa dalam perjalanan
hidup kita menuju kemandirian, kita perlu menerima ambiguitas dan ketidakpastian hidup serta
belajar bagaimana cara hidup tanpa bantuan. Terapis dan klien dapat menemukan solusi
alternatif bahwa meskipun ketika kita membangun gaya hidup baru, kita akan merasa cemas
untuk sementara waktu, rasa cemas tersebut akan hilang dengan sendirinya ketika diri kita
menemukan kepuasan dalam gaya hidup baru kita. Ketika klien menjadi lebih percaya diri, rasa
cemas dalam dirinya akan semakin berkurang.
Proposisi 6: Kesadaran akan Kematian dan Ketidakberadaan
Orang-orang eksistensialis tidak melihat kematian sebagai sesuatu yang buruk namun
menyadari bahwa kematian adalah kondisi dasar manusia yang memberikan signifikansi pada
hidup manusia itu sendiri. Karakteristik utama diri manusia adalah kemampuannya untuk
menerima kenyataan masa depan dan kepastian kematian. Penting bagi kita untuk memikirkan
kematian jika kita ingin melihat hidup secara signifikan. Menurut Frankl, kematian seharusnya
tidak dilihat sebagai suatu ancaman. Akan tetapi, kematian seharusnya dilihat sebagai pemberi
motivasi pada diri kita untuk hidup semaksimal mungkin serta memanfaatkan tiap kesempatan
yang ada untuk melakukan perbuatan bermakna (Gould, 1993). Kita jangan tenggelam oleh rasa
takut akan kematian, namun kematian dapat dilihat sebagai dorongan posisitf yang membuat kita
hidup semaksimal mungkin. Meskipun kematian adalah panggilan bangun untuk kita, kematian
juga merupakan sesuatu yang kita hindari (Russell, 2007). Jika kita melindungi diri kita dari
kenyataan kematian kita sendiri, hidup akan menjadi hampa dan tidak bermakna. Akan tetapi,
jika kita menyadari kefanaan diri kita, kita akan mengerti bahwa kita tidak punya waktu
selamanya dan bahwa masa sekarang adalah masa yang sangat penting. Kesadaran kita akan
kematian adalah sumber semangat diri kita untuk hidup. Kematian dan kehidupan adalah sesuatu
yang tidak terpisahkan, dan meskipun kematian memang membunuh diri kita secara fisik, konsep
atau ide kematian itu sendiri dapat menyelamatkan kita (Yalom, 1980, 2003).
Yalom (2003) menyarankan terapis untuk berbicara langsung kepada klien mereka
mengenai kematian. Ia menganggap bahwa rasa takut akan kematian dapat merasuk ke dalam
diri dan menghantui kita seumur hidup. Kematian adalah tamu undangan dalam proses terapi,
dan Yalom percaya bahwa mengabaikan keberadaan kematian itu sendiri dapat menciptakan
pesan bahwa kematian adalah suatu hal yang terlalu berat untuk dibahas. Menghadapi rasa takut
akan kematian dapat menjadi pemicu yang membantu kita mengubah cara hidup kita dari gaya
hidup yang palsu menjadi gaya hidup yang lebih autentik (Yalom, 1980).
Salah satu perhatian utama terapi eksistensial adalah dengan mengeksplorasi klien hingga
klien tersebut melakukan sesuatu yang mereka sukai. Tanpa dihantui oleh rasa ancaman
kematian, klien dapat mengembangkan kesadaran dirinya akan kematian sebagai cara untuk
mengevaluasi hidup mereka dan perubahan apa yang mereka ingin lihat dalam hidup mereka
sendiri. Mereka yang takut pada kematian juga takut pada kehidupan. Ketika kita menerima
kenyataan kepastian kematian kita, kita akan menjadi lebih sadar bahwa perbuatan kita penting,
bahwa kita punya pilihan, dan bahwa kita harus menerima tanggung jawab pada diri kita untuk
hidup sebaik mungkin (Corey & Corey, 2006).
Proses Terapi
Tujuan Terapi
Terapi eksistensial dapat dianggap sebagai suatu undangan bagi klien untuk
menyadari cara hidup mereka yang tidak optimal dan untuk membuat keputusan yang dapat
menjadikan diri mereka lebih baik. Tujuan terapi adalah untuk membantu klien bergerak maju
menuju hidup yang autentik dan membantu klien menyadari apakah mereka sedang membohongi
diri mereka sendiri (van Deurzen, 2002a). Orientasi eksistensial adalah bahwa kita tidak bisa lari
dari kebebasan karena kita lah yang selalu bertanggung jawab atas diri kita. Kita dapat
menyerahkan kebebasan kita, namun hidup kita akan menjadi hidup yang benar-benar palsu.
Terapi eksistensial bertujuan untuk membantu klien menghadapi kecemasan dalam diri mereka
dan membantu mereka melakukan sesuatu yang didasarkan pada hidup yang bertujuan untuk
menciptakan eksistensi yang bermakna.
May (1981) menjelaskan bahwa orang-orang yang datang melakukan terapi terjebak
dalam suatu ilusi dalam diri mereka bahwa mereka dipenjara oleh diri mereka sendiri dan bahwa
orang lain (terapis) dapat membebaskan mereka. Tugas terapi eksistensial adalah mengajarkan
klien untuk mendengarkan hal-hal yang sebenarnya mereka ketahui tentang diri mereka sendiri,
meskipun mereka mungkin tidak memperhatikan hal-hal yang mereka ketahui tersebut. Terapi
adalah proses mengeluarkan semangat hidup yang terkubur dalam diri klien (Bugental, 1986).
Bugental (1990) menjabarkan tuga tugas utama terapi:
Membantu klien menyadari bahwa mereka tidak benar-benar fokus dan sadar pada
momen sekarang serta membantu mereka melihat bahwa pola ketidaksadaran ini dapat
membatasi mereka menjalani hidup di luar proses terapi ini.
Mendorong klien menghadapi kecemasan yang selama ini mereka terus hindari.
Membantu klien mendefinisikan ulang diri dan dunia mereka agar mereka dapat
terdorong untuk melakukan hubungan seautentik mungkin dalam hidup mereka.
Meningkatkan kesadaran diri adalah tujuan utama terapi eksistensial, yang membuat klien dapat
menemukan adanya kemungkinan-kemungkinan alternatif lain yang tidak disadari sebelumnya.
Klien kemudian menyadari bahwa mereka mampu mengubah cara hidup mereka di dunia ini.
Fungsi dan Peran Terapis
Terapis eksistensial umumnya berurusan dengan pemahaman subyektif klien untuk
membantu mereka menemukan pemahaman dan pilihan-pilihan baru. Terapis eksistensial
khususnya berurusan dengan klien yang menghindari tanggung jawab mereka; terapis mengajak
klien untuk menerima tanggung jawab diri mereka. Ketika klien mengeluh pada kesusahan yang
mereka hadapi dan menyalahkan orang lain, terapis akan bertanya pada mereka bagaimana diri
mereka sendiri menyelesaikan kesusahan tersebut.
Terapis yang menggunakan orientasi eksistensial biasanya menangani klien yang
menjalani hidupnya dengan cara hidup yang disebut sebagai eksistensi terbatas. Klien-klien
seperti ini memiliki tingkat kesadaran diri yang terbatas dan seringkali merasa bingung
menemukan inti permasalahan mereka. Ketika klien-klien seperti ini menemukan pilihan solusi
permasalahan mereka, mereka cenderung akan merasa terperangkap, putus asa, dan terjebak.
Menurut Bugental (1997), fungsi seorang terapis adalah untuk membantu klien melihat situasi
mereka saat ini dimana mereka menyempitkan kesadaran diri mereka dan akibatnya.
Mendelowitz dan Schneider (2008) juga melihat tujuan terapi sebagai cara untuk membantu
mereka yang terperangkap pada diri mereka sendiri agar bisa bergerak maju kembali, dimana
kemajuan klien ini dapat dicapai dengan membantu klien menguasai kembali hidupnya. Terapis
dapat memberikan ibaratnya sebuah cermin sehingga klien dapat menghadapi diri mereka
sendiri. Dengan cara seperti ini, klien dapat melihat bagaimana mereka menjadi diri mereka yang
sekarang dan bagaimana cara mereka memperluas cara hidup mereka sekarang. Ketika klien
menyadari pengaruh masa lalu dan cara hidup mereka yang sekarang, mereka pun dapat mulai
menerima tanggung jawab pada diri mereka sendiri untuk mengubah masa depan diri mereka.
Praktisi eksistensial dapat memanfaatkan teknik yang berkembang dari pendekatan
teoritis lain, namun tidak ada suatu bentuk teknik tertentu yang wajib dalam terapi eksistensial.
Russel (2007) membahasi hal ini dengan menuliskan: “Tidak ada suatu cara yang paling tepat
melakukan terapi, dan tentunya tidak ada satu ajaran baku untuk suatu teknik dalam terapi. Yang
terpenting ialah bahwa anda sebagai terapis membentuk cara anda sendiri untuk menangani klien
anda dengan baik” (hal. 123).
Pengalaman Klien dalam Terapi
Klien terapi eksistensial didorong untuk menganggap serius pengalaman subyektif dunia
mereka. Mereka ditantang untuk bertanggung jawab atas bagaimana cara mereka menyikapi
hidup mereka. Terapi yang efektif tidak berhenti di tahap peningkatan kesadaraan ini saja, karena
terapis mendorong klien untuk melakukan sesuatu dengan berlandaskan pada pencerahan-
pencerahan yang mereka kembangkan selama proses terapi. Mereka diharapkan untuk keluar dan
memutuskan bagaimana cara mereka menjalani hidup yang berbeda. Kemudian, mereka juga
harus berperan aktif dalam proses terapi, karena selama sesi terapi berlangsung, mereka harus
memutuskan rasa takut, rasa bersalah, dan rasa cemas yang mana yang akan mereka eksplor
dalam terapi.
Memutuskan untuk melakukan psikoterapi itu sendiri adalah sesuatu yang menakutkan
bagi sebagian besar orang. Pengalaman membuka diri mereka dapat menjadi pengalaman yang
menakutkan, menyenangkan, menyedihkan, atau bahkan gabungan dari semua perasaan-perasaan
ini. Semakin klien membuka pintu tertutup dalam diri mereka, semakin mereka mulai terlepas
dari rantai deterministik dalam diri mereka yang membuat mereka terpenjara secara psikologis.
Secara bertahap, mereka semakin menyadari bagaimana diri mereka selama ini dan siapa mereka
saat ini, dan mereka pun semakin mampu untuk memutuskan masa depan macam apa yang
mereka inginkan. Melalui proses terapi yang mereka jalani, mereka dapat mengeksplor alternatif-
alternatif yang mereka dapat lakukan untuk mewujudkan visi mereka.
Ketika klien mengatakan bahwa diri ketidakmampuan mereka dan berusaha meyakinkan
diri mereka bahwa mereka memang lemah, May (1981) mengingatkan mereka bahwa perjalanan
mereka menuju kebebasan dimulai ketika mereka melangkahkan kaki mereka satu demi satu
menuju kantor konselingnya. Sesempit apapun wujud kebebasan yang mereka tetapkan, mereka
dapat memulai perjalanan mereka dengan membangun dan membentuk wujud kebebasan mereka
selangkah demi selangkah. Perjalanan terapi yang membuka cakrawala baru ini digambarkan
secara puitis oleh van Deurzen (1997):
Memulai perjalanan eksistensial diri mengharuskan kita untuk siap disentuh dan digoyahkan oleh
hal-hal yang kita temukan sepanjang perjalanan dan untuk tidak merasa takut menemukan keterbatasan
serta kelemahan, ketidakpastian dan keraguan dalam diri kita. Sikap keterbukaan ini lah yang membuat
kita mampu menghadapi misteri-misteri kehidupan kita, yang membawa kita melampaui kesedihan dalam
diri kita, serta yang membuat kita menemukan kembali hidup kita dengan menghadapkan diri kita pada
kematian. (hal. 5)
Apek lain yang akan dialami klien dalam terapi eksistensial adalah klien akan lebih
berfokus mengatasi permasalahan besar utama dalam hidupnya, bukan pada masalah-masalah
kecil yang dihadapinya sekarang ini. Beberapa tema-tema besar yang dibahas dalam sesi terapi
adalah seperti kecemasan, kebebasan dan tanggung jawab, pencarian identitas diri, kehidupan
autentik, kesendirian, pengasingan, kematian dan implikasinya pada kehidupan, serta pencarian
arti hidup yang berkelanjutan. Terapis eksistensial membantu orang-orang menghadapi hidup
dengan keberanian, harapan, serta keinginan untuk mencari arti kehidupan.
Hubungan Antara Terapis dan Klien
Terapis eksistensial mengutamakan jalinan hubungan mereka dengan klien. Hubungan
dalam terapi sangat lah penting karena jalinan hubungan yang dibangun klien dengan terapis
dapat menjadi stimulan untuk perubahan yang lebih baik pada klien. Terapis dengan orientasi
eksistensial seperti ini merasa bahwa sikap dan aspek sifat-sifat mereka seperti kejujuran,
integritas, dan keberanian dalam diri mereka adalah hal-hal yang mereka bisa tularkan pada
klien. Terapi adalah suatu perjalanan yang dilakukan oleh terapis dan klien memasuki dunia
subyektif yang dialami klien. Akan tetapi, perjalanan ini mengharuskan terapis untuk juga masuk
ke dalam dunia fenomenalogisnya sendiri. Vontress, Johnson, dan Epp (1991) menyatakan
bahwa konseling eksistensial adalah perjalanan menuju aktualisasi diri bagi klien maupun bagi
terapis.
Konsep hubungan Saya/Kamu milik Buber (1970) memiliki implikasi signifikan dalam
hal ini. Pemahamannya mengenai diri manusia didasarkan atas dua hubungan fundamental:
hubungan “Saya/Itu” dan hubungan “Saya/Kamu.” Hubungan Saya/Itu berkaitan dengan ruang
dan waktu, yang mana keduanya adalah titik awal untuk diri. Hubungan “Saya/Kamu” adalah
hubungan yang penting dalam menghubungkan diri dengan jiwa, sehingga dialog sesungguhnya
antara diri dan jiwa dapat tercipta. Bentuk hubungan ini adalah paradigm diri manusia seutuhnya,
pencapaian yang merupakan tujuan falsafah eksistensial Buber. Menjalin suatu hubungan
Saya/Kamu akan menciptakan interaksi mutual langsung. Terapis eksistensial tidak
mengunggulkan objektivitas dalam terapi dan jarak profesional antar terapis dan klien, namun
mereka berusaha untuk menciptakan hubungan intim dan dekat dengan klien.
Inti dari hubungan terapi adalah rasa menghargai, yang berarti rasa percaya pada
kemampuan klien untuk mengatasi permasalahannya dan pada kemampuan klien untuk
menemukan cara hidup yang baru untuk mereka. Terapis eksistensial memberikan reaksi pada
klien secara empatik sebagai cara untuk mempererat hubungan terapi yang terjalin. Terapis
mengajak klien untuk bertumbuh dengan menjadi panutan bagi klien perihal cara berperilaku.
Jika terapis tidak membuka diri mereka selama sesi terapi berlangsung atau jika mereka tidak
berperilaku secara autentik, klien akan terus-menerus menutup dirinya dan tetap terpaku pad
acara hidupnya yang tidak autentik. Bugental (1987) menekankan pentingnya peran presensi
terapis dalam hubungan ini. Menurut Bugental, sebagian besar terapis dan sistem terapi itu
sendiri mengabaikan peranan fundamentalnya. Ia mengatakan bahwa terapis seringkali terlalu
terpaku pada konten teoritis yang ia gunakan, sehingga mereka tidak menyadari jarak yang
terbentuk antara diri mereka dengan klien. “hubungan terapi adalah hubungan yang menguatkan
dan membantu proses psikoterapi yang panjang, sulit, dan kadang menyakitkan ini. Konsep
terapis yang benar adalah bukan sebagai pengamat jauh yang tidak tertarik pada klien, namun
sebagai seorang teman manusia seutuhnya pada klien” (hal. 49).
Aplikasi: Teknik dan Prosedur Terapi
Pendekatan eistensial tidaklah sama seperti kebanyakan terapi lain dalam hal ini bukanlah
teknik-teorientasi. Tidak terdapat peneanan pada teknik dan sebuah prioritas diberikan untuk
memahami dunia klien. Pekerjaan praktisi eksistensial intervensi berdasar pada pandangan
filosofis tentang sifat utama dari keberadaan manusia. Para praktisi ini lebih menyukai deskripsi,
pemahaman, dan ekplorasi realitas subjektif klien, sebagai kebalikan dari diagnosis, perlakuan,
dan prognosis (van Deurzen, 2002b). Seperti pernyataan Vontress (2008): Terapis existensial
lebih memilih untuk dianggap sebagai teman filosofis, bukannya orang yang memperbaiki jiwa”
(p.161). Seperti yang telah dibahas sebelumnya, terapis existensial bebas untuk menarik teknik
yang mengalir dari banyak orientasi lain. Namun, mereka tidak menggunakan aturan dari teknik
yang tidak terintegrasi; mereka memiliki satuan dugaan dan sikap yang membimbing intervensi
mereka dengan klien. Lihat Case Approach to Counseling and Psychotherapy (Corey, 2009,
bab.4) untuk ilustrasi tentang bagaimana Dr. J. Michael Russell bekerja dengan cara existensial
denga bebera tema kunci dalam kasus Ruth.
Van Deurzen (1997) mengidentifikasi sebagai sebuah aturan dasar utama dalam
pekerjaan existensialisme adalah keterbukaan kepada krativitas individu dari terapis dan klien.
Dia mempertahankan bahwa terapis existesial harus beradaptasi dengan intervensi kepribadian
dan gaya mereka sendiri, juga menjadi sensitif terhadap apa yang dibutuhkan setiap klien.
Pedoman utama adalah bahwa intervensi para praktisi eksistensial itu bersifat responsif terhadap
keunikan tiap klien (van Deurzen, 1997; Walsh & McElwain, 2002).
Van Deurzen (2002a, 2002b) percaya bahwa titik awal pekerjaan existensial adalah agar
praktisioner mengklarifikasi pandangan mereka tentang hidup dan kehidupan. Dia menekankan
pentingnya terapis untuk mencapai kedalaman dan keterbukaan yang cukup dalam hidup mereka
untuk berpetualang kedalam air suram klien tanpa tersesat. Sifat dasar dari pekerjaan ekistensial
adalah membantu orang dalam proses kehidupan dengan kebanggaan dan kemudahan yang lebih
besar. Van Deurzen (1997) mengingatkan kita bahwa terapi eksistensial adalah sebuah
petualangan kolaboratif dimana baik klien maupun terapis akan diubah jika mereka membiarkan
diri mereka disentuh oleh kehidupan. Ketika diri terdalam dari terapis bertemu dengan bagian
terdalam dari klien, proses konseling berjalan dalam proses terbaik. Terapi itu kreatif, mencakup
proses penemuan yang dapat dikonsepkan dalam tiga tahapan umum.
Tahapan-Tahapan dalam Konseling Ekistensial
Selama tahapan-tahapan awal konseling, terapis membantu klien dalam mengidentifikasi
dan mengklarifikasi asumsi tentang dunia. Klien diundang untuk mendefinisikan dan
mempertanyakan cara dimana mereka mempersepsikan dan mengerti keberadaan mereka.
Mereka mengkaji nilai, keyakinan, dan asumsi mereka untuk menentukan validitas mereka. Ini
merupakan tugas yang sulit bagi banyak klien karena mereka menggambarkan masalah mereka
kebanyakan berasal dari sebab eksternal. Mereka mungkin berfokus pada apa yang orang lain
membuat mereka merasa” atau bagaimana orang lain pada umumnya bertanggung jawab atas
tindakan dan tidak bertindaknya mereka. konselor mengajarkan mereka bagaimana
merefleksikan existensi mereka sendiri dan untuk mengkaji peran mereka dalam menciptakan
masalah dalam kehidupan mereka.
Selama tahapan pertengahan dalam konseling eksistensial, klien didukung untuk
sepenuhnya mengkaji sumber dan otoritas dari nilai sistem nilai mereka saat ini. Proses
eksplorasi diri ini secara khas mengantarkan pada pandangan baru dan beberapa restruktur nilai
dan sikap. Individu mendapatkan ide yang lebih baik tentang kehidupan apa yang mereka anggap
berharga untuk dijalani serta mengembangkan sebuah rasa yang lebih jelas tentang proses nilai
internal mereka.
Tahapan akhir dari konseling eksitensial berfokus dalam membantu orang mengambil apa
yang mereka pelajari tentang diri mereka dan menjadikannya tindakan. Transformasi tidak
terbatas pada selesai di dalam masa terapi. Masa terapi adalah sebuah kontribusi kesil kepada
ikatan yang diperbarui kembali oleh seseorang dengan hiudp, atau sebuah penarikan diri dari
kehidupan (Van Deurzen, 2002b). Tujuan dari terapi adalah untuk memungkinkan klien
menemukan cara mengimplementasikan nilai yang terkaji dan terinternalisasi mereka dalam
sebuah cara konkret antara di dalam sesi dan setelah terapi telah berakhir. Klien secara khas
menemukan kekuatan mereka dan menemukan cara untuk menempatkan mereka dalam
pelayanan menjalani sebuah eksistensi yang bertujuan.
Klien yang Cocok untuk Konseling Eksistensial
Masalah apa yang paling sesuai untuk sebuah pendekatan eksistensial? Sebuah kekuatan
perspektif adalah fokusnya pada pilihan yang ada serta jalan menuju pertumbuhan pribadi. Bagi
orang-orang yang berhadapan dengan krisis perkembangan, mengalami kedukaan dan
kehilangan, menghadapi kematian, atau menghadapi sebuah keputusan hidup yang besar,
existensial terapi ini cocok. Beberapa contoh dari titik bali kritis ini yang menandai perpindahan
dari satu tahap kehidupan ke yang lain adalah perjuangan untuk identitas kedewasaan,
berhadapan dengan kekecewaan yang mungkin terjadi di usia pertengahan, anak-anak yang
meninggalkan rumah, berhadapan dengan kegagalan dalam pernikahan dan pekerjaan, serta
berhadapan dengan batasan fisik yang terus bertambah ketika usia juga bertambah. Tantangan
perkembangan ini mencakup bahaya dan kesempatan. Ketidakpastian, kebingungan, dan
perjuangan dengan keputusan merupakan bagian dari proses ini.
Van Deurzen (2002b) menyarankan bahwa bentuk dari terapi ini paling sesuai untuk
klien yang menghadapi masalah dengan kehidupan, mereka yang merasa terasing dari ekspektasi
masyarakat saat ini, atau bagi mereka yang mencari makna dalam hidup. Ini cenderung bekerja
dengan baik dengan mereka yang berada dipersimpangan dan mereka yang mempertanyakan
keadaan dunia dan ingin menantang status quo. Ini bisa berguna bagi mereka yang berada di tepi
eksistensi, seperti mereka yang sekarat atau memikirkan bunuh diri, mereka yang bekerja melalui
sebuah krisis pekembangan atau situasi, mereka merasa bahwa mereka tidak lagi pantas bagi
lingkungan mereka, atau mereka yang memulai tahapan kehidupan yang baru.
Bugental dan Bracke (1992) menyatakan bahwa nilai dan vitalistas dari pendekatan
psikoterapi bergantung pada kemampuannya untuk membantu klien berhadapan dengan sumber
rasa sakit dan ketidakpuasan akan hidupnya. Mereka berpendapat bahwa orientasi eksistensial
terkhusus cocok untuk individu yang mengalami rasa kurang indentitas. Pendekatan ini
menawarkan janji bagi individu yang berjuang untuk meneukan makna atau mengeluhkan rasa
kehampaan.
Aplikasi pada Terapi Singkat
Bagaimana pendekatan ekistensial dapat diaplikasikan dalam terapi singkat? Pendekatan
ini dapat memfokuskan klien pada area khusus seperti mengasumsikan tanggungjawab pribadi,
membuat sebuah komitmen untuk memutuskan dan bertindak, dan mengembangkan kesadaran
mereka pada situasi saat ini. Hal ini mungkin untuk sebuah pendekatan waktu-terbatas untuk
melayani sebagai sebuah katalis bagi klien untuk menjadi aktif dan sepenuhnya terlibat dalam
tiap sesi terapi. Strasser dan Strasser (1997), yang terhubung dengan British school of existensial
analysis, mempertahankan bahwa terdapat manfaat yang jelas dari terapi waktu-terbatas, yang
mencerminkan realitas waktu-terbatas dari keberadaan manusia. Sharp an Bugental (2001)
mempertahankan aplikasi jangka pendek dari pendekatan eksistensial memerlukan tujuan yang
lebih terstruktur dan didefinisikan dengan jelas dan tidak terlalu ambisius. Pada bagian akhir dari
terapi jangka pendek, penting bagi individu untuk mengevaluasi apa yang telah mereka capai dan
masalah apa yang mungkin harus dibahas nanti. Penting bagi terapis dan klien untuk
memutuskan apakah pekerjaan jangka pendek itu sesuai, apakah hasilnya bermanfaat.
Aplikasi: Teknik dan Prosedur Terapi
Kelompok eksisensial dapat digambarkan sebagai orang yang membuat komiten untuk
sebuah perjalanan panjang eksplorasi diri dengan tujuan-tujuan berikut : (1) memungkinkan
anggota untuk jujur dengan diri mereka sendiri, (2) memperluas perspektif mereka pada diri
mereka sendiri serta dunia di sekeliling mereka, dan (3) mengklarifikasi apa yang memberikan
makna pada hidup mereka kini dan nanti (Van Deurzen, 2002b). Sikap terbuka kepada hidup itu
penting, karena ia adalah keikhlasan untuk menjamah wilayah takterjamah. Tema universal saat
ini mencaup banyak kelompok dan tantangan anggota untuk secara serius mengekplor perhatian
eksistensial seperti pilihan, kebebasan dan kebingungan, kesadaran akan kematian, makna dalam
hidup, serta hidup sepenuhnya.
Yalom (1980) menyatakan bahwa kelompok menyediakan kondisi opti untuk pekerjaan
terapi dalam tanggungjawab. Kelompok bertanggung jawab atas cara mereka berperilaku dalam
kelompok, dan ini menyediakan sebuah cermin tentang bagaimana mereka bertindak di dunia.
Melalui feedback, anggota belajar untuk memandang diri mereka dari pandangan orang lain, dan
mereka belajar cara dimana perilaku mereka mempengaruhi orang lain. Membangun pada apa
yang anggota pelahari tentang fungsi interpersonal dalam kelompok, mereka bisa mengambil
tanggungjawa yang bertambag untuk membuat perubahan dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman kelompok mengediakan sebuah kesempatan bagi para partisipan untu terhubung
dengan orang lain lewat cara yang bermakna, belajar untuk menjadi diri mereka sendiri kala
berkawan dengan orang lain, dan untuk membangun sebuah hubungan yang bermanfaat dan
subur.
Dalam konseling kelompok ekistensial, anggota menjadi sadar akan paradox ekistensi:
bahwa hidup dapat dihentikan oleh kematian, bahwa kesuksesan itu sulit, bahwa kita ditentukan
untuk bebas, bahwa kita bertanggungjawab atas dunia yang tidak kita pilih, bahwa kita harus
membuat pilihan dihadapan keraguan dan ketidakpastian. Anggota mengalami kebingungan
ketika mereka menyadari realita dari kondisi manusia, termasuk rasa sakit dan penderitaan,
kebutuhan untuk berjuang bertahan hidup, dan kemungkinan keliru dasar mereka. Klien belajar
bahwa tidak ada jawaban akhir untuk perhatian akhir. Meskipun mereka menghadapi perhatian
akhir ini, mereka tidak dapat menaklukkannya (Mendelowitz & Schneider, 2008). Melalui
dukungan didalam kelompok, partisipan dapat mengetuk kekuatan yang dibutuhkan untuk
meciptakan sebuah sistem nilai yang sejalan dengan cara hidup mereka.
Sebuah kelompok menyediakan sebuah konteks yang kuat untuk melihat kepada diri, dan
untuk mempertimbangkan pilihan apa yang lebih menjadi milik sendiri secara autentik. Anggota
dapan secara terbuka membagi ketakutan mereka berkaitan dengan menjalani hidup dengan cara
yang tidak penuh dan menyadari bagaimana mereka berkompromi dengan integritas mereka.
Anggota dapat secara bertahap menemukan cara dimana mereka telah kehilangan arah dan bisa
mulai untuk menjadi lebih yakin terhadap diri mereka sendiri. Anggota belajar bahwa bukanlah
pada orang lain mereka menemukan jawaban atas pertanyaan tentang arti dan tujuan dalam
hidup. Pemimpin kelompok eksistensial membantu kelompok hidup dalam cara yang autentik
dan menahan diri dari solusi sederhana yang diresepkan. Untuk pembahasan yang lebih rinci
tentang pendekatan konseling kelompok, lihat Corey (2008, bab 9).
Terapi Eksistensial dari Perspektif Multikultural
Kekuatan Dari sebuah Perspektif yang Beragam
Karena pendekatan ekistensial tidak mendikte sebuah cara tertentu dalam memandang
atau terhubung dengan realita, dan karena perspektifnya yang luas, pendekatan ini sangat relevan
dalam bekerja di sebuah kontek multikultural (van Deurzen, 2002a). Vontress dan kawan-kawan
(1999) menulis tentang fondasi ekistensial dari konseling lintas budaya: konseling eksistensial
mungkin adalah pendekatan yang paling bermanfaat untuk membantu klien dari seluruh
kebudayaan untuk menemukan makna dan harmoni dalam hidup mereka, karena berfokus pada
masalah seadanya yang tiap dari kita phadapi: cinta, kebingungan, penderitaan, dan kematian”
(p. 32). Ini adalah pengalaman manusai yang melewati kebudayaan yang memisahkan
kebudayaan.
Vontress (1996) menunjukkan bahwa semua orang itu multikultural dalam artian bahwa
mereka semua produk dari banyak kebudayaan. Dia mendukung konselor-dalam-training untuk
berfokus pertama pada kesamaan universal dari klien dan kedua pada bidang perbedaan. Dalam
bekerja dengan keberagaman kebudayaan, penting untuk mengenali secara bersamaan kesamaan
serta perbedaan manusa:” konseling lintas-budaya, secara singkat, tidak bertujuan untuk
mengajarkan intervensi khusus bagi tiap budaya, tetapi untuk menanamkan konselor dengan
sebuah sensitifitas kebudayaan dan pandangan filosofi toleran yang akan sesuai untuk seluruh
kebudayaan” (p. 164).
Sebuah kekuatan dari pendekatan eksistensial adalah bahwa ia memungkinkan klien
untuk mengkaji derajat dimana perilaku mereka dipengaruhi oleh kondisi sosial dan budaya.
Klien dapat ditantang untuk melihat harga yang mereka bayar atas keputusan yang telah mereka
buat. Meskipun benar bahwa beberapa klien mungkin tidak merasakan rasa kebebasan,
kebebasan mereka dapat ditambah jika mereka mengenali batasan sosial yang mereka hadapi.
Kemerdekaan mereka dapat disembunyikan oleh institusi dan dibatasi oleh keluarga mereka.
faktanya, mungkin sulit untuk memisahkan kebebasan individu dari konteks struktur keluarga
mereka. terdapat ketertarikan internasional yang luas dalam pendekatan eksistensial dan rencana
untuk menciptakan sebuah masyarakat internasional. Sekarang terdapat beberapa masyarakat
Scandianavian, sebuah masyarakat Timur Eropa (termasuk Estonia, Latvia, Lithuania, Rusia,
Ukrania, dan Belarus), dan Mexiko dan masyarakat Selatan Amerika. Selain itu, jaringan
internet, SEPTIMUS, diajarkan di Ireland, Iceland, Swedia, Polandia, Republik Ceko, Romania,
Italia, Portugal, dan UK. Perkembangan internasional saat ini membuka bahwa terapi ekistensial
memiliki daya tarik luas kepada pepulasi yang beragam di banyak tempat di dunia.
Kelemahan dari Perpektif Beragam
Bagi mereka yang memegang perspektif sitemik ini, ekistensialis dapat dikritis pada
dasar bahwa mereka sangat individualistik dan mereka mengabaikan faktor sosial yang
menyebabkan masalah manusia. Beberapa individu yang mencari konseling dapat berpoperasi
pada asumsi bahwa mereka memiliki sedikit pilihan karena lingkungan sangat membatasi
kemampuan mereka untuk mempengaruhi arah hidup. Bahkan jika mereka berubah secara
internal, mereka melihat sedikit harapan bahwa realitas eksternal rasisme, diskriminasi, dan
penindasan akan berubah. Mereka cenderung mengalami rasa frustrasi dan perasaan
ketidakberdayaan yang dalam ketika melakukan perubahan di luar diri mereka. Seperti yang
akan Anda lihat di Bab 12, terapis feminis mempertahankan bahwa praktik terapeutik hanya akan
efektif sejauh terapis melakukan intervensi dengan beberapa bentuk tindakan sosial untuk
mengubah faktor-faktor yang menciptakan masalah klien. Dalam bekerja dengan orang kulit
berwarna yang berasal dari barrio atau ghetto, misalnya, penting untuk melibatkan masalah
kelangsungan hidup mereka. Jika seorang konselor terlalu cepat menyampaikan pesan kepada
klien-klien ini bahwa mereka memiliki pilihan dalam membuat hidup mereka lebih baik, mereka
mungkin merasa dilindungi dan disalahpahami. Kekhawatiran kehidupan nyata ini dapat
memberikan fokus yang baik untuk konseling, dengan asumsi terapis bersedia untuk
mengatasinya.
Masalah potensial dalam teori eksistensial adalah bahwa teori tersebut sangat berfokus
pada asumsi filosofis tentang penentuan nasib sendiri, yang mungkin tidak memperhitungkan
faktor-faktor kompleks yang harus dihadapi oleh banyak orang yang tertindas. Dalam banyak
budaya tidak mungkin untuk berbicara tentang diri sendiri dan penentuan nasib sendiri terlepas
dari konteks jaringan sosial dan kondisi lingkungan.
Banyak klien mengharapkan pendekatan terstruktur dan berorientasi pada masalah untuk
konseling yang tidak ditemukan dalam pendekatan eksistensial, yang menempatkan
tanggungjawab pada klien untuk memberikan arahan terapi. Meskipun klien mungkin merasa
lebih baik jika mereka memiliki kesempatan untuk berbicara dan dipahami, mereka cenderung
mengharapkan penasihat untuk melakukan sesuatu untuk membawa perubahan dalam situasi
kehidupan mereka. Tantangan utama yang dihadapi konselor menggunakan pendekatan
eksistensial adalah untuk memberikan arahan konkret yang cukup untuk klien ini tanpa
mengambil tanggungjawab dari mereka.
Ringkasan dan Evaluasi
Sebagai manusia, menurut pandangan eksistensialis, kita mampu memiliki kesadaran diri, yang
merupakan kemampuan khas yang memungkinkan kita untuk merefleksikan diri dan
memutuskan. Dengan kesadaran ini kita menjadi makhluk bebas yang bertanggungjawab untuk
memilih cara kita hidup, dan kita memengaruhi nasib kita sendiri. Kesadaran akan kebebasan
dan tanggungjawab ini menimbulkan kecemasan eksistensial, yang merupakan karakteristik
dasar manusia lainnya. Apakah kita suka atau tidak, kita bebas, meskipun kita mungkin berusaha
untuk tidak merefleksikan kebebasan ini. Pengetahuan yang harus kita pilih, meskipun hasilnya
tidak pasti, mengarah pada kecemasan. Kecemasan ini meningkat ketika kita merenungkan
kenyataan bahwa kita fana. Menghadapi prospek kematian akhirnya yang tak terelakkan
memberikan momen penting saat ini, karena kita menjadi sadar bahwa kita tidak memiliki
selamanya untuk menyelesaikan proyek-proyek kita. Tugas kita adalah menciptakan kehidupan
yang memiliki makna dan tujuan. Sebagai manusia, kita unik karena berusaha mencapai tujuan
dan nilai-nilai yang memberi makna pada kehidupan. Apa pun makna hidup kita telah
dikembangkan melalui kebebasan dan komitmen untuk membuat pilihan dalam menghadapi
ketidakpastian.
Terapi Eksistensial Diterapkan pada Kasus Stan
Konselor dengan orientasi eksistensial mendekati Stan dengan pandangan bahwa ia memiliki
kapasitas untuk meningkatkan kesadaran diri dan memutuskan arah masa depan untuk dirinya
sendiri. Dia ingin dia menyadari lebih dari segalanya bahwa dia tidak harus menjadi korban dari
pengondisian masa lalunya tetapi dapat menjadi arsitek dalam mendesain ulang masa depannya.
Dia dapat membebaskan dirinya dari belenggu deterministiknya dan menerima tanggungjawab
yang datang dengan mengarahkan hidupnya sendiri. Pendekatan ini menekankan pentingnya
pemahaman terapis tentang dunia Stan, terutama dengan membangun hubungan otentik sebagai
sarana untuk tingkat pemahaman diri yang lebih penuh.
Stan menunjukkan apa yang Sartre sebut sebagai "itikad buruk" dengan tidak menerima
tanggungjawab pribadi. Terapis menghadapi Stan dengan cara-cara di mana ia berusaha
melarikan diri dari kebebasannya melalui alkohol dan obat-obatan. Akhirnya, dia menghadapi
kepasifan pria itu. Terapis menegaskan kembali bahwa dia sekarang sepenuhnya
bertanggungjawab atas hidupnya, atas tindakannya, dan atas kegagalannya untuk mengambil
tindakan. Dia melakukan ini dengan cara yang mendukung namun tegas.
Konselor tidak melihat kegelisahan Stan sebagai sesuatu yang negatif tetapi sebagai
bagian penting dari hidup dengan ketidakpastian dan kebebasan. Karena tidak ada jaminan dan
karena individu pada akhirnya sendirian, Stan dapat berharap mengalami beberapa tingkat
kecemasan yang sehat, kesendirian, rasa bersalah, dan bahkan keputusasaan. Kondisi-kondisi ini
bukan neurotik dalam diri mereka sendiri, tetapi cara Stan mengarahkan dirinya sendiri dan
mengatasi kondisi-kondisi ini sangat penting.
Stan terkadang berbicara tentang perasaan bunuh dirinya. Tentu saja, terapis menyelidiki
lebih lanjut untuk menentukan apakah ia menimbulkan ancaman langsung pada dirinya sendiri.
Selain penilaian ini untuk menentukan kematian, terapis eksistensial dapat melihat pemikirannya
tentang "lebih baik mati" sebagai simbol. Mungkinkah Stan merasa dia sekarat sebagai individu?
Apakah Stan menggunakan potensi manusianya? Apakah ia memilih cara yang hanya sekadar
hidup daripada menegaskan kehidupan? Apakah Stan utamanya berusaha mendapatkan simpati
dari keluarganya? Terapisnya menantang Stan untuk mengeksplorasi makna dan tujuan
hidupnya. Apakah ada alasan baginya untuk ingin terus hidup? Apa saja proyek yang
memperkaya hidupnya? Apa yang bisa dia lakukan untuk menemukan tujuan yang akan
membuatnya merasa lebih penting dan hidup?
Stan perlu menerima kenyataan bahwa ia kadang merasa sendirian. Memilih untuk
sendiri dan hidup dari pusat diri yang mengutamakan pengalaman kesendirian. Namun, dia tidak
dikutuk untuk hidup terisolasi, terasing dari orang lain, dan kesepian. Terapis membantu Stan
menemukan keterpusatannya sendiri dan hidup dengan nilai-nilai yang ia pilih dan ciptakan
untuk dirinya sendiri. Dengan melakukan itu, Stan dapat menjadi orang yang lebih substansial
dan lebih menghargai dirinya sendiri. Ketika dia melakukannya, peluangnya berkurang bahwa
dia akan memiliki kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain, terutama orang tua
dan pengganti orang tua. Alih-alih membentuk hubungan yang tergantung, Stan dapat memilih
untuk berhubungan dengan orang lain karena kekuatannya. Hanya dengan demikianlah
kemungkinan mengatasi perasaan keterasingan dan terisolasinya.
Tindak Lanjut: Anda Terus sebagai Terapis Eksistensial Stan
Gunakan pertanyaan ini untuk membantu Anda berpikir tentang bagaimana Anda akan
menasihati Stan menggunakan pendekatan eksistensial:
Jika Stan menolak upaya Anda untuk membantunya melihat bahwa ia bertanggungjawab
atas arah hidupnya, bagaimana Anda bisa mengintervensi?
Stan mengalami banyak kecemasan. Dari perspektif eksistensial, bagaimana Anda
memandang kecemasannya? Bagaimana Anda bisa mengatasi kecemasannya dengan cara
yang bermanfaat?
Jika Stan berbicara dengan Anda tentang bunuh diri sebagai respons terhadap
keputusasaan dan kehidupan tanpa makna, bagaimana Anda merespons?
Lihat program online dan DVD, Theory in Practice: The Case of Stan (Sesi 4 tentang terapi
eksistensial), untuk demonstrasi pendekatan saya dalam konseling Stan dari perspektif ini.
Sesi ini berfokus pada tema kematian dan makna hidup.
Terapi eksistensial menempatkan keunggulan sentral pada hubungan orang-ke-orang.
Ini mengasumsikan bahwa pertumbuhan klien terjadi melalui pertemuan yang tulus ini.
Bukan teknik yang digunakan terapis yang membuat perbedaan terapeutik; melainkan,
kualitas hubungan klien-terapislah yang menyembuhkan. Penting bahwa terapis mencapai
kedalaman dan keterbukaan yang cukup dalam kehidupan mereka sendiri untuk
memungkinkan mereka menjelajah ke dunia subjektif klien mereka tanpa kehilangan rasa
identitas mereka sendiri. Karena pendekatan ini pada dasarnya berkaitan dengan tujuan
terapi, kondisi dasar menjadi manusia, dan terapi sebagai perjalanan bersama, praktisi tidak
terikat oleh teknik khusus. Meskipun terapis eksistensial dapat menerapkan teknik dari
orientasi lain, intervensi mereka dipandu oleh kerangka kerja filosofis tentang apa artinya
menjadi manusia.
Kontribusi dari Pendekatan Eksistensial
Pendekatan eksistensial telah membantu membawa orang itu kembali ke fokus sentral. Ini
berkonsentrasi pada fakta-fakta sentral dari keberadaan manusia: kesadaran diri dan
kebebasan kita sebagai konsekuensinya. Bagi kaum eksistensialis, penghargaan karena
memberikan pandangan baru tentang kematian sebagai kekuatan positif, bukan prospek yang
menakutkan untuk ditakuti, karena kematian memberikan makna hidup. Eksistensialis telah
menyumbangkan dimensi baru pada pemahaman tentang kecemasan, rasa bersalah, frustrasi,
kesepian, dan keterasingan.
Saya terutama menghargai cara van Deurzen (2002a) memandang praktisi eksistensial
sebagai mentor dan sesama pelancong yang mendorong orang untuk merenungkan masalah
yang mereka hadapi dalam hidup. Yang dibutuhkan klien adalah "bantuan dalam mensurvei
medan dan memutuskan rute yang benar sehingga mereka dapat kembali menemukan jalan
mereka" (hlm. 18). Menurut van Deurzen, pendekatan eksistensial mendorong orang untuk
menjalani kehidupan dengan standar dan nilai-nilai mereka sendiri. “Tujuan dari pekerjaan
eksistensial adalah untuk membantu orang dalam mengembangkan bakat mereka dengan cara
pribadi mereka sendiri, membantu mereka untuk setia pada apa yang mereka hargai” (hal.
21).
Salah satu kontribusi utama dari pendekatan eksistensial adalah penekanannya pada
kualitas manusia dari hubungan terapeutik. Aspek ini mengurangi kemungkinan
dehumanisasi psikoterapi dengan membuatnya menjadi proses mekanis. Konselor yang ada
menolak gagasan obyektivitas terapeutik dan jarak profesional, memandang hal tersebut tidak
membantu. Ini dikemukakan dengan sangat baik oleh Vontress dan rekan-rekannya (1999):
“Menjadi penasihat eksistensial tampaknya berarti memiliki keberanian untuk menjadi
manusia yang peduli dalam dunia yang tidak peka” (hal. 44).
Saya sangat menghargai penekanan eksistensial pada kebebasan dan tanggungjawab
dan kapasitas manusia untuk mendesain ulang hidupnya dengan memilih dengan kesadaran.
Perspektif ini memberikan dasar filosofis yang kuat untuk membangun gaya terapeutik
pribadi dan unik karena ini mengarahkan dirinya pada pergulatan inti manusia kontemporer.
KONTRIBUSI TERHADAP INTEGRASI PSIKOTERAPI Dari sudut pandang saya, konsep-
konsep kunci dari pendekatan eksistensial dapat diintegrasikan ke dalam kebanyakan sekolah
terapi. Terlepas dari orientasi terapis, dasar untuk praktik dapat didasarkan pada tema
eksistensial. Meskipun Bugental dan Bracke (1992) tertarik pada pemasukan gagasan
eksistensial ke dalam pendekatan terapi lain, mereka memiliki beberapa kekhawatiran.
Mereka menyerukan pemeriksaan hati-hati dari area pertemuan dan perbedaan antara
perspektif teoritis. Mereka membuat postulat-postulat berikut untuk menjaga integritas
perspektif eksistensial sebagai usaha menuju tahap integrasi:
Subyektivitas klien merupakan kunci utama untuk memahami perubahan hidup klien
yang signifikan.
Komitmen dan kehadiran penuh terapis dan klien adalah hal penting dalam terapi imi.
Tujuan utama terapi adalah untuk bagaimana klien bisa benar-benar memanfaatkan
kesempatan yang ada dalam proses terapi untuk mengintropeksi dan mengubah hidup
mereka.
Ketika klien semakin menyadari bagaimana mereka mendefinisikan diri dan dunia
mereka, mereka pun dapat melihat alternatif-alternatif baru untuk membuat keputusan
dan melakukan tindakan.
Dalam situasi yang melibatkan proses transferansi dan kontertransferansi, terapis
berkesempatan untuk mengajarkan kepada klien cara menerapkan tanggung jawab
pada diri dengan mencontohkan caranya kepada diri terapis sendiri.
Bugental dan Brackle (1992) melihat adanya potensi untuk terjadinya integrasi kreatif antara
pemahaman terapi eksistensial dengan orientasi-orientasi terapi lainnya. Salah satu contoh
integrasi kreatif yang terjadi dilakukan oleh Dattilio (2002), ia mengintegrasikan teknik
perilaku kognitif dengan tema-tema yang ada dalam pendekatan eksistensial. Sebagai penulis
dan terapis terapi perilaku kognitif, Dattilio menjelaskan bahwa ia memusatkan proses
penanganannya untuk “membantu klien membuat perubahan eksistensial-menuju pemahaman
baru mengenai dunianya” (hal. 75). Ia mengggunakan teknik-teknik seperti membangun
ulang sistem kepercayaan diri klien, metode relaksasi, dan serangkaian strategi-strategi terapi
perilaku dan kognitif lainnya, namun dia menerapkan teknik-teknik tersebut ke dalam satu
kerangka eksistensial yang dapat mentransformasikan hidup klien. Sebagian besar kliennya
menderita depresi dan serangan panic. Dattilio seringkali mengeksplor diri klien-kliennya ini
dengan tema-tema eksistensial seperti arti kehidupan, rasa bersalah, keputusasaan,
kecemasan-dan di saat yang sama, ia juga menangani mereka dengan teknik-teknik terapi
perilaku kognitif untuk membyat mereka menghadapi permasalahan sehari-hari mereka.
Singkatnya, ia menanamkan penanganan yang bergejala ke dalam pendekatan eksistensial.
Batasan dan Kritikan dalam Pendekatan Eksistensial
Kritikan yang paling sering ditujukan untuk pendekatan ini adalah bahwa pendekatan
ini tidak memiliki prinsip-prinsip dan praktik-praktik sistematis psikoterapi. Sebagaian
praktisi merasa sulit menerima pendekatan eksistensial karena konsep dan bahasanya yang
bersifat mistis. Terapis-terapis lain yang menerapkan orientasi eksistensial menggambarkan
model terapi mereka dengan istilah-istilah yang tidak konkrit seperti aktualisasi-diri,
interaksi dialog dalam diri, autentisitas, dan hidup di dunia sebenarnya. Kurangnya definisi
konkrit dalam pendekatan ini kadang-kadang menciptakan kebingungan dan kesulitan untuk
melakukan penelitian pada proses atau hasil terapi eksistensial itu sendiri.
Baik praktisi handal maupun pemula yang tidak berpikir secara filosofis cenderung
akan menganggap konsep-konsep dalam terapi eksistensial ini abstrak dan tidak ril. Dan
konselor-konselor yang memahami konsep eksistensial secara filosofis ini kadang-kadang
kesulitan untuk menerapkannya secara praktik. Seperti yang kita telah lihat, pendekatan
eksistensial ini memberikan penekanan khusus pada pemahaman diri dan dunia subyektif
klien. Asumsinya adalah bahwa teknik akan mengikuti pemahaman. Karena beberapa teknik
tercipta melalui pendekatan ini, para praktisi pun dapat mengembangkan teknik inovatif
mereka sendiri atau bahkan meminjam teknik-teknik terapi dari pendekatan model lain. Bagi
konselor yang merasa tidak dapat melakukan penanganan efektif tanpa menggunakan
beberapa teknik-teknik tertentu, pendekatan eksistensial ini tidak untuk mereka (Vontres,
2008).
Praktisi yang lebih memilih model konseling praktik cenderung berpendapat bahwa
konsep-konsep terapinya harus bersifat empiris, bahwa definisi dalam model terapinya harus
dapat diterapkan, bahwa hipotesis model tersebut harus dapat diuji, dan bahwa praktik terapi
harus didasarkan atas hasil penelitian baik dari segi cara penanganannya maupun hasil
terapinya sendiri. Tentunya, pemahaman bahwa terapi manual tidak termasuk ke dalam
perspektif eksistensial karena tiap pengalaman psikoterapi itu masing-masing memiliki
keunikan sendiri (Walsh & McElwain, 2002). Menurut perspektif praktik terapi yang
berlandaskan pada bukti empiris, terapi pendekatan eksistensial adalah model terapi yang
patut diragukan. Menurut Cooper (2003), praktisi eksistensial umumnya menolak anggapan
bahwa proses terapi itu dapat diukur dan dievaluasi secara empiris dan kuantitatif. Sangat
sedikit penelitian yang secara langsung mengevaluasi dan menguji pendekatan eksistensial
ini. Terapi eksistensial menggunakan teknik-teknik yang berasal dari teori-teori lain, sehingga
sulit untuk meneliti pendekatan ini untuk mempelajari seberapa efektif pendekatan tersebut
(Sharf, 2008).
Menurut van Deurzen (2002b), limitasi utama pendekatan ini adalah lama jam
terbang, pengalaman, dan pelatihan intensif yang harus dipenuhi oleh para praktisi terapi
eksistensial. Terapis eksistensial harus bijaksana dan mampu memahami secara mendalam
arti menjadi manusia. Autentisitas diri adalah ciri utama praktisi terapi eksistensial yang
handal, dimana untuk memperoleh autentisitas ini tidak cukup untuk memahami konsep-
konsep dan teknik-teknik terapi saja. Russel (2007) menjelaskan hal ini dengan baik ketika ia
mengatakan: “Autentisitas diri adalah kemampuan untuk menuliskan nama anda sendiri
dalam pekerjaan dan hidup anda. Autentisitas diri berarti bahwa anda mau mengambil
tanggung jawab menjadi terapis dengan cara anda sendiri” (hal. 123).
Kemana Selanjutnya
Buka CD-ROM untuk Konseling Integratif, Sesi ke-11 (“Memahami Bagaimana Masa
Lalu Mempengaruhi Masa Sekarang)” untuk melihat demonstrasi bagaimana saya
menggunakan pemahaman eksistensial ketika saya menangani Ruth. Kami melakukan
permainan peran dimana Ruth berperan menjadi suara representasi gerejanya dan saya sendiri
berperan menjadi Ruth-dimana saya menantang perintah-perintah dan keyakinan yang
disuarakan oleh gereja. Bagian ini menggambarkan bagaimana saya membantu Ruth
menemukan nilai-nilai baru. Di sesi ke-12 (“Menuju Perubahan Keputusan dan Perilaku”)
saya menantang Ruth untuk membuat keputusan baru, dimana hal ini juga termasuk sebagai
konsep eksistensial.
Masyarakat Analisis Eksistensial
Laman Web: www.existentialanalysis.co.uk/
Informasi Tambahan: www.dilemmas.org
Masyarakat Analisis Eksistensial adalah organisasi profesional bertujuan untuk
mengeksplor isu-isu terkait pendekatan eksistensial/fenomenalogis dalam konseling dan
terapi. Keanggotaan masyarakat analisis eksistensial ini terbuka untuk siapa saha yang
tertarik pada pendekatan ini dan mengajak pelajar, terapis pemula, psikoterapis, filsuf,
psikiatris, konselor, serta psikologis. Seluruh anggota organisasi ini menerima surat berita
rutin dan tiap tahun menerima salinan Jurnal Masyarakat Analisis Eksistensial. Organisasi ini
menyediakan sejumlah rujukan psikoterapis eksistensial. Sekolah Psikoterapi dan Konseling
di Universitas Regent di London menawarkan program diploma dan program kuliah singkat
dalam bidang psikoterapi eksistensial.
Masyarakat Psikoterapi dan Konseling Eksistensial Internasional
Masyarakat Psikoterapi dan Konseling Eksistensial Internasional didirikan di London
pada bulan Juli tahun 2006. Organisasi ini menyatukan organisasi-organisasi nasional yang
ada dan menjadi sebuah forum untuk pengembangan dan penilaian pendekatan eksistensial.
Pelatihan Psikoterapi melalui Internet: SEPTIMUS
Laman Web: www.septimus.info
Informasi Tambahan: www.psychotherapytraining.net
SEPTIMUS adalah bimbingan pelatihan psikoterapi berbasis Internet yang diajarkan di
Irlandia, Islandia, Swedia, Polandia, Republik Ceko, Romania, Italia, Portugal, Austria, dan
Britania Raya.
Sekolah Psikoterapi dan Konseling Baru
Royal Waterloo House
51-55 Waterloo Road
London, Inggris SE1 8TX
Nomor Telepon: +44 (0) 20 7928 43 44
Surat elektronik: Admin@nspc.org.uk
Laman Web: www.nspc.org.uk
Sekolah Psikoterapi dan Konseling Baru (SPKB) didirikan khusus untuk melatih terapis-
terapis eksistensial. Sekolah ini menawarkan program gelar MA dalam bidang Psikoterapi
dan Konseling Eksistensial yang disetujui oleh Universitas Sheffield, dan program MSC
dalam bidang Psikologi Konseling Eksistensial yang disahkan oleh Universitas Middlesex.
SPKB menawarkan kursus intensif jarak jauh, temasuk konsep pembelajaran e-learning.
REKOMENDASI BACAAN LANJUTAN
Existential Counselling and Psychotherapy
in Practice (van Deurzen, 2002a) adalah
buku yang sangat direkomendasikan
sebagai ranguman asumsi-asumsi dasar
terapi eksistensial, tujuan, dan nilai-nilai
utama terapi eksistensial, penjelasan cara
menemukan makna, dan menerima hidup.
Buku ini memberikan kerangka berpikir
untuk praktisi konseling menurut
perspektif eksistensial.
Existential Therapies (Cooper, 2003)
menyediakan sebuah pengantar yang
berguna dan jelas tentang terapi
existensial. Terdapat bab-bab terpisah
dalam lototerapi, sekolah British analisis
existensial, pendekatan existensial-
humanistik Amerika, dimensia praktik
terapiutik eksistensial, dan terapi
existensial singkat.
Existential Psychotherapy (Yalom, 1980)
adalah sebuah perlakukan hebat dari
perhatian akhir manusia tentang kematian,
kebebasan, isolasi, dan ketiadaan makna
karena masalah ini berkaitan dengan
terapi. Buku ini dalam dan jelas, dan kaya
akan contoh klinis yang mengilustrasikan
tema existensial.
The Art of the Psychotherapist (Bugental,
1987) merupakan sebuah buku yang hebat
yang menghubungkan seni dan ilmu
pengetahuan dari psikoterapi, memberikan
tempat untuk keduanya. Penulis
merupakan seorang klinisian yang
berpandangan luas dan perasa yang
menulis tentang perjalanan psikoterapis
klien dengan cukup dalam dari sebuah
perspektif psikoterapi.
I Never Knew I Had a Choice (Corey &
Corey, 2006) ditulis dari perspektif
eksistensial. Topik-topik termasuk
perjuangan kita untuk mencapai otonomi:
makna dari kesepian, kematian dan
kehilangan: dan bagaimana kita memilih
nilai dan filosofi hiudp kita.
Cross-Cultural Counseling: A Casebook
(Vontress,Johnson, & Epp, 1999) berisi
tentang studi kasus dari klien yang berbeda
kebudayaan. Kasus ini dieksplor di dalam
tiga kerangka: dari perpektive konseptual,
dari perspektif eksistensial, dan dari titik
terang dari model diagnostik DSM-IV.
Ada sebuah bab yang hebat pada fondasi
eksistensial dari konseling lintas budaya.
REFERENSI DAN BACAAN YANG DISARANKAN
BINSWANGER, L. (1975). Being-in-the-
world: Selected papers of Ludwig
Binswanger. London: Souvenir Press
BOSS, M. (1963). Daseinanalysis and
psychoanalysis. New York: Basic Books.
BUBER, M. (1970). I and thou (W.
Kaufmann, Trans.). New York:
Scribner’s.
BUGENTAL, J. F. T. (1986). Existential-
humanistic psychotherapy. In I. L. Kutash
& A. Wolf (Eds.), Psychotherapist’s
casebook (pp. 222236). San Francisco:
Jossey-Bass.
*BUGENTAL, J. F. T. (1987). The art of
the psychotherapist. New York: Norton.
BUGENTAL, J. F. T. (1990). Existential-
humanistic psychotherapy. In J. K. Zeig
& W. M. Munion (Eds.), What is
psychotherapy? Contemporary
perspectives (pp. 189193). San
Francisco: Jossey-Bass.
BUGENTAL, J. F. T. (1997). There is a
fundamental division in how
psychotherapy is conceived. In J. K. Zeig
(Ed.), The evolution of psychotherapy:
The third conference (pp. 185196). New
York: Brunner/Mazel.
*BUGENTAL, J. F. T. (1999).
Psychotherapy isn’t what you think:
Bringing the psychotherapeutic
engagement into the living moment.
Phoenix, AZ: Zeig, Tucker.
BUGENTAL, J. F. T., & BRACKE, P. E.
(1992). The future of existential-
humanistic psychotherapy.
Psychotherapy, 29(l), 2833.
*COOPER, M. (2003). Existential therapies.
London: Sage.
COREY, G. (2008). Theory and practice of
group counseling (7th ed.). Belmont, CA:
Brooks/Cole.
*COREY, G. (2009). Case approach to
counseling and psychotherapy (6th ed.).
Belmont, CA: Brooks/ Cole.
*COREY, G., & COREY, M. (2006). I
never knew I had a choice (8th ed.).
Belmont, CA: Brooks/Cole.
DATTILIO, F. M. (2002, January-
February). Cognitive-behaviorism comes
of age: Grounding symptomatic treatment
in an existential approach. The
Psychotherapy Networker, 26(1), 7578.
FARHA, B. (1994). Ontological awareness:
An existential/cosmological
epistemology. The Person-Centered
Periodical, 1(1), 1529.
*FRANKL, V. (1963). Man’s search for
meaning. Boston: Beacon.
*FRANKL, V. (1965). The doctor and the
soul. New York: Bantam Books.
*FRANKL, V. (1978). The unheard cry for
meaning. New York: Simon & Schuster
(Touchstone).
GOULD, W. B. (1993). Viktor E. Frankl:
Life with meaning. Pacifi c Grove, CA:
Brooks/Cole.
HEERY, M., & BUGENTAL, J. F. T.
(2005). Listening to the listener: An
existential-humanistic approach to
psychotherapy with psychotherapists. In
J. D. Geller, J. C. Norcross, & D. E.
Orlinsky (Eds.), The psychotherapist’s
own psychotherapy: Patient and clinician
perspectives (pp. 282296). New York:
Oxford University Press.
HEIDEGGER, M. (1962). Being and time.
New York: Harper & Row. LAING, R.
D., & COOPER, D. (1964). Reason and
violence. London: Tavistock.
MAY, R. (1950). The meaning of anxiety.
New York: Ronald Press.
*MAY, R. (1953). Man’s search for himself.
New York: Dell.
MAY, R. (1958). The origins and signifi
cance of the existential movement in
psychology. In R. May, E. Angel, & H.
R. Ellenberger (Eds.), Existence: A new
dimension in psychiatry and psychology.
New York: Basic Books.
*MAY, R. (Ed.). (1961). Existential
psychology. New York: Random House.
MAY, R. (1969). Love and will. New York:
Norton.
MAY, R. (1975). The courage to create.
New York:
Norton.
MAY, R. (1981). Freedom and destiny. New
York:
Norton.
*MAY, R. (1983). The discovery of being:
Writings in existential psychology. New
York: Norton.
MAY, R., ANGEL, E., & ELLENBERGER,
H. F. (Eds.). (1958). Existence: A new
dimension in psychiatry and psychology.
New York: Basic Books.
MENDELOWITZ, E., & SCHNEIDER, K.
(2008). Existential psychotherapy. In R.
Corsini & D. Wedding (Eds.), Current
psychotherapies (8th ed., pp. 295327).
Belmont, CA: Brooks/Cole.
RUSSELL, J. M. (1978). Sartre, therapy,
and expanding the concept of
responsibility. American Journal of
Psychoanalysis, 38, 259269.
*RUSSELL, J. M. (2007). Existential
psychotherapy. In A. B. Rochlen (Ed.),
Applying counseling theories: An online
case-based approach (pp. 107
125).Upper Saddle River, NJ: Pearson
Prentice-Hall.
SARTRE, J. P. (1971). Being and
nothingness. New York: Bantam Books.
*SCHNEIDER, K. J. (2007). Existential-
integrative psychotherapy: Guideposts to
the core of practice. New York:
Routledge.
*SCHNEIDER, K. J., & MAY, R. (Eds.).
(1995). The psychology of existence: An
integrative, clinical perspective. New
York: McGraw-Hill.
SHARF, R. S. (2008). Theories of
psychotherapy and counseling: Concepts
and cases (4th ed.). Belmont, CA:
Brooks/Cole.
*SHARP, J. G., & BUGENTAL, J. F. T.
(2001). Existential-humanistic
psychotherapy. In R. J. Corsini (Ed.),
Handbook of innovative therapies (2nd
ed., pp. 206217). New York: Wiley.
*STRASSER, F., & STRASSER, A. (1997).
Existential time-limited therapy: The
wheel of existence. Chichester: Wiley.
TILLICH, P. (1952). The courage to be.
New Haven, CT: Yale University Press.
VAN DEURZEN, E. (1991). Ontological
insecurity revisited. Journal of the
Society for Existential Analysis, 2, 3848.
*VAN DEURZEN, E. (1997). Everyday
mysteries: Existential dimensions of
psychotherapy. London: Routledge.
*VAN DEURZEN, E. (2002a). Existential
counselling and psychotherapy in
practice (2nd ed.). London: Sage.
*VAN DEURZEN, E. (2002b). Existential
therapy. In W. Dryden (Ed.), Handbook
of individual therapy (4th ed., pp. 179
208). London: Sage.
VAN DEURZEN, E., & ARNOLD-
BAKER, C. (2005). Existential
perspectives on human issues: A
handbook for practice. London: Palgrave,
Macmillan.
VAN DEURZEN, E., & KENWARD, R.
(2005). Dictionary
of existential psychotherapy and
counselling.
London: Sage.
*VONTRESS, C. E. (1996). A personal
retrospective
on cross-cultural counseling. Journal
of Multicultural Counseling and
Development,
24(3), 156166.
*VONTRESS, C. E. (2008). Existential
therapy. In
J. Frew & M. D. Spiegler (Eds.),
Contemporary
psychotherapies for a diverse world (pp.
141176).
Boston: Lahaska Press.
*VONTRESS, C. E., JOHNSON, J. A., &
EPP,
L. R. (1999). Cross-cultural counseling: A
casebook.
Alexandria, VA: American Counseling
Association.
*WALSH, R. A., & MCELWAIN, B.
(2002). Existential
psychotherapies. In D. J. Cain & J. Seeman
(Eds.), Humanistic psychotherapies:
Handbook of
research and practice (pp. 253278).
Washington,
DC: American Psychological Association.
*YALOM, I. D. (1980). Existential
psychotherapy.
New York: Basic Books.
*YALOM, I. D. (2003). The gift of therapy:
An open
letter to a new generation of therapists and
their patients.
New York: HarperCollins (Perennial).
BAB TUJUH
TERAPI BERPUSAT PADA PELAKU
Pendahuluan
Empat Periode Pengembangan
Pendekatan
Eksistensialisme dan Humanisme
Konsep Kunci
Pandangan Alam Manusia
Proses Terapi
Tujuan Terapi
Fungsi dan Peran Terapis
Pengalaman Klien dalam Terapi
Hubungan Antara Terapis dan Klien
Aplikasi: Teknik dan Prosedur
Terapi
Penekanan Dini pada Refleksi
Perasaan
Evolusi Metode yang Berpusat pada
Pelaku
Peran Penilaian
Penerapan Filsafat Pendekatan yang
Berpusat pada Pelaku
Aplikasi untuk Intervensi Krisis
Aplikasi untuk Konseling Kelompok
Terapi Seni Ekspresif yang
Berpusat pada Pelaku
Prinsip Terapi Seni Ekspresif
Kreativitas dan Penawaran
Pengalaman Merangsang
Apa yang Menahan Kami?
Kontribusi Natalie Rogers
Terapi yang Berpusat pada Pelaku
dari Perspektif Multikultural
Kekuatan Dari Perspektif Keragaman
Kekurangan Dari Perspektif
Keragaman
Terapi yang Berpusat pada Pelaku
Diterapkan pada Kasus Stan
Ringkasan dan Evaluasi
Kontribusi dari Pendekatan yang
Berpusat pada Pelaku
Keterbatasan dan Kritik terhadap
Pendekatan yang Berpusat pada
Pelaku
Ke mana Pergi Dari Sini
Bacaan Tambahan yang
Direkomendasikan
Referensi dan Bacaan yang
Disarankan
CARL ROGERS
CARL ROGERS (1902
1987), seorang juru bicara
utama pada psikologi
humanistik, menjalani
kehidupan yang
mencerminkan ide-ide
yang dikembangkannya
selama setengah abad. Dia menunjukkan
sikap mempertanyakan, keterbukaan yang
mendalam untuk berubah, dan keberanian
untuk menempa ke wilayah yang tidak
dikenal baik sebagai pribadi maupun sebagai
seorang profesional. Dalam menulis tentang
tahun-tahun awalnya, Rogers (1961)
mengingat kembali suasana keluarganya
yang ditandai oleh hubungan yang akrab dan
hangat tetapi juga oleh standar agama yang
ketat. Permainan tidak dianjurkan, dan nilai-
nilai etika Protestan dipuji. Masa kecilnya
agak sepi, dan ia mengejar kepentingan
ilmiah alih-alih kepentingan sosial. Rogers
adalah orang yang introvert, dan dia
menghabiskan banyak waktu membaca dan
terlibat dalam aktivitas dan refleksi
imajinatif. Selama tahun-tahun kuliahnya,
minat dan bidang akademiknya berubah dari
pertanian ke sejarah, lalu ke agama, dan
akhirnya ke psikologi klinis.
Rogers memegang berbagai posisi
akademik di berbagai universitas dan
memberikan kontribusi yang signifikan di
masing-masing universitas. Beberapa latar
belakang akademik ini termasuk Ohio State
University, University of Chicago, dan
University of Wisconsin. Rogers mendapat
pengakuan di seluruh dunia karena
memulakan dan mengembangkan gerakan
humanistik dalam psikoterapi, merintis
dalam penelitian psikoterapi, menulis buku
tentang teori dan praktik psikoterapi, dan
memengaruhi semua bidang yang berkaitan
dengan profesi pembantu.
Dalam sebuah wawancara, Rogers
ditanya apa yang ia ingin orang tuanya
ketahui tentang kontribusinya jika ia dapat
berkomunikasi dengan mereka. Dia
menjawab bahwa dia tidak bisa
membayangkan berbicara dengan ibunya
tentang sesuatu yang penting karena dia
yakin dia akan memiliki penilaian negatif.
Menariknya, tema inti dalam teorinya adalah
perlunya mendengarkan dan menerima
penilaian tanpa penilaian jika klien ingin
berubah (Heppner, Rogers, & Lee, 1984).
Dia juga mendorong klien untuk
merefleksikan pengalaman mereka. Sebuah
teori sering mencerminkan kehidupan
pribadi ahli teori, dan kedua gagasan ini
berakar pada kehidupan pribadi Rogers
sendiri.
Selama 15 tahun terakhir hidupnya,
Rogers menerapkan pendekatan yang
berpusat pada pelaku pada perdamaian dunia
dengan melatih para pembuat kebijakan,
pemimpin, dan kelompok dalam konflik.
Mungkin hasrat terbesarnya diarahkan pada
pengurangan ketegangan antar-ras dan
upaya untuk mencapai perdamaian dunia, di
mana ia dinominasikan untuk Penghargaan
Nobel Perdamaian.
Dalam penilaian dampak Rogers,
Kain (1987b) menulis bahwa terapis,
penulis, dan pelaku adalah orang yang sama.
Rogers menjalani hidupnya sesuai dengan
teorinya dalam berurusan dengan beragam
orang di lingkungan yang beragam.
Keyakinannya pada orang-orang sangat
mempengaruhi perkembangan teorinya dan
cara dia berhubungan dengan semua orang
yang berhubungan dengannya. Rogers tahu
siapa dia, merasa nyaman dengan
kepercayaannya, dan tanpa alasan. Dia tidak
takut untuk mengambil posisi yang kuat dan
menantang status quo sepanjang karier
profesionalnya.
Untuk presentasi terperinci tentang
kehidupan dan karya-karya Carl Rogers,
lihat CD-ROM Carl Rogers: A Daughter's
Tribute, yang dijelaskan di akhir bab ini.
Lihat juga Carl Rogers: The Quiet
Revolutionary (Rogers & Russell, 2002) dan
On Becoming Carl Rogers (Kirschenbaum,
1979).
Pendahuluan
Pendekatan yang berpusat pada pelaku didasarkan pada konsep-konsep dari psikologi
humanistik, banyak yang diartikulasikan oleh Carl Rogers pada awal 1940-an. Dari semua
perintis yang telah menemukan pendekatan terapeutik, bagi saya Rogers menonjol sebagai salah
satu tokoh paling berpengaruh dalam merevolusi arah teori dan praktik konseling. Pendapat saya
didukung oleh survei 2006 yang dilakukan oleh Psychotherapy Networker ("The Top 10," 2007),
yang mengidentifikasi Carl Rogers sebagai psikoterapis tunggal yang paling berpengaruh selama
seperempat abad terakhir. Rogers telah dikenal sebagai "revolusioner yang pendiam" yang
keduanya berkontribusi pada pengembangan teori dan yang pengaruhnya terus membentuk
praktik konseling saat ini (lihat Rogers & Russell, 2002).
Pendekatan yang berpusat pada pelaku berbagi banyak konsep dan nilai dengan
perspektif eksistensial yang disajikan dalam Bab 6. Asumsi dasar Rogers adalah bahwa manusia
pada dasarnya dapat dipercaya, bahwa mereka memiliki potensi besar untuk memahami diri
mereka sendiri dan menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa intervensi langsung dari pihak
terapis, dan bahwa mereka mampu untuk tumbuh sendiri jika mereka terlibat dalam jenis
hubungan terapeutik tertentu. Sejak awal, Rogers menekankan sikap dan karakteristik pribadi
terapis dan kualitas hubungan klien-terapis sebagai penentu utama dari hasil proses terapi. Dia
secara konsisten terdegradasi ke masalah posisi sekunder seperti pengetahuan terapis tentang
teori dan teknik. Keyakinan ini pada kapasitas klien untuk penyembuhan diri berbeda dengan
banyak teori yang melihat teknik terapis sebagai agen paling kuat yang mengarah pada
perubahan (Tallman & Bohart, 1999). Jelas, Rogers merevolusi bidang psikoterapi dengan
mengusulkan teori yang berpusat pada klien sebagai agen untuk perubahan diri (Bozarth,
Zimring, & Tausch, 2002).
Terapi yang berpusat pada pelaku kontemporer adalah hasil dari proses evolusi yang terus
tetap terbuka untuk perubahan dan perbaikan (lihat Cain & Seeman, 2002). Rogers tidak
menyajikan teori yang berpusat pada pelaku sebagai pendekatan yang tetap dan lengkap untuk
terapi. Dia berharap orang lain akan memandang teorinya sebagai seperangkat prinsip tentatif
yang berkaitan dengan bagaimana proses terapi berkembang, bukan sebagai dogma. Rogers
berharap modelnya berkembang dan terbuka serta mau menerima perubahan.
Empat Periode Pengembangan Pendekatan
Dalam melacak titik balik utama dalam pendekatan Rogers, Zimring dan Raskin (1992) dan
Bozarth dan kawan-kawan (2002) telah mengidentifikasi empat periode perkembangan. Pada
periode pertama, selama tahun 1940-an, Rogers mengembangkan apa yang dikenal sebagai
konseling tidak langsung, yang memberikan alternatif yang kuat dan revolusioner untuk
pendekatan direktif dan interpretatif terhadap terapi yang kemudian dipraktikkan. Sementara ia
adalah seorang profesor di Ohio State University, Rogers (1942) yang menerbitkan Counseling
and Psychotherapy: Newer Concepts in Practice, yang menggambarkan filosofi dan praktek
konseling tidak langsung. Teori Rogers menekankan penciptaan konselor dari iklim permisif dan
tidak langsung. Dia menimbulkan kehebohan besar ketika dia menantang asumsi dasar bahwa
"konselor yang paling tahu." Rogers juga menentang validitas prosedur terapeutik yang diterima
secara umum seperti nasihat, saran, arahan, persuasi, pengajaran, diagnosis, dan interpretasi.
Berdasarkan keyakinannya bahwa konsep dan prosedur diagnostik yang memadai, merugikan,
dan sering disalahgunakan, Rogers menghilangkan mereka dari pendekatannya. Konselor yang
tidak langsung menghindari berbagi banyak tentang diri mereka dengan klien dan sebaliknya
berfokus pada refleksi dan klarifikasi komunikasi verbal dan nonverbal klien dengan tujuan
membantu klien menjadi sadar dan mendapatkan wawasan tentang perasaan mereka.
Pada periode kedua, selama 1950-an, Rogers (1951) menulis Client -Centered Therapy
dan mengganti namanya menjadi terapi yang berpusat pada klien, untuk mencerminkan
penekanannya pada klien daripada pada metode tidak langsung dan di samping itu, ia memulai
Pusat Konseling di Universitas Chicago. Periode ini ditandai oleh pergeseran dari klarifikasi
perasaan ke fokus pada dunia fenomenologis klien. Rogers berasumsi bahwa sudut pandang
terbaik untuk memahami bagaimana orang berperilaku adalah dari kerangka referensi internal
mereka sendiri. Dia lebih fokus secara eksplisit pada kecenderungan aktualisasi sebagai kekuatan
motivasi dasar yang mengarah pada perubahan klien.
Periode ketiga, yang dimulai pada akhir 1950-an dan diperpanjang hingga 1970-an,
membahas kondisi terapi yang diperlukan dan memadai. Rogers (1957) mengemukakan hipotesis
yang menghasilkan tiga dekade penelitian. Publikasi yang signifikan adalah On Becoming a
Person (Rogers, 1961), yang membahas sifat "menjadi diri yang sesungguhnya". Rogers
menerbitkan karya ini selama ia memegang janji temu bersama di departemen psikologi dan
psikiatri di Universitas Wisconsin. Dalam buku ini ia menggambarkan proses "menjadi
pengalaman seseorang," yang ditandai dengan keterbukaan terhadap pengalaman, kepercayaan
pada pengalaman seseorang, tempat evaluasi internal, dan kemauan untuk berada dalam proses.
Selama 1960-an, Rogers dan rekan-rekannya terus menguji hipotesis yang mendasari pendekatan
yang berpusat pada klien dengan melakukan penelitian yang luas pada kedua proses dan hasil
psikoterapi. Dia tertarik pada bagaimana kemajuan terbaik orang-orang dalam psikoterapi, dan ia
mempelajari kualitas hubungan klien-terapis sebagai katalis yang mengarah ke perubahan
kepribadian. Atas dasar penelitian ini, pendekatan ini lebih disempurnakan dan diperluas
(Rogers, 1961). Sebagai contoh, filosofi berpusat pada klien diterapkan pada pendidikan dan
disebut pengajaran yang berpusat pada siswa (Rogers & Freiberg, 1994). Pendekatan ini juga
diterapkan pada pertemuan kelompok (Rogers, 1970).
Fase keempat, selama 1980-an dan 1990-an, ditandai dengan ekspansi besar-besaran ke
pendidikan, industri, kelompok, resolusi konflik, dan pencarian perdamaian dunia. Karena
lingkup pengaruh Rogers yang semakin luas, termasuk minatnya pada bagaimana orang-orang
memperoleh, memiliki, berbagi, atau menyerahkan kekuasaan dan mengendalikan orang lain dan
diri mereka sendiri, teorinya dikenal sebagai pendekatan yang berpusat pada orang. Pergeseran
dalam hal ini mencerminkan penerapan pendekatan yang semakin luas. Meskipun pendekatan
yang berpusat pada pelaku telah diterapkan terutama untuk konseling individu dan kelompok,
bidang-bidang penting dari penerapan lebih lanjut termasuk pendidikan, kehidupan keluarga,
kepemimpinan dan administrasi, pengembangan organisasi, perawatan kesehatan, kegiatan lintas
budaya dan antar-ras, dan hubungan internasional. Pada 1980-an Rogers mengarahkan upayanya
untuk menerapkan pendekatan yang berpusat pada pelaku pada politik, terutama untuk
pencapaian perdamaian dunia.
Dalam tinjauan komprehensif penelitian tentang terapi berpusat pada pelaku selama 60
tahun, Bozarth dan kawan-kawan (2002) menyimpulkan sebagai berikut:
Pada tahun-tahun awal pendekatan, klien yang bertanggungjawab dan bukan terapis.
Gaya terapi tidak langsung ini dikaitkan dengan peningkatan pemahaman, eksplorasi diri
yang lebih besar, dan peningkatan konsep diri.
Belakangan, pergeseran dari klarifikasi perasaan ke fokus pada kerangka referensi klien
dikembangkan. Banyak hipotesis Rogers dikonfirmasi, dan ada bukti kuat untuk nilai
hubungan terapeutik dan sumber daya klien sebagai inti dari terapi yang sukses.
Seiring berkembangnya terapi berbasis individu, penelitian yang dipusatkan pada
kondisi-kondisi utama kemudian dianggap sebagai penlitian yang perlu dilakukan demi
keberhasilan terapi. Sikap terapis-empatik terhadap pandangan dunia klien dan mampu
mampu memposisikan dirinya tidak menghakimi klien-adalah faktor dasar yang
mempengaruhi keberhasilan terapi.
Eksistensialisme dan Humanisme
Pada tahun 1960-an dan 1970-an, muncul tren model baru yang dianggap sebagai “poros
ketiga” dalam terapi yang berperan sebagai alternatif dari pendekatan psikoanalitis dan
pendekatan perilaku. Poros ketiga inilah yang memayungi terapi eksistensial (Bab 6), terapi
pendekatan personal, dan terapi Gestalt (Bab 8), dimana semua model pendekatan terapi ini
berpusat pada terjalinnya hubungan terapi.
Karena hubungan historis ini dan karena para pemikir pendekatan eksistensial dan
humanistik sering saling bertentangan, hubungan yang ada antara istilah eksistensialisme dan
humanisme cenderung membingungkan bagi pelajar dan teoritis. Kedua pandangan ini memiliki
kesamaan, namun juga terdapat perbedaan signifikan dari segi filosofis di antara keduanya.
Kedua pendekatan ini sama-sama menghargai pandangan subyektif klien, keunikan individu dan
individualitas dalam diri tiap klien, serta meyakini kemampuan klien untuk membuat keputusan
yang positif secara sadar untuk diri mereka sendiri. Kedua pendekatan ini juga sama-sama
menekankan konsep-konsep seperti kebebasan, pilihan, nilai, tanggung jawab pribadi, otonomi,
tujuan, dan makna. Keduanya tidak terlalu mementingkan penggunaan teknik-teknik tertentu
dalam proses terapi, dan lebih mengutamakan pentingnya menjalin hubungan autentik. Kedua
pendekatan ini berbeda dalam hal dimana pandangan eksistensialis melihat bahwa diri kita
sebagai manusia dihadapkan oleh kecemasan untuk memutuskan identitas diri kita di dunia yang
tidak memiliki makna intrinsik ini. Sedangkan pandangan humanis mengatakan bahwa dalam
diri kita, kita memiliki potensi alami yang bisa kita aktualisasikan dan dari situ kita dapat
menemukan arti hidup kita. Sejumlah terapis eksistensial kontemporer menyebut diri mereka
sebagai praktisi eksistensial-humanistik, mengindikasikan bahwa akar filosofi mereka berasal
dari filsafat eksistensial namun mereka juga menerapkan sejumlah aspek konsep-konsep
psikoterapi humanistik Amerika Utara ke dalam pendekatan mereka sendiri (Cain, 2002a).
Pandangan dasar psikologi humanistik dapat digambarkan dengan menggunakan
metafora dimana sebuah biji pohon ek, jika ditempatkan dalam kondisi yang sesuai, akan “secara
otomatis” tumbuh dan secara alami akan mencapai aktualisasi dirinya menjadi sebuah pohon ek.
Sedangkan menurut pandangan eksistensialis, tidak ada aktualisasi internal dalam diri kita, tidak
ada “alam internal” yang bisa kita andalakan. Setiap saat, kita dihadapkan oleh pilihan yang kita
buat sendiri untuk menyikapi situasi yang kita hadapi. Filsafat humanistik yang menjadi landasan
terapi pendekatan personal diwujudkan melalui sikap dan perilaku yang menciptakan suatu iklim
situasi yang membantu kita bertumbuh, Menurut Rigers (1986b), jika filosofi ini kita terapkan,
kita akan semakin mengembangkan kapasitas diri kita serta akan mendorong perubahan
konstruktif dalam diri orang lain. Tiap-tiap orang akan semakin terdorong, dan mereka dapat
menggunakan dorongan ini untuk melakukan transformasi personal dan sosial diri mereka.
Seperti yang akan kita lihat dalam pembahasan bab ini, pendekatan eksistensial dan
pendekatan personal memiliki konsep paralel satu sama lain terkait penempatan hubungan klien-
terapis sebagai inti proses terapi itu sendiri. Penekanan fenomenalogis yang merupakan dasar
pendekatan eksistensialis juga merupakan aspek utama dalam teori terapi pendekatan personal.
Kedua pendekatan ini berfokus pada persepsi klien dan mengajak terapis untuk memasuki dunia
subyektif klien, dan kedua pendekatan ini juga menekankan kapasitas klien untuk meningkatkan
kesadaran diri mereka dan memulihkan diri mereka sendiri.
Konsep-Konsep Utama
Pandangan terkait Sifat Manusia
Tema inti yang ada dalam tulisan-tulisan Rogers adalah terkait adanya rasa
percaya pada kemampuan klien untuk berkembang jika ia berada dalam kondisi tepat yang dapat
menumbuhkan dirinya. Pengalaman profesional Rogers mengajarkannya bahwa jika terapis
masuk ke dalam inti seseorang, ia akan menemukan pusat kebaikan dan kepercayaan dalam diri
seseorang tersebut (Rogers, 1987a). Rogers meyakini bahwa manusia sebenarnya memiliki sifat-
sifat seperti dapat dipercaya, berkemampuan, dapat mengubah dirinya menjadi lebih baik, serta
mampu untuk hidup secara efektif dan produktif. Ketika terapis dapat mengalami dan
mengkomunikasikan ketulusan, dukungan, kepedulian, dan pengertian dalam diri mereka kepada
klien, klien akan semakin dapat mengalami perubahan yang signifikan.
Rogers sangat tidak menyetujui pendekatan yang berlandaskan pada asumsi bahwa klien
sebagai individu tidak dapat dipercaya dan harus diarahkan, didorong, diperintahkan, dan diatur
oleh terapis yang lebih “ahli”. Ia mengatakan bahwa ada tiga sifat terapis yang dapat
menciptakan iklim yang mendukung pertumbuhan dimana klien dapat mengalami kemajian dan
menjadi idaman diri mereka: (1) kongruensi (ketulusan, atau autentisitas), (2) rasa menghargai
yang tulus (menerima dan memperdulikan), dan (3) pengertian empatik yang tulus (kemampuan
untuk memahami secara mendalam pandangan subyektif orang lain). Menurut Rogers, jika
terapis mengkomunikasikan sikap-sikap ini, klien-klien yang mereka tangani akan lebih
membuka diri dan dunia mereka, dan perilaku mereka akan lebih membangun dan produktif.
Rogers merasa bahwa “manusia pada dasarnya adalah organisme yang bergerak menuju
kemajuan yang terdorong untuk memenuhi sifat alamiah mereka dan untuk mengejar kebenaran
serta kesadaran sosial” (Thorne, 1992, hal. 21). Adanya dorongan dasar untuk memenuhi tujuan
yang ada dalam diri tiap orang berarti bahwa orang-orang akan bergerak menuju kebaikan jika
jalan menuju kebaikan tersebut terbuka untuk mereka.
Broadley (1999) membahas kecendrungan untuk mengaktualisasikan diri, proses
menggerakkan diri menuju realisasi, aktualisasi, otonomi, keyakinan diri, dan kesempurnaan.
Dorongan untuk maju yang ada dalam diri kita ini menjadi sumber internal penyembuhan diri
kita, dorongan ini tidak bertujuan untuk menjauhkan diri kita untuk menjalin hubungan,
interdependensi, koneksi, maupun sosialisasi. Pandangan sifat manusia yang postif ini memiliki
implikasi signifikan terhadap praktik terapi. Karena seseorang diyakini memiliki kapasitas
inheren dalam dirinya untuk menjauhi keburukan dan bergerak menuju kesehatan psikologis,
maka terapis menempatkan klien sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas dirinya
sendiri. Terapi pendekatan personal menolak peran terapis sebagai otoritas yang paling tahu apa
yang terbaik untuk klien. Pendekatan ini juga menolak pandangan bahwa klien memiliki peran
pasif yang hanya menerima perkataan dan perintah terapis. Terapi didasarkan atas kapasitas klien
untuk meningkatkan kesadarannya dan untuk mengubah sikap dan perilakunya sendiri.
Terapi pendekatan personal berfokus pada sisi konstruktif sifat manusia, pada hal-hal
yang baik dan benar dalam diri seseorang, dan pada kemampuan diri seseorang tersebut. Yang
ditekankan dalam pendekatan ini adalah bagaimana cara agar klien menyikapi dunianya dan
dunia orang lain dengan baik, bagaimana agar mereka dapat bergerak maju menuju kebaikan,
dan bagaimana mereka mampu melewati halangan-halangan dalam hidup mereka (baik halangan
dari diri mereka sendiri dan dari luar diri mereka) yang menghalangi pertumbuhan diri mereka.
Praktisi yang menerapkan orientasi humanistik mendorong klien mereka untuk mewujudkan
perubahan yang dapat membuat hidup mereka menjadi utuh dan autentik, dimana mereka
menyadari bahwa mereka harus terus berusaha untuk mencapai kehidupan yang utuh ini. Kita
tidak akan pernah sampai di tahap akhir aktualisasi diri kita; tetapi, kita terus-menerus berproses
mengaktualisasikan diri kita.
Tujuan Terapi
Tujuan Terapi
Terapi personal memiliki tujuan yang berbeda dengan tujuan terapi pendekatan lain.
Pendekatan personal ini ditujukan untuk membuat klien memperoleh integrasi dan tingkat
kemandirian yang lebih tinggi dalam dirinya. Fokus pendekatan ini adalah pada klien sebagai
pribadi itu sendiri, bukan pada klien sebagai orang yang mempunyai masalah. Rogers (1977)
mengatakan bahwa tujuan terapi bukan untuk menyelesaikan masalah. Namun, tujuan terapi
adalah untuk membantu klien dalam proses pertumbuhannya sehingga klien dapat menghadapi
masalah hidupnya dengan lebih baik lagi, baik di masa sekarang maupun di masa depan.
Rogers (1961) menuliskan bahwa tiap klien yang melakukan psikoterapi sering bertanya:
“Bagaimana cara saya menemukan diri saya yang sesungguhnya? Bagaimana saya dapat menjadi
diri idaman saya?” Tujuan utama terapi adalah untuk menciptakan iklim kondusif pada klien
untuk membantu klien menjadi individu yang lebih utuh. Sebelum klien bisa untuk bergerak
menuju tujuannya, pertama-tama mereka harus melepas topeng yang mereka kenakan, yang
selama ini mereka kenakan dalam proses sosialisasi. Klien kemudian menyadari bahwa selama
ini mereka tersesat dari diri mereka sendiri melalui topeng yang mereka gunakan. Dalam iklim
kondusif yang tercipta melalui proses terapi, klien kemudian akan menyadari adanya
kemungkinan-kemungkinan lain.
Ketika topeng dalam diri kita dilepaskan selama proses terapi, diri kita yang bagaimana
yang muncul di belakang kepura-puraan kita selama ini? Rogers (1961) menggambarkan bahwa
mereka yang bisa mengaktualisasikan diri mereka memiliki (1) keterbukaan pada pengalaman,
(2) kepercayaan pada diri mereka sendiri, (3) sumber evaluasi internal dalam diri, dan (4)
keinginan untuk terus bertumbuh. Tujuan terapi personal adalah untuk mendorong karakteristik-
karakteristik ini dalam diri klien.
Keempat karakteristik ini menjadi kerangka dasar untuk memahami dinamika proses
terapi. Terapis tidak menentukan tujuan-tujuan tertentu untuk klien. Inti teori pendekatan
personal adalah pandangan bahwa klien yang menjalin hubungan dengan terapis memiliki
kapasitas untuk mendefinisikan dan menjelaskan tujuan yang ada dalam diri mereka sendiri.
Terapis yang menggunakan pendekatan personal ini sepakat untuk tidak menentukan tujuan
terkait hal apa yang klien tersebut harus ubah, namun mereka memiliki perbedaan pendapat
terkait bagaimana cara paling tepat membantu klien mencapai tujuan dalam diri mereka sendiri
(Bohart, 2003).
Fungsi dan Peran Terapis
Peran terapis dalam terapi pendekatan personal dilandaskan dari sikap mereka, bukan dari
teknik yang didesain untuk memberikan instruksi pada kliem “melakukan sesuatu tindakan
tertentu.” Penelitan yang dilakukan untuk terapi pendekatan personal mengindikasikan bahwa
sikap terapis terhadap klien lah yang menciptakan perubahan kepribadian dalam diri klien, bukan
pengetahuan, teori, maupun teknik yang digunakan oleh terapis tersebut (Rogers, 1961). Pada
dasarnya, terapis menggunakan diri mereka sebagai sebuah instrumen perubahan. ketika mereka
menemukan klien dalam tingkat pribadi ke pribadi, “peran” mereka adalah menjadi tanpa peran.
Mereka tidak kehilangan peran profesional. Sikap dan keyakinan terapis lah dalam sumber dair
dalam diri klien yang menciptakan cuaca terapi untuk pertumbuhan (Bozarth et al. 2002).
Thorne (2002a) menekankan kembali pentingnya terapis untuk menemukan klien dalam
cara pribadi ke pribadi, sebagai lawan dari terlalu bergantung pada kontrak profesional. Dia
memperingatkan tentang mudnur kedalam sebuah kedudukan pseudo-profesionalismedicirkan
dengan menyediakan sebuah kontrak yang jelas kepada klien, penelitian kaku dari penghalang,
dan komintemen pada metode yang tervalidasi. Dia menyarankan bahwa penekanan berlebih
pada profesionalisme ini bertujuan untuk melindungi terapis dari keterlebitan berlebihan dengan
klien, yang sering menghasilan keterlibatan yang mengekang dengan mereka. Thorne
menyatakan tidak ada pengontrakan yang dapat mengganti kurangnya wawasan terapis dan
tidak ada pembicaraan yang baik mengenai metode dan tujuan yang dapat menyembunyikan
ketidakmampuan terapis untuk bertemu dengan klien secara pribadi” (p.22).
Teori pribadi-pusat meyakini bahwa fungsi terapis adalah untuk hadir dan dapat dicapai
oleh klien dan untuk fokus pada pengalaman mereka. pertama dan yang utama, terapis harus
ingin untuk menjadi nyata dalam hubungan dnegan klien. Dengan cara menjadi sejalan,
menerima, dan empati, terapis adalah katalis bagi perubahan. Bukannya memandang klien dalam
kategori diagnosa yang telah dipertimbangkan sebelumnya, terapis menemui mereka dalam
sebuah dasar pengalaman momen-ke momen dan memasuki dunia mereka. melalui sikap dari
terapis yang peduli dengan tulus, menghargai, menerima, mendukung dan memahami, klien
dapat melemahkan pertahanan mereka serta persepsi kaku mereka serta bergerak menuju fungsi
pribadi yang lebih tinggi. Ketiga sikap dari terapis ini hadir, klien kemudian memiliki
kemerdekaan yang sesuai untuk mengeksplor are kehidupan mereka yang mungkin diabaikan
pada kesadaran ataupun dibelokkan.
Broadley (1997) menyatakan bahwa terapis tidak bertujuan untuk mengatur,
melaksanakan, mengatur atau mengontrol klien mereka: dalam istilah yang lebih spesifik,
terapi klien-pusat tidak bertujuan untuk mendiagnosa, membuat rencana perlakuan, membuat
strategi, menggunakan teknik perlakuan, atau bertanggung jawab terhadap kien” (p.25). terapis
pribadi-pusat juga menghindari untuk menanyakan pertanyaan yang mengarahkan atau
menyelidik, mereka tidak membuat interpretasi dari perilaku klien, mereka tidak mengevaluasi
ide dan rencana klien, dan merea tidak membuat keputusan bagi klien tentang frequensi atau
lamanya proses terapi (Broadley, 1997).
Pengalaman Klien dalam Terapi
Perubahan terapi bergantung pada persepsi klien baik itu dari pengalaman pribadi mereka sendiri
atau sikap dasar konselor. Jika konselor menciptakan sebuah suasana yang kondusif untuk
eksplorasi diri, klien memiliki kesempatan untuk mengeksplor luasnya pengalaman mereka,
termasuk perasaan, keyakinan, perilaku, dan pandangan dunia. Selanjutnya adalah sebuah sketsa
umum dari pengalaman klien dalam terapi.
Klien datang ke konselor dalam kondisi tidak kongruen: yaitu, ketidaksesuaian antara
persepsi diri dengan pengalaman mereka dalam realita. Sebagai contoh, Leon, adalah seorang
mahasiswa, mungkin melihat dirinya sebagai ahli fisika masa depan, namun nilainya yang
dibawah standar dapat mengeluarkannya dari sekolah kedokteran. Ketidaksesuaian antara
bagaimana Leon melihat dirinya (konsep diri) atau bagaimana dia ingin melihat dirinya (konsep
diri ideal) dan realita kemampuan akademiknya yang kurang mungkin menghasilkan
kebingungan dan kerapuhan pribadi, yang dapat memberikan sebuah motivasi yang sesuai untuk
memasuki terapi. Leon pasti mempersepsikan bahwa sebuah masalah muncul atau, setidaknya,
dia tidak cukup nyaman dengan perkembangan psikologinya saat ini untuk ingin mengekplorasi
kemungkinan perubahan.
Satu alasan mengapa klien mencari terapi adalah perasaan keputusasaan, tanpa daya, dan
ketidakmampuan untuk membuat keputusan atau secara efektif mengarahkan hidupnya sendiri.
Mereka mungkin berharap untuk menemukan “cara” melalui petunjuk dari terapis. Di dalam
kerangka pribadi-pusat, klien segera belajar bahwa mereka dapat bertanggungjawab untuk diri
mereka sendiri dalam hubungan dan bahwa mereka dapat belajar untuk menjadi bebas dengan
menggunakan hubungan untuk mencapai pemahaman diri yang lebih besar.
Ketika konseling berproses, klien mampu mengeksplor sebuah keyakinan dan perasaan
yang lebih luas (Rogers, 1987c). Mereka bisa mengekspresikan ketakutan, kebingungan, rasa
bersalah, rasa malu, kebencian, kemarahan, dan emosi lainnya yang terlalu dianggap negatif
untuk menerima dan bekerja sama dengan struktur-diri mereka. dengan terapi, orang-orang
sedikit mengubah dan berpindah penerimaan yang lebih besar dan integrasi perasaan berkonflik
dan membingungkan. Mereka secara meningkat menemukan aspek-aspek di dalam diri mereka
yang telah disembunyikan. Ketika klien mreka dipahami dan diterima, mereka menjadi tidak
terlalu tertutup dan menjadi lebih terbuka akan pengalaman mereka. karena mereka merasa lebih
aman dan kurang merasa terancam, mereka menjadi lebih realistis, mempersepsikan orang lain
dengan akurasi yang lebih baik, dan menjadi lebih baik untuk memahami dan menerima orang
lain. Individu dalam terapi mengapresiasi diri mereka lebih, dan perilaku mereka menunjukkan
fleksibilitas dan kreativitas yang lebih. Mereka kurang khawatir untuk memenuhi ekspektasi
orang lain, dan sehingga mulai untuk berlaku dengan cara yang lebih baik untuk diri mereka
sendiri. Individu ini mengarahkan hidup mereka sendiri dan bukannya mencari jawaban dari luar
diri mereka. Mereka bergerak ke arah menjadi lebih terhubung dengan apa yang mereka alami
saat ini, tidak begitu terikat dengan masa lalu, lebih bebas untuk membuat keputusan, dan
semakin percara pada diri sendiri untuk mengatur hidupnya. Secara singkat, pengalaman mereka
dalam terapi adalah seperti melemparkan belenggu pengekangan diri yang telah menahan mereka
di dalam penjara psikologi. Dengan kebebasan yang bertambah, mereka cenderung menjadi lebih
dewasa secara psikologi dan lebih aktual.
Menurut Tallman dan Bohart (1999), filosofi pribadi-pusat berdasar pada asumsi bahwa
klienlah yang mengobati diri mereka sendiri, yang menciptakan pertumbuhan diri mereka
sendiri, dan yang menjadi agen utama perubahan. Hubungan terapi menyediakan sebuah struktur
yang mendukung di dalam, dimana kapasitas penyembuhan diri klien diaktifkan. Tallman dan
Bohart menyatakan Klien adalah “pesulap” dengan kekuatan untuk menyembuhkan. Terapis
mengatur panggung dan melayani sebagai asisten yang menyediakan kondisi diaman sulap ini
dapat dilaksanakan” (p. 95)
Hubungan antara Terapis dan Klien
Rigers (1957) berdasarkan hipotesisnya pada Kondisi yang cocok dan sesuai untuk perubahan
kepribadian terapi dalam kualitas hubungan: Jika saya bisa menyediakan sebuah jenis
hubungan tertentu, orang lain akan menemukan di dalam dirinya kapasitas untuk menggunakan
hubungan tersebut untuk pertumbuhan dan perubahan, dan perkembangan pribadi akan muncul”
(Roger, 1961, p.33). Rogers (1967) melakukan hipotesis lebih lanjut perubahan kepribadian
positif yang signifikan tidak muncul kecuali di dalam hubungan” (p. 73). Hipotesis Roger
dirumuskan pada tahun-tahun dalam pengalaman profesionalnya, dan tidak berubah hingga saat
ini. Hipotesis ini (dikutip dalam Chain 2002a, p.20) dinyatakan:
1. Dua pribadi berada dalam kontak psikologi.
2. Yang pertama, yang kita istilahkan sebagai klien, dalam kondisi tidak kongruen, rentan,
atau bingung.
3. Orang yang kedua, yang kita istilahkan sebagai terapis, dalam kondisi kongruen (nyata
atau jujur) dalam hubungan.
4. Terapis mengalami pandangan positif tanpa syarat kepada klien.
5. Terapis mengalami sebuah pemahaman empati atas referensi kerangka interpersonal klien
dan berusaha untuk mengomunikasikan pengalaman ini dengan klien.
6. Komunikasi kepada klien akan pemahaman empati dan pandangan positif tanpa syarat
dari terapis dicapai pada tingkatan minimum.
Roger membuat hipotesis bahwa tidak ada kondisi lain yang sesuai. Jika kondisi inti dari terapi
muncul dalam jangka waktu tertentu, perubahan kepribadian konstruktif muncul. Kondisi inti
tidak beragam berdasarkan tipe klien. Selanjutnya, keduanya sama penting dan cocok untuk
munculnya perubahan terapi.
Dari perspektif Rogers, hubungan klien-terapis dicirikan dengan kesamaan. Terapis tidak
merahasiakan pengetahuannya atau bertujuan untuk membingungkan proses terapi. Proses
perubahan pada klien bergantung pada besarnya tingkat kualitas dari hubungan yang setara ini.
Ketika klien mengalami bahwa terapi mendengarkan dengan cara terbuka kepada mereka,
mereka secara bertahap belajar bagaimana mendengarkan dengan menerima kepada dirinya
sendiri. Ketika mereka menemukan terapis peduli dan menghargai mereka ( bahkan dalam aspek
yang telah disembunyikan dan dianggap negatif), klien mulai melihat penghargaan dan nilai di
dalam diri mereka sendiri. Ketika mereka mengalami kejujuran dari terapis, klien menjatuhkan
banyak kepura-puraan dan menjadi jujur pada diri sendiri dan terapis.
Pendekatan ini mungkin dicirikan sebagai sebuah cara hidup dan sebagai sebuah
perjalanan bersama dimana terapis dan klien menemukan kemanusiaan mereka dan terlibat
dalam pengalaman bertumbuh. Terapis dapat menjadi pembimbing dalam perjalan ini karena dia
biasanya lebih berpengalaman dan secara psikologis lebih dewasa daripada klien. Hal ini berarti
bahwa terapis berinvestasi dalam meluaskan pengalaman hidup mereka dan ingin untuk
melakukan apa yang dibutuhkan untuk memperdalam pengetahuan diri mereka. Thorne (2002b)
menyampaikan pesan ini: Terapis tidak dapat dengan percaya diri mengajak klien mereka
untuk berjalan lebih jauh dari pada yang pernah dilaluinya sendiri, tetapi bagi terapis pribadi-
pusat, kualitas, kedalam dan keberlanjutan pengalaman mereka sendiri menjadi batu pertama dari
kompetensi yang mereka bahwa kedalam aktivitas profesional mereka” (p.144).
Rogers mengakui bahwa teorinya membentur dan radikal. Rumusnya melahirkan
kontroversi besar, karena dia mempertahankan bahwa banyak kondisi dimana terapis lain
umumnya menganggap penting untuk psikoterapi efektif itu tidak esensial. Kondisi inti terapis
kongruensi, hal positif tanpa syarat, dan pemahaman empatik yang akurat telah kemudian dianut
oleh banyak sekolah terapeutik sebagai hal penting dalam memfasilitasi perubahan terapeutik.
Kualitas inti terapis ini, bersama dengan kehadiran terapis, bekerja secara holistik untuk
menciptakan lingkungan yang aman agar pembelajaran dapat terjadi (Cain, 2008). Kita sekarang
beralih ke diskusi rinci tentang bagaimana kondisi inti ini merupakan bagian integral dari
hubungan terapeutik.
KESESUAIAN ATAU KEASLIAN. Kesesuaian menyiratkan bahwa terapis itu nyata; yaitu,
mereka asli, terintegrasi, dan otentik selama jam terapi. Mereka tidak berkedok palsu,
pengalaman batin mereka dan ekspresi luar dari pengalaman itu cocok, dan mereka dapat secara
terbuka mengekspresikan perasaan, pikiran, reaksi, dan sikap yang hadir dalam hubungannya
dengan klien. Kualitas kehadiran nyata adalah jantung dari terapi yang efektif, yang ditangkap
oleh Mearns dan Cooper (2005) sebagai berikut: "Ketika dua orang berkumpul bersama dengan
cara yang sepenuhnya tulus, terbuka dan penuh perhatian, kita dapat mengatakan bahwa mereka
berdua sepenuhnya hadir" (hlm. 37).
Melalui keaslian, terapis berfungsi sebagai model manusia yang berjuang menuju
kenyataan yang lebih besar. Menjadi kongruen mungkin memerlukan ekspresi kemarahan,
frustrasi, kesukaan, ketertarikan, kepedulian, kebosanan, kekesalan, dan serangkaian perasaan
lain dalam hubungan itu. Ini tidak berarti bahwa terapis harus secara impulsif membagikan
semua reaksi mereka, karena pengungkapan diri juga harus sesuai dan tepat waktu. Jebakannya
adalah bahwa konselor dapat berusaha terlalu keras untuk menjadi asli. Berbagi karena orang
berpikir itu akan baik untuk klien, tanpa benar-benar tergerak untuk mengungkapkan sesuatu
yang dianggap pribadi, dapat tidak sesuai. Terapi yang berpusat pada pelaku menekankan bahwa
konseling akan terhambat jika konselor merasakan satu cara tentang klien tetapi bertindak
dengan cara yang berbeda. Oleh karena itu, jika praktisi tidak suka atau tidak menyetujui klien
tetapi berpura-pura menerima, terapi tidak akan berhasil.
Konsep kesesuaian Rogers tidak menyiratkan bahwa hanya terapis yang sepenuhnya
teraktualisasi-diri yang dapat efektif dalam konseling. Karena terapis adalah manusia, mereka
tidak dapat diharapkan sepenuhnya otentik. Jika terapis kongruen dalam hubungan mereka
dengan klien, kepercayaan akan dihasilkan dan proses terapi akan berlangsung. Kesesuaian ada
pada sebuah kontinum daripada pada dasar semua-atau-tidak sama sekali, seperti halnya ketiga
karakteristik tersebut.
HAL POSITIF TANPA SYARAT DAN PENERIMAAN. Sikap terapis kedua yang perlu
dikomunikasikan adalah kepedulian yang mendalam dan tulus untuk klien sebagai pribadi, atau
suatu kondisi dengan sikap positif tanpa syarat. Peduli itu tidak bersifat posesif dan tidak
terkontaminasi oleh evaluasi atau penilaian perasaan, pikiran, dan perilaku klien sebagai baik
atau buruk. Jika perhatian terapis berasal dari kebutuhan mereka sendiri untuk disukai dan
dihargai, perubahan konstruktif pada klien terhambat. Terapis menghargai dan dengan hangat
menerima klien tanpa menempatkan ketentuan pada penerimaan mereka. Itu bukan sikap "Aku
akan menerimamu jika…”; melainkan, seharusnya itu adalah “Aku akan menerima kamu apa
adanya.” Terapis berkomunikasi melalui perilaku mereka bahwa mereka menghargai klien
mereka sebagaimana adanya dan bahwa klien bebas untuk memiliki perasaan dan pengalaman
tanpa risiko kehilangan penerimaan terapis mereka. Penerimaan adalah pengakuan hak klien
untuk memiliki keyakinan dan perasaan mereka sendiri; ini bukan persetujuan dari semua
perilaku. Semua perilaku terbuka tidak perlu disetujui atau diterima.
Menurut penelitian Rogers (1977), semakin besar tingkat kepedulian, penghargaan,
penerimaan, dan penilaian klien dengan cara yang tidak bersifat posesif, semakin besar peluang
terapi akan berhasil. Dia juga menjelaskan bahwa tidak mungkin bagi terapis untuk benar-benar
merasakan penerimaan dan perawatan tanpa syarat setiap saat. Namun, jika terapis kurang
menghormati klien mereka, atau tidak suka atau jijik, tidak mungkin bahwa pekerjaan terapeutik
akan membuahkan hasil.
MEMAHAMI EMPATI YANG TEPAT. Salah satu tugas utama terapis adalah memahami
pengalaman dan perasaan klien secara sensitif dan akurat saat terungkap dalam interaksi momen-
ke-momen selama sesi terapi. Terapis berusaha untuk merasakan pengalaman subyektif klien,
terutama di sini dan sekarang. Tujuannya adalah untuk mendorong klien untuk lebih dekat
dengan diri mereka sendiri, untuk merasa lebih dalam dan intens, dan untuk mengenali dan
menyelesaikan ketidaksesuaian yang ada dalam diri mereka.
Empati adalah pemahaman yang mendalam dan subyektif dari klien dengan klien.
Empati bukan simpati, atau merasa kasihan pada klien. Terapis dapat membagikan dunia
subjektif klien dengan menyesuaikan perasaan mereka sendiri yang seperti perasaan klien.
Namun terapis tidak harus kehilangan keterpisahan mereka sendiri. Rogers menegaskan bahwa
ketika terapis dapat memahami dunia pribadi klien seperti yang dilihat dan dirasakan klien
tanpa kehilangan keterpisahan dari perubahan identitas-konstruktif mereka sendiri, hal itu
mungkin terjadi. Empati membantu klien (1) memperhatikan dan menilai pengalaman mereka;
(2) melihat pengalaman sebelumnya dengan cara baru; (3) mengubah persepsi mereka tentang
diri mereka sendiri, orang lain, dan dunia; dan (4) meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam
membuat pilihan dan dalam mengejar tindakan.
Pemahaman empatik yang akurat menyiratkan bahwa terapis akan merasakan perasaan
klien seolah-olah itu miliknya sendiri tanpa menjadi hilang kendali dalam perasaan itu. Penting
untuk dipahami bahwa empati yang akurat lebih dari sekadar mengenali perasaan yang jelas
sampai pada perasaan klien yang kurang berpengalaman. Bagian dari pemahaman empatik
adalah kemampuan terapis untuk mencerminkan pengalaman klien. Empati ini menghasilkan
pemahaman diri klien dan klarifikasi keyakinan dan pandangan dunia mereka.
Empati yang akurat adalah landasan dari pendekatan yang berpusat pada pelaku (Bohart
& Greenberg, 1997). Ini adalah cara bagi terapis untuk mendengar makna yang diungkapkan
oleh klien mereka yang sering berada di ujung kesadaran mereka. Empati yang mendalam
melibatkan lebih dari sekadar pemahaman intelektual tentang apa yang dikatakan klien. Menurut
Watson (2002), empati penuh mensyaratkan pemahaman makna dan perasaan yang dialami
klien. Empati adalah unsur aktif dari perubahan yang memfasilitasi proses kognitif klien dan
pengaturan diri emosional. Watson menyatakan bahwa 60 tahun penelitian telah secara konsisten
menunjukkan bahwa empati adalah penentu paling kuat dari kemajuan klien dalam terapi. Dia
memberikan tantangan kepada konselor dengan cara ini: “Terapis harus mampu menyesuaikan
diri dengan klien mereka dan untuk memahami mereka secara emosional serta kognitif. Ketika
empati beroperasi pada ketiga tingkatan antarpribadi, kognitif, dan afektif itu adalah salah
satu alat terapis yang paling kuat yang tersedia untuk mereka (hal. 463464).
Aplikasi: Teknik dan Prosedur Terapi
Penekanan Dini pada Refleksi Perasaan
Penekanan orisinil Rogers adalah pada memahami dunia klien dan mencerminkan pemahaman
ini. Namun, ketika pandangannya tentang psikoterapi berkembang, fokusnya bergeser dari sikap
tidak langsung dan menekankan hubungan terapis dengan klien. Banyak pengikut Rogers hanya
meniru gaya reflektifnya, dan terapi yang berpusat pada klien sering diidentifikasi terutama
dengan teknik refleksi meskipun Rogers berpendapat bahwa sikap relasional terapis dan cara-
cara mendasar untuk bersama klien merupakan jantung dari proses perubahan. Rogers dan
kontributor lain untuk pengembangan pendekatan yang berpusat pada pelaku telah kritis terhadap
pandangan stereotip bahwa pendekatan ini pada dasarnya adalah pernyataan ulang sederhana dari
apa yang klien katakan.
Evolusi Metode Berpusat pada Orang
Terapi yang berpusat pada pelaku kontemporer dianggap yang terbaik sebagai hasil dari proses
evolusi lebih dari 65 tahun yang terus terbuka untuk perubahan dan perbaikan. Salah satu
kontribusi utama Rogers ke bidang konseling adalah gagasan bahwa kualitas hubungan
terapeutik, yang bertentangan dengan teknik penyelenggaraannya, adalah agen utama
pertumbuhan dalam klien. Kemampuan terapis untuk membangun hubungan yang kuat dengan
klien adalah faktor penting yang menentukan hasil konseling yang sukses.
Menurut Natalie Rogers, istilah "teknik," "strategi," dan "prosedur" jarang digunakan
dalam pendekatan yang berpusat pada pelaku (N. Rogers, Komunikasi pribadi, 9 Februari 2006).
Dia menjauhkan siswa dari kata-kata seperti "intervensi" dan "pengobatan," dan sebagai gantinya
menggunakan frasa seperti "filosofi berpusat pada pelaku" atau "nilai-nilai yang berpusat pada
pelaku." Tidak ada teknik atau strategi yang dasar untuk praktik terapi yang berpusat pada
pelaku; sebaliknya, praktik yang efektif didasarkan pada mengalami dan mengomunikasikan
sikap (Thorne, 2002b). Menurut Bohart (2003), proses "bersama" klien dan memasuki dunia
persepsi dan perasaan mereka cukup untuk membawa perubahan. Penting bagi terapis untuk
bereaksi secara spontan terapeutik atas apa yang terjadi antara mereka dan klien mereka. Bohart
mencatat bahwa ahli terapi yang berpusat pada pelaku tidak dilarang menyarankan teknik, tetapi
bagaimana saran ini disajikan sangat penting.
Filosofi berpusat pada orang didasarkan pada asumsi bahwa klien memiliki sumber daya
untuk gerakan positif tanpa konselor yang berperan aktif dan terarah. Apa yang penting untuk
kemajuan klien adalah kehadiran terapis, yang mengacu pada terapis yang benar-benar terlibat
dan terserap dalam hubungan dengan klien. Terapis secara empati tertarik pada klien dan
kongruen dalam hubungannya dengan klien. Selain itu, terapis bersedia untuk sangat berfokus
pada klien untuk memahami dunia batin individu (Broadley, 2000). Kehadiran ini jauh lebih kuat
daripada teknik apa pun yang digunakan terapis untuk membawa perubahan. Kualitas dan
keterampilan seperti mendengarkan, menerima, menghormati, memahami, dan merespons harus
merupakan ekspresi jujur oleh terapis. Seperti dibahas dalam Bab 2, konselor perlu berevolusi
sebagai pribadi, bukan hanya memperoleh daftar strategi terapi.
Salah satu perkembangan yang terjadi dalam terapi pendekatan personal adalah dalam
aspek keberagaman, inovasi, dan individualisasi yang ada dalam praktik proses terapi ini (Cain,
2002a). Seiring majunya pendekatan ini, terapis semakin bebas untuk mengekspresikan
reaksinya pada klien, untuk menangani klien dengan kepedulian, dan untuk terlibat lebih aktif
dalam proses terapi yang berlangsung (Bozarth et al., 2002). Kedekatan, atau hubungan antara
klien dan terapis, merupakan hal yang sangat diutamakan dalam pendekatan ini. Kemajuan terapi
pendekatan personal juga mendorong terciptanya beragam metode yang dapat digunakan oleh
terapis ke dalam gaya terapinya sendiri (Thorne, 2002b). Kemajuan menuju autentisitas dalam
pendekatan ini membuat terapis yang menggunakan pendekatan personal mampu melakukan
penanganan yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kepribadian terapis itu sendiri. Kemajuan ini
juga membuat terapis lebih mudah menciptakan hubungan konseling yang sesuai untuk masing-
masing kliennya (Bohart, 2003).
Tursi dan Cochran (2006) mencanangkan pengintegrasian teknik tertentu dari pendekatan
perilaku kognitif ke dalam terapi pendekatan personal. Mereka mengatakan bahwa perilaku
kognitif akan tercipta dengan sendirinya dalam pendekatan personal ini, bahwa pemahaman
mengenai teori perilaku kognitif dapat meningkatkan rasa empati, bahwa teknik-teknik
pendekatan perilaku kognitif dapat diterapkan dalam model pendekatan personal, dan bahwa
terapis pengembangan diri yang sudah ahli tidak diwajibkan untuk mengintegrasikan teknik-
teknik tersebut. Menurut perspektif Tursi dan Cochran, intervensi kognitif akan lebih efektif
untuk diterapkan setelah hubungan terapi sudah terjalin dengan baik dan setelah konselor benar-
benar memahami pandangan subyektif internal diri klien.
Cain (2002a, 2008) merasa bahwa penting bagi terapis untuk memodifikasi gaya
penanganan terapi mereka untuk menyesuaikan dengan kebutuhan spesifik tiap klien. Terapis
pengguna pendekatan personal tidak dilarang untuk menggunakan berbagai macam metode
untuk membantu klien mereka; pertanyaan yang harus mereka tanyakan pada diri mereka ketika
ingin menerapkan suatu teknik tertentu adalah seperti, “Apakah teknik itu sesuai dengan klien?”
Cain menjelaskan bahwa idealnya, terapis seharusnya terus mengevaluasi apakah gaya terapi
mereka sudah sesuai dengan klien. Cain (2008) menjelaskan bahwa terapi pendekatan personal
perlu untuk disesuaikan ketika pendekatan yang digunakan ini tidak lagi sesuai dengan
kebutuhan tertentu klien. Dalam menuliskan pengalamannya menjadi terapis pendekatan
personal, Cain (2008) berkata, “pemahaman saya semakin maju dan saat ini saya
mengintegrasikan terapi pendekatan personal, pendekatan eksistensial, pendekatan Gestalt,
konsep-konsep eksperiensial, konsep respon dalam terapi, serta saya menggunakan diri saya
sendiri ke dalam interaksi atau pertemuan saya dengan klien” (hal. 293). Untuk mengetahui
bagaimana Dr. David Cain menangani kasus Ruth dengan terapi pendekatan personal, lihat
Pendekatan Kasus dalam Konseling Psikoterapi (Corey, 2009, hal. 5).
Saat ini, terapis yang menggunakan pendekatan personal melakukan penanganan dengan
cara yang beragam dari segi teori dan gaya pribadi masing-masing terapis itu sendiri.
Keberagaman metode terapis ini adalah hal yang benar karena kita tidak mungkin bisa mengikuti
gaya terapi Carl Rogers tanpa memalsukan diri kita sendiri. Jika kita berusaha untuk membentuk
gaya terapi kita sama dengan gaya terapi Rogers, dan jika gaya tersebut tidak cocok dengan kita,
maka kita membohongi diri kita sendiri dan kita tidak menjadi diri kita seutuhnya. Kongruensi
terapis merupakan dasar untuk menciptakan rasa saling percaya dan rasa aman pada klien, dan
proses terapi yang dilangsungkan pun tidak akan menghasilkan dampak jika terapis itu sendiri
memalsukan dirinya.
Peran Tes Penilaian
Tes penilaian seringkali dilihat sebagai suatu persyaratan yang harus dipenuhi dalam
proses penanganan klien ini. Sejumlah institusi kesehatan jiwa menggunakan berbagi macam
prosedur-prosedur penilaian, seperti pengawasan diagnostik, pengidentifikasian kekuatan dan
kelemahan klien, dan berbagai bentuk tes penilaian lainnya. Penggunaan teknik tes penilaian
mungkin akan terlihat tidak sesuai dengan cara kerja pendekatan personal. Akan tetapi, yang
penting dari tes penilaian ini adalah bukan bagaiamana konselor menilai diri klien, namun yang
penting dari tes penilaian ini adalah bagaimana klien menilai dirinya sendiri. Menurut perspektif
terapi pendekatan personal, sumber informasi terbaik mengenai klien adalah diri klien itu sendiri.
Contohnya, beberapa klien mungkin akan diminta untuk melakukan tes psikologis tertentu
sebagai bagian proses konseling tersebut. Konselor perlu mengikuti panduan dari klien selama
proses terapi berlangsung (Ward, 1994).
Ketika jenis teapi nondirektif masih baru berkembang, Rogers (1942) menyarankan untuk
berhati-hati dalam menggunakan penilaian-penilaian psikometris atau menggunakan riwayat
hidup klien di awal proses konseling. Jika cara menjalin hubungan konseling dimulai dengan
melakukan serangkaian tes psikologis pada klien dan mewancarai klien terkait riwayat hidupnya
secara mendetail, menurut Rogers, klien akan merasa bahwa konselor akan memberikan solusi
pasti terhadap masalah hidupnya. Tes penilaian ini dianggap penting untuk diterapkan oleh
beberapa institut kesehatan jiwa tertentu dalam melakukan penanganan jangka pendek, dan klien
harus terlibat dalam proses pembuatan keputusan menyangkut terapinya. Saat ini, kita tidak perlu
mempertanyakan lagi apakah tes penilaian harus diterapkan apa tidak, namun yang kita harus
pertanyakan adalah bagaimana cara melibatkan klien sepenuhnya dalam proses penilaian dan
penanganan mereka.
Penerapan Filosofi Pendekatan Personal
Pendekatan personal ini diterapkan untuk menangani klien yang berupa individu,
kelompok, dan keluarga. Borath, Zimring, dan Tausch (2002) mengutip penelitian yang
dilakukan di tahun 1990an yang mengungkapkan efektivitas terapi pendekatan personal untuk
beragam permasalahan seperti kecemasan berlebihan, kecanduan alkohol, permasalahan
psikosomatik, agoraphobia, kesulitan-kesulitan intrapersonal, depresi, kanker, dan gangguan
kepribadian. Terapi pendekatan personal memberikan pengaruh yang cukup besar sama seperti
pendekatan-pendekatan terapi lain yang lebih beriorientasi pada tujuan. Lebih jauh lagi, hasil
penelitian yang dilakukan pada tahun 1990an ini mengungkapkan bahwa terapi yang efektif
dilandaskan dari hubungan klien dan terapis yang terjalin serta dari sumber-sumber eksternal
maupun internal diri klien (Hubble, Duncan, & Miller, 1999). Klien merupakan faktor utama
yang menentukan hasil proses terapi: “Menurut data keluaran yang dikumpulkan, aspek paling
penting dalam proses terapi adalah klien itu sendiri: kemampuan klien, partisipasi klien,
pengevaluasian hubungan yang dijalin oleh klien dengan terapis, dan persepsi terapis terkait
masalah dan solusi untuk klien. Teknik-teknik terapi hanya dapat berguna untuk diterapkan jika
teknik-teknik tersebut relevan dan sesuai dengan klien” (hal. 433).
Filosofi dasar pendekatan personal ini dapat diterapkan ke dalam dunia pendidikan-dari
sekolah dasar hingga universitas. Kondisi inti hubungan terapi memiliki relevansi dengan
lingkungan pendidikan seseorang. Dalam buku Freedom to Learn, Rogers dan Freiberg (1994)
menggambarkan perjalanan yang ditempuh oleh sejumlah guru yang berubah dari manajer
pengendali menjadi fasilitator pembelajaran. Guru-guru ini menemukan jalan mereka sendiri
menuju kebebasan. Menurut Rogers dan Freiberg, baik dari penelitian maupun pengalaman yang
ada menunjukkan bahwa ada banyak pembelajaran, penyelesaian masalah, dan kreatiivitas yang
dapat ditemukan dalam ruang kelas yang menciptakan iklim pendekatan personal ini. Di iklim
seperti ini, para murid dapat menjadi lebih mandiri mengarahkan dirinya sendiri, lebih
bertanggung jawab atas konsekuensi keputusan mereka, dan dapat belajar lebih banyak daripada
murid-murid ruang kelas lain pada umumnya.
Penerapan Pendekatan Personal dalam Intervensi Krisis
Terapi pendekatan personal khususnya dapat diterapkan dalam intervensi-intervensi krisis
seperti kehamilan diluar pernikahan, penyakit yang diderita, bencana, ataupun kematian
seseorang yang dicintai. Mereka yang berprofesi dalam bidang yang membantu orang
(keperawatan, kedokteran, pendidikan, pemerintahan) adalah orang-orang yang paling pertama
bertindak dalam situasi krisis yang terjadi, dan mereka akan dapat mengambil banyak manfaat
dari pembahasan sikap-sikap dasar yang dibahas dalam bab ini. Ketika seseorang berada dalam
suatu krisis, salah satu pertolongan pertama yang bisa dilakukan kepada mereka adalah
memberikan mereka kesempatan untuk mengekspresikan diri mereka. Mendengarkan dan
memahami mereka dengan peka sangat penting untuk dilakukan. Ketika mereka didengar dan
dimengerti, maka mereka akan semakin tenang dan akan dapat berpikir lebih jelas dan lebih baik
dalam membuat keputusan. Meskipun krisis yang dialami orang tersebut tidak akan langsung
terselesaikan dengan berinteraksi sekali atau dua kali dengan pihak yang membantunya, interaksi
ini dapat menjadi permulaan untuk mereka menerima bantuan. Jika seseorang berada dalam
situasi krisis tidak merasa dimengerti dan diterima, ia akan merasa kehilangan harapan untuk
“kembali normal” dan tidak akan mencari bantuan lagi untuk dirinya di masa yang akan datang.
Dukungan, kehangatan, dan kepedulian yang tulus dapat memotivasi seseorang untuk
menyelesaikan krisis yang ia hadapi. Mengkomunikasikan rasa pengertian mendalam harus
selalu lebih diuatamakan daripada pemberian intervensi penyelesaian masalah.
Meskipun seseorang yang sedang menghadapi krisis dapat menerima manfaat besar
dengan melakukan interaksi psikologis dengan pihak-pihak yang peduli kepadanya, dalam situasi
krisis, terapis pengguna pendekatan personal sekali pun harus menerapkan sejumlah tata cara dan
arahan tertentu dalam konseling situasi krisis. Anjuran, panduan, dan bahkan arahan perlu untuk
diterapkan jika klien dalam situasi krisis ini tidak dapat melakukan apa-apa karena krisis yang
dihadapinya. Contohnya, dalam kasus-kasus tertentu klien yang punya tendensi untuk bunuh diri
mungkin perlu untuk dimasukkan ke dalam rumah sakit demi melindungi klien melukai dirinya
sendiri.
Pendekatan personal ini telah diterapkan secara mendalam dalam pelatihan untuk para
ahli dan pemula di berbagai macambidang. Pendekatan ini menginstruksikan agar para ahli tetap
berada dalam satu halaman dengan klien, tidak melangkahi klien dengan membuat interpretasi.
Sehingga, pendekatan seperti ini akan lebih aman dibandingkan model terapi yang menempatkan
terapis sebagai orang yang mengarahkan klien, menginterpretasikan klien, mendiagnosis klien,
mengeksplor ketidaksadaran dalam diri klien, menganalisis mimpi klien, dan merubah
kepribadian klien secara signifikan.
Orang-orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan psikologi dapat memperoleh
manfaat yang signifikan dengan menerapkan kondisi ketulusan terapi, pemahaman empatik, dan
pandangan hidup yang positif ke dalam kehidupan personal dan profesional mereka. Konsep-
konsep dasar pendekatan personal ini mudah dipahami, dan dapat mendorong orang yang
menggunakannya agar menemukan kekuatan dari dalam dirinya sendiri. Kemampuan-
kemampuan dasar ini juga menjadi fondasi utama seluruh sistem terapi lain yang dibahas dalam
buku ini. Jika konselor tidak menguasai kemampuan hubungan dan komunikasi ini, mereka tidak
akan dapat menangani klien mereka secara efektif.
Terapis pendekatan personal yang efektif wajib bersifat tulus, autentik, fokus, sabar, dan
mampu menerima secara dewasa. Tanpa memiliki sifat-sifat ini ke dalam dirinya, pendekatan
personal yang diterapkan terapis akan terasa hampa. Seperti yang Natalie Rogers (komunikasi
personal, 9 Februari 2006) katakan, “Pendekatan personal adalah karakteristik pribadi yang
mudah untuk dipahami, namun sangat sulit untuk diterapkan.”
Penerapan Pendekatan Personal dalam Konseling Kelompok
Pendekatan personal ini menekankan peranan unik konselor dalam konseling kelompok
yang berperan lebih sebagai seorang fasilitator daripada seorang pemimpin kelompok. Fungsi
utama fasilitator adalah untuk menciptakan iklim yang aman dan sehat-wadah dimana para
angota kelompok dapat berinteraksi dengan jujur dan bermakna. Dalam iklim yang tercipta
dalam kelompok ini, para anggota kelompok dapat lebih menghargai dan percaya pada diri
mereka sendiri apa adanya serta mereka pun akan dapat mengarahkan diri mereka semakin maju
dan semakin percaya diri. Pada akhirnya, para anggota kelompok sendiri lah yang membuat
keputusan serta merubah diri mereka sendiri. Dengan adanya fasilitator dan dukungan dari
anggota-anggota kelompok lain, mereka akan menyadari bahwa mereka tidak harus berjuang
sendiri menuju perubahan dan bahwa kelompok sebagai suatu entitas kolektif dapat menjadi
sumber perubahan diri mereka.
Rogers (1970) mengatakan bahwa kelompok akan cenderung bergerak menuju kemajuan
jika fasilitator kelompok percaya dengan mendalam pada kemampuan anggota-anggota
kelompok itu sendiri dan tidak menggunakan teknik-teknik tertentu untuk menggerakkan
mereka. Fasilitator sebaiknya tidak memberikan komentar berupa interpretasi pada anggota
kelompok karena komentar-komentar tersebut dapat menghambat proses kemajuan kelompok.
Proses observasi kelompok harus berasal dari dalam anggota kelompok itu sendiri. Pandangan
ini sesuai dengan filosofi Roger yang menempatkan anggota kelompok sebagai yang
bertanggung jawab atas arah kemajuan kelompok. Menurut Raskin, Rogers, dan Witty (2008),
kelompok dapat mengartikulasikan dan mengejar tujuan diri mereka sendiri. Mereka
mengatakan, “ketika kondisi terapi tercipta dalam suatu kelompok dan ketika kelompok
dipercaya dapat menemukan jalannya sendiri, anggota kelompok itu sendiri akan cenderung
untuk mengembangkan proses yang sesuai untuk diri mereka dan denderung akan lebih mampu
menyelesaikan situasi permasalahan yang dihadapi” (hal. 143).
Terlepas dari orientasi teoritis pemimpin kelompok itu sendiri, kondisi inti yang telah
digambarkan ini sangat dapat diterapkan ke dalam bentuk kepemimpinan kelompok
bagaimanapun. Ketika pemimpin kelompok berhasil menciptakan iklim pendekatan personal
dalam kelompoknya, maka kelompok itu pun akan bergerak maju dengan sendirinya.
Keberhasilan seluruh teori yang dibahas dalam buku ini tergantung pada kualitas hubungan
terapi yang dijadikan fondasi proses terapi klien. Seperti yang akan anda lihat, pendekatan
perilaku kognitif dalam konseling kelompok menekankan kelompok untuk menciptakan
hubungan kolaboratif antar anggota-anggota kelompok. Sehingga, pendekatan yang paling
efektif untuk konseling kelompok memiliki kesamaan dengan inti filosofi terapi pendekatan
personal. Untuk pembahasan lebih lanjut terkait penggunaan terapi pendekatan personal dalam
konseling kelompok, lihat Corey (2008, bab. 10).
Terapi Seni Ekspresif Personal
*
Natalie Rigers (1993) mengembangkan teori ayahnya, Carl Rogers (1961), teori
kreativitas yang menggunakan seni ekspresif untuk meningkatkan perumbuhan personal baik itu
dalam diri individu dan kelompok. Pendekatan Rigers, yang dikenal sebagai terapi seni
ekspresif, mengembangkan teori pendekatan personal menjadi ekspresi spontan kreatif, yang
menyimbolkan perasaan-perasaan mendalam dalam diri yang terkadang tidak dapat
diungkapkan
4
Konselor melatih dalam terapi seni ekspresif secar pribadi-pusat menawarkan
klien mereka kesempatan untuk menciptakan gerakan, seni visual, penulisan jurnal, suara, dan
musik untuk mengekspresikan perasaan mereka dan mencapai pandangan dari aktivitas ini.
Terapi seni ekpresif pribadi-pusat mewakili sebuah alternatif pada pendekatan tradisional
konseling yang bergantung pada makna verbal dan dapat secara khusus berguna bagi klien yang
mengunci dalam cara-cara merasakan pengalaman (Sommers-Flanaga, 2007).
Prinsip Terapi Seni Ekspresif
Terapi seni ekspresif menggunakan beragam bentuk artistik- gerakan, gambar, lukis, pahat,
musik, tulisan, dan improvisasi- hingga akhir dari pertumbuhan, penyembuhan, dan penemuan
diri. Ini merupakan pendekatan multimodal yang terhubung dengan pikiran, perasaan, emosi, dan
sumber spiritual dalam. Metode-metode dari terapi seni ekspresif berdasar pada prinsip
humanistik, tetapi memberikan bentuk yang lebih penuh pada pernyataan Carl Rogers tentang
kreativitas. Prinsip-prinsip ini sebagai berikut (N. Rogers, 1993):
Semua orang memiliki kemampuan bawaan untuk menjadi kreatif.
Proses kreatif dan kondisi yang lebih tinggi dari kesadaran dicapai melalui kesadaran diri,
pemahaman diri, dan wawasan.
*
Sebagian besar materi dalam pembahasan ini diambil dari ide-ide utama yang dijelaskan lebih lengkap
dalam buku Natalie Rogers (1993), The Creative Connection: Expressive Arts as Healing. Pembahasan
dalam seksi ini ditulis melalui kerja sama kolaboratif dengan Natalie Rogers sendiri.
Kesadaran diri, memahami, dan wawasan dicapai melalui penyelidikan kedalam perasaan
sedih, marah, rasa sakit, ketakutan, kebahagiaan, dan kegembiraan yang luar biasa.
Perasaan dan emosi ita adalah sumber energi yang bisa diarahkan kedalam seni ekspresif
untuk dilepaskan dan diubah.
Seni ekspresif mengantarkan kita pada ketidaksadaran, sehingga memungkinkan kita
untuk mengekspresikan faset yang tidak diketahui dari diri kita dan menerangi informasi
dan kesadaran baru.
Satu seni membentuk stimulasi dan menyuburkan yang lainnya, membawa kita kepada
sebuah inti atau esensi yang merupakan energi kehidupan kita.
Sebuah koneksi muncul diantara kekuatan hidup kita- inti di dalam, atau jiwa,- dan esensi
dari semua keberadaan.
Ketika kita berjalan kedalam untuk menemukan esensi dari keseluruhan, kita menemukan
keterhubungan kita dengan dunia luar, dan di dalam dan luar menjadi satu.
Mode seni yang beragam saling terhubungan dengan apa yang disebut Natalie Rogers
sebagai Koneksi Kreatif. Ketika kita bergerak, itu mempengaruhi bagaimana kita menulis
atau melukis. Ketika kita menulis atau melukis, itu mempengaruhi bagaimana kita merasa
dan berfikir.
Pendekatan Natalie Roger berdasar pada teori pribadi-pusat pada proses individu dan
kelompok. Kondisi yang sama yang ditemukan oleh Carl Rogers dan kolega-koleganya
adalah dasar untuk menyuburkan fasilitas klien-hubungan konselor juga mendukung
kreativitas. Pertumbuhan pribadi mengambil tempat disebuah lingkungan yang aman dan
mendukung yang diciptakan oleh konselor atau fasilitator yang tulus, hangat, empati,
terbuka, kongruent, dan peduli-kualitas yang dipelajari dengan pertama-tama dialami.
Mengambil waktu untuk berefleksi dan mengevaluasi pengalaman-pengalaman ini
memungkinkan intergarasi personal pada tingkat yang beragam-intelektual, emosional, fisik,
dan spiritual.
Kreativitas dan menawarkan pengalaman yang menstimulus
Menurut Natalie Rogers (1993), keyakinan mendalam dari dorongan bawaan individu
menjadi diri sepenuhnya adalah dasar dari pekerjaan seni ekpresif pribadi-pusat. Individu
memiliki kapasitas yang besar untuk penyembuhan diri melalui kreativitas jika diberikan oleh
lingkungan yang tepat. Ketika seseorang merasa diapresiasi, dipercaya, dan memberikan
dukungan untuk menggunakan secara individu untuk mengembangkan rencana, menciptakan
proyek, menulis karya, atau untuk menjadi autentik, tantangan itu menggembirakan,
menstimulus dan memberikan rasa perluasan personal. N. Rogers percaya pada kecenderungan
untuk mengaktualisasi dan menjadi potensi penuh, termasuk kreativitas bawaan, itu dihargai
rendah, dipotong, dan terkadang dilumatkan oleh masyarakat kita. Institusi pendidikan
tradisional cenderung mempromosikan persesuaian daripada pemikiran original dan proses
kreatif.
Kondisi eksternal tertentu juga menyuburkan kondisi internasional bagi kreatifitas. Carl
Rogers (1961) menguraikan dua kondisi: keamanan psikologi mencakup penerimaan individu
sebagai keberhargaan tanpa syarat, menyediakan sebuah cuaca dimana eksternal evaluasi tidak
ada, dan memahami dengan empati. Kondisi keduanya adalah kemerdekaan psikologi. Natalie
Rogers (1993) menambahkan kondisi ketiga: menawarkan pengalaman yang menstimulus dan
menantang. Keamanan psikologi dan kemerdekaan psikologi adalah tanah dan nutrisi bagi
kreativitas, tetapi benih harus ditanah. Apa yang ditemukan oleh N. Rogers ketika dia bekerja
dengan ayahnya adalah bahwa pengalaman yang menstimulasi yang akan memotivasi dan
membiarkan orang, ruang dan waktu untuk tergabung dalam proses kreativitas. Ketika
kebudayaan kita cocok untuk verbal, penting untuk menstimulasi klien dengan menawarkan
pengalaman yang menantang. Percobaan atau pengalaman yang direncanakan dengan hati-hati
untuk melibatkan klien dalam seni ekspresif membantu mereka berfous pada proses
menciptakan. Menggunakan gambar, lukisan, dan pahatan untuk mengekspresikan perasaan
tentang sebuah kejadian atau seseorang menawarkan pembebasan yang bebas dan sebuah
perspektif baru. Juga, simbol membawa pesan yang melebihi kata-kata.
Terapi seni ekspresif pribadi-pusat menggunakan seni untuk ekspresi kreatif spontan yang
menyimbolkan perasaan yang dalam dan kondisi emosi yang kadang tidak dapat diakses.
Kondisi yang menyuburkan kreativitas muncul baik didalam partisipan dan di dalam lingkungan
kelompok. Kondis yang menyuburkan kreativitas membutuhkan penerimaan individu, sebuah
setting tanpa penghakiman, empati, kebebasan psikologi, dan ketersediaan pengalaman yang
menstimulus dan menantang. Dengan jenis lingkungan ini, kondisi internal fasilitatif dari klien
didukung dan difasilitasi dan diinspirasi: sebuah keterbukan non defensif untuk mengalami dan
sebuah lokus internal evaluasi yang menerima tetapi tidak sepenuhnya memberi perhatian
dengan reaksi dari orang lain.
N. Rogers percaya kebanyakan orang telah mengalami tujuan mereka dalam kreativitas
dalam sebuah lingkungan yang tidak aman. Mereka ditawarkan materi seni di sebuah kelas atau
studio diama pada guru mengatakan atau menyiratkan terdapat cara yang” (p.124). Rogers
melanjutkan kehidupan profesional aktifnya, melaksanakan workshop di Amerika, Eropa,
Jepang, dan Amerika Latin, dan Rusia. Diakhir bag ini adalah beberapa sumber bagi mereka
yang tertarik dalam pelatihaan di pendekatan pribadi-pusat pada terapi seni ekspresif.
Terapi Pribadi Pusat dalam Perspektif Multikultural
Kelebihan dari sebuah perspektif keberagaman
Salah satu kekuatan dari pendekatan pribadi-pusat adalah dampaknya pada bidang
hubungan manusia dengan kelompok kultural yang beragam. Carl Rogers telah memiliki
pengaruh global. Karyanya telah mencapai lebih dari 30 negara, dan tulisannya telah
diterjemahkan kedalam 12 bahasa. Filosofi priadi-pusat dan praktik sekarnag dapat dipelajari di
beberapa negara-negara Eropa, Amerika Selatan, dan Jepang. Berikut ini adalah beberapa contoh
dari cara dimana pendekatan ini telah menyatu dengan beragam negara dan kebudayaan:
Di beberapa negara Eropa, konsep pribadi-pusat telah memiliki pengaruh
signifikan pada praktik konselign juga dalam pendidikan, komukasi lintas budaya,
dan pengurahan tensi politik dan ras. Pada tahun 1980an, Rogers (1987b)
menjelaskan sebuah teori dari penurutan ketegangan diantara kelompok-
kelompok antagonistik yang telah mulai berkembang pada 1948.
Pada 1970an, Rogers dan koleganya mulai melaksanakan workshop
mempromosikan komunikasi lintas budaya. Kelompok internasonal telah
menyediakan partisipan dengan pengalaman multikultural.
Jepang, Australia, Amerika Selatan, Mexiko, dan Inggris telah reseptef terhadap
konsep pribadi-pusat dan telah mengadaptasi praktik ini untuk sesui dnegan
kebudayaan mereka.
Tak lama sebelum kematiannya, Rogers melaksanakan workshop dengan
profesional dalam persatuan soviet terdahulu.
Cain (1987) menyimpulkan pencapaian pendekatan pribadi-pusat pada keberagaman
kebudayaan: “ keluarga internasional kita terdiri dari jutaan orang diseluruh dunia yang hidupnya
telah dipengaruhi tulisan dan usaha pribadi dari Carl Rogers juga kolega-koleganya yang telah
membawa pemikiran dan program inovatif mereka pada banyak hal di dunia” (p 149).
Selain dampak global ini, penekanan pada kondisi inti membuat pendekatan pribadi-pusat
berguna dalam memahami pandangan dunia yang beragam. Filosofi yang mendasari dari terapi
pribadi pusat didasarkan pada pentingnya mendengarkan pada pesan dari klien. Empati, menjadi
hadir, dan menghormati nilai dari klien adalah sikap dan keahlian penting dalam koseling klien
yang beragam secara budaya. Empati terapis telah bergerak jauh melebihi refleksi” sederhana,
dan klinisian sekarang menarik dari beragam mode respon empati (Bohart & Greenberg, 1997).
Empati ini dapat diekspresikan dan dikomunikasikan secara langsung mapun tidak langsung.
Beberapa penulis menganggap terapi pribadi-pusat sangat cocok untuk klien di dunia
yang beragam ini. Cain (2008) memandang pendekatan ini sebagai sebuah cara yang manjur
dalam bekerja dengan individu yang mewakili latar belakang kebudayaan yang beragam dan
berbeda karena kondisi terapi ini adalah kualitasnya yang universal. Bohart (2003) menyatakan
bahwa filosofi pribadi-pusat membuat pendekatan ini cocok untuk populasi klien yang beragam
karena konselor tidak menganggap peran dari ahli adalah dia yang akan memaksakan “cara
hidup yang benar” terhadap klien melaikan terapis adalah “teman menjelajah” yang berusaha
untuk memahami dunia penomenologikal klien dengan cara yang menarik, menerima, dan
terbuka dengan klien untuk mengkonfirmasi bahwa persepsi terapis itu akurat.
Glauser dan Bozart (2001) mengingatkan kita untuk memperhatikan identitas kultural
yang berada dalam diri klien. Terapis harus menunggu kontek budaya untuk menyelam dari
klien, dan mereka memperingatkan terapis untuk sadar akan mitos khusus,” yang
mengantarkan pada perlakuan khusus dianggap sebagai yang terbaik untuk orang tertentu. Pesan
utama Glauser dan Bozarth adalah bahwa konseling adalah sebuah konteks multikultural yang
membentuk kondisi initi yang berhubungan dengan konseling efektif: konseling pribadi-pusat
memotong pada inti dari apa yang penting untuk keberhasilan konseling di semua pendekatan
konseling. hubungan konselor-klien dan penggunaan sumber daya klien merupakan pusat bagi
konseling multikultural” (p. 146).
Kelemahan dari perspektif beragam
Meskipun pendekatan pribadi-pusat telah membuat kontribusi signifikan dalam konseling
orang dengan latar belakang sosial, politik, dan kultur yang berbeda, terdapat beberapa
kelemahan untuk praktik secara eksklusif dalam kerangkan ini. Banyak klien yang datang ke
klinik kesehatan mental masyarakat atau terlibat dalam perakuan pasien yang ingin struktur lebih
daripada yang dapat iberikan pendekatan ini. Beberapa klien mencari bantuan profesional untuk
menghadapi krisis, untuk meringankan gejala psikosomatik, atau untuk belajar keterampilan
mengatasi masalah sehari-hari. Karena atas pesan-pesan budaya tertentu, ketika klien ini
memang mencari bantuan profesional, mungkin itu adalah upaya terakhir. Mereka mengharapkan
konselor yang bisa mengarahkan dan dapat menolak orang yang tidak menyediakan struktur
yang memadai.
Kelemahan kedua dari pendekatan yang berpusat pada pelaku adalah bahwa sulit untuk
menerjemahkan kondisi terapi inti ke dalam praktik aktual dalam budaya tertentu. Komunikasi
kondisi inti ini harus konsisten dengan kerangka budaya klien. Pertimbangkan, misalnya,
ekspresi kongruensi dan empati terapis. Klien yang terbiasa dengan komunikasi tidak langsung
mungkin tidak nyaman dengan ekspresi empati atau pengungkapan diri langsung pada bagian
terapis. Untuk beberapa klien cara yang paling tepat untuk mengekspresikan empati adalah
terapis harus menunjukkannya secara tidak langsung dengan menghargai kebutuhan mereka akan
jarak atau dengan menyarankan intervensi yang berfokus pada tugas (Bohart & Greenberg,
1997).
Kelemahan ketiga dalam menerapkan pendekatan yang berpusat pada pelaku dengan
klien dari beragam budaya berkaitan dengan fakta bahwa pendekatan ini memuji nilai dari
tempat evaluasi internal. Dalam budaya kolektivis, klien cenderung sangat dipengaruhi oleh
harapan masyarakat dan tidak hanya termotivasi oleh preferensi pribadi mereka sendiri. Fokus
pada pengembangan otonomi individu dan pertumbuhan pribadi dapat dipandang mandiri dalam
budaya yang menekankan kebaikan bersama. Cain (2008) berpendapat bahwa "banyak individu
baik dari budaya individualistik mayoritas dan dari budaya kolektif kurang berorientasi pada
aktualisasi diri dan lebih ke arah keintiman dan hubungan dengan orang lain dan ke arah yang
terbaik untuk masyarakat serta kebaikan bersama" (hal. 217).
Pertimbangkan Lupe, klien Latina yang menghargai kepentingan keluarganya daripada
kepentingan dirinya. Dari sudut pandang yang berpusat pada pelaku, ia dapat dipandang berada
dalam bahaya “kehilangan identitasnya sendiri” dengan lebih mementingkan perannya dalam
merawat orang lain dalam keluarga. Daripada mendorongnya untuk menjadikan keinginan
pribadinya prioritas, konselor akan mengeksplorasi nilai-nilai budaya Lupe dan tingkat
komitmennya terhadap nilai-nilai ini dalam bekerja dengannya. Tidak pantas bagi konselor untuk
memaksakan visi padanya tentang bagaimana jenis wanita yang seharusnya. (Topik ini dibahas
lebih luas dalam Bab 12.)
Meskipun mungkin ada kekurangan tertentu dalam berlatih secara eksklusif dalam
perspektif yang berpusat pada pelaku, tidak boleh disimpulkan bahwa pendekatan ini tidak cocok
untuk bekerja dengan klien dari beragam budaya. Ada keragaman besar di antara kelompok
masyarakat mana pun, dan oleh karena itu, ada ruang untuk berbagai gaya terapi. Menurut Cain
(2008), desakan keras pada gaya konseling yang tidak langsung untuk semua klien, terlepas dari
latar belakang budaya atau preferensi pribadi mereka, dapat dianggap sebagai pemaksaan yang
tidak sesuai dengan kebutuhan interpersonal klien. Konseling klien yang berbeda secara budaya
mungkin memerlukan lebih banyak aktivitas dan penataan daripada yang biasanya terjadi dalam
kerangka kerja yang berpusat pada pelaku, tetapi potensi dampak positif dari seorang konselor
yang merespons secara empatik terhadap klien yang berbeda secara budaya tidak dapat ditaksir
terlalu tinggi. Seringkali, klien belum pernah bertemu seseorang seperti penasihat yang mampu
benar-benar mendengarkan dan memahami. Konselor tentu akan merasa sulit berempati dengan
klien yang memiliki pengalaman hidup yang sangat berbeda.
Terapi yang Berpusat pada Pelaku Diterapkan pada Kasus Stan
Autobiografi Stan menunjukkan bahwa ia
memiliki perasaan tentang apa yang ia
inginkan untuk hidupnya. Terapis yang
berpusat pada pelaku mengandalkan laporan
individu tentang cara dia memandang
dirinya sendiri dan bukan pada penilaian dan
diagnosis formal. Terapis prihatin dengan
memahami klien dari kerangka referensi
internal. Stan telah menyatakan tujuan yang
bermakna baginya. Dia termotivasi untuk
berubah dan tampaknya memiliki
kecemasan dalam menuju perubahan yang
diinginkan ini. Konselor yang berpusat pada
pelaku memiliki keyakinan pada
kemampuan Stan untuk menemukan caranya
sendiri dan percaya bahwa ia memiliki
sumber daya yang diperlukan untuk
pertumbuhan pribadinya. Dia mendorong
Stan untuk berbicara secara bebas tentang
perbedaan antara orang yang dia lihat
sebagai dirinya dan orang yang dia inginkan;
tentang perasaannya saat gagal, tidak
memadai; tentang ketakutan dan
ketidakpastiannya; dan tentang
keputusasaannya di saat-saat tertentu. Dia
berusaha untuk menciptakan suasana
kebebasan dan keamanan yang akan
mendorong Stan untuk mengeksplorasi
aspek-aspek yang mengancam dari konsep-
dirinya.
Stan memiliki penilaian yang rendah
terhadap harga dirinya. Meskipun dia
merasa sulit untuk percaya bahwa orang lain
benar-benar menyukainya, dia ingin merasa
dicintai ("Saya harap saya bisa belajar untuk
mencintai setidaknya beberapa orang,
terutama wanita."). Dia ingin merasa setara
dengan orang lain dan tidak perlu meminta
maaf atas keberadaannya, namun di
sebagian besar waktunya dia sadar bahwa
dia merasa rendah diri. Dengan menciptakan
suasana yang mendukung, percaya, dan
mendorong, terapis dapat membantu Stan
belajar untuk lebih menerima dirinya
sendiri, dengan kekuatan dan
keterbatasannya. Dia memiliki kesempatan
untuk secara terbuka mengungkapkan
ketakutannya terhadap wanita, tidak bisa
bekerja dengan orang lain, serta merasa
tidak mampu dan bodoh. Dia dapat
mengeksplorasi bagaimana perasaannya
dihakimi oleh orang tuanya dan oleh
otoritas. Dia memiliki kesempatan untuk
mengungkapkan rasa bersalahnya yaitu,
perasaan bahwa dia tidak memenuhi harapan
orang tuanya dan bahwa dia telah
mengecewakan mereka dan dirinya sendiri.
Dia juga dapat mengaitkan perasaan sakit
hatinya karena tidak pernah merasa dicintai
dan diinginkan. Dia dapat mengekspresikan
kesepian dan keterasingan yang sering dia
rasakan, serta kebutuhan untuk
menumpulkan perasaan ini dengan alkohol
atau narkoba.
Stan tidak lagi sendirian, karena ia
mengambil risiko membiarkan terapisnya
memasuki dunia perasaan pribadinya. Stan
secara bertahap mendapatkan fokus yang
lebih tajam pada pengalamannya dan
mampu mengklarifikasi perasaan dan
sikapnya sendiri. Dia melihat bahwa dia
memiliki kapasitas untuk membuat
keputusan sendiri. Singkatnya, hubungan
terapeutik membebaskannya dari cara-cara
yang mengalahkan dirinya sendiri. Karena
kepedulian dan keyakinan yang ia alami dari
terapisnya, Stan mampu meningkatkan
keyakinan dan kepercayaan dirinya sendiri.
Respons empatik dari terapis
membantu Stan dalam mendengar dirinya
sendiri dan mengakses dirinya pada tingkat
yang lebih dalam. Stan berangsur-angsur
menjadi lebih peka terhadap pesan-pesan
internalnya sendiri dan kurang bergantung
pada konfirmasi dari orang lain di
sekitarnya. Sebagai hasil dari upaya
terapeutik, Stan menemukan bahwa ada
seseorang dalam hidupnya yang dapat dia
andalkan dirinya sendiri.
Tindak Lanjut: Anda Melanjutkan
sebagai Terapis Stan yang Berpusat pada
Pelaku
Gunakan pertanyaan ini untuk membantu
Anda berpikir tentang bagaimana Anda akan
menasihati Stan menggunakan pendekatan
yang berpusat pada pelaku:
Bagaimana Anda menanggapi
perasaan keraguan diri Stan yang
mendalam? Bisakah Anda
memasukkan kerangka rujukannya
dan merespons dengan cara empatik
yang membuat Stan tahu Anda
mendengar rasa sakit dan
perjuangannya tanpa perlu
memberikan saran atau masukan?
Bagaimana Anda menggambarkan
perjuangan Stan yang lebih dalam?
Apa pengertian Anda tentang
dunianya?
Menurut Anda sejauh mana
hubungan yang akan Anda
kembangkan dengan Stan akan
membantunya bergerak maju ke arah
yang positif? Jika ada, apa yang
dapat menghalangi Anda baik
dengan dia atau dalam diri Anda
dalam membangun hubungan
terapeutik?
Lihat program online, Theory in Practice:
The Case of Stan (Sesi 5 tentang terapi
yang berpusat pada pelaku), untuk
demonstrasi pendekatan saya dalam
konseling Stan dari perspektif ini. Sesi ini
berfokus pada mengeksplorasi kedekatan
hubungan kita dan membantu Stan
menemukan caranya sendiri.
Ringkasan dan Evaluasi
Terapi yang berpusat pada pelaku didasarkan pada filosofi sifat manusia yang mendalilkan
upaya bawaan untuk aktualisasi diri. Lebih jauh, pandangan Rogers tentang sifat manusia
adalah fenomenologis; yaitu, kita menyusun diri kita sesuai dengan persepsi kita tentang
realitas. Kita termotivasi untuk mengaktualisasikan diri kita dalam kenyataan yang kita
rasakan.
Teori Rogers bertumpu pada asumsi bahwa klien dapat memahami faktor-faktor
dalam kehidupan mereka yang menyebabkan mereka tidak bahagia. Mereka juga memiliki
kapasitas untuk pengarahan diri sendiri dan perubahan pribadi yang konstruktif. Perubahan
akan terjadi jika terapis kongruen melakukan kontak psikologis dengan klien dalam keadaan
gelisah atau tidak selaras. Sangat penting bagi terapis untuk membangun hubungan yang
menurut klien sebagai tulus, menerima, dan memahami. Konseling terapeutik didasarkan
pada hubungan Aku / Anda, atau orang-ke-orang, dalam hal keselamatan dan penerimaan di
mana klien menjatuhkan pertahanan mereka dan menerima serta mengintegrasikan aspek-
aspek yang telah mereka tolak atau ubah. Pendekatan yang berpusat pada pelaku menekankan
hubungan pribadi antara klien dan terapis; sikap terapis lebih kritis daripada pengetahuan,
teori, atau teknik. Klien didorong untuk menggunakan hubungan ini untuk mengeluarkan
potensi pertumbuhan mereka dan menjadi orang yang mereka pilih.
Pendekatan ini menempatkan tanggungjawab utama ke arah terapi pada klien. Dalam
konteks terapeutik, individu memiliki kesempatan untuk memutuskan untuk diri mereka
sendiri dan berdamai dengan kekuatan pribadi mereka sendiri. Tujuan umum terapi menjadi
lebih terbuka untuk mengalami, mencapai kepercayaan diri, mengembangkan sumber
evaluasi internal, dan bersedia untuk terus tumbuh. Tujuan spesifik tidak dikenakan pada
klien; sebaliknya, klien memilih nilai dan tujuan mereka sendiri. Aplikasi teori saat ini
menekankan partisipasi lebih aktif oleh terapis daripada kasus sebelumnya. Lebih banyak
kebebasan diperbolehkan bagi terapis untuk mengekspresikan nilai-nilai, reaksi, dan perasaan
mereka karena mereka adalah apa yang terjadi dalam terapi. Konselor dapat sepenuhnya
terlibat sebagai pelaku dalam hubungan tersebut.
Kontribusi dari Pendekatan yang Berpusat pada Pelaku
Ketika Rogers mendirikan konseling tidak langsung lebih dari 65 tahun yang lalu, ada sangat
sedikit model terapi lainnya. Umur panjang dari pendekatan ini tentu saja merupakan faktor
yang perlu dipertimbangkan dalam menilai pengaruhnya. Cain (2002b) berpendapat bahwa
bukti penelitian substansial mendukung efektivitas pendekatan yang berpusat pada pelaku:
"Enam puluh tahun perkembangan dalam teori, praktik, dan penelitian telah menunjukkan
bahwa pendekatan humanistik untuk psikoterapi sama efektif atau lebih efektif daripada
terapi besar lainnya" (hal. xxii). Cain (2008) menambahkan: "Sebuah badan penelitian yang
luas telah dihasilkan dan memberikan dukungan untuk efektivitas terapi yang berpusat pada
pelaku dengan berbagai klien dan masalah dari semua kelompok umur" (p. 214).
Rogers dan teorinya terus memiliki dampak besar pada bidang konseling dan
psikoterapi. Ketika ia memperkenalkan ide-ide revolusionernya di tahun 1940-an, ia
memberikan alternatif yang kuat dan radikal untuk psikoanalisis dan pendekatan direktif yang
kemudian dipraktikkan. Rogers adalah pelopor dalam mengubah fokus terapeutik dari
penekanan pada teknik serta ketergantungan pada otoritas terapis ke hubungan terapeutik.
Menurut Farber (1996), pandangan Rogers terkait empati, egalitarianism, tujuan hubungan
terapi, dan pentingnya melakukan penelitian pada umumnya telah diterima dan diterapkan
oleh sebagian besar praktisi ke dalam orientasi teoritis mereka tanpa mereka sadari. Terlepas
dari pengaruh besar yang ditimbulkan Rogers dalam dunia psikoterapi, kontribusi yang ia
lakukan masih tidak dihiraukan dalam dunia psikologi klinis. Kecuali dalam program edukasi
konselor dan psikologi konseling, temuan-temuan Rogers masih belum menerima
penghargaan yang sepantasnya (Farber, 1996), dan di Amerika Serikat saat ini, hanya ada
sedikit program pascasarjana.
Thorne (2002b) melaporkan bahwa semenjak kematian Rogers di tahun 1987, terjadi
penurunan minat untuk mengembangkan pendekatan personal di Amerika Serikat. Akan
tetapi, terapi pendekatan personal masih terus diminati di Amerika Selatan dan Timur. Terapi
pendekatan personal ini sangat diutamakan di sebagian universitas-universitas Inggris.
Beberapa konselor-konselor ahli pendekatan personal berada di Britania Raya (Natalie
Rogers, komunikasi personal, 9 Februari 2006). Ahli-ahli lain yang tinggal di Inggris juga
seperti Fairhust (1999), Keys (2003), Lago dan Smith (2003), Mearns dan Cooper (2005),
Mearns dan Thorne (1999, 2000), Merry (1999), Natiello (2001), Thorne (2002a, 2002b), dan
Watson (2003) terus mengembangkan pendekatan ini.
Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, Natalie Rogers memberikan kontribusi
signifikan terhadap penerapan pendekatan personal dengan menginkorporasikan seni
ekspresif sebagai medium untuk memfasilitasi eksploras diri, biasanya diterapkan dalam
konseling kelompok. Ia mengembangkan pendekatan personal dengan menggunakan metode-
metode nonverbal untuk menangani dan mengembangkan diri klien. Klien-klien yang sulit
untuk mengekspresikan diri mereka secara verbal dapat menemukan solusi-solusi alternatif
baru untuk mengekspresikan diri mereka melalui metode nonverbal (Thorne, 1992).
PENTINGNYA PENELITIAN Salah satu kontribusi Rogers dalam dunia psikoterapi adalah
keinginannya untuk mewujudkan konsep-konsep temuannya menjadi hipotesis yang dapat
diuji dan diteliti. Ia membuka bidang ilmu psikoterapi ini menjadi suatu ilmu yang dapat
diteliti. Rogers benar-benar adalah seorang pionir karena keinginan kuatnya untuk meneliti
secara kritis transkrip-transkrip sesi terapi yang ada dan menerapkan teknik-teknik penelitian
ke dalam dialog antara konselor dengan klien (Combs, 1988). Hipotesis dasar Rogers terkait
terapi pendekatan personal menciptakan sejumlah perdebatan dan penelitian dalam dunia
psikoterapi (Cain, 2002a). Bahkan mereka yang mengkritik Rogers tetap menghargai Rogers
karena telah menginspirasi ahli-ahli teoritis lain untuk melakukan penelitian mendalam
terhadap proses dan hasil konseling. Rogers memberikan tantangan dalam ilmu psikologi
untuk mendesain model penelitian saintifik baru yang dapat meneliti pengalaman subyektif
yang ada dalam diri seseorang. Teori terapi dan perubahan kepribadian yang diusungkan
Rogers bersifat sangat empiris, dan meskipun ada banyak kontroversi yang terjadi terkait
pendekatan ini, temuannya tetap berhasil membuat para praktisi dan ahli-ahli teoritis untuk
menguji kembali cara penanganan terapi yang selama ini mereka gunakan. Berlandaskan atas
penelitian-penelitian yang dilakukan Rogers dan kawan-kawannya, “selama 25 tahun
terakhir, teori dan praktik dalam dunia psikoterapi mengalami kemajuan pesat” (Cain, 2002b,
hal. xxii).
PENTINGNYA EMPATI Salah satu kontribusi besar terapi pendekatan personal adalah
adanya implikasi penerapan empat dalam praktik konseling. Terapi pendekatan personal
menunjukkan bahwa empati yang ada dalam diri terapis berperan penting dalam membangun
perubahan dalam diri klien. Tinjauan pustaka komperhensif milik Watson (2002) yang
meninjau literatur-literatur penelitian terkait empati dalam terapi menunjukkan secara
konsisten bahwa empati terapis merupakan faktor yang paling menentukan kemajuan klien
dalam terapi. Empati adalah komponen paling utama penentu keberhasilan terapi dalam
bentuk terapi manapun.
Penelitian terkait pendekatan personal dilakukan atas dasar hipotesis kondisi-kondisi
yang harus dipenuhi demi mencapai perubahan kepribadian dalam diri klien (Cain, 1986,
1987b). Sebagian besar pendekatan konseling yang dibahas dalam buku ini menggabungkan
pentingnya sikap dan perilaku terapis dalam menciptakan hubungan terapi yang kondusif
sesuai dengan pendekatan yang digunakan. Misalnya seperti, pendekatan perilaku kognitif
telah mengembangkan serangkaian strategi yang didesain untuk membantu klien menghadapi
masalah-masalah tertentu dalam hidupnya, dan pendekatan ini menyadari bahwa hubungan
saling percaya dan saling menerima antara klien dengan terapis diperlukan demi keberhasilan
proses terapi. Berbeda dengan pendekatan personal, praktisi pengguna pendekatan perilaku
kognitif mengatakan bahwa hubungan yang sehat antar klien dan terapis saja tidak lah cukup
untuk menghasilkan perubahan. Cara-cara aktif, dengan hubungan kolaboratif, juga
diperlukan untuk menciptakan perubahan.
INOVASI DALAM TEORI PENDEKATAN PERSONAL Salah satu kekuatan terapi
pendekatan personal adalah “pengembangan metode-metode inovatif untuk serangkaian klien
individu, pasangan, keluarga, dan kelompok yang beragam dan kompleks” (Cain, 2002b,
p.xxii). Sejumlah orang berhasil menciptakan kemajuan signifikan yang sesuai dengan nilai
serta konsep dasar terapi pendekatan personal. Tabel 7.1 menggambarkan beberapa innovator
yang berperan penting mengembangkan terapi pendekatan personal.
Rogers sangat menentang “ajaran” pendekatan personal untuk diinstitusikan. Ia juga
tidak menyukai konsep-konsep seperti penginstitusian, sertifikasi, dan pembuatan standar
untuk keanggotaan. Ia merasa takut bahwa institusionalisasi ini dapat menciptakan perspektif
sempit, kaku, dan dogmatis. Jika Rogers (1987a) memberikan saran kepada para pelajar yang
sedang dalam masa pelatihan, ia akan mengatakan: “Hanya ada satu ajaran model terapi yang
terbaik. Dan itu merupakan model terapi yang anda kembangkan untuk diri anda sendiri
sesuai dengan instropeksi kritis dampak yang anda ciptakan dalam hubungan terapi” (hal.
185).
Keterbatasan dan Kritik untuk Pendekatan Personal
Meskipun saya menghargai terapis pengguna pendekatan personal karena
keinginannya untuk menguji secara empiris hipotesis dan prosedur yang mereka gunakan,
beberapa peneliti lain mengkritisi kesalahan-kesalahan metodologis yang ada dalam
penelitian terkait pendekatan personal ini. Penelitian-penelitian ini dianggap melibatkan
kesalahan-kesalahan seperti penggunaan subyek penelitian yang bukan merupakan pasien
terapi, tidak menggunakan grup kontrol yang tidak diberikan penanganan, tidak
memperhitungkan efek placebo, menggunakan laporan pribadi sebagai penilain utama untuk
menentukan hasil terapi, dan penggunaan prosedur-prosedur statistik yang tidak sesuai.
TABEL 7.1
Terapis Yang Berkonribusi Terhadap Pengembangan Teori Pendekatan
Personal
Inovator Kontribusi
Natalie Rogers (1993, Melakukan pelatihan dan mengajarkan terapi seni ekspresif personal
1995)
Virginia Axline (1964, 1969) Memberikan kontribusi signifikan terhadap terapi pendekatan
personal untuk anak-anak dan terapi bermain
Eugene Gendlin (1996) Mengembangkan teknik-teknik eksperensial, seperti pemberian
fokus, sebagai cara untuk meningkatkan pengalaman klien
Laura Rice (Rice & Greenberg (1984),
Mengajarkan terapis untuk menjadi lebih aktif merekreasikan ulang
peristiwa krusial yang terus menghantui diri klien
Peggy Natiello (2001) Mengembangkan isu-isu terkait gender dan kemampuan kolaboratif.
Art
Combs (1988, 1989, 1999) Mengembangkan psikologi perseptual.
Leslie Greenberg dan
colleagues (Greenberg, Korman,
Berfokus pada pentingnya untuk memfasilitasi perubahan emosional
dalam teori dan metode terapi pendekatan personal
& Paivio, 2002; Greenbe
rg
,
Rice, & Elliott, 1993)
David Rennie (1998) Memberikan gambaran proses internal dalam kerja terapi .
Art
Bohart (2003; Bohart & Memberikan pemahaman mendalam terkait empati dalam praktik terapi
Greenberg, 1997; Bohart &
Tallman, 1999)
Jeanne Watson (2002) Menunjukkan bahwa ketika empati diterapkan dalam tingkatan kognitif,
afektif, dan intrapersonal, empati dapat menjadi senjata utama terapis
Dave Mearns dan Brian
Thorne (1999, 2000)
Memberikan pemahaman baru dalam teori dan praktik pendekatan personal dan
menjadi tokoh yang signifikan dalam pengajaran dan pengawasan pendekatan
personal di Britania Raya
C. H. Patterson (1995) Menunjukkan bahwa terapi pendekatan personal adalah sistem
universal psikoterapi.
Mark Hubble, Barry Duncan, dan Scott Miller (1999)
Menunjukkan bahwa hubungan pendekatan personal
merupakan hal utama dalam segala bentuk pendekatan terapi.
Terdapat kemiripan limitasi dalam pendekatan personal dan pendekatan eksistensial
(eksperimental). Kedua model terapi ini sama-sama menekankan peran penggunaan teknik
untuk membantu klien dalam mengubah perilakunya. Para praktisi yang terbiasa
menggunakan psikoterapi manual, atau metode penanganan manual untuk gangguan-
gangguan tertentu, akan merasa terbatas menggunakan pendekatan-pendekatan eksperensial
karena ketidaktahuan mereka terkait teknik-teknik dan strategi pendekatan ini. Para praktisi
yang lebih mendukung praktik terapi yang berlandaskan pada bukti juga tidak akan setuju
dengan pendekatan eksperensial ini.
Sebuah batasan potensial dari pendekatan ini adalah bahwa beberapa siswa dalam training
dan praktisi dengan orientasi pribadi pusat mungkin memiliki kecenderungan untuk menjadi
suportive terhadap klien tanpa menantang. Diluar kesalahpahaman mereka tentang konsep
dasar dari pendekatan ini, beberapa telah membatasi wilayah dari respon dan gaya konseling
mereka pada refleksi dan mendengarkan dengan empati. Meskipun terdapat nilai dalam
mendengarkan seorang klien dan dalam merefleksikan dan mengomunikasikan
kesalahpahaman, konseling mencakup lebih dari pada ini. Saya yakin bahwa kondisi inti dari
terapi itu penting untuk keberhasilan terapi, namun saya tidak melihatnya menjadi kondisi
yang cukup untuk perubahan untuk semua klien sepanjang waktu. Sikap dasar ini merupakan
fondasi dimana konselor kemudian dapat membangun keahlian dalam intervensi terapi.
Tantangan bagi konselor yang menggunakan pendekatan ini adalah bersungguh-
sungguh mendukung kien dalam menemukan jalan mereka sendiri. Konselor kadang
mengalamai kesulitan dalam membiarkan klien memutuskan tujuan khusus mereka sendiri
dalam terapi. Sangat mudah untu berbasa-basi tentnag konsep dari klien menemukan jalan
mereka sendiri, tetapi ia membutuhkan respek yang dipertimbangkan bagi klien dan
keyakinan dalam bagian terapis untuk menyemangati klien untuk mendengarkan diri mereka
sendiri dan mengikuti arah mereka sendiri, khususnya ketika mereka membuat pilihan yang
tidak diharapkan oleh terapis.
Mungkin batasan utama dari pendekatan eksperietal ini adalah sebuah refleksi dari
batasan pribadi terapis (Thorne, 2002b). Karena hubungan terapi sangat penting pada hasil
dari usaha terapi, urusan besar diharapkan dari terapis secara pribadi. Dalam perspektif
Bohart (2003), kebanyakan kesalahan yang dapat dilakukan oleh terapis pribadi pusat atau
ekperiental adalah hasil dari kegagalan untuk menjadi hangat, empati, tulus: memaksakan
sebuah agenda kepada klien: atau gagal untuk disentuh dengan proses momen demi momen”
(p. 126). Ini bukanlah batasan dari teori sebanyak mereka menjadi batasan bagi para
praktisioner.
Kemana setelah ini
Dalam CD-ROM untuk integratif konseling kamu akan melihat sebuah ilustrasi nyata
tentang bagaimana saya juga memandang hubungan terapiutik sebagai pondasi untuk
pekerjaan kita bersama. Mengacu khususnya pada Sesi 1 (“Awal Konseling”), Sesi 2
(“Hubungan Terapiutik”), dan Sesi 3 (“ Membangun Tujuan-Tujuan Terapiutik”) untuk
sebuah demonstrasi tentang bagaimana saya mengaplikasikan prinsip-prinsip dari pendekatan
pribadi-pusat dengan pekerjaan saya bersama Ruth.
Association for the Development of the Person-Centered Approach, Inc.
(ADPCA)
P. O. Box 3876
Chicago, IL 60690-3876
E-mail: enquiries@adpca.org
Website: www.adpca.org
Journal Editor: jonmrose@aol.com
Asosiasi bagi Association for the Development of the Person-Centered Approach
(ADPCA) adalah sebuah organisasi interdisiplin dan internasional yang terdiri dari individu
yang mendukung perkembangan dan aplikasi pendekatan pribadi pusat. Keanggotaan
termasuk sebuah subkripsi pada jurnal Pribadi-Pusat, surat kabar asosiasi, petunjuk
keanggotaan dan informasi tentang pertemuan tahunan. ADPCA juga menyediakan informasi
tentang pendidikan berkelanjutan dan supervisi juga pelatihan dalam pendekatan pribadi-
pusat. Untuk informasi mengenai Journal Pribadi-Pusat, hubungi editor (Jon Rose).
Association for Humanistic Psychology
1516 Oak Street #320A
Alameda, CA 94501-2947
Telephone: (510) 769-6495
Fax: (510) 769-6433
E-mail: AHPOffi ce@aol.com
Website: www.ahpweb.org
Journal Website: http://jhp.sagepub.com
The Association for Humanistic Psychology (AHP) dikembangkan untuk mempromosikan
intergritas personal, pembelajaran kreaif, dan tanggung jawab aktik dalam memeluk
tantangan sebagai manusia di masa ini. Informasi tentang Journal of HumanisticPsychology
tersedia dari The Association for Humanistic Psychology atau pada laman penerbit.
Carl Rogers: A Daughter’s Tribute
Website: www.nrogers.com
CD-ROM Carl Roger merupakan sebuah arsip yang cantik secara visual juga tahan lama
tentang hidup dan pekerjaan dari pendiri psikologi humanistik. Ia memasukkan kutipan dari
16 buku, lebih dari 120 foto kehidupannya, dan video pemenangan penghargaannya dari dua
kelompok penemu dan sesi konseling awal Carl. Ini adalah sumber belajar yang penting bagi
siswa, guru, perpustakaan, dan universitas. Ini merupakan tribut yang besar bagi satu dari
pemikir yang paling penting, psikologis berpengaruh, dan aktivis perdamaian abad ke 20.
Dikembangkan untuk Natalie Rogers PhD, oleh Mindgarden Media, Inc.
Center for Studies of the Person
1150 Silverado, Suite #112
La Jolla, CA 92037
Telephone: (858) 459-3861
E-mail: centerfortheperson@yahoo.com
Website: www.centerfortheperson.org
The Center for Studies of the Person (CSP) menyediakan workshop, seminar pelatihan,
kelompok kecil eksperiental, dan berbagi pelajaran dalam pertemuan komunitas. The
Distance Learning Project and the Carl Rogers Institute for Psychotherapy Training and
Supervision menyediakan pelatihan dan supervisi ekperiental dan didaktis bagi para
profesional yang tertarik dalam mengembangkan orientasi pribadi-pusat mereka.
Saybrook Graduate School
E-mail: admissions@saybrook.edu
Website: www.nrogers.com
Untuk pelatihan dalam terapi seni ekspresif, anda bisa mengikuti program sertifikat dari
Natalie Rogers PhD, dan Shelle Davis, MA di Saybrook Graduate School dalam pelajaran
mereka, Perubhan Sosal dan Penyembuahn Seni Ekspresif : Pendektan Pribadi-Pusat”.
Program sertifikat 16 unit menckup 6 minggu berbeda selama dua tahun di pusat pengasingan
San Fransisco. Rogers dan Davis menawarkan seni ekpresi di dalam kerangka konseling
pribadi-pusat. Mereka menggunakan demonstrasi konseing, sesi konseling praktik, membaca,
diskusi, tugasm dan proyek kreaif untuk mengajarkan metode teoritikal dan eksperiental.
BACAAN TAMBAHAN YANG DISARANKAN
On Becoming a Person (Rogers, 1961)
adalah salah satu dari sumber utama
terbaik utnu bacaan lanjutan dalam terapi
pribadi pusat. Ini merupakan koleksi dari
artikel Rogers dalam proses psikoterapi,
hasilnya, hubungan terapiutik, pendidikan,
kehidupan keluarga, komunikasi, dan sifat
dari orang sehat.
A Way of Being (Rogers, 1980) berisi seri
tulisan dari pengalaman pribadi dan
pandangan Rogers, juga bab-bab tentang
fondasi dan aplikasi dari pendekatan
pribadi-pusat.
The Creative Connection: Expressive Arts
as Healing (N. Rogers, 1993) adalah
sebuah buku yang praktikal yang
diilustrasikan dengan warna dan foto aksi
dan berisi ide segar untuk menstimulasikan
kreativitas, ekspresi diri, penyembuhan,
dan transformasi. Natalie Rogers
menggabungkan filosofi dari ayahnya
dengan seni ekspresif untuk meningkatkan
komunikasi antara terapis dan klien.
Humanistic Psychotherapies: Handbook of
Research and Practice (Cain & Seeman,
2002) menyediakan sebuah diskusi
komprehensif yang berguna dalam terapi
pribadi-pusat, terapi Gestalt, dan terapi
eksistensial. Buku ini mencakup bukti
penelitian bagi teori pribadi-pusat.
The Carl Rogers Reader (Kirschenbaum &
Henderson, 1989)mencakup banyak
pilihan bacaan bagi siswa oleh Carl
Rogers.
On Becoming Carl Rogers (Kirschenbaum,
1979) adalah biografi dari Carl Rogers.
Freedom to Learn (Rogers & Freiberg,
1994) membahas nilai-nilai inti yang
dibutuhkan untuk mengubah sekolah
tradisional menjadi sekolah yang
memiliki potensi untuk menjadi pusat
yang menghargai kebebasan untuk
belajar. Buku ini menunjukkan
bagaimana kondisi terapi inti dapat
diterapkan pada proses belajar
mengajar.
REFERENSI DAN BACAAN YANG DISARANKAN
AXLINE, V. (1964). Dibs: In search of self.
New York: Ballantine.
AXLINE, V. (1969). Play therapy (Rev.
ed.). New York: Ballantine.
*BOHART A. C. (2003). Person-centered
psychotherapy and related experiential
approaches. In A. S. Gurman & S. B.
Messer (Eds.), Essential
psychotherapies: Theory and practice
(2nd ed., pp. 107148). New York:
Guilford Press.
*BOHART, A. C., & GREENBERG, L. S.
(Eds.). (1997). Empathy reconsidered:
New directions in psychotherapy.
Washington, DC: American
Psychological Association.
*BOHART, A. C., & TALLMAN, K.
(1999). How clients make therapy
work: The process of active self-
healing. Washington, DC: American
Psychological Association.
*BOY, A. V., & PINE, G. J. (1999). A
person-centered foundation for
counseling and psychotherapy (2nd
ed.). Springfield, IL: Charles C
Thomas.
*BOZARTH, J. D., ZIMRING, F. M., &
TAUSCH, R. (2002). Client-centered
therapy: The evolution of a revolution.
In D. J. Cain & J. Seeman (Eds.),
Humanistic psychotherapies:
Handbook of research and practice
(pp. 147188). Washington, DC:
American Psychological Association.
BROADLEY, B. T. (1997). The
nondirective attitude in client-centered
therapy. The Person-Centered Journal,
4(1), 1830.
BROADLEY, B. T. (1999). The actualizing
tendency concept in client-centered
theory. The Person-Centered Journal,
6(2), 108120.
BROADLEY, B. T. (2000). Personal
presence in client-centered therapy.
The Person-Centered Journal, 7(2),
139149.
CAIN, D. J. (1986). Editorial: A call for the
“write stuff.” Person-Centered
Review, 1(2), 117124.
CAIN, D. J. (1987a). Carl Rogers’ life in
review. Person-Centered Review, 2(4),
476506.
CAIN, D. J. (1987b). Carl R. Rogers: The
man, his vision, his impact. Person-
Centered Review, 2(3), 283288.
CAIN, D. J. (1987c). Our international
family. Person-Centered Review, 2(2),
139149.
*CAIN, D. J. (2002a). Defining
characteristics, history, and evolution
of humanistic psychotherapies. In D. J.
Cain & J. Seeman (Eds.), Humanistic
psychotherapies: Handbook of
research and practice (pp.354).
Washington, DC: American
Psychological Association.
CAIN, D. J. (2002b). Preface. In D. J. Cain
& J. Seeman (Eds.), Humanistic
psychotherapies: Handbook of
research and practice (pp. xixxxvi).
Washington, DC: American
Psychological Association.
*CAIN, D. J. (2008). Person-centered
therapy. In J. Frew & M. D. Spiegler
(Eds.), Contemporary psychotherapies
for a diverse world (pp. 177227).
Boston: Lahaska Press.
*CAIN, D. J., & SEEMAN, J. (Eds.).
(2002). Humanistic psychotherapies:
Handbook of research and practice.
Washington, DC: American
Psychological Association.
COMBS, A. W. (1988). Some current issues
for person-centered therapy. Person-
Centered Review, 3(3), 263276.
COMBS, A. W. (1989). A theory of therapy:
Guidelines for counseling practice.
Newbury Park, CA: Sage.
COMBS, A. W. (1999). Being and
becoming. New York: Springer.
COREY, G. (2008). Theory and practice of
group counseling (7th ed.). Belmont,
CA: Brooks/Cole.
COREY, G. (2009). Case approach to
counseling and psychotherapy (7th
ed.). Belmont, CA: Brooks/Cole.
FARBER, B. A. (1996). Introduction. In B.
A. Farber, D. C. Brink, & P. M.
Raskin (Eds.), The psychotherapy of
Carl Rogers: Cases and commentary
(pp. 114). New York: Guilford Press.
FAIRHURST, I. (Ed.). (1999). Women
writing in the person-centred
approach. Ross-on-Wye: PCCS
Books.
*GENDLIN, E. T. (1996). Focusing-
oriented psychotherapy: A manual of
the experiential method. New York:
Guilford Press.
*GLAUSER, A. S., & BOZARTH, J. D.
(2001). Person-centered counseling:
The culture within. Journal of
Counseling and Development, 79(2),
142147.
*GREENBERG, L. S., KORMAN, L. M., &
PAIVIO, S. C. (2002). Emotion in
humanistic psychotherapy. In D. J.
Cain & J. Seeman (Eds.), Humanistic
psychotherapies: Handbook of
research and practice (pp. 499530).
Washington, DC: American
Psychological Association.
*GREENBERG, L. S., RICE, L. N., &
ELLIOTT, R. (1993). Facilitating
emotional change: The moment-by-
moment process. New York: Guilford
Press.
HEPPNER, R. R., ROGERS, M. E., & LEE,
L. A. (1984). Carl Rogers: Reflections
on his life. Journal of Counseling and
Development, 63(l), 1420.
*HUBBLE, M. A., DUNCAN, B. L., &
MILLER, S. D. (Eds.). (1999). The
heart and soul of change: What works
in therapy. Washington, DC:
American Psychological Association.
KEYS, S. (Ed.). (2003). Idiosyncratic
person-centred therapy: From the
personal to the universal. Rosson-
Wye: PCCS Books.
*KIRSCHENBAUM, H. (1979). On
becoming Carl Rogers. New York:
Delacorte Press.
*KIRSCHENBAUM, H., & HENDERSON,
V. (Eds.). (1989). The Carl Rogers
reader. Boston: Houghton Mifflin.
LAGO, C., & SMITH, B. (Eds.). (2003).
Anti-discriminatory counselling
practice. London: Sage.
MEARNS, D. (2003). Developing person-
centred counselling (2nd ed.). London:
Sage.
*MEARNS, D., & COOPER, M. (2005).
Working at relational depth in
counselling and psychotherapy.
London: Sage.
*MEARNS, D., & THORNE, B. (1999).
Person-centred counselling in action
(2nd ed.). London: Sage.
*MEARNS, D., & THORNE, B. (2000).
Person-centred therapy today: New
frontiers in theory and practice.
London: Sage.
MERRY, T. (1999). Learning and being in
person-centred counselling. Ross-on-
Wye: PCCS Books.
*NATIELLO, P. (2001). The person-centred
approach: A passionate presence.
Ross-on-Wye: PCCS Books.
PATTERSON, C. H. (1995). A universal
system of psychotherapy. The Person-
Centered Journal, 2(1), 5462.
RASKIN, N. J., ROGERS, C. R., &
WITTY, M. (2008). Client-centered
therapy. In R. Corsini & D. Wedding
(Eds.), Current psychotherapies (8th
ed., pp. 141186). Belmont, CA:
Brooks/Cole.
RENNIE, D. L. (1998). Person-centered
counseling: An experiential approach.
London: Sage.
RICE, L. N., & GREENBERG, L. (1984).
Patterns of change. New York:
Guilford Press.
ROGERS, C. (1942). Counseling and
psychotherapy. Boston: Houghton
Mifflin.
ROGERS, C. (1951). Client-centered
therapy. Boston: Houghton Mifflin.
ROGERS, C. (1957). The necessary and
sufficient conditions of therapeutic
personality change. Journal of
Consulting Psychology, 21, 95103.
*ROGERS, C. (1961). On becoming a
person. Boston: Houghton Mifflin.
ROGERS, C. (1967). The conditions of
change from a client-centered
viewpoint. In B. Berenson & R.
Carkhuff (Eds.), Sources of gain in
counseling and psychotherapy. New
York: Holt, Rinehart & Winston.
ROGERS, C. (1970). Carl Rogers on
encounter groups. New York: Harper
& Row.
ROGERS, C. (1977). Carl Rogers on
personal power: Inner strength and its
revolutionary impact. New York:
Delacorte Press.
*ROGERS, C. (1980). A way of being.
Boston: Houghton Mifflin.
ROGERS, C. (1986a). Carl Rogers on the
development of the person-centered
approach. Person-Centered Review,
1(3), 257259.
ROGERS, C. (1986b). Client-centered
therapy. In I. L. Kutash & A. Wolf
(Eds.), Psychotherapists casebook (pp.
197208). San Francisco: Jossey-Bass.
ROGERS, C. R. (1987a). Rogers, Kohut,
and Erickson: A personal perspective
on some similarities and differences.
In J. K. Zeig (Ed.), The evolution of
psychotherapy (pp. 179187). New
York: Brunner/Mazel.
ROGERS, C. R. (1987b). Steps toward
world peace, 19481986: Tension
reduction in theory and practice.
Counseling and Values, 32(1), 1216.
ROGERS, C. R. (1987c). The underlying
theory: Drawn from experiences with
individuals and groups. Counseling
and Values, 32(l), 3845.
*ROGERS, C. R., & FREIBERG, H. J.
(1994). Freedom to learn (3rd ed.).
Upper Saddle River, NJ: Prentice-
Hall.
*ROGERS, C. R., & RUSSELL, D. E.
(2002). Carl Rogers: The quiet
revolutionary. Roseville, CA:
Penmarin Books.
*ROGERS, N. (1993). The creative
connection: Expressive arts as
healing. Palo Alto, CA: Science &
Behavior Books.
*ROGERS, N. (1995). Emerging woman: A
decade of midlife transitions.
Manchester, UK: PCCS Books.
ROGERS, N. (2004). Expressive arts for
peace: Using the creative process to
connect to the world. Association for
Humanistic Psychology Perspective,
pp. 1012.
ROGERS, N., MACY, F., &
FITZGERALD, C. (1990). Fostering
creative expression in the Soviet
Union. New Realities, pp. 2834.
SOMMERS-FLANAGAN, J. (2007). The
development and evolution of person-
centered expressive art therapy: A
conversation with Natalie Rogers.
Journal of Counseling and
Development, 85(1), 120125.
TALLMAN, K., & BOHART, A. C. (1999).
The client as a common factor: Clients
as self-healers. In M. A. Hubble, B. L.
Duncan, & S. D. Miller (Eds.), The
heart and soul of change: What works
in therapy (pp. 91131). Washington,
DC: American Psychological
Association.
*THORNE, B. (1992). Carl Rogers.
London: Sage.
*THORNE, B. (2002a). The mystical power
of personcentred therapy: Hope
beyond despair. London: Whurr
Publishers.
THORNE, B. (2002b). Person-centred
therapy. In W. Dryden (Ed.),
Handbook of individual therapy (4th
ed., pp. 131157). London: Sage.
The top 10: The most influential therapists
of the past quarter-century. (2007,
March-April). Psychotherapy
Networker, 31(1), 2468.
TURSI, M. M., & COCHRAN, J. L. (2006).
Cognitive-behavioral tasks
accomplished in a person-centered
relational framework. Journal of
Counseling and Development, 84(4),
387396.
WARD, F. L. (1994). Client-centered
assessment. The Person-Centered
Periodical, 1(1), 3138.
*WATSON, J. C. (2002). Re-visioning
empathy. In D. J. Cain & J. Seeman
(Eds.), Humanistic psychotherapies:
Handbook of research and practice
(pp. 445471). Washington, DC:
American Psychological Association.
*WATSON, J. C. (Ed.). (2003). Client-
centered and experiential
psychotherapy: Advances in theory
research, and practice. Ross-on-Wye:
PCCS Books.
ZIMRING, F. M., & RASKIN, N. J. (1992).
Carl Rogers and client/person-centered
therapy. In D. K. Freedheim (Ed.),
History of psychotherapy: A century of
change (pp. 629656). Washington,
DC: American Psychological
Association.
BAB DELAPAN
Terapi Gestalt
Pendahuluan
Konsep Kunci
Pandangan Alam Manusia
Beberapa Prinsip Teori Terapi
Gestalt
Masa Kini
Urusan yang belum selesai
Hubungan dan Resistensi dalam
Hubungan
Energi dan Hambatan Energi
Proses Terapi
Tujuan Terapi
Fungsi dan Peran Terapis
Pengalaman Klien dalam Terapi
Hubungan Antara Terapis dan
Klien
Aplikasi: Teknik dan Prosedur
Terapi
Eksperimen dalam Terapi Gestalt
Mempersiapkan Klien untuk
Eksperimen Gestalt
Peran Konfrontasi
Intervensi Terapi Gestalt
Aplikasi untuk Konseling
Kelompok
Terapi Gestalt Dari Perspektif
Multikultural
Kekuatan Dari Perspektif
Keragaman
Kekurangan Dari Perspektif
Keragaman
Terapi Gestalt Diterapkan pada
Kasus Stan
Ringkasan dan Evaluasi
Kontribusi Terapi Gestalt
Keterbatasan dan Kritik terhadap
Terapi Gestalt
Ke mana Pergi Dari Sini
Bacaan Tambahan yang
Direkomendasikan
Referensi dan Bacaan yang
Disarankan
F R I T Z P E R L S
/
L A U R A P E R L S
FREDERICK
S. (FRITZ)
PER
L
S
,
MD,
PhD
(18931970)
merupakan pelopor dan
pengembang terapi Gestalt.
Lahir di Berlin, Jerman, dan
dibesarkan dalam keluarga
Yahudi kelas menengah ke
bawah, ia kemudian
menganggap dirinya
sebagai sumber masalah
bagi kedua orang tuanya.
Meskipun ia dua kali
tinggal kelas ketika ia di
kelas tujuh sekolah dan
dikeluarkan dari sekolah
karena membuat masalah
dengan pihak berwenang,
kepintaran yang dimilikinya
tidak pernah hilang dan ia
pun kembali menyelesaikan
pendidikammua tidak
hanya menyelesaikan
sekolah menengahnya
namun juga mendapatkan
gelar sarjana medis (MD)
dengan spesialisasi di
bidang ilmu psikiatri. Di
tahun 1916 ia menjadi
tentara nasional Jerman dan
menjadi tentara dokter
selama Perang Dunia I.
Pengalamannya menangani
tentara korban pembiusan
membuatnya tertarik
mempelajari cara kerja
mental manusia, yang
kemudian menuntunnya
menuju psikologi Gestalt.
Cou
r
tesy
of
The International
Ges
talt
Jour
nal
Setelah perang usai, Perls bekerja bersama Kurt Goldstein
di Rumah Sakit Goldstein untuk Pasien Tentara korban
Kerusakan Otak di Frankfurt. Melalui asosiasinya dengan
Kurt ini lah ia kemudian menemukan pentingnya untuk
melihat manusia sebagai suatu kesatuan sendiri, bukan
sebagai gabungan beberapa bagian. Melalui hubungannya
dengan Kurt juga ia bertemu dengan istrinya, Laura, yang
mendapatkan gelar PhD nya dari Goldstein. Kemudian ia
pun pindah ke Wina dan memulai pelatihan
psikoanalitiknya. Perls melakukan analisisnya bersama
Wilhelm Reich, seorang psikoanalis yang mempelopori
metode pemahaman diri dan pengembangan kepribadian
melalui tubuh fisik.
Perls dan kawan-kawan mendirikan Institut
Terapi Gestalt di New York pada tahun 1952. Fritz
kemudian meninggalkan New York dan menetap di Big
Sur, Kalifornia, dimana ia melaksanakan pelatihan dan
seminar di Institut Esalen, membangun reputasinya
sebagai innovator dalam ilmu psikoterapi. Di sini ia
memberikan dampak besar ke orang-orang banyak melalui
tulisan-tulisannya, khususnya melalui hubungan personal
yang ia jalin dalam pelatihannya.
Secara pribadi, Perls adalah seseorang yang
misterius. Orang-orang pada umumnya mengagumi atau
melihatnya sebagai orang yang narsis berlebihan.
Kecintaannya terhadap dunia teater sejak kecil membuat ia
menjadi seseorang yang suka unjuk gigi dan tampil di atas
panggung. Dia dipandang sebagai orang yang cemerlang,
dalam, pintar, profokatif, manipulatif, tidak ramah, banyak
maunya, dan inspirasional. Sayangnya, orang-orang yang
mengikuti pelatihannya meniru sisi buruk Perls ini.
Meskipun Perls sebenarnya tidak merasa senang akan hal
ini, ia tidak melarang hal tsb.
Untuk mengetahui hidup Fritz Perls lebih
mendalam, saya menyarankan buku otobiografinya, In and
Out of the Garbage Poll (1969b). Untuk mengetahui
sejarah terapi Gestalt lebih mendalam, lihat Bowman
(2005).
Pendahuluan
*
Terapi Gestalt merupakan pendekatan eksistensial dan fenomenalogis yang
berlandaskan pada pemahaman bahwa diri individu harus dipahami dalam konteks
hubungan yang mereka jalin dengan lingkungan sekitar mereka. Tujuannya adalah agar
klien dapat menyadari apa yang mereka alami dan bagaimana mereka mengalaminya.
Melalui kesadaran ini, perubahan dalam diri klien pun secara otomatis akan terjadi.
Pendekatan ini bersifat fenomenalogis karena pendekatan ini berfokus pada persepsi
realitas dan eksistensial klien karena pendekatan ini didasarkan atas pemahaman bahwa
manusia selalu dalam suatu proses menuju pembentukan ulang, penemuan ulang, dan
aktualisasi dirinya. Sebagai pendekatan eksistensial, terapi Gestalt memberikan perhatian
*
Saya ingin mengucapkan apresiasi pada kontribusi Dr. Ansel Woldt, Profesor Emeritus di Universitas Kent
Sate, dan praktik privat di Kent, Ohie, karena bantuannya untuk memastikan bab ini mengandung
informasi-informasi terbaru.
khusus pada eksistensi diri yang dialami sebagai seorang individu dan pendekatan ini
meyakini adanya kapasitas dalam diri manusia untuk tumbuh dan menyembuhkan dirinya
melalui hubungan dan pencerahan intrapersonal (Yontef, 1995). Singkatnya, pendekatan
ini berfokus pada momen ini dan sekarang, pada apa dan bagaimana, serta pada hubungan
Saya/Kamu (Brown, 2007; Yontef & Jacobs, 2008).
LAURA POSNER PE
R
L
S
,
P
hD
(
1905
1990
)
lahir di
Pforzheim, Jerman, anak
perempuan dari kedua
orangtua kelas atas
.
Ia
mulai bermain piano di usia
5 tahun dan menjadi seorang
pemain profesional ketika ia
berusia 18 tahun. Sejak ia
berusia 8 tahun, ia sudah
mulai terlibat dalam dunia
tarian moderen, dan baik
musik maupun tarian
moderen menjadi bagian
vital dalam hidupnya dan
menjadi bagian proses
terapinya menangani klien.
Ketika Laura memulai
karirnya sebagai psikoanalis
ia sudah membangun
karirnya sebagai seorang
pianis, lulus sekolah hukum,
dan memperoleh gelar
doctor dalam bidang ilmu
psikologi Gestalt, serta ia
pun telah melakukan studi
mendalam terhadap filsafat-
filsafat eksistensial bersama
Paul Tillich dan Martin
Buber. Sehingga, Laura
sudah memiliki banyak
pengalaman ketika ia
bertemu dengan Fritz di
tahun 1926, dan mereka pun
memulai kolaborasi mereka
yang kemudian
menghasilkan fondasi teoritis
terapi Gestalt. Laura dan
Fritz menikah di tahun 1930
dan memiliki dua orang anak
ketika ia tinggal di Afrika
Selatan.
Laura terus menjadi pendukung Institut Terapi
Gestalt di New York setelah Fritz meninggalkan
keluarganya untuk keliling dunia menjadi penyebar
terapi Gestalt. Laura juga memberikan kontribusi
signifikan terhadap pengembangan pergerakan
terapi Gestalt di Amerika Serikat dan seluruh dunia
(meskipun dengan cara-cara yang sangat berbeda)
sejak tahun 1940-an hingga kematiannya di tahun
1990. Laura menjelaskan bahwa Fritz adalah
seorang pencetus, bukan pengembang atau
pengatur. Di ulang tahun Institut Terapi Gestalt
New York yang ke-25, Laura Perls (1990)
mengatakan; “Tanpa adanya dukungan dari saya
dan teman-temannya, tanpa adanya dorongan untuk
melakukan kolaborasi, Fritz tidak akan pernah
menulis atau bahkan menghasilkan apapun” (hal.
18).
Laura sangat menekankan adanya
hubungan komunikasi dan dukungan dalam proses
terapi, di mana Fritz lebih memperhatikan
fenomena-fenomena intrafisik dan lebih berfokus
pada kesadaran diri. Karena Laura menekankan
adanya hubungan komunikasi dalam terapi, hal ini
kemudian menandakan pentingnya peranan
hubungan intrapersonal dalam terapi, sedangkan di
masa itu, terapi Gestalt dikenal karena terapi ini
menekankan rasa tanggung jawab pada diri sendiri.
Ia memperbaiki beberapa perilaku-perilaku
berlebihan yang dilakukan atas nama terapi Gestalt
dan berpedomam pada prinsip dasar teori terapi
Gestalt seperti yang ditulis dalam Gestalt Therapy:
Excitement and Growth in the Human Personality
(Perls, Hefferline, & Goodman, 1951). Ia
mengajarkan bahwa tiap-tiap terapis Gestalt harus
mengembangkan gaya terapinya sendiri. Menurut
perspektifnya, hal apapun yang terintegrasi dalam
kepribadian kita membantu kita untuk
menggunakan teknik terapi kita sendiri (Humphre,
1986).
Cou
r
tesy
of
The International
Ges
talt
Jour
nal
Berbeda dengan cara Perls melakukan
penanganan, terapi Gestlat kontemporer
memberikan penekanan khusus pada dialog
fan hubungan yang terjalin antara klien dan
terapis, yang kadang-kadang juga disebut
sebagai terapi Gestalt relasional.
Mengikuti tuntunan Laura Perls dan
“sekolah Cleveland” ketika Erving dan
Miriam Poster dan Joseph Zinker di tahun
1960an, model ini mencakup lebih banyak
dukungan dan kebaikan serta kasih saying
dalam terapi daripada gaya Fritz Perls yang
konfrontasional dan dramatis (Yontef,
1999). Sebagian besar terapis Gestalt
menerapkan gaya terapi yang bersifat
suportif, menerima, empatik, dialogis, dan
menantang. Penekanan proses terapi
diberikan terhadap kualitas hubungan
terapis-klien dan penyesuaian empatik
ketika mendalami diri klien (Cain, 2002).
Meskipun Fritz Perls dipengaruhi
oleh konsep-konsep psikoanalisis, ia
memiliki perbedaan pandangan dengan teori
Freud dalam sejumlah aspek. Pandangan
Freud melihat manusia secara mekanistik,
sedangkan Perls menekankan pendekatan
holistik terhadap kepribadian diri manusia.
Freud berfokus pada konflik-konflik
intrafisik dalam diri sejak kecil, sedangkan
Perls lebih mengutamakan untuk
menganalisis situasi yang dihadapi sekarang.
Pendekatan Gestalt lebih berfokus pada
proses daripada konten. Para terapis
menciptakan eksperiman yang didesain
untuk meningkatkan kesadaran klien
mengenai hal apa yang mereka perbuat dan
bagaimana mereka melakukan perbuatan
tersebut. Perls mengatakan bahwa orang-
orang harus lebih mengutamakan untuk
berperilaku selaras dengan momen sekarang
daripada memahami alasan mengapa diri
mereka berperilaku seperti itu. Kesadaran
umumnya berarti pencerahan dan kadang-
kadang introspeksi, tapi terapis Gestalt
menganggap kesadaran lebih dari itu.
Penerimaan diri, mengenal
lingkungan, rasa tanggung jawab untuk
membuat keputusan, dan kemampuan untuk
menjalin hubungan di lingkungan sekitar
mereka (suatu sistem intra-hubungan
dinamis) dengan orang-orang di dalamnya
merupakan proses dan tujuan kesadaran
yang terpenting, di mana semua ini
didasarkan atas momen pengalaman
sekarang dan di sini yang selalu berubah.
Klien diharapkan untuk aktif melihat,
merasakan, mengindera, dan
menginterpretasi diri mereka sendiri
daripada menunggu terapis dengan pasif
untuk memberikan mereka pencerahan dan
jawaban.
Terapi Gestalt lebih mengutamakan
pengalaman langsung daripada
membicarakn situasi yang dialami.
Pendekatan ini bersifat eksistensial di mana
klien menyadari dengan apa dan bagaimana
mereka berpikir, merasakan, berperilaku
ketika mereka berinteraksi dengan terapis.
Para praktisi Gestalt mengutamakan diri
mereka untuk ada seutuhnya selama proses
terapi karena mereka percaya bahwa
pertumbuhan klien akan tercipta dari
hubungan tulus yang dijalin antara klien dan
terapis.
Konsep-Konsep Utama
Pandangan terkait Sifat Manusia
Fritz Perls (1969a)
menerapkan terapi Gestalt secara
paternalistic. Klien harus mendewasakan
dirinya dan berdiri sendiri, dan “menghadapi
masalah hidupnya sendiri” (hal. 225). Gaya
Perls melakukan terapi melibatkan dua
agenda pribadi: memindahkan klien dari
lingkungan yang nyaman ke dalam
lingkungan mandiri dan memisahkan
bagian-bagian kepribadian seseorang yang
tidak dianggap. Pemahamannya terkait sifat
manusia dan kedua agenda ini menghasilkan
beragam teknik dan gaya terpinya sendiri
yang konfrontasional. Ia paling ahli
membuat klien merasa frustrasi dengan
sengaja demi meningkatkan kesadaran
mereka.
Pandangan Gestalt mengenai sifat
manusia berakar dari filsafat eksistensial,
fenomenalogis, dan teori lapangan.
Pengetahuan yang utuh merupakan hasil dari
apa yang terlihat oleh pengalaman subyektif
penerima. Tujuan terapi bukan untuk
menganalisis atau menginstropeksi tapi
terapi ditujukan untuk peningkatan
kesadaran dan hubungan dengan
leingkungan. Lingkungan ini terdiri atas
lingkungan internal dan eksternal. Kualitas
hubungan yang dijalin dengan dunia
eksternal (misalnya, dengan orang-orang
lain) dan dunia internal (contohnya, dengan
bagian diri yang tidak dianggap) ini
kemudian diawasi. Proses untuk “memiliki
kembali” bagian-bagian dalam diri yang
sebelumnya diabaikan dan proses penyatuan
ini dilakukan secara bertahap hingga klien
cukup kuat untuk menuntun diri mereka
menuju pertumbuhan diri mereka sendiri.
Dengan meningkatkan kesadaran diri
mereka, klien kemudian dapat untuk
membuat keputusan secara sadar sehingga
mereka bisa memiliki eksistensi yang lebih
bermakna.
Asumsi dasar terapi Gestalt adalah
bahwa tiap orang memiliki kemampuan
untuk mengatur diri mereka ketika mereka
sadar akan apa yang terjadi dalam diri dan di
sekeliling mereka. Terapi menjadi wadah
dan kesempatan untuk mengembalikan dan
mengembangkan kesadaran tersebut. Jika
terapis dapat menempatkan dirinya ke dalam
diri klien dan yakin pada proses terapi yang
dilakukan, maka klien akan meningkatkan
kesadaran diri, hubungan, dan integrasi diri
mereka (Brown, 2007). Teori Gestal tentang
perubahan mengusulkan sebagai fakta
bahwa semakin kita berusaha untuk menjadi
seseorang atau sesuatu yang bukan diri kita,
semakin kita menjadi sama saja. Sahabat dan
kolega psikiater dari Fritz, Arnie Beisser
(1970) menyarankan bahwa perubahan
otentik muncul ketika kita menjadi diri kita
sendiri dari pada berusaha pada hal yang
tidak kita bisa. Berdasarkan teori paradoks
perubahan, kita berubah ketika kita sadar
akan siapa kita sebagai lawan dari usaha
untuk berusaha pada hal yang tidak kita bisa.
Penting bagi klien untuk “menjadi” sepenuh
mungkin pada kondisi mereka saat ini, dari
pada berjuang untuk “seharusnya menjadi”.
Terapis Gestalt berfokus dalam menciptakan
kondisi yang mempromosikan pertumbuhan
klien daripada bergantung pada terapis
mengarahkan perubahan (Yontef, 2005).
Menurut Breshgold (1989), Beisser melihat
peran terapis untuk membantu klien
meningkatkan kesadaran, yaitu
memfasilitasi reidentifikasi dengan bagian
dari diri dimana dia terasingkan.
Beberapa prinsip dari teori terapi Gestalt
Beberapa prinsip dasar yang mendasari
terapi Gestal disejalskan secara singkat pada
bagian : holisme, teori lapangan, proses
figur-formasi, dan aturan diri organisimik.
Konsep kunci lain dari terapi Gestal
dikembangkan lebih rinci pada bagian
berikutnya.
HOLISME Gestalt adalah kata dalam bahasa
Jerman yang berarti keseluruhan atau
kelengkapan, atau sebuah bentuk yang tidak
dapat dipisahkan menjadi bagian-bagian
tanpa kehilangan esensinya. Segala sifat
dipandang sebagai sebuah kesatuan, dan
kesatuan tersebut berbeda dari kumpulan
bagian-bagiannya. Karena terapi Gestalt
tertarik pada sosok pribadi secara
keseluruhan, mereka tidak menempatkan
nilai superior pada aspek khusus individu.
Praktik Gestalt memberi perhatian pada
pikiran, perasaan, perilaku, tubuh, memori,
dan mimpi dari klien. Penekanan mungkin
pada seorang figur (aspek dari pengalaman
individu yang lebih menonjol dalam keadaan
apapun). Tanda dari latar belakang ini dapat
ditemukan dipermukaan melalui gestur fisik,
nada suara, tingkah laku, dan konten non-
verbal lainnya. Hal ini sering mengacu pada
terapis Gestalt sebagai “menghadiri
kenyataan”, dan memberikan perhatian pada
bagaimana tiap bagian tersusun bersama,
bagaimana individu memiliki kontak dengan
lingkungan, dan integrasi.
TEORI LAPANGAN terapi Gestal
didasarkan pada teori lapangan, yang
berdasar pada prinsip bahwa organisme
harus dilihat di lingkungannya, atau dalam
konteknya, sebagai bagian dari lapangan
yang berubah secara konstan. Terapi Gestalt
bersandar pada prinsip bahwa semuanya
relasional, dalam perubahan yang terus
menerus, saling berhubungan, dan dalam
proses. Terapis Gestalt memberi perhatian
pada dan mengeksplor apa yang muncul
pada batasan antara pribadi dan lingkungan.
Faktanya, Parlett (2005) menuliskan:
lapangan telah menjadi salah satu dari istilah
yang paling sering digunakan dalam literatur
Gestalt saat ini... Lapangan adalah situasi
menyeluruh dari terapis, klien, dan segala
yang terjadi di antara mereka. lapangan
dibuat dan dibuat kembali secara konstan”
(p. 43).
PROSES FIGUR-FORMASI diturunkan
dari lapangan persepsi visual oleh
sekelompok psikolog Gesta, proses figur-
formasi menggambarkan bagaimana
individu mengorganisasikan pengalaman
dari waktu ke waktu. Dalam terapi Gestalt,
lapangan dibagi kedalam bagian depan
(figur) dan latar belakang (dasar).
Proses figur-formasi mengikuti bagai
beberapa aspek dari lapangan lingkungan
timbul dari latar belakang dan menjadi titik
fokus dari perhatian dan ketertarikan
individu. Kebutuhan dominan dari individu
pada waktu tertentu mempengaruhi proses
ini (Frew, 1997).
REGULASI DIRI ORGANISMIK Proses
figur-formasi berhubungan dengan prinsip
regulasi diri organismik, sebuah proses
dimana equilibrum “diganggu” oleh
kegentingan sebuah kebutuhan, sensasi, atau
ketertarikan. Organisme akan melakukan
yang terbaik untuk mengatur diri mereka,
memberikan kemampuan dan sumber daya
lingkungan mereka (Latner, 1986). Individu
dapat mengambil tindakan dan membuat
hubungan yang akan mengembalikan
equilibrum atau berkontribusi pada
pertumbuhan dan perubahan. Apa yang
termasuk dalam terapi dihubungkan dengan
pada apa yang menjadi ketertarikan atau
kebutuhan klien untuk dapat mengambil
kembali rasa equilibrum. Terapis Gestalt
mengarahkan kesadaran klien pada figur-
figur yang muncul dari latar belakang
selama sesi terapi dan menggunakan proses
figur-formasi sebagai pembimbing untuk
fokus dalam pekerjaan terapiutik. Tujuannya
adalah membantu klien untuk memperoleh
penutupan dari situasi yang tak
terselesaikan, menghancurkan gestalt yang
telah ditetapkan, dan menggabungkan gestalt
yang lebih memuaskan.
SEKARANG
Salah satu kontribusi utama dari pendekatan
Gestalt adalah penekanannya pada
pembelajaran untuk mengapresiasi dan
sepenuhnya mengalami momen saat ini.
Berfokus pada pasa lalu dan masa depan
dapat menjadi sebuah cara untuk
menghindari apa yang diistilahkan dengan
masa kini. Polster dan Polster (1973)
mengembangkan tesis bahwa kekuatan itu
ada di masa sekarang”. Ini adalah
kecenderungan umum bagi klien untuk
menginvestasikan energi mereka dalam
meratapi kesalahan masa lalu mereka dan
merenungkan bagaimana kehidupan mereka
akan menjadi berbeda atau terlibat dalam
resolusi tiada akhir dan rencana akan masa
depan. Ketika klien mengarahkan energi
mereka menuju apa yang telah atau mungkin
akan terjadi atau hidup dalam fantasi tentang
masa depan, kekuatan dari masa kini pun
menghilang.
Penyelidikan fenomenologikal mencakup
pemberian perhatian pada apa yang terjadi
saat ini. Untuk membantu klien membuat
kontak dengan masa kini, Gestalt terapi
menanyakan pertanyaan “apa” dan
“bagaimana”, dan jarang menanyakan
pertanyaan “mengapa”. Untuk
mempromosikan kesadaran “sekarang”,
terapis mendukung dialog dalam bentuk
masa kini dengan memberikan pertanyaan
seperti: apa yang terjadi sekarang” apa
yang sedang terjadi?” “apa yang sedang
kamu alami ketika kamu duduk di sana dan
ingin berbicara?” “apa kesadaranmu saat
ini?” bagaimana kamu saat ini mengalami
ketakutanmu?” “bagaimana kamu berusaha
untuk mundur saat ini?”
Kebanyakan orang dapat tinggal di
masa kini hanya pada waktu singkat dan
cederung menemukan cara untuk
menginterupsi aliran masa kini. Bukannya
mengalami perasaan mereka di sini dan
sekarang, klien sering membicarakan
tentang perasaan mereka, hampir sama
seperti perasaan mereka lepas dari
pengalaman masa kini. Salah satu tujuan
dari terapi Gestalt adalah untuk membantu
klien menjadi sadar akan pengalaman masa
kini mereka. Sebagai contoh, jika Josepehine
mulai berbicara tengan kesedihan, rasa sakit,
atau kebingungan, terapis Gestalt bertujuan
untuk membuatnya merasakan kesedihan,
rasa sakit, atau kebingungan saat ini. Ketika
dia mencapai pengalaman saat ini, terapis
mengukur bagaimana kebingungan atau
ketidaknyamanan hadir dan memilih
intervensi lebih lanjut yang sesuai. Terapis
mungkin memilih untuk membiarkan
Josephine melarikan diri dari masa ini,
hanya untuk memperpanjang undangan lain
beberapa menit kemudian. Jika sebuah
perasaan muncul, terapis mungkin
menyarankan sebuah percobaan yang akan
membantu Josephine untuk menjadi lebih
sadar akan perasaan, mengeksplor dimana
dan bagaimana dia merasakannya, apa yang
terjadi padanya, dan pilihan yang ada untuk
mengubahnya jika ini tidak nyaman. Sama
halnya, jika sebuah pikiran atau ide muncul,
menjelaskan sebuah eksperimen dapat
membantunya menyelidiki pikiran,
mengeksplore sepenuhnya, dan
mempertimbangkan efek dan percabangan
yang mungkin.
Terapis Gestalt mengenali bahwa
masa lalu akan membuat penampakan
reguler di masa kini, biasanya karena
kurangnnya penyelesaian akan pengalaman
masa lalu. Ketika masa lalu nampak
memiliki beban khusu pada sikap dan
perilaku klien saat ini, ini berhubungan
dengan membawanya kedalam masa kini
sebanyak mungkin. Ketika klien berbicara
tentang masa lalu mereka, terapis dapat
menanyai mereka untuk melakukannya
kembali seolah-olah mereka hidup
didalamnya saat ini. Terapis mengarahkan
klien untuk “membawa fantasi ke sini” atau
beritahu aku mimpi yang seolah kamu
miliki saat ini”, berusaha untuk membantu
mereka mengenang apa yang mereka alami
sebelumnya. Sebagai contoh, bukannya
membicarakan tentang trauma di masa kecil
dengan ayahnya, seorang klien menjadi anak
kecil yang tersakiti dan berbicara secara
langsung dengan ayahnya dalam fantasi,
atau dengan membayangkannya hadir di
dalam ruangan di sebuah kursi kosong.
Salah satu cara untuk membawa
kekuatan kedalam sesi terapi adalah untuk
memberi perhatian ke dalam kesegaran dan
kualitas dari hubungan antara terapis dan
klien. Untuk belajar lebih tentang fokus di
sini-sekarang pada terapi Gestalt, saya
menyarankan Yalom (2003), Reynolds
(2005), dan Lampert (2003). Selain itu,
windowframes (Mortola, 2006) berisi ide
yang banyak untuk fokus pada masa kini dan
memberikan energi hubungan dalam latihan
dan superisi dari terapis.
Urusan yang tidak selesai
Ketika figur-figur muncul dari latar
belakang tetapi tidak terlengkapi dan
terselesaikan, individu ditinggalkan dengan
urusan yang tidak terselesaikan, diamna
dapat terwujud dalam perasaan yang tidak
diekspresikan seperti dendam, kemarahan,
kebencian, rasa sakit, kebingungan,
kesedikan, rasa bersalah, dan ditinggalkan.
Karena perasaan tidak sepenuhnya di alami
secara sadar, mereka tak mau pergi di dalam
latar belakang dan dibawa ke kehidupan
masa kini dalam jalan yang mengganggu
hubungan efektif dengan diri sendiri dan
orang lain: arah yang tidak lengkap ini
mencari kelengkapan dan ketika mereka
menjadi cukup bertenaga, individu
menyerang dengan senang, perilaku
kompulsif, kekhawatiran, energi opresif dan
perilaku merusak diri” (Polster & Polster,
1973, p 36). Urusan yang tak selesai
bertahan hingga individu menghadapi dan
berhadapan dengan perasaan yang tak
terekspresikan. Efek dari urusan tak
terselesaikan sering muncul dalam bberapa
halangan di dalam tubuh. Terapis Gestalt
menekankan pemberian perhatian pada
pengalaman jasadiah pada asumsi bahwa
jika perasaan tidak diekspresikan, mereka
cenderung muncul dalam beberapa sensasi
atau masalah fisik.
Perasaan yang tidak dikenali
menciptakan runtuhan emosi yang tidak
penting yang mengacaukan kesadaran masa
kini. Sebagai contoh, dalam kasus Stan, dia
tidak pernah sunggung merasa dicintai dan
diterima oleh ibunya dan menyisakan
perasaan bahwa dia tidak cukup. Untuk
mengelakkan kebutuhan akan pembuktian di
masa kini, Stan dapat melihat pada wanita
untuk konfirmasinya atau keberhargaan
sebagai seorang manusia. Dalam
mengembangkan keberagaman permainan
untuk mendapatkan wanita untuk
membuktikannya, Stan melaporkan bahwa
dia masih tidak puas. Urusan yang tidak
terselsaikan mencegahnya dari keakraban
autentik dengan wanita karena
kebutuhannya adalah sebagai seorang anak
daripada sebagai orang dewasa. Stan perlu
kembali ke persoalan lama dan
mengungkapkan perasaan kecewa yang
tidak diakui untuk mengakhiri masalahnya.
Dia harus mentolerir perasaan tidak nyaman
yang menyertai dalam mengenali dan
mengatasi kebuntuan ini.
Kebuntuan, atau titik macet, adalah
masa ketika dukungan eksternal tidak
tersedia atau cara yang biasa tidak berfungsi.
Tugas terapis adalah untuk menemani klien
dalam mengalami kebuntuan tanpa
menyelamatkan atau membuat mereka
frustrasi. Konselor membantu klien dengan
menyediakan situasi yang mendorong
mereka untuk sepenuhnya mengalami
kondisi buntu. Dengan sepenuhnya
mengalami kebuntuan, mereka dapat
berhubungan dengan frustrasi mereka dan
menerima apa pun itu, daripada berharap
bahwa mereka berbeda. Terapi Gestalt
didasarkan pada gagasan bahwa individu
memiliki perjuangan menuju aktualisasi dan
pertumbuhan dan bahwa jika mereka
menerima semua aspek diri mereka sendiri
tanpa menilai dimensi-dimensi ini, mereka
dapat mulai berpikir, merasakan, dan
bertindak secara berbeda.
Kontak dan Resistensi terhadap
Kontak
Dalam terapi Gestalt, kontak diperlukan jika
terjadi perubahan dan pertumbuhan. Kontak
dilakukan dengan melihat, mendengar,
mencium, menyentuh, dan bergerak. Kontak
yang efektif berarti berinteraksi dengan alam
dan dengan orang lain tanpa kehilangan rasa
individualitas seseorang. Prasyarat untuk
kontak yang baik adalah kesadaran yang
jelas, energi penuh, dan kemampuan untuk
mengekspresikan diri (Zinker, 1978).
Miriam Polster (1987) mengklaim bahwa
kontak adalah sumber kehidupan
pertumbuhan. Ini adalah penyesuaian kreatif
individu yang terus diperbarui untuk
lingkungan mereka. Hal ini memerlukan
semangat, imajinasi, dan kreativitas. Hanya
ada beberapa momen dari jenis kontak ini,
jadi yang paling akurat adalah untuk
memikirkan tingkat kontak dibandingkan
hasil akhir yang harus dicapai. Setelah
pengalaman kontak, biasanya ada penarikan
untuk mengintegrasikan apa yang telah
dipelajari. Terapis Gestalt berbicara tentang
dua fungsi batas: untuk menghubungkan dan
memisahkan. Kontak dan penarikan
diperlukan dan penting untuk fungsi yang
sehat.
Terapis Gestalt juga fokus pada
interupsi, gangguan, dan resistensi terhadap
kontak, yang dikembangkan sebagai proses
mengatasi tetapi seringkali pada akhirnya
mencegah kita dari pengalaman masa kini
secara nyata dan menyeluruh. Resistensi
biasanya diadopsi dari kesadaran kita dan
ketika mereka berfungsi secara kronis, dapat
berkontribusi pada perilaku menyimpang.
Karena resistensi dikembangkan sebagai
cara mengatasi situasi kehidupan, mereka
memiliki kualitas positif dan juga masalah.
Polster dan Polster (1973) menggambarkan
lima jenis gangguan batas kontak yang
mengganggu siklus pengalaman: introjeksi,
proyeksi, retrofleksi, defleksi, dan
pertemuan.
Introjeksi adalah kecenderungan
untuk secara tidak kritis menerima
kepercayaan dan standar orang lain tanpa
mengasimilasi mereka untuk menjadi selaras
dengan siapa kita. Introjeksi ini tetap asing
bagi kita karena kita belum menganalisis
dan merestrukturisasi mereka. Ketika kita
memproyeksikan, kita secara pasif
memasukkan apa yang disediakan oleh
lingkungan daripada secara jelas
mengidentifikasi apa yang kita inginkan atau
butuhkan. Jika kita tetap dalam tahap ini,
energi kita terikat dalam mengambil hal-hal
saat kita menemukannya dan percaya bahwa
pihak berwenang tahu apa yang terbaik
untuk kita daripada mengerjakan banyak hal
sendirian.
Proyeksi adalah kebalikan dari
introjeksi. Dalam proyeksi kita mengingkari
aspek-aspek tertentu dari diri kita sendiri
dengan menempatkannya pada lingkungan.
Atribut kepribadian kita yang tidak
konsisten dengan citra diri kita tidak diakui
dan diletakkan, ditetapkan, dan dilihat oleh
orang lain; jadi, menyalahkan orang lain atas
banyaknya masalah kita. Dengan melihat
pada orang lain sifat-sifat yang sama sekali
tidak kita akui dalam diri kita, kita
menghindari tanggungjawab atas perasaan
kita sendiri dan orang yang kita hadapi, dan
ini membuat kita tidak berdaya untuk
melakukan perubahan. Orang-orang yang
menggunakan proyeksi sebagai pola
cenderung merasa bahwa mereka adalah
korban dari keadaan, dan mereka percaya
bahwa orang-orang memiliki makna
tersembunyi di balik apa yang mereka
katakan.
Retrofleksi terdiri dari
mengembalikan ke diri kita sendiri tentang
apa yang ingin kita lakukan untuk orang lain
atau melakukan apa yang kita ingin orang
lain lakukan untuk kita. Proses ini pada
dasarnya merupakan gangguan dari fase
tindakan dalam siklus pengalaman dan
biasanya melibatkan cukup banyak
kecemasan. Orang-orang yang
mengandalkan retrofleksi cenderung
menghambat diri mereka untuk mengambil
tindakan karena takut malu, bersalah, dan
marah. Orang-orang yang melukai diri
sendiri atau menyakiti diri sendiri, misalnya,
sering mengarahkan agresi ke dalam diri
karena takut mengarahkannya ke orang lain.
Depresi dan keluhan psikosomatik sering
kali disebabkan oleh retrofleksi. Biasanya,
gaya fungsi maladaptif ini diadopsi di luar
kesadaran kita; bagian dari proses terapi
Gestalt adalah untuk membantu kita
menemukan sistem pengaturan diri sehingga
kita dapat berurusan secara realistis dengan
dunia.
Defleksi adalah proses gangguan
atau menyimpang, sehingga sulit untuk
mempertahankan rasa kontak yang
berkelanjutan. Kami berusaha untuk
meredakan kontak degan menggunakan
terlalu banyak humor, generalisasi abstrak,
dan pertanyaan daripada pernyataan (Frew,
1986). Ketika kita membelokkan, kita
berbicara melalui dan untuk orang lain,
berbelit-belit dibanding mengarahkan dan
melibatkan lingkungan dalam basis yang
tidak konsisten dan tidak penting, yang
menghasilkan penipisan emosi.
Pertemuan melibatkan pengaburan
diferensiasi antara diri dan lingkungan. Saat
kita berusaha untuk berbaur dan bergaul
dengan semua orang, tidak ada batas yang
jelas antara pengalaman internal dan realitas
luar. Pertemuan dalam hubungan melibatkan
tidak adanya konflik, lambatnya amarah, dan
keyakinan bahwa semua pihak mengalami
perasaan dan pikiran yang sama dengan
yang kita lakukan. Gaya kontak ini adalah
karakteristik klien yang memiliki kebutuhan
tinggi untuk diterima dan disukai, sehingga
menemukan kenyamanan dapat menjadi
nyaman. Kondisi ini membuat kontak asli
sangat sulit. Seorang terapis mungkin
membantu klien yang menggunakan saluran
resistensi ini dengan mengajukan pertanyaan
seperti: "Apa yang Anda lakukan sekarang?
Apa yang kamu alami saat ini? Apa yang
kamu inginkan sekarang?
Istilah-istilah seperti gangguan
dalam kontak atau gangguan batas mengacu
pada gaya karakteristik yang digunakan
orang-orang dalam upaya mereka untuk
mengendalikan lingkungan mereka melalui
salah satu saluran perlawanan ini. Premis
dalam terapi Gestalt adalah bahwa kontak
itu normal dan sehat, dan klien didorong
untuk menjadi semakin sadar akan gaya
dominan mereka dalam memblokir kontak
dan penggunaan resistensi mereka. Terapis
Gestalt saat ini dengan sigap memperhatikan
bagaimana klien mengganggu kontak,
mendekati gaya interupsi dengan hormat dan
menganggap serius setiap gaya, dengan
mengetahui bahwa hal itu telah menyajikan
fungsi penting di masa lalu. Penting untuk
mengeksplorasi apa yang dilakukan
perlawanan klien: apa yang menghindarkan
mereka, dan apa yang membuat mereka
tidak mengalami
Energi dan Hambatan terhadap
Energi.
Dalam terapi Gestalt, perhatian khusus
diberikan pada tempat energi berada,
bagaimana energi itu digunakan, dan
bagaimana energi itu dapat diblokir. Energi
yang terhambat adalah bentuk lain dari
perilaku defensif. Ini dapat dimanifestasikan
oleh ketegangan di beberapa bagian tubuh,
dengan postur tubuh, dengan menjaga tubuh
tetap kencang dan tertutup, dengan tidak
bernapas dalam-dalam, dengan mengalihkan
pandangan dari orang-orang ketika berbicara
untuk menghindari kontak, dengan
menghilangkan sensasi, dengan mematikan
perasaan, dan dengan berbicara dengan
suara terbatas, untuk berbicara sedikit.
Sebagian besar upaya terapeutik
melibatkan menemukan fokus energi yang
terputus dan membawa sensasi ini ke
kesadaran klien. Klien mungkin tidak
menyadari energi mereka atau di mana ia
berada, dan mereka mungkin mengalaminya
secara negatif. Salah satu tugas terapis
adalah membantu klien mengidentifikasi
cara mereka memblokir energi dan
mengubah energi yang tersumbat ini
menjadi perilaku yang lebih adaptif. Klien
dapat didorong untuk mengenali bagaimana
resistensi mereka diekspresikan dalam tubuh
mereka. Daripada berusaha melepaskan diri
dari gejala-gejala tubuh tertentu, klien dapat
didorong untuk mempelajari sepenuhnya
kondisi ketegangan. Misalnya, dengan
membiarkan diri mereka membuka mulut
mereka yang tertutup rapat dan kaki yang
gemetar, mereka dapat menemukan sendiri
bagaimana mereka mengalihkan energi dan
menjaga diri mereka dari ekspresi penuh
gairah.
Proses Terapi
Tujuan Terapi
Terapi Gestalt tidak mengacu pada
metodologi "berorientasi pada tujuan" per
se. Namun, seperti yang dikatakan Melnick
dan Nevis (2005) dengan tepat, “Karena
kerumitan pekerjaan terapi, metodologi yang
beralasan sangat penting. . . . Enam
komponen metodologis yang kami anggap
vital atau integral dari terapi Gestalt adalah:
(a) rangkaian pengalaman, (b) di sini dan
sekarang, (c) teori perubahan paradoks, (d)
percobaan, (e) pertemuan otentik, dan (f)
diagnosis berorientasi proses ”(hal. 102
103). Meskipun tidak fokus pada tujuan
yang telah ditentukan untuk klien mereka,
terapis Gestalt dengan jelas memperhatikan
tujuan dasar yaitu, membantu klien untuk
mencapai kesadaran yang lebih besar, dan
dengan itu, pilihan yang lebih besar.
Kesadaran meliputi mengetahui lingkungan,
mengetahui diri sendiri, menerima diri
sendiri, dan mampu melakukan kontak.
Kesadaran yang meningkat dan diperkaya,
dengan sendirinya, dipandang sebagai
penyembuhan. Tanpa kesadaran klien tidak
memiliki alat untuk perubahan kepribadian.
Dengan kesadaran mereka memiliki
kapasitas untuk menghadapi dan menerima
bagian yang ditolak serta untuk sepenuhnya
mengalami subyektivitas mereka. Mereka
dapat mengalami kesatuan dan keutuhan
mereka. Ketika klien tetap dengan kesadaran
mereka, bisnis penting yang belum selesai
akan muncul dan dapat ditangani dalam
terapi. Pendekatan Gestalt membantu klien
mencatat proses kesadaran mereka sendiri
sehingga mereka dapat bertanggungjawab
dan dapat secara selektif dan diskriminatif
membuat pilihan. Kesadaran muncul dalam
konteks pertemuan yang tulus antara klien
dan terapis, atau dalam konteks hubungan
Aku / Anda (Jacobs, 1989; Yontef, 1993).
Pandangan eksistensial (lihat Bab 6)
adalah bahwa kita terus terlibat dalam proses
pembentukan kembali dan menemukan diri
kita sendiri. Kita tidak memiliki identitas
statis, tetapi menemukan aspek baru dari
keberadaan kita saat kita menghadapi
tantangan baru. Terapi Gestalt pada
dasarnya adalah pertemuan eksistensial di
mana klien cenderung bergerak ke arah
tertentu. Dengan melibatkan unsur
kreativitas dalam proses Gestalt, Zinker
(1978) mengharapkan klien akan melakukan
hal-hal berikut:
Meningkatkan kesadaran diri mereka
Secara bertahap mengambil alih
kembali kendali pengalaman diri
mereka (tidak menyalahkan orang
lain atas pemikiran, perasaan, dan
perbuatan diri mereka sendiri)
Mengembangkan kemampuan dan
memperoleh nilai-nilai yang dapat
memuaskan kebutuhan diri mereka
tanpa harus merampas hak orang lain
Menjadi semakin sadar atas indra-
indra dalam diri mereka
Belajar untuk bertanggung jawab
atas perbuatan mereka sendiri,
termasuk menerima konsekuensi
perbuatan mereka
Mampu bertanya dan meminta
pertolongan dari orang lain dan juga
mampu membantu orang lain
Fungsi dan Peran Terapis
Perls, Hefferline, dan Goodman
(1951) menyatakan bahwa tugas terapis
adalah untuk mengajak klien menjalin
hubungan kerjasama aktif dengan mereka di
mana mereka dapat belajar lebh banyak
mengenai diri mereka sendiri dengan
menerapkan sikap eksperimental ke dalam
hidup mereka di mana mereka mencoba
perilaku baru dan melihat perubahan apa
yang terjadi. Yontef dan Jacobs (2008)
mengatakan bahwa para terapis Gestalt
menggunakan metode aktif dan menjalin
hubungan personal dengan klien untuk lebih
meningkatkan kesadaran, kebebasan, dan
pengarahan diri mereka sendiri daripada
mengarahkan klien menuju tujuannya.
Para terapis Gestalt mendorong klien
untuk berfokus pada kesadaran indra mereka
di momen sekarang. Menurut Yontef (1993),
meskipun terapis berperan sebagai seorang
pemandu dan fasilitator, bertugas untuk
mengeksperimenkan diri klien, dan
membagi hasil pengamatannya pada klien,
dasar proses terapi terletak pada diri klien itu
sendiri. Yontef mengatakan bahwa tugas
terapis adalah untuk menciptakan iklim di
mana klien akan mencoba hal-hal dan
perilaku baru. Para terapis Gestalt tidak
memaksa klien untuk berubah melalui
konfrontasi. Akan tetapi, mereka melakukan
penanganan dalam konteks dialogi
Saya/Kamu dalam kerangka momen
sekarang dan di sini.
Fungsi penting terapis Gestalt adalah
untuk memperhatikan bahasa tubuh klien.
Petunjuk-petunjuk bahasa tubuh dari klien
dapat memberikan banyak informasi
berharga untuk terapis karena klien
umumnya menekan perasaan diri mereka
tanpa mereka sadari. Terapis harus siaga
memperhatikan ketidakcocokan yang terlihat
antara perkataan dan perilaku tubuh klien.
Terapis dapat langsung bertanya pada klien
mengenai bahasa tubuh mereka, “Apa yang
kedua matamu katakan?” “Jika tanganmu
bisa berbicara saat ini, apa yang akan
dikatakannya?” “Bisakah kamu membuat
percakapan antara tangan kanan dan tangan
kirimu?” Klien mungkin akan merasa marah
atau ia akan tersenyum menyikapi
pertanyaan-pertanyaan ini. Atau mungkin
mereka akan mengatakan bahwa mereka
sedang kesakitan meskipun mereka
mengatakannya dengan senyuman. Terapis
dapat meminta klien untuk menyadari bahwa
mereka menggunakan senyuman mereka
untuk menyembunyikan perasaan sakit atau
marah dalam diri mereka.
Selain memberikan perhatian khusus
pada bahasa tubuh, konselor Gestalt juga
memberikan penekanan khusus pada
hubungan yang terbentuk antara pola bahasa
dan perilaku diri klien. Pola berbicara klien
terkadang dapat dianggap sebagai bentuk
ekspresi perasaan, pikiran, dan sikap diri
mereka. Pendekatan Gestalt berfokus pada
kebiasaan cara berbicara klien sebagai cara
untuk meningkatkan kesadaran klien atas
diri mereka sendiri, khususnya dengan
meminta mereka untuk menyadari apakah
perkataan mereka sesuai dengan persepsi
pengalaman mereka atau perkataan mereka
sebenarnya memisahkan mereka dengan
emosi mereka sendiri.
Bahasa dapat memperlihatkan dan
menyembunyikan sesuatu. Dengan
memperhatikan bahasa mereka, klien dapat
meningkatkan kesadaran mereka terkait hal-
hal apa saja yang mereka rasakan di momen
sekarang ini dan bagaimana perilaku mereka
dapat menghindarkan mereka dari
mengalami momen sekarang dan di sini.
Berikut adalah beberapa contoh aspek
bahasa yang diperhatikan oleh para terapis
Gestalt:
Bahasa dia”. Ketika klien
mengatakan kata “dia”, bukan
“Saya”, mereka menggunakan
bahasa depersonalisasi. Konselor
kemudian dapat meminta klien untuk
mengganti kata ganti personal
menjadi kata ganti impersonal,
sehingga klien dapat lebih merasakan
rasa tanggung jawab untuk dirinya
sendiri. Contohnya, jika klien
mengatakan, “Sangat susah untuk
mendapat teman,” klien dapat
diminta oleh konselor untuk
mengganti pernyataan ini menjadi
pernyataan “Saya” “Saya sulit
mendapatkan teman.”
Bahasa “Kamu”. Bahasa yang
bersifat global dan impersonal
cenderung untuk membuat seseorang
menyembunyikan dirinya. Terapis
umumnya mendapati klien
menggunakan kata ganti “kamu”
terlalu sering. Terapis kemudian
meminta klien untuk menggantinya
menjadi kata ganti “I” jika itu
memang adalah maksud sebenarnya.
Bahasa Pertanyaan. Pertanyaan juga
cenderung membuat sang penanya
tersembunyi. Para konselor Gestalt
seringkali meminta klien untuk
mengubah pertanyaan mereka
menjadi pernyataan. Dengan
membuat pernyataan pribadi, klien
mulai bertanggung jawab pada
dirinya sendiri. Mereka semakin
menyadari bagaimana mereka
menyembunyikan diri mereka
melalui pengucapan-pengucapan
pertanyaan dan bahwa pertanyaan-
pertanyaan ini mencegah mereka
untuk mengekspresikan diri mereka
sendiri.
Bahasa yang menghilangkan
kendali. Beberapa klien memiliki
tendensi untuk menghilangkan
kendali pribadi mereka dengan
mengabaikan pernyataan mereka.
Terapis dapat memberitahu klien
bagaimana kata sifat-kata sifat yang
mereka gunakan dalam pernyataan
mengurangi isi pernyataan tersebut.
Menghilangkan kata-kata sifat
seperti “mungkin,” “semacamnya,”
“bisa jadi”, “kayaknya”, dan
“sepertinya” dalam pernyataan dapat
membantu klien mengubah
pernyataan yang tidak jelas menjadi
pernyataan jelas dan langsung. Sama
halnya ketika klien berkata “Saya
tidak bisa,” sebenarnya yang mereka
maksud adalah “Saya tidak mau.”
Meminta klien untuk mengganti kata
“tidak mau” menjadi “tidak bisa”
dapat membantu klien mengambil
dan menerima kembali kendali dan
rasa tanggung jawab untuk diri
mereka sendiri. Konselor harus
berhati-hati dalam melakukan
interverensi sehingga klien tidak
merasa seperti subyek eksperimen.
Dengan melakukan perubahan
bahasa klien ini, konselor berharap
klien akan semakin menyadari hal-
hal yang mereka ekspresikan melalui
kata-kata.
Menyimak metafora klien. Dalam
pelatihannya, Erv Polster (1995)
menekankan bahwa terapis harus
mengetahui cara menyimak metafora
bahasa klien. Dengan
memperhatikan metafora-metafora
yang diucapkan klien, terapis dapat
memperoleh banyak informasi terkait
permasalahan internal dalam diri
klien. Contoh-contoh metafora yang
dapat diperhatikan adalah seperti
“Saya sulit mengeluarkan isi perut
saya di sini.” “Terkadang saya
merasa saya tidak memiliki kaki
untuk berdiri.” “Saya merasa ada
lubang dalam jiwa saya.” “Saya
harus berjaga-jaga jika ada seseorang
datang menghempaskan saya.” “Saya
merasa pecah berkeping-keping
setelah kamu mengkonfrontasi saya
minggu lalu.” “Setelah sesi ini
berakhir, saya merasa seperti baru
saja melewati penggilingan daging.”
Dibalik metafora-metafora ini, ada
dialog internal yang ditekan yang
mengindikasikan urusan yang belum
terselesaikan atau reaksi terhadap
suatu interaksi tertentu. Misalnya,
untuk klien yang merasa bahwa dia
merasa seperti baru saja melewati
penggilingan daging, terapis dapat
bertanya kepadanya: “Apakah kamu
punya pengalaman menjadi daging
giling?” atau “Siapa yang
menggilingmu?” Sangatlah penting
untuk mendorong klien menceritakan
secara rinci pengalaman yang ia
alami. Membantu klien
menerjemahkan makna metafora-
metafora yang ia gunakan sehingga
mereka bisa menghadapi
permasalahannya dalam proses terapi
ini merupakan bagian dari seni
terapi.
Menyimak bahasa yang
menceritakan suatu cerita. Polster
(1995) juga mengajarkan pentingnya
“mensubstansikan kilasan.” Ia
mengatakan bahwa klien sering
menggunakan bahasa yang elusif
namun memiliki petunjuk signifikan
terhadap cerita yang menggambarkan
permasalahn hidup yang ia hadapi.
Terapis yang handal tahu cara untuk
menemukan suatu bagian kecil
perkataan klien dan fokus untuk
mengembangkannya. Klien biasanya
melupakan aspek-aspek besar dalam
cerita yang ia ceritakan pada terapis,
namun terapis yang peka dapat
memberi pertanyaan pada klien yang
akan membuat klien mengingat
kembali kilasan ceritanya. Sangat lah
penting bagi terapis untuk
memperhatikan aspek menarik
perihal klien yang ada di hadapannya
ini dan membuat klien tersebut
menceritakan cerita hidupnya.
Dalam sebuah pelatihan, saya
mengamati gaya Erv Polster dalam
memancing seseorang (joe) yang menjadi
klien sukarelawan untuk suatu demonstrasi
sesi terapi. Meskipun Joe memiliki cerita
yang menarik untuk menunjukkan suatu
aspek tertentu hidupnya, ia memperlihatkan
dirinya sebagai orang yang tidak punya
semangat hidup. Pada akhirnya, Polster
bertanya kepada Joe, “Apakah menurutmu
kau membuatku tertarik pada hidupmu?
Apakah penting bagimu untuk mendapat
perhatianku?” Joe kemudian terlihat terkejut,
namun ia mengerti apa maksudnya. Ia
menerima pancingan tantangan Polster
untuk memastikan bahwa dia membuat
terapis tertarik pada dirinya dan
memperlihatkan dirinya sebagai orang yang
menarik di mata penonton. Di sini jelas
bahwa Polster mengarahkan Joe untuk lebih
memperhatikan bagaimana cara ia
mengekspresikan perasaan dan pengalaman
hidupnya daripada mengkhawatirkan apa
yang ia katakan.
Polster percaya bahwa untuk
menceritakan pengalaman hidup tidak
selamanya harus berupa paksaan. Akan
tetapi, menceritakan diri sendiri dapat
menjadi inti proses terapi. Ia mengatakan
bahwa manusia adalah mahkluk pencerita.
Tugas terapis adalah untuk membantu klien
menceritakan ceritanya dengan tulus. Polster
(1987b) percaya bahwa orang datang ke
terapi untuk mengubah judul cerita hidup
mereka, bukan mengubah cerita hidup itu
sendiri.
Pengalaman Klien dalam Terapi
Orientasi umum terapi Gestalt adalah
pada dialog. Friz Perls mengatakan bahwa
klien harus dihadapkan pada kenyataan pahit
bahwa selama ini mereka menghindari rasa
tanggung jawab untuk diri mereka sendiri,
sedangkan sikap dialektis dalam terapi
Gestalt yang berasal dari Laura Perls
menciptakan titik pertemuan antara klien
dan terapis. Hal-hal lain yang dapat menjadi
inti proses terapi adalah seperti hubungan
klien-terapis dan kemiripan antara cara klien
menjalin hubungan dengan terapis dengan
cara klien menjalin hubungan dengan orang
lain di lingkungannya.
Terapis Gestalt tidak membuat
interpretasi yang menjelaskan dinamika
perilaku klien atau memberitahu klien
mengapa ia berperilaku seperti itu karena
terapis bukan ahli kehidupan pengalaman
subyektif klien. Namun, kebenaran dapat
diperoleh dari pengalaman saling berbagi
yabg terjalin antara terapis dengan klien
(Yontef, 1999). Klien dalam terapi Gestalt
berperan sebagai partisipan aktif yang
membuat interpretasi dan makna kepada diri
mereka sendiri. Mereka lah yang
meningkatkan kesadaran diri mereka sendiri
dan memutuskan apa yang mereka akan
lakukan atau tidak lakukan terkait makna
pribadi hidup mereka.
Miriam Polster (1987)
menggambarkan integrasi tiga tahap yang
mendeskripsikan pertumbuhan klien dalam
terapi. Tahap pertama adalah penemuan.
Klien akan memperoleh kesadaran baru
mengenai diri mereka sendiri atau
memperoleh pandangan baru terkait
peristiwa masa lampaunya, atau mereka
mungkin akan melihat orang-orang yang
berperan signifikan dalam hidupnya dengan
perspektif baru. Penemuan-penemuan baru
seperti ini seringkali akan mengejutkan diri
mereka.
Tahap kedua adalah akomodasi, yang
bertujuan membuat klien menyadari bahwa
mereka punya pilihan. Klien memulai tahap
kedua ini dengan mencoba perilaku-perilaku
baru dalam lingkungan terapi yang suportif,
dan kemudian mereka mengembangkan
kesadaran dunia mereka. Terkadang,
membuat keputusan baru canggung untuk
dilakukan, namun dengan adanya dukungan
terapi, klien menjadi mampu menghadapi
situasi-situasi sulit dalam hidupnya, Klien
menjadi ingin terlibat dalam penanganan
terapi di luar kantor, yang dapat dibahas
dalam sesi terapi berikutnya.
Tahap ketiga adalah asimilasi, yang
bertujuan membuat klien mengetahui
bagaimana mereka mempengaruhi
lingkungan mereka. Pada tahap ini, klien
merasa mampu menghadapi kejutan-kejutan
dalam hidupnya. Mereka mulai untuk tidak
lagi pasrah terhadap lingkungan hidup
mereka. Perilaku klien di tahap ini adalah
seperti klien mulai memutuskan untuk
membela suatu pendapat atau keputusan
kritis. Pada akhirnya, klien akan
mengembangkan rasa pecaya diri pada
kemampuan mereka untuk terus berkembang
dan berimprovisasi. Imprivisasi merupakan
kepercayaan diri yang berasal dari
pengetahuan dan kemampuan. Klien dapat
membuat keputusan yang sesuai dengan
keinginan mereka sendiri. Terapis
menunjukkan kepada klien bahwa ia telah
mencapai suatu keberhasilan dan bahwa ia
telah bertumbuh. Pada tahap ini, klien telah
mengetahui apa yang bisa mereka lakukan
untuk memaksimalkan kesempatan diri
mereka mencapai keinginan mereka.
Hubungan Antara Terapis dan Klien
Sebagai suatu bentuk terapi
eksistensial, terapi Gestalt menerapkan
hubungan pribadi antara terapis dank lien.
Terapis bertanggung jawab untuk
memberikan perhatian pada klien, untuk
mengetahui diri klien dan diri mereka
sendiri, serta untuk tetap bersikap terbuka
pada klien. Mereka juga bertanggung jawab
untuk menciptakan dan membangun
atmosfer terapi yang akan menumbuhkan
semangat kerja dalam diri klien. Terapis
harus membuka diri mereka untuk
terpengaruh oleh klien mereka dan terapis
juga harus secara aktif membagikan persepsi
serta pengalaman mereka sendiri karena
mereka berada bersama klien dalam momen
sekarang dan di sini.
Terapis Gestalt tidak hanya
membiatkan klien mereka menjadi dirinya
sendiri, namun juga mengingatkan diri
mereka untuk tidak tenggelam dalam
perannya sebagai terapis. Mereka mau
mengekspresikan reaksi dan pengamatan
mereka, mereka membagi pengalaman dan
cerita pribadi mereka, dan mereka tidak
memanipulasi klien. Mereka juga
memberikan umpan balik yang dapat
membuat klien mengembangkan kesadaran
diri mereka. Terapis harus menghadapi klien
dengan jujur dan mengekspresikan reaksi,
ekspektasi, ketakutan, dan rersistansi
mereka. Brown (2007) menyarankan terapis
untuk memperlihakan reaksi mereka pada
klien, namun ia juga menekankan bahwa
penting bagi terapis untuk menunjukkan
sikap yang menghargai, menerima, dan
perhatian pada klien.
Sejumlah penulis lebih menekankan
pentingnya hubungan Saya/Kamu dan
kualitas presensi terapis itu sendiri daripada
kemampuan-kemampuan teknis yang
diterapkan dalam terapi. Mereka
memperingatkan betapa bahayanya sikap
terpaku pada teknik semata dan tidak
memberikan perhatian yang selayaknya pada
klien. Sikap dan perilaku terapis serta
hubungan yang dibangun adalah yang
terpenting dalam terapi (Brown, 2007; Frew,
2008; Jacobs, 1989; Lee, 2004; Melnick &
Nevis, 2005; Parlett, 2005; E. Polster,
1987a, 1987b; M. Polster, 1987; Yontef,
1993, 1995; Yontef & Jacobs, 2008).
Gerakan, postur, dan gestur tubuh dapat
memberikan makna signifikan, namun
mugnkin tidak lengkap. Dalam latihan ini
klien diminta untuk melebih-lebihkan
gerakan atau gestur tubuhnya berkali-kali,
yang biasanya akan meningkatkan perasaan
yang terkait dalam perilakunya dan dapat
memperlihatkan lebih jelas lagi makna
internal gerakan tersebut. Beberapa contoh
perilaku yang dapat menjadi perilaku
berlebihan adalah seperti tubuh bergetaran
(tangan, kaki bergetar), postur tidak tegap
dan bahu yang bengkok, tangan yang
dikepal, muka cemberut, lengan yang
dilipat, dan seterusnya. Jika seorang klien
mengatakan bahwa kakinya gemetaran,
terapis dapat meminta klien untuk berdiri
dan melebih-lebihkan getaran kakiknya,
Kemudian terapis dapat meminta klien untuk
menceritakan sensasi getaran kakinya
tersebut.
BERADAPTASI DENGAN PERASAAN
Sebagian besar klien ingin melarikan
diri dari stimulan rasa takut dan ingin
menghindari perasaan tidak enak sebisa
mungkin. Ketika klien menceritakan kepada
terapis bahwa ia ingin melarikan diri dari
perasaan tidak menyenangkan dalam diri
mereka, terapis harus mendorong klien
untuk jangan menjauhi perasaannya tersebut.
Tidak hanya keberanian yang diperlukan
untuk menghadapi perasaan yang ada dalam
diri, namun keinginan kuat untuk tetap
bertahan melewati rasa sakit demi menjadi
pribadi yang semakin berkembang juga
diperlukan.
PENDEKATAN GESTALT DALAM
ANALISIS MIMPI Dalam psikoanalisis,
mimpi klien ditafsirkan, pencerahan mimpi
diberikan pada klien, dan asosiasi bebas
digunakan untuk mengeksplor makna bawah
sadar mimpi. Pendekatan Gestalt tidak
menafsirkan dan menganalisis mimpi.
Namun, pendekatan Gestalt ini bertujuan
untuk mewujudkan mimpi tersebut ke dalam
dunia nyata dan menjadikannya seakan-akan
benar terjadi di saat ini. Mimpi klien
diwujudkan di momen sekarang, dan sang
pemimpi menjadi bagian dari mimpinya
sendiri. Cara yang disarankan untuk
menganalisis mimpi salah satunya adalah
dengan menjabarkan secara rinci mimpi
yang dialami, mengingat tiap orang,
peristiwa, dan perasaan dalam mimpi
tersebut, lalu kemudian mewujudkan bagian-
bagian mimpi ini ke dalam dunia nyata
dengan mengubah diri sendiri, bertindak
seakan-akan mimpi tersebut adalah
kenyataan. Tiap-tiap aspek dalam mimpi ini
diasumsikan sebagai proyeksi diri, dan klien
membuat naskah untuk berbagai macam
katakter atau bagian dalam mimpi tersebut.
Semua aspek dalam mimpi merupakan
ekspresi diri klien yang saling bertentangan,
dan dengan melakukan dialog antara kedua
sisi bertentangan ini, klien akan semakin
sadar akan berbagai macam perasaan dalam
diri mereka.
Konsep proyeksi Perls berperan
besar dalam teori formasi mimpinya; tiap
orang dan tiap objek dalam mimpi mewakili
aspek yang diproyeksikan oleh sang
pemimpi tersebut. Perls (1969a)
menyarankan kita untuk “memulainya
dengan asumsi tidak mungkin bahwa apapun
yang kita rasa kita lihat dalam diri orang lain
atau dalam dunia ini hanyalah sekedar
proyeksi” (hal. 67). Menyadari indera dan
memahami proyeksi adalah kedua hal yang
berjalan saling berdampingan. Karena klien
dapat menciptakan konflik antara dua diri
yang saling bertentangan, pada akhirnya
mereka akan menerima dan
mengintegrasikan perbedaan internal dalam
diri mereka. Freud menyebut mimpi adalah
jalan menuju ketidaksadaran, namun bagi
Perls mimpi adalah “jalan menuju integrasi”
(hal. 66).
Menurut Perls, mimpi adalah
ekspresi paling spontan diri manusia. Mimpi
mewakili urusan yang belum terselesaikan,
namun tiap mimpi juga memiliki pesan
eksistensial terkait diri dan permasalahan
yang dihadapi. Semuanya dapat ditemukan
dalam mimpi jika aspek-aspek mimpi
tersebut dipahami dan diasimilasikan; mimpi
dapat menjadi cara terbaik untuk
menemukan kekosongan kepribadian dengan
menunjukkan pada klien aspek-aspek apa
yang hilang dan cara mereka menghindari
aspek-aspek tersebut dalam mimpi mereka.
Perls mengatakan bahwa jika mimpi
dianalisis dengan baik, pesan eksistensial
yang disampaikannya akan menjadi jelas.
Jika orang-orang tidak mengingat mimpi
mereka, mereka mungkin sedang lari dari
masalah hidup mereka. Setidaknya, konselor
Gestalt dapat meminta klien untuk berbicara
pada mimpinya yang hilang. Contohnya,
sesuai arahan terapisnya, seorang klien
menceritakan mimpi berikut dalam present
tense, seakan-akan ia masih sedang
bermimpi:
Saya punya tiga monyet dalam kandang.
Satu monyet besar dan dua monyet kecil! Saya
merasa sangat dekat dengan monyet-monyet ini,
meskipun mereka rebut dalam kandang yang
terbagi menjadi tiga ruang itu. Mereka berkelahi
satu sama lain-monyet besar berkelahi dengan
monyet kecil. Mereka keluar dari kandangnya
dan bergantung pada diriku. Saya merasa ingin
menghempaskan mereka dari saya. Saya merasa
terbebani oleh kekacauan yang mereka ciptakan
di sekitar diri saya. Saya kemudian mengatakan
pada Ibu saya bahwa saya butuh bantuan, bahwa
saya tidak lagi bisa mengurusi monyet-monyet
ini karena mereka membuatku gila. Saya merasa
sangat sedih dan sangat lelah, dan saya merasa
tidak percaya diri. Saya meninggalkan kandang
tersebut, berpikiran bahwa saya sangat mencintai
monyet-monyet ini, namun saya harus
melepaskan mereka. Saya berkata pada diri
sendiri bahwa saya sama seperti orang lain pada
umumnya. Saya memiliki hewan peliharaan, dan
ketika situasi mengurus mereka menjadi sulit,
saya ingin membuang mereka. Saya berusaha
sangat keras untuk mencari solusi bagaimana
agar monyet-monyet ini tetap saya pelihara dan
tidak memberikan dampak buruk pada diri saya.
Sebelum saya bangun dari mimpi saya, Saya
memutuskan untuk menempatkan ketiga monyet
ini dalam kandang yang terpisah, dan mungkin
itu adalah cara paling tepat untuk menempatkan
mereka.
Terapis kemudian meminta kliennya,
Brenda, untuk “menjadi” aspek lain dalam
mimpinya. Sehingga, ia pun menjadi
kandang dalam mimpinya itu, dan dia
menjadi salah satu monyet tersebut dan
berdialog dengan monyet-monyet lain, dan
kemudian ia menjadi ibunya dalam mimpi,
dan seterusnya. Salah satu aspek terhebat
teknik adalah Brenda menceritakan
mimpinya seakan-akan mimpinya tersebut
masih sedang terjadi. Ia kemudian
mengetahui bahwa mimpinya itu
mengekspresikan permasalahan tumah
tangganya dengan suami serta kedua
anaknya. Dari analisis mimpi ini, Brenda
menyadari bahwa ia menghargai sekaligus
membenci keluarganya. Ia kemudian
menyadari bahwa ia perlu memberitahukan
perasaannya ini kepada mereka dan bahwa
mereka harus saling membantu menangani
masalah kehidupan rumah tangga mereka. Ia
tidak membutuhkan tafsiran dari terapisnya
untuk memahami pesan mimpinya tersebut.
Penerapan Pendekatan Gestalt dalam
Konseling Kelompok
Terapi Gestalt cocok untuk
diterapkan dalam lingkungan kelompok.
Terapi Gestalt lebih mengutamakan
penagalaman dan tindakan langsung
daripada sekedar berbicara mengenai
konfilk, masalah, dan perasaan dalam diri.
Jika anggota kelompok konseling ini
memiliki kecemasan terkait peristiwa masa
depan hidupnya, mereka dapat mereka ulang
kekhawatiran masa depan mereka tersebut
ke dalam masa sekarang. Pendekatan di sini
dan sekarang fokus untuk menghidupkan
kelompok dan membantu anggota-anggota
kelompok konseling ini mengeksplor
kekhawatiran mereka. Cara berpindah dari
menceritakan menjadi tindakan kadang-
kadang dilakukan dengan menggunakan
eksperimen dalam kelompok. Terapi Gestalt
menerapkan beragam intervensi untuk
menguatkan apa yang anggota-anggota
kelompok ini alami di momen sekarang
dengan tujuan untuk meningkatkan
kesadaran diri anggota-anggota kelompok
tersebut. Semua teknik-teknik yang dibahas
sebelumnya dapat diterapkan dalam
kelompok terapi.
Ketika salah satu anggota kelompok
menjadi fokus utama terapi, anggota-
anggota lain dapat digunakan untuk
meningkatkan kesadaran salah satu anggota
kelompok tersebut. Melalui kemampuan
untuk saling menjalin hubungan satu sama
lain, ketua kelompok dapat mengajak
sejumlah anggota-anggota lain untuk ikut
mengeksplor suatu permasalahan hidup
salah satu anggota kelompok. Saya
menyukai gaya interaktif terapi kelompok
Gestalt ini dan menurut saya, menempatkan
dimensi intrapersonal ke dalam terapi akan
memaksimalkan potensi terapi dalam
kelompok tersebut. Saya tidak menerapkan
suatu teknik tertentu dalam kelompok; saya
lebih cenderung untuk mengajak anggota-
anggota kelompok lain mencoba berbagai
macam gaya perilaku untuk meningkatkan
pengalaman yang dirasakan oleh salah satu
anggota kelompok tersebut. Dalam konteks
kelompok terapi, banyak kreativitas yang
dapat tercipta dalam segi penerapan
intervensi dan percobaan. Percobaan-
percobaan dalam kelompok ini perlu
didesain khusus untuk tiap-tiap anggota
kelompok dan diterapkan sesuai waktunya
masing-masing; percobaan-percobaan ini
juga perlu dilakukan dalam konteks yang
memberikan rasa keseimbangan antara
dukungan dan resiko. Percobaan-percobaan
ini jika dilakukan secara ideal, akan
berkembang dari yang awalnya berfokus
pada pengalaman salah seorang anggota
kelompok menjadi pengalaman kelompok
secara keseluruhan.
Meskipun ketua kelompok Gestalt
mendorong anggota-anggotanya untuk
meningkatkan kesadaran diri mereka dan
memperhatikan cara intrapersonal mereka
untuk saling berhubungan, ketua kelompok
cenderung berperan aktif menciptakan
percobaan-percobaan untuk membantu
anggota-anggota kelompoknya masuk ke
dalam dirinya yang terdalam. Ketua-ketua
dalam kelompok terapi Gestalt berperan
aktif menjalin hubungan dengan anggota-
anggota kelompoknya, dan mereka juga
sering membuka diri mereka sebagai cara
untuk memperkuat hubungan kelompok.
Ketua kelompok terapi Gestalt berfokus
pada kesadaran diri, hubungan, dan
percobaan dalam diri tiap-tiap anggota
kelompok (Yontef & Jacobs, 2008).
Jika anggota-anggota kelompok
merasa bahwa kelompoknya ini menjadi
tempat aman bagi mereka, mereka akan
cenderung akan bergerak maju menuju dunia
yang mereka tidak kenali dan menantang
diri mereka sendiri. Untuk meningkatkan
kemungkinan bahwa anggota-anggota
kelompok akan memperoleh hasil
bermanfaat dari metode Gestalt, pemimpin
kelompok harus mengkomunikasikan tujuan
utama intervensi-intervensi terapi ini dan
menciptakan iklim eksperimental. Ketua
kelompok terapi ini tidak mencoba untuk
memaksakan suatu agenda tertentu; malah,
anggota-anggota kelompok bebas untuk
mencoba hal baru dan menentukan sendiri
apakah hal baru tersebut cocok untuk diri
mereka.
Dalam pelatihan konseling kelompok
yang saya dan Marianne Schneider Corey
lakukan di Korea, pendekatan Gestalt sangat
diterima di sana. Anggota-anggota
kelompok terapi di sana sangat terbuka dan
ingin menceritakan diri emosional mereka
ketika suasana aman kelompok telah
tercipta. Kita berusaha untuk tidak membuat
asumsi pada diri anggota-anggota kelompok
ini, dan kita sangat berhati-hati untuk tidak
memaksakan pandangan dunia atau nilai-
nilai kita sendiri pada diri mereka. Kita
mendekati klien dengan perasaan
menghargai, tulus, dan ada untuk mereka.
Kita melakukan penanganan secara
kolaboratif dengan mereka untuk
menemukan cara terbaik membantu mereka
menyelesaikan permasalahan hidup mereka
baik secara internal, intrapersonal, dan
permasalahan dalam konteks lingkungan
sosial mereka. Meskipun kita tidak mungkin
dapat mengetahui secara mendalam budaya
seseorang yang berbeda, kita tetap perlu
memberikan sikap apresiasi dan
penghargaan terhadap perbedaan-perbedaan
cara penanganan yang kita gunakan dalam
lingkungan kultural beragam di seluruh
dunia ini. Dengan menerapkan sikap-sikap
ini dalam terapi, kitapun dapat menerapkan
sejumlah intervensi Gestlat terhadap
masyarakat Korea dalam konteks pelatihan
kelompok terapi. Sebenarnya, hal ini
tidaklah mengejutkan karena Korea
menekankan nilai-nilai kolektif dalam
budaya muraka, dan model kelompok terapi
cocok dengan budaya Korea ini.
Untuk pembahasan lebih rinci terkait
terapi Gestalt dalam kelompok, lihat Corey
(2008, bab.11) dan Feder (2006). Terapi
Gestalt Dalam Perspektif Multikultural
Kelebihan Dari Perspektif Beragam
Terdapat kesempatan untuk menggunakan
metode Gestalt secara peka dan kreatif
dengan poplasi yang beragam secara kultural
jika intervensi diberi waktu yang tepat dan
digunakan secara fleksibel. Frew (2008)
telah membuat kasus bahwa " terapi Gestalt
kontemporer telah mencakup sebagai peka
secara kebudayaan dan orientasi bersahabat
yang beragam" (p. 267). Salah satu manfaat
mengambil eksperimen Gestalt adalah ia
bisa dijahit untuk sesuai dengan cara unik
dimana seorang individu mempersepsikan
dan menginterpretasikan kebudayaannya.
Meskipun kebanyakan terapis memiliki
konsep awal, terapis Gestalt berusaha untuk
mendekati tiap klien dengan cara terbuka.
Mereka melakukan dengan mengecek
prasangka dan pandangan mereka dalam
dialog dengan klien. Hal ini khusunya
penting dalam bekerja dengan klien dari
kebudayaan lain.
Fernbacher (2005) menekankan
pentingnya membantu trainee terapi Gestalt
dalam mengembangkan kesadaran mereka
sendiri. Dia menyarankan: "untuk
mengembangkan kesadaran dari identitas
kebudayaan seseorang, seseorang harus
memperhatikan pengaruhnya bukan hanya
dalam pelatihan tetapi juga sebagai bagian
dari perkembangan yang terus berjalan dari
seorang praktisi Gestalt" (p. 121).
Fernbacher berpendapat bahwa " untuk
menjalankan pekerjaan lintas budaya dari
perspektif Gestalt, penting bahwa kita
mengeksplor kebudayaan kita sendiri..untuk
membuat kontak dan mendukung kontak
dengan orang lain, kita harus tau tentang diri
kita sendiri" (p. 131).
Terapi Gestalt khusunya efektif
dalam membantu orang mengintegretasikan
polaritas dalam diri mereka. banyak klien
bikultural yang mengalami perjuangan
berkelanjutan untuk berdamai dengan apa
yang muncul untuk menjadi aspek yang
beragam dari dua kebudayaan dimana
mereka hidup. Di salah satu kelompok
sepekan saya, sebuah pekerjaan dinamis
telah dilakukan oleh seorang wanita dari
Eropa. Perjuangannya adalah
mengintegrasikan sisi amerika dan
pengalamannya di Jerman sebagai anak
anak. Saya memintanya untuk "membawa
keluarganya kedalam kelompok ini" dengan
cara berbicara dengan seorang anggota
kelompok terpilih seolah mereka adalah
keluarganya. Dia diminta untuk
membayangkan bahwa dia berumur 8 tahun
dan bahwa dia sekarang dia bisa mengatakan
kepada orang tua dan saudaranya hal yang
tidak pernah di tunjukkan. Saya memintanya
untuk berbicara dalam bahasa jerman
(karena ini adalah bahasa utamanya ketika
dia anak-anak). Faktor-faktor yang
dikombinasikan dari kepercayaannya dalam
kelompok, keinginannya untuk menciptakan
kembali kejadian terdahulu dengan
mengenang kembali kejadian tersebut di
masa kini, dan pekerjaan simboliknya
dengan fantasi membantunya mencapai
pencapaian signifikan. Dia dapat
menempatkan akhir yang baru kepada
sebuah situasi yang lama dan tak
terselesaikan melalui partisipasinya di dalam
eksperimen Gestalt ini.
Ada banyak kesempatan untuk
mengaplikasikan eksperimen Gestalt dalam
cara yang kreatif dengan populasi klien yang
beragam. Di dalam kebudayaan di mana
ujaran tidak langsung menjadi norma,
perilaku non verbal dapat menekankan isi
yang tak dibicarakan dari komunikasi
verbal. Klien ini dapat mengekpresikan diri
mereka secara non verbal dengan lebih
ekspresi dari pada yang dapat mereka
lakukan dengan kata. Terapis Gestalt dapat
menanyai kloen untuk fokus pada gestur,
ekspresi wajah, dan apa yang mereka alami
di dalam tubuh mereka. mereka berusaha
untuk sepenuhnya memahami latar belakang
dari kebudayaan mereka. mereka khawatir
tentang bagaimana dan aspek mana dari latar
belakang ini yang menjadi dari pusat atau
figur bagi klien mereka dan makna apa yang
ditempatkan klien dalam figur ini.
Terapi Gestalt Diaplikasikan Dalam Kasus
Stan
Terapis berorientasi Gestalt berfokus pada
urusan yang tak terselesaikan dari Stan
dengan keluarga, saudara, dan mantan
istrinya. Nampaknya, urusan tak
terselesaikan ini umumnya terdiri dari rasa
dendam, dan Stan mengarahkan dendam ini
ke dirinya sendiri. Situasi hidupnya saat ini
menjadi perhatian umum, tetapi mungkin dia
juga harus mengalami kembali perasaan
masa lalu yang dapat berhubungan dengan
tujuannya saat ini untuk menjalin keakraban
dengan orang lain.
Meskipun fokusnya adalah perilaku
Stan saat ini, terapisnya membimbingnya
untuk menjadi sadar akan bagaimana dia
membawa bagasi tua bersamanya dan
bagaimana hal tersebut mengganggu
kehidupannya saat ini. Tugasnya adalah
untuk membantunya dalam menciptakan
kembali konteks dimana dia membuat
keputusan terdahulu yang tidak lagi
memperlakukan drinya dengan baik. Intinya,
Stan harus belajar bahwa keputusannya
tentang jalan hidupnya selama masa anak-
anak tidak lagi sesuai. Salah satu keputusan
utamanya adalah, "saya bodoh, dan akan
lebih baik jika saya tidak hidup".
Dia telah dipegaruhi oelh pesan
kebudayaan yang telah dia terima.
Konselornya tertarik untuk mengeksplor
latar belakang kebudayaannya termasuk
nilainya dan karakteristik nilai dari
kebudayaannya. Dengan fokus ini, konselor
dapat membantu Stan mengidentifikasi
beberapa penyimpangan kebudayaan
berikut: "Jangan membicarakan keluargamu
dnegan orang asing, dan jangan
menyebarkan aibmu di publik"" jangan
melawan orang tua karena mereka berhak
atas penghormatan." " jangan terlalu
mengkhawatirkan dirimu sendiri". "Jangan
tunjukkan kerentananmu, sembunyikan
perasaan dan kelemahanmu". Konselor Stan
menantang Stan untuk mengkaji
penyimpangan tersebut yang tidak lagi
fungsional. Meskipun dia dapat memutuskan
untuk menahan aspek tersebut dari
kebudayaan yang dia puja, dia juga dalam
posisi untuk memodifikasi ekspekasi
kultural tertentu. Tentu saja, hal ini akan
dilakukan ketika masalah ini masuk kedalam
dasar pekerjaannya.
Terapis Stan mendukungnya untuk
mengikuti apa yang disadarinya ketika sesi
dimulai. Dia bertanya, " Apa yang kamu
alami ketika kita mulai hari ini?"ketika dia
mendukung Stan untuk membiasakan diri
dengan pengalaman saat ini dan secara
selektif membuat observasi, sejumlah figur
akan muncul. Tujuannya adalah untuk fokus
pada sebuah figur yang menarik perhatian,
yang menahan kebanyakan energi atau
hubungan bagi Stan. Ketika figur
diidentifikasi, tugasnya adalah untuk
memperdalam kesadaran Stan akan
pemikiran, perasaan, sensasi tubuh, atau
pandangan melalui eksperimen yang
berhubungan. Terapis merancang
eksperimen ini untuk menciptakan
kesadaran atau untuk menciptakan kontak
kemungkinan antara Stan dan dirinya.
Terapisnya menempatkan nilai dalam
mempraktekkan terapi Gestalt secara dialog,
dan dia bertujuan untuk sepenuhnya hadir
dan tertarik dalam memahami dunia Gestalt.
Dia memutuskan seberapa banyak
penyingkapan diri yang dibuat untuk
kebaikan Stan dan untuk memperkuat
hubungan terapiutik.
Dalam gaya Gestalt tipikal, Stan
berhadapan dengan perjuangannya saat ini di
dalam konteks hubungan dengan terapisnya,
bukan sekadar dengan membicarakan
tentang masa lalunya atau dnegan
menganalisa pandangannya, tetapi dengan
menjadi beberapa dari individu yang
memberitahunya bagaimana berpikir,
merasa, dan bertindak sebagai anak-anak.
Dia kemudian dapat menjadi anak kecil dari
dirinya yang dulu dan merespon orang orang
itu dari tempat dimana dia merasa sangat
bingung dan terluka. Dia mengalami di
dalam cara baru perasaan yang menemani
keyakinannya akan dirinya sendiri, dan dia
mendapati apresiasi yang lebih dalam
tentang bagaimana perasaan dan
pemikirannya mempengaruhi apa yang
dilakukannya hari ini. Stan telah belajar
untuk menahan emosinya dan tidak
mengungkapkannya. Memahami hal ini,
konselornya mengeksplor keraguan dan
kekhawatiran untuk "masuk dalam
perasaan". Dia mengenali bahwa dia ragu
dalam mengekspresikan emosi dan
membantunya untuk mengkaji apakah dia
ingin mengalami sepenuhnya dan
mengekspresikannya dengan lebih bebas.
Ketika Stan memutuskan bahwa dia
ingin mengalami emosinya dan bukannya
mengabaikannya, terapis bertanya. " apa
yang kamu sadari sekarang ketika kau telah
mengatakan apa yang kamu lakukan?" Stan
mengatakan bahwa dia tidak bisa melupakan
mantan istrinya. Dia memberitahu terapis
tentnag rasa sakit yang dia rasakan dalam
hubungan itu dan betapa dirinya takut untuk
terlibat dalam hubungan kemudian terluka
lagi. Terapis terus memintanya untuk fokus
kedalam dan mendapatkan rasa yang jelas
baginya saat ini. Stan menjawab: " Saya
terluka dan marah atas semua luka yang
telah saya biarkan untuk dilakukannya
terhadapku". Dia memintanya untuk
membayangkan dirinya dahulu ketika
bersama mantan istrinya, seolah situasi
menyakitkan muncul saat ini dan di sini. Dia
secara simbolik melepaskan dan mengalami
kembali situasi dengan berbicara "secara
langsung" dengan istrinya. Dia
memberitahunya akan dengan dan perasaan
sakit lalu kemudian bergerak menyelesaikan
urusan tak terlesaikan dengannya. Dengan
berpartisipasi dalam eksperimen ini, Stan
mendapatkan kesadaran lebih dari apa yang
dia lakukan sekarang dan bagaimana dia
membuatnya terkunci kedalam masa
lalunya.
Follow-up: Anda lanjut sebagai Terapis
Gestatl dari Stan
Gunakan pertanyaan berikut untuk
membantu anda memikirkan bagaimana
bekerja dengan Stan menggunakan
pendekatan Gestalt:
" Bagaimana anda akan memulai sesi
dengan Stan? Akankah anda menyarankan
sbeuah arah yang akan ditempuhnya?
Akankah anda memintanya untuk
melanjutkan dimana dia berhenti di sesi
sebelumnya? Akankah anda memperhatikan
tema atau masalah apapun yang menjadi
figur baginya?
" Urusan tak terselesaikan apa yang
dapat anda identifikasi dalam kasus Stan?
Apakah ada dalam pengalaman hidupnya
yang mengingatkan anda pada diri anda?
Bagaimana anda bekerja dengan Stan jika
dia membawa urusan tak terselesaikan anda?
" Terapis Gestalt dari Stan
menciptakan sebuah eksperimen untuk
membantu Stan berhadapan dengan rasa
sakit, dendang, dan luka atas situasi dnegan
mantan istrinya. Bagaimana mungkin anda
dapat bekerja materi yang dimiliki Stan?
Eksperimen seperti apa yang mungkin Anda
rancang?
" Bagaimana kamu bekerja dengan
pesan kultural Stan? Akankah anda dapat
menghormati nilai kulturalnya dan masih
mendukungnya untuk membuat sebuah
kajian akan beberapa cara dimana
kebudayaannya mempengaruhinya hari ini?
Lihat program on-line dan DVD, Theory in
Practice: The Case of Stan (Session 6 on
Gestalt therapy), untuk demonstrasi dari
pendekatan saya untuk Stan konselign dari
perspektif ini. Sesi ini terdiri dari Stan
mengeksplor salah satu mimpinya dalam
gaya Gestalt
Kelemahan dalam perspektif beragam
Dalam jumlah tertentu dari pada
yang benar dari kebanyakan pendekatan
lain, terdapat beberapa masalah potensial
dalam menggunakan terlalu cepat beberapa
eksperimen Gestalt dengan beberapa klien.
Metode Gestalt cenderung menghasilkan
perasaan intens. Fokus ini mempengaruhi
beberapa batasan yang jelas dengan klien
yang memiliki yang secara kultural menahan
emosi. Seperti yang dibahas sebelumnya,
beberapa individu meyakini bahwa
menunjukkan perasaan secara terbuka
adalah tanda kelemahan dan sebuah
pertunjukan dari kerentanan seseorang.
Konselor yang beroperasi pada asumsi
bahwa katarsis itu penting pada kesempatan
apapun untuk muncul nampaknya
menemukan klien tertentu untuk menjadi
resistan, dan klien seperti itu menghentikan
konseling secara premature. Individu yang
lain meemiliki penyimpangan kultural yang
kuat yang melarang mereka untuk
mengekspresikan perasaan mereka secara
langsung kepada orang tua mereka
(misalnya "jangan pernah menunjukkan
kepada orangtuamu kalau kamu marah sama
mereka" atau " berusaha untuk mencapai
perdamaian dan keselarasan dan hindari
konflik). Saya mengingat seorang klien dari
India yang diminta oleh konselornya untuk
"bawa ayahmu ke dalam ruangan". Klien
tersebut sangat enggan untuk bahkan secara
simbolik memberitahu ayahnya akan
kekecewaannya dengan hubungan mereka.
dalam kebudayaannya, cara yang benar
untuk berhadapan dengan ayahnya adalah
menggunakan pamannya sebagai perantara,
dan sangat dianggap tidak pantas untuk
mengekspresikan perasaan negatif kepada
ayahnya. Klien tersebut kemudian
mengatakan bahwa dia akan merasa bersalah
jika dia secara simbolik memberitahu
ayahnya apa yang kadang dia pikirkan dan
dirasakan.
Terapis Gestalt yang telah
mengintegrasikan pendekatan mereka cukup
sensitif untuk praktik dalam cara yang
fleksibel. Mereka mempertimbangkan
kerangka kultural klien dan dapat
beradaptasi dengan metode yang nampaknya
diterima dengan baik. Mereka berusaha
untuk membantu klien mengalami diri
mereka sepenuh mungkin di masa kini,
namu mereka tetap tidak secara kaku terikat
oleh arahan, juka tidak secara rutin
menghalangi kapan klien keluar dari masa
kini. Tetap berhubungan secara sensitif
dengan aliran pengalaman klien memerlukan
kemampuan untuk fokus pada orang tersebut
dan bukan pada mekanisme penggunaan
teknik untuk efek tertentu.
Ringkasan dan Evaluasi
Terapi Gestalt adalah pendekatan
pengalaman yang menekankan kesadaran
saat ini dan kualitas kontak antara individu
dan lingkungan. Fokus utamanya adalah
membantu klien untuk menyadari
bagaimana perilaku yang pernah menjadi
bagian dari penyesuaian kreatif ke
lingkungan masa lalu dapat mengganggu
fungsi dan kehidupan yang efektif di masa
sekarang. Tujuan dari pendekatan ini adalah,
pertama dan terutama, untuk mendapatkan
kesadaran.
Tujuan terapeutik lainnya adalah
untuk membantu klien dalam
mengeksplorasi bagaimana mereka
melakukan kontak dengan unsur-unsur
lingkungan mereka. Perubahan terjadi
melalui kesadaran yang meningkat tentang
"apa adanya." Karena terapis Gestalt tidak
memiliki agenda selain membantu klien
untuk meningkatkan kesadaran mereka,
tidak perlu memberi label perilaku klien
sebagai "resistensi." Sebaliknya, terapis
hanya mengikuti proses baru ini saat
muncul. Terapis memiliki keyakinan bahwa
pengaturan diri adalah proses yang
berlangsung secara alami yang tidak harus
dikontrol (Breshgold, 1989). Dengan
kesadaran yang diperluas, klien dapat
mendamaikan polaritas dan dikotomi dalam
diri mereka sendiri dan melanjutkan menuju
reintegrasi semua aspek dalam diri mereka
sendiri.
Terapis bekerja dengan klien untuk
mengidentifikasi angka-angka, atau aspek
yang paling menonjol dari bidang individu-
lingkungan, saat mereka muncul dari latar
belakang. Terapis Gestalt percaya setiap
klien mampu mengatur diri sendiri jika
angka-angka itu dilibatkan dan diselesaikan
sehingga orang lain dapat menggantinya.
Peran terapis Gestalt adalah untuk
membantu klien mengidentifikasi masalah,
kebutuhan, dan minat yang paling mendesak
dan untuk merancang eksperimen yang
mempertajam angka-angka itu atau yang
mengeksplorasi resistensi terhadap kontak
dan kesadaran. Terapis Gestalt didorong
untuk mengungkapkan diri secara tepat, baik
tentang reaksi mereka di sini dan saat ini
dalam jam terapi dan tentang pengalaman
pribadi mereka (Yontef & Jacobs, 2008).
Kontribusi Terapi Gestalt
Salah satu kontribusi terapi Gestalt adalah
cara yang menyenangkan di mana masa lalu
ditangani dengan cara yang hidup dengan
membawa aspek-aspek yang relevan ke
masa kini. Terapis menantang klien dengan
cara kreatif untuk menjadi sadar dan bekerja
dengan masalah yang menghambat fungsi
saat ini. Selanjutnya, memperhatikan
petunjuk verbal dan nonverbal yang jelas
yang diberikan oleh klien adalah cara yang
berguna untuk mendekati sesi konseling.
Melalui penggunaan intervensi Gestalt yang
terampil dan peka, praktisi dapat membantu
klien dalam meningkatkan kesadaran
terpusat mereka saat ini tentang apa yang
mereka pikirkan dan rasakan serta apa yang
mereka lakukan. Cain (2002)
mengidentifikasi kontribusi paling
signifikan dari pendekatan Gestalt:
" Pentingnya kontak dengan diri
sendiri, orang lain, dan lingkungan
" Peran sentral dari hubungan otentik
dan dialog dalam terapi
" Penekanan pada teori lapangan,
fenomenologi, dan kesadaran
" Fokus terapi pada masa kini,
pengalaman klien saat ini
" Penggunaan percobaan aktif yang
kreatif dan spontan sebagai jalur untuk
pembelajaran pengalaman
Metode Gestalt membawa konflik dan
perjuangan manusia untuk hidup. Terapi
Gestalt adalah pendekatan kreatif yang
menggunakan eksperimen untuk
memindahkan klien dari bicara ke tindakan
dan pengalaman. Fokusnya adalah pada
pertumbuhan dan peningkatan daripada
menjadi sistem teknik untuk mengobati
gangguan, yang mencerminkan moto awal
Gestalt, "Anda tidak harus sakit untuk
menjadi lebih baik." Klien diberi berbagai
alat-dalam bentuk eksperimen Gestalt -
untuk menemukan aspek baru dari diri
mereka sendiri dan membuat keputusan
tentang mengubah jalan hidup mereka.
Pendekatan Gestalt untuk bekerja
dengan mimpi adalah jalur unik bagi orang-
orang untuk meningkatkan kesadaran
mereka tentang tema-tema utama dalam
kehidupan mereka. Dengan melihat setiap
aspek mimpi sebagai proyeksi diri mereka
sendiri, klien dapat mewujudkan mimpi itu,
menafsirkan makna pribadinya, dan
memikul tanggungjawab untuk itu.
Terapi Gestalt adalah pendekatan
holistik yang menghargai setiap aspek
pengalaman individu secara setara. Terapis
memungkinkan proses pembentukan angka
untuk membimbing mereka. Mereka tidak
mendekati klien dengan prasangka atau
agenda yang ditetapkan sebelumnya.
Sebaliknya, mereka menekankan pada apa
yang terjadi pada batas antara individu dan
lingkungan.
Terapi Gestalt beroperasi dengan
gagasan unik tentang perubahan. Terapis
tidak mencoba memindahkan klien ke mana
pun. Tujuan utama adalah untuk
meningkatkan kesadaran klien tentang "apa
yang ada." Alih-alih mencoba untuk
membuat sesuatu terjadi, peran terapis
adalah membantu klien untuk meningkatkan
kesadaran yang akan memungkinkan
identifikasi ulang dengan bagian diri dari
mana ia terasingkan.
Kekuatan utama terapi Gestalt adalah
upaya untuk mengintegrasikan teori, praktik,
dan penelitian. Meskipun terapi Gestalt
tampak jelas pada penelitian empiris selama
beberapa tahun, hal itu telah menjadi samar-
samar baru-baru ini. Dua buku menunjukkan
potensi untuk mempengaruhi penelitian
masa depan: Becoming a Practitioner
Researcher: A Gestalt Approach to Holistic
Inquiry (Barber, 2006) dan The "I" in
Science: Training to Utilize Subjectivity in
Research (Brown, 1996). Strumpfel dan
Goldman (2002) mencatat bahwa studi
proses dan hasil telah memajukan teori dan
praktik terapi Gestalt, dan mereka
merangkum sejumlah temuan signifikan
berdasarkan hasil penelitian:
" Studi hasil menunjukkan terapi
Gestalt sama atau lebih besar dari terapi lain
untuk berbagai gangguan.
" Studi yang lebih baru telah
menunjukkan bahwa terapi Gestalt memiliki
dampak menguntungkan dengan gangguan
kepribadian, masalah psikosomatik, dan
kecanduan zat.
" Efek terapi Gestalt cenderung stabil
dalam studi tindak lanjut 1 hingga 3 tahun
setelah penghentian pengobatan.
" Terapi Gestalt telah menunjukkan
efektivitas dalam mengobati berbagai
gangguan psikologis.
Keterbatasan dan Kritik terhadap Terapi
Gestalt
Sebagian besar kritik saya terhadap terapi
Gestalt berkaitan dengan versi yang lebih
lama, atau gaya Fritz Perls, yang
menekankan konfrontasi dan mengurangi
faktor-faktor kognitif kepribadian. Gaya
terapi Gestalt ini menempatkan lebih banyak
perhatian pada penggunaan teknik untuk
menghadapi klien dan membuat mereka
mengalami perasaan mereka. Terapi Gestalt
kontemporer telah datang jauh, dan lebih
banyak perhatian diberikan pada instruksi
teoretis, eksposisi teoretis, dan faktor-faktor
kognitif secara umum (Yontef, 1993, 1995).
Dalam terapi Gestalt, klien
mengklarifikasi pemikiran mereka,
mengeksplorasi keyakinan, dan memberi
makna pada pengalaman yang mereka
nikmati dalam terapi. Namun, pendekatan
Gestalt tidak menempatkan premi pada
peran terapis sebagai guru. Penekanannya
adalah pada memfasilitasi proses penemuan
dan pembelajaran diri klien sendiri. Proses
pembelajaran berdasarkan pengalaman dan
pengarahan diri ini didasarkan pada
kepercayaan mendasar pada pengaturan diri
organismik, yang menyiratkan bahwa klien
tiba pada kebenaran mereka sendiri melalui
kesadaran dan peningkatan kontak dengan
lingkungan. Bagi saya, tampaknya, klien
dapat terlibat dalam penemuan diri dan pada
saat yang sama mendapat manfaat dari
pengajaran yang sesuai oleh terapis.
Praktek Gestalt saat ini
menempatkan nilai tinggi pada kontak dan
dialog antara terapis dan klien. Agar terapi
Gestalt menjadi efektif, terapis harus
memiliki tingkat perkembangan pribadi
yang tinggi. Menyadari kebutuhan sendiri
dan melihat bahwa mereka tidak
mengganggu proses klien, hadir pada saat
itu, dan bersedia untuk tidak defensif dan
mengungkapkan diri semuanya menuntut
banyak pada terapis. Ada bahaya bahwa
terapis yang kurang terlatih akan lebih
mementingkan klien yang mengesankan.
Yontef dan Jacobs (2008) menyatakan
bahwa praktik kompeten terapi Gestalt
membutuhkan latar belakang klinis dan
pelatihan umum yang kuat, tidak hanya
dalam teori dan praktik teori Gestalt tetapi
juga dalam teori kepribadian, psikopatologi,
dan pengetahuan psikodinamik. Praktisi
yang kompeten perlu terlibat dalam terapi
pribadi mereka dan memiliki pelatihan klinis
lanjutan dan pengalaman diawasi.
BEBERAPA PERHATIAN. Biasanya,
terapis Gestalt sangat aktif, dan jika mereka
tidak memiliki karakteristik yang disebutkan
oleh Zinker (1978) - sensitivitas, waktu,
penemuan, empati, dan rasa hormat kepada
klien - eksperimen mereka dapat dengan
mudah menjadi bumerang. Beberapa terapis
yang tidak memiliki dasar yang kuat dalam
teori dan praktik terapi Gestalt telah
menggunakan teknik Fritz Perls, yang
mengakibatkan penyalahgunaan kekuasaan.
Terapis yang tidak kompeten dapat
menggunakan teknik yang kuat untuk
membangkitkan perasaan dan membuka
masalah yang klien jaga dari kesadaran
penuh hanya untuk meninggalkan klien
begitu mereka berhasil mendapatkan katarsis
yang dramatis. Kegagalan untuk tinggal
bersama klien dan membantu mereka
mengatasi apa yang telah mereka alami dan
menutup pengalaman itu dapat merugikan
dan bisa dianggap sebagai praktik yang tidak
etis.
Praktik etis bergantung pada
pelatihan dan pengawasan terapis yang
memadai, dan batasan terdekat Gestalt atau
terapi lainnya adalah keterampilan,
pelatihan, pengalaman, dan penilaian terapis.
Pelatihan yang tepat dalam terapi Gestalt
melibatkan membaca dan mempelajari teori,
jam praktik yang diawasi, mengamati terapis
Gestalt di tempat kerja, dan mengalami
terapi pribadi sendiri. Terapis yang terlatih
dalam teori dan metode terapi Gestalt
cenderung melakukan pekerjaan yang
efektif. Terapis semacam itu telah belajar
untuk memadukan pendekatan
fenomenologis dan dialogis, yang secara
inheren menghormati klien, dengan
eksperimen yang tepat waktu.
Robert Lee (2004) telah banyak
menulis tentang etika Gestalt dan
mengadakan lokakarya tentang topik di
seluruh dunia. Bukunya yang diedit, The
Values of Connection: A Relational
Approach to Ethics, berisi informasi yang
layak dibaca.
Ke mana Pergi Dari Sini
Dalam CD-ROM for Integrative Counseling, Sesi 7 ("Fokus Emosional dalam Konseling"), saya
mendemonstrasikan bagaimana saya membuat eksperimen untuk meningkatkan kesadaran Ruth.
Dalam versi Gestalt yang saya gunakan bersama Ruth, saya melihat isyarat dari Ruth tentang apa
yang dia alami saat ini. Dengan memperhatikan apa yang dia ungkapkan baik secara verbal
maupun nonverbal, saya dapat menyarankan eksperimen selama sesi kami. Dalam sesi khusus ini
saya menggunakan eksperimen Gestalt, meminta Ruth untuk berbicara kepada saya seolah-olah
saya adalah suaminya, John. Selama percobaan ini, Ruth menjadi sangat emosional. Anda akan
melihat cara mengeksplorasi materi emosional dan mengintegrasikan pekerjaan ini ke dalam
kerangka kerja kognitif juga.
Jika Anda tertarik untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Anda dalam
bidang terapi Gestalt, Anda dapat mempertimbangkan mengikuti pelatihan Gestalt, yang akan
mencakup menghadiri lokakarya, mencari terapi pribadi dari terapis Gestalt, dan mendaftar
dalam program pelatihan Gestalt yang akan melibatkan membaca, latihan, dan pengawasan. Pada
tahun 2007 ada sekitar 120 lembaga Gestalt aktif di Amerika Serikat dan 180 lainnya di negara-
negara lain di seluruh dunia. Selain itu, ada banyak asosiasi profesional, dan sumber daya lain
yang tersedia di hampir setiap negara dan bahasa (Woldt, komunikasi pribadi, 15 Januari 2007).
Daftar lengkap sumber daya ini, beserta Situs Webnya tersedia di Lampiran dari buku teks Woldt
dan Toman (2005). Beberapa program dan asosiasi pelatihan paling menonjol tercantum di sini.
Gestalt Institute of Cleveland. Inc.
1588 Hazel Drive
Cleveland, OH 44106-1791
Telepon: (216) 421-0468
Faks: (216) 421-1729
E-mail: registrar@gestaltcleveland.org
Situs web: www.gestaltcleveland.org
Institut Gestalt Pasifik
1626 Westwood Blvd., Suite 104
Los Angeles, CA 90024
Telepon: (310) 446-9720
Faks: (310) 475-4704
E-mail: info@gestalttherapy.org
Situs web: www.gestalttherapy.org
Pusat Pelatihan dan Psikoterapi Gestalt
220 Fifth Avenue, Suite 802
New York, NY 10001
No. Telepon: (212) 387-9429
Alamat Surreal: info@gestaltnyc.org
Laman Daring: www.gestaltnyc.org
Pusat Pembelajaran Gestalt Internasional
1035 Cemetery Road
South Well?eet, Cape Cod, MA 02667
No. Telepon: (508) 349-7900
Alamat Surreal: of?ce@gisc.org
Laman Daring: www.GISC.org
Pelatihan Asosiasi Gestalt, Los Angeles
1460 Seventh Street, Suite 300
Santa Monica, CA 90401
No. Telepon/Fax: (310) 395-6844
Alamat Surreal: ritaresnick@gatla.org
Laman Daring: www.gatla.org
Berikut adalah asosiasi-asosiasi terapi Gestalt terkemuka yang mengadakan konferensi
internasional
Asosiasi Pengembangan Terapi Gestalt (AAGT)
Laman Daring: www.AAGT.org
Asosiasi Pengembangan Terapi Gestalt Eropa (EAGT)
Laman Daring: www.EAGT.org
Gestalt Australia dan New Zealand (GANZ)
Laman Daring: www.GANZ.org
Jurnal Gestalt dan Jurnal Gestalt Internasional sudah tidak lagi diterbitkan. Berikut adalah dua
jurnal Gestalt terkemuka yang ditulis dalam bahasa Inggris.
Gestalt Review
Laman Daring: www.gestaltreview.com
British Gestalt Journal
Laman Daring: www.britishgestaltjournal.com
Direktori Gestalt berisi informasi terkait para praktisi Gestalt dan program pelatihan Gestalt di
seluruh dunia dan gratis diperoleh atas izin Pusat Pengembangan Gestalt, Inc. Pusat
Pengembangan ini juga memiliki sejumlah buku, rekaman suara, dan rekaman video terkait
terapi Gestalt
Pusat Pengembangan Gestalt, Inc.
Laman Daring: www.gestalt.org
SARAN BACAAN TAMBAHAN
Gestalt Therapy Verbatim (Perls, 1969a)
memberikan gambaran langsung bagaimana
Perls melakukan penanganan. Buku ini
mengandung sejumlah transkripsi perkataan
dari pelatihan demonstrasi yang
dilakukannya. Gestalt Therapy: History,
Theory, and Practice (Woldt & Toman,
2005) menjelaskan fondasi-fondasi historis
serta konsep-konsep utama terapi Gestalt
dan memberikan contoh penerapan konsep-
konsep tersebut dalam praktik terapi. Buku
ini merupakan publikasi signifikan terbaru
dalam bidang ilmu terapi Gestalt dan
mengandung aktivitas-aktivitas serta
eksperimen-eksperimen pedagogis,
pertanyaan-pertanyaan tinjuan, dan potret
seluruh contributor terapi Gestalt.
Gestalt Therapy Integrated: Contours of
Theory and Practice (Polster & Polster,
1973) merupakan sumber yang bagus untuk
bidang ilmu terapi Gestalt. Buku ini
ditujukan
untuk orang-orang yang ingin mengetahui
teori lebih mendalam terkait model terapi
Gestalt.
Creative Process in Gestalt Therapy (Zinker,
1978) adalah buku yang memperlihatkan
bagaimana terapis berperan sama seperti
seniman dalam menciptakan percobaan-
percobaan yang mendorong klien
memperluas batasan diri mereka.
Awareness, Dialogue and Process: Essays
on Gestalt Therapy (Yontef, 1993)
merupakan koleksi esay yang
menyampaikan pesan bahwa sebagian besar
teori dan praktik terapi Gestalt terdiri atas
percakapan.
The Healing Relationship in Gestalt
Therapy: A Dialogic Self Psychology
Approach (Hycner & Jacobs, 1995) adalah
sumber yang tepat untuk memahami terapi
Gestalt kontemporer yang dilandaskan atas
hubungan dialogis bermakna antara klien
dan terapis
.
REFERENSI DAN BACAAN LANJUTAN
* BARBER, P. (2006). Becoming a
practitioner re- searcher: A Gestalt
approach to holistic inquiry. London:
Middlesex University Press.
BEISSER, A. R. (1970). The paradoxical
theory of change. In J. Fagan & I. L.
Shepherd (Eds.), Gestalt therapy now (pp.
77-80). New York: Harper & Row
(Colophon).
*BOWMAN, C. (2005). The history and
devel- opment of Gestalt therapy. In A.
Woldt & S. Toman (Eds.), Gestalt therapy:
History, theory, and practice (pp. 3-20).
Thousand Oaks, CA: Sage.
BRESHGOLD, E. (1989). Resistance in
Gestalt therapy: An historical theoretical
perspec- tive. The Gestalt Journal, 12(2), 73-
102.
*Buku dan artikel yang diberikan tanda
asterisk merupakan buku dan artikel yang
disarankan untuk studi lanjutan.
*BROWN, J. R. (1996). The "i" in science:
Training to utilize subjectivity in research.
Boston: Scandi- navian University Press.
*BROWN, J. R. (2007). Gestalt therapy. In
A. B.
Rochlen (Ed.), Applying counseling
theories:
An online case-based approach (pp. 127-
141).
Upper Saddle River, NJ: Pearson
Prentice-
Hall.
*CAIN, D. J. (2002). De?ning
characteristics, history,
and evolution of humanistic
psychotherapies.
In D. J. Cain & J. Seeman (Eds.),
Humanistic
psychotherapies: Handbook of research and
prac-
tice (pp. 3-54). Washington, DC:
American
Psychological Association.
CLARKSON, P., & MACKEWN, J.
(1993). Fritz
Perls. Newbury Park, CA: Sage.
COREY, G. (2008). Theory and practice of
group coun-
seling (7th ed.). Belmont, CA: Brooks/Cole
*COREY, G. (2009). Case approach to
counseling and psychotherapy (7th ed.).
Belmont, CA: Brooks/ Cole.
*FEDER. B. (2006). Gestalt group therapy:
A practical guide. New Orleans: Gestalt
Institute Press.
FEDER, B., & RONALL, R. (Eds.). (1996).
A living legacy of Fritz and Laura Perls:
Contemporary case studies. Montclair, NJ:
Walden.
FERNBACHER, S. (2005). Cultural
in?uences and considerations in Gestalt
therapy. In A. Woldt & S. Toman (Eds.),
Gestalt therapy: History, theo- ry, and
practice (pp. 117-132). Thousand Oaks, CA:
Sage.
FREW, J. E. (1986). The functions and
patterns of occurrence of individual contact
styles during the development phase of the
Gestalt group. The Gestalt Journal, 9(l), 55-
70.
FREW, J. E. (1997). A Gestalt therapy
theory ap- plication to the practice of group
leadership. Gestalt Review, 1(2), 131-149.
*FREW, J. (2008). Gestalt therapy. In J.
Frew & M.
D. Spiegler (Eds.), Contemporary
psychothera-
pies for a diverse world (pp. 228-274).
Boston:
Lahaska Press.
GAFFNEY, S. (2007). Gestalt with groups:
A cross-
cultural perspective. Gestalt Review,
10(3),
205-218.
HOUSTON, G. (2003). Brief Gestalt
therapy. London:
Sage.
HUMPHREY, K. (1986). Laura Perls: A
biographi-
cal sketch. The Gestalt Journal, 9(l), 5-11.
*HYCNER, R., & JACOBS, L. (1995).
The healing
relationship in Gestalt therapy. Highland,
NY:
Gestalt Journal Press.
JACOBS, L. (1989). Dialogue in Gestalt
theory and
therapy. The Gestalt Journal, 12(l), 25-67.
*LAMPERT, R. (2003). A child's eye
view: Gestalt
therapy with children, adolescents and their
fami-
lies. Highland, NY: Gestalt Journal Press.
*LATNER, J. (1986). The Gestalt therapy
book. High-
land, NY: Center for Gestalt Development.
*LEE, R. G. (Ed.). (2004). The values of
connection: A
relational approach to ethics. Cambridge,
MA:
Gestalt Press.
LEVITSKY, A., & PERLS, F. (1970). The
rules and
games of Gestalt therapy. In J. Fagan & I.
Shep-
herd (Eds.), Gestalt therapy now (pp. 140-
149).
New York: Harper & Row (Colophon).
*LICHTENBERG, P. (2005). Group
therapy for
therapists in Gestalt therapy training. In J. D.
Geller, J. C. Norcross, & D. E. Orlinsky
(Eds.), The psychotherapist's own
psychotherapy: Pa- tient and clinician
perspectives (pp. 307-322). New York:
Oxford University Press.
MAURER, R. (2005). Gestalt approaches
with or- ganizations and large systems. In A.
Woldt & S. Toman (Eds.), Gestalt therapy:
History, theo- ry, and practice. (pp. 237-
256). Thousand Oaks, CA: Sage.
MELNICK, J., & NEVIS, S. (2005). Gestalt
therapy methodology. In A. Woldt & S.
Toman (Eds.), Gestalt therapy: History,
theory, and practice. (pp. 101-116).
Thousand Oaks, CA: Sage.
*MORTOLA, P. (2006). Windowframes:
Learning the art of Gestalt play therapy
the Oaklander way. Santa Cruz, CA: The
Gestalt Press.
PARLETT, M. (2005). Contemporary
Gestalt ther- apy: Field theory. In A.
Woldt & S. Toman (Eds.), Gestalt therapy:
History, theory, and prac- tice (pp. 41-64).
Thousand Oaks, CA: Sage.
PASSONS, W. R. (1975). Gestalt
approaches in coun- seling. New York:
Holt, Rinehart & Winston.
*PERLS, F. (1969a). Gestalt therapy
verbatim. Moab, UT: Real People Press.
PERLS, F. (1969b). In and out of the
garbage pail.
Moab, UT: Real People Press.
PERLS, F., HEFFERLINE, R., &
GOODMAN, R.
(1951). Gestalt therapy: Excitement and
growth in
the human personality. New York: Dell.
PERLS, L. (1976). Comments on new
directions. In E.
W. L. Smith (Ed.), The growing edge of
Gestalt ther-
apy (pp. 221-226). New York:
Brunner/Mazel.
PERLS, L. (1990). A talk for the 25th
anniversary.
The Gestalt Journal, 13(2), 15-22.
POLSTER, E. (1987a). Escape from the
present:
Transition and storyline. In J. K. Zeig
(Ed.),
The evolution of psychotherapy (pp. 326-
340).
New York: Brunner/Mazel.
*POLSTER, E. (1987b). Every person's life
is worth
a novel: How to cut through emotional pain
and
discover the fascinating core of life. New
York:
Norton.
*POLSTER, E. (1995). A population of
selves: A ther-
apeutic exploration of personality diversity.
San
Francisco: Jossey-Bass.
*POLSTER, E., & POLSTER, M.
(1973). Gestalt
therapy integrated: Contours of theory and
prac-
tice. New York: Brunner/Mazel.
POLSTER, E., & POLSTER, M. (1976).
Therapy
without resistance: Gestalt therapy. In A.
Bur-
ton (Ed.), What makes behavior change
possible?
(pp. 259-277). New York: Brunner/Mazel.
POLSTER, E., & POLSTER, M. (1999).
From the radical
center: The heart of Gestalt therapy.
Cambridge,
MA: Gestalt Institute of Cleveland Press.
POLSTER, M. (1987). Gestalt therapy:
Evolution
and application. In J. K. Zeig (Ed.), The
evolution
of psychotherapy (pp. 312325). New York:
Brunner/Mazel.
POLSTER, M., & POLSTER, E. (1990).
Gestalt
therapy. In J. K. Zeig & W. M. Munion
(Eds.), What is psychotherapy?
Contemporary
perspectives (pp. 103107). San Francisco:
Jossey-Bass.
REYNOLDS, C. (2005). Gestalt therapy
with children.
In A. Woldt & S. Toman (Eds.), Gestalt
therapy: History, theory, and practice (pp.
153
178). Thousand Oaks, CA: Sage.
RUSSELL, J. M. (2007). Existential
psychotherapy. In
A. B. Rochlen (Ed.), Applying counseling
theories:
An online case-based approach (pp. 107
125). Upper
Saddle River, NJ: Pearson Prentice-Hall.
*STRUMPFEL, U., & GOLDMAN, R.
(2002).
Contacting Gestalt therapy. In D. J. Cain &
J. Seeman (Eds.), Humanistic
psychotherapies:
Handbook of research and practice (pp.
189219).
Washington, DC: American Psychological
Association.
*WOLDT, A., & TOMAN, S. (Eds.).
(2005). Gestalt
therapy: History, theory, and practice.
Thousand
Oaks, CA: Sage.
YALOM, I. D. (2003). The gift of therapy:
An open letter
to a new generation of therapists and their
patients.
New York: HarperCollins (Perennial).
*YONTEF, G. M. (1993). Awareness,
dialogue and
process: Essays on Gestalt therapy.
Highland,
NY: Gestalt Journal Press.
*YONTEF, G. (1995). Gestalt therapy. In A.
S.
Gurman & S. B. Messer (Eds.), Essential
psychotherapies:
Theory and practice (pp. 261303).
New York: Guilford Press.
YONTEF, G. (1999). Awareness, dialogue
and process:
Preface to the 1998 German edition. The
Gestalt Journal, 22(1), 920.
*YONTEF, G. M. (2005). Gestalt therapy
theory of
change. In A. Woldt & S. Toman (Eds.),
Gestalt
therapy: History, theory, and practice (pp.
81100). Thousand Oaks, CA: Sage.
*YONTEF, G., & JACOBS, L. (2008).
Gestalt therapy.
In R. Corsini & D. Wedding (Eds.), Current
psychotherapies (8th ed., pp. 328367).
Belmont,
CA: Brooks/Cole.
*ZINKER, J. (1978). Creative process in
Gestalt therapy.
New York: Random House (Vintage).
BAB SEMBILAN
TERAPI PERILAKU
Pengantar
Latar belakang sejarah
Empat area perkembangan
Konsep kunci
Pandangan sifat dasar manusia
Karakteristik dan asumsi dasar
Proses terapiutik
Tujuan terapiutik
Fungsi dan peran terapiutik
Pengalaman klien dalam terapi
Hubungan antara terapis dan klien
Aplikasi: teknik dan prosedur terapi
Analisis perilaku terapan : teknik kondisi operant
Pelatihan relaksasi dan metode yang terhubung
Disensitisasi sitematik
Dalam ekposur dan genangan vivo
Desensitisasi pergerakan mata dan reproses
Pelatihan sosial skill
Program modifikasi diri dan arahan perilaku diri
Terapi multimodal: terapi perilaku klinik
Kehati-hatian dan penerimaan berdasar terapi perilaku kognitif
Integrasi teknik perilaku dengan
Pendekatan psikoanalisis kontemporer
Aplikasi pada konseling kelompok
Terapi perilaku dari perspektif multikultural
Kelebihan dari perspektif beragam
Kelemahan dari perspektif beragam
Terapi perilaku terapan pada kasus Stan
Kesimpulan dan evaluasi
Kontribusi terapi perilaku
Batasan dan kritik terapi perilaku
Kemana pergi dari sini
Bacaan tambahan yang disarankan
Referensi dan bacaan yang disarankan
B. F SKINNER /ALBERT BANDURA
B. F SKINNER (1904-
1990) melaporkan
bahwa dia telah
dibesarkan di sebuah
lingkungan keluarga
yang hangat dan stabil.
Ketika dia tumbuh,
Skinner sangat tertaring dalam
membangun banyak hal, sebuah
ketertarikan yang mengikutinya sepanjang
perjalanan profesionalnya. Dia meraih
gelar PhD di bidang psikologi di
Universitas Harvard pada 931 dan segera
kembali ke Harvard setelah mengajar di
beberapa universitas. Dia memiliki dua
orang putri, yang satu adalah psikolog
pendidikan dan yang satunya adalah
seniman.
Skinner adalah pembicara
terkemuka dalam behaviourisme dan dapat
dianggap sebagai bapak pendekatan
behavioral dalam psikologi. Skinner
memenangkan behaviorisme radikal, yang
menempatkan penekanan utama dalam
efek lingkungan pada perilaku. Skinner
juga adalah seorang determinis; dia tidak
percaya bahwa manusia memiliki
kehendak bebas. Dia mengakui bahwa
perasaan dan pemikiran itu ada, tetapi dia
menyangkal bahwa hal tersebut
menyebabkan tindakan. Malahan, dia
menekankan hubungan sebab akibat antar
objek, kondisi lingkungan teramati dan
perilaku. Skinner mempertahankan terlalu
banyak perhatian yang diberikan pada
kondisi internal pikiran dan motif, yang
tidak dapat diamati dan diubah secara
langsung, dan bahwa terlalu sedikit fokus
telah diberikan pada faktor lingkungan
yang dapat diamati secara langsung dan
diubah. Dia snagat tertarik pada konsep
penguatan, yang diaplikasikan pada
hidupnya sendiri. Sebagai contoh, setelah
bekerja selama berjam-jam, dia akan pergi
ke kepompong konstruksinya (seperti
sebuah tenda), mengenakan headphone
lalu mendengarkan musik klasik (Frank
Dattilio, personal communication,
December 9, 2006).
Kebanyakan karya Skinner adalah
sebuah eksperimen di laboratorium, tetapi
orang lain telah mengaplikasikan idenya
ke dalam pengajaran, mengatur masalah
manusia, dan perencanaan sosial. Science
and Human Behavior (Skinner, 1953)
mengilustrasikan bagaimana Skinner
menganggap bahwa konsep behavioral
dapat diaplikasikan pada setiap bagian
perilaku manusia. Dalam Walden II (1948)
Skinner menggambarkan sebuah
komunitas utopia dimana idenya, diambil
dari laboratorium, diaplikasikan kedalam
masalah sosial. Dalam bukunya pada tahun
1971, Beyond Freedom and Dignity,
membahas tentang kebutuhan akan
perubahan drastis jika ingin masyarakat
kita bertahan. Skinner percaya bahwa ilmu
pengetahuan dan teknologi menjanjikan
masa depan yang lebih baik.
Biografi ini kebanyakan berdasar pada
diskusi Nye (2000) tentang behaviorisme
radikal B.F. Skinner
AlBERT BANDURA
(b. 1925) lahir di dekat
Alberta, Kanada: dia
adalah bungsu dari
enam bersaudara dari
keluarga Eropa timur.
Bandura menghabiskan
masa sekolah dasar dan
menengah di satu sekolah di kota, yang
kekurangan guru dan bahan pelajaran.
Sumber pendidikan yang kurang ini terbukti
menjadi aset dan bukannya liability ketika
Bandura mempelajari keahlian pengarahan
diri, yang kemudian menjadi tema
penelitiannya. Dia meraih gelah PhDnya
pada psikologi klinik dari universitas Lowa
pada 1952 dan setahun kemudian dia
bergabung sebagai staf pengajar di
Universitas Stanford. Bandura dan
koleganya pekerjaan rintisan dalam area
model sosial dan mendemonstrasikan bahwa
modeling adalah sebuah proses kuat yang
menjelaskan bentuk pelajaran yang beragam
(lihat Bandura 1971a, 1971b; Bandura &
Walters, 1963). Dalam program
penelitiannya pada universitas Stanford,
Bandura dan koleganya mengeksplor teori
pembelajaran sosial dan peran terkemuka
dari pembelajaran observasi dan model
sosial dalam motivasi, pemikiran, dan
tindakan manusia. Menjelang 1980 an
Bandura telah memberi nama pendekatan
teoritisnya teori kognitif sosial, yang
menyoroti bagaimana kita berfungsi sebagai
makhluk yang mengorganisasi diri, proaktif,
reflektif diri, dan meregulasi diri (lihat
Bandura, 1986). Pernyataan bahwa kita tidak
semata menjadi organisme reaktif yang
dibentuk oleh kekuatan lingkugan atau
didorong oleh impuls dari dalam yang
merepresentasikan sebuah perubahan
dramatis dalam perkembangan terapi
perilaku. Bandura memperluas cakup dari
terapi perilaku dengan mengeksplor
kekuatan afektif kognitif yang memotivasi
perilaku manusia.
Terdapat beberapa kualitas eksistensial yang
diturunkan dalam teori kognitif sosial
Bandura. Bandura telah menghasilkan
sebuah kekayakan bukti empiris yang
mendemonstrasikan pilihan hidup yang kita
miliki di dalam semua aspek kehidupan kita.
Dalam In Self-Effi cacy: The Exercise of
Control (Bandura, 1997), Bandura
menunjukkan aplikasi komprehensif dari
teorinya akan efikasi diri pada area seperti
perkembangan manusia, psikologi, psikiater,
pendidikan, obat dan kesehatan, atletik,
bisnis, perubahan sosial dan politik, dan
hubungan internasional. Bandura telah
berkonsentrasi pada empat bidang
penelitian: (1) kekuatan pemodelan
psikologis dalam membentuk pikiran, emosi,
dan tindakan; (2) mekanisme agensi
manusia, atau cara orang memengaruhi
motivasi dan perilaku mereka sendiri
melalui pilihan; (3) persepsi orang-orang
tentang keberhasilan mereka untuk
melakukan pengaruh atas peristiwa yang
memengaruhi kehidupan mereka; dan (4)
bagaimana reaksi stres dan depresi
disebabkan. Bandura telah menciptakan
salah satu dari beberapa megateori yang
masih berkembang pada awal abad ke-21.
Dia telah menunjukkan bahwa manusia
membutuhkan rasa keberhasilan diri dan
ketahanan untuk menciptakan kehidupan
yang sukses dan untuk memenuhi rintangan
dan kesulitan yang tak terhindarkan yang
mereka hadapi.
Sampai saat ini Bandura telah
menulis sembilan buku, banyak di antaranya
telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Pada tahun 2004 ia menerima Penghargaan
Kontribusi Seumur Hidup untuk Psikologi
dari American Psychological Association.
Di awal tahun 80-an, Bandura terus
mengajar dan melakukan penelitian di
Universitas Stanford dan melakukan
perjalanan ke seluruh dunia. Dia masih
meluangkan waktu untuk hiking, opera,
berkumpul bersama keluarganya, dan
mencicipi anggur di lembah Napa dan
Sonoma.
Biografi ini sebagian besar didasarkan pada diskusi
Pajares (2004) tentang kehidupan dan pekerjaan
Bandura.
Pendahuluan
Praktisi terapi perilaku fokus pada perilaku yang dapat diamati, penentu perilaku saat ini,
pengalaman belajar yang mendorong perubahan, menyesuaikan strategi perawatan untuk
klien individu, serta penilaian dan evaluasi yang ketat (Kazdin, 2001; Wilson, 2008). Terapi
perilaku telah digunakan untuk mengobati berbagai gangguan psikologis dengan populasi
klien yang berbeda (Wilson, 2008). Gangguan kecemasan, depresi, penyalahgunaan zat,
gangguan makan, kekerasan dalam rumah tangga, masalah seksual, pengendalian rasa sakit,
dan hipertensi semuanya telah berhasil diobati dengan menggunakan pendekatan ini.
Prosedur perilaku digunakan dalam bidang disabilitas perkembangan, penyakit mental,
pendidikan dan pendidikan khusus, psikologi komunitas, psikologi klinis, rehabilitasi, bisnis,
manajemen diri, psikologi olahraga, perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, dan
gerontologi (Miltenberger, 2008).
Latar Belakang Sejarah
Pendekatan perilaku berawal pada tahun 1950-an dan awal 1960-an, dan itu adalah perubahan
radikal dari perspektif psikoanalitik dominan. Gerakan terapi perilaku berbeda dari
pendekatan terapi lain dalam penerapan prinsip-prinsip pengondisian klasik dan operan (yang
akan dijelaskan segera) untuk pengobatan berbagai perilaku masalah. Saat ini, sulit untuk
menemukan konsensus mengenai definisi terapi perilaku karena bidangnya telah tumbuh,
menjadi lebih kompleks, dan ditandai oleh keragaman pandangan. Memang, ketika terapi
perilaku telah berevolusi dan berkembang, ia semakin tumpang tindih dalam beberapa hal
dengan pendekatan psikoterapi lainnya (Wilson, 2008). Diskusi yang disajikan di sini
didasarkan pada sketsa historis terapi perilaku Spiegler dan Guevremont (2003).
Terapi perilaku tradisional muncul secara bersamaan di Amerika Serikat, Afrika
Selatan, dan Inggris Raya pada 1950-an. Terlepas dari kritik keras dan perlawanan dari
psikoterapis psikoanalitik, pendekatan ini bertahan. Fokusnya adalah pada menunjukkan
bahwa teknik pengkondisian perilaku itu efektif dan merupakan alternatif yang layak untuk
terapi psikoanalitik.
Pada 1960-an Albert Bandura mengembangkan teori pembelajaran sosial, yang
menggabungkan pengkondisian klasik dan operan dengan pembelajaran observasional.
Bandura menjadikan kognisi sebagai fokus yang sah untuk terapi perilaku. Selama 1960-an
sejumlah pendekatan perilaku kognitif bermunculan, dan mereka masih memiliki dampak
signifikan pada praktik terapi (lihat Bab 10).
Terapi perilaku kontemporer muncul sebagai kekuatan utama dalam psikologi selama
tahun 1970-an, dan memiliki dampak yang signifikan pada pendidikan, psikologi,
psikoterapi, psikiatri, dan pekerjaan sosial. Teknik perilaku diperluas untuk memberikan
solusi untuk masalah bisnis, industri, dan membesarkan anak. Dikenal sebagai "gelombang
pertama" dalam bidang perilaku, teknik terapi perilaku dipandang sebagai pilihan pengobatan
untuk banyak masalah psikologis.
1980-an ditandai dengan pencarian cakrawala baru dalam konsep dan metode yang
melampaui teori pembelajaran tradisional. Terapis terus menggunakan metode mereka untuk
pemeriksaan empiris dan untuk mempertimbangkan dampak dari praktik terapi pada klien
mereka dan masyarakat yang lebih besar. Peningkatan perhatian diberikan pada peran emosi
dalam perubahan terapeutik, serta peran faktor biologis dalam gangguan psikologis. Dua
perkembangan paling signifikan di lapangan adalah (1) kelanjutan kemunculan terapi
perilaku kognitif sebagai kekuatan utama dan (2) penerapan teknik perilaku untuk
pencegahan dan pengobatan gangguan terkait kesehatan.
Pada akhir 1990-an Association for Behavioral and Cognitive Therapies (ABCT)
(sebelumnya dikenal sebagai Asosiasi untuk Kemajuan Terapi Perilaku) mengklaim
keanggotaan sekitar 4.300. Deskripsi ABCT saat ini adalah "organisasi keanggotaan lebih
dari 4.500 profesional kesehatan mental dan siswa yang tertarik dalam terapi perilaku
berbasis empiris atau terapi perilaku kognitif." Perubahan nama dan deskripsi ini
mengungkapkan pemikiran saat ini dalam mengintegrasikan terapi perilaku dan kognitif.
Terapi kognitif dianggap sebagai "gelombang kedua" dari tradisi perilaku.
Pada awal 2000-an, "gelombang ketiga" dari tradisi perilaku muncul, memperbesar
ruang lingkup penelitian dan praktik. Perkembangan terbaru ini termasuk terapi perilaku
dialektik, pengurangan stres berbasis kesadaran, terapi kognitif berbasis kesadaran, dan terapi
penerimaan dan komitmen.
Empat Bidang Pembangunan
Terapi perilaku kontemporer dapat dipahami dengan mempertimbangkan empat bidang
utama perkembangan: (1) pengkondisian klasik, (2) pengkondisian operan, (3) teori
pembelajaran sosial, dan (4) terapi perilaku kognitif.
Pengondisian klasik (pengkondisian responden) mengacu pada apa yang terjadi
sebelum pembelajaran yang menciptakan respons melalui pasangan. Tokoh kunci dalam
bidang ini adalah Ivan Pavlov yang mengilustrasikan pengkondisian klasik melalui
eksperimen dengan anjing. Menempatkan makanan di mulut anjing menyebabkan air liur,
yang merupakan perilaku responden. Ketika makanan berulang kali disajikan dengan
beberapa stimulus yang awalnya netral (sesuatu yang tidak mendapatkan respons tertentu),
seperti bunyi bel, anjing akhirnya akan mengeluarkan air liur pada bunyi bel saja. Namun,
jika bel terdengar berulang kali tetapi tidak dipasangkan lagi dengan makanan, respons air
liur pada akhirnya akan berkurang dan berhenti. Contoh dari prosedur yang didasarkan pada
model pengondisian klasik adalah desensitisasi sistematis Joseph Wolpe, yang dijelaskan
kemudian dalam bab ini. Teknik ini menggambarkan bagaimana prinsip-prinsip pembelajaran
yang berasal dari laboratorium eksperimental dapat diterapkan secara klinis. Desensitisasi
dapat diterapkan pada orang-orang yang, melalui pengondisian klasik, mengembangkan rasa
takut yang kuat untuk terbang setelah memiliki pengalaman yang menakutkan saat terbang.
Sebagian besar respons signifikan yang kita buat dalam kehidupan sehari-hari adalah
contoh perilaku operan, seperti membaca, menulis, mengendarai mobil, dan makan dengan
peralatan makan. Pengondisian operan melibatkan jenis pembelajaran di mana perilaku
dipengaruhi terutama oleh konsekuensi yang mengikutinya. Jika perubahan lingkungan yang
ditimbulkan oleh perilaku itu menguat yaitu, jika perubahan itu memberikan penghargaan
kepada organisme atau menghilangkan rangsangan permusuhan kemungkinan bahwa
perilaku itu akan terjadi lagi meningkat. Jika perubahan lingkungan tidak menghasilkan
penguatan atau menghasilkan rangsangan permusuhan, kemungkinan bahwa perilaku akan
terulang kembali berkurang. Penguatan positif dan negatif, hukuman, dan teknik kepunahan,
dijelaskan kemudian dalam bab ini, menggambarkan bagaimana pengkondisian operan dalam
pengaturan yang diterapkan dapat berperan dalam mengembangkan perilaku prososial dan
adaptif. Teknik operan digunakan oleh praktisi perilaku dalam program pendidikan orang tua
dan dengan program manajemen berat badan.
Para behavioris dari model pengkondisian klasik dan operan mengecualikan referensi
ke konsep mediasional, seperti peran proses berpikir, sikap, dan nilai-nilai. Fokus ini
mungkin disebabkan oleh reaksi terhadap pendekatan psikodinamik yang berorientasi pada
wawasan. Pendekatan pembelajaran sosial (atau pendekatan sosial-kognitif), yang
dikembangkan oleh Albert Bandura dan Richard Walters (1963), bersifat interaksional,
interdisipliner, dan multimodal (Bandura, 1977, 1982). Pembelajaran sosial dan teori kognitif
melibatkan interaksi timbal balik triadik antara lingkungan, faktor pribadi (kepercayaan,
preferensi, harapan, persepsi diri, dan interpretasi), dan perilaku individu. Dalam pendekatan
sosial kognitif peristiwa lingkungan pada perilaku terutama ditentukan oleh proses kognitif
yang mengatur bagaimana pengaruh lingkungan dirasakan oleh individu dan bagaimana
peristiwa ini ditafsirkan (Wilson, 2008). Asumsi dasar adalah bahwa orang mampu
mengubah perilaku yang diarahkan sendiri. Bagi Bandura (1982, 1997), keberhasilan diri
adalah keyakinan atau harapan individu bahwa ia dapat menguasai situasi dan membawa
perubahan yang diinginkan. Contoh pembelajaran sosial adalah bagaimana manusia dapat
mengembangkan keterampilan sosial yang efektif setelah mereka berhubungan dengan orang
lain yang secara efektif memodelkan keterampilan interpersonal.
Terapi perilaku kognitif dan teori pembelajaran sosial sekarang mewakili arus
utama terapi perilaku kontemporer. Sejak awal 1970-an, gerakan perilaku telah mengakui
keabsahan untuk berpikir, bahkan sampai pada faktor-faktor kognitif memberikan peran
sentral dalam memahami dan menangani masalah-masalah emosional dan perilaku. Pada
pertengahan 1970-an terapi perilaku kognitif telah menggantikan terapi perilaku sebagai
penunjukan yang diterima dan bidangnya mulai menekankan interaksi antara dimensi afektif,
perilaku, dan kognitif (Lazarus, 2003; Wilson, 2008). Contoh yang baik dari pendekatan yang
lebih integratif ini adalah terapi multimodal, yang akan dibahas kemudian dalam bab ini.
Banyak teknik, terutama yang dikembangkan dalam tiga dekade terakhir, menekankan proses
kognitif yang melibatkan peristiwa pribadi seperti klien yang berbicara sendiri sebagai
mediator perubahan perilaku (lihat Bandura, 1969, 1986; Beck, 1976; Beck & Weishaar,
2008). Perbedaan antara terapi perilaku dan terapi kognitif semakin lama semakin berkurang,
dan kenyataannya, telah terdapat pencampuran antara kedua pendekatan ini dari aspek teori,
praktik, dan penelitian (Sherry Cormier, komunikasi personal, 20 November, 2006). Bab ini
akan memberikan pembahasan lebih jauh daripada sekedar perspektif tradisional terapi
perilaku dan lebih menitikberatkan pada aspek penerapan model terapi ini. Bab 10 ditujukan
untuk pendekatan perilaku kognitif, yang berfokus untuk mengubah kognisi klien (pikiran
dan keyakinan) yang menciptakan masalah-masalah psikologis.
Konsep-Konsep Penting
Pandangan mengenai Sifat Manusia
Pendekatan terapi perilaku moderen ini dilandaskan pada pandangan saintifik
perihal perilaku manusia yang mengimplikasikan pendekatan konseling yang tersistematis
dan terstruktur. Pandangan ini tidak menganut asumsi deterministik bahwa manusia hanya
sekedar produk lingkungan sosiokultural mereka. Akan tetapi, pendekatan ini mengatakan
bahwa manusia bertindak sebagai pencipta sekaligus ciptaan lingkungan mereka sendiri.
Tren dalam terapi perilaku saat ini berfokus untuk mengembangkan tahapan-tahapan
yang benar-benar memberikan kendali pada diri klien sehingga tingkat kebebasan klien akan
semakin bertambah. Terapi perilaku bertujuan untuk meningkatkan keahlian sosial dalam diri
sehingga klien dapat memiliki opsi lebih banyak lagi dalam bereaksi terhadap lingkungan
mereka. Dengan berhenti melakukan perilaku yang membatasi pilihan diri kita bereaksi, kita
akan semakin bebas menentukan kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tidak ada,
sehingga kebebasan individual kita akan meningkat (Kazdin, 2978, 2001). Metode perilaku
ini bisa kita terapkan untuk mencapai tujuan-tujuan humanistik (Kazdin, 2001; Watson &
Tharp, 2007).
Karakteristik-Karasteristik dan Asumsi-Asumsi Dasar
Enam karakteristik terapi perilaku digambarkan di bawah ini.
1. Terapi perilaku didasarkan pada prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur metode
saintifik. Prinsip-prinsip pembelajaran eksperimental diterapkan secara sistemik untuk
membantu orang-orang mengubah perilaku buruk diri mereka. Karakteristik khusus
praktisi pendekatan perilaku adalah fokus mereka pada presisi terapi dan evaluasi
empiris terapi. Terapis pengguna pendekatan perilaku mewujudkan tujuan
penanganan mereka ke dalam istilah-istilah konkrit objektif sehingga intervensi yang
mereka terapkan dapat dilakukan ulang di lain waktu. Tujuan penanganan ini
sebelumnya telah disetujui oleh klien dan terapis. Selama proses terapi berlangsung,
terapis meninjau masalah-masalah perilaku dan lingkungan yang menunjang perilaku
buruk tersebut. Metode-metode penelitian digunakan untuk mengevaluasi prosedur
peninjauan dan penanganan. Teknik-teknik terapi yang diterapkan harus menunjukkan
efektivitas yang terlihat. Singkatnya, konsep-konsep dan prosedur terapi perilaku ini
dijabarkan secara eksplit, diuji secara empiris, dan direvisi secara berkelanjutan.
2. Terapi perilaku berfungsi untuk menangani masalah-masalah yang dihadapi klien saat
ini dan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah-masalah tersebut, tidak berfokus
pada faktor-faktor historis klien. Terapi ini menekankan faktor-faktor khusus yang
mempengaruhi diri klien saat ini dan faktor-faktor apa saja yang dapat digunakan
untuk mengubah performa diri klien tersebut. Terkadang, dengan memahami masa
lalu klien, terapis akan memperoleh informasi berguna terkait peristiwa lingkungan
yang menunjang perilaku bermasalah klien dan membantu klien menciptakan
perubahan perilaku dengan mengubah peristiwa-peristiwa lingkungannya, melalui
proses yang dinamakan peninjauan fungsional, atau yang disebut oleh Wolpe (1990)
sebagai “analisis perilaku”
3. Klien terapi perilaku diharapkan untuk berperan aktif melakukan tindakan-tindakan
yang dikhususkan untuk mengatasi masalah-masalah yang mereka hadapi. Klien tidak
hanya sekedar menceritakan kondisi permasalahan mereka, namun mereka diharuskan
untuk melakukan perubahan pada diri mereka. Klien memperhatikan perilaku mereka
baik selama dan di luar sesi terapi, mempelajari dan melatih kemampuan mengatasi
masalah mereka, dan mencoba perilaku baru dalam diri mereka. Tugas-tugas terapi
yang harus klien lakukan dalam kehidupan sehari-hari mereka, atau dapat dikatakan
sebagai pekerjaan rumah untuk mereka, merupakan bagian dasar terapi pendekatan
ini. Terapi perilaku adalah sebuah pendekatan edukatif yang berorientasi pada aksi,
dan proses pembelajaran menjadi inti utama terapi pendekatan ini, Klien belajar dan
beradaptasi pada perilaku-perilaku baru untuk menggantikan perilaku-perilaku lama
dan merusak mereka.
4. Asumsi pendekatan ini adalah bahwa perubahan dapat terjadi tanpa harus menelusuri
dinamika bawah sadar seseorang. Terapis pendekatan perilaku melakukan
penanganan atas dasar pemahaman bahwa perubahan perilaku dapat terjadi sebelum
atau bersamaan dengan proses memahami diri sendiri, dan bahwa perubahan perilaku
dapat meningkatkan pemahaman diri sendiri. Meskipun benar bahwa pencerahan dan
pemahaman perihal penyebab dasar masalah yang dihadapi dalam diri dapat
memberikan dorongan menuju perubahan, menyadari bahwa terdapat masalah dalam
diri kita dan menyadari bagaimana cara mengubah masalah tersebut adalah dua hal
berbeda (Martell, 2007).
5. Fokusnya adalah untuk meninjau perilaku diri secara langsung, mengenali masalah
yang dihadapi, dan mengevaluasi perubahan yang terjadi. Peninjauan langsung
masalah dalam diri dapat dilakukan melalui pengamatan atau pengawasan-diri.
Terapis juga meninjau budaya klien sebagai bagian lingkungan sosial mereka,
termasuk dukungan sosial terkait perilaku yang ingin diubah (Tanaka-Matsumi,
Higginbotham, & Chang, 2002). Peninjauan teliti dan evaluasi intervensi sangat
penting dilakukan dalam terapi pendekatan perilaku untuk mengetahui apakah
perubahan perilaku yang tercipta adalah hasil dari tahapan-tahapan terapi yang
dilewati.
6. Intervensi penanganan perilaku didesain khusus untuk masalah-masalah tertentu yang
dihadapi klien. Beberapa teknik terapi dapat digunakan untuk menangani masalah-
masalah diri klien. Pertanyaan penting yang dapat membantu terapis menentukan
pilhan teknik mana yang diterapkan adalah “Penanganan Apa, oleh siapa, yang paling
efektif untuk klien ini dengan masalah khusus yang dihadapinya dalam lingkungan
tertentu?” (Paul, 2967, hal. 111).
Proses Terapi
Tujuan Terapi
Tujuan terapi dilakukan berperan penting dalam terapi pendekatan perilaku ini.
Tujuan umum terapi perilaku adalah untuk meningkatkan keputusan personal diri dan untuk
menciptakan lingkungan baru untuk belajar. Klien, dengan bantuan terapis, menjabarkan
tujuan penanganan di tahap awal proses terapi. Meskipun proses penanganan dan peninjauan
dilakukan bersamaan, peninjauan formal dilakukan sebelum penanganan dilakukan untuk
menentukan perilaku apa yang ingin diubah. Peninjauan berkelanjuan sepanjang terapi
menentukan seberapa dekat klien menuju tujuan perubahannya. Terapis harus menciptakan
sebuah cara untuk mengukur kemajuan klien menuju tujuannya berdasarkan validasi-validasi
empiris yang diperoleh dari proses terapi.
Terapi perilaku kontemporer menekankan peran aktif klien untuk membuat keputusan
terkait penanganan mereka. Terapis membantu klien membentuk tujuan-tujuan spesifik untuk
diri mereka. Tujuan yang mereka putuskan harus jelas, konkrit, dipahami, dan disetujui oleh
klien dan oleh konselor. Konselor dank lien membahas perilaku-perilau terkait tujuan klien
tersebut, situasi-situasi yang diperlukan untuk mewujudkan perubahan, inti tujuan, dan suatu
perencanaan tindakan untuk mencapai tujuan tersebut. Proses penentuan tujuan terapi ini
mengimplikasikan adanya negosiasi antara klien dan konselor yang menghasilkan suatu
kontrak yang menuntun arah terapi. Terapis dan klien dapat mengubah tujuan terapi selama
proses terapi berlangsung jika diperlukan.
Fungsi dan Peran Terapis
Terapis pendekatan perilaku melakukan peninjauan fungsional (atau analisis
perilaku) untuk mengidentifikasi kondisi-kondisi yang menunjuang perilaku bermasalah
klien dengan mengumpulkan informasi terkait situasi historis klien, dimensi masalah perilaku
klien, dan dampak perilaku bermasalah tersebut. Proses ini disebut sebagai model ABC, yang
membahas antecedents (situasi historis), behaviors (perilaku), dan consequences (dampak).
Model ini mengatakan bahwa perilaku behavior (B) dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa
tertentu yang terjadi sebelumnya, disebut sebagai situasi historis antecedents (A), dan juga
dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi setelahnya, yaitu dampak
consequences (C). Peristiwa historis adalah peristiwa yang memicu suatu perilaku tertentu.
Contohnya, untuk klien yang memiliki masalah susah tidur, mendengar rekaman relaksasi
dapat menjadi pemicu tidur klien tersebut. Mematikan lampu dan menghilangkan televisi dari
tempat tidur juga dapat memicu terjadinya perilaku tidur. Dampak adalah peristiwa yang
menjaga suatu perilaku tertentu dengan meningkatkan atau mengurangi perilaku tersebut.
Contohnya, seorang klien akan lebih cenderung kembali melakukan konseling setelah
konselor memuji atau menyemangati klien karena telah datang untuk melakukan konseling
atau karena telah berhasil menyelesaikan pekerjaan rumah yang ditugaskan padanya oleh
terapis. Klien juga akan cenderung untuk tidak lagi kembali mengikuti konseling jika
konselor selalu terlambat datang dalam tiap sesi terapi. Dalam melakukan wawancara
peninjauan, tugas terapis adalah untuk mengenali peristiwa pemicu dan peristiwa dampak
yang mempengaruhi atau yang berkaitan secara fungsional pada perilaku individu (Cormier,
Nurius, & Osborn, 2009).
Praktisi yang berorientasi pada pendekatan perilaku cenderung berperan lebih aktif
dan direktif dan berperan sebagai konsultan dan penyelesai masalah. Mereka memperhatikan
petunjuk-petunjuk yang diberikan klien, dan mereka berkemauan untuk mengikuti firasafat
klinis mereka. Praktisi terapi pendekatan perilaku harus memiliki keahlian, sensitivitas, dan
pengetahuan klinis mereka (Wilson, 2008). Mereka menggunakan sejumlah teknik yang
seurpa dengan pendekatan-pendekatan lain, seperti membuat rangkuman, melakukan refleksi,
klarifikasi, dan memberikan pertanyaan-pertanyaan terbuka. Akan tetapi, terapis pendekatan
perilaku juga melakukan fungsi-fungsi lainnya (Miltenbergerm 2008;Spiegler &
Guevremont, 2003):
Dengan berdasarkan pada penilaian fungsional yang komperhensif, terapis
merumuskan tujuan awal penanganan dan mendesain serta mengimplementasikan
suatu perencanaan penanganan untuk mencapai tujuan tersebut.
Ahli terapis pendekatan perilaku menggunakan strategi-strategi terapi yang didukung
oleh penelitian. Strategi-strategi ini digunakan untuk mengembangkan dan menjaga
perubahan perilaku. Sejumlah strategi-strategi ini akan dibahas lebih lanjut dalam bab
ini.
Terapis mengevaluasi keberhasilan perencanaan perubahan perilaku dengan
mengukur kemajuan menuju tujuan yang ingin dicapai. Hasil pengukuran tersebut
kemudian akan diberikan pada klien di awal proses terapi (disebut sebagai landasan
dasar) dan kemudian dikoleksi kembali oleh terapis secara bertahap selama dan
setelah penanganan dilakukan untuk menentukan apakah strategi dan perencanaan
penanganan yang dilakukan bekerja atau tidak. Jika tidak, maka strategi yang
digunakan akan disesuaikan.
Tugas utama terapis adalah untuk melakukan peninjauan lanjutan untuk melihat
apakah perubahan perilaku klien dapat bertahan lama. Klien kemudian mengetahui
bagaimana cara mengenali dan menghadapi kemungkinan-kemungkinan kemunduran
perubahan perilakunya.
Mari kita tinjau bagaimana seorang terapis pengguna pendekatan perilaku melakukan
fungsi-fungsi terapi perilaku ini. Seorang klien melakukan terapi untuk mengurangi
kecemasan dalam dirinya, dimana kecemasannya tersebut mencegah dirinya untuk keluar
rumah. Besar kemungkinan terapis akan memulai proses terapinya dengan analisis khusus
terkait kecemasannya tersebut. Terapis akan bertanya pada klien bagaimana pengalaman
kecemasannya meninggalkan rumah, termasuk apa yang ia lakukan dalam situasi tersebut.
Terapis kemudian mengumpulkan informasi terkait kecemasan ini secara sistematis.
Kapan masalahnya mulai terjadi? Dalam situasi apa kecemasan tersebut timbul? Apa
yang ia lakukan dalam situasi tersebut? Apa yang ia rasakan dan pikirkan dalam situasi
seperti ini? Siapa yang ada di sekitarnya ketika ia mengalami kecemasan berlebihan ini?
Apa yang ia lakukan untuk mengurangi kecemasannya? Bagaimana rasa takutnya ini
menghalangi dirinya untuk hidup secara efektif? Setelah peninjauan ini, tujuan terapi
perilaku pun kemudian dikembangkan secara spesifik, dan terapi eksposur akan dibuat
untuk membantu klien mengurangi rasa cemas berlebihannya. Terapis akan menerima
komitmen klien untuk berusaha mencapai tujuan tertentu yang telah diputuskan
sebelumnya, dan keduanya akan mengevaluasi kemajuan klien menuju keberhasilan
tujuannya selama terapi berlangsung.
Pengalaman Klien dalam Terapi
Salah satu kontribusi unik terapi pendekatan perilaku adalah terapi tersebut
memberikan terapis sistem prosedur yang jelas untuk diterapkan. Baik terapis maupun klien
masing-masing memiliki peran yang jelas, dan dalam pendekatan ini, pentingnya kesadaran
dan keterlibatan klien sangat ditekankan. Salah satu ciri terapi perilaku adalah baik terapis
dan klien beperan aktif dalam proses terapi. Peran terapis dalam pendekatan ini adalah juga
untuk mengajarkan klien keahlian-keahlian konkrit melalui pemberian instruksi pada klien,
pembentukan diri klien, serta melalui umpan balik terkait performa perilaku klien. Klien
terlibat dalam latihan perilaku dengan memberikan umpan balik hingga klien menguasai
keahlian yang ia butuhkan. Klien juga pada umumnya akan menerima semacam pekerjaan
rumah (seperti pengawasan-diri atau pengawasan perilaku bermasalah) yang mereka harus
kerjakan selama sesi terapi. Martell (2007) menekankan bahwa perubahan yang klien
wujudkan dalam terapi harus dapat diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari mereka; klien
harus terus-menerus mengembangkan perubahan perilaku diri mereka. Klien harus terdorong
untuk berubah dan diharapkan untuk berisfat kooperatif dalam melakukan aktivitas-aktivitas
terapi, baik selama sesi terapi berlangsung maupun dalam kehidupan sehari-harinya.
Jika klien tidak terlibat dalam cara ini, kemungkinan untuk keberhasilan terapi itu kecil.
Namun, jika klien tidak termotivasi, strategi behavioral lainnyayang memiliki dukungan
empiris yang dapat dipertimbangkan adalah wawancara motivasional. Strategi ini mencakup
menghormati resistensi klien dengan cara tertentu sehingga motivasinya untuk berubah
meningkat seiring waktu (Cornier et al., 2009).
Klien didukung untuk bereksperimen demi tujuan untuk memperbesar daftar perilaku
adaptif mereka. konseling tidak lengkap kecuali tindakan mengikuti verbalisasi. Tentu saja,
hal ini terjadi hanya ketika transfer perubahan dibuat dari sesi ke kehidupan sehari-hari dan
ketika efek terapi diperluas melampaui terminasi sehingga perlakuan dapat dianggap berhasil
(Granvold & Wodarski, 1994). Klien sama sadarnya dengan terapis ketika tujuan telah
dicapai dan sesuai untuk menterminasi perlakuan. Hal ini jelas bahwa klien diharapkan untuk
melakukan lebih dari pada sekadar mengumpulkan wawasan; mereka harus ikhlas untuk
membuat perubahan dan untuk terus mengimplementasikan perilaku baru ketika perlakuan
formal telah selesai.
Hubungan antara Terapis dan Klien
Bukti klinik dan penelitian menyarankan bahwa sebuah hubungan terapiutik, bahkan
dalam konteks orientasi behavioral, dapat berkontribusi secara signifikan pada proses
perubahan perilaku (Grandvold & Wodarski, 1994). Kebanyakan praktisi behavioral
menekankan nilai membangun sebuah hubungan kerja kolaboratif (J. Beck, 2005). Sebagai
contoh, Laarus (2008) meyakini sebuah daftar fleksibel dalam gaya relasi, ditambah sebuah
teknik yang luas, meningkatkan hasil perlakuan. Dia menekankan kebutuhan akan
fleksibilitas terapi dan kepandaian diatas yang lainnya. Lazarus menyatakan bahwa irama dari
interaksi klien-terapis berbeda dari satu individu dengan individu lainnya dan bahkan dari
satu sesi dengan sesi lainnya. Terapis perilaku yang berbakat membuat konsep masalah
secara perilaku dan menggunakan hubungan klien-terapis dalam memfasilitasi perubahan.
Seperti yang akan anda ingat, terapis eksperiental (terapi eksistensial, terapi pribadi-
pusat, dan terapi Gestalt ) menempatkan penekanan utama pada sifat keterkaitan antara
konselor dan klien. Sebaliknya, kebanyakan praktisi behavioral menyatakan bahwa faktor-
faktor seperti kehangatan, empati, autentikasi, permisif, dan penerimiaan itu penting tetapi
tidak cukup untuk menjadikan perubahan perilaku itu muncul. Hubungan klien-terapis adalah
fondasi dimana stratedi terapi dibangun untuk membantu perubahan klien ke arah yang
diinginkan. Namun, terapis perilaku mengasusmsikan bahwka klien membuat kemajuan
umumnya karena teknik behavioral spesifik yang digunakan dan bukannya karena hubungan
dengan terapis.
Aplikasi : Teknik dan Prosedur Terapi
Kekuatan dari pendekatan behavioral adalah perkembangan dari prosedur terapi spesifik yang
harus ditunjukkan menjadi efektik melalui alat-alat objektif. Hasil dari intervensi behavioral
menjadi jelas karena terapis menerima feedback langsung terus-menerus dari klien mereka.
sebuah tanda dari pendekatan behavioran adalah bahwa teknik terapi secara empiris didukung
dan praktik berdasar pada bukti sangat dinilai tinggi. Sebgai jaminannya, keefektifan dati
terapi perilaku (dan terapi perilaku kognitif) telah diteliti dengan populasi yang berbeda dan
aturan luas kelainan.
Menurut Arnold Lazaruz (1989, 1992b, 1996b, 1997a, 2005, 2008), seorang pelopor
dalam terapi perilaku klinik kontemporer, praktisi perilaku dapat bekerja sama kedalam
rencana perlakuan mereka teknik apapun yang dapat didemonstrasikan agar secara efektif
mengubah perilaku. Lazarus mendukung penggunaan teknik yang beragam, tanpa
memperhatikan sumber teoritisnya. Hal ini jelas bahwa terapis perilaku tidak memiliki tidak
harus membatasi diri mereka hanya pada metode yang diambil dari teori yang dipelajari.
Sama halnya, teknik behavioral dapat digunakan bersama pendekatan yang lain. Hal ini
diilustrasikan nanti di bab ini pada sesi integrasi dari teknik behavioral dan psikoanalisis,
juga, dengan penggabungan kesadaran dan pendekatan berdasar pada penerimaan kedalam
praktik dari terapi perilaku.
Prosedur terapi digunakan oleh terapis dirancang khusus klien tertentu dan bukannya
dengan secara acak dipilih dari sebuah “teknik tas”. Terapis sering cuku kreatif dalam
intervensi mereka. Di sesi berikut saya menggambarkan sebuah teknik behavioral yang
tersedia bagi praktisi: analisis behavioral yang diaplikasikan, pelatihan relaksasi, desensitisasi
sistemati, terapis eksposur, desensitisasi gerakan mata dan proses kembali, pelatihan keahlian
sosial, program modifikasi diri dan perilaku pengarahan diri, terapi multimodal, dan
kesadaran dan pendekatan berdasar penerimaan. Teknik ini tidak meliputi spektrum penuh
dari prosedur perilaku, tetapi mereka mewakili sebuah sample dari pendekatan yang
digunakan dalam terapi perilaku kontemporer.
Analisis perilaku terapan: teknik kondisi operant
Sesi ini menggambarkan beberapa prinsip kunci dari kondisi operant: penguatan positif,
penguatan negatif, kepunahan, hukuman positif, dan hukuman negatif. Untuk perlakuan rinci
dari metode kondisi operant yang luas yang merupakan bagian dari modifikasi perilaku
kontemporer, saya merekomendasikan Kazdin (2001) dan Miltenberger (2008).
Analisis perilaku terapan, teknik kondisi operant dan metode kajian dan evaluasi
diterapkan pada masalah yang luas dalam setting yang berbeda (Kazdin, 2001). Kontribusi
paling penting dari analisis perilaku terapan adalah ia menawarkan sebuah pendekatan
fungsional untuk memahami masalah klien dan membahas masalah ini dengan mengubah
yang mendahuui dan konsekuensi (Model ABC).
Behavioris percaya bahwa kita merespon dengan cara yang dapat diprediksikan
karena pencapaian yang kita alami (penguatan positif) atau karena kebutuhan untuk
melarikan diri atau menghindari konsekuensi yang tidak menyenangkan (penguatan negatif).
Ketika tujuan klien telah dikaji, perilaku spesifik ditargetkan. Tujuan dari penguatan, baik itu
positif atau negatif, adalah untuk meningkatkan perilaku target. Penguatan positif mencakup
tambahan dari suatu nilai kepada individu (seperti pujian, perhatian, uang atau makanan)
sebagai konsekuensi dari perilaku tertentu. Ransangan yang mengikuti perilaku adalah
penguatan positif. Sebagai contoh, seorang anak memperoleh nilai yang terbaik dan dipuji
karena belajar oleh orang tuanya. Jika dia menghargai pujian ini, hal ini nampak bahwa dia
akan memiliki sebuah investasi dalam belajar di masa depan. Ketika tujuan dari sebuah
program adalah untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan.
Penguatan negatif mencakup pelarian dari atau penghindaran dari stimulus yang
tidak menyenangkan. Individu di motivasi untuk menunjukkan perilaku yang diinginkan
untuk menghindari kondisi yang tidak menyenangkan. Sebagai contoh, seorang sahabat saya
tidak menyukai bangun karena suara melengking dari alarm. Dia melatih dirinya untuk
bangun beberapa menit sebelum alarm berbunyi untuk menghindari stimulus yang tidak
menyenangkan dari getaran alarm.
Metode operan lainnya dari perilaku perubahan adalah kepunahan, yang mengacu
pada penguatan yang disembunyikan dari respon yang dikuatkan sebelumnya. Dalam setting
terapan, kepunahan dapat digunakan untuk perilaku yang telah dipertahankan oleh penguatan
positif atau penguatan negatif. Sebagai contoh, dalam kasus anak-anak yang memainkan
tingkah marah, orang tua sering menguatkan perilaku ini dengan perhatian yang diberikan
kepadanya. Sebuah pendekatan untuk berhadapan dengan perilaku problematik adalah untuk
menghilangkan koneksi antara perilaku tertentu (tingkah) dan penguatan positif (perhatian).
Dengan melakukan itu dapat menurunkan atau menghilangkan perilaku seperti itu melalui
proses pemunahan. Harus dicatat bahwa pemunahan mungkin memiliki efek negatif, seperti
kemarahan dan penyerangan. Pemunahan dapat mengurangi atau menghilangkan perilaku
tertentu, tetapi pemunahan tidak mengganti respon yang telah ditiadakan. Dengan alasan ini,
pemunahan paling sering digunakan dalam program modifikasi perilaku bersama dengan
beragam strategi penguatan (Kazdin, 2001).
Cara lain mengontrol perilaku adalah melalui hukuman, terkadang mengacu pada
kontrol aversif, dimana konsekuensi dari perilaku tertentu menghasilkan penurunan dari
perilaku tersebut. Tujuan dari penguatan adalah untuk meningkatkan perilaku target, tetapi
tujuan dari hukuman adalah menurunkan perilaku target. Miltenberger (2008)
menggambarkan dua jenis hukuman yang mungkin muncul sebagai konsekuensi dari
perilaku: hukuman positif dan hukuman negatif. Dalam hukuman positif sebuah stimulus
aversif ditambahkan setelah perilaku untuk menurunkan frekuensi dair sebuah perilaku
(seperti menahan sebuah perlakuan dari seorang anak karena perilaku menyimpanga atau
memngomeli seorang siswa karena berulah diluar kelas). Dalam hukuman negatif sebuah
ransnagan penguatan dihilangkan mengikuti perilaku untuk mengurangi frekuensi dari
perilaku target (seperti mengurangi uang dari gaji seseorang karena tidak bekerja, atau
menghilangkan waktu menonton televisi seornag anak karena perilaku salah). Di kedua jenis
hukuman tersebut, perilaku sering muncul di masa depan. Keempat prosedur operant ini
membentuk dasar dari program terapi perilaku bagi pelatihan skill orang tua dan juga
digunakan dalam prosedur manajemen diri yang didiskusikan nanti di bab ini.
Skinner (1948) percaya hukuman telah membatasi nilai dari perilaku perubahan dan
sering merupakan sebuah cara yang tidak diinginkan untuk memodifikasi perilaku. Dia
menolak menggunakan kontrol aversif atau hukuman, dan merekomendasikan mengganti
penguatan positif. Prinsip kunci dari pendekatan analisis perilaku terapan adalah untuk
menggunakan setidaknya alat aversif yang mungkin untuk perubahan, dan penguatan positif
diketahui menjadi agen perubahan yang paling kuat. Skinner percaya pada nilai dari
menganalisis faktor lingkungan baik untuk sebab dan perbaikan bagi masalah behavioral dan
berpendapat bahwa manfaat terbesar bagi individu dan masyarakat muncul dengan
menggunakan penguatan positif sistematik sebagu sebuah rute untuk kontrol perilaku (Nye,
2000).
Dalam kehidupan sehari-hari, hukuman sering digunakan sebagai alat untuk
membalas dendam atau mengekspresikan frustrasi. Namun, ketika Kazdin (2001) telah
mencatat, hukuman dalam kehidupan sehari-hari nampak bukan untuk mengajarkan
pelajaran atau menekankan perilaku yang dapat ditoleransi karena hukuman spesifik yang
digunakan dan bagaimana mereka diterapkan” (p. 231). Bahkan dalam kasus tersebut ketika
hukuman menekan respon yang tidak diinginkan, hukuman tidak dihasilkan pengajaran
perilaku yang diinginkan. Hukuman harus digunakan hanya setelah pendekatan non aversif
yang telah diimplementasikan dan ditemukan tidak efektif dalam perubahan perilaku
problematik (Kazdin, 2001; Miltenberger, 2008). Hal ini penting bahwa penguatan digunakan
sebagai sebuah cara untuk mengembangkan perilaku yang tepat yang menempatkan perilaku
yang ditahan.
Pelatihan Relaksasi dan Metode yang Berhubungan
Pelatihan relaksasi telah menjadi populer sebagai sebuah metode pengajaran orang untuk
berhadapan dengan penekanan yang dihasilkan oleh kehidupan sehari-hari. Hal ini bertujuan
pada pencapaian relaksasi otot dan mental dan dipelajari dengan mudah. Setelah klie
mempelajari prosedur dasar dari relaksasi, penting agar mereka mempraktikkan latihan ini
setiap hari untuk mencapai hasil maksimal.
Jacobson (1938) dimasukkan dengan mulanya mengembangkan prosedur relaxasi otot
progresif. Hal tersebut telah diperbaiki dan dimodifikasi, dan prosedur relaksasi sering
digunakan dalam kombinasi dengan sejumlah teknik perilaku lainnya. Hal ini mencaku
desensitisasi sistematik, pelatihan asersi, program manajemen diri, perekaman audiotape
prosedur relaxasi yang dibimbing, program simulasi komputer, relaksasi biofeedback-induce,
hipnosis, meditasi, dan pelatihan autogenik (mengajarkan kontrol dari fungsi jasadiah dan
imajinal melalui auto sugesti).
Pelatihan relaksasi mencakup beberapa komponen yang secara tipikal memerlukan 4
sampai 8 jam instruksi. Klien diberikan sejumlah instruksi yang mengajarkan mereka untuk
rileks. Mereka mengasumsikan sebuah posisi pasif dan rileks dalam sebuah lingkungan
tenang sambil secara bergantian mengkonstraksikan dan merelaksasikan otot. Relaksasi otot
progresif ini secara eksplisit diajarkan kepada klien oleh terapis. Nafas yang dalam dan
teratur juga dihubungkan dengan relaksasi yang dihasilkan. Di waktu yang sama, klien
belajar agar secara mental “melepaskan,” mungkin dnegan memfokuskan pada pemikiran
atau gambaran positif. Klien diinstruksikan untuk merasa dan mengalami tensi yang
meningkat, untuk menyadari otot mereka mengencang dan mempelajari tensi ini, dan untuk
memegang dan sepenuhnya mengalami tensi tersrbut. Juga, berguna bagi klien untuk
mengalami perbedaan antara kondisi tensi dan rilek. Klien kemudian diajari bagaimana
merilekskan semua otot sambil memvisualisasikan beragam bagian dari tubuh, dengan
menekankan pada oto wajah. Otot lengan direlaksasikan pertama, kemudian kepala, leher,
dan bahu, belakang, perut dan thorax kemudian tungkai bawah. Relaksasi menjadi respon
yang dipelajari dengan baik, yang dapat menjadi sebuah pola perilaku jika dipraktikkan
sehari-hari selama 25 menit setiap hari.
Sebagai sebuah latihan dari fase prosedur relaksasi otot progresif ini yang dapat anda
terapkan untuk diri anda sendiri, lihat Student Manual for Theory and Practice of Counseling
and Psychotherapy (Corey, 2009b). Untuk demonstrasi audiotape yang bagus dari relaksasi
otot progresi, lihat Dattilio (2006).
Prosedur relaksasi telah diterapkan pada berbagai masalah klinis, baik sebagai teknik
terpisah atau dalam hubungannya dengan metode yang terkait. Penggunaan yang paling
umum adalah masalah yang berkaitan dengan stres dan kecemasan, yang sering
dimanifestasikan dalam gejala psikosomatik. Beberapa penyakit lain yang membantu
pelatihan relaksasi termasuk asma, sakit kepala, hipertensi, insomnia, sindrom iritasi usus,
dan gangguan panik (Cormier et al., 2009).
Desensitisasi sistematis
Desensitisasi sistematis, yang didasarkan pada prinsip pengondisian klasik, adalah prosedur
perilaku dasar yang dikembangkan oleh Joseph Wolpe, salah satu pelopor terapi perilaku.
Klien secara berturut-turut membayangkan lebih banyak situasi yang membangkitkan
kecemasan pada saat yang sama ketika mereka terlibat dalam perilaku yang bersaing dengan
kecemasan. Secara bertahap, atau sistematis, klien menjadi kurang sensitif (peka) terhadap
situasi yang menimbulkan kecemasan. Prosedur ini dapat dianggap sebagai bentuk terapi
eksposur karena klien diharuskan untuk mengekspos diri mereka pada gambaran yang
membangkitkan kecemasan sebagai cara untuk mengurangi kecemasan.
Desensitisasi sistematis adalah prosedur terapi perilaku yang diteliti secara empiris
yang memakan waktu, namun jelas merupakan pengobatan yang efektif dan efisien untuk
gangguan yang bekaitan dengan kecemasan, terutama di bidang fobia spesifik (Cormier et al.,
2009; McNeil & Kyle, 2009; Spiegler & Guevremont, 2003). Sebelum menerapkan prosedur
desensitisasi, terapis melakukan wawancara awal untuk mengidentifikasi informasi spesifik
tentang kecemasan dan untuk mengumpulkan informasi latar belakang yang relevan tentang
klien. Wawancara ini, yang dapat berlangsung beberapa sesi, memberi terapis pemahaman
yang baik tentang siapa kliennya. Terapis mempertanyakan klien tentang keadaan tertentu
yang menimbulkan ketakutan terkondisi. Misalnya, dalam situasi apa klien merasa cemas?
Jika klien cemas dalam situasi sosial, apakah kecemasannya berbeda dengan jumlah orang
yang hadir? Apakah klien lebih cemas dengan wanita atau pria? Klien diminta untuk memulai
proses pemantauan diri yang terdiri dari mengamati dan mencatat situasi selama seminggu
yang menimbulkan respons kecemasan. Beberapa terapis juga memberikan kuesioner untuk
mengumpulkan data tambahan tentang situasi yang mengarah pada kecemasan.
Jika keputusan dibuat untuk menggunakan prosedur desensitisasi, terapis memberikan
alasan yang masuk akal kepada klien terhadap prosedur terapi dan menjelaskan secara singkat
apa yang terlibat. McNeil dan Kyle (2009) menggambarkan beberapa langkah dalam
penggunaan desensitisasi sistematis: (1) pelatihan relaksasi, (2) pengembangan hirarki
kecemasan, dan (3) desensitisasi sistematis yang tepat.
Langkah-langkah dalam pelatihan relaksasi, yang dijelaskan sebelumnya, disajikan
kepada klien. Terapis menggunakan suara yang sangat tenang, lembut, dan menyenangkan
untuk mengajarkan relaksasi otot progresif. Klien diminta untuk membuat citra situasi santai
yang sebelumnya, seperti duduk di tepi danau atau berkeliaran di lapangan yang indah.
Adalah penting bahwa klien mencapai keadaan tenang dan damai. Klien diinstruksikan untuk
berlatih relaksasi baik sebagai bagian dari prosedur desensitisasi dan juga di luar sesi setiap
hari.
Terapis kemudian bekerja dengan klien untuk mengembangkan hierarki kecemasan
untuk masing-masing bidang yang diidentifikasi. Stimuli yang menimbulkan kecemasan di
bidang tertentu, seperti penolakan, kecemburuan, kritik, ketidaksetujuan, atau fobia apa pun,
dianalisis. Terapis menyusun daftar situasi yang mendatangkan tingkat kecemasan atau
penghindaran yang meningkat. Hirarki diatur dalam urutan dari situasi terburuk yang dapat
dibayangkan klien hingga situasi yang paling sedikit menimbulkan kecemasan. Jika telah
ditentukan bahwa klien memiliki kecemasan terkait dengan ketakutan akan penolakan,
misalnya, situasi penghasil kecemasan tertinggi mungkin penolakan oleh pasangan,
selanjutnya, penolakan oleh teman dekat, dan kemudian penolakan oleh rekan kerja. Situasi
yang paling tidak mengganggu mungkin adalah ketidakpedulian orang asing terhadap klien di
sebuah pesta.
Desensitisasi tidak dimulai sampai beberapa sesi setelah wawancara awal selesai.
Cukup waktu bagi klien untuk mempelajari relaksasi dalam sesi terapi, mempraktikkannya di
rumah, dan membangun hierarki kecemasan mereka. Proses desensitisasi dimulai dengan
klien mencapai relaksasi lengkap dengan mata tertutup. Adegan netral disajikan, dan klien
diminta untuk membayangkannya. Jika klien tetap santai, ia diminta untuk membayangkan
adegan yang paling tidak menimbulkan kecemasan pada hierarki situasi yang telah
dikembangkan. Terapis secara progresif bergerak naik ke atas sampai klien memberi tanda
bahwa dia mengalami kecemasan, pada saat adegan itu dihentikan. Relaksasi kemudian
diinduksi lagi, dan adegan itu diperkenalkan kembali sampai sedikit kecemasan dialami untuk
itu. Perawatan berakhir ketika klien dapat tetap dalam keadaan santai sambil membayangkan
adegan yang sebelumnya paling mengganggu dan menghasilkan kecemasan. Inti dari
desensitisasi sistematis adalah paparan berulang dalam imajinasi terhadap situasi yang
membangkitkan kecemasan tanpa mengalami konsekuensi negatif.
Pekerjaan rumah dan tindak lanjut adalah komponen penting dari desensitisasi yang
berhasil. Klien dapat mempraktikkan prosedur relaksasi yang dipilih setiap hari, di mana
mereka memvisualisasikan adegan yang diselesaikan pada sesi sebelumnya. Secara bertahap,
mereka juga mengekspos diri mereka sendiri ke situasi kehidupan sehari-hari sebagai cara
lebih lanjut untuk mengelola kecemasan mereka. Klien cenderung mendapat manfaat paling
banyak ketika mereka memiliki berbagai cara untuk mengatasi situasi yang membangkitkan
kecemasan yang dapat terus mereka gunakan begitu terapi telah berakhir McNeil dan Kyle
(2009).
Desensitisasi sistematik adalah teknik yang tepat untuk mengobati fobia, tetapi adalah
kesalahpahaman bahwa itu dapat diterapkan hanya untuk pengobatan kecemasan. Ini juga
telah digunakan untuk mengobati berbagai kondisi selain kecemasan, termasuk kemarahan,
serangan asma, insomnia, mabuk perjalanan, mimpi buruk, dan berjalan dalam tidur
(Spiegler, 2008). Secara historis, desensitisasi mungkin memiliki rekam jejak terpanjang dari
setiap teknik perilaku dalam menghadapi ketakutan, dan hasil positifnya telah
didokumentasikan berulang kali McNeil dan Kyle (2009). Desensitisasi sistematis sering
diterima oleh klien karena mereka secara bertahap dan simbolis terpapar pada situasi yang
membangkitkan kecemasan. Usaha perlindungan adalah bahwa klien mengendalikan proses
dengan melakukan langkah mereka sendiri dan mengakhiri paparan ketika mereka mulai
mengalami lebih banyak kecemasan daripada yang ingin mereka toleransi (Spiegler &
Guevremont, 2003).
Pemaparan In Vivo dan Flooding
Terapi pemaparan dirancang untuk mengobati ketakutan dan respons emosional negatif
lainnya dengan memperkenalkan klien, dalam kondisi yang terkontrol dengan cermat, pada
situasi yang berkontribusi terhadap masalah tersebut. Paparan adalah proses kunci dalam
mengobati berbagai masalah yang terkait dengan ketakutan dan kecemasan. Terapi paparan
melibatkan konfrontasi sistematis dengan stimulus yang ditakuti, baik melalui imajinasi atau
in vivo (hidup). Apa pun rute yang digunakan, paparan melibatkan kontak dengan klien dan
apa yang mereka takuti (McNeil & Kyle, 2009). Desensitisasi adalah salah satu jenis terapi
paparan, tetapi ada yang lain. Dua variasi desensitisasi sistematis tradisional adalah paparan
in vivo dan flooding.
PEMAPARAN IN VIVO Pemaparan in vivo melibatkan pemaparan klien terhadap
kejadian-kejadian aktual yang membangkitkan kecemasan daripada sekadar membayangkan
situasi-situasi ini. Paparan langsung telah menjadi landasan terapi perilaku selama beberapa
dekade (Hazlett-Stevens & Craske, 2003). Bersama-sama, terapis dan klien menghasilkan
hierarki situasi yang harus dihadapi klien dalam urutan kesulitan yang menanjak. Klien
terlibat dalam serangkaian paparan singkat dan bertahap untuk kejadian yang ditakuti. Klien
dapat menghentikan paparan jika mereka mengalami tingkat kecemasan yang tinggi. Seperti
halnya dengan desensitisasi sistematis, klien belajar tanggapan bersaing yang melibatkan
relaksasi otot. Dalam beberapa kasus, terapis dapat menemani klien saat mereka menghadapi
situasi yang ditakuti. Sebagai contoh, seorang terapis bisa pergi dengan klien di lift jika
mereka memiliki fobia menggunakan lift. Tentu saja, ketika prosedur di luar kantor seperti ini
digunakan, masalah keselamatan dan batasan etika yang tepat selalu dipertimbangkan. Orang-
orang yang memiliki ketakutan ekstrem terhadap hewan-hewan tertentu dapat bertemu
dengan hewan-hewan ini dalam kehidupan nyata di tempat yang aman bersama terapis.
Paparan in vivo yang dikelola sendiri prosedur di mana klien memaparkan diri mereka
sendiri pada peristiwa yang membangkitkan kecemasan sendiri adalah alternatif ketika
tidak praktis bagi terapis untuk bersama klien dalam situasi kehidupan nyata.
FLOODING Bentuk lain dari terapi pemaparan adalah flooding, yang mengacu pada
paparan in vivo atau imajinal terhadap rangsangan yang membangkitkan kecemasan untuk
jangka waktu yang lama. Sebagaimana karakteristik dari semua terapi paparan, meskipun
klien mengalami kecemasan selama pemaparan, konsekuensi yang ditakuti tidak terjadi.
In vivo flooding terdiri dari paparan intens dan berkepanjangan terhadap rangsangan
penghasil kecemasan yang sebenarnya. Tetap terpapar rangsangan yang ditakuti untuk jangka
waktu lama tanpa terlibat dalam perilaku mengurangi kecemasan dan memungkinkan
kecemasan berkurang dengan sendirinya. Umumnya, klien yang sangat ketakutan cenderung
mengurangi kecemasan mereka melalui penggunaan perilaku maladaptif. Dalam flooding,
klien dicegah untuk melakukan respons maladaptif mereka yang biasa terhadap situasi yang
membuat cemas. In vivo flooding cenderung mengurangi kecemasan dengan cepat.
Flooding imajinal didasarkan pada prinsip yang sama dan mengikuti prosedur yang
sama namun pemaparan terjadi dalam imajinasi klien dan bukan dalam kehidupan sehari-hari.
Keuntungan menggunakan flooding imajinal atas in vivo flooding adalah bahwa tidak ada
batasan pada sifat situasi kecemasan yang membangkitkan yang dapat diobati. Paparan in
vivo terhadap peristiwa traumatis aktual (kecelakaan pesawat, pemerkosaan, kebakaran,
banjir) seringkali tidak mungkin dan tidak sesuai untuk alasan etis dan praktis. Flooding
imajinal dapat menciptakan kembali keadaan trauma dengan cara yang tidak membawa
konsekuensi buruk bagi klien. Korban selamat dari kecelakaan pesawat, misalnya, mungkin
menderita berbagai gejala yang melemahkan. Mereka cenderung memiliki mimpi buruk dan
kilas balik ke bencana, mereka dapat menghindari perjalanan melalui udara atau memiliki
kecemasan tentang perjalanan dengan cara apa pun, dan mereka mungkin memiliki berbagai
gejala menyedihkan seperti rasa bersalah, kecemasan, dan depresi.
Teknik Flooding sering digunakan untuk menangani masalah-masalah seperti gangguan
kecemasan berlebihan, fobia, gangguan obsesif kompulsif, gangguan stres pasca trauma, dan
agorafobia.
Pemberian eksposur mendalam pada diri klien dapat menjadi cara yang efektif dan
efisien untuk mengurangi kecemasan berlebihan klien. Akan tetapi, karena pemberian
eksposur mendalam ini dapat menciptakan perasaan tidak nyaman bagi klien, mereka
mungkin tidak ingin melakukan proses penanganan melalui pemberian eksposur. Terapis
pendekatan perilaku harus bekerja sama dengan klien untuk menciptakan dorongan dan
kesiapan diri klien untuk melewati proses eksposur. Dari segi moral, klien harus memahami
terapi eksposur mendalam dengan baik sebelum memutuskan untuk melakukannya. Klien
harus memahami bahwa dalam melakukan terapi eksposur, mereka akan merasakan
kecemasan berlebihan yang mereka takuti. Klien harus membuat keputusan matang setelah
menimbang kelebihan dan kekurangan terapi eksposur yang membuat mereka harus
menghadapi rasa takut mereka.
Penelitian menunjukkan bahwa terapi eksposur dapat mengurangi rasa takut dan
kecemasan berlebihan diri klien (Tryon, 2005). Keberhasilan terapi eksposur menangani
bermacam-macam gangguan kejiwaan membuat teknik eksposur ini juga diterapkan dalam
sebagian besar terapi perilaku kognitif dalam menangani gangguan kecemasan berlebihan
(McNeil & Kyle, 2009). Spiegler dan Guevremont (2003) menyimpulkan bahwa terapi
eksposur adalah satu-satunya teknik yang tepat dalam terapi pendekatan perilaku untk
menangani gangguan-gangguan terkait kecemasan berlebihan, dan terapi eksposur ini dapat
memiliki dampak yang bertahan secara jangka panjang. Akan tetapi, mereka menambahkan
bahwa menggunakan teknik eksposur sebagai satu-satunya cara penanganan tidak selalu
memadai untuk menyelesaikan masalah klien. Dalam beberapa kasus melibatkan gangguan-
gangguan kejiwaan yang parah dan kompleks, terkadang sejumlah intervensi penanganan
perlu dilakukan. Teknik eksposur vivo dan eksposur imaginal digabungkan dalam suatu
kombinasi, dimana penggabungan ini sesuai dengan tren dalam terapi perilaku yang
menggunakan beragam teknik penanganan sebagai suatu paket untuk meningkatkan efisiensi
terapi.
Desensitisasi dan Prosesi Ulang Pergerakan Mata
Eye movement desensitization and reprocessing (EMDR) merupakan bentuk terapi
eksposur yang menerapkan teknik imaginal flooding, pembentukan ulang kognitif, dan
menggunakan pergerakan mata dan stimulasi lainnya untuk menangani klien yang memiliki
gangguan stres pasca trauma. Dikembangkan oleh Francine Shapiro (2001), prosedur terapi
ini berasal dari berbagai macam intervensi perilaku. Didesain untuk membantu klien
menghadapi gangguan stres pasca trauma, (EMDR telah diterapkan dalam berbagai kalangan
individu seperti anak-anak, pasangan, korban kekerasan seksual, tentara veteran, korban
criminal, korban pemerkosaan, korban kecelakaan, dan orang-orang yang memliki gangguan-
gangguan kejiwaan lainnya seperti kecemasan berlebihan, panik, depresi, perasaan duka yang
mendalam, kecanduan, dan fobia.
Shapiro (2001) menekankan pentingnya aspek keamanan dan kesejahteraan klien
ketika menggunakan pendekatan ini. EMDR mungkin terlihat sederhana bagi beberapa orang,
namun untuk menerapkan teknik ini, diperlukan pelatihan dan pengawasan klinis. Karena
klien akan merasakan reaksi yang sangat kuat ketika melakukan teknik ini, terapis harus
memahami dengan baik bagaimana menangani reaksi kuat klien tersebut. Terapis sebaiknya
tidak menggunakan teknik ini jika mereka tidak mendapatkan pelatihan dan pengawasan
langsung dari instruktor resmi EMDR. Pembahasan lebih lanjut mengenai teknik ini dapat
dilihat di Shapiro (2001, 2002a).
Terdapat beberapa kontroversi terkait apakah pergerakan mata cepat yang dilakukan
dalam teknik ini yang menciptakan perubahan dalam diri klien ataukah teknik kognitif yang
dipasangkan dengan pergerakan mata yang berperan menciptakan perubahan perilaku klien.
Bukti empiris untuk teknik EMDR ini masih belum jelas, sehingga sulit untuk menentukan
kesimpulan keberhasilan atau kegagalan teknik ini (McNeil & Kyle, 2009). Dalam tulisannya
yang membahas mengenai masa depan teknik EMDR, Prochaska dan Norcross (2007)
menuliskan beberapa prediksi mereka: semakin banyak terapis akan mendapatkan pelatihan
teknik EMDR; hasil penelitian yang dilakukan akan memberikan pemahaman baru terkait
efektivitas EMDR dibandingkan dengan teknik-teknik lain untuk menangani gangguan
trauma; dan penelitian serta praktik teknik EMDR lebih lanjut akan memberikan gambaran
efisiensi teknik ini untuk menangani gangguan-gangguan kejiwaan lain selain gangguan stres
pasca trauma.
Pelatihan Keahlian Sosial
Pelatihan keahlian sosial adalah kategori luas yang berkaitan dengan kemampuan
individu dalam melakukan interaksi secara efektif dengan orang lain dalam berbagai macam
situasi sosial; pelatihan ini digunakan untuk menyelesaikan permasalahan kemampuan
intrapersonal klien (Spiegler, 2008). Keahlian sosial adalah keahlian untuk berkomunikasi
dengan orang lain secara tepat dan efektif. Orang-orang yang memiliki permasalahan
psikososial yang disebabkan oleh permasalahan intrapersonal adalah orang-orang yang cocok
untuk menjalani pelatihan ini. Yang membuat pelatihan ini menarik adalah bahwa pelatihan
ini dapat diterapkan secara meluas dan mudah untuk disesuaikan dengan kebutuhan tertentu
klien (Segrin, 2003). Pelatihan keahlian sosial ini mencakup psikoedukasi, pembentukan,
motivasi ulang, simulasi perilaku, peran, dan umpan balik (Antony & Roemer, 2003). Bentuk
variasi lain pelatihan keahlian sosial adalah pelatihan manajemen kemarahan, yang
didesain untuk orang-orang yang memiliki masalah perilaku agresif. Pelatihan Asersi, yang
selanjutnya dibahas ditujukan untuk mereka yang memiliki kekurangan dalam keahlian
asertif.
PELATIHAN ASERSI Salah satu bentuk pelatihan keahlian sosial yang semakin
populer dalam kalangan masyarakat adalah pelatihan melatih orang-orang bagaimana untuk
menjadi asertif dalam berbagai situasi sosial. Banyak orang merasa sulit untuk menentukan
situasi yang tepat untuk mengasersikan dirinya. Biasanya, orang-orang yang tidak memiliki
keahlian sosial mengalami masalah intrapersonal dalam lingkungan rumah, pekerjaan,
sekolah, dan bahkan dalam waktu bersenang-senang. Pelatihan asersi dapat berguna untuk
mereka (1) yang sulit mengekspresikan kemarahan atau kejengkelan dalam dirinya, (2) yang
sulit mengatakan tidak, (3) yang terlalu sopan dan membiarkan orang lain memanfaatkan
dirinya, (4) yang sulit untuk mengekspresikan afeksi dan respon-respon perasaan positif
lainnya, (5) yang merasa bahwa mereka tidak berhak untuk mengekspresikan pikiran,
keyakinan, dan perasaan dalam dirinya, atau (6) yang memiliki fobia sosial.
Asumsi dasar pelatihan asersi adalah bahwa orang-orang tersebut pada dasarnya
memiliki hak (tapi bukan kewajiban) untuk mengekspresikan dirinya sendiri. Salah satu
tujuan pelatihan asersi adalah untuk meningkatkan kapabilitas perilaku dalam diri orang-
orang tersebut sehingga mereka dapat membuat keputusan untuk berperilaku asertif dalam
situasi-situasi tertentu. Klien harus menubah kemampuan sosial mereka yang tidak sehat
menjadi keahlian baru. Tujuan lain dari pelatihan ini adalah untuk mengajarkan orang-orang
mengekspresikan diri mereka yang mencerminkan kepekaan mereka terhadap perasaan dan
hak orang lain. Asersi bukan berarti agresi; mereka yang benar-benar asertif tidak
mendewakan hak mereka, mengabaikan perasaan orang lain.
Pelatihan asersi didasarkan pada prinsip-prinsip teori pembelajarab sosial dan
menggabungkan sejumlah metode pelatihan keahlian sosial. Pada umumnya, terapis
mengajarkan dan membentuk perilaku baru yang ingin diperoleh oleh klien. Perilaku-perilaku
baru ini dibentuk oleh klien dalam ruangan terapi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-
harinya. Sebagian besar program pelatihan asersi berfokus pada pernyataan negatif klien
terkait dirinya, ketidakyakinan klien terhadap dirinya sendiri, dan kesalahan berpikir. Orang-
orang seringkali bertindak tidak asertif karena mereka menganggap bahwa mereka tidak
memiliki hak untuk menyatakan atau mempertanyakan suatu pandangan tertentu. Karena cara
berpikir mereka yang seperti ini, merekapun condong berperilaku pasif. Program pelatihan
asersi yang efektif tidak sekedar memberikan klien keahlian dan teknik untuk menghadapi
situasi-situasi sulit. Program pelatihan ini menantang kepercayaan klien yang menunjang
kekurangan sikap asertif diri mereka dan mengajarkan mereka untuk menciptakan pernyataan
diri yang konstruktif dan mengajarkan mereka untuk menerapkan suatu rangkaian keyakinan
baru yang akan menghasilkan perilaku asertif.
Pelatihan asersi juga sering diterapkan dalam konseling kelompok. Dalam konseling
kelompok, pembentukan dan instruksi pelatihan ditujukan untuk keseluruhan kelompok, dan
anggota-anggota kelompok melatih keahlian perilaku mereka dalam situasi permainan peran.
Setelah pelatihan simulasi perilaku baru ini, anggota kelompok akan diberikan umpan balik
untuk memotivasi ulang klien memperbaiki aspek-aspek perilaku barunya tersebut. Setiap
anggota kelompok terus melakukan simulasi perilaku asertif mereka hingga keahlian perilaku
asertif tersebut diterapkan dalam berbagai simulasi situasi (Miltenberger, 2008).
Karena pelatihan asersi ini dilandaskan atas nilai-nilai barat, pelatihan ini mungkin
tidak akan cocok untuk klien yang memiliki latar belakang kultural yang lebih menekankan
keharmonisan kelompok daripada sikap asertif individu. Pendekatan ini bukan jawaban atas
segala masalah, namun pendekatan ini dapat menjadi bentuk penanganan yang tepat bagi
klien yang memiliki masalah perilaku tidak asertif atau bagi mereka yang mengalami
kesulitan dalam hubungan intrapersonal mereka. Meskipun konselor dapat memodifikasi
bentuk pelatihan keahlian sosial ini sesuai dengan gaya terapi mereka sendiri, simulasi
pelatihan perilaku dan peninjauan berkelanjutan adalah aspek dasar yang harus ada dalam
program pelatihan ini. Jika anda tertarik untuk mempelajari pelatihan asersi lebih lanjut, baca
Your Perfect Right: A Guide to Assertive Behavior (Alberti & Emmons, 2008).
Program Modifikasi Diri dan Perilaku Arahan Diri
Terdapat tren menuju “psikologi berbagi.” Tren ini berarti bahwa psikologis
berkeinginan membagi pengetahuan mereka sehingga “consumer” dapat menunjang hidup
mereka sesuai dengan arahan mereka sendiri dan tidak bergantung pada ahli kejiwaan untuk
menyelesaikan masalah mereka. Para psikologis yang setuju dengan perspektif psikologi
berbagi ini umumnya berfokus untuk mengajarkan masyarakat keahlian yang mereka
perlukan untuk mengatur hidup mereka secara efektif. Manfaat dari teknik modifikasi diri
(atau manajemen diri) ini adalah bahwa lapisan masyarakat yang awalnya tidak dapat
dijangkau dengan terapi pendekatan tradisional dapat memperoleh manfaat besar dari teknik
baru ini. Manfaat lain teknik ini adalah biaya yang dikeluarkan terbilang sedikit. Karena klien
berperan langsung menangani diri mereka sendiri, teknik ini cenderung meningkatkan
keterlibatan dan komitmen diri klien untuk menangani diri mereka sendiri.
Strategi modifikasi diri mencakup strategi-strategi seperti pengawasan diri,
penghargaan diri, pemfokusan diri, pengendalian stimulan, dan menjadikan diri sebagai
model panutan. Konsep dasar teknik penilaian dan intervensi modifikasi diri ini adalah bahwa
perubahan diri dapat diciptakan dengan mengajarkan orang-orang untuk menggunakan
keahlian-keahlian tertentu menghadapi situasi permasalahan. Perkembangan hasil perubahan
diri klien menjadi semakin meningkat dengan mendorong klien untuk menerima tanggung
jawab terhadap diri mereka sendiri untuk menerapkan strategi-strateg ini dalam kehidupan
sehari-hari mereka.
Dalam modifikasi diri, orang-orang membuat keputusan berkenaan dengan perilaku
khusus yang ingin mereka kontrol dan perubahan. Orang-orang sering menemukan bahwa
alasan utama sehingga mereka tidak mencapai tujuan mereka adalah kurangnya keahlian
tertentu atau ekspektasi perubahan tidak realistis. Harapan dapat menjadi sebuah faktor terapi
yang mengantarkan pada perubahan, tetapi harapan yang tidak realistis yang dapat
membangun jalan pada sebuah pola kegagalan dalam program perubahan diri. Pendekatan
pengarahan diri dapat menyediakan sebuah petunjuk untuk perubahan dan sebuah rencana
yang akan mengantarkan pada perubahan.
Bagi orang-orang untuk berhasil di program seperti itu, sebuah analisis teliti dari
konteks pola perilaku itu penting, dan orang-orang harus ikhlas untuk mengikuti beberapa
langkah dasar seperti yang diberikan oleh Watson dan Tharp (2007):
1. Memilih tujuan. Tujuan harus dibangun satu dalam satu waktu, dan mereka harus
terukur, dapat dicapai, positif, dan signifikan bagi orangnya. Penting untuk membuat
harapan yang realistis.
2. Menerjemahkan tujuan kedalam perilaku yang ditargetkan. Mengidentifikasi perilaku
yang ditargetkan untuk perubahan. Ketika target untuk perubahan dipilih,
mengantisipasi rintangan dan memikirkan cara untu bernegosiasi dengan mereka.
3. Monitoring-diri. Secara bebas dan sistematis mengobservasi perilaku anda sendiri,
dan mengjaga diary perilaku, mencatat perilaku dnegna komentar tentang petujuk dan
konsekuensi yang relevan.
4. Mengerjakan sebuah rencana untuk perubahan. Menemukan sebuah program untuk
membawa perubahan aktual. Beragam rencana untuk tujuan yang sama dapat
dirancang, tiap-tiap dari mereka dapat menjadi efektif. Beberapa jenis dari sistem
penguatan kembali-diri penting dalam rencana ini karna penguatan kembali adalah
batu loncatan dari terapi perilaku modern. Penguatan diri adalah sebuah strategi
sementara yang digunakan hingga perilaku baru telah diimplementasikan dalam
kehidupan sehari-hari. Ambil langkah untuk memastikan bahwa pencapaian akan
dipertahankan.
5. Mengevaluasi sebuah rencana tindakan. Mengevaluasi rencana untuk perubahan
untuk memutuskan apakah tujuan dapat dicapai, dan memperbaiki dan merevisi
rencana sebagai cara lain untuk memenuhi tujuan yang dipelajari. Evaluasi
merupakan proses berkelanjutan dan bukan merupakan penimbula sekali, dan
perubahan diri adalah praktik seumur hidup.
Banyak orang yang mengembangkan beberapa program modifikasi diri mengalami
kegagalan berulang, sebuah situasi yang dijelaskan Polivy dan Herman (2002) sebagai
”sindrom harapan salah”, yang dicirikan dengan harapan tidak realistis yang nampak
berkenaan dengan kecepatan, jumlah, kemudahan, konsekuensi dari tujuan perubahan diri.
Usaha perubahan diri sering dianggap kegagalan sejak awal oleh ekspektasi tidak realisits ini,
tetapi individu sering terus mencoba dan mencoba dengan harapan bahwa mereka pada
akhirnya akan berhasil dan mengubah sebuah pola perilaku. Banyak orang yang menganggap
kegagalan untuk berubah sebagai akibat dari usaha yang tidak cukup atau terlibat dalam
program yang salah.
Strategi modifikasi diri telah secara sukses diaplikasikan pada banyak populasi dan
masalah, beberapa yang mencakup masalah menghadapai serangan panik, membantu anak-
anak untuk berhadapan dengan ketakutan dan kegelapan, meningkatkan produktivitas kreatif,
mengatur kebingungan dalam situasi sosial, mendukung berbicara di depan kelas, menambah
latihan, mengontrol rokik, dan berhadapan dengan depresi (Watson & Tharp, 2007). Meneliti
tentnag modifikasi diri yang telah dilaksanakan pada beragam masalah kesehatan, beberapa
diantaranya mencakup arthritis, asma, kancer, penyakit jantung, diabetes, sakit kepala, hilang
penglihatan, nutrisi, dan perawatan kesehatan diri (Cormier et al., 2009)
Terapi Multimodal : Terapi Perilaku Klinik
Terapi Multimodal merupakan sebuah pendekatan yang komprehensif, sistematis, dan
holistik pada terapi perilaku yang dikembangkan oleh Arnold Lazaruz (1976, 1986, 1987,
1989, 1992a, 1992b, 1997a, 2005, 2008). Hal ini bedasar pada pembelajaran sosial dan teori
kognitif dan mengaplikasikan beragam teknik perilaku pada masalah yang luas. Pendekatan
ini berfungsi sebagai penghubung utama beberapa prinsip perilaku dan pendekatan perilau
kognitif yang umumnya menggantikan terapi perilaku tradisional.
Terapi multimodal adalah sebuah sistem terbuka yang mendukung elektisisme
teknikal. Teknik baru secara konstan diperkenalkan dan teknik yang telah ada diperbaiki,
tetapi mereka tidak pernah digunakan dalam cara paksaan. Terapis multimodal mengambil
luka besar untuk memutuskan dengan tepat hubungan apa dan strategi perlakuan apa yang
bekerja dengan baik dengan tiap klien dan situasi tertentu. Asumsi mendasar dari pendekatan
ini adalah karena individu diganggu oleh beragam masalah masalah tertentu, maka hal ini
sesuai bahwa sebuah strategi perlakuan yang banyak digunakan untuk memberikan
perubahan. Kepandaian dan fleksibilitas terapi yang bermacam-macam, bersama dengan luas
dan kedalaman, dinilai tinggi, dan terapis multimodal secara konstan memperbaiki prosedur
mereka untuk mencapai tujuan klien. Terapis harus memutus kapan dan bagaimana menjadi
menantang atau mendukung, dingin atau hangat, formal atau informal, dan keras atau lembut
(Lazarus, 1997a, 2008).
Terapis multimodal cenderung aktik selama sesi terapi, berfungsi sebagai trainer,
pendidik, konsultan, dan teldan. Mereka menyediakan infomasi, instruksi, dan feedback juga
membuat model perilaku asertif. Mereka menawaran kritik dan saran yang membangun,
penguatan positif, dan penyingkapan diri yang sesuai.
Lazarus (2008) berpendapat: terapis multimodal tidak berpegang pada dogma
manapun kecuali prisp dari parsimoni teoritis dan keefektifan terapi” (p. 396). Teknik
dipinjam dari sistem terapi yang lain. Mereka mengenali bahwa banyak klien datang ke terapi
ingin belajar skill, dan mereka ingin mengajar, melatih, membuat model, dan mengarahkan
klien mereka. terapis multimodal umumnya berfungsi secara direktif dengan memberikan
informasi, instruksi, dan reaksi. Mereka menantang keyakinan penaklukan diri, menawarkan
saran yang membangun, memberikan penguatan positif dan penyingkapan diri positif.
Penting bahwa terapis memulai dimana klien berada lalu bergerak kedalam area produktif
untuk eksplorasi. Kegagalan untuk menguasai situasi klien dapat dengan mudah
menyebabkan klien merasa diasingkan dan disalahpahami (Lazarus, 2000)
I.D DASAR. Esensi dari pendekatan multimodal Lazarus adalah premis bahwa
kepribadian kompleks dari manusia dapat dibagi kedalam tujuan area fungsi utama: B =
behavior (perilaku); A = affective responses (respon afektif); S = sensations (sensasi); I =
images; (gambaran)C = cognitions (kognisi); I = interpersonal relationships (Hubungan
interpersonal); and D = drugs (obat-obatan), fungsi boiologis, nutrisi, dan latihan (Lazarus,
1989, 1992a, 1992b, 1997a, 1997b, 2000, 2006, 2008). Meskipun modalitas ini tidak
interaktif, mereka dapat dianggap fungsi tersendiri.
Modalitas
Perilaku
Pertanyaan untuk ditanyakan
Perilaku
Perilaku yang jelas, termasuk
tindakan, kebiasaan, dan
reaksi yang dapat diamati
dan diukur
Apa yang ingin anda ubah?
Seberapa aktif anda?
Apa yang ingin anda mulai?
Apa yang ingin anda berhenti
lakukan?
Apa kekuatan-kekuatan
utama anda?
Perilaku spesifik apa yang
menyebabkan anda untuk
mendapatkan apa yang anda
inginkan?
Efek
Emosi, suasana hati, dan
perasaan yang kuat
Emosi apa yang sering anda
alami?
Apa yang membuat anda
tertawa?
Apa yang membuat anda
menangis?
Apa yang membuat anda
bersedih, marah, senang,
takut?
Emosi apa yang bermasalah
bagi anda?
Sensasi
Sensasi dasar dari sentuhan,
pengecapan, penciuman,
pandangan, dan pendengaran
Apakah anda menderita
karna sensasi yang tidak
menyenangkan, seperti rasa
sakit, luka, pusing, dan lain-
lain?
Apa yang anda suka atau
tidak sukai dalam hala
melihat, mencium,
mendengar, menyentuh, dan
merasa?
Gambaran
Bagaimana kita
menggambarkan diri kita
sendiri, termasuk memori,
mimpi, dan fantasi
Mimpi dan ingatan apa yang
sering mengganggu?
Apakah anda memiliki
imajinasi yang jelas?
Bagaimana anda melihat
tubuh anda?
Bagaimana anda melihat diri
anda sekarang?
Bagaimana anda ingin
melihat diri anda dimasa
depan?
Kognisi
Pandangan, filosofi, ide,
pendapat, berbicara pada diri
sendiri, penghakiman yang
membangun nilai, sikap dan
keyakinan fundamental
seseorang
Cara apa dimana anda
memenuhi kebutuhan
intelektual anda?
Bagaimana pikiran
mempengaruhi emosi anda?
Nilai dan keyakinan apa yang
paling anda hargai?
Hal hal negatif apa yang
sering anda katakan pada diri
anda sendiri?
Apa keyakinan salah anda?
Apa yang sebaiknya,
semestinya, dan sewajibnya
dalam hidup anda?
Bagaimana hal tersebut
masuk dalam cara hidup
efektif?
Hubungan Interpersonal
Interaksi dengan orang lain
Seberapa makhluk sosialkah
anda?
Seberapa ingin anda akrab
dengan orang lain?
Hubungan interpersonal
(lanjutan)
Apa yang Anda harapkan
dari orang-orang penting
dalam hidup Anda?
Apa yang mereka harapkan
dari Anda?
Apakah ada hubungan
dengan orang lain yang
Anda harap akan berubah?
Jika demikian, perubahan
seperti apa yang Anda
inginkan?
Obat-obatan / biologi
Obat-obatan, kebiasaan gizi,
dan pola olahraga
Apakah Anda sehat dan sadar
kesehatan?
Apakah Anda memiliki
kekhawatiran tentang
kesehatan Anda?
Apakah Anda menggunakan
obat yang diresepkan?
Apa kebiasaan Anda yang
berkaitan dengan diet,
olahraga, dan kebugaran
fisik?
Terapi multimodal dimulai dengan penilaian komprehensif terhadap tujuh modalitas
fungsi manusia dan interaksi di antara mereka. Program penilaian dan perawatan yang
lengkap harus menjelaskan setiap modalitas dari BASIC I.D., yang merupakan peta kognitif
yang menghubungkan setiap aspek kepribadian. Tabel 9.1 menguraikan proses ini dengan
menggunakan pertanyaan yang biasanya diajukan Lazarus (1989, 1997a, 2000, 2008).
Premis utama terapi multimodal adalah bahwa luasnya seringkali lebih penting
daripada kedalamannya. Semakin banyak respons mengatasi yang dipelajari klien dalam
terapi, semakin sedikit pula peluang untuk kambuh (Lazarus, 1996a, 2008; Lazarus &
Lazarus, 2002). Terapis mengidentifikasi satu masalah spesifik dari setiap aspek dari BASIC
I.D. kerangka kerja sebagai target untuk perubahan dan mengajarkan klien berbagai teknik
yang dapat mereka gunakan untuk memerangi pemikiran yang salah, untuk belajar bersantai
dalam situasi yang penuh tekanan, dan untuk memperoleh keterampilan interpersonal yang
efektif. Klien kemudian dapat menerapkan keterampilan ini untuk berbagai masalah dalam
kehidupan sehari-hari mereka.
Investigasi awal dari BASIC I.D. Kerangka kerja memunculkan beberapa tema sentral
dan signifikan yang kemudian dapat dieksplorasi secara produktif menggunakan kuesioner
riwayat hidup yang terperinci. (Lihat Lazarus dan Lazarus, 1991, untuk inventaris riwayat
hidup multimodal.) Setelah profil utama BASIC I.D seseorang telah ditetapkan, langkah
selanjutnya terdiri dari pemeriksaan interaksi antara modalitas yang berbeda. Untuk ilustrasi
tentang bagaimana Dr. Lazarus menerapkan BASIC I.D. model penilaian untuk kasus Ruth,
bersama dengan contoh-contoh berbagai teknik yang ia gunakan, lihat Case Approach to
Counseling and Psychotherapy (Corey, 2009a, bab 7).
Terapi Perilaku Kognitif Berbasis Perhatian dan Penerimaan
Selama dekade terakhir, "gelombang ketiga" terapi perilaku telah berevolusi, yang telah
menghasilkan perluasan tradisi perilaku. Aspek baru terapi perilaku kognitif telah muncul
yang menekankan pertimbangan yang dianggap terlarang bagi terapis perilaku sampai baru-
baru ini, termasuk perhatian, penerimaan, hubungan terapeutik, spiritualitas, nilai-nilai,
meditasi, berada di saat ini, dan ekspresi emosional (Hayes, Follette, & Linehan, 2004).
Kesadaran penuh adalah proses yang melibatkan menjadi semakin jeli dan sadar akan
rangsangan eksternal dan internal pada saat ini dan mengadopsi sikap terbuka terhadap
menerima apa yang ada dan bukan menilai situasi saat ini (Kabat-Zinn, 1994; Segal,
Williams, & Teasdale, 2002). Esensi perhatian menjadi sadar akan pikiran seseorang dari satu
momen ke momen berikutnya, dengan penerimaan yang lembut (Germer, Siegel, & Fulton,
2005). Dalam latihan kesadaran penuh klien melatih diri mereka untuk fokus pada
pengalaman mereka saat ini. Penerimaan adalah proses yang melibatkan menerima
pengalaman seseorang saat ini tanpa penilaian atau preferensi, tetapi dengan rasa ingin tahu
dan kebaikan, dan berjuang untuk kesadaran penuh akan momen saat ini (Germer, 2005b).
Pendekatan kesadaran penuh dan penerimaan adalah jalan yang baik untuk integrasi
spiritualitas dalam proses konseling.
Empat pendekatan utama dalam pengembangan tradisi perilaku baru-baru ini
termasuk (1) terapi perilaku dialektik (Linehan, 1993a, 1993b), yang telah menjadi
pengobatan yang diakui untuk gangguan kepribadian borderline; (2) pengurangan stres
berdasarkan kesadaran (Kabat-Zinn, 1990), yang melibatkan program kelompok 8 hingga 10
minggu yang menerapkan teknik kesadaran untuk mengatasi stres dan meningkatkan
kesehatan fisik dan psikologis; (3) terapi kognitif berbasis kesadaran (Segal et al., 2002),
yang ditujukan terutama untuk mengobati depresi; dan (4) terapi penerimaan dan komitmen
(Hayes, Strosahl, & Houts, 2005; Hayes, Strosahl, & Wilson, 1999), yang didasarkan pada
mendorong klien untuk menerima, daripada upaya untuk mengendalikan atau mengubah,
sensasi yang tidak menyenangkan. Perlu dicatat bahwa keempat pendekatan ini didasarkan
pada data empiris, ciri khas dari tradisi perilaku.
TERAPI PERILAKU DIALEKTIK (DBT) Dikembangkan untuk membantu klien mengatur
emosi dan perilaku yang terkait dengan depresi, perawatan paradoks ini membantu klien
untuk menerima emosi mereka serta mengubah pengalaman emosional mereka (Morgan,
2005). Praktik penerimaan melibatkan berada di saat sekarang, melihat kenyataan
sebagaimana adanya tanpa distorsi, tanpa penilaian, tanpa evaluasi, dan tanpa berusaha
berpegang pada pengalaman atau menyingkirkannya. Hal ini menyangkut dengan masuk
sepenuhnya ke dalam kegiatan saat ini tanpa memisahkan diri dari peristiwa dan interaksi
yang sedang berlangsung.
Dirumuskan oleh Linehan (1993a, 1993b), DBT adalah paduan menjanjikan antara
teknik perilaku dan psikoanalitik untuk mengobati gangguan kepribadian ambang. Seperti
terapi analitik, DBT menekankan pentingnya hubungan psikoterapi, validasi klien,
kepentingan etiologis klien setelah mengalami "lingkungan yang tidak valid" sebagai seorang
anak, dan konfrontasi resistensi. Komponen utama DBT adalah memengaruhi regulasi,
toleransi kesusahan, peningkatan hubungan antarpribadi, dan pelatihan kesadaran penuh.
DBT menggunakan teknik perilaku, termasuk suatu bentuk terapi eksposur di mana klien
belajar untuk mentolerir emosi yang menyakitkan tanpa memberlakukan perilaku merusak
diri sendiri. DBT mengintegrasikan behaviorisme kognitifnya tidak hanya dengan konsep
analitik tetapi juga dengan pelatihan kesadaran penuh "Praktik psikologis dan spiritual Timur
(terutama praktik Zen)" (Linehan, 1993b, hal. 6).
Pelatihan keterampilan DBT bukanlah pendekatan "perbaikan cepat". Biasanya
melibatkan minimal satu tahun perawatan dan termasuk terapi individu dan pelatihan
keterampilan yang dilakukan dalam kelompok. DBT membutuhkan kontrak perilaku. Untuk
melatih DBT secara kompeten, penting untuk mendapatkan pelatihan dalam pendekatan ini.
PENGURANGAN STRES BERBASIS KESADARAN PENUH (MBSR). Keterampilan
yang diajarkan dalam program MBSR termasuk meditasi duduk dan yoga, yang ditujukan
untuk menumbuhkan perhatian. Program ini mencakup meditasi pemindaian tubuh yang
membantu klien untuk mengamati semua sensasi di tubuh mereka. Sikap perhatian ini
didorong dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari termasuk berdiri, berjalan, dan makan.
Mereka yang terlibat dalam program ini dianjurkan untuk berlatih meditasi perhatian formal
selama 45 menit setiap hari. Program MBSR utamanya dirancang untuk mengajarkan peserta
untuk berhubungan dengan sumber stres eksternal dan internal dengan cara yang konstruktif.
Program ini bertujuan untuk mengajarkan orang bagaimana hidup lebih penuh di masa
sekarang daripada merenungkan masa lalu atau terlalu khawatir tentang masa depan.
TERAPI PENERIMAAN DAN KOMITMEN (ACT). Pendekatan berbasis kesadaran penuh
lainnya adalah terapi penerimaan dan komitmen (Hayes et al., 1999, 2005), yang
melibatkan sepenuhnya menerima pengalaman saat ini dan secara sadar melepaskan beban.
Dalam pendekatan ini "penerimaan bukan semata-mata toleransi tetapi itu merupakan
rangkulan pengalaman dengan tidak menghakimi apa yang ada saat ini" (Hayes, 2004, hlm.
32). Penerimaan adalah sikap atau postur dari mana untuk melakukan terapi dan dari mana
klien dapat melakukan kehidupan (Hayes & Pankey, 2003) yang menyediakan alternatif
untuk bentuk kontemporer dari terapi perilaku kognitif (Eifert & Forsyth, 2005). Berbeda
dengan pendekatan perilaku kognitif yang dibahas dalam Bab 10, di mana kognisi ditantang
atau diperdebatkan, dalam ACT kognisi diterima. Klien belajar bagaimana menerima pikiran
dan perasaan yang mungkin mereka coba tolak. Hayes telah menemukan bahwa menantang
kognisi maladaptif sebenarnya memperkuat daripada mengurangi kognisi ini. Tujuan dari
ACT adalah untuk memungkinkan peningkatan fleksibilitas psikologis. Nilai-nilai adalah
bagian dasar dari proses terapi, dan praktisi ACT mungkin bertanya kepada klien "Apa yang
Anda inginkan dalam hidup Anda?"
Selain penerimaan, komitmen untuk bertindak sangat penting. Komitmen melibatkan
membuat keputusan sadar tentang apa yang penting dalam hidup dan apa yang orang-orang
bersedia lakukan untuk menjalani kehidupan yang berharga (Wilson, 2008). ACT
menggunakan pekerjaan rumah yang konkret dan latihan perilaku sebagai cara untuk
menciptakan pola tindakan efektif yang lebih besar yang akan membantu klien hidup dengan
nilai-nilai mereka (Hayes, 2004). Misalnya, satu bentuk pekerjaan rumah yang diberikan
kepada klien adalah meminta mereka untuk menuliskan tujuan hidup atau hal-hal yang
mereka hargai dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Fokus ACT adalah memungkinkan
pengalaman untuk datang dan pergi sambil mengejar kehidupan yang bermakna. Menurut
Hayes dan Pankey (2003), "ada basis bukti yang berkembang bahwa keterampilan
penerimaan merupakan pusat kesejahteraan psikologis dan dapat meningkatkan dampak
psikoterapi dengan beragam klien" (hal. 8).
ACT adalah bentuk terapi yang efektif (Eifert & Forsyth, 2005) yang terus
memengaruhi praktik terapi perilaku. Germer (2005a) mengemukakan kesadaran penuh
mungkin menjadi suatu konstruk yang menarik teori klinis, penelitian, dan praktik yang lebih
dekat bersama, dan membantu mengintegrasikan kehidupan pribadi dan profesional terapis”
(hal. 11). Menurut Wilson (2008), ACT menekankan proses umum di seluruh gangguan
klinis, yang membuatnya lebih mudah untuk mempelajari keterampilan perawatan dasar.
Praktisi kemudian dapat menerapkan prinsip-prinsip dasar dengan cara yang beragam dan
kreatif.
Untuk diskusi yang lebih mendalam tentang peran perhatian dalam praktek
psikoterapi, dua bacaan yang sangat direkomendasikan adalah Mindfulness and Acceptance:
Expanding the Cognitive-Behavioral Tradition (Hayes et al., 2004) dan Mindfulness and
Psychotherapy (Germer et al., 2005).
Mengintegrasikan Teknik Perilaku dengan Pendekatan Psikoanalitik
Kontemporer
Aspek-aspek tertentu dari terapi perilaku dapat dikombinasikan dengan sejumlah pendekatan
terapi lainnya. Misalnya, teknik perilaku dan kognitif dapat dikombinasikan dengan kerangka
kerja konseptual terapi psikoanalitik kontemporer (lihat Bab 4). Morgan dan MacMillan
(1999) mengembangkan model konseling terintegrasi tiga fase yang didasarkan pada
konstruksi teori hubungan-objek dan teori tambahan yang menggabungkan teknik perilaku.
Pada fase pertama, teori hubungan-objek berfungsi sebagai dasar konseptual untuk
proses penilaian dan membangun hubungan. Apa yang dipelajari anak-anak dari interaksi
awal dengan orang tua jelas mempengaruhi perkembangan kepribadian dan dapat
mengakibatkan hubungan orang dewasa yang bermasalah. Agar penilaian yang bermakna
dapat terjadi, konselor harus dapat mendengar cerita klien mereka, memahami dunia
fenomenologis mereka, dan membangun hubungan dengan mereka. Selama fase ini, terapis
memberikan lingkungan mendukung yang menawarkan tempat yang aman bagi klien untuk
mengingat dan mengeksplorasi kenangan sebelumnya yang menyakitkan. Pada fase ini
konseling mencakup eksplorasi perasaan klien mengenai keadaan masa lalu dan saat ini serta
pola pikir yang memengaruhi interpretasi klien terhadap dunia.
Pada fase kedua, tujuannya adalah untuk menghubungkan wawasan yang diperoleh
dari fase penilaian awal hingga saat ini untuk menciptakan pemahaman tentang bagaimana
pola hubungan awal terkait dengan kesulitan saat ini. Wawasan ini sering memungkinkan
klien untuk mengakui dan mengungkapkan ingatan, perasaan, dan pikiran yang menyakitkan.
Karena klien dapat memproses ingatan dan perasaan yang sebelumnya ditekan dan
dipisahkan dalam konseling, perubahan kognitif dalam persepsi tentang diri dan orang lain
sering terjadi. Kedua teknik pengalaman dan kognitif digunakan pada fase kedua. Ketika
klien terlibat dalam proses restrukturisasi situasi kehidupan secara kognitif, mereka
memperoleh cara berpikir, perasaan, dan cara mengatasi yang baru dan adaptif.
Pada fase ketiga dan terakhir, teknik perilaku dengan penetapan tujuan dan tugas
pekerjaan rumah ditekankan untuk memaksimalkan perubahan. Ini adalah fase tindakan,
waktu bagi klien untuk mencoba perilaku baru berdasarkan wawasan, pemahaman, dan
restrukturisasi kognitif yang dicapai dalam fase konseling sebelumnya. Klien mengambil
tindakan, yang mengarah pada pemberdayaan.
Menurut Morgan dan MacMillan (1999), ada peningkatan dukungan dalam literatur
bahwa mengintegrasikan teori psikodinamik kontemporer dengan teknik perilaku dan
kognitif dapat menyebabkan perubahan klien yang dapat diamati dan konstruktif.
Menetapkan tujuan yang jelas untuk masing-masing dari tiga fase model integratif mereka
memberikan kerangka kerja yang efisien untuk menyusun intervensi konseling.
Morgan dan MacMillan mengatakan bahwa jika tujuan penanganan ini sebelumnya telah
dijabarkan sejelas mungkin, maka klien dapat melewati ketiga tahapan terapi tersebut dalam
jangka waktu yang tidak terlalu lama. Dengan menerapkan konsep dasar pemikiran
psikoanalisis ke dalam proses terapi, maka pendekatan ini cocok untuk dilakukan dalam
terapi dengan jangka waktu terbatas.
Penerapan Pendekatan dalam Konseling Kelompok
Pendekatan perilaku berbasis kelompok mengajarkan klien keahlian manajemen diri
dan serangkaian perilaku baru yang dapat diterapkan untuk menghadapi masalah, serta
mengajarkan klien bagaimana menyusun ulang cara berpikir mereka. Klien dapat
mempelajari teknik-teknik ini untuk mengendalikan kehidupan mereka, menghadapi masalah
kehidupan mereka baik yang dihadapi di masa sekarang maupun di masa depan, dan untuk
menjalani hidup seoptimal mungkin seusai proses terapi kelompok. Sejumlah kelompok
dibentuk sedemikian rupa untuk meningkatkan penguasaan dan kebebasan diri klien dalam
beberapa aspek tertentu dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Ketua kelompok yang berperan dalam terapi pendekatan perilaku ini dapat
mengembangkan sejumlah teknik dari beragam perspektif. Praktisi terapi pendekatan perilaku
menggunakan model terapi yang singkat, aktif, langsung, tersusun, kolaboratif, dan bersifat
psikoedukatif yang berlandaskan pada bukti-bukti empiris terkait konsep dan teknik yang
diterapkan. Ketua kelompok mengikuti perkembangan anggota-anggota kelompoknya
melalui serangkaian koleksi data sebelum, selama, dan setelah semua intervensi dilakukan.
Pendekatan seperti ini menciptakan umpan balik terkait perkembangan terapi untuk anggota
kelompok dan untuk ketua kelompok itu sendiri. Saat ini, sebagian besar badan kelompok
konseling mengharuskan adanya bentuk akuntibilitas seperti ini.
Terapi kelompok pendekatan perilaku memiliki beberapa karakteristik-karakteristik
unik tertentu yang membedakannya dengan sebagian besar pendekatan terapi lain.
Karakteristik khusus para praktisi pendekatan ini adalah pengutamaan mereka terhadap
penilaian dan pengukuran. Karakteristik unik terapi pendekatan perilaku mencakup aspek-
aspek seperti (1) adanya penilaian perilaku, (2) menjabarkan tujuan penanganan sejelas
mungkin, (3) membentuk tahapan penanganan tertentu sesuai dengan masalah klien, dan (4)
mengevaluasi hasil terapi secara obyektif. Terapis pendekatan perilaku cenderung untuk
menggunakan intervensi jangka pendek secara efektif dalam menyelesaikan masalah klien
secara efisien dan dalam membantu anggota kelompok konseling mengembangkan keahliian-
keahlian baru.
Ketua kelompok konseling pendekatan perilaku berperan sebagai guru dan
mendorong anggota-anggotanya untuk belajar dan menguasai sejumlah keahlian dalam
kelompok sehingga mereka dapat menerapkan keahlian tersebut dalam kehidupan sehari-hari
mereka. Ketua kelompok diharapkan untuk berperan secara aktif, direktif, dan suportif dalam
kelompok. Mereka juga diharapkan untuk mempraktekkan keahlian dan prinsip-prinsip yang
mereka ketahui terkait pendekatan perilaku ini dalam menemukan solusi dari masalah yang
dihadapi. Ketua kelompok membentuk partisipasi dan kolaborasi aktif melalui keterlibatan
mereka dengan anggota-anggota kelompok dalam membuat agenda terapi, membentuk
pekerjaan rumah, dan dalam mengajarkan keahlian dan perilaku baru. Ketua kelompok
mengawasi dan menilai secara teliti perilaku anggota-anggotanya untuk menentukan kondisi
apa saja yang terkait dengan perilaku bermasalah klien serta kondisi apa saja yang perlu
dihasilkan untuk membantu klien mencapai perubahan perilaku dalam dirinya. Para anggota
dalam kelompok konseling pendekatan ini mengidentifikasi keahlian tertentu yang mereka
tidak kuasai atau yang mereka ingin tingkatkan. Pelatihan keahlian asertif dan keahlian sosial
sangat sesuai untuk diterapkan dalam konseling kelompok (Wilson, 2008). Prosedur-prosedur
relaksasi, simulasi perilaku, pembentukan perilaku, pelatihan, meditasi, dan teknik
mengalihkan fokus semuanya ditrapkan dalam konseling kelompok pendekatan perilaku.
Sebagian besar teknik lain yang sebelumnya dibahas dalam bab ini dapat diterapkan dalam
konseling kelompok.
Terdapat banyak bentuk konseling kelompok yang mencampur teknik pendekatan
perilaku dalam proses konselingnya, atau konseling kelompok yang mengkombinasikan
metode perilaku dan metode kognitif untuk klien-klien dari lapisan masyarakat tertentu. Saat
ini khususnya, bentuk konseling kelompok yang terstruktur, yang bersifat psikoedukatif,
sangat populer di masa sekarang ini. Setidaknya ada lima pendekatan umum yang dapat
diterapkan dalam konseling kelompok behavioral: (1) kelompok pelatihan keahlian sosial, (2)
kelompok psikoedukasional, (3) kelompok manajemen stres, (4) kelompok terapi multimodal,
dan (5) terapi pendekatan penerimaan perilaku dan pengalihan fokus dalam kelompok.
Untuk pembahasan pendekatan perilaku kognitif dalam konseling kelompok, lihat
Corey (2008, bab. 13).
Terapi Behavioral Dari Perspektif Multikultural
Kelebihan Perspektif Beragam
Terapi behavioral memiliki beberapa kelebihan daripada sejumlah teori-teori
terapi multikultural lainnya. Karena latar belakang etnis dan kultural yang mereka miliki,
sejumlah klien memiliki keyakinan yang tidak membiarkan mereka membagi perasaan dan
ekspresi personal mereka secara bebas. Konseling behavioral tidak menekankan diri klien
untuk membebaskan dirinya menentang nilai-nilai yang diyakininya, namun pendekatan ini
lebih berfokus pada perubahan perilaku-perilaku tertentu secara spesifik dan pada
pengembangan keahlian menyelesaikan masalah. Beberapa kelebihan pendekatan ini bagi
klien-klien yang berasal dari berbagai macam latar belakang adalah seperti sifat
pendekatannya yang spesifik, orientasi pendekatnnya yang berorientasi pada tugas, fokus
pendekatannya yang obyektif, berfokus pada aspek kognitif dan behavioral klien, berorientasi
pada tindakan, lebih berfokus pada situasi klien sekarang daripada situasi klien di masa lalu,
intevensi yang singkat, mengajarkan strategi-strategi menghadapi masalah, dan berorientasi
pada penyelesaian masalah. Dalam pendekatan ini, proses saling berbagi ilmu, prinsip, dan
strategi untuk menjaga penerapan perilaku baru dalam kehidupan sehari-hari sangat lah
penting. Klien yang menginginkan proses perencanaan solusi yang lebih berorientasi pada
tindakan cocok untuk melakukan pendekatan behavioral ini karena klien seperti ini
menganggap bahwa pendekatan ini dapat memberikan mereka metode konkrit untuk
menghadapi permasalahan kehidupan mereka.
Terapi behavioral berfokus pada kondisi-kondisi lingkungan yang mempengaruhi
permasalahan klien. Pengaruh lingkungan sosial dan politik klien dapat memberikan dampak
besar bagi klien etnis minoritas yang menerima perlakuan diskriminatif dan memiliki
masalah ekonomi, serta, pendekatan ini juga memperhitungkan pengaruh dimensi sosial dan
kultural dalam kehidupan klien. Terapi perilaku didasarkan atas analisis eksperimental
perilaku klien dalam lingkungan sosial klien dan pendekatan ini mengutamakan beberapa
aspek: pemahaman kultural perilaku bermasalah klien, penentuan tujuan terapi yang jelas,
pengaturan kondisi lingkungan klien untuk meningkatkan tingkat keberhasilan proses terapi
klien, dan penerapan pengaruh sosial yang berperan sebagai agen perubahan perilaku klien
(tanaka-Matsumi et al., 2002). Dalam pendekatan ini, faktor-faktor seperti kemiripan latar
belakang budaya terapis dengan latar belakang budaya klien, penerapan yang tepat
membentuk penilaian, strategi-strategi diagnosis dan penanganan merupakan bagian dari
fondasi dasar pendekatan.
Pendekatan behavioral tidak sebatas menangani masalah atau gejala permasalahan
perilaku tertentu klien. Akan tetapi, pendekatan ini menekankan adanya penilaian situasi
hidup klien yang menyeluruh untuk menentukan kondisi-kondisi apa saja yang memicu
munculnya permasalahan yang dihadapi klien dan juga untuk menentukan apakah perubahan
perilaku yang diinginkan dapat meningkatkan situasi hidup klien secara keseluruhan.
Dalam menyusun program perubahan perilaku untuk klien yang berasal dari latar
belakang budaya yang beragam, terapis pendekatan behavioral harus melakukan analisis
fungsional situasi masalah yang dihadapi. Analisis ini mencakup hal-hal seperti konteks
kultural di mana masalah perilaku yang dihadapi muncul, dampak permasalahan yang
dihadapi pada lingkungan sosiokultural klien dan pada diri klien itu sendiri, sumber daya apa
saja dalam lingkungan klien yang dapat menciptakan perubahan diri klien, dan dampak dari
perubahan perilaku tersebut pada klien dan pada orang-orang lain di lingkungan klien.
Metode penilaian sebaiknya dibentuk dengan mempertimbangkan latar belakang kultural
klien (Spiegler & Guevremont, 2003; Tanaka-Matsumi et al., 2002). Konselor harus memiliki
wawasan yang memadai serta peka dan terbuka pada isu-isu seperti ini: Apa saja perilaku
yang dianggap normal dan yang dianggap tidak normal dalam budaya klien? Apa pemahaman
kultural klien terkait masalah yang dihadapinya? Informas-informasi apa saja yang penting
untuk diketahui untuk menilai diri klien?
Kekurangan Perspektif Keberagaman
Menurut Spiegler dan Guevremont (2003), tantangan untuk terapis pendekatan
behavioral kedepannya adalah untuk mengembangkan bukti empiris yang membuktikan
bagaimana terapi behavioral dapat membantu klien yang memiliki latar belakang kebudayaan
yang berebda. Meskipun pendekatan ini pada umumnya sudah memiliki kepekaan terhadap
perbedaan-perbedaan yang ada dalam tiap klien, terapis behavioral tetap harus bersifat lebih
responsif pada isu-isu terkait keberagaman klien. Karena ras, gender, etnis, dan orientasi
seksual merupakan pengaruh-pengaruh kritis yang mempengaruhi hasil dan proses terapi itu
sendiri, terapis pendekatan behavioral harus lebih memperhatikan aspek-aspek ini.
Contohnya, klien etnis Amerika-Afrika membutuhkan waktu lama untuk bisa mempercayai
terapis etnis Amerika, yang mana waktu lama ini dapat dikatakan sebagai bentuk respon
perilaku rasisme yang pernah mereka alami. Akan tetapi, jika terapis tidak memiliki kepekaan
kultural, ia akan salah menafsirkan situasi “paranoid kultural” ini sebagai bentuk paranoid
klinis (Ridley, 2995).
Beberapa konselor pendekatan ini mungkin akan menerapkan beragam teknik untuk
menangani permasalahan perilaku tertentu klien secara khusus. Para praktisi pendekatan ini
tidak melihat klien dalam konteks lingkungan sosiokultural mereka, namun mereka akan
lebih berfokus pada permasalahan yang dihadapi klien sebagai seorang individu. Sehingga,
mereka mungkin tidak dapat menemukan permasalahan signifikan sebenarnya dalam hidup
klien. Praktisi yang berpikiran seperti ini tidak akan menciptakan perubahan bermanfaat
untuk klien mereka.
Karena intervensi pendekatan behavioral seringkali berhasil untuk klien, hal ini
kemudian menimulkan isu menarik dalam konseling multikultural. Ketika klien menciptakan
perubahan signifikan dalam dirinya, lingkungan kehidupannya akan memberikan reaksi
berbeda terhadap perubahan dirinya secara personal. Sebelum memutusukan tujuan terapi,
konselor dan klien perlu saling berdiskusi membahas isu-isu yang akan timbul ketika klien
telah berhasil mengalami perubahan perilaku. Terapis harus melakukan peninjauan dimensi
intrapersonal dan kultural masalah klien secara mandalam. Klien seharusnya dibantu dalam
menilai konsekuensi-konsekuensi potensial dari keahlian sosial baru yang mereka peroleh
nantinya. Ketika tujuan terapi telah ditetapkan dan proses terapi juga telah berjalan, klien
memiliki kesempatan untuk membicarakan permasalahan yang mereka temukan ketika
mereka menerapkan perilaku barunya tersebut dalam lingkungan kerja dan lingkungan rumah
mereka.
Terapi pelaku diaplikasikan pada kasus stan
Dalam kasus Stan, banyak masalah yang
spesifik dan saling berhubugan dapat
diidentifikasi melalui kajian fungsional.
Secara perilaku,dia defensif, menghindari
kontak mata, bebicara dengan ragu,
menggunakan alkohol secara berlebihan,
pola tidur yang buruk, dan menunjukkan
beragam perilaku menghindar. Dalam area
emosional, Stan memiliki sejumlah
masalah tertentu, beberapa diantaranya
adalah kebingungan, serangan panik,
depresi, ketakutakan akan kritik dan
penolakan, rasa tidak berharga dan bodoh,
dan merasa terisolasi atau terasingkan. Dia
mengalami keluhan psikologi seperti sakit
kepala, kegagalan jantung, dan pusing.
Secara kognitif,idia khawatir akan
kematian dan sekarat, memiliki pemikiran
dan keyakinan kegagalan diri, dibangun
secara imperatif kategorikal (sebaiknya,
semestinya, seharusnya), terlibat dalam
memikiran yang salas, dan
membandingkan dirinya secara negatif
dengan orang lain. Dalam area
interpersonal, Stan tidak asertif, hubungan
yang tidak baik dengan orang tua, sedikit
teman, takut berhubungan dnegan wanita
dan takut akan keakraban, dan, inferior
secara sosial.
Setelah melengkapi kajian ini,
terapis stan berfokus membantunya
mendefinisikan area tertentu dimana ia
ingin membuat perubahan. Sebelum
mengembangkan sebuah rencana
perlakuan, terapis membantu Stan
memahami tujuan dari perilakunya.
Terapis kemudian mendidik Stan tentang
bagaimana sesi terapi (dan pekerjaannya di
luar sesi) dapat membantunya mencapai
tujuan. Selama perlakuan, terapis
membantu Stan menerjemahkan beberapa
tujuan utamanya kedalam bentuk yang
nyata dan terukur. Ketika Stan mengatakan
saya ingin merasa lebih baik pada diri
saya sendiri”, terapis membantunya
mendefinisikan tujuan yang lebih spesifik.
Ketika dia mengatakan saya ingin
menghilangkan inferiority complex ku,
dia menjawab situasi apa yang membuat
anda merasa inferior?” apa yang
sesungguhnya kamu lakukan yang
mengantarkanmu pada perasaan inferior?”
Tujuan nyata Stan mencakup keinginannya
untuk berfungsi tanpa obat-obatan atau
alkohol. Dia menanyainya untuk tetap
mencatat ketika dia minum dan kejadian
apa yang membuatnya minum.
Stan mengindikasikan bahwa dia
tidak ingin merasa menyesal karna
keberadaannya. Terapis memperkenalkan
latihan skill behavioral karena dia
memiliki masalah dalam berbicara dengan
bos dan teman kerjanya. Dia
mendemonstrasikan keahlian tertentu yang
dapat dia gunakan dalam mendekati
mereka secara langsung dan lebih percaya
diri. Prosedur ini termasuk modeling,
pengambilan peran, dan latihan perilaku.
Dia kemudian mencoba perilaku yang
lebih efektif dengan terapisnya, yang
memainkan peran dari bos dan kemudian
memberikan feedback tentang seberapa
kuat atau merasa bersalahnya dia.
Kebingungan Stan pada wanita
juga dapat dieksplor menggunakan latihan
perilaku. Terapis memainkan peran
seorang wanita yang diinginkan Stan. Dia
mempraktikkan cara yang dia inginkan dan
mengatakan hal kepada terapisnya bahwa
dia mungkin takut untuk mengatakannya
pada orang yang di inginkannya. Selama
pengulangan ini, Stan dapat mengeksplor
ketakutannya, mendapat feedback pada
efek dari perilakunya, dan eksperimen
dengan perilaku yang lebih asertif.
In vivo exposure sesuai dalam
bekerja dengan ketakutan Stan akan
kegagalan. Sebelum menggunakan vivo
exposure, terapis pertama-tama
menjelaskan prosedur Stan dan
persetujuannya. Untuk menciptakan
kesiapan bagi exposure, dia pertama
mempelajari prosedur relaksasi selama sesi
dan kemudian mempraktikkannya setiap
hari di rumah. Kemudian, dia mendaftar
ketakutan khusus yang berhubungan
dengan kegagalan, dan dia kemudian
membangkitkan sebuah hirarki item
ketakutan. Stan mengidentifikasikan
ketakutan terbesarnya adalah impotensi
seksual dengan wanita. Ketakutan terkecil
adalah situasi ketika bersama dengan siswa
perempuan dimana ia tidak merasakan
ketertarikan. Pertama, terapis melakukan
beberapa desensitisasi sistematik pada
hirarki Stan sebelum pindah ke in vivo
eksposure. Stan mulai eksposure berulang
dan sistematik pada hal yang dianggapnya
menakutkan, hal hal ketika eksposur pada
item sebelumnya hanya menghasilkan
ketakutan menengah. Bagian dari proses
mencakup latihan eksposur untuk praktik
dalam beragam situasi diluar kantor terapi.
Tujuan dari terapis adalah untuk
membantu Stan memodifikasi perilaku
yang menghasilkan rasa bersalah dan
kebingungan. Dengan belajar perilaku
yang lebih sesuai, dan memperoleh respon
yang lebih adaptif, Stan menunjukkan
penurunan gejalan, dan melaporkan
peningkatan kepuasan.
Follow up: Anda melanjutkan sebagai
terapis Stan
Gunakan pertanyaan ini untuk membantu
anda memikirkan tentang bagaimana anda
akan bekerja dengan Stan menggunakan
pendekatan perilaku:
Bagaimana anda secara kolaboratif
bekerja dengan Stan dalam
mengidentifikasi tujuan perilaku
tertentu untuk memberikan sebuah
arahan dalam terapi Anda?
Teknik perilaku apa yang mungkin
paling sesuai dalam membantu
Stan dalam masalahnya?
Stan mengindikasikan bahwa dia
tidak ingin merasa bersalah akan
keberadaannya. Bagaimana Anda
dapat membantunya
menerjemahkan harapan ini
kedalam tujuan perilaku? Teknik
perilaku apa yang mungkin anda
ambil untuk membantunya dalam
area ini?
Tujuan rumah apa yang ingin anda
sarankan pada Stan?
Lihat program online dan DVD,
Theory in Practice: The Case of Stan
(Session 7 on behavior
therapy),untuk demonstrasi dari
pendekatan saya untuk konseling
Stan dari perspektif ini, sesi ini
mencakup secara kolaboratif
bekerja dalam tujuan dan
pengulangan perilaku pada
eksperimen dengan perilaku asertif.
Kesimpulan dan Evaluasi
Terapi perilaku itu beragam berkenaan dengan bukan hanya pada konsep dasar tetapi juga
pada teknik yang dapat diaplikasikan untuk berhadapan dnegan masalah tertentu dengan
klien yang beragam. Pergerakan perilaku mencakup empat area perkembangan utama:
kondisi klasik, kondisi operant, teori pembelajaran sosial, dan perhatian yang meningkat
pada faktor kognitif yang mempengaruhi perilaku (Lihat bab 10). Sebuah karakter unik
dari terapi perilaku adalah kepercayaan ketatnya pada prinsip metode ilmiah. Konsep dan
prosedur disebutkan secara eksplisit, diuji secara empiris, dan merevisi secara
berkelanjutan. Penelitian dianggap sebagai aspek dasar dalam pendekatan, dan teknik
terapi diperbaiki secara berkelanjutan.
Sebuah abtu lonatan dari terapi perilaku adalah mengidentifikasi tujuan tertentu di
luar proses terapi. Dalam membantu klien mencapai tujuan mereka, terapis perilaku
secara tipikal mengasumsikan sebuah peran aktik dan terarah. Meskipun klien umumnya
memutuskan perilaku apa yang ingin diubah, terapis memutuskan bagaimana perilaku ini
akan dimodifikasi. Dalam merancang sebuah rencana perlakuan, terapis perilaku
menerapkan teknik dan prosedur dari beragam sistem terapi dan mengaplikasikannya
pada kebutuhan unik tiap klien.
Terapi perilaku kontemporer menempatkan penekatan pada peran antara individu dan
lingkungan. Strategi perilaku dapat digunakan untuk mencapai tujuan individu dan tujuan
sosial. Karna faktor kognitif memiliki tempat dalam praktik terapi perilaku, teknikd air
pendekatan ini dapat digunakan untuk mencapai akhir humanistik. Hal ini jelas bahwa
jembatan dapat mengubungkan terapi perilaku dan humanistik, khususnya dengan fokus
perhatian pada penekatan pengarahan diri dan juga dengan kerjasama kesadaran dan
pendekatan berdasarkan penerimaan dalam praktik perilaku.
Kontribusi terapi perilaku
Terapi perilaku menantang kita untuk mempertimbangkan kembali pendekatan global
kita pada konseling. beberapa dapat mengasumsikan bahwa mereka mengetahuai apa yang
dimaksudkan klien dengan pernyataan, “saya merasa tidak dicintai, hidup ini tidak berarti”.
Humanis mungkin mengangguk dalam penerimaan pada pernyataan seperti itu, tetapi
behavioris akan menjawab : siapa yang kamu rasa tidak mencintaimu?” apa yang terjadi
dalam hidupmu yang kamu anggap tidak bermakna?apa hal tertentu yang kamu lakukan
yang berkontribusi dalam keadaan kamu sekarang?” apa yang paling ingin kamu ubah?”.
Kespesifikan dalam pendekatan perilaku membantu klien menerjemahkan tujuan yang tidak
jeals kedalam sbeuah rencana tindakan yang nyata, dan hal tersebut membantu klien dan
konselor untuk menjaga rencana ini jelas dan fokus. Ledley dkk (2005) menyatakan bahwa
terapis dapat membantu klien untuk mempelajari tentang kontegensi yang mempertahankan
pemikiran dan perilaku problematik mereka dna kemudian mengajarkan mereka cara untuk
membuat perubahan yang mereka inginkan. Teknik seperti permainan peran, pengulangan
perilaku, pelatihan, praktik yang dibimbing, modeling, feedback, belajara dengan aproximasi
suksesif, keahlian kesadara, dan tugas rumah dapat dimasukkan dalam daftar terapis
manapun, tanpa berhubungan dengan orientasi teoritis.
Manfaat bagi terapis perilaku adalah teknik behavioral tertentu yang beragam pada
penyelesaian mereka. karena terapi perilaku menekankan melakukan, sebagai lawan dari
sekadar berbicara tentang masalah dan mengumpulkan pandangan, praktisi menggunakan
banyak strategi behavioral untuk membantu klien dalam memformulasikan sebuah rencana
tindakan untuk perubahan perilaku. Kondisi terapi dasar yang ditekankan oleh terapis pribadi-
pusat- mendengarkan dengan aktif, empati akurat, penghormatan positif, ketulusan,
penghormatan, dan kesegeraan- harus diintegrasikan dalam kerangka behavioral.
Teknik behavioral telah dikembangkan kedalam fungsi manusia yang lebih luas dari
pada memiliki pendekatan terapi lain (Kazdin, 2001). Terapi perilaku secara dalam ditangkap
dalam obat-obatan, geriatrik, pediatrik, program rehabilitasi, dan manajemen stress.
Pendekatan ini telah membuat kontribusi signifikan dalam psikologi kesehatan, khususnya
dalam membantu orang-orang mempertahankan gaya hidup yang sehat.
Kontribusi utama dari terapi perilaku adalah penekananya pada penelitian dan kajian
dari hasil perilaku. Hal ini bergantung pada praktisi untuk mendemonstrasikan bahwa terapi
bekerja. Jika progres tiak terjadi, terapis melihat dengan hati-hati pada analisis original dan
rencana perlakuan. Dari semua terapis yang ditunjukkan di dalam buku, pendekatan ini dan
tekniknya telah diarahkan para penelitian yang lebih empiris. Praktisi behavioral ditempatkan
pada pengujian mengidentifikasi intervensi tertentu yang telah didemonstrasikan efektik.
Sebagai contoh, dalam hubungannya beberapa bentuk yang lebih baru dari terapi perilaku,
sbeuah review dari hasil penelitian menunjukkan dukungan empiris bagi bentuk terapi
integratif ini: terapi perilaku dialektikal, terapi penerimaan dan komitmen, terapi kognitif
berdasar kesadaran, dan EMDR (Schottenbauer, Glass, & Arnkoff, 2005).
Terapis perilaku menggunakan teknik pengujian empiris ini, meyakinkan bahwa klien
menerima perlakuan efektif dan relatif singkat. Intervensi perilaku telah diarahkan pada
evaluasi yang lebih keras dari pada bentuk perlakuan psikologikal yang lain (Wilson 2008).
Terapis berdasar bukti merupakan tanda dari terpai perilaku dan terapi perllaku kognitif.
Lazarus (2006) menyatakan bahwa terapis multimodal nyaman dengan sebutan perlakuan
berdasar bukti, an Cummings (2002) menyakini terapi berdasar-bukti akan bersifat perintah
bagi penukaran pembayaran pihak ketiga di masa depan: “EBT itu dapat dipertahankan
secara hukum dan moral. Pengadilan sering mencari penelitian untuk menemukan
jawabannya. Penekanan ini pada penggunaan prosedur yang diuji secara empiris cocok
dengan persyaratan program perawatan kesehatan mental yang dikelola. Membatasi
pembayaran untuk EBT akan mengurangi sebagian besar perawatan yang dianggap sebagai
psikoterapi pelarian, yang dipertanyakan atau tidak perlu untuk jangka panjang (hal. 4).
Sebagai penghargaan mereka, terapis perilaku bersedia untuk memeriksa efektivitas
prosedur mereka dalam hal generalisasi, kebermaknaan, dan daya tahan perubahan. Sebagian
besar penelitian menunjukkan bahwa metode terapi perilaku lebih efektif daripada tanpa
pengobatan. Selain itu, sejumlah prosedur perilaku saat ini merupakan strategi perawatan
terbaik yang tersedia untuk berbagai masalah spesifik. Ada banyak penelitian yang dilakukan
di bidang gangguan kecemasan umum, depresi, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan
panik, dan fobia. Dibandingkan dengan pendekatan alternatif, teknik perilaku umumnya telah
terbukti setidaknya sama efektif dan sering lebih efektif dalam mengubah perilaku target
(Kazdin, 2001; Spiegler & Guevremont, 2003)
Kekuatan dari pendekatan multimodal adalah keringkasannya. Terapi singkat yang
komprehensif mencakup mengoreksi keyakinan yang salah, perilaku bermasalah, perasaan
tidak menyenangkan, citra yang mengganggu, hubungan yang penuh tekanan, sensasi negatif,
dan kemungkinan ketidakseimbangan biokimiawi. Terapis multimodal percaya bahwa
semakin banyak klien belajar dalam terapi, semakin kecil kemungkinannya bahwa masalah
lama akan terulang kembali. Mereka memandang perubahan abadi sebagai fungsi dari strategi
dan modalitas gabungan.
Kekuatan lain dari pendekatan perilaku adalah penekanan pada akuntabilitas etis.
Terapi perilaku secara etis netral karena tidak menentukan perilaku siapa atau perilaku apa
yang harus diubah. Setidaknya dalam kasus konseling sukarela, praktisi perilaku hanya
menentukan bagaimana cara mengubah perilaku yang menjadi target klien untuk diubah.
Klien memiliki banyak kendali dan kebebasan dalam memutuskan apa tujuan terapi.
Terapis perilaku menangani masalah etika dengan menyatakan bahwa terapi pada
dasarnya adalah proses pendidikan (Tanaka-Matsumi et al., 2002). Pada awal terapi perilaku,
klien belajar tentang sifat konseling, prosedur yang dapat digunakan, dan manfaat serta
risikonya. Klien diberi informasi tentang prosedur terapi spesifik yang sesuai untuk masalah
khusus mereka. Fitur penting dari terapi perilaku melibatkan kolaborasi antara terapis dan
klien. Klien tidak hanya memutuskan tujuan terapi, tetapi mereka juga berpartisipasi dalam
pemilihan teknik yang akan digunakan dalam menangani masalah mereka. Dengan informasi
ini, klien menjadi informasi, mitra yang diberi hak penuh dalam usaha terapi.
Keterbatasan dan Kritik Terapi Perilaku
Terapi perilaku telah dikritik karena berbagai alasan. Mari kita periksa lima kritik umum dan
kesalahpahaman yang sering orang miliki tentang terapi perilaku, bersama dengan reaksi
saya.
1. Terapi perilaku dapat mengubah perilaku, tetapi tidak mengubah perasaan. Beberapa
kritikus berpendapat bahwa perasaan harus berubah sebelum perilaku dapat berubah.
Praktisi perilaku berpendapat bahwa bukti empiris belum menunjukkan bahwa
perasaan harus diubah terlebih dahulu, dan terapis perilaku dalam praktiknya
berurusan dengan perasaan sebagai bagian keseluruhan dari proses perawatan. Kritik
umum terhadap pendekatan perilaku dan kognitif adalah bahwa klien tidak didorong
untuk mengalami emosi mereka. Dalam berkonsentrasi pada bagaimana klien
berperilaku atau berpikir, beberapa terapis perilaku cenderung mengecilkan kerja
melalui masalah emosional. Secara umum, saya lebih suka berfokus pada apa yang
klien rasakan dan kemudian bekerja dengan dimensi perilaku dan kognitif.
2. Terapi perilaku mengabaikan faktor-faktor relasional penting dalam terapi. Tuduhan
ini sering dibuat bahwa pentingnya hubungan antara klien dan terapis diabaikan
dalam terapi perilaku. Meskipun terapis perilaku tidak menempatkan bobot utama
pada variabel hubungan, mereka mengakui bahwa hubungan kerja yang baik dengan
klien adalah fondasi dasar yang diperlukan untuk penggunaan teknik yang efektif.
Mereka bekerja membangun hubungan dengan klien mereka, dan Lazarus (1996b)
menyatakan, "Hubungan adalah tanah yang memungkinkan teknik untuk berakar" (p.
61).
3. Terapi perilaku tidak memberikan wawasan. Jika pernyataan ini memang benar,
terapis perilaku mungkin akan menanggapi bahwa wawasan tidak diperlukan untuk
perubahan perilaku. Perubahan perilaku sering kali mengarah pada perubahan
pemahaman atau wawasan, dan sering kali itu mengarah pada perubahan emosional.
4. Terapi perilaku lebih mengobati gejala daripada penyebab. Asumsi psikoanalitik
adalah bahwa peristiwa traumatis awal merupakan akar dari disfungsi saat ini. Terapis
perilaku mungkin mengakui bahwa tanggapan menyimpang memiliki asal historis,
tetapi mereka berpendapat bahwa sejarahnya jarang penting dalam pemeliharaan
masalah saat ini. Namun, terapis perilaku menekankan perubahan keadaan lingkungan
saat ini untuk mengubah perilaku.
Terkait dengan kritik ini adalah anggapan bahwa, kecuali penyebab historis dari
perilaku saat ini dieksplorasi secara terapeutik, gejala baru akan segera menggantikan gejala
yang “disembuhkan.” Ahli behavioris membantah pernyataan ini berdasarkan teori dan
empiris. Mereka berpendapat bahwa terapi perilaku secara langsung mengubah kondisi
pemeliharaan, yang merupakan penyebab perilaku bermasalah (gejala). Selain itu, mereka
menyatakan bahwa tidak ada bukti empiris bahwa penggantian gejala terjadi setelah terapi
perilaku telah berhasil menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan karena mereka telah
mengubah kondisi yang menimbulkan perilaku tersebut (Kazdin & Wilson, 1978; Sloane,
Staples, Cristol, Yorkston, & Whipple, 1975; Spiegler & Guevremont, 2003).
5. Terapi perilaku melibatkan kontrol dan manipulasi oleh terapis. Semua terapis
memiliki hubungan kekuatan dengan klien dan dengan demikian memiliki kontrol.
Terapis perilaku lebih jelas dengan klien mereka tentang peran ini (Miltenberger,
2008). Kazdin (2001) percaya tidak ada masalah kontrol dan manipulasi yang terkait
dengan strategi perilaku yang tidak juga dimunculkan oleh pendekatan terapi lainnya.
Kazdin berpendapat bahwa terapi perilaku tidak mencakup tujuan tertentu atau
berdebat untuk gaya hidup tertentu, juga tidak memiliki agenda untuk mengubah
masyarakat.
Tentunya, dalam semua pendekatan terapeutik ada kontrol oleh terapis, yang
berharap untuk mengubah perilaku dengan cara tertentu. Namun, ini tidak berarti bahwa klien
adalah korban yang tak berdaya karena kemauan dan nilai-nilai terapis. Terapis perilaku
kontemporer menggunakan teknik yang ditujukan untuk meningkatkan pengarahan diri
sendiri dan modifikasi diri, yang merupakan keterampilan yang sebenarnya dipelajari klien
dalam proses terapi.
Ke mana Pergi Dari Sini
Dalam CD-ROM for Integrative Counseling, Sesi 8 ("Fokus Perilaku dalam Konseling"),
saya mendemonstrasikan metode perilaku untuk membantu Ruth dalam mengembangkan
program latihan. Sangat penting bahwa Ruth membuat keputusan sendiri tentang tujuan
perilaku tertentu yang ingin dia kejar. Ini berlaku pada upaya saya untuk bekerja dengannya
dalam mengembangkan metode relaksasi, meningkatkan efisiensi dirinya, dan merancang
rencana latihan.
Karena literatur dalam bidang ini sangat luas dan beragam, tidak mungkin dalam satu
bab survei singkat untuk menyajikan diskusi yang komprehensif dan mendalam tentang
teknik perilaku. Saya harap Anda akan ditantang untuk memeriksa kesalahpahaman yang
Anda miliki tentang terapi perilaku dan didorong untuk melakukan bacaan lebih lanjut dari
sumber-sumber terpilih.
Association for Behavioral and Cognitive Therapies (ABCT)
305 Seventh Avenue, Lantai 16
New York, NY 10001-6008
Telepon: (212) 647-1890
Faks: (212) 647-1865
E-mail: membership@abct.org
Situs web: www.abct.org
Jika Anda memiliki minat dalam pelatihan lebih lanjut dalam terapi perilaku, Association for
Behavioral and Cognitive Therapies (ABCT) adalah sumber yang bagus. ABCT (sebelumnya
AABT) adalah organisasi keanggotaan lebih dari 4.500 profesional kesehatan mental dan
siswa yang tertarik dalam terapi perilaku, terapi perilaku kognitif, penilaian perilaku, dan
analisis perilaku terapan. Keanggotaan penuh dan rekanan seharga $199 dan termasuk satu
jurnal langganan (untuk Behavior Therapy atau Cognitive and Behavioral Practice), dan
berlangganan Behavior Therapist (buletin dengan artikel fitur, pembaruan pelatihan, dan
berita asosiasi). Keanggotaan juga termasuk pengurangan registrasi dan biaya kursus
pendidikan berkelanjutan untuk konvensi tahunan ABCT yang diadakan pada bulan
November, yang menampilkan lokakarya, program master terapis, simposium, dan presentasi
pendidikan lainnya. Keanggotaan untuk siswa seharga $49. Anggota menerima diskon untuk
semua publikasi ABCT, beberapa di antaranya adalah:
Directory of Graduate Training in Behavior Therapy and Experimental-Clinical
Psychology adalah sumber yang sangat baik bagi siswa dan pencari kerja yang
menginginkan informasi tentang program dengan penekanan pada pelatihan perilaku.
Directory of Psychology Internships: Programs Offering Behavioral Training
menjelaskan program pelatihan yang memiliki komponen perilaku.
Behavior Therapy adalah jurnal triwulanan internasional yang berfokus pada
penelitian, teori, dan praktik eksperimental dan klinis asli.
Cognitive and Behavioral Practice adalah jurnal triwulanan yang menampilkan
artikel yang berorientasi klinis.
SARAN BACAAN TAMBAHAN
Contemporary Behavior Therapy (Spiegler
& Guevremont, 2003) membahas
penerapan dan prinsip-prinsip dasar serta
isu-isu etis dalam penanganan terapi
behavioral. Beberapa bab tertentu
membahas tahapan-tahapan yang dapat
diterapkan untuk berbagai klien:
peninjauan behavioral, terapi
pembentukan, desensitisasi sistematis,
terapi eksposur, penyusunan ulang
kognitif, dan keahlian kognitif menghadapi
masalah.
Interviewing and Change Strategies for
Helpers: Fundamental Skills and Cognitive
Behavioral Interventions (Cormier, Nurius,
& Osborn,
2009) merupakan buku yang secara
komperhensif membahas pengalaman
pelatihan dan pengembangan keahlian.
Buku ini kayak akan informasi terkait
berbagai macam topik, seperti tahapan-
tahapan peninjauan, proses penentuan
tujuan terapi, pengembangan program
penanganan yang sesuai untuk klien, serta
metode-metode evaluasi hasil terapi.
Cognitive Behavior Therapy: Applying
Empirically Supported Techniques in
Your Prac-
tice (O’Donohue, Fisher,& Hayes, 2003)
berisi rangkaian penjelasan singkat terkait
beragam teknik yang digunakan untuk
menangani berbagai bentuk permasalahan
klien.
Behavior Modification: Principles and
Proce- dures (Miltenberger, 2008)
merupakan sumber yang kaya akan
informasi terkait prinsip-prinsip dasar
terapi seperti untuk pendorongan,
pemusnahan, hukuman, dan tahapan-
tahapan pembentukan perilaku baru.
Behavior Modification in Applied Settings
(Kazdin, 2001) memberikan perspektif
kontemporer terhadap perubahan prinsip-
prinsip diri yang berasal dari kondisi
lingkungan dan menggambarkan
bagaimana cara teknik-teknik terapi ini
diterapkan dalam lingkungan rumah,
sekolah, dan pekerjan.
Self-Directed Behavior: Self-Modification
for Person- al Adjustment (Watson &
Tharp, 2007) memberikan penjelasan
tahapan-tahapan spesifik untuk
menjalankan program perubahan diri.
Penulis buku ini membahas cara
menentukan tujuan, mengembangkan
perencanaan, mencatat kemajuan
perkembangan, serta cara menyadari dan
menghadapi masalah-masalah yang akan
dialami dalam program pengembangan diri
ini.
SARAN BACAAN DAN REFERENSI LANJUTAN
*ALBERTI, R. E., & EMMONS, M. L.
(2008). Your perfect right: A guide to
assertive behavior (9th ed.). Atascadero,
CA: Impact.
ANTONY, M. M., & ROEMER, L.
(2003). Behav- ior therapy. In A. S.
Gurman & S. B. Messer (Eds.), Essential
psychotherapies: Theory and practice (2nd
ed., pp. 182223). New York: Guilford
Press.
BANDURA, A. (1969). Principles of
behavior modification. New York: Holt,
Rinehart & Winston.
*Buku dan Artikel yang ditandai dengan
tanda asterisk merupakan bahan bacaan
untuk studi lanjutan.
BANDURA, A. (Ed.). (1971a).
Psychological mod- eling: Conflicting
theories. Chicago: Aldine- Atherton.
BANDURA, A. (1971b).
Psychotherapy based upon modeling
principles. In A. E. Bergin & S. L. Garfield
(Eds.), Handbook of psychotherapy and
behavior change. New York: Wiley.
BANDURA, A. (1974). Behavior therapy
and the models of man. American
Psychologist, 29,
859869.
BANDURA, A. (1977). Social
learning theory.
Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
BANDURA, A. (1982). Self-efficacy
mechanisms
in human agency. American
Psychologist, 37,
122147.
BANDURA, A. (1986). Social foundations
of thought and action: A social cognitive
theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-
Hall.
*BANDURA, A. (1997). Self-efficacy:
The exercise of self-control. New York:
Freeman.
BANDURA, A., & WALTERS, R.
H. (1963).
Social learning and personality
development.
New York: Holt, Rinehart & Winston.
*BARLOW, D. H. (Ed.). (2001). Clinical
handbook of
psychological disorders: A step-by-step
manual
(3rd ed.). New York: Guilford Press.
*BECK, A. T. (1976). Cognitive therapy
and emotional
disorders. New York: New American
Library.
BECK, A. T., & WEISHAAR, M. E.
(2008). Cognitive
therapy. In R. J. Corsini & D. Wedding
(Eds.),
Current psychotherapies (8th ed., pp. 263
294).
Belmont, CA: Brooks/Cole.
*BECK, J. S. (2005). Cognitive therapy
for challenging
problems. New York: Guilford Press.
*COREY, G. (2008). Theory and
practice of group
counseling (7th ed.). Belmont, CA:
Brooks/
Cole.
*COREY, G. (2009a). Case approach
to counsel-
ing and psychotherapy (7th ed.). Belmont,
CA:
Brooks/Cole.
*COREY, G. (2009b). Student manual for
theory and
practice of counseling and
psychotherapy (8th
ed.). Belmont, CA: Brooks/Cole.
*CORMIER, S., NURIUS, P. S., &
OSBORN, C.
(2009). Interviewing and change
strategies for
helpers: Fundamental skills and cognitive
behavioral
interventions (6th ed.). Belmont, CA:
Brooks/
Cole.
CUMMINGS, N. (2002). Evidence based
therapies
and the future of mental health care.
The
Milton H. Erickson Foundation
Newsletter, 22(2), 4.
DATTILIO, F. M. (2006). Progressive
muscle relax-
ation (CD program). www.dattilio.com
EIFERT, G. H., & FORSYTH, J. P.
(2005). Acceptance
and commitment therapy for anxiety
disorders: A
practitioner’s treatment guide to using
mindful-
ness, acceptance, and values-based
behavior change
strategies. Oakland, CA: New Harbinger.
GERMER, C. K. (2005a). Mindfulness:
What is it:
What does it matter? In C. K. Germer, R.
D.
Siegel, & P. R. Fulton (Eds.), Mindfulness
and psy-
chotherapy (pp. 327). New York:
Guilford Press.
GERMER, C. K. (2005b). Teaching
mindfulness
in therapy. In C. K. Germer, R. D. Siegel,
&
P. R. Fulton (Eds.), Mindfulness and
psychotherapy
(pp. 113129). New York: Guilford Press.
*GERMER, C. K., SIEGEL, R. D., &
FULTON, P. R. (Eds.). (2005).
Mindfulness and psychotherapy. New
York: Guilford Press.
GRANVOLD, D. K., & WODARSKI, J.
S. (1994).
Cognitive and behavioral treatment:
Clinical
issues, transfer of training, and relapse pre-
vention. In D. K. Granvold (Ed.),
Cognitive and
behavioral treatment: Method and
applications
(pp. 353–375). Pacific Grove, CA:
Brooks/Cole.
HAYES, S. C. (2004). Acceptance and
commit-
ment therapy and the new behavior
therapies:
Mindfulness, acceptance, and relationship.
In
S. C. Hayes, V. M. Follette, & M. M.
Linehan
(Eds.), Mindfulness and acceptance:
Expand-
ing the cognitive-behavioral tradition (pp.
129).
New York: Guilford Press.
*HAYES, S. C., FOLLETTE, V. M., &
LINEHAN,
M. M. (Eds.). (2004). Mindfulness and
accep-
tance: Expanding the cognitive-behavioral
tradi-
tion. New York: Guilford Press.
HAYES, S. C., & PANKEY, J. (2003).
Acceptance.
In W. O’Donohue, J. E. Fisher, & S. C.
Hayes
(Eds.), Cognitive behavior therapy:
Applying
empirically supported techniques in your
practice
(pp. 49). Hoboken, NJ: Wiley.
*HAYES, S. C., STROSAHL, K. D., &
HOUTS, A.
(Eds.). (2005). A practical guide to
acceptance
and commitment therapy. New York:
Springer.
*HAYES, S. C., STROSAHL, K. D., &
WILSON,
K. G. (Eds.). (1999). Acceptance and
commitment
therapy: An experiential approach to
behavior
change. New York: Guilford Press.
HAZLETT-STEVENS, H., &
CRASKE, M. G.
(2003). Live(invivo) exposure. InW.
O’Donohue,
J. E. Fisher, & S. C. Hayes (Eds.),
Cognitivebehavior
therapy: Applyingempiricallysupported
techniques in
your practice (pp. 223228). Hoboken, NJ:
Wiley.
JACOBSON, E. (1938). Progressive
relaxation. Chicago:
University of Chicago Press.
*KABAT-ZINN, J. (1990). Full
catastrophe living: Using
the wisdom of your body and mind to face
stress,
pain, and illness. New York: Dell.
*KABAT-ZINN, J. (1994). Wherever
you go there
you are: Mindfulness meditation in
everyday life.
New York: Hyperion.
KAZDIN, A. E. (1978). History of
behavior modifica-
tion: Experimental foundations of
contemporary
research. Baltimore: University Park Press.
*KAZDIN, A. E. (2001). Behavior
modification in
applied settings (6th ed.). Pacific Grove,
CA:
Brooks/Cole.
KAZDIN, A. E., & WILSON, G. T.
(1978). Evalu- ation of behavior therapy:
Issues, evidence, and research strategies.
Cambridge, MA: Ballinger. LAZARUS,
A. A. (1976). Multimodal behavior
therapy.
New York: Springer.
LAZARUS, A. A. (1986). Multimodal
therapy. In
J. C. Norcross (Ed.), Handbook of eclectic
psy-
chotherapy (pp. 6593). New York:
Brunner/
Mazel.
LAZARUS, A. A. (1987). The need for
technical
eclecticism: Science, breadth, depth, and
specificity In J. K. Zeig (Ed.), The
evolution
of psychotherapy (pp. 164178). New
York:
Brunner/Mazel.
LAZARUS, A. A. (1989). The practice of
multimodal
therapy. Baltimore: Johns Hopkins
University
Press.
LAZARUS, A. A. (1992a). The
multimodal ap-
proach to the treatment of minor
depression.
American Journal of Psychotherapy, 46(l),
5057.
LAZARUS, A. A. (1992b). Multimodal
therapy:
Technical eclecticism with minimal
inte-
gration. In J. C. Norcross & M. R.
Goldfried
(Eds.), Handbook of psychotherapy
integration
(pp. 231263). New York: Basic Books.
*LAZARUS, A. A. (1993). Tailoring the
therapeu-
tic relationship, or being an authentic
chame-
leon. Psychotherapy, 30, 404407.
*LAZARUS, A. A. (1996a). Some
reflections after
40 years of trying to be an effective
psycho-
therapist. Psychotherapy, 33(1), 142145.
*LAZARUS, A. A. (1996b). The utility
and futility
of combining treatments in
psychotherapy.
Clinical Psychology: Science and
Practice, 3(1),
5968.
*LAZARUS, A. A. (1997a). Brief but
comprehensive
psychotherapy: The multimodal way. New
York:
Springer.
LAZARUS, A. A. (1997b). Can
psychotherapy
be brief, focused, solution-oriented, and
yet
comprehensive? A personal
evolutionary
perspective. In J. K. Zeig (Ed.), The
evolution of
psychotherapy: The third conference (pp.
8394).
New York: Brunner/Mazel.
LAZARUS, A. A. (2000). Multimodal
strategies
with adults. In J. Carlson & L. Sperry
(Eds.),
Brief therapy with individuals and
couples
(pp. 106124). Phoenix: Zeig & Tucker.
LAZARUS, A. A. (2003). Multimodal
behav-
ior therapy. In W. O’Donohue, J. E.
Fisher,
& S. C. Hayes (Eds.), Cognitive
behavior
therapy: Applying empirically supported
tech- niques in your practice (pp. 261
265). Hobo- ken, NJ: Wiley.
*LAZARUS, A. A. (2005). Multimodal
therapy. In J. C. Norcross & M. R.
Goldfried (Eds.), Handbook of
psychotherapy integration (2nd ed., pp.
105120). New York: Oxford University
Press.
LAZARUS, A. A. (2006). Multimodal
therapy: A seven-point integration. In G.
Stricker & J. Gold (Eds.), A casebook of
psychotherapy inte- gration (pp. 1728).
Washington DC: American Psychological
Association.
*LAZARUS, A. A. (2008). Multimodal
therapy. In R. J. Corsini & D. Wedding
(Eds.), Current psychotherapies (8th ed.,
pp. 368401). Belmont, CA: Brooks/Cole.
LAZARUS, A. A., & LAZARUS, C. N.
(1991). Mul- timodal life-history
inventory. Champaign, IL: Research
Press.
LAZARUS, C. N., & LAZARUS, A.
A. (2002).
EMDR: An elegantly concentrated
multimod-
al procedure? In F. Shapiro (Ed.), EMDR
as an
integrative psychotherapy approach (pp.
209223).
Washington, DC: American
Psychological
Association.
*LEDLEY, D. R., MARX, B. P., &
HEIMBERG, R. G.
(2005). Making cognitive-behavioral
therapy
work: Clinical processes for new
practitioners.
New York: Guilford Press.
LINEHAN, M. M. (1993a). Cognitive-
behavioral
treatment of borderline personality
disorder. New
York: Guilford Press.
LINEHAN, M. M. (1993b). Skills training
manual
for treating borderline personality disorder.
New
York: Guilford Press.
MARTELL, C. R. (2007). Behavioral
therapy. In
A. B. Rochlen (Ed.), Applying counseling
theo-
ries: An online case-based approach (pp.
143156).
Upper Saddle River, NJ: Pearson
Prentice-
Hall.
*MEICHENBAUM, D. (1977).
Cognitive behav-
ior modification: An integrative approach.
New
York: Plenum Press.
MEICHENBAUM, D. (1985). Stress
inoculation
training. New York: Pergamon Press.
MCNEIL, D., & KYLE, B. (2009).
Exposure ther-
apies. In S. Cormier, P. S. Nurius, & C.
Os-
born, Interviewing and change strategies
for
helpers: Fundamental skills and
cognitive be-
havioral interventions (6th ed.). Belmont,
CA:
Brooks/Cole.
*MILTENBERGER, R. G. (2008).
Behavior modifica- tion: Principles and
procedures (4th ed.). Belmont, CA:
Brooks/Cole.
MORGAN, B., & MACMILLAN, P.
(1999). Help- ing clients move toward
constructive change: A three-phase
integrative counseling model. Journal of
Counseling and Development, 77(2),
153159.
MORGAN, S. P. (2005). Depression:
Turning toward
life. In C. K. Germer, R. D. Siegel, & P.
R.
Fulton (Eds.), Mindfulness and
psychotherapy
(pp. 130151). New York: Guilford Press.
*NORCROSS, J. C., BEUTLER, L. E., &
LEVANT,
R. F. (2006). Evidence-based practices in
mental
health: Debate and dialogue on the
fundamental
questions. Washington, DC: American
Psy-
chological Association.
NYE, R. D. (2000). Three psychologies:
Perspectives
from Freud, Skinner, and Rogers (6th ed.).
Pa-
cific Grove, CA: Brooks/Cole.
*O’DONOHUE, W., FISHER, J. E., &
HAYES, S. C.
(Eds.). (2003). Cognitive behavior
therapy: Ap-
plying empirically supported techniques
in your
practice. Hoboken, NJ: Wiley.
PANJARES, F. (2004). Albert Bandura:
Biographical
sketch. Retrieved May 18, 2007, from
http://
des.emory.edu/mfp/bandurabio.html
PAUL, G. L. (1967). Outcome research in
psycho-
therapy. Journal of Consulting
Psychology, 31,
109188.
POLIVY, J., & HERMAN, C. P. (2002). If
at first
you don’t succeed: False hopes of self-
change.
American Psychologist, 57(9), 677689.
PROCHASKA, J. O., & NORCROSS, J.
C. (2007).
Systems of psychotherapy: A
transtheoreti-
cal analysis (6th ed.). Belmont, CA:
Brooks/
Cole.
RIDLEY, C. R. (1995). Overcoming
unintentional rac-
ism in counseling and therapy: A
practitioner’s
guide to intentional intervention.
Thousand
Oaks, CA: Sage.
SCHOTTENBAUER, M. A., GLASS,
C. R., &
ARNKOFF, D. B. (2005). Outcome
research on
psychotherapy integration. In J. C.
Norcross &
M. R. Goldfried (Eds.), Handbook of
psycho-
therapy integration (2nd ed., pp. 459493).
New
York: Oxford University Press.
*SEGAL, Z. V., WILLIAMS, J. M. G.,
& TEAS-
DALE, J. D. (2002). Mindfulness-based
cognitive
therapy for depression: A new approach
to pre-
venting relapse. New York: Guilford
Press.
SEGRIN, C. (2003). Social skills
training. In W. O’Donohue, J. E. Fisher,
& S. C. Hayes (Eds.), Cognitive behavior
therapy: Applying empirically supported
techniques in your practice (pp. 384
390). Hoboken, NJ: Wiley.
*SHAPIRO, F. (2001). Eye movement
desensitiza-
tion and reprocessing: Basic principles,
protocols,
and procedures (2nd ed.). New York:
Guilford
Press.
SHAPIRO, F. (2002a). EMDR as an
integrative psy-
chotherapy approach. Washington, DC:
Ameri-
can Psychological Association.
SHAPIRO, F. (2002b). EMDR twelve
years after its
introduction: Past and future research.
Jour-
nal of Clinical Psychology, 58, 122.
SHAPIRO, F., & FORREST, M. S.
(1997). EMDR:
The breakthrough therapy for overcoming
anxiety,
stress, and trauma. New York: Basic
Books.
SHARF, R. S. (2008). Theories of
psychotherapy
and counseling: Concepts and cases
(4th ed.).
Belmont, CA: Brooks/Cole.
SKINNER, B. F. (1948). Walden II.
New York:
Macmillan.
SKINNER, B. F. (1953). Science and
human behavior.
New York: Macmillan.
SKINNER, B. F. (1971). Beyond freedom
and dignity.
New York: Knopf.
SKINNER, B. F. (1974). About
behaviorism. New
York: Knopf.
SLOANE, R. B., STAPLES, E. R.,
CRISTOL, A. H.,
YORKSTON, N. J., & WHIPPLE, K.
(1975).
Psychotherapy versus behavior therapy.
Cam-
bridge, MA: Harvard University Press.
SPIEGLER, M. D. (2008). Behavior
therapy 1: Tradi-
tional behavior therapy. In J. Frew & M.
D. Spie-
gler (Eds.), Contemporary psychotherapies
for a di-
verse world (pp. 275319). Boston:
Lahaska Press.
*SPIEGLER, M. D., &
GUEVREMONT, D. C.
(2003). Contemporary behavior therapy
(4th
ed.). Pacific Grove, CA: Brooks/Cole.
TANAKA-MATSUMI, J.,
HIGGINBOTHAM, H. N.,
& CHANG, R. (2002). Cognitive-
behavioral
approaches to counseling across cultures:
A
functional analytic approach for clinical
ap-
plications. In P. B. Pedersen, J. G.
Draguns,
W. J. Lonner, & J. E. Trimble (Eds.),
Counseling
across cultures (5th ed., pp. 337379).
Thousand
Oaks, CA: Sage.
*TOMKINS, M. A. (2004). Using
homework in psy-
chotherapy: Strategies, guidelines, and
forms.
New York: Guilford Press.
TRYON, W. W. (2005). Possible mechanisms for
why desensitization and exposure therapy
work. Clinical Psychology Review, 25, 6795.
*WATSON, D. L., & THARP, R. G. (2007). Self-directed
behavior: Self-modifi cation for personal adjustment
(9th ed.). Belmont, CA: Wadsworth.
*WILSON, G. T. (2008). Behavior therapy. In
R. Corsini & D. Wedding (Eds.), Current psychotherapies
(8th ed., pp. 223262). Belmont,
CA: Brooks/Cole.
WOLPE, J. (1990). The practice of behavior therapy
(4th ed.). Elmsford, NY: Pergamon Press.
Bab Sepuluh
Terapi Perilaku Kognitif
Pengantar
Terapis perilaku emotif Rasional
Albert Ellis
Konsep kunci
Pandangan sifat dasar manusia
Pandangan gangguan emosional
Kerangka A-B-C
Proses terapi
Tujuan terapi
Fungsi dan peran terapis
Pengalaman klien dalam terapi
Hubungan antara terapis dan klien
Aplikasi: teknik dan prosedur
terapi
Praktik terapi perilaku emotif
rasional
Aplikasi REBT pada populasi klien
REBT sebagai terapi singkat
Aplikasi pada konseling kelompok
Terapi Kognitif Aaron Beck
Pengantar
Prinsip dasar terapi kognitif
Hubungan klien-terapis
Aplikasi terapi kognitif
Modifikasi perilaku kognitif
Donald Meichenbaum
Pengantar
Bagaimana perilaku berubah
Program keahlian menghadapi
masalah
Pendekatan konstruktif pada terapi
perilaku kognitif
Terapi perilaku kognitif dari
perspektif multikultural
Kekuatan dari perspektif
keberagaman
Kelemahan dari perspektif
keberagaman
Terpai perilaku kognitif
diaplikasikan pada kasus Stan
Kesimpulan dan Evaluasi
Kontribusi pendekatan perilaku
kognitif
Batasan dan kritik pendekatan
perilaku kognitif
Kemana pergi dari sini
Bacaan tambahan yang
direkomendasikan
Referensi dan bacaan yang
disarankan
ALBERT ELLIS
ALBERT
ELLIS (1913-
2007) lahir di
Pittsburg tetapi
melarikan diri
kedalam
liarnya New
York pada usia 4 dan hidup di sana
(kecuali selama setahun di New
Jersey) selama hidupnya. Dia
masuk ke rumah sakit sembilan
kali ketika masih anak-anak,
umumnya karena nephritis, dan
renal glycosuria pada usia 19 juga
diabetes pada usia 40. Dengan
tegas merawat kesehatannya dan
dengan keras kepala menolak
dirinya untuk menderita karenanya,
dia hidup dalam hidup yang luar
biasa sehat dan enerjik, hingga
kematiannya di usia 93.
Menyadari bahwa dirinya
dapat memberi konseling dengan
penuh keahlian dan di sangat
menikmati melakukannya, Ellis
memutuskan untuk menjadi
psikologis. Meyakini psikologi
untuk menjadi bentuk terdalam dari
psikoterapi, Ellis dianalisa dan
disupervisi oleh analis training. Dia
kemudian mempraktikkan
psikoterapi berorientasi
psikoanalis, tetapi dengan segera
menjadi kecewa karena proses
lambat dari kliennya. Dia
mengamati bahwa mereka
membaik lebih cepat ketika mereka
mengubah cara berpikir tentang diri
mereka dan masalah mereka.
diawal 1955, dia mengebangkan
Terapi Perilaku Emotif Rasional.
Ellis dipanggil “kakek terpai
perilaku kognitif”. Hingga sakitnya
selama dua tahun terakhir
hidupnya, dia umumnya bekerja 16
jam sehari, menemui banyak klien
untuk terapi individu, menyediakan
waktu setiap hari untuk tulisan
profesional, dan memberikan
perbincangan dan workshop yang
banyak di banyak tempat di seluruh
dunia.
Ellis mengembangkan
pendekatannya sebagai sebuah
metode berhadapan dengan
masalahnya sendiri di masa muda.
Dalam satu titik di masa hidupnya,
sebagai contoh, dia sangat
ketakutan akan berbicara di depan
umum. Selama masa remajanya dia
sangat pemalu berada di antara
wanita. Di usia 19 tahun, dia
memaksa dirinya untuk berbicara
ke 100 orang yang berbeda di
Bronx Botanical Garden selama
satu bulan. Meskipun dia tidak
pernah berkencan dengan wanita
dalam penemuan singkat ini, dia
melaporkan bahwa dia menjadikan
dirinya tidak peka akan
ketakutannya pada penolakan
wanita, dia berusaha untuk
menalukkan beberapa rintangan
emosional terkuatnya. (Ellis, 1994,
1997).
Orang-orang yang
mendengarkan kuliah Ellis sering
berkomentar pada gaya abrasif,
humoris, dan flamboyan. Dia
melihat dirinya sebagai lebih
abrasif di workshopnya, dan dia
juga menganggap dirinya humoris
dan mengagetkan dalam beberapa
hal. Dalam workshopnya dia
menggembirakan hati dalam
membebaskan sisi eksentriknya,
seperti membumbui ceramahnya
dengan kata empat huruf. Dia
menikmati pekerjaanya dan
mengajarkan REBT, yang
merupakan hasrat dan komitmen
utama dalam hidupnya. Bahkan
selama sakit terakhirnya, dia terus
menemui siswanya di pusat
rehabilitasi diamana dia dulunya
sembuh, kadang mengajar dari
tempat tidurnya di rumah sakit.
Salah satu workshop terakhirnya
adalah pada kelompok siswa dari
belgia yang mengunjunginya di
rumah sakit. Selain pneumonia, dia
juga memiliki serangan jantung
pagi itu, namun dia menolak untuk
membatalkan pertemuannya
dengan siswanya hari itu.
Humor adalah bagian
penting dalam filosofinya, yang dia
aplikasikan pada tantangan
hidupnya sendiri. Melalui
contohnya, dia mengajarkan orang-
orang bagimana menghadapi
kemalangan yang serius. Dia
menikmati menulis lagu humor
rasional dan mengatakan bahwa dia
akan senang menjadi komposer
ketika dia tidak lagi menjadi
psikologis.
Ellis menikahi psikologis
berkebangsaan Australia, Debbie
Joffe, pada November 2004, yang
dipanggilnya cinta terbesar dalam
hidupku” (Ellis, 2008). Keduanya
memilki tujuan dan ideal hidup
yang sama dan mereka bekerja
sebagi tim dalam melaksanakan
workshop. Untuk penjeasan lebih
tentang kehidupan Albert Ellis dan
sejarah dari REBT, lihat Rational
Emotive Behavior Therapy: It
Works for MeIt Can Work for
You (Ellis, 2004a
AARON T.BECK
Aaron Temkin Beck
(b. 1921) lahir di
Providence, Rhode
Island. Masa kecilnya
dicirikan dengan
kesengsaraan. Masa
awal sekolah Beck dihentikan oleh
penyakit yang mengancam jiwanya,
namun dia mengatasi masalah ini dan
selesai setahun lebih dulu daripada teman
sebayanya (Weishaar, 1993). Selama
hidupnya, dia berjuang dalam ketakutan
yang beragam: ketakutan pada luka
berdarah, ketakutan kehabisan nafas,
phobia terowongan, bingun akan
kesehatannya, dan takut berbicara di depan
umum. Beck menggunakan masalah
pribadinya sebagai dasar untuk memahami
orang lain dan mengembangkan teorinya.
Lulusan dari Univeristas Brown
dan Yale School of Medicine, Beck
awalnya berpraktik sebagai neurologis,
tetapi dia berganti ke psikiatri selama masa
pensiunnya. Beck adalah sosok pendahulu
dalam terapi kognitif, salah satu dari
pendekatan tervalidasi secara empiris dan
berpengaruh dalam psikoterapi. Kontribusi
konseptual dan empiris Beck dianggap
sebagai salah satu yang paling signifikan
pada bidang psikiater dan psikoterapi
(Pdesky, 2006).
Beck bertujuan untuk memvalidasi
teori Freud tentang depresi, tetapi
penelitiannya berasal dari peruhaan
terpisahnya dengan model motivasional
Freud dan penjelasan akan depresi sebagai
kemarahan pengarahan diri. Sebagai hasil
dari keputusan ini, Beck harus menahan
isolasi dan penolakan dari banyak
komunitas psikiater selama bertahun-
tahun, yang mewakili salah satu
konsptualisasi yang paling komprehensif.
Dia mendapati bahwa kognisi dari orang
yang depresi dicirikan dengan error dalam
logika yang disebutnya distorsi kognitif.
Bagi beck, pemikiran negatif
merefleksikan disfungsi yang mendasari
keyakinan dan asumsi. Ketika keyakinan
ini dipicu oleh kejadian situasional, sebuah
pola depresif ditempatkan dalam gerakan.
Beck percaya bahwa klien dapat
mengasumsikan sebuah peran aktif dalam
memodifikasi pemikiran disfungsional dan
sehingga terbebas dari kondisi psikiater.
Dalam penelitian berkelanjutannya dalam
area psikopatologi dan penggunaan terapi
kognitif telah memberikannya sebuah
tempa yang terkemuka dalam komunitas
ilmiah di Amerika Serikat.
Beck bergabung dengan
Department of Psychiatry of the University
of Pennsylvania pada tahun 1954, dimana
dia memegang posisi profesor (Emeritus)
psikiater. Penelitian Beck membangun
kemanjuran terapi kognitif bagi depresi.
Dia secara sukses menerapkan terapi
kognitif pada depresi, kebingungan
tergeneralisasi dan kelainan panik, bunuh
diri, kecanduan alkohol dan
penyalahgunaan narkoba, kelainan makan,
masalah hubungan dan pernikaha, kelainan
psikotok, dan kelainan kepribadian. Dia
telah mengembangkan kajian dalam
depresi, resiko bunuh diri, kebingungan,
konsep diri, dan kepribadian.
Dia adalah pendiri dari Beck
Institute, yang merupakan pusat penelitan
dan pelatihan yang diarahkan oleh salah
satu dari empat anaknya, Dr. Judith Beck.
Dia punya delapan cucu dan telah menikah
selama lebih dari 50 tahn. Aaron Beck,
telah berfokus dalam mengembangkan
keahlian terapi kognitif kepada ratusan
klinisian di seluruh dunia. Kemudian
mereka mengembangkan pusat terapi
kognitif mereka sendiri. Beck memiliki
pandangan bagi komunitas terapi kognitif
yang global, inklusif, kolaboratif,
mendukung, dan bermanfaat. Dia terus
aktif menulis dan meneliti: dia telah
mempublikasikan 17 buku dan lebih dari
450 artikel dan bab buku (Padesk, 2006).
Untuk penjelasan lebih tentang kehidupan
Aaron T. Beck, Lihat Aaron T Beck
(Weishaar, 1993)
Pengantar
Seperti yang anda di lihat di Bab 9, terapi perilaku tradisional telah meluas dan bergerak
kearah terapi perilaku kognitif. Beberapa dari pendekatan perilaku kognitif yang paling
terkemuka dijelaskan di bab ini, termasuk rational emotive behavior therapy (REBT) dari
Ellis, cognitive therapy (CT) dari Aaron T. Beck, dan cognitif behavior therapy (CBT ) dari
Donald Meichenbaum, yang mengkombinasikan prinsip kognitif dan perilaku dan metode
dalam pendekatan perlakuan jangka pendek, dia mengasilkan penelitian yang lebih empiris
dibandingkan dengan model psikoterapi yang lain (Dattilio, 2000a).
Semua pendekatan perilaku kognitif memmiliki karakteristik dasar dan asumsi
perilaku tradisional yang sama seperti yang digambarkan di bab 9. Seperti halnya terapi
perilaku tradisional, pendekatan perilaku kognitif cukup beragam, tetapi mereka berbagi
atribut ini: (1) hubungan kolaboratif antara klien dan terapis, (2) premis bahwa tekanan
psikologis sebagian besar merupakan fungsi dari gangguan dalam proses kognitif, (3) fokus
pada perubahan kognisi untuk menghasilkan perubahan yang diinginkan dalam pengaruh dan
perilaku, dan (4) perawatan yang umumnya terbatas waktu dan pendidikan yang berfokus
pada masalah target spesifik dan terstruktur (Arnkoff & Glass, 1992; Weishaar, 1993). Semua
terapi perilaku kognitif didasarkan pada model psikoedukasi terstruktur, menekankan peran
pekerjaan rumah, menempatkan tanggungjawab pada klien untuk mengambil peran aktif baik
selama sesi maupun di luar sesi terapi, dan diambil dari berbagai strategi kognitif dan
perilaku untuk membawa perubahan.
Sebagian besar, terapi perilaku kognitif didasarkan pada asumsi bahwa reorganisasi
pernyataan diri seseorang akan menghasilkan reorganisasi yang sesuai dengan perilaku
seseorang. Teknik perilaku seperti pengondisian operan, pemodelan, dan latihan perilaku juga
dapat diterapkan pada proses berpikir yang lebih subyektif dan dialog internal. Pendekatan
perilaku kognitif mencakup berbagai strategi perilaku (dibahas dalam Bab 9) sebagai bagian
dari repertoar integratif mereka.
Terapi Perilaku Emotif Rasional Albert Ellis
Terapi perilaku emotif rasional (REBT) adalah salah satu terapi perilaku kognitif pertama,
dan hari ini terus menjadi pendekatan perilaku kognitif utama. REBT memiliki banyak
kesamaan dengan terapi yang berorientasi pada kognisi dan perilaku karena juga menekankan
berpikir, menilai, memutuskan, menganalisis, dan melakukan. Asumsi dasar REBT adalah
bahwa orang-orang berkontribusi pada masalah psikologis mereka sendiri, serta gejala
spesifik, dengan cara mereka menafsirkan peristiwa dan situasi. REBT didasarkan pada
asumsi bahwa kognisi, emosi, dan perilaku berinteraksi secara signifikan dan memiliki
hubungan sebab dan akibat timbal balik. REBT secara konsisten menekankan ketiga
modalitas ini dan interaksinya, sehingga memenuhi syarat sebagai pendekatan integratif
(Ellis, 1994, 1999, 2001a, 2001b, 2002b, 2002; Ellis & Dryden, 1997; Wolfe, 2007).
Ellis berpendapat bahwa pendekatan psikoanalitik kadang-kadang sangat tidak efisien
karena orang-orang cenderung lebih buruk daripada lebih baik (Ellis, 1999, 2000, 2001b,
2002). Dia mulai membujuk dan mendorong kliennya untuk melakukan hal-hal yang paling
mereka takuti untuk dilakukan, seperti mempertaruhkan penolakan oleh orang lain yang
signifikan. Secara bertahap ia menjadi jauh lebih eklektik dan lebih aktif dan terarah sebagai
terapis, dan REBT menjadi sekolah umum psikoterapi yang bertujuan untuk menyediakan
alat bagi klien untuk merestrukturisasi gaya filosofis dan perilaku mereka (Ellis, 2001b; Ellis
& Blau, 1998).
Meskipun REBT umumnya diakui sebagai orang tua dari pendekatan perilaku kognitif
saat ini, hal itu juga didahului oleh aliran pemikiran sebelumnya. Ellis mengakui utangnya
kepada orang-orang Yunani kuno, terutama filsuf Stoa Epictetus, yang mengatakan sekitar
2.000 tahun yang lalu: "Orang-orang tidak terganggu oleh peristiwa, tetapi oleh pandangan
yang mereka ambil dari peristiwa tersebut" (seperti dikutip dalam Ellis, 2001a, hal. 16). Ellis
berpendapat bahwa bagaimana orang-orang mengganggu diri mereka sendiri lebih
komprehensif dan tepat daripada itu: "Orang-orang mengganggu diri mereka sendiri dengan
hal-hal yang terjadi pada mereka, dan oleh pandangan, perasaan, dan tindakan mereka" (hal.
16). Gagasan Karen Horney (1950) tentang "tirani keharusan" juga tampak dalam kerangka
konseptual REBT.
Ellis juga memberikan kredit kepada Adler sebagai prekursor berpengaruh. Seperti
yang akan Anda ingat, Adler percaya bahwa reaksi emosional dan gaya hidup kita terkait
dengan kepercayaan dasar kita dan karenanya diciptakan secara kognitif. Seperti pendekatan
Adlerian, REBT menekankan peran kepentingan sosial dalam menentukan kesehatan
psikologis. Ada pengaruh Adlerian lainnya pada REBT, seperti pentingnya sasaran, tujuan,
nilai, dan makna dalam keberadaan manusia.
Hipotesis dasar REBT adalah bahwa emosi kita sebagian besar berasal dari
kepercayaan, evaluasi, interpretasi, dan reaksi kita terhadap situasi kehidupan. Melalui proses
terapeutik, klien belajar keterampilan yang memberi mereka alat untuk mengidentifikasi dan
membantah keyakinan irasional yang telah diperoleh dan dibangun sendiri dan sekarang
dikelola oleh indoktrinasi diri. Mereka belajar cara mengganti cara berpikir yang tidak efektif
seperti itu dengan kognisi yang efektif dan rasional, dan sebagai akibatnya mereka mengubah
reaksi emosional mereka terhadap situasi. Proses terapeutik memungkinkan klien untuk
menerapkan prinsip-prinsip perubahan REBT tidak hanya untuk masalah penyajian tertentu
tetapi juga untuk banyak masalah lain dalam kehidupan atau masalah masa depan yang
mungkin mereka hadapi.
Beberapa implikasi terapi mengalir dari asumsi-asumsi ini: Fokusnya adalah bekerja
dengan berpikir dan bertindak daripada dengan mengutamakan mengungkapkan perasaan.
Terapi dipandang sebagai proses pendidikan. Fungsi terapis dalam banyak hal seperti guru,
terutama dalam berkolaborasi dengan klien pada tugas pekerjaan rumah dan dalam strategi
pengajaran untuk berpikir jernih; dan klien adalah pembelajar, yang mempraktikkan
keterampilan yang baru dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
REBT berbeda dari banyak pendekatan terapeutik lainnya dalam hal itu tidak
menempatkan banyak nilai pada asosiasi bebas, menghubungkan mimpi, berfokus pada
sejarah masa lalu klien, mengekspresikan dan mengeksplorasi perasaan, atau berurusan
dengan fenomena transferensi. Meskipun transferensi dan countertransferensi dapat terjadi
secara spontan dalam terapi, Ellis (2008) mengklaim "mereka dengan cepat dianalisis, filosofi
di belakang mereka terungkap, dan mereka cenderung menguap dalam proses" (hal. 209).
Lebih lanjut, ketika perasaan mendalam klien muncul, "klien tidak diberi terlalu banyak
kesempatan untuk bersenang-senang dalam perasaan ini atau sangat tidak menyukainya" (hal.
209). Ellis percaya bahwa pekerjaan katarsis seperti itu dapat menyebabkan klien merasa
lebih baik, tetapi jarang membantu mereka menjadi lebih baik.
Konsep Kunci
Pandangan Alam Manusia
Terapi perilaku emotif rasional didasarkan pada asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan
potensi untuk berpikir rasional, atau "lurus," dan berpikir tidak rasional, atau "bengkok."
Orang-orang memiliki kecenderungan untuk pelestarian diri, kebahagiaan, pemikiran dan
verbalisasi, cinta, persekutuan dengan orang lain, dan pertumbuhan serta aktualisasi diri.
Mereka juga memiliki kecenderungan untuk merusak diri sendiri, penghindaran pikiran,
penundaan, pengulangan kesalahan yang tak ada habisnya, takhayul, intoleransi,
perfeksionisme dan menyalahkan diri sendiri, serta penghindaran aktualisasi potensi
pertumbuhan. Menerima begitu saja bahwa manusia itu salah, REBT berusaha membantu
mereka menerima diri mereka sebagai makhluk yang akan terus melakukan kesalahan namun
pada saat yang sama belajar untuk hidup lebih damai dengan diri mereka sendiri.
Pandangan Gangguan Emosional
REBT didasarkan pada premis bahwa meskipun kita awalnya belajar kepercayaan irasional
dari orang lain yang signifikan selama masa kanak-kanak, kita menciptakan dogma irasional
sendiri. Kita melakukan ini dengan secara aktif memperkuat kepercayaan yang mengalahkan
diri sendiri dengan proses sugesti dan pengulangan diri dan dengan bersikap seolah-olah itu
berguna. Oleh karena itu, sebagian besar pengulangan kita sendiri dari pemikiran irasional
yang diindoktrinasi awal, bukan pengulangan orang tua, yang membuat sikap disfungsional
tetap hidup dan beroperasi dalam diri kita.
Ellis berpendapat bahwa orang tidak perlu diterima dan dicintai, meskipun ini
mungkin sangat diinginkan. Terapis mengajarkan klien bagaimana merasa tidak tertekan
bahkan ketika mereka tidak diterima dan tidak dicintai oleh orang lain. Meskipun REBT
mendorong orang-orang untuk mengalami perasaan sedih yang sehat karena tidak diterima,
upaya ini membantu mereka menemukan cara mengatasi perasaan depresi, kecemasan, sakit
hati, kehilangan harga diri, dan kebencian yang tidak sehat.
Ellis menegaskan bahwa menyalahkan adalah inti dari sebagian besar gangguan
emosional. Karena itu, untuk pulih dari neurosis atau gangguan kepribadian, lebih baik kita
berhenti menyalahkan diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya, penting bahwa kita belajar
untuk menerima diri kita sepenuhnya terlepas dari ketidaksempurnaan kita. Ellis (Ellis &
Blau, 1998; Ellis & Harper, 1997) berhipotesis bahwa kita memiliki kecenderungan yang
kuat untuk meningkatkan keinginan dan preferensi kita menjadi “keharusan” dogmatis,
“keharusan,” “kewajiban,” tuntutan, dan perintah. Ketika kita kesal, itu adalah ide yang baik
untuk melihat "keharusan" dogmatis tersembunyi kita dan "keharusan" absolut. Tuntutan
semacam itu menciptakan perasaan yang mengganggu dan perilaku yang tidak berfungsi
(Ellis, 2001a, 2004a).
Berikut adalah tiga keharusan dasar (atau kepercayaan irasional) yang kita
internalisasikan yang pasti mengarah pada kekalahan diri sendiri (Ellis, 1994, 1997, 1999;
Ellis & Dryden, 1997; Ellis & Harper, 1997):
"Saya harus melakukannya dengan baik dan mendapatkan persetujuan orang lain atau
saya tidak baik."
“Orang lain harus memperlakukan saya dengan penuh pertimbangan, adil, ramah, dan
persis seperti yang saya inginkan tentang bagaimana mereka memperlakukan saya.
Jika mereka tidak melakukannya, mereka tidak baik dan mereka pantas dihukum."
“Saya harus mendapatkan apa yang saya inginkan, ketika saya menginginkannya; dan
saya tidak boleh mendapatkan apa yang tidak saya inginkan. Jika saya tidak
mendapatkan apa yang saya inginkan, itu mengerikan, dan saya tidak tahan. "
Kita memiliki kecenderungan yang kuat untuk membuat dan menjaga diri kita terganggu
secara emosional dengan menginternalisasikan kepercayaan diri yang mengalahkan diri
sendiri seperti ini, itulah sebabnya mengapa ini merupakan tantangan nyata untuk mencapai
dan mempertahankan kesehatan psikologis yang baik (Ellis, 2001a, 2001b).
Kerangka A-B-C
Kerangka A-B-C merupakan inti teori dan praktik REBT. Model ini menjadi alat yang
berguna untuk memahami perasaan, pemikiran, peristiwa, dan perilaku klien (Wolfe, 2007).
A adalah keberadaan fakta, peristiwa pemicu, atau perilaku maupun sikap individu. C adalah
konsekuensi atau reaksi emosional individu; reaksi ini bisa berupa menjadi reaksi sehat dan
reaksi tidak sehat. A (peristiwa pemicu) tidak menyebabkan C (konsekuensi emosional).
Akan tetapi B, yang merupakan keyakinan yang diyakini oleh klien menyebabkan C, reaksi
emosional.
Interaksi berbagai komponen tersebut dapat digambarkan dalam diagram seperti ini:
A (peristiwa pemicu) B (keyakinan) C (konsekuensi perilaku dan emosional)
D (intervensi) E (efek) F (perasaan baru)
Jika misalnya, seseorang mengalami depresi setelah perceraian, perceraian itu sendiri
bukan yang menyebabkan reaksi depresif tersebut namun keyakinan terkait takut gagal, takut
ditolak, atau kehilangan pasangan yang diyakini seseorang itu lah yang menciptakan reaksi
depresif klien. Ellis mengatakan bahwa rasa takut ditolak dan gagal (poin B) yang
menyebabkan depresi yang dialami (poin C)-bukan peristiwa perceraian yang sebenarnya
(poin A). Inti model REBT adalah meyakini bahwa manusia bertanggung jawab atas reaksi
dan gangguan emosional yang mereka ciptakan sendiri dan menunjukkan pada mereka
bagaimana cara mereka mengubah keyakinan irasional mereka yang “menyebabkan”
konsekuensi gangguan emosional mereka (Ellis, 1999; Ellis & Dryden, 1997; Ellis, Gordon,
Neenan, & Palmer, 1997; Ellis & Harper, 1997).
Bagaimana gangguan emosional bisa berkembang dalam diri? Gangguan ini
berkembang dalam diri akibat kalimat-kalimat tidak percaya diri yang terus-menerus kita
ucapkan dalam diri kita, seperti “Sayalah penyebab perceraian ini,” “Saya adalah orang yang
gagal, dan semua yang saya lakukan selalu salah,” “Saya adalah orang yang tidak berguna.”
Ellis mengatakan bahwa “kau hanya merasakan perasaan sesuai dengan yang kau pikirkan.”
Reaksi gangguan emosional seperti depresi dan kecemasan berlebihan diciptakan dan
dikembangkan oleh sistem ketidakpercayaan diri dalam klien, dimana sistem ini didasari oleh
anggapan-anggapan irasional yang klien ciptakan dan terapkan dalam hidup mereka. Huruf B
di kerangka A-B-C dalam model REBT dirancang ulang menjadi meyakini, merasakan, dan
menyikapi. Karena keyakinan dalam diri melibatkan elemen-elemen emosional dan
behavioral yang kuat, Ellis (2001a) menambahkan kedua elemen ini dalam model A-B-C.
Setelah A, B, C, lalu ada D (disputing menentang). Pada dasarnya, D adalah
penerapan sejumlah metode untuk membantu klien menantang keyakinan irasional mereka.
Berikut adalah ketiga komponen proses disputing ini: mendeteksi, menantang, dan
mendiskriminasi. Pertama-tama, klien mempelajarai bagaiamana cara mendeteksi
kepercayaan irasional mereka, khususunya keyakinan “seharusnya” dan “sewajibnya”
mereka, keyakinan “memperparah” situasi, dan keyakinan yang “menenggelamkan diri”
mereka. Kemudian klien menantang keyakinan disfungsional dalam diri mereka dengan
mempelajari bagaimana cara mempertanyakan dan berargumen pada mereka dan bertindak
melawan keyakinan diri mereka sendiri. Terakhir, klien mempelajari bagaimana
mendiskriminasi keyakinan irasional (ketidakpercayaan diri) dalam diri mereka (Ellis, 1994,
1996). Rekonstruksi Kognitif merupakan teknik utama terapi kognitif yang mengajarkan
klien untuk mengembangkan diri mereka dengan menggantikan keyakinan-keyakinan
kognitif yang merusak dengan keyakinan-keyakinan konstruktif yang membangun diri (Ellis,
2003). Tahap Rekonstruksi ini dilakukan dengan membantu klien untuk mempelajari
bagaimana cara memperhatikan diri internal mereka yang terus berbicara, cara
mengidentifikasi pembicaraan diri intenral yang merusak, dan cara menggantikan
pembicaraan diri yang merusak tersebut dengan pembicaraan diri yang membangun
(Spiegler, 2008).
Ellis (1996, 2001b) mengatakan bahwa kita memiliki kapasitas untuk mengubah
aspek kognitif, emosi, dan perilaku diri kita secara signifikan. Kita bisa mencapai perubahan
ini dengan berhenti terpaku pada peristiwa pemicu A dan dengan menyadari futilitas
tenggelam oleh konsekuensi emosional C. Kita lebih baik memutuskan untuk
mempertanyakan, menantang, dan mengubah B-keyakinan irasional yang kita yakini terkait
peristiwa A.
Meskipun REBT menerapkan sejumlah metode-metode kognitif, emotif, dan
behavioral lain untuk membantu klien mengurangi keyakinan irasional mereka, REBT tetap
memberikan penekanan pada proses menentang (D) keyakinan-keyakinan irasional tersebut
dalam sesi terapi dan dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, klien mencapai posisi E,
pandangan hidup yang efektif, yang berguna dalam penerapan praktis. Sistem keyakinan
yang baru dan efektif terbentuk dengan menggantikan pemikiran-pemikiran tidak sehat
dengan pemikiran-pemikiran sehat baru. Jika kita berhasil mengganti pemikiran kita ini, kita
juga berhasil menciptakan F (feelings), rangkaian perasaan-perasaan baru. Kita pun tidak lagi
langsung merasa depresi atau cemas berlebihan dan kita merasakan kesedihan dan
kekecewaan dengan cara yang sehat.
Kesimpulannya, pembentukan ulang filosofis untuk mengubah permasalahan-
permasalahan kepribadian kita melibatkan beberapa tahapan-tahapan berikut: (1) mengakui
bahwa diri kita sendiri yang bertanggung jawab menciptakan permasalahan emosional yang
kita alami; (2) memahami bahwa kita memiliki kemampuan untuk mengubah gangguang-
gangguan ini secara signifikan; (3) menyadari bahwa permasalahan emosional kita sebagian
besar berasal dari keyakinan-keyakinan irasional yang kita percaya; (4) menyadari adanya
keyakinan-keyakinan irasional ini; (5) menyadari bahwa keyakinan-keyakinan yang merusak
kepercayaan diri tersebut penting untuk ditentang; (6) menerima kenyataan bahwa jika kita
mengharapkan terjadinya perubahan, kita harus bekerja keras secara emosional dan
behavioral melawan keyakinan-keyakinan dan perasaan-perasaan yang merusak cara kita
menyikapi; dan (7) melakukan metode-metode REBT untuk mengubah konsekuensi-
konsekuensi gangguan emosional ini dalam kehidupan kita sehari-hari (Ellis, 1999, 2001b,
2002).
Proses Terapi
Tujuan Terapi
Menurut Ellis (2001b; Ellis & Harper, 1997), kita memiliki tendensi kuat
untuk tidak hanya menilai tindakan dan perilaku kita dengan penilaian sebatas “baik” atau
“buruk.” “pantas” atau “tidak pantas, namun kita juga dapat menilai diri kita secara
keseluruhan berdasarkan perbuatan kita. Bentuk penilai yang sempit dapat menjadi penyebab
utama terjadinya gangguan-gangguan emosional. Sehingga, sebagian besar terapis perilaku
kognitif bertujuan untuk mengajarkan klien bagaimana cara memisahkan penilaian perilaku
yang mereka lakukan dengan penilaian diri mereka sendiri secara keseluruhan-esensi dan
keseluruhan inti diri mereka-dan bagaimana cara menerima diri mereka tersebut terlepas dari
ketidaksempurnaan yang mereka miliki.
Banyaknya jalan yang diterapkan dalam terapi rasional emotif menuntun klien untuk
mengurangi gangguan-gangguan emosional dan perilaku-perilaku tidak percaya diri yang
mereka lakukan dengan menerapkan pandanagan hidup baru yang lebih realistis dan praktis.
Proses REBT melibatkan adanya usaha kolaboratif antara terapis dan kien dalam menentukan
tujuan terapi realistis yang mengembangkan diri. Tugas terapis adalah membantu klien untuk
membedakan tujuan terapi yang realistis dengan tujuan terapi yang tidak realistis serta untuk
membedakan membedakan tujuan hidup yang merusak diri dengan tujuan hidup yang
mengembangkan diri (Dryden, 2002). Tujuan dasar terapi ini adalah untuk mengajarkan klien
bagaimana cara mengubah emosi dan perilaku tidak sehat dalam diri mereka menjadi emosi
dan perilaku sehat. Ellis (2001b) menyatakan bahwa dua tujuan utama REBT bertujuan untuk
membantu klien dalam proses mencapai penerimaan diri sendiri yang seutuhnya
(unconditional self-acceptance) (USA) dan penerimaan diri orang lain yang seutuhnya
(unconditional other acceptance) (UOA), serta untuk melihat bagaimana kedua bentuk
penerimaan diri ini saling berkaitan satu sama lain. Karena klien semakin dapat menerima
diri mereka sendiri, merekapun semakin mudah menerima orang lain secara seutuhnya.
Fungsi dan Peran Terapis
Terapis memiliki sejumlah langkah spesifik yang harus ia lakukan, dan tugas tahap
pertama terapis adalah untuk menunjukkan klien bahwa selama ini mereka menerapkan
banyak keyakinan-keyakinan “keharusan” dan “kewajiban” irasional ke dalam diri mereka.
Terapis menentang keyakinan irasional yang klien yakini dan mendorong klien untuk
melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat melawan keyakinan-keyakinan merusak diri
tersebut dan untuk menggantikan pemikiran “kewajiban” mereka.
Tahap kedua dalam proses terapi adalah menunjukkan bagaaimana klien selama ini
membiarkan permasalahan gangguan emosional yang dialam dengan terus-menerus berpikir
secara tidak logis dan tidak realistis. Dengan kata lain, karena klien terus mendoktrin diri
mereka, mereka pun bertanggung jawab atas permasalahan kepribadian yang mereka
ciptakan.
Untuk melampaui pemikiran irasional klien tersebut, terapis kemudian mengambil
langkah ketiga-membantu klien mengubah cara berpikir mereka dan mengurangi keyakinan-
keyakinan irasional dalam diri mereka. Meskipun kita tidak dapat menghilangkan tendensi-
tendensi irasional ini sepenuhnya, kita dapat menguranginya. Terapis menantang keyakinan-
keyakinan irasional klien dan menunjukkan pada klien bagaimana selama ini mereka terus-
menerus mendoktrin diri mereka dengan asumsi-asumsi yang salah.
Tahap keempat dalam proses terapi adalah menantang klien untuk mengembangkan
pandangan hidup yang rasional sehingga kedepannya, mereka tidak lagi menjadi korban
keyakinan irasional mereka. Jika terapis hanya berfokus untuk menangani masalah-masalah
atau gejala-gejala tertentu saja, terapis tidak akan bisa menjamin keyakinan irasional klien
tidak akan muncul lagi. Maka dari itu, terapis harus menentang akar pemikiran irasional klien
dan mengajarkan klien bagaimana cara mengganti keyakinan dan perilaku irasional yang
selama ini diyakini menjadi perilaku dan keyakinan yang rasional.
Terapis mengajarkan klien mengenai hipotesis kognitif gangguan emosional dan
memperlihatkan pada klien bahwa keyakinan-keyakinan irasional ini dapat menciptakan
konsekuensi-konsekuensi negatif. Memberikan pencerahan pada klien saja tidak cukup untuk
mengubah kepribadian klien, namun klien perlu untuk menyadari bagaimana selama ini
mereka terus-menerus menyabotasi diri mereka dan mencari tau apa yang dapat mereka
lakukan untuk mengubah diri mereka.
Pengalaman Klien dalam Terapi
Ketika klien mulai menerima kenyataan bahwa keyakinan mereka lah yang menjadi
penyebab utama permasalahan emosi dan perilaku yang mereka lakukan, merekapun dapat
melakukan proses pembentukan kognitif ulang secara efektif (Ellis et al., 1997; Ellis &
MacLaren, 1998). Karena psikoterapi merupakan proses reedukatif, klien dapat mempelajari
bagaimana cara menerapkan cara berpikir logis, cara melakukan latihan-latihan eksperensial,
dan cara mengerjakan tugas-tugas behavioral yang mereka harus lakukan untuk mencapai
perubahan diri. Klien pun dapat menyadari bahwa hidup tidak selamanya sesuai dengan
keinginan mereka. Meskipun hidup tidak selamanya menyenangkan, klien belajar menerima
bahwa hidup dapat dihadapi.
Proses terapi berfokus pada pengalaman klien dalam momen saat ini. Serupa dengan
pendekatan eksistensial dan pendekatan berbasis-diri, REBT mengutamakan pengalaman
momen di sini dan sekarang dan menekankan kemampuan klien untuk mengubah pola emosi
dan pikiran yang selama ini mereka ciptakan. Terapis pendekatan ini tidak berfokus untuk
mengeksplor sejarah awal klien dan menafsirkan hubungan antara perilaku masa lalu dengan
perilaku masa sekarang mereka. Terapis juga biasanya tidak mengeksplor hubungan awal
klien dengan orang tua dan saudara mereka. malahan, proses terapi menekankan pada klien
bahwa mereka saat ini diganggu karena mereka masih percaya pada dan bereaksi terhadap
pandangan mengalahkan diri dari diri mereka dan dunia mereka.
Klien diharapkan untuk aktif diluar sesi terapi. Dengan bekerja keras dan melakukan
tugas rumah behavioral, klien dapat belajar untuk meminimalisasi kesalahan berpikir, yang
mengantarkan pada gangguang dalam merasa dan berperilaku. Tugas dirancang dengan hati-
hati dan disetujui dan ditujukan agar klien melaksanakan tindakan positif yang mencakup
perubahan emosi dan attidunial. Tugas ini dicek di sesi berikutnya, dan klien mempelajari
cara efektif untuk membantah pemikiran mengalahkan diri. Hingga ke akhir terapi, klien
mereview progres mereka, membuat rencana, dan mengidentifikasi strategi untuk
menghadapi masalah potensial berkelanjutan.
Hubungan antara Terapis dan Klien
Karena REBT secara esensial merupakan sebuah proses kognitif dan perilaku direktif,
hubungan intens antara terapis dan klien tidak diperlukan. Seperti dalam terapi pribadi pusat
dari Rogers, praktisi REBT tanpa syarat menerima semua klien dan mengajarkan mereka
untuk tanpa syarat menerima orang lain dan diri mereka sendiri. Namun, Ellis percaya bahwa
terlalu banyak kehangatan dan pemahaman dapat menjadi kontra produktif dengan
menyuburkan rasa ketergantungan akan pengakuan dari terapis. Praktisi REBT menerima
klien mereka sebagai makhluk yang tidak sempurna yang dapat ditolong melalui beragam
teknik seperti mengajar, biblioterapi, dan modifikasi perilaku (Ellis, 2008). Ellis membangun
hubungan dengan kliennya dengan menunjukkan kepada mereka bahwa dirinya memiliki
keyakinan yang besar akan kemampuan mereka untuk mengubah diri mereka sendiri dan
bahwa dia memiliki alat untuk membantu mereka melakukannya.
Terapis perilaku emotif rasional sering terbuka dan langsung dalam memperlihatkan
keyakinan dan nilai mereka. beberapa ingin membagi ketidaksempurnaan mereka sendiri
sebagai jalan untuk membantah pernyataan tidak realistis klien adalah pribadi “yang
ditempatkan bersama”. Dalam hal ini, Wolfe (2007) menyatakan “ penting untuk membangun
sebanyak mungkin sebuah hubungan egalitarian, sebagai lawan dari memperlihatkan diri
sebagai sosok otoritas yang tidak tersingkap” (p. 186). Ellis (2002) mempertahankan bahwa
transferensi tidak disarankan, dan ketika hal itu muncul, terapis nampak melawannya. Ellis
percaya bahwa sebuah hubungan transferensi berdasar pada keyakinan irasional bahwa klien
harus disukai dan dicintai oleh terapis, atau sosok orang tua.
Aplikasi : Teknik dan Prosedur Terapi
Praktik Rational Emotive Behavior Therapy (REBT)/ Terapi Perilaku Emotif Rasional
Terapi Perilaku Emotif Rasional itu multimodal dan integratif. REBT pada umumnya mulai
dengan perasaan terganggu dari klien dan secara intens mengekplor perasaan ini dalam
hubungannya dengan pemikiran dan perilaku. Praktisi REBT cenderung menggunakan
banyak modalitas yang berbeda (Kognitif, imagery, emotif, behavioral, dan interpersonal).
Mereka fleksibel dan kreatif dalam menggunakan metode mereka, memastikan untuk
menghubungkan teknik dengan kebutuhan unik dari (Dryden, 2002). Untuk ilustrasi konkret
tentang bagaimana Dr. Ellis bekerja dengan klien Ruth mengambil dari teknik kognitif,
emotif, dan perilaku, lihat Case Approach to Counseling and Psychotherapy (Corey, 2009a,
chap. 8). Yang selanjutnya adalah kesimpulan singkat dari teknik kognitif, emotif, dan
perilaku utama yang digambarkan Ellis (Ellis, 1994, 1999, 2004a; Ellis & Crawford, 2000;
Ellis & Dryden, 1997; Ellis & MacLaren, 1998; Ellis & Velten, 1998).
METODE KOGNITIF Praktisi REBT biasanya menggabungkan metodologi kognitif yang
kuat dalam proses terapi. Mereka mendemonstrasikan pada klien dalam cara yang cepat dan
langsung apa yang mereka terus katakan pada diri mereka. kemudian mereka mengajarkan
klien bagaimana berhadapan dengan pernyataan diri ini sehingga mereka tidak mempercayai
mereka lagi, mendukung mereka untuk mencapai sebuah filosofi berdasarkan realitas. REBT
terletak pada pemikiran, perselisihan, perdebatan, tantnagan, interpretasi, penjelasan, dan
pengajaran. Cara yang paling efisien untuk membawa perubahan emosioanal dan behavioral
yang lama adalah agar klien merubah cara berpikir mereka (Dryden, 2002). Berikut ini adalah
beberapa teknik kognitif yang tersedia bagi terapis.
Membantah keyakinan irasional. Metode kognitif yang paling umum dari metode
REBT terdiri dari terapis secara aktif membantah keyakinan rasional dan mengajarkan
mereka bagaimana melakukan tantangan ini dengan cara mereka sendiri. Klien
diarahkan pada “harus”, “sebaiknya” atau”semestinya” hingga mereka tidak lagi
menyimpan keyakinan irasional itu, atau setidaknya hingga hal itu tidak lagi menguat.
Berikut ini adalah beberapa contoh pertanyaan atau pernyataan yang dipelajari klien
untuk dikatakan pada diri sendiri: mengapa orang harus memperlakukanku dengan
adil?” bagaimana bisa saya menjadi orang penting jika saya tidak menyelesaikan
tugas penting yang saya coba? “Jika saya tidak mendapatkan pekerjaan yang saya
inginkan, mungkin hal tersebut mengecewakan, tapi saya bisa menghadapinya”. jika
hidup tidak berjalan sesuai dengan harapanku, hal ini tidak buruk, hanya tidak
menyenangkan”.
Melakukan pekerjaan rumah kognitif. Klien REBT diharapkan untuk membuat daftar
masalah mereka, mencari keyakinan paling absolut mereka, dan membantah
keyakinan ini. Merek seirng mengisi form self-help REBT, yang diproduksi kembali
dalam Corey’s (2009b)
Student Manual for Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Mereka
bisa membawa formulis ini pada sesi terapi mereka dan secara kritis mengevaluasi
pembantahan dari beberapa keyakinan mereka. tugas rumah adalah cara untuk
mengikuti jalan dari “sebaiknya” dan “seharusnya” yang merupakan bagian dari pesan
diri internal mereka. bagian dari tugas ini terdiri dari pengaplikasikan model A-B-C
pada banyak masalah dari klien yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pekerjaan
dalam sesi terapi dapat dirancang denan cara yang diluar tugas kantor yang mungkin
dapat dikerjakan dan klien memiliki keahlian untuk menyelesaikan tugas ini.
Dalam mengerjakan tugas, klien didukung untuk menempatkan diri mereka
dalam situasi penuh resiko yang akan membiarkan mereka untuk menantang
keyakinan yang membatasi diri mereka. sebagai contoh, seorang klien dengan bakat
berakting tetapi takut untuk berakting di depan penonton karena takut gagal dapat
diminta untuk mengambil langkah kecil di atas pentas. Klien diinstruksikan untuk
mengganti pertanyaan negatif pada diri sendiri seperti “saya akan gagal, “saya akan
terlihat bodoh”, atau tak seorang pun yang akan menyukaiku” dengan pesat yang
lebih positif seperti “ meskipun saya bertindak bodoh beberapa kali, hal tersebut tidak
menjadikan saya orang bodoh. Saya bisa berakting. Saya akan melakukan yang
terbaik yang saya bisa. Memang menyenangkan untuk disukai, tetapi tidak semua
orang akan menyukaiku, dan itu bukanlah akhir dari dunia”
Teori dibelakang ini dalam tugas serupa adalah bahwa klien sering menciptakan
ramalan diri negatf dan menjadi betul-betul gagal karena mereka memberitahukan diri
mereka terlebih dahulu bawa mereka akan gagal. Klien didukung untuk menjalankan tugas
spesifik selama sesi dan, khususnya, dalam situasi setiap hari antar sesi. Dalam cara ini klien
secara bertahap belajar untuk berhadapan dengan kebingungan dan menantang pemikiran
irasional dasar. Karena terapi dilihat sebagai sebuah proses edukatif, klien juga di dukung
untuk membaca buku self-help REBT, seperti How to Be Happy and Remarkably Less
Disturbable (Ellis, 1999); Feeling Better, Getting Better, and Staying Better (Ellis, 2001a);
and Rational Emotive Behavior Therapy: It Works for MeIt Can Work for You (Ellis,
2004a). Mereka juga mendengarkan dan mengevaluasi rekaman sesi terapi mereka. membuat
perubahan adalah kerja keras, dan melakukan pekerjaan diluar sesi dari nilai nyata dalam
merevisi pemikiran, perasaan, dan perlakuan klien.
Mengubah bahasa seseorang. REBT berpendapat bahwa bahasa yang tidak jelas
adalah salah satu dari proses berpikir terdistorsi. Klien belajar bahwa “harus” “mesti”
“sebaiknya” dapat digantikan dengan preferensi. Bukannya mengatakan hal itu akan
sangat buruk jika..” mereka belajar untuk mengatakan hal itu akan menjadi tidak
menyenangkan jika...”. kien belajar untuk menerapkan pernyataan diri yang baru,
yang membantu mereka untuk berpikir dan bertindak secara berbeda. Sebagai
konsekuensi, mereka juga mulai merasa secara berbeda.
Metode psikoedukasional. REBT dan kebanyakan program terapi perilaku kognitif
lainnya memperkenalkan klien pada beragam materi edukasi. Terapis mengedukasi
klien tentang sifat dari masalah mereka dan bagaimana proses perlakuan. Mereka
memberitahukan klien bagaimana konsep tertentu bekerja bagi mereka. klien
cenderung bekerja sama dengan program perlakuan jika mereka memahami
bagaimana proses terapi bekerja dan jika mereka memahami mengapa teknik tertentu
digunakan (Ledley, Marx, & Heimberg, 2005).
TEKNIK EMOTIF Praktisi REBT menggunakan beragam prosedur emotif, termasuk
penerimaan tanpa syarat, permainan peran emotif rasional, modeling, imagery emotf
rasional, dan latihan penyerangan-rasa malu. Meskipun perilaku mereka mungkin sulit
untuk diterima, mereka dapat memutuskan untuk melihat diri mereka sebagai orang yang
berharga. Klien diajarkan betapa merusakknya untuk terlibat dalam memandang rendah
diri sendiri” bagi defisiensi yang dipersepsikan.
Meskipun REBT menerapkan beragam teknik emotif, yang cenderung jelas dan
membangkitkan ingatan, tujuan utama adalah untuk membantah keyakinan irasional klien
(Dryden, 2002). Strategi ini digunakan selama sesi terapi dan sebagai tugas rumah dalam
kehidupan sehari-hari. Tujuan mereka bukan sekadar menyediakan pengalaman katarsis
tetapi untuk membantu klien mengubah beberapa pemikiran, emosi, dan perilaku mereka
(Ellis, 1996, 1999, 2001b, 2008; Ellis & Dryden, 1997). Mari lihat beberapa teknik
terapi emotif dan membangkitkan ingatan ini secara lebih rinci.
Imagery emotif rasional. Teknik ini adalah bentuk dari praktik mental intense yang dirancang
untuk membangun pola emosi yang baru (Lihat Ellis, 2001a). Klien membayangkan diri
mereka berpikir, merasa dan berlaku sama persis seperti cara yang mereka inginkan untuk
berpikir, merasa, dan berlaku dalam kehidupan nyata (Maultsby, 1984). Mereka juga dapat
ditunjukkan bagaimana untuk membayangkan salah satu hal terburuk yang mungkin dapat
terjadi, bagaimana merasakan kemarahan secara tidak sehat akan situasi ini, bagaimana agar
secara intens mengalami perasaan mereka, dan kemudian bagaiaman mengubah pengalaman
ke perasaan negatif yang sehat (Ellis, 1999, 2000). Ketika klien mengubah perasaan sulit
mereka, mereka memiliki peluang yang lebih baik untuk mengubah perilaku mereka dalam
situasi tersebut. Teknik seperti itu dapat diterapkan pada situasi antarpribadi dan situasi lain
yang bermasalah bagi individu. Ellis (2001a, 2008) menyatakan bahwa jika kita terus
mempraktekkan pencitraan emosi rasional beberapa kali seminggu selama beberapa minggu,
kita dapat mencapai titik bahwa kita tidak lagi merasa kesal atas peristiwa negatif.
Menggunakan humor. REBT berpendapat bahwa gangguan emosional sering
diakibatkan dari menganggap diri sendiri terlalu serius. Salah satu aspek menarik dari
REBT adalah bahwa hal itu mendorong perkembangan rasa humor yang lebih baik
dan membantu menempatkan kehidupan ke dalam perspektif (Wolfe, 2007). Humor
memiliki manfaat kognitif dan emosional dalam membawa perubahan. Humor
menunjukkan absurditas ide-ide tertentu yang dipertahankan dengan teguh oleh klien,
dan dapat bermanfaat dalam membantu klien memperlakukan diri mereka dengan
lebih serius. Ellis (2001a) sendiri cenderung menggunakan banyak humor untuk
memerangi pemikiran berlebihan yang menyebabkan klien mengalami kesulitan.
Dalam lokakarya dan sesi terapi, Ellis biasanya menggunakan lagu-lagu lucu, dan ia
mendorong orang untuk bernyanyi untuk diri mereka sendiri atau dalam kelompok
ketika mereka merasa tertekan atau cemas (Ellis, 1999, 2001a, 2001b). Gaya
penyajiannya lucu dan dia tampaknya senang menggunakan kata-kata seperti "omong
kosong!"
Bermain peran. Bermain peran memiliki komponen emotif, kognitif, dan perilaku,
dan terapis sering menyela untuk menunjukkan kepada klien apa yang mereka
katakan kepada diri mereka sendiri untuk menciptakan gangguan mereka dan apa
yang dapat mereka lakukan untuk mengubah perasaan tidak sehat mereka menjadi
sehat. Klien dapat melatih perilaku tertentu untuk mengungkapkan apa yang mereka
rasakan dalam suatu situasi. Fokusnya adalah bekerja melalui dasar keyakinan
irasional yang terkait dengan perasaan tidak menyenangkan. Sebagai contoh, Dawson
dapat menunda melamar ke sekolah pascasarjana karena ketakutannya untuk tidak
diterima. Pikiran tidak diterima di sekolah pilihannya memunculkan perasaan intens
"menjadi bodoh." Peran Dawson memainkan sebuah wawancara dengan dekan
mahasiswa pascasarjana, mencatat kegelisahannya dan keyakinan khusus yang
mengarah ke sana, dan menantang keyakinannya. bahwa dia mutlak harus diterima
dan yang tidak mendapatkan penerimaan seperti itu berarti bahwa dia adalah orang
yang bodoh dan tidak kompeten.
Latihan menyerang rasa malu. Ellis (1999, 2000, 2001a, 2001b) mengembangkan
latihan untuk membantu orang mengurangi rasa malu karena berperilaku dengan cara
tertentu. Dia berpikir bahwa kita bisa dengan keras kepala menolak untuk merasa
malu dengan mengatakan pada diri kita sendiri bahwa bukan sebuah bencana jika
seseorang berpikir kita bodoh. Poin utama dari latihan ini, yang biasanya melibatkan
komponen emotif dan perilaku, adalah bahwa klien bekerja untuk merasa tidak malu
bahkan ketika orang lain jelas tidak menyukainya. Latihan ini ditujukan untuk
meningkatkan penerimaan diri dan tanggungjawab yang matang, serta membantu
klien melihat bahwa sebagian besar dari apa yang mereka anggap memalukan
berkaitan dengan cara mereka mendefinisikan realitas untuk diri mereka sendiri. Klien
dapat menerima tugas pekerjaan rumah untuk mengambil risiko melakukan sesuatu
yang biasanya takut untuk mereka lakukan karena apa yang dipikirkan orang lain.
Pelanggaran kecil terhadap konvensi sosial sering menjadi katalisator yang
bermanfaat. Misalnya, klien dapat berteriak di halte bus atau kereta api, mengenakan
pakaian "menyolok" yang dirancang untuk menarik perhatian, bernyanyi di bagian
atas paru-paru mereka, mengajukan pertanyaan konyol di perkuliahan, atau meminta
kunci inggris untuk orang kidal di toko kelontong. Dengan melakukan penugasan
semacam itu, klien cenderung mengetahui bahwa orang lain tidak begitu tertarik
dengan perilaku mereka. Mereka bekerja pada diri mereka sendiri sehingga mereka
tidak merasa malu atau terhina, bahkan ketika mereka mengakui bahwa beberapa
tindakan mereka akan mengarah pada penilaian oleh orang lain. Mereka terus berlatih
latihan-latihan ini sampai mereka menyadari bahwa perasaan malu mereka diciptakan
sendiri dan sampai mereka mampu berperilaku dengan cara yang tidak terlalu
terhambat. Klien akhirnya mengetahui bahwa mereka sering tidak punya alasan untuk
terus membiarkan reaksi orang lain atau kemungkinan ketidaksetujuan menghentikan
mereka dari melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan. Perhatikan bahwa latihan
ini tidak melibatkan kegiatan ilegal atau tindakan yang akan membahayakan diri
sendiri atau orang lain.
Penggunaan kekuatan dan energi. Ellis telah menyarankan penggunaan kekuatan dan
energi sebagai cara untuk membantu klien beralih dari intelektual ke wawasan
emosional. Klien juga diperlihatkan bagaimana melakukan dialog yang kuat dengan
diri mereka sendiri di mana mereka mengekspresikan keyakinan mereka yang tidak
berdasar dan kemudian dengan kuat membantahnya. Terkadang terapis akan
melakukan permainan peran terbalik dengan berpegang teguh pada filosofi yang
mengalahkan diri klien. Kemudian, klien diminta untuk berdebat dengan terapis
dalam upaya untuk membujuknya untuk melepaskan ide-ide disfungsional ini.
Kekuatan dan energi adalah bagian dasar dari latihan menyerang rasa malu.
TEKNIK PERILAKU. Praktisi REBT menggunakan sebagian besar prosedur terapi perilaku
standar, terutama pengondisian operan, prinsip manajemen diri, desensitisasi sistematis,
teknik relaksasi, dan pemodelan. Tugas pekerjaan rumah perilaku yang harus dilakukan
dalam situasi kehidupan nyata sangat penting. Penugasan ini dilakukan secara sistematis dan
dicatat serta dianalisis pada formulir. Pekerjaan rumah memberi klien kesempatan untuk
mempraktikkan keterampilan baru di luar sesi terapi, yang mungkin bahkan lebih berharga
bagi klien daripada pekerjaan yang dilakukan selama jam terapi (Ledley et al., 2005).
Melakukan pekerjaan rumah dapat melibatkan desensitisasi dan paparan langsung dalam
situasi kehidupan sehari-hari. Klien dapat didorong untuk menurunkan rasa mudah
terpengaruh oleh diri mereka secara bertahap tetapi juga, kadang-kadang, untuk melakukan
hal-hal yang takut untuk mereka lakukan secara implisit. Sebagai contoh, seseorang dengan
rasa takut akan elevator dapat mengurangi rasa takut ini dengan naik turun di lift 20 atau 30
kali dalam sehari. Klien sebenarnya melakukan hal-hal baru dan sulit, dan dengan cara ini
mereka menempatkan wawasan mereka untuk digunakan dalam bentuk tindakan nyata.
Dengan bertindak secara berbeda, mereka juga cenderung menggabungkan keyakinan
fungsional.
UPAYA PENELITIAN. Jika teknik tertentu tampaknya tidak membuahkan hasil, terapis
REBT kemungkinan akan beralih ke yang lain. Fleksibilitas terapeutik ini membuat
penelitian terkontrol menjadi sulit. Meskipun dia antusias tentang terapi perilaku kognitif,
Ellis mengakui bahwa hampir semua studi hasil terapi adalah cacat. Menurutnya, studi-studi
ini focus menguji bagaimana orang merasa lebih baik tetapi tidak bagaimana mereka telah
membuat perubahan perilaku filosofis yang mendalam dan dengan demikian menjadi lebih
baik (Ellis, 1999, 2001a). Sebagian besar studi hanya berfokus pada metode kognitif dan
tidak mempertimbangkan metode emotif dan perilaku, namun studi akan ditingkatkan jika
mereka fokus pada ketiga metode REBT.
Aplikasi REBT untuk Populasi Klien
REBT telah banyak diterapkan pada pengobatan kecemasan, permusuhan, gangguan karakter,
gangguan psikotik, dan depresi; untuk masalah seks, cinta, dan pernikahan (Ellis & Blau,
1998); untuk membesarkan anak dan remaja (Ellis & Wilde, 2001); dan untuk pelatihan
keterampilan sosial dan manajemen diri (Ellis, 2001b; Ellis et al., 1997). Dengan strukturnya
yang jelas (kerangka kerja A-B-C), REBT dapat diterapkan pada berbagai rangkaian dan
populasi, termasuk sekolah dasar dan menengah.
REBT dapat diterapkan untuk konseling pasangan dan terapi keluarga. Dalam bekerja
dengan pasangan, pasangan diajari prinsip-prinsip REBT sehingga mereka dapat mengatasi
perbedaan mereka atau setidaknya menjadi kurang terganggu tentang mereka. Dalam terapi
keluarga, setiap anggota keluarga didorong untuk mempertimbangkan melepaskan tuntutan
bahwa orang lain dalam keluarga berperilaku dengan cara yang mereka inginkan. Sebaliknya,
REBT mengajarkan anggota keluarga bahwa utamanya, mereka bertanggungjawab atas
tindakan mereka sendiri dan untuk mengubah reaksi mereka sendiri terhadap situasi keluarga.
REBT sebagai Terapi Singkat
REBT sangat cocok sebagai bentuk terapi singkat, baik itu diterapkan pada individu,
kelompok, pasangan, atau keluarga. Ellis awalnya mengembangkan REBT untuk mencoba
membuat psikoterapi lebih pendek dan lebih efisien daripada kebanyakan sistem terapi
lainnya, dan itu sering digunakan sebagai terapi singkat. Ellis selalu berpendapat bahwa
terapi terbaik adalah efisien, dengan cepat mengajarkan klien bagaimana mengatasi masalah-
masalah praktis kehidupan. Klien belajar bagaimana menerapkan teknik REBT untuk
masalah mereka saat ini dan di masa depan. Karakteristik REBT yang membuatnya menjadi
bentuk terapi singkat adalah bahwa itu adalah pendekatan swadaya (Vernon, 2007).
Pendekatan A-B-C untuk mengubah sikap yang menciptakan gangguan dasar dapat dipelajari
dalam 1 hingga 10 sesi dan kemudian dipraktikkan di rumah. Ellis telah menggunakan REBT
dengan sukses dalam maraton 1 dan 2 hari dan dalam intensitas 9 jam REBT (Ellis, 1996;
Ellis & Dryden, 1997). Orang-orang dengan masalah khusus, seperti mengatasi kehilangan
pekerjaan atau berurusan dengan pensiun, diajari cara menerapkan prinsip-prinsip REBT
untuk merawat diri mereka sendiri, seringkali dengan bahan-bahan didaktik tambahan (buku,
kaset, bentuk pertolongan diri, dan sejenisnya).
Aplikasi untuk Konseling Kelompok
Kelompok terapi perilaku kognitif (CBT) berada di antara yang paling populer di klinik dan
pengaturan lembaga masyarakat. Dua pendekatan kelompok CBT yang paling umum
didasarkan pada prinsip dan teknik REBT dan terapi kognitif (CT).
Praktisi CBT menggunakan peran aktif dalam membuat anggota berkomitmen untuk
berlatih dalam situasi sehari-hari apa yang mereka pelajari dalam sesi kelompok. Mereka
memandang apa yang terjadi selama kelompok menjadi sesuatu yang berharga, namun
mereka tahu bahwa kerja yang konsisten antara sesi kelompok dan setelah kelompok berakhir
bahkan lebih penting. Konteks kelompok memberi para anggota alat-alat yang dapat mereka
gunakan untuk menjadi mandiri dan menerima diri mereka tanpa syarat ketika mereka
menghadapi masalah-masalah baru dalam kehidupan sehari-hari.
REBT juga cocok untuk terapi kelompok karena anggota diajarkan untuk menerapkan
prinsip-prinsipnya satu sama lain dalam pengaturan kelompok. Ellis merekomendasikan
bahwa sebagian besar klien mengalami terapi kelompok dan juga terapi individu. Bentuk
terapi kelompok ini berfokus pada teknik-teknik khusus untuk mengubah pikiran-pikiran
yang mengalahkan diri klien dalam berbagai situasi konkret. Selain memodifikasi keyakinan,
pendekatan ini membantu anggota kelompok melihat bagaimana keyakinan mereka
memengaruhi apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka lakukan. Model ini bertujuan
untuk meminimalkan gejala dengan membawa perubahan besar dalam filsafat. Semua teknik
kognitif, emotif, dan perilaku yang dijelaskan sebelumnya berlaku untuk konseling kelompok
seperti halnya teknik yang dibahas dalam Bab 9 tentang terapi perilaku. Pekerjaan rumah
perilaku dan pelatihan keterampilan hanyalah dua metode yang berguna untuk format
kelompok.
Kekuatan utama kelompok perilaku kognitif adalah penekanan pada pendidikan dan
pencegahan. Karena CBT didasarkan pada prinsip-prinsip pembelajaran yang luas, CBT
dapat digunakan untuk memenuhi persyaratan berbagai kelompok dengan berbagai tujuan
yang berbeda. Spesifisitas CBT memungkinkan hubungan antara strategi penilaian,
pengobatan, dan evaluasi. Kelompok CBT telah menargetkan masalah mulai dari kecemasan
dan depresi hingga pendidikan orang tua dan peningkatan hubungan. Terapi kelompok
perilaku kognitif telah terbukti memiliki aplikasi yang bermanfaat untuk beberapa masalah
spesifik berikut: depresi, kecemasan, panik dan fobia, obesitas, gangguan makan, diagnosis
ganda, gangguan disosiatif, dan gangguan defisiensi perhatian orang dewasa (lihat White &
Freeman, 2000). Berdasarkan survei hasil studi terapi kelompok perilaku kognitif, Petrocelli
(2002) menyimpulkan bahwa pendekatan ini untuk kelompok efektif untuk mengobati
berbagai masalah emosional dan perilaku. Untuk diskusi yang lebih terperinci tentang REBT
yang diterapkan pada konseling kelompok, lihat Corey (2008, bab 14).
Terapi Kognitif Aaron Beck
Pengantar
Aaron T. Beck mengembangkan pendekatan yang dikenal sebagai terapi kognitif (CT)
sebagai hasil dari penelitiannya tentang depresi (Beck 1963, 1967). Beck sedang merancang
terapi kognitifnya sekitar waktu yang sama seperti Ellis saat sedang mengembangkan REBT,
namun keduanya tampaknya telah menciptakan pendekatan mereka secara mandiri.
Pengamatan Beck terhadap klien yang depresi mengungkapkan bahwa mereka memiliki bias
negatif dalam interpretasi mereka tentang peristiwa kehidupan tertentu, yang berkontribusi
terhadap distorsi kognitif mereka (Dattilio, 2000a). Terapi kognitif memiliki sejumlah
kesamaan dengan terapi perilaku emotif rasional dan terapi perilaku. Semua terapi ini aktif,
direktif, terbatas waktu, berpusat pada masa kini, berorientasi pada masalah, kolaboratif,
terstruktur, empiris, memanfaatkan pekerjaan rumah, dan memerlukan identifikasi masalah
dan situasi yang terjadi secara eksplisit (Beck & Weishaar) , 2008).
Terapi kognitif menganggap masalah psikologis berasal dari proses yang umum
seperti pemikiran yang salah, membuat kesimpulan yang salah atas dasar informasi yang
tidak memadai atau salah, dan gagal membedakan antara fantasi dan kenyataan. Seperti
REBT, CT adalah terapi yang berfokus pada wawasan yang menekankan mengenali dan
mengubah pikiran negatif dan keyakinan maladaptif. Dengan demikian, ini adalah model
terapi pendidikan psikologis. Terapi kognitif didasarkan pada pemikiran teoretis bahwa cara
orang-orang merasakan dan berperilaku ditentukan oleh bagaimana mereka memandang dan
menyusun pengalaman mereka. Asumsi teoritis terapi kognitif adalah (1) bahwa komunikasi
internal dalam diri dapat dilakukan melalui intropeksi, (2) bahwa keyakinan yang diyakini
klien memiliki makna yang sangat personal, dan (3) bahwa makna-makna personal ini lebih
dapat ditemukan oleh klien sendiri daripada dijelaskan atau ditafsirkan oleh terapis
(Weishaar, 1993).
Teori dasar CT mengatakan bahwa untuk memahami gangguan emosional, penting
bagi terapis untuk fokus pada konten kognitif dari reaksi klien terhadap peristiwa atau
pemikiran yang menyebabkan gangguan emosional tersebut (DeRubeis & Beck, 1988).
Tujuan pendekatan ini adalah untuk mengubah cara berpikir klien dengan menggunakan
pikiran otomatisnya untuk mencapai skemata inti klien dan dari situ klien kemudian memulai
proses penyusunan ulang skema. Proses ini dilakukan dengan mendorong klien untuk
mengumpulkan dan menimbang-nimbang bukti-bukti yang menunjang keyakinan diri
mereka.
Prinsip-Prinsip Dasar Terapi Kognitif
Beck, terapis psikoanalisis yang sudah menjalani profesinya selama bertahun-tahun,
tertarik pada pemikiran otomatis kliennya (pemahaman personal yang dipicu oleh stiumlan
tertentu yang menciptakan respon emosional). Sebagai bagian dari studi psikoanalisisnya,
Beck meneliti isi mimpi kliennya untuk mencari kemarahan yang yang ia pendam. Beck
mulai menyadari bahwa berbeda seperti yang diteorikan Freud bahwa kemarahan yang ada
dalam diri klien yang depresi adalah kemarahan retrofleksi, kliennya yang depresi ini
menunjukkan bias negatif dalam interpretasi berpikirnya. Beck meminta kliennya untuk
mengamati pikiran-pikiran negatif yang secara otomatis tetap muncul meskipun bukti yang
ada bertentangan dengan pikiran negatif tersebut, dan berangkat dari sini, Beck kemudian
mengembangkan teori komperhensifnya mengenai depresi.
Beck mengatakan bahwa orang-orang yang memiliki gangguan emosional cenderung
melakukan “kesalahan-kesalahan logis” yang mengubah persepsi kenyataan yang obyektif
menjadi persepsi berupa depresiasi diri. Mari kita pelajari beberapa kesalahan-kesalahan
sistematis dalam berpikir yang menciptakan asumsi dan miskonsepsi salah, yang juga disebut
sebagai distorsi-distorsi kognitif (Beck & Weishaar, 2008; Dattilio & Freeman, 1992).
Inferensi arbitrer artinya membuat kesimpulan tanpa adanya bukti relevan yang
mendukung. Gangguan kognitif ini termasuk seperti “mengkatastrofikan,” atau
memikirkan skenario dan hasil terburuk situasi yang dihadapi. Ketika anda memulai
pekerjaan anda sebagai konselor, anda mungkin akan merasa yakin bahwa anda tidak
akan disukai atau dihargai oleh kolega dan klien anda. Anda merasa bahwa anda
sebenarnya membohongi professor anda dan anda sebenarnya hanya beruntung bisa
lulus, dan sekarang orang-orang akan melihat kebohongan tersebut!
Abstraksi selektif artinya membuat kesimpulan berdasarkan suatu informasi detail
tertentu saja. Dalam proses ini informasi-informasi lain suatu perisitwa diabaikan, dan
konteks keseluruhan peristiwanya tidak diperhitungkan. Ini karena asumsi yang
tercipta adalah bahwa peristiwa yang penting untuk dipikirkan adalah peristiwa terkait
kegagalan dan kelihangan yang dialami. Sebagai seorang konselor, anda bisa saja
menilai kepantasan diri anda berdasarkan kesalahan dan kelemahan yang anda miliki,
bukan berdasarkan keberhasilan yang anda capai.
Overgeneralisasi merupakan proses yang melandaskan keyakinan akan suatu hal atas
dasar suatu peristiwa saja dan menjadikan satu peristiwa tersebut sebagai acuan dalam
peristiwa-peristiwa atau lingkungan-lingkungan lain yang dihadapi. Contohnya, jika
anda sebelumnya pernah mengalami kesulitan menangani satu klien remaja, anda
mungkin akan menyimpulkan bahwa anda tidak akan dapat menangani semua klien!
Magnifikasi dan minimisasi merupakan proses yang mempersepsikan suatu situasi
atau peristiwa secara berlebihan lebih dari seharusnya. Anda mungkin melakukan
kesalahan kognitif ini dengan membuat asumsi bahwa bahkan kesalahan kecilpun
yang anda perbuat dalam menangani klien dapat membuat klien mengalami krisis dan
akan menerima kerusakan psikologis.
Personalisasi adalah tendensi diri untuk menghubungkan peristiwa eksternal ke
dalam diri sendiri, meskipun tidak ada landasan bagi anda untuk menciptakan
hubungan ini. Jika klien tidak kembali ke anda untuk menjalani sesi konseling
selanjutnya, anda mungkin akan merasa yakin bahwa ketidakhadirannya ini
diakibatkan oleh ketidakbecusan anda di sesi pertama. Anda mungkin berkata pada
diri anda, “Situasi ini membuktikan bahwa saya mengecewakan klien tersebut, dan
sekarang ia tidak akan mau melakukan konseling lagi.”
Melabelkan dan Mensalahlabelkan berarti mempotretkan identitas seseorang
berdasarkan ketidaksempurnaan dan kesalahan yang mereka buat di masa lampau dan
menjadikan kesalahan masa lampau tersebut sebagai identitas yang sebenarnya.
Dengan demikian, jika anda tidak sesuai dengan ekspektasi klien, anda mungkin akan
berkata pada diri anda sendiri, “Saya adalah konselor yang tidak kompeten dan
sebaiknya saya secepatnya berhenti menjadi konselor.”
Pemikiran Dikotomis berarti mengkategorikan pengalaman dalam penilain perspektif
hitam-putih saja. Dengan pemikiran seperti ini, setiap peristiwa dilabelkan dalam
istilah hitam atau putih saja. Anda mungkin akan menilai diri anda sebagai orang yang
tidak kompeten baik sebagai individu ataupun sebagai konselor. Anda mungkin
melihat diri anda dalam dua sisi saja, sebagai konselor sempurna yang sangat
kompeten (berarti anda selalu berhasil menangani klien) atau sebagai konselor yang
sama sekali tidak kompeten (berarti anda tidak boleh gagal satu kali pun).
Terapis kognitif melakukan penanganan terapi atas dasar asumsi bahwa cara
paling efektif mengubah emosi dan perilaku disfungsional dalam diri adalah dengan
mengubah cara pemikiran yang tidak akurat dan disfungsional. Terapis kognitif
mengajarkan klien bagaimana cara mengidentifikasi gangguan-gangguan kognitif ini
melalu proses evaluasi diri. Dengan saling bekerja sama, klien pun mempelajari
pengaruh kognitif mereka terhadap perilaku dan perasaan yang mereka alami serta
terhadap peristiwa-peristiwa dalam lingkungannya. Dalam terapi kognitif, klien
belajar bagaimana untuk berpikir lebih realistis, khususnya ketika ia sedang
memikirkan skenario terburuk.
Setelah mereka memperoleh pencerahan bagaimana pemikiran negatif tidak
realistis mempengaruhi diri mereka, klien kemudian dilatih untuk menguji pikiran-
pikiran negatif otomatis ini dengan membandingkannya pada kenyataan yang
sebenarnya dan menimbang apa saja bukti yang sebenarnya mendukung pikiran
negatif ini. Klien bisa memulainya dengan mengawasi seberapa sering pikiran-pikiran
negatif ini mengganggu situasi kehidupan sehari-harinya. Pertanyaan yang paling
sering ditanyakan pada klien adalah, “Apa buktinya _____ terjadi?” Jika klien sering
ditanyakan pertanyaan ini, klien akan membiasakan diri mereka untuk
mempertanyakan pertanyaan ini pada diri mereka, khususunya karena mereka mulai
terbiasa mengidentifikasi pikiran-pikiran merusak. Proses menguji keyakinan ini ini
melibatkan terapis untuk menguji klien secara empiris dengan membuat klien
melakukan dialog sokratik dengan terapis, menyelesaikan tugas-tugas rumah yang
diberikan oleh terapis, mengumpulkan data terkait asumsi yang mereka buat, mencatat
aktivitas-aktivitas yang dilakukan, dan membentuk interpretasi alternatif terhadap
pikiran-pikiran negatif yang ada (Dattilio, 2000a; Freeman & Dattilio, 1994;
Tompkins, 2004, 2006). Klien membentuk hipotesis sendiri terkait perilaku mereka
dan kemudian belajar untuk menerapkan keahlian-keahlian untuk menghadapi
masalah perilaku yang dihadapinya. Melalui proses penemuan diri ini, klien
memperoleh pencerahan terkait adanya hubungan antara cara berpikir mereka dengan
perasaan dan tindakan yang mereka lakukan.
Terapi kognitif fokus pada permasalahan yang dihadapi saat ini, terlepas dari
diagnosis klien. Masa lalu klien dapat dimasukkan ke dalam terapi hanya jika terapis
menganggap masa lalu klien tersebut penting untuk diketahui demim memahami
bagaimana dan kapan keyakinan negatif dalam diri klien ini berasal dan bagaimana
keyakinan negatif ini berdampak pada skema diri klien saat ini (Dattilio, 2002a).
Tujuan terapi singkat ini adalah sebagai bentuk bantuan mengurangi gejalan, untuk
membantu klien menyelesaikan masalah paling utama yang ia harus hadapi, dan untuk
mengajarkan klien strategi-strategi preventif. Akhir-akhir ini, terapi kognitif mulai
memperhitungkan untuk memasukkan aspek-aspek ketidaksadaran, dimensi
emosional, dan bagkan komponen-komponen eksistensial dalam diri ke dalam proses
penanganan terapi CT (Dattilio, 2002a; Safran, 1998).
SEJUMLAH PERBEDAAN ANTARA CT DAN REBT Baik dalam terapi kognitif
dan terapi REBT temuan Beck, pengujian realitas sangat disusun secara terstruktur.
Klien kemudian menyadari bahwa mereka melakukan kesalahan dalam merekontruksi
situasi kenyataan. Akan tetapi, terdapat beberapa perbedaan mendasar antara terapi
REBT dengan terapi CT, khususnya terkait metode dan gaya terapi yang digunakan.
REBT seringkali bersifat direktif, persuasive, dan konfrontasional; juga lebug
berfokus pada peran terapis sebagai guru. Terapis mengajarkan cara berpikir rasional
dan membantu klien untuk mengenali dan menentang keyakinan-keyakinan irasional
mereka. Sedangkan CT menggunakan dialog Sokratik kepada klien dengan
menanyakan klien pertanyaan-pertanyaan terbuka dengan tujuan untuk membuat klien
merefleksikan isu-isu personal dalam diri mereka dan membuat kesimpulan sendiri.
CT lebih menekankan klien untuk menemukan dan mengidentifikasi miskonsepsi-
miskonsepsi pemikiran mereka sendiri. Melalui proses pertanyaan reflektif ini, terapis
kognitif mencoba untuk bekerja sama dengan klien dalam menguji validitas pemikiran
kognitif mereka (proses kerja sama yang disebut sebagai empirisme kolaboratif).
Perubahan yang terjadi dalam terapi merupakan hasil dari proses klien menentang
keyakinan-keyakinan negatif dalam diri dengan bukti-bukti kenyataan yang
dikumpulkan dan diuji.
Terdapat juga perbedaan persepsi antara Ellis dan Beck memandang bentuk
pikiran-pikiran negatif. Melalui proses pertentangan rasional, Ellis berusaha untuk
meyakinkan klien bahwa keyakinan-keyakinan tertentu yang mereka yakini bersifat
irasional dan nonfungsional. Beck (196) mengecualikan keyakinan-keyakinan
irasional dalam konsep REBT. Terapis kognitif memandang keyakinan-keyakinan
irasional sebagai suatu permasalahan karena keyakinan-keyakinan ini mengganggu
proses cara bepikir yang normal, bukan karena keyakinan-keyakinan ini bersifat
irasional (Beck & Weishaar, 2008). Menurut Beck, manusia hidup dengan aturan
(premis atau rumusan); manusia mendapat masalah ketika mereka melabeli,
menginterpretasi, dan melakukan evaluasi dengan aturan-aturan yang tidak realistis
atau ketika mereka tidak sesuai atau terlalu berlebihan menerapkan aturan-aturan
tersebut. Jika klien merasa yakin bahwa ia hidup dengan aturan-aturan yang akan
menyengsarakannya, terapis akan memberikan saran aturan-aturan alternatif yang bisa
klien pertimbangkan untuk diterapkan, tanpa mendoktrin klien tersebut. Meskipun
terapi kognitif seringkali diawali dengan mencari bukti obyektif sistem keyakinan
yang diyakini.
Hubungan Terapis-Klien
Salah satu bentuk perbedaan terapi kognitif dengan terapi behavioral emotif
rasional adalah pada penekenannya terhadap hubungan terapi. Seperti yang anda telah
ketahui sebelumnya, Ellis memandang terapis sebagai guru dan ia tidak menganggap
bahwa menjalin hubungan baik secara personal dengan klien adalah suatu hal yang
penting. Sebaliknya, Beck (1987) menekankan bahwa kualitas hubungan terapi
merupakan dasar bagi pengaplikasian terapi kognitif. Melalui tulisannya, jelas bahwa
Beck meyakini bahwa terapis yang efektif dapat menkombinasikan empati dan
sensitifitas, juga kompetensi teknikal. Kondisi terapi ini digambarkan oleh Roger
dalam dalam pendekatan pribadi-pusat dipandang oleh terapis kognitif itu penting,
tetapi tidak cukup, untuk menghasilkan efek terapi yang efektif. Selain membangun
hubungan terapi denga klien, terapis juga harus memiliki sebuah konseptualisasi
kasus kognitif., kreatif dan aktif, dapat terlibat dengan kloen selama proses pertanyaan
Socratis, dan berpengetahuan serta memiliki keahlian dalam penggunaan strategi
kognitif dan behavioral yang bertujuan untuk membimbing klien dalam penemuan diri
yang signifikan yang akan mengantarkan pada perubahan (Wishaar, 1993). Macy
(2007) menyatakan bahwa terapis kognitif yang efektif berusaha untuk menciptakan "
hubungan hangat dan empati dengan klien, dan di saat yang sama secara efektif
menggunakan teknik terapi kognitif yang akan memungkinkan klien untuk
meciptakan perubahan dalam pemikiran, perasaan, dan perbuatan mereka" (p.171).
Terapis kognitif secara berkelanjutan aktif dan secara bebas interaktif dengan klien,
membantu klien membuat kerangka atas kesimpulan mereka dalam bentuk hipotesisi
yang dapat diandalkan. Terapis melibatkan partisipasi dan kolaborasi aktif klien
selama fase terapi, termasuk memutuskan seberapa sering pertemuan, seberapa lama
waktu terapi, masalah apa yang akan dieksplor, dan mengatur agenda untuk setiap sesi
terapi (J. Beck & Butler, 2005).
Beck mengkonseptualisasiakan sebuah kerja sama untuk menemukan secara
pribadi evaluasi bermana atas asumsi negati fklien, sebagai lawan dari terapis yang
secara langsung menyarankan kognisi alternatif (Beck & Haaga, 1992; J. Beck, 1995,
2005). Fungsi terapis sebagai katalis dan pembimbing yang membantu klien untuk
memahami bagaimana keyakinan dan sikap mereka mempengaruhi cara mereka
merasa dna bertindak. Klien diharapkan untuk mengidentifikasi distorsi dalam
pemikiran mereka, menyimpulkan poin penting dalam sesi, dan secara kolaboratif
menemukan tugas rumah yang mereka setujui untuk dikerjakan (J. Beck, 1995, 2005;
J. Beck & Butler, 2005: Beck&Weishaar, 2008). Terapis kognitif menekankan peran
klien dalam penemuan diri. Asumsinya adalah perubahan akhir dalam pemikiran dan
perilaku klien akan muncul dengan inisiatif, pemahaman, kesadaran, dan usaha klien.
Terapis kognitif bertujuan untuk mengajarkan klien bagaimana menjadi terapis
bagi diri mereka sendiri. Secara khas, seorang terapis akan mendidik klien tentang
sifat dan arah masalah mereka, tentang proses terapi kognitif, dan bagaimana
pemikiran mempengaruhi emosi dan perilaku mereka. Proses edukatif mencakup
penyediaan inforasi kepada klien tentang masalah mereka saat ini dan tentang
pencegahan berulang. Salah satu cara untuk mengedukasi klien adalah melalui
biblioterapi, diamana klien menyelesaikan bacaan mengenai filosofi terapi kognitif.
Menurut Dattilio dan Freeman (1992, 2007), bacaan ini dirancang sebagai tambahan
bagi terapi dan dirancang untuk meningkatkan proses terapi dengan menyediakan
fokus edukasional. Beberapa buku populer yang sering direkomendasikan adalah
Love Is Never Enough (Beck, 1988); Feeling Good (Burns, 1988); The Feeling Good
Handbook (Burns, 1989); Woulda, Coulda, Shoulda (Freeman & DeWolf, 1990);
Mind Over Mood (Greenberger & Padesky, 1995); dan The Worry Cure (Leahy,
2005). Terapi kognitif telah dikenal dikalangan umum melalui buku self help seperti
ini.
Tugas sering digunakan sebagai bagian terapi kognitif. Tugas dihubungkan
dengan masalah khusus klien dan memunculkan hubungan terapi kolaboratif.
Tompkins (2004, 2006) menguraikan langkah-langkah kunci untuk kesuksesan tugas
rumah dan langkah yang dicakup dalam merancang tugas secara kolaboratif. Tujuan
tugas bukan semata untuk mengajari klien keahlian barus tetapi juga untuk
memungkinkan mereka menguji keyakinan mereka dalam situasi sehari-hari. Tugas
pada umumnya diberikan kepada klien sebagai sebuah eksperimen, yang
meningkatkan keterbukaan klien untuk terlibat dalam tugas. Penekanan ditempatkan
pada tugas self-help yang berfungsi sebagai keberlanjutan dari masalah yang dibahas
dalam sesi terapi (Dattilio, 2002b). Terapi kognitif menyadari bahwa klien cederung
menyelesaikan tugas jika tugas tersebut berkaitan dengan kebutuhan mereka, jika
mereka berpartisipasi dalam merancang tugas, jika mereka memulai tugas dalam sesi
terapi, dan jika mereka membicarakan masalah potensial dalam
mengimplementasikan tugas (J. Becj & Butler , 2005). Tompkins (2006) menyatakan
bahwa terdapat manfaat jelas bagi terapis dan klien yang bekerja secara kolaboratif
dalam menegosiasikan tugas yang disetujui bersama. Dia percaya bahwa salah satu
indikator terbaik dalam bekerja sama adalah tugas terselesaikan atau terselesaikan
dengan baik. Tompskins menuliskan : " negosisi sukses dapat diperkuat pada kerja
sama terapi dan sehingga dapat menyuburkan motivasi yang lebih besar untuk
mencoba ini dan tugas lain dimasa depan (p. 63)
Aplikasi terapi kognitif
Terapi kognitif awalnya mendapatkan pengakuan sebagai sebuah pendekatan untuk
mengatasi depresi, tetapi penelitian berkelanjutan juga telah diabdikan untuk studi dan
perlakuan kelainan kebingungan. Dua masalah klinis ini telah ditelisi secara luas
menggunakan terapi kognitif (Beck, 1991; Dattilio, 2000a).salah satu alasan bagi
kepopuleran terapi kognitif dikarenakan " dukungan empiris yang kuat bagi kerangka
teoritisnya dan pada jumlah besar dari hasil penelitian dengan populasi klinis" (Beck
& Weishaar, 2008, p. 291). Terapi kognitif telah secara sukses digunakan dalam
beragam kelainan dan area klinis, beberapa diantaranya mencakup perlakuan pada
pobia, kelainan psikomatik, kelainan makan, kemarahan, kelainan panik, dan kelainan
kebingungan yang digenerelisasikan (Chambless & Peterman, 2006; Dattilio &
Kendall, 2007; Riskind, 2006); kelainan stres postraumatik, perilaku bunuh diri,
kelainan ambang pribadi, kelainan kepribadian narsisik, dan kelainan skizofrenia
(Dattilio & Freeman, 2007); kelainan kepribadian (Pretzer & Beck, 2006); kekerasan
substansi (Beck, Wright, Newman, & Liese, 1993; Newman, 2006); luka kronis
(Beck, 1987); sakit medis (Dattilio & Castaldo, 2001); intervensi krisis (Dattilio &
Freeman, 2007);terapi pasangan dan keluarga (Dattilio, 1993,
1998, 2001, 2005, 2006; Dattilio & Padesky, 1990; Epstein, 2006); pelaku kekerasan
anak,
Konseling perceraian, skills training, and manajemen stres (Dattilio, 1998;
Granvold, 1994; Reinecke, Dattilio, & Freeman, 2002). Secara jelpas, program
perilaku kognitif telah dirancang untuk semua usia dan untuk beragam populasi klien.
Untuk sumber yang bagus dalam aplikasi klinis CBT pada kelainan dan populasi yang
luas, lihat Contemporary Cognitive Therapy
(Leahy, 2006a).
MENGAPLIKASIKAN TEKNIK KOGNITIF Beck dan Weishaar (2008)
menggambarkan teknik kognitif dan perilaku yang merupakan bagian dari
keseluruhan strategi yang digunakan oleh terapis kognitif. Teknik umumnya bertujuan
untuk mengoreksi eror dalam pemrosesan informasi dan memodifikasi keyakinan inti
yang menghasilkan kesalahan kesimpulan. Teknik kognitif berfokus dalam
mengidentifikasi dan mengkaji keyakinan klien, mengeksplor asal dari keyakinan ini,
dan memodifikasi mereka jika klien tidak dapat mendukung keyakinan ini. Contoh
dari teknik perilaku digunakan oleh terapis kognitif mencakup pelatihan skill,
permainan peran, penarikan perilaku dan terapi eksposur. Tanpa memandang masalah
khsusu, terapis kognitif umumnya tertarik dak mengaplikasikan prosedur yang akan
membantu individu dalam membuat interpretasi alternatif akan kejadian dalam
kehidupan sehari hari mereka. pikirkan tentang bagaimana anda dapat
mengaplikasikan prinsip dari CT pada diri anda sendiri dalam situasi kelas ini dan
ubah perasaanmu pada situasi:
Profesormu tidak memanggilmu selama sesi kelas khusus. Anda merasa depresi.
Secara kognitif, anda membertitahu diri sendiri: " Profesorku mengira aku bodoh dan
bahwa saya tidak cukup banyak nilai untuk ditawarkan kepada kelas. Selain itu, dia
benar, karena orang lain lebih cerdas dan lebih fasih dari pada saya. Sudah seperti ini
selama hidupku!"
Beberapa interpretasi alternatif adalah bahwa profesor ingin melibatkan yang lain
dalam diskusi, dan bahwa dia kekurangan waktu dan ingin segera lanjut, dan bahwa
dia sudah tau pandanganmu, atau anda sadar akan sendiri atau dipanggil.
Terapis ingin anda sadar akan distorsi dalam pola pemikiran anda dengan
mengkaji pemikiran otomatis.terapis akan meminta anda untuk melihat pada inferensi
yang mungkin salah, dan mengarahkan mereka kembali pada pengalaman terdahulu
dalam hidup anda. Kemudian terapis akan membantu anda untuk melihat bagaimana
anda terkadang membuat kesimpulan (keputusan bahwa anda bodoh, dengan sedikit
nilai untuk ditawarkan) ketika bukti untuk kesimpulan seperti itu bisa saja kurang atau
berdasar pada informasi yang terganggu dari masa lalu.
Sebagai klie dalam terapi kognitif, anda juga akan belajar tentang proses
magnifikasi atau minimisasi pemikiran, yang mencakup makna yang dilebih-lebihkan
tentang sebuah kejadian (anda percaya bahwa profesor anda itu berpikir bahwa anda
bodoh karena dia tidak mengenalimu dalam satu kesempatan) atau meminimasinya
(anda mengecilkan nilai diri anda sebagai siswa di kelas). Terapis akan membantu
anda dalam mempelajari bagaimana anda acuh terhadap aspek penting dalam sebuah
situasi, terlibat dalam pemikiran yang terlalu disederhanakan dan kaku, serta
mengeneralisasikan dari sebuah kesalahan. Dapatkah anda memikirkan situasi lain
dimana anda dapat mengaplikasikan prosedur CT?
PERLAKUAN DEPRESI Beck menantang pernyataan bahwa depresi berasal dari
kemarahan yang dipendam. Malahan, dia berfokus pada isi dari pemikiran negatif
depresif dan interpretasi kejadian yang bias (DeRubeis & Beck, 1988). Dalam studi
sebelumnya yang menyediakan banyak kekuatan dari teorinya, Beck (1963) bahkan
menemukan eror kognitif dalam isi mimpi depresi klien.
Beck (1987) menuliskan tentang cognitif Triad sebagai sebuah pola yang
memicu depresi. Dalam komponen pertama dari triad, klien menyimpan pandangan
negatif akan diri mereka sendiri. Mereka menyalahkan kemunduran mereka pada
ketidakmampuan pribadi tanpa mempertimbangkan penjelasan langsung. Mereka
yakin bahwa mereka tidak memiliki kualitas yang penting untuk membawa mereka
kebahagiaan. Komponen kedua dari tiga serangkai ini terdiri dari kecenderungan
untuk menafsirkan pengalaman secara negatif. Tampaknya seolah-olah orang yang
tertekan memilih fakta-fakta tertentu yang sesuai dengan kesimpulan negatif mereka,
suatu proses yang disebut sebagai abstraksi selektif oleh Beck. Abstraksi selektif
digunakan untuk mendukung skema negatif individu, memberikan kepercayaan lebih
lanjut pada keyakinan inti. Komponen ketiga dari tiga serangkai ini berkaitan dengan
visi dan proyeksi suram klien tentang masa depan. Mereka berharap kesulitan mereka
saat ini akan berlanjut, dan mereka hanya mengantisipasi kegagalan di masa depan.
Orang yang rawan depresi sering menetapkan tujuan perfeksionis yang kaku
dan sulit untuk dicapai. Harapan negatif mereka begitu kuat sehingga bahkan jika
mereka mengalami kesuksesan dalam tugas-tugas tertentu, mereka mengantisipasi
kegagalan di waktu berikutnya. Mereka menyaring pengalaman sukses yang tidak
konsisten dengan konsep diri negatif mereka. Isi pikiran individu yang tertekan
berpusat pada rasa kehilangan yang tidak dapat diubah yang menghasilkan kondisi
emosional dari kesedihan, kekecewaan, dan apatis.
Pendekatan terapeutik Beck untuk merawat klien yang depresi berfokus pada
area masalah tertentu dan alasan yang diberikan klien untuk gejala mereka. Beberapa
gejala perilaku depresi adalah ketidakaktifan, penarikan diri, dan penghindaran. Untuk
menilai kedalaman depresi, Beck (1967) merancang perangkat standar yang dikenal
sebagai Beck Depression Inventory (BDI). Terapis kemungkinan akan menyelidiki
dengan pertanyaan Socrates seperti ini: "Apa yang akan hilang ketika mencoba?
Akankah Anda merasa lebih buruk jika Anda pasif? Bagaimana Anda tahu bahwa itu
tidak berguna saat dicoba?" Prosedur terapi termasuk mengatur jadwal kegiatan
dengan tugas bertingkat yang harus diselesaikan. Klien diminta untuk menyelesaikan
tugas-tugas mudah terlebih dahulu, sehingga mereka akan bertemu dengan beberapa
keberhasilan dan menjadi sedikit lebih optimis. Intinya adalah untuk meminta
kerjasama klien dengan terapis dengan asumsi bahwa melakukan sesuatu lebih
mungkin menyebabkan perasaan lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.
Beberapa klien yang mengalami depresi dapat menyembunyikan keinginan
untuk bunuh diri. Strategi terapi kognitif mungkin termasuk mengekspos ambivalensi
klien, menghasilkan alternatif, dan mengurangi masalah dengan proporsi yang dapat
dikelola. Sebagai contoh, terapis dapat meminta klien untuk membuat daftar alasan
hidup dan mati. Lebih lanjut, jika klien dapat mengembangkan pandangan alternatif
dari suatu masalah, tindakan alternatif dapat dikembangkan. Hal ini dapat
mengakibatkan tidak hanya klien merasa lebih baik tetapi juga berperilaku dengan
cara yang lebih efektif (Freeman & Reinecke, 1993).
Karakteristik utama dari kebanyakan orang yang depresi adalah kritik terhadap
diri sendiri. Di bawah kebencian diri seseorang adalah sikap kelemahan,
ketidakmampuan, dan kurangnya tanggungjawab. Sejumlah strategi terapi dapat
digunakan. Klien dapat diminta untuk mengidentifikasi dan memberikan alasan untuk
perilaku kritis diri mereka yang berlebihan. Terapis mungkin bertanya kepada klien,
"Jika saya membuat kesalahan seperti yang Anda lakukan, apakah Anda akan
membenci saya sebanyak yang Anda lakukan sendiri?" Seorang terapis yang terampil
dapat memainkan peran klien yang tertekan, menggambarkan klien sebagai sosok
yang tidak memadai, tidak kompeten, dan lemah. Teknik ini bisa efektif dalam
menunjukkan distorsi kognitif klien dan kesimpulan sewenang-wenang. Terapis
kemudian dapat berdiskusi dengan klien bagaimana "tirani keharusan" dapat
mengarah pada kebencian diri dan depresi.
Klien yang depresi biasanya mengalami emosi yang menyakitkan. Mereka
mungkin mengatakan bahwa mereka tidak tahan dengan rasa sakit atau tidak ada yang
bisa membuat mereka merasa lebih baik. Salah satu prosedur untuk menangkal
pengaruh menyakitkan adalah humor. Seorang terapis dapat menunjukkan aspek-
aspek ironis dari suatu situasi. Jika klien bahkan dapat mengalami sedikit
kegembiraan, itu bisa berfungsi sebagai penangkal kesedihan mereka. Pergeseran
dalam set kognitif mereka sama sekali tidak sesuai dengan sikap kritis diri mereka.
Karakteristik spesifik lainnya dari orang yang depresi adalah membesar-
besarkan tuntutan eksternal, masalah, dan tekanan. Orang-orang semacam itu sering
berseru bahwa mereka merasa kewalahan dan ada begitu banyak yang harus dicapai
sehingga mereka tidak pernah dapat melakukannya. Seorang terapis kognitif mungkin
meminta klien untuk membuat daftar hal-hal yang perlu dilakukan, menetapkan
prioritas, memeriksa tugas-tugas yang telah diselesaikan, dan memecah masalah
eksternal menjadi unit yang dapat dikelola. Ketika masalah dibahas, klien sering
menyadari bagaimana mereka memperbesar pentingnya kesulitan ini. Melalui
eksplorasi rasional, klien dapat memperoleh kembali perspektif tentang
mendefinisikan dan menyelesaikan tugas.
Terapis biasanya harus memimpin dalam membantu klien membuat daftar
tanggungjawab mereka, menetapkan prioritas, dan mengembangkan rencana tindakan
yang realistis. Karena melaksanakan rencana seperti itu sering dihambat oleh pikiran-
pikiran yang mengalahkan diri sendiri, adalah baik bagi terapis untuk menggunakan
teknik latihan kognitif dalam mengidentifikasi dan mengubah pikiran negatif. Jika
klien dapat belajar untuk memerangi keraguan diri mereka dalam sesi terapi, mereka
mungkin dapat menerapkan keterampilan kognitif dan perilaku yang baru mereka
peroleh dalam situasi kehidupan nyata.
APLIKASI TERHADAP TERAPI KELUARGA. Pendekatan perilaku kognitif
berfokus pada pola interaksi keluarga, dan hubungan keluarga, kognisi, emosi, dan
perilaku dipandang sebagai saling mempengaruhi satu sama lain. Inferensi kognitif
dapat membangkitkan emosi dan perilaku, dan emosi dan perilaku juga dapat
mempengaruhi kognisi dalam proses timbal balik yang terkadang berfungsi untuk
mempertahankan disfungsi unit keluarga.
Terapi kognitif, sebagaimana dikemukakan oleh Beck (1976), menempatkan
penekanan besar pada skema, atau apa yang telah didefinisikan di tempat lain sebagai
keyakinan inti. Aspek kunci dari proses terapi melibatkan restrukturisasi keyakinan
yang terdistorsi (atau skema), yang memiliki dampak penting pada perubahan
perilaku disfungsional. Beberapa terapis perilaku kognitif menekankan pada
pemeriksaan kognitif di antara anggota keluarga individu dan juga pada apa yang
disebut "skema keluarga" (Dattilio, 1993, 1998, 2001, 2006). Ini adalah kepercayaan
yang dimiliki bersama tentang keluarga yang telah terbentuk sebagai hasil dari
interaksi yang terintegrasi selama bertahun-tahun di antara anggota unit keluarga.
Pengalaman dan persepsi dari keluarga asal inilah yang membentuk skema tentang
keluarga dekat dan keluarga pada umumnya. Skema ini memiliki dampak besar pada
bagaimana individu berpikir, merasakan, dan berperilaku dalam sistem keluarga
(Dattilio, 2001, 2005, 2006).
Untuk ilustrasi konkret tentang bagaimana Dr. Dattilio menerapkan prinsip-
prinsip kognitif dan bekerja dengan skema keluarga, lihat pendekatan perilaku
kognitifnya dengan Ruth dalam Case Approach to Counseling and Psychotherapy
(Corey, 2009a, bab 8). Untuk diskusi tentang mitos dan kesalahpahaman terapi
keluarga perilaku kognitif, lihat Dattilio (2001); untuk presentasi singkat tentang
model perilaku kognitif terapi keluarga, lihat Dattilio (2006). Juga, untuk perawatan
yang diperluas dari aplikasi pendekatan perilaku kognitif untuk bekerja dengan
pasangan dan keluarga, lihat Dattilio (1998).
Modifikasi Perilaku Kognitif Donald Meichenbaum
Pengantar
Alternatif utama lain untuk terapi perilaku emotif rasional adalah modifikasi perilaku
kognitif (CBM) Donald Meichenbaum, yang berfokus pada perubahan verbalisasi diri
klien. Menurut Meichenbaum (1977), pernyataan diri memengaruhi perilaku
seseorang sama seperti pernyataan yang dibuat oleh orang lain. Premis dasar CBM
adalah bahwa klien, sebagai prasyarat untuk perubahan perilaku, harus
memperhatikan bagaimana mereka berpikir, merasakan, dan berperilaku dan dampak
yang mereka miliki terhadap orang lain. Agar perubahan dapat terjadi, klien perlu
menghentikan sifat perilaku mereka yang tertulis sehingga mereka dapat
mengevaluasi perilaku mereka dalam berbagai situasi (Meichenbaum, 1986).
Pendekatan ini sama dengan terapi kognitif REBT dan Beck dengan asumsi
bahwa emosi yang menekan biasanya merupakan hasil dari pikiran maladaptif.
Namun ada perbedaan. Sedangkan REBT lebih langsung dan konfrontatif dalam
mengungkap dan membantah pemikiran irasional, pelatihan mandiri Meichenbaum
lebih berfokus pada membantu klien menjadi sadar akan self-talk mereka. Proses
terapeutik terdiri dari mengajar klien untuk membuat pernyataan diri dan melatih
klien untuk memodifikasi instruksi yang mereka berikan kepada diri mereka sendiri
sehingga mereka dapat mengatasi masalah yang mereka hadapi dengan lebih efektif.
Bersama-sama, terapis dan klien mempraktikkan instruksi mandiri dan perilaku yang
diinginkan dalam situasi permainan peran yang mensimulasikan situasi masalah
dalam kehidupan sehari-hari klien. Penekanannya adalah pada memperoleh
keterampilan menyelesaikan masalah praktis untuk situasi seperti perilaku impulsif
dan agresif, takut mengikuti tes, dan takut berbicara di depan umum.
Restrukturisasi kognitif memainkan peran sentral dalam pendekatan
Meichenbaum (1977). Dia menggambarkan struktur kognitif sebagai aspek
pengorganisasian berpikir, yang tampaknya memonitor dan mengarahkan pilihan
pemikiran. Struktur kognitif menyiratkan "prosesor eksekutif," yang "memegang
denah pemikiran" yang menentukan kapan harus melanjutkan, menyela, atau
mengubah pemikiran.
Bagaimana Perilaku Berubah
Meichenbaum (1977) mengusulkan bahwa "perubahan perilaku terjadi melalui urutan
proses mediasi yang melibatkan interaksi ucapan batin, struktur kognitif, dan perilaku
serta hasil yang dihasilkan" (hal. 218). Dia menjelaskan proses perubahan tiga fase di
mana ketiga aspek tersebut terjalin. Menurutnya, fokus hanya pada satu aspek
mungkin akan terbukti tidak cukup.
Fase 1: Pengamatan diri. Langkah awal dalam proses perubahan terdiri dari klien
yang belajar bagaimana mengamati perilaku mereka sendiri. Ketika klien memulai
terapi, dialog internal mereka ditandai dengan pernyataan dan citra diri yang negatif.
Faktor penting adalah kemauan dan kemampuan mereka untuk mendengarkan diri
mereka sendiri. Proses ini melibatkan peningkatan kepekaan terhadap pikiran,
perasaan, tindakan, reaksi fisiologis, dan cara bereaksi terhadap orang lain.
Contohnya, jika klien yang mengalami gangguan depresi berharap untuk memperoleh
perubahan konstruktif dalam dirinya, klien tersebut pertama-tama harus menyadari
bahwa mereka bukan "korban" perasaan dan pemikiran negatif yang mereka pikirkan.
Akan tetapi, sebenarnya klien tersebut lah yang ikut andil memperparah tingkat
depresi yang mereka alami melalui hal-hal yang mereka pikirkan dalam diri sendiri.
Meskipun diperlukan pengawasan diri untuk mencapai perubahan, pengawasan diri
saja tetaplah tidak cukup. Seiring berjalannya proses terapi, klien memperoleh
struktur kognitif baru yang membuat mereka dapat melihat masalah yang mereka
hadapi dalam perspektif baru. Proses rekonseptualisasi ini terjadi melalui usaha
kolaboratif antara klien dan terapis.
Tahap 2: Mulai menciptakan dialog internal baru. Melalui hubungan awal yang dijalin
antara klien dengan terapis, klien mulai menyadari perilaku merusak mereka, dan
merekapun mulai melihat kemungkinan-kemungkinan perilaku alternatif lain yang
lebih sehat. Klien belajar untuk mengubah dialog internal mereka melalui terapi.
Dialog internal baru ini kemudian akan menuntun klien menuju perilaku baru.
Sehingga, proses ini akan berdampak pada struktur kognitif klien.
Tahap 3: Mempelajari keahlian-keahlian baru. Tahap ketiga proses modifikasi diri
dilakukan dengan mengajari klien keahlian-keahlian baru yang lebih efektif untuk
menghadapi masalah kejiwaannya, dimana keahlian-keahlian baru ini akan diterapkan
dalam situasi kenyataan hidupnya. (Misalnya, klien yang memiliki masalah tidak
dapat menerima kegagalan mungkin tidak akan ingin melakukan aktivitas-aktivitas
tertentu karena takut tidak berhasil melakukan aktivitas tersebut. Penyusunan ulang
kognitif dapat membantu klien seperti ini mengubah pandangan negatif mereka,
sehingga ini akan membuat mereka semakin ingin terlibat dalam aktivitas-aktivitas
tertentu tersebut.) Di saat yang sama, klien terus mengatakan kalimat-kalimat baru
dalam diri mereka dan mengamati serta menilai hasil yang diperoleh dari kalimat-
kalimat baru tersebut. Ketika klien sudah mulai menyikapi situasi yang dihadapinya
dengan cara berbeda, mereka akan mendapat reaksi-reaksi dari orang lain sekitar
lingkungannya. Seberapa konsisten klien menerapkan perilaku baru yang
dipelajarinya sangat tergantun pada perkataan yang mereka katakan pada diri internal
mereka terkait perilaku barunya dan dampak perilaku tersebut.
Program Keahlian Menghadapi Masalah
Alasan dari adanya program keahlian menghadapi masalah ini adalah asumsi
bahwa kita dapat memperoleh strategi-strategi lebih efektif dalam menghadapi situasi
yang menekankan dengan mempelajari bagaimana cara mengubah "rangkaian"
kognitif kita, atau keyakinan inti kita. Berikut adalah tahapan-tahapan yang didesain
untuk mengajarkan keahlian-keahlian dalam menghadapi situasi bermasalah:
" Mengekspos klien pada situasi yang memicu rasa cemas berlebihan dalam
dirinya melalui teknik permainan peran dan gambaran
" Mengharuskan klien untuk mengevaluasi tingkat kecemasannya
" Mengajarkan klien untuk menyadari adanya kognisi-kognisi yang dapat
memicu rasa kecemasan dalam dirinya
" Membantu klien meginstropeksi pikiran-pikiran cemas ini dengan
mengevaluasi ulang pernyataan-pernyataan yang mereka katakan dalam diri mereka
" Meminta klien mencatat tingkat kecemasannya melalui evaluasi ulang ini
Sejumlah penelitian telah menunjukkan keberhasilan program keahlian ini ketika
diterapkan dalam masalah-masalah seperti kecemasan ketika berbicaram kecemasan
ketika ujian, fobia, kemarahan, inkompetensi sosial, kecanduan, alkohol, disfungsi
seksual, gangguan trauma, dan pengasingan diri dalam anak-anak (Meichenbaum,
1977, 1986, 1994).
Program keahlian menghadapi situasi bermasalah yang mengajarkan klien
strategi-strategi mengatur stres disebut sebagai program inokulasi stres.
Dengan menerapkan teknik-teknik kognitif, Meichenbaum (1985, 2003) berhasil
mengembangkan tahapan-tahapan inokulasi stres dalam permasalahan perilaku dan
psikologis. Orang-orang mendapatkan kesempatan untuk menghadapi situasi yang
dapat memicu kadar stres, sehingga merekapun dapat menumbuhkan ketahanan atau
imun psikologis yang lebih kuat daripada permasalahan yang dihadapi. Pelatihan ini
dilandaskan pada asumsi bahwa kita mampu mempengaruhi kemampuan diri kita
untuk menghadapi stres dengan mengubah keyakinan dan pernyataan internal diri
yang kita sering ucapkan terkait kapabilitas kita menghadapi masalah. Pelatihan
inokulasi temkuan Meichenbaum ini tidak hanya sekedar mengajarkan klien keahlian-
keahlian tertentu saja. Program buatannya ini didesain untuk menyiapkan klien
mencegah dan mendorong mereka menuju perubahan, dan program ini juga
memperhitungkan isu-isu seperti resistansi dan pengambuhan kembali. Program
pelatihan inokulasi stres (PIS) terdiri atas kombinasi beberapa teknik seperti
pemberian informasi, simulasi behavioral, pengawasan diri, instruksi diri,
pendorongan diri, dan perubahan situasi lingkungan. Pendekatan ini didesain untuk
mengajarkan keahlian-keahlian yang dapat diterapkan baik dalam situasi
permasalahan yang dihadapi saat ini maupun yang akan dihadapi nantinya di masa
akan datang. Meuchenbaum (2003) mengatakan bahwa PIS ini dapat digunakan untuk
mencegah maupun mengobati serangkaian klien yang mengalami permasalahan stres.
Meichenbaum (1985, 2003) telah membentuk suatu model tiga tahap dalam
pelatihan inokulasi stres: (1) tahap konseptual-edukasional, (2) tahap pengakuisisian,
konsolidasi, dan tahap simulasi, dan (3) penerapan dan tahap-tahap lanjutan.
Dalam tahap konseptual-edukasional, fokus utama terapis adalah untuk
menciptakan hubungan yang baik dengan klien. Hal ini dilakukan dengan membantu
mereka mendapatkan pemahaman baru terkait bagaimana stres bekerja dan
merekonsepsualisasikan pemahamn tersebut dengan istilah-istilah sosial interaktif.
Terapis mengajak klien untuk berkolaborasi dengannya dalam tahapan awal ini dan
mereka kemudian bersama-sama menelaah ulang permasalahan yang dihadapi. Pada
awalnya, klien diberikan kerangkan konseptual yang dibuat sebelumnya untuk
mengajarkan mereka cara merespon berbagai macam situasi stres yang mereka
hadapi. Klien akan memhamami peran kognitisi dan emosi dalam menciptakan dan
mengembangkan stres yang ada melalui presentasu didaktik, wawancara Sokratik, dan
melalui proses penemuan diri.
Klien seringkali mengawali proses penanganan dengan merasa bahwa mereka
adalah korban situasi, pikiran, perasaan, dan perilaku eksternal yang mereka tidak
dapat kendalikan. Pelatihan ini mengajarkan klien untuk menyadari peran mereka
sendiri dalam menciptakan permasalahan stres yang dihadapi. Klien akan memperoleh
kesadaraan ini dengan cara terus-menerus mengamati pernyataan dan perilaku internal
mereka yang tercipta dari dialog internal yang klien seringkali ucapkan dalam diri
mereka. Proses pengawasan diri ini terus dilakukan selama seluruh tahap pelatihan.
Serupa dengan terapi kognitif, klien pada umumnya diminta untuk membuat diari
pribadi dimana mereka mencatat perasaan, pikiran, dan perilaku tertentu yang mereka
rasakan. Dalam mengajarkan keahlian-keahlian menghadapi stres ini, terapis
diharuskan untuk bersifat fleksibel dalam penerapan teknik terapi dan untuk peka
terhadap situasi kultural klien yang ia tangani.
Selama tahapan pemerolehan keahlian, tahap konsolidasi, dan tahap simulasi,
fokus terapis adalah untuk memberikan klien berbagai macam teknik kognitif dan
behavioral dalam menghadapi situasi stres yang ia hadapi. Tahap ini melibatkan
perbuatan nyata dan langsung, seperti mengumpulkan beragam informasi terkait rasa
takut diri mereka, mempelajari situasi-situasi tertentu yang memicu terjadinya stres,
merancang cara-cara mengurangi stres dengan melakukan suatu hal yang berbeda,
serta mempelajari metode-metode relaksasi fisik dan psikologis. Pelatihan ini
melibatkan proses kognitif; klien diajarkan bahwa perilaku-perilaku merusak dan
tidak sehar yang mereka lakukan berkaitan dengan dialog internal dalam diri mereka.
Melalui pelatihan ini, klien memperoleh dan melatih penerapan pernyataan-
pernyataan internal baru dalam diri mereka. Meichenbaum (1986) memberikan
sejumlah contoh pernyataan positif yang dilatih dalam tahap pelatihan ini:
" "Bagaimana caranya agar saya siap menghadapi stressor?" ("Apa yang harus
saya lakukan? Bisakah saya mengembangkan suatu perencanaan untuk menghadapi
stres ini?")
" "Bagaimana caranya agar saya bisa menghadapi dan menyelesaikan hal yang
membuat saya stres?" ("Cara-cara apa saja yang bisa saya gunakan untuk menghadapi
stressor? Bagaimana caranya agar saya bisa menyelesaikan tantangan ini?")
" "Bagaimana cara saya menghadapi rasa cemas berlebihan?" ("Apa yang dapat
saya lakukan sekarang? Bagaimana cara saya agar dapat mengatur rasa takut saya?")
" "Bagaimana caranya agar saya dapat meningkatkan pernyataan-pernyataan
positif dalam diri internal saya?" ("Bagaimana cara saya agar dapat mengakui diri
saya sendiri?")
Sebagai bagian dari program manajemen stres, klien juga akan melalui sejumlah
intervensi behavioral, beberapa di antaranya seperti pelatihan relaksasi, pelatihan
keahlian sosial, instruksi manajemen waktu, dan pelatihan instruksi diri. Klien dibantu
untuk menciptakan perubahan-perubahan dalam gaya hidup mereka seperti cara
mengevaluasi ulang prioritas hidup, cara mengembangkan sistem dukungan, dan cara
mengambil tindakan langsung menghadapi situasi stres yang dihadapi. Klien
diajarkan berbagai macam metode relaksasi dan diajarkan untuk menggunakan
keahlian-keahlian ini untuk mengurangi tingkat stres dalam diri klien. Melalui proses
pengajaran, demonstrasi, dan latihan, klien kemudian akan mempelajari keahlian
relaksasi progresif, yang dilakukan secara regular.
Selama tahap penerapan dan tahap-tahap lanjuran, fokus terapis adalah untuk
mentransfer keahlian yang diajarkan pada klien dalam proses terapi ke dalam
kehidupan sehari-hari klien. Mengajari klien keahlian menghadapi stres merupakan
suatu proses kompleks yang bergantung pada program penanganan terapi yang
digunakan. Hanya mengatakan pernyataan-pernyataan baru dalam diri internal klien
saja tidaklah cukup, klien harus menerapkan pernyataan-pernyataan internal dan
keahlian-keahlian baru yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-haru mereka.
Untuk mengkonsolidasikan pelajaran-pelajaran yang diajarkan dalam sesi pelatiham,
klien terlibat dalam berbagai aktivitas terapi, seperti simulasi gambaran dan
behavioral, simulasi permainan peran, dan latihan-latihan lainnya. Ketika klien telah
berhasil menguasai keahlian kognitif dan behavioral dalam menghadapi stres, mereka
kemudian mengerjakan tugas-tugas behavioral, yang semakin menantang diri klien.
Klien akan diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas rumah yang harus mereka
kerjakan ini. Hasil kerja tugas-tugas ini kemudian diperiksa dan dievaluasi dalam sesi
terapi selanjutnya, dan jika klien tidak menyelesaikan tugas-tugas tersebut, terapis dan
klien akan saling berdiskusi membahas alasan mengapa klien gagal melaksanakan
tugas-tugas tersebut. Dalam pelatihan ini, klien juga diajarkan cara pencegahan
kambuhnya perilaku lama, yang terdiri atas tahap-tahap cara menghadapi kemunduran
yang pasti klien akan alami ketika klien menerapkan perilaku-perilaku baru yang
mereka pelajari selama pelatihan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sesi lanjutan
pada umumnya dilakukan setelah 2,6, dan 12 bulan masa terapi sebagai bentuk
insentif untuk klien karena terus melatih dan mengasah keahlian menghadapi stres
yang mereka pelajari ini. Program pelatihan ini dapat dianggap sebagai program
manajemen stres berkelanjutan yang terus memberikan manfaat kepada diri klien
dalam kehidupannya yang akan datang.
Pelatihan manajemen stres berpotensi untuk diterapkan dalam berbagai permasalahan
dan untuk berbagai jenis klien baik sebagai bentuk pengobatan dan sebagai bentuk
pencegahan. Penerapan pelatihan ini dapat berupa teknik-teknik pengendalian amarah,
manajemen kecemasan berlebihan, pelatihan asersi, pengembangan pemikiran kratif,
penanganan depresi, dan penanganan masalah-masalah kesehatan lainnya. Pelatihan
inokulasi stres telah diterapkan dalam penanganan pasien medis dan pasien psikiatris
(Meichenbaum, 2003). Program pelatihan ini berhasil diterapkan untuk pasien anak-
anak, remaja, dan dewasa yang memiliki masalah-masalah pengendalian emosi;
gangguan kecemasan berlebihan; dan gangguan stres pasca trauma (PTSD).
Pendekatan Konstruktivis dalam Terapi Perilaku Kognitif
Meichenbaum (1997) mengembangkan pendekatannya dengan memasukkan
perspektif naratif konstruktivis (CNP), yang berfokus pada naratif-naratif yang klien
bentuk mengenai diri internal dan orang lain sekitar mereka. Pendekatan ini dimulai
dengan asumsi bahwa ada banyak realitas kehidupan. Salah satu tugas terapis adalah
untuk membantu klien mengapresiasi realitas yang klien bangun dan menjadi penulis
cerita kehidupan mereka sendiri (lihat Bab 12).
Meichenbaum menjelaskan pendekatan konstruktivis dalam terapi perilaku
kognitif sebagai pendekatan yang lebih tidak terstruktur dan lebih berfokus pada
penemuan diri daripada model terapi kognitif standar pada umumnya. Pendekatan
konstruktivis ini lebih menekankan perkembangan masa lalu, cenderung lebih
berfokus pada keyakinan inti klien, dan lebih mengeksplor dampak emosional dan
perilaku yang klien alami akibat terlalu terpaku terhadap suatu keyakinan tertentu.
Meichenbaum menggunakan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk mengevaluasi hasil
proses terapi:
" Apakah klien saat ini sudah dapat menceritakan cerita baru mengenai diri dan
dunia mereka?
" Apakah klien saat ini menggunakan metafora-metafora yang lebih positif
untuk menggambarkan diri mereka?
" Apakah klien saat ini telah mampu memprediksikan situasi beresiko tinggi dan
menerapkan keahlian-keahlian yang ia pelajari dalam terapi untuk menghadapi
situasi-situasi bermasalah yang muncul?
Dalam terapi yang berhasil, klien mengembangkan suara mereka sendiri, merasa
bangga akan pencampaian mereka, dan mengambil kendali perubahan perilaku yang
mereka hasilkan.
Terapi Perilaku Kognitif Menurut Perspektif Multikultural
Kelebihan Perspektif Keberagaman
Terdapat sejumlah kelebihan yang dimiliki pendekatan perilaku kognitif
menurut perspektif keberagaman. Jika terapis memahami nilai-nilai inti keberagaman
budaya klien, terapis dapat membantu klien mengeksplor nilai-nilai ini dan peka
terhadap konflik perasaan yang ada dalam diri klien. Klien dan terapis saling bekerja
sama untuk mengubah perilaku dan keyakinan bermasalah tertentu dalam diri klien.
Terapi perilaku kognitif cenderung peka secara kultural karena model terapi ini
menggunakan sistem keyakinan atau pandangan dunia klien sebagai metode untuk
mencapai perubahan diri.
Ellis (2001b) mengatakan bahwa bagian esensial hidup seseorang adalah
kehidupan bermasyarakatnya dan tingkat kebahagian orang tersebut yang terkait
seberapa besar kontribusinya dalam masyarakat. Orang-orang sebagai individu dapat
melakukan kesalahan dengan menjadi terlalu berpusat pada diri dan terlalu
mengutamakan diri sendiri. REBT menekankan hubungan yan terjalin antara
seseorang dengan keluarga, komunitas, dan sistem-sistem kehidupan lain yang
dijalaninya. Orientasi REBT ini sejalan dengan rasa menghargai keberagaman
kultural dan interdependensi yang terjalin sebagai seorang individu dan sebagai
anggota masyarakat. Karena konselor dengan orientasi perilaku kognitif sebagai guru,
klien berfous dalam mempelajari keahlian untuk berhadapan dengan masalah
kehidupan. Dalam bercakap dengan kolega yang bekerja dengan populasi yang
beragam secara budaya, saya telah belajar bahwa klien mereka cenderung
mengapresiasi penekanan pada kognisi dan tindakan, juga penekanan pada masalah
relasi. Pendekatan kolaboratif dari CBT menawarkan klien struktur yang mungkin
mereka inginkan, namun terapis masih melakukan setiap usaha mendaftar kerjasama
dan partisipasi aktif dari klien, menurut Spiegler (2008), dikarenakan sifat dasar dan
cara CBT dipraktikkan, hal ini secara inheret sesuai pada perlakuan dengan klien yang
beragam. Beberapa faktor yang diidentifikasi Spiegler yang menjadi keberagaman
CBT efektif mencakup perlakuan terindividualisasi, berfokus pada lingkungan
eksterlar, sifat aktif, penekanan dalam pembelajaran, kebergantungan pada bukti
empiris, berfokus pada perilaku saat ini, dan kecekatan.
Kelemahan dari perspektif beragam
Pengeksploran nilai dan keyakinan dasar memainkan sebuah peran penting dalam
semua pendekatan perilaku kognitf, dan hal ini krusial bagi terapis untuk memiliki
beberapa pemahaman akan latar belakang kultural dari klien dan untuk menjadi
sensitif pada perjuangan mereka. terapis akan melakukan dengan baik untuk
menggunakan peringatan dalam menantang klien tentang keyakinan dan perilaku
mereka hingga mereka secara jelas memahami konteks kebudayaan mereka. Dalam,
Wolfe (2007) menyarankan bahwa pekerjaan terapis adalah untuk membantu klien
mengkaji dan menantang asumsin budaya yang telah lama ada hanya jika mereka
menghasilkan disfungsi emosi atau perilaku. Dia menuliskan bahwa terapis membantu
klien dalam berpikir secara kritis tentang "konflik potensial dengan nilai dari budaya
dominan sehingga mereka dapat bekerja untuk mencapai tujuan pribadi mereka di
dalam konteks sosial budaya mereka" (p.188).
Anggap seorang klien Asia Amerika, Sung, berasal dari budaya yang
menekankan nilai seperti melakukan yang terbaik, kerja sama, saling bergantung, dan
bekerja keras. Hal ini nampak bahwa Sung berjuang dengan rasa malu dan rasa
bersalah mereka jika dia mempersepsikan bahwa dia tidak hidup atas ekspektasi dan
standar yang diatur baginya oleh keluarga dan komunitasnya. Dia mungkin mereka
bahwa dia membawa malu pada keluarganya jika dia melakukan perceraian. Konselor
harus memahami cara gender berinteraksi dengan lingkungan. Aturan untuk Sung
mungkin berbeda dengan aturan untuk laki laki dalam budayanya. Konselor dapat
membantu Sung memahami dan mengeksplor bagaimana gender dan budayanya
sebagai faktor untuk mempertimbangkan keadaannya. Jika Sung dikonfrontasi terlalu
cepat dalam hidup dengan harapan aturan dari orang lain, hasilnya cenderung
kontraproduktif. Sung mungkin meninggalkan konselign karena merasa
disalahpahami.
Salah satu kelemahan dalam mengaplikasikan terapi perilaku kognitif dari
kebudayaan yang beragam menyinggung keraguan dari beberapa klien untuk
memprtanyakan nilai budaya dasar mereka. Dattilio (1995) mencatat bahwa beberapa
kebudayaan Mediterania dan Timur Tengah memiliki aturan yang ketat pada agama,
pernikahan dan keluarga, dan praktik perawatan anak. Aturan ini sering bertentangan
dengan saran perilaku kognitif dispustasi. Sebagai contaoh, seorang terapi mungkin
menyarankan kepada seorang wanita bahwa dia mempertanyaan motif dari suaminya.
Secara jelas, dalam beberapa kebudayaan timur tengah dan Asia, pertanyaan seperti
itu terlarang.
Terapi Kognitif Diaplikasikan pada Kasus Stan
Dalam perspektif perilaku kognitif,
terapis tertarik pada Stan yang
menantang dan memodifikasi
keyakinan kekalahan dirinya, yang
mungkin akan memperoleh
perilaku yang lebih efektif. Terapis
Stan itu berorientasi pada tujuan
dan berfokus pada masalah. Dari
sesi awal, terapi meminta Stan
untuk mengidentifkasi masalahnya
dan merumuskan tujuan spesifik.
Selain itu dia membantunya untuk
membuat kembali konsep
masalahnya dengan cara yang akan
menambah kesempatannya untuk
menemukan solusi.
Terapis Stan mengikuti
sebuah struktur yang jelas untuk
setiap sesi. Tahapan prosedur dasar
mencakup (1) mempersiapkannya
dengan menyediakan sebuah
rasional kognitif bagi perlakuan
dan perlakuan yang jelas; (2)
mendukungnya untuk memonitor
pikirannya yang mengikuti
kesulitannya; (3)
mengimplementasikan teknik
perilaku dan kognitif; (4) bekerja
dengannya untuk membantunya
mengidentifikasi dan menantang
beberapa keyakinan dan ide dasar
(5) engajarkannya cara untuk
mengkaji keyakinan dan asumsinya
dengan menguji mereka pada
kenyataan, dan (6) mengajarkannya
cara menghadapi masalah dasar
yang memungkinaknnya untuk
menghindari pengulangan pola
yang sama.
Sebagai bagian dari sesi
terapi, terapis menanyai Stan untuk
review singkat dalam satu minggu,
memunculkan feedback dari sesi
sebelumnya, meriview tugas,
secara kolaboratif menciptakan
agenda untuk sesi, mendiskusikan
topik dalam agenda, dan membuat
tugas baru untuk satu minggu. Stan
disemangati untuk melakukan
eksperimen pribadi dan
memprkatikkan keahlian
menghadapi masalah dalam
kehidupan sehari-hari.
Stan memberitahu
terapisnya bahwa dia ingin bekerja
pada ketakutannya akan wanita dan
berharap kurang terintimidasi oleh
mereka. mereka melaporkan bahwa
dia merasa terancam oleh wanita,
tetapi khususnya bagi wanita yang
dianggapnya kuat. Dalam bekerja
dengan ketakutan Stan, terapis
meneruskan dengan empat tahap:
mengedukasinya tentang berbicara
pada diri sendiri, menjadikannya
dapat memonitor dan mengevaluasi
keyakinannya yang salah;
menggunakan intervensi kognitif
dan perilaku, dan secara kolaboratif
merancang tugas dengan Stan yang
memberikannya kesempatan untuk
mempraktikkan perilaku baru
dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, terapis Stan
mengedukasinya tentang
pentingnya mengkaji pemikiran
otomatis, pembicaraan dengan diri
sendiri, serta banyak "semestinya"
"seharusnya" dan "sewajibnya" dia
telah menerima tanpa
mempertanyakan. Bekerja dengan
Stan sebagai partner kolaboratif
dalam terapinya, terapis
membimbingnya dalam
menemukan kognisi dasarnya yang
mempengaruhi apa yang
dikatakannya pada diri sendiri serta
bagaimana dia merasa dan
bertindak. Berikut adalah beberapa
perkataannya pada diri sendiri:
" "Saya selalu harus kuat,
keras, dan sempurna"
" "Saya bukanlah pria jika
saya menunjukkan kelemahan
saya"
" "Jika semua orang tidak
mencintai dan mengakuiku, semua
hal menjadi bencana"
" "Jika seorang perempuan
menolakkku, Saya bukan siapa-
siapa"
" "Jika saya gagal, saya
adalah orang yang gagal"
" "Saya menyesalkan
kehadiran saya karna saya merasa
tidak setara dengan orang lain".
Kedua, terapis membantu Stan
dalam memonitor dan
mengevaluasi cara dimana dia terus
memberitahukan dirinya akan
kalimat yang merendahkan dirinya
sendiri. Dia menantang masalah
spesifik dan melawan inti dari
kesalahan pemikirannya:
Kamu bukanlah ayahmu. Saya
bertanya-tanya kenapa kamu terus
memberitahu dirimu sendiri bahwa
kamu seperti diriya? Apakah kamu
berpikir bahwa kamu harus terus
menerima tanpa mempertanyakan
penilaian orang tuamu tentang
betapa berharganya kamu? Apa
bukti sehingga mereka benar atas
penghakimannya kepadamu? Kamu
mengatakan bahwa kamu itu orang
gagal dan kamu merasa inferior.
Apakah aktivitas kamu saat ini
mendukung hal ini? Jika kamu
tidak begitu keras pada dirimu
sendiri, bagaimana hidupmu akan
berbeda?
Ketiga, ketika Stan lebih
memahami sifat dasar dari distorsi
kognitif dan keyakinan yang
merendahkan dirinya, terapisnya
menarik pada beragam teknik
kognitif dan perilaku untuk
membantu Stan membuat
perubahan yang paling dia
inginkan. Melalui beragam teknik
kognitif, dia belajar untuk
mengedintifikasi, mengevaluasi,
dan merespon keyakinan
disfungsionalnya. Terapis
bergantung pada teknik kognitif
seperti Socratic questioning,
guided discovery, dan cognitive
restructuring untuk membantu Stan
dalam mengkaji bukti yang
nampaknya mendukung atau
berlawanan dengan keyakinan
dasarnya. Terapis bekerja dengan
Stan sehingga dia memandang
keyakinan dasar dan pemikiran
otomatis Stan sebagai hipotesis
yang akan diuji. Dengan kata lain,
dia menjadi ilmuwan pribadi
dengan mengecek validitas dari
banyak kesimpulan dan asumsi
dasar yang berkontribusi pada
kesulitan pribadinya. Dengan
penggunaan penemuan terbimbing,
Stan belajar untuk mengevaluasi
validitas dan fungsionalitas
keyakinan dan kesimpulannya.
Stan juga dapat mengambil
manfaat dari restruktur kognitif,
yang akan melibatkan observasinya
pada perilakunya sendiri dalam
beragam situasi. Sebagai contoh,
selama minggu dia bisa mengambil
situasi tertentu yang bermasalah
baginya, memberikan perhatian
khusus pada pemikiran
otomatisnya dan dialog
internalnya. Apa yang dia
beritahukan pada dirinya sendiri
ketika dia mendekati situasi sulit?
Bagaimana dia mengembalikan
dirinya dari kegagalan dengan cara
berbicara pada dirinya sendiri?
Ketika dia belajar untuk hadir pada
perilaku maladaptifnya, dia mulai
melihat apa yang dia beritahukan
kepada dirinya seniri yang
memiliki banyak pengaruh seperti
pendapat orang lain tentang
dirinya. Dia juga melihat koneksi
antara pemikiran dan masalah
perilakunya. Dengan kesadaran ini,
dia berada ditempat idel untuk
memulai belajar internal dialog
yang baru dan lebih fungsional.
Keempat, konselor Stan
bekerja secara kolaboratif
dengannya dalam menciptakan
tugas untuk membantunya
menghadapi ketakutannya. Hal ini
diharapkan bahwa Stan akan
mempelajari keahlian baru dalam
menghadapi masalah, yang dapat
dia praktikkan pertama dalam sesi
dan dalam situasi di kehidupan
sehari-hari. Tidaklah cukup
baginya untuk hanya mengatakan
hal baru pada dirinya; Stan harus
mengaplikasikan kognisi barunya
serta kemampuannya menghadapi
masalah dalam beragam situasi di
kehidupan sehari-hari. Pada satu
titik, sebagai contoh, terapis
meminta Stan untuk mengeksplor
ketakutannya terhadap wanita yang
kuat dan alasannya untuk terus
mengatakan kepada dirinya: "dia
ingin saya menjadi kuat dan
sempurna. Jika saya tidak berhati
hati, mereka akan mendominasi
saya". Tugasnya mencakup
mendekati wanita untuk kencan.
Jika dia sukses berkencan, dia
dapat menantang ekspektasi
katastropiknya tentang apa yang
akan terjadi. Hal terburuk apa yang
mungkin ketika perempuan itu
tidak menyukainya atau menolak
ajakan kencannya? Stan terus
memberitahu dirinya bahwa dia
harus diakui oleh wanita dan jika
wanita manapun menolaknnya
akibatnya lebih dari pada yang
dapat ia tanggung. Dengan praktik,
dia beajar untuk melabel distorsi
dan dapat secara otomatis
mengidentifikasi pemikiran
disfungsionalnya dan memonitor
pola kognitifnya. Melalui beragam
strategi kognitif dan perilaku, dia
dapat memperoleh informasi baru,
mengubah keyakinan atau skemata
dasarnya, dan
mengimplementasikan perilaku
baru yang lebih efektif.
Follow up: Anda lanjut sebagai
Terapis Perilaku Kognitif Stan
Gunakan pertanyaan berikut untuk
membantu anda berpiir tentang
bagaimana anda dapat memberi
konseling pada Stan menggunakan
pendekatan kognitif perilaku.
" Gaya terapis Stan dicirikan
sebagai bentuk integratif dari terapi
perilaku kognitif. Dia meminjam
konsep dan teknik dari pendekatan
Ellis, Beck, dan Meichenbaum.
Dalam pekerjaan anda dengan
Stan, konsep spesifik apa yang
anda akan pinjam dari pendekatan
ini? Teknik kognitif perilaku apa
yang akan anda gunakan? Manfaat
apa yang mungkin anda lihat, jika
ada, dalam mengaplikasikan
pendekatan perilaku kognitif yang
integratif ketika anda bekerja
dengan Stan.
" Hal apa saja yang paling
ingin anda ajarkan kepada Stan
tentnag bagiaman terapi kognitif
perilaku bekerja? Bagaimana anda
akan menjelaskan kepadanya
tentang persekutuan terapi dan
hubungan terapi kolaboratif?
" Kesalahan apa yang paling
menonjol dari Stan yang masuk ke
dalam cara hidupnya? Teknik
kognitif dan perilaku apa yang
mungkin anda gunakan dalam
membantunya mengkaji keyakinan
intinya?
" Stan hidup dengan banyak
"seharusnya" "semestinya".
Pemikiran otomatisnya nampaknya
menghalanginya untuk
mendapatkan apa yang dia
inginkan. Teknik apa yang akan
anda gunakan untuk mendukung
penemuan terbimbing pada
bagiannya?
" Tugas apa yang akan
berguna bagi untuk dikerjakan oleh
Stan? Bagaimana anda secara
kolaboratif merancang tugas
dengan Stan? Bagaimana anda
akan mendukungnya untuk
mengembangkan rencana tindakan
untuk menguji validitas dari
pemikiran dan kesimpulannya?
Lihat program online dan DVD,
Theory in Practice: The Case of
Stan (Session 8 on cognitive
behavior therapy), untuk
demonstrasi dari pendekatan ini
pada konseing Stan dari
perspektif ini. Sesi ini berfokus
dalam mengeksplor beberapa
keyakinan salah dari Stan
melalui penggunaan pembalikan
peran dan teknik restruktur
kognitif
.
Kelemahan dari REBT adalah pandangan negatifnya akan kebergantungan.
Banyak budaya yang memandang saling kebergantunya penting untuk kesehatan
mental. Menurut Ellis (1994), REBT bertujuan untuk membujuk orang untuk
mengkaji dan mengubah beberapa nilai paling dasarnya. Klien dengan nilai
kebudayaan yang dihargai untuk terus mempertahankan interdependensi cenderung
tidak merespon dengan baik pada metode persuasi menuju independesni. Modifikasi
dalam gaya terapis harus dibuat berdasarkan pada kebudayaan klien.
Kesimpulan dan Evaluasi
REBT telah menyusun kedalam sebuah pendekatan yang komprehensif dan integratif
yang menekankan pemikiran, penghakiman, pembuatan keputusan, dan tindakan.
Pendekatan ini berdasar pada peresi interkoneksi pemikiran, perasaan, dan perlakuan.
Terapi mulai dengan perilaku dan emosi problematik klien dan membantah peikirna
yang secara langsung menciptakan mereka. untuk memblok keyakinan merusak diri
yang diperkuat oleh proses indoktrinasi diri, terapi REBT menerampkan teknik aktif
dan direktif seperti mengajar, saran, persuasi, dan tugas, serta mereka menantang
klien untuk menggunakan sistem keyakinan rasional untuk menggantikan yang tidak
rasional. Terapis mendemonstrasikan bagaimana dan mengapa keyakinan
disfungsional mengantarkan pada hasil emosi dan pemikiran negatif. Mereka
mengajarkan klien bagaimana membantah keyakinan yang merusak diri serta perilaku
yang mungkin muncul dimasa depan. REBT menekankan pada tindakan- lakukan
sesuati akan pandangan yang didapatkan seseorang dalam terapi. Perubahan datang
utamanya dari sebuah komitmen untuk secara konsisten mempraktikkan perilaku baru
yang menggantikan perilaku yang lama dan tidak efektif.
Terapis rasional emotif secara khas pemilih dalam memilih strategi terapi. Mereka
memiliki kebebasan untuk mengembangkan gaya pribadi mereka dan untuk melatih
kreativitas; mereka tidak terikat oleh teknik yang telah ditetapkan untuk masalah
tertentu. Terapis kognitif juga mempraktikkan dari pendirian integratif, menggunakan
banyak metode untuk membantu klien dalam memodifikasi pembicaraan mereka pada
diri sendiri. Persekuatan kerja diberikan kepentingan khusus dalam terapi kognitif
sebagai cara untuk membentuk kerja sama kolaboratif. Meskipun hubungan klien
terapis dianggap penting, hal ini tidaklah cukup untuk hasil yang sukses. Dalam terapi
kognitif, dianggap bahwa klien dibantuk oleh penggunaan intervensi kognitif dan
perilaku dan oleh keinginan mereka untuk melakuakn tugas rumah diantara sesi.
Semua pendekatan kognitif perilaku menekankan pentingnya pentingnya proses
kognitif sebagai determinan dari perilaku. Hal ini dianggap bahwa bagaimana
manusia mereka dan apa yang sesunggnya mereka lakukan sangat mempengaruhi
kajian subjektif mereka akan situasi. Karena kemunculan situasi kehidupan ini
dipengaruhi oleh keyakinan, sikap, asumsi, dan dialog internal, seperti kognisi
menjadi fokus utama terapi.
Kontribusi Pendekatan Kognitif Perilaku
Kebanyakan terapi mendiskusikan dalam buku ini dapat dianggap "kognitif", dalam
pengertian umum, karena mereka memiliki tujuan untuk mengubah pandangan
subjektif klien akan diri mereka dan dunia. Pendekatan kognitif perilaku berfokus
pada mengangsir asumsi dan keyakinan salah serta mengajarkan klien keahlian untuk
mengatasi masalah yang dibutuhkan untuk berhadapan dengan masalah mereka.
REBT ELLIS. Saya menemukan aspek-aspek REBT yang sangat berharga dalam
pekerjaan saya karena saya percaya kita bertanggungjawab untuk mempertahankan
gagasan dan sikap merusak diri sendiri yang memengaruhi transaksi harian kita. Saya
melihat nilai dalam menghadapi klien dengan pertanyaan seperti "Apa asumsi dan
keyakinan dasar Anda?" Dan "Sudahkah Anda memeriksa ide-ide inti yang Anda
jalani untuk menentukan apakah itu nilai-nilai Anda sendiri atau hanya introjeksi?"
anggapan bahwa peristiwa itu sendiri tidak memiliki kekuatan untuk menentukan kita;
alih-alih, interpretasi kita tentang peristiwa-peristiwa inilah yang penting. Kerangka
kerja A-B-C secara sederhana dan jelas menggambarkan bagaimana gangguan
manusia terjadi dan cara-cara di mana perilaku bermasalah dapat diubah. Daripada
berfokus pada peristiwa itu sendiri, terapi menekankan bagaimana klien menafsirkan
dan bereaksi terhadap apa yang terjadi pada mereka dan perlunya secara aktif
memperdebatkan berbagai keyakinan yang salah.
Kontribusi lain dari pendekatan perilaku kognitif adalah penekanan pada
menempatkan wawasan yang baru diperoleh ke dalam tindakan. Penugasan pekerjaan
rumah sangat cocok untuk memungkinkan klien mempraktikkan perilaku baru dan
membantu mereka dalam proses rekondisi mereka. Terapi Adlerian, terapi realitas,
terapi perilaku, dan terapi singkat yang berfokus pada solusi, semuanya berbagi
dengan pendekatan perilaku kognitif yang berorientasi pada tindakan ini. Adalah
penting bahwa pekerjaan rumah menjadi hasil alami dari apa yang terjadi dalam sesi
terapi. Klien lebih cenderung melakukan pekerjaan rumah mereka jika tugas dibuat
secara kolaboratif.
Salah satu kekuatan REBT adalah fokus pada mengajarkan klien cara untuk
melakukan terapi mereka sendiri tanpa intervensi langsung dari terapis. Saya sangat
menyukai penekanan yang dilakukan REBT pada pendekatan pelengkap dan
psikoedukasi seperti mendengarkan kaset, membaca buku-buku kemandirian,
menyimpan catatan tentang apa yang mereka lakukan dan pikirkan, dan menghadiri
lokakarya. Dengan cara ini klien dapat memajukan proses perubahan dalam diri
mereka sendiri tanpa menjadi terlalu bergantung pada terapis.
Kontribusi utama REBT adalah penekanannya pada praktik terapi yang
komprehensif dan integratif. Banyak teknik kognitif, emotif, dan perilaku dapat
digunakan dalam mengubah emosi dan perilaku seseorang dengan mengubah struktur
kognisi seseorang.
TERAPI KOGNITIF BECK. Konsep utama Beck memiliki kesamaan dengan REBT,
tetapi berbeda dalam filosofi yang mendasari dan proses yang digunakan saat terapi.
Beck melakukan upaya perintis dalam pengobatan kecemasan, fobia, dan depresi.
Saat ini, perawatan yang divalidasi secara empiris untuk kecemasan dan depresi telah
merevolusi praktik terapi; penelitian telah menunjukkan kemanjuran terapi kognitif
untuk berbagai masalah (Leahy, 2002; Scher, Segal, & Ingram, 2006). Beck
mengembangkan prosedur kognitif spesifik yang berguna dalam menantang asumsi
dan keyakinan klien yang depresi dan dalam memberikan perspektif kognitif baru
yang dapat mengarah pada optimisme dan perilaku yang berubah. Efek terapi kognitif
pada depresi dan keputusasaan tampaknya dipertahankan setidaknya satu tahun
setelah perawatan. Terapi kognitif telah diterapkan pada berbagai populasi klinis yang
awalnya Beck percaya tidak sesuai untuk model ini, termasuk pengobatan untuk
gangguan stres pascatrauma, skizofrenia, gangguan delusi, gangguan bipolar, dan
berbagai gangguan kepribadian (Leahy, 2002, 2006a).
Beck menunjukkan bahwa terapi terstruktur yang berpusat pada saat ini dan
berorientasi pada masalah bisa sangat efektif dalam mengobati depresi dan kecemasan
dalam waktu yang relatif singkat. Salah satu kontribusi teoritis utama Beck telah
membawa pengalaman pribadi kembali ke ranah penyelidikan ilmiah yang sah
(Weishaar, 1993). Kekuatan terapi kognitif berfokus pada pengembangan
konseptualisasi kasus terperinci sebagai cara untuk memahami bagaimana klien
memandang dunia mereka.
Kekuatan utama dari semua terapi perilaku kognitif adalah bahwa mereka
adalah bentuk psikoterapi integratif. Beck menganggap terapi kognitif sebagai
psikoterapi integratif karena ia mengambil begitu banyak modalitas psikoterapi yang
berbeda (Alford & Beck, 1997). Dattilio (2002a) menganjurkan menggunakan teknik
perilaku kognitif dalam kerangka eksistensial. Dengan demikian, klien dengan
gangguan panik mungkin didorong untuk mengeksplorasi masalah eksistensial seperti
makna hidup, rasa bersalah, keputusasaan, dan harapan. Klien dapat diberi alat
perilaku kognitif untuk menangani peristiwa kehidupan sehari-hari dan pada saat yang
sama mengeksplorasi masalah eksistensial kritis yang menghadang mereka.
Membumikan pengobatan simtomatik dalam konteks pendekatan eksistensial dapat
menjadi paling bermanfaat.
Kredibilitas model kognitif tumbuh dari fakta bahwa banyak proposisinya
telah diuji secara empiris. Menurut Leahy (2002), "Selama 20 tahun terakhir, model
kognitif telah mendapatkan daya tarik yang luas dan tampaknya lebih mempengaruhi
perkembangan bidang daripada model lainnya" (p. 419). Leahy mengidentifikasi
beberapa alasan pendekatan ini telah menemukan daya tarik yang luas:
" Berhasil.
" Merupakan perawatan yang efektif, fokus, dan praktis untuk masalah spesifik.
" Tidak misterius atau rumit, yang memfasilitasi transfer pengetahuan dari
terapis ke klien.
" Merupakan bentuk perawatan yang hemat biaya.
MODIFIKASI PERILAKU KOGNITIF MEICHENBAUM. Hasil kerja
Meichenbaum dalam pelatihan instruksi mandiri dan stres inokulasi telah berhasil
diterapkan pada berbagai populasi klien dan masalah khusus. Dari catatan khusus
adalah kontribusinya untuk memahami bagaimana stres sebagian besar dihasilkan
sendiri melalui dialog batin. Meichenbaum (1986) memperingatkan praktisi perilaku
kognitif terhadap kecenderungan untuk menjadi terlalu sibuk dengan teknik. Jika
kemajuan harus dibuat, ia menyarankan bahwa terapi perilaku kognitif harus
mengembangkan teori perubahan perilaku yang dapat diuji. Dia melaporkan bahwa
beberapa upaya telah dilakukan untuk merumuskan teori pembelajaran sosial kognitif
yang akan menjelaskan perubahan perilaku dan menentukan metode intervensi
terbaik.
Kontribusi utama yang dibuat oleh Ellis, Beck, dan Meichenbaum adalah
demistifikasi proses terapi. Pendekatan perilaku kognitif didasarkan pada model
pendidikan yang menekankan aliansi kerja antara terapis dan klien. Model mendorong
swadaya, memberikan umpan balik terus-menerus dari klien tentang seberapa baik
strategi pengobatan bekerja, dan memberikan struktur dan arah untuk proses terapi
yang memungkinkan untuk evaluasi hasil. Klien aktif, terinformasi, dan
bertanggungjawab untuk arah terapi karena mereka adalah mitra dalam perusahaan.
Keterbatasan dan Kritik dari Pendekatan Perilaku Kognitif
Keterbatasan potensial dari salah satu pendekatan perilaku kognitif adalah tingkat
pelatihan terapis, pengetahuan, keterampilan, dan persepsi. Meskipun ini berlaku
untuk semua pendekatan terapeutik, itu terutama berlaku untuk praktisi CBT karena
mereka cenderung aktif, sangat terstruktur, dan menawarkan informasi psikoedukasi
klien dan mengajarkan keterampilan hidup. Macy (2007) menekankan bahwa
penggunaan yang efektif dari intervensi terapi perilaku kognitif memerlukan studi,
pelatihan, dan praktik yang luas: "Implementasi yang efektif dari intervensi ini
mensyaratkan bahwa praktisi sepenuhnya didasarkan pada teori dan tempat terapi,
serta dapat menggunakan rentang teknik dan intervensi terkait" (hal. 159).
REBT ELLIS. Saya menghargai perhatian pada masa lalu klien tanpa tersesat di masa
lalu dan tanpa mengambil sikap fatalistik tentang pengalaman traumatis sebelumnya.
Saya mempertanyakan asumsi REBT bahwa mengeksplorasi masa lalu tidak efektif
dalam membantu klien mengubah pemikiran dan perilaku yang salah. Dari sudut
pandang saya, mengeksplorasi pengalaman masa kecil dapat memiliki banyak
kekuatan terapeutik jika diskusi ini terhubung dengan fungsi kita saat ini.
Keterbatasan potensial lainnya melibatkan penyalahgunaan kekuatan terapis
dengan memaksakan ide tentang apa yang merupakan pemikiran rasional. Ellis
(2001b) mengakui bahwa klien mungkin merasa tertekan untuk mengadopsi tujuan
dan nilai-nilai yang dijual terapis daripada bertindak dalam kerangka sistem nilai
mereka sendiri. Karena sifat aktif dan terarah dari pendekatan ini, sangat penting bagi
para praktisi untuk mengenal diri mereka dengan baik dan untuk menghindari
memaksakan filosofi hidup mereka sendiri pada klien mereka. Karena terapis
memiliki kekuatan yang besar berdasarkan persuasi, kerusakan psikologis lebih
mungkin terjadi pada REBT daripada dalam pendekatan yang kurang terarah.
Sebagaimana Ellis mempraktikkannya, REBT adalah terapi yang kuat dan
konfrontasional. Beberapa klien akan mengalami masalah dengan gaya
konfrontasional, terutama jika aliansi terapeutik yang kuat belum ditetapkan. Adalah
baik untuk menggarisbawahi bahwa REBT bisa efektif ketika dipraktikkan dalam
gaya yang berbeda dari Ellis. Memang, seorang terapis bisa bersuara lembut dan halus
serta masih menggunakan konsep dan metode REBT. Ann Vernon (2007) mendorong
praktisi untuk mengakui bahwa mereka dapat mematuhi prinsip-prinsip dasar REBT,
yang telah digunakan secara efektif dengan orang dewasa dan anak-anak, tanpa
meniru gaya Ellis. Janet Wolfe, yang telah mengawasi ratusan praktisi selama 30
tahun di Albert Ellis Institute, menyatakan bahwa terapis tidak perlu meniru gaya
Ellis untuk secara efektif memasukkan REBT ke dalam daftar intervensi mereka
sendiri. Wolfe (2007) mendorong praktisi untuk merangkul pendekatan terapi yang
berguna dan efektif ini, tetapi untuk mengembangkan gaya yang konsisten dengan
kepribadian mereka sendiri.
Bagi para praktisi yang menghargai dimensi spiritual psikoterapi, pandangan
Ellis tentang agama dan spiritualitas cenderung menimbulkan beberapa masalah.
Secara historis, Ellis telah menyatakan dirinya sebagai seorang ateis dan telah lama
mengkritik agama-agama dogmatis yang menanamkan rasa bersalah pada orang-
orang. Ellis (2004b) telah menulis tentang filosofi inti yang dapat meningkatkan
kesehatan mental kita atau dapat menyebabkan gangguan.
Meskipun akhir-akhir ini Ellis tidak bersuara terlalu keras lagi seperti sebelumnya, ia
masih tetap sangat mengkritik ajaran filosofis apapun yang bersifat kaku dan
mengekang. Saya pribadi merasa bahwa orientasi spiritual dan religius dapat
dimasukkan ke dalam praktik REBT jika orientasi spiritual klien ini sangat penting
bagi dirinya. Beredarkan pengetahuan saya mengenai Ellis, menurut saya ia sendiri
terdorong oleh nilai-nilai spiritual, khususnya dalam keinginannya untuk membantu
orang lain menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk dirinya. Ellis didorong oleh
keinginan kuatnya untuk mengajarkan REBT, dan ia tertawa ketika ia mengatakan di
suatu pelatihan bahwa misinya adalah untuk menyebarkan ajaran alkitab menurut
Santo Albert. Dan memang benar, menurut saya "ajaran agama" yang dianutnya ini
dapat dilihat dalam prinsip dan praktik terapi model REBT. Untuk membaca lebih
jauh terkait topik ini, baca The Road to Tolerance (Ellis, 2004b).
TERAPI KOGNITIF BECK Terap kognitif selama ini dikiritk karena terlalu
berfokus pada cara penanganan dengan menggunakan metode berpikir positif; terlau
superfisial dan sederhana; menghiraukan masa lalu diri klien; terlalu berpaku pada
teknik-tenik terapi; tidak memanfaatkan hubungan terapi; hanya berhasil menangani
gejala-gejala masalah klien, namun gagal menyentuh penyebab inti permasalahan
yang klien hadapi; mengabaikan peran perasaan dalam menangani masalah klien
(Freeman & Dattillio, 1992; Weishaar, 1993).
Freeman dan Dattilio (1992, 1994; Dattilio, 2001) berhasil membantah mitos-
mitos dan miskonsepsi-miskonsepsi yang ada terkait terapi kognitif. Wiehsaar (1993)
memberikan sejumlah kritik terhadap pendekatan terapi kognitif. Meskipun terapis
kognitif lebih mengutamakan solusi-solusi sederhana daripada solusi-solusi kompleks,
hal ini tidak membuat pelaksanaan terapi kognitif menjadi pendekatan sederhana.
Terapis kognitif tidak mengeksplor ketidaksadaran atau konflik dalam diri klien
namun lebih berfokus pada diri klien yang sekarang untuk menghasilkan perubahan-
perubahan skema diri klien. Akan tetapi, terapis kognitif menyadari bahwa masalah-
masalah yang klien hadapi saat ini merupakan produk pengalaman hidup masa
sebelumnya, dan sehingga, terapis kognitif dapat mengeksplor bagaimana masa lalu
klien ini mempengaruhi diri mereka yang sekarang.
Salah satu kritik saya terhadap terapi kognitif, mirip dengan pendekatan
REBT, adalah bahwa aspek emosi seringkali tidak diperhitungkan dalam proses
penanganan. Saya merasa bahwa beberapa terapis perilaku kognitif lebih suka
menggunakan pendekatan ini karena mereka tidak nyaman menggunakan perasaan
klien sebagai bagian proses terapi klien. Meskipun Dattilio (2001) menyadari bahwa
CBT mengutamakn aspek kognitif dan perilaku dalam proses penanganannya, ia
mengatakan bahwa perasaan klien tidak diabaikan dalam proses terapi; akan tetapi, ia
merasa bahwa emosi merupakan hasil proses kognitif dan perilaku dan bahwa
perasaan klien diterapkan dalam proses terapi dengan cara berbeda. Nyatanya, dalam
pembahasannya terkait kasus Celester, Dattilio (2002a) menunjukkan bagaimana ia
menangani kliennya dengan mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaannnya
seutuhnya. Dattilio tidak mengasumsikan bahwa perasaan bermasalah klien hanyalah
hasil permasalahan kognitif saja; tetapi, ia mengatakan bahwa perasaan memiliki
fungsinya sendiri yang adaptif dan independen dalam menyembuhkan permasalahan
perasaan klien. Dattilio (2000a) menjelaskan keterbatasan pendekatan ini dengan baik
melalui tulisannya: "Meskipun memang terdapat keterbatasan dalam pendekatan
CBT, pendekatan ini masih menjadi salah satu pendekatan yang sangat efektif dan
slaah satu pendekatan terapi telah diteliti dengan baik.: (hal. 65).
PERUBAHAN PERILAKU KOGNITIF MEICHENBAUM Dalam kritiknya
terhadap pendekatan temuan Meichenbaum, Patterson dan Watkins (1996)
memberikan pertanyaan-pertanyaan menarik terhadap pendekatan ini. Permasalahan
dasarnya ialah untuk menemukan cara terbaik mengubah percakapan internal diri
klien. Apakah mengajarkan klien secara langsung merupakan pendekatan paling
efektif? Apakah ketidakmampuan klien berpikir rasional dan logis disebabkan oleh
ketidakmampuannya menyelesaikan masalah? Apakah proses menemukan diri sendiri
lebih efektif daripada proses pengajaran oleh terapis? Meskipun kita belum memiliki
jawaban konkrit untuk pertanyaan-pertanyaan ini, kita tidak dapat memberikan asumsi
bahwa klien hanya dapat mempelajari dirinya ketika ia diajari saja. Mengatakan
bahwa terapi hanyalah proses kognitif saja merupakan asumsi yang salah. Terapis
eksperensial menekankan bahwa proses mempelajari diri juga melibatkan perasaan
dan penemuan diri.
Kemana Selanjutnya
Dalam CD-ROM untuk konseling Integratif, saya menangani Ruth dalam
sejumlah sesi terapi dengan menggunakan terapi pendekatan perilaku kognitif. Dalam
sesi 6,7, dan 8 saya memperlihatkan cara saya menangani Ruth menggunakan fokus
kognitif, emotif, dan behavioral. Lihat juga Sesi 9 ("Perspektif Integratif") , yang
menujukkan pendekatan interaktif yang menggunakan aspek pikiran, perasaan, dan
perilaku ketika menangani Ruth.
Jurnal Terapi Rasional-Emotif dan Terapi Perilaku-Kognitif diterbitkan oleh
Penerbitan Akademik Kluwer/Penerbitan Ilmu Manusia. Jurnal ini merupakan sarana
terbaik untuk mendapatkan informasi-informasi terbaru terkait spesialis pendekatan
perilaku kognitif.
Meskipun Albert Ellis mendirikan Institut Albert Ellis di tahun 1959, Ellis
tidak mengasosiasikan dirinya dengan Institut ini selama beberapa tahun. Pada tahun
2006, Ellis mengatakan bahwa Institut Albert Ellis merupakan program lanjutan yang
tidak sejalan dengan teori dan praktik REBT (Ellis, 2008). Untuk informasi lebih
lanjut mengenai tulisan-tulisan Albert Ellis, dan lowongan pelatihan, hubungi:
Dr.Debbie Joffe Ellis
Nomor Telp: (917) 887-2006
Laman Daring: www.rebtnetwork.org/
Jurnal Psikoterapi Kognitif, disunting oleh John Riskind, juga memberikan informasi
terkait teroi, praktik, dan penelitian terapi perilaku kognitif. Informasi terkait jurnal
tersebut dapat diperoleh melalui Asosiasi Psikoterapi Kognitif Internasional atau
dengan menghubungi langsung John Riskind.
Dr. John Riskind
George Mason University
Department of Psychology, MSN 3F5
Fairfax, VA 22030-4444
Telephone: (703) 993-4094
Private Practice Telephone: (703) 280-8060
Fax: (703) 993-1359
E-mail: jriskind@gmu.edu
Website: www.cognitivetherapyassociation.org
Pusat Terapi Kognitif, Pantai Newport, Kalifornia, memiliki laman web ditujukan
untuk para praktisi kewijaan profesional. Laman web ini berisikan daftar buku-buku
terapi kognitif, rekaman suara, dan rekaman video pelatihan, pelatihan lanjutan, dan
sumber-sumber serta informasi terapi kognitif lainnya.
Pusat Terapi Kognitif
e-mail: mooney@padesky.com
laman web: http://www.padesky.com
Untuk informasi lebih lanjut terkait beasiswa ful pasca doctor dan kerjasama jangka
pendek institusi klinik, hubungi Institut Beck.
Beck Institute for Cognitive Therapy and Research
One Belmont Avenue, Suite 700
Bala Cynwyd, PA 19004-1610
Telephone: (610) 664-3020
Fax: (610) 664-4437
E-mail: beckinst@gim.net
Website: www.beckinstitute.org
Untuk memperoleh informasi terkait pelatihan dan pengawasan terapi kognitif,
hubungi:
Department of Clinical Psychology
Philadelphia College of Osteopathic Medicine
4190 City Avenue
Philadelphia, PA 19131-1693
Website: www.pcom.edu/Academic_Programs/aca_psych/aca_psych.html
REKOMENDASI BACAAN LANJUTAN
Feeling Better, Getting Better, and
Staying Better (Ellis, 2001a)
merupakan buku kesehatan mental
yang menjelaskan beragam
pendekatan terapi kognitif, emotif,
dan perilaku yang bertujuan bukan
hanya membuat perasaan menjadi
lebih baik tetapi juga membuat diri
menjadi lebih baik lagi.
Overcoming Destructive Beliefs,
Feelings, and Behaviors (Ellis,
2001b) memberikan informasi
terbaru terkait REBT dan
menunjukkan bagaimana
pendekatan ini dapat membantu
klien yang memiliki masalah
neurosis dan klien yang mengidap
gangguan kepribadian ganda.
Rational Emotive Behavior
Therapy: It Works for Me-It Can
Work for You (Ellis, 2004a)
merupakan buku yang
menceritakan sejumlah tantangan
yang Ellis hadapi selama hidupnya
dan bagaimana ia menghadapi
permasalahan-permasalahan
kenyataannya ini dengan
menerapkan prinsip-prinsip REBT
The Road to Tolerance: The
Philosophy of Ratio- nal Emotive
Behavior Therapy (Ellis, 2004b)
merupakan buku penemani buku di
atas. Dalam buku ini, Ellis
menunjukkan bahwa toleransi
merupakan pilihan rasional yang
dapat sengaja kita lakukan, demi
kebaikan diri kita sendiri dan orang
lain
Cognitive Therapy for
Challenging Problems (J. Beck,
2005) merupajan sumber
komperhensif terkait tahap-tahap
terapi kognitif yang diterapkan
pada klien yang memiliki sejumlah
permasalahan berperilaku. Buku ini
membahas terapi kognitif secara
menyeluruh dengan menggunakan
beragam kutipan dan hasil-hasil
penelitian terapi kognitif sejak
pendekatan terapi kognitif
diterapkan. Dalam buku ini,
terdapat beberapa bab mengenai
sejumlah topik aliansi terapi,
aturan tujuan-tujuan terapi, sesi
penyusunan, pekerjaan rumah sesi
terapi, peroses pengubahan pikiran
dan gambaran diri, proses
pengubahan asumsi, dan proses
pengubahan keyakinan inti dalam
diri.
Cognitive Behavior Therapy: Applying
Empirically Supported Techniques in Your
Practice (O’Donohue, Fisher, & Hayes,
2003) merupakan koleksi yang bermanfaat
dari bab bab singkat dalam
mengaplikasikan secara empiris teknik-
teknik yang mendukung dalam bekerja
dengan masalah saat ini yang beragam.
Kebanyakan dari bab ini dapat diaplikasian
untuk terapi individu maupun kelompok.
Mind Over Mood: Change How You Feel
by Changing the Way You Think
(Greenberger & Padesky, 1995)
menyediakan langkah kerja untuk
mengidentifikasi suasana hati,
menyelesaikan masalah, dan menguji
pemikiran yang berhubungan dengan
depresi, kebingungan, kemarahan, rasa
bersalah, dan rasa malu. Ini merupaka
buku kerja selp-help yang sangat berguna
dan merupakan alat yang berharga bagi
terapis dan klien yang mempelajari
keahlian terapi kognitif.
Clinician’s Guide to Mind Over Mood
(Padesky & Greenberger, 1995)
menunjukkan kepada terapis bagaimana
mengintegrasikan Mind Over Mood dalam
terapi dan menggunakan protokol
perlakuan terapi kognitif untuk diagnosa
spesifik. Gambaran singkat dari terapi
kognitif memiliki petunjuk penyelesaian
masalah, mereview masalah kultural, dan
memberikan petunjuk bagi terapi individu,
pasangan dan kelompok
REFERENSI DAN BACAAN YANG DISARANKAN
*ALFORD, B. A., & BECK, A. T. (1997).
The integrative power of cognitive
therapy. New York: Guilford Press.
ARNKOFF, D. B., & GLASS, C. R. (1992).
Cognitive therapy and psychotherapy
integration. In
D. K. Freedheim (Ed.), History of
psychotherapy: A century of change
(pp. 657694). Washington, DC:
American Psychological Association.
BECK, A. T. (1963). Thinking and
depression: Idiosyncratic content and
cognitive distortions. Archives of
General Psychiatry, 9, 324333.
BECK, A. T. (1967). Depression: Clinical,
experimental, and theoretical aspects.
New York: Harper & Row.
(Republished as Depression: Causes
and treatment. Philadelphia:
University of Pennsylvania Press,
1972)
*BECK, A. T. (1976). Cognitive therapy
and emotional disorders. New York:
International Universities Press.
BECK, A. T. (1987). Cognitive therapy. In
J. K. Zeig (Ed.), The evolution of
psychotherapy (pp. 149 178). New
York: Brunner/Mazel.
*BECK, A. T. (1988). Love is never enough.
New York: Harper & Row.
BECK, A. T. (1991). Cognitive therapy: A
30-year retrospective. American
Psychologist, 46(4), 368375.
BECK, A. T., & HAAGA, D. A. F. (1992).
The future of cognitive therapy.
Psychotherapy, 29(1), 3438.
*BECK, A. T., RUSH, A., SHAW, B., &
EMERY, G. (1979). Cognitive therapy
of depression. New York: Guilford
Press.
*BECK, A. T., & WEISHAAR, M. E.
(2008). Cognitive therapy. In R. J.
Corsini & D. Wedding (Eds.), Current
psychotherapies (8th ed., pp. 263
294). Belmont, CA: Brooks/Cole.
BECK, A., WRIGHT, E. D., NEWMAN, C.
E., & LIESE, B. (1993). Cognitive
therapy of substance abuse. New
York: Guilford Press.
*BECK, J. S. (1995). Cognitive therapy:
Basics and beyond. New York:
Guilford Press.
*BECK, J. S. (2005). Cognitive therapy for
challenging problems. New York:
Guilford Press.
BECK, J. S., & BUTLER, A. C. (2005).
Treating psychotherapists with
cognitive therapy. In J. D. Geller, J. C.
Norcross, & D. E. Orlinsky (Eds.), The
psychotherapist’s own psychotherapy:
Patient and clinician perspectives (pp.
254264). New York: Oxford
University Press.
*BURNS, D. (1988). Feeling good: The new
mood therapy. New York: Signet.
BURNS, D. (1989). The feeling good
handbook. New York: Morrow
CHAMBLESS, D. L., & PETERMAN, M.
(2006). Evidence on cognitive-
behavioral therapy for generalized
anxiety disorder and panic disorder. In
R. L. Leahy (Ed.), Contemporary
cognitive therapy: Theory, research,
and practice (pp. 86115). New York:
Guilford Press.
*COREY, G. (2008). Theory and practice of
group counseling (7th ed.). Belmont,
CA: Brooks/ Cole.
*COREY, G. (2009a). Case approach to
counseling and psychotherapy (7th
ed.). Belmont, CA: Brooks/Cole.
COREY, G. (2009b). Student manual for
theory and practice of counseling and
psychotherapy (8th ed.). Belmont, CA:
Brooks/Cole.
*DATTILIO, F. M. (1993). Cognitive
techniques with couples and families.
The Family Journal, 1(1), 5165.
DATTILIO, F. M. (1995). Cognitive therapy
in Egypt. Journal of Cognitive
Psychotherapy, 9(4), 285286.
*DATTILIO, F. M. (Ed.). (1998). Case
studies in couple and family therapy:
Systemic and cognitive perspectives.
New York: Guilford Press.
DATTILIO, F. M. (2000a). Cognitive-
behavioral strategies. In J. Carlson &
L. Sperry (Eds.), Brief therapy with
individuals and couples (pp. 3370).
Phoenix, AZ: Zeig, Tucker & Theisen.
DATTILIO, F. M. (2000b). Families in
crisis. In F. M. Dattilio & A. Freeman
(Eds.), Cognitivebehavioral strategies
in crisis intervention (2nd ed., pp.
316338). New York: Guilford Press.
DATTILIO, F. M. (2001). Cognitive-
behavior family therapy:
Contemporary myths and
misconceptions. Contemporary Family
Therapy, 23(1), 318.
DATTILIO, F. M. (2002a, January
February). Cognitive-behaviorism
comes of age: Grounding symptomatic
treatment in an existential approach.
The Psychotherapy Networker, 26(1),
7578.
DATTILIO, F. M. (2002b). Homework
assignments in couple and family
therapy. Journal of Clinical
Psychology, 58(5), 535547.
DATTILIO, F. M. (2005). Restructuring
family schemas: A cognitive-
behavioral perspective. Journal of
Marital and Family Therapy, 31(1),
1530.
DATTILIO, F. M. (2006). Cognitive-
behavioral family therapy: A coming
of age story. In R. L. Leahy (Ed.),
Contemporary cognitive therapy:
Theory, research, and practice (pp.
389405). New York: Guilford Press.
DATTILIO, F. M., & CASTALDO, J. E.
(2001). Differentiating symptoms of
anxiety from relapse of Guillain-
Barre-syndrome. Harvard Review of
Psychiatry, 9(5), 260265.
DATTILIO, F. M., & FREEMAN, A.
(1992). Introduction to cognitive
therapy. In A. Freeman & E. M.
Dattilio (Eds.), Comprehensive
casebook of cognitive therapy (pp. 3
11). New York: Plenum Press.
*DATTILIO, F. M., & FREEMAN, A.
(Eds.). (2007). Cognitive-behavioral
strategies in crisis intervention (3rd
ed.). New York: Guilford Press.
DATTILIO, F. M., & KENDALL, P. C.
(2007). Panic disorder. In F. M.
Dattilio & A. Freeman (Eds.),
Cognitive-behavioral strategies in
crisis intervention (3rd ed., pp. 59
83). New York: Guilford Press.
*DATTILIO, F. M., & PADESKY, C. A.
(1990). Cognitive therapy with
couples. Sarasota, FL: Professional
Resources Exchange.
DERUBEIS, R. J., & BECK, A. T. (1988).
Cognitive therapy. In K. S. Dobson
(Ed.), Handbook of cognitive-
behavioral therapies (pp. 273306).
New York: Guilford Press.
DRYDEN, W. (2002). Rational emotive
behaviour therapy. In W. Dryden
(Ed.), Handbook of individual therapy
(4th ed., pp. 347372). London: Sage.
*ELLIS, A. (1994). Reason and emotion in
psychotherapy revised. New York:
Kensington.
*ELLIS, A. (1996). Better, deeper, and
more enduring brief therapy: The
rational emotive behavior therapy
approach. New York: Brunner/Mazel.
*ELLIS, A. (1997). The evolution of Albert
Ellis and rational emotive behavior
therapy. In J. K. Zeig (Ed.), The
evolution of psychotherapy: The third
conference (pp. 6982). New York:
Brunner/Mazel.
*ELLIS, A. (1999). How to make yourself
happy and remarkably less
disturbable. Atascadero, CA: Impact.
*ELLIS, A. (2000). How to control your
anxiety before it controls you. New
York: Citadel Press.
*ELLIS, A. (2001a). Feeling better, getting
better, and staying better. Atascadero,
CA: Impact.
*ELLIS, A. (2001b). Overcoming
destructive beliefs, feelings, and
behaviors. Amherst, NY: Prometheus
Books.
*ELLIS, A. (2002). Overcoming resistance:
A rational emotive behavior therapy
integrated approach (2nd ed.). New
York: Springer.
ELLIS, A. (2003). Cognitive restructuring of
the disputing of irrational beliefs. In
W. O’Donohue, J. E. Fisher, & S. C.
Hayes (Eds.), Cognitive behavior
therapy: Applying empirically
supported techniques in your practice
(pp. 7983). Hoboken, NJ: Wiley.
*ELLIS, A. (2004a). Rational emotive
behavior therapy: It works for meIt
can work for you. Amherst, NY:
Prometheus.
*ELLIS, A. (2004b). The road to tolerance:
The philosophy of rational emotive
behavior therapy. Amherst, NY:
Prometheus.
ELLIS, A. (2008). Rational emotive
behavior therapy. In R. Corsini & D.
Wedding (Eds.), Current
psychotherapies (8th ed., pp. 187
222). Belmont, CA: Brooks/Cole.
*ELLIS, A., & BLAU, S. (Eds.). (1998).
The Albert Ellis reader. New York:
Kensington.
*ELLIS, A., & CRAWFORD, T. (2000).
Making intimate connections: Seven
guidelines for great relationships and
better communication. Atascadero,
CA: Impact.
*ELLIS, A., & DRYDEN, W. (1997). The
practice of rational-emotive therapy
(Rev. ed.). New York: Springer.
ELLIS, A., GORDON, J., NEENAN, M., &
PALMER, S. (1997). Stress
counseling: A rational emotive
behavior approach. New York:
Springer.
ELLIS, A., & HARPER, R. A. (1997). A
guide to rational living (3rd ed.).
North Hollywood, CA: Melvin Powers
(Wilshire Books).
*ELLIS, A., & MACLAREN, C. (1998).
Rational emotive behavior therapy: A
therapist’s guide. Atascadero, CA:
Impact.
*ELLIS, A., & VELTEN, E. (1998).
Optimal aging: How to get over
growing older. Chicago: Open Court.
ELLIS, A., & WILDE, J. (2001). Case
studies in rational emotive behavior
therapy with children and adolescents.
Upper Saddle River, NJ: Merrill,
Prentice-Hall.
EPSTEIN, N. B. (2006). Cognitive-
behavioral therapy with couples:
Theoretical and empirical status. In R.
L. Leahy (Ed.), Contemporary
cognitive therapy: Theory, research,
and practice (pp. 367388). New
York: Guilford Press.
FREEMAN, A., & DATTILIO, R. M.
(Eds.). (1992). Comprehensive
casebook of cognitive therapy. New
York: Plenum Press.
FREEMAN, A., & DATTILIO, R. M.
(1994). Cognitive therapy. In J. L.
Ronch, W. Van Ornum, &
N. C. Stilwell (Eds.), The counseling
sourcebook: A practical reference on
contemporary issues (pp. 6071). New
York: Continuum Press.
FREEMAN, A., & DEWOLF, R. (1990).
Woulda, coulda, shoulda. New York:
Morrow.
FREEMAN, A., & REINECKE, M. A.
(1993). Cognitive therapy of suicidal
behavior: A manual for treatment.
New York: Springer.
GRANVOLD, D. K. (Ed.). (1994).
Cognitive and behavioral treatment:
Method and applications. Pacifi c
Grove, CA: Brooks/Cole.
*GREENBERGER, D., & PADESKY, C.
A. (1995). Mind over mood: Change
how you feel by changing the way you
think. New York: Guilford Press.
HORNEY, K. (1950). Neurosis and human
growth. New York: Norton.
LEAHY, R. L. (2002). Cognitive therapy:
Current problems and future
directions. In R. L. Leahy & E. T.
Dowd (Eds.), Clinical advances in
cognitive psychotherapy: Theory and
application (pp. 418434). New York:
Springer.
*LEAHY, R. L. (2005). The worry cure:
Seven steps to stop worry from
stopping you. New York: Harmony
Books.
*LEAHY, R. L. (2006a). (Ed.).
Contemporary cognitive therapy:
Theory, research, and practice. New
York: Guilford Press.
*LEAHY, R. L. (2006b). (Ed.). Roadblocks
in cognitivebehavioral therapy. New
York: Guilford Press.
*LEDLEY, D. R., MARX, B. P., &
HEIMBERG, R. G. (2005). Making
cognitive-behavioral therapy work:
Clinical processes for new
practitioners. New York: Guilford
Press.
MACY, R. J. (2007). Cognitive therapy. In
A. B. Rochlen (Ed.), Applying
counseling theories: An online case-
based approach (pp. 157176). Upper
Saddle River, NJ: Pearson Prentice-
Hall.
MAULTSBY, M. C. (1984). Rational
behavior therapy. Englewood Cliffs,
NJ: Prentice-Hall.
*MEICHENBAUM, D. (1977). Cognitive
behavior modifi cation: An integrative
approach. New York: Plenum Press.
*MEICHENBAUM, D. (1985). Stress
inoculation training. New York:
Pergamon Press.
MEICHENBAUM, D. (1986). Cognitive
behavior modifi cation. In F. H.
Kanfer & A. P. Goldstein (Eds.),
Helping people change: A textbook of
methods (pp. 346380). New York:
Pergamon Press.
MEICHENBAUM, D. (1994). A clinical
handbook/ practical therapist manual:
For assessing and treating adults with
post-traumatic stress disorder (PTSD).
Waterloo, Ontario: Institute Press.
MEICHENBAUM, D. (1997). The
evolution of a cognitive-behavior
therapist. In J. K. Zeig (Ed.), The
evolution of psychotherapy: The third
conference (pp. 96104). New York:
Brunner/ Mazel.
*MEICHENBAUM, D. (2003). Stress
inoculation training. In W. O’Donohue, J.
E. Fisher, & S. C. Hayes, (Eds.)
Cognitive behavior therapy: Applying
empirically supported techniques in your
practice (pp. 407410). Hoboken, NJ:
Wiley.
NEWMAN, C. (2006). Substance abuse. In
R. L. Leahy (Ed.), Contemporary
cognitive therapy: Theory, research, and
practice (pp. 206227). New York:
Guilford Press.
O’DONOHUE, W., FISHER, J. E., &
HAYES, S. C. (Eds.). (2003). Cognitive
behavior therapy: Applying empirically
supported techniques in your practice.
Hoboken, NJ: Wiley.
PADESKY, C. A. (2006). Aaron T. Beck:
Mind, man, and mentor. In R. L. Leahy
(Ed.), Contemporary cognitive therapy:
Theory, research, and practice (pp. 3
24). New York: Guilford Press.
*PADESKY, C. A., & GREENBERGER,
D. (1995). Clinician’s guide to mind over
mood. New York: Guilford Press.
PATTERSON, C. H., & WATKINS, C. E.
(1996). Theories of psychotherapy (5th
ed.). New York: HarperCollins.
PETROCELLI, J. V. (2002). Effectiveness
of group cognitive-behavioral therapy for
general symptomatology: A meta-
analysis. Journal for Specialists in Group
Work, 27(1), 92115.
PRETZER, J., & BECK, J. (2006).
Cognitive therapy of personality
disorders. In R. L. Leahy (Ed.),
Contemporary cognitive therapy: Theory,
research, and practice (pp. 299318).
New York: Guilford Press.
REINECKE, M., DATTILIO, F. M., &
FREEMAN, A. (Eds.). (2002). Casebook
of cognitive behavior therapy with
children and adolescents (2nd ed.). New
York: Guilford Press.
RISKIND, J. H. (2006). Cognitive theory
and research on generalized anxiety
disorder. In R. L. Leahy (Ed.),
Contemporary cognitive therapy: Theory,
research, and practice (pp. 62 85). New
York: Guilford Press.
SAFRAN, J. D. (1998). Widening the scope
of cognitive therapy. Northvale, NJ:
Jason Aronson.
SCHER, C. D., SEGAL, Z. V., & INGRAM,
R. E. (2006). Beck’s theory of
depression: Origins, empirical status, and
future directions for cognitive
vulnerability. In R. L. Leahy (Ed.),
Contemporary cognitive therapy: Theory,
research, and practice (pp. 2761). New
York: Guilford Press.
SHARF, R. S. (2008). Theories of
psychotherapy and counseling: Concepts
and cases (4th ed.). Belmont, CA:
Brooks/Cole.
SPIEGLER, M. D. (2008). Behavior therapy
II: Cognitive-behavioral therapy. In J.
Frew & M. D. Spiegler (Eds.),
Contemporary psychotherapies for a
diverse world (pp. 320359). Boston:
Lahaska Press.
*TOMPKINS, M. A. (2004). Using
homework in psychotherapy: Strategies,
guidelines, and forms. New York:
Guilford Press.
*TOMPKINS, M. A. (2006). Effective
homework. In R. L. Leahy (Ed.),
Roadblocks in cognitive behavioral
therapy (pp 4966). New York: Guilford
Press.
VERNON, A. (2007). Rational emotive
behavior therapy. In D. Capuzzi & D. R.
Gross (Eds.), Counseling and
psychotherapy: Theories and
interventions (4th ed., pp. 266288).
Upper Saddle River, NJ: Merrill Prentice-
Hall.
WARREN, R., & MCLELLARN, R. W.
(1987). What do RET therapists think
they are doing? An international survey.
Journal of Rational Emotive Therapy,
5(2), 92107.
WEISHAAR, M. E. (1993). Aaron T. Beck.
London: Sage.
*WHITE, J. R., & FREEMAN, A. (Eds.).
(2000). Cognitive-behavioral group
therapy for specific problems and
populations. Washington, DC: American
Psychological Association.
WOLFE, J. L. (2007). Rational emotive
behavior therapy (REBT). In A. B.
Rochlen (Ed.), Applying counseling
theories: An online case-based approach
(pp. 177191). Upper Saddle River, NJ:
Pearson Prentice-Hall.
YANKURA, J., & DRYDEN, W. (1994).
Albert Ellis. Thousand Oaks, CA: Sage.
BAB SEBELAS
Terapi Realitas
Pengantar
Konsep Kunci
Pandangan Alam Manusia
Teori Pilihan Penjelasan Perilaku
Karakteristik Terapi Realitas
Proses Terapi
Tujuan Terapi
Fungsi dan Peran Terapis
Pengalaman Klien dalam Terapi
Hubungan Antara Terapis dan Klien
Aplikasi: Teknik dan Prosedur
Terapi
Praktek Terapi Realitas
Lingkungan Konseling
Prosedur yang Menyebabkan
Perubahan
Sistem "WDEP"
Aplikasi untuk Konseling Kelompok
Terapi Realitas dari Perspektif
Multikultural
Kekuatan Dari Perspektif Keragaman
Kekurangan Dari Perspektif
Keragaman
Terapi Realitas Diterapkan untuk
Kasus Stan
Ringkasan dan Evaluasi
Kontribusi Terapi Realitas
Keterbatasan dan Kritik Terapi
Realitas
Ke mana Pergi Dari Sini
Bacaan Tambahan yang
Direkomendasikan
Referensi dan Bacaan yang
Disarankan
WILLIAM GLASSER
WILLIAM
GLASSER (lahir
tahun 1925) dididik
di Universitas Case
Western Reserve di
Cleveland, Ohio.
Awalnya seorang
insinyur kimia, ia
beralih ke psikologi (MA, Psikologi Klinis,
1948) dan kemudian ke psikiatri, mengikuti
sekolah kedokteran (MD, 1953) dengan
maksud menjadi seorang psikiater. Pada
tahun 1957 ia telah menyelesaikan pelatihan
psikiatriknya di Veterans Administration
dan UCLA di Los Angeles dan pada tahun
1961 mendapat sertifikasi dewan psikiatri.
Glasser menikah dengan Naomi
selama 47 tahun, dan dia sangat terlibat
dengan William Glasser Institute sampai
kematiannya pada tahun 1992. Pada 1995
Glasser menikahi Carleen, yang merupakan
seorang instruktur di Institute. Sampai baru-
baru ini Glasser sering bermain tenis, dan
sekarang, pada usia 82, ia menikmati
menonton bola basket di televisi.
Awalnya Glasser sangat menolak
model Freudian, sebagian karena
pengamatannya terhadap terapis terlatih
psikoanalisis yang tampaknya tidak
menerapkan prinsip-prinsip Freudian.
Sebaliknya, mereka cenderung meminta
orang-orang untuk bertanggungjawab atas
perilaku mereka. Di awal karirnya, Glasser
adalah seorang psikiater di Ventura School
untuk anak perempuan, sebuah penjara dan
sekolah yang dioperasikan oleh California
Youth Authority. Dia menjadi yakin bahwa
pelatihan psikoanalitiknya adalah utilitas
terbatas dalam konseling kaum muda ini.
Dari pengamatan ini, Glasser berpikir yang
terbaik untuk berbicara dengan bagian waras
klien, bukan sisi mereka yang terganggu.
Glasser juga dipengaruhi oleh G. L.
Harrington, seorang psikiater dan mentor.
Harrington percaya bahwa pasiennya terlibat
dalam proyek-proyek di dunia nyata, dan
pada akhir masa tinggalnya Glasser mulai
menyusun apa yang pada tahun 1962 dikenal
sebagai terapi realitas.
Glasser menjadi yakin bahwa sangat
penting bagi klien untuk menerima
tanggungjawab pribadi atas perilaku mereka.
Pada awal 1980-an, Glasser mencari teori
yang bisa menjelaskan semua karyanya.
Glasser belajar tentang teori kontrol dari
William Powers, dan dia percaya teori ini
memiliki potensi besar. Dia menghabiskan
10 tahun ke depan untuk mengembangkan,
merevisi, dan mengklarifikasi apa yang
awalnya diajarkan padanya. Pada 1996
Glasser menjadi yakin bahwa revisi-revisi
ini telah begitu mengubah teori sehingga
menyesatkan untuk terus menyebutnya
sebagai teori kontrol, dan ia mengubah nama
menjadi teori pilihan untuk mencerminkan
semua yang telah ia kembangkan. Inti dari
terapi realitas, yang sekarang diajarkan di
seluruh dunia, adalah bahwa kita semua
bertanggungjawab atas tindakan yang kita
pilih. Asumsi dasarnya adalah bahwa kita
semua dapat mengendalikan kehidupan kita
saat ini.
Pengantar
Terapis realita percaya bahwa masalah yang mendasari kebanyakan klien adalah sama: Mereka
terlibat dalam hubungan yang tidak memuaskan saat ini atau bahkan bisa disebut tidak memiliki
hubungan. Banyak masalah klien disebabkan oleh ketidakmampuan mereka untuk terhubung,
untuk menjadi dekat dengan orang lain, atau untuk memiliki hubungan yang memuaskan atau
sukses dengan setidaknya satu orang penting dalam kehidupan mereka. Terapis membimbing
klien menuju hubungan yang memuaskan dan mengajarkan mereka untuk berperilaku dengan
cara yang lebih efektif daripada yang mereka lakukan saat ini. Semakin banyak klien dapat
terhubung dengan orang-orang, semakin besar peluang mereka untuk mengalami kebahagiaan.
Hanya sedikit klien yang memahami bahwa masalah mereka adalah cara mereka memilih
untuk berperilaku. Yang mereka tahu adalah bahwa mereka merasa sangat kesakitan atau bahwa
mereka tidak bahagia karena mereka telah dikirim untuk konseling oleh seseorang dengan
otoritas yang tidak puas dengan perilaku mereka biasanya pejabat pengadilan, administrator
sekolah, pasangan hidup, atau orang tua. Terapis realita mengakui bahwa klien memilih perilaku
mereka sebagai cara untuk mengatasi frustrasi yang disebabkan oleh hubungan yang tidak
memuaskan. Semua pilihan perilaku ini mulai dari psikosis berat hingga depresi ringan
dijelaskan secara rinci dalam DSM-IV-TR (APA, 2000).
Glasser mengatakan bahwa klien seharusnya tidak diberikan diagnosis kecuali jika klien
membutuhkan diagnosis tersebut untuk keperluan asuransi. Menurut perspektif Glasser,
diagnosis merupakan deskripsi perilaku yang kita tetapkan dimana deskripsi ini kita gunakan
sebagai cara kita menghadapi rasa sakit dan frustrasi endemik kita yang dihadapi saat ini.
Dengan demikian, menamai atau melabeli perilaku diri yang tidak efektif sebagai penyakit
kejiwaan tidak lah benar. Menurut Glasser, penyakit kejiawaan adalah kondisi-kondisi buruk
kesehatan seperti penyakit Alzeimer, epilepsy, trauma otak, dan infeksi otak-kondisi kesehatan
yang berkaitan dengan kerusakan otak. Karena pasien penyakit-penyakit ini menderita kelainan
otak, kondisi penyakit yang mereka alami sebaiknya ditangani oleh neurologis.
Seperti yang dijelaskan Glasser dalam ketiga buku terbarunya (1998, 2001, 2003), terapi
realitas didasarkan atas teori. (Dalam bab ini, pembahasan mengenai pemikiran-pemikiran
Glasser yang dibahas akan berkaitan dengan ketiga buku ini, sumber pembahasan akan tertera
jika pembahasannya bukan berasal dari ketiga buku ini.) Teori pilihan memberikan penjelasan
mengenai megapa dan bagaimana diri kita berperilaku, dan terapi realitas berperan sebagai
sistem untuk membantu klien mengambil alih kendali hidup mereka. Terapi ini utamanya
mengajarkan klien membuat keputusan yang lebih efektif dalam berurusan dengan orang-orang
sekitar lingkungan kehidupan mereka. Glasser mengatakan bahwa terapis harus menjalin
hubungan baik dengan klien. Ketika hubungan ini telah terjalin dengan baik, keahlian terapis
sebagai guru akan menjadi aspek yang sangat penting dalam proses terapi.
Terapi realitas telah diterapkan dalam berbagai lingkungan kehidupan. Pendekatan ini
dapat diterapkan dalam model konseling, bantuan sosial, pendidikan, pencegahan krisis,
perbaikan dan rehabilitasi, manajemen institusional, dan dalam model pengembangan
masyarakat. Terapi realitas populer diterapkan dalam lingkungan sekolah, institusi rehabilitasi,
rumah sakit umum, rumah sakit jiwa, dan pusat penanganan kecanduan narkoba. Sejumlah klinik
militer yang menangani pecandu alkohol dan narkoba menggunakan terapi realitas sebagai
pendekatan terapi menangani para pecandu ini.
Konsep-Konsep Utama
Pandangan mengenai Sifat Manusia
Teori keputusan mengatakan bahwa diri kita tidak terlahir sebagai kanvas kosong yang
menunggu untuk dipengaruhi secar eksternal oleh lingkungan dunia kita. Akan tetapi, kita
terlahir dengan kebutuhan genetik tertanam dalam diri kita-pertahanan diri, perasaan mencintai
dan perasaan nyaman, kekuasaan atau keberhasilan, kebebasan atau independensi, dan
perasaan senang-yang menggerakan diri kita semua. Semua orang memiliki lima kebutuhan
dasar ini, namun intensitas tiap-tiap kebutuhan berbeda tergantung masing-masing individu.
Cpntohnya, kita semua memiliki kebutuhan untuk merasakan cinta dan kenyamanan, namun
sebagian orang lebih memerlukan dirinya untuk merasakan cinta sebagai kebutuhan dasarnya
daripada memenuhi kebutuhan dasar lain. Teori keputusan didasarkan atas asumsi bahwa karena
kita adalah mahkluk sosial, kita perlu merasakan dan menerima cinta. Glasse (2001, 2005)
mengatakan bahwa kebutuhan untuk merasakan cinta dan kenyamanan adalah kebutuhan primer
diri manusia karena kita memerlukan orang lain untuk memenuhi kebutuhan lain diri kita.
Kebutuhan dasar untuk merasakan cinta dan kenyamanan ini merupakan kebutuhan yang paling
sulit untuk dipenuhi karena kita memerlukan orang lain untuk memenuhi kebutuhan ini.
Otak kita berfungsi sebagai sistem pengendali. Otak kita terus-menerus memeriksa
perasaan diri kita untuk menentukan seberapa baik diri kita memenuhi kebutuhan-kebutuhan
dasar ini, Kita tidak merasa bahagia ketika setidaknya salah satu lima kebutuhan dasar diri kita
ini tidak terpenuhi.
Meskipun kita tidak menyadari kebutuhan dasar diri kita ini, kita tahu bahwa kita ingin
memperbaiki diri kita menjadi lebih baik. Terdorong oleh rasa sakit, kita berusaha mencari cara
membuat diri kita merasa lebih baik. Terapis pengguna pendekatan terapis realitas mengajarkan
klien teori keputusan sehingga klien dapat mengidentifikasi kebutuhan dirinya yang tidak
terpenuhi, sehingga merekapun dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Teori pilihan mengajarkan bahwa kita tidak memenuhi kebutuhan diri kita secara
langsung. Perbuatan yang kita lakukan tidak lama sejak kita lahir hingga sekarang ini pada
dasarnya adalah memperhatikan hal-hal apa saja yang membuat kita merasa lebih baik. Kita
menyimpan informasi-informasi tersebut dalam otak dan membangun sebuah dokumen yang
terdiri atas segala keinginan kita, yang kita sebut sebagai dunia kualitas, yang merupakan inti
pandangan kehidupan diri kita. Pandangan ini adalah Shangri-la pribadi kita-dunia yang ingin
kita tinggal jika kita bisa. Dunia Shangri-la pribadi diri kita ini didasarkan sepenuhnya atas
keinginan dan kebutuhan diri kita, dimana kebutuhan diri kita bersifat umum sedangkan
keinginan diri kita bersifat khusus. Dunia kualitas terdiri atas gambaran orang-orang, aktivitas,
peristiwa, keyakinan, kepunyaan, dan situasi-situasi tertentu yang memenuhi kebutuhan diri kita
(Wubbolding, 2000). Dunia kualitas diri kita ini seperti sebuah album gambar. Kita
mengembangkan album gambar internal diri kita yang berisi keinginan-keinginan tertentu diri
kita dan cara-cara tertentu yang kita akan lakukan untuk memenuhi keinginan-keinginan ini. Kita
berusaha untuk berperilaku sedemikian rupa untuk memenuhi keinginan-keinginan diri kita ini.
Beberapa gambar dalam album internal diri kita ini mungkin masih belum jelas terlihat, dan
peran terapis adalah untuk membantu klien memperjelas gambar-gambar blur tersebut. Tiap-tiap
keinginan diri kita ini memiliki prioritasnya masing-masing, namun klien mungkin akan sulit
mengidentifikasikan prioritas-prioritas tersebut. Sebagian besar proses terapi realitas dilakukan
dengan membantu klien memprioritaskan keinginan diri mereka dan menemukan keinginan-
keingan terpenting untuk diri mereka.
Orang-orang sekitar kita merupakan komponen paling penting dalam dunia kualitas kita,
dan kita sangat ingin menjalin hubungan dengan orang-orang penting sekitar diri kita ini.
Gambaran dunia kualitas kita terdiri atas orang-orang terdekat dan orang-orang terakrab kita.
Klien yang melakukan terapi realitas ini pada umumnya tidak memiliki gambaran siapa orang-
orang terdekatnya, atau terkadang juga klien terapi realitas ini memiliki seseorang yang dekat
dengannya, namun orang tersebut tidak memenuhi kebutuhan dirinya. Supaya terapi ini dapat
berhasil, terapis harus menjadi orang yang klien dapat masukkan ke dalam dunia kualitasnya.
Cara terapis untuk bisa masuk ke dalam dunia klien merupakan bagian dari seni terapi. Melalui
jalinan hubungan dengan terapis, klien dapat mengetahui bagaimana cara mendekatkan diri
mereka kepada orang-orang yang mereka butuhkan dalam hidupnya.
Penjelasan Perilaku Menurut Teori Keputusan
Teori keputusan menjelaskan bahwa seluruh hal yang kita lakukan sejak kita lahir hingga
kita meninggal adalah berperilaku dan semua perilaku kita merupakan perilaku keputusan diri
kita sendiri. Keseluruhan perilaku yang kita lakukan ini merupakan usaha-usaha terbaik kita
memenuhi kebutuhan diri kita. Keseluruhan perilaku diri kita ini mengajarkan bahwa semua
perilaku terdiri atas empat komponen berbeda tidak terpisahkan-bertindak, berpikir, merasakan,
dan fisiologi-yang mencakup seluruh tindakan, pikiran, dan perasaan diri kita. Perilaku diri kita
ini memiliki tujuan karena perilaku ini didesain sedemikian rupa untuk menghilangkan
kesenjangan antara apa yang kita inginkan dengan apa yang kita peroleh. Perilaku-perilaku
tertentu yang kita lakukan selalu bersumber dari adanya kesenjangan ini. Perilaku kita berasal
dari dalam diri, sehingga kitalah yang memutuskan takdir kita.
Glasser mengatakan tidaklah tepat untuk menganggap bahwa diri kita merasa depresi,
pusing, marah, atau merasa cemas mengimplikasikan adanya sikap pasif dan kurangnya
tanggung jawab pribadi dalam diri kita. Anggapan lebih tepat adalah untuk melihat masalah-
masalah perasaan diri kita ini sebagai bagian dari keseluruhan perilaku kita dan untuk
menggunakan bentuk verba menjadi mendepresikan, memusingkan, memancing amarah, dan
mencemaskan sebagai cara mengekspresikan perasaan-perasaan tersebut. Kita memutuskan
untuk menyengsarakan diri kira dengan mengembangkan sejumlah perilaku yang
“menyakitkan karena hanya perilaku-perilaku ini saja yang bisa lakukan di waktu tersebut, dan
perilaku-perilaku ini seringkali mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Ketika terapis pengguna pendekatan terapi realitas mengajarkan teori keputusan,
seringkali klien akan protes dan berkata, “Saya saat ini merasa menderita, jangan bilang bahwa
saya menderita karena keputusan saya sendiri. Terapis menjelaskan kepada klien bahwa kita
tidak memutuskan secara langsung untuk menderitakan diri kita; namun rasa menderita yang kita
rasa ini merupakan efek samping yang timbul dari keseluruhan perilaku kita yang tidak sehar.
Perilaku yang kita lakukan, meskipun tidak efisien, merupakan cara terbaik kita memenuhi
kebutuhan diri kita.
Robert Wubbolding (komunikasi personal, 22 Juni, 2007) menambahkan gagasan baru
dalam teori keputusan. Ia mengatakan bahwa perilaku diri kita merupakan suatu bahasa, dan
bahwa kita sebenarnya sedang mengkomunikasikan sesuatu melalui perilaku kita. Tujuan
perilaku yang kita lakukan adalah untuk mempengaruhi dunia sekeliling kita untuk memenuhi
kebutuhan diri kita. Terapis bertanya kepada klien pesan apa yang mereka sampaikan pada dunia
sekeliling mereka melalui perilaku yang mereka lakukan: “Pesan apa yang ingin anda sampaikan
pada orang sekitar anda?” “Pesan apa yang orang sekitar anda terima melalui perilaku yang anda
lakukan” Dengan mengetahui pesan-pesan yang klien ingin sampaikan pada orang lain di
dunianya, konselor secara tidak langsung dapat membantu klien memahami pesan-pesan yang
mereka sampaikan pada orang lain sekitar secara tidak sengaja.
Ciri-Ciri Terapi Realitas
Terapi realitas kontemporer berfokus pada jalinan hubungan klien yang tidak
memuaskan, atau pada tidak adanya hubungan yang klien jalin, dimana hal ini seringkali menjadi
penyebab terciptanya masalah-masalah yang dihadapi klien. Klien biasanya akan protes
mengenai masalah-masalah hidup mereka seperti permasalahan tidak menemukan pekerjaan
tetap, permasalahan akademik di sekolah, atau permasalahan hubungan mereka. Ketika klien
mengeluh dan mengatakan bahwa orang lainlah yang membuat mereka sengsara, terapis tidak
mencampuri pikiran klien untuk mencari kecacatan cara berpikir klien ini. Terapis pengguna
pendekatan terapi realitas meminta klien untuk mengkontemplasi kembali keputusan-keputusan
hidup mereka, khususnya karena keputusan-keputusan ini mempengaruhi jalinan hubungan
mereka dengan orang-orang terdekat dalam hidup mereka. Teori keputusan mengajarkan bahwa
membahas hal-hal di luar kendali klien tidaklah bermanfaat; lebih baik untuk berfokus pada
aspek-aspek yang klien dapat kendalikan dalam hubungan yang klien jalin dalam hidupnya. Inti
teori keputusan, yang klien harus pahami, adalah: “Satu-satunya orang yang bisa anda
kendalikan adalah diri anda sendiri.”
Terapis pengguna pendekatan realitas tidak akan memberikan perhatian pada protes,
keluhan, dan krtikan klien akan masalah-masalah hidupnya karena mengkritik atau mengeluh
adalah perilaku yang paling tidak efisien untuk diri kita. Karena terapis pendekatan ini
menghiraukan keseluruhan perilaku tidak sehat ini, mereka cenderung untuk menghilangkan diri
mereka dari terapi. Lalu apa yang menjadi fokus terapis pendekatan terapi realitas? Berikut
adalah beberapa karakteristik dasar terapi realitas.
MENEKANKAN PENGARUH KEPUTUSAN DAN RASA TANGGUNG JAWAB Jika diri
kita sendirilah yang memutuskan tindakan kita, kita harus bertanggung jawab atas keputusan
yang kita buat. Ini bukan berarti bahwa kita harus menghukum atau menyalahkan diri kita
sendiri, kecuali jika kita melanggar hukum tentunya, namun rasa tanggung jawab atas keputusan
diri kita ini berarti bahwa terapis tidak boleh melupakan bahwa klien bertanggung jawab atas
perilaku mereka sendiri. Teori keputusan mengalihkan fokus dari tanggung jawab pada
keputusan dan memutuskan.
Terapis pendekatan terapi realitas menangani klien dengan anggapan bahwa “seakan-
akan” mereka punya pilihan. Terapis berfokus pada aspek-aspek dimana klien punya pilihan,
dengan begini, klien dapat menjadi lebih dekat dengan orang-orang yang mereka butuhkan
dalam hidup mereka. Contohnya, terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang bermakna, seperti
melakukan pekerjaan, adalah cara yang baik untuk merasa dihargai oleh orang lain lingkungan
sekitar, dan dengan melakukan pekerjaan, klien dapat memenuhi kebutuhan diri mereka untuk
memperoleh kekuasaan. Klien sebagai orang dewasa akan sangat sulit untuk merasa bahagia jika
mereka tidak terlibat dalam segala bentuk aktivitas bermakna. Ketika klien merasa bahagia pada
diri mereka sendiri, mereka tidak lagi merasa perlu untuk memutuskan melakukan perilaku-
perilaku yang tidak efektif dan merusak diri. MENOLAK TRANSFERENSI terapi realita
berusaha untuk menjadi dir mereka sendiri dalam pekerjaan profesional mereka. dengan menjadi
diri sendiri, terapis dapat menggunakan relasi untuk mengajarkan klien bagaimana berhubungan
dengan orang lain dalam hidup mereka. Glasser menyatakan bahwa transferensi adalah suatu
cara dimana terapis dan klien menghindar untuk menjadi diri mereka sendiri dan memiliki apa
yang sedang mereka lakukan sekarang. Hal ini tidaklah realistis bagi terapis untuk terus bersama
ide bahwa mereka adalah siapapun kecuali diri mereka sendiri. Anggap bahwa klien menyatakan,
saya melihat anda sebagai ayah saya atau ibu saya dan inilah mengapa saya berlaku seperti
ini”. Dalam situasi seperti itu, terapi realitas cenderung mengatakan dengan jelas dan tegas,
“saya bukan ibumu, ayah, atau siapapun kecuali diri saya sendiri”
MENJAGA TERAPI TETAP DI MASA KINI beberapa klien mendatangi konseling yakin
bahwa masalah mereka dimulai di masa lalu dan bahwa mereka harus mendatangi masa lalu jika
mereka ingin dibantu. Glasser (2001) mengakui bahwa kita adalah produk dari masa lalu kita
tetapi menolak bahwa kita bukanlah korban dari masa lalu kita kecuali kita memilih hal tersebut.
Namun, banyak model terapi terus mengajarkan bahwa untuk berfungsi dengan baik di masa
kini, kita harus memahami dan mendatangi kembali masa lalu kita. Glasser tidak setuju dengan
keyakinan ini dan menyatakan bahwa apapun kesalahan yang kita lakukan di masa lalu tidaklah
penting sekarang. Kita hanya bisa memenuhi kebutuhan kita saat ini.
Terapi realita tidak sepenuhnya menolak masa lalu. Jika klien ingin membicarakan
tentang kesuksesan atau hubungan yang baik di masa lalu, terapis akan mendengarkan karena ini
mungkin akan terulang di masa kini. Terapis realita akan memberikan cukup waktu dengan
kegagalan masa lalu untuk meyakinkan klin bahwa mereka tidak menolaknya. Sesegera
mungkin, terapis akan memberitahu kline:” apa yang telah terjadi itu telah selesai, tidak dapat
diubah. Semakin banyak waktu kamu habiskan untuk melihat ke masa lalu, semakin kita
menolak untuk melihat ke masa depan.” Meskipun masa lalu telah membentuk masa depan kita,
hal itu tidaklah menentukan masa depan kita (Wubbolding, 2007b).
MENGHINDARI BERFOKUS PADA GEJALA dalam terapi tradisional hal besar tentang
waktu adalah digunakan untuk berfokus pada gejalan dengan menanyakan klien apa yang mereka
rasakan dan mengapa merasa mengobsesi. Berfokus pada masa lalu “melindungi” klien dari
menghadapi kenyataan akan hubungan masa kini yang tidak memuaskan, dan berfokus pada
gejalan melakukan hal yang sama. Glasser (2003) menyatakan bahwa orang-orang yang
memiliki gejala percaya bahwa jika mereka telah terbebas dari gejala tersebut mereka akan
meneukan kebahagiaan. Apakah orang tersebut mengalami depresi atau rasa sakit, mereka
cenderung berfikir bahwa mereka mengalami apa yang terjadi pada mereka sekarang. Mereka
menolak untuk menerima kenyataan bahwa penderitaan mereka disebabkan oleh perilaku yang
telah mereka pilih. Gejala mereka dapat dipandang sebagai cara tubuh memperingatkan mereka
bahwa perilaku yang mereka pilih tidak memnuhi kebutuhan dasar mereka. terapis realita
menghabiskan sedikit mungkin waktu yang bisa dilakukan dalam gejala karena mereka hanya
akan berakhir selama mereka dibutuhkan untuk berhadapan dengan hubungan yang tidak
memuaskan atau frustrasi kebutuhan dasar.
Menurut Glasser, jika klien percaya bahwa terapis ingin mendengarkan gejala mereka
atau menghabiskan waktu untuk membicarakan masa lalu, mereka lebih dari sekadar ingin untuk
menurut. Terlibat dalam perjalanan panjang ke masa lalu atau mengeksplor gejala menghasilkan
terapi yang panjang. Glasser (2005) mempertahankan bahwa klien cenderung menghindari untuk
membicara relasi yang tidak membahagiakan mereka saat ini dengan berfokus pada masa lalu
atau gejala mereka. dia menyatakan bahwa hampir semua gejala disebabkan oleh hubungan tidka
membahagiakan saat ini. Dengan berfokus pada masalah saat ini, khususnya urusan
interpersonal, terapi dapat secara umun sangat dipersingkat.
MENANTANG PANDANGAN TRADISIONAL TENTANG PENYAKIT MENTAL. Teori
pilihan menolak pernyataan tradisional bahwa orang-orang dengan gejala fisik dan psikologi
bermasalah adalah sakit secara mental. Glasser (2003) telah memperingatkan orang-orang untuk
memperhatikan psikiatri, yang dapat membahayakan kesehatan fisik dan mental seseorang. Dia
mengkritik pembanguan psikiatri tradisional karna sangat bergantung pada DSM-IV-TR untuk
diagnosis maupun perlakuan. Glasser (2003) menantang pandangan yang diterima secara
tradisional dari penyakit mental dan perlakuan dengan penggunaan obat. Dia menyatakan bahwa
obat-obatan psikiatri umumnya memiliki efek samping baik secara fisik maupun psikologi.
Proses Terapi
Tujuan Terapi
Tujuan untama dari terapi realita kontemporer adalah untuk membantu klien terhubung atau
terhubung kembali dengan orang-orang ketika mereka telah memilih untuk membuat dunia
berkualitas mereka. selain untuk memenuhi kebutuhan akan cinta dan kepemilikan ini, tujuan
dasar dari terapi realita adalah untuk membantu klien mempelajari cara yang lebih baik untuk
memenuhi kebutuhan mereka, termasuk kekuatan atau prestasi, kebebasan atau
ketidakbergantungan, dan kesenangan. Kebutuhan dasar manusia dijalani untuk berfokus pada
rencana perlakuan dan mengatur tujuan jangka pendek maupun panjang. Wubbolding (2007a)
menuis: bekerja dalam kerangka yang diterima secara sosial dan etika, and aakan membantu
klien mengatus secara realistis tujuan yang dapat dicapai untuk meningkatkan kesehatan,
meningkatkan hubungan manusia, mencapai kontrol diri atau kekuatan, menjadi lebih otonom,
dan menikmati hidup” (pp. 200-201).
Dalam banyak contoh klien secara suka rela datang untuk terapi dan klien inilah yang
paling mudah untuk dibantu. Namun, tujuan lain mencakup bekerja dengan angka yang
meningkat dari klien yang tidak sukarela yang dapat secara aktif menolak terapis dan proses
terapi. Individu-individu ini sering terlibat dalam perilaku kasar, kecanduan, dan perilaku anti-
sosial laninya. Penting bagi konsleor untuk melakukan apapun yang mereka dapat lakukan untuk
dapat terhubungan dengan klien yang tidak sukarela. Jika konselor tidak dapat membuat koneksi,
tidak ada kemungkinan menyediakan bantuan signifikan. Jika konselor dapat membuat sebuah
koneksi, tujuan mengajarkan klien bagaimana memenuhi kebutuhan mereka secara perlahan
dimulai.
Peran dan Fungsi Terapis
Terapi dapat dianggap sebagai proses mentoring dimana terapis adalah guru dan klien adalah
siswa. Terapis realita mengajarkan klien bagaimana untuk terlibat dalam evaluasi diri, yang
dilakukan dengan mengeluarkan pertanyaan, apakah perilaku anda membuat anda
mendapatkan apa yang anda inginkan?” peran dari terapi realita bukanlah untuk membuat
evaluasi bagi klien tetapi untuk menantang klien mengkaji dan mengevaluasi perilaku mereka
sendiri, lalu kemudaian membuat rencana untuk perubahan. Hasilnya adalah relasi yang lebih
baik, kebahagiaan yang meningkat, dan rasa kemampuan untuk mengontrol diri dalam hidup
mereka (Wubbolding, 2007b).
Ini adalah pekerjaan terapis untuk menyampaika ide bahwa seberapa burukpun hal yang
terjadi, selalu ada harapan. Jika terapis dapat menanam rasa akan harapan ini, klien merasa
bahwa dia tidak lagi sendiri dan perubahan itu mungkin. Terapis berfungsi sebagai seorang
advokat, atau seseorang yang berada di sisi klien. Bersama mereka dapat secara kreatif
mengungkapkan kekhawatiran.
Pengalaman Klien dalam Terapi
Klien tidak diharapkan untuk mengingat kembali ke masa lalu atau menyimpang untuk berbicara
tentang gejala. Juga tidak menghabiskan banyak waktu untuk berbicara tentang perasaan yang
terpisah dari tindakan dan pemikiran yang merupakan bagian dari keseluruhan perilaku dimana
klien memiliki kontrol langsung.
Klien cenderung menemukan terapis itu lembut, tetapi dengan tegas menghadapi. Terapis
realita sering memberikan klien pertanyaan seperti: Apakah yang kamu pilih untuk lakukan
membawa kamu lebih dekat ke orang-orang yang ingin agar kamu dekat sekarang?” pertanyaan
ini merupakan bagian dari proses evaluasi diri, dimana ia menjadi batu loncatan dari terapi
realita.
Klien dapat diharapkan untuk mengalami beberapa kegentingan dalam terapi. Waktu itu
penting, ketika setiap sesi bisa jadi yang terakhir. Klien harus dapat mengatakan kepada diri
mereka sendiri, saya dapat mulai untuk menggunakan apa yang kita bicarakan tentang hari ini
dalam hidupku. Saya dapat membawa pengalaman hari ini kedalam terapi karena masalah saya
ada di masa kini, dan terapis saya tidak dapat membuat saya melarikan diri dari kenyataan ini.”
Hubungan Antara Terapis dan Klien
Terapi realita menekankan hubungan saling mendukung dan memahami, atau persekutuan terapi,
yang merupakan fondasi untuk hasil yang efektif (Wubbolding & Brickell, 2005). Meskipun
hubungan terapi itu adalah yang terpenting, ini bukanlah akhir, dan tidak juga secara otomatis
menyembuhkan (Wubbolding et al., 2004).
Agar keterlibatan terapis dan klien muncul, konselor harus memiliki kualitas
pribadi tertentu, termasuk kehangatan, ketulusan, kongruensi, pemahaman, penerimaan,
kepedulian, hormat untuk klien, keterbukaan dan keikhlasan untuk ditantang bagi orang
lain (untuk ciri kepribadian yang lain, lihat Bab 2). Wubbolding (2007b, 2008a)
mengidentifikasi cara spesifik bagi konselor untuk menciptakan suasana yang
mengantarkan keterlibatan dengan klien. Beberapa cara ini mencakup penggunaan
perilaku yang menghadiri, mendengarkan klien, menggantungkan penghakiman klien,
melakukan yang tidak diharapkan, menggunakan humor secara tepat, mendengarkan
metafora dalam mode ekspresi diri klien, mendengarkan tema, menyimpulkan dan
memfokuskan, dan menjadi praktisi beretika. Dasar dari intervensi terapi untuk bekerja
secara efektif terletak pada lingkungan yang aman, bersahabat, dan dapat dipercaya.
Ketika keterlibatan telah dibangun, konselor membantu klien dalam mencapai
pemahaman yang lebih dalam dari konsekuensi perilaku mereka saat ini. Aplikasi:
Teknik dan Prosedur Terapi
Praktek Terapi Realitas
Praktik terapi realitas dapat dikonseptualisasikan sebagai siklus konseling, yang terdiri dari dua
komponen utama: (1) menciptakan lingkungan konseling dan (2) menerapkan prosedur spesifik
yang mengarah pada perubahan perilaku. Seni konseling adalah menenun komponen-komponen
ini bersama-sama dengan cara mengarahkan klien untuk mengevaluasi kehidupan mereka dan
memutuskan untuk bergerak ke arah yang lebih efektif.
Bagaimana komponen-komponen ini berbaur dalam proses konseling? Siklus konseling
dimulai dengan menciptakan hubungan kerja dengan klien, yang telah dijelaskan pada bagian
sebelumnya. Proses berlangsung melalui eksplorasi keinginan, kebutuhan, dan persepsi klien.
Klien mengeksplorasi perilaku total mereka dan membuat evaluasi mereka sendiri tentang
seberapa efektif mereka dalam mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika klien memutuskan
untuk mencoba perilaku baru, mereka membuat rencana yang akan mengarah pada perubahan,
dan mereka berkomitmen pada rencana itu. Siklus konseling termasuk menindaklanjuti seberapa
baik klien melakukan dan menawarkan konsultasi lebih lanjut sesuai kebutuhan.
Penting untuk diingat bahwa walaupun konsepnya mungkin tampak sederhana seperti
yang disajikan di sini, dapat menerjemahkannya ke dalam praktik terapi aktual membutuhkan
keterampilan dan kreativitas yang besar. Meskipun prinsip-prinsipnya akan sama ketika
digunakan oleh konselor mana pun yang disertifikasi dalam terapi realitas, cara penerapannya
bervariasi bergantung pada gaya dan karakteristik pribadi konselor. Prinsip-prinsip ini diterapkan
secara progresif, tetapi tidak boleh dianggap sebagai kategori yang diskrit dan kaku. Seni
mempraktekkan terapi realitas melibatkan jauh lebih banyak daripada mengikuti prosedur
langkah demi langkah seperti dalam buku resep masakan. Meskipun prosedur ini dijelaskan
dalam bahasa yang sederhana dan bebas jargon, mereka dapat menjadi tantangan untuk
diterapkan (Wubbolding, 2007a, 2007b). Konseling bukanlah metode sederhana yang diterapkan
dengan cara yang sama dengan setiap klien. Dengan teori pilihan di latar belakang praktik,
konselor menyesuaikan konseling dengan apa yang disajikan klien. Meskipun konselor siap
untuk bekerja dengan cara yang bermakna bagi klien, langkah menuju hubungan yang
memuaskan tetap ada di latar depan.
Robert Wubbolding adalah seorang terapis realitas yang telah memperluas praktik terapi
realitas (sistem WDEP) untuk menerapkan dan mengajarkan terapi realitas. Selama bertahun-
tahun ia telah memainkan peran utama dalam pengembangan terapi realitas. Saya sangat
menghargai kontribusi Wubbolding dalam pengajaran terapi realitas dan untuk membuat konsep
prosedur terapi. Idenya membuat teori pilihan praktis dan dapat digunakan oleh konselor, dan
sistemnya memberikan dasar untuk membuat konsep dan menerapkan teori. Meskipun terapis
realitas beroperasi dalam semangat teori pilihan, mereka berlatih dengan cara unik mereka
sendiri dan mengembangkan gaya terapi individual mereka sendiri. Bagian ini didasarkan pada
ringkasan terintegrasi dan adaptasi bahan dari berbagai sumber (Glasser, 1992, 1998, 2001;
Wubbolding, 1988, 1991, 1996, 2007a, 2007b, 2008b; Wubbolding et al., 1998, 2004). Buku
Pedoman Siswa yang menyertai buku teks ini berisi grafik Wubbolding (2008a), yang menyoroti
masalah dan tugas yang harus diselesaikan sepanjang siklus konseling.
Lingkungan Konseling
Praktek terapi realitas bertumpu pada asumsi bahwa lingkungan yang mendukung dan
menantang memungkinkan klien untuk mulai membuat perubahan hidup. Hubungan terapeutik
adalah dasar untuk praktik yang efektif; jika ini kurang, ada sedikit harapan bahwa sistem dapat
berhasil diimplementasikan. Konselor yang berharap untuk menciptakan aliansi terapeutik
berusaha menghindari perilaku seperti berdebat, menyerang, menuduh, merendahkan,
memerintah, mengkritik, menemukan kesalahan, memaksa, mendorong alasan, memegang
dendam, menanamkan rasa takut, dan menyerah dengan mudah (Wubbolding, 2008a). Dalam
waktu singkat, klien umumnya mulai menghargai lingkungan teori pilihan yang peduli,
menerima, dan tidak memaksa. Dari lingkungan yang agak konfrontatif namun selalu tidak
mengkritik, tidak menyalahkan, tidak mengeluh, dan peduli inilah klien belajar menciptakan
lingkungan yang memuaskan yang mengarah pada hubungan yang sukses. Dalam suasana bebas
paksaan ini, klien merasa bebas untuk menjadi kreatif dan mulai mencoba perilaku baru.
Prosedur yang Menyebabkan Perubahan
Menurut Glasser (1992), prosedur yang mengarah pada perubahan didasarkan pada asumsi
bahwa manusia termotivasi untuk berubah (1) ketika mereka yakin bahwa perilaku mereka saat
ini tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dan (2) ketika mereka percaya mereka dapat
memilih perilaku lain yang akan membuat mereka lebih dekat dengan apa yang mereka inginkan.
Terapis realita mulai dengan menanyakan klien apa yang mereka inginkan dari terapi.
Terapis mengambil misteri dan ketidakpastian dari proses terapi. Mereka juga menanyakan
pilihan yang dibuat klien dalam hubungan mereka. Dalam kebanyakan kasus, ada hubungan
tidak puas yang besar, dan klien biasanya tidak percaya mereka memiliki pilihan dalam apa yang
terjadi dalam hubungan ini. Pada awalnya klien dapat menyangkal hal ini. Misalnya, klien
mungkin berkata, "Saya depresi. Depresi saya adalah masalahnya. Mengapa Anda berbicara
tentang hubungan saya? Klien sering kali tidak ingin membicarakan masalah sebenarnya, yaitu
hubungan yang tidak memuaskan atau ketiadaannya.
Pada sesi pertama, terapis yang terampil mencari dan menentukan keinginan klien.
Terapis juga mencari hubungan masa kini yang tidak memuaskan biasanya dengan pasangan,
anak, orang tua, atau rekan kerja. Terapis mungkin bertanya, "Perilaku siapa yang bisa Anda
kendalikan?" Pertanyaan ini mungkin perlu ditanyakan beberapa kali selama beberapa sesi
berikutnya untuk menghadapi penolakan klien untuk melihat perilakunya sendiri. Penekanannya
adalah mendorong klien untuk fokus pada apa yang dapat mereka kontrol.
Ketika klien mulai menyadari bahwa mereka hanya dapat mengendalikan perilaku
mereka sendiri, terapi sedang berlangsung. Terapi lainnya berfokus pada bagaimana klien dapat
membuat pilihan yang lebih baik. Ada lebih banyak pilihan yang tersedia daripada yang disadari
klien, dan terapis mengeksplorasi pilihan yang mungkin ini. Klien mungkin terjebak dalam
kesengsaraan, kesalahan, dan masa lalu, tetapi mereka dapat memilih untuk berubah bahkan
jika orang lain dalam hubungan itu tidak berubah. Wubbolding (2007a) menyatakan bahwa klien
dapat belajar bahwa mereka tidak berada dalam belas kasihan orang lain, bukan korban, dan
bahwa mereka memiliki berbagai pilihan yang terbuka untuk mereka.
Terapis realitas mengeksplorasi prinsip teori pilihan dengan klien, membantu klien
mengidentifikasi kebutuhan dasar, menemukan dunia kualitas klien, dan akhirnya, membantu
klien memahami bahwa mereka memilih keseluruhan perilaku yang merupakan gejala mereka.
Dalam setiap contoh ketika klien melakukan perubahan, itu adalah pilihan mereka. Dengan
bantuan terapis, klien belajar untuk membuat pilihan yang lebih baik daripada yang mereka
lakukan saat mereka sendiri. Melalui teori pilihan, klien memperoleh dan mempertahankan
hubungan yang sukses.
Sistem "WDEP"
Singkatan WDEP digunakan untuk menggambarkan prosedur kunci dalam praktik terapi realitas
(Wubbolding, 2000, 2007a, 2007b; Wubbolding et al., 1998, 2004). Sistem WDEP dalam terapi
realitas dapat digambarkan sebagai "efektif, praktis, dapat digunakan, berbasis teori, lintas
budaya, dan didirikan pada prinsip-prinsip manusia universal" (Wubbolding, 2007a, p. 204).
Sistem WDEP dapat digunakan untuk membantu klien mengeksplorasi keinginan mereka,
kemungkinan hal-hal yang dapat mereka lakukan, peluang untuk evaluasi diri, dan merancang
rencana untuk peningkatan (Wubbolding, 2007a, 2007b). Masing-masing huruf mengacu pada
sekelompok strategi: W = wants and needs (keinginan dan kebutuhan); D = direction and doing
(arah dan tindakan); E = self-evaluation (evaluasi diri); dan P = planning (perencanaan).
Strategi-strategi ini dirancang untuk mendorong perubahan. Mari kita lihat masing-masing lebih
detail.
KEINGINAN (MENJELAJAHI KEINGINAN, KEBUTUHAN, DAN PERSEPSI). Terapis
realitas membantu klien dalam menemukan keinginan dan harapan mereka. Semua keinginan
terkait dengan lima kebutuhan dasar. Mereka bertanya, "Apa yang Anda inginkan?" Melalui
pertanyaan terapis yang terampil, klien dibantu dalam menentukan apa yang mereka inginkan
dari proses konseling dan dari dunia di sekitar mereka. Berguna bagi klien untuk menentukan
apa yang mereka harapkan dan inginkan dari konselor dan dari diri mereka sendiri. Bagian dari
konseling terdiri dari mengeksplorasi "album gambar," atau dunia yang berkualitas, dari klien
dan bagaimana perilaku mereka ditujukan untuk menggerakkan persepsi mereka tentang dunia
eksternal lebih dekat ke dunia batin mereka yang diinginkan.
Klien diberi kesempatan untuk menjelajahi setiap segi kehidupan mereka, termasuk apa
yang mereka inginkan dari keluarga, teman, dan pekerjaan mereka. Selain itu, eksplorasi
keinginan, kebutuhan, dan persepsi ini harus terus berlanjut selama proses konseling karena
gambar klien berubah.
Berikut adalah beberapa pertanyaan berguna untuk membantu klien menentukan apa
yang mereka inginkan:
Jika Anda adalah orang yang Anda inginkan, akan jadi orang seperti apakah Anda?
Akan seperti apa keluarga Anda jika keinginan Anda dan keinginan mereka cocok?
Apa yang akan Anda lakukan jika Anda hidup seperti yang Anda inginkan?
Apakah Anda benar-benar ingin mengubah hidup Anda?
Apa yang Anda inginkan yang tampaknya tidak Anda dapatkan dari kehidupan?
Menurut Anda apa yang menghentikan Anda dari melakukan perubahan yang Anda
inginkan?
Baris pertanyaan ini menetapkan tahapan untuk menerapkan prosedur lain dalam terapi realitas.
Merupakan suatu seni bagi konselor untuk mengetahui pertanyaan apa yang harus diajukan,
bagaimana cara menanyakannya, dan kapan menanyakannya. ARAHAN DAN PERBUATAN
Terapi realitas memberikan perhatian khusus pada perilaku yang dilakukan klien saat ini dan
menganggap masa lalu klien hanya sebagai pengaruh perilaku klien tersebut saat ini.
Pemfokusan terapi realitas pada masa sekarang klien ini dapat dilihat dari pertanyaan yang sering
ditanyakan oleh terapis dalam terapi realitas: “Apa yang anda lakukan?” Meskipun permasalahan
klien tersebut mungkin berasal dari masa lalunya, klien perlu menemukan cara menghadapi
permasalahan tersebut di masa sekarang. Masa lalu klien dapat dibahas jika pembahasan masa
lalu tersebut dapat membantu klien membuat perencanaan kedepan untuk memperbaiki dirinya.
Tantangan terapis adalah untuk membantu klien membuat keputusan-keputusan yang dapat
memenuhi kebutuhan dirinya.
Di tahap awal konseling, klien perlu membahas arah hidupnya secara keseluruhan pada
terapis, termasuk kemana tujuan mereka dan kemana perilaku yang mereka lakukan membawa
diri mereka. Eksplorasi ini merupakan bagian awal tahap mengevaluasi arah mana yang
diinginkan oleh klien. Terapis menghadapkan klien pada sebuah cermin dan bertanya pada klien,
“Apa yang anda ingin lihat pada diri anda saat ini dan pada diri anda di masa depan?” Klien
memerlukan waktu yang cukup lama dalam proses refleksi ini untuk memperjelas persepsi
mereka.
Terapi realitas berfokus untuk meningkatkan kesadaran klien dan mengubah keseluruhan
perilaku klien. Untuk mencapai perubahan dan peningkatan ini, terapis pendekatan terapi realitas
berfokus pada pertanyaan-pertanyaan berikut dalam proses terapi: “Apa yang anda lakukan saat
ini?” “Apa yang anda lakukan selama satu minggu terakhir ini?” “Hal apa yang anda ingin ubah
dari perilaku anda selama satu minggu terakhir ini?” “Apa yang mencegah anda untuk
melakukan hal yang anda katakan ingin lakukan?” “Apa yang anda ingin lakukan besok?”
Mendengarkan klien membicarakan perasaannya dapat menjadi hal produktif dalam
proses terapi jika perasaan tersebut dapat dikaitkan dengan perilaku bermasalah yang mereka
lakukan saat ini. Ketika lampu darurat mobil menyala, sang pengemudi langsung menyadari
bahwa ada hal yang salah dan bahwa kesalahan ini perlu diperbaiki secepatnya. Serupa dengan
analogi tersebut, ketika klien mengekspresikan perasaan-perasaan mereka, terapis pendekatan ini
mengakui dan menerima perasaan-perasaan klien tersebut. Akan tetapi mereka tidak akan
berfokus pada masalah-masalah tersebut semata, terapis akan mendorong klien berbuat sesuatu
yntuk mengubah perilaku dan cara berpikir mereka. Mengubah perilaku dan pikiran diri kita
lebih mudah daripada mengubah perasaan kita. Menurut Glasser (1992), perilaku yang jelas dan
nyata kita lakukan merupakan fokus terapi realitas ini, Berdasarkan perspektif teori keputusan,
pembahasan mengenai perasaan klien yang tidak terkait dengan perilaku dan cara berpikir klien
saat ini tidak akan memberikan manfaat apa-apa dalam proses terapi.
EVALUASI Inti terapi realitas, seperti yang telah kita ketahui, adalah untuk meminta klien
melakukan evaluasi-diri berikut: “Apakah perilaku anda saat ini dapat membuat anda memenuhi
kebutuhan anda, dan apakah perilaku tersebut dapat membawa anda ke tujuan yang anda
inginkan?” Evaluasi ini khususnya mengharuskan klien menginstropeksi arah perilaku, tindakan
tertentu yang dilakukan, keinginan diri, persepsi diri, arah baru, dan perencanaan hidup
(Wubbolding, 2007b). Menurut Wubbolding (2007a, hal. 200), permasalahan diri klien
seringkali terkait dengan permasalahan hubungan yang ia jalin, dimana permasalahan hubungan
ini seringklai menjadi akar ketidakpuasan dirinya. Konselor dapat membantu klien mengevaluasi
perilaku mereka dengan menanyakan pertanyaan ini pada diri klien: “Apa perilaku yang anda
lakukan saat ini dapat mendekatkan diri anda pada orang-orang terpenting hidup anda atau malah
menjauhkan diri anda?” Melalui teknik-teknik pertanyaan ini, konselor membantu klien
mengevaluasi perilaku mereka dan arah perilaku tersebut. Wubbolding (1988, 2000; Wubbolding
et al., 1998) merekomendasikan terapis untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti
berikut:
Apakah perilaku yang anda lakukan membantu atau melukai anda?
Apakah perilaku yang anda lakukan saat ini adalah perilaku yang anda ingin lakukan?
Apakah perilaku yang anda lakukan ini memberikan dampak baik pada diri anda?
Apakah ada hubungan sehat yang tercipta antara perilaku yang anda perbuat dengan
keyakinan anda?
Apakah perilaku yang anda lakukan melanggar peraturan?
Apakah keinginan anda bersifat realistis atau tidak dapat dipenuhi?
Apakah persepsi cara melihat anda membantu anda melihat lebih baik?
Seberapa besar komitmen anda untuk melakukan proses terapi dan untuk mengubah diri
hidup anda?
Setelah mengevaluasi keinginan-keinginan anda secara komperhensif, apakah keinginan
anda tersebut merupakan hal yang terbaik bagi diri anda dan bagi orang lain sekitar anda?
Meminta klien untuk mengevaluasi setiap komponen keseluruhan perilaku mereka merupakan
proses utama terapi realitas. Tugas konselor adalah untuk membuat klien mengevaluasi kualitas
perilaku mereka dan untuk membantu mereka membuat keputusan yang efektif. Kita tidak akan
mengubah diri kita sebelum kita memutuskan bahwa melakukan perubahan diri akan lebih
bermanfaat. Tanpa adanya evaluasi diri yang jujur, klien tidak akan mengubah dirinya. Terapis
pendekatan terapi realitas ini akan terus berusaha membantu klien melakukan evaluasi diri dari
setiap komponen perilaku mereka. Ketika terapis menanyakan klien yang memiliki masalah
depresi apakah perilaku yang ia lakukan ini akan membantunya dalam jangka waktu panjang,
terapis sebenarnya memberikan konsep pilihan pada klien. Proses evaluasi tindakan, pikiran,
perasaan, dan komponen psikologis keseluruhan perilaku ini merupakan tanggung jawab diri
klien.
Pada tahap awal terapi, terapis pendekatan terapi realitas mungkin akan bersifat lebih
direktif terhadap klien-klien tertentu. Hal ini dilakukan untuk membantu klien menyadari bahwa
beberapa perilaku yang ia lakukan tidaklah efektif. Dalam menangani klien yang sedang dalam
situasi krisis misalnya, mengungkapkan secara langsung hal-hal apa saja yang baik dan buruk
bagi diri mereka terkadang perlu untuk dilakukan. Klien-klien yang memiliki permasalahan
seperti klien pecandu alkohol dan klien yang memiliki orangtua pecandu alkohol, memerlukan
arahan lebih awal dalam proses terapi daripada klien-klien lain karena klien-klien seperti ini
tidak dapat mengendalikan sistem perilaku dan sistem berpikir mereka, sehiingga mereka tidak
mampu untuk melakukan evaluasi konsisten terkait kehidupan mereka. Klien-klien seperti ini
cenderung memiliki gambaran hidup yang belum jelas dan tidak menyadari apa yang mereka
inginkan dalam hidup. Seiring mereka berkembang dan bertumbuh bersama terapis dalam proses
terapi ini, mereka akan belajar untuk melakukan evaluasi diri secara mandiri (Wubbolding &
Brickell, 2005).
PERENCANAAN DAN TINDAKAN Sebagian besar proses konseling dilakukan dengan
membantu klien mengidentifikasi cara-cara yang mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan
dan keinginan mereka. Ketika klien memutuskan apa yang mereka ingin ubah, itu artinya mereka
telah siap untuk mengeksplor kemungkinan-kemungkinan perilaku lain dan untuk mencanangkan
perencanaan tindakan. Proses pembuatan dan pelaksanaan rencana ini membuat klien
memperoleh rasa kendali atas hidupnya. Jika perencanaan yang dibuat tidak berhasil, konselor
dan klien akan bersama-sama membuat perencanaan baru. Perencanaan ini menjadi titik awal
klien menuju hidup yang lebih baik, namun perencanaan yang dibuat dapat diubah sesuai dengan
perubahan kebutuhan klien.
Melalui tahap perencanaan ini, konselor terus-menerus mendorong klien untuk menerima
konsekuensi keputusan dan perilakunya.
Wubbolding (1988, 1991, 1996, 2000, 2007a, 2007b, 2008b) membahas peran utama
perencanaan dan komitmen. Keseluruhan proses konseling didasarkan atas perencanaan perilaku
klien ini, Wubbolding menggunakan akronim SAMIC
3
untuk menggambarkan suatu
perencanaan yang baik: sederhana (simple), dapat dilakukan (attainable), dapat diukur
(measurable), langsung (immediate), dapat dikendalikan (controlled), diutamakan (commited to),
dan dilakukan terus-menerus (continuously done). Wubbolding mengatakan bahwa klien
memperoleh kendali lebih besar atas hidupnya dengan melakukan perencanaan yang
mengandung karakteristik-karakteristik berikut:
Rencana yang dicanangkan tidak melewati batasan motivasi dan kapasitas diri klien.
Konselor handal membantu klien untuk menggagas rencana-rencana yang berdampak
besar bagi diri klien. Terapis dapat bertanya pada klien, “Rencana apa yang anda dapat
buat saat ini yang akan membuat hidup anda semakin memuaskan?”
Rencana yang baik adalah rencana yang sederhana dan mudah dimengerti. Meskipun
rencana ini harus spesifik, konkrit, dan dapat diukur, rencana pada hakikatnya juga
sebaiknya fleksibel dan dapat direvisi seiring klien semakin memahami perilaku tertentu
yang mereka ingin ubah.
Rencana yang digagas perlu melibatkan tahap tindakan yang positif, dan tindakan yang
ditulis dalam perencanaan ini merupakan tindakan yang klien ingin lakukan. Bahkan
rencana kecilpun dapat membantu klien mengambil langkah signifikan menuju
perubahan yang mereka inginkan.
Konselor mendorong klien untuk mengembangkan rencana yang mereka dapat lakukan
secara mandiri. Rencana yang melibatkan orang lain memberikan makna tersirat seakan-
akan bukan klien sendiri yang mengemudikan arah kapal kehidupannya.
Perencanaan yang efektif adalah perencanaan yang dilakukan terus-menerus setiap hari.
Perencanaan yang dibuat dilaksanakan secepat mungkin. Konselor dapat bertanya pada
klien, “Apa yang anda ingin lakukan hari ini untuk mulai mengubah hidup anda?”
Perencanaan yang digagas melibatkan aktivitas-aktivitas yang berbasis proses. Misalnya,
klien dapat menggunakan aktivitas-aktivitas berikut sebagai bagian perencanaannya:
melamar pekerjaan, menulis surat pada teman, mengikuti kelas yoga, mulai mengonsumsi
makanan-makanan bernutrisi, menghabiskan waktu 2 jam seminggu untuk melakukan
kerja-kerja relawan, atau bahkan pergi berlibur.
Sebelum klien melaksanakan rencana yang dibuat, klien sebaiknya terlebih dahulu
mengevaluasi rencana tersebut dengan terapis untuk memutuskan apakah rencana
tersebut bersifat realistis dan terkait dengan keinginan serta kebutuhan diri mereka.
Setelah rencana tersebut dilaksanakan dalam kehidupan nyata klien, klien sebaiknya
mengevaluasi kembali rencana tersebut untuk membuat revisi jika diperlukan.
Untuk memudahkan klien berkomitmen pada rencananya, klien sebaiknya menuliskan
perencanaan tersebut.
Resolusi dan perencanaan tidak akan berarti apa-apa jika tidak terdapat komitmen untuk
melaksanakn rencana tersebut. Klienlah yang memutuskan bagaimana cara
mengimplementasikan rencana yang ia buat dalam kehidupan sehari-harinya.
Terapis perlu meminta klien untuk memutuskan apa yang mereka inginkan, dan untuk
mengevaluasi dirinya, serta untuk berkomitmen mengimplementasikan perencanaan yang
dibuat demi mencapai perubahan diri. Komitmen bukan hal yang bersifat tidak atau sama
sekali; komtimen memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda. Wubbolding (2007a)
mempertahankan bahwa hal ini penting bagi terapi untuk mengekspresikan perhatian mereka
tentang tingkat komitmen klien, atau seberapa ingin mereka ingin membawa perubahan. Hal
ini dikomunikasikan dengan cara implisit kepada klien bahwa mereka memiliki kekuatan di
dalam diri mereka untuk bertanggungjawab atas diri mereka sendiri. Hal ini penting bahwa
klien yang menolak untuk membuat komitmen dibantu untuk mengekspresikan dan
mengeksplor ketkautan mereka akan kegagalan. Klien dibantu oleh terapi yang tidak mudah
menyerah akan kemampuan mereka untuk membuat pilihan yang lebih baik, bahkan jika
mereka tidak selalu sukses dalam menyelesaikan rencana mereka.
Aplikasi pada konseling kelompok
Sistem WDEP juga dapat diaplikasikan untuk membantu orang memenuhi kebutuhan dasar
mereka dalam konteks kelompok. Ini merupakan pendekatan kolaboratif dimana konselor
kelompok dan anggotanya bersama sama dalam memutuskan rencana dan tujuan tindakan
(Wubbolding & Brickell, 2005). Sejak awal dari sebuah kelompok, anggota dapat diminta
untuk melihat dengan jujur apa yang mereka lakukan dan untuk mengklarifikasi apakah
perilaku mereka membuat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ketika kanggota
kelompok mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang mereka miliki dalam
hidup mereka saat ini dan apa yang ingin mereka ubah, mereka dapat menggunakan
kelompok tersebut sebagai tempat untuk mengeksplor arah perilaku baru.
Model ini mengharapkan anggotnaya untuk mengerjakan tugas diantara pertemuan
kelompok. Namun, ini adalah anggota, dan bukan pemimpin, yang memevaluasi perilaku
mereka sendiri dan memutuskan apakah mereka ingin berubah. Anggota juga eminting dalam
memutuskan tugas apa yang ingin mereka lakukan untuk diri mereka sendiri sebagai cara
untuk mencapai tujuan. Banyak pemimpin kelompok bertemu dengan resistensi karena
mereka memiliki saran dan rencana tentang bagaimana para anggota harus menjalani hidup
mereka. dalam hal ini, terapis realita terus menantang anggota untuk mengevaluasi diri
mereka sendiri apakah mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika anggota
mengakuai bahwa apa yang mereka lakukan tidak bekerja bagi mereka, penolakan mereka
cenderung mencair, dan mereka cenderung terbuka untuk mencoba perilaku yang berbeda.
Ketika anggota embuat beberapa perubahan, terapi reaita menyediakan struktur bagi
mereka untuk memformulasikan rencana spesifik untuk tindakan dan mengevaluasi tingkat
kesuksesan mereka. feedback dari anggota dan pemimpi akan membantu individu merancang
rencana yang realistis dan dapat dicapai. Waktu digunakan selama sesi kelompok untunk
mengembangkan dan mengimplementasikan rencana. Jika orang-orang tidak menjalankan
rencana, penting untuk mendiskusikannya dengan mereka akan apa yang telah menghentikan
mereka. mungkin mereka membuat tujuan yang tingginya tidak realistis,a tau mungkin
terdapat ketidaksesuaian antara apa yang mereka katakan ingin ubah dan langkah yang ingin
mereka ambil untuk membawa perubahan.
Saya juta menyukai desakan terapi realita bahwa perubahan tidak akan datang dari
pengetahuan semata; tetapi anggota harus mulai melakukan sesuatu yang berbeda ketika
mereka memutuskan bahwa perilaku mereka tidaklah bekerja untuk mereka. saya skeptikal
tentnag nilai katarsis sebagai kendaraan terapi kecuali pelepasan emosi ditempatkan kedalam
kerangka kognitif dan diikuti dengan rencana tindakan. Dalam kelompok yang saya fasilitasi,
anggota kelompok ditantang untuk melihat kesalahan menunggu orang lain untuk berubah.
Saya meminta anggota untuk menganggap bahwa orang-orang tertentu dalam hidup mereka
mungkin tidak akan pernah berubah, yang berarti bahwa mereka harus mengambil pendirian
yang lebih aktif dalam membentu takdir mereka sendiri. Saya mengapresiasi penekanan
terapi realita dan mengajarkan klien bahwa satu-satunya kehidupan yang dapat mereka
kontrol adalah hidup merek sendiri dan fokus untuk membantu membantu anggota kelompok
mengubah pola tindakan dan pemikiran mereka sendiri. Kenyataannya, mereka dapat
mempengaruhi perubahan orang lain ketika mereka mengubah diri mereka sendiri.
Untuk penjelasan yang lebih rinci tentang terapi realita dan terapi kelompik, lihat Corey
(2008, bab. 15)
Terapi Realita dalam Perspektif Multikltural
Kelebihan dari perspektif keberagaman
Prinsip inti dari teori pilihan dan terapi realita memiliki banyak untuk ditawarkan dalam area
konseling multikultural. Dalam terapi lintas budaya penting bagi konselor untuk menhargai
perbedaan dalam pandangan akan diri mereka sendiri dan klien mereka. konselor
mendemonstrasikan penghargaan mereka untuk nilai kultural dari klien mereka dengan
menolong mereka mengeksplor perilaku mereka saat ini adalah untuk diri mereka sendiri dan
untuk orang lian. Ketika klien membuat pernyataan ini, mereka bisa merumuskan rencana
realistis yang konsisten dengan nilai kultural mereka. ini adalah tanda penghargaan bahwa
konselor menahan diri untuk memutuskan perilaku apa yang mesti diubah. Melalui
pertanyaan pada bagian konselor, klien dari beragam latar belakang etnis dapat dibantu untuk
memutuskan tingkat dimana mereka telah menjadi menyesuaikan diri kedalam masyarakat
dominan. Apkah hal ini mungkin bagi mereka untuk menemukan keseimbangan,
mendapatkan identitas entis dan nilai mereka sembari mengintegrasikan beberapa nilai dna
praktik dari kelompok dominan? Lagi, konelor tidak memutuskan keseimbangan ingin bagi
klien, tetapi menantang mereka untuk mendapatkan jawaban mereka sendiri. Dnegan fokus
pemikiran dan tindakan ini dan bukannya mengidentifikasi dan mengeksplor perasaan,
banyak klien cenderung tidak menunjukkan penolakan dalam konseling.
Glasser (1998) menyatakan bahwa terapi realita dan teori pilihan dapat diaplikasikan
secara individu dan dalam kelompok kepada siapapun dengan masalah psikologi dalam
konteks kultural. Kita merupakan anggota dari spesies yang sama dan memiliki struktur
genetika yang sama; sehingga, hubungan adalah masalah di semua kebudayaan. Wubbolding
(2007a) menyatakan bahwa terapi realita berdasarkan prinsip universal, yang membaut teori
dapat diaplikasikan untuk semua ornag. Kita semua memiliki kebutuhan internal, kita semua
membuat pilihan, dan kita semua berusaha untuk mempengaruhi dunia sekitar kita.
Wubbolding menekankan bahwa menempatkan prinsip teori pilihan ke dalam tindakan
membutuhkan kreativitas, sensitivitas pada kebudayaan dan individu, dan fleksibilitas dalam
mengimplementasikan prosedur dari terapi realita.
Berdasarkan asumsi bahwa terapi realita harus dimodifikasi untuk sesuai dengan konteks
kultural dari orang-orang selain orang Amerika Utara, Wubbolding (200) dan Wubbolding
dan kolega (1998, 2004) telah mengembangkan praktik terapi realita dari situasi
multikultural. Pengalaman Wubbolding dalam melaksanakan workshop terapi realita di
Jepang, Taiwan, Hong Kong, Singapuran, Korea, india, Kuwait, Austrlia, Slovenia, Kroasia,
dan negara-negara Eropa telah mengajarkannya kesulitan mengeneralisasikan kebudayaan
yang lain. Tumbuh dari pengalaman multikultural ini, Wubbolding (2000) telah
mengadaptasikan lingkaran konseling dalam bekerja dnegan klien berkebangsaan Jepang.
Dia menunjukkan perbedaan dasar antara bawa Jepang dan kebudayaan barang. Amerika
utara cenderung mengatakan apa yang mereka maksudkan dan tegas. Dalam kebudayaan
Jepang, bahasa tegas tidaklah sesuai antara seorang anak dan orang tua atau antara pegaai
dan atasa. Cara komunikasi cenderung tidak langsung. Untuk menanyakan ornag Jepang
akan apa yang mereka inginkan nampak kasar dan mengganggu bagi mereka. karena
perbedaan gaya ini, adaptasi seperti daftar dibawah ini dibutuhkan untuk membuat praktik
dari terapi realita sejalan dnegan klien Jepang:
" Kecenderungan terapi realita untuk menanyakan pertanyaan langsung mungkin harus
diperlembut, dengan pernyataan lebih di elobari dan secara tidak langsung. Hal ini mungkin
adalah kesalahan untuk mempertanyaan pertanyaan individu yang dibangun disekitar apakah
perilaku tertentu memenuhi kebutuhan dasar mereka. konfrontasi harus dilakukan hanya
setelah mempertimbangkan konteks dengan hati-hati.
" Tidak ada arti pasti dalam bahasa Jepang untuk kata "Rencana", juga tidak ada kata pasti
untuk "Tanggungjawab", namun keduanya adalah dimensi kunci dalam praktik terapi realita.
" Dalam meminta klien untuk membuat rencana dan agar komitmen pada rencana tersebut,
konselor barat tidak selesai dengan jawabag "saya akan mencoba". Malah, mereka cenderung
mendorong untuk janji yang nyata untuk diikuti.Namun, dalam kebudayaan Jepang, konselor
cenderung menerima "saya akan mencoba" sebagai komitmen yang kuat.
Itu adalah beberapa ilustrasi akan cara dimana terapi realita dapat diadaptasikan pada klien
yang tdiak berasal dari barat. Meskipun pendekatan ini menganggap bahwa semua orang
memiliki kebutuhan dasar yang sama (bertahan hidup, cinta dan kepemilikan, kekuatan,
kemerdekaan, dan kesenangan), cara kebutuhan ini diekspresikan bergantung pada konteks
kultural. Terapis realita tidak dapat bekerja pada cara yang sama persis dengan semua klien.
Dalam bekerja dengan klien yang berbeda secara kultural, terapis harus mengizinkan ruang
gerak untuk perilaku yang dapat diterima untuk memenuhi kebutuhan ini. Seperti teori dan
teknik lainnya yag mengalir dari mereka, fleksibilitas adalah syarat utama.
Kekuatan kunci dari terapi realita adalah ia menyediakan alat bagai klien untuk membaut
perubahan yang mereka inginkan. Hal ini betul selama tahap perencanaan, yang merupakan
ini pada proses dari terapi realita. Fokusnya adalah pada langkah positif yang dapat diambil,
bukan pada apa yang tidak dapat diambil. Klien mengidentifikasi masalah itu yang
menyebabkan kesulitan, dan masalah ini menjadi target perubahan. Tipe kespesifikan ini dan
arah yang diberikan oleh sebuah rencana efektif merupakan aset dalam bekerja dnegan
kelompok klien yang beragam.
Terapi realita harus digunakan dengan cerdik dan diaplikasikan dengan cara yang
berbeda dengan klien yang beragam. Banyak dari prinsip dan konsepnya dapat bekerja sama
dalam cara dinamis dan personal dalam gaya kosnelor, dan terdapat dasar untuk
mengintegrasikan konsep ini dengan pendekatan terapi yang lain di dalam buku ini.
Kelemahan dari Perspektif Keberagaman
Salah satu kelemahan dari pendekatan ini dalam bekerja dengan klien beretnis minoritas
adalah hal tersebut mungkin tidak sepenuhnya mempertimbangkan dorongan lingkungan
yang beroperasi melawan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Diskriminasi dan rasisme
merupakan realita yang disayangkan, dan kekuatan ini membatasi banyak klien minoritas
untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari kehidupan. Hal ini penting bahwa
terapis menyadari bahwa orang-orang tidak memilih untuk menjadi korban dari rasisme.
Terapi Realitas Diterapkan pada Kasus Stan
Terapis realitas dipandu oleh konsep-konsep
kunci teori pilihan untuk mengidentifikasi
dinamika perilaku Stan, untuk memberikan
arah baginya untuk bekerja, dan untuk
mengajarinya tentang alternatif yang lebih
baik untuk mencapai apa yang
diinginkannya. Stan belum efektif dalam
mendapatkan apa yang dia butuhkan
hubungan yang memuaskan.
Stan telah jatuh ke dalam peran
sebagai korban, menyalahkan orang lain,
dan melihat ke belakang bukannya ke depan.
Awalnya, ia ingin memberi tahu
penasihatnya tentang aspek negatif
kehidupannya, yang ia lakukan dengan
memikirkan gejala utamanya: depresi,
kecemasan, kesulitan untuk tidur, dan gejala
psikosomatik lainnya. Konselor
mendengarkan, tetapi dia juga menantang
Stan, terutama karena dia lebih
berkonsentrasi pada kesengsaraan dan
gejalanya. Meskipun dia memiliki belas
kasihan atas penderitaannya dan kesulitan
yang terus dia hadapi, konselor berharap
bahwa dia akan menyadari bahwa jika dia
memutuskan untuk berubah, dia memiliki
banyak pilihan untuk bertindak secara
berbeda. Dia beroperasi dengan premis
bahwa terapi akan menawarkan kesempatan
untuk mengeksplorasi dengan Stan tentang
apa yang dapat dia bangun kesuksesan,
masa produktif, tujuan, dan harapan untuk
masa depan.
Setelah membuat hubungan dengan
Stan, terapis dapat menunjukkan kepadanya
bahwa ia tidak harus menjadi korban masa
lalunya kecuali jika ia memilih untuk
menjadi seperti itu, dan ia meyakinkannya
bahwa ia telah cukup mengulangi
kesengsaraan masa lalunya. Ketika
konseling berkembang, Stan belajar bahwa
meskipun sebagian besar masalahnya
memang dimulai pada masa kanak-kanak,
sekarang hanya sedikit yang dapat ia
lakukan untuk membatalkan masa kecilnya.
Dia akhirnya menyadari bahwa semua gejala
dan penghindarannya mencegahnya
mendapatkan apa yang paling
diinginkannya. Dia akhirnya menyadari
bahwa dia memiliki kendali besar atas apa
yang bisa dia lakukan untuk dirinya sendiri
sekarang.
Terapis telah membuat Stan
menggambarkan bagaimana hidupnya akan
berbeda jika dia bebas dari gejala. Dia
tertarik untuk mengetahui apa yang akan dia
lakukan jika dia memenuhi kebutuhannya
yakni kepemilikan, prestasi, kekuatan,
kebebasan, dan kesenangan. Dia
menjelaskan kepadanya bahwa dia memiliki
gambaran ideal tentang apa yang dia
inginkan dalam hidupnya, namun dia tidak
memiliki perilaku yang efektif untuk
memenuhi kebutuhannya. Konselor
berbicara kepadanya tentang semua
kebutuhan psikologis dasarnya dan
bagaimana jenis terapi ini akan
mengajarinya untuk memuaskan mereka
dengan cara yang efektif. Dia juga
menjelaskan bahwa perilaku totalnya terdiri
dari akting, pemikiran, perasaan, dan
fisiologi. Meskipun dia mengatakan dia
benci merasa cemas sebagian besar waktu,
Stan belajar bahwa banyak dari apa yang dia
lakukan dan pikirkan langsung mengarah ke
perasaan yang tidak diinginkan dan reaksi
fisiologisnya. Ketika dia mengeluh merasa
banyak tertekan, cemas di malam hari, dan
diatasi dengan serangan panik, dia
membiarkan dia tahu bahwa dia lebih
tertarik pada apa yang dia lakukan dan
pikirkan karena ini adalah komponen
perilaku yang dapat langsung diubah.
Terapis membantu Stan memahami
bahwa perasaannya yang tertekan adalah
bagian perasaan dari pilihannya. Meskipun
dia mungkin berpikir dia memiliki sedikit
kendali atas perasaannya, atas sensasi
tubuhnya, dan atas pikirannya, terapis ingin
dia mengerti bahwa dia dapat mulai
mengambil tindakan yang berbeda, yang
kemungkinan akan mengubah
pengalamannya yang menyedihkan. Terapis
sering mengajukan pertanyaan ini: "Apakah
yang Anda pilih untuk mendapatkan apa
yang Anda inginkan?" Dia menuntun Stan
untuk mulai mengenali bahwa dia memang
memiliki beberapa kendali atas
perasaannya. Ini paling baik dilakukan
setelah dia membuat beberapa pilihan
tentang melakukan sesuatu yang berbeda
dari apa yang telah dia lakukan. Pada titik
ini dia berada di tempat yang lebih baik
untuk melihat bahwa pilihan untuk
mengambil tindakan telah berkontribusi
untuk merasa lebih baik, yang membantunya
menyadari bahwa dia memiliki kekuatan
untuk berubah.
Stan memberi tahu penasihatnya
tentang gambar-gambar di kepalanya,
beberapa di antaranya menjadi penasihat,
bertindak percaya diri dalam bertemu orang-
orang, menganggap dirinya sebagai orang
yang berharga, dan menikmati hidup.
Melalui terapi dia membuat evaluasi bahwa
banyak dari apa yang dia lakukan adalah
tidak membuatnya lebih dekat dengan
gambar-gambar ini atau mendapatkan apa
yang dia inginkan. Setelah dia memutuskan
bahwa dia bersedia untuk bekerja pada
dirinya sendiri untuk berubah, sebagian
besar waktu dalam sesi ditujukan untuk
membuat rencana dan mendiskusikan
implementasi mereka. Bersama-sama dia
dan terapis fokus pada langkah-langkah
spesifik yang dapat dia ambil sekarang
untuk memulai perubahan yang dia
inginkan.
Ketika Stan terus menjalankan
rencana di dunia nyata, dia secara bertahap
mulai mengalami kesuksesan. Ketika ia
melakukan kesalahan, penasihatnya tidak
menjatuhkannya tetapi membantunya
kembali fokus. Bersama-sama mereka
mengembangkan rencana baru yang mereka
rasa lebih percaya diri. Terapis tidak mau
menyerah pada Stan bahkan ketika dia tidak
membuat kemajuan besar. Dukungannya
adalah sumber inspirasi nyata baginya untuk
terus bekerja pada dirinya sendiri
Terapis mengajarkan teori pilihan
Stan, dan, jika dia bersedia terlibat dalam
beberapa bacaan, dia menyarankan agar dia
membaca dan merefleksikan ide-ide dalam
Counseling With Choice Theory: The New
Reality Therapy (Glasser, 2001) dan A Set of
Directions for Putting and Keeping Yourself
Together (Wubbolding & Brickell, 2001).
Stan membawa sebagian dari apa yang dia
pelajari dari bacaannya ke dalam sesi-sesi,
dan akhirnya dia mampu mencapai beberapa
tujuannya. Kombinasi bekerja dengan
terapis realitas, bacaannya, dan
kesediaannya untuk mempraktekkan apa
yang ia pelajari dengan terlibat dalam
perilaku baru di dunia membantunya dalam
mengganti pilihan yang tidak efektif dengan
pilihan yang menguatkan hidup, Stan
akhirnya menerima bahwa ia adalah satu-
satunya orang yang bisa mengendalikan
nasibnya sendiri.
Tindak Lanjut: Anda Melanjutkan
sebagai Terapis Realita Stan
Gunakan pertanyaan ini untuk membantu
Anda berpikir tentang bagaimana Anda akan
menasihati Stan menggunakan terapi
realitas:
Jika Stan mengeluh merasa tertekan
hampir sepanjang waktu dan ingin
Anda "memperbaikinya", bagaimana
Anda akan melanjutkan?
Jika Stan tetap bertahan, memberi
tahu Anda bahwa suasana hatinya
semakin baik dan bahwa ia ingin
Anda bekerja dengan dokternya
untuk memberinya obat
antidepresan, apa yang akan Anda
katakan atau lakukan?
Apa saja kebutuhan dasar Stan yang
tidak terpenuhi? Rencana tindakan
apa yang dapat Anda pikirkan untuk
membantu Stan menemukan cara
yang lebih baik untuk mendapatkan
apa yang diinginkannya?
Apakah Anda akan cenderung
melakukan daftar periksa tentang
kecanduan alkohol dengan Stan?
Mengapa atau mengapa tidak? Jika
Anda memutuskan bahwa ia
kecanduan alkohol, apakah Anda
bersikeras bahwa ia menghadiri
program seperti Alcoholic's
Anonymous sehubungan dengan
terapi dengan Anda? Mengapa atau
mengapa tidak?
Intervensi apa yang akan Anda
lakukan untuk membantu Stan
mengeksplorasi perilaku totalnya?
Lihat program online dan DVD, Theory
in Practice: The Case of Stan (Sesi 9
tentang terapi realitas), untuk
demonstrasi pendekatan saya dalam
konseling Stan dari perspektif ini. Sesi ini
berkaitan dengan membantu Stan dalam
menyusun rencana aksi.
mengakui bahwa orang-orang tidak memilih untuk menjadi korban rasisme. Jika konselor
tidak menerima batasan lingkungan tertentu, maka klien cenderung merasa disalahpahami.
Beberapa terapis realita mungkin membuat kesalahan dengan terlalu cepat atau terlalu kuat
menekankan kemampuan klien mereka untuk mengambil alih hidup mereka. Pada titik ini,
Wubbolding (2008b) menyatakan bahwa karena penindasan dan diskriminasi, beberapa
orang memiliki lebih sedikit pilihan yang tersedia bagi mereka, namun mereka memiliki
pilihan. Wubbolding melihat terapi realitas sebagai membantu klien untuk fokus pada
pilihan-pilihan yang mereka miliki. Meskipun berfokus pada pilihan yang dimiliki klien
berguna, saya percaya klien mungkin perlu berbicara tentang cara pilihan mereka dibatasi
oleh keadaan lingkungan. Terapis sebaiknya mempertimbangkan bagaimana mereka dan
klien mereka dapat mengambil langkah-langkah kecil untuk membawa perubahan sosial,
seperti halnya terapis feminis (lihat Bab 12).
Kelemahan lain yang terkait dengan gaya terapi ini adalah bahwa beberapa klien
sangat enggan untuk secara langsung mengungkapkan apa yang mereka butuhkan. Nilai-
nilai dan norma-norma budaya mereka mungkin tidak memperkuat mereka dalam secara
tegas meminta apa yang mereka inginkan. Bahkan, mereka mungkin disosialisasikan untuk
lebih memikirkan apa yang baik untuk kelompok sosial daripada keinginan individu
mereka. Dalam bekerja dengan orang-orang dengan nilai-nilai ini, konselor harus
"melunakkan" terapi realitas. Jika terapi realitas harus digunakan secara efektif dengan
klien dari budaya lain, prosedur harus disesuaikan dengan pengalaman hidup dan nilai-
nilai anggota dari berbagai budaya (Wubbolding, 2000; Wubbolding et al., 2004).
Ringkasan dan Evaluasi
Fungsi terapis realitas sebagai guru, mentor, dan model, menghadapi klien dengan cara
membantu mereka mengevaluasi apa yang mereka lakukan dan apakah perilaku mereka
memenuhi kebutuhan dasar mereka tanpa melukai diri sendiri atau orang lain. Jantung dari
terapi realitas adalah belajar bagaimana membuat pilihan yang lebih baik dan lebih efektif
serta mendapatkan kontrol yang lebih efektif. Orang-orang mengambil alih hidup mereka
alih-alih menjadi korban keadaan di luar kendali mereka. Praktisi terapi realitas fokus pada
apa yang klien mampu dan mau lakukan di masa kini untuk mengubah perilaku mereka.
Praktisi mengajar klien bagaimana membuat hubungan yang signifikan dengan orang lain.
Terapis terus meminta klien untuk mengevaluasi efektivitas apa yang mereka pilih untuk
dilakukan untuk menentukan apakah pilihan yang lebih baik itu memungkinkan.
Praktik terapi realitas merangkaikan dua komponen, lingkungan konseling dan
prosedur spesifik yang mengarah pada perubahan perilaku. Proses terapeutik ini
memungkinkan klien untuk bergerak ke arah untuk mendapatkan apa yang mereka
inginkan. Tujuan dari terapi realitas meliputi perubahan perilaku, pengambilan keputusan
yang lebih baik, peningkatan hubungan yang signifikan, peningkatan kehidupan, dan
kepuasan yang lebih efektif dari semua kebutuhan psikologis.
Kontribusi Terapi Realitas
Di antara kelebihan terapi realitas adalah fokus jangka pendeknya dan fakta bahwa terapi
itu menangani masalah perilaku sadar. Wawasan dan kesadaran tidak cukup; evaluasi diri
klien, rencana tindakan, dan komitmen untuk menindaklanjuti adalah inti dari proses
terapeutik. Saya menyukai fokus pada mendorong klien untuk terlibat dalam evaluasi diri,
untuk memutuskan apakah yang mereka lakukan bekerja atau tidak, dan berkomitmen
untuk melakukan apa yang diperlukan untuk melakukan perubahan. Dasar-dasar
eksistensial teori pilihan adalah kekuatan utama dari pendekatan ini. Manusia tidak
dipandang sebagai sosok yang putus asa dan tertekan tanpa harapan. Sebagai gantinya,
manusia dipandang melakukan yang terbaik yang mereka bisa, atau membuat pilihan yang
mereka harapkan akan menghasilkan pemenuhan kebutuhan mereka.
Konseling terlalu sering gagal karena terapis memiliki agenda untuk klien. Terapis
realitas membantu klien melakukan inventarisasi pencarian apa yang mereka lakukan. Jika
klien menentukan bahwa perilaku mereka saat ini tidak berhasil, maka mereka lebih
mungkin untuk mempertimbangkan untuk mendapatkan repertoar perilaku baru. Contoh
bagaimana konsep ini diterapkan secara praktis melibatkan bekerja dengan orang yang
kecanduan. Terapi realitas telah secara efektif digunakan dalam program perawatan
kecanduan dan pemulihan selama lebih dari 30 tahun (Wubbolding & Brickell, 2005).
Dalam banyak situasi dengan populasi ini, tidak pantas untuk memulai terapi jangka
panjang yang menggali dinamika tak sadar dan eksplorasi intensif masa lalu seseorang.
Terapi realitas berfokus pada membuat perubahan di masa kini dan merupakan pendekatan
jangka pendek yang efektif.
Keterbatasan dan Kritik Terapi Realitas
Salah satu batasan utama dari terapi realitas adalah tidak memberikan penekanan yang
memadai terhadap peran aspek-aspek proses konseling ini: peran wawasan,
ketidaksadaran, kekuatan masa lalu dan efek dari pengalaman traumatis pada anak usia
dini, nilai terapi mimpi, dan tempat pemindahan.
Karena terapi realitas berfokus pada kesadaran diri, proses terapi ini tidak
memperhitungkan faktor-faktor lain seperti konflik dalam diri dan pengaruh
ketidaksadaran dalam cara kita berpikir, cara kita mengekspersikan perasaan, cara kita
berperilaku, dan keputusan yang kita buat.
Menginterpretasi mimpi klien tidak termasuk sebagai kemampuan terapis
pendekatan ini. Menurut Glasser (2001), menginterpretasi mimpi klien tidak akan
memberikan manfaat apapun dalam proses terapi. Menurutnya, menggunakan waktu
sesi terapi dengan membicarakan mimpi klien merupakan cara klien menghindari
pembahasan permasalahan perilaku yang dihadapinya, sehingga pembahasan mimpi
dalam proses terapi hanya akan membuang waktu saja. Menurut perspektif saya pribadi,
mimpi merupakan alat yang dapat digunakan dalam membantu klien menyadari konflik
internal dalam dirinya. Saya merasa bahwa mimpi kaya akan informasi, dimana informasi
ini dapat menjelaskan permasalahan, keinginan, harapan, dan visi masa depan klien.
Dengan meminta klien menceritakan dan membagi mimpi yang mereka alami dalam sesi
terapi dapat membantu mereka membuka diri mereka dan menjadi jalan bagi klien untuk
berbuat sesuatu.
Sehingga saya merasa sulit menerima pandangan Glasser ini karena saya merasa
bahwa klien mampu memahami bahwa orang-orang terpenting dalam hidup mereka
mempengaruhi persepsi dan reaksi klien. Menurut saya pribadi, tidak memperhitungkan
transferansi sebagai faktor yang mempengaruhi persepsi klien adalah pemahaman yang
sempit.
Glasser (2003) mengatakan bahwa DSM-IV-TR mampu menggambarkan gejala
klien secara akurat, namun Glasser menjelaskan bahwa mengelompokkan gejala
permasalahan dan melabeli kumpulan gejala tersebut sebagai ganguan jiwa merupakan
kesalahan. Saya sepakat dengan kritik Glasser terkait penggunaan DSM-IV-TR dan saya
juga tidak setuju dengan konsep melabeli permasalahan klien. Seperti yang anda ketahui
sebelumnya, Glasser (2001, 2003) mengatakan bahwa depresi kronis dan permasalahan
psikosis merupakan perilaku yang kita putuskan sendiri. Glasser juga menjelaskan bahwa
penyakit kejiwaan merupakan dampak dari jalinan hubungan yang tidak memuaskan atau
dari perasaan tidak bahagia. Saya kesulitan menerima pemahaman ini bahwa gangguan
psikologis merupakan perilaku yang kita putuskan. Pasien pengidap depresi kronis atau
skizofernia sangat kesulitan menghadapi penyakit ini. Dalam terapi realitas, pasien
pengidap penyakit kronis seperti ini akan menyalahkan dirinya sendiri jika mereka
menerima pemahaman Glasser bahwa mereka yang memutuskan kondisi mereka.
Saya merasa bahwa pendekatan terapi realitas ini bersifat rentan bagi para
praktisi yang merasa dirinya sebagai orang yang paling ahli memutuskan bagaimana cara
hidup yang benar dan sebagai orang yang paling ahli menentukan perilaku-perilaku apa
saja yang paling tepat dianggap sebagai perilaku terbaik. Wubbolding (2008b) menyadari
bahwa terapi realitas menjadi solusi permasalahn klien namun pendekatan ini juga
berpotensi untuk membuat klien menginternalisasi nilai-nilai terapis. Wubbolding
menambahkan bahwa terapis tidak berperan untuk mengevaluasi perilaku klien. Pada
umumnya, klien diharuskan melakukan proses evaluasi diri untuk menentukan seberapa
efektif perilaku baru yang mereka terapkan dan perubahan apa yang perlu mereka
lakukan. Terapis perlu mengawasi setiap kecendrungan dirinya untuk menilai perilaku
klien. Terapis harus berusaha sebisa dirinya membantu klien mengevaluasi perilakunya
sendiri.
Pendekatan terapi realitas menggunakan bahasa yang konkrit dan konsep-konsep
sederhana dalam proses terapi. Pendeketan ini dapat dianggap sebagai pendekatan
sederhana yang tidak memerlukan kepintaran tingkat tinggi. Karena terapi realitas mudah
untuk dipahami, pendekatan ini terlihat mudah untuk diimplementasikan. Akan tetapi,
untuk menerapkan terapi realitas yang benar memerlukan latihan, pengawasan,
pembelajaran terus-menerus (Wubbolding, 2007b).
Kemana Selanjutnya
Dalam CD-ROM untuk Konseling Integratif, Sesi 8 (“Fokus Behavioral dalam
Konseling”), anda akan melihat bagaimana cara saya membantu Ruth menjabarkan
perilaku yang ia targetkan sebagai perilaku barunya. Dalam sesi ini, saya menggunakan
prinsip-prinsip terapi realitas dalam membantu Ruth mengembangkan perencanaan
tindakannya untuk mewujudkan perubahan yang ia inginkan.
Sebanyak lebih dari 6000 terapis menyelesaikan pelatihan terapi realitas dan
pelatihan teori keputusan yang dilaksanakan oleh Institut William Glasser. Setelah
menyelesaikan program pelatihan 18 bulan ini, Sertifikat sebagai penanda selesainya
program pelatihan akan diberikan. Proses pelatihan ditawarkan di Amerika Serikat,
Kanada, dan negara-negara lain. Pelatihannya sendiri terdiri atas Minggu Intensif Dasar (4
hari) dan Praktikum Dasar lanjutan (30 jam), Minggu Intensif Lanjutan, Praktikum
Lanjutan, dan Minggu Sertifikasi dimana pendemonstrasian keahlian yang diperoleh akan
dilakukan. Informasi lengkap program ini dapat diperoleh langsung dari Institut William
Glasser.
The William Glasser Institute
William Glasser, MD, President and Founder
22024 Lassen Street, Suite #118
Chatsworth, CA 91311-3600
Telephone: (818) 700-8000
Toll free: (800) 899-0688
Fax: (818) 700-0555
E-mail: wginst@wglasser.com
Website: www.wglasser.com
Center for Reality Therapy
Dr. Robert E. Wubbolding, Director
7672 Montgomery Road #383
Cincinnati, OH 45236-4204
Telephone: (513) 561-1911
Fax: (513) 561-3568
E-mail: wubsrt@fuse.net
Website: www.realitytherapywub.com
Jurnal Internasional Terapi Realitas membahas konsep-konsep psikologi pengendalian
internal diri, yang menekankan penelitian, pengembangan, serta penerapan praktis teori
keputusan dan prinsip-prinsip terapi realitas dalam berbagai situasi. Untuk berlangganan,
hubungi:
Dr. Lawrence Litwack, Editor
International Journal of Reality Therapy
650 Laurel Avenue #402
Highland Park, IL 60035
Telephone: (847) 681-0290
E-mail: llitwack@aol.com
Website: www.journalofrealitytherapy.com
Jurnal Internasional Teori Keputusan merupakan jurnal resmi Institut William Glasser,
ditujukan untuk penerapan teori keputusan. Jurnal ini membahas penerapan teori
keputusan dalam lingkup pendidikan, konseling, dan kesehatan masyarakat. Untuk
berlangganan, hubungi:
Dr. Jeff Tirengel, Editor
The William Glasser Institute
22024 Lassen Street, Suite #118
Chatsworth, CA 91311-3600
E-mail: ChoiceTheoryJournal@gmail.com
Website: www.wglasser.com/internat.htm
SARAN BACAAN LANJUTAN
Warning: Psychiatry Can Be Hazardous to
Your Mental Health (Glasser, 2003)
merupakan buku yang memberikan
pandangan profokativ baru terhadap
praktik psikiatrik dan penggunaan obat-
obatan dalam mengobat “penyakit
kejiwaan.Penulis buku ini memberikan
sebuah alternatif baru dalam
mengkalisfikasikan dan
mempatologiskan klien.
Counseling With Choice Theory: The New
R
eal
-
ity Therapy (Glasser, 2001) berisi
anggapan terbaru Glasser terkait teori
keputusan dan buku ini mengembangkan
tema eksistensial yang kita putuskan
dalam keseluruhan perilaku kita. Contoh
kasus dalam buku ini mendemonstrasikan
bagaimana prinsip-prinsip teori
keputusan dapat diterapkan dalam
membantu klien menjalin hubungan yang
lebih baik.
Reality Therapy for the 21st Century (Wu
b
-
bolding, 2000) merupakan buku
komperhensif dan praktik yang
memberikan tambahan pemahaman dan
pengembangan terapi realitas.
Pembentukan praktis sistem WDEP terapi
realitas dijelaskan secara mendalam dalam
buku ini. Buku ini juga membahas
adaptasi-adaptasi multikultural dan
rangkuman sejumlah penelitian yang
membenarkan teori serta praktik terapi
realitas.
Case Approach to Counseling and
P
syc
hothe
r
a
p
y (Corey, 2009)
menggabarkan bagaimana Drs. William
Glasser dan Robert Wubbolding
menangani Ruth menurut perspektif
teori keputusan dan terapi realitas
mereka masing-masing
REFERENSI DAN SARAN BACAAN
AMERICAN PSYCHIATRIC
A
SS
O
CIATI
O
N. (2000). Diagnostic
and statistical manual of mental
disorders, text revision, (4th ed.).
Washington, DC:
A
uthor.
COREY, G. (2008). Theory and practice
of group c
o
un- seling (7th ed.).
Belmont, CA: Brooks
/
Cole.
*COREY, G. (2009). Case approach to
counseling
and
psychotherapy (7th
ed.). Belmont, CA: Brooks
/
Cole.
GLASSER, W. (1965). Reality therapy: A
new approach to psychiatry. New
York: Harper & Row.
GLASSER, W. (1992). Reality therapy.
New York State Journal for
Counseling and Development, 7(l),
513.
*GLASSER, W. (1998). Choice theory: A
new psychology of personal freedom.
New York: Harper Collins.
*GLASSER, W. (2001). Counseling with
choice theory: The new reality
therapy. New York: Harper Collins.
GLASSER, W. (2003). Warning:
Psychiatry can be hazardous to your
mental health. New York:
HarperCollins.
GLASSER, W. (2005). Defi ning mental
health as a public health problem: A
new leadership role for the helping
professions. Chatsworth, CA:
William Glasser Institute.
*WUBBOLDING, R. E. (1988). Using
reality therapy. New York: Harper &
Row (Perennial Library).
*WUBBOLDING, R. E. (1991).
Understanding reality therapy. New
York: Harper & Row (Perennial
Library).
WUBBOLDING, R. E. (1996). Reality
therapy: Theoretical underpinnings
and implementation in practice.
Directions in Mental Health
Counseling, 6(9), 416.
*WUBBOLDING, R. E. (2000). Reality
therapy for the 21st century.
Philadelphia, PA: Brunner-
Routledge.
WUBBOLDING, R. E. (2007a). Reality
therapy. In A. B. Rochlen (Ed.),
Applying counseling theories: An
online case-based approach (pp.
193207). Upper Saddle River, NJ:
Pearson Prentice-Hall.
WUBBOLDING, R. E. (2007b). Reality
therapy theory. In D. Capuzzi & D.
R. Gross (Eds.), Counseling and
psychotherapy: Theories and
interventions (4th ed., pp. 289312).
Upper Saddle River, NJ: Merrill
Prentice-Hall.
WUBBOLDING, R. E. (2008a). Cycle of
managing, supervising, counseling
and coaching (chart, 16th revision).
Cincinnati, OH: Center for Reality
Therapy.
WUBBOLDING, R. E. (2008b). Reality
therapy. In J. Frew & M. D. Spiegler
(Eds.), Contemporary
psychotherapies for a diverse world
(pp. 360396). Boston: Lahaska
Press.
*WUBBOLDING, R. E., & BRICKELL,
J. (2001). A set of directions for
putting and keeping yourself
together. Minneapolis, MN:
Educational Media Corporation.
WUBBOLDING, R. E., & BRICKELL, J.
(2005). Reality therapy in recovery.
Directions in Addiction Treatment
and Prevention, 9(1), 110. New
York: The Hatherleigh Company.
WUBBOLDING, R. E., &
COLLEAGUES. (1998).
Multicultural awareness:
Implications for reality therapy and
choice theory. International Journal
of Reality Therapy, 17(2), 46.
WUBBOLDING, R. E., BRICKELL, J.,
IMHOF, L., IN-ZA KIM, R., LOJK,
L., & AL-RASHIDI, B. (2004).
Reality therapy: A global
perspective.
International Journal for the Advancement
of
Counseling, 26(3), 219228.
*Buku dan artikel yang diberikan tanda
asterisk merupakan bahan bacaan untuk
studi lanjutan.
BAB DUA BELAS
Terapi Feminist
Penulis Barbara Herlihy dan Gerald Corey
Pengantar
Sejarah dan Perkembangan
Konsep kunci
Pandangan Sifat dasar manusia
Perspektif Feminis dalam
perkembangan kepribadian
Prinsip dari Terapi Feminis
Proses Terapi
Tujuan Terapi
Fungsi dan Peran Terapi
Pengalaman Klien dalam terapi
Hubungan antara Terapi dan Klien
Aplikasi : Teknik dan Prosedur
terapi
Peran Kajian dan Diagnosa
Teknik dan Strategi
Peran Pria dan Terapi Feminis
Terapi Feminis dari Perspektik
Keberagaman
Kelebihan dari Perspektif
Keberagaman
Kelemahan dari Perspektif
Keberagaman
Terapi Feminis diaplikasikan
pada kasus Stan
Kesimpulan dan Evaluasi
Kontribusi terapi Feminis
Batasan dan Kritik dari Terapi
Feminis
Kemana Pergi dari Sini
Bacaan Tambahan yang
Direkoemndasikan
Referensi dan Bacaan Yang
Disarankan
Beberapa Terapis Feminis Kontemporer
Terapi Feminis tiak memiliki pendiri
perseorangan. Namun, ia adalah usaha dari
banyak orang. Kita telah memilih beberapa
individu yang memiliki kontribusi
signifikan dalam terapi feminis,
mengetahuai dnegan baik bahwa banyak
praktisi yang berpengaruh lainnya yang
bisa dimasukkan disini. Terapi feminis
ditemukan dari sebuah teori inklusi
JEAN BAKER MILLER- MD (1928-2006), merupakan seorang profesor
Psikiater klinik dari Boston University School of Medicine dan Direktur dari
Jean Baker Miller Training Institute di Stone Center, Wellesly College. Dia
menulis Toward a New Psychology of Women dan co-author dari The
Healing Connection: How Women Form Relationships in Therapy and in
Life dan Women’s Growth in Connection. Miller berkolaborasi dengan
beragam kelompok terpelajar dalam penegmbangan teori relasi-kultural. Dia
membuat kontribusi penting dalam mengembangkan teori ini dan
mengeksplor aplikasi baru pada masalah komplek dalam psikoterapi dan sekitarnya, termasuk
masalah keberagaman, tindakan sosial, dan perubahan tempat kerja.
CAROLYN ZERBE ENNS, PhD, adalah seorang profesor psikologi dan
seorang partisipan aktif dalam program penelitian wanita di Cornell College
di Mt. Vernon, Lowa. Enns tertarik dnegan terpai feminis sembari
menyelesaikan peraihan gelar PhDnya dalam Psikologi Konseling di
Univerity of California, Santa Barbara. Dia mengabdikan banyak karyanya
untuk mengeksplor dampak besar yang dimiliki teori feminis dalam hal
dimana terapis mengimplementasikan praktik terapi, dan dia mendiskusikan
dampak ini dalam Feminist Theories and Feminist Psychotherapies: Origins,
Themes, and Diversity (2004). Sebagai bagian dari komitmennya untuk
perubahan sosial, Enns menduduki American Psychological Association’s Committee on
Memories of Childhood Sexual Abuse.dia saat ini menjadi wakil dari APA Task Force to Develop
Guidelines for Counseling and Psychotherapy with Women.usaha paling terbarunya diarahkan
untuk menyarakan pentingnya terapi feminis multikultural, mengeksplor praktik dari terapi
feminis di seluruh dunia (khususnya di Jepang), dan menulis tentang pedagogi feminis
multikultural.
OLIVA M. ESPIN, PhD, adalah seorang profesor dari penelitian wanita
di San Diego State University dan pengajar inti di California School of
Professional Psychology, San Diego. Dia adalah pendehulu dalam teori
dan praktik dari terapi feminis dnegan wanita dari latar belakang
kebudayaan yang berbeda dan telah melakukan penelitian yang panjang,
pengajaran, pelatihan dalam masalah kultural dalam psikologi. Espin telah
menerbitkan tentang psikologi dengan Latina, wanita imigrann dan
pencari suaka, sexualitas Latinas, bahasa dalam terapi dengan bilingual
fasih, dan melatih klinisian untuk bekerja dengan populasi multikultural.
Asli dari Kuba, dia menyelesaikan karya Strata satunya dalam psikologi di Universidad de Costa
Rica dan PhDnya dalam Pendidikan Konselor dan Studi Amerika Latin di Universitas Florida.
Espin melakukan editing Refugee Women and Their Mental Health: Shattered Societies,
Shattered Lives dan telah menulis Lives of Power and Tradition, Latina Realities: Essays on
Healing, Sexuality, and Migration, and Women Crossing Boundaries: A Psychology of
Immigration and the Transformation of Sexuality,yang berdasar pada studi tentang perempuan
imigran dari seluruh duniaLAURA S. BROWN, PhD, adalah anggota pendiri Institut Terapi
Feminis, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk mendukung praktik lanjutan dalam terapi
feminis, dan anggota kelompok kerja teori di Konferensi Nasional Pendidikan dan Pelatihan
Praktik Feminis. Dia telah menulis beberapa buku yang dianggap inti untuk praktik feminis
dalam psikoterapi dan konseling, dan Dialog Subversif: Teori dalam Terapi Feminis (1994)
dianggap oleh banyak orang sebagai buku dasar yang membahas bagaimana teori
menginformasikan praktik dalam terapi feminis. Brown telah memberikan kontribusi khusus
untuk berpikir tentang etika dan batasan, dan kompleksitas praktik etika dalam komunitas kecil.
Minatnya saat ini termasuk psikologi forensik feminis dan penerapan prinsip-prinsip feminis
untuk pengobatan korban trauma.
Pengantar
5
Bab ini memberikan perspektif alternatif untuk banyak model yang dipertimbangkan sejauh ini
dalam buku ini. Seperti yang akan Anda lihat, terapi feminis menempatkan gender dan kekuatan
sebagai inti dari proses terapeutik. Terapi feminis dibangun di atas premis bahwa penting untuk
mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan politik yang berkontribusi pada masalah
seseorang untuk memahami orang itu. Perspektif ini memiliki implikasi yang signifikan untuk
pengembangan teori konseling dan untuk bagaimana praktisi melakukan intervensi dengan
populasi klien yang beragam.
Konsep sentral dalam terapi feminis adalah pentingnya memahami dan mengakui
penindasan psikologis wanita dan kendala yang dipaksakan oleh status sosiopolitik di mana
wanita telah didegradasi. Perspektif feminis menawarkan pendekatan unik untuk memahami
peran yang telah disosialisasikan baik perempuan maupun laki-laki untuk menerima dan
membawa pemahaman ini ke dalam proses terapi. Sosialisasi perempuan pasti mempengaruhi
perkembangan identitas mereka, konsep diri, tujuan dan aspirasi, dan kesejahteraan emosional
(Belenky, Clinchy, Goldberger, & Tarule, 1987/1997; Gilligan, 1982). Seperti yang diamati oleh
Natalie Rogers (1995), pola sosialisasi cenderung menghasilkan wanita memberikan kekuatan
mereka dalam hubungan, seringkali tanpa menyadarinya. Terapi feminis menjaga pengetahuan
tentang sosialisasi gender dalam pikiran dalam pekerjaan dengan semua klien.
Mayoritas klien dalam konseling adalah wanita, dan mayoritas praktisi psikoterapi di
tingkat master adalah wanita. Namun, sebagian besar teori yang diajarkan secara tradisional
termasuk semua teori lain dalam buku ini didirikan oleh laki-laki kulit putih dari budaya Barat
(Amerika atau Eropa), dengan Adler mengambil satu-satunya sikap pro-feminis dalam
pengembangan teori awal. Kebutuhan akan teori yang berevolusi dari pemikiran dan pengalaman
wanita tampaknya sudah jelas. Teori dikembangkan dari pengalaman "pengembang," dan teori
feminis adalah proposal intervensi teori terapi pertama dari perspektif "lensa" wanita.
Terapis feminis telah menantang asumsi yang berorientasi pada pria tentang bagaimana
individu yang sehat secara mental. Upaya terapi feminis awal berfokus pada menghargai
5
Saya mengundang seorang rekan dan teman, Barbara Herlihy, seorang profesor pendidikan konselor di Universitas
New Orleans, untuk menulis bab ini bersama-sama. Kami telah menulis dua buku bersama-sama (Herlihy & Corey,
2006a, 2006b), yang sepertinya merupakan dasar alami untuk kolaborasi pada proyek yang kami anggap berharga.
pengalaman wanita, pada realitas politik, dan pada advokasi untuk masalah unik yang dihadapi
wanita dalam sistem patriarki. Praktik feminis saat ini membahas efek berbahaya dari kekuatan
sosial pada semua klien (Gilbert & Rader, 2007). Feminisme modern menekankan pendekatan
beragam yang mencakup pemahaman tentang berbagai penindasan, kesadaran multikultural, dan
kompetensi multikultural (Beardsley, Morrow, Castillo, & Weitzman, 1998; Brown & Root,
1990). Feminis masa kini percaya bahwa gender tidak dapat secara efektif dianggap terpisah dari
identitas lain yang terkait dengan ras, etnis, kelas sosial ekonomi, dan orientasi seksual. Kaum
feminis telah banyak berkontribusi pada pengembangan teori-teori identitas ganda.
Versi kontemporer dari terapi feminis dan pendekatan multikultural untuk praktik
konseling memiliki banyak kesamaan. Kedua pendekatan ini memberikan perspektif sistemik
berdasarkan pemahaman konteks sosial perilaku. Kedua perspektif didasarkan pada asumsi
bahwa perubahan sosial adalah kunci untuk mempengaruhi individu. Bab ini menggambarkan
landasan bersama yang dimiliki oleh pendekatan feminis dan multikultural terhadap praktik
klinis.
Sejarah dan Perkembangan
Terapi feminis telah berkembang secara mendasar, menanggapi tantangan dan kebutuhan yang
muncul dari perempuan (Brabeck & Brown, 1997). Tidak seorang pun dapat diidentifikasi
sebagai pendiri pendekatan ini, yang mencerminkan tema sentral dari kolaborasi feminisme.
Sejarahnya relatif singkat. Sementara permulaan feminisme dapat ditelusuri hingga akhir 1800-
an, sebenarnya gerakan perempuan tahun 1960-an yang meletakkan dasar untuk pengembangan
terapi feminis; tahun 1960-an adalah masa ketika perempuan mulai menyatukan suara mereka
untuk mengekspresikan ketidakpuasan mereka dengan sifat peran tradisional perempuan yang
membatasi dan mengikat. Kelompok-kelompok peningkatan kesadaran, di mana perempuan
berkumpul untuk berbagi pengalaman dan persepsi mereka, membantu setiap wanita menjadi
sadar bahwa mereka tidak sendirian dalam pandangan mereka. Sebuah persaudaraan
berkembang, dan beberapa layanan yang berevolusi dari keinginan kolektif perempuan untuk
meningkatkan masyarakat termasuk tempat perlindungan bagi wanita yang dirusak, pusat-pusat
krisis pemerkosaan, dan pusat kesehatan wanita serta kesehatan reproduksi.
Perubahan psikoterapi terjadi ketika terapis wanita berpartisipasi dalam kelompok
peningkatan kesadaran dan diubah oleh pengalaman mereka. Mereka membentuk kelompok
terapi feminis yang beroperasi dari norma yang sama dengan kelompok peningkatan kesadaran,
termasuk struktur nonhierarkis, pembagian sumber daya dan kekuatan yang setara, serta
pemberdayaan perempuan. Para wanita ini juga menyadari bahwa mereka sudah bekerja dengan
klien dari kacamata feminis yang belum pernah didefinisikan secara formal.
Percaya bahwa konseling pribadi adalah cara yang sah untuk melakukan perubahan,
mereka memandang terapi sebagai kemitraan antara yang sederajat, dan mereka membangun
kebersamaan dalam proses terapi. Mereka mengambil sikap bahwa terapi perlu bergerak dari
perspektif psikopatologis intrapsikis (di mana sumber ketidakbahagiaan seorang wanita berada di
dalam dirinya) ke fokus pada pemahaman kekuatan sosial, politik, dan patologis dalam
masyarakat yang merusak dan membatasi perempuan dan wanita, serta pria.
Banyak penelitian tentang bias gender muncul pada tahun 1970-an, yang membantu ide
terapi feminis lebih lanjut, dan organisasi formal mulai mendorong pengembangan dan definisi
terapi feminis. Di antara mereka adalah Association for Women in Psychology (AWP) dan
berbagai upaya oleh American Psychological Association (APA). APA mengembangkan
beberapa dokumen yang menyajikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan konselor yang
penting untuk mengatasi masalah gender secara efektif dalam proses konseling.
1980-an ditandai oleh upaya untuk mendefinisikan terapi feminis sebagai entitas dalam
dirinya sendiri (Enns, 1993), dan terapi individu adalah bentuk terapi feminis yang paling sering
dipraktikkan (Kaschak, 1981). Karya Gilligan (1982) tentang pengembangan moralitas
kepedulian pada wanita, dan karya Miller (1986) dan para ahli Stone Center dalam
mengembangkan model self-in-relation (sekarang disebut model relasional-kultural) sangat
berpengaruh dalam evolusi teori kepribadian feminis. Teori-teori baru muncul yang
menghormati dimensi relasional dan kooperatif pengalaman perempuan (Enns, 1991, 2000,
2004; Enns & Sinacore, 2001). Terapis feminis mulai secara formal memeriksa hubungan teori
feminis dengan sistem psikoterapi tradisional, dan integrasi dengan berbagai sistem yang ada
diusulkan.
Pada 1980-an terapi kelompok feminis telah berubah secara dramatis, menjadi lebih
beragam karena semakin terfokus pada masalah spesifik seperti citra tubuh, hubungan yang
kasar, gangguan makan, inses, dan pelecehan seksual lainnya (Enns, 1993). Filosofi feminis yang
memandu praktik terapi juga menjadi lebih beragam. Menurut Enns (2004), di bidang terapi
feminis "ada ruang untuk keragaman praktik dan kesempatan bagi individu untuk
mengartikulasikan seperangkat keyakinan yang secara pribadi bermakna dan yang memandu
praktik transformasional" (hal. 10). Ada feminis yang mengidentifikasi diri mereka sebagai
orang yang berpusat pada pelaku, Gestalt, Adlerian, perilaku, dan bahkan psikoanalitik, tetapi
sebagian besar terapis feminis tidak merasa perlu memposisikan diri di tempat filosofis tertentu.
Enns (1993, 2004; Enns & Sinacore, 2001) mengidentifikasi empat filosofi feminis abadi,
yang sering digambarkan sebagai "gelombang kedua" feminisme: feminisme liberal, budaya,
radikal, dan sosialis. Semua filosofi ini mengadvokasi aktivisme sosial dan mengubah
masyarakat sebagai tujuan dalam praktik feminis.
Feminis liberal fokus pada membantu perempuan secara individu mengatasi batasan dan
hambatan dari pola sosialisasi peran gender tradisional. Feminis liberal berpendapat untuk
transformasi dari menerima peran gender tradisional untuk menciptakan kesempatan yang sama
bagi perempuan dan laki-laki. Kaum feminis ini cenderung percaya bahwa perbedaan antara
perempuan dan laki-laki akan kurang bermasalah karena lingkungan kerja dan sosial menjadi
lebih bebas bias. Untuk feminis liberal, tujuan utama terapi termasuk pemberdayaan pribadi
perempuan secara individu, martabat, pemenuhan diri, kekuatan bersama dalam pengambilan
keputusan dalam hubungan, dan kesetaraan. Tujuan utama lainnya adalah untuk menghilangkan
praktik psikoterapi yang telah mendukung sosialisasi tradisional dan didasarkan pada pandangan
yang bias tentang perempuan dan laki-laki (Enns, 2004).
Feminis kultural meyakini penindasan berasal dari devaluasi masyarakat atas kekuatan,
nilai, dan peran perempuan. Mereka menekankan perbedaan antara perempuan dan laki-laki dan
percaya solusi untuk penindasan terletak pada feminisasi budaya sehingga masyarakat menjadi
lebih memelihara, intuitif, subjektif, kooperatif, dan relasional. Feminisme kultural lebih
menekankan nilai-nilai interdependensi daripada individualism (Enns, 2004). Bagi para feminis
kultural, tujuan terapi adalah transformasi sosial melalui infuse nilai-nilai feminine (seperti
kerjasama, altruism, dan keterhubungan) ke dalam budaya.
Feminis radikal fokus pada isu-isu opresi perempuan dalam patriarki dan ingin
mengubah masyarakat melalui aktivisme dan kesetaraan kekuasaan antara pria dan wanita.
Feminis radikal berusaha untuk mengidentifikasi dan mempertanyakan bagaimana patriarki
menguasai seluruh aspek kehidupan seperti pengurusan rumah rangga, pekerjaan, pasangan,
kekerasan, dan peran sebagai orang tua. Feminis radikal ini menantang situasi dimana
perempuan tidak diberikan kekuasaan. Tujuan mereka adalah untuk mengubah hubungan gender,
mengubah struktur sosial masyarakat, dan meningkatkan tekad dan kepercayaan diri seksual
wanita.
Feminis sosialis memiliki tujuan serupa dengan feminis radikal dalam aspek perubahan
sosial. Akan tetapi, feminis radikal lebih berfokus pada opresi dan menganggap bahwa solusi
permasalahan masyarakat adalah dengan memikirkan isu-isu terkait strata masyarakat, ras,
orientasi seksual, ekonomi, nasionalitas, dan sejarah. Feminis sosial lebih memperhatikan isu-isu
pengaruh pekerjaan, pendidikan, dan keluarga terhadap kehidupan wanita. Bagi feminis sosial.
Tujuan utama terapi adalah untuk mengubah hubungan dan struktur sosial.
Dalam beberapa tahun terakhir, perempuan-perempuan feminis ras minoritas dan feminis
pasca-moderen menganggap bahwa teori feminis klasik sudah tidak sesuai lagi sehingga
merekapun mengusulkan perspektif teoritis baru yang berfokus pada isu-isu keberagaman,
seksisme, dan konteks sosial dalam memahami permasalahan-permasalahan gender. Di tahun
1993, para psikologis yang mendukung keberagaman perspektif feminis ini berkumpul dalam
Konferensi Nasional tentang Pendidikan dan Pelatihan dalam Praktik Feminis. Merekapun
menemukan kesepakatan terkait tema-tema dan anggapan-anggapan dasar dalam praktik frminis
untuk mempersatukan beragam perspektif feminis ini. Enns (2004) mengatakan bahwa feminism
“gelombang ketiga” ini mendukung keberagaman dan keberadaan perempuan-perempuan ras
minoritas, lesbian, serta pandangan pascamoderen dan konstruktivis yang disuarakan oleh
sejumlah perempuan generasi terbaru. Kemajuan baru dalam feminisme juga mengonsiderasikan
perspektif global dan internasional. Enns (2004) menggambarkan beberapa ciri utama
pendekatan feminis gelombang ketiga.
Feminis Pascamoderen menjadi wadah untuk mengkritisi nilai-nilai pendekatan dan
tradisi feminis lain, membahas isu-isu terkait bentuk realitas sesungguhnya dan menggagas
adanya kebenaran jamak, kebenaran bukan hanya ada satu. Perspektif pascamoderen dilandaskan
atas asumsi bahwa “realitas dibentuk melalui hubungan sosial dan konteks historis, diciptakan
secara secara sosial, dan dibentuk ulang melalui hubungan kekuasaan” (Enns, 2004, hal. 271).
Pendekatan ini mengemukakan adanya keterbatasan dalam pengetahuan dan adanya kecacatan
dalam diri “orang-orang yang tahu”. Konsep-konsep polaritas seperti konsep maskulinitas-
feminitas didekonstruksi dalam pendekatan ini, dimana proses dekonstruksi dilakukan dengan
menganalisis bagaimana konstruksi-konstruksi sosial ini tercipta.
Feminis perempuan ras minoritas mengatakan bahwa teori feminis perlu dikembangkan
dan dibuat lebih inklusif. Mereka mengkritisi beberapa feminis Kulit putih yang
mengeneralisasikan pengalaman mereka dengan pengalaman seluruh perempuan.
Feminis lesbian memiliki keserupaan dengan feminism radikal. Kedua perspektif tersebut
melihat penindasan perempuan terkait dengan gambaran seksualitas perempuan yang terbentuk
dalam masyarakat. Lesbian yang menganggap dirinya sebagai feminis kadang merasa diasingkan
oleh feminis-feminis perempuan heteroseksual yang tidak memahami diskriminasi orientasi
seksual. Perspektif ini mendorong teori feminis agar juga memasukkan analisis multi-identitas
dan keterkaitannya dengan penindasan yang dialami perempuan. Perspektif ini bertujuan agar
orang-orang menyadari keberagaman dalam kalangan lesbian.
Feminis global internasional menggunakan perspektif lanskap dunia dan berusaha untuk
memahami bagaimana rasisme, seksisme, ekonomi, dan klasisme mempengaruhi perempuan-
perempuan di berbagai negara. Feminis barat dibuat sadar akan etnosentrisme dan penstereotipan
perempuan yang mereka lakukan selama ini terhadap perempuan di seluruh belahan dunia.
Feminis global menganggap bahwa tiap perempuan hidup dalam sistem penindasan yang
berbeda-beda. Meskipun feminis global ini menghargai keberagaman perempuan seluruh dunia,
mereka merasa bahwa kesadaran akan adanya perbedaan budaya dalam penindasan perempuan
ini perlu untuk ditingkatkan.
Tidak ada satu teori feminis yang utuh. Akan tetapi, beragam teori feminis memiliki
perbedaan dan kesamaan perspektif satu sama lain (Enns & Sinacore, 2001). Melihat filsafat
dipenuhi dengan keberagaman dan tidak adanya satu definisi jelas terapi feminis, lantas siapakah
terapis feminis itu? Sejumlah terapis, pria dan wanita, mendukung pergerakan feminisme. Akan
tetapi, jika mereka tidak menerapkan metode terapi feminis dalam proses penanganan yang
mereka lakukan, mereka tidak dapat dikatakan sebagai terapis feminis (Brown, 1992). Menurut
terapis feminis, proses memahami dan melawan stereotip peran gender merupakan isu utama
dalam praktik terapi dan mereka juga menganggap bahwa perspektif sosiokultural perlu
diterapkan untuk menangani masalah klien: seperti, memahami dampak masyarakat dan
kebudayan lingkungan klien.
Konsep-Konsep Utama
Pandangan terkait Sifat Manusia
Pandangan feminis terkait sifat manusia berbeda dengan pandangan model-model
terapi lain. Sejumah teori tradisional berasal dari era historis dimana sturktur sosial dilandaskan
dari gender biologis seseorang. Pria diasumsikan sebagai norma sosial dan sebagai kelompok
yang pantas dipelajari atau dipahami; perempuan seringkali diabaikan dan dianggap “serupa
dengan pria.” Pemahaman tradisional juga mengasumsikan bahwa karena adanya perbedaan
biologis dalam gender, pria dan wanita memiliki arah kehidupan yang berbeda. Worell dan
Remer (2003) mengkritisi teori-teori tradisional karena teori-teori ini bersifat androsentris
(menggunakan konstuksi sosial beriorientasi pria sebagai landasan pemahaman untuk
menyimpulkan manusia, termasuk wanita, dana lam), bersifat gendersentris (menganggap
bahwa terdapat dua arah perkembangan yang berbeda untuk pria dan wanita), bersifat
heteroseksis (melihat orientasi heteroseksual sebagai norma dan orientasi yang benar, dan tidak
membenarkan orientasi lesbian, homoseksual, dan biseksual), bersifat deterministik
(menganggap bahwa pola kepribadian dan pola perilaku telah dapat dipastikan di tahap awal
perkembangan diri), serta berorientasi intrapsikis (menganggap perilaku yang dilakukan
disebabkan oleh pengaruh internal, yang seringkali akan langsung menjadikan korban sebagai
penyebab peristiwa, mengabaikan faktor-faktor politis dan sosio-kultural). Karena teori-teori
tradisional ini memiliki elemen-elemen bias di dalamnya, teori-teori ini memiliki keterbatasan
dalam menangani perempuan dan sejumlah kelompok pinggiran lainnya.
Worell dan Remer (2003) menggabarkan konstruksi teori feminis bersifat adil sesuai
gender, fleksibel secara multikultural, interaksionis, dan beriorientasi seumur-hidup.
Pendekatan keadilan-gender lebih menjelaskan perbedaan perilaku wanita dan pria merupakan
proses sosial dan bukan merupakan “sifat” dasar manusia, sehingga pendekatan ini tidak
memiliki stereotip terhadap peran sosial dan perilaku interpersonal. Perspektif multikultural-
fleksibel menggunakan konsep dan strategi yang dapat diterapkan dalam setiap individu dan
kelompok terlepas dari aspek usia, ras, budaya. gender, kemampuan, kelas, ataupun orientasi
seksual individu serta kelompok. Pandangan interaksionis melingkupi konsep-konsep terkait
dimensi pemikiran, perasaan, dan perilaku manusia. Pandangan ini juga memperhitungkan
faktor-faktor kontekstual dan lingkungan klien. Perspektif seumur-hidup mengatakan bahwa
pengembangan diri manusia adalah suatu proses yang berjalan seumur hidup seseorang dan
perspektif ini juga mengatakan bahwa pola kepribadian dan perubahan perilaku dapat terjadi
kapanpun, tidak hanya selama masa kecil klien saja.
Perspektif Feminis terkait Pengembangan Kepribadian
Para terapis feminis menekankan bahwa ekspektasi peran gender dalam masyarakat
secara mendalam mempengaruhi identitas diri seseorang sejak ia lahir dan ekspektasi peran ini
masuk ke dalam kepribadian dirinya sebagai orang dewasa. Karena politik gender merupakan
bagian masyarakat Amerika, politik-politik gender ini mempengaruhi cara kita melihat diri kita
sebagai gadis dan laki-laki serta sebagai pria dan wanita. “Perempuan pada umumnya diharapkan
untuk bersifat manis, peka, dan pendiam, sementara pria diharapkan untuk bersifat kuat, stoa,
dan berani” (Prochaska & Norcross, 2007, hal. 396).
Gilligan (1977) menyadari bahwa sebagian besar teori perkembangan moral didasarkan
kepada penelitian laki-laki remaja dan pria dewasa. Berdasarkan hasil penelitiannya terhadap
perkembangan moral dan psikososial wanita, Gilligan meyakini bahwa persepsi diri dan
moralitas perempuan didasarkan kepada isu-isu terkait tangungjawab dan kepedulian terhadap
orang lain dan isu0isu tersebut berada dalam lingkup konteks kultural perempuan yang
bersangkutan. Ia mengatakan bahwa konsep keterkaitan dan interdependensi-diabaikan dalam
teori pengembangan dominasi pria-merupakan aspek utama dalam pengembangan diri wanita.
Sebagian besar model pertumbuhan dan perkembangan diri manusia menekankan adanya
suatu perjuangan menuju kemandirian dan otonomi, namun kelompok feminis menyadari bahwa
perempuan menginginkan jalinan hubungan dengan orang lain. Dalam model terapi feminis,
kualitas hubungan manusia dilihat sebagai kekuatan dan sebagai jalan menuju pertumbuhan dan
pengembangan diri yang sehar, bukan sebagai kelemahan atau kecacatan.
Para ahli pendiri teori relasional-kultural telah mengemukakan pentingnya peranan
hubungan dan kedekatan dengan orang lain dalam kehidupan seorang wanita (Jordan, Kaplan,
Miller, Stiver, & Surrey, 1991; Miller, 1986, 1991; Miller et al., 1999; Miller & Stiver, 1997;
Surrey, 1991). Para ahli ini mengatakan bahwa konsep diri dan identitas wanita berkembang
dalam konteks hubungan kedekatan yang ia jalin. Surrey (1992) meyakini bahwa hubungan
empatik antara ibu-anak perempuan merupakan perumpaan inti hubungan-hubungan lain,
termasuk hubungan terapi. Seperti yang anda akan lihat nantinya, ada banyak teknik terapi
feminis menumbuhkan sikap mutualitas, kapasitas relasional, dan pertumbuhan kedekatan dalam
diri klien.
Kaschak (1992) menggunakan istilah engendered livesuntuk menggambarkan
keyakinannya bahwa gender adalah prinsip yang yang teratur dalam kehidupan manusia. Dia
telah mempelajari peran gender dalam membentuk identitas wanita dan pria dan percaya bahwa
maskulinitas mendefenisikan feminitas. Sebagai contoh, karena pria memberikan perhatian besar
pada tubuh wanita, penampilan wanita diberikan kepentingan yang besar dalam masyarakat
barat. Hal ini mudha untuk melihat bagaimana perspektif ini dianggap dalam kelainan makan dan
beragam bentuk depresi. Selain itu, pria, sebagai kelompok dominan, mendefenisikan dan
menentukan peran yang dimainkan perempuan. Karena perempuan menduduki posisi subordinat,
untuk bertahan hidup mereka harus dapat menginterpretasian kebutuhan dan perilaku dari
kelompok dominan. Pada akhir tersebut, wanita telah mengembangkan “intuisi wanita” dan telah
memasukkan dalam skena gender mereka sebuah keyakinan internal bahwa wanita tidak
sepenting prian. Wanita ditumbuhkan dalam kebudayaan yang berdasar pada sexisme, dan
mereka meninternalisasikan opresi. Memahami dan mengakui opresi yang terinternalisasi
merupakan pusat dari pekerjaan feminis.
Terapis feminis mengingatkan kita bahwa stereotype gender tradisional tentang wanita
masih umum di kebudayaan kita. Mereka mengajarkan klien mereka bahwa penerimaan tidak
kritis dari peran tradisional dapat membatasi secara besar tingkat kebebasan mereka. hari ini
banyak wanita dan pria menolak untuk didefiniskan secara sempit. Wanita dan pria dalam terapi
belajar bahwa, jika mereka memilih utnuk, mereka dapat mengekspresikan karakteristik perilaku
mutual seperti menerima diri mereka sendiri yang saling bergantung, memberi ke orang lain,
terbuka untuk menerima, berpikir dan merasa, dan lembut dan kuat. Bukannya tertanam pada
satu gaya perilaku, pria dan waita yang menolak peran tradisional mengatakan bahwa mereka
berkualifikasi untuk mengekspresikan karakteristik luas yang sesuai untuk situasi yang berbeda
dan bahwa mereka terbuka pada kerentanan sebagai manusia.
Prinsip Terapi Feminis
Sejumlah penulis feminis telah menyuarakan prinsip inti yang membentuk fondari untuk praktik
terapi feminis. Prinsip ini saling berhubungan dan saling melengkapi.
1. Personal itu politikal. Prinsip ini berdasar pada asumsi bahwa masalah individu atau
personal yang dibawa individu ke dalam konseling berasal dari konteks sosial dan politik.
Bagi wanita, konteksnya sering kali adalah marginalisasi, opresi, subordinasi, dan
stereotyping. Mengenali dampak politik dan sosial pada kehidupan individu mungkin
merupakan prinsip paling fundamental yang terletak pada inti terapi feminis.
2. Komitmen pada perubahan sosial. Terapi feminis bertujuan bukan hanya untuk
perubahan individu melainkan juga untuk perubahan sosial. Feminis memandang terapi
praktik terapi mereka hadir bukan hanya untuk membatu klien secara individu tetapi juga
untuk memajukan transformasi dalam masyarakat. Penting bahwa wanit ayang terlibat
dalam proses terapi- klien dan terapis sama- mengenali bahwa mereka telah menderita
karena opresi sebagai anggota dari kelompok subordinasi dan mereka dapat bergabung
dengan wanita lain untuk membenarkan kesalahan ini. Tujuannya adalah untuk
memajukan visi yang berbeda tentang organisasi sosial yang membebaskan wanita juga
pria dari batasan yang diberikan oleh ekspektasi peran gender untuk mempromosikan
perubahan individu. Visi konseling ini, yang menggerakkannya jauh dari fokus
tradisional pada perubahan dari dalam diri individu keluar ke relita aktivisme sosial, baik
untuk klien maupun terapis, membedakan terapi feminis dengan yang lain, pendekata
yang diterima secara histroris.
3. Suara dari wanita dan perempuan muda dan cara mengetahui bahwa mereka berharga
dan pengalaman mereka dihormati. Perspektif wanita dianggap sentral dalam memahami
kesulitan mereka. terapis tradisional yang beroperasi pada norma androsentris
membandingkan norma wanita dengan pria lalu menemukan penyimpangannya.
Kebanyakan teori dan penelitian psikologi cenderung membuat konsep wanita dan pria
dalam cara polar, memaksakan pemisahan pria dan wanita dalam kebanyakan aspek dari
pengalaman manusia (Bem, 1993). Tujuan dari terapi feminis adalah untuk menggantikan
“kebenaran objektifpatriarkal dengan kesadaran feminis, yang mengenai cara beragam
untuk mengetahui. Wanita didukung untuk menghargai emosi mereka dan intuisi mereka
dan untuk menggunakan pengalaman personal mereka sebagai batu loncatan untuk
menentukan apa itu “realita”. Suara mereka diakui sebagai autoritatif dan merupakan
sumber pengetahuan yang tak ternilai harganya. Pemberian nilai dan fasilitas suara
wanita di dalam atau diluar terapi seara langsung meniadakan dan sering melawan
diammnya wanita dan berkontribusi pada perubahan besar dalam tubuh politik dan
masyarakat.
4. Hubungan konseling itu bersifat egalitarian. Perhatian pada kekuatan merupakan inti
dalam terapi feminis, dan hubungan terapi dianggap bersifat egalitarian. Terapis feminis
mengenali bahwa terdapat ketidakseimbangan kekuatan dalam hubungan terapi, sehingga
mereka mengukur untuk berjuang pada hubungan yang bersifat egalitarian, simpan
dalam benak bahwa klien adalah ahli dalam hidup mereka. diskusi terbuka akan
perbedaan kekuatan dan eran dalam hubungan terapi membantu klien untuk memahami
bagaimana dinamis kekuatan mempengarungi kosneling dan hubungan lainnya juga
mengundang sebuah dialog tentnag cara untuk mengurangi perbedaan kekuatan (Enns,
2004). Menemukan cara untuk membagi kekuatan dengan klien dan untuk
mengklarifikasi bahwa terapi itu penting karen terapis feminis percaya bahwa semua
hubungan harus diperjuangkan untuk kesetaraan, atau mutualitas (sebuah kondisi koneksi
autentik antara klien dan terapis).
5. Sebuah fokus pada kekuatan dan memformulasikan kembali definisi masalah psikologi.
Beberapa terapis feminis menolak memberikan laber diagnosa dan “model penyakit” dari
penyakit mental. Malahan, terapis feminis menganggap faktor intrafisik hanya penjelasan
sebagain atau rasa sakit yang membawa orang ke terapi. Masalh psikologi dibuatkan
kerangka kembali, bukan sebagai penyakit tetapi sebagai komunikasi atas ketidakadilan
sistem. Ketika variabel kontekstual telah dipertimbangkan, gejala dapat dibuatkan
kembali kerangka sebagai strategi bertahan hidup. Terapis feminis berbicara tentang
masalah dalam konting hidup dan kemampuan untuk menghadapi masalah selain
pathologi (Enns, 2004; Worell & Remer, 2003).
Semua jenis opresi dikenali. Klien dapat dipahami dalam konteks lingkungan sosiokulturalnya.
Terapis feminis mengakui bahwa ketidaksetaraan sosial dan politik memiliki dampak negatif ke
semua orang. Terapis feminis bekerja untuk membantu individu membuat perubahan dalam
hidup mereka, tetapi mereka juga berkomitmen untuk bekerja pada perubahan sosial yang akan
membebaskan semua anggota masyarakat dari stereotyping, marginalisasi, dan opresi. Tujuan
kunci adalah utnuk mengalangi dengan cara yang memproduksi perubahan dalam disfungsi
lingkunga sosial politik kita. Sumber beragam dari opresi, bukan sekadar gender, diidentifikasi
dan dieksplor secara interaktif sebagai sebuah dasar dari pemahaman masalah yang dibawa klien
ke dalam terapi. Membuat kerangka akan masalah klien di dalam konteks kultural mengantarkan
pada pemberdayaan, dimana dapat disadari hanya melalui perubahan sosial (Worell & Remer,
2003).
Proses Terapi
Tujuan Terapi
Menurut Enns (2004), beberapa tujuan dari terapi feminis mencakup pemberdayaan, pemberian
niali dan penguatan keberagaman, berjuang untuk perubahan daripada perbaikan, kesetaraan,
menyeimbangkan kemerdekaan dan saling bergantungan, perubahan sosial, dan penyuburan diri.
Enns menambahkan bahwa tujuan kunci dan terapi feminis adalah untuk membantu individu
dalam memandang diri mereka sebagai agen aktif untuk kebaikan diri mereka sendiri dan
kebaikan orang lain. Mungkin tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk menciptakan
masyarakat dimana sexisme dan bentuk diskriminasi serta opresi lainnya tidak lagi ada dalam
realita (Worell & Remer, 2003). Terapis feminis berusaha untuk mencapai perubahan, bagi klien
individu dan masyarakat secara keseluruhan.
Pada level individu, terapis feminis bekerja untuk membantu wanita dan pria mengenali,
mengklaim, dan memeluk kekuatan personal mereka. memberdayakan klien merupakan jantung
dari terapi feminis, yang melingkupi tujuan terapi jangka panjang (Gilbert & Rader, 2007).
Melalui pemberdayaan ini, klien dapat membebaskan diri mereka sendiri dari batasan sosialisasi
peran gender mereka dan untuk menantang opresi institusional yang sedang berjalan.
Menurut Worell dan Remer (2003), terapis feminis membantu klien:
Sadar akan proses sosialisasi peran gender.
Mengidentifikasi pesan internal mereka dan menggantinya dengan keyakinan yang lebih
meningkatkan diri
Memahami bagaimana keyakinan dan praktik sosial opresi dan sexis mempengaruhi
mereka dalam cara negatif
Memperoleh skill untuk membawa perubahan dalam lingkungan
Membuat kembali struktur institusi untuk menghilangkan praktik diskriminasi di
dalamnya
Mengembangkan perilaku yang dipilih secara bebas
Mengevaluasi dampak dari faktor sosial dalam hidup mereka
Mengembangkan rasa kekuatan pribadi dan sosial
Mengenali kekuatan dari hubungan dan keterhubungan
Mempercayai pengalaman dan intuisi mereka
Terapis feminis juga bekerja menginterpretasikan kesehatan mental wanita. Tujuan mereka
adalah untuk mendepatologasi pengalaman wanita dan untuk mempengaruhi masyarakat
sehingga suara wanita dihargai dan kualitas hubungan diberikan nilai. Pengalaman wanita dan
perempuan muda dikaji tanpa bias nila patriarkal, dan keahlian diri mereka dan pencapaiannya
diakui.
Peran dan Fungsi Terapis
Terapi feminis terletak pada rangkaian asumsi filosofi yang dapat diaplikasikan pada
orientasi teori beragam. Teori manapun dapat dievaluasi terhadap kriteria keadilan gender,
multikultural fleksibel, interaksionis, dan orientasi jalan hidup. Peran dan fungsi terapis akan
bervariasi sampai batas tertentu bergantung pada teori apa yang dikombinasikan dengan prinsip
dan konsep feminis. Dalam Case Approach to Counseling and Psychotherapy (Corey, 2009, bab.
10) tiga terapis feminis yang berbeda (Drs. Evans, Kincade, dan Seem) bekerja sama untuk
menunjukkan berbagai intervensi feminis dalam pekerjaan mereka dengan Ruth. Mereka juga
membuat konsep kasus Ruth dari sudut pandang terapi feminis.
Terapis feminis telah mengintegrasikan feminisme ke dalam pendekatan mereka terhadap
terapi dan ke dalam kehidupan mereka. Tindakan dan keyakinan mereka serta kehidupan pribadi
dan profesional mereka adalah sama dan sebangun. Mereka berkomitmen untuk memantau bias
dan distorsi mereka sendiri, terutama dimensi sosial dan budaya dari pengalaman perempuan.
Terapis feminis juga berkomitmen untuk memahami penindasan dalam segala bentuknya
seksisme, rasisme, heteroseksisme dan mereka mempertimbangkan dampak penindasan dan
diskriminasi pada kesejahteraan psikologis. Mereka menghargai kehadiran emosional untuk klien
mereka, bersedia untuk berbagi diri selama jam terapi, memodelkan perilaku proaktif, dan
berkomitmen untuk proses peningkatan kesadaran mereka sendiri. Akhirnya, meskipun terapis
feminis dapat menggunakan teknik dan strategi dari orientasi teoretis lainnya, mereka unik dalam
asumsi feminis yang mereka pegang.
Kaum feminis berbagi kesamaan dengan terapis Adlerian dan penekanan mereka pada
kesetaraan sosial dan minat sosial, dan dengan terapis eksistensial yang menekankan terapi
sebagai perjalanan bersama, yang mengubah kehidupan bagi klien dan terapis, dan dengan
kepercayaan dasar mereka pada kemampuan klien untuk bergerak maju secara positif dan
konstruktif. Terapis feminis percaya bahwa hubungan terapeutik harus berupa hubungan orang-
ke-orang yang nonhierarkis, dan mereka bertujuan untuk memberdayakan klien untuk hidup
sesuai dengan nilai-nilai mereka sendiri dan untuk mengandalkan lokus kontrol internal (bukan
eksternal atau sosial) dalam menentukan apa yang tepat untuk mereka. Seperti terapis yang
berpusat pada pelaku, terapis feminis menyampaikan keaslian mereka dan berusaha untuk saling
empati antara klien dan terapis. Tidak seperti terapis yang berpusat pada pelaku, terapis feminis
tidak melihat hubungan terapeutik saja sebagai cukup untuk menghasilkan perubahan. Wawasan,
introspeksi, dan kesadaran diri adalah batu loncatan untuk bertindak. Terapis feminis bekerja
untuk membebaskan perempuan (dan laki-laki) dari peran yang menghambat mereka untuk
menyadari potensi mereka.
Beberapa terapis feminis berbagi dengan terapis postmodern (lihat Bab 13) penekanan
pada politik dan hubungan kekuasaan dalam proses terapi dan kekhawatiran tentang hubungan
kekuasaan di dunia pada umumnya. Baik pemikiran feminis maupun postmodern menegaskan
bahwa psikoterapis tidak boleh meniru ketidakseimbangan kekuatan sosial atau menumbuhkan
ketergantungan pada klien. Sebaliknya, terapis dan klien mengambil peran aktif dan setara,
bekerja bersama untuk menentukan tujuan dan prosedur. Suatu denominator umum dari
pendekatan feminis dan postmodern adalah penghindaran untuk mengambil peran terapis dari
ahli yang mengetahui segalanya, dengan asumsi alih-alih berperan sebagai “pakar relasional.”
Pengalaman Klien dalam Terapi
Klien adalah peserta aktif dalam proses terapi. Terapis feminis berkomitmen untuk memastikan
bahwa ini tidak menjadi arena lain di mana wanita tetap pasif dan tergantung. Adalah penting
bahwa klien menceritakan kisah mereka dan menyuarakan pengalaman mereka.
Pengungkapan diri yang tepat dilakukan dalam terapi feminis. Terapis wanita mungkin
berbagi pengalamannya sendiri termasuk penindasan peran gender. Saat analisis stereotip peran
gender dilakukan, kesadaran klien meningkat.
Terapis feminis tidak membatasi praktik mereka pada klien wanita; mereka juga bekerja
dengan pria, pasangan, keluarga, dan anak-anak. Hubungan terapeutik selalu merupakan
kemitraan, dan klien, jika laki-laki, akan menjadi ahli dalam menentukan apa yang dia butuhkan
dan inginkan dari terapi. Ia akan mengeksplorasi cara-cara di mana ia dibatasi oleh sosialisasi
peran gendernya. Dia mungkin menjadi lebih sadar tentang bagaimana dia terkekang dalam
kemampuannya untuk mengekspresikan serangkaian emosi, dan dalam lingkungan yang aman
dari sesi terapi, dia mungkin dapat sepenuhnya mengalami perasaan seperti kesedihan,
kelembutan, ketidakpastian, dan empati. Ketika dia mentransfer ide-ide ini ke kehidupan sehari-
hari, dia mungkin menemukan bahwa hubungan berubah dalam keluarganya, dunia sosialnya,
dan di tempat kerja.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, tujuan utama terapi feminis adalah pemberdayaan,
yang melibatkan memperoleh rasa penerimaan diri, kepercayaan diri, sukacita, dan keaslian.
Worell and Remer (2003) menulis bahwa klien memperoleh cara baru dalam memandang dan
merespons dunia mereka. Mereka menambahkan bahwa perjalanan pemberdayaan bersama bisa
menakutkan sekaligus mengasyikkan baik untuk klien maupun terapis. Klien perlu
dipersiapkan untuk perubahan besar dalam cara mereka memandang dunia di sekitar mereka,
perubahan dalam cara mereka memandang diri mereka sendiri, dan mengubah hubungan
interpersonal.
Hubungan Antara Terapis dan Klien
Hubungan terapeutik didasarkan pada pemberdayaan dan egaliterisme. Struktur hubungan klien-
terapis memodelkan bagaimana mengidentifikasi dan menggunakan kekuatan secara
bertanggung jawab. Terapis feminis dengan jelas menyatakan nilai-nilai mereka untuk
mengurangi kemungkinan pemaksaan nilai. Ini memungkinkan klien untuk membuat pilihan
mengenai apakah akan bekerja atau tidak dengan terapis. Ini juga merupakan langkah
demistifikasi proses.
Seperti disebutkan, meskipun ada perbedaan kekuatan yang melekat dalam hubungan
terapi, terapis feminis bekerja untuk menyamakan basis kekuatan dalam hubungan dengan
menggunakan sejumlah strategi (Thomas, 1977). Pertama, mereka sangat peka terhadap cara-
cara mereka mungkin menyalahgunakan kekuatan mereka sendiri dalam hubungan, seperti
dengan mendiagnosis yang tidak perlu, dengan menafsirkan atau memberi saran, dengan tetap
menyendiri di belakang peran "ahli", atau dengan mengabaikan dampak ketidakseimbangan
kekuatan antara terapis dan klien dalam hubungan.
Kedua, terapis secara aktif fokus pada kekuatan yang dimiliki klien mereka dalam
hubungan terapeutik dan menjadikan ini bagian dari proses persetujuan mereka. Terapis
mendorong klien untuk mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan mereka, untuk menjadi
sadar akan cara mereka melepaskan kekuatan dalam hubungan dengan orang lain sebagai hasil
dari sosialisasi atau sebagai sarana untuk bertahan hidup, dan untuk membuat keputusan dengan
pengetahuan ini sebagai dasar.
Ketiga, terapis feminis bekerja untuk menghilangkan mitos hubungan konseling dengan
berbagi dengan klien persepsi mereka sendiri tentang apa yang terjadi dalam hubungan, dengan
menjadikan klien mitra aktif dalam menentukan diagnosis, dan dengan menggunakan
pengungkapan diri yang tepat. Jika terapis menyarankan teknik tertentu, ia sepenuhnya
menjelaskan apa kemungkinan efeknya dan alasannya untuk menyarankannya, dan ia
sepenuhnya menghormati keputusan klien untuk melanjutkan atau tidak melanjutkan. Beberapa
terapis feminis menggunakan kontrak sebagai cara untuk membuat tujuan dan proses terapi
terbuka daripada terselubung dan misterius.
Tema yang menentukan dari hubungan klien-konselor adalah dimasukkannya klien dalam
penilaian dan proses perawatan. Komitmen ini untuk memasukkan klien dari awal hingga sesi
terakhir membantu menjaga hubungan terapeutik yang se-egaliter mungkin. Walden (2006)
menekankan nilai mendidik dan memberdayakan klien. Ketika konselor membuat klien mereka
tidak mendapat informasi tentang sifat proses terapeutik, mereka menyangkal potensi partisipasi
aktif dalam terapi mereka. Ketika konselor membuat keputusan tentang klien untuk klien
daripada dengan klien, mereka merampok kekuasaan klien dalam hubungan terapeutik.
Kolaborasi dengan klien dalam semua aspek terapi mengarah pada kemitraan yang tulus dengan
klien.
Aplikasi: Teknik dan Prosedur Terapi
Peran Penilaian dan Diagnosis
Terapis feminis sangat kritis terhadap sistem klasifikasi DSM, dan penelitian menunjukkan
bahwa jenis kelamin, budaya, dan ras dapat mempengaruhi penilaian gejala klien (Enns, 2000;
Eriksen & Kress, 2005). Sejauh penilaian dipengaruhi oleh bentuk-bentuk halus dari seksisme,
rasisme, etnosentrisme, heteroseksisme, ageisme, atau klasisisme, sangat sulit untuk sampai pada
penilaian atau diagnosis yang bermakna. Untuk diskusi mendalam tentang tantangan feminis
terhadap diagnosis DSM, lihat Eriksen dan Kress (2005).
Menurut Enns (1993), banyak terapis feminis tidak menggunakan label diagnostik, atau
mereka menggunakannya dengan enggan. Terapis feminis percaya label diagnostik sangat
membatasi karena alasan ini: (1) mereka fokus pada gejala individu dan bukan faktor sosial yang
menyebabkan perilaku disfungsional; (2) sebagai bagian dari sistem yang dikembangkan
terutama oleh psikiater pria kulit putih, mereka dapat mewakili instrumen penindasan; (3)
mereka (terutama gangguan kepribadian) dapat memperkuat stereotip peran gender dan
mendorong penyesuaian dengan norma-norma status quo; (4) mereka dapat mencerminkan
penerapan kekuatan yang tidak tepat dalam hubungan terapeutik; (5) mereka dapat mengarah
pada penekanan berlebihan pada solusi individu daripada perubahan sosial; dan (6) mereka
memiliki potensi untuk memanusiakan klien melalui label.
Pendekatan feminis menekankan pentingnya mempertimbangkan konteks kehidupan
wanita dan menunjukkan bahwa banyak gejala dapat dipahami sebagai strategi koping atau
bertahan hidup daripada sebagai bukti patologi (Worell & Remer, 2003). Karena keterbatasan
budaya dan gender diagnosis, Eriksen dan Kress (2005) mendorong terapis “untuk sementara
dalam mendiagnosis mereka dari berbagai latar belakang, dan, sebagai bagian dari hubungan
yang lebih egaliter, membangun pemahaman masalah dengan klien, daripada memaksakan
diagnosis pada klien (hal. 104). Sesuai dengan fokus pada pemberdayaan klien, diagnosis
adalah proses bersama di mana klien adalah para ahli tentang arti kesusahan mereka. Dengan
menyusun ulang gejala permasalahan diri sebagai keahlian atau strategi untuk bertahan dan
mengubah etiologi lingkungan, klien tidak akan “menjadikan dirinya sebagai korban” atas
masalah-masalah yang ia hadapi. Proses peninjauan merupakan proses yang berlangsung antara
klien dan terapis terkait intervensi-intervensi penanganan (Enns, 2000). Dalam proses terapi
feminis, pendiagnosaan stres tidak lebih diutamakan daripada proses identifikasi dan peninjauan
kekuatan, kemampuan, dan sumber daya klien (Brown, 2000). Penggunaan kategori-kategori
diagnostik dapat meningkatkan tendensi penyalahan diri sebagai korban dan mengurangi
kepekaan terapis terhadap faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi gejala permasalahan klien
(Enns, 2000; Eriksen & Kress, 2005).
Menggunakan DSM-IV-TR (Asosiasi Psikiatris Amerika, 2000), ditemukan bahwa
kemungkinan perempuan terkena depresi dua kali lebih besar daripada pria. Menurut terapis
feminis, perempuan memliki lebih banyak sebab untuk mengalami depresi daripada pria, dan
terapis feminis juga menganggap depresi sebagai pengalaman normal bagi perempuan.
Perempuan seringkali bergantung pada orang lain secara finansial, submisif, dan berusaha untuk
lebih menyenangkan perasaan orang lain. Dengan demikian, depresi dapat bersumber dari
persepsi, keyakinan, dan pengalaman internal perempuan dalam hidup mereka yang mereka tidak
dapat kendalikan serta depresi pada perempuan ini juga dapat disebabkan oleh perasaan
perempuan yang merasa bahwa ia bernilai lebih rendah daripada pria. Serupa dengan hal
tersebut, terkait isu gangguan makan, terapis feminis menyalahkan pesan-pesan yang tercipta
melalui masyarakat, dan khususnya melalui media massa, terkait gambaran tubuh manusia dan
keutamaan wanita menjadi kurus. Terapis menggunakan analisis peran gender untuk membantu
klien yang menderita anoreksia atau bulimia untuk menginstropeksi batasan-batasan dalam
masyarakat dan bagaimana klien selama ini menerima batasan-batasan tersebut. Terapis dan
klien bekerjasama untuk menantang dan mengubah persepsi-persepsi yang tercipta dalam
masyarakat ini. Mungkin, diagnosis yang paling merusak adalah diagnosis gangguan
kepribadian (Asosiasi Psikiatris Amerika, 2000), sebuah diagnosis yang hampir sepenuhnya
ditujukan untuk perempuan. Karena hanya sedikit perempuan penderita diagnosis ini berhasil
keluar dari kekerasan seksual dan pemerkosaan seksual yang dialaminya, Laura Brown (1994)
menggagas suatu diagnosis yang lebih tepat, jika memang pemberian diagnosis diperlukan, yaitu
gangguan stres pasca trauma. Diagnosis gangguan stres pasca trauma akan lebih meningkatkan
dan menghasilkan perasaan empati dan simpati dalam diri terapis daripada diagnosis gangguan
kepribadian.
Terapis feminis tidak menolak penggunaan DSM-IV-TR, namun diagnosis klien dibentuk
melalui dialog antara klien dan terapis. Terapis dan klien secara hati-hati meninjau adanya
implikasi diagnosis, sehingga klien dapat membuat keputusan yang utuh, dan diskusi yang
terjalin antara klien dan terapis akan berfokus dalam membantu klien memahami peran
sosialisasi dan budaya dalam etiologi permasalahan klien.
Teknik dan Strategi
Terapis feminis mengembangkan beberapa teknik terapi sendiri, dan mngadaptasi teknik-
teknik pendekatan tradisional ke dalam model terapi feminis. Khususnya, teknik-teknik penting
seperti teknik peningkatan kesadaran diri yang membantu perempuan membedakan antara hal
apa saja yang selama ini mereka anggap diterima dalam masyarakat dan hal apa saja yang
sebenarnya sehat untuk diri mereka. Beberapa teknik yang digambarkan oleh Worell dan Remer
(2003) dan Enns (1993, 2004) akan dibahas dalam bagian ini, menggunakan contoh kasus Susan
untuk menggambarkan bagaimana teknik-teknik ini dapat diterapkan.
Susan, umur 27 tahun, melakukan terapi dan mengatakan bahwa ia depresi. Ia mengatakan bahwa
ia “membenci dirinya” karena menjadi semakin gemuk setelah ia kuliah, dan ia merasa yakin bahwa ia
akan kesepian seumur hidupnya. Ia mengatakan, “Saya telah kehilangan kesempatan saya. Ketika saya
masih kuliah, saya dulunya populer dan kelihatan menraik, namun sekarang tidak ada laki-laki yang
melihat saya sebagai wanita yang menarik.”
PEMBERDAYAAN Inti strategi feminis adalah untuk memberdayakan diri klien. Terapis
Susan akan menekankan bahwa persetujuan klien diutamakan dalam terapi ini. Terapis Susan
juga akan membahas bagaimana agar Susan dapat menjalankan sesi terapi sebaik mungkin,
memperjelas ekspektasi, mengidentifikasi tujuan terapi, serta menentukan kontrak yang akan
memandu proses terapi. Dengan menjelaskan cara kerja terapi dan menjadikan Susan sebagai
pihak aktif dalam proses terapi, proses terapi menjadi jelas dan Susan menjadi partisipan dengan
posisi yang setara dengan terapis. Susanpun akan mengetahui bahwa ia yang punya kendali atas
arah, durasi, dan tahapan-tahapan yang dijalankan dalam terapinya.
PENGUNGKAPAN DIRI Terapis feminis mengungkapkan dirinya secara personal sebagai
cara untuk menyetarakan hubungan antara klien dengan terapis, untuk menjadi contoh bagi klien,
untuk menormalkan pengalaman kolektif sesama wanita, untuk memberdayakan diri klien, dan
untuk menciptakan persetujuan klien. Terapis menggunakan pengungkapan diri ini demi
kebaikan klien dengan memperhitungkan waktu dan sifat pengungkapan diri terseut.
Pengungkapan diri akan membantu mengurangi perbedaan posisi antara klien dengan terapis,
berguna untuk mendukung diri klien, dan dapat membebaskan serta memberdayakan diri klien
(enns, 2004). Contohnya, terapis Susan dapat menceritakan kesusahan yang ia hadapi dalam
menerima kenyataan bahwa bentuk tubuhnya sekarang berbeda dengan tubuhnya yang dulu
setelah melewati proses kehamilan dan kelahiran, dan bahwa tubuhnya juga tidak sempurna
sama dengan tubuh Susan. Susan memperoleh dampak-dampak positif dari contoh ini yang juga
diceritakan oleh perempuan yang tidak memenuhi standar kurus masyarakat namun merasa
nyaman dengan tubuhnya yang mendukung dirinya, tidak menentang dirinya.
Pengungkapan diri tidak hanya sekedar berbagi informasi dan pengalaman. Proses ini
juga melibatkan aspek presensi yang terapis terapkan dalam sesi terapi. Pengungkapan diri dalam
proses terapi yang baik dilandaskan pada ketulusan dan rasa mutualitas antara klien dan terapis.
Terapis menyadari bagaimana pengungkapan ini dapat mempengaruhi diri klien dengan
menggunakan apa yang disebut oleh para teoris kultural-relasional sebagai “empati antsipatif.”
Terapis feminis, serupa dengan konselor yang memiliki orientasi teoritisnya masing-masing,
berkomitmen untuk menggunakan pengungkapan diri ini sebagai cara untuk meningkatkan
proses terapi.
Terapis juga mengatakan dengan jelas nilai-nilai serta keyakinan-keyakinan yang ia anut
sehingga Susan dapat membuat keputusan yang matang untuk menentukan apakah ia cocok
dengan terapis tersebut atau tidak. Terapis Susan menjelaskan intervensi terapis yang akan
diterapkan dalam proses terapi kepada Susan. Susan, sebagai klien, dapat terlibat dalam proses
evaluasi strategi intervensi yang diterapkan dan seberapa efektif tujuan terapi yang dipenuhi.
ANALISIS PERAN-GENDER Analisis peran-gender ini mengeksplor dampak dari ekspektasi
peran gender terhadap kesejahteraan psikologis klien dan melalui kesimpulan hasil analisis ini,
keputusan baru terkait perilaku peran-gender akan dibentuk (Enns, 2004). Intervensi ini
berfungsi sebagai aspek penilaian dan pengembangan perubahan klien. Analisis peran-gender
dimulai dengan klien mengidentifikasi pesan-pesan masyarakat yang mereka terima tentang
bagaimana seharusnya wanita dan pria berperilaku dan bersikap (Remer, 2008). Terapis
memulainya dengan meminta Susan untuk mengidentifikasi pesan-pesan yang ia peroleh terkait
berat badan dan penampilan yang benar dari masyarakat, lingkungan, media, dan keluarga. Susan
kemudian mengingat bahwa ibunya memilliki berat badan yang berlebihan dan sering berkata
pada Susan, “Untung saya menikahi ayahmu ketika tubuh saya masih berbentuk” dan “Kamu
bisa memilih pria mana yang kamu inginkan jika kamu kurus.” Terapis Susan menjelaskan
bahwa ekspektasi gambaran tubuh antara pria dan wanita berbeda dalam setiap budaya. Susan
kemudian memutuskan pesan sosial apa yang ia ingin simpan dalam pikirannya dan membuka
kesadaran dirinya ketika ia kembali memikirkan pesan-pesan sosial negatif.
INTERVENSI PERAN-GENDER Dengan menggunakan intervensi peran-gender, terapis
menangani masalah Susan dengan menempatkan kekhawatiran Susan tersebut dalam konteks
ekspektasi masyarakat terkait peran perempuan. Tujuannya adalah untuk memberikan Susan
penjelasan terkait bagaimana isu-isu sosial yang ia terima mempengaruhi dirinya. Terapis Susan
merespon pernyataan Susan dengan mengatakan, “Masyarakat kita hanya memperhatikan tubuh
yang kurus dalam diri perempuan saka. Media menyerang perempuan dengan pesan-pesan
bahwa mereka harus kurus untuk tetap atraktif. Pesan ini sangat merasuk ke dalam diri
perempuan sampai-sampai ada banyak perempuan yang masih bersekolah dasar melakukan
diet.” Dengan menempatkan kekhawatiran Susan dalam konteks ekspektasi masyarakat, terapis
memberikan penjelasan pada Susan bagaimana ekspektasi masyarakat ini mempengaruhi kondisi
psikologisnya dan membuat dirinya merasa depresi. Pernyataan terapis ini juga membentuk jalan
pada Susan untuk berpikir lebih positif lagi mengenai eksistensi dirinya dengan perempuan-
perempuan lain dan bahkan pernyataan tersebut akan membuat Susan berminat untuk menjadi
panutan bagi perempuan-perempuan muda di masa akan datang.
ANALISIS KEKUASAAN Analisis kekuasaan mencakup beragam metode yang dilakukan
untuk membantu klien memahami bagaimana ketidaksetaraan kekuasaan dapat mempengaruhi
realitas personalnya. Bersama-sama, terapis dan klien mengeksplor bagaimana ketidaksetaraan
dapat membatasi definisi diri dan kesejahteraan diri (Enns, 2004). Melalui teknik ini, Susan akan
menyadari adanya perbedaan kekuasaan antara pria dan wanita dalam masyarakat kita. Dalam
kasus Susan, analisis kekuasaan ini dapat membantu Susan mengidentifikasi beragam jenis
kekuasaan yang ia miliki sebagai perempuan dan untuk menantang pesan-pesan peran gender
yang melarang penggunaan kekuasaan perempuan tersebut. Intervensi dilakukan untuk
membantu Susan mengapresiasi dirnya apa adanya, mengembalikan kepercayaan dirinya sesuai
dengan kepribadian yang ia miliki, dan menetapkan tujuan-tujuan yang akan memenuhi dirinya
dan terlepas dari situasi apakah dia “menemukan seorang” pria atau tidak.
TERAPIBIBLIO Buku-buku nonfiksi, buku psikologi dan konseling, autobiografi, buku
pengembangan diri, video-video edukasional, film, dan bahkan nivel dapat menjadi sumber
terapibiblio. Membaca perspektif-perspektif feminis terkait isu-isu kehidupan perempuan
(pemerkosaan, kekerasan verbal, kekerasaan seksual) dapat menantang tendensi perempuan
untuk menyalahkan dirinya atas permasalahan-permasalahan yang ia hadapi (Remer, 2008).
Terapis memberikan sejumlah judul buku yang membahas dampak dari fokus masyarakat saat ini
yang sangat mendewakan tubuh kurus, dan Susan kemudian memilih satu dari sejumlah buku
tersebut untuk dibaca selama beberapa minggu kedepan. Memberikan Susan bahan bacaan akan
meningkatkan pengetahuan Susan dan akan mengurangi perbedaan kekuasaan antara Susan dan
terapisnya. Menbaca dapat menambah apa yang telah dipelajari di dalam sesi terapi, dan Susan
dapat meningkatkan terapinya dengan mengeksplor reaksinya atas apa yang dia sedang baca.
LATIHAN ASERTIF Dengan mengajarkan dan mempromosikan perilaku asertif, wanita
menjadi sadar akan hak interpersonal mereka, mengubah stereotype dari peran gender,
mengubah keyakinan negatif, dan mengimplementasikan perubahan dalam kehidupan mereka
sehari-hari. Terapis dan klien mempertimbangkan apa yang sesuai secara kultural, dan klien
membuat keputusan tentang kapan dan bagaimana menggunakan keahlian asersi.
Melalui pembelajaran dan praktik perilaku asertif juga komunikasi, Susn dapan
meningkatkan kekuatannya sendiri, mempengaruhi depresi yang dia rasakan. Susan belajar
bahwa ini adalah haknya untuk meminta apa yang dia inginkan dan butuhkan. Terapis membantu
Susan untuk mengevaluasi dan mengantisipasi konsekuensi dari berlaku secara asertif, yang
mungkin berasal dari kritisisme untuk mendapatkan apa yang sesungguhnya dia inginkan.
MENYUSUN KEMBALI DAN MEMBERI LAB
EL KEMBALI seperti bibilioterapi, terapis pengugkapan-diri, dan pelatihan asertif, menyusun
kembali tidaklah unik bagi terapi feminis. Namun, menyusun kembali diaplikasikan secara unik
dalam terapi feminis. Menyusun kembali mencakup perubahan dari “menyalahkan korban” ke
sebuah pertimbangan faktor sosial dalam lingkungan yang berkontribusi terhadap masalah klien.
Dalam menyusun kembali, bukannya mendiami secara eksklusif pada faktor intrapsikis,
fokusnya adalah pada pengkajian dimensi sosial dan politik. Susan mungkin akan mengerti
bahwa depresinya berhubungan dengan tekanan sosial untuk memiliki “tubuh ideal’bukannya
membendung dari beberapa defisiensi di dalam.
Memberi label kembali adalahs ebuah intervensi bahwa mengubah label atau evaluasi
yang diaplikasikan pada beberapa karakteristik perilaku. Susan dapat mengubah label tertentu
yang telah melekat pada dirinya, seperti menjadi tidak mampu atau tidak menarik karena dia
tidak langsing. Contohnya mungkin adalah bahwa Susan didukung untuk berbicara tentnag
dirinya sebagai perempuan yang kuat dan sehat, bukannya perempuan “gendut”.
TINDAKAN SOSIAL tindakan sosial, atau aktivisme sosial, merupakan kualitas penting dalam
terapi feminis (Enns, 2004). Terapis dapat menyarankan kepada klien ketika mereka lebih
berdasar dalam pemahaman mereka akan feminisme sehingga mereka terlibat dalam aktivitas
seperti menjadi sukarelawan dalam pusat krisis perkosaan, melobi pembuat hukum, atau
menyediakan pendidikan komunitas tentang masalah gender. Berpartisipasi di dalam aktivitas
seperti itu dapat memberdayakan klien dan membantu mereka melihat hubungan antara
pengalaman personal mereka dan konteks sosial politik dimana mereka hidup. Susan dapat
memutuskan untuk bergabung dan berpartisipasi di dalam organisasi yang bekerja untuk
mengubah stereotype sosial tentang tubuh wanita. Mengambil tindakan sosial seperti ini
merupakan cara lain bagi Susan untuk merasa lebih berdaya.
KERJA KELOMPOK Kerja kelompok populer sebagai sebuah cara bagi wanit auntuk
mendiskusikan kelemahan suara mereka dalam banyak aspek sosial. Secara historis, kerja
kelompok telah digunakan untuk peningkatan kesadaran dan dukungan (Herlihy & McCollum,
2007). Kelompok peningkatan kesadaran awalnya menyediakan sebuah jalan bagi wanita untuk
membagi pengalaman mereka akan penindasan dan ketidakberdayaan. Pada akhirnya, kelompok
ini mencakup kelompok self-help yang memberdayakan wanita dan menantang banyak pola
sosial pada masanya (Evans, Kincade, Marbley, & Seem, 2005). Terapis feminis sering
mendukung klien mereka untuk membuat transisi dari terapi individu ke format kelompok seperti
ikut dalam sebuah kelompok yang mendukung atau kelompok tindakan politik sesegara ini
adalah realita (Herlihy & McCollum, 2007). Dlm mengidentifikasi trend praktik dalam kerja
kelompok dengan wanita, Kees dan Leech (2004) mencatat bahwa keberagaman merupakan ciri
dari kelompok wanita. Meskipun kelompok ini beragam yang terdiri dari wanita, mereka berbagi
denominator yang sama menekankan dukungan bagi pengalaman wanita. Literatur
mengungkapkan bahwa wanita yang bergabung ke dalam kelompok ini dengan segera menyadari
bahwa mereka tidak sendiri serta mendapatkan pengakuan atas pengalaman mereka dengan
berpartisipasi di dalam kelompok. Kelompok ini dapat memberikan wanita jejaring sosial,
mengurangi rasa keterasingan, menciptakan sebuah lingkungan yang mendukung untuk berbagi
pengalaman, dan membantu wanita menyadari bahwa mereka tidak sendiri dalam pengalaman
mereka (Eriksen & Kress, 2005). Kelompok menyediakan sebuah konteks yang mendukung
dimana wanita dapat berbagi dan mulai secara kritis mengeksplor pesan yang telah mereka
internalisasikan tentang keberhargaan diri mereka dan tempat mereka di dalam masyarakat.
Pengungkapan diri dari anggota dan ketua kelompok menyuburkan eksplorasi diri yang lebih
dalam, sebuah rasa universalitas, dan meningkatkan tingkat kohesi. Anggota belajar untuk
menggunakan kekuata secara efektif dengan memberikan dukungan satu sama lain,
mempraktikkan keahlian perilaku, mempertimbangkan tindakan politik/sosial, dan dengan
mengambil resiko interpersonal dalam langkah aman (Enns, 2004). Melalui kelompok partisipasi
mereka, wanita belajar bahwa pengalaman individu berakar dari masalah di dalam sistem. Dalam
hubungannya dengan anggota kelompok, tugas dari fasilitator kelompok adalah untuk merancang
sebuah kelompok yang menghasilkan perubahan individu maupun sistem (Kees & Leech, 2004).
Partisipasi dalam pengalaman kelompok dapat menginspirasi wanita untuk mengambil langkah
tindakan sosial. Tentu saja, sebuah bentu tugas bisa untuk melakukan apa yang wanita pelajari di
dalam kelompok untuk membawa perubahan di dalam kehidupan mereka diluar kelompok.
Susan dan terapisnya akan mendiskusikan kemungkinan Susan bergabung dengan
kelompok dukungan wanita atau jenis kelompok lainnya sebagai sebuah bagian dari proses
menterminasi terapi individu. Dnegan bergabung, Susan akan memiliki kesempatan untuk
menemukan bahwa dia tidaklah sendiri dalam perjuangannya. Wanita lain dapat memberikannya
kesuburan dan dukungan, dan Susan akan memiliki kesempatan untuk menjadi signifikan pada
wanita lain ketika mereka terlibat dalam proses penyembuhan.
Peran Pria dalam Terapi Feminis
Dapatkah seorang pria menjadi terapis feminis? Terapis feminis dibagi dalam masalah ini. Tentu
saja, pria dapat menjadi nosexist atau terapis pro-feminis ketika mereka memeluk prinsip dan
bekerja dengan praktik feminisme dalam pekerjaan mereka. hal ini mencakup keinginan untuk
memahami dan “memiliki hak istimewa pria, menghadapi perilaku sexist diri mereka sendiri
dan orang lain, bekerja untuk membangun hubungan egalitarian, dan secara aktif mendukung
usaha wanita untuk menciptakan masyarakat yang adil.
Herlihy and McCollum (2007) membuat pernyataan bahwa ini adalah persepsi yang
keliru bahwa terapi feminis hanya dilakukan oleh wanita untuk wanita. Prinsip dan praktik
psikoterapi feminis berguna dalam bekerja denganpria, individu dari beragam ras dan latar
belakang, serta orang-orang yang berusaha untuk menunjukkan masalah keadilan sosial dalam
praktik konseling (Enns, 2000, 2004; Worell & Remer, 2003). Mandat sosial tentang
maskulinitas seperti emosionalitas restriktif, kekuatan dan kontrol yang dipandang terlalu tinggi,
sexualisasi dari emosi, dan obsesi akan pencapaian dapat menjadi batasan bagi pria(Gilbert &
Scher, 1999; Pleck, 1995; Pollack, 1995, 1998; Real, 1998).
Beberapa terapis feminis secara rutin bekerja dengan pria, khususnya dengan pria kejam
di dalam kelompok. Menurut Ganley (1988), masalah bahwa pria dapat berhadapan secara
produktif dnegan terapi feminis termasuk belajar bagaimana meningkatkan kapasitas keintiman
mereka, mengekspresikan emosi mereka dan mempelajari pengungkapan diri, menyeimbangkan
pencapaian dan kebutuhan realis, menerima kerentanan mereka, dan menciptakan hubungan
kolaboratif saat bekerja dan dengan orang lain yang tidak berdasar pada model hubungan
“kekuatan-atas” . masalah apapun dapat dihadapkan dari perspektif feminis.
Terapi Feminis dari Perspektif Multikultural
Kelebihan dari perspektif keberagaman
Dari semua pendekatan konseling dan psikoterapi di buku ini, terapi feminis dan perspektif
sebagai analisis struktur sosial yang mempengaruhi kesehatan mental, termasuk sexism, rasisme,
dan tingkatan lain dari penindasan dan hak istimewa (Martinez, Davis, & Dahl, 1999). Sama
halnya, pendekatan multikultural menunjuk pada penindasan, diskriminasi, dan rasisme sebagai
sumber dari banyak pengalaman yang dihadapi oleh orang-orang dengan kulit berwarna. Satu
perbedaan antara multikultural dan perspektif feminis adalah bahwa multikulturalis menghargai
budaya sementara feminis menantang budaya (Remer, 2008).
Perspektif feminis akan kekuatan di dalam hubungan memiliki aplikasi untuk memahami
kesetaraan kekuatan dikarenakan faktor kultural. Prinsip “pribadi itu politik” memiliki nilai yang
sama ketika diaplikasikan pada konseling wanita dan konseling pada kelompok klien yang
berbeda secara kultural. Tidak kalangan feminis, tidak juga terapis multikultural ingin untuk
menenangkan pada penyesuaian pada status quo. Kedua pendekatan itu tidak semata terletak
pada perubahan individu; keduanya menekankan tindakan langsung bagi perubahan sosial
sebagai sebuah bagian dari peran terapi. Banyak dari tindakan sosial dan strategi politik yang
menarik perhatian pada kelompok tertindas memiliki relevansi yang sama bagi wanita dan untuk
kelompok termarginalisasi lainnya.
Hal ini mungkin untuk menggabungkan prinsip terapi feminis dengan perspektif
multikultural. Comas-Diaz (1987) menggambarkan sebuah model feminis yang mendukung
wanita dengan kulit berwarna dengan membantu mereka untuk melakukan hal berikut:
Mengakui efek negatif sexisme dan rasisme
Mengidentifikasi dan berhadapan dengan perasaan mereka menyinggung status mereka
sebagai wanita kulit hitam
Memandang diri mereka mampu untuk menemukan solusi atas masalah mereka
Memahami dan saling mempengaruhi antara lingkungan eksternal dan realita mereka
Mengintegrasikan etnis, gender, dan komponen ras ke dalam identitas mereka
Budaya mencakup realitas sosiopolitik kehidupan manusia, termasuk bagaimana kelompok
dominan istimewa (Ras kulit putih, Protestan, heteroseksual, laki-laki kaya) memperlakukan
orang-orang yang berbeda dari mereka. Terapis feminis percaya bahwa psikoterapi terikat erat
dengan budaya, dan mereka semakin bergabung dengan para pemimpin yang bijaksana dalam
bidang praktik konseling. Baik gerakan perempuan dan gerakan multikultural telah meminta
perhatian kita tentang efek negatif dari diskriminasi dan penindasan terhadap target mereka dan
juga pada mereka yang melakukan diskriminasi dan penindasan. Tidak ada budaya di dunia yang
saat ini tidak memasukkan suara feminis dari dalamnya.
McIntosh (1988, 1998) telah menggambarkan konsep hak istimewa kulit putih sebagai
paket tak terlihat dari aset yang tidak diterima yang dinikmati orang kulit putih yang tidak
meluas ke orang kulit berwarna. Mengadaptasi gagasan tentang hak istimewa Kulit Putih untuk
ras, jenis kelamin, dan orientasi seksual, kita melihat hak istimewa kelas heteroseksual pria kulit
putih yang beroperasi di masyarakat kita di setiap tingkatan. Terapi harus membebaskan individu
dan meningkatkan pilihan mereka. Adalah penghargaan bagi terapis feminis dan multikultural
bahwa kebijakan sosial telah dibentuk untuk mengatasi masalah diskriminasi berdasarkan jenis
kelamin, ras, budaya, kelas, orientasi seksual, kemampuan, usia, dan variabel budaya lainnya.
Terapis feminis yang kompeten secara budaya mencari cara untuk bekerja dalam budaya
klien dengan mengeksplorasi konsekuensi dan alternatif. Mereka menghargai kompleksitas yang
terlibat dalam perubahan budaya seseorang, tetapi tidak memandang budaya sebagai sesuatu
yang sakral (Worell & Remer, 2003). Penting untuk memahami dan menghormati beragam
budaya, tetapi sebagian besar konteks budaya memiliki aspek positif dan toksik. Terapis feminis
berkomitmen untuk menantang keyakinan dan praktik budaya yang mendiskriminasi,
mensubordinasikan, dan membatasi potensi kelompok individu, yang dapat berupa kekuatan atau
kekurangan.
Kekurangan Dari Perspektif Keragaman
Terapis feminis mengadvokasi perubahan dalam struktur sosial, terutama di bidang ketimpangan,
kekuatan dalam hubungan, hak untuk menentukan nasib sendiri, kebebasan untuk mengejar karir
di luar atau di dalam rumah, dan hak untuk pendidikan. Agenda ini dapat menimbulkan beberapa
masalah ketika bekerja dengan wanita yang tidak memiliki kepercayaan yang sama. Remer
(2008) mengakui praktik ini menantang nilai-nilai dan struktur masyarakat yang
menomorduakan kelompok-kelompok tertentu sebagai kekurangan dari pendekatan. Jika terapis
tidak sepenuhnya memahami dan menghormati nilai-nilai budaya klien dari berbagai kelompok,
mereka berisiko memaksakan nilai-nilai mereka sendiri. Remer mengklaim "bahaya potensial
yang melekat dalam konseling feminis adalah bahwa nilai-nilai konselor akan terlalu
mempengaruhi klien atau akan bertentangan dengan nilai-nilai klien" (hal. 431).
Menyadari konteks budaya sangat penting ketika terapis feminis bekerja dengan wanita
dari budaya yang mendukung peran dan menjaga wanita di tempat yang tunduk atau dari budaya
yang didasarkan pada patriarki. Pertimbangkan skenario ini. Anda adalah seorang terapis feminis
yang bekerja dengan seorang wanita Vietnam yang berjuang untuk menemukan cara untuk jujur
kepada budayanya dan juga untuk mengikuti aspirasi pendidikan dan kariernya sendiri. Klien
Anda adalah seorang mahasiswa dalam profesi penolong yang sedang mengalami tekanan
ekstrem dari ayahnya untuk pulang ke rumah dan mengurusi keluarganya. Meskipun ia ingin
menyelesaikan studinya dan mendapat gelar sarjana lalu membantu banyak orang dalam
lingkungan masyarakat Vietnam, ia merasa sangat bersalah ketika ia “secara egois” lebih
mengutamakan untuk menyelesaikan pendidikannya daripada mengurusi keluarganya di rumah.
Jika anda menangani perempuan ini, apakah anda akan menantang dirinya dan menyuruhnya
untuk mengutamakan dirinya dan mengikuti keinginannya? Apakah anda akan mencoba untuk
memintanya berkata pada ayahnya bahwa dia akan mengikuti keinginannya sendiri?
Pengorbanan yang perempuan ini akan terima mungkin akan sangat besar jika ia memutuskan
untuk menentang ekspektasi masyarakat terhadap dirinya sebagai perempuan, dan dia sendirilah
yang pada akahirnya akan memutuskan jalur mana yang ia ingin tempuh.
Dalam situasi kompleks seperti ini, terapis ditantang untuk bekerja sama dengan klien
mencari jalan yang membuat klien dapat memenuhi keinginan dirinya sebagai individu tanpa
mengabaikan nilai-nilai kultural lingkungannya. Tugas terapis bukan untuk meringankan beban
atau perjuangan yang ia akan hadapi, bukan juga untuk memutuskan perjuangan mana yang tepat
bagi diri klien, tetapi tugas terapis adalah untuk ada di sisi klien sehingga klien dapat
memberdayakan dirinya dalam membuat keputusan signifikan. Seperti yang terlihat dalam
contoh ini, untuk meminimalisir resiko pemaksaan nilai-nilai kultural pada diri klien, terapis
harus memahami bagaimana perspektif kultural terapis itu sendiri mempengaruhi intervensi yang
terapis putuskan untuk klien, khususnya jika terapis tersebut menangani klien yang berasal dari
latar belakang budaya yang beragam. Untuk mencegah pemaksaan nilai ini, pada awal sesi
terapi, terapis feminis harus menyatakan pada klien nilai-nilai yang ia anut sehingga klien dapat
membuat keputusan matang terkait kelanjutan hubungan konseling yang ia jalin dengan terapis
(Remer, 2008).
Herlihy dan McCollum (2007) mengatakan bahwa tantangan besar terapis feminis adalah
untuk menemukan cara bagaimana membangun hubungan baik dengan konselor dari beragam
latar belakang kebudayaan. Aspek-aspek terpenting untuk memajukan terapi feminis kedepannya
adalah seperti “kemampuan teoritis, ahli, dan praktisi terapi feminis untuk memperjelas definis
terapi feminis itu sendiri, avaibilitas pelatihan terapi feminis, perbaikan persepsi yang salah, dan
pendemonstrasian efektivitas terapi melalui penelitian-penelitian yang dilakukan” (hal. 355).
Terapi Feminis Diterapkan untuk Kasus Stan
Ketakutan Stan terhadap wanita dan
pengalaman sosialisasi peran gendernya
membuatnya menjadi kandidat yang sangat
baik untuk mendapatkan manfaat dari terapi
feminis. Hubungan terapeutik yang egaliter,
dengan wanita kuat yang menghormatinya,
akan menjadi pengalaman baru bagi Stan.
Stan telah menunjukkan bahwa dia
bersedia dan bahkan ingin berubah.
Meskipun harga dirinya rendah dan evaluasi
diri negatif, ia mampu mengidentifikasi
beberapa atribut positif. Ini termasuk
tekadnya, kemampuannya untuk
mengutarakan perasaannya, dan bakatnya
untuk bekerja dengan anak-anak. Stan tahu
apa yang dia inginkan dari terapi dan
memiliki tujuan yang jelas: berhenti minum,
untuk merasa lebih baik tentang dirinya
sendiri, untuk berhubungan dengan wanita
berdasarkan kesetaraan, dan untuk belajar
untuk mencintai dan mempercayai dirinya
sendiri dan orang lain. Terapisnya, yang
beroperasi dari orientasi feminis, akan
membangun kekuatan ini.
Pada sesi pertama terapis berfokus
pada membangun hubungan kerja yang
egaliter untuk membantu Stan mulai
mendapatkan kembali kekuatan pribadinya.
Dia mungkin memegang asumsi bahwa
karena terapisnya adalah wanita, dia akan
mengambil peran dominan dan memberi
tahu dia apa yang perlu dia lakukan untuk
mencapai tujuannya. Penting bahwa
hubungan terapeutik tidak mereplikasi
hubungan lain yang Stan miliki dengan
wanita dalam hidupnya, terutama ibu dan
mantan istrinya. Terapis secara sadar bekerja
untuk menghilangkan mitos proses terapi
dan menyamakan hubungan, menyampaikan
kepada Stan bahwa ia bertanggungjawab
atas arah terapinya. Dia menghabiskan
waktu menjelaskan pandangannya tentang
proses terapi dan cara kerjanya.
Analisis peran gender dilakukan
untuk membantu Stan menjadi sadar akan
pengaruh ekspektasi peran gender dalam
pengembangan masalahnya. Pertama, dia
diminta untuk mengidentifikasi pesan-pesan
peran gender yang dia terima ketika tumbuh
dari berbagai sumber masyarakat termasuk
orang tuanya, guru, media, komunitas
agama, dan teman sebaya. Dalam
autobiografinya, Stan telah menulis tentang
beberapa pesan yang diberikan orangtuanya,
dan ini memberikan titik awal yang wajar
untuk analisisnya. Dia ingat ayahnya
memanggilnya "bisu" dan ibunya berkata,
"Mengapa kamu tidak bisa tumbuh dan
menjadi laki-laki?" Stan menulis tentang
ibunya "terus-menerus mencaci" ayahnya
dan memberi tahu Stan bagaimana dia
berharap dia tidak memilikinya. Dia
menggambarkan ayahnya sebagai sosok
yang lemah, pasif, dan seperti tikus dalam
berhubungan dengan ibunya dan ingat
bahwa ayahnya membandingkannya dengan
saudara-saudaranya. Stan menginternalisasi
pesan-pesan ini, seringkali menangis sampai
tertidur dan merasa sangat putus asa.
Terapis meminta Stan untuk
mengidentifikasi pernyataan diri yang
merusak yang dia buat sekarang yang
didasarkan pada pengalaman awal ini.
Ketika mereka meninjau tulisannya, Stan
melihat bagaimana pesan-pesan sosial yang
ia terima tentang bagaimana seharusnya
seorang pria diperkuat oleh pesan-pesan
orang tua dan telah membentuk
pandangannya tentang dirinya sendiri hari
ini. Misalnya, ia menulis bahwa ia merasa
tidak mampu secara seksual dan khawatir
bahwa ia tidak akan dapat tampil.
Tampaknya ia telah memproyeksikan
gagasan masyarakat bahwa laki-laki harus
selalu memulai seks, siap untuk
berhubungan seks, dan dapat mencapai dan
mempertahankan ereksi. Stan juga melihat
bahwa dia telah mengidentifikasi dan
menulis tentang bagaimana dia ingin
mengubah pesan-pesan itu, seperti yang
dicontohkan dalam pernyataannya bahwa
dia ingin "merasa setara dengan orang lain"
dan tidak "merasa perlu untuk minta maaf"
untuk keberadaannya dan mengembangkan
hubungan cinta dengan wanita. Stan mulai
merasa mampu dan berdaya saat terapisnya
mengakui pekerjaan penting yang telah dia
lakukan, bahkan sebelum dia memasuki
terapi.
Terapis mengikuti analisis peran
gender ini dengan intervensi peran gender
untuk menempatkan kekhawatiran Stan
dalam konteks harapan peran sosial. Dia
berkata, "Memang, itu adalah beban untuk
mencoba hidup sesuai dengan gagasan
masyarakat tentang apa artinya menjadi
seorang pria, selalu harus menjadi kuat dan
tangguh. Aspek-aspek diri Anda yang ingin
Anda hargai kemampuan Anda untuk
merasakan perasaan Anda, menjadi baik
dengan anak-anak adalah sifat-sifat yang
cenderung dicap masyarakat sebagai
'feminin.' Stan menjawab dengan sedih, “Ya,
akan lebih baik apabila wanita bisa menjadi
kuat tanpa terlihat mendominasi dan jika
pria bisa peka dan memelihara tanpa terlihat
lemah." Terapis dengan lembut menantang
pernyataan ini dengan bertanya, "Apakah
Anda yakin itu tidak mungkin? Pernahkah
Anda bertemu dengan seorang wanita atau
pria yang seperti itu? Stan merenung
sejenak dan kemudian dengan beberapa
animasi menggambarkan profesor perguruan
tinggi yang mengajar kelas Psikologi
Penyesuaian. Stan melihatnya sebagai sangat
ulung dan kuat tetapi juga sebagai seseorang
yang memberdayakannya dengan
mendorongnya untuk menemukan suaranya
sendiri melalui penulisan autobiografinya.
Dia juga ingat seorang penasihat pria di
fasilitas rehabilitasi anak muda di mana dia
menghabiskan sebagian masa remajanya
sebagai seorang pria yang kuat serta peka
dan mendidik.
Ketika sesi pertama berakhir, terapis
meminta Stan untuk berbicara tentang apa
yang dia pelajari dari waktu mereka
bersama. Stan mengatakan dua hal yang
menonjol baginya. Pertama, dia mulai
percaya bahwa dia tidak perlu terus
menyalahkan dirinya sendiri. Dia tahu
bahwa banyak dari pesan yang dia terima
dari orang tuanya dan dari masyarakat
tentang apa artinya menjadi seorang pria
tidak diinginkan dan satu dimensi. Ia
mengakui bahwa ia telah dibatasi dan
terkendala oleh sosialisasi peran gendernya.
Kedua, dia merasa penuh harapan karena
ada alternatif untuk definisi orang tua dan
sosial itu orang yang dia kagumi telah
berhasil menggabungkan sifat-sifat
"maskulin" dan "feminin". Jika mereka bisa
melakukannya, dia juga bisa. Terapis
bertanya kepada Stan apakah dia memilih
untuk kembali untuk sesi lain. Ketika dia
menjawab dalam afirmatif, dia memberinya
buku W. S. Pollack (1998), Real Boys untuk
dibaca. Terapis menjelaskan bahwa buku ini
secara deskriptif menangkap sosialisasi
peran gender yang dialami banyak anak laki-
laki.
Stan datang ke sesi berikut yang
ingin membicarakan tugas pekerjaan
rumahnya. Dia memberi tahu terapis bahwa
dia mendapatkan wawasan nyata tentang
sikap dan keyakinannya sendiri dengan
membaca Real Boys. Apa yang dipelajari
Stan dari membaca buku ini mengarah pada
eksplorasi lebih lanjut hubungannya dengan
ibunya. Ia merasa terbantu untuk memahami
perilaku orang tuanya dalam konteks
ekspektasi dan stereotip masyarakat
daripada terus menyalahkan mereka. Terapis
membantu Stan untuk melihat bagaimana
budaya kita cenderung memegang posisi
ekstrem tentang ibu bahwa mereka
sempurna atau jahat dan tidak satu pun
dari kedua ekstrem ini yang benar. Ketika
Stan belajar untuk membingkai ulang
hubungannya dengan ibunya, ia
mengembangkan gambaran yang lebih
realistis tentang ibunya. Dia menyadari juga,
bahwa ayahnya telah ditindas oleh
pengalaman sosialisasinya sendiri dan oleh
pandangan maskulinitas yang idealis yang
mungkin tidak dapat dia raih.
Stan terus bekerja untuk belajar
menghargai aspek pengasuhan dan sensitif
dirinya serta aspek kuat dari wanita yang
berinteraksi dengannya. Dia belajar untuk
menghargai aspek "feminin" dari dirinya
serta "maskulin" atau aspek kuat dari wanita
yang berinteraksi dengannya. Dia juga terus
memantau dan membuat perubahan dalam
pembicaraannya tentang apa artinya menjadi
seorang pria. Dia terlibat dalam
mendapatkan kesadaran berkelanjutan dari
pesan-pesan ini yang datang dari sumber-
sumber saat ini seperti media dan teman-
teman. Karena sejumlah sesi Stan
dikhususkan untuk mengeksplorasi
hubungannya dengan ibunya, bersama
dengan kebenciannya terhadapnya, terapis
menyarankan tugas membaca lain buku
Caplan (1989), Dont Blame Mother. Tujuan
dari tugas ini adalah untuk membantu Stan
dalam mengeksplorasi alternatif untuk
menyalahkan ibunya atas masalah-
masalahnya saat ini.
Sepanjang hubungan terapeutik, Stan
dan terapis mendiskusikan dengan segera
bagaimana mereka berkomunikasi dan
berhubungan satu sama lain selama sesi.
Terapis mengungkapkan diri dan
memperlakukan Stan setara, terus-menerus
mengakui bahwa ia adalah "ahli" dalam
hidupnya.
Tindak Lanjut: Anda Terus sebagai
Terapis Feminis Stan
Gunakan pertanyaan ini untuk membantu
Anda berpikir tentang bagaimana Anda akan
menasihati Stan menggunakan model terapi
feminis:
Nilai-nilai unik apa yang Anda lihat
dalam bekerja dengan Stan dari
perspektif feminis yang bertentangan
dengan bekerja dari pendekatan
terapi lain yang telah Anda pelajari
sejauh ini?
Jika Anda terus bekerja dengan Stan,
pernyataan diri apa tentang
pandangannya tentang dirinya
sebagai pria yang mungkin Anda
fokuskan, dan alternatif apa yang
mungkin Anda tawarkan?
Dengan cara apa Anda dapat
mengintegrasikan terapi perilaku
kognitif dengan terapi feminis dalam
kasus Stan? Kemungkinan apa yang
Anda lihat untuk mengintegrasikan
metode terapi Gestalt dengan terapi
feminis? Terapi lain apa yang
mungkin Anda kombinasikan dengan
pendekatan feminis?
Terapis feminis yang menangani
Stan menggunakan biblioterapi
sebagai metode pemberian tugas
untuk Stan. Apakah anda akan
menyarankan buku atau film untuk
Stan? Jika ya, buku atau film apa
yang anda akan sarangkan? Tugas
apa yang anda akan berikan untuk
Stan? Apa saja strategi feminis lain
yang anda akan terapkan dalam
proses konseling Stan?
Rangkuman dan Evaluasi
Asal-usul terapi feminis berkaitan dengan pergerakan perempuan yang terjadi di akhir
tahun 1800an dan 1960an, ketika perempuan bersatu menyuarakan ketidakpuasan mereka
terhadap terbatasnya peran konvensional perempuan. Terapi feminis tercipta dari kesadaran
perempuan bahwa mode tradisional terapi memiliki beberapa keterbatasan tertentu akibat bias
internal para penggagas teori terapi terdahulu. Terapi feminis menekankan konsep-konsep
berikut dalam proses terapi:
Melihat masalah dalam konteks sosiopolitik dan kultural, bukan dalam konteks individual
Menyadari bahwa klien yang paling tahu apa yang terbaik untuk hidup mereka
Berusaha untuk menciptakan hubungan terapi yang bersifat egaliter melalui proses
pengungkapan diri dan persetujuan yang matang
Menghilangkan stigma proses terapi dengan melibatkan klien sebisa mungkin dalam
proses terapi, yang akan meningkatkan pemberdayaan diri klien
Melihat pengalaman perempuan melalui perspektif unik
Memahami dan mengapresiasi hidup dan perspektif perempuan dari berbagai latar
belakang budaya
Memahami bahwa keberadaan gender tidak terisolasi dengan aspek-aspek lain identitas
diri
Menantang pandangan tradisional dalam menilai kesehatan psikologis perempuan
Mendorong klien untuk mengambil langkah tindakan sosial untuk memperlihatkan aspek
penindasan lingkungannya
Terapi feminis ditujukan untuk menciptakan perubahan personal dan sosial. Teori terapi feminis
ini tidak bersifat statik melainkan terus berkembang dan bertumbuh. Tujuan utamanya adalah
untuk menggantikan sistem patriatki yang sedang berjalan dengan kesadaran feminis sehingga
akan menciptakan masyarakat yang menghargai nilai-nilai kesetaraan dalam hubungan, yang
menghargai keberagaman, yang mengutamakan kemandirian bukan ketergantungan, dan yang
mendorong baik pria dan wanita untuk mendefinisikan diri mereka sendiri, tidak membiarkan
masyarakat yang mendefenisikan diri mereka tersebut.
Pendekan terapi feminis ini tidak menjadikan dirinya sebagai satu kesatuan pendekatan
psikoterapi, melainkan sebagai suatu pendekatan yang beragam. Seiring berkembangnya terapi
feminis, pendekatan terapinya pun semakin beragam dan semakin kritis. Terapis feminis
menganut asumsi-asumsi serta peran-peran dasar mereka dalam proses terapi: mereka terlibat
dalam proses pengungkapan diri yang sesuai; mereka menjelaskan nilai-nilai dan kepercayaan
mereka sehingga proses terapi semakin jelas dipahami oleh klien; mereka menjalankan peran-
peran yang bersifat egaliter dengan klien selama proses terapi; mereka menangani klien dengan
memberdayakan diri klien; mereka menghargai kesamaan dalam diri tiap perempuan dan tetap
menghargai keberagaman penglaman hidup setiap perempuan; dan mereka berkeinginan untuk
menciptakan perubahan sosial.
Terapis feminis berkomitmen untuk menjatuhkan hirarki kekuasaan dalam hubungan
terapi dengan menerapkan beragam teknik intervensi penanganan. Sejumlah strategi yang
digunakan bersifat unik dalam pendekatan terapi feminis ini, seperti analisis dan intervensi peran
gender, analisis kekuasaan, sikap melawan pandangan-pandangan tradisional terkait peran
perempuan, dan proses mendorong klien untuk mengambil langkah tindakan sosial. Strategi-
strategi intervensi lain yang diterapkan dalam pendekatan ini diambil dari berbagai macam
model terapi, seperti biblioterapi, sikap asertif, penyusunan ulang kognitif, pembentukan dan
pelabelan ulang, pengungkapan diri konselor, permainan peran, teknik psikodramatik, proses
mengidentifikasi dan menantang keyakinan yang selama ini dianut, dan teknik kepenulisan
jurnal. Prinsip-prinsip dan teknik-teknik terapi feminis dapat diterapkan dalam berbagai macam
bentuk terapi seperti terapi individual, konseling pasangan, terapi keluarga, konseling kelompok,
dan intervensi masyarakat. Terlepas dari teknik-teknik tertentu yang digunakan, tujuan utama
pendekatan ini adalah pemberdayaan klien transformasi sosial.
Kontribusi Terapi Feminis
Salah satu kontribusi besar feminis dalam lingkup konseling dan psikoterapi adalah
mereka berhasil menciptakan praktik terapi yang peka terhadap perbedaan gender dan mereka
juga berhasil menciptakan kesadaran akan dampak konteks kultural dan sejumlah penindasan
bagi diri perempuan. Kontribusi besar terapi feminis adalah penekanan pendekatan tersebut
terhadap perubahan sosial, yang akan menciptakan perubahan dalam masyarakat. Terapis yang
berorientasi sebagai feminis memahami betapa pentingnya untuk menyadari peran gender yang
selama ini klien terima dari masyarakat, dan mereka mampu membantu klien mengidentifikasi
dan menantang pesan-pesan masyarakat terkait peranan gender ini (Philpot, Brooks, Lusterman,
& Nutt, 1997).
Menurut Gilbert dan Rader (2007), terapis feminis memberika kemanjuan praktik dan
teoritis dalam penanganan konseling. Beberapa kontribusi pendekatan ini adalah seperti
pembagian kekuasaan antara terapis dengan klien, kritik kultural terhadap pendekatan
penanganan dan penilaian, serta validasi perempuan dan pengalaman normatif yang mereka
alami. Terapis feminis juga berkontribusi dalam mempertanyakan teori-teori serta model
pengembangan manusia tradisional. Sebagian besar teori tradisional ini menempatkan penyebab
permasalahan pada diri klien sendiri sebagai individu, bukan pada lingkungan dan situasi
eksternal. Hal ini mengakibatkan klien merasa bertanggung jawab atas masalah yang ia hadapi
dan mengabaikan realitas politik dan sosial yang menciptakan masalah yang dihadapinya
tersebut. Kontribusi utama yang pergerakan feminis selama ini terus lakukan adalah
mengingatkan masyarakat bahwa fokus utama terapi mencakup faktor-faktor penindasan yang
ada dalam masyarakat. Pemfokusan pada perubahan sosial ini mengembangkan peran terapis
untuk bekerja dalam lingkup keadilan sosial dan untuk mengeadvokasi klien. Untuk pembahasan
adaptasi pendekatan tradisional dalam proses konseling perempuan, lihat Enns (2003).
Kontribusi besar pergerakan feminis berada di lingkup moral dalam praktik konseling
dan psikologi (Brabeck, 2000) dan di lingkup pembuatan keputusan dalam proses terapi (Rave &
Larsen, 1995). Suara pergerakan feminis meningkaykan perhatian pada implikasi-implikasi isu-
isu seperti kekerasan anak, pemerkosaan, pelecehan seksual, dan kekerasan dalam rumah tangga.
Kaum feminis memperlihatkan dampak yang timbul dari ketidaksadaran dan ketidakpedulian
terhadap perempuan dan anak-anak korban pelecehan seksual dan pelecehan psikologis. Para
terapis feminis menangani klien laki-laki yang bersifat abusive, dan sejumlah kelompok yang
terdiri dari pria-pria pelaku kekersan seksual ditangani oleh terapis feminis.
Sebelumnya, kode etik sebagian besar organisasi profesional tidak mempehatikan isu-isu
terkait hubungan seksual yang tercipta antara klien dengan terapis. Sekarang, hampir semua kode
etik profesional melarang hubungan seksual dengan klien. Juga, sejumlah profesi sepakat bahwa
hubungan seksual tidak dapat diubah menjadi hubungan terapi. Pada umumnya, dikarenakan
usaha dan masukan dari wanita pada komite etik, kode yang ada explisit berkenaan dengan
kekerasan seksual dan hubungan seksual dengan klien, siswa dan supervisor (Herlihy & Corey,
2006b).
Prinsip terapi feminis telah diaplikasikan dalam supervisi, pengajaran, konsultasi, etika,
penelitian, dan pembangunan teori juga pada praktik psikoterapi. Membangun komunita,
menyediakan hubungan empati bersama yang autentik, menciptakan rasa kesadaran sosial, dan
penekanan pada perubahan sosial yang seluruhnya merupakan kekuatan signifikan dari
pendekatan ini.
Prinsip dan teknik dari terapi feminis dapat dihubungkan dalam banyak model terapi
kontemporer lainnya dan sebaliknya(Enns, 2003). Baik terapis feminis maupun Adlerian
memandang hubungan terapi itu egalitarian. Terapis feminis dan pribadi-pusat setuju pada
pentingnya keautentikan terapis, model, dan pengungkapan diri; pemberdayaan adalah tujuan
dasar dari kedua orientasi. Ketika berkenaan dengan pembuatan pilihan tentang takdir seseorang,
terapis feminis dan eksistesial berbicara dalam bahasa yang sama-keduanya menekankan
pemilihan untuk diri sendiri dan bukannya hidup dalam kehidupan yang ditentukan oleh dikte
sosial.
Meskipun terapis feminis kritis psikoanalisis sebagai orientasi sexist, sejumlah terapis
feminis percaya psikoanalisis dapat menjadi pendekatan yang sesuai untuk membantu wanita.
Teori objek-relasi dapat membantu klien untuk mengkaji representasi objek yang terinternalisasi
yang berdasarkan pada hubungan mereka dengan orang tuanya. Terapi dapat mencakup sebuah
kajian dari pembelajaran kesadaran tentang peran wanita melalui hubungan anak perempuan-ibu
untuk memberikan pandangan mengapa peran gender tertanam sangat dalam dan sulit untuk
diubah.
Terapi Gestalt dan terapi feminis memiliki tujuan yang sama untuk meningkatkan
kesadaran klien akan kekuatan pribadi. Terapi Gestalt juta berguna untuk meningkat rasa sebagai
pribadi yang kuat oleh wanita (Enns, 2003). Dalam banyak cara model dialogic, relasional, dan
kolaboratif dari terapi Gestalt sesuai dengan filosofi perspektif feminis (Enns,1987, 2004).
Terapi perilaku kognitif dan terapi feminis sesuai dalam hal bahwa mereka memandang
hubunagn terapi sebagai sebuah kolaborasi dan klien dalam kedudukan untuk membuat tujuan
dan memilih strategi untuk perubahan. Keduanya berkomitmen untuk memperjelas terapi , dan
keduanya bertujuan untuk membantu klien bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Baik
terapis perilaku kognitif dan terapis feminis mengasumsikan pemberian informasi dan
pengajaran fungsi sehingga klien dapat menjadi partner aktif dalam proses terapi. Seorang terapis
feminis dapat menggunakan strategi berorientasi-tindakan seperti pelatihan asertif dan penarikan
perilaku, dan menyarankan tugas bagi klien untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-
hari. Tiga sumber yang berguna untuk pembahasan lebih lanjut tentang terapi perilaku kognitif
feminis adalah Worell dan Remer (2003), Fodor (1988), dan Kantrowitz dan Ballou (1992).
Batasan dan Kritik Terapi Feminis
Terapis feminis tidak mengambil pendirian netra; mereka percaya terapi adalah proses yang
berorientasi pada nilai. Mereka menekankan pentingnya konselor untuk mengklarifikasi nilai
personal dan profesional mereka dan sadar akan akibat potensial dari nilai ini terhadap klien.
Namun, terdapat bahaya yaitu terapis mungkin terlalu mempengaruhi klien, khususnya mereka
yang kurang memiliki rasa akan nilai mereka sendiri. Terapis feminis harus tetap sadar akan nilai
mereka sendiri dan secara eksplisit membagi nilai ini dengan klien dengan cara untuk
mengurangi reskiko imposisi nilai.
Terapis feminis menantang pilihan tak terkaji klien, tetapi mereka harus menghargai
pilihan klien selama pilihan tersebut di informasikan. Ketika klien memahami dampak faktor
gender dan kultural dalam pilihan mereka, terapis harus berhati-hati terhadap arah tertentu untuk
pertumbuhan klien. Terpais feminis berkomitmen untuk membantu klien mempertimbangkan
harga dan keuntungan dari pilihan hidup mereka saat ini tetpi tidak harus mendorong klien
terlalu cepat menuju pada perubahan yang mereka rasa berada diluar jangkauan mereka. Lenore
Walker (1994) mengangkat isu ini untuk bekerja dengan wanita korban kekerasan. Meskipun
Walker berfokus pada pentingnya mempertanyakan pertanyaan sehingga wanita dapat berpikir
melalui situasi mereka denganc ara yang baru dan dalam membantu wanita mengembangkan
“rencana aman”, dia menekankan seberapa penting hal ini untuk memahami faktor tersebut
dalam kehidupan wanita yang sering menunjukkan kesulitan baginya dalam membuat perubahan.
Dengan melihat pada faktor kontekstual dan lingkungan yang berkontribusi pada masalah
wanita dan bergerak menjauh dari mengeksplor domain intrapsikis yang dapat menjadi kekuatan
serta batasan. Bukannya disalahkan karena depresinya, klien dapat memahami realita eksternal
yang tentu saja menindas. Namun, dengan melihat pada sumber masalah klien yang berada di
dalam lingkungan dapat berkontribusi pada kloen yang tidak mengambil tanggung jawab pribadi
untuk bertindak di hadapan dunia yang tidak adil. Seorang klien dapat membuat perubahan
internal bahwa dalam lingkungan itu dimana eksternal realita mungkin berkontribusi besar pada
masalahnya. Terapis harus menyeimbangkan eksplorasi dari dunia luar dan dalam dari klien jika
klien ingin menemukan cara untuk mengambil tindakan dalam hidupnya. Karena terapi feminis
tidak mengganggap sebuah pendirian netral, mereka harus mengidentifikasi sumber prasangka
apapun dan bekerja untuk membangun kembali atau mengeliminasi aspek bias dalam teori atau
teknik yang mereka guanakn. Hal ini tentu saja usaha yang menantang, dan hal tersebut harus
dianggap sebagai proses yang sedang berjalan.
Kemana Pergi Dari Sini
CD-ROM for Integrative Counseling berguna khusus untuk demonstrasi intervensi yang saya
buat dengan Ruth yang mengilustrasikan beberapa prinsip dan prosedur dari terapi feminis.
Sebagai contoh, di Sesi 1 (Awal Konseling), Saya menanyai Ruth tentang ekspektasinya dengan
menginisiasikan proses konsen yang diinformasikan. Saya ingin melibatkan Ruth sebagai partner
kolaboratif dalam perjalanan terapi, dan Saya mengajarinya bagaimana konseling bekerja. Secara
jelas, Ruth adalah ahli dalam hidupnya sendiri dan tugas saya adalah untuk membantunya dalam
mencapai tujuan yang secara kolavboratif kami identifikasi sebagai fokus terapi. Di Sesi 4
(Memahami dan Berhadapan dengan Keberagaman), Ruth membawa perbedaan gender, dan dia
juga menyebutkan perbedaan kami dalam agama, pendidikan, budaya, dan sosial. Ruth dan saya
mengeksplor tingkat dimana dia merasa nyaman dengan saya dan mempercayai saya.
The Jean Baker Miller Training Institute menawarkan workshop, kursus, pelatihan
profesional, publikasi,d an proyek yang sedang berjalan yang mengeksplor aplikasi dari
pendekatan relasi-kultural dan penelitian terintegrasi, teori psikologi, dan tindakan sosial. Model
relasional-kultural berdasar pada asumsi bahwa hubungan yang bertumbuh-subur dan
ketidakterhubungan dibangun di dalam konteks kultural spesifik.
Jean Baker Miller Training Institute
Stone Center, Wellesley College
106 Central Street
Wellesley, MA 02481
Telephone: (781) 283-3800
Fax: (781) 283-3646
Website: www.wellesley.edu/JBMTI/
The Stone Center Work in Progress Series mencakup lebih dari 100 dokumen dan buku yang
menggambarkan beragam aplikasi model relasional-kultural.
Stone Center / JBMTI Publications
The Wellesley Centers for Women
Wellesley College
106 Central Street
Wellesley, MA 02481
Telephone: (781) 283-2510
Fax: (781) 283-2504
Website: www.wcwonline.org/joomla
The American Psychological Association memiliki dua divisi yang digunakan pada
ketertarikan khusus dalam masalah wanita ; Divisi 17 (Bagian Psikologi Konseling untuk
Wanita) dan Divisi 35 (Psikologi Wanita).
American Psychological Association
750 First Street, N.E.
Washington, DC 20002-4242
Telephone: (202) 336-5500 or (800) 374-2721
Fax: (202) 336-5568
Association Website: www.apa.org
Division 17 Website: www.div17.org
Division 35 Website: www.apa.org/divisons/div35
The Association for Women in Psychology (AWP) mensponsori sebuah konferensi tahunan
mengenai kontribusi feminis pada pemahaman akan pengalaman wanita. AWP adalah organisasi
feminis yang ilmiah dan mendidik digunakan untuk mengevaluasi kembali serta
memformulasikan kembali peran yang umumnya dimainkan oleh penelitian psikologi dan
kesehatan mental dalam kehidupan wanita.
Association for Women in Psychology
Website: www.awpsych.org
The Psychology of Women Resource List, atau POWR online, disponsori oleh divisi 35 APA,
Masyarakat untuk Psikologi Wanita, dan Asosiasi Wanita dalam psikologi. Jaringan elektronik
publik ini memfasilitasi diskusi tentang topik saat ini, penelitian, strategi pengajaran, dan isu-isu
praktik di antara orang-orang yang tertarik pada disiplin psikologi wanita. Kebanyakan orang
dengan akses komputer ke Bitnet atau Internet dapat berlangganan POWR-L tanpa biaya. Untuk
berlangganan, kirim perintah di bawah ini melalui email ke:
LISTSERV @ URIACC (Binet) atau LISTSERV@URIACC.URI.EDU
Berlangganan POWR-L Nama Anda (Gunakan nama depan dan belakang)
Universitas Kentucky menawarkan bidang spesialisasi kecil dalam konseling wanita dan terapi
feminis dalam program pascasarjana Psikologi Konseling. Untuk informasi, hubungi:
Pam Remer
Universitas Kentucky
Departemen Pendidikan dan Konseling Psikologi
251-C Dickey Hall
Lexington, KY 40506-0017
Telepon: (859) 257-4158
E-mail: Premer@uky.edu
Situs web: www.uky.edu/Education/edphead.html
Texas Women’s University menawarkan program pelatihan dengan penekanan pada isu-isu
wanita, masalah gender, dan psikologi keluarga. Untuk informasi, hubungi:
Roberta Nutt
Texas Women’s University
Program Psikologi Konseling
P. O. Kotak 425470
Denton, Texas 76204-5470
Telepon: (940) 898-2313
E-mail: rnutt@mail.twu.edu
Situs web: www.twu.edu/as/psyphil/Counseling_Home.htm
Bacaan Tambahan yang Disarankan
Feminist Perspectives in Therapy:
Empowering Diverse Women (Worell &
Remer, 2003) adalah teks yang luar
biasa yang dengan jelas menguraikan
dasar-dasar terapi pemberdayaan
feminis. Buku ini mencakup berbagai
topik seperti mengintegrasikan
perspektif feminis dan multikultural
mengenai terapi, mengubah peran
perempuan, pandangan feminis tentang
praktik konseling, transformasi feminis
tentang teori konseling, dan pendekatan
feminis untuk penilaian dan diagnosis.
Ada juga bab yang sangat baik
berurusan dengan depresi, selamat dari
serangan seksual, menghadapi
pelecehan, memilih jalur karier, serta
lesbian dan perempuan etnis minoritas.
Feminist Theories and Feminist
Psychotherapies: Origins, Themes, and
Diversity (Enns, 2004) menjelaskan
berbagai teori feminis yang
menginformasikan dan memengaruhi
praktik feminis. Buku ini mencakup
kuesioner penilaian diri singkat yang
dirancang untuk membantu pembaca
memperjelas perspektif teoretis feminis
mereka.
The Healing Connection: How Women
Form Relationships in Therapy and Life
(Miller & Stiver, 1997) menjelaskan
bagaimana koneksi terbentuk antara
orang-orang dan bagaimana hal ini
mengarah pada individu yang kuat dan
sehat. Para penulis juga berurusan
dengan pemutusan antara orang-orang
yang mengarah pada kecemasan, isolasi,
dan depresi.
Women’s Growth in Diversity: More
Writings From the Stone Center
(Jordan, 1997) dibangun di atas fondasi
yang diletakkan oleh Women’s Growth
in Connection. Karya ini menawarkan
wawasan tentang masalah-masalah
seperti seksualitas, rasa malu,
kemarahan, depresi, hubungan
kekuasaan antara wanita, dan
pengalaman wanita dalam terapi.
Subversive Dialogues: Theory in Feminist
Therapy (Brown, 1994) adalah karya
signifikan yang menyatukan teori dan
terapi feminis. Penulis menggambarkan
penerapan prinsip-prinsip feminis
menggunakan contoh kasus.
Referensi dan Bacaan yang Disarankan
AMERICAN PSYCHIATRIC
ASSOCIATION. (2000). Diagnostic
and statistical manual of mental
disorders, text revision (4th ed.).
Washington, DC: Author.
BEARDSLEY, B., MORROW, S. L.,
CASTILLO, L., & WEITZMAN, L.
(1998, March). Perceptions and
behaviors of practicing feminist
therapists: Development of the
feminist multicultural practice
instrument. Paper presented at the
23rd annual conference of the
Association for Women in
Psychology, Baltimore.
BELENKY, M., CLINCHY, B.,
GOLDBERGER, N., & TARULE, J.
(1997). Women’s ways of knowing:
The development of self, voice, and
mind (10th anniv. ed.). New York:
HarperCollins. (Original work
published 1987)
BEM, S. L. (1993). The lenses of gender.
New Haven, CT: Yale University
Press.
BRABECK, M. M. (Ed.). (2000).
Practicing feminist ethics in
psychology. Washington, DC:
American Psychological
Association.
BRABECK, M., & BROWN, L. (1997).
Feminist theory and psychological
practice. In J. Worell & N. G.
Johnson (Eds.), Shaping the future of
feminist psychology: Education,
research, and practice (pp. 1535).
Washington, DC: American
Psychological Association.
BROWN, L. S. (1992). A feminist
critique of the personality disorders.
In L. S. Brown & M. Ballou (Eds.),
Personality and psychopathology:
Feminist reappraisals (pp. 206228).
New York: Guilford Press.
*BROWN, L. S. (1994). Subversive
dialogues: Theory in feminist
therapy. New York: Basic Books.
BROWN, L. S. (2000). Feminist therapy.
In C. R. Snyder and R. E. Ingram
(Eds.), Handbook of psychological
change: Psychotherapy processes
and practices for the 21st century
(pp. 358380). New York: Wiley.
6
BROWN, L. S. (2005). Feminist therapy
with therapists: Egalitarian and
more. In J. D. Geller, J. C. Norcross,
& D. E. Orlinsky (Eds.), The
psychotherapist’s own
psychotherapy: Patient and clinician
perspectives (pp. 265281). New
York: Oxford University Press.
BROWN, L. S., & ROOT, M. (1990).
Diversity and complexity in feminist
therapy. New York: Hayworth.
*CAPLAN, P. J. (1989). Don’t blame
mother. New York: Harper & Row.
6
Buku dan artikel yang ditandai dengan tanda
bintang disarankan untuk dipelajari lebih lanjut
COMAS-DIAZ, L. (1987). Feminist
therapy with mainland Puerto Rican
women. Psychology of Women
Quarterly, 11, 461474.
*COREY, G. (2009). Case approach to
counseling and psychotherapy (7th
ed.). Belmont, CA: Brooks/ Cole.
ENNS, C. Z. (1987). Gestalt therapy and
feminist therapy: A proposed
integration. Journal of Counseling
and Development, 66, 9395.
ENNS, C. Z. (1991). The “new”
relationship models of women’s
identity: A review and critique for
counselors. Journal of Counseling
and Development, 69, 209217.
ENNS, C. Z. (1993). Twenty years of
feminist counseling and therapy:
From naming biases to implementing
multifaceted practice. The
Counseling Psychologist, 21(1), 3
87.
ENNS, C. Z. (2000). Gender issues in
counseling. In S. D. Brown & R. W.
Lent (Eds.), Handbook of counseling
psychology (3rd ed., pp. 601638).
New York: Wiley.
*ENNS, C. Z. (2003). Contemporary
adaptations of traditional approaches
to the counseling of women. In M.
Kopala & M. Keitel (Eds.),
Handbook of counseling women (pp.
121). Thousand Oaks, CA: Sage.
*ENNS, C. Z. (2004). Feminist theories
and feminist psychotherapies:
Origins, themes, and diversity (2nd
ed.). New York: Haworth.
*ENNS, C. Z., & SINACORE, A. L.
(2001). Feminist theories. In J.
Worell (Ed.), Encyclopedia of
gender (Vol. 1, pp. 469480). San
Diego, CA: Academic Press.
*ERIKSEN, K., & KRESS, V. E. (2005).
Beyond the DSM story: Ethical
quandaries, challenges, and best
practices. Thousand Oaks, CA:
Sage.
ESPIN, O. M. (1999). Women crossing
boundaries: A psychology of
immigration and the transformation
of sexuality. New York: Routledge.
EVANS, K. M., KINCADE, E. A.,
MARBLEY, A. F., & SEEM, S. R.
(2005). Feminism and feminist
therapy: Lessons from the past and
hopes for the future. Journal of
Counseling & Development, 83(3),
269277.
FEMINIST THERAPY INSTITUTE.
(2000). Feminist therapy code of
ethics (revised, 1999). San
Francisco: Feminist Therapy
Institute.
FODOR, I. G. (1988). Cognitive
behavior therapy: Evaluation of
theory and practice for addressing
women’s issues. In M. A. Dutton
Douglas & L. E. Walker (Eds.),
Feminist psychotherapies:
Integration of therapeutic and
feminist systems (pp. 91117).
Norwood, NJ: Ablex.
GANLEY, A. L. (1988). Feminist
therapy with male clients. In M. A.
Dutton-Douglas & L. E. Walker
(Eds.), Feminist psychotherapies:
Integration of therapeutic and
feminist systems (pp. 186205).
Norwood, NJ: Ablex.
*GILBERT, L. A., & RADER, J. (2007).
Feminist counseling. In A. B.
Rochlen (Ed.), Applying counseling
theories: An online case-based
approach (pp. 225238). Upper
Saddle River, NJ: Pearson Prentice-
Hall.
GILBERT, L. A., & SCHER, M. (1999).
Gender and sex in counseling and
psychotherapy. Boston: Allyn &
Bacon.
GILLIGAN, C. (1977). In a different
voice: Women’s conception of self
and morality. Harvard Educational
Review, 47, 481517.
*GILLIGAN, C. (1982). In a different
voice. Cambridge, MA: Harvard
University Press.
HERLIHY, B., & COREY, G. (2006a).
ACA ethical standards casebook
(6th ed.). Alexandria, VA: American
Counseling Association.
HERLIHY, B., & COREY, G. (2006b).
Boundary issues in counseling:
Multiple roles and responsibilities
(2nd ed.). Alexandria, VA: American
Counseling Association.
*HERLIHY, B., & McCOLLUM, V.
(2007). Feminist theories. In D.
Capuzzi & D. R. Gross (Eds.),
Counseling and psychotherapy:
Theories and interventions (4th ed.,
pp. 338358). Upper Saddle River,
NJ: Merrill Prentice-Hall.
*JORDAN, J. V. (Ed.). (1997). Women’s
growth in diversity: More writings
from the Stone Center. New York:
Guilford Press.
JORDAN, J. V. (2003). Relational-
cultural therapy. In M. Kopala & M.
Keitel (Eds.), Handbook of
counseling women (pp. 2230).
Thousand Oaks, CA: Sage.
*JORDAN, J. V., KAPLAN, A. G.,
MILLER, J. B., STIVER, I. P., &
SURREY, J. L. (Eds.). (1991).
Women’s growth in connection:
Writings from the Stone Center. New
York: Guilford Press.
KANTROWITZ, R. E., & BALLOU, M.
(1992). A feminist critique of
cognitive-behavioral therapy. In L.
S. Brown & M. Ballou (Eds.),
Personality and psychopathology:
Feminist reappraisals (pp. 7087).
New York: Guilford Press.
KASCHAK, E. (1981). Feminist
psychotherapy: The first decade. In
S. Cox (Ed.), Female psychology:
The emerging self (pp. 387400).
New York: St. Martins.
KASCHAK, E. (1992). Engendered
lives. New York: Basic Books.
KEES, N. L., CARLSON, L. A.,
PARMLEY, R., DAHLEN, P.,
EVANS, K., MARBLEY, A. F.,
ROZDZIAL, M., SEEM, S. R., &
SNYDER, B. (2005). Women and
counseling: A vision for the future.
Journal of Counseling &
Development, 83(3), 269277.
(2005). Women and counseling: A
vision for the future. Journal of
Counseling & Devel
op
-
ment,
83(3), 269277.
KEES, N. L., & LEECH, N. (2004).
Practice tr
e
nds in womens
groups: An inclusive view. In J.
L. DeLucia-Waack, D. Gerrity, C. R.
Kalodner, & M. T. Riva (Eds.),
Handbook of group c
o
un
sel
-
ing
and psychotherapy (pp. 445455).
Thousand Oaks, CA:
Sa
ge.
*KOPALA, M., & KEITEL, M. A.
(Eds.). (2003).
Handbook of counseling
women. Thousand
Oaks, CA:
Sa
ge.
MARTINEZ, L. J., DAVIS, K. C., &
DAHL, B. (1999).
Feminist ethical challenges in
supervision: A
trainee perspective. Women &
Therapy, 22(4),
35
54.
MCINTOSH, P. (1988). White
privilege and m
ale
privilege: A personal account of
coming to s
ee
correspondence through work in
womens s
t
u
d
i
es.
Working paper no. 189. Wellesley,
MA: W
e
ll
e
s
le
y
College Center for Research
on Women.
MCINTOSH, P. (1998). White
privilege, color, and
crime: A personal account. In C.
R. Mann &
M. S. Zatz (Eds.), Images of color,
images of c
r
i
me
(pp. 207216). Los Angeles,
CA: Ro
x
b
ur
y
.
MILLER, J. B. (1986). Toward a new
psychology
of
women (2nd ed.).
Boston: B
e
acon.
MILLER, J. B. (1991). The
development of womens
sense of self. In J. V. Jordan, A. G.
Kaplan, J. B.
Miller, I. P. Stiver, & J. L. Surrey
(Eds.),
Wo
m
e
ns
growth in connection (pp. 11
26). New York:
Guilford
Pr
e
ss.
MILLER, J. B., JORDON, J., STIVER,
I. P., W
A
L
K
-
ER, M., SURREY, J., &
ELDRIDGE, N.
S
.
(1999). Therapists’ authenticity.
Work in prog
-
ress no. 82. Wellesley, MA:
Stone C
e
nt
e
r
Working Paper
S
e
ri
e
s.
*MILLER, J. B., & STIVER, I. P.
(1997). The
heal-
ing connection: How women form
relationships in
therapy and in life. Boston:
Beacon Pr
e
ss.
*MIRKIN, M. P., SUYEMOTO, K.
L., & OKUN,
B. F. (Eds.). (2005). Psychotherapy
with women:
Exploring diverse contexts and
identities. New
York: Guilford
Pr
e
ss.
MORADI, B., FISCHER, A. R., HILL,
M. S.,
JO
ME,
L. M., & BLUM, S. A. (2000).
Does f
e
minist
plus therapist equal feminist
th
e
rapist?
An empirical investigation of the
link
be
-
tween self-labeling and behaviors.
Ps
yc
h
olo
g
y
of Women Quarterly,
24, 285296.
*PHILPOT, C. L., BROOKS, G. R.,
LU
S
TERM
A
N, D. D., & NUTT, R.
L. (1997). Bridging se
p
ar
a
te
gender worlds: Why men and
women cl
a
s
h
and how therapists
can bring them
t
o
gethe
r
.
Washington, DC: American
Ps
y
chological Association.
PLECK, J. H. (1995). The gender role
strain para
-
digm: An update. In R.
R. Levant & W. S. Pollack (Eds.), A
new psychology of men (pp. 11
32). New York: Basic Books.
POLLACK, W. S. (1995). No man is an
island: Toward a new
psychoanalytic psychology of men.
In R. F. Levant & W. S. Pollack
(Eds.), A new psychology of men
(pp. 3367). New York: Basic
Books.
*POLLACK, W. S. (1998). Real boys.
New York: Henry Holt.
PROCHASKA, J. O., & NORCROSS,
J. C. (2007).
Systems of psychotherapy: A
t
r
a
ns
t
he
o
re
t
i
c
al
analysis (6th ed.). Belmont, CA:
Brooks
/
Cole.
RAVE, E. J., & LARSEN, C. C.
(Eds.). (1995).
Et
h
i
-
cal decision making in therapy:
Feminist
pe
r
s
pe
c
-
tives. New York: Guilford Pr
e
ss.
*REAL, T. (1998). I dont want to talk
about it:
Ov
er
-
coming the secret legacy of male
depression. New
York: Simon & Schuster (Fir
e
sid
e
).
*REMER, P. (2008). Feminist therapy.
In J. Frew &
M. D. Spiegler (Eds.),
Contemporary
p
syc
h
o
-
therapies for a diverse world (pp.
397441). Boston:
Lahaska Pr
e
ss.
*ROGERS, N. (1995). Emerging
woman: A
decade
of midlife transitions. Manchester,
England:
PCCS Books.
*SURREY, J. L. (1991). The
s
e
lf
-
in
-
r
e
lation:
A theory of womens
development. In J. V.
Jordan, A. G. Kaplan, J. B. Miller, I.
P. Stiver, &
J. L. Surrey (Eds.), Womens
growth in c
o
nnec
-
tion (pp. 5166). New York:
Guilford Pr
e
ss.
THOMAS, S. A. (1977). Theory and
practice in
feminist therapy. Social Work, 22,
447454.
WALDEN, S. L. (2006). Inclusion of
the client pe
r-
spective in ethical practice. In B.
Herlihy &
G. Corey, Boundary issues in
counseling:
Mult
iple
roles and responsibilities (2nd ed.,
pp. 4652).
Alexandria, VA: American
Counseling Asso
-
ciation.
WALKER, L. (1994). Abused women
and s
ur
v
i
vo
r
therapy: A practical guide for the
ps
ycho
the
rapi
st
.
Washington, DC: American
Ps
y
chological
Association.
WORELL, J. (2002). Guidelines for
ps
y
chological practice with girls
and women: Update. Th
e
Feminist
Psychologist, 29(3), 8, 10.
WORELL, J., & GOODHEART, C. D.
(Eds.). (2006).
Handbook of girls’ and womens
p
s
ycholo
g
ical
health: Gender and well-being
across the life s
p
a
n.
New York: Oxford University
Pr
e
ss.
*WORELL, J., & JOHNSON, N. G.
(Eds.). (1997).
Shaping the future of feminist
psychology:
Edu
-
cation, research, and practice.
Washington,
DC: American Psychological
A
ssociation.
*WORELL, J., & REMER, P. (2003).
Feminist
per-
spectives in therapy: Empowering
diverse wom
e
n
(2nd ed.). New York: Wi
le
y
.
BAB TIGABELAS
Pendekatan
PascaModeren
Pengantar Konstruksionisme
Sosial
Pandangan Historis Konstruksionisme Sosial
Pendekatan Sistem Bahasa Kolaboratif
Terapi Singkat Berbasis Solusi
Pengantar
Konsep-Konsep Utama
Proses Terapi
Penerapan: Teknik dan Tahap-Tahap
Terapi
Terapi Naratif
Pengantar
Konsep-Konsep Utama
Proses Terapi
Penerapan: Teknik dan Tahap-Tahap
Terapi
Pendekatan Pascamoderen Dari
Perspektif Multikultural
Kelebihan Perspektif Keberagaman
Kekurangan Perspektif Keberagaman
Penerapan Pendekatan
Pascamoderen dalam Kasus Stan
Rangkuman dan Kesimpulan
Kontribusi Pendekatan Pascamoderen
Keterbatasan dan Kritik Pendekatan
Pascamoderen
Kemana Selanjutnya
Saran Bacaan Lanjutan
Saran Bacaan dan Referens
Beberapa Pendiri Kontemporer Terapi Post-Modernisme
Pendekatan post moderniesme tidak memiliki seorang pendiri saja. Namun, ini adalah usaha dair banyak
orang. Saya telah menyoroti dua co-founder dari terapi singkat berfokus pada solusi dan dua co-founder
dari terapi naratif yang memiliki dampak utama pada perkembangan pendekatan terapi ini.
INSOO KIM BERG merupakan co-developer dari pendekatan berfokus pada solusi. Hingga kematiannya
pada tahun 2007, dia adalah seorang direktur dari Brief Family Therapy Center di Milwaukee, Wisconsin.
Sebagai pemimpin dalam praktik terapi singkat berfokus pada solusi (SFBT), dia menyediakan workshop
di Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Australia, Denmark, Inggris, dan Jerman. Di antara tulisannya
adalah Family Based Services: A Solution-Focused Approach (1994), Working With the
Problem Drinker: A Solution-Focused Approach (Berg & Miller, 1992), dan Interviewing for Solutions
(De Jong & Berg, 2008).
STEVE DE SHAZER adalah salah satu pelopor terapi singkat berfokus pada solusi. Selama bertahun-
tahun, dia adalah direktur penelitian di Brief Family Therapy Center di Milwaukee,di mana terapi singkat
berfokus pada solusi dikembangkan. Dia menulis beberapa buku dalam SFBT, termasuk Keys to Solutions
in Brief Therapy 1985), Clues: Investigating Solutions in Brief Therapy (1988), Putting Diff erence to
Work (1991), Words Were Originally Magic (1994), and More Than Miracles: The State of the Art of
Solution-Focused Brief Therapy (2007). Dia memberikan workshop, pelatihan, dan memberikan
konsultasi secara luas di Amerika Utara, Eropa, Australia, dan Asia. Dia meninggal pada September 2005
ketika sedang tour mengajar di Eropa.
MICHAEL WHITE adalah co-founder, bersama David Epston, dari pergerakan terapi naratif. Dia di
Dulwich Centre di Adelaide, Australia, dan pekerjaannya dnegan keluarga dan komunitasnya telah
menarik perhatian luas dunia internasional. Diantara banyak bukunya adalah Narrative Means to
Therapeutic Ends (White & Epston, 1990), Reauthoring Lives: Interviews and Essays (1995), dan
Narrative of Therapists’ Lives (1997).
DAVID EPSTON adalah salah satu pengembang dari terapi naratif. Dia adalah co-director dari Family
Therapy Centre di Auckland, New Zealand. Dia adalah penjelajah internasional, memberikan kuliah dan
workshop di Australia, Eropa, dan Amerika Utara. Dia adalah co-autrhor dari Narrative Means to
Therapeutic Ends (White & Epston, 1990) dan Playful Approaches to Serious Problems: Narrative
Therapy With Children and Their Families Freeman, Epston, & Lobovits,
1997).
Pengantar Konstruksionisme Sosial
Tiap model dari konseling dan psikoterapi yang telah dipelajari sejauh ini memiliki versinya
sendiri tentnag “realita”. Keberadaan secara beramaan dari “kebenaran” yang berganda dan
sering kali bertentangan telah mengantarkan pada meningkatnya skeptisisme dalam
kemungkinan yang oleh teori universal yang tunggal akan dijelaskan suatu hari nanti pada
manusia dan sistem di mana mereka hidup. Kita telah memasuki dunia post-modernisme dimana
kebenaran dan realita sering dipahami sebagai sudut pandang yang terikat oleh sejarah dan
konteks, dan bukannya sebuah fakta objektif yang kekal.
Modernis percaya pada realita objektif yang dapat diamati dan diketahui secara sistematis
melalui metode ilmiah. Mereka percaya realita hadir independen dari segala usaha untuk
mengamatinya. Modernis percaya orang-orang mendatangi terapi atas sebuah masalah ketika
mereka telah menyimpang terlalu jauh dari beberapa norma objektif. Sebagai contoh, klien
mengalami depresi ketika suasana hatinya berada dibawah tingkat yang kita anggap normal,
kesedihan setiap hari- atau ketika kesedihan itu berakhir lama daripada yang seharusnya. Klien
kemudian melabeli kesedihan mereka sebagai sesuatu yang tidak normal dan mencari bantuan
untuk mengembalikan perilaku “normal”.
Postmodernis, sebaliknya, percaya bahwa realita tidak hadir independen dalam proses
pengamatan. Sosial konstrusionisme adalah sebuah perspektif terpi di dalam pandangan
postmodern; ia menekankan realita klien tanpa membantah apakah hal itu akurat atau rasional.
(Gergen, 1991, 1999; Weishaar, 1993). Bagi konstruksionis sosial, realita berdasar pada
penggunaan bahawa dan pada umumnya sebuah fungsi dari situasi dimana orang-orang tinggal.
Realita dikonstruksikan secara sosial. Sebuah masalah muncul ketika orang setuju bahwa ada
masalah yang harus dibahas: seseorang mengalami depresi ketika dia mengadopsi defenisi diri
sebagai depresi. Ketika sebuah definisi diri diadopsi, maka sulit untuk mengenali perilaku yang
berlawanan dengan definisi tersebut; sebagai contoh, sulit bagi seseorang yang sedang
mengalami depresi untuk menyadari nilai dari suasana hati yang baik yang datang berkali-kali
dalam hidupnya.
Dalam pemikiran postmodernisme, bahasa dan penggunaan bahasa dalam kisah
menciptakan makna. Mungkina ada banyak makna sebanyakan ornag yang akan bercerita, dan
tiap cerita ini adalah benar bagi orang yang menceritakannya. Selain itu, setiap orang yang
terlibat dalam sebuah situasi memiliki sebuah perspektif tentang “realita” situasi tersebut. Ketika
Kenneth Gergen (1985, 1991, 1999) dan yang lainnya mulai menekankan cara dimana ornag
membuat makna dalam hubungan sosial, bidang konstruksionisme sosial telah lahir. Berger dan
Luckman (1967) terkenal menjadi yang pertama dalam menggunakan istilah konstrusionisme
sosial (social constructionisme), dan hal ini menandakan sebuah pergeserah dalam penekanan
pada psikoterapi individu dan sistem keluarga.
Dalam sosial konstruksionisme, terapis mengingkari peran ahli, lebih menyukai pendirian
kolaboratif dan konsultatif. Klien dianggap sebagai ahli akan hidup mereka sendiri. De Jong dan
Berg (2008) menempatkan pernyataan ini tentnag tugas terapis:
Kami tidak memandang diri kami sebagai ahli pada secara ilimiah mengkaji masalah
klien lalu kemudian mengintervensi. Malahan, kami berusaha untuk menjadi ahli dalam
mengeksplor kerangka referensi klien dan mengidentifikasi persepsi itu yang digunakan klien
untuk menciptakan kehidupan yang lebih memuaskan (p. 19)
Kerja sama kolaboratif dalam proses terapi dianggap lebih penting dari pada pengkajian
atau teknik. Proses naratif dan bahasa (linguistik) berfokus pada memahami individu dan
membantu mereka membangun perubahan yang diinginkan.
Teori Konstruksionis sosial berdasar pada empat kunci asumsi (Burr, 1995), yang
membentuk dasar dari perbedaan antara perspektik psikologi post-modern dan tradisional.
Pertama, teori konstruksionis sosial mengundang sebuah pendirian kritis menuju pengetahuan
yang dijami. Konstruksionis sosial menantang pengetahuan konvensional yang berdasarkan
sejarah membimbing pemahaman kita akan dunia, dan mereka berhati hati pada asumsi yang
mencurigakan tentang bagaimana nampaknya dunia. Kedua, konstruksionis sosial percaya
bahasa dan konsep yang kita gunaka untuk memahami dunia secara umum itu spesifik secara
sejarah dan kultural. Pengetahuan itu terikat waktu dan budaya, dan cara pemahaman kita tidak
serta merta lebih baik dari pada cara yang lain.ketiga, konstruksionis sosial menyatakan bahwa
pengetahuan dibangun melalui proses sosial. Apa yang ktia anggap “benar” merupakan produk
dari interaksi sehari-hari dengan orang-orang dalam hidup kita. Sehingga, tidak ada cara hidup
yang tunggal atau “benar” dari seseorang. Keempat, pemahaman yang dinegosiasikan
(konstruksionisme sosial) dianggap sebagai praktik yang mempengaruhi kehidupan sosial dan
bukannya menjadi abstraksi darinya. Oleh karena itu, pengetahuan dan tindakan sosial itu
berjalan bersama.
Sekilas sejarah konstruksionisme sosial
Beberapa ratus tahun yang lalu, Freud, Adler, dan Jung merupakan bagian dari pergeseran
parafigma yang mengubah psikologi begitupun dnegan filosofi, sains, medis, dan bahkan seni.
Pada abad ke-21, konstruksionis post modern dari sumber pengetahuan alternatif nampaknya
menjadi salah satu dari pergeseran paradigma yang nampak mempengaruhi bidang psikoterapi.
Pemikirna post modern memiliki pengaruh pada perkembangan banyak teori psikoterapi dan
mempengaruhi praktik psikoterapi kontemporer. Penciptaan diri, yang mendominasi penelitian
modernis akan esensi dan kebenaran manusia, digantikan dnegan konsep kehidupan yang
diceritakan secara sosial. Keberagaman, kerangka ganda, dan integrasi-kolaborasi yang
mengetahui dengan apa yang diketahuai- semuanya merupakan bagian dari pergerakan sosial
baru ini untuk memperluas perspektif dan pilihan. Bagi beberapa konstruksionis sosial, proses
“mengetahui” mencakup ketidakpercayaan pada posisi budaya dominan yang menyerap keluarga
dan masyarakat hari ini (White & Epston, 1990). Perubahan mulai dengan medekonstruksi
kekuatan dan naratif kultural dan kemudian pada co-konstruksi sebuah makna hidup baru.
Sebagai contoh dari metoe ini, lihat bagaimana Dr. Jennifer Andrews memberikan konseling
pada Ruth dari perspektif konstruktifis sosial (Corey, 2009, bab, 11)
Terdapat sejumlah perspektif post-modern dalam praktik terapi; diantara yang paling
dikenal adalah pendekatan sistem bahasa kolaboratif (Anderson & Goolishian, 1992), Terapi
singkat berfokus pada solusi (de Shazer, 1985, 1988, 1991, 1994), Terapi berorientasi solusi
(Bertolino & O’Hanlon, 2002; OHanlon & Weiner-Davis, 2003), dan terapi Naratif (White &
Epston, 1990). Sesi selanjutnya mengkaji pendekatan sistem bahasa kolaboratif, tetapi inti dari
bab ini membahas dua dari pendekatan post modern yang paling sigifikan: terapi singkat
berfokus pada solusi dan terapi naratif.
Pendekatan sistem bahasa kolaboratif
Dialog konstruksionis sosial yang secara relatif tidak terstruktur telah disarankan oleh Harlene
Anderson dan Harold Goolishian (1992) dari Houston Galveston Institute. Menolak intervensi
terapis yang lebih terkontrol dan berbasis teori dari pendekatan terapeutik Amerika Utara
lainnya, Anderson dan Goolishian mengembangkan terapi kepedulian dan kebersamaan dengan
klien. Sikap mereka mirip dengan metode berpusat pada pelaku yang berasal dari Carl Rogers,
tetapi tanpa teori aktualisasi diri. Diinformasikan oleh dan berkontribusi pada bidang
konstruksionisme sosial, mereka percaya bahwa kehidupan manusia dibangun dalam narasi
pribadi dan keluarga yang mempertahankan proses dan makna dalam kehidupan manusia. Narasi
ini dibangun dalam interaksi sosial dari waktu ke waktu. Sistem sosiokultural di mana orang-
orang hidup adalah produk dari interaksi sosial, bukan sebaliknya. Dalam hal ini, terapi juga
merupakan proses sistem yang dibuat dalam percakapan terapeutik klien dan pendengar-
fasilitator.
Ketika orang-orang mencari terapi, mereka sering "terjebak" dalam sistem dialogis yang
memiliki bahasa unik, makna, dan proses yang terkait dengan "masalah." Terapi adalah sistem
percakapan lain yang menjadi terapi melalui sifat "pengorganisasian, pemecahan masalah" nya.
(Anderson & Goolishian, 1992, hal. 27). Adalah keinginan terapis untuk memasuki percakapan
terapeutik dari posisi "tidak tahu" yang memfasilitasi hubungan peduli ini dengan klien. Dalam
posisi yang tidak tahu, terapis masih mempertahankan semua pengetahuan dan kapasitas
pengalaman pribadi yang telah mereka peroleh selama bertahun-tahun, tetapi mereka
membiarkan diri mereka memasuki percakapan dengan rasa ingin tahu dan dengan minat yang
kuat dalam penemuan. Tujuannya di sini adalah untuk memasuki dunia klien semaksimal
mungkin. Klien menjadi ahli yang memberi informasi dan memberikan narasi signifikan dalam
hidup mereka kepada terapis. Posisi yang tidak mengetahui adalah empatik dan paling sering
ditandai dengan pertanyaan-pertanyaan yang “datang dari sikap terapi yang jujur dan
berkesinambungan karena tidak memahami terlalu cepat” (Anderson, 1993, p. 331).
Dalam pendekatan ini pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh terapis selalu
diinformasikan oleh jawaban-jawaban yang diberikan oleh pakar-klien. Terapis memasuki sesi
dengan beberapa pengertian dari rujukan atau asupan apa yang klien ingin atasi. Jawaban klien
memberikan informasi yang merangsang minat terapis, masih dalam postur penyelidikan, dan
pertanyaan lain muncul dari setiap jawaban yang diberikan. Prosesnya mirip dengan metode
Sokrates tanpa gagasan yang sudah terbentuk sebelumnya tentang bagaimana atau ke arah mana
perkembangan cerita-cerita itu harus berjalan. Tujuan dari percakapan ini bukan untuk
menghadapi atau menantang narasi klien tetapi untuk memfasilitasi proses cerita dan
menceritakan kembali sampai peluang untuk makna baru dan cerita baru berkembang:
"Menceritakan satu cerita adalah representasi dari pengalaman; itu membangun sejarah di masa
kini (Anderson & Goolishian, 1992, hal. 37). Dengan tetap dengan cerita, percakapan terapis-
klien berkembang menjadi dialog makna baru, membangun kemungkinan narasi baru. Posisi
terapis yang tidak diketahui telah diresapi sebagai konsep kunci dari kedua pendekatan yang
berfokus pada solusi dan naratif terapi.
Terapi Singkat Berfokus pada Solusi
Pengantar
Tumbuh dari orientasi terapi strategis di Mental Research Institute, terapi singkat berfokus pada
solusi (SFBT) mengubah fokus dari pemecahan masalah menjadi fokus lengkap pada solusi.
Steve de Shazer dan Insoo Kim Berg memprakarsai perubahan ini di Brief Therapy Center di
Milwaukee pada akhir 1970-an. Setelah merasa tidak puas dengan kendala model strategis, pada
1980-an de Shazer berkolaborasi dengan sejumlah terapis, termasuk Eve Lipchik, John Walter,
Jane Peller, Michelle Weiner-Davis, dan Bill O'Hanlon, yang masing-masing menulis banyak
tentang terapi yang berfokus pada solusi dan memulai lembaga pelatihan yang berfokus pada
solusi mereka sendiri. Baik O'Hanlon dan Weiner-Davis dipengaruhi oleh karya asli de Shazer
dan Berg, namun mereka memperluas fondasi ini dan menciptakan apa yang mereka sebut terapi
berorientasi solusi. Dalam bab ini ketika saya membahas terapi singkat yang berfokus pada
solusi, terapi yang berfokus pada solusi, dan terapi yang berorientasi pada solusi, saya berfokus
pada apa yang memiliki kesamaan pada pendekatan ini daripada melihat perbedaannya.
Konsep Kunci
Terapi singkat berfokus pada solusi (SFBT) berbeda dari terapi tradisional dengan
menghindari masa lalu demi masa kini serta masa depan. Terapis fokus pada apa yang mungkin,
dan mereka memiliki sedikit atau tidak ada minat untuk mendapatkan pemahaman tentang
masalah tersebut. De Shazer (1988, 1991) mengemukakan bahwa tidak perlu untuk mengetahui
penyebab suatu masalah untuk menyelesaikannya dan bahwa tidak ada hubungan yang
diperlukan antara penyebab masalah dan solusi mereka. Mengumpulkan informasi tentang suatu
masalah tidak perlu terjadi perubahan. Jika mengetahui dan memahami masalah tidak penting,
demikian juga mencari solusi yang "tepat". Siapa pun dapat mempertimbangkan beberapa solusi,
dan apa yang tepat untuk satu orang mungkin tidak tepat untuk orang lain. Dalam terapi singkat
yang berfokus pada solusi, klien memilih tujuan yang ingin mereka capai, dan sedikit perhatian
diberikan pada diagnosis, anamnesis, atau menjelajahi masalah (Berg & Miller, 1992; De Shazer
& Dolan, 2007; Gingerich & Eisengart, 2000 ; O'Hanlon & Weiner-Davis, 2003).
ORIENTASI POSITIF. Terapi singkat yang berfokus pada solusi didasarkan pada asumsi
optimis bahwa orang sehat dan kompeten dan memiliki kemampuan untuk membangun solusi
yang dapat meningkatkan kehidupan mereka. Asumsi yang mendasari SFBT adalah bahwa kita
memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tantangan yang dibawa kehidupan, namun kadang-
kadang kita mungkin kehilangan indera pengarahan atau kesadaran akan kompetensi kita.
Terlepas dari apa bentuk klien ketika mereka memasuki terapi, Berg percaya bahwa klien itu
kompeten dan bahwa peran terapis adalah untuk membantu klien mengenali kompetensi yang
mereka miliki (seperti dikutip di West, Bubenzer, Smith, & Hamm, 1997). Esensi terapi
melibatkan membangun harapan dan optimisme klien dengan menciptakan harapan positif
bahwa perubahan itu mungkin. SFBT adalah pendekatan non-patologis yang menekankan pada
kompetensi daripada kekurangan, dan kekuatan daripada kelemahan (Metcalf, 2001). Model
yang berfokus pada solusi membutuhkan sikap filosofis dalam menerima orang-orang di mana
mereka berada dan membantu mereka dalam menciptakan solusi. O'Hanlon (1994)
menggambarkan orientasi positif ini: "menumbuhkan solusi - peningkatan bagian dari kehidupan
manusia daripada fokus pada patologi - bagian masalah dan perubahan luar biasa dapat terjadi
dengan sangat cepat" (hal. 23).
Karena klien sering datang ke terapi dalam keadaan "berorientasi pada masalah", bahkan
beberapa solusi yang mereka pertimbangkan dibungkus dalam kekuatan orientasi masalah. Klien
sering memiliki cerita yang berakar pada pandangan deterministik bahwa apa yang telah terjadi
di masa lalu mereka pasti akan membentuk masa depan mereka. Terapis yang berfokus pada
solusi menghadapi presentasi klien ini dengan percakapan optimis yang menyoroti kepercayaan
mereka pada tujuan yang dapat dicapai dan dapat digunakan yang hanya ada di ujung jalan.
Terapis dapat berperan dalam membantu klien dalam membuat perubahan dari keadaan masalah
tetap ke dunia dengan kemungkinan baru. Terapis dapat mendorong dan menantang klien untuk
menulis cerita yang berbeda yang dapat mengarah pada akhir yang baru (O'Hanlon, dikutip
dalam Bubenzer & West, 1993).
MENCARI APA YANG BEKERJA. Penekanan SFBT adalah untuk fokus pada apa yang
bekerja dalam kehidupan klien, yang sangat kontras dengan model terapi tradisional yang
cenderung berfokus pada masalah. Individu membawa cerita ke terapi. Beberapa digunakan
untuk membenarkan keyakinan mereka bahwa hidup tidak dapat diubah atau, lebih buruk lagi,
bahwa hidup membuat mereka semakin jauh dari tujuan mereka. Terapis singkat yang berfokus
pada solusi membantu klien dalam memperhatikan pengecualian pada pola masalah mereka.
Mereka mempromosikan harapan dengan membantu klien menemukan pengecualian, saat-saat
ketika masalahnya kurang mengganggu dalam hidup mereka (Metcalf, 2001). SFBT berfokus
pada menemukan apa yang dilakukan orang yang berfungsi dan kemudian membantu mereka
menerapkan pengetahuan ini untuk menghilangkan masalah dalam waktu sesingkat mungkin.
Seperti O’Hanlon (1999) menyatakan: "Ini mendorong orang-orang untuk keluar dari
menganalisis sifat masalah dan bagaimana masalah itu muncul dan alih-alih mulai mencari solusi
dan mengambil tindakan untuk menyelesaikannya" (hal. 11).
Ada berbagai cara untuk membantu klien dalam memikirkan apa yang berhasil bagi
mereka. De Shazer (1991) lebih memilih untuk melibatkan klien dalam percakapan yang
mengarah pada narasi progresif di mana orang menciptakan situasi di mana mereka dapat
membuat keuntungan yang stabil menuju tujuan mereka. De Shazer mungkin berkata, “Ceritakan
kepada saya tentang saat-saat ketika Anda merasa sedikit lebih baik dan ketika segala sesuatunya
berjalan sesuai keinginan Anda.” Dalam kisah-kisah kehidupan inilah layak untuk dijalani bahwa
kekuatan masalah didekonstruksi dan solusi baru diwujudkan dan dimungkinkan.
ASUMSI DASAR PRAKTIK PANDUAN. Walter dan Peller (1992, 2000) menganggap terapi
yang berfokus pada solusi sebagai model yang menjelaskan bagaimana orang berubah dan
bagaimana mereka dapat mencapai tujuan mereka. Berikut adalah beberapa asumsi dasar mereka
tentang terapi yang berfokus pada solusi:
Individu yang datang ke terapi memiliki kemampuan untuk berperilaku secara efektif,
meskipun efektivitas ini mungkin sementara terhalang oleh kognisi negatif. Pemikiran
yang berfokus pada masalah mencegah orang-orang dari mengenali cara-cara efektif
mereka dalam menghadapi masalah.
Ada keuntungan untuk fokus positif pada solusi dan masa depan. Jika klien dapat
mengarahkan kembali diri mereka ke arah kekuatan mereka menggunakan solusi-bicara,
ada peluang yang baik untuk membuat terapi itu singkat.
Ada beberapa pengecualian untuk setiap masalah. Dengan berbicara tentang pengecualian
ini, klien dapat mengontrol apa yang tampaknya merupakan masalah yang tidak dapat
diatasi. Iklim pengecualian ini memungkinkan kemungkinan menciptakan solusi.
Perubahan cepat dimungkinkan ketika klien mengidentifikasi pengecualian untuk
masalah mereka.
Klien seringkali hanya menampilkan satu sisi dari diri mereka sendiri. Terapis yang
berfokus pada solusi mengundang klien untuk memeriksa sisi lain dari kisah yang mereka
sajikan.
Perubahan kecil akan menghasilkan perubahan lebih besar nantinya. Seringkali,
perubahan kecil lah yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah klien.
Klien ingin berubah, memiliki kapasitas untuk berubah, dan berusaha sebisa mungkin
untuk mewujudkan perubahan tersebut. Terapis sebaiknya bersikap kooperatif terhadap
klien dan tidak merancang strategi untuk mengendalikan pola perilaku klien. Ketika klien
menemukan cara untuk bekerja sama dengan orang lain, maka resistansi tidak akan
terjadi.
Klien dapat dipercaya terkait niatan mereka menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.
Tidak ada solusi “yang paling benar” untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan
tertentu yang dapat diterapkan untuk semua orang. Tiap orang bersifat unik, sehingga,
tiap solusipun unik untuk tiap orang.
Walter dan Peller (2000) tidak lagi menggunakan istilah terapi sebagai pekerjaan merka dan
menyebut pekerjaan mereka dengan istilah konsultasi personal. Mereka mewadahi
pembahasan mengenai preferensi dan kemungkinan diri klien untuk membantu klien
menciptakan masa depan yang lebih positif. Dengan tidak menempatkan diri sebagai ahli,
Walter dan Peller percaya mereka dapat menunjukkan sikap tertarik, penasaran, dan
mendukung pada klien dalam mengeksplorasi keinginan klien mereka.
Proses Terapi
Bertolino dan O’Hanlon (2002) menekankan pentingnya terapis untuk menciptakan
hubungan kolaboratif untuk menghasilkan terapi yang sukses. Menyadari bahwa terapis memiliki
keahlian dalam menciptakan konteks untuk perubahan klien, Bertolino dan O’Hanlon
mengatakan bahwa klienlah yang merupakan ahli kehidupan mereka sendiri dan mereka juga
yang paling mengetahui apa yang sesuai dan apa yang tidak sesuai untuk diri mereka di masa
yang akan datang. Konseling yang berfokus pada solusi bersifat sebagai pendekatan yang
kolaboratif terhadap diri klien, bukan sebagai pendekatan yang bersifat mengajari diri klien
seperti kebanyakan model terapi tradisional umumnya. Jika klien terlibat dalam proses terapi dari
awal hingga selesai, kemungkinan besar terapi akan berhasil. Singkatnya, hubungan kolaboratif
dan kooperatif cenderung lebih efektif dibandingkan hubungan terapi yang berhierarki.
Walter dan Peller (1992) menggambarkan empat tahap yang mencirikan proses SFBT:
91) Mencari tahu apa yang klien inginkan, bukan apa yang klien tidak inginkan. (2) Tidak
mencari aspek patologi dalam perilaku klien, dan tidak mencoba untuk mempersempit diri klien
dengan memberikan klien label diagnostik, namun mencari hal apa yang sesuai dengan diri klien
lalu mendorong mereka untuk terus melanjutkan hal tersebut. (3) Jika hal yang dilakukan klien
tidak memberikan dampak positif untuk dirinya, dorong mereka untuk mencoba sesuatu hal baru
yang berbeda. (4) Jalankan terapi sesingkat mungkin dengan menjadikan tiap sesi sebagai sesi
terakhir dan satu-satunya. Meskipun teknik-teknik ini terlihat jelas untuk dilakukan, proses
kolaboratif antara klien dan terapis dalam membangun solusi bukan hanya sekedar permasalahan
teknik semata.
De Shazer (1992) percaya bahwa pada umumnya klien mampu membangun solusi untuk
masalah mereka tanpa harus menelusuri inti permasalahan mereka tersebut. Dengan
menggunakan kerangka seperti ini, struktur proses penyusunan solusi akan jauh berbeda dengan
proses penyelesaian masalah dalam pendekatan-pendekatan terapi tradisional seperti yang dapat
dilihat dalam gambaran singkat terkait langkah-langkah terapi berikut (De Jong & Berg, 2008):
1. Klien diberikan kesempatan untuk menggambarkan permasalahan mereka. Terapis
mendengarkan dengan baik permasalahan tersebut selagi klien menjawab pertanyaan
terapi, “Bagaimana caranya agar saya berguna untuk diri anda?”
2. Terapis bekerja sama dengan klien mengembangkan tujuan terapi yang matang secepat
mungkin. Pertanyaan yang terapis tanyakan pada klien, “Apa yang akan berubah dalam
hidup anda jika permasalahan yang anda hadapi saat ini telah diselesaikan?”
3. Terapis meminta klien menceritakan masa-masa ketika mereka tidak menghadapi
permasalahan tersebut atau ketika permasalahan yang dihadapi tersebut belum parah,
Klien dibantu oleh terapis dalam mengeksplor masa-masa ini, dengan memperhatikan
aspek apa saja yang menjadi penyebab permasalahan tsb.
4. Di akhir percakapan untuk menyusun solusi ini, terapis memberikan umpan balik berupa
rangkuman pada klien, memberikan dorongan pada diri klien, dan menyarankan apa hal-
hal apa saha yang klien dapat amati atau lakukan sebelum sesi selanjutnya dimulai. Hal
ini dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan klien lebih jauh.
5. Terapis dan klien mengevaluasi kemajuan yang dibuat oleh klien menuju kepuasan solusi
dengan skala penilaian. Terapis menanyakan klien apa yang harus mereka lakukan
sebelum permasalahan yang dihadapi akan diselesaikan dan apa lagkah yang mereka
akan ambil berikutnya.
TUJUAN TERAPI SFBT merefleksikan beberapa pemahaman dasar terkait perubahan diri,
terkait interaksi diri, dan terkait pencapaian tujuan. Terapis pendekatan solusi ini meyakini
bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mendefinisikan tujuan personal diri mereka dan
bahwa mereka memiliki sumber daya dalam diri mereka untuk menyelesaikan permasalahan
tersebut. Setiap klien memiliki tujuan terapi yang masing-masing berbeda yang dibuat untuk
menciptakan masa depan yang lebih kaya (Prochaska & Norcross, 2007). Ketidakjelasan
preferensi klien, tujuan terapi, dan hasil yang diinginkan dari terapi dapat menciptakan jarak
antara terapis dank lien. Sehingga, pada tahap awal proses terapi, klien harus menjelaskan
keinginan mereka dan kekhawatiran apa yang mereka ingin telusuri dalam proses terapi ini
(Bertolino & O’Hanlon, 2002). Dari komunikasi pertama dengan klien ini, terapis kemudian
berusaha untuk menciptakan iklim terapi yang akan menghasilkan perubahan dan mendorong
klien untuk memikirkan sejumlah kemungkinan untuk diri mereka.
Terapis pendekatan ini berfokus pada perubahan kecil, realistis, dan yang mampu dicapai
oleh klien yang dapat menghasilkan keluaran positif. Karena kesuksesan cenderung untuk
terjadi dengan sendirinya, maka tujuan perubahan kecil dianggap sebagai awal menuju
perubahan. Praktisi pendekatan ini beradaptasi dengan bahasa klien, menggunakan kosakata,
kecepatan berbicara, dan intonasi berbicara yang sama dengan klien. Terapis memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang mengasumsikan perubahan diri klien, memiliki lebih dari satu
jawaban, dan yang berorientasi pada arah dan masa depan klien seperti berikut: “Apa yang
anda lakukan, dana apa yang berubah terakhir kali anda melakukan hal tersebut?” atau “Apa
yang anda sadari berubah menjadi lebih baik?” (Bubenzer & West, 2993).
Walter dan Peller (1992) menekankan seberapa pentingnya terapis membantu klien
menciptakan tujuan jelas yang (1) diujarkan dengan jelas dalam bahasa klien, (2) berorientasi
pada proses atau pada perbuatan, (3) dibangun dengan perspektif di sini dan di momen ini,
(4) mampu dicapai, jelas, dan spesifik, serta (5) dapat dikendalikan oleh klien. Akan tetapi,
Walter dan Peller (2000) melarang terapis memaksakan agenda untuk mencapai tujuan yang
jelas sebelum klien berkesempatan untuk mengekspresikan kekhawatiran mereka. Klien
harus merasa bahwa kekhawatiran mereka tersebut didengar dan dipahami sebelum mereka
menyusun tujuan yang mereka ingin capai dalam terapi. Jika terapis tenggelam dalam
entusiasmenya memberikan solusi pada klien, terapis dapat terlalu berfokus pada cara kerja
terapi, tidak lagi memperhatikan aspek-aspek intrapersonal klien.
Terapi pendekatan berbasis solusi ini menawarkan sejumlah bentuk tujuan terapi:
mengubah cara melihat atau kerangka referensi suatu situasi, mengubah dampak situasi yang
menjadi permasalahan, dan mengkontemplasikan kekuatan dan sumber daya yang anda
dalam diri klien (OHanlon & Weiner-Davis, 2003).
Klien didorong untuk terlibat dalam pembahasan yang berfokus pada perubahan atau solusi,
bukan pada permasalahan yang dihadapi, dengan asumsi bahwa pembahasan solusi yang kita
bicarakan ini adalah solusi yang kita akan lakukan. Membahas masalah yang dihadapi hanya
dapat menghasilkan masalah baru. Membahas perubahan dapat menghasilkan perubahan
baru. Ketika klien lebih berfokus untuk membahas hal-hal apa yang mereka mampu lakukan
untuk menghasilkan perubahan, sumber daya dan kekuatan yang mereka miliki dalam diri,
dan hal apa saja yang mereka lakukan dengan baik, maka itu berarti klien berhasil memenuhi
tujuan terapi (Nichols, 2006, 2007).
PERAN DAN FUNGSI TERAPIS Klien akan lebih tertarik untuk terlibat dalam proses
terapi seutuhnya jika mereka menjadi orang yang menentukan arah dan tujuan pembahasan
terapi (Walter & Peller, 1996). Sebagian besar inti proses terapi adalah untuk melibatkan
klien memikirkan masa depan mereka dana pa yang mereka ingin ubah dalam kehidupan
mereka. Terapis pendekatan ini menempatkan diri mereka dalam posisi bukan sebagai
pendikte kehidupan klien. Hal ini dilakukan untuk membuat klien menempatkan dirinya
sebagai orang ahli kehidupan mereka sendiri. Terapis tidak memberikan asumsi bahwa ia
memahami secara mendalam perilaku dan pengalaman hidup klien (Anderson & Goolishian,
1992). Model ini menempatkan peran dan fungsi terapis dalam posisi yang lebih ringan
dibanding posisi terapis dalam sebagian besar pendekatan terapi tradisional dimana terapis
menempatkan diri mereka sebagai ahli menilai dan menangani kehidupan klien. Menurut
Guterman (2006), terapis memiliki keahlian dalam proses perubahan, namun klienlah yang
paling ahli dalam menentukan hal apa yang mereka ingin ubah dalam kehidupan mereka.
Tugas terapis adalah untuk menunjukkan klien menuju arah perubahan tanpa mendikte klien
hal apa yang harus ia ubah.
Terapis berusaha untuk menciptakan hubungan kolaboratif karena mereka merasa bahwa
hubungan kolaboratif akan membuka banyak kemungkinan-kemungkinan untuk perubahan
klien di masa sekarang dan di masa akan datang (Bertolino & O’Hanlon, 2002). Terapis
menciptakan iklim rasa saling menghargai, dialog, analisis, dan afirmasi dimana klien bebas
untuk menciptakan, mengeksplor, dan mengendalikan cerita kehidupan mereka (Walter &
Peller, 1996). Tugas utama terapi adalah untuk membantu klien membayangkan bagaimana
mereka ingin berubah dan apa yang harus ia lakukan mewujudkan perubahan tersebut
(Gingerich & Eisengart, 2000). Beberapa pertanyaan bagus yang terapis dapat tanyakan pada
klien menurut Walter dan Peller (2000, hal. 43) adalah pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa
tujuan anda datang ke sini?” “Bagaimana tujuan tersebut akan menciptakan perubahan dalam
diri anda?” dan “Apa saja tanda dalam diri anda yang menunjukkan bahwa perubahan yang
anda inginkan sedang terjadi?”
HUBUNGAN TERAPI Sama seperti orientasi terapi lain, kualitas hubungan antara terapis
dan klien merupakan faktor penentu hasil SFBT. Sehingga, pembangunan hubungan atau
komunikasi antara terapis dengan klien merupakan langka dasar dalam SFBT. Sikap terapis
merupakan hal penting yang mempengaruhi efektivitas proses terapi. Terapis harus menciptakan
rasa percaya dalam diri klien sehingga klien akan kembali lagi meneruskan sesi terapi
selanjutnya dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Jika rasa kepercayaan ini
tidak terjalin, klien cenderung tidak akan menerima saran-saran yang terapis berikan padanya
(De Jong & Berg, 2008). Salah satu cara menciptakan hubungan terapi yang efektif adalah
dengan membuat terapis menunjukkan pada klien bagaimana mereka dapat memanfaatkan
kekuatan dan sumber daya yang ada dalam diri mereka untuk menciptakan solusi permasalahan
yang dihadapi. Klien didorong untuk melakukan suatu hal yang berbeda dan untuk berpikir
kreatif dalam menghadapi kekhawatirannya di masa sekarang dan di masa depan. De Shazer
(1988) telah menggambarkan tiga jenis hubungan yang dapat membangun hubungan terapis dan
klie mereka:
1. Pelanggan : klien dan terapis secara bersama-sama mengidentifikasi sebuah masalah dan
sebuah solusi untuk bergerak maju. Klien menyadari bahwa untuk mencapai tujuannya,
usaha pribadi akan diperoleh.
2. Pengadu : klien menggambarkan sebuah masalah tetapi tidak dapat atau ikhlas untuk
menduga sebuah peran dan menkonstruksi sebuah solusi, meyakini bahwa sebuah solusi
itu mandiri pada tindakan orang lain. Dalam situasi ini, klien secara umum mengharapkan
terapis untuk mengubah orang lain kepada siapa klien menghubungkan masalah.
3. Pengunjung : klien datang pada terapi karena orang lain (pasangan, orang tua, guru, atau
pegawai masa percobaan) berpikir bahwa klien memiliki sebuah masalah. Klien ini
mungkin tidak setuju bahwa dia memiliki sebuah masalah dan mungkin tidak dapat
mengidentifikasi apapun untuk dieksplor dalam terapi.
De Jong dan Berg (2008) merekomendasikan penggunaan kehati-hatian sehingga terapis
tidak mengkotakkan klien pada identitas statis. Ketiga peran ini hanya merupakan peran
awal untuk percakapan. Bukannya mengkategorisasikan klien, terapis dapat
merefleksikan pada jenis hubungan yang berkembang diantara klien dan diri mereka.
sebagai contoh, klien (pengadu) yang cenderung menempatkan penyebab dari masalah
mereka pada orang atau pribadi lain dalam hidup mereka mungkin dibantu oleh intervensi
ahli untuk memulai untuk melihat peran mereka dalam masalah mereka dan keharusan
untuk mengambil langkah aktif dalam menciptakan solusi. Seorang klien pengunjung
mungkin ingin untuk bekerja dengan terapis untuk menciptakan sebuah hubungan
pelanggang dengan mengeksplor apa yang klien ingin untu lakukan untuk memuaskan
orang lain atau “membuat mereka bergerak dari tempatnya.” Mulanya, beberapa klien
akan merasa tidak berdaya dan binung atas masalah mereka. bahkan, klienyang tidak
dapat mengartikulasikan sebuah masalah mungkin berubah sebagai hasil dari
pengembangan sebuah persekutuan terapi efektik. Bagaimana terapis merespon pada
perilaku yang berbeda dari klien berhubungan dengan membawa sebuah pergeseran
dalam hubungan. Secara singkat, kedua pengadu dan pengunjung memiliki kapasitas
untuk menjadi pelanggan.
Applikasi : Teknik dan Prosedur Terapi
MEMBANGUN SEBUAH HUBUNGAN KOLABORATIF terapis berfokus pada solusi
mungkin memilih dari sebuah intervensi ketika membantu klien dalam menemukan solusi dan
menciptakan kehidupan yang lebih memuaskan. Namun, jika prosedur ini digunakan dalam
sebuah cara rutin tanpa mengembangkan sebuah persekutuan kerja, mereka tidak akan
mengantarkan pada hasil yang efektif. Hal ini penitng bahwa terapis percaya bahwa klien mereka
adalah ahli sesungguhnya dalam kehidupan mereka. semua teknik yang telah didiskuasikan disini
harus diemplementasikan dari fondasi sebuah hubungan kerja kolaboratif.
PERUBAHAN PRA TERAPI Dengan hanya menjadwalkan sebuah janji temu sering membua
perubahan positif dalam pergerakan. Selama sesi terpai awal, hal ini umum bagi terapi berfokus
pada solusi untuk bertanya, apa yang telah kamu lakukan sejak kamu dipanggil untuk perteuan
yang telah membuat sebuah perbedaan dalam masalahmu?” (de Shazer, 1985, 1988). Dengan
menyanyakan perubahan seperti itu, terapis dapat mendatangkan, menimbulkan, dan menguatkan
apa yang telah dilakukan oleh klien pada proses terapi itu sendiri, sehingga bertanya tentang
mereka cenderung menyemangati klien untuk tidak terlalu bergantung pada terapis mereka dan
lebih bergantung pada sumber daya mereka sendiri untuk mencapai tujuan perlakuan mereka (de
Shazer & Dolan, 2007;
McKeel, 1996; Weiner-Davis, de Shazer, & Gingerich, 1987).
PERTANYAAN PENGECUALIAN SFBT berdasar pada pernyataan bahwa terdapat masa
dalam kehidupan klien ketika masalah mereka identifikasi sebagai tidak problematik. Masa ini
disebut pengecualian dan mewakili berita perbedaan (Bateson, 1972). Terapis berfokus pada
solusi menanyakan pertanyaan pengecualian untuk mengarahkan klien pada masa ketika
masalah tidak ada, atau ketika masalah tidak berat. Pengecualian adalah masa lalu dalam hidup
klien ketika hal tersebut akan masuk akal untuk mengira masalah muncul, tetapi entah mengapa
tidak terjadi (de Shazer, 1985). Dengan membantu klien mengidentifikasi dan mengkaji
pengecualitan ini, perubahan meningkat sehingga mereka akan bekerja mencari solusi
(Guterman, 2006). Eksplorasi ini mengingatkan klien bahwa masalah tidak semuanya kuat dan
tidak tinggal selamanya; ia juga memberikan sebuah kesempatan untuk menggunakan sumber
daya, mengumpulkan kekuatan, dan pemunculan solusi yang mungkin. Terapi menanyai klien
apa yang harus terjadi untuk pengecualian ini agar muncul lebih sering. Dalam kosa kata fokus-
solusi, hal ini disebut percakapan-perubahan (Andrews & Clark, 1996).
PERTANYAAN KEAJAIBAN Tujuan terapi dibangun dnegan menggunakan pada yang disebut
de Shazer (1988) sebagai pertanyaan keajaiban, yang merupakan teknik SFBT utama. Terapis
bertanya, “jika keajaiban terjadi dan masalah yang anda miliki telah diselesaikan semalam saja,
bagaimana anda tau itu telah diselesaikan, dan apa yang akan berbeda?” klien kemudian
disemangati untuk membuat apa yang mungkin berbeda” meskipun masalah dipersepsikan.
Jika klien menyatakan bahwa dia ingin merasa lebih percaya diri dan aman, terapis dapat
bertanya: “coba banyangkan bahwa anda meninggalkan kantor hari ini dan bertindak lebih
percaya diri dan aman. Apa yang mungkin anda akan lakukan dengan berbeda?” proses ini
mempertimbangkan solusi hipotetik merefleksikan keyakinan O’Hanlon dan Weiner-Davis’s
(2003) bahwa perubahan melakukan dan memandang akan masalah yang dipersepsikan
mengubah masalah.
De Jong dan Berg (2008) mengindentifikasi beberapa alasan mengapa pertanyaan
keajaiban merupakan sebuah teknik yang berguna. Meminta klien untuk mempertimbangkan
bahwa sebuah keajaiban membuka kemungkinan masa depan. Klien didukung untuk
membiarkan diri mereka untuk bermimpi sebagai sebuah cara mengidentifikasi jenis perubahan
yang paling mereka inginkan. Pertanyaan ini memiliki fokus masa depan bahwa klien dapat
mulai mempertimbangkan sebuah jenis kehidupan yang berbeda yang tidak didominasi oleh
masalah tertentu. Intervensi ini mengubah penekanan dari masalah masa lalu dan masa kini
menuju sebuah kehidupan masa depan yang lebih memuaskan.
PERTANYAAN SKALA terapis fokus-solusi juga menggunakan pertanyaan skala ketika
perubahan dalam pengalaman manusia tidak mudah diamati, seperti perasaan, suasana hati, atau
komunikasi (de Shazer & Berg, 1988). Sebagai contoh, seorang wanita melaporkan perasaan
panik dan bingung dapat ditanyai: pada skala 0 sampai 10, dimana 0 adalah apa yang kamu
rasakan ketika kamu pertama kali datang terapi dan 10 adalah apa yang kamu rasa ketika hari
setelah keajaiban muncul dan masalah pergi, bagaimana anda menakar kebingungan anda
sekarang?” bahkan jika klien hanya bergerak dari 0 ke 1, ia telah mengalami kemajuan.
Bagaimana dia melakukannya? Apa yang harus dilakukannya untuk bergerak ke angka
selanjutnya? Pertanyaan skala memungkinkan klien untuk memberika perhatian lebih pada apa
yang mereka lakukan dan bagiamna mereka bisa mengambil langkah yang dapat mengantarkan
pada perubahan yang mereka inginkan.
RUMUS TUGAS SESI PERTAMA Rumus tugas sesi pertama adalah sebuah bentuk pekerjaan
rumah yang mungkin diberikan seorang terapis kepada klien untuk menyelesaikan antara sesi
pertama dan sesi kedua. Terapis mungkin mengatakan : antara saat ini dan nanti ketika kita
bertemu lagi, saya ingin anda untuk mengamati, sehingga anda dapat menggambarkan kepada
saya di pertemuan selanjutnya, apa yang terjadi dengan (keluarga, kehidupan, pernikahan,
hubungan) anda yang anda ingin terus terjadi (de Shazer, 1985, p. 137). Pada sesi kedua, klien
dapat ditanyai apa yang mereka amati dan apa yang mereka inginkan terjadi di masa depan.
Tugas seperti ini menawarkan klien harapan bahwa perubahan itu mungkin. Ini bukanlah
masalah jika perubahan muncul, tetapi kapan ia akan muncul. Menurut Shazer, intervensi ini
cenderung meningkatkan optimisme dan harapan klien akan situasi mereka. klien umumnya
bekerja sama dengan FFST dan melaporkan perubahan anatau perkembangan sejak sesi pertama
mereka (McKeel, 1996; Walter & Peller, 2000). Bertolino dan O’Hanlon (2002) menyarankan
bahwa intervensi FFST digunakan setelah klein telah memiliki kesempatan untuk
mengekspresikan perhatian, pandangan, dan cerita saat ini. Hal ini penting bahwa klien merasa
dipahami sebelum mereka diarahakan untuk membuat perubahan.
UMPAN BALIK TERAPIS KEPADA KLIEN praktisi fokus-solusi umumnya berisitirahan 5
sampai 10 menit pada akhir tiap sesi untuk membuat kesimpulan pesan untuk klien. Selama
masa istirahan ini terapis merumuskan umpan balik yang akan diberikan kepada klien setelah
istirahat. De Jong dan Berg (2008) menggambarkan tiga bagian dasar struktur kesimpulan umpan
balik: pujian, jembatan, dan saran tugas. Pujian merupakan penguatan tulus akan apa yang telah
dilakukan klien yang mengarah pada solusi efektif. Penting untuk melakukan pujian tidak
dengan cara yang rutin atau mekanik, tetapi dengan car ayang mendukung yang menciptakan
harapan dan menyampaikan ekspektasi kepada klien bahwa mereka dapan mencapai tujuan
mereka dengan bersandar pada kekuatan dan keberhasilan mereka. kedua, jembatan
menghubungkan pujian awal sebelumnya dengan tugas yang akan dibeirkan. Jembatan
memberikan alasan untuk saran. Aspek ketiga dari umpan balik terdiri dari menyarankan tugas
kepada klien, yang dapat dianggap sebagai tugas rumah. Tugas observasi meminta klien untuk
sekadar memberikan perhatian kepada beberapa aspek dalam hidup mereka. proses
memonitoring diri ini membantu klien mencatat perbedaan ketika hal menjadi lebih baik,
khususnya apa yang berbeda tentang cara mereka berpikir, merasa, atau bertindak. Tugas
behavioral membutuhkan bahwa klien betul-betul melakukan sesuati yang diyakini terapis dapat
berguna bagi mereka dalam menyusun solusi. De Jong dan Berg (2008) menekankan bahwa
umpan balik terpais kepada klien membahas apa yang harus mereka lakukan lebih dan berbeda
untuk meningkatkan kesempatan mencapai tujuan. MENGAKHIRI. Dari wawancara yang
berfokus pada solusi pertama, terapis berpikir untuk bekerja menuju pemutusan hubungan kerja.
Setelah klien dapat membangun solusi yang memuaskan, hubungan terapeutik dapat dihentikan.
Pertanyaan pembentukan tujuan awal yang sering ditanyakan oleh seorang terapis adalah, "Apa
yang perlu berbeda dalam hidup Anda sebagai hasil dari kedatangan anda ke sini agar Anda
mengatakan bahwa pertemuan dengan saya bermanfaat?" Pertanyaan lain untuk membuat klien
berpikir adalah, "Kapan masalahnya terpecahkan, apa yang akan Anda lakukan secara berbeda?
Melalui penggunaan pertanyaan skala, terapis dapat membantu klien dalam memantau kemajuan
mereka sehingga klien dapat menentukan kapan mereka tidak perlu lagi datang ke terapi (De
Jong & Berg, 2008). Sebelum mengakhiri terapi, terapis membantu klien dalam mengidentifikasi
hal-hal yang dapat mereka lakukan untuk melanjutkan perubahan yang telah mereka buat di
masa depan (Bertolino & O'Hanlon, 2002). Klien juga dapat dibantu untuk mengidentifikasi
rintangan atau hambatan yang dirasakan yang bisa menghalangi pemeliharaan perubahan yang
telah mereka buat.
Guterman (2006) menyatakan bahwa tujuan akhir dari konseling yang berfokus pada
solusi adalah untuk mengakhiri perawatan. Dia menambahkan: "Jika konselor tidak proaktif
dalam membuat perawatan mereka singkat dengan desain, maka dalam banyak kasus konseling
akan singkat secara default" (hal.67). Karena model terapi ini singkat, berpusat pada masa kini,
dan menangani keluhan tertentu, sangat mungkin bahwa klien akan mengalami masalah
perkembangan lainnya di kemudian hari. Klien dapat meminta sesi tambahan setiap kali mereka
merasa perlu untuk mengembalikan hidup mereka ke jalur yang benar atau untuk memperbarui
cerita mereka. David Clark mengilustrasikan penilaian dan pengobatan dari pendekatan terapi
singkat yang terfokus pada kasus Ruth dalam Case Approach to Counseling and Psychotherapy
(Corey, 2009, bab 11).
APLIKASI UNTUK PEMBIMBINGAN KELOMPOK. Praktisi kelompok yang berfokus pada
solusi percaya bahwa orang-orang kompeten, dan bahwa dengan iklim di mana mereka dapat
mengalami kompetensi mereka, mereka dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri,
memungkinkan mereka untuk hidup lebih kaya. Sejak awal, fasilitator kelompok menetapkan
nada fokus pada solusi (Metcalf, 1998) di mana anggota kelompok diberi kesempatan untuk
menggambarkan secara singkat masalah mereka. Seorang fasilitator dapat memulai sebuah
kelompok baru dengan meminta, “Saya ingin Anda masing-masing memperkenalkan diri. Ketika
Anda melakukannya, beri kami ide singkat mengapa Anda ada di sini dan beri tahu kami apa
yang Anda ingin kami ketahui tentang Anda. Fasilitator membantu anggota untuk menjaga
masalah dari luar dalam percakapan, yang cenderung melegakan karena memberi anggota
kesempatan untuk melihat diri mereka sendiri kurang jenuh terhadap masalah. Adalah peran
fasilitator untuk menciptakan peluang bagi anggota untuk melihat diri mereka sebagai sumber
daya. Karena SFBT dirancang untuk singkat, pemimpin memiliki tugas untuk menjaga anggota
kelompok pada jalur solusi daripada jalur masalah, yang membantu anggota untuk bergerak ke
arah yang positif.
Pemimpin kelompok bekerja dengan anggota dalam mengembangkan tujuan yang
dibentuk dengan baik sesegera mungkin. Pemimpin berkonsentrasi pada perubahan kecil,
realistis, dapat dicapai yang dapat mengarah pada hasil positif tambahan. Karena kesuksesan
cenderung dibangun di atas dirinya sendiri, tujuan-tujuan sederhana dipandang sebagai awal dari
perubahan. Pertanyaan yang digunakan untuk membantu anggota dalam merumuskan tujuan
yang jelas mungkin termasuk "Apa yang akan berbeda dalam hidup Anda ketika masalah Anda
diselesaikan?" Dan "Apa yang akan terjadi di masa depan yang akan memberi tahu Anda dan
kami yang ada dalam kelompok bahwa hal-hal lebih baik untuk Anda? Terkadang anggota
berbicara tentang apa yang akan dilakukan atau tidak dilakukan orang lain dan lupa
memperhatikan tujuan atau perilaku mereka sendiri. Di saat-saat seperti ini mereka dapat
ditanya, “Dan bagaimana dengan dirimu? Apa yang akan Anda lakukan secara berbeda dalam
gambar itu?”
Fasilitator bertanya kepada anggota tentang saat-saat ketika masalah mereka tidak ada
atau ketika masalahnya tidak terlalu parah. Anggota dibantu dalam mengeksplorasi pengecualian
ini, dan penekanan khusus diberikan pada apa yang mereka lakukan untuk membuat perihal ini
terjadi. Para peserta terlibat dalam mengidentifikasi pengecualian satu sama lain. Ini
meningkatkan proses kelompok dan mempromosikan fokus solusi, yang dapat menjadi sangat
kuat. Pengecualian adalah peristiwa nyata yang terjadi di luar konteks masalah. Dalam konseling
individu, hanya terapis dan klien yang menjadi pengamat kompetensi. Namun, keuntungan dari
konseling kelompok adalah bahwa audiens melebar dan lebih banyak input dimungkinkan
(Metcalf, 1998).
Seni bertanya adalah intervensi utama yang digunakan dalam kelompok yang berfokus
pada solusi. Pertanyaan ditanyakan dari posisi hormat, keingintahuan, minat tulus, dan
keterbukaan. Pemimpin kelompok menggunakan pertanyaan seperti ini yang mengandaikan
perubahan dan tetap diarahkan pada tujuan dan berorientasi pada masa depan: "Apa yang Anda
lakukan dan apa yang telah berubah sejak terakhir kali?" Atau "Apa yang Anda perhatikan yang
menjadi lebih baik?" Anggota kelompok lain didorong untuk merespons bersama dengan
pemimpin kelompok untuk mempromosikan interaksi kelompok. Fasilitator dapat mengajukan
pertanyaan seperti ini: “Suatu hari, ketika masalah yang membawa Anda ke grup ini tidak terlalu
bermasalah bagi Anda, apa yang akan Anda lakukan?” Ketika Anda masing-masing
mendengarkan orang lain hari ini, adakah seseorang dalam kelompok yang dapat menjadi
sumber dorongan bagi Anda untuk melakukan sesuatu yang berbeda? Pemimpin berusaha untuk
membantu anggota mengidentifikasi pengecualian dan mulai mengenali ketangguhan dan
kompetensi pribadi. Menciptakan konteks kelompok di mana anggota dapat belajar lebih banyak
tentang kemampuan pribadi mereka adalah kunci bagi anggota belajar untuk menyelesaikan
masalah mereka sendiri.
Konseling kelompok singkat yang berfokus pada solusi memberikan banyak janji bagi
konselor yang menginginkan pendekatan praktis dan efektif dalam pengaturan sekolah (Sklare,
2005). Daripada menjadi buku resep teknik untuk menghilangkan masalah siswa, pendekatan ini
menawarkan konselor sekolah sebuah kerangka kerja kolaboratif yang bertujuan untuk mencapai
perubahan kecil dan konkret yang memungkinkan siswa untuk menemukan arah yang lebih
produktif. Model ini memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada konselor sekolah yang
bertanggungjawab untuk melayani beban kasus siswa yang besar dalam sistem sekolah K-12.
Untuk perawatan yang lebih rinci tentang bagaimana SFBT dapat diterapkan pada kerja
kelompok di sekolah, lihat Sklare (2005). Dia memberikan perhatian khusus pada proses
penetapan tujuan dan memberikan banyak contoh konkret tentang bagaimana konselor dapat
membantu siswa dalam mengidentifikasi tujuan yang telah ditetapkan. Untuk diskusi yang lebih
rinci tentang SFBT dalam kelompok, lihat Corey (2008, bab 16).
Terapi Naratif
Pengantar
Dari semua konstruksionis sosial, Michael White dan David Epston (1990) terkenal karena
penggunaan narasi dalam terapi. Menurut White (1992), individu membangun makna hidup
dalam cerita interpretatif, yang kemudian diperlakukan sebagai "kebenaran." Karena kekuatan
narasi budaya dominan, individu cenderung menginternalisasi pesan dari wacana dominan ini,
yang sering bertentangan dengan peluang hidup individu.
Mengadopsi pandangan postmodern, narasi, konstruksionis sosial menyoroti bagaimana
kekuasaan, pengetahuan, dan "kebenaran" dinegosiasikan dalam keluarga dan konteks sosial dan
budaya lainnya (Freedman & Combs, 1996). Terapi, sebagian, adalah pembentukan kembali
agensi pribadi dari penindasan masalah eksternal dan kisah dominan sistem yang lebih besar.
Konsep Kunci
Konsep-konsep kunci dan bagian proses terapi diadaptasi dari beberapa karya yang berbeda,
tetapi terutama dari sumber-sumber ini: Winslade dan Monk (2007), Monk (1997), Winslade,
Crocket, dan Monk (1997), McKenzie dan Monk (1997), dan Freedman and Combs (1996).
FOKUS TERAPI NARATIF. Terapi naratif melibatkan pengadopsian fokus pada sebagian
besar teori tradisional. Terapis didorong untuk membangun pendekatan kolaboratif dengan minat
khusus untuk mendengarkan cerita klien dengan hormat; untuk mencari waktu dalam kehidupan
klien ketika mereka banyak akal; untuk menggunakan pertanyaan sebagai cara untuk melibatkan
klien dan memfasilitasi eksplorasi mereka; untuk menghindari mendiagnosis dan memberi label
pada klien atau menerima deskripsi total berdasarkan masalah; untuk membantu klien dalam
memetakan pengaruh yang terjadi pada kehidupan mereka; dan untuk membantu klien dalam
memisahkan diri dari cerita dominan yang telah mereka internalisasikan sehingga ruang dapat
dibuka untuk penciptaan kisah kehidupan alternatif (Freedman & Combs, 1996).
PERAN CERITA. Kita menjalani hidup kita dengan cerita yang kita ceritakan tentang diri kita
sendiri dan yang orang lain ceritakan tentang kita. Kisah-kisah ini sebenarnya membentuk
kenyataan bahwa mereka membangun dan membentuk apa yang kita lihat, rasakan, dan lakukan.
Kisah-kisah yang kita jalani tumbuh dari percakapan dalam konteks sosial dan budaya. Klien
terapi tidak berperan sebagai korban patologis yang menjalani kehidupan tanpa harapan dan
menyedihkan; sebaliknya, mereka muncul sebagai pemenang yang berani yang memiliki kisah
hidup untuk diceritakan. Kisah-kisah tidak hanya mengubah orang yang menceritakan kisah itu,
tetapi juga mengubah terapis yang memiliki hak istimewa untuk menjadi bagian dari proses yang
sedang berlangsung ini (Monk, 1997).
MENDENGARKAN DENGAN PIKIRAN TERBUKA. Semua teori konstruktivis sosial
menekankan pada mendengarkan klien tanpa menghakimi atau menyalahkan, menegaskan dan
menilai mereka. Lindsley (1994) menekankan bahwa terapis dapat mendorong klien mereka
untuk mempertimbangkan kembali penilaian absolut dengan bergerak ke arah melihat elemen
"baik" dan "buruk" dalam situasi. Terapis naratif melakukan upaya untuk memungkinkan klien
memodifikasi keyakinan, nilai, dan interpretasi yang menyakitkan tanpa memaksakan sistem dan
interpretasi nilai mereka. Mereka ingin menciptakan makna dan kemungkinan-kemungkinan
baru dari cerita yang dibagikan klien alih-alih dari teori penting dan nilai yang akhirnya
dipaksakan.
Meskipun terapis naratif membawa ke usaha terapi sikap tertentu seperti optimisme, rasa
ingin tahu dengan hormat dan kegigihan, serta menilai pengetahuan klien, mereka mampu
mendengarkan cerita jenuh klien tanpa terjebak. Ketika terapis naratif mendengarkan cerita
klien, mereka memperhatikan aspek-aspek cerita klien tersebut yang menunjukkan adanya
kemampuan klien menyelesaikan masalah yang menindasnya. Winslade dan Monk (2007)
mengatakan bahwa terapis percaya bahwa klien memilii kemampuan, bakat, niat baik, dan
pengalaman hidup yang dapat menjadi katalis untuk kemungkinan perilaku baru untuk dirinya.
Konselor perlu menujukkkan rasa kepercayaan bahwa kekuatan dan kemampuan klien ini dapat
diidentifikasi dalam diri mereka, meski klien sendiri kesulitan menemukannya.
Dalam percakapan naratif ini, penggunaan bahasa yang bersifat menyederhanakan,
yang mengurangi kompleksitas diri klien dengan menggunakan satu deskripsi sederhana dalam
menjelaskan esensi klien sebagai individu. Terapis memisahkan diri klien dengan permasalahan
yang ada dalam pikiran mereka ketika mereka mendengarkan dan merespon cerita klien
(Winslade & Monk, 2007).
Perspektif naratif berfokus pada kapasitas manusia untuk berpikir kreatif dan imajinatif.
Para terapis pendekatan naratif ini tidak membuat asumsi bahwa mereka lebih mengetahui hidup
klien daripada diri klien sendiri. Klien merupakan penasir utama pengalaman hidup mereka.
Individu dianggap sebagai pelaku aktif yang dapat menemukan makna dari pengalaman hidup
mereka. Sehingga proses perubahan dalam terapi ini difasilitasi namun tidak diarahkan oleh
terapis.
Proses Terapi
Gambaran langkah-langkah proses terapi naratif berikut menggambarkan sruktur
pendekatan naratif (O’Hanlon, 2994, hal. 25-26):
Berkolaborasi dengan klien untuk menentukan nama yang tepat untuk permasalahan yang
dihadapi.
Mempersonifikasi masalah yang dihadapi dan terapkan niat dan taktik untuk
memperbaiki masalah tersebut.
Menelusuri bagaimana permasalahan yang dihadapi selama ini merusak, mendominasi,
atau menghilangkan motivasi diri klien.
Mengajak klien untuk melihat cerita hidupnya dengan perspektif berbeda dengan
memberikan klien interpretasi-interpretasi alternatif makna peristiwa hidupnya.
Mencari momen dimana klien tidak dikuasai atau diatur oleh masalah yang dihadapi
dengan mencari pengecualian dalam masalah tersebut.
Mencari bukti historis untuk menguatkan pandangan baru klien sebagai cara bagi klien
menghadapi, mengalahkan, atau keluar dari penguasaan atau penindasan yang muncul
dari masalah tersebut. (Pada tahap ini, identitasi dan cerita hidup klien mulai ditulis
ulang.)
Meminta klien untuk memberikan spekulasi terkait masa depan apa yang klien dapat
harapkan akan peroleh dengan menjadi individu baru yang kuat dan kompeten. Ketika
klien terbebas dari cerita masa lalunya yang dipenuhi dengan masalah, ia dapat
mencanangkan dan merencanakan masa depan yang tidak dipenuhi dengan masalah.
Menemukan atau menciptakan penonton dalam hidup klien untuk menerima dan
mengembangkan cerita baru yang dibangun klien. Membuat cerita baru saja tidaklah
cukup. Klien harus menghidupi cerita baru tersebut dalam kehidupan sehari-harinya.
Karena permasalahan klien ini pada awalnya berasal dari konteks sosial, maka
lingkungan sosial klien perlu dilibatkan dalam mendukung cerita hidup baru klien yang ia
ciptakan dalam percakapan dengan terapis.
Winslade dan Monk (2007) menekankan bahwa percakapan naratif tidak bersifat linear; cara
tepat melihat langkah-langkah ini adalah dengan menganggapnya sebagai suatu siklus
kemajuan yang mengandung unsur-unsur berikut di dalamnya:
Mengubah cerita permasalahan yang dihadapi menjadi deskripsi eksternal
permasalahan tersebut
Memetakan dampak masalah yang dihadapi terhadap diri individu.
Mendengarkan tanda-tanda adanya kekuatan dan kemampuan diri klien dalam cerita
permasalahan yang klien ceritakan
Membangun cerita baru yang menunjukkan adanya kompetensi diri dalam diri klien
dan mencatat pencapaian-pencapaian kompeten klien ini
TUJUAN TERAPI Tujuan utama terapi naratif adalah untuk mengajak klien menggambarkan
pengalaman hidup mereka dalam bahasa yang baru. Dengan melakukan hal ini, mereka
membuka kemungkinan-kemungkinan baru untuk diri mereka. Penggunaan bahasa baru ini klien
membuat klien dapat mengembangkan makna-makna baru dalam menginterpretasi pikiran,
perasaan, dan perilaku yang bermasalah mereka (Freedman & Combs, 1996). Terapi naratif
selalu mengonsiderasikan kesadaran terhadap dampak dari berbagai aspek budaya dominan
dalam hidup manusia. Praktisi pendekatan ini berusaha untuk meluaskan perspektif klien dan
berfokus untuk memfasilitasi penemuan kemungkinan-kemungkinan alternatif baru yang unik
bagi diri klien sendiri.
FUNGSI DAN PERAN TERAPIS Terapis naratif berperan sebagai fasilitator aktif. Konsep-
konsep seperti kepedulian, ketulusan, keterbukaan, empati, hubungan, dan bahkan ketertarikan
diangap sebagai aspek keperluan relasional dalam diri terapis pendekatan ini. Posisi yang tidak
menempatkan diri sebagai ahli kehidupan klien, yang membuat terapis dapat mengikuti,
memastikan, dan dipandu oleh cerita klien, menciptakan peran terapis sebagai pengamat dan
fasilitator dan membuat terapis mengintegrasi proses terapi dalam perspektif pascamoderen.
Tugas utama terapis adalah untuk membantu klien membangun jalan cerita yang klien
inginkan. Terapis neratif menempatkan dirinya sebagai terapis yang tertarik dengan cerita
kehidupan klien dan bekerja sama dengan klien menelusuri dampak permasalahan yang dihadapi
dan apa yang klien dapat lakukan untuk mengurangi dampak permasalahan tersebut (WInslade &
Monk, 2007). Salah satu fungsi utama terapis adalah untuk menanyakan diri klien, dan dari
jawaban yang diperoleh, membuat pertanyaan-pertanyaan baru selanjutnya.
White dan Epston (1990) memulai proses terapi dengan penelusuran diri klien dalam
menjelaskan masalah yang ia hadapi. Klien pada mulanya akan menceritakan masalah yang
dihadapi dengan cara mengasosiasikan dirinya dengan masalah yang dihadapi, seakan-akan
keduanya adalah hal yang sama. White memberikan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan untuk
memisahkan masalah yang dihadapi dengan diri klien yang terpengaruh oleh permasalahan
tersebut. Perubahan penggunaan bahasa ini menjadi tahap awal proses dekonstruksi naratif awal
dimana individu dan permasalahan individu dianggap sebagai suatu kesatuan; saat ini
permasalahan yang dihadapi dianggap sebagai aspek eksternal diri klien.
Sama halnya dengan terapis pendekatan berbasis solusi, terapis naratif juga
mengasumsikan diri klien sebagai orang yang paling ahli terkait keinginan dirinya dalam hidup.
Terapis naratif cenderung untuk menghindari penggunaan bahasa yang mengandung diagnosis,
penilaian, penanganan, dan intervensi. Fungsi-fungsi seperti diagnosis dan penilaian dalam
proses terapi seringkali membuat anggapan terapis sebagai “kebenaran”. Pendekatan naratif
menekankan terapis untuk memahami pengalaman hidup klien, tidak menekankan teknik-teknik
seperti memprediksi, menginterpretasi, dan mematologiskan cerita klien. Praktisi pendekatan
naratif ini berusaha untuk tidak mengambil peran sebagai inisiator perubahan hidup klien atau
mengambil alhi posisi (kendali) klien untuk menciptakan perubahan (Winslade et al., 1997).
Dalam terapi naratif, tidak terdapat semacam rumusan atau resep yang harus diikuti untuk
membuat proses terapi berhasil (Freedman & Combs, 1996; Monk, Winslade, Crocket, &
Epston, 1997; Winslade & Monk, 2007). Monk (1997) menekankan bahwa proses terapi naratif
akan beragam bagi tiap klien karena setiap orang memiliki keunikan masing-masing. Bagi Monk,
percakapan naratif dilandaskan dari cara menjadi, dan jika konseling naratif “dianggap sebagai
rumusan atau sebagai resep, klien akan merasa bahwa mereka ditangani dan merasa tidak
menjadi bagian penting percakapan terapi” (hal. 24).
HUBUNGAN TERAPI Terapis naratif mengutamakan kualitas diri terapis dalam proses terapi.
Beberapa kualitas ini seperti optimisme dan rasa menghargai, ketertarikan dan kegigihan,
menghargai pengetahuan klien, dan serta menciptalan hubungan spesial dalam proses terapi yang
ditandai dengan adanya dialog yang membagi kendali dalam terapi (Winslade & Monk, 2007).
Kolaborasi, simpati, refleksi, dan penemuan diri menggambarkan hubungan terapi. Jika
hubungan ini benar-benar bersifat kolaboratif, terapis perlu menyadari adanya kekuasaan dalam
hubungan terapi. Ini bukan berarti bahwa terapis tidak memiliki otoritas sebagai ahli dalam
proses terapi. Akan tetapi, terapis menggunakan otoritas ini dengan menempatkan klien sebagai
ahli kehidupan mereka sendiri.
Winslade, Crocket, dan Monk (1997) menggambarkan kolaborasi ini sebagai bentuk
pembagian otoritas. Klien berperan sebagai otoritas ketika mereka memiliki otoritas untuk
berbicara mewakili diri mereka sendiri. Dalam pendekatan naratif, peran terapis sebagai ahli
digantikan menjadi peran klien sebagai ahli. Pemahaman ini menantang pandangan yang melihat
terapis sebagai ahli yang paling tahu segalanya. Winslade dan Monk (2007) mengatakan:
“Sehingga, integritas hubungan konseling tetap terjaga dan klien dilihat sebagai pengendali
konsturksi naratif alternatif hidupnya” (hal. 57-58).
Klien seringkali terjebak dalam pola cerita kehidupan yang bermasalah. Terapis
memasuki dialog ini dan menanyakan klien sejumlah pertanyaan sebagai cara untuk
memunculkan perspektif, sumber daya, dan pengalaman unik kehidupan diri klien. Masa lalu
adalah sejarah, namun masa lalu dapat menjadi fondasi dalam memahami dan menemukan
perbedaan atau keunikan dalam diri klien yang akan menciptakan perubahan. Akan tetapi,
kehidupan yang sesungguhnya ada di masa sekarang dan di masa akan datang. Terapis naratif
memberikan optimisme dan proses pada diri klien, namun klienlah yang menciptakan
kemungkinan dan tindakan yang mewujudkan perubahan tersebut.
Penerapan: Teknik dan Tahapan-Tahapan Terapi
Penerapan terapi naratif yang efektif bergantung lebih kepada sikap atau perspektif
terapis daripada teknik terapi itu sendiri. Dalam praktik terapi naratif, tidak terdapat resep,
agenda, rumus yang terapis bisa ikuti untuk menjamin keberhasilan (Drewery & Winslade,
1997). Jika proses mengeksternalisasikan pertanyaan dianggap sebagi teknik, maka intervensi
terapi yang akan diterapkan akan terasa hampa, dipaksakan, dan tidak akan menghasilkan
dampak terapi yang signifikan (Freedman & Combs, 1996; O’Hanlon, 1994). Jika proses
konseling diterapkan sebagai suatu rumusan, klien akan merasa bahwa mereka ditangani dan
tidak terlibat dalam percakapan proses konseling (Monk, 1997). Terapis naratif sama dengan
Carl Rogers dalam pernyataan tentang cara hidup terapis sebagai lawan dari menjadi dipandu
teknik. Sebuah pendekatan naratif pada konseling adalah lebih dari sekadar aplikasi keahlian; ini
berdasarkan pada karakteristik personal terapi yang menciptakan sebuah iklim yang mendukung
klien untuk melihat cerita mereka dari perspekif yang berbeda. Pendekatan tersebut juga
merupakan sebuah ekspresi pendirian etika, yang berdasar pada sebuah kerangka filosofi. Dari
kerangka konseptual inilah sehingga praktik diaplikasikan untuk membantu kien dalam
menemukan makna baru dan kesempatan baru dalam hidupnya (Winslade & Monk,
2007).
PERTANYAAN....DAN LEBIH BANYAK PERTANYAAN Pertanyaan terapis naratif mungkin
nampak melekat dalam sebuah percakapan unik, bagian dari sebuah dialog tentang dialog-dialog
sebelumnya, sebuah penemuan dari kejadian unik, atau sebuah eksplorasi dari proses budaya
dominan dan imperatif. Apapun tujuannya, pertanyaannya sering kali melingkar, atau saling
berhubunan, dan bertujuan untuk mendukung klien dengan cara baru. Untuk menggunakan frasa
Gregory Bateson (1972), itu adalah pertanyaan dalam mencari perbedaan yang akan membuat
perubahan.
Terapis naratif menggunakan pertanyaan sebagai sebuah cara untuk membangkitkan
pengalaman daripada untuk mengumpulkan informasi. Tujuan pertanyaan adalah untuk secara
progressif menemukan atau membangun pengalaman klien sehingga terapis memiliki rasa akan
arah apa yang akan dikejar. Pertanyaan selalu ditanyakan dari posisi penghormatan, rasa
penasaran, dan keterbukaan. Terapis mempertanyakan pertanyaan dari sebuah posisi yang tidak
diketahui, hal itu berarti bahwa mereka cenderung menyampaikan pertanyaan yang mereka pikir
telah mereka ketahui jawabannya. Monk (1997) menggambarkan pendirian sebagai berikut:
Berbanding terbalik dengan normatif, sebuah cara kerja naratif mengundang konselor
untuk mengambil posisi arkeologikal, ekploratori, investigatif. Dia mendemonstrasikan kepada
klien bahwa menjadi seorang konselor tidak mengimplikasikan akses istimewa pada kebenaran.
Konselor secara konsisten berada dalam peran mencari pemahaman dari pengalaman klien.
(p.25).
Melalui proses bertanya, terapis memberikan klien sebuah kesempatan untuk
mengeksplor beragam dimensi situasi kehidupan mereka. dengan melakukan ini, membantu
mengeluarkan asumsi kultural tersirat yang berkontribusi pada konstruksi original masalah.
Terapis tertarik dalam menemukan bagaimana masalah menjadi bukti, dan bagaimana masalah
menjadi bukti, dan bagimana mereka telah mempengaruhi pandangan klien akan diri mereka
(Monk, 1997). Terapis naratif berusaha untuk melibatkan orang-orang dalam medekonstruksi
cerita masalah-jenuh, mengidentifikasi arah yang diinginkan, dan menciptan cerita alternatif
yang mendukung arah yang diinginkan ini (Freedman & Combs, 1996).
EXTERNALISASI DAN DEKONSTRUKSI Terapis naratif berbeda dengan kebanyakan terapis
tradisional dalam meyakini bahwa bukanlah orangnya yang menjadi masalah, tetapi masalahnya
lah yang menjadi masalah (White, 1989). Menjalani kehiudpan berarti berhubungan dengan
masaah, dan bukannya melebur dengan masalah. Masalah dan masalah-jenuh memiliki dampan
pada orang-orang dan dapat mendominasi kehidupan dalam cara yang sangat ekstrim. Asumsi
tenang sebuah masalah yang diterima secara tidak kritis membatasi kesempatan bagi klien dan
terapis untuk mengeksplor kesempatan baru untuk berubah (McKenzie & Monk, 1997). Terapis
naratif membantu klien dalam mendekonstruksi cerita problematik dengan membongar asumsi
yang terjamis yang membuat sebuah kejadian, yang kemudian membuat kemungkinan alternatif
untuk menjalani hidup (Winslade & Monk, 2007).
Eksternalisasi adalah satu proses untuk mendekonstruksi kekuatan naratif. Proses ini
memisahkan orang dari indentifikasi dengan masalah. Ketika klien memandang diri mereka
"sebagai" masalah, mereka membatasi cara yang dapat dilakukan secara efektif untuk
berhadapan dengan masalah. Ketika klien mengalami masalah diluar diri mereka, mereka
menciptakan sebuah hubungan dengan masalah. Sebagai contoh, terdapat perbedaan antara
memberikan label seseorang sebagai pencandu alkohol dan mengidikasikan bahwa alkohol telah
menguasai kehiudpan seseorang. Memisihkan masalah dari individu memberikan harapan dan
memungkinan klien untuk mengambil pendirian terhadap garis kehidupan tertentu, seperti
menyalahkan diri sendiri. Dengan memahami undangan kultural untuk menyalahkan seseorang,
klien dapat mendekonstruksi baris cerita ini dan membangkitkan cerita yang lebih positif dan
menyembuhkan.
Metode yang digunakan untuk memisahkan orang dengan masalah dianggap sebagai
percakapan eksternalisasi, yang membuka ruang untuk cerita baru. Metode ini khususnya bergina
ketika seseorang telah didiagnosa sebagai belum dapat atau mendukung untuk proses perubahan
(Bertolino & O'Hanlon, 2002). Percakapan eksternalisasi meniadakan cerita masalah-jenuh yang
menyesakkan dada dan mendukung klien untuk merasa kompeten untuk menangai masalah yang
mereka hadapi. Dua tahapan membangun percakapan eksternalisasi adalah (1) untuk memetakan
pengaruh masalah dalam kehidupan seseorang, dan (2) untuk memetakan pengaruh kehidupan
seseorang pada masalah (McKenzie & Mon, 1997).
Memetakan pengaruh dari masalah pada seseorang membangkitkan sebuah informasi
yang berguna dan sering menjadikan orang merasa kurang malu atau bersalah. Orang-orang
merasa didengarkan dan dipahami ketika pengaruh masalah dieksplor dalam gaya sistematik.
Sebuah pertanyaan umum adalah, " kapan masalah pertama kali muncul dalam hidup anda?"
ketika pemetaan ini dilakukan dengan hati-hati, ia memberikan dasar untuk melakuka co-
authoring sebuah cerita hidup bagi klien. Seringkali, klien merasa terhina ketika mereka melihat
ntuk pertama kalinya berapa banyak masalah yang mempengaruhi mereka. Tugas dari terapis
adalah untuk membantu klien mengusust masalah dari ketika ia bermula hingga ke masa kini.
Terapis mungkin menempatkan masalah masa depan pada masalah dengan bertanya, " juga
masalah itu berlanjut selama sebulan (atau masa apapun), apa artinya ini untukmu?" Pertanyaan
ini dapat memotivasi klien untuk bergabung dengan terapis dalam melawan dampak dari
pengaruh masalah. Pertanyaan berguna lainnya adalah " seberapa besar masalah ini telah
mempengaruhi hidup anda?" dan " Seberapa dalam masalah ini telah mempengaruhi anda?".
Hal ini penting untuk mengidentifikasi contoh ketika masalah tidak sepenuhnya
mendominasi kehidupan klien. Jenis pemetaan ini dapat membantu klien yang diilusikan oleh
masalah melihat beberapa harapan untuk jenis hidup yan berbeda. Terapis mencari "momen
gemilang" ketika mereka terlibat dalam percakpan eksternalisasi dengan klien (White & Epston,
1990).
Kasus Brandon mengilustrasikan sebuah percakapan eksternalisasi. Brandon mengatakan
bahwa dia terlalu marah, khususnya ketika dia merasa bahwa istrinya mengkritiknya secara tidak
adil: " Saya marah! Meledak, murka, melawan balik. Kemudian, saya berharap tidak
melakukannya, tetapi itu sudah terlambat, Saya melakukan kesalahan lagi." Meskipun
pertanyaan tentang bagaimana kemarhaannya muncul, melengkapi dengan contoh dan kejadian
spesifik, akan membantu memetakan pengaruh masalah, pertanyaan seperti ini yang
mengeksternalkan masalah:" apa penyebab kemarahanmu, dan bagaimana kemarahan itu
menjadi sangat kuat?" " Apa yang disyaratkan kemarahan itu dari anda, dan apa yang terjadi
ketika anda memenuhi persyaratan ini?"
MENCARI HASIL YANG UNIK Dalam pendekatan naratif, pertanyan eksternalisasi
diikuti oleh pertanyaan mencari hasil yang unik. Terapis berbicara kepada klien tentang momen
pilihan atau kesuksesan berkenaan dengan masalah. Hal ini dilakukan dengan memilih perhatian
pengalaman apapun yang terpisah dari cerita masalah, tanpa mempertimbangkan seberapa
signifikan hal tersebut bagi klien. Terapis dapat bertanya :" Pernahkah ada waktu dimana
kemarahan mengambil alih, dan kamu menolak? Seperti apa hal itu bagimu? Bagaimana kamu
melakukannya?" Pertanyaan ini bertujuan untuk menyoroti momen ketika masalah tidak muncul
atau ketika masalah dihadapai dengan sukses. Hasil unik sering dapat ditemukan di masa lalu
atau masa kini, tetapi dapat diduga untuk masa depan: "Bentuk apa yang akan melawan
kemarahan anda?" mengeksplor pertanyaan seperti ini memungkinkan ini untuk melihat bahwa
perubahan itu mungkin. Hal ini di dalam pertimbangan hasil unik yang disediakan untuk versi
alternatif dari kehidupan seseorang (White, 1992).
Mengikuti deskripsi sebuah hasil yang unik, White (1992) menyarankan untuk
memberikan pertanyaan langsung dan tidak langusng, yang mengantarkan pada elaborasi cerita
identitas yang diinginkan:
" Apa pendapat anda memberitahukan saya tentang apa yang anda inginkan untuk
kehidupa anda dan tentang apa yang anda coba dalam hidup anda?
" Apa pendapat anda mengetahui hal ini telah mempengaruhi pandangan anda sebagai
pribadi?
" Dari semua orang yang telah mengenal anda, siapa yang kurang terkejut mendapati anda
mampu untuk mengambil langkah ini dalam membahan masalah yang mempengaruhi kehidupan
apa?
" Tindakan apa yang mungkin dilakukan diri anda jika anda lebih sepenuhnya memluk
pengetahuan akan siapa diri anda? (p. 133)
Perkembangan cerita hasil unik ke dalam solusi difasilitasi oleh apa yang disebut Epston dan
White (1992) sebagai " Pertanyaan sirkulasi":
" " Sekarang anda telah mencapai titik ini dalam hidup anda, siapa lagi yang harus
mengetahui ini?
" Saya menduga terdapat beberapa orang yang memiliki pandangan lama akan diri anda
secara pribadi. Ide apa yang Anda miliki untuk memperbarui pandangan ini?
" Jika orang lain mendatangi terapi dengan alasan yang sama seperti anda, dapatkan saya
berbagi bersama mereka penemuan penting yang telah anda lakukan?"(p. 23)
Pertanyaan ini tidak ditanyakan dalam sebuah cara seperti menyerang. Bertanya adalah sebuah
bagian integral dari konteks percakapan naratif, dan setiap pertanyaan secara sensitif terbiasa
pada respon yang dibawa oleh pertanyaan sebelumnya (White, 1992).
Mckenzie dan Monk (1997) menyarankan bahwa terapis meminta izin kepada klien
sebelum menanyakan serangkaian pertanyaan. Dengan membiarkan klien mengetahui bahwa
mereka mereka tidak memiliki jawaban atas pertanyaan yang ada, terapis menempatkan klien
dalam kontrol proses terapi. Meminta izin klien untuk menggunakan pertanyaan terus-menerus
cenderung meminimalkan risiko tekanan yang tidak sengaja terhadap klien.
CERITA ALTERNATIF DAN PENULISAN ULANG. Membangun cerita baru berjalan seiring
dengan dekonstruksi, dan terapis naratif mendengarkan pembukaan cerita baru. Orang-orang
dapat secara terus-menerus dan aktif menuliskan ulang kehidupan mereka, dan terapis narasi
mengundang klien untuk menulis cerita alternatif melalui "hasil yang unik," didefinisikan
sebagai peristiwa yang tidak diprediksi oleh kisah masalah jenuh (Freedman & Combs, 1996).
Terapis narasi meminta pembukaan: "Apakah Anda pernah dapat melarikan diri dari pengaruh
masalah?" Terapis mendengarkan petunjuk untuk kompetensi di tengah-tengah cerita yang
bermasalah dan membangun cerita tentang kompetensi di sekitarnya.
Titik balik dalam wawancara naratif datang ketika klien membuat pilihan apakah akan
terus hidup dengan cerita yang penuh masalah atau membuat cerita alternatif (Winslade & Monk,
2007). Melalui penggunaan pertanyaan kemungkinan yang unik, terapis memindahkan fokus ke
masa depan. Misalnya: "Mengingat apa yang telah Anda pelajari tentang diri Anda, apa langkah
selanjutnya yang mungkin Anda ambil? Ketika Anda bertindak dari identitas pilihan Anda,
tindakan apa yang akan mengarahkan Anda untuk melakukan lebih banyak hal?" Pertanyaan
semacam itu mendorong orang-orang untuk merefleksikan apa yang telah mereka capai saat ini
dan apa langkah mereka selanjutnya.
Terapis bekerja dengan klien secara kolaboratif dengan membantu mereka membangun
cerita yang lebih koheren dan komprehensif (Neimeyer, 1993). Apakah terlibat dalam
percakapan yang mengalir bebas atau terlibat dalam serangkaian pertanyaan dalam proses yang
relatif konsisten, terapis naratif berusaha untuk memperoleh kemungkinan baru dan
menanamkannya dalam narasi kehidupan dan proses orang-orang yang mereka layani. White dan
Epston (1990) penyelidikan tentang hasil yang unik mirip dengan pertanyaan pengecualian
terapis yang berfokus pada solusi. Keduanya berusaha membangun kompetensi yang sudah ada
dalam diri seseorang. Pengembangan cerita-cerita alternatif, atau narasi, adalah berlakunya
harapan utama: Hari ini adalah hari pertama dari sisa hidup Anda. Lihat Case Approach to
Counseling and Psychotherapy (Corey, 2009, bab 11) untuk contoh nyata cara terapis naratif
bekerja seperti Dr. Gerald Monk menasihati Ruth.
MENDOKUMENTASIKAN BUKTI. Praktisi naratif percaya bahwa cerita-cerita baru hanya
akan bertahan ketika ada audiensi yang menghargai dan mendukungnya. Mendapatkan audiensi
untuk berita bahwa perubahan sedang terjadi perlu terjadi jika cerita alternatif ingin tetap hidup
(Andrews & Clark, 1996), dan audiens yang menghargai perkembangan baru secara sadar itu
dicari.
Salah satu teknik untuk mengkonsolidasikan keuntungan yang dibuat klien adalah dengan
menulis surat. Terapis naratif telah memelopori pengembangan penulisan surat terapi. Surat-surat
yang ditulis oleh terapis memberikan catatan sesi dan dapat mencakup deskripsi eksternalisasi
masalah dan pengaruhnya terhadap klien, serta akun tentang kekuatan dan kemampuan klien
yang diidentifikasi dalam suatu sesi. Surat dapat dibaca lagi pada waktu yang berbeda, dan cerita
yang menjadi bagiannya dapat diinspirasikan kembali. Surat itu menyoroti perjuangan klien
dengan masalah dan menarik perbedaan antara kisah masalah jenuh dan mengembangkan cerita
baru dan lebih disukai (McKenzie & Monk, 1997).
Epston telah mengembangkan fasilitas khusus untuk melakukan dialog terapeutik antar
sesi melalui penggunaan surat (White & Epston, 1990). Surat-suratnya mungkin panjang,
mencatat proses wawancara dan kesepakatan yang tercapai, atau singkat, menyoroti makna atau
pemahaman yang dicapai dalam sesi dan mengajukan pertanyaan yang telah terjadi padanya
sejak akhir kunjungan terapi sebelumnya. Surat-surat ini juga digunakan untuk mendorong klien,
mencatat prestasi mereka dalam kaitannya dengan penanganan masalah atau berspekulasi tentang
arti prestasi mereka bagi orang lain di komunitas mereka. Winslade dan Monk (2007) mencatat
bahwa surat-surat yang mendokumentasikan perubahan yang telah dicapai klien cenderung
memperkuat signifikansi perubahan, baik untuk klien maupun orang lain dalam kehidupan klien.
David Nylund, seorang pekerja sosial klinis, menggunakan surat-surat naratif sebagai
bagian dasar dari praktiknya. Nylund menjelaskan kerangka kerja konseptual yang menurutnya
berguna dalam menyusun surat kepada kliennya (Nylund & Thomas, 1994):
" Paragraf pengantar menghubungkan kembali klien ke sesi terapi sebelumnya.
" Pernyataan merangkum pengaruh yang dimiliki dan dialami oleh klien.
" Pertanyaan terapis yang dipikirkan setelah sesi yang berkaitan dengan cerita alternatif
yang sedang berkembang dapat diajukan kepada klien.
" Surat itu mendokumentasikan hasil atau pengecualian unik untuk cerita bermasalah yang
muncul selama sesi. Jika memungkinkan, kata-kata klien dikutip kata demi kata.
Nylund dan Thomas (1994) berpendapat bahwa surat narasi memperkuat pentingnya membawa
apa yang sedang dipelajari dalam kantor terapi ke dalam kehidupan sehari-hari. Pesan yang
disampaikan adalah bahwa berpartisipasi penuh di dunia lebih penting daripada berada di kantor
terapi. Dalam survei informal tentang persepsi nilai surat narasi oleh klien masa lalu, nilai rata-
rata surat sama dengan lebih dari tiga sesi individu. Temuan ini konsisten dengan pernyataan
McKenzie dan Monk (1997): "Beberapa penasihat naratif telah menyarankan bahwa surat yang
disusun dengan baik setelah sesi terapi atau sebelum yang lain dapat sama dengan sekitar lima
sesi reguler" (hal. 113).
KERJA KELOMPOK. Banyak teknik yang dijelaskan dalam bab ini dapat diterapkan pada
konseling kelompok. Winslade dan Monk (2007) mengklaim bahwa penekanan naratif pada
penciptaan audiensi yang apresiatif untuk perkembangan baru dalam kehidupan individu cocok
untuk pekerjaan kelompok. Mereka menyatakan: "Kelompok memberikan komunitas yang siap
pakai dan banyak peluang untuk jenis interaksi yang membuka kemungkinan cara hidup baru.
Identitas baru dapat dilatih dan dicoba ke dunia yang lebih luas" (hal. 135). Mereka memberikan
beberapa contoh bekerja dengan cara naratif dengan kelompok-kelompok di sekolah: kembali ke
jalur di pekerjaan sekolah; program berbasis petualangan; kelompok manajemen kemarahan; dan
kelompok konseling kesedihan. Untuk penjelasan rinci tentang kelompok naratif ini, lihat
Winslade dan Monk (2007, bab 5).
Pendekatan Postmodern dari Perspektif Multikultural
Kekuatan Dari Perspektif Keragaman
Konstruksionisme sosial sesuai dengan filosofi multikulturalisme. Salah satu masalah yang
sering dialami oleh klien yang beragam secara budaya adalah harapan bahwa mereka harus
menyesuaikan hidup mereka dengan kebenaran dan realitas masyarakat dominan di mana mereka
menjadi bagiannya. Dengan penekanan pada berbagai realitas dan asumsi bahwa apa yang
dianggap sebagai kebenaran adalah produk konstruksi sosial, pendekatan postmodern adalah
pendekatan yang baik dengan pandangan dunia yang beragam.
Pendekatan konstruktivis sosial terhadap terapi memberikan klien kerangka kerja untuk
berpikir tentang pemikiran mereka dan untuk menentukan dampak cerita terhadap apa yang
mereka lakukan. Klien didorong untuk mengeksplorasi bagaimana realitas mereka sedang
dibangun dan konsekuensi yang mengikuti dari konstruksi tersebut. Dalam kerangka nilai-nilai
budaya dan pandangan dunia mereka, klien dapat mengeksplorasi keyakinan mereka dan
memberikan interpretasi ulang mereka sendiri atas peristiwa-peristiwa kehidupan yang
signifikan. Praktisi dengan perspektif konstruksionis sosial dapat membimbing klien dengan cara
yang menghargai nilai-nilai dasar mereka. Dimensi ini sangat penting dalam kasus-kasus di
mana konselor berasal dari latar belakang budaya yang berbeda atau tidak memiliki pandangan
dunia yang sama dengan klien mereka.
Terapi naratif didasarkan pada konteks sosiokultural, yang membuat pendekatan ini
sangat relevan untuk konseling klien yang beragam secara budaya. Banyak pendekatan modern
yang telah dibahas dalam buku ini didasarkan pada asumsi bahwa ada masalah dalam diri
individu. Beberapa model tradisional ini mendefinisikan kesehatan mental dalam hal nilai-nilai
budaya yang dominan. Sebaliknya, terapis naratif beroperasi pada premis bahwa masalah
diidentifikasi dalam konteks sosial, budaya, politik, dan relasional daripada yang ada dalam
individu. Mereka sangat peduli dengan mempertimbangkan spesifikasi gender, etnis, ras,
kecacatan, orientasi seksual, kelas sosial, dan spiritualitas dan agama sebagai masalah terapeutik.
Selain itu, terapi menjadi tempat untuk mengidentifikasi kembali konstruksi sosial dan narasi
identitas yang klien temukan bermasalah.
Terapis naratif berkonsentrasi pada cerita masalah yang mendominasi dan menundukkan
di tingkat pribadi, sosial, dan budaya. Konseptualisasi sosio-politik masalah menyoroti gagasan-
gagasan budaya dan praktik-praktik yang menghasilkan narasi dominan dan menindas. Dari
orientasi ini, para praktisi membongkar asumsi budaya yang merupakan bagian dari situasi
masalah klien. Orang-orang dapat memahami bagaimana praktik-praktik sosial yang menindas
telah memengaruhi mereka. Kesadaran ini dapat mengarah pada perspektif baru tentang tema
dominan penindasan yang telah menjadi bagian integral dari cerita klien, dan dengan kesadaran
budaya ini cerita baru dapat dihasilkan.
Dalam diskusi mereka tentang pengaruh multikultural pada klien, Bertolino dan
O'Hanlon (2002) menyatakan bahwa mereka tidak mendekati klien dengan gagasan yang sudah
terbentuk sebelumnya tentang pengalaman mereka. Sebaliknya, mereka belajar dari klien mereka
tentang dunia pengalaman mereka. Bertolino dan O'Hanlon mempraktikkan keingintahuan
multikultural dengan mendengarkan klien mereka dengan hormat, yang menjadi guru terbaik
mereka. Pendekatan Pascamoderen untuk Kasus Stan
Terapis melakukan penanganan perspektif integratif dengan menggabungkan konsep dan teknik
dari pendekatan berbasis solusi dan pendekatan naratif. Terapis tidak membenarkan penggunaan
model DSM-IV-TR, dan ia tidak memulai proses terapi dengan penilaian formal. Akan tetapi, ia
memulai percakapan kolaboratif dengan Stan membahas hal-hal seperti perubahan, kompetensi,
preferensi, kemungkinan, dan ide-ide untuk menciptakan perubahan di masa akan datang.
Terapis memulai proses terapi dengan mengajak Stan menceritakan permasalahan yang
membuatnya ingin melakukan terapi dan apa tujuan yang ia ingin capai dalam terapi. Terapis
juga memberikan Stan penjelasan singkat terkait ide-ide dasar yang menggambarkan proses
penanganan hubungan kolaboratif yang terapis akan terapkan, dimana dalam proses ini Stan
memiliki kendali lebih tinggi daripada terapis. Stan merasa terkejut dengan pernyataan tersebut
karena ia mengira bahwa terapis lebih berpengalaman dan lebih ahli daripada dirinya. Ia
menjelaskan pada terapis bahwa ia tidak merasa percaya diri untuk menjalani hidup, khususya
karena ia seringkali "berbuat kesalahan". Terapis mengatakan bahwa ia meragukan dirinya
karena ia berada dalam posisi yang menuntutnya memegang kendali dalam proses terapi. Akan
tetapi, terapis menghancurkan persepsi terhadapi proses terapi ini dan membangun hubungan
kolaboratif dengan Stan, menunjukkan pada Stan bahwa dialah yang memegang kendali arah
terapi.
Segera setelah penjelasan cara kerja terapi ini dilakukan, terapis menanyakan klien
tujuan-tujuan tertentu yang Stan ingin capai dalam proses terapi. Stan memberikan pertanda
bahwa ia ingin dan siap untuk berubah. Akan tetapi, ia kemudian mengatakan pada terapis bahwa
ketidakpercayaan terhadap dirinya sendiri yang menjadi masalah hidupnya. Terapis kemudian
mulai membuat Stan untuk berfokus pada pengecualian-pengecualian yang ada terhadap masalah
ketidakpercayaan diri ini. Terapis memberikan pertanyaan pengecualian (terapi berbasis solusi)
terhadap Stan: "Konteks atau waktu apa yang berbeda ketika anda sedang tidak mengalami rasa
ketidakpercayaan yang rendah ini?" Stan kemudian mampu mengidentifikasi sejumlah
karakteristik positif yang dimilikinya: keberanian, tekad, dan keinginan untuk mencoba hal-hal
baru terlepas dari keraguan dirinya, dan bakat yang dimilikinya menangani anak-anak. Stan tahu
apa yang ia ingin capai dalam terapi dan ia memiliki tujuan jelas: untuk mencapai tujuan
pendidikannya, untuk meningkatkan rasa kepercayaan dirinya, dan untuk tidak merasa takut
berhubungan dengan perempuan, dan untuk merasa bahagia, tidak lagi merasa sedih dan
khawatir. Terapis mengajak Stan untuk menceritakan bagaimana ia mampu untuk tetap
berkembang terlepas dari permasalahan yang dihadapinya.
Terapis membiarkan Stan menceritakan pengalamannya dengan jelas, namun terapis
tidak tenggelam dalam naratif yang ia ceritakan. Ia mengajak Stan untuk menganggap
permasalahan yang dihadapinya sebagai suatu permasalahan yang bersifat eksternal, di luar
bagian dirinya. Bahkan di awal-awal sesi terapi, terapis sudah mulai mendorong Stan
memisahkan dirinya dengan permasalahan yang ia hadapi. Terapis melakukan ini dengan
menanyakan Stan pertanyaan-pertanyaan yang mengeksternalkan permasalahannya.
Stan menjelaskan beberapa aspek permasalahan yang dihadapinya. Terapis meminta Stan
untuk fokus pada satu masalah tertentu saja. Stan kemudian berkata bahwa ia sering merasa
depresi, dan ia kahwatir depresinya akan menguasai dirinya. Setelah mendengarkan ketakutan
dan kekhawatiran Stan, terapis kemudian menanyakan Stan pertanyaan keajaiban (teknik
pendekatan berbasis solusi): "Anggaplah suatu keajaiban terjadi ketika anda tidur nanti malam.
Dan ketika anda bangun di esok hari, permasalahan yang anda hadapi akan hilang. Apa yang
menjadi tanda bagi anda bahwa keajaiban ini benar-benar terjadi dan bahwa permasalahan yang
anda hadapi benar-benar telah hilang? Perbedaan bagaimana yang terjadi dalam hidup anda?"
Dengan intervensi seperti ini, terapis mengalihkan percakapan dari pembahasan masalah menjadi
pembahasan solusi. Ia menjelaskan pada Stan bahwa sebagian besar proses terapi ini akan lebih
berfokus pada pencarian solusi untuk waktu sekarang dan waktu akan datang daripada
pembahasan masalah masa lalunya. Bersama-sama, keduanya telibat dalam percakapan yang
membahas perubahan, bukan masalah.
Stan sudah menginternalisasikan identitasnya dengan masalah yang ia hadapi, khususnya
depresi. Ia tidak melihat masalahnya sebagai bagian di luar dirinya. Terapis menginginkan Stan
untuk menyadari bahwa masalah yang ia hadapi bukan merupakan bagian pribadi dirinya. Ketika
terapis meminta Stan untuk menamai masalah yang dihadapinya, ia melabelinya sebagai
"Depresi yang Melumpuhkan!" Ia kemudian menceritakan bagaimana depresinya selama ini
menghalangi dirinya menjalani hidup dengan optimal. Terapis kemudian menggunakan
pertanyaan yang bertujuan untuk mengeksternalkan permasalahan yang dihadapi dari diri Stan
(teknik naratif): "Sudah berapa lama depresi ini mengganggu hidupmu?" "Apa dampak buruk
depresi yang anda alami ini?" "Apakah terdapat waktu atau situasi dimana anda melawan depresi
anda dan tidak membiarkannya menang?" Tentu saja, sebelumnya terapis Stan menjelaskan
teknik penggunaan bahasa eksternal ini, sehingga Stan tidak merasa kaget. Terapis menjelaskan
Stan manfaat melakukan percakapan yang mengeksternalkan permasalahan seperti ini, Terapis
juga menjelaskan pentingya memetakan dampak permasalahan yang dihadapi dalam hidupnya.
Proses ini melibatkan klien untuk menelusuri sudah berapa lama permasalahan ini muncul,
dampak yang ditimbulkan, dan seberapa parah permasalahan tersebut.
Seiring berjalannya proses terapi, usaha kolaboratif antara klien dan terapis pun tercipta
untuk menelusuri bagaimana permasalahan yang dihadapi klien ini memberikan dampak yang
merusak, menguasai, dan menghancurkan diri klien. Stan diajak untuk melihat ceritanya dari
perspektif berbeda. Terapis terus mengajak Stan menceritakan momen-momen hidupnya dimana
ia tidak dikuasai atau dikendalikan oleh depresi dan rasa cemas berlebihan. Stan dan terapisnya
terlibat dalam percakapan menyangkut kejadian-kejadian tertentu dimana Stan memperlihatkan
bentuk keberanian melawan permasalahannya. Contoh ilustrasi kejadian-kejadian tertentu ini
adalah seperti penghargaan yang Stan capai di masa kuliahnya, kerja relawan yang ia lakukan,
kemajuannya melawan kecanduan minuman keras, keinginan dirinya menghadapi rasa takutnya
dan mengakrabkan diri dengan orang lain, melawan suara-suara internal dirinya yang merusak,
keberhasilannya mendapatkan pekerjaan, dan keinginannya untuk menciptakan masa depan yang
lebih produktif.
Dengan bantuan terapis, Stan menemukan bukti-bukti dari masa lalu kehidupannya untuk
membentuk pribadi baru dirinya sebagai individu yang mampu untuk mengalahkan kendali
permasalahan yang dihadapi. Pada tahap ini, Stan memutuskan untuk membangun naratif
alternatif baru. Beberapa sesi terapi khusus dilakukan untuk menulis ulang cerita hidup Stan.
Seiring dilakukannya proses penciptaan cerita alternatif hidup Stan, terapis dan Stan bersama-
sama mencoba menentukan siapa orang dalam lingkungan Stan yang dapat mendukung
perubahannya. Terapis akan bertanya pada Stan, "Siapa orang terdekat anda yang tidak akan
terkejut melihat perubahan diri anda, dan apa yang anda ketahui mengenai orang ini yang
membuat anda merasa bahwa ia tidak akan terkejut dengan perubahan diri anda?" Stan
menganggap guru kecilnya yang juga merupakan mentor dirinya sebagai orang yang percaya
pada diri Stan. Sejumlah sesi terapi dikhususkan untuk membahas bagaimana cerita hidup baru
Stan ini dapat berkembang hanya jika ada penonton dalam hidup Stan yang mengapresiasi
perubahan cerita hidup Stan tersebut.
Setelah melewati lima sesi bersama terapis, Stan kemudian membahas perihal terminasi.
Pada sesi terapi keenam dan yang terakhir, terapis meminta Stan menilai seberapa besar
perubahan perkembangan dirinya terhadap sejumlah masalah yang dibahas selama sesi terapi
berlangsung. Dari skala 0 hingga 10, Stan menilai bagaimana ia melihat dirinya di awal sesi
terapi dan bagaimana ia melihat dirinya saat ini. Terapis dan Stan juga membahas tujuan masa
depan Stan dan kemajuan apa yang ia harus capai untuk mencapai keinginannya tersebut. Terapis
kemudian memberikan Stan sebuah surat yang merangkum sikap-sikap positif yang Stan peroleh
selama sesi terapi. Dalam suratnya, terapis menggambarkan keteguhan dan sikap kerjasama yang
dimilikinya dan mendorong Stan untuk menunjukkan perubahan yang ia peroleh dalam
hidupnya. Terapis juga memberikan Stan sejumlah pertanyaan yang mengajak diri Stan untuk
mengembangkan cerita identitas barunya.
Lanjutan: Anda Melanjutkan Peran sebagai Terapis Pascamoderen untuk Stan
Gunakan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk membantu anda memikirkan bagaimana cara
menangani Stan dengan pendekatan pascamoderen:
" Terapis Stan menerapkan konsep dan teknik dari pendekatan naratif dan pendekatan
berbasis solusi. Dalam proses konseling anda dengan Stan, konsep-konsep apa yang anda akan
ambil dari kedua pendekatan ini? Teknik apa yang anda akan ambil dari kedua pendekatan
tersebut? Manfaat apa yang anda akan peroleh jika menerapkan pendekatan naratif dan
pendekatan berbasis solusi dalam proses konseling anda dengan Stan?
" Nilai unik apa yang anda temukan dalam menangani Stan dengan perspektif
pascamoderen?
" Terapis memberikan banyak pertanyaan pada Stan. Tuliskan pertanyaan-pertanyaan
tambahan yang anda tertarik untuk tanyakan pada Stan.
" Bagaimana cara anda menerapkan terapi SFBT dan terapi naratif dengan terapi feminis
kasus Stan? Terapi lain apa saja yang anda ingin gabungkan dengan pendekatan pascamoderen?
" Di tahap ini, anda sudah familiar dengan tema-tema kehidupan Stan. Jika anda
menuliskan surat naratif untuk Stan, hal apa yang sangat anda ingin masukkan ke dalam surat
tersebut? Apa yang anda ingin bicarakan dengan Stan mengenai masa depannya?
Berikut adalah sejumlah pertanyaan yang disarankan untuk dapat lebih memahami pengaruh
aspek multikultural dalam diri klien:
" Ceritakan dampak yang [aspek budaya anda] berikan dalam hidup anda.
" Apa yang anda dapat ceritakan pada saya tentang latar belakang diri anda untuk membuat
saya bisa memahami anda seutuhnya?
" Tantangan apa yang anda hadapi dalam budaya anda?
" Aspek mana dari latar belakang anda yang anda angap menyulitkan hidup anda?
" Bagaimana anda memanfaatkan dan memberdayakan latar belakang kebudayaan anda?
Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas dapat menjelaskan dampak latar belakang kebudayaan
tertentu yang mempengaruhi masalah diri klien.
Kekurangan Perspektif Keberagaman
Kekurangan pendekatan pascamoderen ini terkait dengan asumsi terapis yang
menempatkan dirinya sebagai orang yang tidak asumtif terhadap diri klien, juga terkait dengan
asumsi yang menempatkan klien sebagai ahli hidupnya sendiri. Individu-individu yang bersal
dari berbagai macam kelompok kultural cenderung untuk menempatkan terapis sebagai sang ahli
yang akan memberikan aragan dan solusi untuk klien. Jika terapis berkata pada klien, "Saya
bukan seorang ahli; andalah ahlinya; Saya percaya terhadap kemampuan anda untuk menemukan
solusi terhadap masalah yang anda hadapi," pernyataan-pernyataan seperti ini dapat merusak
kepercayaan diri terapis. Untuk menghindari situasi seperti ini, terapis menggunakan pendekatan
naratif atau pendekatan berbasis solusi untuk menyatakan pada klien bahwa terapislah yang
berperan sebagai ahli dalam proses terapi ini, namun klienlah yang merupakan ahli kehidupan
mereka sendiri.
Rangkuman dan Evaluasi
Dalam teori konstruksi sosial peran terapis sebagai ahli digantikan oleh klien. Meskipun
klien dianggap sebagai ahli kehidupan mereka sendiri, mereka cenderung untuk terjebak dalam
pola yang tidak memberikan kemajuan terhadap pengembangan diri mereka sendiri. Baim terapis
pendekatan naratif dan terapis pendekatan berbasis solusi terlibat dalam dialog untuk
menciptakan perspektif, sumber daya, dan pengalaman unik diri klien. Usaha terapis ini
merupakan hubungan yang bersifat sangat kolaboratif dimana klien berperan sebagai pihak yang
lebih senior dalam hubungan tersebut. Kualitas hubungan terapi pada intinya bergantung pada
efektivitas terapi naratif dan terapi SFBT. Hal ini menyebabkan banyak terapis memberikan
perhatian lebih untuk menciptakan sebuah hubungan kolaboratif dengan klien.
Posisi tidak-mengetahui dari terapis telah ditanamkan sebagai konsep kunci dari
pendekatan fokus-solusi maupun pendekatan terapi naratif. Posisi tidak-mengetahui, yang
membiarkan terapi suntuk mengikuti, meyakinkan, dan dibimbing oleh cerita dari klien mereka,
menciptakan peran partisipan-pengamat dan fasilitator-proses bagi terapis dan mengintegrasikan
terapi dengan perspektif post-modern dari penyelidikan manusia.
Baik terapi singkat fokus-solusi maupun terapi naratif berdasarkan pada asumsi optimis
bahwa orang itu sehat, kompeten, berdaya, dan memiliki kemampuan untuk membangun solusi
dan cerita alternatif yang dapat meningkatkan kehidupan mereka. Dalam SFBT, proses terapi
menyediakan sebuah konteks dimana individu berfokus menciptakan solusi dan bukannya
menceritakan masalah mereka. beberapa teknik dasar termasuk penggunaan pertanyaan ajaib,
pertanyaan pengecualian, dan pertanyaan skala. Dalam terapi naratif, proses terapi memberi
perhatian pada konteks sosiokultural diamana klien dibantu dalam memisahkan diri mereka dari
masalah mereka dan memperoleh kesempatan untuk menulis cerita baru.
Para praktisi dengan orientasi fokus-solusi atau naratif, cenderung terlibat dengan klien
dalam percakapan yang mengantarkan pada naratif progresif yang membantu klien meneguhkan
perjalanan mencapai tujuan. Terapis sering menanyai klien:” beritahukan kepada saya saat
dimana hidupmu berjalan sesuai dengan keinginanmu”. Percakapan ini mengilustrasikan cerita
akan kehidupan yang berharga. Dalam dasar percakapan ini, kekuatan masalah mengambil
bagian (dekonstruksi) dan arah dan solusi baru dimanifestasikan dan dimungkinkan.
Kontriusi Pendekatan Post-Modern
Konstruksionisme sosial, SFBT, dan terapi naratif memberikan banyak kontribusi pada bidang
psikoterapi. Saya khusunya menghargai orientasi optimis dari pendekatan post modern ini yang
terletak pada asumsi bahwa manusia itu kompeten dan dapat dipercaya untuk menggunakan daya
mereka dalam menciptakan solusi dan cerita yang lebih menguatkan hidup. Banyak praktisi dan
penulis post modern telah menemukan bahwa klien dapat membuat perubahan signifikan menuju
kehidupan terbangun yang lebih memuaskan dalam waktu yang relatif singkat. (Bertolino &
’Hanlon,
2002; de Shazer, 1991; de Shazer & Dolan, 2007; De Jong & Berg, 2008; Freedman & Combs,
1996; Miller, Hubble, & Duncan, 1996; O’Hanlon & Weiner- Davis, 2003; Walter & Peller,
1992, 2000; Winslade & Monk, 2007).
Menurut pendapat saya, ciri pendirian non-pathologi dari praktisi dengan orientasi
konstruksi sosial, fokus solusi, atau naratif adalah kontribusi utama bagi profesi konseling.
buannya berdiam pada apa yang salah dengan seseorang , pendekatan ini memandang klien itu
kompeten dan berdaya. Pertanyaan kunci yang mendasari percakapan konsultatif adalah:
bagaimana kita bisa menciptakan sebuah ruang untuk dialog dan rasa penasaran, dimana tujuan,
keinginan, dan kemungkinan dapat bersatu dan terlibat?” (Walter & Peller, 2000, p. xii).
Dalam hal ini, terapi fokus solusi adalah sebuah pendekatan singkat, tentang lima sesi,
yang nampaknya menunjukkan hasil yang menjanjikan (de Shazer, 1991). Dalam kesimpulan de
Shazer dari dua hasil studi pada Brief Family Therapy Center, dia melaporkan bahwa 91% klien
yang menghadiri empat atau lebih sesi itu berhasil mencapai tujuan perlakuan mereka. SFBT
cenderung sangat singkat, bahakan diantara terapi-terapi berbatas waktu. Dalam sebuah studi,
Rothwell (2005) menyampaikan bahwa angka rata-rata dari sesi fokus solusi dua, dalam
perbandingan dnegan lima sesi dari terapi kognitif. Keringkasan adalah hal menarik utama dari
SFBT dia era perawatan terkendali, yang menempatkan premium pada terapi jangka pendek.
Pendekatan naratif pada konseling juga berdasar pada metode singkat.
Penelitian dari perspektif generalisasi empiris agak anti-tesis terhadap pendekatan
konstruksionis sosial, tetapi seberapa efektifkan terapi singkat fokus-solusi? Tanpa
memperhatikan orientasi teoritikal spesifik dari terapis, terapi singkat telah menunjukkan
keefektifan untuk masalah klinik yang luas. Penelitian yang telah membandingkan terapi singkat
dengan terapi jangka panjang umumnya menemukan perbedaan dalam hasil (McKeel, 1996).
Dalam sebuah resensi penelitian SFBT, McKell (1996) menyimpulkan bahwa ketika teknik-
teknik SFBT telah diuji, hasilnya umumnya baik. Meskipun hanya sedikit penelitian dari SFBT
yang ada, hasil studi umumnya menunjukkan bahwa kebanyakan klien menerima laporan SFBT
mencapai tujuan dalam perlakuan mereka.
Satu area khusus dimana pendekatan fokus solusi menunjukkan janji adalah pada
perlakuan kelompok dengan pelaku kekerasan domestik. Lee, Sebold, dan Uken (2003)
menggambarkan penekatan perlakuan pintas yang nampaknya menciptakan perubahan positf
yang efektif bagi pelaku kekerasan domestik. Pendekatan berfokus pada menjaga pelaku
bertanggung jawab untuk membangun solusi dan bukannya menekankan pada masalah dan
kekurangan mereka. proses yang digambarkan oleh Lee dan koleganya itu singkat ketika diukur
terhadap standar program tradisional, berakhir hanya seikir delapan sesi selama periode 10-12
minggu. Lee, Sebold, dan Uken melaporkan penelitian yang mengidikasikan angka residivis
16.7% dan angka penyelesaian 92.9%. sebaliknya pendekatan yang lebih tradisional secara khas
menghasilkan angka residivis antara 40% dan 60% dan angka penyelesaian kurang dari 50%.
Dalam resensi mereka dari 15 hasil studi SFBT, Gingerich da Eisengart (2000)
menemukan bahwa 5 penelitian dikontrol dengan baik, dan semuanya menunjukkan hasil yang
positif. Hasil 10 studi lainnya, yang dikontrol secara sedang, didukung oleh sebuah hipotesis
keefektifan SFBT. Resensi dari penelitan-penelitan tersebut memberikan dukungan pendahuluan
untuk gagasan bahwa SFBT bermanfaat bagi klien, tetapi kekurangan metodoligikal tidak
mengizinkan sebuah kesimpulan defenitif. Untuk resensi yang lebih rindi dari penelitian
sebelumnya dan pengukuran hasil dari SFBT, lihat De Jong dan Berg (2008, bab. 11); untuk
status terkini dari SFBT, lihat de Shazer & Dolan (2007).
Kekuatan utama dari terapi fokus-solusi maupun naratif adalah pada penggunaan
pertanyaan, yang menjadi inti dari kedua pendekatan tersebut. Pertanyaan terbuka tentnag sikap,
pemikiran, perasaan, perilaku dan pandangan klien adalah salah satu dari intervensi utama. Yang
berguna khususnya adalah pertanyaan berorientasi masa depan yang menantang klien untuk
berpikir tentang bagaimana mereka akn menyelesaikan masalah di masa depan. Winslade dan
Monk (2007) mencatat bahwa pertanyaan hati-hati dari terapis tentang pengalaman terdahulu
klien akan kemampuan dan keberdayaan mereka cenderung menguatkan pondasi bagi klien
dalam membangun rasa keterarahan yang baru.
Batasan dan kritik pendekatan Post-Modern
Agar secara efektif mempraktikkan terapi singkat fokus solusi, penting bahwa terapisnya ahli
dalam intervensi singkat. Dalam waktu yang relatif singkat, praktisi harus dapat membuat kajian,
membantu klien dan merumuskan tujuan spesifik, dan secara efektif mengguankan intervensi
yang sesuai. Beberapa terapis yang tidak berpengalaman dan tidak terlatih dapat dipikat oleh
banyak teknik: pertanyaan keajaiban, pertanyaan skala, pertanyaan pengecualian, dan pertanyaan
eksternalisasi. Tetapi terapi efektif tidak semata masalah kebergantungan pada intervensi
manapun. Sikat dari terapis dan kemampuannya untuk menggunakan pertanyaan yang reflektif
dari ketertarikat penuh hormat yang tulus itu sangat penting dalam proses terapi.
McKeel (1996) mengamati bahwa penelitan baru-baru ini pada pentingnya hubungan
terapi sejalan dengan pandangan SFBT bahwa hasil perlakuan positif terhubung dengan terapis
yang mengembangkan hubungan yang kolaboratif dan efektif dengan klien. Dia memperingatkan
terapis bahwa kehilangan pandangan akan potensi dari hubungan terapi hanya akan
memberikan malapetaka pada SFBT untuk dikenang sebagai sekumpulan teknik cerdas yang tak
bertubuh” (p.265).beberapa praktisi fokus-solusi sekarang menyadari masalah dari bergantung
terlalu banyak pada hubungan terapi dan keseluruhan filosofi dari pendekatan itu (Lipchik, 2002;
Nichols, 2006).
Selain dari kekurangan ini, pendekatan post modern menawarkan banyak hal bagi
praktisi, tanpa mempertimbangkan orientasi teoritisnya. Banyak teknik dan konsep dasar dari
terapi singkat fokus solusi maupun terapi naratif yang dapat diintegrasikan dengan orientasi
terapi lainnya yang dibahas di dalam buku ini.
Kemana Pergi dari Sini
Drs. Jennifer Andrews dan David Clark telah menciptakan sejumlah video tape yang
menunjukkan terapi fokus solusi, naratif, dan sistem bahasa kolaboratif. Untuk informasi tentang
teori post modern dan praktik klinik pada video tape, kunjungi website:
Website: www.masterswork.com
Jika anda tertarik untuk terus mendapat informasi baru akan perkembangan terapi singkat,
Journal of Brief Therapy adalah sumber yang berguna. Hal ini dipersembahkan untuk
perkembangan, inovasi, dan penelitan yang berhubungan dengan terapi singkat dengn individu,
pasangan, keluarga, dan kelompok. Artikel tentang terapi singkat berhuungan dengan semua
pendekatan teoritis, tetapi khususnya pada konstruksionisme sosial, terapi fokus solusi, dan
terapi naratif.
Springer Publishing Company
11 West 42nd Street, 15th Floor
New York, NY 10036
Toll-Free Telephone: (877) 687-7476
Website: www.springerpub.com
Jurnal lain yang bermanfaat adalah International Journal of Narrative Therapy and Community
Work. Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Dulwich Centre
345 Carrington Street
Adelaide, South Australia 5000
Website: www.dulwichcentre.com.au/
Pelatihan tentang Pendekatan Terapi yang Berfokus pada Solusi
The Brief Family Therapy Center
P. O. Box 13736
Milwaukee, WI 53213
Telepon: (414) 302-0650
Faks: (414) 302-0753
E-mail: Briefftc@aol.com
Situs web: www.brief-therapy.org
Center for Solution-Focused Brief Therapy
John Walter dan Jane Peller
2320 Thayer Street
Evanston, IL 60201
Telepon: (847) 475-2691
E-mail: John Walter@aol.com
O'Hanlon and O'Hanlon Inc.
223 N. Guadalupe # 278
Santa Fe, NM 87501
Telepon: (505) 983-2843
Faks: (505) 983-2761
E-mail: PossiBill@brieftherapy.com
Situs web: www.brieftherapy.com
Pelatihan Terapi Naratif
Evanston Family Therapy Institute
Jill Freedman dan Gene Combs
820 Davis Street, Suite 504
Evanston, Illinois 60201
Dulwich Centre
Michael White
345 Carrington Street
Adelaide, Australia Selatan 5000
http://www.dulwichcentre.com.au/
Counsellor Education Programme
Universitas Waikato
Private Bag 3105
Hamilton, Selandia Baru
Situs web:
http://edlinked.soe.waikato.ac.nz/departments/index.php?dept_id=3&page_id=4681 %20
Bay Area Family Therapy Training Associates
Jeffrey L. Zimmerman dan Marie-Nathalie Beaudoin
21760 Stevens Creek Blvd., Suite 102
Cupertino, CA 95015
Telepon: (408) 257-6881
Faks: (408) 257-0689
E-mail: baftta@aol.com
Situs web: www.baftta.com
The Houston-Galveston Institute
3316 Mount Vernon
Houston, TX 77006
Telepon: (713) 526-8390
Faks: (713) 528-2618
E-mail: admin@talkhgi.com
Situs web: www.talkhgi.com
Bacaan Tambahan yang Disarankan
Becoming Solution-Focused in Brief
Therapy (Walter & Peller, 1992) dan
Recreating Brief Therapy: Preferences
and Possibilities (Walter & Peller,
2000) adalah buku-buku yang ditulis
dengan jelas yang berisi banyak
informasi bermanfaat tentang ide-ide
dasar terapi singkat dan cara
menerapkan terapi singkat yang
berfokus pada solusi.
Interviewing for Solutions (De Jong & Berg,
2008) adalah teks praktis yang
ditujukan untuk mengajar dan belajar
keterampilan yang berfokus pada
solusi. Ditulis dalam gaya percakapan
dan informal serta berisi banyak
contoh untuk memperkuat
pembelajaran keterampilan.
Narrative Counseling in Schools (Winslade
& Monk, 2007) adalah panduan dasar
dan mudah dibaca untuk menerapkan
konsep dan teknik terapi naratif ke
pengaturan sekolah.
Narrative Therapy in Practice: The
Archaeology of Hope (Monk,
Winslade, Crocket, & Epston, 1997)
mengklarifikasi dan menerjemahkan
banyak gagasan Michael White dan
David Epston. Teks yang diedit ini
berisi beberapa wacana yang sangat
baik tentang bagaimana terapi naratif
bekerja, hubungan terapeutik, serta
mempelajari dan mengajarkan ide
naratif.
Collaborative, Competency-based
Counseling and Therapy (Bertolino &
O'Hanlon, 2002) adalah campuran dari
berbagai pendekatan postmodern yang
menekankan cara terapis dapat
menciptakan hubungan kolaboratif
dengan klien yang akan menghasilkan
terbukanya kemungkinan baru untuk
hidup. Buku ini adalah pembaruan dari
terapi yang berorientasi pada solusi
dan kemungkinan.
Narrative Therapy: The Social Construction
of Preferred Realities (Freedman &
Combs, 1996) adalah penjelasan yang
sangat jelas tentang ide-ide dasar
terapi naratif. Para penulis
menekankan konsep kunci dan
penerapan praktik klinis tertentu. Ini
adalah salah satu sumber terbaik
tentang teori dan praktik terapi naratif.
Referensi dan Bacaan yang Disarankan
ANDERSON, H. (1993). On a roller coaster:
A collaborative language system
approach to therapy. In S. Friedman
(Ed.), The new language of change
(pp. 324344). New York: Guilford
Press.
*ANDERSON, H., & GOOLISHIAN, H.
(1992). The client is the expert: A not-
knowing approach to therapy. In S.
McNamee & K. J. Gergen (Eds.),
Therapy as social construction (pp.
2539). Newbury Park, CA: Sage.
ANDREWS, J., & CLARK, D. J. (1996). In
the case of a depressed woman:
Solution-focused or narrative therapy
approaches? The Family Journal, 4(3),
243250.
BATESON, G. (1972). Steps to an ecology
of mind. New York: Ballantine.
BERG, I. K. (1994). Family based services:
A solution focused approach. New
York: Norton.
BERG, I. K., & MILLER, S. D. (1992).
Working with the problem drinker: A
solution-focused approach. New
York: Norton.
BERGER, P. L., & LUCKMAN, T. (1967).
The social construction of reality: A
treatise in the sociology of knowledge.
London: Penguin.
*BERTOLINO, B., & O’HANLON, B.
(2002). Collaborative, competency
based counseling and therapy. Boston:
Allyn & Bacon.
*BOHART, A. C., & TALLMAN, K.
(1999). How clients make therapy
work: The process of active self-
healing. Washington, DC: American
Psychological Association.
BUBENZER, D. L., & WEST, J. D. (1993).
William Hudson O’Hanlon: On
seeking possibilities and solutions in
therapy. The Family Journal:
Counseling and Therapy for Couples
and Families, 1(4), 365379.
BURR, V. (1995). An introduction to social
constructionism. London: Routledge.
COREY, G. (2008). Theory and practice of
group counseling (7th ed.). Belmont,
CA: Brooks/Cole.
COREY, G. (2009). Case approach to
counseling and psychotherapy (7th
ed.). Belmont, CA: Brooks/ Cole.
*DE JONG, P., & BERG, I. K. (2008).
Interviewing for solutions (3rd ed.).
Belmont, CA: Brooks/Cole.
*DE SHAZER, S. (1985). Keys to solutions
in brief therapy. New York: Norton.
*DE SHAZER, S. (1988). Clues:
Investigating solutions in brief
therapy. New York: Norton.
*DE SHAZER, S. (1991). Putting difference
to work. New York: Norton.
‡‡
DE SHAZER, S. (1994). Words were
originally magic. New York: Norton.
DE SHAZER, S., & BERG, I. (1988). Doing
therapy: A post-structural revision.
Journal of Marital and Family
Therapy, 18, 7181.
*DE SHAZER, S., DOLAN, Y. M. (with
KORMAN, H., TREPPER, T.,
McCULLOM, E., & BERG, I. K.)
(2007). More than miracles: The state
of the art of solution-focused brief
therapy. New York: Haworth Press.
DREWERY, W., & WINSLADE, J. (1997).
The theoretical story of narrative
therapy. In G. Monk, J. Winslade, K.
Crocket, & D. Epston (Eds.),
Narrative therapy in practice: The
archaeology of hope (pp. 32 52). San
Francisco: Jossey-Bass.
EPSTON, D., & WHITE, M. (1992).
Consulting your consultants: The
documentation of alternative
knowledges. In Experience,
contradiction, narrative and
imagination: Selected papers of David
Epston and Michael White, 19891991
(pp. 1126). Adelaide, South
Australia: Dulwich Centre.
‡‡
Buku dan artikel yang ditandai dengan tanda
bintang disarankan untuk dipelajari lebih lanjut
*FREEDMAN, J., & COMBS, G. (1996). Na
rr
a
t
iv
e
therapy: The social construction of preferred
re- alities. New York: Norton.
FREEMAN, J., EPSTON, D., & LOBOVITS, D.
(1997). Playful approaches to serious
pro
b
l
e
ms: Narrative therapy with children and
their
fa
mi- lies. New York: Norton.
GERGEN, K. (1985). The social constructionist
movement in modern psychology.
Am
e
r
ic
a
n
Psychologist, 40, 266275.
GERGEN, K. (1991). The saturated self. New York:
Basic Books.
GERGEN, K. (1999). An invitation to social const
r
uc-
tion. Thousand Oaks, CA:
Sa
ge.
GINGERICH, W. J., & EISENGART, S. (2000).
Solution-focused brief therapy: A review of
the outcome research. Family Process, 39(4),
477498.
*GUTERMAN, J. T. (2006). Mastering the art
of
solution-focused counseling. Alexandria, VA:
American Counseling
A
ssociation.
LEE, M. Y., SEBOLD, J., & UKEN, A. (2003).
Solution-focused treatment of domestic vi
o
l
e
nce
offenders: Accountability for change. New York:
Oxford University Pr
e
ss.
LINDSLEY, J. R. (1994). Rationalist therapy in a
constructivistic frame. The Behavior Th
e
r
ap
is
t
,
17(7), 160162.
LIPCHIK, E. (2002). Beyond technique in s
o
l
u
t
i
o
n
-
focused therapy: Working with emotion and the the
r
-
apeutic relationship. New York: Guilford Pr
e
ss.
MCKEEL, A. J. (1996). A clinicians guide to r
e
-
search on solution-focused brief therapy. In
S. D. Miller, M. A. Hubble, & B. L. Duncan
(Eds.), Handbook of solution-focused brief
t
he
r
ap
y
(pp. 251271). San Francisco: Joss
e
y
-Bass.
MCKENZIE, W., & MONK, G. (1997). L
e
arning
and teaching narrative ideas. In G. Monk,
J. Winslade, K. Crocket, & D. Epston (Eds.),
Narrative therapy in practice: The archaeology
of
hope (pp. 82117). San Francisco: Joss
e
y
-Bass.
*METCALF, L. (1998). Solution-focused group the
r
-
apy: Ideas for groups in private practice,
sc
hool
s,
agencies and treatment programs. New York:
The Free Pr
e
ss.
*METCALF, L. (2001). Solution focused therapy. In
R. J. Corsini (Ed.), Handbook of innovative the
r
-
apy (2nd ed., pp. 647659). New York: Wile
y
.
*MILLER, S. D., HUBBLE, M. A., & DUNCAN, B.
L. (Eds.). (1996). Handbook of s
o
lut
i
o
n
-
f
oc
u
sed
brief therapy. San Francisco: Joss
e
y
-Bass.
*MONK, G. (1997). How narrative therapy
work
s.
In G. Monk, J. Winslade, K. Crocket, &
D. Epston (Eds.), Narrative therapy in
p
r
a
c
t
ic
e
:
The archaeology of hope (pp. 331). San Fran
-
cisco: Joss
e
y
-Bass.
*MONK, G., WINSLADE, J., CROCKET, K., &
EPSTON, D. (Eds.). (1997). Narrative therapy in
practice: The archaeology of hope. San Francisco:
Joss
e
y
-
Bass.
NEIMEYER, R. A. (1993). An appraisal of con
-
structivist psychotherapies. Journal of C
o
nsult-
ing and Clinical Psychology, 61(2), 221234.
*NICHOLS, M. P. (with SCHWARTZ, R. C.).
(2006). Family therapy: Concepts and methods
(7th ed.). Boston: Allyn & Bacon.
*NICHOLS, M. P. (with SCHWARTZ, R. C.).
(2007). The essentials of family therapy (3rd
e
d.).
Boston: Allyn & Bacon.
NYLUND, D., & THOMAS, J. (1994). The
e
conom-
ics of narrative. The Family Therapy
N
e
tw
o
r
ke
r
,
18(6), 3839.
OCONNELL, B. (2005). Solution-focused the
r
ap
y
(2nd ed.). London:
Sa
ge.
*OHANLON, W. H. (1994). The third wave: Th
e
promise of narrative. The Family Therapy
N
e
t-
worker, 18(6), 1926, 2829.
*OHANLON, W. H. (1999). Do one thing di
ffe
r
e
n
t
.
New York: Harp
e
rCollins.
*OHANLON, W. H., & WEINER-DAVIS, M.
(2003). In search of solutions: A new direction in
psychotherapy (rev. ed.). New York: Norton.
PROCHASKA, J. O., & NORCROSS, J. C. (2007).
Systems of psychotherapy: A
t
r
a
ns
t
heo
re
t
i-
cal analysis (6th ed.). Belmont, CA: Brooks
/
Cole.
ROTHWELL, N. (2005). How brief is solution-
focused therapy? A comprehensive study. Clin-
ical Psychology & Psychotherapy, 12(5), 402405.
SKLARE, G. B. (2005). Brief counseling that wor
k
s:
A solution-focused approach for school c
o
un
s
e
l
o
r
s
and administrators (2nd ed.). Thousand Oaks,
CA: Corwin Pr
e
ss.
*WALTER, J. L., & PELLER, J. E. (1992). Bec
o
m-
ing solution-focused in brief therapy. New York:
Brunn
er/M
a
z
e
l.
*WALTER, J. L., & PELLER, J. E. (1996). R
e
thinking
our assumptions: Assuming anew in a post
-
modern world. In S. D. Miller, M. A. Hubble, &
B. L. Duncan (Eds.), Handbook of s
o
lut
i
o
n-
focused brief therapy (pp. 926). San Francisco:
Joss
e
y
-
Bass.
*WALTER, J. L., & PELLER, J. E. (2000). Re
cr
ea
t
in
g
brief therapy: Preferences and possibilities. New
York: Norton.
WEINER-DAVIS, M., De SHAZER, S., &
GINGERICH, W. (1987), Using pr
e-
treatment
change to construct a therapeutic solution. Jo
ur
-
nal
of Marital and Family Therapy, 13(4), 359363.
WEISHAAR, M. E. (1993). Aaron T. Beck. London:
Sa
ge.
WEST, J. D., BUBENZER, D. L., SMITH, J., &
HAMM, T. (1997). Insoo Kim Berg and
solution-focused therapy. The Family Jo
ur
n
a
l:
Counseling and Therapy for Couples and Families, 5,
346354.
WHITE, M. (1989). The externalizing of the problem
in the reauthoring of lives and r
e
lationships.
Dulwich Centre Newsletter, In Selected Papers. Ad-
elaide, South Australia: Dulwich C
e
ntr
e
.
WHITE, M. (1992). Deconstruction and th
e
rap
y
.
In Experience, contradiction, narrative,
a
nd
imagination: Selected papers of David Epston
and Michael White, 19891991 (pp. 109
151). Adelaide, South Australia: Du
lw
ich
Centr
e
.
WHITE, M. (1995). Reauthoring lives: Interviews
a
nd
essays. Adelaide, South Australia: Du
lw
ich
Centr
e
.
WHITE, M. (1997). Narrative of therapists lives.
Adelaide, South Australia: Dulwich C
e
ntr
e
.
*WHITE, M., & EPSTON, D. (1990).
N
a
rr
a
t
ive
means to therapeutic ends. New York: Norton.
*WINSLADE, J., CROCKET, K., & MONK, G.
(1997). The therapeutic relationship. In
G. Monk, J. Winslade, K. Crocket, & D.
Epston (Eds.), Narrative therapy in practice:
T
he
archaeology of hope (pp. 5381), San Francisco:
Joss
e
y
-
Bass.
*WINSLADE, J., & MONK, G. (2007).
N
a
rr
a
t
ive
counseling in schools (2nd ed.). Thousand Oaks,
CA: Corwin Press (
S
age).
BAB EMPAT BELAS
Terapi Sistem Keluarga
Ditulis oleh
James
Robe
r
t
Bi
t
te
r
dan
G
e
ra
ld
C
o
re
y
Pengantar
Perspektif Sistem Keluarga
Perbedaan
Pendekatan
Indivdualis
tik dengan
Pendekatan
Sistemik
Perkembangan Terapis Sistem
Keluarga
Terapi Keluarga Adler
Terapi Keluarga Multigenerasi
Model Eksperensial Proses Validasi
Terapi Keluarga Struktural
Inovasi-Inovasi Terbaru
Delapan Lensa Terapi Sistem Keluraga
Sistem Internal Keluarga Individu
Lensa Teknologi
Urutan: Penelusuran Pola Interaksi
Lensa Organisasi
Lensa Perkembangan
Lensa Multikultur
Lensa Gender
Lensa Proses
Proses Terapi Keluarga Multilensa
Menjalin suatu Hubungan
Melakukan Peninjauan
Mehipotesiskan dan Membagi Makna
Memfasilitasi Perubahan
Terapi Sistem Keluarga Menurut Perspektif
Multikultural
Kelebihan Perspektif Keberagaman
Kekurangan Perspektif Keberagaman
Terapi Sistem Keluarga Diterapkan
dalam Kasus Stan
Rangkuman dan Evaluasi
Kontribusi Pendekatan Sistem
Keluarga
Keterbatasan dan Kritik Pendekatan
Sistem Keluarga
Kemana Selanjutnya
Anjuran Bacaan Tambahan
Referensi dan Saran Bacaan
Kontribusi pada Teori Sistem Keluarga
Terapi sistem keluarga diwakili oleh banyak teori dan pendekatan, dimana semuanya berfokus
aspek relasional masalah manusia. Beberapa individu kebanyakan berasosiasi dekat dengan
sumber dari pendekatan sistem ini dicirikan dicirikan di sini.
ALFRED ADLER adalah psikologis era modern pertama yang melakukan
terapi keluarga menggunakan pendekatan sistemik. Dia membuat lebih dari
30 klinik bimbingan anak di Vienna setelah perang dunia I, dan selanjutnya
Rudolf Dreikurs membawa konsep ini ke Amerika Serikat dalam bentuk
pusat pendidikan keluarga. Adler melaksanakan sesi konseling keluarga
dalam sebuah forum publik terbuka untuk mengedukasi orang tua dalam
jumlah yang lebih besar; dia percaya bahwa masalah apapun dari keluarga
itu umum bagi semua komunitas yang lain (Christensen, 2004).
MURRAY BOWEN (1978) adalah pengembang asli dari terapi keluarga
umum. Banyak teori dan praktiknya tumbuh dari pekerjaannya dengan
individu skizofrenik di dalam keluarga. Dia percaya, keluarga dapat
dipahami dengan baik ketika dianalisis dari perspektif tiga generasi karen
pola dari hubungan interpersonal yang menghubungkan anggota keluarga
lintas generasi.kontribusi utamanya termasuk konsep inti dari diferensiasi
diri dan triangulasi.
VIRGINIA SATIR (1983) Mengembangkan terapi keluarga, sebuah model
proses validasi manusia yang menekankan komunikasi dan pengalaman
emosional. Seperti Bowen, dia menggunakan sebuah model intergenerasi,
tetapi dia bekerja untuk membawa pola keluar ke dalam hidup di masa kini
mellaui pahatan dan rekonstruksi keluarga. Dengan megklaim bahwa tekni
itu kedua di dalam hubungan, dia berkonsentari pada hubungan personal
antara terapis dan keluarga untuk mencapai perubahan.
CARL WHITAKER (1976) Adalah pencipta dari terapi keluarga simbolik-
eksperiental, sebuah pendekatan intuitif, kehendak bebas, untuk membantu
keluarga membuka aliran interaksi. Tujuannya adalah untuk memfasilitasi
otonomi individu sambil mempertahankan rasa kepemilikan dalam keluarga.
Dia meliaht terapis sebagai seorang partisipan aktif dan pelatih yang
memasih proses keluarga dengan kreativitas, menaruh cukup tekanan dalam
proses ini untuk menghasilkan status quo.
SALVADOR MINUCHIN (1974) Mulai mengembangkan terapi keluarga
struktural pada 1960an melalui pekerjaannya dengan anak-anak laki-laki
penjahat dari keluarga miskin di Wiltwyck School di New York. Dengan
bekerja dengan kolega di Philadelphia Child Guidance Clinic pada 1970an, Minuchin
memperbaiki teori dan praktik dari terapi keluarga struktura. Dengan berfokus pada struktur, atau
organisasi keluarga, terapis membantu keluarga memodifikasi pola stereotype dan
mendefinisikan kembali hubungan diantara anggota keluarga. Dia percaya perubahan struktural
dalam keluarga harus hadis sebelum gejala anggota indiviu dapat dikurangi atau dieliminasi.
JAY HALEY memiliki pengaruh signifikan pada perkembagan terapi
keluarga strategis (Haley, 1963). Dia mencampurkan terapi keluarga
struktural dengan konsep hirarki, kekuatan, dan intervensi strategis. Terapi
keluarga strategis adalah sebuah pendekatan pragmatis yang berfokus
menyelesaikan masalah di masa kini; memahami dan memandang tidak
diperlukan atau diminta. Dalam bukunya, Directive Family Therapy (2007),
Haley merincikan lebih jauh pada pentingnya merumuskan dengan jeli arahan
kreatif yang produktif di dalam situasi sosial dari perubahan terapi.
CLOE MADANES (1981), Dengan Jay Haley, membangun Family Institute
di Washington D.C pada 1970an. Melalui penggabungan praktik terapi,
tulisan, dan pelatihan terapis keluarga, terapi keluarga strategis menjadi
pendekatan terapi keluarga yang paling populer pada 1980an. Ini adalah
penekatan terapi yang singkat, dan menyelesaikan masalah. Masalah yang
dibawa keluarga ke dalam terapi diperlakukan secara “nyata”- bukan sebuah
gejala dari masalah dasar- dan diselesaikan. Penekanannya adalah pada
perawatan dan aspek emosial dari pola keluarga.
Pendahuluan
Meskipun benih dari pergerakan terapi keluarga Amerika Utara ditanam pada 1940an, selama
tahun 1950an lah terapi keluarga sistemik mulai berakar (Becvar & Becvar, 2006). Selama
tahun-tahuan awal evolusinya, dengan bekerja dengan keluarga dianggap sebagai sebuah
pendekatan revolusioner dari perlakuan. Pada 1960an dan 970an, pendekatan psikodinamik,
behavioral, dan humanistik (disebut angkatan pertama, kedua, dan ketiga secara berurutan)
didominasi konseling dan psikoterapi. Saat ini, beragam pendekatan pada sistem keluarga
mewakili sebuah pergerakan paradigma yang mungkin disebut “angkatan ke empat”.
Perspektif Sistem Keluarga
Mungin pemajuan paling sulit bagi konselor dan terapis dari kebudayaan Barat adalah adopsi
dari perspektif “sistem”. Pengalaman pribadi kita dan kebudayaan barat sering memberitahu
kami bahwa kita adalah individu otonom, mampu untuk bebas dan mandiri dalam pilihan.
Namun kita terlahir ke dalam keluarga- dan kebanyakan kita menghabiskan keseluruhan hidup
terlekat pada satu bentuk keluarga atau lainnya. Dalam keluarga ini, kita menemukan siapa diri
kita; kita berkembang dan berubah; dan kita memberi dan menerima dukungan yang dibutuhkan
untuk bertahan hidup. Kita menciptakan, mempertahankan, dan hidup oleh aturan dan rutinitas
yang tak diucapkan yang kita harapkan dapat menjaga keluarga (dan tiap anggotanya)
fungsional.
Dalam hal ini, sebuah perspektif sistem keluarga memgang bahwa indiviud dipahami
mellaui kajian dan interaksi antara anggota keluarga. Perkembangan dan perilaku satu anggota
keluarga itu saling terhubungn dengan anggota lain dalam keluarga. Gejala sering dipandang
sebagai sebuah ekspresi dari sejumlah kebiasaan dan pole di dalam keluarga. Hal ini bersifat
revolusioner untuk menyimpulkan bahwa masalah klien yang teridentifikasi mungkin menjadi
sebuah gejala tentang bagaimana sistem berfungsi, bukan hanya sebuah gejala dari keslahan
penyesuaian individu, sejarah, dan perkembangan psikososial. Perspektif ini berdasar pada
asumsi bahwa perilaku problematik klien dapat (1) memenuhi fungsi atau tujuan dari keluarga,
(2) dipertahankan secara tidak sengaja oleh proses keluarga, (3) menjadi fungsi dari
ketidakmampuan keluarga untuk beroperasi secara produktif, khusunya selama transisi
perkembangan, atau (4) menjadi gejala dari pole disfungsional yang diturunkan lintas generasi.
Semua asumsi ini menantang kerangka intrafisik yang lebih tradisional untuk membuat konsep
masalah manusa dan formasi mereka.
Satu prinsip sentral yang disetujui oleh praktisi terapi keluarga, tanpa mempertimbangan
pendekatan tertentunya, adalah bahwa klien terhubungan pada sistem yang hidup. Bertujuan
pada perubahan difasilitasi dengan bekerja dengan dan mempertimbangkan keluarga atau
hubungan secara keseluruhan. Oleh karena itu, sebuah pendekatan perlakuan yang secara
komprehensif membahas keluarga juga pasien teridentifikasi” diperlukan. Karena sebuah
keluarga ada unit interaksional, ia memilki perilaku uniknya sendiri. Tidak mungkin untuk secara
akurat mengkaji perhatian individu tanpa mengamati interaksi dari anggota keluarga lainnya,
juga konteks yang lebih luas dimana pribadi dan keluarga hidup. Karena fokus ada pada
hubungan personal, Becvar dan Becvar (2006) mempertahankan bahwa terapi keluarga adalah
misioner dan bahwa terapi hubungan adalah label yang lebih sesuai.
Perspektif terapi keluarga membutuhkan sebuah perubahan konseptual karena keluarga
dipandang sebgaai sebuah unit yang berfungsi yang lebih dari sekadar sekumpulan peran dari
beragam anggota. Tindakan-tindakan dari anggota individu manapun akan mempengaruhi semua
anggota lain dalam keluarga, dan reaksi mereka akan memiliki pengaruh timbal balik pada
individu. Goldenberg dan Goldenberg (2008) menunjuk pada kebutuhan terapis untuk melihat
semua perilaku, termasuk semua gejala yang diekspresikan oleh individu, di dalam konteks
keluarga dan masyarakat. Mereka menambahkan bahwa sebuah orientasi sistem tidak
menghalangi berhadapan dengan dinamik di dalam individu, tetapi bahwa pendekatan ini
memperluas penekanan tradisional apda dinamis internal individu.
Perbedaan antara pendekatan sistemik dan individu
Terdapat perbedaan perbedaan signifikan antara pendekatan terapi individu dan pendekatan
sistemik. Sebuah kasus dapat mengilustrasikan perbedaan ini. Ann, 22 tahun, mendatangi
seorang konselor karena dia menderita depresi yang telah dialaminya selama lebih 2 tahuan yang
telah melemahkan kemampuanya untuk mempertahankan pertemanan dan bekerja secara
produktif. Dia ingin merasa lebih baik, tetapi dia pesimis dengan peluangnya. Bagaimana
seorang terapis memilih untuk membantunya?
Baik terapis individu dan terapis sistemik tertarik dengan situasi hidup dan pengalaman
hidup Ann saat ini. Keduanya menemukan bahwa dia masih tinggal di rumah bersama orang
tuanya, yang berusia 60-an. Mereka mencatat bahwa dia memiliki kakak perempuan yang sangat
sukses, yang merupakan pengacara terkemuka di kota kecil tempat mereka berdua tinggal. Para
terapis terkesan dengan hilangnya teman-teman Ann yang telah menikah dan meninggalkan kota
selama bertahun-tahun sementara dia tertinggal, sering kesepian dan terisolasi. Akhirnya, kedua
terapis mencatat bahwa depresi Ann memengaruhi orang lain dan juga dirinya sendiri. Namun di
sinilah kesamaannya cenderung berakhir:
Terapis individu dapat:
Fokus pada mendapatkan diagnosis yang
akurat, mungkin menggunakan DSM-
IV-TR (American Psychiatric
Association, 2000)
Segera memulai terapi dengan Ann
Fokus pada penyebab, tujuan, dan proses
kognitif, emosional, dan perilaku yang
terlibat dalam depresi dan
penanggulangan Ann
Berkepentingan dengan pengalaman dan
perspektif individu Ann
Campur tangan dengan cara yang dirancang
untuk membantu Ann mengatasinya
Terapis sistemik dapat:
Menjelajahi sistem untuk proses dan aturan
keluarga, mungkin menggunakan
genogram
Mengundang ibu, ayah, dan saudara
perempuan Ann ke dalam terapi
bersamanya
Fokus pada hubungan keluarga di mana
kelanjutan dari depresi Ann "masuk akal"
Berhati-hatilah dengan makna
transgenerasional, aturan, budaya, dan
perspektif gender dalam sistem, dan
bahkan komunitas dan sistem yang lebih
besar yang mempengaruhi keluarga
Campur tangan dengan cara yang dirancang
untuk membantu mengubah konteks Ann
Terapis sistemik tidak menyangkal pentingnya individu dalam sistem keluarga, tetapi mereka
percaya afiliasi dan interaksi sistemik individu memiliki kekuatan lebih dalam kehidupan
seseorang daripada yang bisa diharapkan oleh seorang terapis tunggal. Dengan bekerja dengan
seluruh keluarga atau bahkan komunitas sistem, terapis memiliki kesempatan untuk
mengamati bagaimana individu bertindak dalam sistem dan berpartisipasi dalam
mempertahankan status quo; bagaimana sistem memengaruhi (dan dipengaruhi oleh) individu;
dan intervensi apa yang mungkin mengarah pada perubahan yang membantu pasangan, keluarga,
atau sistem yang lebih besar serta individu yang mengekspresikan rasa sakit.
Dalam kasus Ann, depresinya mungkin memiliki komponen organik, genetik, atau
hormonal. Ini juga mungkin melibatkan pola kognitif, pengalaman, atau perilaku yang
mengganggu penanggulangan yang efektif. Sekalipun depresinya dapat dijelaskan dengan cara
ini, bagaimanapun, terapis sistemik sangat tertarik pada bagaimana depresinya memengaruhi
orang lain dalam keluarga dan bagaimana hal itu memengaruhi proses keluarga. Depresinya
mungkin menandakan rasa sakitnya sendiri dan rasa sakit keluarga yang tidak terekspresikan.
Memang, banyak pendekatan sistem keluarga akan menyelidiki bagaimana depresi melayani
anggota keluarga lainnya; mengalihkan perhatian dari masalah dalam hubungan intim orang lain;
atau mencerminkan kebutuhannya untuk menyesuaikan diri dengan aturan keluarga, dengan
perintah budaya, atau proses yang dipengaruhi oleh gender atau perkembangan siklus hidup
keluarga. Alih-alih kehilangan pandangan terhadap individu, terapis keluarga lebih memahami
orang tersebut karena secara khusus tertanam dalam sistem yang lebih besar.
Pengembangan Terapi Sistem Keluarga
Teori sistem keluarga telah berkembang selama 100 tahun terakhir, dan saat ini terapis kreatif
menggunakan berbagai perspektif ketika menyesuaikan terapi dengan keluarga tertentu. Bagian
ini menyajikan tinjauan sejarah singkat tentang beberapa tokoh kunci yang terkait dengan
pengembangan terapi sistem keluarga.
Terapi Keluarga Adlerian
Alfred Adler adalah psikolog pertama di era modern yang melakukan terapi keluarga
(Christensen, 2004). Pendekatannya sistemik jauh sebelum teori sistem diterapkan pada
psikoterapi. Konseptualisasi asli Adler masih dapat ditemukan dalam prinsip-prinsip dan praktik
model-model lain.
Adler (1927) adalah yang pertama kali memperhatikan bahwa perkembangan anak-anak
di dalam konstelasi keluarga (frasa untuk sistem keluarga) sangat dipengaruhi oleh urutan
kelahiran. Adler adalah seorang ahli fenomenologi, dan meskipun urutan kelahiran tampaknya
memiliki keteguhan untuk setiap posisi, ia percaya bahwa interpretasi yang ditugaskan anak-anak
untuk posisi kelahiran mereka yang diperhitungkan. Adler juga mencatat bahwa semua perilaku
itu bertujuan dan bahwa anak-anak sering bertindak dalam pola yang dimotivasi oleh
keinginan untuk menjadi bagian, bahkan ketika pola-pola ini tidak berguna atau salah.
Namun Rudolf Dreikurs (1950, 1973), yang mengubah konsep Adler menjadi tipologi
tujuan yang keliru dan menciptakan pendekatan terorganisir untuk terapi keluarga. Asumsi dasar
terapi keluarga Adlerian modern adalah bahwa orang tua dan anak-anak sering menjadi terkunci
dalam interaksi negatif berulang yang didasarkan pada tujuan yang salah yang memotivasi semua
pihak yang terlibat. Meskipun banyak terapi keluarga Adlerian dilakukan dalam sesi pribadi,
Adlerians juga menggunakan model pendidikan untuk menasihati keluarga di forum terbuka di
sekolah, lembaga masyarakat, dan pusat pendidikan keluarga yang ditunjuk khusus.
Terapi Keluarga Multigenerasi
Murray Bowen (1978) adalah salah satu pengembang terapi keluarga arus utama. Teori sistem
keluarga, yang merupakan model teoritis dan klinis yang berevolusi dari prinsip serta praktik
psikoanalisis, kadang-kadang disebut sebagai terapi keluarga multigenerasi. Bowen dan rekan-
rekannya menerapkan pendekatan inovatif untuk skizofrenia di National Institute of Mental
Health di mana Bowen benar-benar merawat seluruh keluarga di rumah sakit sehingga sistem
keluarga bisa menjadi fokus terapi.
Pengamatan Bowen menyebabkan minatnya pada pola di berbagai generasi. Dia
berpendapat bahwa masalah yang diwujudkan dalam keluarga seseorang saat ini tidak akan
berubah secara signifikan sampai pola hubungan dalam keluarga asal seseorang dipahami dan
ditantang secara langsung. Pendekatannya beroperasi pada premis bahwa pola hubungan
interpersonal yang dapat diprediksi menghubungkan fungsi anggota keluarga lintas generasi.
Menurut Kerr dan Bowen (1988), penyebab masalah individu hanya dapat dipahami dengan
melihat peran keluarga sebagai unit emosional. Dalam unit keluarga, perpaduan emosional yang
tidak terselesaikan dengan keluarga seseorang harus diatasi jika seseorang berharap untuk
mencapai kepribadian yang dewasa dan unik. Masalah emosional akan ditransmisikan dari
generasi ke generasi sampai keterikatan emosional yang tidak terselesaikan ditangani secara
efektif. Perubahan harus terjadi dengan anggota keluarga lainnya dan tidak dapat dilakukan oleh
seorang individu di ruang konseling.
Salah satu konsep utama Bowen adalah triangulasi, suatu proses di mana tiga serangkai
menghasilkan pengalaman dua lawan satu. Bowen berasumsi bahwa triangulasi dapat dengan
mudah terjadi antara anggota keluarga dan terapis, itulah sebabnya Bowen sangat menekankan
pada peserta pelatihannya untuk menyadari masalah keluarga asal mereka sendiri (Kerr &
Bowen, 1988).
Kontribusi utama teori Bowen adalah gagasan diferensiasi diri. Diferensiasi diri
melibatkan pemisahan psikologis antara kecerdasan dan emosi serta kemandirian diri dari orang
lain. Dalam proses individuasi, individu memperoleh rasa identitas diri. Perbedaan dari keluarga
asal ini memungkinkan mereka menerima tanggungjawab pribadi atas pikiran, perasaan,
persepsi, dan tindakan mereka.
Model Proses Validasi Manusia
Pada waktu yang hampir bersamaan ketika Bowen mengembangkan pendekatannya, Virginia
Satir (1983) mulai menekankan hubungan keluarga. Pekerjaan terapeutiknya telah membuatnya
percaya pada nilai dari hubungan yang kuat dan terpelihara berdasarkan minat dan ketertarikan
dengan mereka yang ada dalam perawatannya. Dia menganggap dirinya sebagai seorang detektif
yang mencari dan mendengarkan refleksi harga diri dalam komunikasi kliennya. Ketika bekerja
dengan seorang gadis remaja, terpikir olehnya untuk bertanya tentang ibunya. Dia terkejut
dengan bagaimana komunikasi dan perilaku kliennya berubah ketika ibunya ada. Ketika dia
memperbaiki hubungan mereka, terpikir olehnya lagi untuk bertanya tentang seorang ayah.
Ketika dia masuk, komunikasi dan perilaku ibu dan putrinya berubah. Dalam proses ini, Satir
menemukan kekuatan terapi keluarga, pentingnya komunikasi dan komunikasi dalam interaksi
keluarga, dan nilai validasi terapeutik dalam proses perubahan (Satir & Bitter, 2000).
Selama hidupnya sebagai terapis keluarga, Satir mendapatkan ketenaran
internasional dan mengembangkan banyak intervensi inovatif. Dia sangat intuitif dan
percaya spontanitas, kreativitas, humor, penyingkapan diri, pengambilan risiko, dan
sentuhan pribadi merupakan pusat terapi keluarga. Dalam pandangannya, teknik adalah
urutan kedua dari hubungan yang dikembangkan terapis dengan keluarga. Pendekatan
pengalaman dan humanistiknya kemudian disebut model proses validasi manusia, tetapi
pekerjaan awalnya dengan keluarga dikenal sebagai terapi perkumpulan keluarga (Satir,
1983). Terapi Keluarga Eksperensial
Carl Whitaker merupakan pendiri terapi keluarga eksperensial, juga kadang dikenal
sebagai pendekatan simbolis-eksperensial. Pendekatan ini merupakan penerapan terapi
eksistensial ke dalam sistem keluarga, dimana Whitaker menekankan elemen pilihan, kebebasan,
keteguhan diri, pengembangan diri, dan aktualisasi (Whitaker & Bumberry, 1988). Sama seperti
Satir dan pendekatan eksistensial lainnya, Whitaker menekankan pentingnya hubungan yang
terjalin antara keluarga dengan terapis, Whitaker bersikap lebih konfrontif terkait aspek
“kenyataan” dalam pendekatannya daripada Satir, yang bersikap lebih menyayangi. Intervensi
Whitaker ini selalu dilakukan bersama ko-terapis. Hingga akhir hidupnya, Whitaker hanya
menangani keluarga, dan bagkan ia mencoba untuk mengajak keluarga koleganya sendiri untuk
menjadi klien pendekatan ini.
Pendekatan intuitif dan bebas Whitaker ini bertujuan untuk melenyapkan kepura-puraan
dan menciptakan makna hidup baru dalam diri klien dengan membebaskan keluarga yang
ditangani menjadi diri mereka sendiri. Whitaker tidak memberikan sejumlah metode penanganan
tertentu; justru, keterlibatan pribadi terapis dengan keluarga lah yang memberikan perubahan
signifikan dalam pendekatan ini. Pun jika terdapa suatu teknik diterapkan dalam proses terapi ini,
teknik tersebut tercipta dari reaksi spontan dan intiuitif terhadap situasi yang dihadapkan dan
dibuat khusus untuk meningkatkan kesadaran klien terhadap potensi internal diri mereka dan
untuk membuka kanal interaksi keluarga.
Bagi Whitaker, terapi keluarga merupakan cara bagi terapis untuk terlibat secara aktif
dalam pengembangan pribadi mereka sendiri. Dan pada kenyataannya, terapi dapat membantu
terapis dank lien. Whitaker menganggap dirinya berperan menciptakan perubahan dalam konteks
kelurga dimana perubahan dapat tercipta melalui proses reorganisasi dan reintegrasi (Becvar &
Becvar, 2006).
Terapi Keluarga Struktural
Asalmula terapi keluarga struktural dapat ditelusuri hingga awal tahun 1960an ketika
Slvador Minuchin melakukan terapi, pelatihan, dan penelitian dengan anak-anak remaja
berandalan dari keluarga miskin di Sekolah Wiltwyck di New York. Gagasan inti Minuchin
(1974) adalah bahwa gejala permasalahan diri individu dapat dipahami dengan baik dari
perspektif pandangan pola interkasi dalam keluarga dan bahwa perubahan struktural ini harus
terjadi dalam lingkungan keluarga individu tersebut sebelum gejala permasalahan individu ini
ditangani atau disimpulkan. Tujuan terapi keluarga struktural adalah: (1) mengurangi gejala
disfungsi dan (2) menciptakan perubahan struktural dalam sistem dengan mengubah aturan
transaksi dalam keluarga dan dengan lebih mengembangkan batasan-batasan yang lebih wajar.
Di akhir tahun 1960an Jay Harley bergabung bersama Minuchin di Klinik Panduan Anak
Filadelfia. Kerjaan Haley dan Minuchin memiliki banyak kemiripan satu sama lain dalam hal
tujuan dan proses terapi sehingga ada banyak ahli klinis di tahun 1980an dan 1990an akan
mempertanyakan apakah kedua model ini memang pemikiran yang berbeda. Di akhir tahun
1970an, pendekatan struktural-strategis ini merupakan model yang paling sering digunakan
dalam terapi sistem keluarga. Kedua model tersebut bertujuan untuk mengatur ulang struktur
disfungsional atau struktur bermasalah dalam keluara; pengaturan batasan, proses
menghilangkan keseimbangan, pembentukan ulang, percobaan, dan representasi semuanya
menjadi bagian proses terapi keluarga. Kedua pendekatan ini tidak terlalu mementingkan
penelusuran atau interpretasi kejadian masa lalu. Tugas terapis pendekatan struktural-strategis
adalah untuk bergabung ke dalam keluarga, menangani pola interaksi stereotip dalam keluarga,
dan menyusun ulang hirarki atau subsistem keluarga, serta untuk memfasilitasi perngembangan
transaksi yang lebih fleksibel atau lebih berguna.
Model struktural dan model strategis memiliki perbedaan perspektif dalam memandang
permasalahan keluarga: Minuchin (1974) cenderung melihat permasalahan individu dan keluarga
bersifat simtomatif, sedangkan Haley melihatnya sebagai suatu masalah “nyata” yang
memerlukan jawaban konkrit. Kedua model ini bersifat direktif, dan kedua model ini
mengharuskan terapis memiliki tingkat keahlian tertentu untuk diterapkan dalam proses terapi
keluarga.
Pada tahun 1974, Haley dan Cloe Madanes mendirikan Institut Terapi Keluarga
Washington, D.C. Selama lebih dari 25 tahun mereka menuliskan, mengembangkan praktik
terapi, dan menyediakan pelatihan intensif dalam terapi keluarga strategis. Pendekatan
strategis yang mereka temukan ini memandang permasalahan yang dihadapi klien sebagai
permasalahan yang bersifat nyata dan metaforis dalam cara kerja suatu sistem. Model ini
menekankan elemen pengendalian, control, dan hirarki dalam keluarga dan dalam sesi terapi.
Tulisan-tulisan terbaru Haley juga menekankan pentingnya lingkungan kultural keluarga (Haley
& Richeport-Haley, 2003).
Haley (1984) dan Madanes (1981) lebih tertartik dalam penerapan praktikal intervensi
strategis ini dalam menangani masalah keluarga daripada mengembangkan model strategis ini
menjadi suatu teori terapi yang berdiri sendiri. Hal ini terlihat jelas dalam model Madanes (1990)
yang digunakan dalam menangani keluarga yang di dalamnya ada pelaku pelecehan seksual.
Madanes memberikan perspektif humanistik dalam pendekatn terapi stategis dengan
mengikutsertakan kebutuhan diri untuk dicintai dan dengan menekankan aspek pertumbuhan
dalam terapi.
Inovasi-Inovasi Terbaru
Dalam beberapa dekade terakhir ini, feminisme, multikulturalisme, dan konstruktivitisme
sosial pascamoderen telah terlibat dalam ilmu terapi keluarga. Model-model ini bersifat lebih
kolaboratif, menempatkan klien-individu, pasangan, atau keluarga-sebagai ahli kehidupan
mereka sendiri. Percakapan terapi yang dijalin dalam proses terapi dimulai dengan sikap
konselor yang menempatkan dirinya ke dalam posisi “bukan pusat” atau posisi “tidak
mengetahui” dimana klien didekati oleh terapis dengan rasa penasaran dan rasa ketertarikan.
Terapis berperan aktif secara sosial dan membantu klien menempatkan dirinya melawan budaya
dominan yang menekan diri mereka. Terapi seringkali menerapkan elemen-elemen “tim
reflektif” atau “seremoni definisi” untuk memberikan banyak perspektif dalam proses terapi
(lihat West, Bubenzer, & Bitter, 1998).
Pembahasan singkat berikut mengenai berbagai macam pandangan sistemik dalam terapi
keluarga memberikan konteks dalam memahami perkembangan terapi keluarga. Tabel 14.1
menjabarkan perbedaan-perbedaan ini dalam perspektif historis. Untuk mengetahui pendekatan
terapi keluarga lebih mendalam, lihat Bitter (2009) Theory and Practice of Family Therapy and
Counseling. Lihat juga bacaan-bacaan anjuran di akhir bab.
Delapan Lensa Dalam Terapi Sistem Keluarga
Untuk melakukan proses terapi sistem keluarga yang memerlukan banyak perspektif di
dalamnya merupakan suatu hal yang sulit. Pada tahun 1992, Breunlin, Schwartz, dan MacKune-
Karrer (1997) memperkenalkan konsep kerangka meta sebagai kerangka yang memiliki posisi
di atas berbagai macam pendekatan terapi keluarga, dan mereka mengidentifikasi sebanyak enam
kerangka meta inti yang berperan sebagai lensa terapi. Keenam lensa ini memberikan enam
perspektif yang berbeda-beda di mana perspektif ini akan menjadi “denah proses terapi” untuk
tiap-tiap klien (hal.281).
TABEL 14.1 Perbandingan Enam Pandangan Sistemik dalam Terapi Keluarga
Terapi Keluarga
Adler
Terapi
Keluarga
Multi-
Generasi
Model
Proses
Validasi
Manusia
Terapi
Keluarga
SImbolis/Eks
perensial
Terapi
Keluarga
Struktural
Terapi
Keluarga
Strategis
Tokoh
Pentin
g
Afred Adler
Rudolf Dreikurs
Oscar Christen-
sen & Manford
Sonstegard
Murray
Bowen
Virginia
Satir
Carl
Whitak
e
r
Sa
lva
dor
Minuchin
Jay
Haley &
Cloé
Madan
e
s
Fokus
Waktu
Masa sekarang
dengan
beberapa
referensi
terhadap masa
Masa
sekarang
dan masa
lampau:asal
keluarga;tig
Masa
sekarang
dan disini
Masa
sekarang
Masa
sekarang
dan masa
lampau
Masa
sekarang
dan masa
Depan
lalu
a generasi
Tujua
n
Terapi
Menempatkan
orangtua
sebagai
pemimpin;mem
buka tujuan
yang salah dan
pola
interaksional
dalam
keluarga;mempr
omosikan cara
mengasuh
efektif
Membedak
an diri;
mengubah
individu
dalam
konteks
sistem;men
gurangi
rasa
kecemasan
Mengemb
angkan
pertumbuh
an diri,
kepercaya
an diri,
dan
koneksi;
membantu
keluarga
mencapai
kelancaran
komunikas
i dan
interaksi
Mengembang
kan sifat
spontanitas,
kreativitas,
otonomi, dan
kemampuan
untuk
bermain
Penyusuna
n ulang
keluarga;
mengubah
pola
transaksi
disfungsio
nal
Menghil
angkan
permasal
ahan di
masa
sekarang
;
menguba
h pola
disfungsi
onal;
menginte
rupsi
sekuensi
Peran
dan
fungsi
terapi
s
Pendidik;
investigator
motivasional;ko
laborator
Membimbi
ng; peneliti
objektif;
guru;
memonitor
reaktivitas
sendiri
Fasilitator
aktif;
detektif
sumber
daya;
model
untuk
kongruens
i
Pelatih
keluarga;pena
ntang; model
untuk
perubahan
melalui peran
“paman
yang
ramah”;
manager
panggung;
promotor
dari
perubahan
struktur
dalam
keluarga
Sutradara
aktif
perubahan
;
penyelesai
masalah
Proses
perub
ahan
Formasi
hubungan
berdasarkan
pada saling
menghormati;
penyelidikan
urutan kelhairan
dan tujuan
slaah, edukasi
kembali
Pertanyaan
dan proses
kognitif
mengantark
an pada
diferensiasi
dan
pemahaman
keluarga
origin
Keluarga
dibantu
untuk
bergerak
dari status
que
melalui
chaos
menuju
kemungki
nan baru
dan
integrasi
baru
Kesadaran
dan benih
perubahan
ditanam dalm
konfrontasi
terapi
Terapis
bergabung
dnegan
keluarga
dalam
sebuah
peran
kepemimpi
an;
mengubah
struktur;
mengatur
batasan
Perubahan
muncul
melalui
tindakan
orientasi
direktif
dan
intervesi
paradoxik
al
Teknik
Konstalasi
Genograms
Empati;
Co-terapi;
Bergabung
Membuat
dan
inovas
i
keluarga; hari
khas;
pembukaan
tujuan;
konsekuensi
natural/masuk
akal
;
berhadapan
dengan
masalah
keluarga-
origin;
mendetrian
gulasi
hubungan
menyentu
h;
kmunikasi
;
memahat;
permainan
peran;
kronologi
kehidupan
keluarga
pembukaan
diri;
konfrontasi;
menggunakan
diri sendiri
sebagai agen
perubahan
dan
mengakom
odasi; tidak
menyeimba
ngkan;
mengikuti
jejak;
pembuatan
batasan;pe
mbuatan
kembali
kerangka;
direktif
dan
paradoks;
memperbe
sar;
berpura-
pura;pemb
uatan
Pengaruh budaya dominan dalam keluarga serupa dengan pengaruh orangtua terhadap anaknya.
Pengaruh ini tidak dapat diabaikan. Melakukan peninjauan lingkaran kehidupan keluargadapat
memberikan manfaat yang bersifat remedial (menjelaskan perilaku yang dianggap sebagai
perilaku disfungsional) dan bersifat prefentif (menyiapkan sistem untuk melewati perubahan),
namun penting untuk diingat bahwa setiap keluarga itu sendiri juga merupakan proses
pengembangan individual, relasional, dan sosial. Terapi keluarga bertujuan untuk menantang
patriarki dan bentuk budaya keistimewaan dominan lainnya, bias, atau diskriminasi.
Perubahan tidak dapat dicegah, dan memang perubahan adalah hidup itu sendiri (Satier et
al., 2991). Dalam terapi keluarga, pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang ingin
dicapai. Kita bersikap optimis dan yakin terhadap perkembangan dan evolusi diri. Terapis
keluarga menangani kebutuhan diri sebagai individu dan memperhitungkan kebutuhan diri untuk
menjalin hubungan dengan keluarga dan sistem eksternal lebih besar. Dalam menilai berbagai
tingkatan diri yang berbeda-beda, terapis keluarga mencari batasan-batasan yang ada dalam diri
dan berusaha untuk menghilangkan batasan tersebut sehingga pertumbuhan dan transisi alami
perubahan dapat terjadi (Breunlin et al., 1997).
Lensa Multikultural
Diskriminasi dan opresi membentuk pengalaman dan gejala permasalahan, dan faktor-
faktor pengaruh ini dapat ditemukan dalam semua bentuk budaya. Budaya dominan bertujuan
untuk mencapai dua tujuan utama, keduanya terkait dengan kekuasaan: (a) budaya ini
mengembangkan nilai-nilai dominannya sendiri dan (b) mengurangi pengaruh dan kendali
pandangan alternatif serta mereka yang menganut pandangan tersebut (Foucault, 1970, 1980).
Dari pemahaman dasar inilah diskriminasi dan penindasan tercipta.
Di Amerika Serikat, pengaruh dominan adalah laki-laki, heteroseksual, kulit Kaukus,
berbahasa Inggris, Eurosentris, Kristen, berusia 35-50 tahun, kaya, dan berpendidikan. Naratif
historis kita dipenuhi dengan frasa-frasa seperti “hak suci raja,” “takdir,” atau “atas nama
kemajuan.” Semua frasa ini terkait dengan hak keistimewaan, yang mengasumsikan bahwa
mereka yang memiliki hak-hak keistimewaan ini dianggap sebagai “normal” dan “yang benar.
Sedangkan yang lain dianggap berada di luar kenormalan ini. Dalam setiap budaya kita dapat
melihat mereka yang memiliki sejumlah hak keistimewaan dan mereka yang mengalami
diskriminasi-mereka yang termarginalkan, tertindas, atau terasingkan.
Lensa multikultural ini menantang hak keistimiwaan budaya dominan dan menciptakan
keberagaman serta kompleksitas dalam pemahaman kita mengenai manusia. Dengan merangka
ulang budaya dominan sebagai tidak lebih dari salah satu bentuk budaya dari sekian banyak
budaya yang ada, rasa apresiasi dan penghargaan terhadap keberagaman pun bertumbuh.
McGoldrick, Giordano, dan Garcia-Preto (2005) menggambarkan sejumlah budaya Eropa yang
“tercampur” ke dalam budaya dominan, yaitu budaya “Amerika.” Kebergaman ini menantang
pemhaman bahwa hanya ada satu norma Barat yang benar. Sebagai terapis, kita menydari bahwa
perspektif diri kita mungkin bias dan bahwa perspektif kita sebagai terapis ini hanyalah salah
satu dari sekian banyak perspektif untuk memahami realitas.
Breunlin dan kawan-kawan (1997) menjelaskan pengalaman intrakultural dan
interkultural. Pengalaman intrakultural terjadi dalam sistem kultural itu sendiri. Pengalam ini
berperan sebagai definisi kultural, memberikan kesan kontinuitas dalam kehidupan masyarakat,
dan mengembangkan nilai-nilai khusus untuk budaya tersebut. Pengalaman intercultural terjadi
di antara sistem kultural. Pengalaman-pengalaman ini didasarkan atas keserupaan pengalaman
budaya-budaya lain.
Sepuluh area penilaian yang dapat membantu terapis keluarga dalam menghasilkan
perspektif multikultural dalam proses terapi mereka (Breunlin et al., 1997):
Status keanggotaan sebagai imigran dalam masyarakat dominan
Tingkat hak keistimewaan ekonomi atau kemiskinan
Etnis
Agama
Gender
Umur
Ras, diskriminasi, dan penindasan
Status minoritas vs status mayoritas
Latar belakang regional
Area-area penilaian ini memberikan makna fenomenologis yang mungkin berbeda untuk tiap-
tiap individu anggota keluarga dan bahkan untuk terapis itu sendiri. Terapis harus menyadari
area penilaian yang “sesuai” dan area penilaian yang berbeda dalam proses terapi yang mereka
lakukan. Dalam keluarga Stan, kecanduan alkohol yang terjadi dalam tingkat multigenerasi dapat
tercipta dari ekspektasi kultural tertentu terkait penggunaan berlebihan alkohol ini. Keluarga
berkebangsaan Irlandia mungkin akan memiliki pandangan berbeda dengan keluarga
berkebangsaan Arab terkait hal ini. Terapis keluarga harus memandang tiap keluarga melalui
lensa multikultural yang sesuai.
Lensa Gender
Bentuk diskriminasi dan penindasan tertua dan paling marak di dunia ini adalah
diskriminasi terhadap perempuan. Feminis tidak hanya menantang presepsi fundamental terapi
keluarga (Luepnitz, 1988), mereka juga menantang pemahaman bahwa berkeluarga itu sendiri
baik itu perempuan (Hare-Mustin, 1978). Perempuan masih merupakan pihak yang menanggung
tanggung jawab paling besar dalam pekerjaan terkait kepengurusan anak, kepengurusan
keluarga, rumah tangga, dan keterlibatan sosial dalam masyarakat. Secara finansial, perempuan
cenderung memperoleh pendapatan lebih sedikit daripada laki-laki, perempuan mungkin tidak
memiliki hak suara yang sama dengan laki-laki dalam penentuan keputusan finansial dalam
keluarga. Antara pria dan wanita, wanita cenderung lebih diharapkan untuk mengorbankan
dirinya demi kebaikan bersama.
Seperti yang anda telah ketahui dari Bab 12 dalam pembahasan terapi feminis, dampak
feminis terhadap terapi keluarga menciptakan sejumlah perombakan pemahaman ulang
(Silberstein & Goodrich, 2003). Terapis keluarga semakin menerima sikap advokasi sebagai
bagian dari proses terapi. Terapis tidak lagi mengabaikan pengaruh pribadi mereka dan tanggung
jawab diri mereka untuk menantang status dan sikap ketidaksetaraan terhadap perempuan. Posisi
keukasaan, seperti hirarki, kedekatan, dan ketidakseimbangan-perkataan yang selama ini
diasosiasikan dengan pendekatan struktural-strategis untuk keluarga selama bertahun-tahun-
secara perlahan digantikan dengan gagasan-gagasan baru terkait kepemimpinan, koneksi,
percakapan, dan kolaborasi.
Dalam kasus Stan, konsiderasi terhadap gender dapat membuat terapis meninjau ulang
peran stereotip yang Stan alami dan rasa harus ia turuti. Kita juga dapat memikirkan bagimana
ekspektasi maskulin diri Stan terkait kekuasaan dan kendali, pembatasan emosional, pencapaian
dan keberhasilan, serta persepsi dominan secara umum dapat mempengaruhi hubungannya
dengan perempuan.
Lensa Proses
Hal yang terjalin dalam tiap individu-proses komunikasi-pada dasarnya merupakan
model eksperensial terapi keluarga. Makna yang terbentuk dalam proses komunikasi terkandung
di dalam metakomunikasi: Bagaimana cara kita berkomunikasi mengkontekstualkan hal apa
yang kita harus katakan. Proses komunikasi ini juga mengenai pergerakan kita melewati berbagai
peristiwa penting dalam hidup. Proses kejelasan menjelaskan pada kita dimana kita berada saat
ini dan memperjelas kemana tujuan kita. Proses komunikasi ini membuat terapis dan klien
mengecek ulang dimana mereka saat ini dalam aliran kehidupan, proses perubahan, dan
pengalaman terapi itu sendiri.
Untuk berfungsi dengan baik, pasangan dan keluarga menciptakan rutinitas yang
membuat mereka dapat memenuhi kebutuhan dan keperluan kehidupan sehari-hari (Satir &
Bitter, 2000). Selama rutinitas ini membantu dan membuat kita mnejalani sistem kehidupan kita,
rutinitas ini dianggap sebagai penunjang status quo. Ketika rutinitas penting ini diganggu, akan
tercipta suatu disrupsi yang membuat sistem jadi tidak seimbang. Ketika menghadapi kejadian
disrupsi seperti ini, keluarga awalnya akan mencari keamanan, namun pada umumnya mereka
akan jatuh ke dalam kekacauan. Karena kekacauan ini dilihat sebagai suatu krisis, para anggota
keluarga seringkali ingin membuat keputusan besar meskipun semua hal di sekeliling mereka
berada dalam keadaan tidak seimbang. Terapis kemudian menjadi salah satu sumber daya
eksternal keluarga yang memiliki tujuan utama untuk membantu mereka yang menjadi klien
terhubung kembali dengan kekuatan dan sumber daya internal diri mereka sendiri, yang sering
tidak ditemukan.
Terlihat seperti sebuah paradoks, perubahan itu sendiri tercipta dengan menempatkan diri
pada keadaan sekarang dan tidak mengubah apapun. Dengan tetap berada dalam pengalaman dan
perasaan sekrang, mencari cara untuk menyeimbangkan diri, dan terhubung kembali dengan
bagian internal dan sumber daya eksternal diri, kita akan menjadi semakin mudah
mengembangkan kemungkinan-kemungkinan baru untuk diri kita. Dengan bantuan dan latihan,
kemungkinan baru ini menjadi integrasi baru diri kita-rutinitas baru, dan, dengan demikian,
status quo baru.
Ketika sumber disrupsi yang tercipta bersifat ekstrem seperti masalah perselingkuhan,
perceraian, atau kematian, terapis seringkali ditantang untuk menangani para anggota keluarga
yang berada dalam kekacauan. Contohnya, ketika istri Stan meninggalkannya, Stan pada
mulanya merasa hancur dan menyalahkan dirinya atas kegagalan ini. Dengan menggunakan
lensa proses, terapis akan menyadari rasa takut dan rasa sakit diri Stan, namun terapis juga akan
membuka dirinya untuk menelusuri perasaan-perasaan lain yang mungkin dirasakan oleh Stan,
seperti rasa dikhianati, kekecewaan, dan keputusasaan. Rute terlangsung untuk menemukan
perasaan-perasaan tambahan yang dimiliki klien ini dapat dicapai dengan cara tetap fokus pada
perasaan Stan di momen sekarang.
Proses terapi sangat terkait dengan proses perubahan. Carl Whitaker (1976, 1989) sering
bereksperimen dengan proses keluarga dan proses terapi. Ia melakukannya bersama ko-terapis
selama bertahun-tahun. Seperti kebanyakan terapis keluarga, ia menyadari bahwa sistem
memiliki pengaruh lebih kuat daripada individu-dan bahwa konselor keluarga bisa saja termasuk
ke dalam proses sistemik keluarga.
Whitaker menjadi sumber disrupsi yang membuat keluarga menjalani proses perubahan.
Dalam satu sesi terapi, ia mengatakan bahwa jika seorang perempuan mengalami gangguan
depresi, salah seorang anggota keluarganya pasti menginginkan dirinya mati (Whitaker &
Bumberry, 1988). Sistem intervensi ini melebihi hal yang pada mulanya klien ingin pikirkan dan
hal ini mengajak mereka ke dalam suatu perasaan tanggung jawab bersama terhadap kesehatan
sang perempuan. Proses pertanyaan yang sangat penting inilah yang menjadi inti terapi
Whitaker. Terapis keluarga dapat dikatakan mirip dengan antropologis sistem. Mereka
melihat tiap keluarga sebagai suatu kebudayaan unik dengan sifat-sifat tertentu yang harus
dipahami. Sama dengan sistem kultural yang lebih besar, keluarga juga memiliki bahasa unik
yang mengatur perilaku, komunikasi, dan bahkan cara merasa dan mengalami hidup. Keluarga
memiliki perayaan dan ritual tersendiri yang menandakan suatu transisi, menjaga ritual tersebut
agar tidak terganggu oleh interferensi luar, dan keluarga menghubungkan ritual tersebut dengan
masa lalu serta masa depan mereka.
Sama seperti proses diferensiasi yang bertujuan untuk memahmi keluarga kita sendiri-
untuk menjadi bagian di dalamnya-dan juga untuk terpisah dan menjadi diri kita sendiri, proses
memahami kebudayaan juga membuat terapis dan keluarga mengapresiasi keberagaman dan
membuat mereka juga dapat mengontekstualkan pengalaman keluarga tersebut dengan
kebudayaan yang lebih besar. Saat ini, terapis keluarga mengeksplor kebudayaan individu tiap
keluarga, kebudayaan lebih besar yang menjadi bagian dari anggota keluarga tsb, dan
kebudayaan utama yang mendominasi kehidupan keluarga itu sendiri. Terapis keluarga mencari
cara bagaimana kebudayaan dapat mengubah keluarga. Intervensi yang diterapkan pada keluarga
tifak lagi diterapkan secara unibersal, terlepas dari kebudayaan keluarga: akan tetapi, intervensi
yang diterapkan ini diadaptasikan dan bahkan didesain untuk sejalan dengan sistem kultural.
Kekurangan Perspektif Keberagaman
Karena adanya lensa multikultural dan pendekatan kolaboratif dalam terapi sistem
keluarga, maka akan sulit untuk menemukan kekurangan dari perspektif keberagaman ini. Model
terapi keluarga ini mengembangkan sikap, ilmu, dan keahlian yang penting dalam perspektif
multikultural. Mungkin kekhawatiran terbesar kebudayaan non Barat berkaitan dengan
keseimbangan antara individu dan kelompok dalam model pendekatan ini. Proses diferensiasi
terjadi dalam hampir setiap budaya, namun proses tersebut terjadi dalam bentuk dan norma
kultural yang berbeda. Contohnya, seorang remaja mungkin mampu memisahkan diri dari
keluarganya namun ia belum mampu keluar dari rumah. Ketika keluarga ras minoritas
berimigrsai ke Amerika Utara, anak-anak mereka cenderung menerapkan konsep diferensiasi
menurut Barat. Dalam kasus seperti ini, proses intragenerasional terapi akan sejalan jika terapis
peka terhadap asal akar kebudayaan keluarga. Meskipun pendekatan multilensa mendorong nilai-
nilai kebersamaan dan individualitas dari perspektif yang seimbang, terdapat banyak kebudayaan
non-Barat yang tidak sejalan dengan teori yang lebih mengutamakan individualitas daripada
keluarga dalam bentuk apapun. Kebudayaan-kebudayaan non Barat ini juga tidak akan memiliki
konsep waktu dan perasaan yang sama dengan kebudayaan-kebudayaan Barat. Akan tetapi,
terlepas dari model terapi yang digunakan, terapis harus menemukan cara untuk dapat masuk ke
dalam dunia keluraga dan menghargai tradisi-tradisi yang mendukung keluarga tersebut.
Hal yang dapat menjadi kekurangan terapi keluarga adalah jika terdapat terapis yang
berasumsi bahwa model keluarga Barat adalah model universal. Dan pada kenyaaannya, terdapat
banyak variasi kultural dalam stuktur, proses, dan komunikasi keluarga. Terapis keluarga
ditantang untuk memperluas pemahaman mereka tentang individual agar sejalan dengan peran
gender, sikulus kehidupan keluarga, dan keluarga luar. Sejumlah terapis keluarga befokus pada
keluarga inti, di mana pemahaman seperti ini sangat didasarkan pada pemahaman kebudayaan
Barat, dan hal ini dapat menjadi hambatan bagi terapis dalam menangani klien yang merupakan
anggota keluarga luar;bukan keluarga inti.
Terapi Keluarga dalam Kasus Stan
Proses penanganan Stan dalam
konteks ini, kita memasukkukan sejumlah
contoh proses seperti pembentukan
hubungan dan penggabungan, pembacaan
genogram Stan, penilaian multilensa,
pembentukan kerangka ulang, pengaturan
batasan dalam terapi, dan pewadahan
perubahan. Dalam terapi keluarga, terdapa
banyak model dan cara untuk menangani
keluarga. Proses yang digambarkan di sini
tidak mewakili cara paling benar
melakukan proses terapi sistem keluarga,
namun hanya merepresentasikan beberapa
kemungkinan cara dalam pendekatan
multilensa.
Dalam wawancara awal, terapis
keluarga akan menemui Stan untuk
mengeksplor permasalahan dan
kekhawatirannya dan untuk mengetahui diri
serta situasi hidup Stan lebih jauh lagi.
Ketika keduanya melakukan percakapan,
terapis menunjukkan rasa tertraik dan
penasaran dalam percakapan ini dan
memberikan rasa ketertarikan terhadap akar
keluarga permasalahan Stan. Dalam sesi
percakapan, terapis mengetahui bahwa Stan
masih berhubungan dekat dengan keluarga
dan saudara-saudaranya, meskipun
hubungan ini sangatlah sulit bagi dirinya.
Percakapan awal ini melibatkan
pengembangan genogram asal keluarga Stan
(lihat figur 14.1). Map ini akan memandu
terapis dan Stan untuk menelusuri orang-
orang serta proses yang mempengaruhi
kehidupan Stan.
Genogram Stan pada dasarnya
adalah gambaran keluarga, atau map sistem
asal-usul keluarganya. Dalam genogram ini,
kita kemudian mengethaui bahwa kakek-
nenek Stan masih hidup. Garis-garis yang
ada dalam kotak dan lingkaran kakek-nenek
Stan ini menunjukkan bahwa keduanya
mengidap kecanduan alkohol. Dalam kasus
Tom, Stan menceritakan bahwa Tom
merupakan pecandu alkohol yang menjadi
taat kembali kepada Yesus dan memperoleh
bantuan dari Kelompok Rehabilitasi
Pecandu Alkohol. Nenek Stan selalu ikut
mabuk bersama suaminya, namun ia tidak
mengaggap dirinya kecanduan. Akan tetapi,
beberapa tahun kemudian ia semakin sering
mengonsumsi alkohol dan alkohol inipun
menjadi sumber permasalahan rumah tangga
mereka. Stan juga tahu bahwa Margie sering
mengonsumsi alkohol karena Stan sendiri
sering minum bersama tantenya selama
bertahun-tahun. Tantenya ini merupakan
anggota keluarga yang memberikan Stan
minuman pertamanya.
Angie, ibu Stan, menikahi Frank Sr.
setelah ia berhenti mengonsumsi alkohol,
dengan bantuan kelompok AA. Frank Sr.
masih ikut dalam sesi pertemuan kelompok
rehabilitas pecandu alkohol. Angie memiliki
rasa kecurigaan terhadap semua pria yang
mengonsumsi alkohol. Ia marah kepada Stan
dan suami Judy, Matt, yang *juga
kecanduan alkohol*. Genogram ini
membuat terapis mudah melihat pola
permasalahan kecanduan alkohol dalam
keluarga Stan.
Garis /\/\/\/\ yang ada di antara Frank
Sr. dan Angie menunjukkkan adanya konflik
dalam hubungan mereka. Tiga garis ===
yang anda di antara Frank Sr. dan Frank Jr,
dan di antara Angie dan Karl, menunjukkan
hubungan yang sangat dekat di antara
keduanya. Garis ==== yang ada di antara
Karl dan Stan menunjukkan hubungan
dekat. Seperti yang kita dapat lihat, Karl
menghormati Stan dalam keluarga ini. Garis
titik-titik . . . . . yang ada di antara Frank Sr.
dan Stan dan di antara Frank Jr. dan Stan
menunjukkan hubungan jauh.
Karena terapis keluarga kemudian
mengetahui bahwa seluruh keluarga Stan ini
terlibat dalam permasalahan kecanduan
alkohol diri Stan sendiri, terapis
memanfaatkan sebagian besar waktu sesi
terapi pertama menelusuri kemungknan
apakah anggota keluarga Stan yang lain
dapat ikut dalam proses terapi. Stan
mungkin memiliki permasalahan lain,
namun saat ini permasalahan kecanduan
alkoholnya lah yang menjadi fokus utama.
Alkohol merupakan bagian negatif
hidupnya, dengan demikian, alkohol
memiliki arti sistemik dalam kehidupannya.
Alkohol ini mungkin merupakan awalan
permasalahan lain, namun saat ini alkohol
dilihat sebagai masalah tersendiri. Menurut
perspektif sistemik, pertanyaannya adalah
“Bagaimana permasalahan ini
mempengaruhi keluarga?” dan “Apakah
keluarga menggunakan permasalahan ini
dengan tujuan tertentu?”
Dalam sesi terapi pertama dengan
keluarga, fokus utama terapi keluarga adala
untuk menjalin hubungan dengan tiap
anggota keluarga, namun terdapat banyak
ragam pendekatn menjalin hubungan dengan
keluarga itu sendiri.
TERAPIS [kepada Frank Sr]: Saya tahu
bahwa anda merasa kesulitan datang ke sini,
tapi saya ingin anda tahu bahwa saya sangat
mengapresiasi kedatangan anda. Bisa anda
ceritakan bagaimana perasaan anda berada
di sini? [membentuk hubungan dengan
proses menggabungkan diri]
Frank Sr: Jujur, saya tidak terlalu senang.
[jeda] Dunia sekarang sangat berbeda
dengan dunia yang dulu. Konseling belum
ada 20 tahun lalu. Dulu saya kecanduan
alkohol, namun saya berhasil bebas dari
kecanduan tersebut. Saya berhenti-atas
kemauan saya sendiri. Itu yang harus
dilakukan Stan. Stan hanya harus berhenti.
Figur 14.1 Genogram Tiga Generasi Keluarga Stan
Terapi Keluarga untuk Kasus Stan (lanjutan)
TERAPIS: Saya dengar hidup anda
menjadi lebih baik tanpa alkohol, dan anda
ingin hidup Stan menjadi lebih baik juga.
[membingkai ulang]
Frank Sr: Ya. Saya ingin hidupnya
menjadi lebih baik lagi.
Terapis: Angie, bagaimana denganmu?
Bagaimana perasaan anda berada di sini?
[menjalin hubungan dengan tiap anggota
keluarga]
Angie: Sangat menyakitkan. Ia [merujuk
pada Frank Sr.] seakan-akan mengatakan
bahwa ia hanya perlu memunculkan
kemauan dirinya begitu saja dan
memutuskan untuk berhenti minum. Apa-
apaan itu. Saya mengancam untuk
meninggalkannya. Itulah yang sebenarnya
terjadi. Saya siap untuk bercerai! Dan
kami adalah katolik, yang tidak bercerai
(kemungkinan rangkaian tatap muka saat
keluarga tertekan dan berusaha untuk
menyelesaikan masalah)
TERAPIS : jadi kamu telah melalui ini
sebelumnya.
ANGIE: oh, iya. Ibu dan ayahku peminum.
Ayahku masih melakukannya. Kakak
perempuanku tidak ingin mengakuinya,
tetapi dia peminum berat. Dia gila akan hal
itu. Suami Judy memiliki masalah. Saya
dikelilingi oleh alkoholik. Saya sangat
marah. Saya berharap mereka semua mati
saja atau pergi jauh. (kemungkinan
rangkaian keluarga trangenerasional;
sebuah jalan untuk mengeksplor nilai,
keyakinan dan aturan)
TERAPIS : jadi, ini adalah hal yang telah
dihadapi keluarga untuk waktu yang lama.
ANGIE : tidak semua orang. Saya tidak
minum. Frankie dan Judy tidak minum.
Dan karl nampaknya tidak memiliki
masalah.
TERAPIS : apakah keluarga dibagi seperti
itu: ada yang minum dan yang tidak?
(kemungkinan aplikasi lensa organisasi)
JUDY : Minum bukanlah satu satunya
masalah yang kami miliki. Ini mungkin
bukanlah yang terpenting.
TERAPIS : beritahukan saya akan hal itu.
JUDY : Stan selalu kesulitan. Saya turut
sedih. Frankie adalah kesayangan ayah
(Frank memprotes, mengatakan bahwa dia
tidak memiliki kesayangan), dan hal-hal
selalu mudah bagi saya. Dan Karl, dia
mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia
adalah kesayangan ibu. Ibu dan Ayah telah
banyak bertengkar selama bertahun-tahun.
Tidak ada dari kami yang bahagia, tetapi
Stan mengalami yang terburuk. (lagi,
kemungkina aplikasi lensa rangkaian dan
organisasi)
FRANK JR : yang saya ingat, Stan banyak
melawan Ayah dan Ibu. Dia selalu
membuat masalah dengan banyak cara.
TERAPIS : Frankie, ketika ayah kamu
berbicara sebelumnya, saya merasa dia
memiliki beberapa kekecewaan tentang
Stan juga, tetapi dia juga ingin melihat hal
baik terjadi padanya. Apakah hal tersebut
juga sama denganmu? (membuat kembali
kerangka dari komentar Franki,
mempertahankan fokus pada kemungkin
baru dan hubungan baru yang mungkin
dapat dikembangkan)
FRANK JR : iya, saya ingin hidupnya
lebih baik
Bagian awal dari konseling ini telah
ditujuan untuk menemui anggota keluarga,
mendengarkan secara seksama pada
perspekif berganda yang mereka berikan,
dan merangkaikan kembali masalah Stan
ke dalam sebuah keinginan keluarga untuk
hasil yang positif. Meskipun tidak ada cara
yang panjang untuk dilakukan, benih
perubahan telah ditanam. Terdapat bukti
dalam interaksi awal in bahwa masalah
Stan memiliki konteks multigenerasional.
Jika konten ini dieksplor, rangkaian
keluarga yang mendukung dan
mempertahankan alkohol sebagai sebuah
masalah dapat diidentifikasi. Hal ini
mungkin untuk mengikuti jejak dari
interaksi ini dan untuk bekerja menuju
komunikasi yang lebih kongruen. Dengan
memasukkan rangkaian relasional,
organisasional, dan berkembang dapat
dieksplor sebagai alat untuk membebaskan
keluarga untuk kemungkinan-
kemungkinan baru dalam kehidupan
mereka bersama. Diantara kemungkinan
lain, yang masih harus dieksplor adalah
perspektif yang berhubungan dengan
gender dan budaya. Jika terapis hanya
mendengarkan pada Stan, hanya satu
pandangan yang akan menjadi bukti.
Dalam sesi keluarga ini, perspektif
berganda dan keseluruhan proses interaktif
menjadi jelas dalam waktu yang sangat
singkat.
Ketika wawancara keluarga
berjalan, sejumlah kemungkinan disajikan
untuk dipertimbangkan. Terapis
mempertimbangkan dan dapat membuat
struktur terapis pada salah satu atau semua
kemungkinan berikut:
1. Ornag tua Stan tidak berperan
dengan baik dalam hal kepemimpinan
kelompok untuk waktu yang lama, dan
baik hubungan pasangan maupun keluarga,
keduanya bermasalah.
2. Saudara kandung yang telah
dewasa memerlukan kesempatan baru
untuk berperan bersama tanpa pengaruh
dan gangguan dari orang tua mereka.
3. Stan telah direndagkan kesebuah
bagian tunggal (bagian alkoholok), dan
deskirpsi dan pengalamanya harus
diperluas- baik dari perspektifnya maupun
dari mata orang lain.
Sebuah tempat baru bagi Stan di dalam
keluar, sebuah cara baru dalam berelasi,
dan kemampuan untuk mengakses bagian
"hilang" dari sistem internalnya penting
untuk memenangkan peperangannya
melawan alkohol. Ketika terapi berjalan,
menjadi jelas bahwa dua hipotesis
relasional-organisasi yang terpisah harus
dieksplor. Salah satunya adalah hubungan
pasangan telah didefinisikan oleh masalah
alkohol juga, dan hal ini tidak dilibatkan
atau dikembangkan dalam cara positif
apapun selama bertahun-tahun. Dua,
rangkaian transgenerasi telah menargetkan
Stan dan menugaskannya pada peran
tertentu yang telah diharapkan untuk
diperankan yang telah menahan
perkembangan masa lalu di awal atau akhir
keremajaannya, yang merupakan masa
dimana dia mulai minum.
Tindak Lanjut: Anda lanjut sebagai terapis
keluarga Stan
Gunakan pertanyaan ini untuk membantu
anda berpikir tentang bagaimana anda
akan memberikan konsultasi pada Stan
dari perspektif sistem keluarga:
" Nilai untuk apa yang anda lihat
dalam bekerja dnegan Stan dari perspektik
multilensa, sistemik sebagai lawan dari
pendekatan terapi individu?
" Bagian internal apa yang dapat
diakses kembali oleh Stan saat dia
melanjutkan terapi? Bagian apa dari
dirinya yang mungkin dipolarisasi?
" Anggap bahwa Stan berhasil
membawa setidaknya beberapa anggota
keluarganya ke sesi yang lain, dari mana
anda akan mulai? Jika demikian,
bagaimana anda akan melakukannya?
" Apa cara-cara spesifik untuk
mengeksplor lensa lain dnegan keluarga
ini?
" Hipotesisi apa yang anda sedang
kembangkan, dan bagaimana anda akan
membaginya dengan keluarga?
" Apakah intervensi sistemik ini,
yang anda akan dapati dapat diharapkan
dalam hal memfasilitasi perubahan?
Kesimpulan dan Evaluasi
Mari pertama-tama mereview tema yang menyatukan banyak pendekatan pada terapi
keluarga, dengan penekanan khusus pada pendekatan multilensa.
ASUMSI DASAR Jika kita berharap untuk bekerja secara terapi dengan seorang individu,
penting untuk mempertimbangkannya di dalam sistem keluara. Perilaku problematik dari
seorang individu tumbuh dari unit interaksional keluarga sama halnya dengan sistem sosial
dan masyarakat yang lebih luas.
FOKUS TERAPI KELUARGA kebanyakan terapi keluarga cenderung singkat karena
keluarga yang mencari bantuan profesional sering kaling mengingin resolusi dari beberapa
gejala problematik. Mengubah sistem dapat menstimulasi perubahan dengan cepat. Selain
singkat, fokus soulis, dan orientasi-tindakan, terapi keluarga cenderung berhadapan dengan
interaksi saat ini. Satu cara dimana terapi keluarga berbeda dari banyak terapi individu dan ia
menekankan pada bagaimana relasi keluarga saat ini berkontribusi pada perkembangan dan
pertahanan gejala.
PERAN TUJUAN DAN NILAI Tujuan spesifik ditentukan oleh orientasi praktisi atau oleh
proses kolaboratif antara keluarga dna terapis. Tujuan global mencakup penggunaan
intervensi yang memungkinkan individu dan keluarga untuk berubah dengan caraya yang
akan mengurangi tekanan mereka. terikat pada pertanyaan akan apa tujuan yang harus
membimbing intervensi terapis adalah pertanyaan akan nilai terapis. Terapi keluarga
didasarkan pada serangkaian nilai dan asumsi teoritikal. Akhirnya, setiap intervensi yang
dibuat oleh terapis adalah ekspresi dari penilaian nilai. Penting bagi terapis, tanpa
mempertimbangkan orientasi teoritikalnya, untuk sadar akan nilai mereka dan memonitor
bagaimana nilai ini mempengaruhi praktik mereka dengan keluarga.
BAGAIMANA KELUARGA BERUBAH sebuah pendekatan integratif pada praktif terapi
keluarga mencakup prinsip terbimbing yang membantu terapis mengorganisasikan tujuan,
interaksi, observasi, dan cara untuk mempromosikan perubahan. Beberapa perspektif dari
terapi sistem keluarga berfokus pada perubahan perseptual dan kognitif, yang lain umumnya
berhubungan dengan perubahan perasaan, dan teori lainnya menekankan pada perubahan
perilaku. Tanpa mempertimbangkan lensa diamna terapi keluarga beroperasi, perubahan
harus terjadi dalam hubungan, bukan hanya individu.
TEKNIK TERAPI KELUARGA strategi intervensi yang digunakan oleh terapis dianggap
sejalan dengan ciri personal mereka. Goldenberg dan Goldenberg (2008) dan Nichols (2006,
2007)menekankan bahwa teknik adalah alat untuk mencapai tujuan terapi tetapi strategi
intervensi ini tidak menjadi sebuah keluarga terapis. Karakteristi personal seperti rasa hormat
kepada klien, kasih sayang, empati, sensitivitas adalah kualitas manusia yang mempengaruhi
sikap dimana teknik dilakukan. Hal ini juga penting untuk memiliki dasar pemikiran atas
teknik yang digunakan, dengan beberapa rasa akan hasil yang diharapkan. Dihadapkan
dengan pemenuhan kebutuhan praktik klinik, para praktisi akan butuh untuk fleksibel dalam
memilih strategi intervensi. Pertimbangan inti adalah apa yang terbaik bagi keluarga.
Pendekatan multilensa pada terapi keluarga lebih kompleks dari pada fokus
tunggal.setidaknya pada mulanya, beberapa kepercayaan diri dan kejelasan yang mungkin
dicapai dari satu pendekatan mungkin hilang, tetapi pada waktunya fleksibilitas untuk
mengubah arah adalah sebuah aset. Kita telah menyajikan sebuah struktur bagi terapi yang
berguna lintas model. Kita telah mengintegrasikan sub struktur untuk penggunaan perspektif
berganda (lensa) dalam kajian, membuat hipotesis, dan memfasilitasi perubahan. Dan kita
telah menggambarkan sebuah proses kolaboratif untuk terapi dimana baik keluarga maupun
terapis berbagi pengaruh berdasarkan pada kebutuhan situasi. Ini adalah harapn kita bahwa
bab ini memberikan anda cukup pengantar bidang yang beragam dari terapi keluarga
sehingga anda ingin belajar lebih melalui bacaan juga dengan menonton banyak video yang
tersedia saat ini.
Kontribusi Pendekatan Sistem Keluarga
Salah satu kontribusi kunci dari pendekatan yang paling sistemik bukanlah individu atau
keluarga yang disalahkan untuk sebuah disfungsi tertentu. Keluarga didukung melalui proses
mengidentifikasi dan mengeksplor pola interaksional internal, berkembang, dan bertujuan. Di
saat yang sama, sebuah perspektif sistem mengenali bahwa individu dan keluarga
dipengaruhi oleh kekuatan dan sistem eksternal, diantaranya adalah penyakit, pergeseran pola
gender, budaya, dan pertimbangan sosio- ekonomi. Jika perubahan muncul dalam keluarga
atau dengan indiviu, terapis harus sadar akan banyak sistem pengaruh yang mungkin ada.
Kebanyakan terapis individual mempertimbangkan buku teks ini tidak dapat
memberikan fokus utama pada faktor sistemik yang mempengaruhi individu. Terapi keluarga
mendefinisikan kembali individu sebagai sebuah sistem yang terlibat di dalam banyak sistem
lainnya, yang membawa sebuah perspektif yang sepenuhnya berbeda pada pengkajian dan
perlakuan. Sebuah manfaat dari pandangan ini adalah individu bukanlah kambing hitam
sebagai "orang jahat" dalam keluarga. Malahan, menyalahan "pasien teridentifikasi" atau
keluarga, seluruh keluarga memiliki kesempatan (a)untuk mengkaji perspektif dan pola
interaksional yang mencirikan unit dan (b) untuk berpartisipasi dalam menemukan solusi.
Keterbatasan dan Kritik terhadap Pendekatan Sistem Keluarga
Pada masa-masa awal terapi keluarga, terapis sering tersesat dalam pertimbangan mereka
tentang "sistem." Dalam mengadopsi bahasa sistem, terapis mulai menggambarkan dan
menganggap keluarga terdiri dari "dua" dan "tiga serangkai"; sebagai "fungsional" atau
"disfungsional," "terhambat" atau "lancar," dan "terperangkap" atau "terlepas"; serta
menampilkan hasil "positif" dan "negatif" dan "putaran umpan balik." Seolah-olah keluarga
itu mesin yang diminyaki dengan baik atau mungkin komputer yang kadang-kadang rusak.
Seperti halnya mudah untuk memperbaiki mesin tanpa pertimbangan emosional dari bagian-
bagian yang terlibat, beberapa terapis pendekatan sistem keluarga bekerja dengan sedikit
perhatian terhadap individu-individu selama "keseluruhan" keluarga "berfungsi" lebih baik.
Penetapan, percobaan, dan intervensi paradoks sering "dilakukan untuk" klien- yang kadang-
kadang bahkan tanpa sepengetahuan mereka (lihat Haley, 1963, 1976, 1984; Minuchin &
Fishman, 1981; Selvini Palazzolli, Boscolo, Cecchin, & Prata, 1978).
Kaum feminis mungkin adalah kelompok pertama, tetapi bukan satu-satunya, yang
menyesali hilangnya perspektif pribadi dalam kerangka kerja sistemik. Saat bidang ini
bergerak menuju integrasi kerangka kerja individu dan sistemik, penting untuk
menginvestasikan kembali bahasa terapi dengan terminologi emosional manusia yang
menghormati posisi orang-orang nyata dalam keluarga.
2. Ke mana Langkah Setelah Ini
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang terapi pendekatan sistem keluarga, bergabunglah
dengan Asosiasi Internasional Pernikahan dan Konselor Keluarga (IAMFC), sebuah divisi
dari ACA. Family Journal adalah jurnal resmi IAMFC, dan bertujuan untuk memajukan teori,
penelitian, dan praktik konseling dengan pasangan dan keluarga dari perspektif sistem
keluarga. Selain manfaat keanggotaan lainnya, anggota IAMFC menerima langganan pada
The Family Journal. Untuk informasi lebih lanjut tentang asosiasi ini, hubungi:
International Association of Marriage and Family Counselors
Situs web: www.iamfc.com.
Pilihan lain adalah bergabung dengan American Association for Marriage and Family
Therapy, yang memiliki kategori keanggotaan siswa. Anda harus mendapatkan aplikasi
resmi, termasuk nama-nama dari setidaknya dua Anggota Klinis agar asosiasi dapat meminta
dukungan resmi. Anda juga memerlukan pernyataan yang ditandatangani oleh koordinator
atau direktur program pascasarjana dalam terapi pernikahan dan keluarga di lembaga
pendidikan terakreditasi regional, yang memverifikasi pendaftaran Anda saat ini.
Keanggotaan siswa dapat diadakan sampai penerimaan gelar pascasarjana yang memenuhi
syarat atau selama maksimal 5 tahun. Anggota menerima Journal of Marital and Family
Therapy, yang diterbitkan empat kali setahun, dan berlangganan enam edisi tahunan The
Family Therapy Magazine. Untuk salinan Kode Etik AAMFT, aplikasi keanggotaan, dan
informasi lebih lanjut, hubungi:
American Association for Marriage and Family Therapy
112 South Alfred Street
Alexandria, VA 22314-3061
Telepon: (703) 838-9808
Faks: (703) 838-9805
Situs web: www.aamft.org
Bacaan Tambahan yang Disarankan
Ethnicity and Family Therapy
(McGoldrick, Giordano, & Garcia-Preto,
2005) adalah sebuah karya pada budaya
dalam terapi keluarga. Para penulis
meninjau pentingnya pertimbangan budaya
dalam kaitannya dengan terapi keluarga
dan memberikan bab tentang latar
belakang, penelitian, dan masalah terapi
lebih dari 15 budaya.
Theory and Practice of Family Therapy
and Counseling (Bitter, 2009) adalah buku
teks komprehensif yang berupaya
mengembangkan pertumbuhan pribadi dan
profesional dalam praktisi keluarga serta
mengarahkan pembaca ke teori-teori yang
membentuk bidang terapi dan konseling
keluarga.
Family Therapy Basics (Worden, 2003)
menawarkan panduan praktis untuk
melakukan wawancara keluarga,
menekankan masalah klinis umum, dan
berfungsi sebagai batu loncatan untuk
diskusi klinis dan teoritis.
Family Therapy: Concepts and Methods
(Nichols, 2006) adalah teks berbasis
AAMFT yang mencakup tujuh model
sistem keluarga kontemporer utama. Bab
terakhir menyajikan integrasi tema kunci
di antara beragam pendekatan untuk terapi
keluarga.
Family Therapy: History, Theory, and
Practice (Gladding, 2007) adalah tinjauan
umum model terapi keluarga dan
intervensi terapeutik yang dirancang untuk
konselor yang terkait dengan ACA.
Family Therapy: An Overview
(Goldenberg & Goldenberg, 2008)
memberikan tinjauan dasar yang sangat
baik dari perspektif kontemporer tentang
terapi keluarga.
Metaframeworks: Transcending the
Models of Family Therapy (Breunlin,
Schwartz, & MacKune-Karrer, 1997)
adalah dasar untuk pendekatan multilensa
untuk memahami keluarga dan sistem
yang lebih besar di mana mereka tertanam.
Cetak biru untuk terapi keluarga integratif
pun disediakan.
The Practice of Family Therapy: Key
Elements Across Models (Hanna, 2007)
berfokus pada keragaman terapi keluarga
dan mengintegrasikan unsur-unsur umum
dari lapangan. Ini juga berkaitan dengan
penilaian terapi keluarga dan keterampilan
perawatan.
Theories and Strategies of Family Therapy
(Carlson & Kjos, 2002) adalah presentasi
komprehensif model terapi keluarga
dengan bab-bab yang ditulis oleh orang-
orang yang mempraktikkan apa yang telah
mereka tunjukkan dalam seri video
berjudul Family Therapy With the Experts
(Carlson & Kjos, 1999).
Referensi dan Bacaan yang Disarankan
DLER, A. (1927).
Understanding human nature (W. B.
Wolfe, Trans.). New York: Fawcett.
AMERICAN PSYCHIATRIC
ASSOCIATION. (2000). Diagnostic and
statistical manual of mental disorders (4th
ed., text revision). Washington, DC:
Author.
ANDERSEN, T. (1987). The reflecting
team: Dialogue and metadialogue in
clinical work. Family process, 26(4), 415-
428.
ANDERSEN, T. (1991). The reflecting
team: Dialogues and dialogues about the
dialogues. New York: Norton.
ANDERSON, H. (1993). On a roller
coaster: A collaborative language system
approach to therapy. In S. Friedman (Ed.),
The new language of change (pp. 324-
344). New York: Guilford Press.
*ANDERSON, H., & GOOLISHIAN, H.
(1992). The client is the expert: A not-
knowing approach to therapy. In S.
McNamee & K. J. Gergen (Eds.), Therapy
as social construction (pp. 25-39).
Newbury Park, CA: Sage.
*BECVAR, D. S., & BECVAR, R. J.
(2006). Family therapy: A systemic
integration (6th ed.). Needham Heights,
MA: Allyn & Bacon.
BITTER, J. R. (1991). Conscious
motivations: An enhancement to Dreikurs'
goals of children's misbehavior. Individual
Psychology, 47(2), 210-221.
BITTER, J. R. (1993a). Communication
styles, personality priorities, and social
interest: Strategies for helping couples
build a life together. Individual
Psychology, 49(3-4), 330-350.
BITTER, J. R. (1993b). Satir's parts party
with couples. In T. S. Nelson & T. S.
Trepper (Eds.), 101 interventions in family
therapy (pp. 132-136). New York:
Haworth Press.
*BITTER, J. R. (2009). Theory and
practice of family therapy and counseling.
Belmont, CA: Brooks/ Cole.
*BITTER, J. R., ROBERTS, A., &
SONSTEGARD, M. A. (2002). Adlerian
family therapy. In J. Carlson & D. Kjos
(Eds.), Theories and strategies of family
therapy (pp. 41-79). Boston: Allyn &
Bacon.
BOWEN, M. (1978). Family therapy in
clinical practice. New York: Jason
Aronson.
*BREUNLIN, D. C., SCHWARTZ, R. C.,
& MACKUNEKARRER, B. (1997).
Metaframeworks: Transcending the
models of family therapy (Rev. ed.). San
Francisco: Jossey-Bass.
CARLSON, J., & KJOS, D. (Producers &
Moderators). (1999). Family therapy with
the experts: Instruction, demonstration,
discussion [videotape series]. Boston:
Allyn & Bacon.
*CARLSON, J., & KJOS, D. (Eds.).
(2002). Theories and strategies of family
therapy. Boston: Allyn & Bacon.
*CARLSON, J., SPERRY, L., & LEWIS,
J. A. (2005). Family therapy techniques:
Integrating and tailoring treatment.
Belmont, CA: Brooks/Cole.
*CARTER, B., & MCGOLDRICK, M.
(2005). The expanded family life cycle:
Individual, family and social perspectives
(3rd ed.). Needham Heights, MA: Allyn &
Bacon.
*CHRISTENSEN, O. C. (Ed.). (2004).
Adlerian family counseling (3rd ed.).
Minneapolis, MN: Educational Media
Corp. (Original work published 1983)
DREIKURS, R. (1950). The immediate
purpose of children's misbehavior, its
recognition and correction. Internationale
Zeitschrift fur Individual psychologie, 19,
70-87.
DREIKURS, R. (1973). Counseling for
family adjustment. In R. Dreikurs,
Psychodynamics, psychotherapy, and
counseling (Rev. ed.). Chicago: Alfred
Adler Institute. (Original work published
1949)
DREIKURS, R. (1997). Holistic medicine.
Individual Psychology, 53(2), 127-205.
*DREIKURS, R., & SOLTZ, V. (1964).
Children: The challenge. New York:
Hawthorn.
EPSTON, D., & WHITE, M. (1992).
Consulting your consultants: The
documentation of alternative knowledges.
Dalam Experience, contradiction, narrative
and imagination: Selected papers of David
Epston and Michael White, 1989-1991
(pp. 11-26). Adelaide, South Australia:
Dulwich Centre.
FOUCAULT, M. (1970). The order of
things: An archaeology of the human
sciences. New York: Random House.
FOUCAULT, M. (1980).
Power/knowledge: Selected interviews and
other writings. New York: Pantheon
Books.
GERGEN, K. J. (1991). The saturated self:
Dilemmas of identity in contemporary life.
New York: Basic Books.
*GLADDING, S. T. (2007). Family
therapy: History, theory, and practice (4th
ed.). Upper Saddle River, NJ:
Merrill/Prentice-Hall
*GOLDENBERG, I., & GOLDENBERG,
H. (2008).Family therapy: An overview
(7th ed.). Belmont, CA: Brooks/Cole.
GOTTMAN, J. M. (1999). The marriage
clinic: A scien- ti?cally based marital
therapy. New York: Norton.
HALEY, J. (1963). Strategies of
psychotherapy. New York: Grune &
Stratton.
HALEY, J. (1976). Problem-solving
therapy: New strategies for effective
family therapy. San Francisco:Jossey-
Bass.
HALEY, J. (1980). Leaving home.
New York:
McGraw-Hill.
HALEY, J. (1984). Ordeal therapy. San
Francisco:
Jossey-Bass.
HALEY, J., & RICHEPORT-HALEY, M.
(2003). The art
of strategic therapy. New York: Brunner
Routledge.
HALEY, J., & RICHEPORT-HALEY, M.
(2007). Di-
rective family therapy. New York: The
Haworth
Press.
*HANNA, S. M. (2007). The practice
of family
therapy: Key elements across models
(4th ed.).
Belmont, CA: Brooks/Cole.
*HARE-MUSTIN, R. T. (1978). A
feminist approach
to family therapy. Family Process, 17(2),
181-194.
KEFIR, N. (1981). Impasse/priority
therapy. In
R. J. Corsini (Ed.), Handbook of
innovative psy-
chotherapies (pp. 401-415). New York:
Wiley.
*KERR, M. E., & BOWEN, M. (1988).
Family evalu-
ation: An approach based on Bowen
theory. New
York: Norton.
*LUEPNITZ,D.A.(1988). The family
interpreted:Feminist
theory in clinical practice. New York:
Basic Books.
*MADANES, C. (1981). Strategic family
therapy. San
Francisco: Jossey-Bass.
MADANES, C. (1990). Sex, love, and
violence: Strat-
egies for transformation. New York:
Norton.
*MCGOLDRICK, M., GERSON, R., &
SHELLEN-
BERGER, S. (1999). Genograms:
Assessment and
intervention (2nd ed.). New York: Norton.
*MCGOLDRICK, M., GIORDANO, J.,
& GARCIA-
PRETO, N. (Eds.). (2005). Ethnicity and
family
therapy (3rd ed.). New York: Guilford
Press.
*MINUCHIN, S. (1974). Families and
family therapy.
Cambridge, MA: Harvard University
Press.
*MINUCHIN, S., & FISHMAN, H. C.
(1981). Fam-
ily therapy techniques. Cambridge, MA:
Har-
vard University Press.
*NICHOLS, M. P. (with SCHWARTZ,
R. C.).
(2006). Family therapy: Concepts and
methods
(7th ed.). Boston: Allyn & Bacon.
*NICHOLS, M. P. (with SCHWARTZ,
R. C.). (2007). The essentials of family
therapy (3rd ed.). Boston: Allyn & Bacon.
POLSTER, E. (1995). A population of
selves: A ther- apeutic exploration of
personal diversity. San Francisco: Jossey-
Bass.
ROGERS, C. R. (1980). A way of
being. Boston: Houghton Mif?in.
*SATIR, V. (1983). Conjoint family
therapy (3rd ed.).
Palo Alto, CA: Science and Behavior
Books.
*SATIR, V. (1988). The new
peoplemaking. Palo Alto,
CA: Science and Behavior Books.
*SATIR, V. M., BANMAN, J.,
GERBER, J., &
GAMORI, M. (1991). The Satir model:
Family
therapy and beyond. Palo Alto, CA:
Science and
Behavior Books.
*SATIR, V. M., & BITTER, J. R. (2000).
The thera-
pist and family therapy: Satir's human
valida-
tion process model. In A. M. Horne (Ed.),
Fam-
ily counseling and therapy (3rd ed., pp. 62-
101).
Itasca, IL: F. E. Peacock.
SCHWARTZ, R. (1995). Internal family
systems ther-
apy. New York: Guilford Press.
SELVINI PALAZZOLI, M., BOSCOLO,
L., CECCHIN,
F. G., & PRATA, G. (1978). Paradox and
counter-
paradox. Northvale, NJ: Aronson.
SILVERSTEIN, L. B., & GOODRICH,
T. J. (2003).
Feminist family therapy: Empowerment in
social
context. Washington, DC: American
Psycho-
logical Association.
WEST, J. D., BUBENZER, D. L., &
BITTER, J. R. (Eds.).
(1998). Social construction in coupleand
family coun-
seling. Alexandria, VA: ACA/IAMFC.
WHITAKER, C. A. (1976). The hindrance
of the-
ory in clinical work. In P. J. Guerin Jr.
(Ed.),
Family therapy: Theory and practice. New
York:
Gardner Press.
*WHITAKER, C. A. (1989). Midnight
musings of a
family therapist [M. O. Ryan, Ed.]. New
York:
Norton.
*WHITAKER, C. A., & BUMBERRY, W.
M. (1988).
Dancing with the family: A symbolic-
experiential
approach. New York: Brunner/Mazel.
*WHITE, M. (1997). Narratives of
therapists' lives.
Adelaide, South Australia: Dulwich
Centre.
*WHITE, M., & EPSTON, D. (1990).
Narrative means
to therapeutic ends. New York: Norton.
(Original
title Linguistic means to therapeutic ends)
*WORDEN, M. (2003). Family therapy
basics (3rd ed.).
Paci?c Grove, CA: Brooks/Cole.
Halaman ini sengaja dikosongkan
I
nt
e
g
r
asi
dan
Penerapan
1
5
Sebuah Perspektif Integratif
44
7
1
6
Ilustrasi Kasus:
Pendekatan
Integratif dalam
Menangani Stan
4
83
Halaman ini sengaja dikosongkan
BAB LIMA BELAS
Sebuah Perspektif Integratif
Pengantar
Pergerakan Menuju Intergrasi
Psikoterapi
Masa Depan Orientasi Psikoterapi:
Beberapa Prediksi
Integrasi Masalah Multikultural
dalam Konseling
Integrasi Masalah Spritual/Agama
dalam Konseling
Tantangan Mengembangkan
Sebuah Perspektif Integratif
Masalah yang Berkaitan dengan
Proses Terapi
Tujuan Terapi
Fungsi dan Peran Terapis
Pengalaman Klien dalam Terapi
Hubungan antara Terapis dan Klien
Tempat Teknik dan Evaluasi
dalam Konseling
Mengambil Teknik dari Beragam
Pendekatan
Mengevaluasi Keefektifan
Konseling dan Terapi
Kesimpulan
Kemana Pergi dari sini
Bacaan Tambahan yang
Direkomendasikan
Referensi dan Bacaan yang
disarankan
Pengantar
Bab ini akan membantu anda berpikir tentang area persamaan dan perbedaan diantara 11
sistem terapi yang terdapat dalam buku ini. Meskipun pendekatan ini semuanya memiliki
beberapa tujuan yang sama, mereka memiliki banyak perbedaan mengenai rute terbaik
untuk mencapai tujuan. Beberapa terapis menempatkan pendirian aktif dan direktif pada
bagian terapis, yang lain menempatkan nilai pada klien menjadi agen aktif. Beberapa
terapis berfokus mengeluarkan perasaan, yang lainnya menekankan pada
pengidentifikasian pola kognitif, yang lainnya lagi berkonsentari pada perilaku saat ini.
Tantangan kunci adalah untuk menemukan cara untuk mengintegrasikan ciri tertentu dari
tiap pendekatan sehingga anda dapat bekerja dengan klien pada semua tiga tingkatan
pengalaman manusia.
Bidang psikoterapi dicirikan oleh model khusus yang beragam. Dengan semua
keberagaman ini, apakah ada harapan bahwa seorang praktisi dapat mengembangkan
keahlian di semua teknik yang ada? Bagaimana siswa memutuskan teori mana yang
relevan dengan praktik?dan apa dasar untuk memutuskan metode mana yang paling efektif
untuk klien tertentu? Menurut John Norcross (Komunikasi Personal, Februari 15, 2007),
nampaknya itu adalah kebiasaan hari ini untuk mengkombinasikan teknik terbaik dan
penggunaan komponen sama dari teori teori utama konseling dan psikoterapi. Namun,
mencari penggunaan komponen sama masih relatif baru. Para praktisi telah berjuang untuk
mendapatkan cara “terbaik” untuk membahas perubahan kepribadian kembali pada karya
Freud. Selama beberapa dekade, konselor menolak integrasi, seringkali poin mengabaikan
validitas dari teori alternatif dan mengabaikan keefektifan metode dari sekolah teoritikal
lainnya. Sejarah awal konseling penuh dengan perang teoritis. Hanya baru-baru ini banyak
praktisi telah secara serius mempertimbangkan untuk mengintegrasikan ide-ide terbaik
dari beragam sekolah dan bukannya mencari teori terbaik.
Sejak awal 1980an, integrasi psikoterapi telah berkembang kedalam sebuah bidang
yang tergambarkan dengan jelas. Sekarang ini adalah sebuah pergerakan yang dihormati
dan terbangun yang berdasarkan pada pengkombinasian orientasi berbeda yang terbaik
sehingga lebih banyak model teoritis lengkap yang dapat dinyatakan dan perlakuan yang
efisien dikembangkan (Goldfried,
Pachankis, & Bell, 2005). The Society for the Exploration of Psychotherapy
Integration, dibentuk pada tahuan 1983, merupakan sebuah organisasi internasional yang
anggotanya adalah para profesional yang bekerja untuk perkembangan pendekatan terapi
yang melebihi orientasi teoritis tunggal.
Pada bab ini saya mempertimbangkan manfaat dari mengembangkan sebuah
perspektif integratif untuk praktif konseling. saya juga menyajikan sebuah kerangka untuk
membantu Anda memulai mengintegrasikan konsep dan teknik dari beragam pendekatan.
Sembari membaca, mulailah merumuskan perspektif konseling personal Anda sendiri.
Bukannya semata melakukan tinjauan kembali pada materi di bab ini, carilah cara untuk
mensintesiskan beragam elemen dari perspektif teoritis yang berbeda. Sebanyak mungkin,
perhatikanlah bagaimana sistem ini dapat berfungsi dalam harmoni.
Pergerakan Menuju Integrasi Psikoterapi
Sejumlah terapis mengidentifikasi diri mereka sebagai “berwawasan luas” dan kategori ini
mencakup praktik yang luas. Pada bagian terburuknya, praktik eklektic terdiri dari
pengambilang teknik secara sembarangan tanpa dasar pemikirian teoritis menyeluruh. Hal
ini disebut sebagai syncretism, dimana para praktisi, yang kurang pengetahuan dan
keahlian dalam memilih intervensi, mengambil segala sesuatu yang nampaknya dapat
bekerja, seringkali tidak melakukan usaha untuk memutuskan apakah prosedur terapi
betul-betul efektif. Kombinasi teknik yang tidak kritis dan tidak sistematis semacam itu
tidak lebih baik daripada ortodoksi yang sempit dan dogmatis. Hal ini mengambil teknik
dari banyak sumber tanpa alasan yang masuk akal menghasilkan kebingungan sinkretistis
(Lazarus, 1986, 1996b; Lazarus, Beutler, & Norcross, 1992; Norcross & Beutler, 2008).
Corsini (2008) percaya "bahwa semua terapis yang baik mengadopsi sikap
eklektik" (hal. 10). Namun, ia tidak menyiratkan bahwa terapis tidak memiliki teori
tertentu sebagai kerangka kerja, juga tidak berarti bahwa teknik spesifik yang digunakan
tidak terkait dengan teori tertentu. Sebagai gantinya, Corsini percaya "bahwa teknik dan
metode selalu menjadi nomor dua bagi dokter tentang hal apa yang benar untuk dilakukan
dengan klien yang diberikan pada saat tertentu, terlepas dari teori" (p. 10).
Integrasi psikoterapi paling baik ditandai dengan upaya untuk melihat melampaui
dan melintasi batas-batas pendekatan sekolah tunggal untuk melihat apa yang dapat
dipelajari dari perspektif lain. Mayoritas psikoterapis tidak mengklaim kesetiaan kepada
sekolah terapi tertentu tetapi lebih memilih beberapa bentuk integrasi (Norcross, 2005;
Norcross & Beutler, 2008). Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Psychotherapy
Networker (2007), hanya 4,2% responden mengidentifikasi diri mereka selaras dengan satu
model terapi secara eksklusif. Sisanya, 95,8%, mengaku integratif, artinya mereka
menggabungkan berbagai metode atau pendekatan dalam praktik konseling mereka.
Pendekatan integratif dicirikan oleh keterbukaan terhadap berbagai cara
mengintegrasikan beragam teori dan teknik, dan ada preferensi yang diputuskan untuk
istilah integratif daripada eklektik (Norcross, Karpiak, & Lister, 2005). Meskipun istilah
yang berbeda kadang-kadang digunakan eklektisme, integrasi, konvergensi, dan
pemulihan hubungan tujuannya sangat mirip. Tujuan akhir dari integrasi adalah untuk
meningkatkan efisiensi dan penerapan psikoterapi (Norcross & Beutler, 2008). Dattilio dan
Norcross (2006) serta Norcross dan Beutler (2008) menggambarkan empat jalur yang
paling umum menuju integrasi psikoterapi: eklektisme teknis, integrasi teoretis,
pendekatan faktor umum, dan integrasi asimilatif. Meskipun semua pendekatan integrasi
ini melampaui batasan pendekatan tunggal, mereka semua melakukannya dengan cara
yang berbeda.
Eklektisme teknis bertujuan untuk memilih teknik perawatan terbaik untuk
individu dan masalahnya. Hal ini cenderung berfokus pada perbedaan, memilih dari
banyak pendekatan, dan merupakan kumpulan teknik. Jalur ini memerlukan penggunaan
teknik dari sekolah yang berbeda tanpa harus berlangganan posisi teoritis yang melahirkan
mereka. Untuk eklektik teknis, tidak ada hubungan yang diperlukan antara dasar
konseptual dan teknik.
Sebaliknya, integrasi teoretis mengacu pada penciptaan konseptual atau teoretis di
luar sekadar campuran teknik. Rute ini memiliki tujuan menghasilkan kerangka kerja
konseptual yang menyintesis aspek terbaik dari dua atau lebih pendekatan teoritis dengan
asumsi bahwa hasilnya akan lebih kaya dari teori mana pun. Pendekatan ini menekankan
pengintegrasian teori terapi yang mendasarinya bersama dengan teknik masing-masing.
Pendekatan faktor umum mencari elemen umum di berbagai sistem teoritis.
Meskipun ada banyak perbedaan di antara teori-teori tersebut, inti praktik konseling yang
dikenali terdiri dari variabel tidak spesifik yang umum untuk semua terapi. Beberapa
faktor umum ini termasuk pengembangan aliansi terapeutik, peluang untuk katarsis,
mempraktikkan perilaku baru, dan harapan positif klien (Norcross & Beutler, 2008).
Faktor-faktor umum ini dianggap setidaknya sama pentingnya dalam akuntansi untuk hasil
terapi sebagai faktor unik yang membedakan satu teori dari yang lain. Dari semua
pendekatan untuk integrasi, perspektif ini memiliki dukungan empiris yang paling kuat
(Hubble, Duncan, & Miller, 1999).
Pendekatan integrasi asimilatif didasarkan pada sekolah psikoterapi tertentu,
bersama dengan keterbukaan untuk secara selektif memasukkan praktik-praktik dari
pendekatan terapeutik lainnya. Integrasi asimilatif menggabungkan keunggulan sistem
teori koheren tunggal dengan fleksibilitas berbagai intervensi dari berbagai sistem.
Salah satu alasan pergerakan menuju integrasi psikoterapi adalah pengakuan bahwa
tidak ada satu teori pun yang cukup komprehensif untuk menjelaskan kompleksitas
perilaku manusia, terutama ketika rentang jenis klien dan masalah spesifik mereka
dipertimbangkan. Karena tidak ada satu teori yang mengandung semua kebenaran, dan
karena tidak ada satu pun teknik konseling yang selalu efektif dalam bekerja dengan
populasi klien yang beragam, pendekatan integratif menjanjikan untuk praktik konseling.
Norcross dan Beutler (2008) menyatakan bahwa praktik klinis yang efektif membutuhkan
perspektif yang fleksibel dan integratif: “Psikoterapi harus secara fleksibel disesuaikan
dengan kebutuhan dan konteks unik klien, tidak diterapkan secara universal sebagai satu
ukuran untuk semua” (hal. 485).
Praktisi yang terbuka untuk perspektif integratif akan menemukan bahwa beberapa
teori memainkan peran penting dalam pendekatan konseling pribadi mereka. Setiap teori
memiliki kontribusi unik dan bidang keahliannya sendiri. Dengan menerima bahwa setiap
teori memiliki kekuatan dan kelemahan dan, menurut definisi, "berbeda" dari yang lain,
para praktisi memiliki dasar untuk mulai mengembangkan teori yang cocok untuk mereka.
Izinkan saya mengingatkan bahwa karena dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk
mempelajari berbagai teori secara mendalam, tidaklah realistis bagi kita untuk berharap
bahwa kita dapat mengintegrasikan semua teori. Sebaliknya, integrasi beberapa aspek dari
beberapa teori adalah tujuan yang lebih realistis. Mengembangkan perspektif integratif
adalah upaya seumur hidup yang disempurnakan dengan pengalaman klinis, refleksi,
membaca, dan percakapan dengan rekan kerja.
Masa Depan Orientasi Psikoterapi: Beberapa Prediksi
Ke-11 sistem yang dibahas dalam buku ini telah berevolusi ke arah perluasan basis teoretis
dan praktis mereka, menjadi kurang membatasi fokus mereka. Banyak praktisi yang
mengklaim kesetiaan pada sistem terapi tertentu memperluas pandangan teoretis mereka
dan mengembangkan berbagai teknik terapi yang sesuai dengan populasi klien yang lebih
beragam.
Norcross, Hedges, dan Prochaska (2002) mengembangkan pemilihan pendapat
Delphi untuk meramalkan masa depan teori psikoterapi selama 10 tahun ke depan. Para
peserta pemungutan suara, yang dianggap ahli dalam bidang psikoterapi, meramalkan
bahwa orientasi teoritis ini akan meningkat paling banyak: terapi perilaku kognitif (CBT),
konseling multikultural, terapi kognitif (Beck), terapi interpersonal, eklektisme teknis,
integrasi teoretis, terapi perilaku, terapi sistem keluarga, terapi paparan, dan terapi yang
berfokus pada solusi. Pendekatan terapeutik yang diprediksi akan menurunkan
psikoanalisis klasik yang paling banyak dimasukkan, terapi impulsif, terapi Jung, analisis
transaksional, terapi Adlerian, dan terapi humanistik. Prochaska dan Norcross (2007)
menyatakan pemilihan pendapat mengungkapkan bahwa metode dan modalitas terapi
berubah:
Konsensusnya adalah bahwa psikoterapi akan menjadi lebih terarah, psikoedukasi,
teknologi, berfokus pada masalah, dan lebih singkat dalam dekade berikutnya. Secara
bersamaan, pendekatan jangka panjang yang relatif tidak terstruktur, berorientasi historis,
dan diprediksi akan menurun. . . . Jangka pendek sudah ada, dan jangka panjang akan
keluar. (hal. 543)
Dalam survei yang dilaporkan dalam Psychotherapy Networker (2007), 68,7% responden
menyatakan bahwa mereka menggunakan terapi perilaku kognitif setidaknya beberapa
kali, dan CBT paling sering digunakan dalam kombinasi dengan metode lain. Selain itu,
selama dekade berikutnya terapi jangka pendek, kelompok psikoedukasi untuk gangguan
spesifik, intervensi krisis, terapi kelompok, dan terapi pasangan / perkawinan diperkirakan
akan meningkat (Norcross et al., 2002).
Integrasi Masalah Multikultural dalam Konseling
Multikulturalisme adalah kenyataan yang tidak dapat diabaikan oleh para praktisi jika
mereka berharap dapat memenuhi kebutuhan berbagai kelompok klien mereka. Ada
gerakan yang berkembang menuju menciptakan teori konseling dan terapi multikultural
yang terpisah (Sue, Ivey, & Pedersen, 1996; Sue & Sue, 2008). Namun, saya percaya teori
saat ini, hingga derajat yang berbeda, dapat dan harus diperluas untuk memasukkan
komponen multikultural. Seperti yang telah saya tunjukkan secara konsisten dalam buku
ini, jika teori kontemporer tidak menjelaskan dimensi budaya, mereka akan memiliki
penerapan terbatas dalam bekerja dengan populasi klien yang beragam secara budaya.
Untuk beberapa teori, transisi ini lebih mudah daripada yang lain.
Kerugian dapat datang ke klien yang diharapkan untuk memenuhi semua
spesifikasi teori yang diberikan, apakah nilai-nilai yang dianut oleh teori konsisten dengan
nilai-nilai budaya mereka sendiri. Daripada merentangkan klien agar sesuai dengan
dimensi teori tunggal, praktisi harus menyesuaikan teori dan praktik mereka agar sesuai
dengan kebutuhan unik klien. Ini panggilan bagi konselor untuk memiliki pengetahuan
tentang berbagai budaya, menyadari warisan budaya mereka sendiri, dan memiliki
keterampilan untuk membantu spektrum yang luas dari klien dalam menangani realitas
budaya mereka. (Ini akan menjadi saat yang tepat untuk meninjau kembali diskusi tentang
konselor yang terampil secara budaya dalam Bab 2 dan untuk berkonsultasi dengan Tabel
15.7 dan 15.8, yang muncul kemudian dalam bab ini.)
Dalam peran Anda sebagai penasihat, Anda harus dapat menilai kebutuhan khusus
klien. Bergantung pada etnis dan budaya klien dan pada keprihatinan yang membawa
orang ini ke konseling, Anda ditantang untuk mengembangkan fleksibilitas dalam
memanfaatkan berbagai strategi terapi. Beberapa klien akan membutuhkan lebih banyak
arahan, dan bahkan nasihat. Orang lain akan sangat ragu berbicara tentang diri mereka
sendiri dengan cara pribadi, terutama selama fase awal proses konseling. Yang terlihat
seperti sebuah resistansi mungkin merupakan suatu bentuk respon klien terhadap
lingkungan kulturalnya dan bentuk penghargaan terhadap nilai dan tradisi kebudayaannya.
Hal terpenting untuk anda kuasai adalah seberapa familiar diri anda terhadap berbagai
macam bentuk pendekatan teoritis dan kemampuan diri anda untuk menerapkan dan
menyesuaikan teknik anda agar sesuai dengan lingkungan diri klien anda. Membantu klien
anda menemukan pencerahan, mengekspresikan emosi terpendam, atau membuat
perubahan perilaku saja tidaklah cukup. Tantangan anda adalah untuk menemukan strategi
praktis untuk menyesuakan tekink yang anda kembangkan demi membuat klien dapat
mempertanyakan pengaruh budaya lingkungan mereka terhadap hidup mereka sendiri dan
juga untuk membuat klien dapat memutuskan dirinya untuk berubah.
Menjadi seorang konselor handal mengharuskan anda merefleksikan bagaimana
budaya lingkungan anda mempengaruhi diri anda dan intervensi yang anda akan terapkan
dalam praktik konseling. Kesadaran ini penting untuk meningkatkan kepekaan diri anda
terhadap latar belakang kultural klien anda. Dengan menggunakan perspektif integratif,
terapis dapat mencakup dimensi sosial, kultural, spiritual, dan politik dalam proses terapi
yang mereka lakukan terhadap klien.
Integrasi Isu-Isu Spiritual/Religius dalam Konseling
Berbeda dengan situasi terdahulu, saat ini terdapat peningkatan kesadaran dan
keinginan untuk mengeksplor isu-isu spiritual dan religius dalam dunia konseling saat ini
(Hagedorn, 2005;Polanski, 2003; Yarhouse & Burkett, 2002), seperti yang dapat dilihat
dari banyaknya pembahasan topik ini dalam literature konseling (Hall, Dixon, &
Mauzey,2004; Sperry & SHafranske, 2005). Saat ini terdapat ketertarikan terhadap topik
keyakinan spiritual dan religius-baik terhadap keyakinan konselor dan keyakinan klien itu
sendiri-dan bagaimana keyakinan tersebut dapat diterapkan dalam hubungan terapi
(Frame, 2003). Isu-isu spiritual dan religius yang klien bahas dalam proses psikoterapi ini
dapat dijadikan sebagai konsiderasi terapi oleh semua terapis (Sperry, 2007;Sperry &
Shafranske, 2005). Saat ini sudah banyak bukti empiris yang menunjukkan bahwa nilai
dan perilaku spiritual diri kita dapat meningkatkan keseharan fisik dan mental kita (Benson
& Stark, 1996; Richards & Bergin, 1997; Richards, Rector, & Tjelveit, 1999). Terlihat
jelas bahwa spiritualitas merupakan komponen penting dalam kesehatan jiwa, dan
penerapan elemen spiritualitas ini dapat meningkatkan proses terapi.
Spiritualitas dapat digambarkan sebagai hal yang “menghubungkan kita dengan
sesama manusia lain, dengan alam, dan dengan sumber kehidupan itu sendiri. Pengalaman
spiritual memiliki kecakupan lebih besar daripada diri kita sendiri dan membantu kita
melewati dan menghadapi situasi dalam hidup” (Faiver, Ingersoll, O’Brien, & McNally,
2001, hal. 2). Bagi beberapa klien, spiritualitas berarti berhubungan dengan agama.
Sedangkan klien lain menjunjung nilai spiritualitas tanpa mengaitkan dirinya terhadap
agama apapun. Apapun pandangan anda, spiritualitas itu sendiri adalah suatu kekuatan
yang dapat membantu diri kita memahami semesta dan menemukan makna dalam hidup.
Masyarakat Amerika Serikat sangatlah religius: sekitar 92% populasinya
merupakan pengantu suatu agama, dan 96% masyarakat A.S memiliki keyakinan terhadap
Tuhan atau suatu ruh universal (Gallup, 1995). Spiritualitas dan agama merupakan sumber
kekuatan diri sejumlah klien-fondasi untuk menemukan arti hidup-dan dapat menjadi
kunci utama untuk mengembangkan kesehatan jiwa diri. Sejumlah klien tidak dapat
dipahami tanpa mengapresiasi peran keyakinan spiritual atau religius yang diyakini oleh
klien tersebut. Saya menganggap bahwa spiritualitas diri klien sebaiknya dibahas dalam
proses terapi jika hal tersebut merupakan bagian utama diri klien.
Ada banyak jalan untuk memenuhi kebutuhan spiritual diri, dan anda sebagai
konselor tidak bertugas untuk menganjurkan suatu jalan spiritual tertentu. Jika klien
memberikan suatu indikasi bahwa mereka memiliki kekhawatiran terhadap keyakinan
religius mereka, ini dapat menjadi titik masuk bagi anda untuk menelusuri aspek ini dalam
diri klien. Kuncinya di sini adalah anda harus memperhatikan perkataan dan tujuan klien
yang ia ceritakan mengapa ia ingin melakukan terapi.
TUJUAN BERSAMA Spiritualitas dan konseling memiliki tujuan serupa. Keduanya
menekankan pembelajaran untuk menerima diri sendiri, memaafkan diri dan orang lain,
mengakui kekukarangan diri, menerima tanggung jawab pribadi, merelakan rasa sakit dan
kebencian, menghadapi rasa bersalah, dan belajar merelakan pola pikir, perasaan, dan
perilaku merusak diri.
Nilai-nilai spiritual/religius berperan penting dalam kehidupan dan perjuangan
manusia, yang berarti bahwa penelusuran nilai-nilai ini dapat memberikan solusi terhadap
permasalahan yang dihadapi klien. Karena jalan terapi dan spiritual saling berkaitan,
proses integrasi pun dapat dilakukan, dan menelusuri spiritualitas klien dapat
meningkatkan proses terapi. Hal-hal yang dapat memberikan pengaruh positif terhadap diri
klien adalah hal-hal seperti perasaan cinta, kepedulian, kasih sayang, menantang asumsi
dasar kehidupan kita, menerima ketidaksempurnaan manusia, dan keluar dari keegoisan
diri. Baik agama dan konseling membantu diri kita mempertanyakan pertanyaan-
pertanyaan seperti “Siapa Aku?” dan Apa arti hidupku?” Baik konseling maupun agama
dapat menumbuhkan aspek positif diri melalui penelusuran rasa malu dan rasa bersalah
dalam perilaku manusia, pemahaman perbedaan yang ada antara penuduhan dan tanggung
jawab, rasa bersalah yang sehat dan yang tidak sehat, serta manfaat menceritakan
kekhawatiran diri terhadap orang lain.
IMPLIKASI UNTUK PENILAIAN DAN PENANGANAN Umumnya, ketika klien
mengunjungi terapis dan menceritakan masalahnya, terapis akan menelusuri semua faktor
yang mempengaruhi pengembangan masalah tersebut. Meskipun klien tidak menganggap
dirinya sebagai orang yang religius atau spiritual, latar belakang keyakinan klien dapat
ditelusuri sebagai bagian dari sejarah diri klien. Karena keyakinan ini bisa jadi menjadi
faktor pengembangan permasalahan yang dihadapi, maka hal tersebut dapat ditelusuri
dalam sesi konseling.
Beberapa praktisi menganggap bahwa terapis perlu memahami dan menghargai
keyakinan religius klien dan untuk mengikutsertakan keyakinan tersebut dalam praktik
penilaian dan penanganan yang dilakukan (Faiver & O’Brien, 1993; Frame, 2003; Kelly,
1995). Frame (2003) memberikan sejumlah alasan mengapa spiritualitas perlu diterapkan
dalam penilaian: untuk memahami pandangan klien dan konteks kehidupan mereka,
membantu klien menangani isu0isu terkait pertanyaan mereka tentang tujuan hidup mereka
dan nilai apa yang paling mereka junjung tinggi, menelusuri spiritualias dan agama
sebagai sumber daya diri klien, serta untuk menemukan permasalahan religius dan spiritual
yang dihadapi. Informasi-informasi ini akan membantu terapis menentukan penanganan
yang sesuai.
Faiver dan O’Brien (1993) menganggap bahwa proses penilaian harus melibatkan
pertanyaan terkait isu-isu spiritual dan religius karena isu-isu ini bersifat relevan terhadap
permasalahan klien, pertanyaan-pertanyaan terkait peran agama dan spiritualitas dalam
kehidupan klien saat ini, dan pertanyaan-pertanyaan terkait bagaimana keyakinan klien ini
memiliki hubungan dengan proses kognitif, afektif, dan perilaku klien. Misalnya, apakah
rasa bersalah merupakan suatu permasalahan bagi diri klien? Apa sumber dari rasa
bersalah ini, dan apakah rasa bersalah ini punya tujuan tertentu? Dan Kelly (1995) sepakat
pada pemahaman yang menganjurkan terapis untuk melibatkan hal-hal terkait spiritualitas
diri klien untuk (a) memperoleh indikasi awal relevansi agama dan spiritualitas terhadap
diri klien, (b) mengumpulkan informasi yang terapis dapat rujuk kembali dalam proses
terapi, dan (c) sebagai indikasi untuk klien bahwa membicarakan hal-hal terkait
permasalahan religius dan spiritual tidaklah dilarang.
PERAN ANDA SEBAGAI SEORANG KONSELOR Sebagai seorang konselor, peran
anda adalah untuk membantu klien memperjelas nilai mereka sendiri dan membantu
mereka membuat keputusan sendiri. Awasi diri anda untuk memastikan bahwa anda
memisahkan nilai-nilai yang anda anut dengan nilai-nilai yang klien anda anut. Jika anda
menangani klien yang berasal dari latar belakang yang beragam, dalam pelatihan anda,
anda perlu fokus pada penguasaan teknik pembahasan isu spiritual dan agama yang klien
anda permasalahkan. Dalam pekerjaan anda sebagai seorang konselor, anda perlu
memahami keyakinan spiritual/religius anda sendiri untuk memahami dan menghargai
kepercayaan klien anda (Faiver et al., 2001). Bagi sejumlah klien yang berada dalam krisis
mental, nilai-nilai spiritual memberikan rasa ketenangan, kenyamanan, dan merupakan
kekuatan yang tetap membuat diri klien dapat bertahan. Perasaan rasa bersalah, marah, dan
kesedihan yang klien alami seringkali bersumber dari kesalahpahaman klien terhadap
keyakinan spiritual/agama mereka, yang mana hal ini dapat menciptakan depresi dan
keputusasaan dalam diri. Jika anda siap menangani isu-isu seperti ini, anda dapat
membantu klien anda memperbaiki kesalahpahaman mereka. Menurut pandangan saya
pribadi, penekanan isu spiritualitas dalam proses terapi akan terus menjadi elemen penting
dalam proses konseling, sehingga anda harus menyiapkan diri anda menangani isu-isu
permasalahan spiritual dan religius klien anda.
Tantangan Mengembangkan Perspektif Integratif
Sebuah survei tentang pendekatan dalam konseling dan psikoterapi menunjukkan
bahwa tidak terdapat suatu filsafat umum yang menyatukan semua pendekatan yang ada.
Sejumlah teori memiliki falsafah dasar dan pandangan terhadap sifat manusia yang
berbeda-beda (Tabel 15.1). Seperti yang para terapis pascamoderen ingin sampaikan,
asumsi falsafah kita berperan penting karena asumsi ini mempengaruhi “realitas” yang kita
persepsikan, dan asumsi-asumsi ini mengarahkan perhatian kita kepada variabel-variabel
yang kita “ingin” lihat. Sebuah peringatan untuk anda: Jangan mengaitkan diri anda pada
suatu pandangan tertentu; tetap bersifat terbuka dan terapkan kerangka yang sesuai dalam
proses konseling anda yang konsisten dengan kepribadian dan kepercayaan anda.
Terlepas dari perbedaan yang ada dalam berbagai macam teori, suatu sintesa kreatif
dapat diciptakan dalam beberapa model tertentu. Contohnya, orientasi eksistensial tidak
mencegah kita untuk menggunakan teknik dari terapi perilaku atau dari teori kognitif. Tiap
pandangan memberikan suatu perspektif untuk membantu klien dalam pencarian diri
mereka. Saya menyarankan anda untuk mempelajari semua teori yang umum diterapkan,
untuk mencegah diri anda terikat pada suatu pandangan tertentu, dan untuk tetap terbuka
pada orientasi lain sebagai dasar untuk perspektif integratif yang akan menuntun proses
konseling anda.
Dalam mengembangkan suatu perspektif integratif pribadi, anda perlu menyadari
bahwa anda tidak dapat mencampur-campurkan teori dengan asumsi yang tidak sesuai
terhadap teori tersebut. Lazarus (1995) menanyakan, “Bagaimana bisa dua sistem yang
berlandaskan pada asumsi saling berbeda perihal makna, asal, pengembangan, perbaikan,
signifikansi, dan manajemen masalah dapat menyatu?” (hal. 156). Sebagai seorang
pendukung keberagaman, Lazarus menekankan bahwa pencampuran teori yang berbeda
hanya akan menciptakan kebingungan.
Tabel 15.1 Filosofi Dasar
Terapi
Psikoanalisis
Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi fisik dan oleh
pengalaman masa lalu. Motivasi dan konflik-konflik tak sadar adalah
inti dari perilaku masa kini. Dorongan tidak rasional itu kuat;
seseorang didorong oleh impuls seksual dan agresif. Perkembangan
terdahulu adalah sangat penting karena masalah kepribadian
dikemudian hari berakar pada konflik masa kecil yangd itekan.
Terapi Adlerian
Manusia dimotivasi oleh ketertarikan sosial, dengan berjuang menuju
pada tujuan, dengan inferioritas atau superioritas, dengan menghadapi
tugas-tugas kehidupan. Penekanan pada kapasitas positif individu
untuk hidup dalam masyarakat secara kooperatif. Manusia memiliki
kapasitas untuk menginterpretasikan, mempengaruhi, dan menciptakan
kejadian. Tiap pribadi pada usia awal menciptakan sebuah gaya unik
kehidupan, yang cenderung tetap konstan selama hidup.
Terapi
Eksistensial
Fokus utama terletak pada sifat kondisi manusia, yang mencakup
sebuah kapasitas untuk kesadaran diri, kebebasan pilihan untuk
memutuskan nasib seseorang, pertanggungjawaban, kebingungan,
pencarian makna, menjadi sendiri dan menjadi terhubung dengan
orang lain, berupaya pada keautentikan, dan menghadapi kehidupan
dan kematian.
Terapi Pribadi-
Pusat
Pandangan terhadap manusia positif; kita memiliki kecenderungan
untuk menjadi sepenuhnya berfungsi. Dalam konteks hubungan terapi,
klien mengalami perasaan yang sebelumnya diabaikan pada kesadaran.
Klien bergerak menuju kesadaran, spontanitas, kepercayaan pada diri,
dan arah diri yang terus meningkat.
Terapi Gestalt
Orang berusaha pada keseluruhan dan integrasi dari pemikiran,
perasaan, dan perlakuan. Beberapa konsep kunci termasuk hubungan
dengan diri sendiri dan orang lain, halangan hubungan, dan kesadaran.
Pandangan non-deterministik dalam hal bahwa orang dipandangan
memiliki kapasitas untuk mengenali bagaimana pengaruh terdahulu
berhubungan dengan kesulitan masa kini. Sebagai sebuah pendekatan
eksperential, ini berdasar pada disini dan saat ini dan menekankan
kesadaran, pilihan personal, dan tanggung jawab.
Terapi Perilaku
Perilaku adalah produk pembelajaran. Kita adalah produk dan pembuat
lingkungan. tidak ada asumsi yang disatukan tentang perilaku dapat
bekerja dengan semua prosedur yang ada di dalam bidang perilaku.
Terapi perilaku tradisional didasarkan pada prinsip klasik dan operant.
Terapi perilaku kontemporer telah bercabang ke banyak arah.
Terapi Perilaku
Kognitif
Individu cenderung menggabungkan pemikiran yang salah, yang
mengantarkan pada ganguan emosi dan periaku. Kognisi adalah
penentu utama dari bagaimana kita merasa dan bertindak. Terapi
umumnya berorientasi pada kognisi dan perilaku, dan menekankan
peran pemikiran, pembuatan keputusan, mempertanyakan, melakukan,
dan memutuskan kembali. Ini adalah sebuah model psikoedukasional,
yang menekankan terapi sebagai sebuah proses belajar, termasuk
pemerolehan dan praktik keahlian baru, mempelajari cara berpikir
baru, dan memperoleh cara yang lebih efektif dalam menghadapi
masalah.
Terapi Realita
Berdasar pada teori pilihan, pendekatan ini mengasumsikan bahwa
kita butuh hubungan berkualitas agar dapat bahagia. Masalah
psikologi adalah hasil dari penolakan kita akan kontrol dari orang lain
atau atas tujuan kita untuk mengontrol orang lain. Teori piihan adalah
seuah penjelasan dari sifat dasar manusia dan bagaimana pencapaian
terbaik memuaskan hubungan interpersonal.
Terapi Feminis
Feminis mengkritis banyak teori tradisional pada tingkat dimana
mereka berdasar pada konsep bias-gender, seperti menjadi
androsentris, gedersentris, ethnosentris, heterosexist, dan intrapsikis.
Konstruksi dari terapi feminis mencakup keadilan-gender, fleksibel,
interaksionis, dan orientasi masa hidup. Gender dan kekuatan adalah
jantung dari terapi feminis. Ini merupakan sebuah pendeatan sistem
yang mengenali faktor kultural,sosial, dan politikal yang berkontribusi
pada masalah individu.
Pendekatan Post-
Modern
Berdasar pada premis bahwa terdapat realita ganda dan kebenaran
ganda, terapi post modern menolak gagasan bahwa realita itu bersifat
eksternal dan dapat digenggam. Manusia menciptakan makna dalam
hidup mereka melalui percakapan dengan orang lain. Pendekatan post-
modern menghindari menyatakan ketidaksehatan klien, mengambil
padangan samar diagnosa, menghidari pencarian penyebab masalah,
dan menempatkan nilai tinggi dalam menemukan kekuatan dan
sumber daya klien. Bukannya membahas tentang masalah, fokus terapi
adalah menciptakan solusi di masa kini dan masa depan.
Terapi Sistem
Keluarga
Keluarga dipandang dari perspektif interaktif dan sistemik. Klien
dihubungkan dengan sistem hidup; sebuah perubahan pada satu bagian
dari sistem akan menghasilkan perubahan dibagian lain. Keluarga
menyediakan konteks untuk memahami bagaimana individu berfungsi
dalam hubungan dengan orang lain dan bagaimana mereka berlaku.
Perlakuan berhubungan dengan unit keluarga. Sebuah perilaku
disfungsional dari individu tumbuh dari unit interaksional keluarga
dan sistem yang lebih besar lainnya.
Dia menolak pernyataan integrasi teoritikal. Dia menambahkan bahwa konsep
dasar yang mungkin nampak sepadan seringkali, pada penilitian yang lebih dalam, cukup
tidak dapat didamaikan (Lihat Tabel 15.2). Lazarus menekankan bahwa integrasi
psioterapi tidak harus bergantung pada amalgamasi teoritis. Klinisian dapat eklektik secara
teknik dalam hal mereka dapat memilih metode dari disiplin apapun tanpa menyokong
teori manapun yang menghasilkannya.
Dengan menjadi konsisten secara teoritis, tetapi eklektik secara teknikal, para
praktisi dapat menyatakan secara tepat invervensi yang akan mereka terapkan untuk
beragam klien, juga alat dimana mereka dapat memilih prosedur-prosedur ini. Lazarus
(1997a, 1997b) menyatakan bahwa terapis yang berharap untuk menjadi efektif dengan
beragam masalah dan dengan beragam populasi klien harus fleksibel dan cakap.
TABEL 15.2 Konsep Kunci
Terapi Psikoanalisis
Perkembangan kepribadian normal berdasar pada resolusi dan integrasi
yang berhasil dari tahapan perkembangan psikoseksual. Perkembangan
kebribadian salah adalah hasil dari resolusi yang tidak cukup pada
beberapa tahapan khusus. Kebingungan adalah hasil dari tekanan konflik
dasar. Proses tak sadar secara terpusat berhubungan dengan perilaku saat
ini.
Terapi Adlerian
Konsep kunci dari model ini mencakup kesatuan kepribadian, kebutuhan
untuk memandang orang dari perspektif subjektif, dan pentingnya tujuan
hidup yang memberi arah pada perilaku. Orang-orang dimotivasi oleh
ketertarikan sosial dan oleh menemukan tujuan untuk memberi makna
hidup. Konsep kunci lain adalah berjuang untuk arti dan superioritas,
mengembangkan sebuah gaya hidup yang unik, dan memahami
konstalasi keluarga. Terapi adalah masalah memberikan dukungan dan
membantu klien dalam mengubah perspektif dan perilaku kognitif
mereka.
Terapi Eksistensial
Secara esensial, sebuah pendekatan eksperential pada konseling dan
bukannya sebuah model teoritikal, hal ini menekankan pada kondisi inti
manusia. Secara normal, kepribadian berdasar pada keunikan dari tiap
individu. Rasa perkembangan diri sejak masa pertumbuhan. Ketertarikan
berada pada masa kini dan pada akan menjadi apa seseorang itu.
Pendekatan ini memiliki orientasi masa depan dan menekankan
kesadaran diri sebelum bertindak.
Terapi Pribadi-Pusat
Klien memiliki potensi untuk sadar akan masalah serta alat untuk
menyelesaikannya. Keyakinan ditempatkan pada kapasistas klien akan
pengarahan diri. Kesehatan mental merupakan kongruensi dari diri ideal
dan diri yang sebenarnya. Ketidakmampuan menyesuaikan diri adalah
hasil dari diskrepensi antara pribadi yang diinginan dan pribadi yang
sebenarnya. Dalam terapi, perhatian diberikan pada keadaan masa kin
dan pada mengalami dan mengekspresikan perasaan.
Terapi Gestalt
Penekanan pada “Apa” dan “Bagaimana” mengalami disini dan saat ini
untuk membantu klien menerima seluruh aspek dirinya. Konsep kunci
mencakup holisme, proses pembentukan sosok, kesadaran, urusan dan
pengabaian tak terselsaikan, kontak, dan energi.
Terapi perilaku
Fokusnya adalah pada perilaku nyata, presisi pada tujuan perlakuan
spesifik, perkembangan rencara perlakuan spesifik, dan evaluasi objektif
dari hasil terapi. Memberikan perhatian pada perilaku saat ini. Terapi
berdasar pada prinsip teori pembelajaran. Perilaku normal dipelajari
melalui pengulangan kembali dan imitasi. Perilaku abnormal adalah
hasil dari pembelajaran salah.
Terapi Perilaku
Kognitif
Meskipun masalah psikologi dapat berakar sejak masa kecil, mereka
diperkuat kembali oleh cara berpikir saat ini. Sistem keyakinan
seseorang adalah penyebab utama dari kelainan. Dialog internal
memainkan peran initi dari perilaku seseorang. Klien berfokus mengkaji
asumsi salah dan miskonsepsi dan pada menggantikan hal ini dengan
keyakinan yang efektif.
TABEL 15.2 Konsep Kunci (lanjutan)
Terapi realitas
Fokus dasarnya adalah pada apa yang klien lakukan dan
bagaimana membuat mereka mengevaluasi apakah
tindakan mereka saat ini berhasil bagi mereka. Orang-
orang terutama termotivasi untuk memenuhi kebutuhan
mereka, terutama kebutuhan untuk hubungan yang
signifikan. Pendekatan tersebut menolak model medis,
gagasan pemindahan, ketidaksadaran, dan berkutat pada
masa lalu seseorang.
Terapi feminis
Prinsip-prinsip inti yang membentuk dasar untuk praktik
terapi feminis adalah bahwa pribadi bersifat politis,
komitmen terhadap perubahan sosial, suara perempuan
dan cara-cara mengetahui dan menghargai pengalaman
perempuan, hubungan konseling bersifat egaliter, fokus
pada kekuatan dan definisi yang dirumuskan tentang
tekanan psikologis, dan semua jenis penindasan diakui.
Pendekatan postmodern
Terapi cenderung singkat dan membahas masa kini dan
masa depan. Individu itu bukan masalah; masalahnya
adalah masalah itu sendiri. Penekanannya adalah pada
eksternalisasi masalah dan mencari pengecualian untuk
masalah tersebut. Terapi terdiri dari dialog kolaboratif di
mana terapis dan klien menciptakan solusi. Dengan
mengidentifikasi contoh-contoh ketika masalah tidak ada,
klien dapat membuat makna baru untuk diri mereka
sendiri dan membuat kisah hidup baru.
Terapi sistem keluarga
Fokusnya adalah pada pola komunikasi dalam keluarga,
baik verbal maupun nonverbal. Masalah dalam hubungan
cenderung diturunkan dari generasi ke generasi. Gejala
dipandang sebagai cara berkomunikasi dengan tujuan
mengendalikan anggota keluarga lainnya. Konsep kunci
bervariasi bergantung pada orientasi spesifik tetapi
termasuk diferensiasi, segitiga, koalisi daya, dinamika
keluarga-asal-usul, pola interaksi fungsional versus
disfungsional, dan berurusan dengan interaksi di sini dan
saat ini. Masa kini lebih penting daripada mengeksplorasi
pengalaman masa lalu.
Terapis harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan dasar ini ketika menyusun program
perawatan: Apa yang berhasil untuk siapa dalam keadaan tertentu?” Mengapa beberapa
prosedur bermanfaat dan yang lainnya tidak membantu?” Lazarus percaya beberapa klien
merespons konselor informal yang hangat tetapi yang lain menginginkan konselor yang
lebih formal. Beberapa klien bekerja dengan baik dengan terapis yang pendiam dan tidak
memaksa, sedangkan yang lain bekerja paling baik dengan terapis terarah dan ramah.
Selain itu, klien yang sama dapat merespons berbagai teknik dan gaya terapi pada waktu
yang berbeda.
Lazarus (1996a) menyebutkan nilai seorang terapis dengan asumsi peran aktif
dalam memadukan serangkaian gaya hubungan yang fleksibel dengan berbagai teknik
sebagai cara untuk meningkatkan hasil terapi. Dia berpendapat bahwa seorang terapis yang
terampil dapat menentukan kapan dan kapan tidak konfrontasional, kapan harus direktif
dan kapan harus membiarkan klien berjuang, kapan harus formal atau informal, kapan
untuk membuka diri atau tetap anonim, dan kapan harus lembut atau tangguh. Lazarus
menegaskan bahwa hubungan pilihan setidaknya sama pentingnya dengan teknik pilihan.
(Untuk ulasan tentang prosedur multimoda dan alasannya, lihat Bab 9.)
Salah satu tantangan yang akan Anda hadapi sebagai konselor adalah memberikan
layanan terapi dengan cara yang singkat, komprehensif, efektif, dan fleksibel. Banyak
orientasi teoretis yang dibahas dalam buku ini dapat diterapkan pada bentuk terapi singkat.
Realitas klinis yang terkait dengan terapi singkat menyiratkan orientasi fleksibel dan
eklektik. Sebagian besar bentuk psikoterapi jangka pendek bersifat aktif, kolaboratif dalam
hubungan, dan integratif dalam orientasi (Preston, 1998; Prochaska & Norcross, 2007).
Salah satu kekuatan pendorong gerakan integrasi psikoterapi adalah peningkatan terapi
singkat dan tekanan untuk berbuat lebih banyak untuk berbagai populasi klien dalam
batasan 6 hingga 20 sesi. Prochaska dan Norcross membuat poin yang sangat baik dalam
menyatakan bahwa terapi singkat yang efektif bergantung pada kurangnya jam terapi yang
digunakan konselor daripada apa yang mereka masukkan ke dalam jam itu. Tantangannya
adalah bagi praktisi integratif untuk belajar bagaimana mengidentifikasi masalah dengan
cepat dan sistematis, menciptakan hubungan kolaboratif dengan klien, dan campur tangan
dengan berbagai metode spesifik. Dalam bukunya, Brief but Comprehensive
Psychotherapy: The Multimodal Way (1997a), Lazarus menunjukkan bagaimana
memberikan psikoterapi komprehensif jangka pendek.
Perspektif integratif yang terbaik memerlukan integrasi sistematis prinsip-prinsip
dan metode yang mendasari umum untuk berbagai pendekatan terapi. Kekuatan integrasi
sistematis didasarkan pada kemampuannya untuk diajarkan, direplikasi, dan dievaluasi
(Norcross & Beutler, 2008). Untuk mengembangkan integrasi semacam ini, pada akhirnya
Anda harus benar-benar fasih dengan sejumlah teori, terbuka terhadap gagasan bahwa
teori-teori ini dapat dihubungkan dalam beberapa cara, dan bersedia untuk terus menguji
hipotesis Anda untuk menentukan seberapa baik mereka kerja. Mengembangkan perspektif
integratif sistematis adalah produk dari banyak studi, praktik klinis, penelitian, dan
berteori.
Masalah Terkait dengan Proses Terapi
Tujuan Terapi
Tujuan konseling hampir beragam seperti pendekatan teoretis. Beberapa tujuan termasuk
merestrukturisasi kepribadian, mengungkap ketidaksadaran, menciptakan minat sosial,
menemukan makna dalam hidup, menyembuhkan gangguan emosional, memeriksa
keputusan lama dan membuat keputusan baru, mengembangkan kepercayaan pada diri
sendiri, menjadi lebih mengaktualisasikan diri, mengurangi kecemasan, mengurangi
perilaku maladaptif dan belajar pola-pola adaptif, mendapatkan kontrol yang lebih efektif
terhadap kehidupan seseorang, dan menulis ulang kisah kehidupan seseorang (Tabel 15.3).
Apakah ada penyebut yang sama dalam kisaran tujuan ini?
Keragaman ini dapat disederhanakan dengan mempertimbangkan tingkat
generalisasi atau kekhususan tujuan. Tujuan ada pada kontinum dari spesifik, konkret, dan
jangka pendek di satu sisi, ke umum, global, dan jangka panjang di sisi lain. Pendekatan
perilaku kognitif menekankan yang pertama; terapi yang berorientasi pada hubungan
cenderung menekankan yang terakhir. Tujuan di ujung yang berlawanan dari kontinum
tidak selalu bertentangan; ini adalah masalah seberapa spesifik mereka didefinisikan.
TABEL 15.3 Tujuan Terapi
Terapi psikoanalisis
Untuk membuat alam bawah sadar sadar. Untuk
merekonstruksi kepribadian dasar. Untuk membantu
klien dalam menghidupkan kembali pengalaman
sebelumnya dan bekerja melalui konflik yang ditekan.
Untuk mencapai kesadaran intelektual dan emosional.
Terapi Adlerian
Untuk menantang tempat dasar dan tujuan hidup klien.
Untuk memberikan dorongan sehingga individu dapat
mengembangkan tujuan yang bermanfaat secara sosial
dan meningkatkan minat sosial. Untuk mengembangkan
rasa memiliki klien.
Terapi eksistensial
Untuk membantu orang melihat bahwa mereka bebas
dan menjadi sadar akan kemungkinan mereka. Untuk
menantang mereka untuk mengakui bahwa mereka
bertanggungjawab atas peristiwa yang sebelumnya
mereka pikir terjadi pada mereka. Untuk
mengidentifikasi faktor-faktor yang menghalangi
kebebasan.
Terapi yang berpusat pada
pelaku
Untuk memberikan iklim yang aman dan kondusif bagi
eksplorasi diri klien, sehingga mereka dapat mengenali
hambatan pertumbuhan dan dapat mengalami aspek diri
yang sebelumnya ditolak atau didistorsi. Untuk
memungkinkan mereka bergerak menuju keterbukaan,
kepercayaan yang lebih besar pada diri sendiri,
keinginan untuk menjadi suatu proses, dan peningkatan
spontanitas dan gairah. Untuk menemukan makna dalam
hidup dan mengalami hidup sepenuhnya. Menjadi lebih
mandiri.
Terapi Gestalt
Untuk membantu klien dalam mendapatkan kesadaran
akan pengalaman dari waktu ke waktu dan untuk
memperluas kapasitas untuk membuat pilihan. Untuk
mendorong integrasi diri.
Terapi perilaku
Untuk menghilangkan perilaku maladaptif dan
mempelajari perilaku yang lebih efektif. Untuk
mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
perilaku dan mencari tahu apa yang dapat dilakukan
tentang perilaku bermasalah. Untuk mendorong klien
untuk mengambil peran aktif dan kolaboratif dalam
menetapkan tujuan pengobatan dengan jelas dan
mengevaluasi seberapa baik tujuan ini tercapai.
Terapi perilaku kognitif
Untuk menantang klien untuk menghadapi keyakinan
yang salah dengan bukti yang saling bertentangan yang
mereka kumpulkan dan evaluasi. Untuk membantu klien
mencari keyakinan mereka yang salah dan
meminimalkannya. Menjadi sadar akan pemikiran
otomatis dan mengubahnya.
Terapi realitas
Untuk membantu orang menjadi lebih efektif dalam
memenuhi semua kebutuhan psikologis mereka. Untuk
memungkinkan klien terhubung kembali dengan orang-
orang yang telah mereka pilih untuk dimasukkan ke
dunia kualitas mereka dan mengajarkan teori pilihan
klien.
Terapi feminis
Untuk mewujudkan transformasi baik dalam klien
individu maupun dalam masyarakat. Untuk membantu
klien dalam mengenali, mengklaim, dan menggunakan
kekuatan pribadi mereka untuk membebaskan diri dari
keterbatasan sosialisasi peran gender. Untuk
menghadapi semua bentuk kebijakan kelembagaan yang
mendiskriminasi atau menindas atas dasar apa pun.
Pendekatan postmodern
Untuk mengubah cara klien memandang masalah dan
apa yang dapat mereka lakukan tentang masalah ini.
Untuk secara kolaboratif menetapkan tujuan spesifik,
jelas, konkret, realistis, dan dapat diamati yang
mengarah pada peningkatan perubahan positif. Untuk
membantu klien menciptakan identitas diri yang
didasarkan pada kompetensi dan sumber daya sehingga
mereka dapat menyelesaikan masalah saat ini dan masa
depan. Untuk membantu klien dalam melihat kehidupan
mereka dengan cara yang positif, daripada menjadi
jenuh.
Terapi sistem keluarga
Untuk membantu anggota keluarga mendapatkan
kesadaran akan pola hubungan yang tidak berfungsi
dengan baik dan untuk menciptakan cara-cara baru
untuk berinteraksi.
Fungsi dan Peran Terapis
Untuk menerapkan perspektif integratif, tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut
pada diri anda:
Bagaimana fungsi konselor dapat berubah sesuai dengan tahapan proses konseling?
Apakah seorang terapis memiliki suatu peran dasar yang tidak dapat berubah atau
apakah peran terapis ini dapat berubah menyesuaikan karakteristik klien?
Bagaimana konselor menentukan seberapa aktif dan direktif dirinya terhadap
klien?
Bagaimana proses penyusunan dilakukan seiring berjalannya terapi?
Apa keseimbangan tanggung jawab optimal dalam hubungan yang terjalin antara
terapis dengan klien?
Kapan dan seberapa luas pengungkapan diri yang harus dilakukan konselor?
Ketika anda mempelajari 11 pendekatan terapi ini, anda akan melihat bahwa inti utama
tiap pendekatan adalah penentuan seberapa besar kendali terapis terhadap perilaku klien
baik selama sesi berlangsung maupun di luar sesi terapi. Terapis perilaku kognitif dan
terapis realitas contohnya, melakukan penanganan dalam konteks yang direktif, didaktik,
terstruktur, psikoedukatif, dan berfokus pada masa sekarang. Terapis pendekatan ini
cenderung memberikan tugas pada klien yang didesain untuk membuat klien dapat melatih
perilaku barunya di luar sesi terapi. Sedangkan terapis yang berorientasi pada pendekatan
personal melakukan penanganan dengan struktur yang lebih fleksibel dan tidak baku.
Terapis berbasis solusi dan terapis naratif melihat klien sebagai ahli kehidupannya sendiri,
namun seringkali mereka juga bersikap direktif dan aktif dengan memberikan sejumlah
pertanyaan pada diri klien.
Proses penyusunan yang dilakukan bergantung pada klien tertentu dan situasi
permasalahan yang ia keluhkan. Menurut pandangan saya pribadi, penyusunan yang jelas
sangatlah penting selama fase awal konseling karena proses penyusunan ini mendorong
klien membahas permasalahan yang membuatnya ingin melakukan proses terapi. Baik
konselor dan klien perlu melakukan peninjauan awal yang dapat memberikan fokus pada
proses terapi. Secepat mungkin, klien perlu diberitahukan tanggung jawabnya untuk
memutuskan isi sesi terapi. Klien mulai dapat diberdayakan sejak awal sesi terapi jika
konselor mengharapkan klien untuk menjadi partisipan aktif dalam proses terapi.
Pengalaman Klien dalam Terapi
Sebagian besar klien menderita perasaan sengsara, rasa sakit, atau setidaknya rasa
tidak nyaman. Terdapat suatu kesenjangan antara ekspektasi diri dan kenyataan diri
mereka. Sejumlah klien melakukan terapi karena mereka berharap untuk dapat mengobati
suatu permasalahan tertentu: Mereka ingin mengobati sakit kepala yang mereka derita,
membebaskan diri mereka dari rasa cemas berlebihan, mengurangi berat badan mereka,
atau terbebas dari gangguan depresi. Klien mungkin menderita konflik perasaan dalam
dirinya, memiliki rasa percaya diri yang rendah, atau mungkin mereka memiliki
kemampuan dan pemahaman yang terbatas. Ada banyak klien berusaha untuk
menyelesaikan konflik yang terjadi dengan pasangan mereka. Juga semakin banyak klien
melakukan terapi karena menghadapi masalah-masalah eksistensial; permasalahan mereka
tidak bersifat konkrit namun mereka mengalami perasaan kekosongan, kehampaan arti
hidup, kebosanan, ketidakpuasan, kecemasan, kurangnya hasrat, dan rasa kehilangan
identitas diri.
Ekspektasi awal sejumlah klien dari proses terapi ini adalah mereka akan menerima
bantuan dari ahlinya dan akan memperoleh hasil secepatnya. Mereka seringkali berharap
perubahan besar akan terjadi dalam hidup mereka tanpa kerja keras dari diri mereka
sendiri. Seiring berjalannya proses terapi, klien kemudian memahami bahwa mereka perlu
bersikap aktif dalam proses terapi, menentukan tujuan mereka sendiri dan berusaha
mewujudkannya, baik dalam sesi terapi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Sejumlah
klien akan memperoleh dampak positif dengan mengenali dan mengekspresikan perasaan
terpendam mereka, klien-klien lain perlu meninjau kembali keyakinan dan pemikiran
mereka, ada juga klien yang perlu untuk berperilaku secara berbeda dari sebelumnya, dan
ada juga klien-klien yang akan memperoleh dampak positif pada dirinya dengan
membicarakan hubungan intim mereka kepada anda. Sebagian besar klien perlu
mengambil tindakan perubahan dalam tiga dimensi diri-perasaan, pikiran, dan perilaku-
karena dimensi-dimensi ini saling terkait.
Dalam menentukan penanganan yang cocok untuk diterapkan pada klien, latar
belakang budaya, etnis, dan sosioekonomi klien perlu dipertimbangkan. Terlebih lagi,
fokus konseling mungkin akan berubah seiring klien memasuki fase-fase yang berbeda
dalam proses konseling. Meskipun beberapa klien awalnya akan merasa bahwa mereka
perlu untuk didengarkan dan diperbolehkan untuk mengekspresikan perasaan
terpendamnya, mereka akan dapat memperoleh manfaat lebih dengan menguji pola pikir
yang menciptakan rasa sakit psikologis yang mereka derita. Dan tentunya di suatu waktu
tertentu dalam proses terapi, klien akan harus memanifestasikan apa yang mereka pelajari
ke dalam perbuatan konkrit dalam kehidupan mereka. Situasi klien dalam lingkungannya
berperan sebagai suatu kerangka untuk menentukan intervensi yang tepat untuk
permasalahan diri klien.
Mendengarkan umpan balik tentang proses terapi dari klien merupakan hal yang
sangat penting. Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan efektivitas psikoterapi adalah
dengan melalui terapi yang berfokus pada klien, terapi yang menjelaskan informasi secara
transparan pada klien (Duncan, Miller, & Sparks, 2004). Terapis perlu menerima arahan
klien mereka. Jika terapis belajar untuk mendengarkan komentar klien selama proses terapi
berlangsung, klien dapat berperan sebagai partisipan yang setara dan aktif seutuhnya
dalam segala aspek terapi yang mereka jalani. Dalam bukunya, The Heroic Client, Duncan
dan kawan-kawan (2004) menekankan bahwa “sudah waktunya untuk menempatkan klien
bukan hanya sebagai karakter utama dalam drama terapi namun juga sebagai sutradara
proses perubahan diri mereka ini” (hal. 12). Kekuatan dan persepsi klien merupakan
fondasi proses terapi, dan para penulis ini menyuarakan penilaian kemajuan persepsi klien
yang sistemik dan konsisten, yang membuat terapis membentuk proses terapi sesuai
dengan kebutuhan dan karakteristik tiap klien. Dengan menggunakan umpan balik dari
klien ini, terapis dapat menyesuaikan teknik yang mereka akan terapkan untuk
menciptakan hasil terapi semaksimal mungkin. Pada dasarnya, Duncan dan kawan-kawan
mengatakan bahwa bukti yang berbasis praktik lebih baik daripada praktik berbasis bukti:
“Memberikan informasi seutuhnya pada klien tidak hanya menguatkan suara klien namun
juga akan menciptakan metode yang dapat diterapkan dan telah diuji untuk meningkatkan
efektivitas klinis” (hal. 16).
Hubungan Antara Terapis dan Klien
Sebagian besar pendekatan terapi memiliki kesamaan dalam memahami pentingnya
hubungan terapi yang terjalin. Pendekatan eksistensial, berbasis personal, Gestalt, dan
pendekatan pascamoderen menekankan hubungan personal sebagai penentu utama hasil
penanganan. Terapi rasional emotif, terapi perilaku kognitif, dan terapi perilaku tentunya
tidak mengabaikan faktor hubungan ini, namun mereka tidak terlalu menekankan
hubungan ini sebagai faktor utama dan lebih menekankan penggunaan teknik seefektif
mungkin (Tabel 15.4).
Konseling merupakan suatu hal bersifat pribadi yang melibatkan adanya hubungan
personal, dan bukti-bukti yang mengindikasikan bahwa kejujuran, ketulusan, penerimaan,
pemahaman, dan spontanitas merupakan elemen dasar untuk menciptakan hasil terapi yang
sukses. Seberapa besar tingkat kepedulian, keinginan, dan kemampuan terapis membantu
klien dan ketulusan mereka melakukannya mempengaruhi hubungan terapi yang dijalin.
Menurut Lambert dan Barley (2002), sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kualitas
hubungan terapi sangat berperan penting menentukan kemajuan klien: “Penelitian
menunjukkan bahwa teknk-teknik tertentu tidak terlalu mempengaruhi hasil terapi
dibandingkan dengan faktor intrapersonal dalam proses terapi” (hal. 21). Norcross (2002a)
mengatakan bahwa bukti empiris menunjukkan bahwa hubungan klien-terapis dan metode
yang terapis gunakan berkaitan langsung dengan hasil terapi: “Penelitian menunjukkan
bahwa psikoterapis yang handal adalah psikoterapis yang menerapkan metode-metode
tertentu, yang menciptakan hubungan kuat, dan yang memodifikasi metode dan hubungan
terapi sesuai dengan karakteristik dan kondisi klien” (hal. 13).
Ketika anda mencoba untuk mengembangkan perspektif konseling personal anda,
perhatikanlah kecocokan antara klien dan konselor. Saya tentunya tidak menganjurkan
anda mengubah kepribadian anda untuk menyesuaikan perspeksi harapan klien anda; anda
harus menjadi diri anda sendiri ketika anda bertemu klien. Anda juga perlu
mempertimbangkan kemungkinan bahwa anda mungkin tidak akan dapat menangani tiap-
tiap klien dengan baik. Beberapa klien mungkin akan lebih cocok dengan konselor yang
menerapkan pendekatan personal dan terapi yang berbeda dengan yang anda gunakan.
Dengan demikian, saya menyarankan anda untuk peka dalam meninjau kebutuhan klien
anda, juga dengan memberikan penilaian yang baik tentang kecocokan antara anda dengan
klien anda.
Meskipun anda tidak harus persis sama dengan klien anda atau mengalami
permasalahan yang sama dengannya untuk bisa menanganinya dengan baik, penting bagi
anda untuk dapat memahami dunia mereka dan menghargai diri mereka. Tanyakan pada
diri anda seberapa siap anda untuk menangani klien dari latar belakang budaya yang
berbeda-beda. Sejauh apa anda dapat berhasil menjalin hubungan terapi dengan klien yang
berasal dari ras yang berbeda? Etnis? Gender? Umur? Orientasi seksual? Tingkat
sosioekonomi? Apakah anda melihat kemungkinan hambatan yang akan menyulitkan anda
menjalin hubungan dengan klien-klien tertentu? Anda juga perlu mempertimbangkan
diagnosis klien, tingkat resistansi, preferensi penanganan, dan tahapan perubahan diri
klien. Tiap klien memiliki respon yang berbeda-beda untuk tiap bentuk penanganan dan
gaya hubungan terapi (Norcross, 2002a). Para praktisi perlu menentukan teknik dan
pendekatan yang sesuai dengan karakteristik pribadi klien. Norcross dan Beutler (2008)
menganjurkan untuk mendesain penanganan yang diterapkan sesuai baik untuk klien
maupun konselor. Mereka menuliskan:
Tujuan psikoterapi integratof bukan untuk menciptakan suatu bentuk penanganan universal, namun
untuk memilah tiap-tiap bentuk penanganan yang anda sesuai dengan respon klien dan tujuan dari
penanganan itu sendiri, dengan mengikuti prinsip-prinsip integratif. Ini akan menghasilkan suatu
bentuk terapi yang lebih efisien daripada pendekatan yang berfokus pada satu teori saja-dan bentuk
terapi yang sesuai baik untuk diri klien maupun untuk diri terapis itu sendiri. (hal. 484)
Tabel 15.4 Hubungan Terapi
Terapi
Psikoanalisis
Analis klasik tetap anonimous, dan klien mengembangkan proyeksi
terhadapnya. Fokus untuk mengurangi resistensi yang berkembang
dalam bekerja dengan transferensi dan dalam membangun kontrol
yang lebih rasional. Klien menjalani analisis jangka panjang, terlibat
dalam asosiasi bebas untuk membuka masalah, dan mendapatkan
pandangan dengan bercakap. Analis membuat interpretasi untuk
mengajarkan klien makna dari perilaku saat ini yang berhubungan
dengan masa lalu. Terapi psikoanalisis relasioanal kontemporer,
hubungan itu adalah pokok dan penekanan diberikan pada dimensi di
sini dan saat ini dalam hubungan ini.
Terapi Adlerian
Penekanan terdapat pada tanggung jawab yang saling berhubungan,
pada tujuan yang diputuskan bersama, dan saling percaya dan
menghormati, dan pada kesetaraan. Fokusnya adalah pada
mengidentifikasi, mengeksplor, dan menyingkap tujuan yang salah.
Terapi
Eksistensial
Tugas utama terapis adalah agar secara akurat menarik klien di dunia
dan untuk membangun sebuah penemuan autentik dan personal
dengan mereka. pentingka hubungan terapis-klien dan keautentikan
penemuan di sini dan saat ini ditekankan. Baik klien maupun terapis
dapat diubah oleh penemuan.
Terapi Pribadi-
Pusat
Hubungan adalah kepentingan yang utama. Kualitas terapis, termasuk
ketulusan, kehangatan, empati akurat, penghormatan, dan
ketidakpenghakiman- dan komunikasi dari sikap ini kepada klien-
ditekankan. Klien menggunakan hubungan yang tulus ini dengan
terapis untuk membantu mereka mentransfer apa yang mereka pelajari
pada hubungan lain.
Terapi Gestalt
Kepentingan sentral diberikan pada hubungan saya/anda dan kualitas
dari kehadiran terapis. Sikap terapis dan perilaku lebih diperhitungkan
daripada teknik yang digunakan. Terapis tidak melakukan interpretasi
untuk klien tetapi untuk membantu mereka dalam mengembangkan
makna untuk membuat interpretasi mereka sendiri. Klien
mengidentifikasi dan bekerja pada urusan yang tak selesai di masa lalu
yang mengganggu fungsi masa kini
Terapi Perilaku
Terapis aktif dan direktif dan berfungsi sebagai guru atau mentor
dalam membantu klien mempelajari perilaku yang lebih efektif. Klien
harus aktif di dalam proses dan bereksperimen dengan perilaku-
perilaku baru. Meskipun hubungan klien-terapis yang berkualitas tidak
dipandang cukup untuk membawa perubahan, hal ini dianggap penting
untuk mengimplementasikan prosedur perilaku.
Terapi Perilaku
Kognitif
Dalam REBT, terapis berfungsi sebagai guru dan klien sebagai siswa.
Terapi sangat direktif dan mengajarkan klien model A-B-C tentang
perubahan kognisi mereka. dalam Terapi Kognitif, fokusnya terletak
pada hubungan kolaboratif. Menggunakan dialog sokratis, terapis
membantu klien dalam mengidentifikasi keyakinan disfungsional dan
meneukan aturan alternatif untuk hidup. Terapis mempromosikan
pengalaman korektif yang mengantarkan pada pembelajaran keahlian
baru. Klien mendapatkan pandangan akan masalah mereka dan harus
secara aktif mempraktikkan perubahan pada pemikiran dan tindakan
yang merusak diri sendiri.
Terapi Realita
Fungsi utama terapis adalah untuk menciptakan sebuah hubungan
yang baik dengan klien. Terapis kemudian dapat melibatkan klien
dalam evaluasi seluruh hubungan mereka dalam hubungannya dengan
apa yang mereka inginkan dan seberapa efektif mereka dalam
mendapatkan ini. Terapis menemukan apa yang klien inginkan,
menanyakan apa yang mereka pilih untuk lakukan, mengundang
mereka untuk mengevaluasi perilaku saat ini, membatu mereka
membuat rencana untuk perubahan, dan menjadikan mereka membuat
komitmen. Terapis adalah advokat klien, selama klien ingin untuk
bertindak secara bertanggung jawab.
Terapi Feminis
Hubungan terapi berdasar pada pemberdayaan dan egalitarianisme.
Terapis secara aktif menguraikan hirarki kekuatan dan mengurangi
halangan artifisial dengan terlibat di dalam penyingkapan diri yang
sesuai dan mengajarkan klien tentang proses terapi. Terapis berusaha
untuk menciptakan sebuah hubungan kolaboratif dimana klien dapat
menjadi ahli bagi diri mereka sendiri.
Pendekatan Post-
Modern
Terapi adalah kerja sama kolaboratif. Klien dipandang sebagai ahli
dalam hidup mereka. terapis menggunakan dialog pertanyaan untuk
membantu klien membebaskan dir mereka dari cerita masalah-jenuh
dan untuk menciptakan cerita hidup baru yang menguatkan. Terapis
fokus-solusi menganggap sebuah peran aktif dalam membimbing klien
menjauh dari pembicaraan masalah dan pembicaraan menuju solusi.
Klien didukung untuk mengeksplor kekuatan mereka dan untuk
menciptakan solusi yang akan mengantarkan pada masa depan yang
lebih kaya. Terapi naratif membantu klien dalam mengeksternalisasi
masalah dan membimbing mereka dalam menantang cerita batasan diri
dan menciptakan cerita baru yang lebih membebaskan
Terapi Sistem
Keluarga
Terapi sistem keluarga berfungsi sebagai guru, pelatih, model, dan
konsultan. Keluarga mempelajari cara untuk mendeteksi dan
menyelesaikan masalah yang membuat anggota keluarga menemui
jalan buntu, dan mempelajari tentnag pola yang telah ditransmisikan
dari generasi ke generasi. Beberapa pendekatan berfokus pada peran
terapis sebagai ahli; ornag lain berkonsentari dalam mengintensifkan
apa yang terjadi di sini dan saat ini pada sesi keluarga. Semua terapis
keluarga memberi perhatian pada proses interaksi keluarga dan
mengajarkan pola komunikasi
Tempat Teknik dan Evaluasi dalam Konseling
Mengambil Teknik dari Beragam Pendekatan
Terapis efektif menerapkan beragam prosedur kedalam gaya terapi mereka. kebanyakan
bergantung pada tujuan terapi, latar, dan kepribadian serta gaya terapis, kulitas dari klien
tertentu, dan masalah yang dipilih untuk intervensi. Tanpa mempertimbangkan model
terapi yang dapat anda gunakan, anda harus memutuskan teknik, prosedur, atau metode
intervensi apa yang digunakan, kapan menggunakannya, dan dengan klien yang mana.
Ambil waktu untuk mengkaji lagi tabel 15.5 dan 15.6 pada teknik terapi dan teknik
aplikasi. Berikan perhatian teliti pada fokus dari tiap jenis terapi dan bagaimana fokus
tersebut mungkin berguna dalam praktik anda.
TABEL 15.5 Teknik Terapi
Terapi Psikoanalisis
Teknik kunci adalah interpretasi, analisis mimpi, asosiasi bebas, anlisis
resistensi, analisis transferensi, dan memahami kountertransfer. Teknik
dirancang untuk membantu klien mendapatkan akses pada konflik tak
sadar mereka, yang mengantarkan pada pandangan dan asimilasi akhir
dari materi baru dari ego.
Terapi Adlerian
Adlerian memberi perhatian lebih pada pengalaman subjektif dari klien
daripada menggunakan teknik. Beberapa teknik mencakup pengumpulan
data sejarah hidup (konstelasi keluarga, rekoleksi awal, prioritas
pribadi), membagi interpretasi dengan klien, menawarkan dukungan,
dan membantu klien dalam mencari kemungkinan baru.
Terapi Eksistensial
Beberapa teknik mengalir dari pendekatan ini karna teknik ini
menekankan pemahaman kemudian teknik. Terapis dapat meminjam
teknik dari pendekatan lain dan menerapkannya dalam kerangka
eksistensial. Diagnosis, pengujian, dan ukuran eksternal tidak dianggap
penting. Masalah yang dibahas adalah kebebasan dan
pertanggungjawaban, isolasi dan hubungan, makna dan tanpa makna,
hidup dan mati.
Terapi Pribadi-Pusat
Pendekatan ini menggunakan beberapa teknik tetapi menekankan sikap
terapis dan sebuah “cara hidup”. Terapis berusaha untuk mendengarkan
dengan aktif, refleksi perasaan, klarifikasi, dan “ menjadi ada” bagi
klien. Model ini tidak mencakup pengujian diagnostik, interpretasi,
mengambil sejarah kasus, atau mempertanyakan atau menyelidiki
informasi.
Terapi Gestalt
Banyak eksperimen dirancan untuk mengintensifkan pengalaman dan
untuk mengintegrasikan perasaan yang saling berlawanan. Eksperimen
diciptakan bersama oleh terapis dan klien melalui dialog Saya/Anda.
Terapis memiliki lintang untuk menemukan eksperimen mereka sendiri
secara kreatif. Diagnosis dan pengujian formal tidak membutuhkan
bagian terapi.
Terapi perilaku
Teknik utama adalah penguatan kembali, pembentukan, modelling,
desensitisasi sistematik, metode relaksasi, flooding, gerakan mata dan
pemrosesan kembali desensitisasi, membuat kembali struktur kognitif,
pelatikan asersi dan keahlian sosial, program manajemen diri, metode
penuh pikiran dan penerimaan, pengulaman perilaku, pelatihan, dan
beragam teknik terapi multimodal. Diagnosa atau pengujian dilakukan
diluar untuk menentukan sebuah rencana perlakuan. Pertanyaan
berkonsentrasi pada “Apa”, “Bagaimana”, dan “kapan” (tetapi tidak
dengan “Mengapa”). Kontrak dan tugas rumah juga digunakan.
Terapi Perilaku
Kognitif
Terapis menggunakan beragam teknik kognitif, emotif, dan perilaku;
beragam metode dihubungkan untuk disesuaikan dengan klien individu.
Ini adalah terapi yang aktif, direktif, berbatas waktu, berpusat pada masa
kini, psikoedukasional, dan terstruktur. Beberapa teknik mencakup
keterlibatan dalam dialog sokratis, empirisme kolaboratif, keyakinan
irasional yang diberdebatkan, melakukan tugas rumah, mengumpulkan
data yang telah dibuat oleh seseorang, menjaga catatan aktivitas,
membentuk interpretasi alternatif, memperlajari cara baru dalam
menghadapi masalah, mengubah bahasa dan pola pemikiran seseorang,
permainan peran, imajeri, menantang keyakinan salah, pelatihan
instruksional diri, dan pelatihan suntikan stress.
Terapi realitas
Ini adalah terapi aktif, direktif, dan didaktik. Berbagai
teknik dapat digunakan untuk membuat klien
mengevaluasi apa yang sedang mereka lakukan untuk
melihat apakah mereka mau berubah. Jika klien
memutuskan bahwa perilaku mereka saat ini tidak
efektif, mereka mengembangkan rencana perubahan
khusus dan membuat komitmen untuk
menindaklanjutinya.
Terapi feminis
Meskipun teknik dari pendekatan tradisional digunakan,
praktisi feminis cenderung menggunakan teknik
peningkatan kesadaran yang bertujuan membantu klien
mengenali dampak sosialisasi peran gender pada
kehidupan mereka. Teknik-teknik lain yang sering
digunakan termasuk analisis dan intervensi peran-
gender, analisis dan intervensi kekuatan, terapi
demistifikasi, biblioterapi, penulisan jurnal,
pengungkapan diri terapis, pelatihan ketegasan,
membingkai ulang dan melabel ulang, restrukturisasi
kognitif, mengidentifikasi dan menantang keyakinan
yang belum diuji, bermain peran, metode psikodramatik,
kerja kelompok, dan aksi sosial.
Pendekatan postmodern
Dalam terapi yang berfokus pada solusi, teknik utama
melibatkan perubahan-bicara, dengan penekanan pada
waktu dalam kehidupan klien ketika masalahnya bukan
masalah. Teknik lain termasuk penggunaan pertanyaan
secara kreatif, pertanyaan ajaib, dan pertanyaan
penskalaan, yang membantu klien dalam
mengembangkan cerita alternatif. Dalam terapi naratif,
teknik khusus termasuk mendengarkan cerita jenuh
masalah klien tanpa henti, mengeksternalisasi dan
menamai masalah, mengeksternalisasi percakapan, dan
menemukan petunjuk untuk kompetensi. Terapis naratif
sering menulis surat kepada klien dan membantu
mereka menemukan audiens yang akan mendukung
perubahan dan cerita baru mereka.
Terapi sistem keluarga
Berbagai teknik dapat digunakan, bergantung pada
orientasi teoretis terapis tertentu. Teknik termasuk
genograms, mengajar, mengajukan pertanyaan,
bergabung dengan keluarga, melacak urutan,
mengeluarkan arahan, penggunaan kontra-transferensi,
pemetaan keluarga, penyusunan ulang, restrukturisasi,
pemberlakuan, dan menetapkan batasan. Teknik dapat
bersifat eksperiensial, kognitif, atau perilaku. Sebagian
besar dirancang untuk membawa perubahan dalam
waktu singkat.
TABEL 15.6 Aplikasi Pendekatan
Terapi psikoanalisis
Calon untuk terapi analitik termasuk para profesional
yang ingin menjadi terapis, orang-orang yang telah
menjalani terapi intensif dan ingin melangkah lebih
jauh, dan mereka yang mengalami gangguan
psikologis. Terapi analitik tidak dianjurkan untuk
orang yang egois dan impulsif atau untuk orang
dengan gangguan psikotik. Teknik dapat diterapkan
pada terapi individu dan kelompok.
Terapi Adlerian
Karena pendekatan ini didasarkan pada model
pertumbuhan, hal ini berlaku untuk berbagai bidang
kehidupan seperti bimbingan anak, konseling orang
tua-anak, terapi perkawinan dan keluarga, konseling
individu dengan semua kelompok umur, konseling
perbaikan dan rehabilitasi, konseling kelompok,
penyalahgunaan zat program, dan konseling singkat.
Ini sangat cocok untuk perawatan pencegahan dan
mengurangi berbagai kondisi yang mengganggu
pertumbuhan.
Terapi eksistensial
Pendekatan ini terutama cocok untuk orang-orang
yang menghadapi krisis perkembangan atau transisi
dalam kehidupan dan bagi mereka yang memiliki
kepedulian eksistensial (membuat pilihan, berurusan
dengan kebebasan dan tanggungjawab, mengatasi rasa
bersalah dan cemas, memahami hidup, dan
menemukan nilai-nilai) atau mereka yang mencari
peningkatan pribadi. Pendekatan ini dapat diterapkan
untuk konseling individu dan kelompok, dan untuk
terapi pasangan dan keluarga, intervensi krisis, dan
pekerjaan kesehatan mental masyarakat.
Terapi yang berpusat pada
pelaku
Memiliki penerapan luas untuk konseling individu dan
kelompok. Ini sangat cocok untuk fase awal pekerjaan
intervensi krisis. Prinsip-prinsipnya telah diterapkan
pada terapi pasangan dan keluarga, program
komunitas, administrasi dan manajemen, dan pelatihan
hubungan manusia. Ini adalah pendekatan yang
berguna untuk pengajaran, hubungan orangtua-anak
dan untuk bekerja dengan kelompok orang dari
berbagai latar belakang budaya.
Terapi Gestalt
Mengatasi berbagai masalah dan populasi: intervensi
krisis, pengobatan berbagai gangguan psikosomatik,
terapi pasangan dan keluarga, pelatihan kesadaran
profesional kesehatan mental, masalah perilaku pada
anak-anak, dan pengajaran dan pembelajaran. Ini
sangat cocok untuk konseling individu dan kelompok.
Metode ini adalah katalisator yang kuat untuk
membuka perasaan dan membuat klien berhubungan
dengan pengalaman mereka saat ini.
Terapi perilaku
Pendekatan pragmatis berdasarkan validasi empiris
hasil. Menikmati penerapan luas untuk konseling
individu, kelompok, pasangan, dan keluarga. Beberapa
masalah yang pendekatannya cocok adalah gangguan
fobia, depresi, trauma, gangguan seksual, gangguan
perilaku anak-anak, gagap, dan pencegahan penyakit
kardiovaskular. Di luar praktik klinis, prinsip-
prinsipnya diterapkan di berbagai bidang seperti
pediatri, manajemen stres, kedokteran perilaku,
pendidikan, dan geriatri.
Terapi perilaku kognitif
Telah banyak diterapkan pada pengobatan depresi,
kecemasan, masalah hubungan, manajemen stres,
pelatihan keterampilan, penyalahgunaan zat, pelatihan
asersi, gangguan makan, serangan panik, kecemasan
kinerja, dan fobia sosial. CBT sangat berguna untuk
membantu orang dalam memodifikasi kognisi mereka.
Banyak pendekatan swadaya memanfaatkan prinsip-
prinsipnya. CBT dapat diterapkan pada berbagai
populasi klien dengan berbagai masalah khusus.
Terapi realitas
Ditujukan untuk mengajar orang cara menggunakan
teori pilihan dalam kehidupan sehari-hari untuk
meningkatkan perilaku yang efektif. Hal ini telah
diterapkan pada konseling individu dengan berbagai
klien, konseling kelompok, bekerja dengan pelanggar
hukum muda, dan terapi pasangan dan keluarga.
Dalam beberapa kasus sangat cocok untuk terapi
singkat dan intervensi krisis.
Terapi feminis
Prinsip dan teknik dapat diterapkan pada berbagai
modalitas terapeutik seperti terapi individu, konseling
hubungan, terapi keluarga, konseling kelompok, dan
intervensi masyarakat. Pendekatan ini dapat diterapkan
untuk perempuan dan laki-laki dengan tujuan
mewujudkan pemberdayaan.
Pendekatan postmodern
Terapi yang berfokus pada solusi sangat cocok untuk
orang dengan gangguan penyesuaian dan untuk
masalah kecemasan dan depresi. Terapi naratif
sekarang sedang digunakan untuk berbagai kesulitan
manusia termasuk gangguan makan, kesulitan
keluarga, depresi, dan masalah hubungan. Pendekatan-
pendekatan ini dapat diterapkan untuk bekerja dengan
anak-anak, remaja, dewasa, pasangan, keluarga, dan
masyarakat dalam berbagai pengaturan. Kedua
pendekatan yang berfokus pada solusi dan naratif
cocok untuk konseling kelompok.
Terapi sistem keluarga
Berguna untuk menghadapi tekanan pernikahan,
masalah komunikasi di antara anggota keluarga,
perebutan kekuasaan, situasi krisis dalam keluarga,
membantu individu mencapai potensi mereka, dan
meningkatkan fungsi keluarga secara keseluruhan.
Sangat penting untuk menyadari bagaimana latar belakang budaya klien
berkontribusi pada persepsi mereka tentang masalah mereka. Masing-masing dari 11
pendekatan terapeutik memiliki kekuatan dan keterbatasan ketika diterapkan pada populasi
klien yang beragam secara budaya (Tabel 15.7 dan 15.8). Meskipun tidak bijaksana untuk
membuat stereotip klien karena warisan budaya mereka, akan berguna untuk menilai
bagaimana konteks budaya memiliki kaitan dengan keprihatinan mereka. Beberapa teknik
dapat dikontraindikasikan karena sosialisasi klien. Dengan demikian, respons klien (atau
kurangnya itu) untuk teknik tertentu adalah barometer penting dalam menilai efektivitas
metode ini.
Konseling yang efektif melibatkan kemahiran dalam kombinasi teknik kognitif,
afektif, dan perilaku. Kombinasi semacam itu diperlukan untuk membantu klien
memikirkan keyakinan dan asumsi mereka, untuk mengalami tingkat perasaan konflik dan
perjuangan mereka, dan untuk menerjemahkan wawasan mereka ke dalam program
tindakan dengan berperilaku dengan cara-cara baru dalam kehidupan sehari-hari. Tabel
15.9 dan 15.10 menguraikan kontribusi dan keterbatasan berbagai pendekatan terapeutik.
Tabel-tabel ini akan membantu Anda mengidentifikasi elemen-elemen dari berbagai
pendekatan yang mungkin ingin Anda masukkan dalam perspektif konseling Anda sendiri.
TABEL 15.7 Kontribusi dalam Konseling Multikultural
Terapi Psikoanalisis
Fokus terapi ini terhadap dinamika keluarga cocok
untuk diterapkan dalam menangani sejumlah kelompok
kultural. Formalitas terapi dalam pendekatan ini cocok
dengan klien yang ingin mengharapkan adanya jarak
profesional. Konsep perlindungan ego dalam
pendekatan ini dapat membantu terapis dalam
memahami dinamika internal klien dan dalam
menangani tekanan lingkungan.
Terapi Adlerian
Fokus terapi terhadap minat sosial, rasa ingin menolong,
kolektivisme, pencarian arti hidup, pentingnya keluarga,
orientasi tujuan, dan rasa nyaman diri sejalan dengan
nilai-nilai yang dianut dalam sejumlah budaya. Fokus
terapi ini yang bersifat fokus pada satu individu dalam
lingkungan membuat terapis dapat mengeksplor
pengaruh-pengaruh kultural diri klien.
Terapi Eksistensial
Fokus terapi ini adalah kepada pemahaman dunia
fenomenologis klien, termasuk latar belakang kultural
klien. Pendekatan ini akan menghasilkan pemberdayaan
diri dalam masyarakat opresif. Terapi eksistensial dapat
membantu klien menginstropeksi opsi perubahan
mereka dalam konteks realitas kultural kehidupan
mereka. Pendekatan eksistensial khususnya cocok untuk
menangani beragam klien karena fondasi filosofis
pendekatan ini yang menekankan kondisi manusia.
Terapi Berbasis-diri
Fokus terapi ini adalah untuk melenyapkan hambatan
kultural dan mewadahi dialog terbuka dalam masyarakat
kultural. Keunggulan-keunggulan utama terapi ini
adalah seperti penghargaan terhadap nilai-nilai yang
klien anut, menyimak cerita klien secara aktif, rasa
menerima perbedaan, sikap yang tidak menilai,
keinginan untuk membiarkan klien menentukan hal apa
yang ingin dieksplor dalam sesi terapi, serta pemberian
keutamaan terhadap pluralisme.
Terapi Gestalt
Fokus pendekatan ini yang befokus pada pengekspresian
diri cocok untuk klien yang berasal dari kebudayaan
yang tidak melihat pesan dalam bentuk sebatas tulisan
semata. Terapi ini dapat menangani klien yang
merasakan adanya hambatan kultural yang menghalangi
mereka untuk mengekspresikan diri. Terapi ini dapat
membantu klien melampaui tembok bahasa terhadap
klien dwibahasa. Fokus terapi terhadap ekspresi tubuh
dapat membantu klien mengenali konflik yang mereka
hadapi.
Terapi Perilaku
Fokus terapi yang lebih berfokus pada perilaku daripada
perasaan sesuai dengan nilai-nilai yang dianut sejumlah
kebudayaan. Keunggulan terapi ini adalah seperti
adanya hubungan kolaboratif antara konselor dan klien
bekerja sama menuju tujuan yang disepakati
sebelumnya, peninjauan yang dilakukan terus-menerus
untuk menentukan apakah teknik yang diterapkan sesuai
dengan situasi yang dihadapi klien, fokus yang bersifat
edukatif, dan penekanan terhadap strategi-strategi
manajemen diri. Terapi ini juga dapat membantu klien
mempelajari keahlian-keahlian praktikal,
Terapi Perilaku kognitif
Terapi ini berfokus pada pendekatan kolaboratif yang
memberikan klien kesempatan untuk mengekspresikan
kekhawatiran mereka. Dimensi psikoedukatif
pendekatan ini dapat digunakan untuk mengeksplor
konflik-konflik kultural dan untuk pengajaran perilaku
baru. Penekanan terapi ini yang berfokus pada isi
pikiran (bukan pada identifikasi dan ekspresi perasaan)
dapat diterima oleh klien apapun. Fokus terapi terhadap
pengajaran dan pembelajaran cenderung untuk
menghindari stigma penyakit kejiwaan. Klien dapat
menghargai jarak aktif dan direktif terapis.
Terapi Realitas
Terapi ini berfokus untuk meminta klien melakukan
evaluasi perilaku diri mereka sendiri (termasuk
bagaimana cara mereka merespon kebudayaan mereka
sendiri). Melalui peninjauan personal yang dilakukan
dalam terapi ini, klien dapat menentukan apakah
kebutuhan dan keinginan mereka terpenuhi. Klien dapat
menemukan suatu keseimbangan antara
mempertahankan identitas etnis diri mereka dan
mengintegrasikan nilai-nilai dan praktik masyarakat
dominan.
Terapi Feminis
Terapi ini berfokus pada perubahan diri dan
transformasi sosial. Terapi ini berhasil meningkatkan
kesadaran masyarakat terhadap dampak negatif
diskriminasi dan penindasan sosial terhadap pria dan
wanita.
Pendekatan Pascamoderen
Pendekatan ini berfokus pada perilaku dalam konteks
sosial dan kultural. Cerita-cerita yang dibentuk dalam
sesi terapi harus dikaitkan dengan dunia sosial
kehidupan klien. Terapis tidak memberikan asumsi dan
menghargai tiap cerita dan latar belakang kebudayaan
klien. Terapis pendekatan ini berperan aktif untuk
menantang ketidakadilan sosial dan kultural yang
menciptakan penindasan terhadap kelompok-kelompok
masyarakat tertentu. Terapi kemudian menjadi suatu
proses pembebasan dari nilai-nilai kulutral opresif dan
membuat klien dapat menjadi agen aktif terhadap takdir
mereka sendiri.
Terapi Sistem Keluarga
Terapi ini berfokus pada sistem keluarga atau
masyarakat. Ada banyak kelompok etnis dan kultural
yang menghargai peran keluarga jauh. Sejumlah bentuk
terapi keluarga menangani anggota keluarga jauh.
Interaksi merupakan bagian dari proses terapi, dimana
interaksi ini sejalan dengan nilai-nilai yang dianut
sejumlah kliem. Perubahan individu akan lebih mungkin
terjadi jika anggota keluarga lain bersikap suportif
terhadap individu tersebut. Pendekatan ini memberikan
sejumlah cara untuk mencapai kesejahteraan dan
kesehatan dalam keluarga dan dalam tiap anggota
keluarga.
TABEL 15.8 Keterbatasan dalam Konseling Multikultural
Terapi Psikoanalisis
Fokus terapi yang berfokus pada pencerahan diri,
dinamika intrafisik, dan proses penanganan jangka
panjang seringkali tidak disukai oleh klien yang lebih
memilih untuk lebih mempelajari keahlian-keahlian
praktikal sebagai mekanisme menyelesaikan
permasalahan kehidupan sehari-hari. Fokus internal ini
seringkali bertentangan dengan nilai-nilai kultural yang
lebih berfokus pada isu-isu lingkungan dan
intrapersonal.
Terapi Adler
Konsep wawancara menyeluruh tentang latar belakang
keluarga klien yang dilakukan dalam terapi ini dapat
bertentangan dengan budaya yang tidak menghargai
adanya pembahasan terbuka isu-isu keluarga. Beberapa
klien mungkin akan melihat konselor sebagai seseorang
yang akan memberikan jawaban atas permasalahan yang
dihadapi, dimana pandangan ini bertentangan dengan
semangat egaliter yang ada dalam terapi sebagai cara
untuk mengurangi jarak sosial.
Terapi Eksistensial
Nilai-nilai individualitas, kebebasan, otonomi, dan
kesadaran diri seringkali bertentangan dengan nilai-nilai
kultural seperti kolektivisme, rasa hormat pada tradisi,
penyerahan diri pada pihak otoritas, dan
intradependensi. Sejumlah klien mungkin tidak akan
menyukai terapi ini karena tidak diterapkannya suatu
teknik-teknik tertentu. Sedangkan sejumlah klien lain
akan mengharapkan terapi ini lebih berfokus pada cara-
cara praktikal untuk bisa bertahan dalam hidup.
Terapi berbasis-diri
Beberapa nilai inti pendekatan ini mungkin saja tidak
sejalan dengan nilai-nilai kebudayaan yang dianut klien
tertentu. Kurangnya direksi dan struktur konselor dalam
terapi ini mungkin tidak dapat diterima oleh klien yang
mengharapkan adanya bantuan dan jawaban instan atas
permasalahan yang dihadapi.
Terapi Gestalt
Klien yang secara kultural diajarkan untuk tidak bersifat
emosional mungkin tidak akan cocok dengan
eksperimen Gestakt ini. Mereka mungkin tidak akan
memahami bagaimana teknik “mawas diri dalam
pengalaman momen saat ini” dapat menyelesaikan
permasalahan mereka.
Terapi Perilaku
Para anggota keluarga mungkin tidak akan dapat
menerima sikap asertif klien yang ia peroleh dalam
terapi, sehingga klien perlu diajarkan bagaimana cara
menghadapi penolakan dari luar ini. Konselor perlu
membantu klien menilai kemungkinan-kemungkinan
konsekuensi perubahan perilaku.
Terapi Kognitif Perilaku
Sebelum berusaha untuk mengubah keyakinan dan
perilaku klien, terapis perlu memahami dan menghargai
dunia klien. Sejumlah klien mungkin saja tidak suka
untuk mempertanyakan nilai-nilai dan keyakinan dasar
kultural yang mereka anut. Klien bisa saja akan terlalu
bergantung pada diri terapis untuk memutuskan cara
terbaik menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
Terapi Realitas
Pendekatan ini menekankan diri klien untuk
bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, namun
sejumlah klien mungkin lebih ingin untuk mengubah
lingkungan eksternal mereka daripada diri internal
mereka. Konselor harus menyadari peran diskriminasi
dan rasisme dan konselor juga perlu membantu klien
untuk dapat menghadapi realitas-realitas sosial dan
politik hidupnya.
Terapi Feminis
Model ini dikritik karena memiliki bias terhadap nilai-
nilai yang dianut para perempuan heteroseksual kelas
menengah berkulit putih, dimana nilai-nilai ini tidak
dapat diterapkan dalam kelompok perempuan lain.
Terapis dan klien perlu meninjau konsekuensi yang
mungkin tercipta dengan melakukan perubahan
signifikan personal dalam diri klien, dimana perubahan
ini mungkin akan membuat klien terisolasi dari anggota
keluarga lain karena klien telah memperoleh peran baru
dalam hidup dan mewujudkan perubahan dalam
hidupnya.
Pendekatan pascamoderen
Sejumlah klien melakukan terapi karena mereka ingin
untuk membicarakan permasalahan kehidupan mereka,
dan mereka bisa saja tidak suka dengan adanya
persistensi terapis untuk membicarakan hal-hal lain
dengan masalah yang mereka hadapi. Klien bisa saja
akan melihat terapis sebagai sang ahli dan tidak ingin
melihat diri mereka sebagai ahli kehidupan mereka
sendiri. Klien-klien tertentu bisa saja akan bersikap ragu
terhadap kapabilitas terapis yang menempatkan dirinya
dalam posisi “tidak tahu-menahu”.
Terapi Sistem Keluarga
Terapi keluarga berlandaskan pada asumsi nilai yang
tidak sejalan dengan nilai-nilai yang dianut oleh
sejumlah klien yang berlatar belakang kebudayaan
tertentu. Konsep-konsep Barat seperti individuasi,
aktualisasi diri, determinasi diri, independensi, dan
ekspresi diri mungkin akan terasa asing bagi sejumlah
klien tertentu. Dalam beberapa kebudayaan tertentu,
menceritakan permasalahan yang dihadapi pada
keluarga dianggap sebagai suatu hal memalukan. Nilai
“memendam masalah dari keluarga” ini akan
menyulitkan terapis untuk mengeksplor konflik klien
secara terbuka.
Tabel 15.9 Kontribusi Pendekatan
Terapi
Psikoanalisis
Lebih daripada sistem lainnya, pendekatan ini telah mengasilkan
kontroversi juga eksplorasi dan telah menstimulasikan pemikiran dan
perkembangan terapi lebih jauh. Ini telah menyediakan sebuah
deskripsi rinci dan komprehensi dari struktur dan fungsi kepribadian.
Hal ini telah membawa faktor-faktor terkemuka seperi ketidaksadaran
sebagai sebuah perilaku penentu dan peran trauma selama 6 tahun
pertama kehidupan. Hal ini telah mengembangkan beberapa teknik
untuk mengetuk ketidaksadaran dan menyorotkan cahaya pada
dinamika transferensi dan kounter-transferensi, resistensi,
kebingungan, dan mekanisme pertahanan ego.
Terapi Adlerian
Kontribusi kunci adalah pengaruh bahwa konsep Adlerian telah
memiliki sistem laind an integrasi dari konsep ini kedalam beragam
terapi kontemporer. Ini merupakan salah satu penekatan pertama
dalam terapi bahwa yang humanistik, bersatu, holistik, dan
berorientasi pada tujuan, dan memberikan pendekatan pada faktor
sosial dan psikologikal.
Terapi
Eksistensial
Kontribusi utamanya adalah rekognisi akan kebutuhan untuk
pendekatan subjektif berdasarkan pada pandangan lengkap akan
kondisi manusia. Ia memberikan perhatian pada kebutuhan akan
pernyataan filosofis akan apa yang artinya menjadi seseorang.
Penekanan pada hubungan Saya/Anda mengurangi kesempatan terapi
dehumanisasi. Ia menyediakan sebuah perspektif untuk memahami
kebingungan, rasa bersalah, kebebasan, kematian, isolasi, dan
komitmen.
Terapi Pribadi-
Pusat
Klien mengambil pendirian aktif dan mengasumsikan
pertanggungjawaban untuk arah terapi. Pendekatan unik ini telah
diarahkan pada pengujian empiris, dan sebagai hasil baik bagi teori
dan metode yang telah dimodifikasi. Ini adalah sistem terbuka. Orang-
orang tanpa pelatihan tinggi dapat mengambil manfaat dengan
menerjemahkan kondisi terapi untuk kehidupan personal dan
profesional mereka. konsep dasarnya lugas dan mudah untuk dipahami
dan diaplikasikan. Ini adalah fondasi untuk membangun hubungan
saling percaya, dan dapat diaplikasikan untuk seluruh terapi.
Terapi Gestalt
Penekanan pada pengalaman langsung dan melakukan bukannya pada
sekadar membicarakan tentang perasaan memberikan perspektif pada
pertumbuhan dan peningkatan, bukan sekadar perlakuan kelainan. Hal
ini menggunakan perilaku klien sebagai dasar untuk membaut mereka
sadar akan potensi kreatif mereka. pendekatan untuk bermimpi
merupakan sebuah alat yang unik dan kreatif untuk membant klien
menemukan konflik dasar. Terapi dipandang sebagai sebuah
penemuan eksistensial; ia berorientasi proses, bukan berorentasi
teknik. Ia mengenali perilaku non verbal sebagai kunci untuk
memahami.
Terapi Perilaku
Penekanan terletak pada pengkajian dan evaluasi teknik, sehingga
menyediakan sebuah dasar untuk praktik yang dapat dipertanggung
jawabkan. Masalah tertentu diidentifikasi, dan klien dijaga agar tetap
mendapatkan informasi tentang proses menuju tujuan mereka.
pendekatan ini telah mendemonstrasikan keefektifak dalam banyak
area dalam fungsi manusia. Peran terapis adalah sebagai penguat
kembali, model, guru, dan konsultan secara eksplisit. Pendekatan ini
telah menjalani ekspansi ekstensif, dan penelitian literatur. Bukan lagi
pendekatan mekanistik, karena ia sekarang memberikan ruang bagi
faktor-faktor kognitif dan mendukung program pengarahan diri untuk
perubahan perilaku.
Terapi Perilaku
Kognitif
Kontribusi utama mencakup penekanan pada praktik terapi eklektik
yang komprehensif; teknik kognitif; emotif dan perilaku yang banyak;
keterbukaan untuk menerapkan teknik dari pendekatan yang lain; dan
sebuah metodologi untuk menantang dan mengubah pemikiran yang
salah. Kebanyakan bentuk terapi dapat diintegrasikan kedalam terapi
umum lainnya. REBT membuat penggunaan penuh dari tugas
berorientasi-tindakan, beragam metode psikoedukasional, dan menjaga
catatan progres. Perilaku Kognitif adalah terapi terstruktur yang
memiliki jalan yang bagus untuk memperlakukan depresi dan
kebingungan dalam waktu yang singkat.
Terapi Realita
Ini merupakan sebuah pendekatan positif dengan orientasi teknik yang
bersandar pada konsep sederhana dan jelas yang mudah didapat dalam
banyak profesi bantuan. Ini dapat digunakan oleh guru, perawat,
menteri, pendidik, pekerja sosial, dan konselor. Dikarenakan metode
langsung, ini menarik bagi klien yang sering terlihat resistan terhadap
terapi. Ini merupakan pendekatan jangka pendek yang dapat
diaplikasikan pada beragam populasi, dan telah menjadi kekuatan
signifikan dalam menantang model medikal terapi.
Terapi Feminis
Perspektif feminis bertanggung jawab untuk mendukung
meningkatnya jumlah wanita untuk mempertanyakan stereotype
gender dan untuk menolak pandangan terbatas tentang wanita
diharapkan menjadi apa. Ini membuat jalan bagi praktik gender-
sensitif dan memberikan perhatian pada penggunaan kekuatan gender
dalam hubungan. Suara feminis yang disatukan memberi perhatian
pada perluasan dan implikasi kekerasan pada anak, perzinahan,
pemerkosaan, kekerasan seksual, dan kekerasan domestik. Prinsip dan
intervensi feminis dapat diterapkan pada pendekatan terapi lainnya.
Pendekatan Post-
Modern
Keringkasan pendekatan ini sesuai dengan batasan yang ditentukan
oleh sebuah struktur perawatan yang diatur. Penekanan pada kekuatan
dan kompetensi klien menarik bagi klien yang ingin menciptakan
solusi dan merevisi cerita hidup mereka di dalam sebuah arah positif.
Klien tidak disalahkan atas masalah mereka tetapi dibantu untuk
memahami bagaimana mereka berhubungan dengan cara yang lebih
memuaskan untuk masalah seperti itu. Kekuatan pendekatan ini adalah
format pertanyaan yang mengundang klien untuk memandang diri
mereka dalam cara efektif yang lebih baru.
TABEL 15.10 Batasan Pendekatan
Terapi Psikoanalisis
Membutuhkan pelatihan panjang bagi terapis dan banyak
waktu untuk klien. Model menekankan faktor biologikal
dan instingtual untuk mengabaikan yang sosial, kultural,
dan interpersonal. Metodenya kurnag dapat diaplikasikan
untuk menyelesaikan masalah hidup spesifik klien dan
mungkin tidak sesuai untuk beberapa kelompok etnis dan
budaya. Banyak klien kurang kekuatan ego yang
membutuhkan terapi regresif dan kosntruktif. Mungkin
tidak sesuai untuk latar konseling tertentu.
Terapi Adlerian
Lemah dalam hal presisi, kemampuan untuk dapat diuji,
dan validitas empiris. Beberapa tujuan telah dibuat untuk
memvalidasi konsep dasar oleh metode saintifik.
Cenderung terlalu menyederhanakan beberapa masalah
kompleks manusia dan didasarkan pada perasaan dasar.
Terapi Eksistensial
Banyak konsep dasar yang tidak jelas dan salah
didefinisikan, menjadikan kerangka umumnya abstrak.
Kurang pernyataan sistematik atas prinsip dan praktik
terapi. Memiliki kemampuan untuk diterapkan yang
terbatas untuk merendahkan fungsi dan klien non verbal
dan untuk klien dalam krisi ekstrim yang membutuhkan
arahan.
Terapi Pribadi-Pusat
Bahaya yang mungkin bagi terapis yang tetap pasif dan
inaktif, membatasi respon pada refleksi. Banyak klien
merasakan kebutuhan akan arah yang lebih besar, struktur
yang lebih, dan teknik yang lebih. Klien dalam situasi
krisis mungkin membutuhkan ukuran direktif yang lebih.
Diaplikasikan bagi konseling indiviu, beberapa kelompok
kultural akan mengharapkan aktivitas konselor yang lebih.
Terapi Gestalt
Tekniknya mengantarkan pada ekspresi emosi yang intens;
jika perasaan ini tidak dieksplor dan jika perkerjaan
kognitif tidak dilakukan, klien sepertinya akan
ditinggalkan meski tak selesai dan akan memiliki rasa
integrasi dari yang mereka pelajari. Klien yang memiliki
kesulitan menggunakan imaginasi mungkin tidak mendapat
keuntungan dari eksperimen.
Terapi perilaku
Kritisisme utama adalah bahwa hal ini dapat mengubah
perilaku tetapi tidak dengan perasaan; bahwa ia
mengabaikan faktor relasional dalam terapi; bahwa ia tidak
menyediakan pandangan; mengabaikan sebab historikal
atas perilaku saat ini; bahwa ia mencakup kontrol oleh
terapis; ia terbatas dalam kapasitasnya untuk membahas
aspek-aspek tertentu dari kondisi manusia.
Terapi Perilaku Kognitif
Cenderung memainkan emosi, tidak berfokus dalam
mengeksplor ketidaksadaran atau konflik yang mendasari,
menekankan nilai pandangan, dan kadang tidak
memberikan beban cukup pada masa lalu klien. REBT,
sebuah terapi konfrontasional, dapat mengantarkan pada
terminasi prematur. CBT mungkin terlalu terstruktur bagi
beberapa klien.
Terapi Realita
Memotong nilai terapi dalam mengeksplor masa lalu,
mimpi-mimpi, ketidaksadar, pengalaman masa kecil, dan
transferensi dari klien. Pendekatan ini terbatas pada
masalah yang kurang kompleks. Ini merupakan sebuah
terapi penyelesaian masalah yang cenderung mendukung
eksplorasi terhadap masalah emosional yang lebih dalam.
Terapi feminis
Batasan yang mungkin adalah potensi terapis untuk
memaksakan serangkaian nilai baru pada klien seperti
mengupayakan kesetaraan, kekuatan dalam hubungan,
menentukan diri sendiri, kebebasan untuk mengejar karir
di luar rumah, dan hak atas pendidikan. Terapis perlu
mengingat bahwa klien adalah ahli terbaik untuk mereka
sendiri, yang berarti terserah kepada mereka untuk
memutuskan nilai-nilai yang harus dijalani.
Pendekatan postmodern
Ada sedikit validasi empiris dari efektivitas hasil terapi.
Beberapa kritikus berpendapat bahwa pendekatan ini
mendukung pemandu sorak dan perspektif yang terlalu
positif. Beberapa kritis terhadap sikap yang diambil oleh
sebagian besar terapis postmodern mengenai penilaian dan
diagnosis, dan juga bereaksi negatif terhadap sikap "tidak
tahu" terapis. Karena beberapa teknik terapi naratif yang
berfokus pada solusi dan relatif mudah dipelajari, praktisi
dapat menggunakan intervensi ini dengan cara mekanis
atau menerapkan teknik ini tanpa alasan yang masuk akal.
Terapi sistem keluarga
Keterbatasan termasuk masalah dalam melibatkan semua
anggota keluarga dalam terapi. Beberapa anggota keluarga
mungkin resisten terhadap perubahan struktur sistem.
Pengetahuan dan kemauan terapis untuk bekerja pada
masalah asal-usul keluarga mereka sendiri sangat penting,
karena potensi untuk kontra-transferensi tinggi. Adalah
penting bahwa terapis dilatih dengan baik, menerima
pengawasan berkualitas, dan kompeten dalam menilai dan
merawat individu dalam konteks keluarga.
Mengevaluasi Keefektifan Konseling dan Terapi
Percepatan pendanaan publik untuk semua jenis program layanan manusia selama 1960-an
membangkitkan minat dalam penelitian evaluasi, yang terutama membahas proses dan
hasil terapi. Intinya, jika dana pemerintah terus dialokasikan ke lembaga pelayanan
manusia, beban pembuktian ada pada peneliti dan praktisi untuk menunjukkan efektivitas
psikoterapi dengan menggunakan metode ilmiah. Pertanyaan sentral yang diajukan adalah,
"Dari nilai apa psikoterapi bagi individu dan masyarakat?" (Strupp, 1986). Penyedia
kesehatan mental masih dihadapkan pada akuntabilitas. Di era perawatan terkelola,
menjadi semakin penting bagi praktisi untuk menunjukkan sejauh mana intervensi mereka
baik secara klinis dan hemat biaya.
Apakah terapi membuat perbedaan yang signifikan? Apakah orang secara
substansial lebih baik setelah terapi daripada tanpa terapi? Dapatkah terapi sebenarnya
lebih berbahaya daripada membantu? Sebuah diskusi menyeluruh tentang pertanyaan-
pertanyaan ini berada di luar cakupan buku ini, tetapi saya akan membahas beberapa
masalah dasar terkait dengan mengevaluasi efektivitas konseling.
Mengevaluasi seberapa baik psikoterapi bekerja jauh dari sederhana. Sistem terapi
diterapkan oleh para praktisi yang memiliki karakteristik individu yang unik, dan klien
sendiri memiliki banyak kaitan dengan hasil terapi.
Sebagai contoh, efek yang dihasilkan dari kejadian tak terduga dan tak terkendali
di lingkungan dapat mengurangi dampak hasil yang dicapai dalam psikoterapi. Seperti
yang ditunjukkan Garfield (1992b), variabel dasar yang memengaruhi penelitian terapi
sangat sulit dikendalikan. Selain itu, praktisi yang menganut pendekatan yang sama
cenderung menggunakan teknik dengan berbagai cara dan berhubungan dengan klien
dalam beragam mode, berfungsi secara berbeda dengan klien yang berbeda dan dalam
pengaturan klinis yang berbeda. Norcross dan Beutler (2008) mencatat bahwa praktik
berbasis bukti mencerminkan komitmen untuk "apa yang berhasil, bukan pada teori apa
yang berlaku" (hal. 489).
Sebagian besar studi hasil telah dilakukan oleh dua kelompok berbeda: (1) terapis
perilaku dan kognitif, yang telah mendasarkan praktik terapeutik mereka pada studi
empiris, dan (2) peneliti yang berpusat pada pelaku, yang telah membuat kontribusi
signifikan untuk memahami variabel proses dan hasil. Penelitian empiris yang signifikan
berkaitan dengan seberapa baik terapi bekerja belum diproduksi untuk sebagian besar
model lain yang tercakup dalam buku ini.
Seberapa efektif psikoterapi? Sebuah meta-analisis literatur hasil psikoterapi yang
dilakukan oleh Smith, Glass, dan Miller (1980) menyimpulkan bahwa psikoterapi sangat
efektif. John Norcross (komunikasi pribadi, 14 Februari 2007) menyatakan bahwa lebih
dari 3.000 studi individu dan 300 meta-analisis telah dilakukan pada efektivitas
psikoterapi, dan studi-studi ini menunjukkan bahwa intervensi terapi yang dikembangkan
dengan baik memiliki efek yang bermakna dan positif pada variabel hasil yang diharapkan.
. Berita baiknya adalah bahwa literatur penelitian menunjukkan bukti kuat untuk
efektivitas terapi secara keseluruhan (Duncan et al., 2004). Lambert dan Barley (2002)
menyatakan bahwa penelitian psikoterapi yang ada mengarah pada kesimpulan bahwa,
secara umum, psikoterapi telah terbukti efektif. Penelitian ini menunjukkan bahwa rata-
rata klien yang dirawat lebih baik daripada 80% dari subyek kontrol perbandingan yang
tidak diobati.
Ringkasan dari data penelitian menunjukkan bahwa berbagai pendekatan
pengobatan mencapai hasil yang setara (Duncan et al., 2004). Meskipun jelas bahwa terapi
bekerja, tidak ada penjelasan sederhana tentang cara kerjanya, dan tampaknya kita harus
melihat faktor-faktor yang umum untuk semua pendekatan terapi. Bukti-bukti memperjelas
bahwa kesamaan daripada perbedaan di antara model menjelaskan efektivitas psikoterapi.
Hubble, Duncan, dan Miller (1999) mengumpulkan berbagai peneliti untuk meninjau 40
tahun investigasi dan menemukan bahwa empat faktor berikut menjelaskan perubahan
dalam terapi:
Faktor klien: 40%
Faktor aliansi (hubungan terapeutik): 30%
Faktor harapan (harapan dan kesetiaan): 15%
Model dan teknik teoritis: 15%
Seperti yang ditekankan Hubble dan rekannya, tidak ada bentuk pengobatan
spesifik yang jelas lebih unggul daripada yang lain. Tidak ada efisiensi diferensial di
antara pendekatan.
Berbagai pendekatan dan teknik terapi bekerja sama baiknya karena mereka
berbagi unsur terpenting yang berperan dalam perubahan klien. Data menunjukkan
kesimpulan bahwa mesin perubahan adalah klien (Tallman & Bohart, 1999). Apa yang
tersirat di sini adalah bahwa kita dapat secara paling produktif mengarahkan upaya kita ke
arah cara mempekerjakan klien dalam proses perubahan (Duncan et al., 2004).
Selanjutnya, Duncan dan rekan menyatakan bahwa terapis dapat menerjemahkan
penelitian ini ke dalam kerja klinis mereka dengan secara sengaja bekerja untuk:
Meningkatkan faktor umum di semua teori yang menjelaskan hasil yang sukses
Fokus pada perspektif dan teori perubahan klien sebagai panduan untuk memilih
teknik dan mengintegrasikan berbagai model terapi
Mendapatkan umpan balik klien yang sistematis mengenai pengalaman klien
tentang proses dan hasil terapi
Duncan dan rekan-rekannya mencatat bahwa teori perubahan klien dapat digunakan
sebagai dasar untuk menentukan pendekatan mana, oleh siapa, yang paling efektif untuk
orang ini, dengan masalah spesifiknya, dalam keadaan khusus ini. Pendekatan untuk
mempraktikkan terapi ini menekankan pada masukan klien secara terus-menerus ke dalam
proses terapi. Melakukan hal ini meningkatkan kemungkinan partisipasi klien aktif dalam
terapi, yang merupakan penentu paling penting dari hasil pengobatan.
Ringkasan
Menciptakan sikap integratif benar-benar sebuah tantangan. Terapis tidak bisa begitu saja
mengambil potongan-potongan dari teori secara acak dan terfragmentasi. Dalam
membentuk perspektif yang terintegrasi, penting untuk bertanya: Teori mana yang
memberikan dasar untuk memahami dimensi kognitif? Bagaimana dengan aspek
perasaan? Dan bagaimana dengan dimensi perilaku? Sebagian besar dari 11 orientasi
terapi yang dibahas di sini berfokus pada salah satu dimensi pengalaman manusia ini.
Meskipun dimensi lain tidak selalu diabaikan, mereka sering diberi sedikit perhatian.
Mengembangkan perspektif teoretis terintegrasi membutuhkan banyak pengalaman
membaca, berpikir, dan konseling aktual. Tanpa pengetahuan yang akurat dan mendalam
tentang teori-teori ini, Anda tidak dapat merumuskan sintesis yang benar. Sederhananya,
Anda tidak dapat mengintegrasikan apa yang tidak Anda ketahui (Norcross & Beutler,
2008). Pesan utama dari buku ini adalah tetap terbuka untuk setiap teori, melakukan
bacaan lebih lanjut, dan untuk merenungkan bagaimana konsep-konsep kunci dari setiap
pendekatan sesuai dengan kepribadian Anda. Membangun orientasi pribadi Anda untuk
konseling, yang didasarkan pada apa yang Anda anggap sebagai fitur terbaik dari beberapa
teori, adalah usaha jangka panjang.
Selain mempertimbangkan kepribadian Anda sendiri, pikirkan konsep dan teknik
apa yang paling cocok untuk sejumlah klien. Dibutuhkan pengetahuan, keterampilan, seni,
dan pengalaman untuk dapat menentukan teknik apa yang cocok untuk masalah tertentu.
Ini juga merupakan seni untuk mengetahui kapan dan bagaimana menggunakan intervensi
terapeutik tertentu. Meskipun merefleksikan preferensi pribadi Anda adalah penting, saya
berharap Anda juga menyeimbangkan preferensi Anda dengan bukti dari studi penelitian.
Mengembangkan pendekatan pribadi untuk praktik konseling tidak menyiratkan bahwa
apa pun berjalan. Memang, di era perawatan terkelola dan efektivitas biaya ini, preferensi
pribadi Anda mungkin tidak selalu menjadi satu-satunya penentu praktik psikoterapi Anda.
Dalam konseling klien dengan masalah tertentu, teknik spesifik telah menunjukkan
efektivitas mereka. Sebagai contoh, terapi perilaku, terapi perilaku kognitif, terapi
interpersonal, dan terapi psikodinamik jangka pendek telah berulang kali terbukti berhasil
dalam mengobati depresi. Penggunaan teknik yang anda lakukan harus didasarkan atas
landasan teoritis yang solid. Praktik etis berarti bahwa anda menerapkan prosedur yang
efisien dalam menangani klien dan permasalahan yang dikeluhkannya, dan bahwa anda
dapat memberikan landasan teoritis rasional sebagai justifikasi penerapan penanganan
yang anda lakukan dalam proses terapi.
Ini adalah saat tepat bagi anda untuk meninjau ulang apa yang telah anda pelajari
terkait teori dan praktik konseling. Identifikasi suatu teori yang anda ingin jadikan sebagai
fondasi perspektif konseling anda. Tentukan bentuk terapi mana yang menjadi tendensi
diri anda (1) asumsi bawahan, (2) konsep-konsep besar, (3) tujuan terapi, (4) hubungan
terapi, dan (5) teknik dan prosedur terapi. Tentukan juga penerapan besar tiap bentuk
terapi serta keterbatasan dan kontribusi besar yang bentuk terapi tersebut telah berikan.
Tabel dalam bab ini didesain untuk membantu anda mengonsepsualisasikan pandangan
anda dalam proses konseling.
Kemana Selanjutnya
Dalam CD-ROM untuk Konseling Integratif (Sesi 9, “Sebuah Perspektif
Integratif”), anda akan melihat cara penanganan saya menangani Ruth dengan mengadopsi
sejumlah teknik dari berbagai macam model teoritis. Saya menunjukkan bagaimana
landasan pendekatan integratif saya didasarkan atas terapi eksistensial. Dalam sesi ini,
saya mengambil sejumlah prinsip terapi dari terapi yang berorientasi pada perilaku.
Terdapat sebuah kelompok peneliti dan ahli klinis swasta yang berdedikasi untuk
mencari tahu “hal apa yang efektif dalam menangani perilaku permasalahan kesehatan
jiwa. Para anggota dan asisten kelompok ini mengolah penelitian kesehatan mental terbaru
menjadi panduan bagi para praktisi klinis dan menerbitkan informasi tersebut di laman
daring mereka dalam bahasa yang mudah dimengerti. Institut ini juga mengembangkan
sistem manajemen hasil keluaran terapi yang menggunakan umpan balik klien untuk
mengawasi dan meningkatkan retensi hasi pelayanan penanganan terapi.
Scott Miller, PhD, Co-director
Institute Pembelajaran Perubahan Terapi
P. O. Box 180147
Chicago, IL 60618-0573
Telepon: (773) 404-5130
Fax: (847) 841-4874
Telepon Genggam: (773) 454-8511
Laman Daring: www.talkingcure.com
SARAN BACAAN TAMBAHAN
A
Casebook of Psychotherapy Integration
(S
trick
e
r
& Gold, 2006) ber is i p e nj e la s an
d ar i p ar a a h li t e ra p is
m e nd em o ns tr asik an c ara me r eka
m e ne ra p ka n p e nd ek a ta n
i nt e gr a t if mer e ka s e nd i r i
Handbook of Psychotherapy Integration (Norcross
& Goldfried, 2005) meruapakan sumber yang
bagus untuk memahami perspektif-perspektif
konseptual dan historis integrasi terapi. Buku
ini memberikan rangkuman komperhensif
terkait pendekatan-pendekatan terapi saat ini,
seperti integrasi teoritis dan elektisisme teknis.
Integrative Psychotherapy: The Art and Science of
Relationship (Moursund & Erskine, 2004)
merupakan pendekatan integratif yang
berfokus pada hubungan terapi. Buku ini
membahas fondasi teoritis dan intervensi
terapis pendekatan integratif.
The Art of Integrative Counseling (Corey, 2009a)
ditulis khusus untuk membantu pelajar
mengembangkan pendekatan integratif mereka
sendiri. Buku ini dipaketkan dengan CD-ROM
Konseling Integratif.
Case Approach to Counseling and Psychotherapy
(Corey, 2009b) menggambarkan setiap 11 teori
kontemporer dengan menerapkan teori-teori
tersebut dalam kasus Ruth. DI bab terakhir
buku ini, saya juga menjelaskan pendekatan
integratif yang saya gunakan dalam menangani
Ruth.
CD-Rom for Integrative Counseling (Corey,
dengan Haynes, 2005) menggambarkan
penerapakan perspektif integratif dalam
menangani klien bayangan, Ruth. Program
interaktif ini dibuat khusus sebagai suplemen
kedua buku di atas.
REFERENSI DAN SARAN BACAAN LANJUTAN
BENSON, H. (with STARK, M.). (1996). Tim
e
l
e
ss
healing: The power and biology of belief. New
York:
S
cri
bne
r.
*COREY, G. (2009a). The art of integrative c
o
un
selin
g
(2nd ed.). Belmont, CA: Brooks
/
Cole.
*COREY, G. (2009b). Case approach to c
o
un
sel
-
ing and psychotherapy (7th ed). Belmont, C
A
:
Brooks
/
Cole.
*COREY, G. (with HAYNES, R.). (2005). CD
-
RO
M
for integrative counseling. Belmont, CA: Brooks
/
Cole.
CORSINI, R. J. (2008). Introduction. In R. J. Cor-
sini & D. Wedding (Eds.), Current psych
o
the
r
a-
pies (8th ed., pp. 114). Belmont, CA: Thomson
Brooks
/
Cole.
DATTILIO, F. M., & NORCROSS, J. C. (2006). Ps
y
-
chotherapy integration and the emergence of
instinctual territoriality. Archives of
P
syc
h
i
a
t
r
y
and Psychotherapy, 8(1), 56.
*DUNCAN, B. L., MILLER, S. D., & SPARKS, J. A.
(2004). The heroic client: A revolutionary way
to improve effectiveness through clien
t
-
directed,
outcome-informed therapy. San Francisco:
Joss
e
y
-
Bass.
EUBANKS-CARTER, C., BURCKELL, L. A., &
GOLDFRIED, M. R. (2005). Future directions
in psychotherapy integration. In J. C. Norcross
& M. R. Goldfried (Eds.), Handbook of psych
o
-
therapy integration (2nd ed., pp. 503521). New
York: Oxford University Pr
e
ss.
*Books and articles marked with an asterisk are recom
-
mended for further stud
y
.
FAIVER, C. M., INGERSOLL, R. E., OBRIEN, E., &
MCNALLY, C. (2001). Explorations in counsel
-
ing and spirituality: Philosophical, practical,
a
nd
personal reections. Pacic Grove, CA: Brooks
/
Cole.
FAIVER, C. M., & OBRIEN, E. M. (1993).
A
ss
e
ss
-
ment of religious beliefs form. Counseling
a
nd
Values, 37(3), 176178.
*FRAME, M. W. (2003). Integrating religion and sp
ir
i-
tuality into counseling: A comprehensive
app
r
oa
ch.
Pacic Grove, CA: Brooks
-
Cole
/
Wads
wor
th.
GALLUP, G., Jr. (1995). The Gallup poll:
Pu
b
lic
opinion in 1995. Wilmington, DE:
S
cholarl
y
Resourc
e
s.
GARFIELD, S. L. (1992a). Eclectic psychotherapy:
A common factors approach. In J. C. Norcross
& M. R. Goldfried (Eds.), Handbook of psych
o
-
therapy integration (pp. 169201). New York:
Basic Books.
GARFIELD, S. L. (1992b). Major issues in psycho-
therapy research. In D. K. Freedheim (Ed.),
History of psychotherapy: A century of ch
a
nge
(pp. 335359). Washington, DC:
A
m
e
rican
Psychological
A
ssociation.
GOLDFRIED, M. R., & CASTONGUAY, L.
G
.
(1992). The future of psychotherapy integra
-
tion. Psychotherapy, 29(l), 410.
GOLDFRIED, M. R., PACHANKIS, J. E., & BELL,
A. C. (2005). A history of psychotherapy int
e
-
gration. In J. C. Norcross & M. R.
G
oldfri
e
d
(Eds.), Handbook of psychotherapy in
tegr
a
t
i
o
n
(2nd ed., pp. 2460). New York: Oxford Uni
-
versity Pr
e
ss.
HAGEDORN, W. B. (2005). Counselor self-awareness
and self-exploration of religious and spiritual
beliefs: Know thyself. In C. S. Cashwell &
J. S. Young (Eds.), Integrating spirituality
a
nd
religion into counseling: A guide to c
o
mpe
t
e
n
t
practice (pp. 6384). Alexandria, VA:
A
m
e
rican
Counseling
A
ssociation.
HALL, C. R., DIXON, W. A., & MAUZEY, E. D.
(2004). Spirituality and religion: Implications
for counselors. Journal of Counseling and De
vel-
opment, 82(4), 504507.
*HUBBLE, M. A., DUNCAN, B. L., & MILLER,
S
.
D. (1999). The heart and soul of change:
Wha
t
works in therapy. Washington, DC:
A
m
e
rican
Psychological
A
ssociation.
KELLY, E. W. (1995). Spirituality and religion in
counseling and psychotherapy. Alexandria, VA:
American Counseling
A
ssociation.
LAMBERT, M. J. (1992). Psychotherapy outcome
research: Implications for integrative and
eclectic therapists. In J. C. Norcross & M. R.
Goldfried (Eds.), Handbook of psychotherapy in-
tegration (pp. 94129). New York: Basic Books.
*LAMBERT, M. J. (Ed). (2004). Handbook of ps
y-
chotherapy and behavior change (5th ed.). New
York: Wile
y
.
*LAMBERT, M. J., & BARLEY, D. E. (2002).
Research summary on the therapeutic r
e
la
-
tionship and psychotherapy outcome. In J. C.
Norcross (Ed.), Psychotherapy relationships th
a
t
work: Therapist contributions and responsiven
e
ss
to patient needs (pp. 1732). New York: O
x
ford
University Pr
e
ss.
LAZARUS, A. A. (1986). Multimodal therapy. In
J. C. Norcross (Ed.), Handbook of eclectic ps
y-
chotherapy (pp. 6593). New York: Brun
ne
r
/
Mazel.
*LAZARUS, A. A. (1995). Different types of
e
cle
c-
ticism and integration: Lets be aware of th
e
dangers. Journal of Psychotherapy In
tegr
a
t
i
o
n,
5(1), 2739.
LAZARUS, A. A. (1996a). Some reections aft
e
r
40 years of trying to be an effective psycho-
therapist. Psychotherapy, 33(1), 142145.
*LAZARUS, A. A. (1996b). The utility and futilit
y
of combining treatments in ps
y
choth
e
rap
y
.
Clinical Psychology: Science and Practice, 3(1),
5968.
*LAZARUS, A. A. (1997a). Brief but c
o
mprehensive
psychotherapy: The multimodal way. New York:
Sp
ring
e
r.
LAZARUS, A. A. (1997b). Can ps
y
choth
e
rap
y
be brief, focused, solution-oriented, and
y
e
t
comprehensive? A personal
e
v
olutionar
y
perspective. In J. K. Zeig (Ed.), The evolution
of
psychotherapy: The third conference (pp. 8394).
New York: Brunn
e
r
/
Ma
z
e
l.
LAZARUS,
A. A.
(2005). Multimodal therapy. In J. C.
Norcross & M. R. Goldfried (Eds.), Handbook
of
psychotherapy integration (2nd ed., pp. 105120).
New York: Oxford University Pr
e
ss.
*LAZARUS, A. A., & BEUTLER, L. E. (1993). On
technical eclecticism. Journal of Counseling
a
nd
Development, 71(4), 381385.
*LAZARUS, A. A., BEUTLER, L. E., & NORCRO
SS
,
J. C. (1992). The future of technical
e
clecti
-
cism. Psychotherapy, 29(1), 1120.
*MILLER, S. D. (2004). Losing faith: Arguing for a
new way to think about therapy.
Ps
ych
o
the
r
ap
y
in Australia, 10(2), 4451.
*MILLER, S. D., DUNCAN, B. L., & HUBBLE,
M. A. (2004) Beyond integration: The triumph
of outcome over process in clinical practice.
Psychotherapy in Australia, 10(2), 219.
*MOURSUND, J. P., & ERSKINE, R. G. (2004). In-
tegrative psychotherapy: The art and science
of
relationship. Pacic Grove, CA: Brooks
-
Cole
/
Wads
w
orth.
*NORCROSS, J. C. (2002a). Empirically support
e
d
therapy relationships. In J. C. Norcross, (Ed.),
Psychotherapy relationships that work:
T
he
r
ap
is
t
contributions and responsiveness to patient n
ee
ds
(pp. 316). New York: Oxford University Pr
e
ss.
*NORCROSS, J. C. (Ed.). (2002b).
Ps
ych
o
the
r
ap
y
relationships that work: Therapist c
o
n
t
r
i
b
u
t
i
o
ns
and responsiveness to patient needs. New York:
Oxford University Pr
e
ss.
*NORCROSS, J. C. (2005). A primer on psycho-
therapy integration. In J. C. Norcross & M.
R. Goldfried (Eds.), Handbook of psychothe
r
ap
y
integration (2nd ed., pp. 323). New York:
Oxford University Pr
e
ss.
NORCROSS, J. C., & BEUTLER, L. E. (2008).
Integrative psychotherapies. In R. J. Corsini &
D. Wedding (Eds.), Current psych
o
therapi
e
s
(8th ed., pp. 481511). Belmont, CA: Brooks
/
Cole.
*NORCROSS, J. C., BEUTLER, L. E., & LEV
A
NT,
R. F. (Eds.). (2006). Evidence-based practice in
mental health: Debate and dialogue on the
f
u
nd
a-
mental questions. Washington, DC:
A
m
e
rican
Psychological
A
ssociation.
*NORCROSS, J. C., & GOLDFRIED, M. R. (Eds.). (2005). Handbook of psychotherapy
integration (2nd ed.). New York: Oxford University Press.
*NORCROSS, J. C., & HALGIN, R. P. (2005). Training in psychotherapy integration. In J.
C. Norcross & M. R. Goldfried (Eds.), Handbook of psychotherapy integration (2nd
ed., pp. 439 458). New York: Oxford University Press.
NORCROSS, J. C., HEDGES, M., & PROCHASKA, J. O. (2002). The face of 2010: A
Delphi poll on the future of psychotherapy. Professional Psychology: Research and
Practice, 33(3), 316322.
*NORCROSS, J. C., KARPIAK, C. P., & LISTER, K. M. (2005). What’s an integrationist?
A study of self-identifi ed integrative and (occasionally) eclectic psychologists. Journal
of Clinical Psychology, 61, 15871594.
PAUL, G. L. (1967). Outcome research in psychotherapy. Journal of Consulting Psychology,
31, 109188.
POLANSKI, P. (2003). Spirituality in supervision. Counseling and Values, 47(2), 131141.
*PRESTON, J. (1998). Integrative brief therapy: Cognitive, psychodynamic, humanistic and
neurobehavioral approaches. San Luis Obispo, CA: Impact.
*PROCHASKA, J. O., & NORCROSS, J. C. (2007). Systems of psychotherapy: A
transtheoretical analysis (6th ed.). Belmont, CA: Brooks/Cole.
PSYCHOTHERAPY NETWORKER. (2007, March). The top 10: The most infl uential
therapists of the past quarter century. Psychotherapy Networker, 31(2), 2468.
*RICHARDS, P. S., & BERGIN, A. E. (1997). A spiritual
strategy for counseling and psychotherapy. Washington, DC: American Psychological
Association.
*RICHARDS, P. S., RECTOR, J. M., & TJELTVEIT, A. C. (1999). Values, spirituality, and
psychotherapy. In W. R. Miller (Ed.), Integrating spirituality into treatment: Resources
for practitioners (pp. 133160). Washington, DC: American Psychological
Association.
SMITH, M. L., GLASS, G. V., & MILLER, T. I. (1980). The benefi ts of psychotherapy.
Baltimore: Johns Hopkins University Press.
*SPERRY, L. (2007). The ethical and professional practice of counseling and
psychotherapy. Boston: Allyn & Bacon (Pearson).
*SPERRY, L., & SHAFRANSKE, E. P. (Eds.). (2005). Spiritually oriented psychotherapy.
Washington, DC: American Psychological Association.
*STRICKER, G., & GOLD, J. (2006). A casebook of psychotherapy integration.
Washington, DC: American Psychological Association.
STRUPP, H. H. (1986). Psychotherapy: Research, practice, and public policy (How to avoid
dead ends). American Psychologist, 41(2), 120130.
SUE, D. W., IVEY, A., & PEDERSEN, P. (1996). A theory of multicultural counseling and
therapy. Pacifi c Grove, CA: Brooks/Cole.
*SUE, D. W., & SUE, D. (2008). Counseling the culturally diverse: Theory and practice (5th
ed.). New York: Wiley.
TALLMAN, K., & BOHART, A. C. (1999). The client as a common factor: Clients as self-
healers. In M. A. Hubble, B. L. Duncan, & S. D. Miller (Eds.), The heart and soul of
change: What works in therapy (pp. 91131). Washington, DC: American
Psychological Association.
*WAMPOLD, B. E. (2001). The great psychotherapy debate: Models, methods, and fi
ndings. Hillsdale, NJ: Erlbaum.
YARHOUSE, M. A., & BURKETT, L. A. (2002). An inclusive response to LGB and
conservative religious persons: The case of samesex attraction and behavior.
Professional Psychology: Research and Practice, 33(3), 235241.
BAB ENAM BELAS
Ilustrasi Kasus: Sebuah Pendekatan Integratif untuk Bekerja dengan Stan
Memberi Konseling Pada Stan: Integrasi Terapis
Tempat untuk memulai
Mengklarifikasi Hubungan Terapi
Mengklarifikasi Tujuan Terapi
Bekerja dengan Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan Stan
Mengidentifikasi Perasaan
Mengeskpresikan dan Mengeksplor Perasaan
Dimensi Pemikiran dalam Terapi
Melakukan : Komponen Esensial lain dari Terapi
Bekerja Untuk Keputusan yang Direvisi
Mendukung Stan untuk Bekerja dengan Keluarganya
Dimensi Spiritual
Bekerja dengan Masalah Minum Stan
Bergerak Menuju Terminasi Terapi
Mendukung Stan untuk Bergabung dalam Sebuah Kelompok Terapi
Komen dalam Perspektif Pemikiran, Perasaan, dan Melakukan
Tindak Lanjut: Anda Lanjut Sebagai Bekerja dengan Stan dalam Gaya Integratif
Komentar Kesimpulan
Memberi Konseling Pada Stan : Integrasi Terapi
Tujuan dari bab ini adalah untuk membawa bersama kedalam sebuah gaya integratif
ke 11 pendekatan yang telah anda pelajari dengan menggabungkan model pemikiran,
perasaan, dan tindakan dalam Stan konseling. pada titik ini, akan membantu bagi anda untuk
mengkaji kembali latar belakang amteri dan tema dala kehidupan Stan yang disajikan di Bab
1 dan pada program online/DVD. Sebagai tambahan, saya menyarankan anda untuk
berkonsultasi Student Manual for Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy
(Bab16) untuk gambaran ikhtisar atau pengkajian kembali area utama yang saya fokuskan
untuk tiap pendekatan teoritikal dalam pekerjaan saya dengan Stan.
Dalam bab ini, Saya menggambarkan bagaimana Saya akan mengintegrasikan konsep
dan teknik dari ke 11 perspektif teoritis dalam Stan konseling pada level pemikiran,
perasaan, dan perlakuan. Saya menggunakan informasi yang disajikan dalam autobiografi
Stan, dan Saya mengindikasikan dari orientasi apa saya meminjam ide pada beragam tahapan
dari terapinya. Ketika anda membaca, pikirkan tentang intervensi yang akan anda buat
dengan Stan yang mungkin serupa atau berbeda dengan intervensi saya. Pertanyaan dalam
“Tinjauan Kembali” dekat pada akhir bab akan membimbing anda untuk merfleksikan untuk
menjadi konselor Stan dan bekerja dengannya dari perspektif integratif anda sendiri.
Tempat Untuk Memulai
Saya mulai dengan memberikan kesempatan kepada Stan untuk menyatakan apa yang dia
rasakan tentang datang ke sesi awal. Untuk mulai memahami mengapa Stan berpikir untuk
mendatangi terapi, saya dapat mengeksplor dengannya pertanyaan berikut ini:
Apa yang membawa anda kesini? Apa yang telah terjadi dalam hidup anda baru-baru
ini yang membuat anda ingin mencari bantuan profesional?
Harapan apa yang anda miliki pada terapi? Pada saya? Apa harapan, ketakutan, dan
keberatan-keberatan anda? Tujuan apa yang anda miliki bagi diri anda sendiri selama
terapi?
Berikan saya gambaran beberapa titik balik tertntu dalam hiup anda? Siapa oran-
orang penting dalam hidup anda? Keputusan penting apa yang telah anda buat? Usaha
apa yang sedang anda hadapi, dan masalah apa yang saat ini ada bagi anda?
Bagaimana anda akan menggambarkan hidup anda dalam keluarga? Bagaimana anda
memandang orang tua anda? Bagaimana mereka bereaksi terhadap anda? Apa yang
anda ingin ditahun-tahun awal kehidupan anda? (akan berguana untuk menggunakan
kuesioner gaya hidup Adlerian)
Mengklrifikasi Hubungan Terapi
Saya akan bekerja dengan Stan untuk mengembangan sebuah kontrak, yang
mencakup sebuah diskusi atas tanggung jawab bersama kita dan sebuah pernyataan jeas akan
apa yang dia inginkan dari sesi ini dan apa yang dia harapkan untuk mencapainya. Saya yakin
bahwa penting untuk mendiskusikan faktor apapun yang mungkin mengabadikan
ketergantukan klien pada terapis, sehingga saya mengundang pertanyaan Stan tentang
hubungan terapi ini. Satu tujuan adalah untuk memperjelas proses terapi; yang lainnya adalah
untuk mendapatkan beberapa fokus untuk arah sesi kita dengan memiliki tujuan jelas dari
terapi.
Dalam membangun hubungan terapi, saya dipengaruhi oleh pendekatan pribadi-pusat,
existensial, Gestalt, Feminis, post-modern, dan Adlerian.
Mereka tidak melihat terapi sebagai sesuatu yang dilakukan terapis kepada klien pasif. Saya
akan menerapkan pengetahuan saya tentang terapi ini untuk membangun hubungan kerja
dengan Stan yang ditandai oleh rasa saling percaya dan hormat. Saya akan bertanya pada diri
sendiri pertanyaan-pertanyaan ini: “Sampai sejauh mana saya dapat menyimak dan
mendengarkan Stan dengan cara yang tidak menghakimi? Apakah saya bisa menghargai dan
merawatnya? Apakah saya memiliki kapasitas untuk memasuki dunia subjektifnya tanpa
kehilangan identitas saya sendiri? Apakah saya dapat berbagi dengan dia pemikiran dan
reaksi saya sendiri ketika hal itu berkaitan dengan hubungan kita? Saya mulai dengan
bersikap jujur seperti saya dengan Stan sebagai dasar untuk menciptakan hubungan ini.
Hubungan ini sangat penting pada tahap awal terapi, tetapi harus dipertahankan selama
semua tahap jika terapi ingin efektif.
Mengklarifikasi Tujuan Terapi
Tidak cukup hanya bertanya kepada klien apa yang mereka harapkan akan mereka tinggalkan
pada akhir terapi. Klien seringkali kabur, global, dan tidak fokus tentang apa yang mereka
inginkan. Sehubungan dengan tujuan, ketepatan dan kejelasan sangat penting. Tidak ada
kemajuan ketika Anda memiliki sesi tanpa arah. Dengan demikian, kekhususan adalah suatu
keharusan. Setelah kami mengidentifikasi beberapa tujuan, Stan dapat mulai mengamati dan
mengukur perilakunya sendiri, baik dalam sesi terapi maupun dalam kehidupan sehari-
harinya. Pemantauan diri ini adalah langkah penting dalam segala upaya untuk menghasilkan
perubahan.
Berikut adalah beberapa percakapan yang fokus pada proses menentukan tujuan yang
akan memberikan arah pada terapi Stan:
JERRY : Apa yang paling Anda harapkan melalui kerja sama kami?
STAN : Ya, saya tahu saya banyak menjatuhkan diri. Saya ingin merasa lebih baik
tentang diri saya.
JERRY : Jika Anda memiliki apa yang Anda inginkan dalam hidup Anda hari ini,
seperti apa itu? Apa yang diperlukan agar Anda merasa nyaman dengan diri
sendiri?
STAN : Hanya satu hal, saya memiliki seseorang dalam hidup saya, dan saya akan
lebih dekat dengan orang lain.
JERRY : Apakah ini area yang ingin Anda jelajahi dalam sesi kami?
STAN : Ya.
JERRY : Saya akan senang memberikan saran cara untuk memulai, jika saya tahu apa
yang Anda inginkan.
STAN : Pastinya saya ingin mengatasi ketakutan bodoh saya dengan orang lain.
JERRY : Saya suka Anda bersedia menantang rasa takut Anda. Apakah Anda sadar
bahwa Anda merendahkan diri dengan menyebut ketakutan Anda sebagai hal
yang bodoh?
STAN : Ini hampir merupakan respons refleks bagi saya. Tetapi saya ingin merasa
lebih nyaman ketika saya bersama orang lain.
JERRY : Bagaimana kamu bisa ada di sini bersamaku sekarang?
STAN : Saya tidak suka melakukan hal seperti ini, tetapi saya merasa ini baik. Saya
berbicara, dan saya mengatakan apa yang ada di pikiran saya.
JERRY : Saya suka Anda memuji diri sendiri karena menjadi berbeda dalam
percakapan kita saat ini.
Pengaturan sasaran tidak tercapai dalam satu sesi. Sepanjang waktu kita bersama,
saya meminta Stan untuk memutuskan waktu dan apa yang dia inginkan dari terapinya serta
untuk menilai sejauh mana pekerjaan kita bersama menghasilkan pencapaian tujuannya.
Sebagai terapisnya, saya berharap untuk aktif, namun penting bahwa Stan memberikan
arahan di mana ia ingin melakukan perjalanan dalam perjalanannya. Begitu saya memiliki
pemahaman yang jelas tentang cara-cara spesifik Stan ingin mengubah cara dia berpikir,
merasakan, dan bertindak, saya cenderung mengambil peran aktif dalam menciptakan
eksperimen bersama dengan Stan yang dapat dia lakukan baik dalam sesi terapi maupun
sendirian dan jauh dari sesi kami.
Bekerja Dengan Masa Lalu, Sekarang, dan Masa Depan Stan
HUBUNGAN DENGAN MASA LALU. Terapi realitas, terapi singkat yang berfokus pada
solusi, terapi perilaku, dan terapi perilaku emotif rasional tidak banyak menekankan pada
sejarah klien. Alasan mereka adalah bahwa pengalaman anak usia dini tidak harus banyak
berkaitan dengan pemeliharaan perilaku tidak efektif saat ini. Sebaliknya, kecenderungan
saya adalah memberi bobot pada pemahaman, penjelajahan, dan bekerja dengan sejarah awal
Stan dan untuk menghubungkan masa lalunya dengan apa yang ia lakukan hari ini.
Pandangan saya adalah bahwa tema-tema yang mengalir dalam hidup kita dapat menjadi jelas
jika kita menerima pengalaman penting di masa kecil kita. Penggunaan kuesioner gaya hidup
Adlerian akan menunjukkan beberapa tema yang berasal dari masa kecil Stan. Pendekatan
psikoanalitik, tentu saja, menekankan pada mengungkap dan mengalami kembali trauma pada
masa kanak-kanak, bekerja melalui tempat-tempat di mana kita menjadi "terjebak," dan
menyelesaikan konflik yang tidak disadari.
Meskipun saya setuju bahwa pengalaman masa kecil Stan berpengaruh dalam
berkontribusi pada kepribadiannya saat ini (termasuk cara berpikir, perasaan, dan
perilakunya), tidak masuk akal bagi saya untuk menganggap bahwa faktor-faktor ini telah
menentukannya. Saya mendukung pendekatan Gestalt meminta Stan untuk membawa orang-
orang dalam hidupnya yang dengannya dia merasa belum selesai ke sini. Ini dapat dicapai
dengan latihan fantasi dan berbagai teknik bermain peran. Dengan cara ini, masa lalu Stan
menjadi sangat hidup di saat sekarang dalam sesi kami.
BERHUBUNGAN DENGAN MASA KINI. Menjadi tertarik pada masa lalu Stan tidak
berarti bahwa kita tersesat dalam sejarah atau bahwa kita hanya hidup untuk menghidupkan
kembali situasi traumatis. Dengan memperhatikan apa yang terjadi di sini dan sekarang di
sesi konseling, saya mendapatkan petunjuk yang sangat baik untuk apa yang belum selesai
dari masa lalu Stan. Dia dan saya dapat mengarahkan perhatian pada perasaan langsungnya
serta pikiran dan tindakannya. Tampaknya penting bagi saya bahwa kita bekerja dengan
ketiga dimensi apa yang dia pikirkan, apa yang sebenarnya dia lakukan, dan bagaimana
pikiran dan perilakunya memengaruhi kondisi perasaannya. Sekali lagi, dengan mengarahkan
perhatian Stan pada apa yang terjadi dengannya selama sesi kami, saya dapat menunjukkan
kepadanya bagaimana dia berinteraksi di dunianya selain dari terapi.
BERHUBUNGAN DENGAN MASA DEPAN. Adlerian sangat tertarik dengan tujuan klien.
Manusia ditarik oleh tujuan, perjuangan, dan aspirasi. Akan sangat membantu untuk
mengetahui apa tujuan Stan dalam kehidupan. Apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri?
Jika dia memutuskan bahwa perilakunya yang sekarang tidak mendapatkan apa yang dia
inginkan, dia berada dalam posisi yang baik untuk berpikir ke depan tentang perubahan yang
ingin dia lakukan dan apa yang dapat dia lakukan sekarang untuk mewujudkan aspirasinya.
Fokus perilaku saat ini dari terapi realitas adalah titik referensi yang baik untuk membuat
Stan bermimpi tentang apa yang ingin dia katakan tentang hidupnya 5 tahun kemudian.
Menghubungkan perilaku saat ini dengan rencana masa depan adalah perangkat yang sangat
baik untuk membantu Stan merumuskan rencana aksi nyata. Dia benar-benar akan
menciptakan masa depannya.
Mengidentifikasi Perasaan
Pendekatan yang berpusat pada pelaku menekankan tahap pertama dalam proses terapi, yang
melibatkan identifikasi, klarifikasi, dan belajar bagaimana mengekspresikan perasaan. Karena
hubungan terapeutik yang telah saya bangun dengan Stan, saya berharap dia merasa semakin
bebas untuk berbicara tentang perasaan yang dia simpan untuk dirinya sendiri. Dalam
beberapa kasus perasaan ini keluar dari kesadarannya. Jadi, saya mendorong Stan untuk
berbicara tentang perasaan apa pun yang merupakan sumber kesulitan.
Selama tahap awal sesi kami, saya mengandalkan mendengarkan empatik. Saya perlu
melakukan lebih dari sekadar mencerminkan apa yang saya dengar dia katakan; Saya perlu
berbagi dengannya reaksi saya ketika saya mendengarkannya. Ketika Stan merasa bahwa dia
dipahami dan diterima untuk perasaan yang dia miliki, dia kurang perlu menyangkal atau
mengubah perasaannya. Kemampuannya untuk secara jelas mengidentifikasi apa yang dia
rasakan setiap saat akan secara bertahap meningkat.
Ada banyak nilai dalam membiarkan Stan menceritakan kisahnya dengan cara yang ia
pilih. Cara dia berjalan ke kantor, gerakannya, gaya bicaranya, perincian yang dia pilih, dan
apa yang dia putuskan untuk hubungkan dan tidak hubungkan - untuk menyebutkan beberapa
elemen saja - berikan saya petunjuk ke dunianya. Jika saya melakukan terlalu banyak
penataan terlalu cepat, saya akan mengganggu gaya khasnya dalam menampilkan dirinya.
Mengekspresikan dan Menjelajahi Perasaan
Keyakinan saya adalah bahwa keaslian hubungan saya dengan Stan mendorongnya untuk
mulai mengidentifikasi dan berbagi dengan saya berbagai perasaan. Tapi saya tidak percaya
hubungan yang terbuka dan saling percaya antara kita sudah cukup untuk mengubah
kepribadian dan perilaku Stan. Saya yakin bahwa saya juga harus menggunakan pengetahuan,
keterampilan, dan pengalaman saya.
Sebagai cara membantu Stan mengekspresikan dan menjelajahi perasaannya, saya
banyak memanfaatkan eksperimen Gestalt. Akhirnya, saya memintanya untuk tidak hanya
berbicara tentang situasi dan perasaan. Sebaliknya, saya mendorong dia untuk membawa
reaksi apa pun yang dia miliki ke masa kini. Misalnya, jika Stan melaporkan perasaan tegang,
saya bertanya kepadanya bagaimana dia mengalami ketegangan ini sekarang dan di mana hal
itu berada di dalam tubuhnya. Saya mendorong dia untuk "menjadi perasaan itu." Jadi, jika
dia memiliki simpul di perutnya, dia dapat mengintensifkan perasaan ketegangannya dengan
"menjadi simpul, memberikan suara dan kepribadian." Jika saya perhatikan bahwa dia
memiliki mata yang sembab, Saya dapat mengarahkannya untuk “menjadi air matanya
sekarang.” Dengan menaruh kata-kata pada air matanya, dia menghindari intelektualisasi
abstrak tentang semua alasan dia sedih atau tegang. Sebelum dia dapat mengubah
perasaannya, Stan harus membiarkan dirinya mengalaminya sepenuhnya. Terapi pengalaman
memberikan alat yang berharga untuk membimbingnya pada ekspresi perasaannya.
Berikut adalah sejumlah segmen percakapan kita dalam suatu sesi terapi dimana Stan
menyadari perasaannya ketika ia membicarakan hubungannya dengan ayahnya:
JERRY: Kamu mengatakan bahwa ayahmu sering membanding-bandingkan dirimu dengan
saudaramu Frank dan saudara perempuanmu Judy. Bagaimana perasaanmu ketika ia
melakukan hal tersebut?
STAN: Saya membencinya! Ia mengatakan bahwa saya tidak akan pernah mencapai
pencapaian apapun.
JERRY: Dan ketika ia mengatakan hal tsb, pengaruh apa yang kamu rasakan?
STAN: Pekataan tersebut membuat saya merasa bahwa saya tidak akan pernah dapat
mencapai pencapaian seperti Judy dan Frank. Saya merasa seperti seorang yang gagal.
[Ketika ia mengatakan hal ini, ia mulai menangis, dan suaranya berubah.]
JERRY: Stan, apa yang anda rasakan saat ini?
STAN: Tiba-tiba saya merasa sedih. Saya merasa kesulitan bernafas. Ini terasa sulit!
JERRY: Perhatikan perasaanmu. Apa yang terjadi?
STAN: Dada saya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang ingin keluar.
JERRY: Lanjutkan.
STAN: Saya merasa sangat sedih dan sakit.
JERRY: Saya ingin kamu berbicara padaku seakan-akan saya adalah ayahmu. Apakah kamu
ingin mencobanya?
STAN: Saya bisa mencobanya
JERRY: Anda merasa berapa usia anda sekarang?
STAN: Seperti berusia 12 tahun- di usia ketika saya harus mendengarkan semua perkataan
ayah saya tentang seberapa tidak berarti diri saya.
JERRY: Buat dirimu berusia 12 tahun lagi, dan ceritakan bagaimana perasaan yang kamu
rasakan-cerita seakan-akan saya adalah ayahmu.
STAN: Hal apapun yang saya lakukan tidak akan pernah memuaskanmu. Tak peduli seberapa
sulit saya mencoba, saya tidak akan pernah membuatmu memperhatikanmu. [menangis]
Mengapa saya tidak pernah berarti bagimu, dan mengapa kamu mengabaikanku?
JERRY: Stan, saya dengar perkataanmu. Jadi terus lanjutkan, terus ceritakan semua hal yang
kamu rasakan.
STAN: Saya hanya ingin kamu menyadari bahwa saya juga berarti di matamu. Tapi tak
peduli seberapa keraspun saya mencoba, kau selalu merendahkanku. Tak ada satupun hal
yang kulakukan terasa berarti. Saya hanya ingin kau mencintaiku. Mengapa kau tidak pernah
peduli kepadaku? [Stan berhenti berbicara dan terus menangis.]
JERRY: Apa yang kamu rasakan sekarang?
STAN: Saya merasa sangat sedih. Saya merasa putus asa. Apapun hal yang saya lakukan,
saya tidak akan pernah menerima kepuasannya.
JERRY: Ketika kamu berusia 12 tahun, kamu merasa perlu mendapatkan penerimaan dan
rasa cinta dari ayahmu. Masih ada bagian dalam dirimu yang mengharapkan cintanya.
STAN: Ya, dan saya merasa saya tidak akan pernah mendapatkannya.
JERRY: Ceritakan padanya bagaimana perasaanmu tentang hal tersebut.
Stan kemudian lanjut bercerita pada “ayahnya” dan menceritakan bagaimana ia
mencoba untuk memenuhi standar ekspektasi ayahnya. Apapun yang ia lakkan, ia tidak akan
pernah dapat menerima kepuasan dari ayahnya.
JERRY: Setelah menceritakan semua hal tersebut. Apa yang kamu rasakan sekarang?
STAN: Saya merasa malu.
JERRY: Kamu merasa malu dari siapa?
STAN: Saya merasa malu darimu. Saya merasa seperti seorang bocah. Kamu mungkin
merasa bahwa saya adalah orang yang dungu dan lemah karena merasa seperti ini.
JERRY: Ceritakan perasaan lemah dan dungu yang kamu rasakan ini.
Stan mengatakan bahwa ia seharusnya menjadi orang yang lebih kuat dan bahwa ia
takut saya akan melihatnya sebagai orang tak berguna. Ia kemudian merendahkan dirinya atas
pelangaman dan perkataan yang baru saja ia ceritakan. Saya tidak langsung melegakan
dirinya dan berkata bahwa ia “seharusnya tidak perlu merasa seperti itu.” Saya
membiarkannya terus bercerita. Setelah menceritakan perasaan malunya ini, ia kemudian
meragukan apakah saya masih ingin menanganinya. Saya kemudian berkata padanya bahwa
saya menghargai apa yang ia ceritakan dan berharap bahwa ia pada akhirnya akan memahami
untuk tidak terlalu mengkritisi dirinya sendiri. Karena sesi terapi ini sudah mendekati
akhirnya, saya berbicara pada Stan tentang pentingnya mengeluarkan perasaan yang selama
ini ia pendam, mengatakan padanya bahwa ini merupakan awal yang baik. Saya kemudian
ingin memberikan Stan beberapa pekerjaan rumah yang ia harus selesaikan sebelum sesi
terapi selanjutnya.
JERRY: Stan, saya memintamu untuk menuliskan surat pada ayahmu…
STAN: [keberatan] Tidak! Saya tidak akan membuatnya merasa puas dengan menuliskan
surat padanya!
JERRY: Tunggu. Yang saya maksud adalah saya ingin kamu menuliskan surat yang
ditujukan untuknya namun kamu tidak perlu mengirimnya.
STAN: Untuk apa menulis surat yang tidak akan dikirim?
JERRY: Menulis surat padanya merupakan suatu kesempatan untuk melepaskan
kegundahanmu dan untuk memperoleh pencerahan-pencerahan baru. Saya berharap kamu
akan menuliskan semua hal yang kamu lakukan untuk memenuhi ekspektasinya. Buat dia
tahu bagaimana perasaan yang kamu rasakan ketika berada di dekatnya. Ceritakan dirimu,
khususnya ceritakan bagaimana perasaanmu tidak menerima kepuasan darinya.
STAN: Ok, Saya akan melakukannya.
Dalam sesi ini saya menerapkan sejumlah teknik intervensi yang bermacam-macam.
Saya memutuskan untuk mengizinkannya “meminjam mataku” dan bercerita padaku seakan-
akan saya adalah ayahnya. Saya memintanya untuk tetap berada dalam perasaan yang ia
alami, perhatikan tubuhnya dan emosi yang keluar dari dirinya. Dalam situasi seperti ini,
masih terlalu dini untuk menerapkan teknik strategi penyelesaian masalah atau mencoba
untuk menjelaskan permasalahan yang ia hadapi. Tujuan saya memberikannya tugas
pekerjaan rumah menulis sebuah surat adalah untuk terus meningkatkan perasannya selama
minggu ini. Menulis surat dapat memicu kenangan, dan iapun akan melepaskan perasaan
terpendamnya lebih lanjut. Saya berharap hal ini akan membantu Stan menyadari pengaruh
ayahnya terhadap dirinya di masa lalu dan dirinya masa sekarang.
Dalam sesi berikutnya, saya akan menanyakan surat tersebut pada Stan dan apa yang
ia rasakan ketika ia menulisnya. Apa yang ia tuliskan pada ayahnya? Apa yang ia rasakan
ketika ia membaca surat yang ia tulis tersebut? Apakah ada sesuatu yang ia ingin ceritakan
padaku? Arah sesi terapi selanjutnya akan bergantung pada respon yang ia berikan. Stan akan
memberikan petunjuk kemana sesi terapi selanjutnya mengarah.
Dimensi Pemikiran dalam Terapi
Ketika Stan telah melepaskan perasaan terpendamnya, terapis perlu melakukan proses
penanganan kognitif pada Stan. Stan perlu mengalami perasaannya secara utuh, dan ia
mungkin akan mengekspresikan perasaan tersebut secara simbolis. Bentuk ekspresi ini bisa
saja berupa situasi dimana Stan mengekspresikan kemarahannya pada perempuan dengan
memukul sebuah bantal dan mengatakan hal-hal ujaran kebencian yang normalnya tidak
boleh diucapkan. Pada akhirnya, Stan akan harus memperjelas perasaan emosional yang
mulai ia rasakan.
Untuk membawa Stan ke dalam dimensi kognitif ini, saya membuat Stan untuk
berfokus pada pesan-pesan yang ia internalisasikan dalam dirinya ketika ia masih kecil dan
pada keputusan yang ia buat. Saya memintanya untuk memikirkan alasan mengapa ia
membuat keputusan-keputusan tersebut. Kemudian, saya menantang Stan untuk melihat
keputusan-keputusan tentang hidup, tentang dirinya, dan tentang orang lain yang ia telah buat
tersebut dan memintanya untuk melakukan revisi yang dapat membuatnya menciptakan hidup
yang ia putuskan sendiri.
Setelah memperoleh sejumlah informasi dasar mengenai sejarah hidup Stan (dengan
melakukan teknik peninjauan gaya hidup Adler), saya kemudian merangkum dan
menafsirkan informasi-informasi tersebut. Misalnya, saya menemukan suatu korelasi antara
rasa takut yang ia rasakan untuk menjalin hubungan dan sejarah pengalaman hidupnya
dimana ia terus-menerus menerima penolakan oleh saudara-saudarinya dan kedua
orangtuanya. Saya tertartik pada konstelasi keluarga Stan dan kenangan masa kecilnya. Saya
ingin Stan untuk mulai memahami (secara kognitif) bagaimana pengalaman masa kecil ini
mempengaruhi diirinya dari dulu hingga sekarang. Fokus saya adalah untuk membuat Stan
mulai mempertanyakan kesimpulan yang ia buat tentang dirinya sendiri, tentang orang lain,
dan tentang hidupnya. Apa logika pribadi yang ia terapkan dalam melihat hidup? Apa saja
persepsi hidup negatif yang tercipta dari pengalamannya dengan keluarganya? Terdapat
sejumlah teknik dalam perspektif Adler yang dapat digunakan untuk melakukan proses
penanganan kognitif baik dalam sesi terapi maupun di luar sesi terapi itu sendiri.
Saya khususnya mengutamakan nilai terapi perilaku rasional emotif yang
menekankan pemikiran rasional. Saya berusaha untuk mencari tahu bagaimana Stan
memperparah rasa sakit yang ia rasakan dengan mendoktrinasikan dirinya dengan keyakinan-
keyakinan irasional. Saya memintanya untuk menguji validitas konsekuensi yang ia
khawatirkan. Saya memintanya untuk melenyapkan keyakinannya yang tidak valid dan
mengganti keyakinan-keyakinan tersebut dengan keyakinan baru yang rasional. Saya tidak
mengatakan bahwa perubahan keyakinan irasoinal menjadi keyakinan rasional ini cukup
untuk membuat Stan mengalami perubahan kepribadian. Tetapi, saya menganggap proses ini
sebagai suatu komponen utama dalam terapi.
Terdapat sejumlah teknik kognitif dalam terapi perilaku kognitif yang dapat
membantu Stan menyadari hubungan antara kognisi dirinya dan perilakunya. Ia sebaiknya
juga mempelajari dialog internal dalam dirinya dan dampak dialog internal tersebut pada
perilaku kesehariannya. Pada akhirnya, tujuan kita adalah untuk melakukan penyusunan
kognitif ulang sehingga Stan dapat mempelajari cara berpikir baru dan asumsi hidup baru.
Perubahan cara berpikir ini akan menjadi fondasi dasar atas perubahan perilakunya.
JERRY: Bagaimana hal itu memengaruhi Anda?
STAN: Saya marah. Yang ingin saya lakukan hanyalah membuat janji.
JERRY: Apakah Anda pergi pada jam kantornya?
STAN: Ya, sore itu juga. Di jam kerjanya, dia terlambat 20 menit, dan kemudian beberapa
siswa menunggu untuk bertanya. Yang harus saya lakukan adalah membuat janji
dengannya dalam beberapa hari.
JERRY: Apakah janji itu benar-benar terjadi?
STAN: Ya, tapi dia terlambat 10 menit dan sepertinya sibuk. Rasanya sangat sulit pada
awalnya.
JERRY: Bagaimana bisa begitu? Ceritakan lebih banyak.
STAN: Saya merasa bodoh di kelasnya, dan saya ingin berbicara dengannya tentang hal itu.
Saat saya mengajukan pertanyaan, wajahnya terlihat lucu seolah-olah dia tidak
sabar.
JERRY: Apakah Anda memastikan asumsi-asumsi ini dengannya?
STAN: Ya, dan saya merasa bangga dengan diri saya sendiri. Dia mengatakan kepada saya
bahwa kadang-kadang dia sedikit tidak sabar karena saya tampaknya membutuhkan
banyak waktu dan kepastian. Kemudian saya memberi tahu dia seberapa banyak saya
belajar untuk kelasnya dan seberapa serius saya dalam melakukan hal yang baik di
jurusan saya. Adalah baik bagi saya untuk menantang ketakutan saya, daripada
menghindarinya karena saya merasa dia menghakimi.
JERRY: Senang mendengar Anda memuji diri sendiri atas langkah-langkah yang Anda
ambil. Meskipun itu sulit, Anda bertahan di sana dan mengatakan apa yang ingin Anda
katakan. Apakah ada hal dalam percakapan Anda dengannya yang Anda harap bisa
berubah?
STAN: Sebagian besar, saya cukup tegas. Secara umum, saya menyalahkan orang yang
berwenang seperti dia karena membuat saya merasa bodoh. Saya memberi mereka
banyak kekuatan dalam menilai saya. Tapi kali ini saya ingat apa yang kami kerjakan di
sesi kami, dan saya tetap fokus pada diri sendiri daripada mengatakan kepadanya apa
yang dia lakukan atau tidak lakukan.
JERRY: Bagaimana hasilnya?
STAN: Semakin saya berbicara tentang diri saya, dia menjadi kurang defensif. Saya belajar
bahwa bagian dari bagaimana dia bereaksi terhadap saya dipengaruhi oleh perilaku saya
dan ketika saya berubah dia juga berubah. Saya masih bisa merasa baik tentang diri
saya, bahkan jika orang lain tidak berubah. Itu sangat kuat.
JERRY: Hebat! Apakah Anda melihat ada perbedaan dalam bagaimana perasaan Anda di
kelasnya setelah percakapan ini?
STAN: Untuk suatu perubahan, saya tidak merasa begitu menyadarinya, terutama ketika saya
mengajukan pertanyaan atau mengambil bagian dalam diskusi kelas. Saya tidak begitu
khawatir tentang apa yang mungkin dia pikirkan tentang saya, dan dia tampak lebih
nyaman dengan saya.
JERRY: Apa yang Anda pelajari tentang diri Anda dari pertemuan tersebut?
STAN: Untuk satu hal, saya belajar untuk memeriksa asumsi saya. Itu membebaskan saya
untuk bertindak jauh lebih spontan. Juga, saya belajar bahwa saya bisa menjadi jelas,
langsung, dan tegas tanpa menjadi jahat. Mungkin bagi saya untuk menjaga diri sendiri
tanpa mengkritiknya. Biasanya, saya hanya menelan semua perasaan saya dan berjalan
pergi dengan perasaan bodoh. Kali ini saya tegas dan bisa memberi tahu dia bahwa saya
butuh waktu yang tidak tergesa-gesa darinya.
Mempraktikkan perilaku asertif terkait dengan bekerja dengan domain perasaan dan
pemikiran. Seandainya Stan tidak melakukannya sebaik dia dalam melibatkan profesornya,
kita dapat memeriksa apa yang salah dari sudut pandangnya. Kami bisa terus bermain peran
berbagai pendekatan dalam sesi kami, dan kemudian dengan pengetahuan dan keterampilan
baru dan lebih banyak latihan, dia bisa mencoba lagi. Adalah penting bahwa Stan bersedia
untuk bereksperimen dengan cara-cara baru dalam bertindak, terutama di luar sesi terapi.
Dalam arti tertentu, konseling adalah seperti gladi resik untuk hidup. Dia menunjukkan
keberanian dan tekad dalam melaksanakan rencana aksi tertentu, dan perubahan memang
terjadi.
Bekerja Menuju Keputusan yang Diperbaiki
Ketika Stan telah mengidentifikasi dan mengeksplorasi perasaan dan keyakinannya yang
salah serta proses berpikirnya, itu tidak berarti bahwa terapi telah berakhir. Menyadari
keputusan-keputusan awal, termasuk beberapa kesalahan mendasar dan ide-ide yang
mengalahkan dirinya sendiri, adalah titik awal untuk perubahan. Adalah penting bahwa Stan
menemukan cara untuk menerjemahkan wawasan emosional dan kognitifnya ke dalam cara
berpikir, perasaan, dan perilaku baru. Karena itu, sebisa mungkin saya menyusun situasi
dalam sesi terapi yang akan memfasilitasi keputusan baru di pihaknya baik pada tingkat
emosional maupun kognitif. Dalam mendorong Stan untuk membuat keputusan baru ini, saya
menggunakan teknik kognitif, emosi, dan perilaku. Beberapa teknik yang saya gunakan
adalah bermain peran, fantasi dan pencitraan, prosedur pelatihan pernyataan, dan latihan
perilaku. Baik terapi realitas dan terapi Adlerian memiliki banyak hal yang ditawarkan untuk
membuat klien memutuskan rencana tindakan dan kemudian membuat komitmen untuk
melaksanakan program mereka untuk perubahan.
Berikut adalah beberapa contoh percobaan yang saya sarankan untuk Stan selama sesi
terapi dan tugas pekerjaan rumah.
Saya terlibat dalam situasi permainan peran terbalik di mana saya "menjadi" Stan dan
meminta Stan berperan sebagai ibu, ayah, mantan istri, saudara perempuan, kakak
lelaki, dan seorang profesor. Melalui proses ini Stan mendapatkan gambaran yang
lebih jelas tentang cara-cara di mana ia membiarkan orang lain mendefinisikannya,
dan ia memperoleh beberapa keterampilan dalam berargumentasi kembali ke suara-
suara yang mengalahkan diri sendiri.
Untuk membantu Stan mengatasi kecemasannya, saya mengajarinya meditasi dan
teknik perhatian lainnya dan mendorongnya untuk mempraktikkannya setiap hari.
Stan belajar menggunakan strategi relaksasi ini dalam situasi yang membangkitkan
kecemasan. Saya juga mengajarinya berbagai keterampilan menanggulangi, seperti
ketegasan dan membantah kepercayaan yang salah. Stan dapat menerapkan
keterampilan ini dalam beberapa situasi kehidupan.
Stan setuju untuk membuat jurnal di mana ia mencatat kesan dan pengalaman. Setelah
menghadapi situasi yang sulit, ia menulis tentang reaksinya, baik pada tingkat
pemikiran dan perasaan. Dia juga mencatat bagaimana dia berperilaku dalam situasi
ini, bagaimana perasaannya tentang tindakannya, dan bagaimana dia mungkin
berperilaku berbeda. Dia juga setuju untuk membaca beberapa buku panduan di
bidang-bidang yang sangat bermasalah baginya.
Sebagai tugas pekerjaan rumah yang kami desain bersama, Stan setuju untuk bertemu
dengan orang-orang yang biasanya ia hindari. Misalnya, dia sangat cemas atas
penampilannya di beberapa kelasnya. Dia memutuskan untuk membuat janji dengan
masing-masing profesor untuk membahas kemajuannya. Dalam satu kasus, seorang
profesor semakin menaruh minat padanya, dan sekarang ia melakukannya dengan
sangat baik di kelasnya. Dalam kasus lain, profesor agak mendadak dan tidak terlalu
membantu. Dia mampu mengenali bahwa ini lebih merupakan masalah profesor
daripada apa pun yang dia lakukan.
Stan ingin menempatkan dirinya dalam situasi di mana dia bisa mendapatkan teman
baru. Bersama-sama kami mengerjakan rencana tindakan yang jelas yang melibatkan
bergabung dengan klub, pergi ke acara sosial, dan meminta seorang wanita di
kelasnya untuk berkencan. Meskipun dia cemas dalam setiap situasi ini, dia mengikuti
rencananya. Dalam sesi kami, kami mengeksplorasi beberapa pembicaraan sendiri
dan tindakannya di acara-acara ini.
Mendorong Stan untuk Bekerja dengan Keluarga Asalnya
Setelah bekerja dengan Stan selama beberapa waktu, saya sarankan dia mengambil inisiatif
untuk mengundang seluruh keluarganya untuk satu sesi. Asumsi saya adalah bahwa banyak
masalahnya berasal dari pengalaman keluarga asalnya dan bahwa dia masih dipengaruhi oleh
pengalaman-pengalaman ini. Saya pikir akan bermanfaat untuk memiliki setidaknya satu sesi
dengan keluarga sehingga saya bisa mendapatkan ide yang lebih baik tentang konteks yang
lebih luas. Dialog berikut menggambarkan upaya saya untuk memperkenalkan ide ini kepada
Stan.
JERRY: Sesi kita tentu saja mengungkapkan banyak kesulitan dengan beberapa anggota
keluarga Anda. Saya pikir akan berguna untuk membawa sebanyak mungkin dari
mereka untuk satu sesi.
STAN: Tidak! Itu berlebihan.
JERRY: Apakah Anda bersedia berbicara lebih banyak dengan saya tentang ide ini?
STAN: Saya akan berbicara, tetapi saya tidak berpikir itu akan mengubah pikiran saya.
JERRY: Kenapa begitu?
STAN: Mereka sudah berpikir aku gila, dan jika mereka tahu aku bertemu psikolog, itu akan
menjadi satu hal lagi yang bisa mereka lemparkan ke wajahku.
JERRY: Apakah mereka akan menggunakan ini untuk melawan Anda?
STAN: Ya. Selain itu, saya tidak bisa melihat bagaimana itu akan banyak membantu. Ibu dan
ayah saya tidak berpikir mereka memiliki masalah. Saya tidak melihat mereka ingin
banyak berubah.
JERRY: Mengubah mereka bukanlah tujuan saya. Ini lebih untuk memberi Anda kesempatan
untuk mengekspresikan diri Anda dengan hormat kepada orang-orang yang masih
merupakan bagian penting dari hidup Anda.
STAN: Mungkin, tapi saya belum siap untuk itu!
JERRY: Saya dapat menghargai bahwa Anda belum merasa siap. Saya harap Anda akan tetap
terbuka terhadap gagasan itu, dan jika Anda berubah pikiran, beri tahu saya.
Alasan saya untuk memasukkan setidaknya beberapa anggota keluarga Stan adalah
untuk memberinya konteks untuk memahami bagaimana perilakunya dipengaruhi oleh apa
yang dia pelajari sebagai seorang anak. Dia adalah bagian dari sistem ini, dan ketika dia
berubah, dia pasti akan memengaruhi orang lain dalam keluarganya yang dengannya dia
berhubungan. Dari apa yang dia katakan, saya berasumsi bahwa batas-batasnya yang tidak
jelas dengan ibunya berdampak pada hubungannya dengan wanita lain.
Saya telah memberikan Stan sejumlah tugas rumah yang bertujuan untuk membantunya
mengidentifikasi sejumlah perasaan dan pemikiran yang mungkin problematik baginya.
Berikut ini adalah beberapa sampel dari sesi dimana kita berfokus pada kognisinya.
JERRY: Beberapa kali sekarang anda telah membawa seberapa yakin anda akan dihakimi
secara kritis jika anda mengizinkan diri anda untuk dekat dengan seorang wanita. Apakah ini
adalah topik yang ingin anda kaji lebih dalam?
STAN: ya. Saya muak menghindari wanita, tetapi saya masih takut mendekati wanita. Saya
yakin bahwa jika wanita manapun mengenalku, dia akan segera menolakku.
JERRY: sudahkah anda mengecek asumsi ini? Berapa banyak wanita yang telah anda dekati,
dan berapa banyak dari mereka yang menolak anda?
STAN:Mereka tidak pernah memberitahu saya akan hal ini. Tetapi dikepala saya terus
mengatakan bahwa jika mereka tau diri saya yang sebenarnya mereka akan dihentikan oleh
kelemahan saya dan mereka tidak menginginkan saya sama sekali.
JERRY: Bagaimana kalau anda memberitahu saya beberapa hal yanga nda katakan pada diri
anda sendiri ketika anda berpikir untuk mendekati wanita? Biarkan diri anda bebas
berasosiasi, daftar beberapa pernyataan yang anda buat untuk diri anda sendiri di dalam hati.
Siap?
STAN: Saya sering mengatakan pada diri saya sendiri bahwa saya tidak pantas untuk
dikenali. [berhenti]
JERRY: ceritakan saja dengan cepat sebanyak mungkin pernyataan yang anda bisa. Jangan
khawatir akan seperti apa kedengarannya.
STAN : Aneh! Setiap kali kamu membuka mulut, kamu menaruh kakimu di dalamnya.
Mengapa kamu tidak diam dan bersembunyi saja? Ketika kamu berbicara ke orang-orang,
kamu membatu. Mereka menghakimimu, dan jika kamu berbicara banyak akan sesuatu,
mereka akan mendapati betapa gagalnya kamu. Apapun yang kamu coba, kamu gagal. Kamu
sangat tidak menarik. Kamu anak lemah dan penakut. Mengapa kamu tidak simpan semua
untuk dirimu sendiri sehingga orang lain tidak akan menolakmu?
Stan terus bercerita sementara aku terus mendengarkan. Ketika dia nampaknya telah selesai,
saya memberitahunya betapa saya terpengaruh mendengarkan perkataannya pada diri sendiri.
Saya membiarkan tahu bahwa hal tersebut membuat saya sedih. Meskipun saya menyukai
Stan, saya tidak merasa bahwa dia secara emosional percaya bahwa saya peduli padanya.
Saya membiarkannya tau tahu bahwa saya menghormati cara dia tidak lari dari ketakutannya
dan bahwa saya mengagumi keikhlasannya untuk berbicara secara terbuka tentang
masalahnya.
Stan telah memperoleh dialog internal kritikalnya bahwa dia telah berpraktik selama
bertahun-tahun. Saya berharap dia akan mulai menantang pemikiran-pemikiran tersebut dan
menemukan bahwa pemikirannya sangat tidak akurat. Saya berharap dia akan mengubah
kebanyakan pemikirannya. Sepanjang garis ini, saya bekerja dengannya untuk menunjukkan
dengan tetap keyakinan spesifik lalu melakukan yang terbaik untuk mengkajinya. Saya
dipengaruhi oleh tren konstruktivis dalam terapi perilaku kognitif. Dengan diaplikasikan pada
Sta, konstruktivisme percaya bahwa kerangka subjektif dan interpretasinya jauh lebih penting
dari pada dasar objektif yang mungkin berada pada asal keyakinan salahnya. Oleh karena itu,
bukannya memaksakan versi saya tentang apa yang mungkin membangun keyakinan salah,
tidak rasional dan disfungsional pada bagiannya, saya mengikuti garis pertanyaan Socratis
dimana saya membuat Stan mengevaluasi proses pemikiran dan kesimpulannya sendiri.
JERRY : Mari kita mengambil satu pernyataan yang telah anda buat berulang kali: ketika
saya bersama orang lain, saya merasa bodoh. Apa yang terjadi di dalam diri anda ketika
anda mengatakan ini?
STAN : Saya mendengar suara kritikal, seperti orang-orang di kepalaku atau duduk dibahuku
JERRY : Sebutkan satu orang yang sering duduk di bahu anda dan mengatakan bahwa anda
bodoh.
STAN : Ayah saya, contohnya. Saya mendengarkan suarnya di kepalaku banyak sekali.
JERRY : Biarkan saya menjadi Stan sebentar, dan anda menjadi ayah anda, yang mengatakan
kepada saya hal-hal kritikal yang anda dengar di dalam kepala.
STAN : Mengapa kamu masuk universitas? Mengapa kamu tidak berhenti saja dan
memberikan kursimu kepada orang yang pantas mendapatkannya? Kamu bukan siswa yang
baik. Kamu menyia-nyiakan waktumu dan uang pembayar pajak dengan berpura-pura
menjadi mahasiswa. Berbuat baiklah pada dirimu sendiri dan bangun lihat kenyataan bahwa
kamu hanya anak bodoh.
JERRY : Seberapa banyak kebenaran di sana, pada apa yang baru saja kamu katakan sebagai
ayah?
STAN : anda tahu, terdengar bodoh bahwa saya membiarkannya meyakinkan saya bahwa
saya sangat bodoh.
JERRY : Bukannya mengatakan bahwa kamu bodoh untuk membiarkannya mengatakan
bahwa kamu bodoh, bisakah kamu menghargai dirimu sendiri karena menjadi cukup cerdas
sehingga dapat menyadari hal ini?
STAN : ok, tetapi di benar bahwa saya gagal pada kebanyakan hal yang telah saya coba.
JERRY : apakah gagal dalam ujian berarti anda akan terus gagal selama hidup anda? Saya
ingin anda memberikan bukti yang mendukung interpretasi anda tentang menjadi bodoh dan
menjadi orang yang gagal.
STAN : bagaimana dengan kegagalan di dalam pernikahan saya? Saya tidak bisa
mempertahankannya, dan saya bertanggungjawab atas perceraian tersebut. Itu sungguh
sebuah kegagalan besar.
JERRY : dan anda sepenuhnya bertanggung jawab atas perceraian tersebut? Apakah istri
anda mengambil bagian di dalamnya?
STAN : dia selalu memberitahu saya bahwa tidak akan ada seorang pun wanit ayang akan
dapat hidup dengan saya. Dia meyakinkan saya bahwa saya tidak akan memiliki hubungan
yang memuaskan dengannya ataupun wanita lainnya.
JERRY : meskipun dia berbicara atas dirinya sendiri, saya penasaran akan kualifikasi yang
dimilikinya untuk menentukan masa depan anda dengan wanita lain. Penelitian apa yang
sudah dia lakukan sehingga Stan akhirnya ditakdirkan untuk menjadi alergi untuk semua
wanita selamanya?
STAN : saya pikir saya hanya terbawa atas apa yang dia katakan pada saya. Selain itu, jika
saya tidak bisa hidup dengannya, apa yang membuat saya berpikir bahwa saya bisa memiliki
kehidupan yang memuaskan dengan wanita manapun?
Pada bagian ini, terdapat banyak arah untuk dituju dengan Stan untuk mengeksplor
asal keyakinannya dan untuk mengakses validitas interpretasinya tentang situasi hiudp dan
kesimpulannya tentang keyakinan dasarnya. Di sesi ini dan sesi lainnya, kami mengeksplor
apa yang disebut terapis “ distorsi kognitif”. Berikut ini adalah beberapa distorsi Stan:
Arbitrary inferences.Stan membuat kesimpulan tanpa bukti yang mendukung dan
relevan. Dia sering terlibat dalam catasrophizing” atau berpikir tentang skenario
terburuk atas situasi yang ada.
Ovrgeneralization. Stan memiliki keyakinan berdasarkan pada insiden tunggal dan
mengaplikasikannya secara tidak tepat pada latar atau kejadian lain yang tidak serupa.
Sebagi contoh, karena perceraiannya dengan istrinya, dia yakin bahwa dia ditakdirkan
untuk gagal dengan wanita manapun.
Personalization. Stan memiliki kecenderungan untuk menghubungkan kejadian
eksternal dengan dirinya, bahkan ketidak tidak ada dasar untuk membuat hubungan
tersebut. Dia menghubungkan sebuah insiden ketika teman kelas wanitanya tidak
muncul untuk kencan siang. Dia menentukan atas kejadian ini dan meyakinkan
dirinya bahwa wanita itu pasti merasa terhina dengan kehadirannya. Dia tidak
mempertimbangkan penjelasan lain atas ketidakhadiran wanita itu.
Labeling dan mislabeling.Stan menyoroti ketidaksempurnaan dan kesalahannya. Dia
membairkan kegagalan masa lalunya mendefinisikan keseluruhan hidupnya.
Polarized thinking. Stan secara bertahap terlibat dalam pemikiran dan interpretasi
semua-atau- tidak sama sekali. Melalui proses pemikiran dikotomi ini, dia telah
menciptakan laber yang merusak dirinya sendiri yang membuatnya terbatasi.
Selama beberapa sesi kami bekerja pada keyakinan spesifik. Tujuannya bagi Stan
adalah untuk mengevaluasi dengan kritis bukti dari kebanyakan kesimpulannya. Peran
saya adalah untuk mempromosikan pengalaman korektif yang akan mengantarkan
pada perubahan dalam pemikirannya. Saya berusaha untuk meciptakan sebuah
hubungan kolaboratif, dimana dia akan temukan untuk dirinya sendiri bagaimana
membedakan antara keyakinan fungsional dan disfungsional. Dia dapat mempelajari
ini dengan menguji kesimpulannya.
Melakukan : Komponen Penting Lainnya dalam Terapi
Stan dapat mengabiskan tak terhitung jam mengumpulkan pandangan menarik tetang
mengapa dirinya seperti itu. Dia dapat belajar untuk mengekspresikan perasaan yang dia terus
sembunyikan selama bertahun-tahun. Namun, bagi saya, perasaan dan pemikiran bukan
sebuah proses terapi yang lengkap. Melakukan adalah sebuah cara membawa perasaan dan
pemikiran bersama dengan mengaplikasikannya pada situasi hidup yang nyata di dalam
beragam program tindakan. Saya berhutang pada terapi Adlerian, terapi perilaku, terapi
realita, dan terapi singkat fokus-solusi, semua yang telah memberikan penekanan sentral pada
peran tindakan sebagai syarat perubahan.
Terapi perilaku menawarkan solusi yang banyak untuk perubahan perilaku. Dalam
kasus Stan saya khususnya cenderung bekerja dengannya dalam mengembangkan program
manajemen diri. Sebagai contoh, dia mengeluhkan seringnya ia merasa tegang dan bingung.
Prosedur relaxasi setiap hari adalah satu cara Stan dapat meraih kontrol lebih atas ketegangan
psikologi dan fisiknya. Saya telah mengajarkannya berapa teknik kehati-hatian, termasuk
kombinasi antara prosedur relaxasi dan meditasi. Melalui praktik kehati-hatian, Stan dapat
membuat dirinya terpusat sebelum dia masuk kelas, menemui wanita, atau berbicara dengan
teman. Dia juga dapat mulai memonitor perilakunya dalam situasi setiap hari untuk mencapai
kesadaran yang meningkat tentang apa yang dia katakan pada dirinya, apa yang dia lakukan,
dan bagaimana dia merasa. Ketika dia depresi, dia cenderung mabuk untuk menghilangkan
gejalanya. Dia dapat membawa buku catatan kecil dan mencatat kejadian yang
menjadikannya depresi (atau bingung atau terluka) dia juga dapt mencatat apa yang dia
lakukan pada situasi seperti ini dan apa yang dapat dilakukannya secara berbeda. Dengan
memperhatian apa yang dia lakukan dalam kehidupan sehari-hari, dia telah mulai untuk
mencapai kontrol lebih atas perilakunya.
Monitoring perilaku ini dapat dipasangkan dengan pendekatan Adlerian dan kognitif.
Dugaan saya adalah Stan depresi, terlibat dalam perilaku yang merusak diri (minum,
misalnya), dan menjadi lebih buruh. Saya bekerja banyak pada perilaku dan kognisinya dan
menunjukkannya seberapa banyak tindakannya dipengauhi oleh apa yang dia katakan pada
dirnya. Bersama kami bekerja pada bagaimana dia membuat dirinya gagal dengan ekspektasi
yang merusak dirinya sendiri. Sejalan dengan semangat terapi perilaku emotif rasional, kami
mengeksplor asumsi salahnya bahwa dia harus sempurna dan jika dia tidak mendapatkan
pekerjaan, hidup akan sangat menyengsarakan. Ada banyak kesempatan bagi Stan untuk
melihat koneksi antara proses kognitifnya dan perilaku sehari-harinya. Saya mendukungnya
untuk mulai bertindak secara berbeda lalu mencari perubahan pada perasaan dan
pemikirannya.
Dengan hal ini dalam pemikirannya saya meminta Stan untuk berpikir sebanyak
mungkin cara membawa kedalam kehidupannya sehari-harinya pelaharan yang dia dapatkan
di sesi kita. Praktik itu penting. Tugas rumah (khususnya yang Stan buat untuk dirinya
sendiri) adalah cara yang bagus bagi Stan untuk menjadi agen aktif dalam terapi. Dia harus
melakukan sesuatu sendiri agar perubahan terjadi. Tingkat dimana dia akan berubah
proporsional dengan keinginannya pada eksperimen. Saya ingin Stan belajar dari perilaku
barunya dalam hidup. Sheingga setiap minggu kami mendiskusikan progresnya mendapatkan
tujuanya dan meninjau bagaimana dia menyelesaikan tugasnya. Jika dia tidak menyukai
caranya melakukan sebuah tugas, dia dapat menjadikan ini sebagai sebuah kesempatan untuk
berbicara tentang bagaimana dia dapat meyesuaikan diri dengan perilakunya. Saya
menegaskan harapan saya akan komimetnya untuk memiliki sebuah rencana tindakan untuk
perubahan dan terus melihat bagaimana rencananya bekerja.
Di dialog berikut ini, pertukaran pikiran kami umumnya tentang Stan mempelajari
gaya yang lebih asertif atas perilakunya dengan salah satu profesornya. Meskipun sesi ini
berfokus pada perilaku Stan, juga apa yang dia pikirkan dan rasakan. Dimensi ini interaktif.
JERRY : minggu lalu kita bermain peran secara berbeda anda dapat mendekati profesor
diman kita mendapati kesulitan. Anda mempelajari beberapa keahlian asertif yang anda
gunakan cukup efektif dimana saya menduka peran dari profesor yang kritikal. Sebelum anda
pulang minggu lalu, anda setuju untuk membuat janji temu dengan profesor anda dan
memberitahu kesulitan anda. Ketika kita melakukan permainan peran, anda saya jelas tentang
apa yang ingin anda katakan dan kuat mempertahankan perasaan anda. Apakah anda
membuat rencana?
STAN : hari berikutnya saya mencoba untuk berbicara dengannya setelah belajar. Dia
mengatakan bahwa dia tidak punya waktu untuk berbicara tetapi di dapat berbicara setelah
belajar.
JERRY : Lalu bagaimana?
STAN : setelah kelas semua yang ingin saya lakukan adalah membuat janji temu dengannya
sehingga saya dapat berbicara secara pribadi tanpa terburu-buru. Ketika saya mencoba untuk
membuat janji temu, dia berkata dnegan kasar bahwa dia harus pergi untuk pertemuan dan
saya bisa menemuinya selama waktu kantornya.
Jika ia mampu memahami hubungannya dengan ibunya lebih dalam, ia dapat menerapkan
sejumlah pencerahan yang ia peroleh tersebut dengan perempuan-perempuan lain. Stan
mengizinkan dirinya untuk terintimidasi oleh ayahnya, dan dia masih mendengar suara
ayahnya tersebut dalam pikirannya. Karena perilakunya ini, ia sering merendahkan dirinya
dengan orang lain, yang mana perilaku tersebut merupakan pola yang terbentuk sejak masa
kecilnya. Jika ia dapat menghadapi para anggota keluarganya dan menyelesaikan konflik
masa lalu dan masa sekarangnya, Stan akan mampu menjalin hubungan intim ia ingin miliki
dalam hidupnya. (Untuk mengetahui penjelasan lebih lengkap tentang pengalaman
menangani Stan dengan perspektif sistem keluarga, lihat kasus Stan dalam bab 14.)
Dimensi Spiritual
Meskipun saya tidak memiliki agenda apapun untuk mengajarkan nilai-nilai religius
atau spiritual dalam diri Stan, saya ingin meninjau peran spiritualitas dalam kasus Stan ini,
dalam kehidupannya saat ini---dan ingin meninjau keyakinan, sikap, dan perilakunya di masa
lampau. Ketika saya bertanya pada Stan apakah agama merupakan faktor dalam kehidupan
masa kecil atau masa remajanya, ia mengatakan bahwa ibunya merupakan penganut ajaran
Luther dan ayahnya tidak terlalu memperdulikan agama. Ibunya selalu memastikan Stan
untuk pergi ke gereja tiap minggu. Ia mengatakan bahwa hal yang selalu ia ingat dari
pengalamannya mengunjungi gereja dalah rasa bersalah yang ia selalu rasakan. Stan berkata
bahwa sikapnya terhadap agama sesuai dengan rasa ketidakpercayaan dirinya. Tidak hanya ia
telihat buruk di mata kedua orangtuanya, namun ia juga tidak terlihat baik di mata Tuhan. Ia
juga menceritakan bahwa ketika ia kuliah ia menjadi tertarik terhadap spiritualitas karena ia
mengambil mata kuliah agama dunia.
Meskipun saat ini agama kelihatan tidak berperan penting dalam hidup Stan, ia
kesulitan menemukan inti nilai spiritual yang hilang dalam hidupnya ini. Ia juga mengatakan
bahwa ia terkejut namun tidak marah ketika saya menanyakan aspek agama dan spiritualitas
dalam hidupnya. Sebelumnya ia mengira bahwa konselor tidak tertarik dengan hal-hal terkait
agama dan spiritualitas. Ketika membahas aspek ini lebih lanjut, ia mengutarakan
keinginannya untuk terus membahas aspek kekhawatiran spiritualitasnya ini dalam sesi
konseling akan datang.
Menangani Permasalahan Kecanduan Minum Stan
Meskipun kesebelas pendekatan ini membahas isu kecanduan alkohol dengan cara
berbeda-beda, semua pendekatan ini sepakat bahwa pada suatu saat dalam sesi terapi nanti,
terapis harus menjelaskan pada Stan kenyataan bahwa mungkin saja ia kecanduan terhadap
unsur-unsur kimiawi. Dalam bagian ini, saya akan menggambarkan pendekatan saya
menangani kecanduan alkoholnya dan saya juga akan memberikan gambaran dasar tentang
pendekatan menangani klien pecandu alkohol.
ASUMSI-ASUMSI DASAR Stan telah menunjukkan sejumlah tanda-tanda yang
menunjukkan bahwa ia pecandu. Berdasarkan informasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa
Stan memiliki banyak sifat kepribadian yang tercipta akibat kecanduan, seperti rasa percaya
diri yang rendah, kecemasan berlebihan, rasa tidak pantas, persaan terisolasi secara sosial,
ketidakmampuan menerima kasih saying dari orang lain, impulsivitas, ketergantungan, rasa
takut gagal, rasa bersalah, dan tendensi bunuh diri. Ia menggunakan obat-obatan dan alkohol
sebagai caranya untuk menghadapi rasa cemas berlebihan yang ia hadapi dan untuk
mengambil kendali dalam kenyataan hidupnya yang ia anggap pahit.
Ketika hubungan terapi telah terjalin dengan baik, saya menjelaskan pada Stan
(dengan baik dan jelas) bahwa ia mendelusikan dirinya dengan meminum alkohol. Ia perlu
menerima kenyataan bahwa alkohol adalah obat-obat candu, dan saya ingin ia mengevaluasi
perilakunya sehingga ia dapat menyadari seberapa buruk dampak perilaku kecanduan
minumnya terhadap kehidupan sehari-harinya. Ketika Stan mencoba mencari alasan,
merasionalkan, mengacuhkan, dan menjustifikasi pola kecanduan minum alkoholnya, saya
menjelaskan padanya sejumlah informasi yang dapat ia gunakan untuk meninjau ulang sistem
keyakinannya.
PROGRAM PENANGANAN TAMBAHAN Stan pada akhirnya menyadari dan
mengakui bahwa ia memang memiliki masalah kecanduan alkohol, dan ia mengatakan bahwa
ia ingin menyelesaikan masalah tersebut. Saya menjelaskan bahwa alkoholisme dianggap
sebagai penyakit oleh sejumlah ahli. Stan perlu menyadari bahwa pemulihan jangka
panjangdilandaskan pada pemahaman bahwa diri harus terbebas dari segala bentuk obat-
obatan dan alkohol, sehingga dpat disimpulkan bahwa untuk mencapai hasil konseling yang
efektif, klien perlu terbebas dari segalah pengruh obat-obatan tersebut. Selain sesi terapi
denganku ini, saya memberikan Stan rujukan untuk mengatasi permasalahan kecanduan
alkoholnya ini.
Saya meminta Stan untuk bergabung dalam Kelompok Rehabilitasi Pecandu Alkohol
dan mengikuti setiap pertemuannya. Program 12 langkah pertemuan rehabilitasi sejauh ini
memberikan dampak yang baik untuk sejumlah pecandu. Ketika Stan memahami sifat
kecanduannya ini dan tidak lagi mengonsumsi obat-obatan, kemungkina pemulihan Stan akan
meningkat dan kita pun akan dapat berfokus pada aspek-aspek lain kehidupannya yang
dianggap bermasalah dan ingin ia ubah. Singkatnya, Stan dapat menangani kecanduan
alkoholnya dan di saat yang sama, mengikuti program terapi perorangan untuk mengubah
cara berpikir, berperasaan, dan berperilakunya.
Menuju Akhir Terapi
Proses yang sejauh ini telah saya jelaskan mungkin akan memerlukan waktu selama
berbulan-bulan. Selama proses ini berjalan, saya terus-menerus menerapkan berbagai bentuk
sistem terapi dalam menangani pikiran, perasaan, dan perilaku Stan. Pada akhirnya, proses ini
akan menuntun saya menuju saat ketika Stan dapat melanjutkan sendiri apa yang ia pelajari
dalam terapi.
Fase akhir terapi sama pentingnya dengan fase awal terapi, karena tantangannya
sekarang adalah untuk menerapkan apa yang ia telah pelajari selama sesi terapi dengan
menerapkan keah;ian dan sikap-sikap baru dalam situasi sosial sehari-hari tanpa adanya
bantuan terapis. Ketika Stan mengutakarkan keinginannya untuk “mempraktekkannya
sendiri,” kita kemudian membahas mengenai kesiapan dan alasannya untuk menyelesaikan
terapi ini. Saya juga kemudian menceritakan persepsi saya terkait arah yang saya lihat ia
ambil. Ini merupakan saat yang terpat untuk membicarakan kemana Stan dapat pergi
selanjutnya. Kita kemudian membahas dan mengembangkan suatu perencanaan tindakan
untuk bagaimana agar Stan dapat mempertahankan sejumlah ilmu yang baru ia peroleh ini. Ia
dpat lanjut untuk bergabung ke dalam suatu kelompok terapi. Ia dapat memperoleh
dukungan-dukungan hidup dari berbagai bentuk situasi sosial. Intinya, ia dapat terus
menantang dirinya dengan melakukan hal-hal yang sulit namun mampu mengembangkan
pilihan-pilihan hidupnya. Saat ini ia bisa mengambil resiko dan menjadi terapis untuk dirinya
sendiri, mengatasi sejumlah permasalahan perasaan yang timbul dalam situasi-situasi baru
dalam hidupnya.
Dari segi pendekatan perilaku, mengevaluasi proses dan hasil terapi merupakan hal
penting. Evaluasi ini dapat dilakukan dengan membahas perubahan-perubahan spesifik yang
terjadi pada diri Stan selama sesi terapi. Sejumlah pertanyaan yang dapat ditanyakan pada
Stan adalah seperti: “Hal baru apa yang paling kamu rasakan Stan? Pencerahan apa yang
paling berharga menurutmu? Bagaimana caramu mempelajari pencerahan-pencerahan ini?
Apa yang dapat kamu lakukan untuk terus mempraktekkan perilaku-perilaku baru yang kamu
pelajari ini? Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu menghadapi suatu tantangan?” Kita
kemudian mengeksplor tantangan-tantangan aoa yang kemungkinan besar ia akan hadapi
ketika ia tidak lagi mengikuti sesi konseling. Dengan membahas potensi-potensi
permasalahan dan tantangan yang mungkin ia harus hadapi nantinya, Stan tidak akan merasa
terlalu terkejut ketika ia mengalami sejumlah kemunduran dalam hidupnya. Saya
menjelaskan pada Stan bahwa selesainya sesi terapi ini bukan berarti ia tidak dapat kembali
untuk melakukan suatu kunjungan atau sesi terapi lagi. Stan dapat memutuskan untuk datang
di waktu-waktu jeda untuk menjalani sesi terapi lanjutan.
Mendorong Stan untuk Bergabung dalam Kelompok Terapi
Ketika saya dan Stan membahas penyelesaian sesi terapi ini, ia menjelaskan bahwa ia
telah belajar banyak tentang dirinya melalui sesi-sesi konseling ini. Meskipun Stan sejauh ini
berhasil menjalankan sesi terapi sendiri dengan baik, saya merasa bahwa ia akan memperoleh
banyak manfaat positif jika ia bergabung dalam kelompok terapi. Saya menyarankan Stan
untuk mempertimbangkan untuk bergabung dalam program kelompok terapi 16 minggu yang
akan dimulai 2 bulan akan datang.
Bagi saya pribadi, kemajuan dari terapi perorangan menuju kelompok akan dapat
bermanfaat bagi klien seperti Stan. Karena kebanyakan permasalahannya merupakan
masalah-masalah intrapersonal, sebuah kelompok terapi merupakan tempat yang cocok bagi
Stan untuk menangani sejumlah permasalahan tersebut. Kelompok terapi akan dapat menjadi
konteks bagi Stan untuk mempraktekkan perilaku-perilaku baru yang ia ingin peroleh. Stan
ingin merasa lebih bebas menjadi dirinya sendiri, ingin dapat dekat dengan orang lain
meskipun ia takut, dan ingin dapat lebih mempercayai orang lain. Selain kelompok terapi,
saya dan Stan akan berusaha mencari lagi berbagai cara untuk melanjutkan
perkembangannya.
Komentar terhadap Perspektif Berpikir, Berperasaan, dan Berperilaku
Dalam menerapkan perspektif integratif saya pada diri Stan, saya memproses
dimensi-dimensi kognitif, afektif, dan perilaku diri manusia secara terpisah. Meskipun
langkah-langkah yan saya jabarkan telihat sederhana dan tersusun, pada kenyataannya,
menangani klien bersifat lebih kompleks dan sulit diprediksikan. Jika anda menangani klien
dengan perspektif integratif, merupakan suatu kesalahan jika anda memulai proses
penanganan ini dari apa yang klien anda pikirkan (atau rasakan atau lakukan). Konseling
efektif dimulai dimana klien nyatanya berada saat ini, bukan dimana seharusnya berada saat
ini menurut teori.
Ringkasnya, tergantung pada apa yang dibutuhkan klien, saya mulanya akan fokus
pada apa yang mereka pikirkan dan bagaimana pemikiran mereka ini mempengaruhi diri
mereka, atau saya akan befokus pada bagaimana perasaan mereka, atau saya juga dapat
mengarhkan mereka untuk memperhatikan perilaku apa yang mereka lakukan. Karena
berbagai aspek pengalaman manusia ini saling terkait, satu jalur dimensi pengalaman
manusia yang kita ambil umumnya akan menuntun kita menuju dimensi pengalaman manusia
lainnya.
Pendekatan berbasis-diri menghargai kebijaksanaan diri klien sendiri dan
menggunakan kebijaksanaan tersebut sebagai batu loncatan untuk menentukan arah proses
terapi selanjutnya. Perkiraan saya adalah konselor seringkali melakukan kesalahan dengan
berpikir terlalu jauh daripada klien mereka sendiri. Konselor seringkali berpikir, “Apa yang
sebaiknya saya lakukan selanjutnya?” Dengan berada di sisi klien kita dan menanyakan apa
yang mereka inginkan, merekapun akan menjelaskan arah yang mereka inginkan baik secara
langsung maupun tidak langsung. Kita dapat belajar untuk memperhatikan reaksi yang kita
berikan pada klien dan pada energi kita sendiri. Dengan mengalihkan perhatian seperti itu,
kita dapat melibatkan diri kita dalam hubungan terapi yang bermanfaat bagi kedua pihak.
Follow-Up: Anda Melanjutkan Bekerja dengan Stan dalam Sebuah Gaya
Integratif
Pikirkan tentang pertanyaan ini yang akan membantu anda memutuskan bagaimana
memberikan konseling pada Stan dari pendekatan integratif anda sendiri:
Tema apa dalam hidup Stan yang anda dapati paling signifikan, dan bagaimana anda
menarik dari tema in selama tahapan awal konseling?
Konsep spesifik apa dari orientasi teoritis yang beragam yang cenderung paling akan
digunakan dalam pekerjaan anda dengan Stan?
Identifikasi beberapa teknik kunci dari terapi yang beragam yang mungkin akan anda
gunakan dalam terapi anda dengan Stan.
Bagaimana anda akan mengembangkan eksperimen bagi Stan untuk dilakukan di
dalam dan diluar sesi terapi?
Dengan mengetahui apa yang anda lakukan mengenai Stan, akan seperti apa yang
anda bayangkan untuk menjadi terapisnya? Masalah apa, jika ada, yang mungkin anda
akan temukan dalam hubungan konseling dengannya?
Lihat program online dan DVD, Theory in Practice: The Case of Stan (sesi 13 pada
pendekatan integratif) untuk demonstrasi pendekatan saya pada konseling dengan Stan dari
perspektif ini. Sesi ini berkenaan dengan terminasi dan mengambil sebuah pandangan
integratif dari pekerjaan Stan. Akan menjadi waktu yang baik untuk mengkaji keseluruhan
program dari sesi 13 dengan Stan sebagai sebuah cara untuk memikirkan tentang bagaimana
anda akan memberikan konseling kepada Stan dari perspektif integratif anda.
Komentar Kesimpulan
Pada awal kursus pengantar dalam konseling, siswa saya secara kahas memberikan dua
reaksi: bagaimana saya dapat mempelajari semua teori ini? Dan bagaimana saya
memahami semua informasi ini? Diakhir pelajaran, siswa-siswa ini sering terkejut atas begitu
banyak pekerjaan yang telah mereka selesaikan dan seberapa banyak yang telah mereka
pelajari. Meskipun sebuahkelas survey pengantar tidak akan menjadi siwa konselor
sepenuhnya, umumnya ia menyediakan dasar untuk memilih diantara banyak model dimana
mereka dibuka.
Dalam hal ini anda dapat mulai menempatkan teori bersama dengan beberapa cara
yang berarti bagi diri anda sendiri. Buku ini akan memberikan tujuan utamanya jika buku ini
telah menyemangati anda untuk membaca lebih jauh dan untuk mengembangkan
pengetahuan anda akan teori yang paling menarik perhatian anda. Saya berharap anda telah
melihat sesuatu yang bernilai yang anda dapat guankan dari tiap pendekatan yang
digambarkan. Anda tidak akan berada di posisi untuk membuat konsep sebuah perspektif
integratif yang berkembang setelah kelas pertama anda dalam teori konseling, tetapi anda
sekarang memiliki alat untuk memulai proses integrasi. Dengan studi tambahan dan
pengalaman praktikal, anda akan dapat mengembangkan dan memperbaiki filosofo personal
konseling anda.
Akhirnya, buku ini akan berguna jika buku ini meransang dan menantang anda untuk
berpikir tentang cara dimana filosofi hidup anda, nilai anda, pengalaman hidup anda, dan
pribadi anda secara penting berhubungan dengan kecakapan konselor dan dampak yang dapat
anda miliki pada mereka yang membangun sebuah hubungan dengan anda secara personal
maupun profesional. Buku ini dan kelas anda dapat menimbulkan pertanyaan bagi anda
mengenai keputusan anda untuk menjadi seorang konselor. Jika ini masalahnya, saya
mendukung anda untuk mencari setidaknya satu profesor untuk mengeksplor pertanyaan ini.
Sekarang anda telah menyelesaikan buku ini, saya akan sangat tertarik mendengarkan
pengalaman anda dengan buku ini dan dengan kelas anda. Komentar yang telah dikirimkan
pembaca selama bertahun-tahun telah membantu saya dalam merevisi tiap ediri, dan saya
sangat menyambut umpan balik anda. Anda dapat melengkapi lembar reaksi diakhir buku dan
mengirimkannya kepada saya, atau anda dapat menuliskannya kepada saya ditujukan kepada
Brooks/Cole, 10 Davis Drive, Belmont, California 94002.